: :

Navbar Bawah

Cari Blog Ini

Memuat...
Format sms: nama#nomor HP anda#pesan anda

Jika Anda kebingungan bagaimana caranya untuk melihat isi blog saya, silahkan ditanyakan di nomor tersebut.

Tanpa Mencantumkan nomor HP Anda, maka sms tidak akan dibalas.

03 Februari 2009

Qawaidul fiqhiyah (kaidah-kaidah fiqh)

BAB I
PENDAHULUAN

I. Latar Belakang Masalah
Qawaidul fiqhiyah (kaidah-kaidah fiqh) adalah suatu kebutuhan bagi kita semua khususnya mahasiswa fakultas syari’ah. Banyak dari kita yang kurang mengerti bahkan ada yang belum mengerti sama sekali apa itu Qawaidul fiqhiyah. Maka dari itu, kami selaku penulis mencoba untuk menerangkan tentang kaidah-kaidah fiqh, mulai dari pengertian, sejarah, perkembangan dan beberapa urgensi dari kaidah-kaidah fiqh.

Dengan menguasai kaidah-kaidah fiqh kita akan mengetahui benang merah yang menguasai fiqh, karena kaidah fiqh itu menjadi titik temu dari masalah-masalah fiqh, dan lebih arif di dalam menerapkan fiqh dalam waktu dan tempat yang berbeda untuk kasus, adat kebiasaan, keadaan yang berlainan. Selain itu juga akan lebih moderat di dalam menyikapi masalah-masalah sosial, ekonomi, politin, budaya dan lebih mudah mencari solusi terhadap problem-problem yang terus muncul dan berkembang dalam masyarakat.

II. Rumusan Masalah
Mengerti dan memahami pengertian dan sejarah perkembangan kaidah-kaidah fiqh
Menyebutkan pembagian kaidah fiqh
Apakah manfaat dan urgensi dari kaidah-kaidah fiqh?
Bagaimana kedudukan dan sistematika kaidah fiqh?
Apa beda kaidah ushul dan kaidah fiqh?
Mengetahui apa itu kaidah umum dan kaidah asasi

III. Tujuan Pembahasan
Makalah ini disusun bertujuan agar kita mengetahui, memahami dan mengerti tentang hal-hal yang berhubungan dengan kaidah-kaidah fiqh, mulai dari definisi, pembagian dan sistematika kaidah fiqh.
Ilmu Fiqih membatasi masalah yang dikaji hanya pada daerah “amaliyah”. Jadi, ilmu Fiqih tak mengkaji secara dominan hari kemudian, surga, dan neraka; karena hal itu diluar jangkauan kajian “amaliyah”. Abu Zahrah, seorang Professor Ushul, menjelaskan bahwa kajian keyakinan Muslim seperti Keesaan Allah (Tuhan), bersihnya Rasul, serta penyampaian Qur’an kepada Rasul, dan keyakinan terhadap kiamat; kesemuanya itu tidaklah termasuk kajian fiqh. Fiqih, oleh karena itu, memahami daerah “tindakan manusia” atau “kemungkinan tindakan” yang rasional dan praktis (Zahroh, 1997:1-3). Dapat dikatakan, Ilmu Fiqih mengkaji obyek amaliyah, yang menjadikannya berbeda dengan ilmu Tauhid dan Tasawwuf.

Ilmu Fiqih tak bersifat mistik (mystic/kebatinan), supra-natural, dan asketik (pertapa/tapabrata). Akan tetapi, Ilmu Fiqih menerima kharakter empirik, rasional, fisik, etis, dan normatif. Ketika manusia menghadapi dan menyadari masalah, mereka berusaha menyelesaikannya. Dalam usaha memecahkan masalah tersebut, Ilmu Fiqih tak menoleh kepada perasaan, akan tetapi, Ilmu Fiqih menoleh ke pikiran berdasarkan penalaran dan bukti-bukti yang nyata. Karena itu, Ilmu Fiqih berusaha mencari penjelasan secara rasional-logis dan empiris. Disatu pihak, karena masalah yang dihadapi nyata dan rasional, ilmu fiqih mencari jawabannya pada sumber-sumber yang nyata dan rasional pula.

Fiqih berusaha memaparkan sumber otoritatif dan non-otoritatif menjadi pengetahuan yang siap-pakai dan mudah dipahami. Hal ini berarti, mujtahid membantu muslim lainnya untuk memahami keputusan dan hukum dari Qur'an, Sunnah, dan hasil Ijtihad melalui penataan dan uraian sedemikian rupa. Lebih dari itu, perbedaan lingkup masalah mengakibatkan berbedanya metode, pendekatan, dan teknik analisis yang dipakai para mujtahid.

0   komentar

Silahkan kirim komentar anda!

Cancel Reply