: :

Navbar Bawah

Cari Blog Ini

Memuat...

22 Mei 2009

Kelompok social

Kumpulan Artikel Kelompok social ini mudah-mudahan bermanfaat dan semoga halal
_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+__+_+_+_+_+_+_+_+
PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP RADIO

KOMUNITAS KAMPUS

(Studi Keberadaan Radio Komunitas Kampus Dalam Pelayanan Informasi Mahasiswa)

di Surabaya Jawa Timur

Oleh: Trisnani

.

Latar Belakang Pemikiran



Salah satu tuntutan reformasi adalah demokratisasi dibidang komunikasi dan informasi. Dimana tradisi komunikasi yang pada waktu orde baru menjadi hegemonisasi politik dan

kekuasaannya tidak bisa lagi dipertahankan. Seiring dengan perubahan yang terus berproses. Dalam paradigma baru komunikasi itu harus disusun dalam proses yang konvergen dan tidak linier, proses komunikasi lebih dominan terjadi dari bawah ke atas (bottom-up) dan tidak lagi dari atas ke bawah (top down), maka peran pemerintah lebih banyak menfasilitasi daripada mendominasi informasi.



Dalam perspektif ini, kegiatan komunikasi dan informasi lebih diserahkan kepada masyarakat dan khalayak, tidak lagi menjadi obyek pasif tetapi menjadi subyek aktif dalam proses pengambilan keputusan.



Hal ini sesuai dengan pasal 52 tentang undang –undang penyiaran yang berbunyi : Setiap

warga Negara Indonesia memiliki hak, kewajiban dan tanggung jawab dalam berperan serta mengembangkan penyelenggaraan penyiaran nasional. Kehadiran radio komunitas yang berlokasi di kampus sebagai salah satu bukti dari pada wujud kepedulian masyarakat dilingkungan kampus dalam ikut serta melakukan pengabdiannya dan sebagai

salah satu alternatif dalam upaya pemerataan informasi bagi masyarakat, baik dibidang sosial politik dan pendidikan pada lingkup terbatas (komunitas) nya. Dalam undang-undang No 32 Tahun 2002 tentang penyiaran tercantum pasal 13 dalam ayat (2) terdapat empat jasa penyiaran sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) antara lain : lembaga penyiaran publik, lembaga penyiaran swasta, lembaga penyiaran komunitas, lembaga penyiaran berlangganan.

Masing-masing lembaga penyiaran mempunyai fungsi sendiri-sendiri antara lain:

1) Lembaga Penyiaran Publik adalah lembaga penyiaran yang berbentuk badan hokum yang didirikan oleh negara bersifat independent, netral, tidak komersial dan berfungsi memberikan layanan untuk kepentingan masyarakat berskala besar yang secara geografis meliputi wilayah nasional.

2) Lembaga Penyiaran Swasta adalah lembaga penyiaran yang bersifat komersial berbentuk badan hukum Indonesia, yang bidang usahanya hanya menyelenggarakan jasa penyiaran radio atau televisi.

3) Lembaga Penyiaran Komunitas merupakan lembaga penyiaran yang berbentuk badan hokum Indonesia, didirikan oleh komunitas tertentu, bersifat independen dan tidak komersial, dengan daya pancar rendah, luas jangkauan wilayah terbatas, serta untuk melayani kepentingan komunitasnya.

4) Lembaga Penyiaran Berlangganan merupakan lembaga penyiaran berbentuk badan hokum Indonesia, yang bidang usahanya hanya menyelenggarakan jasa penyiaran berlangganan dan wajib terlebih dahulu memperoleh izin penyelenggaraan penyiaran berlangganan.



Berdirinya radio komunitas sebagai lembaga penyiaran secara formal telah diakui keberadaannya dan diharapkan mampu menyebarluaskan inovasi, mendorong perubahan individu, menyebarkan nilai-nilai demokrasi, meningkatkan konsumsi membantu literasi, pendidikan menuju terwujudnya masyarakat informasi yang sejahtera.



Radio komunitas di Indonesia mulai berkembang pada tahun 2000 an. Radio komunitas merupakan buah dari reformasi politik tahun 1998 yang ditandai dengan dilikuidasinya Departemen Penerangan sebagai otoritas tunggal pengendali media ditangan pemerintah pada waktu itu. Keberadaan radio komunitas di Indonesia semakin kuat setelah disahkannya undang-undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang penyiaran. Radio Komunitas sebagaimana dimaksud dalam pasal 13 dan pasal 21 ayat (2) huruf c merupakan lembaga penyiaran yang berbentuk badan hukum Indonesia, didirikan oleh komunitas tertentu, bersifat independent, dan tidak komersial, dengan daya pancar rendah, luas jangkauan wilayah terbatas, serta untuk melayani kepentingan komunitasnya. “Seperti koperasi atau yayasan namun tidak menutup kemungkinan jika ingin menerima hibah, donasi atau seponsor” demikian dikatakan Biro Hukum dan perizinan KPID Jatim Hans Edward Hekakaya.



Radio komunitas sebagai salah satu bagian dari sistem penyiaran Indonesia secara praktek ikut berpartisipasi dalam penyampaian informasi yang dibutuhkan komunitasnya, baik menyangkut aspirasi warga masyarakat maupun program-programnya yang dilakukan pemerintah untuk bersamasama menggali masalah dan mengembangkan potensi yang ada dilingkungannya. Keberadaan radio komunitas juga salah satunya adalah untuk terciptanya tata pemerintahan yang baik dengan memandang asas-asas sebagai berikut :

● Hak Asasi Manusia, bahwa kemerdekaan menyampaikan pendapat dan memperoleh

informasi melalui penyiaran sebagai perwujudan hak asasi manusia dalam kehidupan

bermasyarakat berbangsa dan bernegara, dilaksanakan secara bertanggung jawab, selaras dan seimbang antara kebebasan dan kesetaran menggunakan hak antar elemen di Indonesia.

● Keadilan, bahwa untuk menjaga integrasi nasional kemajemukan masyarakat dan terlaksananya otonomi daerah maka perlu di bentuk sistem penyiaran nasional yang menjamin terciptanya tatanan sistem penyiaran yang adil dan merata dan seimbang guna mewujudkan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.

● Pengelolaan, pengalokasian dan penggunaan spektrum frekuensi radio tetap berlandaskan pada asas keadilan bagi semua lembaga penyiaran dan pemanfaatan di pergunakan untuk kemakmuran masyarakat seluas-luasnya, sehingga terwujud ”diversity of ownership” dan “di versity of content”dalam dunia penyiaran. Informasi, bahwa lembaga penyiaran (radio) merupakan media informasi dan komunikasi yang mempunyai peran penting dalam penyebaran informasi yang seimbang dan setimpal dimasyarakat, memiliki kebebasan dan tanggung jawab dalam menjalankan fungsinya sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, kontrol serta perekat sosial.



Sebagai lembaga penyiaran, radio komunitas sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diselenggarakan;

a. Tidak untuk mencari laba atau keuntungan atau tidak merupakan bagian dari perusahaan yang mencari keuntungan semata.

b. Untuk mendidik dan memajukan masyarakat dalam mencapai kesejahteraan, dengan

melaksanakan program acara yang meliputi budaya, pendidikan, dan informasi yang menggambarkan identitas bangsa.





Secara umum yang dimaksud dengan media komunitas “adalah lembaga independent dan

tidak komersial penyedia jasa atau layanan informasi dan komunikasi yang pembentukannya berasal dari inisiatif komunitas, pengelolaannya dilakukan oleh komunitas, dan kegiatannya dimaksudkan untuk melayani kebutuhan dan kepentingan komunitas itu sendiri. Dalam pengertian ini yang dimaksud komunitas adalah faktor-faktor yang menunjukkan kesamaan tertentu, seperti: kelompok usia (remaja, dewasa, tua), wilayah administratif pemerintahan (komunitas dusun, desa atau kecamatan), lokasi (komunitas pasar, Kampus, dan rumah sakit), gender (komunitas perempuan, lakilaki), pekerjaan atau profesi (komunitas petani, nelayan, sopir angkutan, ibu rumah tangga, pegawai negeri, tukang parkir, dokter, artis penyanyi, artis film, model iklan, advokat, dosen dan peneliti), kegemaran (komunitas pecinta burung, pecinta alam, pengguna kendaraan merk tertentu), dan kombinasi diantara beberapa faktor tersebut (komunitas perempuan, petani desa atau kecamatan). Setiap komunitas dapat membentuk dan mengembangkan media komunitas mereka untuk melayani kebutuhan dan kepentingan mereka sendiri Gati Gayatri Dalam Jurnal Studi Komunikasi dan MediaVol :10 N0.1 (Januari-Juni 2006). Sedangkan opini mahasiswa tehadap siaran radio komunitas kampus adalah pendapat mahasiswa tentang penilaian terhadap siaran radio komunitas yang ada di perguruan tinggi /dilingkungan kampus. Sedangkan komunitas dalam kontek audience selalu dimengerti sebagai kumpulan orang atau kelompok sosial yang tinggal dalam wilayah geografis tertentu. Bisa jadi komunitas itu anggotanya beragam, baik dari segi profesi, idiologi, status sosial, ekonomi, tingkat pendidikan, dan lain-lain. Dalam naskah Mursito, ( 2002).



Bersamaan dengan dilikuidasinya Departemen Penerangan pada tahun 1998, sebagai otoritas tunggal pengendali media di tangan pemerintah, pada rezim orde baru, sejak saat itu juga ditiadakannya SIUP maka, secara desentralisasi dengan semangat otonomi daerah, banyak bermunculan radio komunitas dilingkungan kampus di Surabaya. Dengan kehadiranya radio komunitas kampus diharapkan dalam penelitian ini, melalui mediumnya yang dipancarkan dari gelombang spectrum, mampu melayani kebutuhan, dalam mengembangkan informasi pendidikan bagi mahasiswa selaku komunitas audience radio dan sekaligus sebagai cita-cita bangsa Indonesia yang salah satunya adalah mencerdaskan kehidupan bangsa.

http://kurawakharisma.wordpress.com/2008/04/27/persepsi-masyarakat-terhadap-radio-komunitas-kampus/

_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+__+_+_+_+_+_+_+_+

MAHASISWA: AGEN OF CHANGE*
Oleh: Amirlah Jeni**


Kampus merupakan tempat pengembangan diri yang memberikan perubahan pikiran, sikap, dan pencerahan, tempat mahasiswa lahir menjadi kaum pemikir bebas yang tercerah.

Dengan sifat keintelektualnya, mahasiswa lahir dan tumbuh menjadi entitas (model) yang memiliki paradigma ilmiah dalam memandang persoalan kebangsaan dan kemasyarakatan. Ciri dan gaya mahasiswa terletak pada ide atau gagasan yang luhur dalam menawarkan solusi atas persoalan-persoalan yang ada. Pijakan ini menjadi sangat relevan dengan nuansa kampus yang mengutamakan ilmu dalam memahami substansi dan pokok persoalan apapun.

Berbicara tentang mahasiswa dan aktivitasnya sudah menjadi pokok bahasan dalam berbagai kesempatan pada hampir sepanjang tahun. Berbagai forum diskusi yang diselenggarakan, menghasilkan berbagai ragam tulisan, makalah, maupun buku-buku yang diterbitkan tentang hakikat, peranan, dan kepentingan gerakan mahasiswa dalam pergulatan pemikiran. Kampus merupakan tempat pengembangan diri yang memberikan perubahan pikiran, sikap, persepsi dan pencerahan, tempat lahirnya mahasiswa sebagai seorang yang lain (dalam artian positif). Dengan kata lain, kampus merupakan laboratorium besar tempat melahirkan beragam ide, pemikiran, pengembangan wawasan yang kemudian diwujudkan dalam bentuk peranan sosial individu mahasiswa tersebut dalam kehidupan kemasyarakatan. Menjadi agen bagi perubahan sosial, budaya, paradigma, ekonomi dan politik masyarakat secara luas. Dengan demikian, kepentingan masyarakat menjadi barometer utama bagi keberhasilan suatu perubahan sosial yang dilakukan oleh agen (mahasiswa tersebut). Mahasiswa dituntut tidak hanya berhasil membawa ijazah, tetapi juga diharuskan membawa perubahan dari ilmu dan pengalamannya selama berada dalam laboratorium kampus.

Konsep perlawanan merupakan suatu hal yang lazim bagi mahasiswa. Perlawanan yang dilakukan bisa muncul dalam bentuk yang beragam, tentu saja dalam satu visi yang besar, untuk kepentingan dan pembelaan bagi masyarakat umum. Isu yang ditangkappun terdiri dari beragam persoalan, mulai dari persoalan sosial ekonomi, politik, budaya, etika, agama dan lain sebagainya. Aksi demontrasi, aksi pendampingan, memberikan alternatif pengetahuan dan pola pikir, memberikan penyuluhan, dan beragam cara lagi yang dapat dilakukan oleh agen (seorang mahasiswa), baik sebagai sebuah kelompok sosial maupun sebagai individu yang tergabung dalam kelompok-kelompok sosial lainnya. Belakangan, demontrasi seolah menjadi trend utama bagi suatu perlawanan menuju perubahan bagi mahasiswa, padahal demontrasi merupakan salah satu saja diantara banyak cara yang dapat dilakukan untuk membawa kehidupan masyarakat kerah yang lebih baik.

Upaya perlawanan dalam bentuk demonstrasi yang dilakukan oleh mahasiswa merupakan gerakan moral. Seperti yang diakui oleh Arief Budiman yang menilai bahwa sebenarnya sikap moral mahasiswa lahir dari karakteristiknya sendiri. Mahasiswa sering menekankan peranannya sebagai “KEKUATAN MORAL” dan bukan “KEKUATAN POLITIK”. Aksi protes yang dilancarkan mahasiswa seperti demonstrasi dijalan dinilai sebagai sebuah kekuatan moral karena mahasiswa bertindak tidak seperti organisasi sosial politik yang memiliki kepentingan praktis. Konsep gerakan moral bagi gerakan mahasiswa pada dasarnya adalah sebuah konsep yang menganggap gerakan mahasiswa hanyalah merupakan kekuatan pendobrak, ketika terjadi kemacetan dalam sistem. Setelah pendobrakan dilakukan maka tugas kekuatan-kekuatan politik yang ada dalam hal ini partai-partai atau organisasi politik yang lebih mapan melakukan pembenahan.

TREND DUNIA GLOBAL

Eksistensi dan posisi gerakan mahasiswa dihadapkan pada sebuah realitas dunia global yang tidak bisa dihindarkan. Arus globalisasi telah menyentuh berbagai sendi kehidupan manusia didunia. Cepatnya arus globalisasi menurut William K. Tabb (2003) mampu membentuk rezim perdagangan dan keuangan dunia serta mendefinisikan ulang kesadaran pada tingkat yang paling dekat dan lokal, mempengaruhi bagaimana orang memandang dirinya, ruang gerak anak-anak mereka dan entitas mereka sehingga mengalami perubahan akibat kekuatan globalisasi ini. Apakah gerakan mahasiswa menolaknya secara radikal atau hanya cukup memahaminya atau mempersiapkan diri untuk ikut berkompetensi dan memposisikan diri sejajar dengan mereka secara wajar?.

Gesekan dunia global menjadi trend dalam kondisi saat ini, karenanya seluruh lapisan masyarakat perlu memahami secara benar tentang realitas-realitas dunia yang sedang mengalami pergolakan dalam berbagai unsur kehidupan. Melihat trend (Trend Wacting) yang terjadi dalam pergeseran dunia global adalah kerangka dalam memahami apa yang sedang terjadi hari ini, dan apa yang akan kita lakukan dimasa-masa yang akan datang. Tren yang terjadi hari ini adalah dominasi kekuatan global yang tidak bisa dihindarkan dalam ranah kesadaran manusia.

DARI MEMBACA KE MENGANALISA

Gerakan perlawanan mahasiswa sesungguhnya merupakan gerakan perlawanan yang dinamis. Mahasiswa setiap hari bergulat dengan keilmuan, ironis jika gerakan mahasiswa justru monoton kalau tidak mau dikatakan sebagai sebuah kebekuan. Karenanya tradisi-tradisi yang ada diantaranya tradisi membaca harus diimbangi dengan tradisi menganalisa berbagai aspek persoalan dengan berpikir logis dan mendalam. Tipe masyarakat yamg menjadi miniatur lahirnya peradaban manusia maju dan sejarah adalah tradisi keilmuan. Maju karena masyarakat seperti ini menempatkan ilmu sebagai sinar dalam kehidupan. Mensejarah, karena mereka membuat sebuah kejutan bagi lahirnya paradigma baru bagi terciptanya masyarakat yang ilmiah (knowledge society).

Dimensi pembangunan gerakan mahasiswa agar ilmiah diawali dengan konsep membaca, sesuatu yang berhubungan bukan hanya dengan membaca teks dan naskah tetapi lebih dari itu, menelaah, meriset, merenungkan , bereksperimen, berkontemplasi. Objeknya bisa berupa beragam persoalan yang ada dimasyarakat. Mulai dari persoalan sosial, ekonomi, politik, budaya dan bahkan persoalan etika dan moralitas.

Persoalan menganalisis menjadi penting ketika seseorang ingin menggali kebenaran dari suatu fenomena tertentu, seperti misalnya; mengapa masyarakat Papua (yang tinggal dilembah Baliem) puas hanya dengan makan ubi dan sagu bakar, akan tetapi mengapa masyarakat lainnya merasa tidak pernah puas dengan dimiliki ketika kekuasaaan dan kekayaan telah dimiliki?

DARI TRADISI KE PERADABAN

Langkah-langkah selanjutnya yang paling rasional dalam menghadapi tatanan dunia global, bagi kalangan mahasiswa dikampus adalah membangun kesadaran bersama dengan meningkatkan kompetensi dan skill dalam memposisikan diri supaya sejajar dengan bangsa-bangsa Barat dalam bidang ilmu pengetahuan. Karenanya budaya dan tradisi yang selama ini dilakukan dikampus untuk digeserkan kearah perubahan paradigma memahami budaya dan tradisi yang ada.

