Sumedang

Sumedang

Bandung

Bandung

Jakarta

Jakarta

Palembang

Palembang

25 May 2017

call for papers akademika

Dedi Wahyudi


22 March 2017

Borang Akreditasi/Visitasi VS Masterplan IT

Dedi Wahyudi

Mengapa setiap ada visitasi ataupun akreditasi selalu ada kegiatan pencarian data untuk memenuhi borang tersebut. Jumlah panitia yang cukup banyak kelihatan pemborosan dana negara. Setiap panitia ditugasi untuk mencari data a sampai z. Misalnya saja ada panitia yang mencari data jumlah jurnal sejak tahun x sampai z, ada juga yang mencari data judul penelitian dosen mulai tahun x sampai z, ada yang mencari prestasi mahasiswa di bidang a-z, dan lainnya. Rutinitas itu terjadi dari tahun ke tahun dan hampir bisa dikatakan sebagai budaya turunan.

Data yang dibutuhkan untuk mengisi borang sebenarnya akan dapat diperoleh dengan mudah jika sebuah kampus menerapkan sebuah kebijakan kerja berbasis data. Misalnya saja Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat harus membangun data base penelitian maupun pengabdian yang ada di kampus setiap tahunnya. Kemudian, Fakultas, lembaga, unit, dan lainnya memberikan database penting. 

Data base tersebut harus bisa dibedakan mana data yang dapat diakses oleh publik dengan mudah dan data mana yang harus diberikan perlakuan istimewa hanya orang-orang tertentu atau dengan ijin tertentu orang baru mendapat akses ke data tersebut. Jangan sampai terulang ketika sebuah kolom borang diisi nol (0) padahal sebenarnya ada banyak data hanya data tersebut masih tersebar tidak terintegrasi dalam kesatuan data base kampus. 

Usaha ke arah sana sepertinya sudah dilakukan oleh beberapa kampus misalnya dengan membuat Masterplan IT kampus. Dimana anggaran untuk kegiatan tersebut dapat dikatakan cukup WOW. Para penasehat atau konsultan IT biasanya dihadirkan untuk melihat kebutuhan IT di setiap unit dan kebutuhan-kebutuhan tersebut diintegrasikan dalam satu masterplan IT kampus. Setelah dilakukan konsultasi, maka tinggal ekskusi, atau alur lain yang lebih detail. Dalam hal ekskusi inilah peran pimpinan sangat penting, jangan sampai pimpinan justru tunduk dan diatur-atur oleh bawahan tetapi jangan pula pimpinan lupa bawahan.

Namun sayang, jika masterplan IT yang dananya cukup wah itu tidak segera diimplementasikan, dimana prinsip efisiensi anggaran? Misalnya saja di sebuah kampus, LPPM sudah memberikan masukan agar ke depannya memiliki sistem IT yang luar biasa seperti e-KKN, e-Penelitian, e-Pengabdian, dan e- e- lainnya dan saya yakin perpustakaan, fakultas, serta unit-unit lain juga mempunyai harapan besar di sana.

Jangan sampai anggaran yang begitu hebatnya ketika diwujudkan dalam dunia nyata jauh dari ekspektasi unit-unit pengusul. Kita semua berharap agar ke depannya segera terwujud masterplan IT yang sesuai dengan permintaan pengusul  dan jangan sampai ada mafia anggaran atau mafia-mafia lainnya.

15 March 2017

Runtuhnya Mercusuar Keilmuan

Dedi Wahyudi

Berdasarkan temuan Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia pada Pembayaran Honorarium Kegiatan di IAIN Metro temuan kegiatan tahun 2016 bahwa pengelola jurnal khususnya pemimpin redaksi, redaktur, penyunting artikel, sekretariat, admin layout per journal (e-journal), dan editor jurnal (e-journal)  tidak diperkenankan menerima honorarium. Kejadian ini menyeret sejumlah nama para resi Jurnal IAIN Metro. Tak kepalang tanggung temuan khusus jurnal saja mencapai Rp. 21.375.500,00.  Dalam hal ini penulis juga ikut menerima musibah harus mengembalikan Rp. 1.140.000,00.. 

