: :

Navbar Bawah

Cari Blog Ini

Memuat...

03 Februari 2009

ARTI KURIKULUM

www.ppk.kpm.my/definasi.htm
“… suatu program pendidikan yang termasuk kurikulum dan kegiatan kokurikulum yang merangkumi semua pengetahuan, kemahiran, norma, nilai, unsure kebudayaan dan kepercayaan untuk membantu perkembangan seseorang murid dengan sepenuhnya dari segi jasmani, rohani, mental dan emosi serta untuk menanam dan mempertingkatkan nilai moral yang diingini dan untuk menyampaikan pengetahuan”
Akta Pendidikan 1996
[Peraturan-peraturan (Kurikulum Kebangsaan) Pendidikan 1997]
2. www.ktsp.diknas.go.id/download/ktsp_smk/01.ppt
Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
Depertemen pendidikan nasional
(UNDANG–UNDANG NO. 20 TH.2003 Tentang SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL)
3.www.kopertis4.or.id
Kurikulum pendidikan tinggi adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi maupun bahan kajian dan pelajaran serta cara penyampaian dan penilaiannya yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar-mengajar di
perguruan tinggi.
(Pasal 1 Butir 6 Kepmendiknas No.232/U/2000 tentang Pedoman PenyusunanKurikulum Pendidikan Tinggi dan Penilaian Hasil Belajar Mahasiswa)
4.www.ciast.gov.my/backup/malay
Curriculum as, 'All the learning which is planned andguided by the school, whether it is carried on ingroups or individually, inside or outside the school.
ways of approaching curriculum theory and practice:
1. Curriculum as a body of knowledge to be transmitted.
2. Curriculum as an attempt to achieve certain ends in students - product.
3. Curriculum as process.
(quoted in Kelly 1983: 10; see also, Kelly 1999)
5.www.mail-archive.com/ppi@freelists.org/msg29777.html
Kurikulum yakni bahwa konsep kurikulum dapat diklasifikasikan ke dalam empat jenis pengertian yang meliputi: (1) kurikulum sebagai produk; (2) kurikulum sebagai program; (3) kurikulum sebagai hasil yang diinginkan: dan (4) kurikulum sebagai pengalaman belajar bagi peserta didik.
(Beane dkk 1986)
6.www.karyanet.com.my/knet/ebook
‘Kurikulum’ dalam bahasa Latin mempunyai kata akar ‘curere’. Kata ini bermaksud ‘laluan’ atau ‘jejak’. Secara yang lebih luas pula maksudnya ialah ‘jurusan’ seperti dalam rangkai kata jurusan peperangan’. Perkataan’kurikulum’ dalam bahasa Inggris mengandungi pengertian ‘jelmaan’ atau ‘metamorfosis’. Paduan makna kedua-dua bahasa ini menghasilkan makna bahawa perkataan kurikuluin’ ialah ‘laluan dan satu peringkat ke satu peningkat’. Perluasan makna ini memberikan pengertian ‘kurikulum’ dalam perbendaharaan kata pendidikan bahasa Inggeris sebagai jurusan pengajian yang diikuti di sekolah.
(Kliebard, 1982)
7.www.kopertis4.or.id
Kurikulum adalah suatu perencanaan untuk mendapatkan keluaran (out7 comes) yang diharapkan dari suatu pembelajaran.Perencanaan tersebut disusun secara terstrukturuntuk suatu bidang studi, sehingga memberikan pedoman dan instruksi untuk mengembangkan strategi pembelajaran (Materi di dalam kurikulum harus diorganisasikan dengan baik agar sasaran (goals) dan tujuan (objectives) pendidikan yang telah ditetapkan dapat tercapai.
(Grayson 197)
8.www.kopertis4.or.id
Kurikulum merupakan gagasan pendidikan yang diekpresikan dalam praktik. Dalam bahasa latin, kurikulum berarti track atau jalur pacu. Saat ini definisi kurikulum semakin berkembang, sehingga yang dimaksud kurikulum tidak hanya gagasan pendidikan tetapi juga termasuk seluruh program pembelajaran yang terencana dari suatu institusi pendidikan.
(Harsono 2005)
9.www.hotnickname.blogspot.com
Seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pembelajaran serta metode yang digunakan sebagai pedoman menyelenggarakan kegiatan pembelajaran
(Keputusan Menteri Kesehatan Nomor: 725/Menkes/SK/V/2003
tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelatihan di bidang Kesehatan)
10.www.bsn.or.id/SNI
Kurikulum adalah serangkaian mata ajar dan pengalaman belajar yang mempunyai tujuan tertentu, yang diajarkan dengan cara tertentu dan kemudian dilakukan evaluasi
(Badan Standardisasi Nasional SNI 19-7057-2004 tentang
Kurikulum pelatihan hiperkes dan keselamatankerja bagi dokter perusahaan)
11.www.metos2004.250free.com/curriculum/kurikulum.htm
kurikulum dapat diartikan sebagai pengajian di sekolah dengan mengambil kira kandungan dari masa lampau hingga masa kini. Pembentukan kurikulum menekankan kepetingn dan keperluan masyarakat.
(John Dewey 1902;5
dalam bukunya ‘The Child and The Curriculum’)
12.www.destalyana.blogspot.com
Kurikulum dapat diartikan keseluruhan pengalaman, yang tak terarah dan terarah, terumpu kepada perkembangan kebolehan individu atau satu siri latihan pengalaman langsung secara sedar digunakan oleh sekolah untuk melengkap dan menyempurnakan pendedahannya. Konsep beliau menekankan kepada pemupukan perkembangan individu melalui segala pengalaman termasuk pengalaman yang dirancangkan oleh sekolah.
(Frank Bobbit 1918,
dalam buku ‘The Curriculum’)
13.www.depdiknas.go.id/jurnal
Kurikulum sebagai a plan for learning, yakni sesuatu yang direncanakan untuk dipelajari oleh siswa. Sementara itu, pandangan lain mengatakan bahwa kurikulum sebagai dokumen tertulis yang memuat rencana untuk peserta didik selama di sekolah
(Hilda Taba ;1962
dalam bukunya "Curriculum Development Theory and Practice)
14.www.depdiknas.go.id/jurnal/35
Menurut Hasan Kurikulum bersifat fleksibilitas mengandung dua posisi. Pada posisi pertama berhubungan dengan fleksibilitas sebagai suatu pemikiran kependidikan bagi diklat. Dengan demikian, pada posisi teoritik yang harus dikembangkan dalam kurikulum sebagai rencana. Pengertian kedua yaitu sebagai kaidah pengembang kurikulum. Terdapatnya posisi pengembang ini karena adanya perubahan pada pemikiran kependidikan atau pelatihan.
S. H. Hasan (1992)
http://destalyana.blogspot.com/2007/09/beberapa-pengertian-kurikulum.html