Tidaklah kaku jika mahasiswa membangun dialog peradaban (Civilization) dikampus, minimal ada dua paradigma visi dialog pembangunan masyarakat berperadaban. Pertama, Perubahan eksistensi dan identitas diri, yang mampu melahirkan paradigma kehidupan sosial baru dan merdeka, bebas dari penghambaan terhadap unsur-unsur materi, melahirkan kehidupan segar dan integraliistik. Era kehidupan yang syarat dengan nilai kemanusiaan dan bervisi masa depan. Ini merupakan tonggak fundamental pertama, merupakan visi kehidupan ummat manusia kearah pembebasan diri dari kungkungan materi yang menjadi ideologinya. Visi kehidupan ini mengarahkan manusia pada ideologi yang sesungguhnya dan menjadi benteng kekuatan para pewaris peradaban. Ini merupakan asas fundamental bagi terwujudnya masyarakat berperadaban. Proses ideologisasi kedalam tubuh masyarakat secara radikal dan gradula perlu dilakukan. Kedua, Pola pembangunan struktur pengetahuan masyarakat yang secara bersamaan dilakukan dalam kerangka membangun kesadaran untuk membaca atas realitas yang terjadi.

DARI TEKS KE KONTEKSTUAL

Terkadang pemahaman mahasiswa atas teks-teks yang dipelajari dikampus bersifat tekstual. Karenanya perlu ada penyeimbangan pemikiran dalam memahami realitas. Kalangan mahasiswa diminta tidak hanya memahami teks saja tetapi mampu melihat perubahan dunia yang cepat dari teks-teks yang dipelajarinya itu. Karenanya pemahaman teks yang menyebar dalam berbagai literatur menjadi penyelaras dalam kondisi jaman yang sedang berubah.

Paradigma mahasiswa dikampus bertumpu pada penyelarasan ideologis dengan ketajaman analisis terhadap persoalan-persoalan yang terjadi. Kalangan mahasiswa mampu membaca, mengkaji, dan berdiskusi secara logis, kritis, sistematis, dan komperhensif, serta mampu membedah persoalan dari berbagai aspek dan sudut pandang ilmu dan pemikiran yang konstruktif. Hal ini harus menjadi kultur yang melekat. Gerakan mahasiswa dalam konteks kekinian dituntut untuk bisa bergaul dalam dimensi yang lebih luas. Oleh karena itu, gerakan mahasiswa diharapkan mampu memberikan jawaban atas kondisi zaman yang terus berubah. Jika tidak bisa, maka mahasiswa akan ditinggalkan oleh kemajuan zaman ini.

PESAN

Mahasiswa merupakan sebuah miniatur masyarakat intelektual yang memilki corak keberagaman pemikiran, gagasan dan ide-ide yang penuh dengan kreatifitas dalam rangka mewujudkan TRI DARMA PERGURUAN TINGGI Yakni; Pendidikan dan pengajaran, Penelitian, Pengabdian pada masyarakat.

Setiap melakukan perubahan sosial, pasti ada hambatan dan halangan. Untuk mengatasi hal tersebut maka mahasiswa harus menggunakan trik-trik yang jitu diantaranya :

1. Mulailah dari diri sendiri.
2. kuatkan tekad/azzam untuk selalu melakukan perubahan yang lebih berkemajuan.
3. Menunjukkan Identitas Mahasiswa.
4. Memanajemen waktu dengan sebaik-baiknya.
5. Merubah Paradigma berfikir dari mental penjajah menjadi penebar rahmat.

--------------------------------
*) Tulisan ini dimuat pada Buletin KREAMIS (Kreatifitas Mahasiswa Islami) Universitas Riau Edisi Ke-2/IMM-UNRI/10/April/2009
**) Penulis adalah Kader IMM Bumi Lancang Kuning dan Mahasiswa UIN SUSKA RIAU Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi

_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_

Konsep Waktu, Perubahan dan Kelompok Sosial


Individu dan Kelompok Sosial

Manusia adalah makhluk individu yang tidak dapat melepaskan diri dari hubungan dengan manusia lain. Sebagai akbat dari hubungan yang terjadi di antara individu-individu (manusia) kemudian lahirlah kelompok-kelompok sosial (social group) yang dilandasi oleh kesamaan-kesamaan kepentingan bersama.

Namun bukan berarti semua himpunan manusia dapat dikatakan kelompok sosial. Untuk dikatakan kelompok sosial terdapat persyaratan-persyaratan tertentu.

Macam-macam kelompok sosial meliputi:

1.

klasifikasi tipe-tipe kelompok sosial;
2.

kelompok sosial dipandang dari sudut individu;
3.

in group dan out group;
4.

primary group dan secondary group;
5.

gemeinschalf dan geselfchaft.

Primary group adalah kelompok-kelompok yang ditandai dengan ciri-ciri kenal mengenal antara anggota-anggotanya serta kerja sama erat yang bersifat pribadi. Sedangkan yang dimaksud pengertian secondary group adalah kebalikan dari primary group. Secondary group sebagai kelompok-kelompok yang besar, yang terdiri banyak orang antara siapa hubungannya tak perlu berdasarkan kenal mengenal secara pribadi dan sifatnya tidak begitu langgeng.

Tonnies dan Loomis menyatakan bahwa gemeinschalf adalah bentuk kehidupan bersama di mana anggotanya diikat oleh hubungan batin yang bersifat alamiah dan dasar dari hubungan tersebut adalah rasa cinta dan kesatuan batin yang telah dikodratkan. Contoh bentuk gemeinschalf dijumpai dalam keluarga, kelompok kekerabatan dan rukun tetangga. Sedangkan geselfchaft adalah kebalikannya, yaitu berupa ikatan lahir yang bersifat pokok untuk jangka waktu yang pendek, bersifat imajiner dan strukturnya bersifat mekanis sebagaimana terdapat dalam mesin. Contoh bentuk geselfchaft ini terdapat bentuk utama hubungan perjanjian berdasarkan ikatan timbal balik. Seperti ikatan antara pedagang, organisasai dalam suatu pabrik, industri dan lain-lain.

Di samping ada kelompok sosial juga terdapat sistem sosial dalam bentuk piramida seperti berikut:

1.

lapisan sosial atas (upper);
2.

lapisan sosial menengah (midle);
3.

lapisan sosial rendah (lower).


Kelembagaan (Social Institution)

Beberapa pendapat para ahli sosiologi tentang pengertian kelembagaan (Social Instituation). Menurut Soerjono Soekanto (1982:191) mendefinisikan bahwa lembaga kemasyarakatan adalah “sesuatu bentuk dan sekaligus mengandung pengertian-pengertian yang abstrak perihal norma-norma dan peraturan-peraturan tertentu yang menjadi ciri-ciri dari lembaga kemasyarakatan. Sedangkan menurut Koentjaraningrat (1984:165) adanya unsur-unsur yang mengatur perilaku masyarakat. Pranata sosial diberi arti sebagai sistem tata kelakuan dan hubungan yang berpusat pada aktivitas-aktivitas untuk memenuhi kompleks-kompleks kebutuhan khusus dalam kehidupan masyarakat.

Lembaga kemasyarakatan terbentuk melalui proses disebut sebagai lembaga institusional, atau kelembagaan nilai-nilai yang dibentuk untuk membantu hubungan antar manusia di dalam masyarakat. Nilai-nilai yang mengatur tersebut dikenal dengan istilah norma yang mempunyai kekuatan mengikat dengan kekuatan yang berbeda-beda. Norma-norma tersebut dapat dibedakan seperti berikut: cara (ussage), kebiasaan (folkways), tata kelakuan (mores), dan adat istiadat (custom).

Lembaga kemasyarakatan di samping seperti yang dijelaskan tersebut di atas, lembaga kemasyarakatan juga memiliki ciri-ciri dan tipe-tipe berdasarkan; pelembagaannya, sistem nilai, penyebarannya dan bagaimana penerimaan di masyarakat.

Dalam lembaga kemasyarakatan juga terdapat social control (sistem pengendalian sosial) yang dilakukan bertujuan untuk mencapai keserasian antara stabilitas dengan perubahan-perubahan dalam masyarakat, baik yang bersifat preventif maupun represif.


Konsep Waktu dan Sejarah Lokal

Sejarah bertugas untuk membuka kegelapan masa lampau manusia, memaparkan kehidupan manusia, dalam berbagai aspek kehidupan. dan mengikuti perkembangannya dari masa yang paling tua hingga kini dan untuk dijadikan pedoman di masa kini dan masa yang akan datang.

Konsep waktu dalam sejarah mempunyai arti kelangsungan (continuity) dan satuan atau jangka berlangsungnya perjalanan waktu (duration). Kelangsungan waktu atas kesadaran manusia, terhadap waktu dibagi menjadi tiga, dimensi yaitu: waktu yang lalu, waktu sekarang, dan waktu yang akan datang di dalam satu kontinuitas.

Dimensi waktu dalam sejarah adalah, penting sekali, karena, peristiwa yang menyangkut masyarakat manusia terjadi atau berlangsung dalam dimensi ruang dan waktu. Akan tetapi karena, tak dapat ditentukan kapan waktu berawal dan dan kapan waktu berakhir, maka terbatasnya konsep tentang kelangsungan waktu itu lalu dibatasi dengan awal dan akhir atas dasar kesadaran manusia yang disebut periode atau kurun waktu atau babakan waktu. Babakan waktu juga dinamai penzaman, seralisasi, periodesasi dan masa.

Sejarah lokal merupakan sejarah yang terjadi di satu tempat saja. Pengajaran sejarah lokal sangat penting guna menumbuhkan rasa kecintaan terhadap daerahnya sendiri.


Pembelajaran Konsep Perubahan

Perubahan merupakan gejala yang umum terjadi pada masyarakat manusia, tidak ada satu masyarakat pun yang benar-benar statis, cepat atau lambat semua masyarakat akan mengalami perubahan.

Ada dua macam perubahan, yaitu perubahan sosial dan kebudayaan. Perubahan sosial adalah perubahan lembaga-lembaga, kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat, yang sistem sosialnya, termasuk di dalamnya nilai-nilai sikap dan pola perilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat.

Perubahan sosial merupakan bagian dari perubahan kebudayaan. Perubahan kebudayaan mencakup semua bagiannya, yaitu kesenian, ilmu pengetahuan, teknologi, filsafat, dan sejenisnya bahkan perubahan-perubahan dalam bentuk dan aliran-aliran organisasi sosial.

Perubahan sosial dan kebudayaan mempunyai aspek yang sama, yaitu kedua-duanya bersangkut paut dengan penerimaan cara-cara baru atau suatu perbaikan dari cara-cara masyarakat dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Perubahan itu ada yang berjalan lambat ada juga yang berjalan cepat.

Di samping itu ada perubahan yang kecil pengaruhnya dan ada yang besar, serta ada perubahan yang dikehendaki dan ada pula, perubahan yang tidak dikehendaki dan tidak direncanakan.

Sebab-sebab terjadinya perubahan ada yang berasal dari dalam masyarakat itu sendiri dan ada yang berasal dari luar masyarakat. Di samping itu ada juga sejumlah faktor yang mendorong jalanya perubahan dan ada juga sejumlah faktor yang menghalangi terjadinya perubahan.


Pembelajaran Konsep Kebudayaan

Kebudayaan disebut superorganis karena walaupun kebudayaan adalah hasil ciptaan manusia tetapi budaya menguasai manusia.

Kebudayaan hanya dinilai oleh masyarakat manusia yang tidak diturunkan secara biologis tetapi melalui proses belajar, yang didukung, diteruskan melalui masyarakat. Kebudayaan juga merupakan pernyataan atau perwujudan kehendak, perasaan, dan pikiran manusia.

Kebudayaan memiliki unsur-unsur yang universal, yang artinya unsur-unsur kebudayaan ini dimiliki oleh semua budaya-budaya manusia yang ada di muka bumi ini, dari masyarakat sederhana sampai masyarakat modern. Unsur-unsur kebudayaan universal itu meliputi sistem bahasa, sistem peralatan dan perlengkapan hidup manusia atau sistem teknologi, sistem mata pencaharian hidup atau sistem ekonomi, sistem kemasyarakatan atau organisasi sosial, sistem pengetahuan, sistem, religi, dan sistem kesenian.

Unsur kebudayaan universal itu mempunyai tiga wujud yang menurut Koentjaraningrat wujud kebudayaan itu dapat berupa sistem budaya, sistem sosial dan kebudayaan fisik.

Kebudayaan dari waktu ke waktu selalu berubah karena adanya adanya faktor-faktor dari dalam masyarakat yang meliputi discovery, invention, inovasi, dan enkulturasi serta faktor-faktor yang berasal dari luar masyarakat yang meliputi difusi, akulturasi dan asimilasi.


http://massofa.wordpress.com/2008/02/03/konsep-waktu-perubahan-dan-kelompok-sosial/
_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+__+_+_+_+_+_+_+_+

Kelompok sosial
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Kelompok sosial adalah kumpulan orang yang memiliki kesadaran bersama akan keanggotaan dan saling berinteraksi. Kelompok diciptakan oleh anggota masyarakat. Kelompok juga dapat mempengaruhi perilaku para anggotanya.
Daftar isi
[sembunyikan] [sembunyikan]

* 1 Macam kelompok sosial
* 2 Faktor pembentuk
o 2.1 Kedekatan
o 2.2 Kesamaan
* 3 Pembentukan norma kelompok
* 4 Lihat pula

[sunting] Macam kelompok sosial
Sekolah merupakan salah satu contoh kelompok sosial

Menurut Robert Bierstedt, kelompok memiliki banyak jenis dan dibedakan berdasarkan ada tidaknya organisasi, hubungan sosial antara kelompok, dan kesadaran jenis. Bierstedt kemudian membagi kelompok menjadi empat macam:

* Kelompok statis, yaitu kelompok yang bukan organisasi, tidak memiliki hubungan sosial dan kesadaran jenis di antaranya. Contoh: Kelompok penduduk usia 10-15 tahun di sebuah kecamatan.

* Kelompok kemasyarakatan, yaitu kelompk yang memiliki persamaan tetapi tidak mempunyai organisasi dan hubungan sosial di antara anggotanya.

* Kelompok sosial, yaitu kelompok yang anggotanya memiliki kesadaran jenis dan berhubungan satu dengan yang lainnya, tetapi tidak terukat dalam ikatan organisasi. Contoh: Kelompok pertemuan, kerabat.

* Kelompok asosiasi, yaitu kelompok yang anggotanya mempunyai kesadaran jenis dan ada persamaan kepentingan pribadi maupun kepentingan bersama. Dalam asosiasi, para anggotanya melakukan hubungan sosial, kontak dan komunikasi, serta memiliki ikatan organisasi formal. Contoh: Negara, sekolah.

[sunting] Faktor pembentuk

Bergabung dengan sebuah kelompok merupakan sesuatu yang murni dari diri sendiri atau juga secara kebetulan. Misalnya, seseorang terlahir dalam keluarga tertentu. Namun, ada juga yang merupakan sebuah pilihan. Dua faktor utama yang tampaknya mengarahkan pilihan tersebut adalah kedekatan dan kesamaan.

[sunting] Kedekatan

Pengaruh tingkat kedekatan, atau kedekatan geografis, terhadap keterlibatan seseorang dalam sebuah kelompok tidak bisa diukur. Kita membentuk kelompok bermain dengan orang-orang di sekitar kita. Kita bergabung dengan kelompok kegiatan sosial lokal. Kelompok tersusun atas individu-individu yang saling berinteraksi. Semakin dekat jarak geografis antara dua orang, semakin mungkin mereka saling melihat, berbicara, dan bersosialisasi. Singkatnya, kedekatan fisik meningkatkan peluang interaksi dan bentuk kegiatan bersama yang memungkinkan terbentuknya kelompok sosial. Jadi, kedekatan menumbuhkan interaksi, yang memainkan peranan penting terhadap terbentuknya kelompok pertemanan.

[sunting] Kesamaan

Pembentukan kelompok sosial tidak hanya tergantung pada kedekatan fisik, tetapi juga kesamaan di antara anggota-anggotanya. Sudah menjadi kebiasaan, orang leih suka berhubungan dengan orang yang memiliki kesamaan dengan dirinya. Kesamaan yang dimaksud adalah kesamaan minat, kepercayaan, nilai, usia, tingkat intelejensi, atau karakter-karakter personal lain. Kesamaan juga merupakan faktor utama dalam memilih calon pasangan untuk membentuk kelompok sosial yang disebut keluarga.

[sunting] Pembentukan norma kelompok

Perilaku kelompok, sebagaimana semua perilaku sosial, sangat dipengaruhi oleh norma-norma yang berlaku dalam kelompok itu. Sebagaimana dalam dunia sosial pada umumnya, kegiatan dalam kelompok tidak muncul secara acak. Setiap kelompok memiliki suatu pandangan tentang perilaku mana yang dianggap pantas untuk dijalankan para anggotanya, dan norma-norma ini mengarahkan interaksi kelompok.

Norma muncul melalui proses interaksi yang perlahan-lahan di antara anggota kelompok. Pada saat seseorang berprilaku tertentu pihak lain menilai kepantasasn atau ketidakpantasan perilaku tersebut, atau menyarankan perilaku alternatif (langsung atau tidak langsung). Norma terbetnuk dari proses akumulatif interaksi kelompok. Jadi, ketika seseorang masuk ke dalam sebuah kelompok, perlahan-lahan akan terbentuk norma, yaitu norma kelompok.

http://id.wikipedia.org/wiki/Kelompok_sosial
_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+__+_+_+_+_+_+_+_+





KELOMPOK SOSIAL


1.

Faktor-faktor yang mendasari manusia berkelompok:
2.

Apakah yang di maksud dengan kelompok sosial:
3.

Bentuk-bentuk kelompok sosial menurut beberapa para ahli sosiologi
4.

Pengertian kelompok Teratur & Tidak Teratur (ciri-ciri, contoh, dll)
5.

Ciri-ciri atau karasteristik masyarakat kota & masyarakat desa.


1.

Faktor-faktor yang mendasari manusia berkelompok:

*

Adanya persamaan senasib
*

Tujuan yang sama
*

Ideologi yang sama
*

Musuh bersama
*

Suku bangsa yang sama atau kelompok etnik


Kelompok sosial adalah:

Kelompok sosial (social group) merupakan suatu himpunan atau suatu kesatuan-kesatuan manusia manusia yang hidup bersama, yang disebabkan oleh adanya hubungan antara mereka yang menyangkut hubungan timbal-balik yang saling mempengaruhi dan adanya kesadaran untuk saling tolong menolong. Soial group merupakan pengumpulan atau agregasi yang teratur.


Bentuk-bentuk kelompok sosial menurut para ahli:

1.

In Group dan Out Group

Summer membedakan antara in group dan out group. In Group merupakan kelompok social yang dijadikan tempat oleh individu-individunya untuk mengidentifikasikan dirinya. Out Group merupakan kelompok sosial yang oleh individunya diartikan sebagai lawan in Group. Contoh: Istilah “kita” atau “kami” menunjukkan adanya artikulasi in group, sedangkan “mereka” berartikulasi out group.

2.

