Jogja Course Center

product 1

Jogja Course Center (JCC) sebagai lembaga yang memfasilitasi pemenuhan kebutuhan masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan potensi diri, serta mendukung dalam penguasaan dan penerapan ilmu bahasa asing dan komputer, dan ikut serta dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Info detail klik di sini.

Dinda Mustikawati

product 1

Situs Khusus Para Srikandi Penggoncang Dunia. Tempat berbagi info tentang pendidikan, pemberdayaan perempuan, fashion, kesehatan, dll. Silahkan klik di sini.

Iklan Anda

product 1

Pasanglah iklan Anda di sini. Ingsyallah membawa berkah. Apalagi menghidupi hamba Allah yang sedang belajar ilmu agama. Alasan lainnya klik di sini.

Dedi Wahyudi Siap Membangun Negeri Menuju Indonesia Digdaya 2030

Dedi Wahyudi Siap Membangun Negeri Menuju Indonesia Digdaya 2030

Podoluhur News

Dedi Wahyudi lagi sibuk garap tesis, mohon doanya semoga diberikan kemudahan oleh Allah, aamiin.

ILMU TAUHID

Dedi Wahyudi | 1/12/2008 12:39:00 pm | 0 komentar

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Kekuasan Dan Kehendak Mutlak Tuhan.

http://rustamlengkas.com/?p=155

Dalam menjelaskan kemutlakan kekuasaan dan kehendak Tuhan, Asy’ari mengatakan bahwa Tuhan tidak tunduk kepada siapapun. Diatas Tuhan tidak ada zat lain. Tuhan bersifat absolut.

Al-Ghazali juga mengeluarkan pendapat yang sama. Tuhan dapat berbuat apa saja yang dikehendakinya. Dapat memberikan hukum menurut kehendakNya, dapat menyiksa orang yang berbuat baik, jika itu dikehendakiNya, dan dapat memberikan upah bagi orang kafir yang dikehendakiNya. Bagi kaum Asy’ariah, Tuhan memang tidak terikat kepada siapapun, tidak terikat kepada janji-janji, kepada norma-norma keadilan dan sebagainya.

Berlainan dengan faham kaum Mu’tazilah, mereka berpendapat bahwa kekuasaan Tuhan sebenarnya tidak bersifat mutlak lagi. Kekuasaan mutlak Tuhan telah dibatasi oleh kebebasan yang diberikan kepada manusia dalam menentukan kemauan dan perbuatan. Tuhan tidak bisa lagi berbuat sekehendakNya, Tuhan telah terikat kepada norma-norma keadilan, yang kalau dilanggar membuat Tuhan bersifat tidak adil bahkan bersifat zalim. Kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan dibatasi oleh kewajiban-kewajiban Tuhan terhadap manusia.

Kaum Mu’tazilah percaya pada kekuatan akal dan kemerdekaan serta kebebasan manusia. Manusia yang berakal dan sempurna, kalau berbuat sesuatu berarti mempunyai tujuan. Tuhan juga mempunyai tujuan dalam perbuatan-perbuatanNya, tapi karena Tuhan Maha Suci dari sifat berbuat untuk kepentingan diri sendiri, perbuatan Tuhan adalah untuk kepentingan maujud lain selain Tuhan. Kaum Asy’ariah percaya pada kekuasan mutlak Tuhan. Bagi mereka perbuatan-perbuatan Tuhan tidak mempunyai tujuan, dalam arti sebab yang mendorong Tuhan untuk berbuat sesuatu. Tuhan berbuat semata-mata karena kekuasaan dan kehendak mutlakNya, bukan karena kepentingan manusia atau tujuan lain. Faham keadilan bagi kaum Mu’tazilah mengandung arti kewajiban-kewajiban yang mesti untuk Tuhan. Keadilan bukan hanya berarti memberi upah dan hukuman, namun lebih dari itu, Tuhan berkewajiban memberikan apa yang terbaik bagi manusia, termasuk tidak memberikan beban yang terlalu berat bagi manusia. Bagi kaum Asy’ariah berpendapat bahwa keadilan Tuhan adalah menempatkan sesuatu pada tempat yang sebenarnya, yaitu mempunyai kekuasaan mutlak terhadap mahlukNya dan dapat berbuat sekehendak hatiNya dalam kerajaanNya. Bagi kaum Maturidiah, mereka mengambil posisi yang lebih dekat dengan kaum Asy’ariah.


------------------------------------------------------------------------------------------------

AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH

http://azmi1803.wordpress.com/2008/11/06/ahlussunnah-wal-jama%E2%80%99ah/

A. Sejarah Timbulnya Aliran Ahlussunnah Wal Jama’ah

Ahlussunnah berarti berarti pengikut dan penganut sunnah Nabi Muhammad saw, dan jemaah berarti sahabat Nabi. Jadi Ahlussunnah Wal Jama’ah mengandung arti penganut sunnah Nabi dan sahabat beliau[1]

Aliran ini muncul sebagai reaksi terhadap faham Mu’tazilah yang menyiarkan ajaran-ajarannya melalui kekerasan, aliran ini berpegang kepada sunnah yang dikembangkan oleh Abu Hasan al Asy’ari dan Abu Mansur al Maturidi.

B. Tokoh-Tokoh Pendiri Aliran Ahlussunnah Wal Jama’ah

  1. al asy’ariah

a. Riwayat Hidup

Asy’ariyah muncul sebagai status aliran teologi Islam yang dapat dikatakan sebagai reaksi dari aliran Mu’tazilah yang bersifat rasional, liberal, nautral, falsafi dan sikap kekerasan mereka dalm mengembangkan ajarannya tentang kemakhlukan al Quran. Aliran ini dipelopori oleh Abu al Hasan al Asy’ari ( 873-9 35 M ) sebagai orang yang pertama menentang Mu’tazilah.[2]

Abu al Hasan Ali ibn Ismail al Asy’ari lahir di Basrah di tahun 873 M dan wafat di Bagdad tahun 935 M. pada mulanya ia adalah murid dari al Jubai dan salah seorang yang terkemuka dalam golongan Mu’tazilah sehingga al Jubai berani mempercayakan perdebatan dengan lawan kepadanya.

Mesipun ia sangat menguasai faham Mu’tazilah namun keraguan selalu muncul dalam dirinya tentang Mu’tazilah tersebut dan ia merasa tidak puas. Al Asyari pernah berdebat dengaa gurunya al Jubai dan dalam perdebatannya al Jubai tidak dapat menjawap pertanyaan yang diutarakan oleh al Asy’ari

Salah satu perdebatan itu menurut a Subki adalah

Al Asy’ari : Bagaimana kedudukan orang mukmin, kafir dan anak keecil di akhirat?

Al Jubai : Yang mukmin mendapat tingkat yang baik dalam surga, yang kafir masuk neraka dan yang kecil terlepas dari bahaya neraka.

Al Asy’ari : Kalau anak kecil ingin memperoleh tempat yang lebih tinggi di Surga, mungkinkah itu?

Al Jubai : Tidak, yang mungkin mendapat tempat yang baik itu, karena kepatuhannya kepada Tuihan. Yang kecil belum mempunyai kepatuhan seperti itu.

Al Asy’ri : Kalau anak kecil itu mengatakan kepada Tuhan, itu bukanlah salahku. Jika sekiranya Engkau bolehkan aku terus hidup aku akan mengerjakan perbuatan-perbuatan baik seperti yang dilakukan orang mukmin itu.

Al Ju bai : Allah akan menjawab, Aku tahu jika seandainya engkau terus hidup, engkau akan berbuat dosa dan oleh karena itu akan kena hukum. Maka untuk kepentinganmu Aku cabut nyawamu sebelum engkau sampai pada umur tanggung jawab.

Al asy’ari : Sekiranya yang kafir mengatakan, Engkau ketahui masa depanku sebagaimana Engkau ketahui masa depannya. Apa sebabnya Engkau tidak jaga kepentinganku?

Kemudian diamlah al Jubai dan tidak dapat menjawab lagi.[3]

b. Pemikirannya

1) Sifat-Sifat Tuhan

Menurut al Asy’ari, Tuhan mempunyai sifat. Mustahil kata asy’ari Tuhan mengetahui dengan zatNya, karena dengan demikian zatNya adalah pengetahuan dan Tuhan sendiri adalah pengetahuan. Tuhan bukan pengetahuan (‘ ilm ) tetapi yang mengetahui (‘ alim). Tuhan mengetahui dengan ilmuNya dan ilmuNya bukanlah zatNya. Sifat-sifat tersebut tidaklah identik dengan zatNya, tetapi tidak pula berbeda dengan zatNya. Sifat-sifat tersebut adalah ril walaupun tidak diketahui bagaimananya.[4]

2) Iman dan Kafir

Konsep al Asy’ari tentang iman dan kufur bertolak belakang dengan konsep Mu’tazilah. Menurut Asy’ariah iman hanya tasdik pada Allah saja, sedangkan menurut al Bagdadi iman adalah tasdik kepada Allah dan Rasulnya dan berita yang mereka bawa. Walaupun Asy’ariah mengakui ada tiga unsure keimanan yaitu tasdik, ikrar dan amal, akan tetapi yang pokok adalah tasdik, sedang ikrar dan amal hanya cabang. Tegasnya ikrar dan amal bukanlah esensi dari iman. Adapun kafir adalah orang yang mendustakan Allah dan Rasulnya serta kebenaran yang mereka bawa. Dengan kata lain kafir adalah orang yang tidak mengucapkan pengakuan dua kalimat sahadat. Mengenai orang Islam yang melakukan dosa besar Asy’ariah mengambil pendapat Murji’ah, yaitu menangguhkan persoalannya kepada Allah di akhirat (yaumul hisab )[5]

3) Akal dan Wahyu

Akal dan wahyu menjadi pembahasan polemis di kalangan peteolog Islam. Pembahasan tentang akal menyangkut empat hal berikut ini :

a. dapatkah akal mengetahui adanya Tuhan?

b. kalau dapat, apakah akal dapat mengetahui kewajiban berterima kasih kepada Tuhan?

c. dapatkah akal mengetahui yang baik dan yang buruk?

d. kalau dapat, apak ah akal dapat mengetahui kewajiban berbuat baik dan buruk itu?

Asy’ari berpendapat, akal memag dapat mengetahui adanya Tuhan, teapiu akal tidak dapat mengetahui cara berterima kasih kepada Tuhan, tidak tahu yang baik dan yang buruk, dan tidak tahu bagaimana kewajiban mengerjakan yang baik dan menjahui yang buruk. Untuk mengetahui hal-hal tersebut diperlukan wahyu.[6]

4) Pelaku Dosa Besar

Asy’ariah menolak ajaran Mu’tazilah tentang al manzilah bainal manzilatain. Menurut Asy’ari orang yang berdosa besar tetap mukmin karena imannya masih ada, akan tetapi karena berbuat dosa ia menjadi fasik. Seandainya orang yang berbuat dosa besar itu tidak mukmin dan tidak kafir, maka di dalam dirinya tidak akan didapati keimanan dan kekufuran. Hal semacam ini mustahil adanya. Oleh karena mustahil maka hukum bagi orang yang berbuat dosa besar itu bukan kafir tapi fasik.

5) Perbuatan Tuhan dan Perbuatan Manusia

a) Perbuatan Tuhan

Bagi kaum Asy’ari, faham Tuhan mempunyai kewajiban tidak dapat diterima, karena bertentangan dengan faham kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan yang mereka anut, begitu juga dengan berbuat baik dan terbaik, beban diluar kemampuan manusia Asy’ari menegaskan dalam bukunya al Luma’, bahwa Tuhan dapat meletakkan pada manusia beban yang tidak dapat dipikul.[7]

b) Perbuatan Manusia

Asy’ariah berpendapat, perbuatan manusia diciptakan tuhan, bukan diciptakan oleh manusia itu sendiri. Gambaran tentang hubungan perbuatan manusia dengan kehendak dan kekuasaan mutlak Tuhan dikemukakan dalam teorinya al kasb yaitu berbarengnya kekuasaan manusia dengan perbuatan Tuhan.[8]

6) Kehendak Mutlak dan Keadilan Tuhan

Menurut Asy’ariah Allah berkuasa dan berkehendak mutlak tanpa ada yang membatasiNya. Allah adalah pencipta segala-galamya dan Dialah Yang Maha Kuasa mengatur segala sesuatu, baik dan buruk. Perbuatan manusia termasuk diciptakan oleh Allah, bukan manusia. Manusia sebagai sarana bagi perwujudan kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan dalam berbuat.

Keadilan Tuhan mereka artikan mereka artikan sama dengan kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan. Tuhan adil berarti ia merdeka berbuat segala sesuatu sebagai penguasa dan pemilik tunggal alam ini. Tanpa ada yang membatasinya.[9]

7) Takdir dan Kebebasan Manusia

Asy’ariah mengakui daya manusia mempunyai bagian dalam mewujudkan perbuatannya, akan tetapi daya itu tidaklah dalam arti efektif. Dalam pandangan Asy’ariah perbuatan manusiatelah diciptakan tuhan semenjak azali dan manusia tidak memiliki kemerdekaan dalam berkuasa dan berkehendak atas perbuatannya

  1. Al Maturudiah

a. riwayat hidup

Nama aliran ini diambil dari nama pendirinya, yaitu Abu Mansur Muhammad bin Muhammad, kelahiran Matured, kota kecil di daerah Samarkand kurang lebih abad pertengahan hijrah dan ia meninggal di kota Samarkand pada tahun 333 H.[10]

Ia hidup sezaman dengan Abu Hasan al Asy’ari, tapi di tempat yang berbeda. Al Asy’ri di Basrah sedangkan al Maturidi di Samarkand, latar belakang mazhab yang dianut keduanya juga tidak sama. Al asy’ari adalah penganut mazhab Syafi’i, sedangkan al maturidi penganut mazhab Hanafi, sehingga pemikiran theology al Maturidi lebih rasional ketimbang al Asy’ari. Pemikiran al Maturidi lebih cenderung mendekati pemikiran Mu’tazilah, sementara pemikiran Asy’ari lebih dekat kepada Jabariyah.

Pada dasarnya timbulnya pemikiran teologi al Maturidi sebagaiman juga al Asy’ari, merupakan reaksi terhadap paham Mu’tazilah. Sungguhpun demikian, antara keduanya tidak selalu memiliki pendapat yang sama. Ada yang sama, dan banyak pula yang berbeda.[11]

b. Pemikirannya

1) Sifat-Sifat Tuhan

Mauridi dalam memahami sifat-sifat tuhan, hamper bersamaan dengan al asy’ari, di mana keduanya sependapat, bahwa tuhan mempunyai sifat-sifat, seperti sama’, basyar dan sebagainya. Sekalipun begitu, pengertian al maturidi berbeda dengan Asy’ari. Asy’ari memehami sifat Tuhan sebagai sesuatu yang bukan zat, melainkan melekat pada zat itu sendiri. Sedangkan al Maturidi memahami sifat-sifat Tuhan itu tidak dikatakan sebagaia esensiNya dan bukann pula dari esensiNya. Sifat Tuhan itu bersifat mulzamah ( suatu kepastian ) bersama zat tanpa terpisah.

Dengan pemahaman maturidi tentang makna sifat Tuhan ini, cenderung mendekati faham Mu’tazilah. Perbedaannya hanya terletak pada pengakuan Maturidi tentang sifat-sifat Tuhan, sedangkan Mu’tazilah menolak adanya sifat-sifat yang berada di luar zatNya. Mu’tazilah memahami antara zat dan sifat Tuhan adalah dalam kesatuan.[12]

2) Iman dan Kafir

Pada umumnya konsep iman dan kufur Maturidiah Samarkand mirip dengan konsep Mu’tazilah dan konsep Maturidiah Bukhara sama dengan Asy’ariah. Golongan Samarkand yang diwakili oleh Maturidi mengartikan imin sebagai mengetahui Tuhan dalam ketuhanannya atau ma’riffat kepada Allah dengan segala sifat-sifatnya.

Golongan Bukhara yang diwakili oleh Bazdawi mengartikan iman dengan imin dan tasdik dan ikrar. Maturidiah pada umumnya mengakui bahwa iman dapat bertambah dan berkurang, akan tetapi yang bertambah dan berkurang itu adalah sifatnya, bukan zatnya.[13]

3) Akal dan Wahyu

Golongan Maturidiah Samarkand berpendapat akal dapat mengetahui adanya Tuhan dan yang baik dan yang buruk. Tetapi akal tidak dapat mengetahui kewajiban berbuat baik dan menjauhi yang buruk. Untuk hal yang terakhir ini hanya dapat diketahui dengan wahyu. Karena itu, wahyu sangat diperlukan untuk menjelaskannya.

Golongan Maturidiah Bukhara lain lagi. Menurut mereka, akal dapat mengetahui adanya Tuhan dan yang baik dan yang buruk. Tetapi akal tidak dapat mengetahui kewajiban berterima kasih kepada Tuhan dan kewajiban berbuat baik dan meninggalkan yang buruk. Untuk mengetahui itu diperlukan wahyu. Dalam kaitan ini akal harus mendapat bimbingan dari wahyu.[14]

4) Pelaku Dosa Besar

Al Maturidi berpendapat bahwa Muslim yang melakukan dosa besar tetap mukmin, tidak kafir, tidak pula berada pada al manzilah bainal manzilatain seperti pendapat Mu’tazilah.

5) Perbuatan Tuhan dan Perbuatan Manusia

a) Perbuatan Tuhan

Persoalan yang timbul ketika meneliti pebuatan Tuhan senangtiasa diawali pertanyaan, apakah perbuatan Tuhan mencakup hal-hal yang buruk? Atau apakah Tuhah memeiliki kewajiban-kewajiban untuk lepentingan manusia?

Aliran Maturidiah memberi batasan terhadap kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan. Mereka menerima paham adanya kewajiban menepati janji tentang pemberian pahala dan hukuman serta serta kewajiban mengirim para Rasul. Adapun kewajiban Tuhan melakukan hal yang baik dan terbaik, al Maturidi tidak secara tegas menyatakan wajib. Ia hanya menyatakan bahwa semua perbuatan Tuhan berdasarkan hikmat kebijaksanaan.[15]

b) Perbuatan Manusia

Al Maturidi berpendapat, perbuatan manusia sebanarnya diwujudkan oleh manusia itu sendiri, sekalipun kemauan atau kehendak untuk berbuat itu merupakan kehendak Tuhan, tapi perbuatan itu bukanlah perbuatan Tuhan. Dalam hal ini maturidi sependapat dengan al Maturidi.[16]

6) Kehendak Mutlak dan Keadilan Tuhan

Menurut al Maturidiah kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan tidak sebebas yang diberikan Mu’tazilah. Baginya, kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan itu hanya dibatasi oleh kebebasan manusia yang diberikan tuhan. Tuhan sebenarnya mampu membuat semua manusia yang ada di bumi ini menjadi beriman, namun Allah tidak melakukan hal tersebut. Alasannya, karena kebebasan berkehendak dan berbuat yang diberikanNya kepada manusia.

Dalam masalah keadilan Tuhan maturidi hamper sependapat dengan Mu’tazilah, mereka menggaris bawahi makna keadilan Tuhan sebagai lawan dari perbuatan zalim Tuhan terhadap manusia. Tuhan tidak akan membalas kejahatan, kecuali dengan balasan yang setimpal.[17]

7) Takdir dan Kebebasan Manusia

Hal ini Maturidi golongan Bukhara sependapat dengan al Asy’ari sedangkan golongan Samarkan sependapat dengan Mu’tazilah.

--------------------------------------------------------------------------------------

Tuesday, July 22, 2008

MAKALAH ILMU KALAM TENTANG AHLUSSUNAH KHALAF (AL-ASY’ARY DAN AL-MATURIDI)

http://anakciremai.blogspot.com/2008/07/makalah-ilmu-kalam-tentang-ahlussunah.html

AHLUSSUNAH KHALAF (AL-ASY’ARY DAN AL-MATURIDI)

Kata khalaf biasanya digunakan untuk merujuk para ulama yang lahir setelah abad III H dengan karakteristik yang bertolak belakang dengan apa yang dimiliki salaf.
Ahlusunnah (sunni) ada dua pengertian:
1. Secara umum, Sunni adalah lawan kelompok syiah
2. Secara khusus, Sunni adalah mazhab yang berada dalam barisan asy’ariyah dan merupakan lawan mutazilah. Dua aliran yang menentang ajaran-ajaran mutazilah. Harun Nasution dengan meminjam keterangan Tasi Kurbazadah, menjelaskan bahwa aliran ahlu sunnah muncul atas keberanian dan usaha Abu Hasan Al-asy’ari sekitar tahun 300H.



A. AL-ASY’ARI
1. Latar Belakang Kemunculan Al-Asy’ari
Nama lengkap Al-asy’ari adalah Abu al-Hasan Ali bin Ismail bin Ishaq bin Salim bin Ismail bin Abdillah bin Musa bin Bilal bin Abi Burdah bin Abi Musa Al-asy’ari. Ia lahir di Bashrah pada tahun 260H/875M. Ketika berusia 40 tahun, ia hijrah ke kota Bagdad dan wafat di sana pada tahun 324H/935M.
Ayah al-asy’ari adalah seorang yang berfaham ahlusunnah dan ahli hadits. Ia wafat ketika Al-asy’ari masih kecil. Sebelum wafat ia berwasiat kepada sahabatnya yang bernama Zakaria bin Yahya As- saji agar mendidik Al-asy’ari. Berkat didikan ayah tirinya, Al-asy’ari kemudian menjadi tokoh mutazilah.
Menurut Ibnu asakir, Al-asy’ari meninggalkan faham mutazilah karena ia telah bermimpi bertemu dengan Rasulullah SAW. Sebanyak tiga kali yaitu pada malam ke-10, 20 dan 30 bulan Ramadhan. Dalam mimpinya Rasulullah mengingatkan agar meninggalkan faham mutazilah dan beralih kepada faham yang telah diriwayatkan dari beliau.


2. Doktrin-doktrin Teologi Al-asy’ari
Corak pemikiran yang sintesis ini menurut Watt, barangkali dipengaruhi teologi kullabiah (teologi Sunni yang dipelopori Ibn Kullab (w 854 M).
Pemikiran-pemikiran Al-asy’ari:
a. Tuhan dan sifat-sifatnya
Al-asy’ari dihadapkan pada dua pandangan ekstrim. Dengan kelompok mujasimah (antropomorfis) dan kelompok musyabbihah yang berpendapat, Allah mempunyai semua sifat yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan sunnah, dan sifat-sifat itu harus difahami menurut harti harfiyahnya. Kelompok mutazilah berpendapat bahwa sifat-sifat Allah tidak lain adalah esensi-esensinya.
Al-asy’ari berpendapat bahwa Allah memang memiliki sifat-sifat itu, seperti mempunyai tangan dan kaki dan ini tidak boleh diartikan secara hartiah, sifat-sifat Allah itu unik sehingga tidak dapat dibandingkan dengan sifat-sifat manusia yang tampaknya mirip.
b. Kebebasan dalam berkehendak (free will)
Dari dua pendapat yang ekstrim, yakni jabariah dan fatalistic dan penganut faham pradterminisme semata-mata dan mutazilah yang menganut faham kebebasan mutlak dan berpendapat bahwa manusia menciptakan perbuatannya sendiri. Al-asy’ari membedakan antara khaliq dan kasb. Menurutnya, Allah adalah pencipta (khaliq) perbuatan manusia, sedangkan manusia sendiri yang mengupayakannya (muktasib), hanya Allah lah yang mampu menciptakan segala sesuatu (termasuk keinginan manusia).
c. Akal dan wahyu dan kriteria baik dan buruk
Walaupun Al-asy’ari dan orang-orang mutazilah mengakui pentingnya akan dan wahyu, mereka berbeda dalam menghadapi persoalan yang memperoleh penjelasan kontradiktif dari akal dan wahyu. Al-asy’ari mengutamakan wahyu, sementara mutazilah mengutamakan akal.


d. Qadimnya Al-Qur'an
Mutazilah mengatakan bahwa Al-Qur'an diciptakan (makhluk) sehingga tak qadim serta pandangan mazhab Hambali dan Zahiriah yang mengatakan bahwa Al-Qur'an adalah kalam Allah (yang qadim dan tidak diciptakan). Zahiriah bahkan berpendapat bahwa semua huruf, kata dan bunyi Al-Qur'an adalah qadim. Dalam rangka mendamaikan kedua pandangan yang saling bertentangan itu Al-asy’ari mengatakan bahwa walaupun Al-Qur'an terdiri atas kata-kata, huruf dan bunyi, semua itu tidak melekat pada esensi Allah dan karenanya tidak qadim. Nasution mengatakan bahwa Al-Qur'an bagi Al-asy’ari tidaklah diciptakan sebab kalau ia diciptakan, sesuai dengan ayat:



Artinya:
“ Jika kami menghendaki sesuatu, kami bersabda, “ terjadilah“ maka ia pun terjadi”.
e. Melihat Allah
Al-asy’ari tidak sependapat dengan kelompok ortodoks ekstrim, terutama zahiriyah yang menyatakan bahwa Allah dapat dilihat di akherat dan mempercayai bahwa Allah bersemayam di Arsy. Selain itu ia tidak sependapat dengan mutazilah yang mengingkari ru’yatullah (melihat Allah) di akherat. Al-asy’ari yakin bahwa Allah dapat dilihat atau bilamana ia menciptakan kemampuan penglihatan manusia untuk melihatnya.
f. Keadilan
Pada dasarnya Al-asy’ari dan mutazilah setuju bahwa Allah itu adil. Al-asy’ari tidak sependapat dengan mutazilah yang mengharuskan Allah berbuat adil sehingga ia harus menyiksa orang yang salah dan memberi pahala kepada orang yang berbuat baik. Menurutnya, Allah tidak memiliki keharusan apapun karena ia adalah penguasa mutlaq.


g. Kedudukan orang berdosa
Menurut Al-asy’ari mukmin yang berbuat dosa besar adalah mukmin yang fasik, sebab iman tidak mungkin hilang karena dosa selain kufur.