Prinsip Pengembangan Kurikulum
Diterbitkan Januari 31, 2008 kurikulum dan pembelajaran , pendidikan
Tags: artikel, berita, KTSP, opini, umum
Oleh : Akhmad Sudrajat, M.Pd.
Pengembangan kurikulum adalah istilah yang komprehensif, didalamnya mencakup: perencanaan, penerapan dan evaluasi. Perencanaan kurikulum adalah langkah awal membangun kurikulum ketika pekerja kurikulum membuat keputusan dan mengambil tindakan untuk menghasilkan perencanaan yang akan digunakan oleh guru dan peserta didik. Penerapan Kurikulum atau biasa disebut juga implementasi kurikulum berusaha mentransfer perencanaan kurikulum ke dalam tindakan operasional. Evaluasi kurikulum merupakan tahap akhir dari pengembangan kurikulum untuk menentukan seberapa besar hasil-hasil pembelajaran, tingkat ketercapaian program-program yang telah direncanakan, dan hasil-hasil kurikulum itu sendiri. Dalam pengembangan kurikulum, tidak hanya melibatkan orang yang terkait langsung dengan dunia pendidikan saja, namun di dalamnya melibatkan banyak orang, seperti : politikus, pengusaha, orang tua peserta didik, serta unsur – unsur masyarakat lainnya yang merasa berkepentingan dengan pendidikan.
Prinsip-prinsip yang akan digunakan dalam kegiatan pengembangan kurikulum pada dasarnya merupakan kaidah-kaidah atau hukum yang akan menjiwai suatu kurikulum. Dalam pengembangan kurikulum, dapat menggunakan prinsip-prinsip yang telah berkembang dalam kehidupan sehari-hari atau justru menciptakan sendiri prinsip-prinsip baru. Oleh karena itu, dalam implementasi kurikulum di suatu lembaga pendidikan sangat mungkin terjadi penggunaan prinsip-prinsip yang berbeda dengan kurikulum yang digunakan di lembaga pendidikan lainnya, sehingga akan ditemukan banyak sekali prinsip-prinsip yang digunakan dalam suatu pengembangan kurikulum. Dalam hal ini, Nana Syaodih Sukmadinata (1997) mengetengahkan prinsip-prinsip pengembangan kurikulum yang dibagi ke dalam dua kelompok : (1) prinsip - prinsip umum : relevansi, fleksibilitas, kontinuitas, praktis, dan efektivitas; (2) prinsip-prinsip khusus : prinsip berkenaan dengan tujuan pendidikan, prinsip berkenaan dengan pemilihan isi pendidikan, prinsip berkenaan dengan pemilihan proses belajar mengajar, prinsip berkenaan dengan pemilihan media dan alat pelajaran, dan prinsip berkenaan dengan pemilihan kegiatan penilaian. Sedangkan Asep Herry Hernawan dkk (2002) mengemukakan lima prinsip dalam pengembangan kurikulum, yaitu :
1.Prinsip relevansi; secara internal bahwa kurikulum memiliki relevansi di antara komponen-komponen kurikulum (tujuan, bahan, strategi, organisasi dan evaluasi). Sedangkan secara eksternal bahwa komponen-komponen tersebutmemiliki relevansi dengan tuntutan ilmu pengetahuan dan teknologi (relevansi epistomologis), tuntutan dan potensi peserta didik (relevansi psikologis) serta tuntutan dan kebutuhan perkembangan masyarakat (relevansi sosilogis).
2.Prinsip fleksibilitas; dalam pengembangan kurikulum mengusahakan agar yang dihasilkan memiliki sifat luwes, lentur dan fleksibel dalam pelaksanaannya, memungkinkan terjadinya penyesuaian-penyesuaian berdasarkan situasi dan kondisi tempat dan waktu yang selalu berkembang, serta kemampuan dan latar bekang peserta didik.
3.Prinsip kontinuitas; yakni adanya kesinambungandalam kurikulum, baik secara vertikal, maupun secara horizontal. Pengalaman-pengalaman belajar yang disediakan kurikulum harus memperhatikan kesinambungan, baik yang di dalam tingkat kelas, antar jenjang pendidikan, maupun antara jenjang pendidikan dengan jenis pekerjaan.
4.Prinsip efisiensi; yakni mengusahakan agar dalam pengembangan kurikulum dapat mendayagunakan waktu, biaya, dan sumber-sumber lain yang ada secara optimal, cermat dan tepat sehingga hasilnya memadai.
5.Prinsip efektivitas; yakni mengusahakan agar kegiatan pengembangan kurikulum mencapai tujuan tanpa kegiatan yang mubazir, baik secara kualitas maupun kuantitas.
Terkait dengan pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, terdapat sejumlah prinsip-prinsip yang harus dipenuhi, yaitu :
1.Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya. Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik memiliki posisi sentral untuk mengembangkan kompetensinya agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mendukung pencapaian tujuan tersebut pengembangan kompetensi peserta didik disesuaikan dengan potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik serta tuntutan lingkungan.
2.Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan keragaman karakteristik peserta didik, kondisi daerah, dan jenjang serta jenis pendidikan, tanpa membedakan agama, suku, budaya dan adat istiadat, serta status sosial ekonomi dan gender. Kurikulum meliputi substansi komponen muatan wajib kurikulum, muatan lokal, dan pengembangan diri secara terpadu, serta disusun dalam keterkaitan dan kesinambungan yang bermakna dan tepat antarsubstansi.
3.Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Kurikulum dikembangkan atas dasar kesadaran bahwa ilmu pengetahuan, teknologi dan seni berkembang secara dinamis, dan oleh karena itu semangat dan isi kurikulum mendorong peserta didik untuk mengikuti dan memanfaatkan secara tepat perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
4.Relevan dengan kebutuhan kehidupan. Pengembangan kurikulum dilakukan dengan melibatkan pemangku kepentingan (stakeholders) untuk menjamin relevansi pendidikan dengan kebutuhan kehidupan, termasuk di dalamnya kehidupan kemasyarakatan, dunia usaha dan dunia kerja. Oleh karena itu, pengembangan keterampilan pribadi, keterampilan berpikir, keterampilan sosial, keterampilan akademik, dan keterampilan vokasional merupakan keniscayaan.
5.Menyeluruh dan berkesinambungan. Substansi kurikulum mencakup keseluruhan dimensi kompetensi, bidang kajian keilmuan dan mata pelajaran yang direncanakan dan disajikan secara berkesinambungan antarsemua jenjang pendidikan.
6.Belajar sepanjang hayat. Kurikulum diarahkan kepada proses pengembangan, pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. Kurikulum mencerminkan keterkaitan antara unsur-unsur pendidikan formal, nonformal dan informal, dengan memperhatikan kondisi dan tuntutan lingkungan yang selalu berkembang serta arah pengembangan manusia seutuhnya.
7.Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah. Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan kepentingan nasional dan kepentingan daerah untuk membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kepentingan nasional dan kepentingan daerah harus saling mengisi dan memberdayakan sejalan dengan motto Bhineka Tunggal Ika dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Pemenuhan prinsip-prinsip di atas itulah yang membedakan antara penerapan satu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dengan kurikulum sebelumnya, yang justru tampaknya sering kali terabaikan. Karena prinsip-prinsip itu boleh dikatakan sebagai ruh atau jiwanya kurikulum
Dalam mensikapi suatu perubahan kurikulum, banyak orang lebih terfokus hanya pada pemenuhan struktur kurikulum sebagai jasad dari kurikulum . Padahal jauh lebih penting adalah perubahan kutural (perilaku) guna memenuhi prinsip-prinsip khusus yang terkandung dalam pengembangan kurikulum.
http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/31/prinsip-pengembangan-kurikulum/

