Jogja Course Center

product 1

Jogja Course Center (JCC) sebagai lembaga yang memfasilitasi pemenuhan kebutuhan masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan potensi diri, serta mendukung dalam penguasaan dan penerapan ilmu bahasa asing dan komputer, dan ikut serta dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Info detail klik di sini.

Iklan AndaI

product 1

Pasanglah iklan Anda di sini. Ingsyallah membawa berkah. Apalagi menghidupi hamba Allah yang sedang belajar ilmu agama. Alasan lainnya klik di sini.

Iklan Anda

product 1

Pasanglah iklan Anda di sini. Ingsyallah membawa berkah. Apalagi menghidupi hamba Allah yang sedang belajar ilmu agama. Alasan lainnya klik di sini.

Dedi Wahyudi Siap Membangun Negeri Menuju Indonesia Digdaya 2030

Dedi Wahyudi Siap Membangun Negeri Menuju Indonesia Digdaya 2030

Podoluhur News

Dedi Wahyudi lagi sibuk garap tesis, mohon doanya semoga diberikan kemudahan oleh Allah, aamiin.

HADIS DAN PENGERTIANNYA

Dedi Wahyudi | 2/03/2009 09:47:00 am | 0 komentar

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

PERTEMUAN PERTAMA
HADIS DAN PENGERTIANNYA

A.PENGERTIAN AL-HADIS, AS-SUNNAH, AL-KHABAR DAN AL-ATSAR
1.Pengertian Al-Hadis
Hadis bentuk jamaknya adalah hidas, hudasa dan hidos. Hadis menurut bahasa mempunyai beberapa arti yaitu
1)Baru atau muda (jadid) lawan dari terdahulu (qadim)
2)Dekat (qarib), tidak lama lagi terjadi, lawan dari jauh (ba’id)
3)Warta, berita yaitu sesuatu yang dipercakapkan dan dipindahkan dari seseorang kepada orang lain. Hadis yang bermakna khabar ini dihubungkan dengan kata. Hadis yang berarti riwayat, ikhbar (menghabarkan). Hadis dan pengertian khabar dapat dilihat dalam:
(1)Surat Ath-Thuur ayat 34




“Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal Al Quran itu jika mereka orang-orang yang benar.”
(QS. Ath-Thuur:34)

(2)Surat Al-Kahfi ayat 6




“Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al-Quran).”
(QS. Al-Kahfi: 6)
(3)Surat Ad-Dhuha ayat 11

“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan.”
(QS. Ad-Dhuha:11)

Ahli Hadis dan ahli ushul berbeda pendapat dalam memberikan pengertian tentang hadis. Menurut ahli pengertian Hadist ialah :

“Seluruh perkataan, perbuatan dan hal ihwal tentang Nabi Muhammad SAW, sedangkan menurut yang lainnya adalah segala sesuatu yang bersumber dari nabi, baik berupa perkataan, perbuatan, maupun ketetapannya.”

Yang termasuk hal ihwal ialah segala sesuatu yang diriwayatkan dari nabi yang berkaitan dengan himmah, karakteristik, sejarah kelahiran dan kebisaan-kebiasaannya.
Hadis menurut ahli ushul ialah:



“Semua perkataan, perbuatan dan taqrir Nabi Muhammad SAW yang berkaitan dengan hukum syara dan ketetapannya.”

Selanjutnya Hadis menurut pengertian istilah (definisinya) yaitu sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW berupa perkataan atau taqrirnya dan sebagainya. Berdasarkan definisi ini kita dapat mengetahui bahwa Hadis mempunyai 3 unsur pokok, yaitu:
1)Perkataan Nabi Muhammad SAW yang beliau sabdakan
2)Perbuatan beliau yang dilihat oleh para sahabatnya
3)Perbuatan sahabat yang dikatakan oleh Nabi Muhammad SAW dan beliau tidak menegurnya atau tidak menyalahkannya sebagai tanda setuju
Dengan pengertian ini, jelaslah bahwa segala sesuatu yang bersumber Nabi SAW, yang tidak ada kaitannya dengan hukum atau tidak mengandung misi kerasulan, seperti tata cara berpakaian, tidur dan makan, tidak termasuk hadis.

2.Pengertian Sunah
Sunah bentuk jamaknya ialah sunah yang secara bahasa berarti:


“Cara atau jalan yang biasa ditempuh, baik tepui maupun tercela.”

Sedangkan menurut bahasa sunah berarti: jalan tabiat dan peri kehidupan. Juga dapat berarti kebiasaan atau dapat kebiasaan yang berlaku.

“Kebiasaan dan jalan yang baik dan jelek.”