Berdasarkan rapat internal, akhirnya Para Bandar Jurnal yang akan menanggung mereka para pengelola jurnal yang telah berjuang mengharumkan nama IAIN Metro dikancah perjurnalan nasional. Namun, ada beberapa nama yang dimohon dengan hormat untuk mengembalikan honor yang telah diterimanya karena alasan besarnya jumlah beban yang di tanggung oleh bandar jurnal.

Ini adalah sebuah musibah yang melanda IAIN Metro sehingga hampir memporak-porandakan mercusuar keilmuan. Dimana peran para pimpinan pengambil kebijakan. Dimana kepala bidang kami? Dimana perlindungan mereka dan tanggung jawab penuh mereka sehingga kami harus mengembaliklan uang jerih payah kami yang tidak seberapa ini. Mengapa saat proses pemaparan kepada Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia tidak melibatkan pengelola jurnal sehingga kami bisa memberikan jawaban para pemeriksa itu. Kalaupun tidak, mengapa kami yang menjadi "TUMBAL" kegiatan itu. 

Sungguh memalukan ketika  pemimpin redaksi, redaktur, penyunting artikel, sekretariat, admin layout per journal (e-journal), dan editor jurnal (e-journal)  tidak diperkenankan menerima honorarium. Lantas mereka apakah harus bekerja sepenuhnya dengan motto ikhlas beramal? apakah tafsir ikhlas beramal seperti itukah?

Mereka para resi jurnal bekerja tidak mengenal jam kerja sebagaimana mestinya, karena jika dihitung jam kerja mereka pantas diberi uang lembur. Jam 07.30-16.00 hanyalah dipandang administrasi belaka, mereka telah menganggap pekerjaan jurnal adalah pekerjaan sampingan yang mana pekerjaan itu ada di samping mereka selagi mereka terjaga tak terbatas ruang dan waktu. Mereka bahkan selain mendapatkan training, dalam bekerja juga sering "otodidak" demi menjalankan yang katanya TUPOKSI karena jika menuntut untut dimagangkan atau ditrainingkan semuanya anggaran tidak ada, mereka bahkan bekerja dengan sinyal hotspot yang kuotanya dari kantongnya sendiri akibat kacaunya sistem internet kampus.

Jika para pimpinan baru IAIN Metro yang membawahi bidang jurnal ke depan tidak mampu menjadi perisai dan benteng para pengelola jurnal maka para resi jurnal akan menggalkan jubah mereka. Dan memilih menjalankan dharma-dharma lainnya. Jika itu terjadi benarlah bukan hanya runtuh tetapi mercusuar keilmuan IAIN Metro akan hancur porak poranda. 

----##-----

Ada kabar gembira yang belum saya dapatkan pasti hasilnya. Siang ini Kepala Pusat Penelitian dan Penerbitan sedang mencoba mencari jalan keluar dengan mencoba langsung menghadap pucuk pimpinan. Semoga ada angin segar bagi rumah jurnal dan semoga membawa pencerahan bagi semua.

14 March 2017

CARUT MARUT INTERNET KAMPUS

Dedi Wahyudi
(Sebuah Catatan Terhadap Sebuah Kampus Negeri di Negeri Entah Berantah)

Internet disebuah kampus adalah sebuah kebutuhan penting dan mendasar di era digital sekarang ini. Untuk mendapatkan perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi mahasiswa dan dosen perlu berselancar di dunia maya dengan kecepatan prima. Kelas bukan lagi dimaknai ruangan kotak dengan papan tulis dan perabotan sebagaimana apa yang ada dalam benak kita saja, tetapi kelas pembelajaran sekarang ini sangatlah luas tak terbatas ruang dan waktu dengan adanya kelas virtual.

Seandainya sebuah kampus dilengkapi dengan kecepatan internet yang cepat dan tersedia di seluruh penjuru terutama di ruang-ruang kelas, maka mahasiswa dan dosen akan lebih mengeksplorasi dunia yang luas lagi. Mereka akan mudah bertemu dengan pakar-pakar ilmu pengetahuan kelas dunia. Mereka akan terinspirasi dengan revolusi pembelajaran. 