PENTINGNYA INOVASI DAN PENGEMBANGAN KURIKULUM
DALAM PENDIDIKAN TEOLOGI[1]
(Oleh: B.S.Sidjabat, Th.M., Ed.D)
I- Pengantar
Kalau kita berbicara mengenai inovasi dan pengembangan kurikulum, pertanyaan pertama ialah mengapa harus memikirkan dan melakukannya? Apa alasannya? Jawaban saya ialah kita melakukan pengembangan kurikulum karena sifat kurikulum yang dinamis, selalu berubah, menyesuaikan diri dengan kebutuhan mereka yang belajar. Audrey & S.Howard Nicholls (1982)[2] mengemukakan bahwa karena masyarakat dan mereka yang belajar mengalami perubahan maka langkah awal dalam perumusan kurikulum ialah penyelidikan mengenai situasi (situation analysis) yang kita hadapi, termasuk situasi lingkungan belajar dalam artian menyeluruh, situasi peserta didik, dan para calon pengajar yang diharapkan melaksanakan kegiatan (h.21-30).
Para ahli kurikulum umumnya berpendapat bahwa kurikulum hanyalah alat atau instrumen untuk mencapai tujuan pendidikan dan pembelajaran yang ditetapkan. Kurikulum bukan sebagai tujuan akhir. Dalam sebuah pendidikan teologi, dapat dikatakan bahwa pengajar dan mereka yang belajar berinteraksi di sekitar kurikulum yang dirumuskan untuk mencapai tujuan. Seiring dengan perubahan masyarakat dan nilai-nilai budaya, serta perubahan kondisi dan perkembangan peserta didik, maka kurikulum juga mengalami perubahan. Perubahan yang terjadi dipengaruhi oleh azas, falsafah dan tujuan pendidikan teologi yang kita anut. Mengutip pandang Ralph Tyler (1949), almarhum Prof. S. Nasution mengetengahkan empat faktor, landasan ataupun azas utama yang selalu mengambil peran dalam pengembangan kurikulum, yakni: pertama, azas filosofis, termasuk filsafat bangsa, masyarakat dan sekolah serta guru-guru; kedua, azas sosiologis, menyangkut harapan dan kebutuhan masyarakat (orangtua, kebudayaan, masyarakat, pemerintah, ekonomi); ketiga, azas psikologis yang terkait dengan taraf perkembangan fisik, mental, emosional dan spiritual anak didik; keempat, azas epistemologis, berkaitan dengan konsep kita mengenai hakekat ilmu pengetahuan[3].
Sebenarnya pendidikan tinggi agama Kristen atau pendidikan teologi di Indonesia sudah mempunyai semacam kebijakan mengenai perumusan pedoman kurikulum[4] bertolak dari SK Menag RI Nomor 534 Tahun 2001[5]. Dikemukakan bahwa untuk program sarjana teologi (S-1) perguruan tinggi teologi dapat memasukkan 80 SKS muatan lokalnya guna memperkaya 80 SKS mata kuliah wajib. Untuk program pascasarjana, institusi pendidikan teologi dapat menambahkan sekitar 30-36 SKS muatan lokal yang menjadi ciri khasnya, kepada 20 SKS kuliah-kuliah wajib atau kurikulum inti. Seiring dengan perubahan kebijakan pendidikan tinggi di tanah air, yang menekankan desentralisasi dan memfokuskan pembelajaran kepada pembentukan kompetensi mahasiswa dengan cara atau pendekatan belajar aktif, peraturan itu pun menekankan bahwa kurikulum pendidikan tinggi teologi juga diharapkan mengikuti sistem kurikulum berbasis kompetensi (KBK)[6]. Dalam sistem KBK, peranan guru atau dosen yang utama adalah sebagai fasilitator dan pengelola pembelajaran dengan memanfaatkan berbagai media dan sumber belajar di kelas dan di luar kelas dalam rangka membentuk dan mengembangkan berbagai kompetensi, yang mencakup: pengetahuan, pemahaman, sikap hidup, keterampilan dan nilai-nilai. Mahasiswa belajar dari dan bersama dosen tidak lagi hanya untuk menguasai materi pengajaran lalu mengingatnya kembali pada waktu ujian di tengah dan akhir semester.
Dr. Judo Poerwowidagdo (1994)[7] pernah mengingatkan institusi pendidikan teologi di masa lalu, bahwa dinamika globalisasi mengharuskan pendidikan teologi di Indonesia untuk senantiasa memikirkan pembaruan dalam banyak aspek selain kurikulum. Beliau antara lain menegaskan bahwa pendidikan teologi perlu memikirkan paradigma baru di dalam berkarya, antara lain: a) pendidikan harus diarahkan kepada pemimpin-pemampu dalam pelayanan kristiani, tahbisan maupun tanpa tahbisa; b) harus melibatkan peserta didik pria maupun wanita; c) harus mempunyau kurikulum yang fleksibel, banyak mengembangkan sistem modul; d) menekankan pendidikan berbasis kampus, jemaat dan masyarakat setempat; e) proses belajar lebih banyak terjadi dalam kelompok; f) memandang bahwa keunggulan akademis tidak hanya diukur dari penguasaan isi teologi tetapi juga dari kemampuan berteologi secara dinamis; f) pendekatan dalam belajar lebih ke arah pembentukan keterampilan; g) menyediakan banyak kuliah pilihan; h) mengembangkan kerjsama antar denominasi; i) berorientasi Alkitab-kontekstual; dan j) melengkapi mahasiswa supaya mampu melakukan analisis sosio-antropologis bukan hanya analisis Alkitab secara tekstual-kritis.
Empat tahun sebelumnya, Robert W. Ferris (1990)[8], seorang ahli pendidikan teologi dari Columbia International University, Amerika, berdasarkan hasil riset terhadap sejumlah pendidikan teologi Injili di berbagai belahan dunia, mengemukakan adanya duabelas tema yang sangat dibutuhkan dalam upaya pembaruan pendidikan teologi itu sendiri. Artinya, kalau pendidikan teologi hendak mengembangkan kualiatsnya, maka ada sejumlah aspek mendasar yang harus dijadikan pedoman, yakni: 1) kepekaan terhadap nilai budaya lokal (cultural appropirateness); 2) kepedulian terhadap pergumulan dan kebutuhan jemaat (attentiveness to the church); 3) merumuskan strategi yang fleksibel, peka terhadap kebutuhan setempat (flexible strategizing); 4) berdasar pada teologi Alkitabiah seperti penciptaan, penebusan, gereja, pelayanan (theological gorunding); 5) menilai keberhasilan dari hasil belajar peserta didik (outcomes assessment); 6) menekankan pembentukan dan pertumbuhan iman (spiritual formation); 7) mengembangkan kurikulum yang holistik mencakup sisi akademis, praktis, dan pelatihan spiritualitas (holitic curricularizing); 8) melengkapi peserta didik untuk melayani (service orientation); 9) mengembangkan kreativitas dosen dalam mengajar, memilih metode yang tepat (creativity in teaching); 10) membentuk wawasan berpikir kristiani atas kehidupan (christian worldview); 11) mempertimbangkan dimensi perkembangan peserta didik (developmental focus); dan 12) memfasilitasi terbentuknya kerjasama (a cooperative spirit) (h. 34-35).
Melalui penjelasan di atas dapat dikemukakan bahwa demi pelayanan pendidikan tinggi agama Kristen/teologi yang lebih efektif di masa depan, maka inovasi dan pengembangan kurikulum selalu diperlukan. Istilah inovasi (Latin: in + novare -“make new”) mengandung arti tindakan menciptakan sesuatu yang baru yang membawa perubahan dengan menghasilkan gagasan dan pendekatan atau metode baru. Untuk menghasilkan sesuatu yang baru, yang diaharapkan lebih berdaya guna, tentu saja kita harus bertolak dari apa yang ada. Sulit sekali memulai dan meningkatkan sesuatu dari sesuatu yang belum ada (ex nihilo). Inilah juga yang dimaksud dengan pengembangan. Karena itulah inovasi dan pengembangan selalu terkait erat. Dalam kesempatan singkat ini saya akan mengemukakan prinsip-prinsip umum dan khusus bagaimana mengembangkan kurikulum dalam lingkup pendidikan tinggi teologi.