Menurut batasan lain, sunah berarti:

“Jalan (yang dilalui) baik yang terpuji atau yang tercela ataupun jalan yang lurus atau tuntunan yang tetap.”

Rasulullah SAW, bersabda yang artinya:
Barang siapa yang melakukan perbuatan yang baik, ia akan mendapatkan pahala dan pahala orang yang menirunya dengan tidak dikurangi pahalanya sedikitpun. Dan barang siapa yang melakukan perbuatan yang jelek, ia akan menanggung dosa dan dosa orang-orang yang menirunya, dengan tidak dikurangi dosanya sedikitpun.” (HR. Imam Muslim)

Beberapa ayat Al-Qur’an juga menunjukkan arti sunah menurut bahasa:
1)Surat Al-Anfaal ayat 38
Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu: “Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu; dan jika mereka kembali lagi sesungguhnya akan berlaku (kepada mereka) sunnah (Allah terhadap) orang-orang dahulu.”
(QS. Al- Anfaal:38)

2)Surat Al-Hijr ayat 13

“Mereka tidak beriman kepadanya (Al Quran) dan sesungguhnya telah berlalu sunnatullah terhadap orang-orang dahulu.”
(QS. Al-Hijr:13)

3)Surat Al-Ahzab ayat 38

“Tidak ada suatu keberatanpun atas Nabi tentang apa yang telah ditetapkan Allah baginya. (Allah telah menetapkan yang demikian) sebagai sunnah-Nya pada nabi-nabi yang telah berlalu dahulu. Dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku.”
(QS. Al-Ahzab:38)

4)Surat Al-Faathir ayat 43

“Karena kesombongan (mereka) di muka bumi dan karena rencana (mereka) yang jahat. Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunnah (Allah yang telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu.”
(Al-faathir:43)

Berbeda dengan ahli hadis, ahli ushul mengatakan sunah adalah sesuatu yang disandarkan kepada nabi yang berhubungan dengan hukum syara, baik perkataan, perbuatan, maupun taqrir beliau! Dengan demikian, sifat, perilaku, sejarah hidup dan segala sesuatu yang bersumber dari Nabi Muhammad SAWyang tidak berkaitan dengan hukum syara tidak dikatakan sunah.
Pemahaman ahli ushul terhadap sunah ini didasarkan pada argumentasi bahwa Rasulullah SAW, adalah pembawa dan pengatur UU yang menerangkan kepada manusia dan menetapkan kerangka dasar bagi para mujtahid yang hidup sesudahnya.
Ulama ahli fiqih mendefinisikan sunah, memusatkan pembahasan tentang pribadi dan perilaku rasul dan perbutan-perbuatan yang melandasi hukum syara, baik yang wajib, haram, makruh, mubah maupun sunah. Lebih lanjut mereka berpendapat bahwa sunah berlawanan dengan bid’ah. Sunah diartikan cara dengan perilaku yang diikuti dan yang menyangkut masalah agama, sedangkan bid’ah menurut bahasa adalah perkara yang baru.
Berdasarkan definisi diatas, sunah meliputi beberapa hal yaitu:
(1)Perkataan ataau sabda Rasulullah SAW
(2)Perbuatan Rasul
(3)Taqrirnya beliau, yaitu perbuatan sahabat yang beliau senangi
(4)Pengajaran beliau kepada para sahabatnya
(5)Sifat-sifat beliau seperti kejujuran, kecerdasan dan lain-lain
(6)Kelakuan Rasul atau akhlaknya
(7)Perjalanan hidup Rasul

Setelah kita mengetahui pengertian sunah pengertian sunah yang begitu luas, maka perlu kita yakini betul bahwa semua sunah Rasulullah baik dan benar. Tidak ada yang baik, yang jelek dan salah. Umat islam yang mengikuti sunah rasul pasti berarti berada dalam jalan yang benar dan baik, bila sebaliknya pasti cepat atau lambat akan sesat. Hal itu telah diungkapkan dalam Hadist yang artinya:
“Dari katan baru Abdullah dari ayahnya, dari kakeknya. Beliau berkata: Rasul SAW bersabda saya tinggalkan pada kamu sekalian dua perkara yang tidak sesat selama kamu sekalian berpegang teguh pada keduanya, yaitu kitabullah dai sunah Nabi-Nya.” (HR. Ibnu Abdul Bahri)

5)Surat Al-Mu’min ayat 85

“Maka iman mereka tiada berguna bagi mereka tatkala mereka telah melihat siksa Kami. Itulah sunnah Allah yang telah berlaku terhadap hamba-hamba-Nya. Dan di waktu itu binasalah orang-orang kafir.”
(QS. Al-Mu’min: 85)