Kelompok primer dan sekunder

Charles Horton Cooley mengemukakan tentang kelompok primer yang ditandai dengan ciri-ciri saling mengenal antara anggota-anggotanya, kerja sama yang erat dan bersifat pribadi,interaksi sosial dilakukan secara tatap muka (face to face). Kelompok sekunder adalah kelompok sosial yang terdiri dari banyak orang, antara siapa hubungannya tidak perlu berdasarkan pengenalan secara pribadi dan juga sifatnya tidak begitu langgeng.

3.

Gemainschaft dan gesellschaft

Ferdinand Tonnies mengemukakan tentang hubungan antara individu-individu dalam kelompok sosial sebagai Gemainschaft (paguyuban) dan gesellschaft (patembayan). Gemainschaft merupakan bentuk-bentuk kehidupan yang di mana para anggota-anggotanya diikat oleh hubungan batin yang murni, bersifat ilmiah, dan kekal. Contoh: keluarga, kelompok kekerabatan, rukun tetangga, dll. Gesellschaft (patembayan) merupakan ikatan lahir yang bersifat pokok untuk jangka waktu tertentu (yang pendek) atau bersifat kontraktual. Contoh: hubungan perjanjian perdagangan, organisasi formal, organisasi suatu perusahaan, dll.

4.

Kelompok Formal dan Informal

J.A.A. Van Doorn membedakan kelomok Formal dan Informal. Kelompok Formal mempunyai peraturan yang tegas dan sengaja diciptakan oleh para anggotanya untuk mengatur hubungan mereka, misalnya pemerintah memilih ketua, iuran anggota, dll. Kelompok Informal tidak mempunyai struktur atau organisasi tertentu . Kelompok ini terbentuk karena pertemuan berulang-ulang, misal kelompok dalam belajar.

5.

Membership group dan reference group

Robert K. Merton membedakan kelompok membership dengan kelompok reference. Kelompok membership merupakan kelompok yang para anggotanya tercatat secara fisik sebagai anggota, sedangkan kelompok reference merupakan kelompok sosial yang dijadikan acuan atau rujukan oleh individu-individu yang tidak tercatat dalam anggota kelompok tersebut untuk membentuk atau mengembangkan kepribadiannya atau dalam berperilaku.


Kelompok teratur dan tidak teratur:

Kelompok teratur merupakan kelompok yang mempunyai peraturan tegas dan sengaja diciptakan anggota-anggotanya untuk mengatur hubungan antarmereka. Ciri-ciri kelompok teratur:

*

Memiliki identitas kolektif yang tegas (misalnya tampak pada nama kelompok, simbol kelompok,dll).
*

Memiliki daftar anggota yang rinci.
*

Memiliki program kegiatan yang terus-menerus diarahkan kepada pencapaian tujuan yang jelas.
*

Memiliki prosedur keanggotaan.

Contoh kelompok teratur antara lain berbagai perkumpulan pelajar atau mahasiswa, instansi pemerintahan, parpol, organisasi massa, perusahaan, dll.


Kelompok tidak teratur merupakan kelompok yang tidak mempunyai struktur atau organisasi tertentu. Kelompok ini terbentk karena pertemuan yang berulang-ulang. Contoh kelompok belajar, klik, dll. Menurut Soerjono Soekanto, klik adalah suatu kelompok kecil tanpa struktur formal yang sering timbul dalam kelompok-kelompok besar. Klik ini ditandai dengan adanya pertemuan-pertemuan timbal balik antaranggota, biasanya hanya bersifat “antara kita saja”.


Ciri-ciri dan karateristik masyarakat kota dan masyarkat desa

Masyarakat Kota:

Ciri-ciri masyarakat kota:

1.

Pengaruh alam terhadap masyarakat kota kecil
2.

Mata pencahariannya sangat beragam sesuai dengan keahlian dan ketrampilannya.
3.

Corak kehidupan sosialnya bersifat gessel schaft (patembayan), lebih individual dan kompetitif.
4.

Keadaan penduduk dari status sosialnya sangat heterogen
5.

Stratifikasi dan diferensiasi sosial sangat mencolok. Dasar stratifikasi adalah pendidikan, kekuasaan, kekayaan, prestasi, dll.
6.

Interaksi sosial kurang akrab dan kurang peduli terhadap lingkungannya. Dasar hubungannya adalah kepentingan.
7.

Keterikatan terhadap tradisi sangat kecil
8.

Masyarakat kota umumnya berpendidikan lebih tinggi, rasional, menghargai waktu, kerja keras, dan kebebasan
9.

Jumlah warga kota lebih banyak, padat, dan heterogen
10.

Pembagian dan spesialisasi kerja lebih banyak dan nyata
11.

Kehidupan sosial ekonomi, politik dan budaya amat dinamis, sehingga perkembangannya sangat cepat
12.

Masyarkatnya terbuka, demokratis, kritis, dan mudah menerima unsur-unsur pembaharuan.
13.

Pranata sosialnya bersifat formal sesuai dengan undang-undang dan peraturan yang berlaku
14.

Memiliki sarana – prasarana dan fasilitas kehidupan yang sangat banyak.


Karateristik masyarakat kota:

1.

Anonimitas

Kebanyakan warga kota menghabiskan waktunya di tengah-tengah kumpulan manusia yang anonim.Heterogenitas kehidupan kota dengan keaneka ragaman manusianya yang berlatar belakang kelompok ras, etnik, kepercayaan, pekerjaan, kelas sosial yang berbeda-beda mempertajam suasana anonim.

2.

Jarak Sosial

Secara fisik orang-orang dalam keramaian, akan tetapi mereka hidup berjauhan.

3.

Keteraturan

Keteraturan kehidupan kota lebih banyak diatur oleh aturan-aturan legal rasional. (contoh: rambu-rambu lalu lintas, jadwal kereta api, acara televisi, jam kerja, dll)

4.

Keramaian (Crowding)

Keramaian berkaitan dengan kepadatan dan tingginya tingkat aktivitas penduduk kota. Sehingga mereka suatu saat berkerumun pada pusat keramaian tertentu yang bersifat sementara (tidak permanen).

5.

Kepribadian Kota

Sorokh, Zimmerman, dan Louis Wirth menyimpulkan bahwa kehidupan kota menciptakan kepribadian kota, materealistis, berorientasi, kepentingan, berdikari (self sufficient), impersonal, tergesa-gesa, interaksi social dangkal, manipualtif, insekuritas (perasaan tidak aman) dan disorganisasi pribadi.




Masyarakat Desa:

Ciri-ciri masyarakat pedesaan:

1.

Letaknya relatif jauh dari kota dan bersifat rural
2.

Lingkungan alam masih besar peranan dan pengaruhnya terhadap kehidupan masyarakat pedesaan
3.

Mata pencaharian bercorak agraris dan relatif homogen (bertani, beternak, nelayan, dll)
4.

Corak kehidupan sosialnya bersifat gemain schaft (paguyuban ddan memiliki community sentiment yang kuat)
5.

Keadaan penduduk (asal-usul), tingkat ekonomi, pendidikan dan kebudayaannya relatif homogen.
6.

Interaksi sosial antar warga desa lebih intim dan langgeng serta bersifat familistik
7.

Memiliki keterikatan yang kuat terhadap tanah kelahirannya dan tradisi-tradisi warisan leluhurnya
8.

Masyarakat desa sangat menjunjung tinggi prinsip-prinsip kebersamaan / gotong royong kekeluargaan, solidaritas, musyawarah, kerukunan dan kterlibatan social.
9.

Jumlah warganya relatif kecil dengan penguasaan IPTEK relatif rendah, sehingga produksi barang dan jasa relatif juga rendah
10.

Pembagian kerja dan spesialisasi belum banyak dikenal, sehingga deferensiasi sosial masih sedikit
11.

Kehidupan sosial budayanya bersifat statis, dan monoton dengan tingkat perkembangan yang lamban.
12.

Masyarakatnya kurang terbuka, kurang kritis, pasrah terhadap nasib, dan sulit menerima unsur-unsur baru
13.

Memiliki sistem nilai budaya (aturan moral) yang mengikat dan dipedomi warganya dalam melakukan interaksi sosial. Aturan itu umumnya tidak tertulis
14.

Penduduk desa bersifat konservatif, tetapi sangat loyal kepada pemimpinnya dan menjunjung tinggi tata nilai dan norma-norma ang berlaku.


Karakteristik masyakat pedesaan:

Menurut Landis, terdapat beberapa karateristik masyarakat desa, a.l:

1.

Umumnya mereka curiga terhadap orang luar yang masuk
2.

Para orang tua umumya otoriter terhadap anak-anaknya
3.

Cara berfkir dn sikapnya konservatif dan statis
4.

Mereka amat toleran terhadap ninlai-nlai budayanya sendiri, sehingga kurang toleran terhadap budaya lain
5.

Adanya sikap pasrah menerima nasib dan kurang kompetitif
6.

Memiliki sikap udik dan isolatif serta kurang komunikatif dengan kelompok sosial diatasnya.


http://scooteris.multiply.com/journal/item/11/KELOMPOK_SOSIAL
_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+__+_+_+_+_+_+_+_+

Friday, January 2, 2009
Kajian Dalam Memahami Tawuran Mahasiswa di Makassar

Saya selalu agak sedih ketika teman-teman dari luar Sulsel selalu bilang Sulsel sekarang terkenal saja ya dengan tawurannya! Ironi memang. Itu sebabnya tawuran antar mahasiswa harus menjadi PR serius bagi dunia pendidikan di Sulsel, karena perilaku tawuran seperti ini akan terus berlangsung sepanjang hal ini tidak ditangani secara komprehensif. Sedihnya, respons petinggi pemerintahan, pejabat keamanan, petinggi pendidikan, bahkan beberapa mahasiswa internal sendiri kurang bersimpati bahkan sangat tidak memadai. Para pakar hanya berkomentar atas tawuran ketika tawuran muncul dan tidak ada studi khusus untuk itu. Penyebutan tindakan mereka sebagai tindakan yang memalukan daerah, mahasiswa yang diprovokasi, bodoh dan marjinal menjelaskan kepada kita bahwa tindakan tawuran mahasiswa sepertinya tidak dipahami sebagai masalah sosial budaya yang sudah menjadi kultur bangsa ini.

Kita tahu bahwa tawuran mahasiswa tidak beda dengan tawuran lainnya dalam mayarakat Indonesia. Di Jawa ada tawuran antar desa, antar kelompok, antar banjar di Bali. Ini sekadar contoh dari ribuan contoh yang ada di Indonesia, bahkan di sebagian negara di Timur. Ini sebuah ciri solidaritas kelompok yang membela salah satu anggotanya. Fenomena seperti ini dalam masalah sosiologi budaya disebut sebagai solidaritas kelompok (corporate solidarity). Fenomena seperti ini merupakan lawan dari semangat individualitistik dalam masyarakat Barat. Itu sebabnya banyak orang tidak mengerti mengapa hanya karena masalah sepele satu orang menjadi masalah bersama. Satu pemuda mengganggu gadis dari desa lain, berakhir dengan serangan dari pihak pemuda di mana gadis itu berasal. Hal aneh, namun selalu ada. Ini memang sebuah dilema. Karena solidaritas kelompok bisa menjadi sebuah gerakan positif seperti gotong royong, kerja lainnya secara bersama, namun ia bisa berubah liar menjadi gerakan yang destruktif dan amat menghancurkan citra sebuah peradaban dan bahkan menimbulkan stereotipe. Itu sebabnya ada satu bahasa Indonesia yang sudah masuk dalam entri dan dipakai sebagai bahasa Inggris yaitu Amok. Tindakan seperti ini harus dipahami sebagai bentuk penegasan identitas atau diistilahkan sebagai identitas kelompok (corporate identity). Corak kelompok selalu ditandai dengan keseragaman, karena mereka mengidentikkan diri mereka ke dalam kelompok. Misalnya, kelompok elit di masyarakat ditandai dengan atribut dan asesoris konsumtif yang berbeda dengan kelompok marjinal yang beridentitas pinggiran, kasar, dan seringkali dianggap tidak tahu tata krama. Itu sebabnya dalam kelompok sosial selalu ada disebut “we group” dan lainnya “out-group” atau “they group” (Paul Hiebert, Cultural Anthropology, Grand Rapids, Mich.: Baker, 1983, hal. 183-184). Pengelompokan ini selalu ditandai dengan kebanggan kelompok (pride) dan meminggirkan kelompok lain (discrimination).

Dengan memahami corak ini, maka seharusnya tawuran ini bukan hal yang mengagetkan dan bukan suatu fenomena yang aneh. Mungkin orang tidak mengerti karena menganggap mahasiswa sebagai komunitas intelektual yang tidak seharusnya melakukan tawuran. Namun, bila kita memahami prinsip solidaritas kelompok dan identitas kelompok ini di komunitas intelektual, maka ini menunjukkan bahwa ada masalah budaya pada komunitas pendidikan kita di Sulsel. Itu sebabnya masalah tawuran ini sejatinya bisa diselesaikan secara komprehensif dan bukan tindakan reaktif dan parsial, apalagi memakai tindakan kecaman. Pendekatan keamanan oleh polisi sudah sangat tepat. Namun lembaga pendidikanlah yang seharusnya bertanggung jawab atas mahasiswa. Jangan hanya menerima mereka dan uang mereka sebagai mahasiswa namun malu mengakui tindakan mereka yang negatif. Di mana tanggung jawab pendidikan sebuah institusi yang terakreditasi di mana unsur di luar mengajar seperti academic atmosphere antara dosen dan mahasiswa harus tercipta justru lebih banyak di luar kelas?

Tawuran karena Miskin?

Dalam memahami tindakan anakisme mahasiswa, pernah seorang penulis dalam suatu tulisan di Tribun Timur “Anarkisme Mahasiswa Makassar” (oleh Irwan di Tribun Timur, 29 Nov. 2008, hal 2) menyimpulkan tentang tawuran sebagai berikut: “Ada dua ciri utama dari mahasiswa Makassar yang sering terlibat dalam aksi anarkis selama ini. Mereka umumnya berasal dari komunitas marjinal. Baik aspek latar belakang ekonomi keluarga, asal institusi, maupun interaksi antara mahasiswa dan pihak birokrasi di kampus mereka.” Ditambahkannya lagi, “Aksi anarkis jarang dilakukan oleh mahasiswa dari perguruan tinggi elite atau mahasiswa yang memiliki prestasi akademik dan perguruan tingi yang memiliki suasana kampus yang mendukung.” Tulisan ini menggelitik penulis, karena kesimpulan yang dibuat baru merupakan pengamatan kasat mata yang dangkal. Seharusnya ada riset yang mendalam untuk itu di Sulsel. Riset literatur sampai saat ini menyatakan bahwa kemiskinan bukan sumber kekerasan, tetapi sumber eksploitasi dari orang kaya sehingga terjadi kekerasan. Pelaku itu dicap sebagai orang marjinal dan miskin sehingga merekalah dalang kekerasan, padahal bukan. Pada konteks mahasiswa yang dianggap marjinal ini justru telah menjadi korban atas kesewang-wenangan lembaga pendidikan yang tidak peduli kepada mereka (syukur itu juga dimasukkan oleh Irwan, yang mana saya setuju). Percakapan di kalangan mahasiswa tentang mengajar tidak becus, fasilitas seperti laboratorium tidak ada, memeriksa tugas tidak benar, pemberian nilai yang tidak adil, dan nilai bisa dibeli merupakan masalah besar yang tidak pernah ditangani dunia pendidikan di Indonesia. Mahasiswa marjinal ini akhirnya kalah menyaksikan gaya pamer ala perguruan tingi lainnya, di mana mobil mewah berseliweran, gaya konsumtif lewat HP terbaru dan laptop tercanggih, sementara yang marjinal masuk ke PT murahan yang hanya datang dengan motor kreditan atau numpang kendaraan umum. Bahkan mendapat identitas kasar dan tidak tahu tata krama. Disinilah identitas keompok terbentuk dan untuk membuktikan eksistensinya, mereka mulai menunjukkan identitas yang menyedihkan lewat tindakan destruktif. Dapat disimpulkan bahwa tindakan diskriminasi menghasilkan pride yang destruktif yaitu tawuran yang anarkis.

Tanggung Jawab Lembaga Pendidikan

Perlu penegasan sekali lagi bahwa lembaga pendidikanlah yang bertanggung jawab akan hal ini. Ada beberapa solusi yang penulis ajukan. Pertama, pentingnya pendekatan mentorship (mementor) dan fellowship (persekutuan). Dosen perlu turun bergaul dalam acara-acara non-formal di luar kelas. Setiap minggu dosen seharusnya diwajibkan pergi ke kantin mahasiswa dan berbaur di sana. Sudah menjadi rahasia umum dosen senior, profesor tidak lagi mengajar di kampus, dan hanya serahkan kepada asisten dosen. Mereka sibuk cari obyekan di luar. Dan kalaupun ada di kampus, tak tersentuh karena ada di ruang kantor yang ber-AC. Pengalaman penulis studi S3 di Amerika, di mana setiap Senin dan Kamis, dosen-dosen postgraduate ikut makan di kantin dan berbaur dengan mahasiswa. Dan itu membuat mahasiswa merasa bangga berada dan bisa berdialog dengan dosen-dosen yang punya reputasi internasional. Bila waktu tawuran mahasiswa, baru dosen dan petinggi lembaga pendidikan baru turun tangan, jangan-jangan itu dijadikan budaya mendatangkan dosen agar mau berdialog dengan mereka. Mahasiswa butuh perhatian dan dialog, dan ini adalah tanggung jawab pendidik. Cukup satu jam seminggu saja para dosen keluar dari comfort zone-nya lalu berbaur dengan mereka, maka masalah marjinalisasi mahasiswa dapat diatasi.

Kedua, lembaga pendidikan harus berpihak kepada mahasiswa marjinal, baik dari sosial ekonomi maupun kepada mereka yang merasakan diskriminasi dalam pergaulan. Amat menyedihkan bahwa mahasiswa elit dan marjinal selalu terpisahkan, baik dari sisi fakultas maupun dalam kelompok. Ada kelompok bermobil dengan komunitasnya sendiri dengan acara-acara ekstra mewahnya sehinga menciptakan klub sendiri, namun ada kelompok marjinal dengan kegiatannya sendiri. Antara “we group” and “they group” menjadi kasat mata. Hal seperti ini tidak dapat dibiarkan. Seharusnya semua merasa sebagai “we-group” dan meminimalisasi “they group”. Contoh, kepedulian mahasiswa (compassion) secara sosial seharusnya dihidupkan di dalam internal kampus, bukan hanya urusan keluar menolong yang miskin. Misalnya, ada mahasiswa yang kurang bisa dibantu. Pemberian beasiswa tidaklah harus diberikan dengan syarat IPK tinggi saja, namun kepada yang bersungguh-sungguh walaupun IPK sedang. Ini hanya satu contoh dari sekian banyak contoh.