B. AL-MATURIDI
1. Latar Belakan Kemunculan Al-Maturidi
Abu Manshur Muhammad ibn Muhammad ibn Mahmud Al-Maturidi. Ia dilahirkan di sebuah kota kecil di daerah Samarkan yang bernama Maturid, di wilayah Trmsoxiana di Asia Tengah, daerah yang sekarang disebut Uzbekistan. Tahun kelahirannya tidak diketahui pasti, hanya diperkirakan sekitar pertengahan abad ke-3 hijriyah. Ia wafat pada tahun 333 H/944 M. gurunya dalam bidang fiqih dan teologi yang bernama Nasyr bin Yahya Al-Balakhi, ia wafat pada tahun 268 H. al-Maturidi hidup pada masa khalifah Al-Mutwakil yang memerintah pada tahun 232-274 H/847-861 M.
Karir pendidikan Al-Maturidi lebih dikonsentrasikan untuk menekuni bidang teologi dari pada fiqih. Pemikiran-pemikirannya banyak dituangkan dalam bentuk karya tulis, diantaranya adalah kitab Tauhid, Ta’wil Al-Qur'an Makhas Asy-Syara’I, Al-jald, dll. Selain itu ada pula karangan-karangan yang diduga ditulis oleh Al-Maturidi, yaitu Risalah fi Al-aqaid dan syarh Fiqh Al-akbar.

2. Doktrin-doktrin teologi Al-Maturidi
a. Akal dan wahyu
Dalam pemikiran teologinya, Al-Maturidi mendasarkan pada Al-Qur'an dan akal dalam bab ini ia sama dengan Al-asy’ari.
Menurut Al-Maturidi, mengetahui Tuhan dan kewajiban mengetahui Tuhan dapat diketahui dengan akal. Kemampuan akal dalam mengetahui dua hal tersebut sesuai dengan ayat-ayat Al-Qur'an yang memerintahkan agar manusia menggunakan akal dalam usaha memperoleh pengetahuan dan keimanannya terhadap Allah melalui pengamatan dan pemikiran yang mendalam tentang makhluk ciptaannya. Kalau akal tidak mempunyai kemampuan memperoleh pengetahuan tersebut, tentunya Allah tidak akan menyuruh manusia untuk melakukannya. Dan orang yang tidak mau menggunakan akal untuk memperoleh iman dan pengetahuan mengenai Allah berarti meninggalkan kewajiban yang diperintah ayat-ayat tersebut. Namun akal menurut Al-Maturidi, tidak mampu mengetahui kewajiban-kewajiban lainnya.
Dalam masalah baik dan buruk, Al-Maturidi berpendapat bahwa penentu baik dan buruk sesuatu itu terletak pada suatu itu sendiri, sedangkan perintah atau larangan syari’ah hanyalah mengikuti ketentuan akal mengenai baik dan buruknya sesuatu. Dalam kondisi demikian, wahyu diperoleh untuk dijadikan sebagai pembimbing.
Al-Maturidi membagi kaitan sesuatu dengan akal pada tiga macam, yaitu:
1. Akal dengan sendirinya hanya mengetahui kebaikan sesuatu itu;
2. Akal dengan sendirinya hanya mengetahui kebutuhan sesuatu itu;
3. Akal tidak mengetahui kebaikan dan keburukan sesuatu, kecuali dengan petunjuk ajaran wahyu.
Jadi, yang baik itu baik karena diperintah Allah, dan yang buruk itu buruk karena larangan Allah. Pada korteks ini, Al-Maturidi berada pada posisi tengah dari Mutazilah dan Al-Asy’ari.
b. Perbuatan manusia
Menurut Al-Maturidi perbuatan manusia adalah ciptaan Tuhan karena segala sesuatu dalam wujud ini adalah ciptaannya. Dalam hal ini, Al-Maturidi mempertemukan antara ikhtiar sebagai perbuatan manusia dan qudrat Tuhan sebagai pencipta perbuatan manusia.
c. Kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan
Menurut Al-Maturidi qudrat Tuhan tidak sewenang-wenang (absolut), tetapi perbuatan dan kehendaknya itu berlangsung sesuai dengan hikmah dan keadilan yang sudah ditetapkannya sendiri.
d. Sifat Tuhan
Dalam hal ini faham Al-Maturidi cenderung mendekati faham mutzilah. Perbedaan keduanya terletak pada pengakuan Al-Maturidi tentang adanya sifat-sifat Tuhan, sedangkan mutazilah menolak adanya sifat-sifat Tuhan.
e. Melihat Tuhan
Al-Maturidi mengatakan bahwa manusia dapat melihat Tuhan. Hal ini diberitahukan oleh Al-Qur'an, antara lain firman Allah dalam surat Al-Qiyamah ayat 22dan 23. namun melihat Tuhan, kelak di akherat tidak dalam bentuknya (bila kaifa), karena keadaan di akherat tidak sama dengan keadaan di dunia.
f. Kalam Tuhan
Al-Maturidi membedakan antara kalam yang tersusun dengan huruf dan bersuara dengan kalam nafsi (sabda yang sebenarnya atau kalam abstrak). Kalam nafsi adalah sifat qadim bagi Allah, sedangkan kalam yang tersusun dari huruf dan suara adalah baharu (hadist).
g. Perbuatan manusia
Menurut Al-Maturidi, tidak ada sesuatu yang terdapat dalam wujud ini, kecuali semuanya atas kehendak Tuhan, dan tidak ada yang memaksa atau membatasi kehendak Tuhan kecuali karena ada hikmah dan keadilan yang ditentukan oleh kehendak-Nya sendiri.
h. Pengutusan Rasul
Pandangan Al-Maturidi tidak jauh beda dengan pandangan mutazilah yang berpendapat bahwa pengutusan Rasul ke tengah-tengah umatnya adalah kewajiban Tuhan agar manusia dapat berbuat baik dan terbaik dalam kehidupannya.
i. Pelaku dosa besar
Al-Maturidi berpendapat bahwa orang yang berdosa besar tidak kafir dan tidak kekal di dalam neraka walaupun ia mati sebelum bertobat.

KESIMPULAN

Nama lengkap Al-Asy’ari adalah Abu Al-Hasan Ali bin Ismail in Ishaqi bin Salim bin Ismail bin Abdillah bin Musa bin Bilal bin Abi Burdah bi Abi Musa Al-Asy’ari, beliau ditinggalkan oleh ayahnya ketika masih kecil. Ayah beliau yaitu seorang yang berfaham ahlusunnah dan ahli hadits. Sebelum ayah beliau wafat, ayak beliau berwasiat kepada Zakaria bin Yahya As-Saji agar mendidik Al-Asy’ari. Berkat didikannya, Al-Asy’ari kemudian menjadi tokoh Mutazilah, tapi kemudian ia keluar dari Mu’tazilah dan berfaham ahlusunnah
Pemikiran-pemikiran Al-Asy’ari diantaranya Tuhan dan sifat-sifatnya, kebebasan dalam berkehendak, akal dan wahyu dan kriteria baik dan buruk, qodimnya Al-Qur'an, melihat Allah, keadilan dan kedudukan orang berdosa.
Al-Maturidi dilahirkan disebuah kota kecil di daerah Samarkan yang bernama Maturid. Al-Maturidi hidup pada masa khalifah Al-Mutawakil yang memerintah pada tahun 232-274 H/847-861 M. kariri pendidikan beliau lebih dikonsentrasikan untuk menekuni bidang teologi dari pada fiqih
Doktrin-doktrin teologi al-Maturidi diantaranya akal dan wahyu, perbuatan manusia, kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan, sifat Tuhan, melihat Tuhan kalam Tuhan, perbuatan manusia, pengutusan Rasul dan dosa besar.


DAFTAR PUSTAKA

Rozak, Abdul & Anwar, Rohison, Ilmu Kalam. CV Pustaka Setia, Bandung, 2003
Nasution, Harun, Teologi Islam, UI Press, Jakarta, 1987
Nata, Abudin, Meteologi Study Islam, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2004
Hanafi, Teologi Islam, Bulan Bintang Jakarta, 1982

-----------------------------------------------------------------------------------------------

Berdialog dengan Asy’ariyah dan Mu’tazilah

http://www.al-shia.org/html/id/service/maqalat/54.htm

Dialog interfaith dan intrafaith merupakan dialog yang harus intens dikembangkan pada setiap pemeluk kepercayaan. Keyakinan yang dianut oleh sebuah agama atau mazhab untuk mampu berjajal dengan realitas harus dikomunikasikan dan diekspresikan pada bursa ideologi. Karena ketika keyakinan atau kredo itu dipandang sebagai sebuah pilihan, setelah melakukan penelusuran dengan menggunakan piranti akal dan nurani, ia harus dipandang sebagai sebuah kebenaran yang menyediakan lahan bagi para pemeluknya untuk melesak meraih kesempurnaan insani dan kebahagiaan hakiki. Karena mencapai dan meraup kesempurnaan merupakan tuntutan fitrah manusia, apapun agamanya.

Islam yang merupakan sebuah agama samawi semenjak kemunculannya menyambut dawuh dialog interfaith dan intrafaith ini. Islam yang diyakini oleh para pemeluknya tidak terkecuali harus turut dikomunikasi dan diekspresikan. Mengingat keyakinan kepada sesuatu berpotensi membahagiakan sekaligus menelantarkan. Namun bagaimana menemukan formula dan teraju untuk menjamin bahwa keyakinan tersebut merupakan sebuah keyakinan yang 100 % mengandung kebenaran dan tak lekang oleh panas serta tak lapuk oleh hujan. Artinya ia harus kokoh dengan argumen-argumen rasional dan filosofikal, dalam berjajal dengan agama-agama lainnya. Islam menantang setiap agama-agama untuk menyodorkan argumen dengan nada “Qul Haatu Burhanakum inkuntum Shadiqin.” Sodorkan argumenmu sekiranya engkau merupakan orang yang benar.”

Demikian juga termasuk kepada pemeluk agama Islam sendiri, karena titah Ilahi ini bersifat umum, diseru kepada siapa saja karena keyakinan bukan warisan dari leluhur dimana hal ini sangat dicela oleh kitab suci agama Islam. Keyakinan harus Anda rengkuh sendiri dengan argumen sederhana sekalipun. Sebagaimana seorang renta pemintal benang ditanya oleh Nabi Agung Saw bagaimana engkau mengenal Tuhan, sang renta menjawab bahwa benang yang aku pintal ini menunjukkan aku sebagai pemintalnya dimana tidak mungkin ia ada dan tertata rapi tanpa aku yang mengadakan dan merapikannya apatah lagi semesta raya yang serba canggih ini tentu menunjukkan kepada sosok yang menciptakannya dan kita sebut sosok itu sebagai Tuhan Sang Pencipta.

Di samping ajakan untuk berdialog ini, Islam juga mengajarkan tata cara dan etika berdialog, dimana dawuh Ilahi menegaskan “Jadilhum billati Hiya Ahsan” Berdialog dan berdialektikalah kalian dengan mereka (siapapun) dengan cara yang lebih baik.

Pembaca yang budiman, kolom diberi judul Teologi Komparatif yang stressing lebih pada poin-poin ajaran penting dari setiap agama, ajaran dan isme dan perbandingannya dengan Islam atau mazhab pilihan. Perbandingan ini tentu saja meniscayakan telaah dan kajian dari obyek yang dikaji. Pada kesempatan ini, kita akan melakukan komparasi antara teologi mazhab yang ada dalam Islam, dimana tiga pokok keyakinan yang menjadi obyek komparasi, Determinisme-Kebebasan Mutlak-In Between, Teori Kasb dan Tauhid dalam Penciptaan Asy’ariah, Mu’tazilah dalam sorotan teologi Imamiyah. Dimana dalam tulisan ringan ini, penulis juga berusaha menjelaskan (tabyin) dua pokok pemikiran Asy’ariah terkait dengan kebebasan manusia dan determinisme yang bertautan erat dengan masalah hukum kausalitas sekaligus melakukan perbandingan dua pokok pemikiran Asy’ariah secara global dengan mazhab Imamiyah. Tulisan ringan ini sengaja diturunkan buah dari “dialog intrafaith” dengan salah seorang pengguna budiman site ini namun di samping menjelaskan, karena pengguna yang dimaksud belum mengelaborasi dua pokok pemikiran yang dibelanya ini, dan menanggapi pandangan pengguna tersebut, tulisan ini juga bersifat impersonal artinya dialamatkan kepada siapa saja yang berselera mengetahui konsep-konsep pemikiran Asy’ariah, minimal ihwal konsep determinisme dan dua konsep yang dimaksud. Adapun ayat yang disebutkan pada tanggapan bag. Pertama tidak lebih dari sekedar menukil dan membacakan ayat bagi penulis yang kemudian tetap disebut sebagai klaim oleh penulis. Pembuktian yang dimaksud tidak disertai dengan argumen-argumen logis dan filosofis yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Seperti penukilan bahwa Tuhan itu pencipta segala sesuatu, bahwa dengan izin Tuhan segala sesuatu berlaku, dan semisalnya tanpa mengelaborasi bahwa yang dimaksud pencipta dan penciptaan di sini apa? Dengan izin Tuhan segala sesuatu itu berlaku, maksudnya apa? Etc. Namun penulis berharap penanggap dapat menyediakan hal tersebut supaya melepaskan diri Anda dari tudingan klaim, menukil dan sekedar membacakan ayat sahaja. Ala Kulli Hall…

Masalah Kebebasan Mutlak, Determinisme dan In Between

Kalau tidak salah, beberapa postingan telah lewat ihwal Kebebasan dan Determinisme ini. Namun di sini dengan corak dan warna yang berbeda, kepada pembaca disuguhkan pandangan-pandangan Asy’ariyah dan Mu’tazilah yang digagas oleh para pembesar mereka dengan sandaran kitab-kitab induk teologinya, sekaligus kritikan dari Imamiyah.

Diriwayatkan bahwa Ghilan ad-Dimisyqi, yang berpendirian bahwa manusia memiliki ikhtiar (kebebasan memilih), berkata pada Rabi’ah ar-Ra’i, ilmuwan yang beraliran Jabariyah (determinisme): “Andakah yang menyatakan bahwa Allah menghendaki agar Ia dimaksiati?” Rabi’ah segera menjawab: “Andakah yang menyatakan bahwa Allah dimaksiati secara paksa?” Demikian juga pada suatu hari terjadi baku gea (dialektika), antara Abu Ishaq al-Farayini, pendukung aliran jabariyah (determinisme), yang duduk dalam majlis Shahib bin Abbad, dan al-Qadhi Abdul-Jabbar yang datang ke tempat itu, seorang tokoh Mu’tazilah yang mengingkari pengaruh takdir umum, berlawanan dengan pendapat Abu Ishaq. Ketika al-Qadhi melihat Abu Ishaq, segera ia berkata: “Subhana man Tanazzaha anil Fahsya (Mahasuci Allah yang terjauhkan dari perbuatan keji!” Ucapannya ini ditujukan sebagai sindiran kepada Abu Ishaq yang menisbahkan segala sesuatu kepada Allah, dan dengan demikian seakan-akan berpendapat bahwa Allah juga terkena sifat perbuatan-perbuatan keji yang dilakukan oleh manusia). Mendengar itu, Abu Ishaq segera menukas: “Subhana man laa yajri fii mulkihi illa ma syaa.” (Mahasuci Dia yang tak suatupun berlangsung di dalam kerajaan-Nya kecuali yang dikehendaki-Nya!”) Jawaban ini menyindir al-Qadhi Abdul Jabbar bahwa seakan-akan ia menyatakan tentang adanya sekutu bagi Allah dalam wujud ini dengan membayangkan kemungkinan terjadinya sesuatu dalam wujud ini yang tidak dikehendaki oleh Allah swt, yakni perbuatan keji dan sebagainya.Apakah Tuhan menghendaki para hamba-Nya bermaksiat? Apakah para hamba lebih unggul dari Tuhan dan melakukan maksiat? Katakan kepadaku apakah jika Tuhan menahan hidayah dariku dan memutuskan aku terpuruk dalam jurang kebinasaan, apakah Dia melakukan kebaikan atau keburukan bagiku?[1]

Baku gea (dialektika) ini merupakan singgungan salah satu masalah yang terpenting dalam pembahasan teologi yang senantiasa menyita perhatian seluruh manusia khususnya kaum agamawan. Apakah manusia memiliki kebebasan dan kemerdekaan dalam perbuatannya? Apakah kehendak dan kemauan manusia tidak dikalahkan oleh kehendak dan kemauan Tuhan? Apakah kehendak Tuhan termasuk seluruh perisitiwa dan perbuatan dan tiada satu pun dari peristiwa dan perbuatan ini keluar dari kehendak Tuhan?Apabila kehendak Tuhan bersifat umum, lantas bagaimana menjelaskan kebebasan manusia? Qadhi ‘Abdul Jabbar Mu’tazili meyakini kebebasan mutlak manusia dan memandang bahwa seluruh perbuatan mandiri dan bebas manusia berada di luar kekuasaan Tuhan. Sebagai kebalikannya, Abu Ishaq al-Farayini meyakini bahwa kehendak umum dan tanpa kecuali Tuhan, qadha dan qadar (dengan penafsiran deterministiknya) dengan redaksi “Subhana man laa yajri fii mulkihi illa ma syaa.” (Mahasuci Dia yang tak suatupun berlangsung di dalam kerajaan-Nya kecuali yang dikehendaki-Nya!”) merupakan sindiran yang ditujukan kepada Qadhi Abdul Jabbar yang beranggapan bahwa segala sesuatu berada di luar kekuasaan Tuhan. Dan tukasan dan isykalan Qadhi terhadap Abu Ishaq adalah bahwa apabila kehendak dan kemauan Tuhan kita pandang sebagai kehendak umum dan tiada satu pun perbuatan yang keluar dari ranah perbuatan Tuhan, dimana konsekuensi dari cara berkeyakinan seperti ini adalah keniscayaan penyandaran seluruh perbuatan buruk dan tercela kepada Tuhan.

Masalah determinasi dan kebebasan manusia semenjak dahulu kala merupakan masalah yang penting dalam bidang teologi. Determinisme adalah bahwa manusia dalam seluruh perbuatannya ia tidak memiliki kehendak dan kebebasan. Seluruh perbuatan manusia kesemuanyam terlaksana berkat kehendak dan kekuasaan Tuhan dimana kebebasan merupakan poin yang berseberangan secara interminis dengan pandangan ini. Seperti pada ayat “Orang-orang yang mempersekutukan Tuhan akan mengatakan, “Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan nenek moyang kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan barang suatu apa pun.” Demikian pulalah orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan(para rasul) sampai mereka merasakan siksaan Kami. Katakanlah, “Adakah kamu mempunyai suatu pengetahuan (dan dalil untuk masalah ini)? Kemukakanlah Kami. Kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu hanyalah mengira-ngira.” (Qs. Al-An’am [6]:148) Dimana keyakinan deterministik tersebar di kalangan kaum Musyrikin yang menjadikan ayat ini sebagai pembenaran atas perbuatan-perbuatan tercela mereka. Dan juga patut disayangkan bahwa pemikiran semacam ini juga tersebar di kalangan kaum Muslimin dikarenakan beragam dalil di antara adalah alasan politis, sebagaiman yang disinggung pada postingan Mizan Keadilan Tuhan [3], sehingga menyebabkan mereka tercengkram paham jabariyah (deterministik).

Determinisme Mutlak

Kini tiba saatnya menjelaskan paham jabariyah menurut kitab-kitab mereka. Pandangan determinisme mutlak ini disandarkan kepada Jahim bin Shafwan founding father firqah Jahimiyyah. Firqah ini adalah firqah yang pertama kali memperkenalkan ajaran determinisme mutlak. Menurut pandangan Jahimiyyah manusia sama sekali tidak memiliki kekuasaan dan dalam perbuatannya ia terpaksa (majbur) dan hampa kebebasan dan kehendak. Seluruh perbuatan manusia sebagaimana pengaruh-pengaruh tumbuh-tumbuhan merupakan makhluk Tuhan dan manusia sama sekali tidak memiliki peran dalam mewujudkan pengaruh-pengaruh tersebut. Adapun penyandaran perbuatan itu kepada manusia merupakan penyandaran figuratif (majazi) bukan hakiki.[2]

Ucapan berikut ini adalah ucapan puak Jahimiyyah bahwa “Tiada satu pun perbuatan bagi setiap orang selain Allah dan perbuatan-perbuatan penyandarannya kepada makhluk hanya bersifat majazi.”[3]

Kasb (Perolehan)

Konsep determinisme mutlak tidak mendapatkan banyak pengikut. Banyak kelemahan dan borok dalam konsep ini dapat dijumpai dan pertentangannya dengan ayat-ayat lahir Qur’an. Sebagian berusaha, sembari bersikukuh dengan kekuasaan mutlak dan kehendak azali Tuhan, menjauh dari konsep determinisme mutlak ini. Sedemikian sehingga tetap ingin membuktikan pengaruh dan peran manusia dalam perbuatan dan pekerjaannya. Untuk menelurkan pandangan eskapis ini, teori perolehan (kasb) ini mengemuka. Mazhab teologi yang paling popular mengikuti, menyokong dan membela teori kasb ini adalah mazhab Asy’ariah, meski sebelum Asy’ariah tersebut mazhab Najjariyah (pengikut Husain bin Muhammad bin Abdullah an-Najjar(330 H) dan juga Dharuriyah (pengikut Dharar bin Amr) yang menyokong teori kasb ini.

Dasar teori ini adalah bahwa Tuhan merupakan pencipta segala perbuatan dan manusia hanya merupakan yang mewadahi dan memperoleah perbuatan-perbuatan tersebut. Dan mizan ketaatan dan maksiat juga bersandar kepada teori kasb (perolehan) ini, bukan penciptaan. Sejatinya, setiap perbuatan yang dilakukan manusia memiliki dua sisi:

1. Penciptaan yang bersumber dari Tuhan dan disandarkan kepada-Nya.

2. Perolehan (kasb) dari sisi manusia dan dinisbahkan kepadanya.

Dalam menjelaskan secara utuh teori perolehan atau wadah ini, terdapat banyak penafsiran dimana di sini kita akan menyebutkan sebagian dari penafsiran tersebut kemudian melakukan kajian kritis atas setiap penafsiran tersebut.

1. Asy’ari[4] menyatakan bahwa hakikat kasb adalah mengetahui bahwa perbuatan yang dilakukan dengan kekuasaan hadis (yang dihasilkan) manusia yang merupakan pelaku dari perbuatan tersebut. Berdasarkan definisi ini dapat disimpulkan bahwa perolehan pengaruh kekuasaan (kekuatan) yang bersumber dari manusia dalam mewujudkan sebuah perbuatan.

2. Fadhil Qausyaji berkata bahwa “kasb adalah simultannya perbuatan manusia dengan kekuasaan dan kehendak manusia; artinya Tuhan secara bersamaan dan simultan dengan kekuasaan dan kekuatan manusia mengadakan sebuah perbuatan, tanpa adanya pengaruh atau interfensi kekuasaan manusia dalam mengadakan perbuatan tersebut.”[5]

3. Qadhi Baqilani (wafat 403 H) berkata: “Setiap perbuatan terdiri dari dua sisi: 1. Wujudnya perbuatan. 2. Julukan atau titel perbuatan yang merupakan turunan atas perbuatan tersebut dan kekuasaan manusia tidak memiliki kelayakan pengaruh pada wujud dan terolahnya perbuatan, melainkan hanya memiliki pengaruh pada julukan perbuatan. Atas alasan ini pengaruh pada julukan yang memiliki kelayakan untuk mendapatkan ganjaran atau hajaran. Sejatinya, wujudnya perbuatan makhluk Tuhan dan julukan perbuatan misalnya, julukan atau titel menunaikan shalat, berdusta, dan sebagainya merupakan perolehan manusia dan disandarkan kepada manusia. Baqilani dalam menjelaskan definisi yang diutarakan berkata: “Setiap orang orang menemukan perbedaan nyata di antara dua jumlah kalimat: A. mengadakan, kalimat seperti shalat (shalli), mengerjakan puasa (shama), dan berdiri (qama). Yang layak disandarkan kepada Tuhan kalimat-kalimat dan karakteristik bagian pertama dan julukan-julukan bagian kedua tidak patut disandarkan kepada Tuhan, melainkan disandarkan kepada manusia.”[6]

4. Taftazani menulis: “Kasb, penyandaran kekuasaan dan kehendak dari sisi manusia dan terciptanya perbuatan setelah itu dari sisi Tuhan, penciptaanya. Di sini maqdur (yang dikuasai) yang tunggal berada di bawah dua kekuasaan, akan tetapi dengan dua sisi yang berbeda. Dengan demikian, perbuatan dari sisi penciptaan yang dikuasai (maqdur) berasal dari Tuhan dan dari sisi wadah yang dikuasai berasal dari hamba (manusia).”[7]

Pada kesempatan ini, tentu tidak memungkinkan bagi kita untuk membahas dan mengkritisinya secara detil dan jeluk seluruh redaksi para pembesar Asy’ariah tentang teori wadah atau perolehan ini. Kita hanya akan menyinggung beberapa poin yang layak untuk dipertimbangkan.