6)Surat Al-Fath ayat 23

“Sebagai suatu sunnatullah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tiada akan menemukan perubahan bagi sunnatullah itu.”
(QS. Al-Fath:23)

Dalam hubungan dengan hukum syara, sunah adalah segala sesuatu yang diperintahkan, dilarang atau dianjurkan oleh Rasulullah SAW baik berupa perkataan atau perbuatannya. Dengan demikian, apabila dalam dalil hukum syara disebutkan Al-Kitab dan As-Sunnah, maksudnya adalah Al-Qur’an dan Al-Hadis.
Pengertian menurut ahli hadis. Sunah adalah segala yang dinukilkan dari nabi Muhammad SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, baik yang berupa taqrirnya, pengajaran, sifat kelakuan, perjalanan hidupnya, baik sebelum Nabi SAW menjadi Rasul maupun sesudahnya.

Perbedaan Sunah dan Hadis
Sekalipun umat islam sudah lama menyamakan begitu saja antara sunnah dan hadis, tapi bila kita perhatikan jelas perbedaannya, yaitu:
1)Sunah adalah semua amal ibadah Rasul SAW yang selalu beliau kerjakan sendiri atau bersama sahabatnya, lalu diikuti oleh para sahabatnya yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW walaupun hanya sekali beliau laksanakan.
2)Hadis adalah amal yang sudah pernah dilakukan oleh Rasul SAW, sebagaimana yang dapat di pahami. Misalnya:
“Dari ilmu Umar r.a. beliau berkata: sesungguhnya daging kelinci dibawa kepada Nabi SAW, tapi beliau tidak memakannya dan tidak melarang orang memakannya. (HR Abu Daud dan Al Baihaqi).
Ini hanya disebut Hadis tidak dapat disebut sunnah.
3)Sunah itu adalah suatu amal yang termasuk mutawatin fi’li sekalipun periwayatan tidak mutawatin, sedangkan Hadist belum tentu mutawatin.
4)Diantara sunah itu ada yang khusus boleh dilakukan oleh para rasul saja dan tidak boleh dikerjakan oleh umatnya. Misal: beristri lebih dari empat orang hanya boleh bagi nabi saja, tapi umatnya tidak.

3.Khabar
Khabar menurut bahasa adalah semua berita yang disampaikan oleh seseorang kepada orang lain. Menurut ahli hadis, khabar sama artinya dengan hadis. Keduanya dapat dipakai untuk sesuatu yang marfu’, mauquf, dan maqtu’ dan mencakup segala sesuatu yang datang dari Nabi Muhammad SAW, sahabat dan tabi’in.
Sebagian ulama mengatakan bahwa khabar adalah sesuatu yang datang, selain dari Nabi Muhammad SAW. Karena yang datang dari Nabi SAW disebut hadis. Sebagian ulama lainnya mengatakan bahwa Hadist lebih umum daripada khabar, sehingga tiap Hadis dapat dikatakan khabar, tetapi setiap khabar dapat dikatakan hadis.

4.Atsar
Atsar menurut bahasa berarti hadis, berkas. Atsar juga berarti pengaruh atau efek dari sesuatu. Dalam hal ini Atsar berarti pendapat sahabat dan tabi’in dengan sesuai dengan pendidikan fuqaha contoh Ibnu Mas’ud berkata:
“Kamu sekalian pada masa sekarang ini hidup dalam suatu masa dimana hawa nafsu tidak mengikuti ilmu. Kelak akan datang suatu masa yang membahayakan kamu sekalian dimana pada masa itu mengikuti kehendak hawa nafsu.”
Adapun atsar berdasarkan bahasa sama pula artinya dengan khabar, hadis, sunah. Adapun pengertian atsar menurut istilah terdapat perbedaan pendapat diantara para ulama. Jumhur ulama mengatakan bahwa atsar sama dengan khabar, yaitu segala sesuatu yang didasarkan kepada Nabi Muhammad SAW, sahabat, dan tabi’in. Sedangkan menurut khurasan bahwa atsar ditujukan umtuk yang mauquf, sedangkan khabar ditujukan untuk yang marfu'.
Dari keempat pengertian tentang hadis, sunah, kahbar, dan atsar sebagaimana diuraikan diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa keempat istilah tersebut pada dasarnya memiliki maksud yang sama, yaitu sesuatu yang datang dari Nabi Muhammad SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, maupun taqrirnya.