Sepatutnya pejabat di Sulsel, termasuk pihak keamanan sabar akan tindakan destruktif mahasiswa ini. Hanya membuat statemen di mimbar-mimbar elit hotel berbintang, lalu saling menyalahkan tidak akan menyelesaikan masalah. Kajian reflektif atas maraknya tawuran di kampus harus dibaca sebagai reaksi mahasiswa marjinal atas sikap elitis, koruptif dan asosial dari penyelenggara pendidikan dan kelompok elit kampus. Mereka hanya memeras uang mahasiswa tanpa memberikan pelayanan yang maksimal (tentu tidak semua). Tindakan yang elitis menyebabkan mahasiswa marjinal secara sosial dan intelektual terkelompok sebagai yang memiliki nasib yang sama (corporate solidarity). Akhirnya tindakan tawuran ini jangan-jangan merupakan eksploitasi kita, entah itu memprovokasinya atau meremehkannya sehingga mengerasnya identitas kelompok (corporate identity). Pertanyaan menantang, masihkah kita peduli kepada mereka itu?

http://danielronda.blogspot.com/2009/01/kajian-dalam-memahami-tawuran-mahasiswa.html
_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+__+_+_+_+_+_+_+_+

Tue, 21 Aug 2001 18:31:12 -0700
Assalamu'alaikum Wr Wb
Info dibawah ini hanyalah sekedar tambahan wacana; mohon ma'af bilamana tidak berkenan.
Wassalamu'alaikum Wr Wb

IAIN: Ingkar Allah Ingkar Nabi?

Manfaat apa saja yang dirasakan ummat Islam Indonesia sejak kelahiran IAIN? Sering diidentikkan dengan para sarjana agama berpikiran nyeleneh, banyak mahasiswanya yang tidak shalat dan melakoni seks bebas. Wah.

Pluralisme, yang bisa melunturkan militansi dan kecintaan umat terhadap Islam, tenyata justru banyak berembus dari lembaga pendidikan Islam sendiri. Yang banyak dinilai berada di garis depan dalam menjalani peran itu adalah Interkenal adalah heboh kasus gerakan pembaharuan keagamaan Nurcholish Madjid yang berintikan ajaran sekularisme pemikiran.

Kasus lain, misalnya kasus Nasaruddin Umar yang pernah membela habis-habisan Anand Khrisna, tokoh spiritual lintas agama yang sering memanfaatkan simbol-simbol Islam dan menafsirkan Quran untuk kepentingan ajaran-ajaran spiritualnya. Dosen IAIN ini bahkan pernah mengundang Anand berikut para pengikutnya dari berbagai agama untuk masuk ke Masjid Fathullah, IAIN Jakarta dalam rangka menggelar kajian mereka. Lia Aminudin, yang masih heboh karena agama baru buatannya pun pernah diboyong pakar masalah gender ini ke rumah Allah itu.

Kasus lainnya adalah keterlibatan sejumlah dosen IAIN Jakarta sebagai tenaga pengajar bagi 40 SKS mata kuliah keislaman di Sekolah Tinggi Teologi (STT) Apostolos. Mereka, antara lain Dr Mulyadhi Kertanegara, Dr Amsal Bachtiar, Alimun Hanif MA dan lain-lain. Uniknya, mereka tidak tahu kalau lembaga itu, dalam brosurnya, secara jelas bertujuan ingin mencetak misionaris yang akan memurtadkan ummat Islam sendiri.

Masih banyak kasus kontroversial yang muncul di tengah ummat sebagai dampak negatif dari merebaknya paham pluralisme yang tumbuh di IAIN. Tapi sesungguhnya, itu baru sebagian kecil saja, karena selain pluralisme ada sejumlah faham lain yang tidak kalah dahsyatnya dalam menciptakan kontroversi. Faham-faham itu lahir dari wacana pemikiran yang berkembang di IAIN.

Menurut, Muhammad Jamilun, Ketua Umum Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) cabang Ciputat, di Kampus Pembaharu itu, wacana-wacana pemikiran yang cukup dominan berkembang adalah Islam Inklusif, Islam Liberal dan Islam Modern. Begitu dominannya sampai pernah terbit buku tentang mazhab Ciputat. "Di IAIN Jakarta memang cukup variatif corak pikir mahasiswanya," ujarnya.

Apa yang disebut Islam Inklusif adalah wacana tentang Islam yang terbuka dan menerima segala macam pemikiran serta keyakinan. Wacana ini bersifat lintas agama dan ideologi. Islam Liberal adalah wacana yang mengarah kepada kebebasan berfikir. Berfikir apa saja, dari sumber mana saja, dengan metode bagaimana saja, tanpa ada pembatasan-pembatasan nilai. Sementara Islam Modern mengacu kepada upaya memunculkan gagasan kemajuan yang berkiblat ke Barat.

Wacana-wacana Islam demikianlah yang lalu menumbuhkan kecenderungan elemen-elemen di IAIN, terutama mahasiswa, untuk menggandrungi sejumlah faham yang berisi pemikiran-pemikiran kontroversial. Diantara faham itu adalah Marxisme, perenialisme, sekulerisme dan rasionalisme dan lain-lain.

Marxisme adalah faham yang mengajarkan prinsip-prinsip gerakan sosial (sosialisme) bagi kaum komunis yang anti Tuhan. Perenialisme adalah faham yang mengajarkan bahwa pada dasarnya semua agama itu berasal dari satu sumber spiritual yang sama, karena itu semuanya juga benar.

Sekularisme adalah faham yang memisahkan agama dari segala urusan duniawi. Agama tidak boleh ikut campur dalam masalah-masalah keduniaan. Sedangkan rasionalisme, adalah faham yang menjadikan rasio sebagai landasan satu-satunya dalam berfikir dan bertindak, dimana segala sesuatu harus diukur dengan menggunakan pertimbangan akal semata.

Menurut Jamilun, di berbagai jenjang dan di tingkatan organisasi intra maupun ekstra IAIN memang sudah lama muncul pemikiran-pemikiran yang mengedepankan proses liberalisasi tersebut. Corak berpikir itu tumbuh sebagai upaya untuk mendekonstruksi (membongkar) kemapanan yang selama ini terjadi, baik di IAIN atau di masyarakat lebih luas "Dan itu memang riil dan faktual ada di lingkungan Ciputat," tegas mahasiswa semester XII, Fakultas Tarbiyah jurusan Pendidikan Agama Islam ini.

Seks Bebas

Sudah barang tentu, dalam hukum kehidupan, aspek pemikiran merupakan landasan dari setiap perilaku. Kalau kultur pemikiran yang berkembang di IAIN umumnya liberal seperti itu, seperti apa kultur perilaku elemen-elemen IAIN, terutama mahasiswanya? Sejumlah fakta berikut ini bisa memberikan gambaran.

Beberapa bulan lalu, sepasang mahasiswa-mahasiswi IAIN Jakarta tertangkap basah sedang berzina di tempat kost mereka. Lantaran itu sekelompok mahasiswa dari LDK, menggelar kampanye anti maksiat. Akhirnya IAIN pun memecat mereka.

Menurut laporan Iqbal, aktivis kelompok itu yang melakukan investigasi, ternyata di rumah kost tersebut sudah terjadi lima kasus serupa dengan orang yang berbeda. "Cuma IAIN tidak berani mengeksposnya, karena malu," ungkap mahasiswa jurusan Psikologi itu.

Sahid sendiri pernah menerima pengakuan dari seorang mahasiswa yang telah melakukan kumpul kebo, hidup serumah tanpa nikah, dengan seorang mahasiswi adik kelasnya. Sahid juga sering menerima laporan lain bahwa kasus-kasus hubungan haram itu, baik pacaran dan berzina, sering juga terjadi antara mahasiswa dengan warga sekitar IAIN. Begitulah memang kultur perilaku yang sekarang ini tengah berlangsung di IAIN.

Dari observasi Sahid, kultur perilaku mahasiswa IAIN, khususnya IAIN Jakarta, memang cenderung liberal dan permisif (serba boleh), dalam arti mengabaikan akhlak-akhlak Islami. Mulai dari cara bicara, berpakaian, bersikap, bergaul dan berbagai aktivitas keseharian lainnya, mereka cenderung lepas dari tuntunan nilai-nilai Islam.

Aspek ibadah juga kerap diabaikan. Tidak sedikit dari mahasiswa IAIN yang tidak lagi mengerjakan shalat karena berfikir bahwa yang penting dalam Islam itu penghayatan aspek substansi (inti), bukan pengamalan aspek formal-ritual (tata cara ibadah).

Mahasiswi berpakaian ketat pun tidak sedikit di sana. Bedanya, saat kuliah kepala mereka tertutup jilbab, itupun kebanyakan jilbab mini, tapi usai kuliah tidak sedikit mereka yang melepasnya.

Kalau mahasiswinya banyak yang gandrung dengan busana perangsang birahi, maka para mahasiswanya banyak yang gemar tampil metal, rambut gondrong, kaus oblong dan celana bolong (di lutut).

Wartawan Sahid yang meliput langsung ke IAIN Sunan Ampel, Surabaya, IAIN Sunan Gunung Jati, Bandung dan IAIN Sunan Kalijaga melihat pemandangan yang sama. Seperti halnya di IAIN Jakarta, di ketiga IAIN itu penampilan para mahasiswa dan mahasiswinya, baik di dalam maupun di luar kampus, sama saja dengan kehidupan generasi muda pada umumnya.

Di Bandung, mahasiswa IAIN malah cendrung hedonistik (mencari kesenangan nafsu), sesuai dengan kultur Bandung yang dijuluki sebagai Paris Indonesia. Tak pandang malam atau siang, mereka biasa berkhalwat (berduaan dengan yang bukan muhrim) di tempat-tempat umum seperti kelas, sekretariat, taman, masjid, perpustakaan, warung, bioskop dan lain-lain.

Pemandangan mahasiswa-mahasiswi yang boncengan sepeda motor antara yang bukan muhrim juga menjadi sesuatu yang lazim. Yang memprihatinkan, pacaran di tempat tertutup seperti di kost-kost, juga menjadi suatu budaya yang lekat di kalangan mereka.

Menurut Anwar Saleh, Ketua LDK IAIN, keadaan di atas merupakan dampak dari kultur intelektual IAIN karena pengaruh faham liberalisme para dosen lulusan Barat, terutama Harun Nasution. "Ya, kita tahu sendirilah, bagaimana kehidupan Barat yang menerapkan prinsip-prinsip kebebasan itu," kata mahasiswa Fakultas Tarbiyah itu.

Dengan alasan untuk menjunjung obyektivitas ilmiah, metode belajar di IAIN kerap menjadi bebas nilai. "Kalian boleh memikirkan apa saja, tapi lepaskan dulu keyakinan kalian yang lama, jangan sampai kalian terkungkung," tutur Anwar menirukan doktrin dari seorang dosennya yang dianggap liberal.

Jamilun juga tidak menafikan dampak negatif dari corak berpikir liberal tersebut. Menurutnya, pemikiran tersebut memang terimplementasikan ke dalam perilaku praktis. "Tapi saya pikir tidak semua mereka yang berperilaku liberal itu berangkat dari pemikiran yang liberal juga," tandasnya.

Berbeda dengan pandangan itu, Ahmad Fuad Fanani, ketua Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) cabang Ciputat menilai, budaya negatif itu bukan disebabkan oleh pemikiran liberal, melainkan karena mereka mengalami keterkejutan budaya (culture shock). Setelah di pesantren dikekang oleh berbagai peraturan mengikat, ketika menjadi mahasiswa mereka merasa bebas. "Mereka jadi biasa jalan dengan yang bukan muhrim dan mulai tidak shalat," jelas mahasiswa jurusan Tafsir Hadits ini.

Senada dengan Fuad, DR Kautsar Azhari Noer melihat bahwa mahasiswa IAIN yang akhlaknya kurang terpuji disebabkan karena mereka belum matang dalam intelektualnya. "Mereka itu masih puber," nilai dosen Fakultas Ushuluddin ini.

Pakar ilmu perbandingan agama itu juga membantah kalau IAIN dianggap liberal, karena menurutnya banyak juga pemikir dari IAIN yang tradisional dan moderat. Menurutnya, mungkin ada beberapa tokoh yang liberal, tapi itu kemudian dianggap mewakili seluruh IAIN, padahal di IAIN itu sendiri ada keragaman. "Untuk sebagian mungkin ya (liberal), tapi kan tidak semua produk IAIN seperti itu." jelas penganut faham perenialisme ini.

Pernyataan Kautsar memang benar. Sejak tahun 90-an, memang sudah ada gerakan kultural yang berusaha menyeimbangkan kecenderungan ilmiah yang dominan di IAIN dengan aspek imaniyah dan amaliyah. Mereka, antara lain adalah para aktivis gerakan dakwah Tarbiyah yang merepresentasikan dirinya dalam wadah Lembaga Dakwah Kampus (LDK). "Pemikiran mereka adalah sintesis yang mencoba menawarkan perpaduan intelektualitas dengan spiritualitas dan moralitas," nilai Jamilun.

Dalam falsafah gerakan mereka, anak-anak mushala ini bahkan juga memadukan sintesis itu dengan aspek solidaritas dan profesionalitas. Semua itu direalisasikan lewat aplikasi amal shaleh serta amar makruf nahi munkar dalam setiap dinamika keseharian mereka.

Nampaknya, gerakan kultural yang dimotori mahasiswa kalem berjenggot dan berbaju gamis serta mahasiswi berbaju panjang dan berjilbab lebar ini memang ingin membuat perubahan besar di IAIN. Kalau memang ini benar-benar akan terwujud, insya Allah plesetan IAIN di atas akan berubah menjadi "Ittiba' Allah, Ittiba' Nabi" (Ikuti Allah, Ikuti Nabi). Semoga.• (Deka Kurniawan, Fitra Fathurrahman)

http://www.hidayatullah.com/2001/08/lapsus2.shtml
_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+__+_+_+_+_+_+_+_+


Gerakan mahasiswa di Indonesia
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Gerakan mahasiswa di Indonesia adalah kegiatan kemahasiswaan yang ada di dalam maupun di luar perguruan tinggi yang dilakukan untuk meningkatkan kecakapan, intelektualitas dan kemampuan kepemimpinan para aktivis yang terlibat di dalamnya.

Dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia, gerakan mahasiswa seringkali menjadi cikal bakal perjuangan nasional, seperti yang tampak dalam lembaran sejarah bangsa.
Daftar isi
[sembunyikan] [sembunyikan]

* 1 Sejarah
o 1.1 1908
o 1.2 1928
o 1.3 1945
o 1.4 1966
o 1.5 1974
o 1.6 1978
o 1.7 Era NKK/BKK
o 1.8 1990
o 1.9 1998
* 2 Pranala luar

[sunting] Sejarah

[sunting] 1908

Boedi Oetomo, merupakan wadah perjuangan yang pertama kali memiliki struktur pengorganisasian modern. Didirikan di Jakarta, 20 Mei 1908 oleh pemuda-pelajar-mahasiswa dari lembaga pendidikan STOVIA, wadah ini merupakan refleksi sikap kritis dan keresahan intelektual terlepas dari primordialisme Jawa yang ditampilkannya.

Pada konggres yang pertama di Yogyakarta, tanggal 5 Oktober 1908 menetapkan tujuan perkumpulan : Kemajuan yang selaras buat negeri dan bangsa, terutama dengan memajukan pengajaran, pertanian, peternakan dan dagang, teknik dan industri, serta kebudayaan.

Dalam 5 tahun permulaan BU sebagai perkumpulan, tempat keinginan-keinginan bergerak maju dapat dikeluarkan, tempat kebaktian terhadap bangsa dinyatakan, mempunyai kedudukan monopoli dan oleh karena itu BU maju pesat, tercatat akhir tahun 1909 telah mempunyai 40 cabang dengan lk.10.000 anggota.

Disamping itu, para mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Belanda, salah satunya Mohammad Hatta yang saat itu sedang belajar di Nederland Handelshogeschool di Rotterdam mendirikan Indische Vereeninging yang kemudian berubah nama menjadi Indonesische Vereeninging tahun 1922, disesuaikan dengan perkembangan dari pusat kegiatan diskusi menjadi wadah yang berorientasi politik dengan jelas. Dan terakhir untuk lebih mempertegas identitas nasionalisme yang diperjuangkan, organisasi ini kembali berganti nama baru menjadi Perhimpunan Indonesia, tahun 1925.

Berdirinya Indische Vereeninging dan organisasi-organisasi lain,seperti: Indische Partij yang melontarkan propaganda kemerdekaan Indonesia, Sarekat Islam, dan Muhammadiyah yang beraliran nasionalis demokratis dengan dasar agama, Indische Sociaal Democratische Vereeninging (ISDV) yang berhaluan Marxisme, menambah jumlah haluan dan cita-cita terutama ke arah politik. Hal ini di satu sisi membantu perjuangan rakyat Indonesia, tetapi di sisi lain sangat melemahkan BU karena banyak orang kemudian memandang BU terlalu lembek oleh karena hanya menuju "kemajuan yang selaras" dan terlalu sempit keanggotaannya (hanya untuk daerah yang berkebudayaan Jawa) meninggalkan BU. Oleh karena cita-cita dan pemandangan umum berubah ke arah politik, BU juga akhirnya terpaksa terjun ke lapangan politik.

Kehadiran Boedi Oetomo,Indische Vereeninging, dll pada masa itu merupakan suatu episode sejarah yang menandai munculnya sebuah angkatan pembaharu dengan kaum terpelajar dan mahasiswa sebagai aktor terdepannya, yang pertama dalam sejarah Indonesia : generasi 1908, dengan misi utamanya menumbuhkan kesadaran kebangsaan dan hak-hak kemanusiaan dikalangan rakyat Indonesia untuk memperoleh kemerdekaan, dan mendorong semangat rakyat melalui penerangan-penerangan pendidikan yang mereka berikan, untuk berjuang membebaskan diri dari penindasan kolonialisme.

[sunting] 1928

Pada pertengahan 1923, serombongan mahasiswa yang bergabung dalam Indonesische Vereeninging (nantinya berubah menjadi Perhimpunan Indonesia) kembali ke tanah air. Kecewa dengan perkembangan kekuatan-kekuatan perjuangan di Indonesia, dan melihat situasi politik yang di hadapi, mereka membentuk kelompok studi yang dikenal amat berpengaruh, karena keaktifannya dalam diskursus kebangsaan saat itu. Pertama, adalah Kelompok Studi Indonesia (Indonesische Studie-club) yang dibentuk di Surabaya pada tanggal 29 Oktober 1924 oleh Soetomo. Kedua, Kelompok Studi Umum (Algemeene Studie-club) direalisasikan oleh para nasionalis dan mahasiswa Sekolah Tinggi Teknik di Bandung yang dimotori oleh Soekarno pada tanggal 11 Juli 1925.