II - Prinsip kerja
Jika pengembangan kurikulum pendidikan teologi penting untuk dikerjakan, maka pertanyaan sekarang ialah: Bagaimanakah prinsip kerja kita dalam mengembangkan kurikulum itu? Meminjam pemikiran Nana Syaodih Sukmadinata[9], ada dua prinsip yang dikemukakan di sini. Pertama, prinsip umum. Kedua, prinsip khusus. Yang dimaksud dengan prinsip umum ini ialah:
1 - Prinsip relevansi. Kurikulum yang kita rancang dan kembangkan harus relevan dengan kebutuhan peserta didik untuk menjawab kebutuhan gereja guna mewujudukan rencana Allah dalam dunia ini. Kita tahu bahwa Allah memanggil gereja dalam dunia untuk mempermuliakan nama-Nya (bd Ef 3:10); dengan memberitakan Injil kepada segala mahluk, dan menjadikan orang dari segala suku bangsa menjadi murid Kristus Yesus (bd Mat 28:19-20).
2 - Prinsip fleksibilitas. Kurikulum yang kita rancang dan kembangkan perlu bersifat adaptif, mampu menyesuaikan diri dengan konteks pembelajaran. Pertimbangan konteks di sini mencakup aspek ruang dan waktu, sosial, budaya dan dinamika keagamaan.
3 - Prinsip kontinuitas. Kurikulum yang kita rancang dan kembangkan harus memungkinkan peserta didik lebih sanggup mengembangkan potensinya kelak dalam rencana belajar berikutnya (prinsip belajar sepanjang hayat).
4 - Prinsip praktis. Kurikulum sebaiknya mudah digunakan dengan alat sederhana dan biaya relatif murah, terutama dalam situasi ekonmi dewasa ini. Selain itu, apa yang dipelajari mahasiswa seharusnya mampu membentuk dan meningkatkan kompetensi mereka di dalam kehidupan sehari-hari, untuk menunaikan tugas dan pelayanan gereja.
5 - Prinsip efektivitas. Prinsip ini mengacu kepada masalah keberhasilan kurikulum itu sendiri. Mahasiswa diharapkan banyak belajar dari kurikulum yang berlaku untuk memperlengkapi hidupnya. Efektivitas sebuah kurikulum harus dilihat dari sejauhmana perubahan hidup dialami oleh peserta didik, sebagaimana nampak dalam kehidupan dan karya pelayanannya.
Kedua, prinsip khusus, yang terkait dengan sejumlah komponen dari kurikulum itu sendiri. Jika kita berbicara mengenai kurikulum maka sedikitnya terdapat sejumlah unsur di dalamnya yakni tujuan, isi atau bahan pengajaran, metode pembelajaran, media dan alat pembelajara serta kegiatan evaluasi pembelajaran. Jadi, kurikulum bukan hanya daftar mata kuliah atau pokok-pokok pengajaran. Lebih dari itu. Bagaimanakah kita mengembangkan masing-masing komponen itu, inilah juga pekerjaan pengembangan kurikulum. Berikut adalah keterangan ringkas dari tugas-tugas itu:
1 - Tujuan pendidikan dan pembelajaran.
Dalam mengembangkan tujuan pendidikan dan pembelajaran, ada sejumlah pertanyaan yang dapat kita jadikan acuan yakni: Apa sajakah yang menjadi sumber dalam perumusan tujuan pendidikan teologi kita? Ketentuan dan kebijakan pemerintah atau pendidikan nasional atau Dept. Agama RI-kah yang menjadi sumber dan pedoman tujuan? Apakah kita juga mempertimbangkan persepsi dan harapan gereja atau yayasan-yayasan pendiri atau pendukung yang akan memakai para lulusan? Apakah kita melibatkan para ahli teologi - biblika, historika, sistematika, praktika - di dalam perumusan tujuan tiap-tiap bidang studi, jurusan dan mata kuliah? Apakah tidak sebaiknya kita mempertimbangkan kebutuhan dan tingkat pemahaman dan pengalaman mereka yang belajar yang dari genarasi ke generasi berubah? Apakah tidak perlu kita mempelajari tujuan pendidikan dari organisasi pendidikan teologi di Indonesia dan di Asia[10] dan atau di neraga lain(Afrika, Amerika Latin)?
Patut dicatat bahwa lazimnya rumusan tujuan pendidikan dan pembelajaran dalam sebuah program studi pada institusi pendidikan teologi, lahir dan berkembang dari visi dan misi yang dimilikinya. Jadi, agar tujuan pendidikan dan pembelajaran jelas, maka sebagai guru atau dosen, kita harus menetapkan dan memahami visi dan misi yang ada. Rumusan tujuan harus diungkapkan dengan kata kerja yang tepat dan jelas, yang akan menggambarkan perilaku peserta didik setelah mengikuti aktivitas pembelajaran. Rumusan tujuan seharusnya tidak dikemukakan dari perspektif lembaga dan program studi ataupun dari pengajarnya.
2 - Isi (materi) pengajaran.
Umumnya kita harus merumuskan bahan pengajaran berdasarkan tujuan yang telah ditetapkan. Bahan pengajaran atau isi perkuliahan yang akan kita diskusikan bersama peserta didik seharusnya tidak boleh menyimpang dari tujuan. Perkara lain yang juga ikut menjadi pertimbangan kita ialah: aspek apa saja yang harus terkandung dalam bahan itu? Apakah aspek pengetahuan yang lebih utama dalam bahan pengajaran itu dibandingkan dengan spiritualitas dan karakter? Yang mana?[11] Dalam sistem Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dewasa ini, sangat ditekankan bahwa yang dipelajari oleh mahasiswa dalam kegiatan studinya mencakup aspek pengetahuan, sikap hidup, keterampilan dan nilai-nilai hidup pribadi dan sosial[12].
Ketika kita merumuskan dan mengembangkan isi ataupun bahan pengajaran, maka yang juga perlu kita pertimbangkan ialah masalah organisasi kurikulum. Bagaimana susunannya?[13] Ada lima unsur yang menjadi bahan pertimbangan dalam mengorganisasikan sebuah kurikulum.
A - Skopa atau ruang lingkup? Meliputi apa sajakah bidang studi itu atau mata kuliah itu? Sebuah program studi atau jurusan, apakah sajakah yang dipelajari? Sebuah mata kuliah, apa sajakah muatannya? Bagaimana keluasannya atau kedalamannya? Kalau sebuah mata kuliah skopa bahasannya terlalu luas barangkali perlu dibagi menjadi dua jenis mata kuliah yang berkesinambungan.
B - Urutan dari mata kuliah yang disajikan, “sesudah ini kemudian itu“? Perumusan urutan ini biasanya dipengaruhi oleh kematangan peserta didik, latar belakang pengetahuan dan pemahaman mereka; tingkat pemikiran; minat; kegunaan bahan itu; dan tingkat familiaritas dan kesulitan bahan. Biasanya kita harus mermuskan bahan pengajaran menurut prinsip urutan dari yang mudah kepada yang sulit; dari yang sederhana kepada yang kompleks; dari yang keseluruhan kepada bagian-bagiannya; dari yang diketahui kepada yang belum diketahui; dari masa lalu ke masa kini atau sebaliknya; dari yang konkret kepada yang abstrak atau sebaliknya.