Namun, sungguh sangat disayangkan. Di sebuah kampus negeri, yang mungkin di benak khalayak umum, kecepatan internetnya sangat kuat. Pada kenyataannya kecepatan internet sangat-sangat lemah. Alasan penyedia jasa internet atau petugas yang ada di bidang internet kampus, sedang mencari penyedia yang harganya bagus. Apakah etis menggadaikan kepentingan akademik dengan kepentingan komersial kontrak. 

Sebenarnya bukan saja saat suasana pencarian penyedia jasa internet yang bagus. Pada saat hari-hari biasapun, kelas seakan kedap sinyal. Ketika mahasiswa dan dosen mencoba koneksi dengan sinyal yang ada, yang terjadi hanya loading dan loading terus. Mahasiswa dan dosen dibuat kesal sehingga banyak sekali kesempatan emas yang bisa dilakukan dengan internet terbuang sia-sia. Kemudian, tidak tinggal diam. mahasiswa dan dosen mencoba penambatan hotspot pribadi tetapi tidak bisa karena kondisi demografi atau bentuk tata ruang kampus yang tidak memungkinkan sinyal internet luar bisa masuk bebas. 

Apabila kita berjalan-jalan di kampus tersebut, kemudian kita akan temui banyak sekali staf yang hanya duduk manis liat youtube dan drama korea. Kuota internet untuk mahasiswa sengaja dikurangi dan dialokasikan lebih besar ke komputer-komputer di wifi ruang staf. Itu sungguh sangat memalukan.

Jangan lagi tambah kesengsaraan mahasiswa, dimana kursi mereka reyot dan kurang; papan tulis mereka kurang dari standar layak karena papan tulis dipasang menutuh stop kontak dan colokan vga; ruang kelas yang panas; kipas angin yang kotor; korden yang kotor; lantai yang kotor; dan lainnya. Jangan lagi tambah kesengsaraan dosen dimana mereka kesulitan mendapatkan lcd untuk proses pembelajaran dan kursi tempat duduk mereka kurang layak. Cukup...cukup...cukup....

Ruangan staf dan pejabat dengan suasana sangat sejuk dan wangi. Internet full dengan kuota besar yang dapat memutar film kualitas hd tanpa buffering. Kursi empuk dengan tambahan meja yang nyaman. Hem....kapan ruang kelas bisa peserti itu, hingga salah satu dosen membeli ac portable karena saking panasnya ruang kelas. 

Solusi yang kami tawarkan adalah:
  1. Segera perbaiki kualitas internet kampus. Beri kuota yang besar bagi mahasiswa. Pasanglah wifi di setiap ruang kelas sehingga ruang kelas akan tersambung internet dengan sempurna tanpa beban loading.
  2. Ka Laboratorium Komputer hendaknya menjadi pemegang penuh kendali internet kampus bukan malah penyedia kontrak internet atau jasa internet sampai sampai ka Laboratorium Komputer  tidak memiliki akses untuk mengganti password wifi.
  3. Jangan komersialkan wifi internet kampus, jika sampai itu terjadi maka akan dengan mudah terbongkar kasusnya. Jangan nodai kedudukan dan sumpah jabatan dengan mengkomersialkan internet.
  4. Carilah penyedia internet atau rekanan yang baik, jujur, profesional, dan mengedepankan pelayanan prima.
  5. Jangan biarkan mahasiswa dan dosen akan bergerak bersama memprotes ketidakadilan kuota dan akses internet.
  6. Copotlah orang-orang yang sengaja bermain dengan kuota internet kampus dengan terlebih dahulu membentuk tim investigasi atau tim khusus.
  7. Jadilah pimpinan yang mempunyai visi mewujudkan Islamic Cyber Campus yang mendukung riset kampus bukan birokrat kampus.
 Sebarkan dan bagikan artikel ini jika dianggap mencerahkan dan membebaskan kita!

01 March 2017

PORTAL MATA KULIAH AL QUR'AN HADITS DAN PEMBELAJARANNYA

Dedi Wahyudi
1. SAP
2. DAFTAR HADIR
3. DAFTAR NILAI
4. MATERI
5. BIODATA DOSEN
6. DENAH RUMAH DOSEN
7. VIDEO INSPIRASI 1
8. VIDEO INSPIRASI 2
9. Grup WA
10. FORMULIR DATABASE MAHASISWA
11. KELAS VIRTUAL

LASKAR PENA PODOLUHUR