Diinspirasi oleh pembentukan Kelompok Studi Surabaya dan Bandung, menyusul kemudian Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), prototipe organisasi yang menghimpun seluruh elemen gerakan mahasiswa yang bersifat kebangsaan tahun 1926, Kelompok Studi St. Bellarmius yang menjadi wadah mahasiswa Katolik, Cristelijke Studenten Vereninging (CSV) bagi mahasiswa Kristen, dan Studenten Islam Studie-club (SIS) bagi mahasiswa Islam pada tahun 1930-an.

Dari kebangkitan kaum terpelajar, mahasiswa, intelektual, dan aktivis pemuda itulah, munculnya generasi baru pemuda Indonesia yang memunculkan Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Sumpah Pemuda dicetuskan melalui Konggres Pemuda II yang berlangsung di Jakarta pada 26-28 Oktober 1928, dimotori oleh PPPI.

[sunting] 1945

Dalam perkembangan berikutnya, dari dinamika pergerakan nasional yang ditandai dengan kehadiran kelompok-kelompok studi, dan akibat pengaruh sikap penguasa Belanda yang menjadi Liberal, muncul kebutuhan baru untuk menjadi partai politik, terutama dengan tujuan memperoleh basis massa yang luas. Kelompok Studi Indonesia berubah menjadi Partai Bangsa Indonesia (PBI), sedangkan Kelompok Studi Umum menjadi Perserikatan Nasional Indonesia (PNI).

Secara umum kondisi pendidikan maupun kehidupan politik pada zaman pemerintahan Jepang jauh lebih represif dibandingkan dengan kolonial Belanda, antara lain dengan melakukan pelarangan terhadap segala kegiatan yang berbau politik; dan hal ini ditindak lanjuti dengan membubarkan segala organisasi pelajar dan mahasiswa, termasuk partai politik, serta insiden kecil di Sekolah Tinggi Kedokteran Jakarta yang mengakibatkan mahasiswa dipecat dan dipenjarakan.

Praktis, akibat kondisi yang vacuum tersebut, maka mahasiswa kebanyakan akhirnya memilih untuk lebih mengarahkan kegiatan dengan berkumpul dan berdiskusi, bersama para pemuda lainnya terutama di asrama-asrama. Tiga asrama yang terkenal dalam sejarah, berperan besar dalam melahirkan sejumlah tokoh, adalah Asrama Menteng Raya, Asrama Cikini, dan Asrama Kebon Sirih. Tokoh-tokoh inilah yang nantinya menjadi cikal bakal generasi 1945, yang menentukan kehidupan bangsa.

Salah satu peran angkatan muda 1945 yang bersejarah, dalam kasus gerakan kelompok bawah tanah yang antara lain dipimpin oleh Chairul Saleh dan Soekarni saat itu, yang terpaksa menculik dan mendesak Soekarno dan Hatta agar secepatnya memproklamirkan kemerdekaan, peristiwa ini dikenal kemudian dengan peristiwa Rengasdengklok.

[sunting] 1966

Sejak kemerdekaan, muncul kebutuhan akan aliansi antara kelompok-kelompok mahasiswa, diantaranya Perserikatan Perhimpunan Mahasiswa Indonesia (PPMI), yang dibentuk melalui Kongres Mahasiswa yang pertama di Malang tahun 1947.

Selanjutnya, dalam masa Demokrasi Liberal (1950-1959), seiring dengan penerapan sistem kepartaian yang majemuk saat itu, organisasi mahasiswa ekstra kampus kebanyakan merupakan organisasi dibawah partai-partai politik. Misalnya, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dekat dengan PNI, Concentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) dekat dengan PKI, Gerakan Mahasiswa Sosialis Indonesia (Gemsos) dengan PSI, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) berafiliasi dengan Partai NU, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dengan Masyumi, dan lain-lain.

Diantara organisasi mahasiswa pada masa itu, CGMI lebih menonjol setelah PKI tampil sebagai salah satu partai kuat hasil Pemilu 1955. CGMI secara berani menjalankan politik konfrontasi dengan organisasi mahasiswa lainnya, bahkan lebih jauh berusaha mempengaruhi PPMI, kenyataan ini menyebabkan perseteruan sengit antara CGMI dengan HMI, terutama dipicu karena banyaknya jabatan kepengurusan dalam PPMI yang direbut dan diduduki oleh CGMI dan juga GMNI-khususnya setelah Konggres V tahun 1961.

Mahasiswa membentuk Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) tanggal 25 Oktober 1966 yang merupakan hasil kesepakatan sejumlah organisasi yang berhasil dipertemukan oleh Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pendidikan (PTIP) Mayjen dr. Syarief Thayeb, yakni HMI,PMII,Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Sekretariat Bersama Organisasi-organisasi Lokal (SOMAL), Mahasiswa Pancasila (Mapancas), dan Ikatan Pers Mahasiswa (IPMI). Tujuan pendiriannya, terutama agar para aktivis mahasiswa dalam melancarkan perlawanan terhadap PKI menjadi lebih terkoordinasi dan memiliki kepemimpinan.

Munculnya KAMI diikuti berbagai aksi lainnya, seperti Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia (KAPI), Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI), Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia (KASI), dan lain-lain.

Pada tahun 1965 dan 1966, pemuda dan mahasiswa Indonesia banyak terlibat dalam perjuangan yang ikut mendirikan Orde Baru. Gerakan ini dikenal dengan istilah Angkatan '66, yang menjadi awal kebangkitan gerakan mahasiswa secara nasional, sementara sebelumnya gerakan-gerakan mahasiswa masih bersifat kedaerahan. Tokoh-tokoh mahasiswa saat itu adalah mereka yang kemudian berada pada lingkar kekuasaan Orde Baru, di antaranya Akbar Tanjung, Cosmas Batubara Sofyan Wanandi, Yusuf Wanandi, dll. Angkatan '66 mengangkat isu Komunis sebagai bahaya laten negara. Gerakan ini berhasil membangun kepercayaan masyarakat untuk mendukung mahasiswa menentang Komunis yang ditukangi oleh PKI (Partai Komunis Indonesia). Setelah Orde Lama berakhir, aktivis Angkatan '66 pun mendapat hadiah yaitu dengan banyak yang duduk di kursi DPR/MPR serta diangkat dalam kabibet pemerintahan Orde Baru. di masa ini ada salah satu tokoh yang sangat idealis,yang sampai sekarang menjadi panutan bagi mahasiswa-mahasiswa yang idealis setelah masanya,dia adalah seorang aktivis yang tidak peduli mau dimusuhi atau didekati yang penting pandangan idealisnya tercurahkan untuk bangsa ini,dia adealah soe hok gie

[sunting] 1974

Realitas berbeda yang dihadapi antara gerakan mahasiswa 1966 dan 1974, adalah bahwa jika generasi 1966 memiliki hubungan yang erat dengan kekuatan militer, untuk generasi 1974 yang dialami adalah konfrontasi dengan militer.

Sebelum gerakan mahasiswa 1974 meledak, bahkan sebelum menginjak awal 1970-an, sebenarnya para mahasiswa telah melancarkan berbagai kritik dan koreksi terhadap praktek kekuasaan rezim Orde Baru, seperti:

* Golput yang menentang pelaksanaan pemilu pertama di masa Orde Baru pada 1972 karena Golkar dinilai curang.
* Gerakan menentang pembangunan Taman Mini Indonesia Indah pada 1972 yang menggusur banyak rakyat kecil yang tinggal di lokasi tersebut.

Diawali dengan reaksi terhadap kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), aksi protes lainnya yang paling mengemuka disuarakan mahasiswa adalah tuntutan pemberantasan korupsi. Lahirlah, selanjutnya apa yang disebut gerakan "Mahasiswa Menggugat" yang dimotori Arif Budiman yang progaram utamanya adalah aksi pengecaman terhadap kenaikan BBM, dan korupsi.

Menyusul aksi-aksi lain dalam skala yang lebih luas, pada 1970 pemuda dan mahasiswa kemudian mengambil inisiatif dengan membentuk Komite Anti Korupsi (KAK) yang diketuai oleh Wilopo. Terbentuknya KAK ini dapat dilihat merupakan reaksi kekecewaan mahasiswa terhadap tim-tim khusus yang disponsori pemerintah, mulai dari Tim Pemberantasan Korupsi (TPK), Task Force UI sampai Komisi Empat.

Berbagai borok pembangunan dan demoralisasi perilaku kekuasaan rezim Orde Baru terus mencuat. Menjelang Pemilu 1971, pemerintah Orde Baru telah melakukan berbagai cara dalam bentuk rekayasa politik, untuk mempertahankan dan memapankan status quo dengan mengkooptasi kekuatan-kekuatan politik masyarakat antara lain melalui bentuk perundang-undangan. Misalnya, melalui undang-undang yang mengatur tentang pemilu, partai politik, dan MPR/DPR/DPRD.

Muncul berbagai pernyataan sikap ketidakpercayaan dari kalangan masyarakat maupun mahasiswa terhadap sembilan partai politik dan Golongan Karya sebagai pembawa aspirasi rakyat. Sebagai bentuk protes akibat kekecewaan, mereka mendorang munculnya Deklarasi Golongan Putih (Golput) pada tanggal 28 Mei 1971 yang dimotori oleh Arif Budiman, Adnan Buyung Nasution, Asmara Nababan.

Dalam tahun 1972, mahasiswa juga telah melancarkan berbagai protes terhadap pemborosan anggaran negara yang digunakan untuk proyek-proyek eksklusif yang dinilai tidak mendesak dalam pembangunan,misalnya terhadap proyek pembangunan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) di saat Indonesia haus akan bantuan luar negeri.

Protes terus berlanjut. Tahun 1972, dengan isu harga beras naik, berikutnya tahun 1973 selalu diwarnai dengan isu korupsi sampai dengan meletusnya demonstrasi memprotes PM Jepang Kakuei Tanaka yang datang ke Indonesia dan peristiwa Malari pada 15 Januari 1974. Gerakan mahasiswa di Jakarta meneriakan isu "ganyang korupsi" sebagai salah satu tuntutan "Tritura Baru" disamping dua tuntutan lainnya Bubarkan Asisten Pribadi dan Turunkan Harga; sebuah versi terakhir Tritura yang muncul setelah versi koran Mahasiswa Indonesia di Bandung sebelumnya. Gerakan ini berbuntut dihapuskannya jabatan Asisten Pribadi Presiden.

[sunting] 1978

Setelah peristiwa Malari, hingga tahun 1975 dan 1976, berita tentang aksi protes mahasiswa nyaris sepi. Mahasiswa disibukkan dengan berbagai kegiatan kampus disamping kuliah sebagain kegiatan rutin, dihiasi dengan aktivitas kerja sosial, Kuliah Kerja Nyata (KKN), Dies Natalis, acara penerimaan mahasiswa baru, dan wisuda sarjana. Meskipun disana-sini aksi protes kecil tetap ada.

Menjelang dan terutama saat-saat antara sebelum dan setelah Pemilu 1977, barulah muncul kembali pergolakan mahasiswa yang berskala masif. Berbagai masalah penyimpangan politik diangkat sebagai isu, misalnya soal pemilu mulai dari pelaksanaan kampanye, sampai penusukan tanda gambar, pola rekruitmen anggota legislatif, pemilihan gubernur dan bupati di daerah-daerah, strategi dan hakekat pembangunan, sampai dengan tema-tema kecil lainnya yang bersifat lokal. Gerakan ini juga mengkritik strategi pembangunan dan kepemimpinan nasional.

Awalnya, pemerintah berusaha untuk melakukan pendekatan terhadap mahasiswa, maka pada tanggal 24 Juli 1977 dibentuklah Tim Dialog Pemerintah yang akan berkampanye di berbagai perguruan tinggi. Namun demikian, upaya tim ini ditolak oleh mahasiswa. Pada periode ini terjadinya pendudukan militer atas kampus-kampus karena mahasiswa dianggap telah melakukan pembangkangan politik, penyebab lain adalah karena gerakan mahasiswa 1978 lebih banyak berkonsentrasi dalam melakukan aksi diwilayah kampus. Karena gerakan mahasiswa tidak terpancing keluar kampus untuk menghindari peristiwa tahun 1974, maka akhirnya mereka diserbu militer dengan cara yang brutal. Hal ini kemudian diikuti oleh dihapuskannya Dewan Mahasiswa dan diterapkannya kebijakan NKK/BKK di seluruh Indonesia.

Soeharto terpilih untuk ketiga kalinya dan tuntutan mahasiswa pun tidak membuahkan hasil. Meski demikian, perjuangan gerakan mahasiswa 1978 telah meletakkan sebuah dasar sejarah, yakni tumbuhnya keberanian mahasiswa untuk menyatakan sikap terbuka untuk menggugat bahkan menolak kepemimpinan nasional.

[sunting] Era NKK/BKK

Setelah gerakan mahasiswa 1978, praktis tidak ada gerakan besar yang dilakukan mahasiswa selama beberapa tahun akibat diberlakukannya konsep Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK) oleh pemerintah secara paksa.

Kebijakan NKK dilaksanakan berdasarkan SK No.0156/U/1978 sesaat setelah Dooed Yusuf dilantik tahun 1979. Konsep ini mencoba mengarahkan mahasiswa hanya menuju pada jalur kegiatan akademik, dan menjauhkan dari aktivitas politik karena dinilai secara nyata dapat membahayakan posisi rezim. Menyusul pemberlakuan konsep NKK, pemerintah dalam hal ini Pangkopkamtib Soedomo melakukan pembekuan atas lembaga Dewan Mahasiswa, sebagai gantinya pemerintah membentuk struktur keorganisasian baru yang disebut BKK. Berdasarkan SK menteri P&K No.037/U/1979 kebijakan ini membahas tentang Bentuk Susunan Lembaga Organisasi Kemahasiswaan di Lingkungan Perguruan Tinggi, dan dimantapkan dengan penjelasan teknis melalui Instruksi Dirjen Pendidikan Tinggi tahun 1978 tentang pokok-pokok pelaksanaan penataan kembali lembaga kemahasiswaan di Perguruan Tinggi.

Kebijakan BKK itu secara implisif sebenarnya melarang dihidupkannya kembali Dewan Mahasiswa, dan hanya mengijinkan pembentukan organisasi mahasiswa tingkat fakultas (Senat Mahasiswa Fakultas-SMF) dan Badan Perwakilan Mahasiswa Fakultas (BPMF). Namun hal yang terpenting dari SK ini terutama pemberian wewenang kekuasaan kepada rektor dan pembantu rektor untuk menentukan kegiatan mahasiswa, yang menurutnya sebagai wujud tanggung jawab pembentukan, pengarahan, dan pengembangan lembaga kemahasiswaan.

Dengan konsep NKK/BKK ini, maka peranan yang dimainkan organisasi intra dan ekstra kampus dalam melakukan kerjasama dan transaksi komunikasi politik menjadi lumpuh. Ditambah dengan munculnya UU No.8/1985 tentang Organisasi Kemasyarakatan maka politik praktis semakin tidak diminati oleh mahasiswa, karena sebagian Ormas bahkan menjadi alat pemerintah atau golongan politik tertentu. Kondisi ini menimbulkan generasi kampus yang apatis, sementara posisi rezim semakin kuat.

Sebagai alternatif terhadap suasana birokratis dan apolitis wadah intra kampus, di awal-awal tahun 80-an muncul kelompok-kelompok studi yang dianggap mungkin tidak tersentuh kekuasaan refresif penguasa. Dalam perkembangannya eksistensi kelompok ini mulai digeser oleh kehadiran wadah-wadah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang tumbuh subur pula sebagai alternatif gerakan mahasiswa. Jalur perjuangan lain ditempuh oleh para aktivis mahasiswa dengan memakai kendaraan lain untuk menghindari sikap represif pemerintah, yaitu dengan meleburkan diri dan aktif di Organisasi kemahasiswaan ekstra kampus seperti HMI (himpunan mahasiswa islam), PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia), GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia), PMKRI (Pergerakan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia), GMKI (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia) atau yang lebih dikenal dengan kelompok Cipayung. Mereka juga membentuk kelompok-kelompok diskusi dan pers mahasiswa.

Beberapa kasus lokal yang disuarakan LSM dan komite aksi mahasiswa antara lain: kasus tanah waduk Kedung Ombo, Kacapiring, korupsi di Bapindo, penghapusan perjudian melalui Porkas/TSSB/SDSB.

[sunting] 1990

Memasuki awal tahun 1990-an, di bawah Mendikbud Fuad Hasan kebijakan NKK/BKK dicabut dan sebagai gantinya keluar Pedoman Umum Organisasi Kemahasiswaan (PUOK). Melalui PUOK ini ditetapkan bahwa organisasi kemahasiswaan intra kampus yang diakui adalah Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi (SMPT), yang didalamnya terdiri dari Senat Mahasiswa Fakultas (SMF) dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM).

Dikalangan mahasiswa secara kelembagaan dan personal terjadi pro kontra, menamggapi SK tersebut. Oleh mereka yang menerima, diakui konsep ini memiliki sejumlah kelemahan namun dipercaya dapat menjadi basis konsolidasi kekuatan gerakan mahasiswa. Argumen mahasiswa yang menolak mengatakan, bahwa konsep SMPT tidak lain hanya semacam hiden agenda untuk menarik mahasiswa ke kampus dan memotong kemungkinan aliansi mahasiswa dengan kekuatan di luar kampus.

Dalam perkembangan kemudian, banyak timbul kekecewaan di berbagai perguruan tinggi karena kegagalan konsep ini. Mahasiswa menuntut organisasi kampus yang mandiri, bebas dari pengaruh korporatisasi negara termasuk birokrasi kampus. Sehingga, tidaklah mengherankan bila akhirnya berdiri Dewan Mahasiswa di UGM tahun 1994 yang kemudian diikuti oleh berbagai perguruan tinggi di tanah air sebagai landasan bagi pendirian model organisasi kemahasiswaan alternatif yang independen.

Dengan dihidupkannya model-model kelembagaan yang lebih independen, meski tidak persis serupa dengan Dewan Mahasiswa yang pernah berjaya sebelumnya upaya perjuangan mahasiswa untuk membangun kemandirian melalui SMPT, menjadi awal kebangkitan kembali mahasiswa ditahun 1990-an.