Mengkaji Penafsiran Kasb

Masing-masing dari penafsiran kasb yang disampaikan di atas memiliki cela dan borok dimana di sini kita akan menyinggung sebagian darinya. Sebagaimana yang telah disinggung pada postingan Mizan Keadilan Tuhan [3], bahwa memahami teori kasb ini sama peliknya dengan memahami konsep trinitas dalam tradisi agama Kristen. Namun berdasarkan dari definisi yang disebutkan di atas mari kita lihat betapa rancunnya teori kasb ini.

Dalam mengkritisi penafsiran pertama, kita boleh bertanya apa peran kekuasaan yang dihasilkan manusia? Apabila penciptaan dan pengadaan perbuatan dalam artian yang sebenarnya kembali kepada Tuhan dan penyandaran kepada selain Tuhan adalah tidak benar, maka bagaimana kekuasaan yang dihasilkan manusia dapat berpengaruh? Apabila kekuasaan manusia memiliki pengaruh maka hal ini meniscayakan perbuatan itu juga merupakan ciptaan manusia. Dengan kata lain, apabila kekuasaan manusia disejajarkan secara vertical dengan kekuasaan Tuhan, maka ucapan puak-puak Asy’ariah meniscayakan bergabungnya dua kekuasaan atas sesuatu atau satu perbuatan (maqdur, yang dikuasai) dimana hal ini merupakan perkara yang absurd dan perbedaan sisi atau dimensinya tidak memiliki pengaruh dalam hal ini. Dan apabila dipandang kekuasaan manusia berada secara vertikal, top-down dengan kekuasaan Tuhan maka hal itu memestikan secara hakiki bahwa manusia juga memiliki kekuasaan dalam mengadakan sebuah perbuatan dan inilah konsep kebebasan (ikhtiar) dimana hal ini ditolak dan diingkari oleh puak-puak Asy’ariah.

Dalam mengkritisi penafsiran kedua dapat dikatakan bahwa, berdasarkan penafsiran ini, peran manusia hanya bersamaan dan simultan kehendak dan kekuasaanya dengan pengadaan perbuatan. Dan simultannya kehendak dan kekuasaan manusia dengan terwujudnya sebuah perbuatan yang merupakan makhluk Tuhan, tidak dapat menjadi pembenaran atas penyandaran perbuatan manusia, ganjaran (tsawab) dan hajaran (’iqab). Apabila puak-puak Asy’ariah menerima bahwa kehendak dan kekuasaan manusia dalam proses ini, kehendak dan kekuasaan sejatinya, maka dalam hal ini mereka harus mengakui bahwa manusia secara hakiki berada dalam silsilah sebab-sebab (‘ilal) terwujudnya perbuatan. Dan perbuatan tidak melulu merupakan makhluk Tuhan dan namun sayang seribu sayang, puak Asy’ariah tidak menerima keniscayaan ini. Namun apabila kehendak dan kekuasaan manusia ini tidak dipandang sebagai sesuatu yang real oleh puak Asy’ariah, maka mereka harus menerima figuratifnya kehendak dan kekuasaan manusia dan memandang ada dan tiadanya kehendak dan perbuatan manusia itu harus dipandang sama dan sebagai konsekuensinya bermuara pada determinisme mutlak.

Kini mari kita beralih ke penafsiran ketiga. Isykalan yang patut diacungkan kepada Qadhi Baqilani dan orang-orang yang sepaham dengannya adalah apabila titel-titel yang mengikut pada perbuatan-perbuatan haruslah perkara eksistensial, dalam hal ini (berdasarkan pandangan Asy’ariah dalam masalah tauhid dalam penciptaan) titel-titel ini merupakan makhluk-makhluk Tuhan dan manusia secara asasi tidak memiliki peran dalam terwujudnya sebuah perbuatan, namun apabila titel-titel ini merupakan perkara-perkara mental (dzihni), yang memang demikian adanya, maka teori kasb ini juga akan kosong dari segala realitas dan semata-mata merupakan perkara wahmi (delusif) dan non-real yang dikembangkan dan disebarkan oleh puak-puak Asy’ariah.

Adapun kritik atas penafsiran keempat juga seperti isykalan-isykalan di atas. Sejatinya menyandarkan kehendak dan kekuasaan, dalam pengadaan perbuatan pengaruh dan interfensi real atau tidak real meniscayakan sesuatu yang telah dijelaskan pada kritikan atas penafsiran pertama dan kedua, juga dapat diacungkan kepada penafsiran keempat ini.

Dengan memperhatikan poin-poin di atas akan menjadi jelas bahwa pertentangan teori kasb dengan akal sehat atau tidak kompatibelnya teori kasb dengan akal sehat. Masalah ini terkadang secara selintasan diakui oleh pembesar Asy’ariah; misalnya Taftazani dengan redaksi di bawah ini mengakui kekurangan dalam menjelaskan dan memahamkan teori kasb ini. Ia berkata “Makna yang kami berikan atas teori kasb (di atas) sekedar yang penting saja, kendati kami tidak mampu meringkas redaksi dari hakikat bahwa perbuatan-perbuatan manusia yang memiliki kekuasaan, kehendak dan kebebasan yang ia miliki merupakan makhluk Tuhan.”[8]

Pelbagai isykalan yang tergeletak pada teori kasb ini telah menyebabkan sebagian ulama besar Asy’ariah mengingkari dan menafikan teori ini; misalnya Imam al-Haramain Abu al-Mu’ali Juwaini yang menegaskan adanya pengaruh real kekuasaan manusia dalam perbuatan dan keberadaan selaksa kausalitas di alam semesta, sebagaimana Imamiyah. Dan menafikan kekuasaan dan peran mandiri manusia dalam perbuatannya adalah bertentangan dengan akal sehat dan perasaan.[9] Syaikh Sya’rani (w 973) juga senada dengan Juwaini menerima pandangan ini.[10] Demikian juga, tokoh seperti Muhammad Abduh (w 1323) yang menolak teori kasb ini dan mengakui pengaruh, peran dan kekuasaan real manusia dalam penciptaan perbuatan. Ahmad Amin memandang teori kasb ini sebagai istilah dan bentuk baru dari determinisme (mutlak).[11]

Tafwidh

Mu’tazilah bertolak belakang sine qua non dengan Asy’ariah yang memilih konsep tafwidh (pendelegasian). Berdasarkan pandangan ini Tuhan menciptakan manusia dan menganugerahkan kekuasaan dan kebebasan untuk mengerjakan segala perbuatan. Tuhan dalam hal ini telah mendelegasikan (tafwidh) kekuasaan dan kebebasan kepada manusia. Dengan kata lain, Tuhan menciptakan segala sesuatu dan keberpengaruhan didelegasikan kepadanya dan dengan demikian, Tuhan tidak memiliki peran pengaruh sama sekali dalam hukum kausalitas.[12]

Berdasarkan pandangan ini seluruh manusia dalam mengerjakan perbuatannya merdeka dan manusia sebagai satu-satunya sebab dari seluruh perbuatannya. Konsekuensinya adalah Tuhan sama sekali tidak ada campur tangan dalam pengadaan perbuatan manusia.Tuhan menghendaki bahwa seluruh manusia beriman kepada kebebasan yang dimilikinya. Demikian juga memerintahkan manusia untuk mengerjakan kebaikan dan menjauh dari perbuatan buruk. Manusia juga dengan kebebasan yang ia miliki mengerjakan perbuatan baik dan menjauh dari perbuatan buruk. Dengan penjelasan ini pertama Tuhan terbebas dari perbuatan-perbuatan buruk; kedua, fungsi taklif, janji dan ancaman, ganjaran dan hajaran manusia tetap terpelihara.

Mu’tazilah dalam membela pemikiran dan keyakinannya mengemukakan pelbagai argumen rasional (aqli) dan referensial (naqli). Sebagaimana Jurjani menulis, argumen rasional Mu’tazilah berpijak pada landasan bahwa apabila manusia dalam mengerjakan seluruh perbuatannya tidak merdeka dan bebas, maka taklif akan rontok dan gugur. Demikian juga mengajarkan adab kepada manusia yang menjadi tujuan penciptannya akan runtuh; karena manusia apabila ia tidak merdeka dan bebas, secara asasi perbuatannya tidak akan dapat disandarkan kepadanya. Dan pengutusan para nabi akan sia-sia. Karena asumsinya adalah manusia bukan pelaku atas setiap perbuatannya dan dengan demikian ia tidak layak untuk mendapatkan ganjaran dan hajaran. Demikian juga penyandaran seluruh perbuatan buruk kepada Tuhan.

Mu’tazilah, di samping argumen rasional, juga berpijak pada dalil-dalil referensial (naqli) misalnya, “ Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis al-Kitab dengan tangan mereka sendiri..” (Qs. Al-Baqarah [2]:79), “ Dan katakanlah, “Beramallah kamu, maka Allah dan rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat amalmu itu..” (Qs. At-Taubah [9]:105), “ Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (Qs. Ar-Ra’ad [13]:11)

Argumen-argumen rasional dan referensial Mu’tazilah mendapatkan kritikan tajam dari puak teolog Asy’ariah.[13] Pada kesempatan lain kita akan membahas ayat-ayat yang dijadikan sandaran referensial. Namun sandaran rasionalnya patut mendapatkan perhatian sebagaimana poin di bawah ini:

A.Keniscayaan keyakinan tafwidh adalah manusia berada pada tataran kepelakuan mutlak dan sama sekali tidak memiliki hajat kepada Tuhan dimana hal ini tidak selaras dengan tauhid perbuatan; karena menjadi penyebab pembuktian dualisme dan sesuai redaksi Mulla Shadra membuktikan mitra dan sekutu yang tak berbilang bagi Tuhan. Mulla Shadra berkata bahwa keyakinan tafwidh lebih buruk dari keyakinan bahwa berhala-berhala mampu memberikan syafaat.[14]

B.Manusia dan segala perbuatan, segala fenomena dan dimensi yang berasal darinya merupakan bagian dari mumkinul wujud, dan perkara mumkinul wujud untuk mewujudkan dirinya ia berhajat kepada wajibul wujud. Apabila seluruh perbuatan manusia (mumkinul wujud) – kendati melalui pelaku merdeka – tidak bersandar kepada Tuhan (wajibul wujud), sekali-kali perbuatan ini tidak akan pernah terwujud. Maka tiada jalan lain selain menyandarkan perbautan manusia kepada Tuhan (wajibul wujud). Penyandaran ini sebagaimana yang akan dijelaskan ke depan adalah penyandaran vertical dan tidak berujung kepada determinisme.

C.Penyandaran perbuatan buruk kepada Tuhan dapat terjadi apabila seluruh perbuatan buruk itu kita sandarkan kepada Tuhan tanpa media, akan tetapi dengan perantara manusia merdeka sekali-kali perbuatan buruk tersebut tidak dapat disandarkan kepada manusia. Pada hakikatnya, Tuhan menghendaki manusia melakukan perbuatan baik sesuai dengan kebebasan yang ia miliki dan melarangnya untuk tidak melakukan perbuatan buruk sesuai dengan kebebasan yang ia miliki.

Kebebasan

Kini mari kita telisik pandangan yang tidak menafikan kebebasan juga tidak memutlakkan kebebasan. Dengan mengadopsi posisi in between ini tauhid perbuatan dan keadilan Ilah dapat tetap terjaga sekaligus kebebasan manusia serta menghindar dari keniscayaan invalidnya seperti invaliditas pengutusan para nabi, penetapan taklif (dalam pandangan Asy’ariah) dan syirik dan dualism (dalam pandangan Mu’tazilah).

Para teolog Imamiyah dengan inspirasi dari ajaran Ahlulbait As memilih konsep al-amr baina amrain. Sebuah konsep dimana untuk memahaminya secara jeluk harus dikuliti dalam sebagian pembahasan pelik filsafat, namun kandungan dari konsep tersebut dapat dijelaskan secara sederhana bahwa perbuatan-perbuatan manusia secara hakiki dapat dinisbatkan kepada manusia sekaligus kepada Tuhan. Perbuatan-perbuatan manusia dapat disandarkan kepada manusia karena berdasarkan kekuasaan dan kehendak perbuatan itu terjewantahkan. Dan sekaligus dapat disandarkan kepada Tuhan lantaran seluruh eksistensi dan pengaruh manusia – sebagai akibat Tuhan- bergantung kepada Tuhan dan bersumber darinya. Pada hakikatnya, manusia sebagai penyebab dan pelaku dari perbuatannya dalam hubungannya dengan perbuatan-perbuatannya, secara hakiki, namun tidak sejajar secara horizontal dengan kesebaban Tuhan, melainkan berdiri secara vertikal, top-down dan bergradasi. Untuk menjelaskan perbedaan pandangan tiga mazhab teologi terbesar dalam Islam ini, ada baiknya kita memperhatikan contoh yang baik yang diutarakan oleh salah seorang teolog dan juris Imamiyah, Ayatullah Khui Ra:

Anggaplah seseorang lantaran penyakit syaraf tangannya senantiasa bergetar sedemikian sehingga ia tidak memiliki kendali atas tangannya sendiri. Dan apabila sebilah pedang diletakkan di tangannya kapan saja pedang tersebut bisa jatuh dan melukai orang di sekitarnya. Kini apabila seseorang dengan pengetahuan dan kesadaran terhadap realitas ini, diletakkan sebilah pedang di tangannya dan pedang tersebut terjatuh sehingga merebut nyawa seseorang lainnya, dalam kasus ini yang bertanggung jawab adalah orang tersebut karena pedang tersebut berada di tangannya, bukan pada orang yang tidak memiliki kontrol atas anggota badannya.

Sekarang perkara ini kita ilustrasikan pada seseorang yang sehat dan mampu mengendalikan seluruh anggota badannya. Apabila pedang ditaruh di tangannya dan ia juga terjerembab dalam perbuatan membunuh, pembunuhan ini disandarkan kepadanya bukan kepada orang yang diletakkan pedang di tangannya. Dan terakhir, anggaplah seseorang yang tangannya tidak bergetar, melainkan secara keseluruhan lumpuh dan tidak lagi bekerja secara aktif. Namun alat elektronik diberikan kepadanya dan ia dapat apabila alat tersebut menyala, maka ia dapat menggerakkan tangannya ke kiri dan ke kanan. Anggaplah tombol untuk memfungsikan alat tersebut berada di tangan orang lain sedemikian sehingga sepanjang orang tersebut tidak menekan ON pada tombol tersebut, maka alat itu tidak akan beroperasi. Apabila seseorang yang memegang remote control mengoperasikan alat elektronik itu dan orang yang lumpuh seluruh anggota badanya melakukan perbuatan membunuh maka dalam hal ini perbuatan itu disandarkan kepada keduanya; lantaran ia sendiri memilih untuk menggunakan alat tersebut dan dengan kebebasan yang ia miliki ia melakukan tindakan pembunuhan ini. Dari sisi lain, disandarkan kepada orang yang memegang remote kontrol karena ia telah mengoperasikan seseorang yang lumpuh kekuataannya dan ia dapat kapan saja mematikan alat tersebut dan mencegah orang lumpuh itu dari perbuatannya.

Dengan memperhatikan tiga contoh kasus di atas menjadi jelas bahwa puak determinisme dan juga Asy’ariahyah – yang mengusung teologi determinisme – hubungan manusia dengan perbuatannya seperti contoh kasus pertama dan Mu’tazilah pada contoh kasus kedua. Adapun Imamiyah dapat ditinjau pada contoh kasus ketiga. Pandangan ini mungkin dapat dijelaskan dalam frame sistem filsafat Hikmah Muta’aliyah dengan tiga kaidah utama seperti berikut ini:

a.Wujud yang memiliki kehakikian (asil) bukan mahiyyat (kuiditas). Pada hakikatnya, yang diciptakan secara esensial dan hakiki adalah wujud. Dan tiada sesuatu yang lain kecuali pemahaman yang menjadi penjelas batasan-batasan seluruh wujud mumkin.

b.Wujud segala mumkinul wujud (seluruh makhluk di alam semesta) adalah ain rabt (murni hubungan) dan faqir mutlak; artinya seluruh makhluk tidak lain bersandar, bergantung dan berhubungan dengan wajibul wujud. Dan berangkat dari hal ini, ia tidak memiliki kemandirian dalam keberadaanya dan keberadaan seluruh makhluk itu tidak dapat digambarkan tanpa adanya ketergantungan kepada wajibul wujud.

c.Penciptaan atau pengadaan merupakan cabang dari wujud. Sebagaimana esensi dan keberadaan mumkinul wujud (seluruh makhluk) adalah ain rabt dan bergantung sepenuhnya kepada wajibul wujud, pengaruh dan perbuatan seluruh makhluk tersebut demikian adanya; karena sebuah fenomena sebagaimana ia maujud juga merupakan sumber pengaruh. Dengan demikian, apabila mereka mandiri dalam dzatnya, maka dalam kepelakuan juga akan memiliki kemandirian. Dan apabila pada dzatnya seluruh makhluk merupakan ain rabt (murni hubungan) dan bergantung, maka dalam kepelakuannya juga demikian adanya. Oleh karena itu, asumsi kemandirian sebuah fenomena dalam arsy perbuatan dan asumsi hubungan dan kebergantungannya pada tataran dzat merupakan dua asumsi yang kontradiktif dan tidak masuk akal.

Dari ketiga kaidah ini dapat disimpulkan bahwa perbuatan manusia disandarkan kepada manusia pada saat yang sama disandarkan kepada Tuhan; karena perbuatan-perbuatan manusia merupakan turunan dari keberadaanya dan tanpa syak bahwa keberadaannya di samping ia merupakan wujudnya sendiri, merupakan ain rabt dan bersandar kepada Tuhan.

Berdasarkan hal ini, manusia adalah ain rabt dan bergantung kepada Tuhan dan pada setiap detiknya memerlukan emanasi energi, kekuatan dan kehidupan darinya. Dengan demikian manusia pada detik ia mengerjakan sebuah perbuatan, dengan energi dan kehidupan ia melakukan perbuatan yang bersumber dari emanasi energi dan emanasi kehidupan dari Tuhan. Sejatinya perbuatan yang dilakukan manusia memiliki dua sandaran hakiki; Pertama, bersandar kepada manusia; karena bersumber dari dirinya sendiri dan berdasarkan kebebasan dan kekuasaan yang ia miliki; Kedua, bersandar kepada Tuhan; karena Tuhan pada setiap detiknya, bahkan detik ketika perbuatan itu dilakukan Dia menganugerahkan kehidupan dan kekuasaan kepada manusia. Dari sini perbuatan manusia merupakan perbuatannya sendiri pada saat yang sama juga merupakan perbuatan Tuhan. Berdasarkan pendekatan ini keberadaan manusia tidak lain kecuali hubungan mutlak kepada Tuhan.[15] Secara asasi di seantero semesta dari dimensi bahwa mereka bergantung dan berhubungan mutlak, mereka merupakan manifestasi kekuasaan dan kehendak, ilmu Tuhan dan inilah maksud al-amru baina amrain, manzilah baina manzilatain yang termaktub dalam riwayat.[16]

Tauhid dalam Penciptaan

Kendati masalah ini telah dibahas pada postingan sebelumnya, namun nampaknya kini pembahasan tersebut harus dikuliti lagi di sini sembari menyebutkan beberapa penafsiran dari tiga mazhab besar teologi dalam Islam.

Tauhid dalam penciptaan merupakan ajaran yang mendapat penegasan al-Qur’an dan Sunnah. Tauhid dalam penciptaan ini disepakati oleh seluruh firqah dan mazhab teologi dalam Islam; akan tetapi yang menjadi titik perbedaan, bagaimana menafsirkan dan menginferensi ajaran ini. Secara umum terdapat tiga penafsiran penting berkenaan dengan masalah ini. Penafsiran Asy’ariah, Mu’tazilah dan Imamiyah. Telaah global dari penafsiran ini menunjukkan bahwa penafsiran yang disuguhkan Asy’ariah merupakan penafsiran yang berbau deterministic. Dan penafsiran Mu’tazilah menyangsikan keumuman kekuasaan Ilahi dan tauhid dalam penciptaan.

Penasiran Asy’ariah

Sebelumnya telah dikemukakan teori kasb yang diintrodusir oleh puak-puak Asy’ariah dalam membela dan mempertahankan “kemurnian” tauhid dalam penciptaan. Menurut Asy’ariah pengadaan dan penciptaan secara mutlak terbatas kepada Tuhan dan dalam tataran wujud, tiada satu pun yang berpengaruh dan berkreasi selain Tuhan. Segala sesuatu selain-Nya tidak memilik peran dan pengaruh dalam penciptaan dan pengadaannya baik secara mutlak atau secara ikutan. Asy’ariah berdasarkan pandangan ini telah mangkir dari hukum kausalitas dan proses pengaruh-mempengaruhi (ta’tsir dan ta’atstsur) seluruh maujud dan segala sesuatu di alam semesta. Menurut mereka pengaruh yang terlihat pada setiap fenomena adalah bersumber dari Tuhan. Misalnya membakar bukan merupakan pengaruh dan akibat dari api dan apabila dikatakan bahwa api itu membakar hal ini hanyalah merupakan kebiasaan Tuhan yang berlaku dimana dengan adanya api maka ia akan memunculkan panas dan membakar. Kalau bukan karena kebiasaan Tuhan maka tidak aka nada hubungan antara panas dan api. Dengan demikian dalam tataran eksistensi hanya terdapat satu yang berpengaruh dan satu sebab. Tuhan tidak menunjukkan kekuasaannya melalui pengadaan mekanisme kausalitas, namun Dia menjadi pengganti seluruh sebab dan musabab. Asy’ariah memandang perkara ini berlaku pada segala hal. Dan berdasarkan pandangan ini mereka mengambil kesimpulan bahwa seluruh perbuatan manusia juga, secara langsung merupakan perbuatan Tuhan dan manusia semata-mata memperoleh (kasb) atau menjadi wadah atas perbuatan ini. Sebagaimana yang telah disebutkan di atas teori kasb ini meniscayakan tiadanya peran dan campur tangan hakiki manusia pada seluruh perbuatannya.

Padahal, mangkir dari hukum kausalitas dan peran pengaruh manusia dan fenomena semesta pada penciptaan pada beragam masalah bertolak belakang dengan nurani, akal sehat dan penemuan syuhudi manusia; Mengapa? Karena:

1. Dalam banyak perkara kita menemukan diri kita sebagai yang berpengaruh misalnya pelaku dan pengada segala konsepsi dan pemikiran mental (dzihni) kita adalah diri kita sendiri. Jelas bahwa bukti nurani merupakan sebaik-baik dalil dalam membuktikan hukum kausalitas.

2. Ketika seseorang yang tidak beriman kepada Tuhan hendak (iradah) menciptakan menara Monas dalam benaknya, ia dapat dengan mudah mengerangka sekaligus menghancurkannya dalam benaknya, mengusungnya dan menempatkannya di mana saja di belantara dunia dalam benaknya dimana hal ini menunjukkan peran mandiri pelaku orang tersebut dan wujud mental yang diciptakan tersebut eksis karena diwujudkan oleh pelaku tersebut dan hal ini membuktikan peran kekuasaan dan pengaruh pelaku manusia dalam penciptaan.

3. Menerima konsep kebebasan manusia dan hukum kausalitas, seperti klaim penanggap, namun mengingkari peran kepelakuan, penciptaan, pengaruh manusia dan setiap fenomena meniscayakan kontradiksi. Menerima kebebasan manusia dan hukum kausalitas meniscayakan peran kepelakuan, penciptaan, pengaruh manusia dan setiap fenomena.

4. Apabila hukum kausalitas dinafikan maka probabilitas untuk membuktikan wujud Tuhan menjadi tidak tersedia. Karena salah satu argumen dalam membuktikan wujud Tuhan adalah bersandar kepada hukum kausalitas. Karena Dialah Prima Causa (illatul ilal).

5. Penafian hukum kausalitas – atau menafikan peran kepelakuan manusia dan sepenuhnya menyandarkannnya kepada Tuhan meniscayakan gugurnya seluruh proposisi-proposisi turunnya wahyu, pengutusan para nabi, adanya ganjaran (tsawab) dan hajaran (iqab), karena semua perbuatan Tuhanlah yang melakukan.

6. Akal sehat tanpa teks-teks agama sekalipun turut menyokong hukum kausalitas. Maksudnya Anda Asy’ariahyyun tidak dapat meyakinkan kepada manusia yang tidak beragama dan tidak meyakini adanya Tuhan bahwa penyebab segala sesuatu itu adalah Tuhan, bersandarkan kepada kitab suci, bahwa Tuhan itu khaliq kullu syai, bagaimana Anda Asy’ariahyyun menjawab mereka yang tidak beriman kepada Tuhan, dengan al-Qur’an tentu meniscayakan circular reasoning (daur) dan tentu saja hal ini absurd. Namun dengan common sense, tanpa bersandar kepada teks-teks agama dapat membuktikan hal tersebut.