C - Prinsip kontinuitas. Semua yang dipelajari peserta didik dalam sebuah program studi sebaiknya saling terkait. Yang dipelajari pada tahun pertama, berkesinambungan dengan yang dipelajari di tahun kedua, tahun ketiga sampai selanjutnya. Misalnya, mata kuliah Bahasa Ibrani, Bahasa Yunani, atau Pengetahuan Perjanjian Baru atau Teologi Sistematik misalnya, harus dipejarai oleh mahasiswa berapa semester berturut-turut? Prinsip ini juga bermakna bahwa apa yang dipelajari mahasiswa pada program S-1 haruslah menjadi dasar bagi studinya di tingkat pascasarjana (S-2). Jika mahasiswa menempuh program doktoral lazimnya mereka harus memiliki landasan-landasan pengetahuan, pemahaman dan keterampilan studi yang memadai di tingkat sebelumnya. Jika tidak, hal itu dapat menimbulkan kesulitan dalam menyelenggarakan riset dan penulisan disertasi.
D- Prinsip integrasi. Sebaiknya apa yang dipelajari dalam sebuah program studi haruslah membuka kemungkinan kepada beberapa sifat, yakni: multidisipliner, atau intra-disipliner atau interdisipliner. Dengan prinsip interdisipliner, artinya sejumlah matakuliah dari berbagai disiplin teologi disajikan agar saling terkait. Intra-disipliner, artinya mata-mata kuliah yang tergolong kepada sebuah disiplin ilmu seperti Biblika atau Teologi Sistematik, saling terkait dan menunjang. Dalam studi Biblika misalnya, ilmu bahasa Alkitab, arkheologi, hermeneutik dan eksegesa saling terkait. Multidisipliner, artinya mata kuliah non teologi disajikan sedemikian rupa sehingga terkait dan menunjang mata kuliah teologi, seperti dalam studi pastoral-konseling, penggembalaan, penginjilan dan pendidikan Kristen.
E- Memperhatikan prinsip keseimbangan[14]. Bahan kuliah yang bersifat teoritis ataupun konseptual sepatutnya disajikan seimbang dengan mata kuliah praktis dalam suatu waktu kegiatan belajar (satu semester); bahan ketrampilan disajikan seimbang dengan bahan-bahan pembentukan spiritualitas dan pembangunan keberadaan diri serta pembentukan akhlak. Mata kuliah Biblika harusnya seimbang dengan sistematika dan etika serta praktika; jangan berat sebelah. Dalam kenyataan, adakalanya sebuah kurikulum pendidikan teologi tingkat sarjana yang seharusnya merupakan peletakan dasar, lebih didominasi oleh teologi sistematik karena pimpinan pendidikan teologi atau perancang kurikulumnya itu didominasi ahli bidang studi itu. Bagaimanakah kelak lulusan itu jika akan menunaikan tugas pelayanan di dalam atau melalui gereja?
F- Mempertimbangkan distribusi waktu. Kapankah seharusnya mata kuliah Bahasa Ibrani atau Bahasa Yunani dipelajari oleh mahasiswa program sarjana? Apakah sebelum mempunyai pemahaman isi Alkitab atau sesudahnya? Berapa lamakah semua bahan dipelajari?. Berapa bobot tiap mata kuliah? Apakah sebuah mata kuliah harus lebih berat bobotnya dibandingkan dengan yang lain dan apakah alasannya? Apakah sebuah mata kuliah harus dipelajari dua tahun berturut-turut padahal dapat dilakukan dalam satu semester? Apakah penulisan skripsi atau tesis harus berlangsung tiga tahun lebih padahal bobotnya hanyalah 6 SKS? Apakah sebuah mata kuliah berbobot 3 SKS cukup dipelajari hanya dalam waktu 30 jam tatap muka tanpa ada tugas-tugas mandiri selanjutnya? Banyak lagi yang perlu kita pertimbangkan dalam soal ini.
3- Metode pembelajaran[15].
Ada sejumlah pertanyaan yang patut kita ajukan dalam mengembangkan metode pembelajaran ini, yaitu:
a) Kecocokan metode, sehingga jangan asal memilihnya. Dengan metode apakah sebuah mata kuliah diajarkan? Mengapa demikian? Perlukah studi kasus disamping diskusi kelompok dan ceramah?
b) Variasi metode, sehingga mahasiswa yang belajar menjadi lebih kreatif. Metode yang dipilih juga harus mampu meningkatkan kualitas belajar bermakna (meaningful learning).
c) Apakah metode pembelajaran yang dipilih dan digunakan dapat membentuk kompetensi? Apakah sebuah metode pembelajaran mengaktifkan siswa atau mahasiswa dalam belajar mandiri? Kalau kita membina dan melatih orang dewasa, sebaiknya juga kita memberi tekanan kepada potensi mereka sebagai sumber belajar yaitu pengalaman mereka (prinsip andragogis).
d) Apakah metode yang dipilih sesuai dengan metode yang dipilih dengan tingkat program? Maksudnya, kalau dosen mengelola pembelajaran pada jenjang pendidikan tinggi[16], selain memberi perhatian kepada pembentukan pengetahuan dan pemahaman serta karakter, seharusnya tekanannya juga kepada pembentukan ketrampilan studi (learning how to learn) dan riset (research skills). Apalagi di tingkat pascasarjana, metode pembelajaran harus lebih bertujuan memampukan mahasiswa mampu berpikir mandiri dan melakukan analisis, evaluasi dan sintesis. Tidaklah tepat bila ia hanya mampu menghafalkan bahan ceramah dosennya untuk diingat kembali pada waktu ujian.
e) Apakah metode yang kita pilih menimbulkan masalah finansial karena harus memberi alat-alat yang mahal? Dalam banyak pendidikan teologi di Indonesia, memberikan ceramah dengan menggunakan OHP pun sering tidak terjangkau karena keadaan finansial dan ekonomi. Apalagi jika dosen diharuskan mempergunakan LCD.
4 - Pemilihan media dan alat pengajaran[17].
Apakah media dan alat pengajaran telah tersedia? Apakah mudah disediakan? Apakah tersedia perpustakaan memadai sebagai media dan sumber pembelajaran? Apakah guru atau dosen menyusun sebuah modul, diktat atau handout? Apakah guru atau dosen membuat sejumlah bahan bacaan (dikompilasikan)? Bahan bacaan utama dan bahan rujuakn untuk penelitian apakah diusulkan oleh dosen? Patut kita catatat dalam kesempatan ini bahwa yang termasuk pada media pembelajaran antara lain ialah: interakasi antar pribadi; objek fisik, lokasi dan peristiwa nyata yang dapat dilihat, disentuh (visual-kinestesik); gambar-gambar; simbol tertulis termasuk literatur (visual); rekaman suara (audio); komputer (audio-visual). Alat-alat dalam pembelajaran termasuk: buku-bahan bacaan, bagan, projektor slide, OHP, poster, guru atau dosen itu sendiri, video, ceramah-kuliah, demonstrasi, permainan, dll.
5 - Rencana dan kegiatan penilaian.
Penilaian merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kurikulum dan pembelajaran. Penilaian berguna untuk mengetahui banyak aspek yakni: sejauhmana tujuan tercapai; sejauhmana bahan pengajaran relevan; sejauhmana metode yang digunakan efektif; sejauh mana sarana, media dan alat pembelajaran menunjang; dan sejauh mana faktor kualitas pengajar berkualitas. Sebaiknya ketika kita mengadakan penilaian di pertengahan dan akhir semester semua unsur itu terlihat, dan peserta didik memberikan masukan-masukan supaya kita dapat mengembangkan kegiatan pembelajaran berikutnya lebih efektif dan efisien. Bagaimanakah cara memberikan nilai akhir bagi mahasiswa?
III - Pengembang kurikulum
Siapakah yang harus mengembangkan kurikulum?[18] Ada berbagai kemungkinan unsur yang terlibat dalam pengembangan kurikulum. Pertama, administrator pendidikan, seperti pengambil kebijakan dalam pendidikan teologi. Pimpinan perguruan tinggi teologi dan juga mereka dari anggota yayasan dan utusan gereja termasuk di dalamnya. Kedua, para ahli pendidikan, ahli teologi ahli pelayanan gereja dan para gembala jemaat, penginjil di lapangan bahkan para alumni pendidikan tinggi teologi itu sendiri. Ketiga, para guru dan dosen di lembaga pendidikan teologi. Mereka dapat memberikan masukan kepada perancang dan pengembang kurikulum tentang efektifitas dan relevansi dari mata kuliah yang diasuhnya selama ini, apakah harus ditambah, dikurangi atau dihapuskan saja atau diganti.