Gerakan yang menuntut kebebasan berpendapat dalam bentuk kebebasan akademik dan kebebasan mimbar akademik di dalam kampus pada 1987 - 1990 sehingga akhirnya demonstrasi bisa dilakukan mahasiswa di dalam kampus perguruan tinggi. Saat itu demonstrasi di luar kampus termasuk menyampaikan aspirasi dengan longmarch ke DPR/DPRD tetap terlarang.

[sunting] 1998

Gerakan 1998 menuntut reformasi dan dihapuskannya "KKN" (korupsi, kolusi dan nepotisme) pada 1997-1998, lewat pendudukan gedung DPR/MPR oleh ribuan mahasiswa, akhirnya memaksa Presiden Soeharto melepaskan jabatannya. Berbagai tindakan represif yang menewaskan aktivis mahasiswa dilakukan pemerintah untuk meredam gerakan ini di antaranya: Peristiwa Cimanggis, Peristiwa Gejayan, Tragedi Trisakti, Tragedi Semanggi I dan II , Tragedi Lampung. Gerakan ini terus berlanjut hingga pemilu 1999.

http://id.wikipedia.org/wiki/Gerakan_mahasiswa_di_Indonesia

_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+__+_+_+_+_+_+_+_+

Tuesday, December 12, 2006
23 Aktivis Greenpeace Dibebaskan
M. Rizal Maslan - detikcom

Jakarta - 23 Aktivis Greenpeace yang sempat ditahan polisi setelah melakukan aksi unjuk rasa di Departemen Kehutanan (Dephut), akhirnya dibebaskan. Namun harus lapor Senin-Kamis sampai batas waktu yang belum ditentukan.

"Mereka dibebaskan tadi pukul 03.30 WIB, tapi harus wajib lapor sebanyak 2 kali dalam satu minggu," kata Media Kampanye Greenpeace, Ann Sjamsu kepada detikcom, Selasa (12/12/2006).

Sebelumnya, 23 aktivis itu termasuk Ketua Juru Kampanye Hutan Greenpeace wilayah Asia Tenggara, Hasporo ditahan saat melakukan pemblokiran pintu masuk Dephut di Gedung Manggala Wanabhakti, Jl Gatot Subroto, Jakarta, Senin (11/12/2006).

23 Aktivis itu semalaman diperiksa dan ditahan di ruang Reserse dan Kriminal Umum, Polda Metro Jaya, di Jalan Sudirman, Jakarta. Mereka dituding telah melanggar Pasal 335 KUHP.

"Tadi pagi pemeriksaannya dianggap selesai oleh penyidik polisi. Mereka juga masih menunggu langkah selajutnya, apa yang akan dilakukan pelapor," jelas Ann.

Greenpeace sendiri kemarin melakukan aksi unjuk rasa untuk menuntut agar Dephut mencabut semua izin penebangan kayu hutan dan tidak mengeluarkan izin HPH baru. Alasannya, kerusakan hutan di Indonesia sudah sangat kritis.

Wilayah hutan alam di Indonesia hilang sebanyak 72 persen akibat penebangan kayu industri berskala besar dan penebangan kayu liar. Untuk tahun 2005, Dephut memperkirakan kerusakan hutan telah mencapai 2,8 juta hektar setiap tahunnya. Seharusnya pemerintah bertindak tegas untuk mencegahnya, yaitu dengan mencabut izin HPH. (zal/sss)

Sumber
Posted by admin at 8:39 PM 2 comments Links to this post
Labels: Berita, Demonstrasi, Greenpeace, Penangkapan, Penebangan Liar
Greenpeace Minta 23 Aktivisnya Dibebaskan
M. Rizal Maslan - detikcom

Jakarta - Dianggap melakukan perbuatan tidak menyenangkan, 23 Aktivis Greenpeace ditahan polisi saat melakukan unjuk rasa di Departemen Kehutanan. Greenpeace meminta mereka segera dibebaskan.

"Dimana letak keadilan, jika mereka yang berusaha melindungi hutan demi generasi mendatang justru ditahan, sedangkan pembunuh hutan kita tetap meneruskan praktik pengrusakan tanpa takut dijerat hukum?" tandas juru kampanye hutan Greenpeace Asia Tenggara Hapsoro seperti rilis yang diterima detikcom, Senin (11/12/2006) malam.

Hapsoro menuntut agar pemerintah segera menghentikan penganiayaan terhadap pihak-pihak yang berjuang mempertahankan hutan. Ia juga meminta semua izin penebangan hutan yang sudah ada dan tidak mengeluarkan izin baru untuk hak penebangan hutan (HPH).

Untuk diketahui, Senin pagi sejumlah aktivis Greepeace melakukan unjuk rasa dengan cara memblokir pintu masuk Dephut dengan kayu dan rantai. Mereka memdesak Dephut untuk mencabut izin HPH yang diistilahkan sebagai pembunuhan hutan.

Greenpeace menilai kerusakan hutan di Indonesia sangat drastis. Indonesia telah kehilangan 72 persen wilayah hutan alam dan 40 persen tutupan hutannya hancur. Hal ini akibat penebangan kayu industri bersekala besar dan penebangan liar.

"Dephut bertanggungjawab atas kerusakan hutan Indonesia dengan memberikan izin operasi bagi HPH yang kenyataannya merupakan izin membunuh hutan kita," tegas Hapsoro.

Ditambahkannya, tahun 2005 Dephut memperkirakan kerusakan hutan telah mencapai 2,8 juta hektar setiap tahunnya. Seharusnya pemerintah bertindak tegas untuk mencegahnya, yaitu dengan mencabut izin HPH.(zal/zal)


Sumber
Posted by admin at 8:27 PM 0 comments Links to this post
Labels: Berita, Demonstrasi, Greenpeace, Penebangan Liar
Wednesday, November 29, 2006
TEOLOGI PEMBEBASAN dan GERAKAN MAHASISWA
Oleh Herwindo

Gerakan mahasiswa pada era rezim diktator Soeharto hingga saat ini, tidak sedikit pula yang memberikan label bahwa gerakan liberal mulai mengembang. Stigmatisasi kaum radikal mulai menjamur pada kalangan bawah (masyarakat biasa) dan menebarkan wahyu pemberontakan, juga hal yang sempat menjadi mitos terbesar dalam setiap gerakan mahasiswa. Namun tidak kalah banyaknya opini, bahwa mahasiswa Indonesia yang radikal dan progressiv dari berbagai lingkungan sosial serta lintas kultur mulai memainkan perannya, fungsi sosialnya melalui gerakan-gerakan pembebasan.

Linkungan sosial di Indonesia mayoritas bangsa Indonesia yang religiusitasnya tinggi, menjadikan gerakan mahasiswa dengan misi pembebasannya dari penindasan totaliter Soeharto mendapatkan stereotip positif. Khususnya bagi umat Islam. Terideologisasi oleh teologi pembebasan. Tetapi di sini tidak berupaya untuk meng-klaim, bahwa gerakan penggusuran simbol orde baru (Soeharto) yang represif itu merupakan hasil kesadaran umat Islam yang menjadi mayoritas di Indonesia.

Namun bila berbicara formasi sosial yang menindas dari rezim Soeharto, berekses lebih pada pemeluk Islam dan membentuk bola salju atas pegerakan pembebasan yang digulirkan oleh intelektual muda Indonesia merupakan bentuk geneologis dari violence yang dilakukan negara (state). Adanya sosial gap, kaya-miskin dan tumbuhnya konflik horisontal adalah, anak kandung dari kebijakan pemerintah maupun negara yang timpang. Tidak adanya pemerataan kesejahteraan sosial.

Kemiskinan absolut yang bersumber pada minimnya pertumbuhan ekonomi dan kemiskinan relatif yang merupakan akibat pertumbuhan ekonomi, menjadi abstraksi sosial yang nyata di Indonesia. Melalui “ideologi” pembangunan nasional, rezim Soeharto membangun kemiskinan dan krisis multi dimensional hingga sekarang. Kemiskinan adalah, sesuatu bisa (racun) disatu sisi dan memberi madu pada sisi lain.

Monopoli, kolusi, korupsi dan nepotisme sedari sang diktator Soeharto sampai saat ini merupakan komoditas yang surplus. Relasinya dengan tekstual teologi pembebasan yang bersinggungan dengan wacana agama sangat jelas yaitu, pembebasan aspek atau dimensi sosial dari teologi pembebasan melarang keras adanya eksploitasi dan manipulasi diberbagai bidang, baik secara fisik maupun psikis oleh dan/atau siapapun.

Bentangan relevansi dalam tulisan ini diberikan dapatlah disisipkan contoh seperti, dalam bidang ekonomi praktek riba dan monopoli yang mengedepankan nilai lebih dilarang keras (Qs. Al Baqarah 275-278). Segala bentuk zakat, infaq dan sedekah merupakan sugesti yang baik dan benar agar manusia tidak teralienasi atas dirinya dari lingkungan sekitarnya dan tidak mengadakan penimbunan harta yang mengakibatkan surplus yang pada akhirnya secara langsung mengeksploitasi manusia lainnya.

Hal lainnya yang dapat dijadikan pijakan identifikasi nilai-nilai teologi pembebasan yaitu, manusia memiliki hak untuk hidup, manusia memiliki hak untuk bereproduksi, manusia memiliki hak untuk berpikir bebas dan manusia memiliki hak untuk mendapatkan keadilan. Empat pointer ini merupakan nilai-nilai teologi pembebasan dalam ajaran agama Islam yang mungkin juga merupakan ajaran agama-agama lain di dunia.

Ada atau tidaknya korelasi antara pergerakan kaum intelektual muda atau mahasiswa dengan teologi pembebasan masih perlu dicari validitasnya dan kebenarannya. Namun jikalau berbicara humanitas, yang lekat juga dengan ajaran agama yang menjadi nilai-nilai teologi pembebasan dari pergerakan pembebasan untuk menciptakan perubahan sosial, yang dilancarkan mahasiswa bersama rakyat mungkin bukanlah hubungan yang insidental pula.

Intinya perubahan harus tetap ada, apapun alasannya dan seperti apa perubahan yang menjadi kebutuhan mahasiswa ? Perubahan yang mendasar, Revolusi Sosial !!!
Sumber
Posted by admin at 3:22 AM 0 comments Links to this post
Labels: Artikel, Gerakan Mahasiswa, Revolusi
Gerakan Mahasiswa Revolusioner: Teori dan Praktek
Oleh: Ernest Mandel
Pengantar

Pada tahun 1968, seorang Marxist dari Belgia, Ernest Mandel berbicara di depan 33 perguruan tinggi di Amerika Serikat dan Kanada, dari Harvard ke Berkeley dan dari Montreal ke Vancouver. Lebih dari 600 orang memadati Education Auditorium di New York University pada tanggal 21 September 1968 untuk menghadiri "Majelis Internasional Gerakan Mahasiswa Revolusioner". Presenta­si Mandel di tempat itu dipandang sebagai kejadian yang sangat menonjol oleh majelis dan salah satu saat penting dari seluruh perjalanannya. Pidato dan beberapa kutipan dari diskusi yang mengikutinya menjadi dua bagian pertama dari pamflet ini.

Pidato Mandel adalah polemik yang sangat hebat terhadap kecenderungan "aktivisme" dan "spontanisme", yang belakangan ini muncul di kalangan kaum radikal di dunia Barat. Ia kemudian berbicara mengenai konsepsi Marxis tentang integrasi yang tidak terpisahkan antara teori dan praktek. Selama diskusi, Mandel menjawab sejumlah pertanyaan yang kontroversial di kalangan kaum radikal dengan argumen panjang lebar. Beberapa di antaranya berbicara tentang azas sosial ekonomi dari Uni Sovyet, "Revolusi Kebudayaan" di Cina, perlunya dibentuk sebuah partai Leninis, dorongan moral lawan dorongan material, dan banyak hal lainnya.

Bagian ketiga pamflet ini adalah pidato yang diberikan Mandel pada Seminar Ilmu dan Kesejahteraan yang diadakan di Universitas Leiden, Negeri Belanda pada tahun 1970, ketika sedang dilakukan perayaan 70 tahun universitas tersebut. Mandel berpen­dapat bahwa kebutuhan kapitalisme saat ini akan tenaga kerja yang terlatih dalam jumlah besar merangsang ekspansi universitas yang cepat dan menghasilkan "proletarianisasi" tenaga intelektual, yang tunduk kepada tuntutan-tuntutan kapitalis dan tidak berhu­bungan dengan bakat perorangan atau kebutuhan manusia.

Makin terasingnya tenaga kerja intelektual ini sedikit banyak menggerakkan perlawanan mahasiswa yang, walaupun tidak menduduki posisi sebagai pelopor kelas buruh, dapat menjadi picu peledak di dalam masyarakat luas. Menurutnya mahasiswa memiliki kewajiban menerjemahkan pengetahuan teoretis, yang mereka peroleh di universitas, ke dalam kritik-kritik yang radikal terhadap keadaan masyarakat sekarang dan tentunya relevan dengan mayoritas penduduk. Mahasiswa harus berjuang di dalam universitas dan di balik itu untuk masyarakat yang menempatkan pendidikan untuk rakyat di depan penumpukan barang.

BAB I

Gerakan Mahasiswa Revolusioner:Teori dan Praktek

Rudi Dutshcke, pemimpin mahasiswa Berlin dan sejumlah tokoh mahasiswa lainnya di Eropa, telah menjadikan konsep menyatunya teori dan praktek (teori dan praktek yang revolusioner tentunya) sebagai gagasan sentral aktivitas mereka. Ini bukan pilihan yang sewenang-wenang. Persatuan teori dan praktek ini dapat dibilang pelajaran yang paling berharga dari rekaman sejarah yang diukir oleh revolusi-revolusi yang telah berlalu di Eropa, Amerika dan bagian dunia lainnya

Tradisi historis yang mengandung gagasan ini dimulai dari Babeuf melalui Hegel dan sampai ke Marx. Penaklukan ideologis ini berarti bahwa pembebasan manusia harus diarahkan pada usaha yang sadar untuk merombak tatanan masyarakat, untuk mengatasi sebuah keadaan di mana manusia didominasi oleh kekuatan ekonomi pasar yang buta dan mulai menggurat nasib dengan tangannya sendiri. Aksi pembebasan yang sadar ini tidak dapat dijalankan secara efektif, dan tentunya tidak dapat berhasil, jika orang belum menyadari dan mengenal lingkungan sosial tempatnya hidup, mengen­al kekuatan sosial yang harus dihadapinya, dan kondisi sosial ekonomi yang umum dari gerakan pembebasan itu.

Sama seperti persatuan antara teori dan praktek merupakan penuntun yang mendasar bagi setiap gerakan pembebasan saat ini, begitu pula Marxisme mengajarkan bahwa revolusi, revolusi yang sadar, hanya dapat berhasil jika orang mengerti azas masyarakat tempatnya hidup, dan mengerti kekuatan pendorong yang menggerak­kan perkembangan sosial ekonomi masyarakat tersebut. Dengan kata lain, jika ia tidak mengerti kekuatan yang menggerakkan evolusi sosial, ia tidak akan sanggup mengubah evolusi itu menjadi sebuah revolusi. Ini adalah konsepsi utama yang diberikan Marxisme kepada gerakan mahasiswa revolusioner di Eropa.

Kita akan coba melihat bahwa kedua konsep itu, menyatunya teori dan praktek, serta sebuah pemahaman Marxis terhadap kondisi obyektif masyarakat, yang telah ada jauh sebelum gerakan mahasis­wa di Eropa lahir, ditemukan dan disatukan kembali dalam aksi-aksi perjuangan mahasiswa Eropa, sebagai hasil dari pengalamannya sendiri.

Gerakan mahasiswa mulai bermunculan di mana-mana dan di Amerika Serikat pun tidak berbedasebagai perlawanan terhadap kondisi langsung yang dialami mahasiswa di dalam lembaga akademis mereka, di universitas dan sekolah tinggi. Aspek ini sangat jelas di dunia Barat tempat kita hidup, walaupun keadaannya sangat berbeda di negara-negara berkembang. Di sana, banyak kekuatan dan keadaan lain yang mendorong anak muda di universitas atau non-universitas untuk bangkit. Tapi selama dua dekade terakhir, anak muda yang masuk ke universitas di dunia Barat tidak menemukan di lingkungan rumah, kondisi keluarga atau masyarakat lokalnya alasan-alasan yang mendesak untuk melakukan perlawanan sosial.

Tentunya ada beberapa perkecualian. Komunitas kulit hitam di Amerika Serikat termasuk di dalam perkecualian itu; para buruh imigran yang dibayar rendah di Eropa Barat juga termasuk di dalamnya. Bagaimanapun, di kebanyakan negara-negara Barat, maha­siswa yang berasal dari lingkungan proletariat yang miskin masih menjadi minoritas yang sangat kecil. Mayoritas mahasiswa saat ini berasal dari lingkungan borjuis kecil atau menengah atau golongan penerima gaji atau upah yang mendapat bayaran lumayan. Ketika memasuki universitas mereka secara umum tidak disiapkan oleh hidup yang mereka jalani untuk sampai pada titik pemahaman yang jelas dan lengkap tentang alasan-alasan perlunya perlawanan sosial. Mereka baru akan memahaminya ketika berada di dalam kerangka universitas. Di sini aku tidak mengacu kepada sejumlah perkecualian atau golongan kecil elemen-elemen yang memiliki pengetahuan politik yang memadai, tapi kepada massa mahasiswa secara keseluruhan yang berhadapan dengan sejumlah kondisi, yang membimbing mereka pada jalan perlawanan

Singkatnya, ini sudah mencakup organisasi, struktur dan kurikulum universitas yang amat tidak memadai dan serangkaian fakta material, sosial dan politik yang dialami dalam kerangka universitas borjuis, yang semakin tidak dapat ditahan oleh keban­yakan mahasiswa. Menarik untuk dicatat bahwa para teoretisi dan pendidik borjuis yang berusaha memahami perlawanan mahasiswa, harus memasukkan sejumlah pernyataan di dalam analisis mereka terhadap lingkungan mahasiswa, yang telah lama mereka enyahkan dari analisis umum terhadap masyarakat.