7. Teks-teks agama ternyata terbukti menyokong hukum kausalitas ini. Sejatinya tauhid dalam penciptaan merupakan ajaran yang bersumber dari agama. Berangkat dari sini, harus diperhatikan bahwa apa sebenarnya pandangan al-Qur’an dalam masalah ini? Apakah penafsiran Asy’ariah selaras dan senada dengan ayat-ayat al-Qur’an atau tidak? Apakah benar-benar al-Qur’an menafikan hukum kausalitas? Dengan memperhatikan dengan seksama ayat-ayat Qur’an maka akan menjadi jelas bahwa al-Qur’an mengakui secara resmi hukum kausalitas dan peran kepelakuan fenomena. Dan dalam banyak perkara hukum kausalitas disandarkan kepada perkara-perkara natural; misalnya pada ayat “Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menumbuhkan dengan hujan itu segala jenis buah-buahan sebagai rezeki untukmu. (Qs. Al-Baqarah [2]:22) Ba dalam redaksi bihi (dengan perantara) di sini bermakna penyebab; artinya sebab tumbuhnya segala jenis tumbuh-tumbuhan adalah air dan apabila tidak ada air maka tidak akan ada buah-buahan. Dan juga pada ayat “Dan di atas bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan (tapi berbeda-beda), dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman, dan pohon kurma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama… “ (Qs. Ar-Ra’ad [13]:4) Redaksi “disirami dengan air yang sama” menujukkan peran penciptaan air dan pengaruhnya dalam tumbuh dan berkembangnya pepohonan dan tumbuh-tumbuhan. Di samping ayat-ayat yang telah disebutkan dengan beberapa pendahuluan filsafat dan logika, pada postingan Lagi tentang Determinisme dan Kebebasan Manusia, menegaskan penerimaan al-Qur’an terhadap hukum kausalitas. Dan tentu saja tidak akan menjadikan Anda musyrik sebagaimana keyakinan Asy’ariah yang telah dibuktikan absdurditasnya.

Penafsiran Mu’tazilah

Mu’tazliah berkebalikan dari Asy’ariah menerima hukum kausalitas dan pengaruh-mempengaruhi sebab di antara belantara akibat natural. Akan tetapi seluruh perbuatan mandiri manusia disandarkan hanya kepada manusia. Menurut mereka perbuatan-perbuatan manusia bukan merupakan makhluk Tuhan. Berdasarkan hal ini Mu’tazilah acapkali disebut sebagai “Mufawwidha”; karena mereka berkeyakinan bahwa setelah Tuhan menciptakan manusia, Tuhan mendelegasikan (tafwidh) kebebasan kepada manusia dalam perbuatannya. Penafsiran ini kendati memelihara peran kepelakuan sebab-sebab natural dan pelaku-pelaku insan, namun kritikan fundamental yang patut diacungkan kepada Mu’tazilah adalah mereka mengingkari tauhid dalam penciptaan; karena Tuhan tidak memiliki peran sama sekali dalam perbuatan-perbuatan mandiri manusia. Di samping itu, pensyariatan hukum-hukum, perintah dan larangan dari sisi Tuhan tidak lagi memiliki makna. Demikian juga pendelegasian (tafwidh) ini hanya dapat digambarkan ketika Tuhan tidak lagi dipandang sebagai penguasa mutlak dan kepenguasaan-Nya dinegasikan dari yang dikuasai-Nya (ma yamluk).

Nampaknya sumber kesalahan kedua penafsiran ini memandang kepelakuan dan pengaruh sebab-sebab dan pelaku-pelaku natural berada sejajar secara horizontal dengan kepelakuan Tuhan, padahal berdasarkan pada kaidah tepat akal konsepsi semacam ini adalah konsepsi salah kaprah. Sebagaimana yang akan disebutkan belakangan dengan penafsiran valid dan sahih, baik kepelakuan Tuhan dan juga kepelakuan sebab-sebab yang lain dapat tetap terjaga.

Penafsiran Imamiyah

Para teolog Imamiyah dengan ilham dan inspirasi dari ajaran para maksum As memandang bahwa penafsiran Asy’ariah ihwal tauhid penciptaan sebagai sikap ifrath dan Mu’tazilah sebagai tafrith (ekstrem). Imamiyah menawarkan konsep in between (laa jabr wa la tafwidh,,wal amru baina amrain). Menurut teolog Imamiyah dari tauhid penciptaan ini adalah bahwa tiada pencipta, pelaku mandiri mutlak dan secara esensial (dzati) selain Tuhan, dari sisi lain kepelakuan dan peran penciptaan pelaku-pelaku dan sebab-sebab natural dan manusia juga tidak dapat diingkari. Kepelakuan yang lain seperti pelaku-pelaku di antaranya manusia dalam hubungannya dengan perbuatan-perbuatannya, merupakan kepelakuan hakiki dimana pada saat yang sama berada secara vertikal, top-down, dengan kepelakuan Tuhan. Dengan memperhatikan ayat dan riwayat para maksum As tauhid dalam penciptaan ini dapat dijelaskan sebagaimana di bawah ini:

A. Sebagaiman yang telah lewat, dengan memperhatikan ayat-ayat Qur’an akan menjadi jelas bahwa dalam banyak perkara pengaruh yang disandarkan kepada sesuatu dan perkara-perkara natural; misalnya air yang menjadi penyebab tumbuh-berkembangnnya tumbuh-tumbuhan, pepohonan dan madu sebagai penyembuh (syifa).

B. Al-Qur’an menisbatkan perbuatan-perbuatan kepada manusia dan memandang pelakunya adalah manusia dimana penyandaran secara langsung tanpa media (on the spot) kepada Tuhan adalah penisbatan salah kaprah, seperti berjalan, minum, tidur, menunaikan shalat, etc. Perbuatan-perbuatan semacam ini bertautan dengan manusia dan selainnya tiada pelaku lain.

C. Tuhan menitahkan manusia untuk mengerjakan kebaikan dan mentaati-Nya serta melarang manusia mengerjakan perbuatan buruk dan tercela. Masing-masing dari perbuatan baik ini diganjari dengan kenikmatan dan perbuatan buruk dihajar dengan azab. Nah, apabila manusia tidak memiliki peran dalam perbuatan-perbuatan baik dan buruk maka niscaya keseluruhan ganjaran dan hajaran ini tidak akan memiliki makna.

Sebagaimana tiga poin berikut ini di samping ayat seperti:

قُلِ اللهُ خالِقُ كُلِّ شَيْ‏ءٍ وَ هُوَ الْواحِدُ الْقَهَّارُ

“Katankanlah: “Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.” (Qs. Ar-Raad [13]:16)

Yang menjelaskan universalitas dan keumuman kepelakuan Tuhan pada segala sesuatu dan kita sampai pada kesimpulan bahwa sistem penciptaan dan segala jenis ciptaan yang eksis di dalamnya memiliki andil dalam mewujudkan peran pengaruhnya, akan tetapi peran pengaruh ini sesuai dengan izin dan taqdir Ilahi:

وَ اللهُ خَلَقَكُمْ وَما تَعْمَلُونَ

“Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.” (Qs. Shaffat [37]:96)

الَّذي أَعْطى‏ كُلَّ شَيْ‏ءٍ خَلْقَهُ ثُمَّ هَدى

“Yang telah memberikan kepada makhluk-Nya segala sesuatu (yang mereka butuhkan), kemudian memberi petunjuk kepada mereka.” (Qs. Thaha [20]:50)

الَّذي قَدَّرَ فَهَدى

“Yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk.” (Qs. A’la [87]:3)

Dan terakhir

وَ ما رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَ لكِنَّ اللهَ رَمى

“Bukan kamu (hai Muhammad) yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar.” (Qs. Al-Anfal [8]:17)

Sejatinya wujud segala sesuatu dan juga perbuatan, pengaruh, gerakan, diamnya bermuara pada qadha dan qadar Ilahi yang merupakan episode selanjutnya dari silsilah pembahasan di site ini. Tuhan menciptakan mekanisme eksistensi dan menjadikannya mengikut kepada hukum kausalitas dan faktor-faktor hakiki. Dengan demikian segala sesuatu berada secara vertikal, top-down dengan kehendak Tuhan memiliki peran penciptaan dan pengaruh pada perbuatan-perbuatan tersebut. So, proposisi “ada..tapi” tentu dengan pembuktian-pembuktian di atas tiada bermasalah dengan kemurnian Tauhid pada Penciptaan. Ajakan penanggap untuk tidak mengotak-atik masalah tauhid adalah ajakan yang tidak boleh diamini, karena dalam masalah tauhid sekalipun Asy’ariah sangat bermasalah. Jadi, saran penulis alih-alih Anda menghabiskan waktu untuk merekonstruksi teologi Imamiyah ihwal Tauhid dalam Penciptaan, yang sangat logis dan argumentatif, sebaiknya Anda menyelesaikan PR sendiri berupa borok dan cela teologi Asy’ariyah tentang Tuhan, Qur’an, Nabi, nasib manusia dan lain sebagainya. Nantikan saja bagaimana kami membuktikan kemusykilan Asy’ariah dalam masalah tauhid, pandangannya terhadap al-Qur’an dan nabi, qadha dan qadar. Tapi sebelum itu, penulis meminta kepada Anda atau siapa saja yang sepaham dengan Anda untuk menyuguhkan secara sistematis pokok-pokok ajaran Asy’ariyah yang bakalan menjamin terpeliharanya tradisi ilmiah dan dialog interaktif. Tentunya pihak redaksi akan senang hati memuat tulisan dan pembelaan Anda atas mazhab yang Anda yakini. Wellcome.


Note:

[1]. Fathul Bari, al-Askalani, jil. 13, hal. 384, al-Qausyaji, Syarh Tajrid al-Aqa’id, hal. 340.
[2]. Syahristani, al-Milal wa an-Nihal, jil. 1, hal. 78, Abul Hasan al-Asy’ari, Maqalat al-Islamiyyin, jil. 1, hal. 312.
[3]. Al-Baghdadi, al-Firaq bain al-Firaq, hal. 194.
[4] . Al-Asy’ari, Abul Hasan, al-Lam’e fii ar-Rad ‘ala Ahli az-Zaigh wa al-Bida’, hal. 76.
[5] . Qausyaji, Syarh Tajrid al-‘Aqa’id, hal. 341.
[6] . Syahristani, al-Milal wa an-Nihal, jil. 1, hal. 97-98.
[7]. Syarh al-Aqa’id an-Nasafiyyah, hal. 117.
[8] . Syarh al-‘Aqâid an-Nasafiyah, hal. 117.
[9]. Syahristani, al-Milal wa an-Nihal, jil. 1, hal. 98-99.
[10]. Risâlah at-Tauhid, hal. 59-62.
[11]. Dhuhâ al-Islâm, jil. 3, hal. 57.
[12] . Lub al-Atsar fi al-Jabr wa al-Qadr, hal. 38.
[13]. Sa’ad ad-Din Taftazani, Syarh al-Maqasid, jil. 4, hal. 253-362.
[14] . Shadra al-Muta’allihin, al-Hikmah al-Muta’aliyah, jil. 6, hal. 370.
[15]. Ja’far Subhani, Jabr wa Ikhtiar, hal. 289-291.
[16]. Ruhullah Khomeini Ra, Thalab wa Iradah, hal. 74.
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Aswaja Ala NU
Thursday, 12 June 2008 14:28

ASWAJA ala Nahdlatul Ulama

http://nu-jatim.org/index.php?option=com_content&view=article&id=47&Itemid=56

Nahdlatul Ulama (NU) adalah organisasi yang didirikan para kyai-kyai yang berpengaruh, KH. Hasyim Asy’ari merupakan simbol ulama besar yang berpengaruh. Tujuan didirikannya Nahdlatul Ulama diantaranya adalah memelihara, melestarikan, mengembangkan dan mengamalkan ajaran Islam Ahlus Sunnah Wa al-Jama’ah yang menganut madzhab empat, yakni : Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i dan Imam Hambali. Disamping itu juga bagaimana bisa menyatukan antara ulama dan [para pengikutnya-pengikutnya serta melakukan kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk menciptakan kemaslahan masyaraka, kemajuan bangsa dan ketingian harkat dan martabat manusia.

Islam Ahlus Sunnah Wa al-Jama’ah adalah ajaran yang disampaikan Nabi Muhammad SAW kepada sahabat-sahabat-Nya dan beliau amalkan serta diamalkan para sahabat, paham Ahlus Sunnah Wa al-Jama’ah dalam Nahdlatul Ulama mencakup aspek aqidah, syariah dan akhlak. Ketiganya, merupakan satu kesatuan ajaran yang mencakup seluruh aspek prinsip keagamaan Islam. Ahlus Sunnah Wa al-Jama’ah didasarkan pada manhaj (pola pemikiran) Asy’ariyah dan Maturidiyah dalam bidang aqidah, dalam bidang fiqih menganut empat madzhab besar (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali) dalam bidang tasawuf menganut manhaj Imam al-Ghazali dan Imam Abu al-Qasim al-Junaidi al-Bagdadi, serta imam lainnya yang sejalan dengan syari’ah Islam.

Ciri utama Aswaja NU adalah sikap tawassuth dan i’tidal (tengah-tengah atau keseimbangan). Yakni selalu seimbang dalam menggunakan dalail, antara dalil naqli dan dalil aqli, antara pendapat jabariyah dan qodariyah, sikap moderat dalam menghadapi perubahan dunyawiyah. Dalam masalah fiqih sikap pertengahan antara ”ijtihad” dan taqlid buta, yaitu dengan cara bermadzhab, ciri suikap ini adalah tegas dalam hal-hal yang qathi’iyyat dan toreran dalam hal-hal zhanniyyat.

Tawassuth dalam menyikapi budaya ialah mempertahankan budaya lama yang baik dan menerima budaya baru yang lebih baik, dengan sikap ini Aswaja NU tidak apriori menolak atau menerima salah satu dari keduanya.

Sumber Ajaran Aswaja NU

Pola perumusan hukum dan ajaran Ahlul Sunnah Wa al-Jama’ah Nahdlatul Ulama sangat tergantung pada pola pemecahan masalahnya, antara: pola maudhu’iyah (tematik) atau terapan (qonuniyah) dan waqi’yah (kasuistik). Pola maudhu’iyah merupakan pendiskripsian masalah berbentuk tashawur lintas disiplin keilmuan empirik. Ketika rumusan hukum atau ajaran islam dengan kepentingan terapan hukum positif, maka pendekatan masalahnya berintikan ”tathbiq al-syari’

Ah” disesuaikan dengan kesadaran hukum kemajemukan bangsa. Apabila langkah kerjanya sebatas merespon kejadian faktual yang bersifat kedaerahan atau insidental, cukup menempuh penyelesaian metode eklektif (takhayyur) yaitu memilih kutipan doktrin yang siap pakai (instan).

Metode pengalian atau pengambilan sumber (referensi) dan langkah-langkanya baik deduktif maupun induktif dalam tradisi keagaan Nahdlatul Ulama dalam mengembangkan paham Ahlul Sunnah Wa al-Jama’ah.

  • Madzhab Qauli, pandangan keagamaan ulama yang terindentifikasi sebagai ”ulama sunni” dikutip utuh qaulnya dari kitab mu’tabar (qaulnya Imam Syafi’i) dalam madzhab, untuk memperjelas dan memperluas doktrin yang akan diambil bisa mengunakan kitab syarah yang disusun oleh ulama sunni yang bermadzhab yang sama (Imam al Nawawi)
  • Madzhab Manhaji, madzhab ini lebih mengarah pada masalah yang bersifat kasuistik yang diperlukan penyertaan dalil nash syar’i berupa kutipan al-Quran, nuqilan matan sunnah atau hadist, serta ijmak
  • Madzhab Ijtihad, metode akan ditemui pada permasalahan rancangan undang-undang atau rancangan peraturan daerah, dengan pola ijtihad dengan memgang asas-asa idtihad dan didukung kearifan lokal serta dialakukan secara kolektif.

Aqidah Aswaja

Ketika Rasullah Muhammad SAW masih hidup, setiap persoalan dan perbedaan pendapat di antara kaum muslimin langsung dapat diselesaikan langsung oleh Kanjeng Nabi Muhammmad, tetapi setelah beliau wafat, penyelesaian tersebut tidak ditemukan sehingga sering terjadi perbedaan lalu mengedap dan terjadi permusuhan di antara mereka, awal-awal perbedaan muncul persoalan imamah lalu merembet pada persoalan aqidah, terutama mengenai hukum orang muslim yang berbuat dosa besar apakah dia dihukumi kafir atau mukmin ketika dia mati.

Perdebatan ini akhirnya merembet pada persoalan Tuhan dan Manusia, terutama pada terkait dengan perbuatan manusia dan kekuasaan Tuhan (sifat Tuhan, keadilan Tuhan, melihat Tuhan, ke hudutsan dan ke-qadim-an Tuhan dan kemakhukan Quran), pertetangan tersebut makin meruncing dan kian saling menghujat.

Ditengah-tengah arus kuat perbedaan pendapat munculah pendapat moderat yang mencoba berusaha mengkompromikan kedua pendapat tersebut, kelompok moderat terbut adalah Asy’ariyah dan Maturudiyah yang keduanya kemudian dinamakan kelompok Ahlus Sunnah Wa al-Jama’ah (Aswaja).

Konsep Aqidah Asy’ariyah

Konsep ini dimunculkan oleh Imam Abul Hasan al-Asy’ari, beliau lahir di Basrah sekitar tahun 260 H/873M dan wafat di Baghdad 324H/935M, aqidah Asy’ariyah merupakan jalan tengan dari kelompok-kerlompok keagamaan yang pada waktu itu berkembang yakni kelompok Jabariyah dan Qodariyah yang dikembangkan oleh Mu’tazilah.pertentangan kelompok tersebut terlihat dari pendapat mengenai perbuatan manusia,kelompok Jabariyah berpendapat bahwa perbuatan manusia seluhnya diciptakan oleh Allah dan manusia tidak memiliki andil sedikitpun, berbeda dengan pendapat kelompok Qodariyah, bahwa perbuatan manusia seluruhnya adalah diciptakan oleh manusia itu sendiri terlepas dari Allah, artinya kelompok Jabariyah melihat kekuasaan Allah itu mutlak sedang kelompok Qodariyah melihat kekuasaan Allah terbatas.

Asy’ariyah besikap mengambil jalan tengah (tawasuth) dengan konsep upasya (al-kasb), menurut Asyari perbuatan manusia diciptakan oleh Allah, namun manusia memiliki peranan dalam perbutaannya, artinya upaya (kasb) meiliki makna kebersamaan kekuasaan manusia dengan perbuatan Tuhan, upaya juga bermakna keaktifan dan tanggung jawab manusia atas perbuatannya. Dengan demikian manusia selalu keratif dan berusaha dalam menjalankan kehidupannya, akan tetapi tidak melupakan Tuhan. Konsep Asy’ariyah mengenai toleransi (tasammuh), mengenai konsep kekuasan Tuhan yang mutlak, bagi Mu’taziah Tuhan WAJIB bersikap adil dalam memperlakukan mahluk-Nya, Tuhan wajib memasukan orang baik ke surga dn orang jahat ke neraka, berbeda dengan Asy’ariyah, alasannya kewajiban berati telah terjadi pembatasan terhadap kekuasaan Tuhan, padalah Tuhan memiliki kekuasaan mutlak, tidak ada yang membatasi kekuasaan dan kehendak Tuhan, termasuk soal akal, Mu’tazilah memposisikan akal diatas wahyu, berbeda dengan Asy’ariyah akal dibawal wahyu, namun akal diperlukan dalam memahami wahyu, artinya dalam Asyariyah akal tidak ditolak, dan kerja-kerja rasionalitas dihormati dalam kerangka pemahaman dan penafsiran wahyu berserta langka-langkahnya.

Konsep Aqidah Maturidiyah

Konsep Aqidah Maturudiyah didirikan oleh Imam Abu Manshur al-Maturidi, beliau lahir di Maturid di Samarkand, wafatnya sekitar tahun 333H, konsep Maturiyah tidak jauh berbeda dengan konsep Asy’ariyah, namun pada sandaran madzhabnya saja, kalau Asy’ariyah bermadzhab pada Imam Syafi’i dam Imam Maliki sedangkan Maturidiyah pada Imam Hanafi.

Konsep jalan tengah (tawasuth) yang ditawarkan Maturidiya adalah jalan damai anatar nash dan akal, artinya pendapat Maturidiyah melihat bahwa suatu kesalahan apabilah kita berhenti berbuat pada saat tidak terdapat nash (teks), begitu juga sebaliknya salah jika kita larut dan tidak terkendali dalam mengunakan akal. Artinya sama pentingnya mengunakan nash dan akaldalam memahami kekuasaan (ayat-ayat) Tuhan.

Dengan munculnya Asy’ariyah dan Maturidiyah merupakan perdamaian antara kelompok Jabariyah yang Fatalistik dan Qodariyah yang mengagung-agungkan akal, sikap keduanya merupakan sikap Ahlus Sunnah Wa al-Jama’ah dalam beraqidah, sikap tawasuth diperlukan untuk merealisasikan amar ma’ruf nahi munkar yang selalu mengedepankan kebajikan secara bijak, prinsipnya bagaimana nilai-nilai Islam dijadikan landasan dan pijakan bermasyarakat serta dilakukan sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat setempat.

Syariah ASWAJA an Nahdliyah

Ketika Rasullulaah SWA masih hidup, umat manusia menerima ajarn langsung daribeliau atau dari sahabat yang hadir ketika beliau menyampaikan, setelah rasullulah wafat para sahabat menyebarkan ajaran pada generasi selanjutnya. Dengan perkembangan zaman dan kondisi masyarakat yang kian dinamis banyak persoalan baru yang dihadapi umat, seringkali hal yang muncul tidak tredapat jawabat secara tegas dalam al-Quran dam al-Hadis, maka untuk mengetahui hukum atau ketentuan persoalan baru tersebut diperlukan upaya ijtihad.

Pola pemahaman ajaran Islam melalui ijtihad para mujtahid biasa disebut madzab yang berarti ”jalan pikiran dan jalan pemahaman” atau pola pemahaman. Pola pemahaman dengan metode, prosedur dan produk ijtihad tersebut diikuti oleh umat Isalam yang tidak mampu melakukan ijtihad sendiri, karena keterbatasan ilmu dan syarat-syarat yang dimiliki. Inilah yang disebut bermazhab atau mengunakan mazhab. Dengan cara bermazhab inilah ajaran Islam dapat dikembangkan, disebarluaskan dan diamalkan dengan mudah kepada semua lapisan masyarakat. Melalui sistem inilah pewarisan dan pengamalan ajaran Islam terpelihara kelurusannya serta terjamin kemurnian al-Quran dan al-Hadist dipahami, ditafsirkan dan diopertahankan.

Kenapa harus empat mazhab

Di antara mazhab bidang fiqh yang paling berpengaruh yang pernah ada sebanyak empat (Syafi’i, Maliki, Hambali dan Hanafi), alasan memilih keempat Imam tersebut;

  • Secara kualitas pribadi dan keilmuan mereka sudah mashur, artinya jika disebut nama mereka hampir dapat dipastikan maroritas umat Islam di dunia mengenal dan tidak diperlukan penjelasan detail.
  • Keempat Imam tersebut adalah Imam Mujtahid Mutlak Mustaqil, yaitu Imam yang mampu secara mandiri menciptakan Manhaj al-fikr, pola, metode, proses dan prosedur istimbath dengan seluruh perangkat yang dibutuhkan
  • Para Imam Mazhab memiliki murid yang secara konsisten mengajar dan mengembangkan mazhabnya yang didukung oleh kitab induk yang masih terjamin keasliannya hingga sekarang
  • Keempat Imam tersebut memiliki mata rantai dan jaringan intelektual diantara mereka.

Tasawuf Aswaja ala NU

Ahlus Sunnah Wa al-Jama’ah memiliki prinsip, bahwa hakiki tujuan hidup adalah tercapaianya keseimbangan kepentingan dunia dan akhirat, serta selalu mendekatkan diri pada Allah SWT. Untuk dapat mendekatkan diri pada Allah, diperlukan perjalanan spiritual, yang bertujuan memperoleh hakikat dan kesempurnaan hidup, namun hakikat tidak boleh dicapai dengan meninggalkan rambu-ra,bu syariat yang telah ditetapkan oleh Allah SWT dalam al-Quran dan Sunnah Rasullullah SAW, ini merupakan prinsip dari tasawuf Aswaja.

Kaum Nahdliyin dapat memasuki kehidupan sufi melalui cara-cara yang telah digunakan oleh seorang sufi tertentu dalam bentuk thariqah, tidak semua thariqah memiliki sanad kepada Nabi Muhammmad, dan yang tidak memiliki sanad pada Nabi Muhammmad tidak diterima sebagai thariqah mu’tabarah oleh Nahdliyin.

Jalan sufi yang telah dicontohkan Nabi Muhammad dan pewarisnya,adalah jalan yang tetap memegang teguh pada perintah-perintah syariat seperti ajaran-ajaran tasawuh yang terdapat dalam tasawuf al-Ghazali dan Junaid al-Baghdadi. Tasawuf model al-Ghazali dan Junaid al-Baghdadi diharapkan umat akan dinamis dan dapat mensandingkan antara kenikmatan bertemu dengan Tuhan dan sekaligus menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapi manusia, seperti yang ditunjukan oleh wali songo yang menyerkan islam di Indonesia. Dengan model tasawuf yang moderat memungkinkan umat islam secara individu memiliki hubungan langsung dengan Tuhan dan secara berjamaah dapat melakukn gerakan kebaikan umat, sehingga menjadikan umat memiliki kesalehan individu dan kesalehan sosial.

-------------------------------------------------------------------------------------------

PERBANDINGAN ANTARA ALIRAN

http://syahrulmujib.wordpress.com/tag/mutazilah/

Kuliah

Akidah Ilmu Kalam

Dosen:

Drs. MUHLISIN M.Ag

FAKULTAS TARBIYAH

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL

SURABAYA

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Ilmu kalam sebagaimana diketahui membahas ajaran-ajaran dasar dari sesuatu agama. Di dalam ilmu kalam itu terdapat sub bahasan yang tentang perbandingan antara aliran-aliran serta ajaran-ajarannya. Dari perbandingan antar aliran ini, kita dapat mengetahui, menela’ah dan membandingkan antar paham aliran satu dengan aliran yang lain. sehingga kita memahami maksud dari segala polemik yang ada.