IV - Dimanakah tugas guru atau dosen?
Terkait dengan pendidikan teologi menurut hemat saya, peran bidang pengembangan kurikulum dan para dosen sangat penting dalam pengembangan kurikulum, khususnya terkait dengan pedoman pembelajaran (pedoman instruksional)[19]. Menurut Nasution (1989), pedoman instruksional biasanya dirumuskan berdasarkan silabus yang ada. Silabus lazimnya dimaksud berisikan mata pelajaran secara lebih rinci mencakup ruanglingkup (skopa) dan urutannya (sequensnya).
Dalam penyusunan pedoman instruksional berdasarkan prinsip Kurikulum Berbasis Kompetensi[20] dewasa ini, ada sejumlah saran umum yang dapat saya kemukakan kepada para guru ataupun dosen, yakni:
1 - Tentukanlah kompetensi dasar yang dapat diwujudkan mahasiswa. Sebelum tahun 2004, khusunya dengan kurikulum tahun 1993/1994, istilah kompetensi dasar ini ialah tujuan instruksional umum pembelajaran. Rumusan ini biasanya dikemukakan dengan menggunakan kata kerja umum, yang masih menimbulkan banyak penafsiran atau belum dapat diukur dari sudut perbuatan, seperti: memahami, menyikapi, mengerti, mengetahui.
2 - Tentukanlah hasil belajar dan indikator[21]. Hasil belajar ialah kompetensi yang diharapkan dicapai mahasiswa berupa pengetahuan, pemahaman, sikap, ketrampilan, nilai-nilai hidup. Indikator ialah semacam petunjuk tentang sejauh mana hasil belajar itu diwujudkan. Biasanya, hasil belajar ini diungkapkan dengan kata kerja yang spesifik menunjukkan perubahan pengetahuan, sikap dan perilaku. Istilah kata kerja itu antara lain: menuliskan, menyebutkan, mengucapkan, membedakan, memperbandingkan, mengelompokkan, mengkategorikan, menyatakan respon.
3 - Tentukanlah pokok-pokok bahasan yang akan dipelajari. Urutan bahan yang dipelajari seharusnya memperlihatkan scope dan urutan dari yang mudah kepada yang kompleks. Pokok-pokok ini harus sesuai pula dengan rumusan hasil belajar dan indikator.
4 - Kemukakan kegiatan belajar yang dilakukan mahasiswa. Dalam hal ini dosen mengemukakan jadwal kegiatan belajar selama satu semester. Apa saja tugas mereka sebelum kuliah dan sesudah kuliah. Adakah bahan yang harus dibaca terlebih dahulu? Apa yang harus dikerjakan setelah pertemuan di kelas? Kegiatan setiap minggu bagaimana? Bagaimana kriteria tugas yang harus dikerjakan oleh mahasiswa? Untuk mata kuliah 2 SKS misalnya, berapa halaman buku yang dibaca? Berapa halaman paper yang dituliskan? Apakah tugas itu tidak terlalu berat dan lebih condong ke pembentukan pengetahuan? Bagaimana dengan pengembangan keterampilan seperti berpendapat, menulis, membaca, menyusun kotbah, menafsirkan teks Alkitab, dll.
5 - Tetapkanlah sumber dan alat belajar. Kemukakanlah pada silabus perkuliahan itu alat belajar yang khususnya didalami oleh mahasiswa dan bahan yang dijadikan studi penelitian atau pendalaman. Dalam aspek inilah tampak pengetahuan dan pemahaman dosen, sejauhmana ia memahami sumber-sumber yang berguna untuk mengembangkan studi dari mata kuliahnya. Tugas dosen ialah sebagai fasiltator, menyediakan atau setidaknya mengusulkan atau memberitahukan kepada peserta didiknya tentang alat dan sumber belajar yang efektif dan efisien.
6 - Kemukakan bagaimana penilaian dilakukan. Apa yang harus dilakukan untuk mengukur kemajuan belajar mahasiswa? Aspek-aspek apa yang dinilai oleh dosen? Berapa kalikah kegiatan penilaian dilakukan? Dengan cara bagaimana nilai ditetapkan? Berapa prosentasi nilai tugas? Kehadiran? Berapa nilai partisipasi? Tugas karya ilmiah dll bagaimana?
Adakalanya dosen sebelum memulia pertemuan dengan mahasiswanya menyusun sebuah rencana pembelajaran (silabus kuliah) untuk satu semester. Kemudian, ia membicarakan rancangan itu dengan mahasiswanya, setelah lebih dahulu mengadakan percakapan untuk mengetahui sejauhmana tingkat pengetahuan dan kesiapan mereka dalam belajar. Dosen kreatif harus tanggap terhadap situasi mahasiswanya, mendengarkan usulan mereka, lalu menerima saran-saran untuk perbaikan. Sebab, sebuah silabus perkuliahan juga berfungsi sebagai kontrak belajar antara dosen dengan mahasiswanya. Pada minggu kedua, silabus yang relatif lebih permanen untuk satu semester itu dapat dibagikan kepada masing-masing mahasiswa menjadi pedoman kegiatan belajar.
Dosen yang berjiwa inovatif tidak menjadikan sebuah silabus perkuliahan bersifat abadi dan otoriter. Seolah-olah tidak mungkin lagi dimasukkan tema atau topik, pendekatan dan sumber yang lebih baru. Padahal, beda mahasiswa beada pula gaya belajar dan kesiapan belajar mereka. Kalau seorang dosen hanya mempunyai silabus kuliah yang itu-itu juga sejak lima tahun silam, maka boleh dikatakan dosen itu tidak berkembang dan kreatif. Sikap itu menurut hemat saya, bertentangan dengan pandangan Alkitab yang mengatakan bahwa Allah selalu mengerjakan kebaruan dalam hidup anak-anak dan gereja-Nya. Saya sadari bahwa mengembangkan sebuah silabus kuliah saja tidaklah selalu mudah. Apalagi bila mengadakan perbaikan terhadapnya. Diperlukan keuletan demi pembentukan mahasiswa yang Tuhan utus untuk kita perlengkapi. Meminta bantuan rekan-rekan lain yang juga mengasuh kuliah yang sama amat dibutuhkan. Supaya kita tidak seperti kata dibawah tempurung. Kalau guru atau dosen inovatif maka mereka dapat memberi penilaian terhadap relevansi mata kuliahnya kepada yang bertugas mengembangkan kurikulum dalam lembaga pendidikan teologinya. Bisa jadi, mata kuliah itu dapat dilebur (diintegrasikan) saja dengan mata kuliah lain. Bisa juga mata kuliah yang diasuh selama ini dijadikan dua mata kuliah yang berkesinambungan. Ada banyak lain manfaat dari sikap dan peran dosen yang selalu inovatif.
V- Penutup
Inovasi dan pengembangan kurikulum dalam pendidikan teologi merupakan kebutuhan yang terus harus kita perhatikan. Diperlukan riset lapangan dan refleksi pengalaman untuk mengembangkannya, tidak hanya berdasarkan pendapat para ahli pendidikan dan teologi. Strategi yang lebih baik lagi dalam pengembangan ini ialah kebersamaan para dosen dan mahasiswa serta alumni (lulusan) untuk mengevaluasi kurikulum dan pembelajaran yang sudah ditempuh, kemudian bersama-sama berunding mengusulkan pendapat bagaimana melakukan pembaruan. Kebersamaan ini bagaimanapun amat sejalan dengan prinsip koinonia dari kumpulan orang-orang percaya atau tubuh Kristus, yang diajarkan oleh Alkitab. Walau bagaimanapun, kebersandaran kita kepada bimbingan Roh Allah sumber hikmat, pengertian dan kreativitas itu, sangat penting pula dalam tugas ini (bd. Ef 1:16,17).