Beberapa hari yang lalu, ketika berada di Toronto, salah satu pendidik Kanada yang terkenal memberikan kuliah umum tentang sebab-sebab terjadinya perlawanan mahasiswa. Menurutnya, alasan-alasan perlawanan itu "secara mendasar bersifat material. Bukan berarti bahwa kondisi hidup mereka tidak memuaskan; bukan karena mereka diperlakukan buruh seperti buruh abad XIX. Tapi karena secara sosial kita menciptakan sejenis proletariat di universitas yang tidak berhak berpartisipasi dalam menentukan kurikulum, tidak berhak, setidaknya untuk ikut menentukan kehidupan mereka sendiri selama empat, lima atau enam tahun yang mereka habiskan di universitas."Sekalipun aku tidak dapat menerima definisi yang non-Marxis tentang proletariat di atas, aku berpikir bahwa pengajar borjuis ini sebagian telah menelusuri salah satu akar dari perlawanan mahasiswa. Struktur universitas borjuis hanyalah cerminan dari struktur hirarki yang umum dalam masyarakat borjuis; keduanya tidak dapat diterima oleh mahasiswa, bahkan oleh tingkat kesadar­an sosial yang sementara ini masih rendah. Kiranya terlalu berle­bihan kalau saat ini juga kita coba membahas akar-akar psikologis dan moral dari gejala itu. Di beberapa negara di Eropa Barat, dan mungkin juga di Amerika Serikat, masyarakat borjuis seperti yang berkembang selama generasi terakhir ini, selama 25 tahun terakhir telah menghantam banyak elemen di dalam keluarga borjuis. Sebagai anak muda, para mahasiswa pembangkang diajarkan pertama-tama oleh pengalaman langsung untuk mempertanyakan semua bentuk wewenang, dimulai dengan wewenang orang tuanya.

Hal ini paling terasa di negara seperti Jerman sekarang ini. Jika kalian tahu sesuatu tentang kehidupan di Jerman, atau mempe­lajari cerminannya di dalam kesusastraan Jerman, maka kalian akan tahu bahwa sampai Perang Dunia II, wewenang paternal paling sedikit dipertanyakan di negara itu. Kepatuhan anak terhadap orang tua telah mendarah daging dalam proses penciptaan masyara­kat (fabric of society). Anak-anak muda Jerman kemudian mengalami rangkaian pengalaman pahit yang dimulai dengan adanya generasi orang tua di Jerman yang menerima Nazisme, mendukung Perang Dingin, dan hidup nyaman dengan asumsi bahwa "kapitalisme rakyat" (disebut juga ekonomi pasar yang sosial), tidak akan menghadapi resesi, krisis dan masalah sosial. Kegagalan yang beruntun dari dua atau tiga generasi orang tua seperti itu kini menghasilkan rasa jijik di kalangan anak muda terhadap wewenang orang tua mereka. Perasaan ini membuat anak-anak tersebut, saat memasuki universitas, tidak menerima setiap bentuk wewenang begitu saja, tanpa perlawanan.

Mereka pertama-tama berhadapan dengan wewenang para dosen dan lembaga-lembaga universitas yang paling tidak dalam bidang ilmu sosialnyata tidak berhubungan dengan realitas. Pelajaran yang mereka peroleh tidak memberikan analisis ilmiah yang obyek­tif tentang apa yang sedang terjadi di dunia atau negara-negara Barat lainnya. Tantangan terhadap wewenang akademis dari lembaga inilah yang kemudian cepat bergeser menjadi tantangan terhadap isi pendidikannya.Sebagai tambahan, di Eropa kondisi material untuk universi­tas masih sangat kurang. Terlalu penuh. Ribuan mahasiswa harus mendengar dosen-dosen berbicara melalui sound system. Mereka tidak dapat berbicara dengan dosen-dosen itu atau sedikitnya berhubungan, bertukar pikiran yang normal atau dialog. Perumahan dan makanan juga buruk. Faktor-faktor pendukung lainnya makin menajamkan kekuatan pemberontakan mahasiswa. Tapi, perlu aku tekanan bahwa dorongan utama untuk melakukan pemberontakan akan tetap ada, sekalipun persoalan-persoalan di atas telah dibenahi. Struktur otoriter dari universitas dan substansi yang sangat lemah dari pendidikan, paling tidak dalam bidang ilmu sosial, lebih menjadi penyebab ketimbang kondisi material di atas.

Inilah alasan mengapa usaha-usaha mengadakan reformasi di universitas, yang disorongkan oleh sayap liberal dalam keadaan-keadaan yang berbeda dalam masyarakat neo-kapitalis barat mungkin menemui kegagalan. Reformasi ini tidak akan mencapai tujuannya karena tidak menyentuh persoalan dasar dari pemberontakan maha­siswa. Mereka tidak berusaha menekan sebab-sebab keterasingan mahasiswa, dan sekalipun melakukannya, mereka hanya akan membuat mahasiswa makin terasing.

Lalu apa tujuan reformasi di universitas seperti yang diaju­kan oleh kaum reformis liberal di dunia barat? Dalam kenyataan, rancangan reformasi itu tidak lain untuk meluruskan organisasi universitas agar sesuai dengan kepentingan ekonomi neo-kapitalis dan masyarakat neo-kapitalis. Tuan-tuan itu mengatakan: tentu sangat disayangkan adanya proletariat akademis; sayang sekali begitu banyak orang yang meninggalkan universitas dan tidak berhasil mendapat pekerjaan. Ini akan menimbulkan ketegangan sosial dan ledakan sosial.

Bagaimana caranya mengatasi persoalan ini? Kita akan membe­nahinya dengan reorganisasi universitas dan membagi-bagi tempat belajar yang ada sesuatu dengan kebutuhan ekonomi neo-kapitalis. Di tempat yang memerlukan 100.000 insinyur akan lebih baik jika dikirim 100.000 insinyur daripada 50.000 orang sosiolog atau 20.000 filsuf yang tidak akan mendapat pekerjaan yang layak. Hal seperti inilah yang akan menghentikan pemberontakan mahasiswa.Di bawah ini adalah suatu usaha menempatkan fungsi universitas pada posisi subordinat terhadap kebutuhan langsung dari ekonomi neo-kapitalis dan masyarakat. Hal ini akan menggerakkan ketera­singan mahasiswa yang makin besar. Jika reformasi-reformasi itu dilakukan maka mahasiswa tidak akan menemukan struktur universi­tas dan pendidikan yang sesuai dengan keinginan mereka. Mereka bahkan tidak diizinkan memilih karir, bidang studi, dan disiplin ilmu yang mereka kehendaki dan berhubungan dengan keahlian dan kebutuhan mereka. Mereka akan dipaksa menerima pekerjaan, disi­plin ilmu dan bidang studi yang berhubungan dengan kepentingan penguasa masyarakat kapitalis, dan tidak berhubungan dengan kebutuhan mereka sebagai manusia. Jadi dengan reformasi di uni­versitas, tingkat alienasi yang lebih tinggi pun akan terjadi. Aku tidak mengatakan bahwa kita harus mengabaikan semua reformasi di dalam universitas. Penting dicari beberapa slogan transisional untuk masalah-masalah universitas, sama seperti kaum Marxis coba mencari slogan-slogan transisional dalam gerakan sosial lain dalam sektor apapun. Misalnya, aku tidak mengerti kenapa slogan "student power" tidak dapat diangkat di dalam lingkup universitas. Dalam masyarakat luas slogan ini memang dihindari karena artinya bahwa sebuah minoritas kecil menempatkan dirinya sebagai pemimpin mayoritas masyarakat. Tapi di dalam universitas slogan "student power" ini, atau slogan lain yang sejurus dengan ide "self-management" oleh massa mahasiswa, jelas punya arti dan valid.

Tapi di sinipun aku akan hati-hati karena banyak persoalan yang membuat universitas berbeda dari pabrik atau komunitas produktif lainnya. Tidak benar, seperti dikatakan sebagian teore­tisi SDS Amerika, bahwa mahasiswa itu sama dengan buruh. Kebanya­kan mahasiswa memang akan menjadi buruh atau sudah setengah buruh. Mereka dapat dibandingkan dengan orang yang magang di pabrik karena kedudukan mereka sama --dari sudut kerja intelektu­al dengan orang magang di pabrik-- dari sudut kerja manual. Mereka memiliki peranan sosal dan tempat transisional yang khas dalam masyarakat. Karena itu kita harus hati-hati merumuskan slogan tentang transisi ini.

Bagaimanapun, kita tidak perlu memperpanjang perdebatan ini sekarang. Mari kita terima saja gagasan "student power" atau "student control" sebagai slogan transisional di dalam kerangka universitas borjuis. Tapi sudah jelas bahwa realisasi slogan ini yang tidak akan mungkin bertahan untuk jangka waktu yang lama, tidak akan mengubah akar-akar alienasi mahasiswa karena mereka tidak terletak di dalam universitas itu sendiri, melainkan dalam masyarakat secara keseluruhan. Dan kita tidak akan sanggup mengu­bah sebuah sektor kecil dalam masyarakat borjuis, dalam hal ini universitas borjuis, dan berpikir bahwa masalah sosial dapat diatasi di segmen tertentu tanpa mengubah masalah sosial dalam masyarakat sebagai keseluruhan.Selama kapitalisme masih ada, maka terus akan ada kerja yang terasing, baik itu kerja manual maupun kerja intelektual. Dan karena itu tetap akan ada mahasiswa yang terasing, seperti apapun aksi-aksi kita menghantam kemapanan dalam lingkup universitas.

Sekali lagi, ini bukan observasi teoretis yang jatuh dari langit. Ini adalah pelajaran dari pengalaman praktek. Gerakan mahasiswa Eropa, paling tidak sayap revolusionernya, telah mela­lui pengalaman ini di seluruh negara-negara Eropa. Dalam garis besar, gerakan mahasiswa dimulai dengan isyu-isyu kampus dan dengan cepat mulai bergerak keluar batas-batas universitas. Gerakan itu mulai menanggapi masalah-masalah sosial dan politik yang tidak langsung berhubungan dengan apa yang terjadi di dalam universitas. Apa yang terjadi di Kolumbia di mana masalah penin­dasan komunitas kulit hitam diangkat oleh sejumlah mahasiswa pemberontak mirip dengan apa yang terjadi dalam gerakan mahasiswa Eropa Barat, paling tidak di kalangan elemen yang maju, yang paling peka terhadap masalah-masalah yang dihadapi orang-orang paling tertindas dalam sistem kapitalis dunia.

Mereka terlibat dalam berbagai aksi solidaritas dengan perjuangan pembebasan revolusioner di negara-negara berkembang seperti Kuba, Vietnam dan bagian-bagian tertindas lainnya Dunia Ketiga. Identifikasi bagian-bagian yang paling sadar dalam gerakan mahasiswa di Prancis dengan revolusi Aljazair, dan perjuangan pembebasan Aljazair dari imperialisme Prancis memainkan peranan besar. Ini mungkin kerangka pertama di mana diferensiasi politik yang nyata terjadi di kalangan gerakan mahasiswa kiri. Kalangan mahasiswa yang sama kemudian akan mengambil tempat di depan dalam perjuangan mempertahankan revolusi Vietnamm melawan perang agresi imperialisme Amerika.Di Jerman, simpati kepada orang-orang terjajah dimulai dari titik yang unik. Gerakan protes mahasiswa yang besar dipicu oleh aksi solidaritas dengan buruh, petani dan mahasiswa dari sebuah negara Dunia Ketiga lainnya, yaitu Iran, saat Shah Iran berkun­jung ke Berlin.

Para mahasiswa pelopor tidak sekadar mengidentifikasikan diri mereka dengan perjuangan di Aljazair, Kuba dan Vietnam: mereka memperlihatkan simpati kepada perjuangan pembebabasan dari apa yang disebut Dunia Ketiga secara keseluruhan. Perkembangannya dimulai dari sini. Di Prancis, Jerman, Italia --dan proses yang sama sedang berlangsung di Inggris-- tidak akan mungkin memulai aksi yang revolusioner tanpa analisis teori tentang asas dari imperialisme, kolonialisme, dan kekuatan-kekuatan yang mendorong eksploitasi Dunia Ketiga dengan imperialisme, dan di sisi lain, kekuatan yang mendorong perjuangan pembebasan massa yang revolu­sioner menentang imperialisme.Melalui analisis tentang kolonialisme dan imperialisme kekuatan gerakan mahasiswa Eropa yang paling maju dan terorgani­sir kembali kepada titik di mana Marxisme dimulai, yakni analisis tentang masyarakat kapitalis dan sistem kapitalis internasional di mana kita hidup. Jika kita tidak memahami sistem ini, kita tidak akan dapat memahami alasan dilakukannya perang kolonial dan gerakan pembebasan di negeri jajahan. Kita juga tidak akan dapat mengerti kenapa kita harus mengikatkan diri kepada kekuatan-kekuatan ini di tingkat dunia.Di Jerman misalnya, proses ini terjadi dalam waktu kurang dari enam bulan. Gerakan mahasiswa dimulai dengan mempertanyakan struktur universitas yang otoriter, dan terus menuju masalah imperialisme dan keadaan Dunia Ketiga, dan dengan menghubungkan diri dengan gerakan pembebasan maja timbul kebutuhan menganalisis kembali neo-kapitalisme di tingkat dunia dan di negeri di mana mahasiswa-mahasiswa Jerman itu bergerak. Mereka kembali kepada titik awal analisis Marxis tentang masyarakat di mana kita hidup untuk memahami alasan-alasan terdalam dari masalah sosial dan perlawanan.

Kesatuan Teori dan Aksi

Dalam proses keseluruhan kesatuan teori dan aksi yang dina­mis, teori kadang ada di depan aksi dan sewaktu-waktu aksi tampil di depan teori. Bagaimanapun, pada setiap titik keharusan per­juangan mendesak para aktivis untuk memantapkan kesatuan ini pada tingkat yang lebih tinggi.Untuk memahami proses yang dinamis ini kita harus menyadari bahwa mempertentangkan aksi langsung dengan studi yang mendalam itu sepenuhnya keliru. Saya tersentak ketika mengikuti Konferensi Sarjana Sosialis dan pertemuan lainnya yang saya ikuti di Amerika selama dua minggu terakhir, melihat bagaimana pemisahan teori dan praktek terus dipertahankan. Saya seperti sedang mengikuti perde­batan di antara orang-orang tuli, di mana sebagian pengunjung mengatakan, "yang penting aksi! Tidak perlu yang lain, yang penting aksi!" sementara di pihak lain ada yang mengatakan, "Tidak, sebelum bisa aksi, kita harus tahu apa yang dikerjakan. Duduk, belajar, dan tulis buku." (tepuk tangan)

Jawaban yang jelas dari pengalaman sejarah gerakan revolu­sioner, bukan hanya dari periode Marxis tapi bahkan dari periode pra-Marxis, adalah kenyataan bahwa keduanya tidak dapat dipisah­kan (tepuk tangan) Aksi tanpa teori tidak akan efisien atau tidak akan berhasil melakukan perubahan yang mendasar, atau seperti saya katakan sebelumnya, kita tidak dapat membebaskan manusia tanpa sadar. Di pihak lain, teori tanpa aksi tidak akan mendapat watak ilmiah yang sejati karena tidak ada jalan lain untuk mengu­ji teori kecuali melalui aksi.

Setiap bentuk teori yang tidak diuji melalui aksi bukan teori yang sahih, dan dengan sendirinya menjadi teori yang tidak berguna dari sudut pandang pembebasan manusia. (tepuk tangan) Hanya melalui usaha terus menerus memajukan keduanya pada saat bersamaan, tanpa pemisahan kerja, maka kesatuan teori dan aksi dapat dimantapkan, sehingga gerakan revolusioner tersebut, apapun asal usul maupun tujuan sosialnya, dapat mencapai hasilnya. Dalam hubungannya dengan pemisahan kerja, ada satu hal lain yang membuat saya tersentak, dan benar-benar menyentak karena diajukan dalam satu pertemuan orang-orang sosialis. Pemisahan teori dan aksi yang sudah begitu buruk, kini diberi satu dimensi baru dalam gerakan sosialis ketika dikatakan: di satu pihak ada para aktivis, orang-orang awam yang kerja kasar. Di pihak lain adalah elit yang kerjanya berpikir. Jika elit ini terlibat dalam aksi demonstrasi, maka mereka tidak akan punya waktu berpikir atau menulis buku, dan dengan begitu maka ada elemen berharga dalam perjuangan yang akan hilang.

Saya katakan bahwa setiap pernyataan yang menyebut adanya pemisahan kerja manual dan kerja pikiran di dalam gerakan revolu­sioner, yang memisahkan barisan aksi yang kerja kasar dan elit yang kerja pikiran, secara mendasar bukan pernyataan sosialis. Pernyataan itu bertentangan dengan salah satu tujuan utama dari gerakan sosialis, yang ingin mencapai penghapusan pemisahan kerja manual dan intelektual (tepuk tangan) bukan hanya dalam organisa­si tapi, lebih penting lagi, dalam masyarakat secara keseluruhan. Orang-orang sosialis revolusioner pada 50 atau 100 tahun yang lalu belum dapat melihat hal ini dengan jelas, seperti kita sekarang ini, saat sudah ada kemungkinan obyektif untuk mencapai tujuan itu. Kita sudah memasuki satu proses teknologi dan pendi­dikan yang memungkinkan tercapainya hal itu. Salah satu pelajaran berharga yang harus kita ambil dari kemunduran Revolusi Rusia, adalah jika pemisahan antara kerja manual dan kerja intelektual dipertahankan pada masyarakat yang sedang dalam transisi dari kapitalisme menuju sosialisme dalam bentuk lembaga, maka hasilnya pasti meningkatkan birokrasi dan menciptakan ketimpangan baru dan bentuk-bentuk penindasan manusia yang tidak sesuai dengan kemakmuran sosialis. (tepuk tangan)

Jadi kita harus mulai dengan menghapus sebisa mungkin setiap gagasan tentang pemisahan kerja manual dan kerja pikiran dalam gerakan revolusioner. Kita harus bertahan bahwa tidak akan ada teoretisi yang baik jika tidak terlibat dalam aksi, dan tidak akan ada aktivis yang baik jika tidak dapat menerima, memperkuat dan memajukan teori. (tepuk tangan)

Gerakan mahasiswa Eropa telah mencoba mencapai hal ini sampai tingkat tertentu di Jerman, Prancis dan Italia. Di sana muncul pemimpin-pemimpin mahasiswa agitator yang juga dapat, jika diperlukan, membangun barikade dan bertempur mempertahankannya, dan pada saat yang dapat menulis artikel bahkan buku teoretis dan berdiskusi dengan sosiolog terkemuka, ahli politik dan ekonomi dan mengalahkan mereka dalam bidang ilmu mereka sendiri. (tepuk tangan) Hal ini makin memperkuat keyakinan bukan hanya tentang masa depan gerakan mahasiswa tapi juga tentang masa ketika orang-orang ini sudah berhenti menjadi mahasiswa, dan harus berjuang di bidang lain.