B. Rumusan Masalah

dalam makalah ini penulis akan memaparkan pembahasan tentang perbandingan antara aliran-aliran yang ikut berperan dalam ilmu kalam seperti pembahasan di bawah ini.

1. Apa isi dari perbandingan aliran?

2. Aliran apa saja yang membahas tentang isi makalah ini?

C. Tujuan

Dari penjelasan makalah ini penulis bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah ilmu kalam di samping itu untuk memperdalam pemahaman mahasiswa agar mempunyai wawasan yang luas tentang pemikiran aliran-aliran dalam ilmu kalam dan bisa menentukan mana yang terbaik bagi mereka.

BAB II

PERBANDINGAN ANTARA ALIRAN

A. Wahyu dan akal

kaum Mu’tazilah berpendapat semua persoalan di atas dapat diketahui oleh akal manusia dengan perantara akal yang sehat dan cerdas seseorang dapat mencapai makrifat dan dapat pula mengetahui yang baik dan buruk. Bahkan sebelum wahyu turun, orang sudah wajib bersyukur kepada Tuhan. Menjauhi yang buruk dan mengerjakan yang baik. Berbeda dengan Mu’tazilah, kaum asy’ariyah berpendapat akal memang dapat mengetahui adanya Tuhan. Tetapi akal tidak dapat mengetahui cara berterima kasih kepada Tuhan. Untuk mengetahui hal-hal tersebut diperlukan wahyu. Melalui wahyu manusia bisa mengetahuinya. Tanpa wahyu, manusia tidak akan tahu. Golongan maturidiyah samarkan berpendapat, akal dapat mengetahui adanya Tuhan kewajiban dan berterima kasih kepada Tuhan dan mengetahui baik dan buruk. Tetapi akal tidak dapat mengetahui bagaimana kewajiban berbuat baik dan meninggalkan buruk, karena itu wahyu sangatlah diperlukan untuk menjelaskannya. Golongan maturidiyah bukhara sependapat dengan kaum asy’ariyah.

B. Pelaku dosa besar

1. Menurut aliran Khawarij

Ciri yang menonjol dari aliran Khawarij adalah watak ektrimitas dalam memutuskan persoalan-persoalan kalam. Tak heran kalau aliran ini memiliki pandangan ekstrim pula tentang status pelaku dosa besar. Mereka memandang bahwa orangorang yang terlibat dalam peristiwa tahkim, yakni Ali, Mu’awiyah, amr bin al-ash, Abu Musa al-asy’ari adalah kafir, berdasarkan firman Allah pada surat al-Maidah ayat 44:

(ومن لم يحكم بما انزل ال فأولئك هم الكافرون )المائدة: 44

Artinya:

“Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.”

Semua pelaku dosa besar (murtabb al-kabiiah), menurut semua sub sekte khwarij, kecuali najdah adalah kafir dan akan disiksa dineraka selamanya. Sub sekte yang sangat ekstrim, azariqah, menggunakan istilah yang lebih mengerikan dari kafir, yaitu musyrik. Mereka memandang musyrik bagi siapa saja yang tidak mau bergabung dengan barisan mereka. Adapun pelaku dosa besar dalam pandangan mereka telah beralih status keimanannya menjadi kafir millah (agama), dan berarti ia telah keluar dari Islam, mereka kekal dineraka bersama orang-orang kafir lainnya.

2. Menurut aliran Murji’ah

Pandangan aliran murji’ah tentang setatus pelaku dosa besar dapat ditelusuri dari definisi iman yang dirumuskan oleh mereka. Secara garis besar, sebagaimana telah dijelaskan sub sekte Khawarij dapat dikategorikan dalam dua kategori: ekstrim dan moderat. Harun nasution berpendapat bahwa sub sekte murji’ah yang ekstrim dan mereka yang berpandangan bahwa keimanan terletak di dalam kalbu. Adapun ucapan dan perbuatan tidak selamanya merupakan refleksi dari apa yang ada di dalam kalbu. Oleh karena itu, segala ucapan dan perbuatan seseorang yang menyimpang dari kaidah agama tidak berarti telah menggeser atau merusak keimanannya. Bahkan keimanannya masih sempurna dimata Tuhan. Adapun murji’ah moderat ialah mereka yang berpendapat bahwa pelaku dosa besar tidaklah menjadi kafir. Meskipun disiksa dineraka, ia tidak kekal didalamnya, bergantung pada ukuran dosar yang dilakukannya. Masih terbuka kemungkinan bahwa Tuhan akan mengampuni dosanya sehingga ia bebas dari siksa neraca.

3. Menurut aliran Mu’tazilah

Perbedaannya, bila khwarij mengkafirkan pelaku dosa besar dan murji’ah memelihara keimanan pelaku dosa besar,

Mu’tazilah tidak menentukan status dan predikat yang pasti bagi

pelaku dosa besar, apakah ia tetap mukmin atau kafir, kecuali

dengan sebutan yang sangat terkenal, yaitu al-manzilah baial

manzilataini.

Setiap pelaku dosa besar, menurut Mu’tazilah, berada

diposisi tengah diantara posisi mukmin dan kafir. Jika

pelakunya meninggal dunia dan belum sempat bertaubat, ia

akan dimasukkan ke dalam nerak selama-lamanya. Walaupun

demikian, siksaan yang diterimanya lebih ringan dari pada

siksaan orang-orang kafir. Dalam perkembangannya, beberapa

tokoh Mu’tazilah, seperti wastul bin atha’ dan amr bin ubaid

memperjelas sebutan itu dengan istilah fasik yang bukan

mukmin atau kafir.

4. Aliran Asy’ariyah

Terhadap pelaku dosa besar, agaknya al-asy’ari, sebagai

wakil ahl-as-Sunah, tidak mengkafirkan orang-orang yang sujud

ke baitullah (ahl-al-qiblah) walaupun melakukan dosa besar,

seperti berzina dan mencuri. Menurutnya, mereka masih tetap

sebagai orang yang beriman dengan keimanan yang mereka

miliki, sekalipun berbuat dosa besar. Akan tetapi jika dosa besar

itu dilakukannya dengan anggapan bahwa hal ini dibolehkan

(halal) dan tidak meyakini keharamannya, ia dipandang telah

kafir.

Adapun balasan di akhirat kelak bagi pelaku dosa besar,

apabila ia meninggal dan tidak sempat bertaubat, maka menurut

al-asy’ari, hal itu bergantung pada kebijakan Tuhan Yang Maha

Esa berkehendak mutlaq. Dari paparan singkat ini, jelaslah

bahwa asy’ariyah sesungguhnya mengambil posisi yang sama

dengan murji’ah, khususnya dalam pernyataan yang tidak

mengkafirkan para pelaku dosa besar.

5. Aliran Maturidiyah

Aliran maturidiyah, baik samarkand maupun bukhara,

sepakat menyatakan bahwa pelaku dosa masih tetap sebagai

mukmin karena adanya keimanan dalam dirinya. adapun

balasan yang diperolehnya kelak di akhirat bergantung pada apa

yang dilakukannya di dunia. jika ia meninggal tanpa tobat

terlebih dahulu, keputusannya diserahkan sepenuhnya kepada

kehendak Allah SWT. jika menghendaki pelaku dosa besar

diampuni, ia akan memasukkan ke neraca, tetapi tidak kekal

didalamnya.

6. Aliran Syi’ah Zadiyah

Penganut Syi’ah zaidiyah percaya bahwa orang yang

melakukan dosa besar akan kekal di dalam neraca, jika ia belum

tobat dengan tobat yang sesungguhnya. Dalam hal ini, Syi’ah

zaidiyah memang dekat dengan Mu’tazilah. Ini bukan sesuatu

yang aneh mengingat washil bin atha’, mempunyai hubungan

dengan zaid moojan momen bahkan mengatakan bahwa zaid

pernah belajar kepada washil bin atho’2

C. Sifat-sifat Tuhan

1. Menurut aliran Mu’tazilah

Pertentangan paham antara kaum Mu’tazilah dan kaum

asy’ariyah dalam masalah ini berkisar sekitar persoalan apakah

Tuhan mempunyai sifat atau tidak. Jika Tuhan mempunyai

sifat-sifat itu mestilah kekal seperti halnya dengan zat Tuhan.

Tegasnya, kekalnya sifat-sifat akan membawa kepada paham

banyak yang kekal (ta’addud al-qudama’ atau poltiplicity of

eternals). Dan ini selanjutnya membawa pula kepada paham

syirik atau polyteisme. Suatu hal yang tak dapat diterima dalam

teologi.

Sebagian telah dilihat dalam bagian 1, kaum Mu’tazilah

mencoba menyelesaikan persoalan ini dengan mengatakan

bahwa Tuhan tidak mempunyai sifat. Ini berarti bahwa Tuhan

tidak mempunyai pengetahuan, tidak mempunyai kekuatan dan

sebagainya. Tuhan tetap mengetahui dan sebagainya bukanlah

sifat dalam arti kata sebenarnya. Arti “Tuhan mengetahui

dengan perantara pengetahuan dan pengetahuan itu adalah

Tuhan sendiri.

2. Menurut Aliran Asy’ariyah

Kaum asy’ariyah membawa penyelesaian yang

berlawanan dengan Mu’tazilah mereka dengan tegas

mengatakan bahwa Tuhan mempunyai sifat.

Menurut aliran asy’ariyah sendiri tidak dapat diingkari

bahwa Tuhan mempunyai sifat, karena perbuatan-perbuatan

nya, di samping menyatakan bahwa Tuhan mengetahui dan

sebagainya, juga menyatakan bahwa ia mempunyai

pengetahuan, kemauan, dan daya.3

3. Aliran Maturidiyah

Dapat ditemukan persamaan antara al-maturidi dan alasy’ari,

seperti di dalam pendapat bahwa Tuhan mempunyai

sifat-sifat seperti sama’, basher dan sebagainya. walaupun

begitu pengertian al-maturidi tentang sifat berbeda dengan alasy’ari.

Menurut al-maturidi sifat tidak dikatakan sebagai

esensinya dan bukan pula dari esensi-Nya. Sifat-sifat Tuhan itu

mulazamah (ada bersama, baca: inheren) dzat tanpa pemisah.

Tampaknya paham al-maturidi, tentang makna sifat

cenderung mendekati paham Mu’tazilah. Perbedaannya almaturidi

mengaku adanya sifat-sifat sedangkan al-Mu’tazilah

menolak adanya sifat-sifat Tuhan.

4. Aliran Syi’ah Rafidhah

Sebagian besar tokoh Syi’ah rafidhah menolak bahwa Allah

senantiasa bersifat tahu, namun adapula sebagian dari mereka

berpendapat bahwa Allah tidak bersifat tahun terhadap sesuatu

sebelum ia menghendaki. Tatkala ia menghendaki sesuatu, ia

pun bersifat tahu, jika dia tidak menghendaki, dia tidak bersifat

tahu, maka Allah berkehendak menurut merek adalah bahwa

Allah mengeluarkan gerakan (taharraka harkah), ketika gerakan

itu muncul, ia bersifat tahu terhadap sesuatu itu. Mereka

berpendapat pula bahwa Allah tidak bersifat tahu terhadap

sesuatu yang tidak ada.

D. Iman dan kufur

1. Aliran Khawarij

Khawarij menetapkan dosa itu hanya satu macamnya,

yaitu dosa besar agar dengan demikian orang Islam yang tidak

sejalan dengan pendiriannya dapat diperangi dan dapat

dirampas harta bendanya dengan dalih mereka berdosa dan

setiap yang berdosa adalah kafir. Mengkafirkan Ali, Utsman, 2

orang hakam, orang-orang yang terlibat dalam perang jamal dan

orang-orang yang rela terhadap tahkim dan mengkafirkan

orang-orang yang berdosa besar dan wajib berontak terhadap

penguasa yang menyeleweng.

Dan iman menurut kwaharij, iman bukanlah tasdiq. Dan

iman dalam arti mengetahui pun belumlah cukup. Menurut

Abd. Al-jabbar, orang yang tahu Tuhan tetapi melawan kepadanya,

bukanlah orang yang mukmin, dengan demikian iman bagi

mereka bukanlah tasdiq, bukan pula ma’rifah tetapi amal yang

timbul sebagai akibat dari mengetahui Tuhan tegasnya iman

bagi mereka adalah pelaksanaan perintah-perintah Tuhan6

2. Aliran Murji’ah

Menurut sub sekte murji’ah yang ekstrim adalah mereka

yang berpandangan bahwa keimanan terletak di dalam kalbu.

Oleh karena itu, segala ucapan dan perbuatan seseorang yang

menyimpang dari kaidah agama tidak berarti menggeser atau

merusak keimanannya, bahkan keimanannya masih sempurna

dalam pandangan Tuhan.

Sementara yang dimaksud murji’ah moderat adalah

mereka yang berpendapat bahwa pelaku dosa besar tidaklah

menjadi kafir. Meskipun disiksa di neraka, ia tidak kekal

didalamnya bergantung pada dosa yang dilakukannya.7

3. Aliran Mu’tazilah

Iman adalah tashdiq di dalam hati, iktar dengan lisan dan

dibuktikan dengan perbuatan konsep ketiga ini mengaitkan

perbuatan manusia dengan iman, karena itu, keimanan

seseorang ditentukan pula oleh amal perbuatannya. Konsep ini

dianut pula olah Khawarij.8

4. Aliran Asy’ariyah

Menurut aliran ini, dijelaskan oleh syahrastani, iman secara

esensial adalah tasdiq bil al janan (membenarkan dengan

kalbu). Sedangkan qaul dengan lesan dan melakukan berbagai

kewajiban utama (amal bil arkan) hanya merupakan furu’

(cabang-cabang) iman. Oleh sebab itu, siapa pun yang

membenarkan ke-Esaan Allah dengan kalbunya dan juga

membenarkan utusan-utusan nya beserta apa yang mereka bawa

dari-Nya, iman secara ini merupakan sahih. Dan keimanan

seseorang tidak akan hilang kecuali ia mengingkari salah satu

dari hal-hal tersebut.9

5. Maturidiyah

Iman adalah tasdid dalam hati dan diikrarkan dengan

lidah, dengan kata lain, seseorang bisa disebut beriman jika ia

mempercayai dalam hatinya akan kebenaran Allah dan

mengikrarkan kepercayaannya itu dengan lidah. Konsep ini

juga tidak menghubungkan iman dengan amal perbuatan

manusia. yang penting tasdid dan ikrar.

E. Perbuatan Tuhan dan perbuatan manusia

1. Aliran Jabariyah

Menurut aliran ini, manusia tidak berkuasa atas

perbuatannya yang menentukan perbuatan manusia itu adalah

Tuhan, karena itu manusia tidak berdaya sama sekali untuk

mewujudkan perbuatannya baik atau buruk.

Diumpamakan manusia seperti wayang yang tidak

berdaya, bagaimana dan kemana ia bergerak terserah dalang

yang memainkan wayang itu. Dalang manusia adalah Tuhan, ini

dianggap paham Jabariyah yang dianggap moderat, perbuatan

manusia tidak sepenuhnya ditentukan untuk Tuhan, tetapi

manusia punya andil juga dalam dalam mewujudkan

perbuatannya.

2. Aliran Qadariyah

Manusia mempunyai iradat (kemampuan berkehendak

atau memilih) dan qudrah (kemampuan untuk berbuat).

Menurut paham ini Allah SWT membekali manusia sejak

lahirnya dengan qudrat dan iradat, suatu kemampuan untuk

mewujudkan perbuatan-perbuatan tersebut.10

3. Aliran Mu’tazilah

10 Drs. H. M. Yusran Asmuni. Op.Cit. hal. 159-160

Paham ini dalam masalah af’al ibadah seirama dengan

paham Qadariyah untuk perbuatan-perbuatan Tuhan, mereka

berpendapat bahwa Tuhan mempunyai kewajiban-kewajiban itu

dapat disimpulkan dalam satu kewajiban yaitu kewajiban

berbuat baik dan terbaik bagi manusia seperti kewajiban Tuhan

menepati janji-janji-Nya. Kewajiban Tuhan mengirim Rasulrasul-

Nya untuk petunjuk kepada manusia dan lain-lain.11

4. Aliran Asy’ariyah

Dalam menggambarkan hubungan perbuatan manusia

dengan qodrat dan iradat Tuhan, Abu Hasan Ali Bin Ismail al-

Asy’ari menggunakan paham kasb yang dimaksud dengan al-

Kasb adalah berbarengan kekuasaan manusia dengan perbuatan

Tuhan. Artinya apabila seseorang ingin melakukan suatu

perbuatan, perbuatan itu baru terlaksana jika sesuai dengan

kehendak Tuhan.

5. Aliran Maturidiyah

Menurut golongan maturidiyah, kemauan sebenarnya

adalah kemauan Tuhan namun tidak selamanya perbuatan

manusia dilakukan atas kerelaan Tuhan karena Tuhan tidak

menyukai perbuatan-perbuatan buruk. Jadi di dalam aliran

maturidiyah ada 2 unsur: kehendak dan kerelaan.

F. Kehendak muthlak dan keadilan Tuhan

1. Aliran Mu’tazilah

Mu’tazilah yang berperinsip keadilan Tuhan mengatakan

bahwa Tuhan itu adil dan tidak mungkin bebuat zalim dengan

memaksakan kehendak kepada hamba-Nya kemudian

mengharuskan hamba-Nya untuk menanggung akibat

perbuatannya, secara lebih jelas aliran Mu’tazilah mengatakan

bahwa kekuasaan sebenarnya tidak mutlak lagi. Itulah sebabnya

Mu’tazilah menggunakan ayat 62 surat Al-Ahzab (33)

سنة ال فى الذين خلوا من قبل ولن تجد لسنة ال تبديل

2. Aliran Asy’ariyah

Mereka percaya pada kemutlakan kekuasaan Tuhan,

berpendapat bahwa perbuatan Tuhan tidak mempunyai tujuan,

yang mendorong Tuhan untuk berbuat sesuatu semata-mata

adalah kekuasan dan kehendak mutlak-Nya dan bukan karena

kepentingan manusia atau tujuan yang lain.

Landasan surat al-Buruj ayat 16

فعال لمايريد

3. Aliran Maturidiyah

Kehendak mutlak Tuhan, menurut maturidiyah

samarkand, dibatasi oleh keadilan Tuhan, Tuhan adil

mengandung arti bahwa segala perbuatan-Nya adalah baik dan

tidak mampu untuk berbuat serta tidak mengabaikan kewajibankewajiban

hanya terhadap manusia. pendapat ini lebih dekat

dengan Mu’tazilah.

Adapun maturidiyah bukharak berpendapat bahwa Tuhan

mempunyai kekuasaan mutlak, Tuhan berbuat apa saja yang

dikehendaki-Nya dan menentukan segala-galanya tidak ada

yang menentang atau memaksa Tuhan dan tidak ada larangan

bagi Tuhan. Tampaknya aliran maturidiyah bukhara lebih dekat

dengan asy’ariyah.12

BAB III

KESIMPULAN

kaum Mu’tazilah berpendapat semua persoalan di atas dapat

diketahui oleh akal manusia dengan perantara akal yang sehat dan

cerdas seseorang dapat mencapai makrifat dan dapat pula mengetahui

yang baik dan buruk. Bahkan sebelum wahyu turun, orang sudah

wajib bersyukur kepada Tuhan. Menjauhi yang buruk dan

mengerjakan yang baik.

Ciri yang menonjol dari aliran Khawarij adalah watak

ektrimitas dalam memutuskan persoalan-persoalan kalam. Tak heran

kalau aliran ini memiliki pandangan ekstrim pula tentang status pelaku

dosa besar.

Kaum asy’ariyah membawa penyelesaian yang berlawanan

dengan Mu’tazilah mereka dengan tegas mengatakan bahwa Tuhan

mempunyai sifat.

Menurut aliran asy’ariyah sendiri tidak dapat diingkari bahwa

Tuhan mempunyai sifat, karena perbuatan-perbuatan nya, di samping

menyatakan bahwa Tuhan mengetahui dan sebagainya, juga

menyatakan bahwa ia mempunyai pengetahuan, kemauan, dan daya.

Menurut sub sekte murji’ah yang ekstrim adalah mereka yang

berpandangan bahwa keimanan terletak di dalam kalbu. Oleh karena

itu, segala ucapan dan perbuatan seseorang yang menyimpang dari

kaidah agama tidak berarti menggeser atau merusak keimanannya,

bahkan keimanannya masih sempurna dalam pandangan Tuhan.

Kehendak mutlak Tuhan, menurut maturidiyah samarkand,

dibatasi oleh keadilan Tuhan, Tuhan adil mengandung arti bahwa

segala perbuatan-Nya adalah baik dan tidak mampu untuk berbuat

serta tidak mengabaikan kewajiban-kewajiban hanya terhadap

manusia. pendapat ini lebih dekat dengan Mu’tazilah.

DAFTAR PUSTAKA

DR. Abdul Rozak, M.Ag. DR. Rosihon Anwar, M. Ag, Ilmu Kalam,

Pustaka Setia Bandung: 2006.

Harun Nasution Teologi Islam Aliran-aliran Sejarah Analisis

Pebandingan UI Press, Jakarta: 1986

Drs. H. Sahilun A Nasir. Pengantar Ilmu Kalam Raja grafindo

Persada. Jakarta: 1996:

Drs. H. M. Yusran Asmuni, Ilmu Tauhid. Raja Grafindo Persada

Jakarta: 1993
---------------------------------------------------------------------------------------------------

Apakah Manusia itu Bebas atau Terpaksa?

Kini kita akan membahas perbedaan pokok teologis di kalangan mazhab-mazhab Islam. Persoalan itu adalah mengenai manusia, apakah ia terpaksa (determinisme) ataupun bebas (freewill) dalam perbuatan mereka. Dalam pembahasan ini setidaknya terdapat empat pendapat yang masyhur:

1. Mu‘tazilah mengatakan bahwa manusia mempunyai kebebasan mutlak untuk berbuat apa saja yang diinginkannya, dan Allah tidak berkuasa ke atas perbuatannya. Mazhab teologis ini juga dikenali sebagai mazhab Qadariyyah.

2. Mujbirah mengatakan bahwa manusia tidak berkuasa atas perbuatannya. Dia diumpamakan seperti alat dalam kekuasaan Allah seperti pena di tangan kita.

3. Asya‘irah pula mengatakan bahwa manusia tidak mempunyai kuasa atau kehendak sendiri dalam perbuatannya, tetapi ia masih “menguasai” perbuatan itu. Istilah yang digunakan oleh mereka ialah kasb. Sebenarnya apa yang mereka maksudkan ini merupakan sesuatu yang mengusutkan pemikiran mereka sendiri.

4. Syi‘ah mengatakan bahwa manusia tidak bebas sepenuhnya daripada Allah, dan tidak juga dipaksa oleh Allah, tetapi kedudukan sebenarnya adalah di antara dua (in between) keadaan ini.

Dapat dilihat bahwa pandangan Mujbirah, Mu‘tazilah dan al-Syi‘ah adalah lebih mudah dipahami, tetapi pandangan Asya‘irah tentang kasb tidak mudah dipahami, sama seperti kepercayaan orang-orang kristian tentang Trinitas (3 dalam 1 Tuhan). Jelaslah bahwa mereka menggunakan istilah ini hanyalah sebagai perisai untuk menyembunyikan kepercayaan mereka yang sebenarnya dimana secara umum sama seperti Mujbirah. Oleh karena itu, kedua pandangan ini dapat dikatakan sebagai satu pandangan. Shibli Nu’mani, seorang ulama Sunni yang terkenal, berkata, “Mereka yang cukup berani, secara terbuka mengadopsi determinisme dan kemudian dikenal sebagai Jabriyah. Mereka yang ragu menggunakan redaksi jabr, menggunakan kedok terma “kasb” dan “iradah”. Kedok ini direka oleh Abul Hasan al-‘Asy’ari.[1] Oleh karena itu di sini kita perlakukan terma Jabariyyah dan Asy’ariyah sebagai satu terma. Pada masa kiwari ini, para pengikut Ahlussunah keseluruhannya adalah bermazhab Asya‘irah (dalam domain teologi) dan lantaran pembahasan ini merupakan topim yang sangat penting, di sini kita akan membahasnya secara global.

Kepercayaan Ahlusunnah

Kepercayaan Ahlusunnah dalam masalah perbuatan manusia, sebagaimana yang dijelaskan oleh Abu Hamid al-Ghazali , adalah seperti berikut:

“Tidak ada perbuatan manusia walaupun dilakukan semata-mata untuk dirinya (kasb), bebas dari kehendak Allah, baik dalam dunia materi ataupun maknawi, perbuatan mengedipkan mata dan berpikir melainkan semuanya dengan izin, kuasa, kehendak dan kemauan Allah. Hal ini termasuk perbuatan buruk dan baik, untung dan rugi, jaya dan gagal, salah dan benar, taat dan ingkar serta syirik dan kufur.”[2]

Patut juga disebutkan di sini, kepercayaan ini diciptakan oleh Bani Umaiyyah, pada masa mereka berkuasa, dimana mereka bertujuan menjadikan kepercayaan ini sebagai perisai untuk melindungi segala kekejaman dan kezaliman mereka. Begitulah pendapat tokoh Ahlusunnah yang terkenal, al-‘Allamah Syibli al-Nu‘mani (dari India) yang telah mengakui realitas tersebut dalam kitabnya al-Kalâm, “Biarpun semua faktor menyebabkan perbedaan dalam kepercayaan, namun perbedaan politik juga memainkan peran penting dalam masalah ini dimana pemerintahan Bani Umaiyyah merupakan dinasti yang sangat signifikan berperan dalam munculnya kepercayaan ini. Mereka dengan kejam menumpahkan darah, sehingga timbul keinginan di kalangan orang untuk menentangnya, tetapi bagi golongan yang tercaplok oleh kekuasaan Bani Umayyah sering kali melemahkan orang-orang ini dengan kata sakti bahwa “Segala sesuatu yang berlaku adalah menurut kehendak Allah, dan oleh karena itu manusia tidak boleh membangkang sama sekali. Segalanya sudah ditetapkan, dan apa saja yang berlaku, apakah perbuatan itu baik atau buruk adalah menurut kehendak Allah dan kita perlu mengakuinya.”[3] Kami kira penjelasan ini telah memadai untuk menjelaskan secara global kepercayaan yang dianut oleh mazhab Ahlusunnah.