[1] Dikembangkan dari bahan diskusi pada Orientasi Aplied Approach (AA) bersama dosen-dosen Perguruan Tinggi Agama/Teologi Kristen se Indonesia, tgl. 19-21 Oktober, 2005 di Lembah Nyiur, Cisarua, Bogor.HYPERLINK "http://www.tiranus.net/?p=31" \l "ftnref2" [2] Audrey & S. Howard Nicholls, dalam Developing a Curriculum: A Practical Guide New Edition (London: George Allen & Unwin, 1982).HYPERLINK "http://www.tiranus.net/?p=31" \l "ftnref3" [3]Lihat karya Prof. S.Nasution, Kurikulum Dan Pengajaran (Bina Aksara, 1989),HYPERLINK "http://www.tiranus.net/?p=31" \l "ftnref4" [4] Menurut Nasution (1989), proses pengembangan kurikulum meliputi penysunan pedoman kurikulum dan pedoman instruksional. Pedoman kurikulum meliputi latar belakang - falsafah dan tujuan lembaga pendidikan; populasi yang menjadi sasaran; rasional bidang studi atau mata kuliah; struktur organisasi bahan pengajaran; silabus - yang berisikan bahan pengajaran dan organisasi serta strategi instruksionalnya; dan akhirnya, desain evaluasi (h. 8).HYPERLINK "http://www.tiranus.net/?p=31" \l "ftnref5" [5] Tentang Perubahan atas Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 180 Tahun 1997 Tentang Penyelenggaraan Pendidikan Tinggi Teologi/Kependetaan dan Jurusan Pendidikan Agama Kristen (PAK) serta Ujian negara. Lihat juga Keputusan menteri Agama Republik Indonesia Nomor 535 Tahun 2001 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Program Pascasarjana Pendidikan Tinggi Teologi Dan Ujian negara.
[6] Ulasan mengenai soal mengapa dan bagaimana tentang kurikulum berbasis kompetensi dalam perguruan tinggi, lihat saja karya yang sangat bagus dari A.J.Jatmiko & Fandy Tjiptono (editor), Pendidikan Berbasis Kompetensi (Universitas Atma Jaya Yogyakarta, 2002).
[7] Judo Purwowidagdo, Tantang-Jawab Pendidikan Teologi Menjelang Abad 21 (Duta Wacana University Press, 1994), h.70-71. Di kalangan kaum evangelical, perbincangan mengenai pengembangan pendidikan teologi ini dikemukakan oleh sebuah majalah bernama Evangelical Review of Theology Vol. 19. No. 3. July,1995.
[8] Robert W. Ferris, Renewal in Theological Education: Stragies for Change (Billy Graham Center, 1990).
[9] Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek (Remaja Rosdakarya, 1997), h. 150-155. .
[10] Untuk di Asia misalnya ada pedoman akreditasi dan pengembangan pendidikan teologi yang dirumuskan oleh The Asia Theological Association (ATA), “Asia Theological Association - Mannual For Accreditation” (2001,2004). Untuk ATESEA (Association for Theological Education in South Asia) ada pula pedoman khusus yang berlaku bagi anggota-anggotanya di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
[11] Dr. Manfred W. Kohl, melaporkan hasil studi terhadap 800 kaum awam oleh “Murdock Study” bahwa yang dikehendaki kaum awam dari mereka yang belajar teologi ialah sesuai urutan: spiritualitas yang bagus, kemampuan relasional, karakter, keterampilan berkomunikasi, dan pengetahuan teologi; sedangkan menurut para gembala jemaat, yang dibutuhkan dari mahasiswa dan lulusan pendidikan teologi adalah: kemampuan berperan (role model), keterampilan management, keterampilan komunikatif, spiritualitas dan pengetahuan teologi; sedangkan para dosen dan profesor umumnya menghendaki urutan: pengetahuan teologi, karakter, kepemimpinan, keterampilan komunikasi dan keterampilan konseling. Dari hasil risetnya, Manfred W. Kohl juga mengusulkan tema-tema perubahan yang perlu dipikirkan oleh pendidikan teologi di masa depan mencakup: isi yang diajarkan (kurikulum), tekanan misinya apa; bidang-bidang layanan para lulusan, apa saja; struktur organisasi yag mendukung pembelajaran; serta sumber-sumber finansial demi kemandirian lembaga pendidikan teologi itu sendiri. Lihat Manfred Waldemar Kohl, “Theological Education: What Needs to Be Changed” dalam Educating for Tomorrow:Theological Leadership for the Asian Context eds. M.W.Kohl., A.N. Lal Senanayake (Bangalore: SAIACS Press, 2002), pp. 29-41.
[12] Dr.E.Mulyasa, dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003) mengemukakan bahwa kurikulum berbasis kompetensi dapat diartikan sebagai “suatu konsep kurikulum yang menekankan pada pengembangan kemampuan melakukan (kompetensi) tugas-tugas dengan stnadar performasi tertentu, sehingga hasilnya dapat dirasakan peserta didik, berupa penguasaan terhadap seperangkat kompetensi tertentu. KBK diarahkan untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, kemampuan, nilai, sikap, dan minat peserta didik, agar dapat melakukan sesuatu dalam bentuk kemahiran, ketepatan, dan keberhasilan dengan penuh tanggung jawab” (h. 39).
[13] Gagasan tentang organisasi kurikulum ini diambil dari karya S. Nasution, Pengembangan Kurikulum (Citra Aditya Bakti, 1990), h. 118-124.
[14] Sebagai catatan, karya klasik David H. Kesley, Between Athens and Berlin: The Theological Education Debate (Wm.B.Eerdmans, 1993), dapat memberi masukan bagi kita bahwa senantiasa terjadi dua arus dalam tujuan pendidikan teologi. Pertama, yang menekankan pembentukan intelek, pikiran, pemupukan kemampuan kebebasan secara akademis dengan model universitas (model pendidikan teologi Jerman-Berlin); Kedua, tekanan kepada pembentukan ahlkal, karakter, profesionalisme, pengembangan potensi diri (model Athena). Menurut hemat saya, kita perlu mengembangkan keseimbangan dari keduanya, komplementer.
[15] Ada sejumlah karya yang bagus untuk membantu guru maupun dosen dalam memilih dan menerapkan metode pembelajaran seperti karya Hisaym Zaini, dkk. Strategi Pembelajaran di Perguruan Tinggi CSTD IAIAN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2002; juga karya Abdul Madjid, Perencanaan Pembelajaran (Remaja Rosdakarya, 2005); Soekartawi, dkk. Meningkatkan Rancangan Instruksional (PT Radja Grafindo Persada, 1995). Sebuah karya klasik mengenai metode mengajar efektif dan kreatif ialah karya Ad Rooijakkers, Mengajar Dengan Sukses (Gramedia, 1984, 2003); Dave Meier, The Accelarated Learning Handbook (Bandung: KAIFA, 2002). .
[16] Lihat bagaimana ide menunaikan tugas pembelajaran dalam konteks pendidikan tinggi ini dikembangkan oleh Prof. Conny R. Semiawan, dalam Pendidikan Tinggi: Peningkatan Kemampuan Manusia Sepanjang Hayat Seoptial Mungkin (PT Grasindo, 1999).
[17] Untuk penjelasan lebih jauh dan seksama mengenai media dan alat pembelajaran ini lihat karya Ronald H. Anderson, Pemilihan dan Pengembangan Media Untuk Pembelajaran (Radjawali Pess, 1987).
[18] Nana Syaodih Sukmadinata (1997) mengemukakan bahwa dalam lingkup pendidikan umum, pengembang kurikulum mencakup para administrator pendidikan-direktur bidang pendidikan, pusat pengembang kurikulum, kepala kantor wilayah, kepala kantor kabupaten dan kecamatan serta kepala sekolah. Peranan mereka umumnya ialah di bidang dasar-dasar hukum dan kerangngka serta program inti kurikulum. Selain itu para ahli pendidikan, ahli kurikulum dan ahli bidang studi. Selain guru, peran orangtua murid juga besar dalam pengembangan kurikulum. (h. 155-158).
[19] Kurikulum dan pembelajaran sangat erat kaitannya. Kurikulum tidak terbatas pada apa yang tertuang dalam pedoman, tetapi dalam aktualnya, ketika guru atau dosen berinteraksi dengan peserta didik atau mahasiswanya. Lihat Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran (Bumi Aksara, 2001).
[20] Meminjam gagasan E.Mulyasa dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi (2003) yang mengusulkan sejumlah langkah bagi guru dalam menyusun persiapan mengajar maka, menurut hemat saya ketika dosen menyusun satuan acara perkuliahan (SAP) sejumlah unsur harus dikemukakan: nama mata kuliah, satuan pendidikan (program); masa kuliah; waktu belajar; kompetensi dasar; hasil belajar dan indikator; langkah pembelajaran; alat, bahan, sumber; dan penilaian.
[21] Tentang bagaimana memilih kata kerja yang menjelaskan tujuan pembelajaran lihat karya Ivor K Davies, Pengelolaar Belajar (Radjawali Pres, 1987); juga karya Nasution, Kurikulum dan Pengajaran (1989); dan Abdul Madjid, Rencana Pembelajaran (Rosdakarya, 2005).
http://www.tiranus.net/?p=31