HADIS QUDSI DAN HADIS NABAWY
Hadis Qudsi adalah sesuatu yang dikhabarkan Allah kepada Nabi-Nya dengan melalui ilham dan mimpi, kemudian Nabi SAW menyampaikan makna dari ilham tersebut dengan ungkapan kata beliau sendiri.
Prof. M. Hasbi Ash Shiddiqi meyatakan bahwa Hadis Qudsi ialah perkataan-perkataan yang disabdakan oleh Nabi SAW dengan menyatakan bahwa Allah telah berfirman.
Berdasarkan pengertian maka perbedaan Hadis Qudsi dan Hadis Nabawy adalah sebagai berikut:
1.Hadis Qudsi ialah perkataan atau kalimat yang disabdakan oleh Rasul dengan menyatakan Allah berfirman atau dengan ungkapan lain yang menunjukkan bahwa itu adalah firman Allah SWT. Sedangkan hadis nabawi tdak.
2.Ungkapan lain dari sahabat perawinya dengan kalimat yang beliau riwayatkan dari Tuhannya sedangkan hadis nabawi tidak.

B.METODE NABI MUHAMMAD SAW DALAM MENYAMPAIKAN PESAN
Apabila membicarakan Hadis pada masa Rasulullah SAW. Berarti membicarakan Hadist pada awal pertumbuhannya. Maka dalam uraiannya akan berkaitan langsung dengan pribadi Rasulullah SAW. Sebagai sumber hadis. Rasulullah SAW telah membina umatnya selama 23 tahun. Masa ini merupakan kurun waktu turunnya wahyu dan sekaligus di-wurud-kannya hadis. Keadaan ini sangat menuntut keseriusan dan kehati-hatian para sahabat sebagai ahli waris pertama ajaran Islam.
Wahyu yang diturunkan Allah SWT. Kepada Rasulullah SAW dijelaskannya selalu perkataan (aqwal), perbuatan (af’al) dan taqrirnya, sehingga apa yang didengar, dilihat dan disaksikan oleh para sahabat dapat dijadikan pedoman bagi amaliah dan ubudiah mereka.
1.Cara Menyampaikan Hadis
Ada suatu keistimewaan pada masa ini yang membedakannya dengan masa lainnya, yaitu umat Islam dapat secara langsung memperoleh Hadis dari Rasulullah SAW, sebagai sumber hadis. Pada masa ini tidak ada jarak atau hijab yang dapat menghambat atau mempersulit pertemuan mereka.
Tempat pertemuan yang digunakan misalnya: di masjid, rumah beliau sendiri, dasar ketika beliau dalam perjalanan, dan ketika beliau muqim. Dalam riwayat Bukhari, disebutkan ibnu mas’ud pernah bercerita bahwa Rasulullah SAW. Menyampaikan hadisnya dengan berbagi cara sehingga para sahabat selalu ingin mengikuti pengajiannya dan tidak mengalami kejenuhan. Adapun cara yang digunakan Rasulullah SAW dalam menyampaikan Hadis kepada sahabait yaitu:
1)Melalui jamaah yang berada di pusat pembinaan atau majelis al-ilmi. Para sahabat sangat antusias mengikuti kegiatan di majelis ini. Sepert umar bin khaththab yang bergantian hadir dengan Ibnu Zaid dari Bani Umayah.
2)Beliau menyampaikan Hadis melalui para sahabat tertentu, kemudian disampaikan pada orang lain. Hal ini terjadi ketika beliau mewurudkan hadis, hanya beberapa sahabat yang hadir, baik karena disengaja oleh Rasulullah SAW atau memang kebetulan para sahabat yang hadir hanya beberapa orang saja.
3)Melalui ceramah atau pidato di tempat terbuka, seperti ketika haji wada’dan Futuh Mekah.

2.Perbedaan Para sahabat dalam mengusai Hadis
Para sahabat tidak memiliki kadar perolehan dan penguasaan Hadist yang sama antara satu dan lainnya. Hal ini bergantung pada beberapa hal berikut ini:
Perbedaan mereka dalam soal kesempatan bersama Rasulullah SAW
Perbedaan dalam soal kesanggupan untuk selalu bersama Rasulullah SAW.
Perbedaan mereka dalam soal kekuatan hapalan dan kesungguhan bertanya kepada sahabat lain.
Perbedaan mereka dalam kurun waktu masuk Islam dan jarak tempat tinggal mereka dari Majelis Rasulullah SAW
ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِين

Category:

Dedi Wahyudi, S.Pd.I: Kami harapkan senyum, salam, sapa, saran dan kritik untuk tulisan serta tampilan blog ini. Terima kasih atas kunjungannya. Semoga ilmunya membawa berkah.

0 komentar

Silahkan kirim komentar anda!