Kepercayaan Syi‘ah

Di satu pihak Syi‘ah Imamiyyah Ithna-‘Asyariah percaya bahwa kita sendiri dapat membedakan di antara “terjatuh dari atas atap” dan “perbuatan turun ke bawah dengan menggunakan tangga.” Perbuatan yang kedua itu dilakukan dengan kemampuan, kehendak dan keinginan kita, sementara perbuatan terjatuh ke bawah adalah sebaliknya.

Kita juga tahu bahwa perbuatan-perbuatan kita bukanlah seperti perbuatan terjatuh ke bawah dari atas atap, bahkan ia adalah seperti perbuatan turun dengan kuasa dan kemampuan kita sendiri. Oleh itu, ia adalah perbuatan kita sendiri dan tidak dapat dikatakan bahwa perbuatan itu adalah perbuatan Allah.

Sekali lagi, kita lihat bahwa terdapat sebagian perbuatan yang menyebabkan kita dipuji atau dicaci, sedangkan dalam sebagian perbuatan yang lain, kita tidak dipuji ataupun dicaci. Hal ini dengan jelas menunjukkan bahwa perbuatan yang pertama adalah berada dalam kuasa dan kehendak kita dimana perbuatan yang kedua adalah berada di luar kekuasaan dan kehendak kita.

Sebagai contoh, kita dianjurkan untuk merawat sebuah penyakit dengan cara begini atau begitu, tetapi kita tidak dapat dianjurkan untuk sembuh dengan pasti dari penyakit itu. Hal ini bemakna bahwa mendapatkan perawatan berada dalam kekuasaan kita, sedangkan mendapatkan kesembuhan tidak berada dalam kekuasaan kita.

Oleh karena itu, kita dapat mengatakan bahwa terkadang terdapat banyak perkara dan aspek kehidupan yang berada dalam kuasa dan kemampuan kita, sedangkan yang lain tidak berada dalam kuasa dan kemampuan kita. Dalam urusan dan perkara yang kita boleh diberikan nasihat, anjuran, dipuji atau dicaci adalah berada dalam ruang kekuasaan dan kemampuan kita.

Perintah-perintah agama berada dalam kumpulan ini. Lantaran kita dianjurkan atau diperintahkan supaya melakukan atau tidak melakukan perkara ini dan itu. Dengan demikian kita dipuji apabila kita mentaati perintah-perintah tersebut dan dicela apabila kita mengingkarinya. Oleh karena itu, adalah keliru beranggapan dan berkata bahwa kesalahan dan kebenaran, ketaatan dan keingkaran, kepercayaan yang benar dan yang palsu adalah berdasarkan perintah dan kehendak Allah.

Syaikh Shaduq berkata “ Allah memiliki segala pengetahuan tentang perbuatan manusia, tetapi Allah tidak memaksa mereka melakukan sesuatu.”[4]

Namun hal itu tidak berarti bahwa manusia bebas dan mandiri dari Allah. Pada hakikatnya, kuasa dan kehendak untuk berbuat sesuatu menurut apa yang kita kehendaki adalah dikurniakan oleh Allah. Senada dengan hal ini, Imam Ja‘far Sadiq As mengatakan: “Tiada paksaan (oleh Allah), tidak ada kekuasaan mutlak (yang dikurniakan oleh Allah kepada manusia), tetapi kedudukan sebenarnya adalah di antara kedua-dua keadaan ini. (al-amru bainal amrain).”[5]

Contoh berikut ini secara jelas menggambarkan “posisi tengah” ini. Anggaplah tangan seseorang secara total mengalami kelumpuhan sedemikian sehingga ia tidak mampu menggerakan jari-jemarinya. Seorang dokter telah memasang sebuah alat listrik di tangannya dimana ketika alat tersebut menyala, ia dapat mengguakan tangannya secara bebas dengan wajar. Alat tersebut diaktifkan oleh sebuah remote control yang dijaga oleh dokter tersebut. Tatkala dokter menyalakan alat tersebut, ia dengan leluasa dapat menggerakan tangannya, namun ketika alat tersebut tidak menyala, ia tidak dapat melakukan apa pun. Kini apabila alat tersebut menyala dan pasien menggerakkan tangannya kesana dan kemari, dapatkah perbuatannya itu diatributkan secara bebas kepadanya? Tidak, lantaran kekuatan bersumber dari alat tersebut yang sepenuhnya dikendalikan oleh dokter. Perbuatan itu juga tidak dapat disandarkan kepada dokter? Tidak, lantaran pasien tersebut melakukan perbuatan itu sesuai dengan kehendak dan pilihannya. Hal ini merupakan contoh dari perbuatan-perbuatan kita. Kita tidak terpaksa melakukan perbuatan itu karena kehendak dan pilihan berada di tangan kita; kita juga tidak sepenuhnya mandiri, lantaran kekuasaan yang membolehkan kita melakukan apa saja bersumber dari Tuhan.

Potret Kebebasan Manusia

Pertanyaan yang dapat diajukan di sini adalah darimanakah bermulanya kemampuan kita untuk melakukan sesuatu? Imam Musa Kazim As berkata: “Seseorang manusia memperoleh kemampuan untuk melakukan sesuatu apabila memenuhi empat syarat berikut ini:

1. ketika tiada sesuatu halangan menegahnya

2. Sehat, kekuatan

3. Yang diperlukan untuk tugas itu mencukupi

4. Tuhan memberikan keadaan untuknya melakukan tugas itu.

Ketika seluruh syarat yang disebutkan terpenuhi, seseorang dapat melakukan segala sesuatu menurut kehendaknya sendiri.”

Ketika Imam Musa Kazhim ditanya tentang suatu contoh, beliau berkata: “Marilah kita andaikan bahwa ada seorang lelaki yang tidak mendapatkan halangan, sehat dan kuat, namun ia masih tidak boleh melakukan perbuatan zina kecuali ia menemui seorang wanita. Apabila (syarat yang keempat dipenuhi) dan dia menemui seorang wanita, kemudian terserah orang tersebut untuk menentukan satu daridua pilihan, apakah ia dapat mengendalikan nafsu jahatnya dan menyelamatkan dirinya seperti yang dilakukan oleh Nabi Yusuf As ataupun ia memilih untuk terjerat oleh pesona wanita dengan melakukan zina. Seandainya ia mampu mengendalikan dirinya dari perbuatan dosa itu, hal tersebut bukanlah akibat paksaan oleh Allah (seperti yang dipikirkan oleh sebagaian orang), dan seandainya dia melakukan dosa, hal tersebut juga tidak berarti bahwa ia mengatasi kekuasaan Allah (sebagaimana yang disangka oleh sebagian orang).”[6]

Determinasi dan Hari Kiamat

Menurut hemat kami, seandainya seseorang itu percaya kepada adanya determinasi (keterpaksaan), pada masa yang sama dia seharusnya tidak boleh percaya kepada Hari Kiamat. Sekiranya Allah telah menetapkan setiap perbuatan yang hendak kita lakukan, lalu mengapa Dia harus mengenakan hukuman kepada kita akibat melakukan perbuatan-perbuatan dosa, kejahatan dan perbuatan yang menyalahi (perintah-Nya) karena Dia sendirilah yang telah menetapkannya ke atas kita. Itu tentunya tidak adil sama sekali.

Berikut ini adalah pembahasan yang mengemuka antara Imam Musa Kazim As pada masa belianya dan Abu Hanifah, pendiri mazhab fiqih Hanafi yang merupakan salah satu mazhab Ahlusunnah:

Suatu ketika Abu Hanifah keluar untuk menemui Imam Ja‘far Sadiq As. Ketika ia sampai di kediaman Imam, Imam sedang berada di dalam rumah. Dan Abu Hanifah pun menunggunya di luar rumah. Tak berapa lama kemudian, seorang bocah belia keluar dari rumah tersebut. Abu Hanifah pun bertanya kepadanya: “Wahai kuculuk, daripada siapakah sebenarnya perbuatan seseorang manusia? Bocah belia itu lalu berkata: “Wahai Abu Hanifah, hanya terdapat tiga kemungkinan; manusia itu sendiri yang menjadi pelaku kepada perbuatannya, atau Tuhan sebagai pelaku kepada perbuatan itu; ataupun kedua-duanya menjadi pelaku perbuatan tersebut. Sekiranya Allah disebut sebagai pelaku kepada perbuatan seseorang manusia, lalu mengapa Dia mengenakan hukuman ke atas manusia atas perbuatan dosa itu? Bukankah itu merupakan suatu bentuk kezaliman, sementara Allah Swt sendiri telah berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak menzalimi hamba-hamba-Nya.”

Seandainya, keduanya, yaitu Allah dan manusia bersekutu dalam perbuatan dosa, tentunya tidak adil sekiranya rekan sekutu yang lebih berkuasa (Tuhan) menghukum rekan sekutunya yang lemah (manusia) atas perbuatan yang mereka lakukan bersama-sama; dan oleh karena terbukti bahwa kedua-dua pilihan tersebut tidak dapat diterima oleh akal dan mustahil, maka pilihan ketiga terbukti benar yaitu manusia sendiri yang melakukan perbuatannya dengan kuasa dan kehendaknya sendiri.”

Abu Hanifah lalu mencium kening bocah tersebut. Bocah belia itu adalah Musa, yang kemudiannya dikenali sebagai al-Kazim, Imam ketujuh dalam mazhab Syi‘ah.

Abu Hanifah Dan Bahlul

Abu Hanifah meyakini bahwa manusia tidak melakukan perbuatan berdasarkan kuasa dan kehendaknya. Pada suatu ketika, pendapatnya ini telah menjadi sebab terjadinya sebuah peristiwa. Bahlul merupakan seorang yang pandai dan seorang pemimpin. Ia adalah salah seorang sahabat Imam Ja‘far Sadiq As yang terkenal yang hidup hingga masa Imam ‘Ali Naqi As dan sempat berjumpa Imam Hasan Askari As.

Biasanya ia dipanggil sebagai Bahlul Majnun (Bahlul yang gila). Hal ini lantaran ia berpura-pura menjadi gila untuk menyelamatkan nyawanya dari tugas-tugas kehakiman yang ditawarkan Khalifah Harun al-Rasyid kepadanya.

Namun begitu dengan “kepintarannya ” itu, ia mengambil kesempatan dari perangai kegila-gilaannya dengan selalu menentang tokoh-tokoh besar pada zamannya (termasuk raja-raja) mengumbar kelemahan-kelemahan mereka sendiri.

Pada suatu ketika, ia terdengar Abu Hanifah, yang bermukim di Kufah, Iraq memberitahu para pengikutnya: “ Saya mendengar tiga perkara dari Imam Ja‘far Sadiq As yang menurut pendapat saya adalah salah. Para pengikutnya itu lalu bertanya mengenai perkara-perkara tersebut. Abu Hanifah pun berkata:

“Pertama, Imam Ja‘far Sadiq As berkata bahwa Allah Swt tidak dapat dilihat. Tetapi hal itu tidak benar. Seandainya sesuatu itu wujud, maka ia mesti dapat dilihat.”

“Kedua, beliau mengatakan bahwa syaitan akan disiksa dalam api neraka, tetapi hal itu mustahil berlaku kerana syaitan dijadikan dari api. Bagaimanakah api boleh mencelakakan seseorang yang materinya juga bersumber dari api?”

“Ketiga, beliau mengatakan perbuatan manusia dilakukan dengan kehendak dan kekuasaannya, dan manusia bertanggungjawab atasnya. Tetapi perkara itu tidak tepat karena semua perbuatan manusia dilakukan berdasarkan kehendak dan kekuasaan Allah, dan Allah yang sebenarnya bertanggungjawab atas perbuatan tersebut.”

Pada ketika para pengikutnya baru hendak memujinya, Bahlul mengambil segumpal tanah dan melontarkannya tepat ke arah Abu Hanifah. Gumpalan tanah itu tepat mengenai keningnya, lantas ia menjerit kesakitan. Para pengikutnya menangkap Bahlul lalu Abu Hanifah membawanya menemui Hakim.

Hakim (Qadi) mendengar aduan itu dan bertanya kepada Bahlul apakah tuduhan tersebut benar atau keliru.

Bahlul: “ Wahai Qadi! Abu Hanifah mengatakan ia mengalami sakit yang kuat di kepalanya kerana terkena lontaran gumpalan tanah. Tetapi saya berpendapat, dia berdusta. Saya tidak percaya kepadanya hingga saya melihat “ sakit ” itu sendiri.”

Abu Hanifah: “ Kamu benar-benar gila. Bagaimanakah aku dapat menunjukkan “ sakit ” kepadamu? Adakah sesiapa yang pernah melihat “ sakit ”?”

Bahlul: “Tetapi wahai Qadi! Tadi ia baru saja mengajarkan para pengikutnya, seandainya sesuatu itu memang wujud, ia mestilah boleh dilihat. Oleh kerana dia tidak dapat memperlihatkan “sakit” itu, saya anggap berdasarkan kepercayaannya sendiri, ia tidak sakit sama sekali.”

Abu Hanifah: “ Oh, sakitnya kepalaku!”

Bahlul: “ Wahai Qadi, ada satu perkara lagi. Ia juga memberitahu para pengikutnya bahwa karena syaitan dicipta dari api, maka api neraka tersebut tidak dapat mencelakakannya. Sekarang, manusia direka dari tanah seperti yang dinyatakan oleh al-Qur’an, sementara gumpalan tanah inilah yang mencederainya. Saya heran bagaimana ia boleh menuding gumpalan tanah itu dapat mencelakakan manusia yang juga diciptakan dari gumpalan tanah?”

Abu Hanifah: “Wahai Qadi, Bahlul ingin melepaskan dirinya dengan omong-omongnya itu. Tolonglah hajarlah ia karena telah mencelakaiku.”

Bahlul: “ Wahai Qadi, saya kira Abu Hanifah ternyata telah melakukan kesalahan dengan membawa saya ke mahkamah ini. Ia baru saja memberitahu segala perbuatan manusia adalah dilakukan oleh Allah dan Allahlah yang bertanggungjawab ke atas perbuatan-perbuatan mereka. Sekarang, kenapa ia membawa saya ke sini? Seandainya ia benar-benar sakit akibat terkena gumpalan tanah itu (dimana saya sendiri meragukan hal itu berdasarkan dalil-dalil yang telah dijelaskan), ia sepatutnya menuntut Allah yang mencederainya dengan melontar gumpalan tanah itu. Kenapa manusia yang tidak berdaya seperti saya dibawa ke mahkamah sementara semua perbuatan yang saya lakukan itu sebenarnya dilakukan oleh Allah? Mendengar timpalan Bahlul ini, Qadi pun membebaskannya.”

Dengan demikian Bahlul dapat mematahkan argumen-argumen Abu Hanifah yang berkeyakinan bahwa Tuhan itu dapat dilihat dan juga bahwa manusia itu tidak bebas dalam melakukan perbuatan yang ia ingini.

Kebebasan Manusia; Percaya atau Tidak

Seperti yang telah dijelaskan, Tuhan tidak menciptakan sesuatu tanpa tujuan. Dari sini, kita patut mengemukakan sebuah pertanyaan, apakah tujuan penciptaan manusia?

Allah menciptakan manusia agar dia melakukan kebaikan yang dapat mendekatkan dirinya kepada Allah. Manusia hadir ke dunia ini ibarat sehelai kertas yang kosong. Sepanjang hayatnya, berbagai-bagai bentuk dan corak tersalin pada kertas tersebut sebagai akibat atau kesan daripada pemikiran dan perbuatan-perbuatannya. Kebaikan yang dia perolehi adalah seperti corak-corak yang menawan dan apabila yang tergores adalah keburukan maka coraknya adalah corak-corak yang buruk. Allah Swt berfirman: “Penuh berkah nan abadi Allah yang di tangan-Nya segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menciptakan mati dan hidup supaya Dia mengujimu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Qs. Al-Mulk [67]:1-2)

Allah mengaruniakan hikmah, kebijaksanaan dan kekuatan kepada manusia untuk mencapai kebaikan-kebaikan tersebut. Dia telah memperlihatkan jalan yang lurus kepada manusia dan mengancamnya dari jalan-jalan kesesatan, tetapi Dia (Allah) tidak memaksa manusia melakukan perbuatan-perbuatan baik, begitu juga dengan perbuatan-perbuatan buruk. Dia (Allah) telah memberikan kuasa atau kemampuan kepada manusia untuk melakukan sesuatu sebagaimana yang diingininya dalam hidup ini. Al-Qur’an menegaskan: “Demi jiwa manusia dan Dzat yang telah menyempurnakannya. Lalu Dia Allah mengilhamkan kepadanya (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sungguh beruntunglah orang yang telah menyucikannya, Dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya.” (Qs. Asy-Syams [91]:7-9)

Taufik dan Khidlan

Oleh kerana tujuan penciptaan kita adalah untuk melakukan kebaikan dengan mentaati Allah dan karena kita diberikan kebebasan memilih, Allah tidak memaksa kita untuk memilih jalan tertentu. Allah yang Maha Pemurah sentiasa menolong manusia yang tulus ingin mentaati-Nya, tetapi pertolongan itu bukanlah paksaan dari Allah.

Marilah kita mengambil contoh, seorang tukang yang diminta memperbaiki atap. Dia sepakat melakukan pekerjaan tersebut dan telah bersiap-siap untuk memulai pekerjaan tersebut. Namun, kemudian ia menghadapi beberapa kesulitan untuk mendapatkan tangga yang cukup panjang untuk dapat naik ke atas atap tersebut. Anda tahu bahwa ia memang berhasrat melakukan pekerjaan itu, tetapi Anda juga memaklumi bahwa dia akan menghadapi kesukaran karena tangganya yang pendek itu. Oleh karena itu, Anda meminjamkan tangga yang mempunyai ketinggian tertentu kepadanya dan dengan sebab itu, Anda telah memudahkan pekerjaannya.

Patut diingat bahwa, pertolongan itu diberikan tatkala ia mempunyai hasrat yang kuat untuk melakukan tugas tersebut dan ketika dia telah membuat persiapan yang cukup lengkap. Lantaran itu, pertolongan tadi bukanlah memaksanya memulakai pekerjaan itu, dan juga bukan yang menyebabkan timbulnya niat, keinginan atau kekuatan untuk memperbaiki atap tersebut. Niat, kehendak dan kekuatan, seluruhnya telah tersedia. Apa yang Anda lakukan baginya hanyalah menolongnya menuanaikan niatnya itu.

Pertolongan seperti itu dari Allah Swt yang dikaruniakan kepada orang-orang yang ikhlas ingin mentaati perintah-Nya disebutkan sebagai taufik. Taufik bermakna membantu seseorang untuk melaksanakan tugas.

Sekarang, marilah kita lihat dari sisi lain dari perumpamaan ini. Sekiranya tukang tersebut tidak mau memperbaiki atap itu dan enggan menerima tugas itu sama sekali, atau selepas ia sepakat melakukan tugas itu dan kemudian berlengah-lengah serta mengemukakan berbagai-bagai alasan yang tidak sesuai. Anda tahu bahwa dia memang tidak berniat melakukan tugas itu. Oleh karena itu, tidaklah perlu sama sekali memberikannya tangga itu ataupun menawarkan tangga itu kepadanya.

Apakah dapat dikatakan bahwa dengan mengambil balik tangga itu, Anda telah memaksanya untuk tidak melakukan tugas itu? Tentu sekali tidak. Hal ini disebabkan karena orang itu dengan kehendak dan pilihannya sendiri telah menolak tugas itu (atau menangguhkannya tanpa alasan yang wajar). Tangga kepunyaan Anda itu tidak ada kaitan sama sekali dengan keputusannya itu.

Dalam hubungannya dengan Allah Swt, dengan menarik balik pertolongan dari orang-orang tersebut, yang dengan kehendak dan pilihan mereka sendiri telah memilih untuk mengingkari perintah-perintah Allah, disebut sebagai khidhlan. Khidhlan bermakna pengingkaran.

Anda akan menemui banyak ayat al-Qur’an yang merujuk kepada kedua-dua aspek pertolongan Allah tersebut. Di antaranya:

“Barang siapa yang Allah menghendaki akan memberikan petunjuk kepadanya, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan kekotoran kepada orang-orang yang tidak beriman.” (Qs. Al-An’am [6]:125)

Lihatlah bahwa Allah tidak pernah menyesatkan golongan kafir - Dia hanya membiarkan mereka berada dalam kesesatan. Hal ini bermaksud bahwa mereka telah tersesat dan kemudian Allah membiarkan mereka terus tersesat. Pengertian ini akan menjadi lebih jelas apabila Anda melihat redaksi ayat: “Begitulah Allah menimpakan kekotoran kepada orang-orang yang tidak beriman.”

Hal ini dengan jelas menunjukkan mereka dibiarkan berada dalam kesesatan sebagai suatu bentuk hukuman karena kekufuran mereka. Mereka telah memilih, dengan kehendak sendiri, untuk tidak beriman kepada Allah, dan kemudian, sebagai hasil dari kekufuran itu, Allah membiarkan mereka dalam kesesatan. Dalam ayat lain disebutkan:

“Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih kecil dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka. Akan tetapi, mereka yang kafir akan berkata, “Apakah maksud Allah menjadikan ini sebagai perumpamaan?” Dengan perumpamaan itu, Dia menyesatkan banyak orang dan dengan perumpamaan itu (pula) Dia memberikan petunjuk kepada banyak orang. Dan Dia tidak akan menyesatkan dengan perumpamaan itu kecuali orang-orang yang fasik.” (Qs. Al-Baqarah [2]:6)

Di sini disebutkan bahwa orang-orang yang dibiarkan tersesat itu hanyalah orang-orang yang telah pun melampaui batas dengan pilihan dan kehendak mereka sendiri. Jelaslah bahwa mereka dibiarkan sesat karena mereka sendiri yang telah menyesatkan diri dengan pilihan mereka yang keliru itu.

Pengetahuan Tuhan dan Perbuatan Manusia

Setelah menguraikan pembahasan di atas satu pertanyaan asasi patut diajukan di sini. Tuhan mengetahui segalanya. Dia mengetahuinya semenjak sebelumnya, misalnya, Budi bakalan menjadi seorang yang kafir. Kini, Budi memeluk Islam, hal ini bermakna bahwa pengetahuan Tuhan adalah salah; dan lantaran pengetahuan Tuhan tidak pernah salah, oleh karena itu, Budi harus tetap menjadi seorang kafir. Apakah hal ini tidak bermakna bahwa Budi harus tetap menjadi seorang kafir lantaran pra-pengetahuan yang dimiliki Tuhan?

Dalam menjawab pertanyaan ini hal yang perlu diketahui bahwa apa yang akan terjadi; dan yang lain yang menyebabkan sesuatu itu terjadi. Anggaplah ada seorang dokter yang setelah mendiagnosa seorang pasien, mengumumkan bahwa pasien itu tidak akan bertahan lebih dari setengah jaman. Dapatkah dikatakan bahwa dokter itulah yang menyebabkan kematian pasien lantaran ia tahu bahwa sang pasien bakalan mati? Dapatkah tuntutan diajukan kepadanya lantaran ia telah membunuh pasien tersebut?Tentu saja tidak. Sebaliknya insiden ini akan dinukil untuk menunjukkan bagaimana berpengalamannya dokter tersebut lantaran ia memprediksi apa yang akan terjadi atas pasien tersebut pasca setengah jaman ke depan.

Mari kita simak contoh ini sekali lagi. Dokter mengetahui bahwa pasien bakalan mati, lantaran ia berada pada kondisi sedemikian sehingga ia tidak dapat lagi survive lebih dari setengah jaman ke depan. Jadi, pengetahuan tersebut bersumber dari kondisi pasien; bukan bahwa pasien itu meninggal lantaran pengetahuan dokter. Pengetahuan yang dimiliki oleh sang dokter merupakan hasil dari kondisi real sang pasien; kondisi pasien bukan merupakan hasil dari pengetahuan dokter.

Perbedaan sederhana ini banyak diabaikan oleh mayoritas kaum Muslimin yang berpikir bahwa lantaran Tuhan mengetahui segala sesuatu yang akan terjadi, maka hal itu harus terjadi. Mereka lalai menyadari bahwa Budi yang akan mati adalah seorang kafir, lantaran ia akan mati dalam kondisi kekafiran berdasarkan kehendaknya sendiri; pengetahuan Tuhan berdasarkan kehendak merdeka Budi; bukan Budi mati dalam kondisi seorang kafir lantaran pengetahuan Tuhan.

Tentu saja, terdapat perbedaan antara pengetahuan dokter dan pengetahuan Tuhan; pengetahuan yang dimiliki oleh dokter adalah pengetahuan yang tidak sempurna dan tidak lengkap. Oleh karena itu, prediksinya boleh jadi salah pada waktu-waktu tertentu. Namun pengetahuan Tuhan merupakan pengetahuan sempurna dan lengkap dalam setiap kondisi dan keadaaan. Oleh karena itu, pengetahuan-Nya tidak pernah salah dan keliru setiap saat. Juga hal ini tidak bermakna bahwa pengetahuan-Nya yang menjadi sebab dosa atau kemusyrikan atau kemunafikan, keimanan dan kebaikan hamba-Nya.