http://hanckey.pbwiki.com/LANDASAN+DAN+PRINSIP+PENGEMBANGAN+KURIKULUM
untuk ppt
Pendampingan Pengembangan Kurikulum

Oleh: Herry Widyastono

Pada tahun 2006 telah diberlakukan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor: 22 tentang Standar Isi (SI), Nomor: 23 tentang Standar Kompetensi Lulusan (SKL), dan Nomor: 24 tentang Pelaksanaan SI dan SKL untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Mengacu pada SI dan SKL ini, sekolah-sekolah yang mampu (memiliki sumber daya pendidikan memadai), diharapkan pada tahun pelajaran 2006/2007 telah mengembangkan dan menerapkan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) untuk sekolahnya masing-masing. Sedangkan bagi sekolah yang kurang mampu, diharapkan paling lambat pada tahun 2009/2010 telah mengembangkan KTSP untuk sekolahnya. Gubernur dapat mengatur pelaksanaan KTSP di wilayahnya untuk satuan pendidikan SMA, SMK, dan pendidikan khusus; sedangkan Walikota/Bupati dapat mengatur pelaksanaan KTSP di daerahnya untuk satuan pendidikan SD dan SMP. Dalam pelaksanaannya, belum semua sekolah mampu mengembangkan KTSP; bahkan banyak kalangan meragukan keberhasilan pengembangan KTSP.

Pengembangan Kurikulum

KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan. Dengan KTSP, bangsa Indonesia telah memasuki babak baru dalam pengembangan kurikulum. Kurikulum-kurikulum sebelumnya, yang mengembangkan adalah Pemerintah, dalam hal ini Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas (dulu Pusat Pengembangan Kurikulum dan Sarana Pendidikan Balitbang Depdikbud) bekerja sama dengan unit-unit terkait, sedangkan guru tinggal mengimplementasikannya. Hal ini relevan dengan pengelolaan pemerintahan pada waktu itu, yakni sentralistik.Memasuki era reformasi, pengelolaan pemerintahan telah berubah menjadi desentralisasi, berupa otonomi daerah dan otonomi sekolah; sehingga, pengembangan kurikulum oleh Pemerintah tidak relevan lagi. Selain itu, pengembangan kurikulum oleh Pemerintah memiliki kelemahan, karena kemampuan peserta didik seolah-olah disamaratakan dari Sabang sampai Merauke. Padahal kenyataannya kemampuan peserta didik antara daerah satu dengan daerah lainnya, antara sekolah satu dengan sekolah lainnya, berbeda satu sama lain; dan yang paling memahami kemampuan peserta didik adalah para guru yan bersangkutan. Oleh karena itu, yang paling ideal mengembangkan KTSP adalah para guru yang bersangkutan.

Namun demikian, banyak kalangan yang pesimis terhadap keberhasilan pengembangan KTSP ini, terutama justru kalangan dari lembaga pendidik tenaga kependidikan (LPTK). Alasan yang dikemukakan antara lain karena guru ketika masih menempuh pendidikan di LPTK (IKIP atau FKIP) belum diberi bekal tentang bagaimana mengembangkan kurikulum. Bekal yang diberikan adalah bagaimana mengimplementasikan kurikulum yang sudah ada, yang disusun oleh Pemerintah.

Berkenaan dengan hal itu, maka dalam Permendiknas Nomor 24 tentang Pelaksanaan SI dan SKL dijelaskan bahwa guru dapat mengembangkan sendiri KTSP mengacu pada SI dan SKL; dapat pula (dalam masa transisi) mengadaptasi, bahkan mengadopsi model-model kurikulum yang disusun oleh Pusat Kurikulum.

Pelaksanaannya, pada tahun pertama, boleh saja guru/sekolah mengadopsi; tetapi pada tahun ke dua diharapkan mampu mengadaptasi; dan selanjutnya, pada tahun ke tiga bersama komite sekolah (diharapkan terdiri atas tokoh-tokoh masyarakat setempat) sudah mengembangkan sendiri KTSP sesuai dengan: (1) visi, misi, dan tujuan sekolah, (2) potensi/karakteristik daerah, (3) sosial budaya masyarakat setempat, serta (4) kemampuan awal dan karakteristik peserta didik.

Pendampingan Pengembangan KTSP

Agar setiap sekolah mampu mengem-bangkan KTSP, dan dalam rangka menindaklanjuti Surat Edaran Mendiknas Nomor 33/SE/MPN/2007 tentang perlunya pembentukan tim sosialisasi KTSP di tingkat provinsi dan kabupaten/kota, pada tahun 2007 Pusat Kurikulum telah memprakarsai pembentukan Tim Pengembang Kurikulum (TPK) di 33 provinsi dan 66 kabupaten/kota, serta memberikan bantuan profesional kepada para widyaiswara dari Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) serta Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P4TK) di seluruh Indonesia.

Selanjutnya, pada tahun 2008, pemben-tukan TPK semula direncanakan akan Wawasandilanjutkan di 441 kabupaten/kota, tetapi karena adanya pengurangan anggaran akhirnya hanya akan dilakukan pada 293 kabupaten/kota. Selain itu, pada tahun 2008 juga dilakukan pendampingan pengembangan KTSP di 192 kabupaten/kota. Pelaksana pendampingan adalah TPK kabupaten/kota dengan nara sumber dari Pusat Kurikulum. Pada tahun 2008, pelaksanaan pendampingan di masing-masing kabupaten/kota melibatkan 50 orang TPK kabupaten/kota sebagai fasilitator pendampingan, 100 orang guru dan kepala SD, SMP, SMA, SMK, PLB, dan PAUD sebagai peserta, serta 3 orang Pusat Kurikulum sebagai nara sumber.



Hasil yang diharapkan, TPK provinsi dapat melakukan koordinasi dan supervisi terhadap pelaksanaan tugas TPK kabupaten/kota serta melakukan pendampingan pengembangan kurikulum di beberapa sekolah terpilih; TPK kabupaten/kota mampu melakukan pendampingan pengembangan kurikulum ke semua sekolah di daerahnya; sedangkan LPMP dan P4TK mampu melakukan pendampingan pengembangan kurikulum melalui kelompok kerja pengawas sekolah (KKPS), kelompok kerja guru (KKG), musyawarah guru mata pelajaran (MGMP), kelompok kerja kepala sekolah (KKKS), gugus sekolah (GS), maupun ke beberapa sekolah terpilih. Secara diagramatis, strategi pelaksanaan bantuan profesional (bimbingan teknis dan pendampingan).

Dengan berbagai upaya tersebut, dan didukung pendanaan yang memadai, baik oleh Pemerintah, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten/kota, serta masyarakat luas, mudah-mudahan berbagai kalangan yang semula pesimis terhadap keberhasilan pengembangan KTSP akan berubah menjadi optimis dan ikut mendukungnya, bahkan ber-empati terhadapnya, Amin!

Catatan akhir, sekadar penutup

LPTK hendaknya mengikuti kebutuhan lapangan, yakni tidak hanya sekedar memberikan bekal kepada calon guru tentang pelaksanaan kurikulum tetapi harus lebih komprehensif, yaitu memberikan bekal tentang pengembangan kurikulum, yang meliputi perencanaan, penyusunan, pelaksanaan, dan evaluasi kurikulum.

Bagi calon guru dari progam S1 kependidikan, bahan ajar pengembangan kurikulum diberikan ketika menempuh program S1 dan diperdalam pada saat mengikuti pendidikan profesi calon guru. Sedangkan bagi calon guru dari program S1 non-kependidikan, bahan ajar pengembangan kurikulum diberikan secara mendalam pada saat mengikuti pendidikan profesi calon guru, setelah lulus S1.
http://www.puskur.net/

0   komentar

Silahkan kirim komentar anda!

Cancel Reply