Kebaikan Tuhan

Seandainya seseorang dapat melakukan kebaikan kepada seseorang tanpa mengganggu orang lain, namun ia tidak melakukannya, maka keengganannya ini bertolak belakang dengan kebaikan, hal ini merupakan sebuah keburukan. Oleh karena itu, apabila Allah dapat melakukan kebaikan kepada makhluk-makhluk-Nya dan kemudian, Dia tidak melaksanakannya, perkara ini adalah bertentangan dengan kebaikan Allah dan hal ini bukan merupakan sebuah perbuatan yang terpuji. Atas alasan ini, dalam mazhab Syiah disebutkan: “Secara moral merupakan kewajiban Allah melakukan setiap kebaikan (lutf) yang berhubung dengan manusia.”[7]

Apakah yang dimaksud dengan lutf yang diterjemahkan secara umumnya sebagai rahmah atau kebaikan dalam pembahasan ini? Lutf merupakan suatu kebaikan dari Allah yang akan menolong para hamba-Nya untuk mendekat, mengabdi, mentaati dan menyempurnakan diri mereka kepada Allah.

Memang wajar dinyatakan di sini bahwa Allah telah memerintahkan manusia supaya berlaku adil, malahan Dia (Allah) sendiri telah menganugerahi kita dengan sesuatu yang jauh lebih baik daripada keadilan-Nya yaitu tafaddul (kemuliaan). (tafaddul memiliki makna sama dengan lutf)

Kepercayaan bahwa lutf adalah wajib bagi Allah secara moral merupakan suatu kepercayaan yang khusus yang terdapat dalam ajaran Syi‘ah Ithna-‘Asyariah. Sementara, Ahlusunnah tidak percaya bahwa lutf adalah wajib bagi Allah. Kalau saja mereka meyakini bahwa keadilan (‘Adl) saja tidak wajib bagi Allah, apatah lagi lutf. Berdasarkan contoh yang dikemukakan oleh Ahlussunah, seandainya Allah memasukkan orang yang baik dan saleh ke neraka dan mengirim Setan ke surga, ia boleh diterima sebagai perbuatan yang benar. Maka hal ini sah-sah saja.

Kedua konsep, taufik dan lutf seperti yang dinyatakan di atas pada dasarnya bertujuan untuk mendorong seseorang ataupun sekumpulan orang untuk mentaati titah-perintah Allah. Bagaimanapun, adakalanya pertolongan itu ditawarkan kepada seorang yang ingkar, bukan karena dia diharapkan mendapat kebaikan dan dapat melaksanakan tugas-tugasnya, tetapi hanyalah untuk mematahkan dalih atau alasan, agar dia tidak dapat lagi mendakwa bahwa seandainya dia diberikan sedikit pertolongan, tentunya dia dapat menjadi seorang hamba Allah yang taat. Hal seperti ini dikenali sebagai Itmam al-Hujjah (penyempurnaan hujah).

Beberapa contoh dapat dikemukakan di sini berkenaan dengan masalah lutf. Kita tahu bahwa Tuhan menciptakan kita untuk melakukan kebaikan-kebaikan di dunia ini sehingga kita dapat lebih dekat kepada-Nya di hari Kiamat. Pertanyaannya adalah: Bagaimana kita dapat mengetahui apa kebaikan dan keburukan itu? Akal manusia mengapresiasi kebaikan inheren atau keburukan inheren dari kebanyakan perbuatan kita, namun dapatkah kita berhadap bahwa setiap orang bertindak dan berbuat berdasarkan alasan sempurna? Tentu saja tidak. Acapkali ketika hasrat atau marah menekan suara hikmah; acapkali tatkala keuntungan segera (yang dapat diperoleh melalui jalan-jalan salah) nampaknya lebih mengesankan ketimbang cemohooan masyarakat atau kehilangan kasih Tuhan pada hari Kiamat.

Jika Tuhan meninggalkan manusia tanpa alat efektif untuk mencek pikiran-pikiran dan hasrat-hasrat jahatnya, maka hal ini akan berujung pada tidak terwujudnya tujuan Tuhan itu sendiri. Oleh karena itu, Dia menetapkan beberapa aturan dan mengutus para nabi dan imam untuk membawakan aturan-aturan tersebut kepada para hamba-Nya, dan menjelaskan serta melindungi aturan dan hukum tersebut dari penyimpangan.

Dan Tuhan tidak meninggalkan kita, Dia juga menunjuk suatu hari ketika seluruh manusia dikumpulkan untuk melaporkan keimanan dan amal perbuatan mereka. Dan Dia, dengan kasih dan keadilan-Nya, menyampaikan berita kepada kita bahwa akan datang hari perhitungan, hari ganjaran dan hukuman. Berita ini membantu para hamba-Nya untuk menaati aturan dan hukum tersebut yang dibawa oleh para nabi.

Lalu menurunkan syariah merupakan sebuah lutf (kebaikan) yang menolong manusia untuk mencapai tujuan hidupnya. Juga mengutus para nabi dan imam, menentukan hari Kiamat merupakan contoh dari lutf Tuhan. Karena perbuatan-perbuatan ini merupakan lutf, maka hal ini wajib bagi Tuhan.[www.wisdoms4all.com]



[1] . Shibli Nu’mani, ‘Ilmu ‘l‑Kalam, hal. 28

[2] . al‑Ghazali, lhya ‘Ulumi ‘d‑Din (Kitab Qawa’idu’l‑’Aqad), jil,1, hal.193; juga lihat al‑Ash’ari, Kitab ‘l‑Luma’, hal. 53,239.

[3] . Lihat, al-Kalam, Allamah Syibli al-Nu‘mani, bag. 1, hal .17[3]

[4]. as‑Saduq, al‑I’tiqadat, bag. 4, hal. 58.

[5]. Ibid, bag. 5, hal. 58

[6] . as‑Saduq, al‑I’tiqadat, bag. 9, hal. 60.

[7]. al‑Hilli, al‑Babu ‘l‑Hadi ‘Ashar, hal. 99

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

AHLUSUNNAH WAL JAMA’AH

Posted on Desember 1, 2008. Filed under: 01.Usuliddin | Tags: |

AHLUSSUNAH KHALAF (AL-ASY’ARY DAN AL-MATURIDI)

Kata khalaf biasanya digunakan untuk merujuk para ulama yang lahir setelah abad III H dengan karakteristik yang bertolak belakang dengan apa yang dimiliki salaf.
Ahlusunnah (sunni) ada dua pengertian:
1. Secara umum, Sunni adalah lawan kelompok syiah
2. Secara khusus, Sunni adalah mazhab yang berada dalam barisan asy’ariyah dan merupakan lawan mutazilah. Dua aliran yang menentang ajaran-ajaran mutazilah. Harun Nasution dengan meminjam keterangan Tasi Kurbazadah, menjelaskan bahwa aliran ahlu sunnah muncul atas keberanian dan usaha Abu Hasan Al-asy’ari sekitar tahun 300H.

A. AL-ASY’ARI
1. Latar Belakang Kemunculan Al-Asy’ari
Nama lengkap Al-asy’ari adalah Abu al-Hasan Ali bin Ismail bin Ishaq bin Salim bin Ismail bin Abdillah bin Musa bin Bilal bin Abi Burdah bin Abi Musa Al-asy’ari. Ia lahir di Bashrah pada tahun 260H/875M. Ketika berusia 40 tahun, ia hijrah ke kota Bagdad dan wafat di sana pada tahun 324H/935M.
Ayah al-asy’ari adalah seorang yang berfaham ahlusunnah dan ahli hadits. Ia wafat ketika Al-asy’ari masih kecil. Sebelum wafat ia …………berwasiat kepada sahabatnya yang bernama Zakaria bin Yahya As- saji agar mendidik Al-asy’ari. Berkat didikan ayah tirinya, Al-asy’ari kemudian menjadi tokoh mutazilah.
Menurut Ibnu asakir, Al-asy’ari meninggalkan faham mutazilah karena ia telah bermimpi bertemu dengan Rasulullah SAW. Sebanyak tiga kali yaitu pada malam ke-10, 20 dan 30 bulan Ramadhan. Dalam mimpinya Rasulullah mengingatkan agar meninggalkan faham mutazilah dan beralih kepada faham yang telah diriwayatkan dari beliau.

2. Doktrin-doktrin Teologi Al-asy’ari
Corak pemikiran yang sintesis ini menurut Watt, barangkali dipengaruhi teologi kullabiah (teologi Sunni yang dipelopori Ibn Kullab (w 854 M).
Pemikiran-pemikiran Al-asy’ari:
a. Tuhan dan sifat-sifatnya
Al-asy’ari dihadapkan pada dua pandangan ekstrim. Dengan kelompok mujasimah (antropomorfis) dan kelompok musyabbihah yang berpendapat, Allah mempunyai semua sifat yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan sunnah, dan sifat-sifat itu harus difahami menurut harti harfiyahnya. Kelompok mutazilah berpendapat bahwa sifat-sifat Allah tidak lain adalah esensi-esensinya.
Al-asy’ari berpendapat bahwa Allah memang memiliki sifat-sifat itu, seperti mempunyai tangan dan kaki dan ini tidak boleh diartikan secara hartiah, sifat-sifat Allah itu unik sehingga tidak dapat dibandingkan dengan sifat-sifat manusia yang tampaknya mirip.
b. Kebebasan dalam berkehendak (free will)
Dari dua pendapat yang ekstrim, yakni jabariah dan fatalistic dan penganut faham pradterminisme semata-mata dan mutazilah yang menganut faham kebebasan mutlak dan berpendapat bahwa manusia menciptakan perbuatannya sendiri. Al-asy’ari membedakan antara khaliq dan kasb. Menurutnya, Allah adalah pencipta (khaliq) perbuatan manusia, sedangkan manusia sendiri yang mengupayakannya (muktasib), hanya Allah lah yang mampu menciptakan segala sesuatu (termasuk keinginan manusia).
c. Akal dan wahyu dan kriteria baik dan buruk
Walaupun Al-asy’ari dan orang-orang mutazilah mengakui pentingnya akan dan wahyu, mereka berbeda dalam menghadapi persoalan yang memperoleh penjelasan kontradiktif dari akal dan wahyu. Al-asy’ari mengutamakan wahyu, sementara mutazilah mengutamakan akal.

d. Qadimnya Al-Qur’an
Mutazilah mengatakan bahwa Al-Qur’an diciptakan (makhluk) sehingga tak qadim serta pandangan mazhab Hambali dan Zahiriah yang mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah kalam Allah (yang qadim dan tidak diciptakan). Zahiriah bahkan berpendapat bahwa semua huruf, kata dan bunyi Al-Qur’an adalah qadim. Dalam rangka mendamaikan kedua pandangan yang saling bertentangan itu Al-asy’ari mengatakan bahwa walaupun Al-Qur’an terdiri atas kata-kata, huruf dan bunyi, semua itu tidak melekat pada esensi Allah dan karenanya tidak qadim. Nasution mengatakan bahwa Al-Qur’an bagi Al-asy’ari tidaklah diciptakan sebab kalau ia diciptakan, sesuai dengan ayat:

Artinya:
“ Jika kami menghendaki sesuatu, kami bersabda, “ terjadilah“ maka ia pun terjadi”.
e. Melihat Allah
Al-asy’ari tidak sependapat dengan kelompok ortodoks ekstrim, terutama zahiriyah yang menyatakan bahwa Allah dapat dilihat di akherat dan mempercayai bahwa Allah bersemayam di Arsy. Selain itu ia tidak sependapat dengan mutazilah yang mengingkari ru’yatullah (melihat Allah) di akherat. Al-asy’ari yakin bahwa Allah dapat dilihat atau bilamana ia menciptakan kemampuan penglihatan manusia untuk melihatnya.
f. Keadilan
Pada dasarnya Al-asy’ari dan mutazilah setuju bahwa Allah itu adil. Al-asy’ari tidak sependapat dengan mutazilah yang mengharuskan Allah berbuat adil sehingga ia harus menyiksa orang yang salah dan memberi pahala kepada orang yang berbuat baik. Menurutnya, Allah tidak memiliki keharusan apapun karena ia adalah penguasa mutlaq.

g. Kedudukan orang berdosa
Menurut Al-asy’ari mukmin yang berbuat dosa besar adalah mukmin yang fasik, sebab iman tidak mungkin hilang karena dosa selain kufur.

B. AL-MATURIDI
1. Latar Belakan Kemunculan Al-Maturidi
Abu Manshur Muhammad ibn Muhammad ibn Mahmud Al-Maturidi. Ia dilahirkan di sebuah kota kecil di daerah Samarkan yang bernama Maturid, di wilayah Trmsoxiana di Asia Tengah, daerah yang sekarang disebut Uzbekistan. Tahun kelahirannya tidak diketahui pasti, hanya diperkirakan sekitar pertengahan abad ke-3 hijriyah. Ia wafat pada tahun 333 H/944 M. gurunya dalam bidang fiqih dan teologi yang bernama Nasyr bin Yahya Al-Balakhi, ia wafat pada tahun 268 H. al-Maturidi hidup pada masa khalifah Al-Mutwakil yang memerintah pada tahun 232-274 H/847-861 M.
Karir pendidikan Al-Maturidi lebih dikonsentrasikan untuk menekuni bidang teologi dari pada fiqih. Pemikiran-pemikirannya banyak dituangkan dalam bentuk karya tulis, diantaranya adalah kitab Tauhid, Ta’wil Al-Qur’an Makhas Asy-Syara’I, Al-jald, dll. Selain itu ada pula karangan-karangan yang diduga ditulis oleh Al-Maturidi, yaitu Risalah fi Al-aqaid dan syarh Fiqh Al-akbar.

2. Doktrin-doktrin teologi Al-Maturidi
a. Akal dan wahyu
Dalam pemikiran teologinya, Al-Maturidi mendasarkan pada Al-Qur’an dan akal dalam bab ini ia sama dengan Al-asy’ari.
Menurut Al-Maturidi, mengetahui Tuhan dan kewajiban mengetahui Tuhan dapat diketahui dengan akal. Kemampuan akal dalam mengetahui dua hal tersebut sesuai dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang memerintahkan agar manusia menggunakan akal dalam usaha memperoleh pengetahuan dan keimanannya terhadap Allah melalui pengamatan dan pemikiran yang mendalam tentang makhluk ciptaannya. Kalau akal tidak mempunyai kemampuan memperoleh pengetahuan tersebut, tentunya Allah tidak akan menyuruh manusia untuk melakukannya. Dan orang yang tidak mau menggunakan akal untuk memperoleh iman dan pengetahuan mengenai Allah berarti meninggalkan kewajiban yang diperintah ayat-ayat tersebut. Namun akal menurut Al-Maturidi, tidak mampu mengetahui kewajiban-kewajiban lainnya.
Dalam masalah baik dan buruk, Al-Maturidi berpendapat bahwa penentu baik dan buruk sesuatu itu terletak pada suatu itu sendiri, sedangkan perintah atau larangan syari’ah hanyalah mengikuti ketentuan akal mengenai baik dan buruknya sesuatu. Dalam kondisi demikian, wahyu diperoleh untuk dijadikan sebagai pembimbing.
Al-Maturidi membagi kaitan sesuatu dengan akal pada tiga macam, yaitu:
1. Akal dengan sendirinya hanya mengetahui kebaikan sesuatu itu;
2. Akal dengan sendirinya hanya mengetahui kebutuhan sesuatu itu;
3. Akal tidak mengetahui kebaikan dan keburukan sesuatu, kecuali dengan petunjuk ajaran wahyu.
Jadi, yang baik itu baik karena diperintah Allah, dan yang buruk itu buruk karena larangan Allah. Pada korteks ini, Al-Maturidi berada pada posisi tengah dari Mutazilah dan Al-Asy’ari.
b. Perbuatan manusia
Menurut Al-Maturidi perbuatan manusia adalah ciptaan Tuhan karena segala sesuatu dalam wujud ini adalah ciptaannya. Dalam hal ini, Al-Maturidi mempertemukan antara ikhtiar sebagai perbuatan manusia dan qudrat Tuhan sebagai pencipta perbuatan manusia.
c. Kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan
Menurut Al-Maturidi qudrat Tuhan tidak sewenang-wenang (absolut), tetapi perbuatan dan kehendaknya itu berlangsung sesuai dengan hikmah dan keadilan yang sudah ditetapkannya sendiri.
d. Sifat Tuhan
Dalam hal ini faham Al-Maturidi cenderung mendekati faham mutzilah. Perbedaan keduanya terletak pada pengakuan Al-Maturidi tentang adanya sifat-sifat Tuhan, sedangkan mutazilah menolak adanya sifat-sifat Tuhan.
e. Melihat Tuhan
Al-Maturidi mengatakan bahwa manusia dapat melihat Tuhan. Hal ini diberitahukan oleh Al-Qur’an, antara lain firman Allah dalam surat Al-Qiyamah ayat 22dan 23. namun melihat Tuhan, kelak di akherat tidak dalam bentuknya (bila kaifa), karena keadaan di akherat tidak sama dengan keadaan di dunia.
f. Kalam Tuhan
Al-Maturidi membedakan antara kalam yang tersusun dengan huruf dan bersuara dengan kalam nafsi (sabda yang sebenarnya atau kalam abstrak). Kalam nafsi adalah sifat qadim bagi Allah, sedangkan kalam yang tersusun dari huruf dan suara adalah baharu (hadist).
g. Perbuatan manusia
Menurut Al-Maturidi, tidak ada sesuatu yang terdapat dalam wujud ini, kecuali semuanya atas kehendak Tuhan, dan tidak ada yang memaksa atau membatasi kehendak Tuhan kecuali karena ada hikmah dan keadilan yang ditentukan oleh kehendak-Nya sendiri.
h. Pengutusan Rasul
Pandangan Al-Maturidi tidak jauh beda dengan pandangan mutazilah yang berpendapat bahwa pengutusan Rasul ke tengah-tengah umatnya adalah kewajiban Tuhan agar manusia dapat berbuat baik dan terbaik dalam kehidupannya.
i. Pelaku dosa besar
Al-Maturidi berpendapat bahwa orang yang berdosa besar tidak kafir dan tidak kekal di dalam neraka walaupun ia mati sebelum bertobat.

KESIMPULAN

Nama lengkap Al-Asy’ari adalah Abu Al-Hasan Ali bin Ismail in Ishaqi bin Salim bin Ismail bin Abdillah bin Musa bin Bilal bin Abi Burdah bi Abi Musa Al-Asy’ari, beliau ditinggalkan oleh ayahnya ketika masih kecil. Ayah beliau yaitu seorang yang berfaham ahlusunnah dan ahli hadits. Sebelum ayah beliau wafat, ayak beliau berwasiat kepada Zakaria bin Yahya As-Saji agar mendidik Al-Asy’ari. Berkat didikannya, Al-Asy’ari kemudian menjadi tokoh Mutazilah, tapi kemudian ia keluar dari Mu’tazilah dan berfaham ahlusunnah
Pemikiran-pemikiran Al-Asy’ari diantaranya Tuhan dan sifat-sifatnya, kebebasan dalam berkehendak, akal dan wahyu dan kriteria baik dan buruk, qodimnya Al-Qur’an, melihat Allah, keadilan dan kedudukan orang berdosa.
Al-Maturidi dilahirkan disebuah kota kecil di daerah Samarkan yang bernama Maturid. Al-Maturidi hidup pada masa khalifah Al-Mutawakil yang memerintah pada tahun 232-274 H/847-861 M. kariri pendidikan beliau lebih dikonsentrasikan untuk menekuni bidang teologi dari pada fiqih
Doktrin-doktrin teologi al-Maturidi diantaranya akal dan wahyu, perbuatan manusia, kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan, sifat Tuhan, melihat Tuhan kalam Tuhan, perbuatan manusia, pengutusan Rasul dan dosa besar.

DAFTAR PUSTAKA

Rozak, Abdul & Anwar, Rohison, Ilmu Kalam. CV Pustaka Setia, Bandung, 2003
Nasution, Harun, Teologi Islam, UI Press, Jakarta, 1987
Nata, Abudin, Meteologi Study Islam, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2004
Hanafi, Teologi Islam, Bulan Bintang Jakarta, 1982


http://rifaimovic.wordpress.com/2008/12/01/ahlusunnah-wal-jamaah/
--------------------------------------------------------------------------------------------------
QADHA & QADAR
(by Syaikh Muhammad Shalih Al-Utsaimin, Darul Haq Jakarta)


PENDAHULUAN

Segala puji bagi Allah yang telah mengutus hambaNya Muhammad dengan
membawa kebenaran, menyampaikan amanat kepada umat dan berjihad di
jalanNya hingga akhir hayat. Semoga shalawat dan salam senantiasa
dilimpahkan kepada beliau, berikut para keluarga, sahabat dan
pengikutnya yang setia.

Dalam pertemuan ini, kami akan membahas suatu masalah yang kami
anggap sangat penting bagi kita umat Islam, yaitu masalah qadha' dan
qadar. Mudah-mudahan Allah membukakan pintu karunia dan rahmatNya
bagi kita, menjadikan kita termasuk para pembimbing yang mengikuti
jalan kebenaran dan para pembina yang membawa pembaharuan.

Sebenarnya masalah ini sudah jelas. Akan tetapi kalau bukan karena
banyaknya pertanyaan dan banyaknya orang yang masih kabur dalam
memahami masalah ini serta banyaknya orang yang membicarakannya,
yang kadangkala benar tetapi seringkali salah; di samping itu
sebenarnya pemahaman-pemahaman yang hanya karena mengikuti hawa
nafsu dan adanya orang-orang fasik yang berdalih dengan qadha' dan
qadar untuk kefasikannya; seandainya bukan karena itu semua, niscaya
kami tidak Akan berbicara tentang masalah ini.

Sudah sejak dahulu masalah qadha' dan qadar menjadi ajang
perselisihan di kalangan umat Islam. Diriwayatkan bahwa Rasulullah
keluar menemui para sahabatnya, ketika itu mereka sedang berselisih
masalah qadar (takdir), maka beliau melarangnya dan memperingatkan
bahwa kehancuran umat-umat terdahulu tiada lain karena perdebatan
seperti ini.


PENGERTIAN TAUHID DAN MACAM-MACAMNYA

Walaupun masalah qadha' dan qadar menjadi ajang perselisihan di
kalangan umat Islam, tetapi Allah telah membukakan hati para
hambaNya yang beriman, yaitu para Salaf Shalih yang mereka itu
senantiasa rnenempuh jalan kebenaran dalam pemahaman dan pendapat.
Menurut mereka qadha' dan qadar adalah termasuk rububiyah Allah atas
makhlukNya. Maka masalah ini termasuk ke dalam salah satu di antara
tiga macam tauhid menurut pembagian ulama:

Pertama: Tauhid Al-Uluhiyah, ialah mengesakan Allah dalam ibadah,
yakni beribadah hanya kepada Allah dan karenaNya semata.

Kedua: Tauhid Ar-Rububiyah, ialah rneng esakan Allah dalam
perbuatanNya, yakni mengimani dan meyakini bahwa hanya Allah yang
Mencipta, menguasai dan mengatur alam semesta ini.

Ketiga: Tauhid Al-Asma' was-Sifat, ialah mengesakan Allah dalam asma
dan sifatNya. Artinya mengimani bahwa tidak ada makhluk yang serupa
dengan Allah M. dalam dzat, asma maupun sifat.

Iman kepada qadar adalah termasuk tauhid ar-rububiyah. Oleh karena
itu Imam Ahmad berkata: "Qadar adalah kekuasaan Allah". Karena, tak
syak lagi, qadar (takdir) termasuk qudrat dan kekuasaanNya yang
menyeluruh. Disamping itu, qadar adalah rahasia Allah yang-
tersembunyi, tak ada seorangpun yang dapat mengetahui kecuali Dia,
tertulis pada Lauh Mahfuzh dan tak ada seorangpun yang dapat
melihatnya. Kita tidak tahu takdir baik atau buruk yang telah
ditentukan untuk kita maupun untuk makhluk lainnya,
kecuali setelah terjadi atau berdasarkan nash yang benar.
Humairah
05-04-06, 06:25 PM
sambung lg...

PENDAPAT-PENDAPAT TENTANG QADAR

Pembaca yang budiman. Umat Islam dalam masalah qadar ini terpecah
dalam tiga golongan:

Pertama: Mereka yang ekstrim dalam menetapkan qadar dan menolak
adanya kehendak dan kemampuan makhluk. Mereka berpendapat bahwa
manusia sama sekali tidak mempunyai kemampuan dan keinginan, dan
hanyalah disetir dan tidak mempunyai pilihan, laksana pohon yang
tertiup angin. Mereka tidak membedakan antara perbuatan manusia yang
terjadi dengan kemahuannya dan perbuatan yang terjadi tanpa
kemauannya. Tentu saja mereka ini keliru dan sesat, karena sudah
jelas menurut agama, akal dan adat kebiasaan bahwa manusia dapat
membedakan antara perbuatan yang dikehendaki dan perbuatan
yang terpaksa.

Kedua: Mereka yang ekstrim dalam menetapkan kemampuan dan kehendak
makhluk sehingga mereka menolak bahwa apa yang diperbuat manusia
adalah karena kehendak dan keinginan Allah serta diciptakan olehNya.
Menurut mereka, manusia memmiliki kebebasan atas perbuatannya.
Bahkan ada di antara mereka yang mengatakan bahwa Allah tidak
mengetahui apa yang diperbuat oleh manusia kecuali setelah terjadi.
Mereka inipun sangat ekstrim dalam menetapkan kemampuan dan kehendak
makhluk.


Ketiga: Mereka yang beriman, sehingga diberi petunjuk oleh Allah
untuk menemukan kebenaran yang telah diperselisihkan. Mereka itu
adalah Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Dalam masalah ini mereka menempuh
jalan tengah dengan berpijak di atas dalil syar'i dan dalil 'aqli
Mereka berpendapat bahwa perbuatan yang dijadikan Allah di alam
semesta ini terbagi atas dua macam:

1. Perbuatan yang dilakukan oleh Allah, terhadap makhlukNya Dalam
hal ini tidak ada kekuasaan dan pilihan bagi siapapun. Seperti;
turunnya hujan, tumbuhnya tanaman, kehidupan, kematian, sakit, sehat
dan banyak contoh lainnya yang dapat disaksikan pada makhluk Allah.
Hal seperti ini, tentu saja tak ada kekuasaan dan kehendak bagi
siapapun kecuali bagi Allah Yang Maha Esa dan Maha Kuasa.

2. Perbuatan yang dilakukan oleh semua makhluk yang mempunyai
kehendak. Perbuatan ini terjadi atas dasar keinginan dan kemauan
pelakunya karena Allah menjadikannya untuk mereka. Sebagaimana
firman Allah:

"Bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. "
(At-Takwir: 28).

'Di antara kamu ada orang yang- menghendaki dunia dan di antara kamu
ada orang yang menghendaki akhirat." (Ali Imran: 152).

"Maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan
barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir " (Al-Kahfi: 2 9).

Manusia bisa membedakan antara perbuatan yang terjadi karena
kehendaknya sendiri dan yang terjadi karena terpaksa. Sebagai
contoh, orang yang dengan sadar turun dari atas rumah melalui
tangga, ia tahu kalau perbuatannya itu atas dasar pilihan dan
kehendaknya sendiri. Lain halnya kalau ia terjatuh dari atas rumah,
ia tahu bahwa hal tersebut bukan karena kemauannya. Dia dapat
membedakan antara kedua perbuatan ini, yang pertama atas dasar
kemauannya dan yang kedua tanpa kemauannya. Dan siapapun
mengetahui perbedaan ini.

Begitu juga orang yang menderita sakit beser umpamanya, ia tahu
kalau air kencingnya keluar tanpa kemauannya. Tetapi apabila ia
sudah sembuh, ia sadar bahwa air kencingnya keluar dengan
kemauannya. Dia mengetahui perbedaan antara kedua hal ini dan tak
ada seorangpun yang mengingkari adanya perbedaan tersebut.

Demikianlah segala yang terjadi dari manusia, dia mengetahui
perbedaan antara mana yang terjadi dengan kemauannya dan mana yang
tidak.

Akan tetapi, karena kasih sayang Allah, ada di antara perbuatan
manusia yang terjadi atas kemauannya namun tidak dinyatakan Sebagai
perbuatannya. Seperti perbuatan orang yang kelupaan dan orang yang
sedang tidur. Firman Allah dalam kisah Ashabul Kahfi:

"... dan Kami mereka ke kanan dan ke kiri... (Al-Kahfi: 18).

Padahal merekalah sendiri yang berbalik ke kanan dan ke kiri, tetapi
Allah menyatakan bahwa Dialah yang membalik-balikkan mereka ke kanan
dan ke kiri, sebab orang yang sedang tidur tidak mempunyai kemauan
dan pilihan serta tidak mendapat hukuman atas perbuatannya, maka
perbuatan tersebut di-nisbat-kan kepada Allah.

Dan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wassalam:

"Barangsiapa yang lupa ketika dalam keadaan berpuasa lalu makan atau
minum, maka hendaklah !a menyempurnakan puasanya, karena Allah yang
memberinya mdkdn dan memberinya minum. "

Dinyatakan dalam hadits ini bahwa yang memberinya makan dan minum
adalah Allah karena perbuatannya tersebut terjadi di luar
kesadarannya, maka seakan-akan terjadi tanpa kemauannya.

Kita semua mengetahui perbedaan antara rasa sakit atau rasa senang
yang kadangkala dirasakan seseorang dalam dirinya tanpa kemauannya
serta dia sendiri tidak tahu sebabnya dan rasa sakit atau rasa
senang yang timbul dari perbuatan yang dilakukan oleh dia sendiri.
Hal ini, alhamdulillah, sudah cukup jelas dan gamblang..

Humairah
05-04-06, 06:26 PM
SANGGAHAN ATAS PENDAPAT KEDUA

Adapun pendapat kedua, yaitu pendapat golongan yang ekstrim dalam
menetapkan kemampuan manusia, maka pendapat inipun bertentangan
dengan nash dan kenyataan. Sebab banyak ayat yang menjelaskan bahwa
kehendak manusia di bawah (tidak lepas dari) kehendak Allah. Firman
Allah:

"(Yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang
lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali
apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam." (At-Takwir: 28-29).

"Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya.
Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka." (Al-Qashash: 68).

"Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (Surga), dan menunjuki orang
yang dikehendakiNya kepada jalan yang lurus (Islam)." (Yunus: 25).

Mereka yang menganut pendapat ini sebenarnya telah mengingkari salah
satu aspek dari rububiyah Allah, dan berprasangka bahwa ada dalam
kerajaan Allah ini apa yang tidak dikehendaki dan tidak
diciptakanNya. Padahal Allah-lah yang menghendaki segala sesuatu,
menciptakannya dan menentukan qadar (taqdir)nya.

Sekarang, kalau semuanya kembali kepada kehendak Allah dan segalanya
berada di Tangan allah, lalu apakah jalan dan upaya yang akan
ditempuh seseorang apabila dia telah ditakdirkan Allah tersesat dan
tidak mendapat petunjuk?

Jawabnya: bahwa Allah menunjuki orang-orang yang patut mendapat
petunjuk dan menyesatkan orang-orang yang patut menjadi sesat.
Firman Allah:

"Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan
hati mereka dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang fasik."
(Ash-Shaff: 5).

"(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuk mereka dan
Kami jadikan hati mereka keras membantu, mereka suka merubah
perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja)
melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diberi peringatan
dengannya." (Al-Maidah: 13)

Di sini Allah menjelaskan bahwa Dia tidak menyesatkan orang yang
sesat kecuali disebabkan oleh dirinya sendiri. Dan sebagaimana telah
kami terangkan tadi bahwa manusia tidak dapat mengetahui apa yang
telah ditakdirkan oleh Allah untuk dirinya. Karena dia tidak
mengetahui takdirnya kecuali apabila sudah terjadi, maka dia tidak
tahu apakah dia ditakdirkan Allah menjadi orang yang tersesat atau
menjadi orang yang mendapat petunjuk.

Kalau begitu, mengapa jika seseorang menempuh jalan kesesatan lalu
berdalih bahwa Allah telah menghendakinya demikian? Apa tak lebih
patut baginya menempuh jalan kebenaran kemudian mengatakan
bahwa "Allah telah menunjukkan kepadaku jalan kebenaran?".

Pantaskah dia menjadi seorang jabari 1) kalau tersesat dan qadari 2)
kalau berbuat kebaikan?

[1) Jabari, ialah orang yang berpendapat bahwa manusia itu terpaksa
dalam perbuatannya, tidak mempunyai kehendak dan keinginan.
2) Qadari, ialah orang yang berpendapat bahwa manusia memiliki
kebebasan dalam perbuatannya dan mengingkari adanya takdir.]

Humairah
05-04-06, 06:27 PM
sambungan SANGGAHAN ATAS PENDAPAT KEDUA

Sungguh tak pantas bagi seseorang menjadi jabari ketika berada dalam
kesesatan dan kemaksiaatan, kalau ia tersesat atau berbuat maksiat
kepada Allah dia mengatakan: "Ini sudah takdirku, dan tak mungkin
aku dapat keluar dari ketentuan dan takdir Allah"; tetapi ketika
berada dalam ketaatan dan memperoleh taufik dari Allah untuk berbuat
ketaatan dan kebaikan dia mengatakan: "Ini kuperoleh dari diriku
sendiri." Dengan demikian dia menjadi qadari dalam segi ketaatan dan
menjadi jabari dalam segi kemaksiatan.

Ini tidak boleh sama sekali, sebab sebenarnya manusia mempunyai
kehendak dan kemampuan.

Masalah hidayah sama halnya dengan masalah rizki dan menuntut ilmu.
Sebagaimana kita semua tahu bahwa manusia telah ditentukan rizki yang
menjadi bagiannya. Namun demikian dia tetap berusaha untuk mencari
rizki ke kanan dan ke kiri, di daerahnya sendiri atau di luar
daerahnya. Tidak duduk saja di rumah seraya berkata: "Kalau sudah
ditakdirkan rizkiku tentu akan datang dengan sendirinya." Bahkan dia
akan berusaha untuk mencari rizki tersebut. Padahal rizki ini
disebutkan bersamaan amal perbuatan, sebagaimana disebutkan dalam
hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas'ud:

"Sesungguhnya kalian ini dihimpunkan kejadiannya dalam perut ibu
selama empat puluh hari berupa air mani, kemudian beruah menjadi
segumpal darah selama empat puluh hari pula, kemudian berubah
segumpal daging selama empat puluh hari pula, lalu Allah mengutus
malaikat yang diberi tugas untuk mencatat empat perkara, yaitu:
rizkinya, ajalnya, amal perbuatannya dan apakah termasuk orang
****** atau bahagia."

Jadi, rizki ini pun telah dicatat seperti hanya amal perbuatan, baik
ataupun buruk, juga telah dicatat.

Kalau begitu, mengapa Anda pergi ke sana kemari untuk mencari rizki
dunia tetapi tidak berbuat kebaikan untuk mencari rizki akhirat dan
mendapatkan kebahagiaan Surga? Padahal kedua-duanya adalah sama,
tidak ada perbedaannya.

Jika Anda mau berusaha mencari rizki untuk mempertahankan kelansungan
hidup anda, sehingga kalau Anda kalau sakit pergi ke manapun mencari
dokter ahli yang dapat mengobati penyakit Anda, padahal Anda tahu
kalau ajal telah ditentukan, tidak akan dapat bertambah maupun
berkurang, Anda tidak bersikap pasrah sambil berkata: "Sudahlah aku
tetap tinggal di rumah saja meski menderita sakit, karena kalaupun
aku ditakdirkan panjang umur akan tetap hidup." Bahakan Anda
berusaha sekuat tenaga untuk mencari dokter yang ahli, yang
sekiranya dapat menyembuhkan penyakit Anda dengan takdir Allah. Jika
demikian, mengapa usaha Anda di jalan akhirat dan dalam amal shalih
tidak seperti usaha Anda untuk kepentingan dunia?

Sebagaimana telah kami kemukakan bahwa masalah qadar adalah rahasia
Allah yang tersembunyi, tak mungkin Anda paat mengetahuinya.
Sekarang Anda berada di antara dua jalan; jalan yang membawa Anda
kepada keselamatan, kebahagiaan, kedamaian dan kemuliaan; dan jalan
yang dapat membawa Anda kepada kehancuran, penyesalan dan kehinaan.
Sekarang Anda sedang berdiri di antara ujung kedua jalan tersebut
dan bebas untuk memilih, tak ada seorang pun yang akan merintangi
Anda untuk melalui jalan yang kanan atau yang kiri. Anda dapat pergi
ke manapun sesuka hati Anda. Lalu mengapa Anda memilih jalan kiri
(sesat) kemudian berdalih bahwa "Itu sudah takdirku?" Apa tidak
lebih patut jika Anda memilih jalan kanan dan mengatakan bahwa
"Itulah takdirku?"

Untuk lebih jelasnya, apabila Anda mau bepergian ke suatu tempat dan
di hadapan Anda ada dua jalan. Yang satu mulus, lebih pendek dan
lebih aman; sedang yang kedua rusak, lebih panjang dan mngerikan.
Tentu saja Anda akan memilih jalan yang mulus, yang lebih pendek dan
lebih aman, tidak memilih jalan yang tidak mulus, tidak pendek dan
tidak aman. Ini berkenaan dengan jalan yang visual, begitu pula
dengan yang non visual, sama saja dan tidak ada bedanya. Namun,
kadangkala hawa nafsulah yang memegang peran dan menguasai akal.
Padahal, sebagai seorang mukmin seyogyanya akalnyalah yang
harus lebih berperan dan menguasai hawa nafsunya. Jika orang
menggunakan akalnya, maka akal itu -menurut pengertian sebenarnya-
akan melindungi pemiliknya dari yang membahayakan dan membawanya
kepada yang bermanfaat dan membahagiakan.

Dengan demikian jelaslah bagi kita bahwa manusia mempunyai kehendak
dan pilihan dalam perbuatan yang dilakukannya secara sadar, bukan
terpaksa. Kalau manusia berbuat dengan kehendak dan pilihannya untuk
kepentingan dunia, maka diapun begitu pula dalam usahanya menuju
akhirat. Bahkan jalan menuju akhirat lebih jelas. Karena Allah telah
menjelaskannya dalam Al-Qur'an dan melalui sabda RasulNya
shalallahu 'alaihi wassalam, maka jalan menuju akhirat tentu saja
lebih jelas dan lebih terang daripada jalan untuk kepentingan dunia.

Namun, kenyataannya, manusia mau berusaha untuk kepentingan dunia
yang tidak terjamin hasilnya tapi meninggalkan jalan menuju akhirat
yang telah terjamin hasilnya dan diketahui balasannya berdasarkan
janji Allah, dan Allah tidak akan menyalahi janjiNya.

Pembaca yang budiman.

Inilah yang menjadi ketetapan Ahlus Sunnah wal Jama'ah dan inilah
yang menjadi aqidah serta madzhab mereka, yaitu bahwa manusia
berbuat atas dasar kemauannya dan berkata menurut keinginannya,
tetapi keinginan dan kemauannya itu tidak lepas dari kemauan dan
kehendak Allah. Dan Ahlus Sunnah wal Jama'ah mengimani bahwa
kehendak Allah tidak lepas dari hikmah kebijaksanaanNya, bukan
kehendak mutlak dan absolut, tetapi kehendak yang senantiasa sesuai
dengan hikmah kebijaksanaanNya. Karena di antara asma Allah adalah
Al-Hakim yang artinya Pemutus Yang Bijaksana, yang memutuskan
segala sesuatu dan bijaksana dalam keputusanNya.

Allah dengan sifat hikmahNya, menentukan hidayah bagi siapa yang
dikehendakiNya yang menurut pengetahuanNya menginginkan al-haq dan
hatinya berada dalam istiqamah. Dan dengan sifat hikmahNya pula, Dia
menentukan kesesatan bagi siapa yang suka akan kesesatan dan hatinya
tidak senang dengan Islam. Sifat hikmah Allah tidak dapat menerima
bila orang yang suka akan kesesatan termasuk dalam golongan orang-
orang yang mendapat petunjuk, kecuali jika Allah memperbaiki hatinya
dan merubah kehendaknya, dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Namun, sifat hikmahNya menetapkan bahwa setiap sebab berkaitan erat
dengan akibatnya.

Humairah
05-04-06, 06:29 PM
TINGKATAN QADHA' DAN QADAR

Menurut Ahlus Sunnah wal Jama'ah qadha' dan qadar mempunyai empat
tingkatan:

Pertama: Al-'Ilm (pengetahuan), yaitu mengimani dan meyakini bahwa
Allah Mahatahu atas segala sesuatu. Dia mengetahui apa yang ada di
langit dan di bumi, secara umum maupun terinci, baik itu termasuk
perbuatanNya sendiri atau perbuatan makhlukNya. Tak ada sesuatu pun
yang tersembunyi bagiNya.

Kedua: Al-Kitabah (penulisan), yaitu mengimani bahwa Allah telah
menuliskan ketetapan segala sesuatu dalam Lauh Mahfuzh yang ada di
sisiNya.

Kedua tingkatan ini sama-sama dijelaskan oleh Allah dalam firmanNya:

"Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui
apa saja yang ada di langit dan di bumi; bahwasanya yang demikian
itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang
demikian itu amat mudah bagi Allah." (Al-Hajj: 70).

Dalam ayat ini disebutkan lebih dahulu bahwa Allah mengetahui apa
saja yang ada di langit dan di bumi, kemudian dikatakan bahwa yang
demikian tertulis dalam sebuah ktiab, yaitu Lauh Mahfuzh.

Sebagaimana pula dijelaskan oleh Rasulullah shalallahu 'alaihi
wassalam dalam sabdanya:

"Pertama kali tatkala Allah menciptakan qalam (pena), Dia firmankan
kepadanya, 'Tulislah!' Qalam itu berkata, 'Ya Tuhanku, apakah yang
hendak kutulis?' Allah berfirman, "Tulislah apa saja yang akan
terjadi!' Maka seketika itu bergeraklah qalam itu menulis segala
yang akan terjadi hingga hari Kiamat."

Ketika Nabi shalallahu 'alaihi wassalam ditanya tentang apa yang
hendak kita perbuat, apakah sudah ditetapkan atau tidak? Beliau
menjawab: "Sudah ditetapkan."

Dan ketika beliau ditanya: "Mengapa kita mesti berusaha dan tidak
pasrah saja dengan takdir yang sudah tertulis?", beliau pun menjawab:
"Berusahalah kalian, masing-masing akan dimudahkan menurut takdir
yang telah ditentukan baginya." Kemudian beliau mensitir firman
Allah:

"Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan
bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik, maka Kami akan
memudahkan baginya (jalan) yang mudah. Sedangkan orang yang bakhil
dan merasa dirinya cukup serta mendustakan adanya pahala yang
terbaik, maka Kami akan memudahkan baginya (jalan) yang sukar." (Al-
Lail: 5-10)

Oleh karena itu, hendaklah Anda berusaha, sebagaimana yang
diperintahkan Nabi shalallahu 'alaihi wassalam kepada para sahabat.
Anda akan dimudahkan menurut takdir yang telah ditentukan Allah.

Ketiga: Al-Masyi'ah (kehendak). Artinya, bahwa segala sesuatu yang
terjadi, atau tidak terjadi, di langit dan di bumi, adalah dengan
kehendak Allah. Hal ini dinyatakan jelas dalam Al-Qur'an Al-Karim.
Dan Allah telah menetapkan bahwa apa yang diperbuatNya adalah dengan
kehendakNya, serta apa yang diperbuat para hambaNya juga dengan
kehendakNya.

Firman Allah:

"(Yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang
lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali
apabila dikehendaki Allah, Tuhan Semesta Alam." (At-Takwir: 28-29)

"Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya."
(Al-An'am: 112)

"Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Akan
tetapi Allah berbuat apa yang dikehendakiNya." (Al-Baqarah: 253)

Dalam ayat-ayat tersebut Allah menjelaskan bahwa apa yang diperbuat
manusia terjadi dengan kehendakNya.

Dan banyak pula ayat-ayat yang menunjukkan bahwa apa yang diperbuat
Allah adalah dengan kehendakNya. Seperti firman Allah:

"Dan kalau Kami menghendaki niscaya Kami akan berikan kepada tiap-
tiap jiwa petunjuk (bagi)nya." (As-Sajdah: 13)

"Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang
satu." (Huud: 118)

Dan banyak lagi ayat-ayat yang menetapkan kehendak Allah dalam apa
yang diperbuatNya.

Oleh karena itu, tidaklah sempurna keimanan seseorang kepada qadar
(takdir) kecuali dengan mengimani bahwa kehendak Allah meliputi
segala sesuatu. Tak ada yang terjadi atau tidak terjadi kecuali
dengan kehendakNya. Tidak mungkin ada sesuatu yang terjadi di langit
ataupun di bumi tanpa dengan kehendak Allah.

Humairah
05-04-06, 06:32 PM
sambungan Tingkatan QADA` DAN QADAR


Keempat: Al-Khalq (penciptaan). Yaitu, mengimani bahwa Allah Pencipta
segala sesuatu. Apa yang ada di langit dan di bumi Penciptanya tiada
lain adalah Allah. Sampai yang dikatakan "mati" (tidak hidup), itupun
diciptakan oleh Allah. Firman Allah:

"Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di
antara kamu yang lebih baik amalnya." (Al-Mulk: 2)

Jadi, segala sesuatu yang ada di langit ataupun di bumi PenciptaNya
tiada lain adalah Allah Tabaraka wa Ta'ala.

Kita semua mengetahui dan meyakini bahwa apa yang terjadi dari
perbuatan Allah adalah ciptaanNya. Seperti langit, bumi, gunung,
sungai, matahari,bulan, bintang, angin, manusia, dan hewan,
kesemuanya adalah ciptaan Allah. Demikian pula apa yang terjadi
untuk para makhluk ini, seperti: sifat, perubahan dan keadaan,
itupun ciptaan Alalh.

Akan tetapi mungkin saja ada orang yang sulit memahami, bagaimana
dapat dikatakan bahwa perbuatan dan perkataan yang kita lakukan
dengan kehendak kita ini adalah ciptaan Allah?

Jawabnya: Ya memang demikian. Sebab perbuatan dan perkataan kita ini
timbul karena adanya 2 faktor, yaitu kehendak dan kemampuan. Apabila
perbuatan manusia timbul karena kehendak dan kemampuannya, maka perlu
diketahui bahwa yang menciptakan kehendak dan kemampuan manusia
adalah Allah. Dan Siapa yang menciptakan sebab, Dialah yang
menciptakan akibatnya.

Jadi, sebagai argumentasi bahwa Allah-lah yang menciptakan perbuatan
manusia, yaitu bahwa apa yang diperbuat manusia itu timbul karena 2
faktor, yaitu kehendak dan kemampuan. Andaikata tidak ada kehendak
dan kemampuan, tentu manusia tidak akan berbuat. Karena andaikata dia
menghendaki, tetapi tidak mampu, tidak akan ia perbuat. Begitu pula
andaikata dia mampu, tetapi tidak menghendaki, tidak akan terjadi
perbuatan itu. Jika perbuatan manusia itu terjadi karena adanya
kehendak yang mantap dan kemampuan sempurna, sedangkan kehendak dan
kemampuan tadi pada diri manusia adalah Allah, maka dengan cara ini
dapat kita katakan bahwa Allah-lah yang menciptakan perbuatan
manusia.

Akan tetapi, pada hakikatnya manusia yang berbuat. Manusialah yang
bersuci, yang melakukan shalat, yang menunaikan zakat, yang
berpuasa, yang melaksanakan ibadah haji dan umrah, yang berbuat
kemaksiatan, yang berbuatan ketaatan; hanya saja semua perbuatan ini
ada dan terjadi dengan kehendak dan kemampuan yang diciptakan oleh
Allah. Dan alhamdulillah hal ini sudah cukup jelas.

Keempat tingkatan yang disebutkan tadi wajib kita tetapkan untuk
Allah. Dan hal ini tidak bertentangan apabila kita katakan bahwa
manusia sebagai yang berbuata atau pelaku perbuatan.

Seperti halnya kita katakan: "Api membakar." Padahal yang
menjadikannya dapat membakar tentu saja Allah. Api tidak dapat
membakar dengan sendirinya, sebab seandainya api dapat membakar
dengan sendirinya, tentu ketika Nabi Ibrahim 'alaihissalam
dilemparkan ke dalam api akan terbakar hangus. Akan tetapi, ternyata
beliau tidak mengalami cedera sedikitpun, karena Allah telah
berfirman kepada api itu:

"Hai api, jadilah dingin dan keselamatan bagi Ibrahim." (Al-Anbiya':
69)

Sehingga Nabi Ibrahim 'alaihissalam tidak terbakar, bahkan tetap
dalam keadaan sehat wal 'afiat.

Jadi, api tidak dapat membakar dengan sendirinya, tetapi Allah-lah
yang menjadikannya mempunyai kekuatan untuk membakar. Kekuatan api
untuk membakar adalah sama dengan kehendak dan kemampuan dalam diri
manusia untuk berbuat, tidak ada perbedaannya. Hanya saja, karena
manusia mempunyai kehendak, perasaan, pilihan dan tindakan, maka
secara hukum dan sebenarnya manusia dinyatakan sebagai yang berbuat.
Dia akan mendapat balasan sesuai dengan apa yang diperbuatnya,
karena dia berbuat menurut kehendak dan kemauannya sendiri.

Humairah
05-04-06, 06:35 PM
PENUTUP

Sebagai penutup, kami katakan bahwa seorang mukmin harus ridha kepada
Allah sebagai Tuhannya, dan termasuk kesempurnaan ridhanya, yaitu
mengimani bahwa dalam masalah ini tidak ada perbedaan antara amal
yang dikerjakan manusia, rizki yang dia usahakan, dan ajal yang dia
khawatirkan. Kesemuanya adalah sama, sudah tertulis dan ditentukan.
Dan setiap manusia dimudahkan menurut takdir yang ditentukan
baginya. Semoga Allah menjadikan kita termasuk mereka yang
dimudahkan untuk berbuat seperti orang-orang mendapat kebahagiaan
dan melimpahkan kepada kita kebaikan dunia dan akhirat.

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, semoga shalawat dan salam
senantiasa dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarga dan
seluruh shahabatnya.


p/s; moderator n Tok muda......sori kalau posting panjang dan perlu masukkan lam artikel....

but saya rasa bertanggungjawab lak utk share ilmu2 Allah ni.....

hopefully ia bermanfaat untuk dunia dan akhirat kita semua...insyaAllah.......

http://bincang.net/forum/archive/index.php/t-69128.html
-----------------------------------------------------------------------------------------------


ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِين

Category:

Dedi Wahyudi, S.Pd.I: Kami harapkan senyum, salam, sapa, saran dan kritik untuk tulisan serta tampilan blog ini. Terima kasih atas kunjungannya. Semoga ilmunya membawa berkah.

0 komentar

Silahkan kirim komentar anda!