Perlunya Organisasi Revolusioner

Sekarang saya ingin berbicara tentang aspek lain dari kesat­uan teori dan aksi yang sudah menjadi perdebatan dalam gerakan mahasiswa Eropa dan Amerika Utara. Saya secara pribadi yakin bahwa tanpa organisasi yang revolusioner, bukan suatu formasi yang longgar tapi sebuah organisasi yang serius dan permanen sifatnya, maka kesatuan teori dan praktek tidak akan bertahan lama. (tepuk tangan)

Ada dua alasan. Yang pertama berhubungan dengan asas dari mahasiswa sendiri. Status kemahasiswaan, hanya berlaku untuk jangka waktu yang singkat, tidak seperti buruh. Ia bisa menetap di universitas selama empat, lima, enam tahun, dan tidak ada yang dapat memperkirakan apa yang terjadi setelah ia meninggalkan universitas. Pada kesempatan ini saya sekaligus ingin menjawab salah satu argumen demagogis yang telah digunakan sejumlah pemim­pin partai-partai komunis di Eropa yang menentang perlawanan mahasiswa. Dengan nada sinis mereka mengatakan: "Siapa mahasiswa-mahasiswa itu? Hari ini mereka berontak, besok mereka akan menja­di bos yang menindas kita. Kita tidak perlu memperhitungkan aksi-aksi mereka dengan serius."

Ini adalah argumen yang tolol karena tidak mempertimbangkan transformasi revolusioner dari peranan lulusan universitas sekar­ang ini. Jika mereka melihat angka-angka statistik, maka mereka akan tahu bahwa hanya sebagian kecil dari lulusan universitas yang bisa menjadi kapitalis atau agen-agen langsung dari para kapitalis ini. Apa yang mereka khawatirkan mungkin saja menjadi kenyataan jika jumlah lulusan itu hanya 10.000, 15.000 atau 20.000 orang dalam satu tahun. Tapi sekarang ada satu juta, empat juta, lima juta mahasiswa, dan tidak mungkin kebanyakan dari mereka akan menjadi kapitalis atau manejer perusahaan karena tidak ada lowongan sebanyak itu untuk mereka.

Argumen demagogis ini ada benarnya. Lingkungan akademis memang memiliki konsekuensi tertentu terhadap tingkat kesadaran sosial dan aktivitas politik seorang mahasiswa. Selama ia tetap di universitas, maka lingkungannya mendukung aktivitas politik. Ketika ia meninggalkan universitas, lingkungan ini tidak ada lagi di sekelilingnya, dan ia makin mudah ditekan oleh ideologi dan kepentingan borjuasi atau borjuasi kecil (petty-bourgeoisie). Ada ancaman bahwa ia akan melibatkan dirinya dalam lingkungan sosial yang baru ini, apapun bentuknya. Ada kemungkinan terjadinya proses mundur ke posisi intelektual reformis atau liberal kiri yang tidak lagi berhubungan dengan aktivitas revolusioner.

Penting untuk mempelajari sejarah SDS Jerman, yang dalam hal ini adalah gerakan mahasiswa revolusioner yang paling tua di Eropa. Setelah dikeluarkan dari kalangan Sosial Demokrat Jerman sembilan tahun yang lalu satu generasi mahasiswa SDS yang militan meninggalkan universitas. Setelah beberapa tahun, dengan tidak adanya organisasi revolusioner, kebanyakan orang-orang militan ini, terlepas dari keinginan mereka untuk tetap teguh dan menjadi aktivis sosialis, tidak aktif lagi dalam politik dari sudut pandang revolusioner. Jadi, untuk memelihara kelanjutan aktivitas revolusioner ini, kita harus punya organisasi yang lebih luas jangkauannya dari organisasi mahasiswa biasa, sebuah organisasi di mana mahasiswa dan bukan mahasiswa dapat bekerja sama.Dan ada alasan yang lebih penting lagi, di balik kepentingan kita memiliki satu organisasi partai. Karena tanpa organisasi semacam itu, tidak akan dapat dicapai kesatuan aksi dengan kelas buruh industri, dalam pengertian yang paling umum sekalipun. Sebagai Marxis, saya tetap yakin bahwa tanpa aksi kelas buruh tidak akan mungkin masyarakat borjuis ini ditumbangkan dan itu berarti tidak mungkin juga dibangun masyarakat sosialis. (tepuk tangan)

Di sini sekali lagi kita lihat bagaimana pengalaman gerakan mahasiswa, pertama di Jerman, lalu Prancis dan Italia, sudah berhasil mencapai kesimpulan teoretis tersebut dalam praktek. Diskusi yang sama tentang relevan atau tidaknya kelas buruh industri bagi aksi revolusioner dilakukan setahun atau bahkan enam bulan yang lalu di negara-negara seperti Jerman dan Italia.Masalah ini ditempatkan dalam praktek bukan hanya oleh peristiwa revolusioner selama Mei-Juni 1968 di Prancis, tapi juga oleh aksi bersama mahasiswa di Turin dengan buruh Fiat di Italia. Ini juga diperjelas dengan usaha-usaha sadar dari SDS Jerman untuk melibatkan bagian dari kelas buruh di dalam agitasi mereka di luar universitas menentang perusahaan penerbit Springer dan kampanyenya dalam mencegah diberlakukannya undang-undang darurat yang akan mencegah kebebasan sipil.

Pengalaman seperti ini mengajarkan gerakan mahasiswa di Eropa Barat bahwa mereka harus menemukan jembatan dengan kelas buruh industri. Masalah ini memiliki sejumlah aspek yang berbeda dengan tingkatan yang berbeda pula. Ada masalah programatik yang tidak dapat saya jabarkan sekarang. Hal yang diungkapkan di sini adalah bagaimana mahasiswa dapat mendekati buruh, bukan sebagai guru, karena buruh tentunya menolak hubungan seperti itu, tapi dengan cara masuk ke dalam lapangan kepentingan yang sama. Terutama diuraikan masalah organisasi partai. Selain penga­laman kalah beberapa kali untuk membangun kolaborasi di tingkat rendahan dalam aksi-aksi langsung antara sejumlah kecil mahasiswa dan sejumlah kecil buruh, setelah tiga sampai delapan bulan, persekutuan itu akan hilang. Bahkan jika kalian memulai lagi dari awal, dan saat keseimbangan sudah tercapai, maka sedikit saja yang tersisa.

Kegunaan organisasi revolusioner yang permanen adalah untuk menyediakan integrasi timbal balik antara mahasiswa dan perjuan­gan kelas buruh oleh para pelopornya secara terus menerus. Ini bukan sekadar kesinambungan yang sederhana dalam batas waktu tertentu, tapi sebuah kelanjutan ruang antara kelompok-kelompok sosial yang berbeda yang memiliki tujuan sosialis revolusioner yang sama.Kita harus kritis melihat apakah integrasi seperti ini memang mungkin secara obyektif. Melihat pengalaman di Prancis, Italia, dan sejumlah negara Eropa Barat lainnya, maka dengan mudah kita bisa bilang ya. Dan garis inipun dapat dipertahankan di Amerika Serikat. Dengan alasan-alasan historis yang juga tidak dapat saya uraikan sekarang, sebuah situasi khusus muncul di Amerika Serikat di mana mayoritas kelas buruh, yakni kelas buruh kulit putih, belum menerima gagasan sosialis tentang aksi revolu­sioner. Ini fakta yang tidak dapat ditandingi.

Tentu saja hal ini dengan cepat dapat berubah. Sejumlah orang berpendapat seperti itu di Prancis, hanya beberapa minggu sebelum tanggal 10 Mei 1968. Namun, bahkan di Amerika Serikat, ada minoritas dalam kelas buruh industri yang penting, yaitu buruh kulit hitam. Tak seorangpun bisa mengatakan bahwa setelah dua tahun terakhir mereka tidak dapat menerima gagasan sosialis atau tidak mampu menjalankan aksi revolusioner. Di sini paling tidak ada kemungkinan langsung terjadinya kesatuan antara teori dan praktek di sebagian kalangan kelas buruh.

Sebagai tambahan, kiranya penting untuk menganalisa kecen­derungan sosial dan ekonomi yang dalam jangka panjang akan meng­guncang ketidakpedulian politik yang platen dan konservatisme kelas buruh kulit putih. Pelajaran dari Jerman dengan lingkungan yang sangat mirip membuktikan bahwa hal itu mungkin terjadi. Beberapa tahun lalu di kalangan kelas buruh di Jerman mengendap stabilitas, konservatisme, dan integrasi masyarakat kapitalis yang tidak terguncang, sama seperti Amerika Serikat di mata banyak orang sekarang ini. Hal ini sudah mulai berubah. Kasus ini memperlihatkan bahwa pergeseran kecil di dalam perimbangan kekua­tan, yaitu penurunan tingkat ekonomi, dan serangan dari pengusaha terhadap struktur serikat buruh tradisional dan hak-hak dapat menciptakan ketegangan sosial yang mampu mengubah banyak hal.

Tugas saya di sini tidak lebih dari memberi informasi kepada kalian tentang masalah-masalah perjuangan kelas kalian sementara tugas kalian adalah menyadari bahwa kalian harus bergabung dengan buruh. Saya hanya akan menunjukkan satu di antara sekian banyak saluran tempat kesadaran sosialis dan aktivitas revolusioner dapat menghubungkan mahasiswa dan buruh, seperti ditunjukkan bukan hanya oleh Eropa Barat tapi juga oleh Jepang. Rangkaian penghubung ini adalah pemuda dari kalangan kelas buruh. Sebagai konsekuensi dari perubahan teknologi selama beberapa tahun terak­hir yang mempengaruhi struktur kelas buruh, sistem pendidikan borjuis tidak dapat mempersiapkan buruh-buruh muda, atau sebagian dari buruh muda ini, untuk memainkan peran baru dalam teknologi yang telah berubah bahkan dari sudut pandang para kapitalis sendiri. Amerika Serikat adalah contoh yang jelas tentang kehan­curan total dari pendidikan bagi buruh muda berkulit hitam yang tingkat penganggurannya sama tinggi seperti tingkat rata-rata pengangguran seluruh kelas buruh di masa depresi. Kenyataan ini memperlihatkan apa yang tengah terjadi di kalangan pemuda kulit hitam negeri itu. Ini hanyalah ekspresi dari kecenderungan umum yang mendikte kepekaan ekstrem terhadap segala sesuatu yang terjadi di kalangan muda. Kebusukan dan kemacetan sistem sosial sekarang ini jelas menunjukkan ketidakberpihakan para penguasanya kepada kaum muda. Para penguasa Prancis selama peristiwa Mei tidak membeda-bedakan antara mahasiswa, pegawai dan buruh muda. Mereka memperlakukan semuanya sebagai musuh.Contoh kongkret dari ini adalah insiden di Flins ketika terjadi demonstrasi besar. Setelah seorang anak sekolah dibunuh oleh polisi muncul kegelisahan besar. Polisi bergerak masuk dan mulai memerika para demonstran, memerika kartu identitas orang-orang yang lewat. Setiap orang yang berusia di bawah 30 tahun ditangkap karena dianggap potensial sebagai pemberontak, sebagai orang yang akan bergerak menghantam polisi. (tepuk tangan)

Jika kalian secara seksama membaca buku-buku sekarang, industri film dan bentuk-bentuk refleksi kenyataan sosial yang lain di dalam suprastruktur budaya selama lima atau sepuluh tahun terakhir, kalian akan lihat bahwa di samping semua pembicaraan yang palsu tentang kenakalan remaja, kaum borjuis telah menggam­barkan jenis pemuda yang dihasilkan sistemnya dan juga semangat memberontak dari kaum muda. Ini tidak terbatas bagi mahasiswa atau kelompok minoritas seperti orang kulit hitam di Amerika Serikat. Ini juga berlaku bagi buruh-buruh muda.Kiranya perlu dipelajari apa yang ada lingkungan buruh-buruh muda karena perjuangan memenangkan mereka kepada kesadaran sosia­lis, kepada gagasan-gagasan revolusi sosialis kelihatannya pent­ing bagi negeri-negeri Barat selama sepuluh sampai limabelas tahun mendatang. Jika kita berhasil mengangkat kaum muda yang terbaik menjadi sosialis revolusioner --saya pikir ini sudah mulai dilakukan di negeri-negeri Eropa Barat-- kita bisa yakin tentang kemajuan gerakan kita. Jika kemungkinan ini lepas dan kebanyakan orang muda berpihak ke kalangan ekstrem kanan, maka kita akan kalah dalam perjuangan yang menentukan dan akan masuk ke dalam liang kubur bersama sosialis Eropa dan gerakan revolusioner di tahun 1930-an.

Persatuan teori dan praktek juga berarti bahwa serangkaian gagasan kunci dari gerakan sosialis dan tradisi revolusioner telah ditemukan kembali sekarang. Aku tahu bahwa sebagian orang dalam gerakan mahasiswa di Amerika Serikat ingin menciptakan sesuatu yang sama sekali baru. Aku sepenuh hati setuju dengan setiap usulan yang menginginkan sesuatu yang lebih baik, karena apa yang telah dicapai oleh generasi-generasi sebelumnya juga kurang meyakinkan dari sudut pandang pembangunan masyarakat sosialis. Tapi penting juga aku utarakan peringatan. Jika kalian menyangka sedang menciptakan sesuatu yang baru, yang sebenarnya sedang dilakukan adalah mundur ke masa lalu yang jauh lebih terbelakang dari masa lalu Marxisme.

Semua gagasan baru yang dimajukan dalam gerakan mahasiswa di Eropa selama tiga atau empat tahun terakhir, dan menjadi populer di kalangan mahasiswa Amerika Serikat, sebenarnya sudah sangat tua umurnya. Alasannya sangat sederhana. Kecenderungan logis dari evolusi sosial dan kecenderungan kritik sosialis dikembangkan dalam jalur para pemikir besar abad 18 dan 19. Terlepas dari kalian suka atau tidak, hal itu memang benar, dan berlaku bagi ilmu sosial sekaligus ilmu alam yang rangkaian hukumnya dicipta­kan di masa lalu. Jika kalian ingin mengembangkan kecenderungan baru, kalian harus maju dari landasan yang merupakan hasil ter­baik dari generasi-generasi sebelumnya. Keinginan untuk senantiasa menciptakan sesuatu yang baru hanyalah satu aspek awal dari radikalisme mahasiswa. Ketika gerakan sudah berkembang menjadi besar dan bisa memobilisasi massa yang besar maka yang akan terjadi adalah sebaliknya seperti ditunjukkan para sosiologis Prancis ketika melihat kejadian bulan Mei 1968. Saat itu massa mahasiswa revolusioner yang luas ber­juang menemukan kembali tradisi sejarah dan akar-akar historis mereka. Mereka seharusnya sadar bahwa mereka akan lebih kuat jika mengatakan: perjuangan kami adalah perpanjangan dari perjuangan untuk kebebasan yang dimulai 150 tahun lalu, atau bahkan 2.000 tahun lalu ketika budak-budak pertama memberontak terhadap tuannya. Ini akan jauh lebih meyakinkan daripada mengatakan: kami melakukan sesuatu yang sama sekali baru yang terputus dari sejar­ah dan terisolasi dari keseluruhan masa lalu seakan masa lalu tidak pernah mengajarkan apa-apa kepada kita dan tidak ada yang dapat kita pelajari dari itu. (tepuk tangan)

Masalah ini akhirnya akan membawa aktivis mahasiswa kembali pada beberapa konsep historis dasar dari sosialisme dan Marxisme. Kita telah melihat bagaimana gerakan mahasiswa di Prancis, Jer­man, Italia dan sekarang Inggris kembali kepada gagasan-gagasan revolusi sosialis dan demokrasi buruh. Bagi seseorang seperti saya, sangat menggembirakan melihat bagaimana gerakan revolusion­er Prancis mempertahankan hak kebebasan berbicara, dan menghu­bungkannya dengan tradisi terbaik dari sosialisme. Pertemuan kalian sekarang ini juga memperbarui kembali tradisi internasion­alisme dari sosialisme lama dan Marxisme ketika kalian bilang bahwa perlawanan mahasiswa bersifat mendunia dan bahwa gerakan mahasiswa itu bersifat internasional. Ini adalah internasionalisme yang sama, dengan akar-akar dan tujuan yang sama seperti internasionalisme dari sosialisme, sama seperti internasionalisme dari kelas buruh. Masalah-masalah internasional yang dihadapi adalah masalah solidaritas dengan kawan-kawan kita di Meksiko, Argentina dan Brasil yang memimpin perjuangan besar, yang mengangkat revolusi Amerika Latin ke tingkat lebih tinggi setelah menderita kekalahan karena kepemim­pinan yang buruh, reaksi internal dan represi imperialis selama tahun-tahun belakangan ini. Kita harus menyanjung kekuatan maha­siswa-mahasiswa Mexico. (tepuk tangan) Dalam beberapa hari mereka telah mengubah situasi politik secara mendasar di negeri itu dan membuang topeng demokrasi palsu yang dipasang pemerintah Mexico untuk menerima jutaan dolar dari penonton-penonton Olimpiade. Sekarang setiap orang yang menonton Olimpiade akan tahu bahwa ia telah mengunjungi negeri di mana para pemimpin serikat buruh kereta apinya ditahan bertahun-tahun setelah masa tahanan mereka berakhir; negeri di mana banyak pemimpin politik kalangan kiri dipenjara bertahun-tahun tanpa pengadilan, di mana pemimpin mahasiswa dan ribuan milisi mahasiswa ditahan di penjara tanpa landasan hukum. Protes mereka yang heroik memiliki konsekuensi bagi masa depan politik Meksiko dan perjuangan kelas di negeri itu. (tepuk tangan)

Penting juga kiranya mengutarakan beberapa patah kata ten­tang mahasiswa tahanan di negeri-negeri semi kolonial lainnya, yang tidak pernah dibicarakan orang, seperti pemimpin mahasiswa Kongo yang telah ditahan selama hampir satu tahun karena mengor­ganisir sebuah demonstrasi kecil menentang perang Vietnam ketika wakil presiden Humphrey bertandang ke sana. Kita tidak boleh lupa bahwa pemimpin-pemimpin mahasiswa Tunisia yang ditahan selama dua belas tahun dengan alasan yang sama, memimpin sebuah demonstrasi. Duabelas tahun di penjara! Kita harus menyadarkan masyarakat agar kejahatan penindas seperti ini tidak akan terlupakan.

Akhirnya, kita tidak boleh lupa perjuangan melawan intervensi Amerika Serikat di Vietnam, yang tetap menjadi perjuangan utama di dunia sekarang ini. Dengan dimulainya negosiasi itu di Paris, tidak berarti bahwa tidak ada yang dapat kita lakukan untuk membantu perjuangan kawan-kawan kita di Vietnam. Untuk itu, saya mengajak kalian ikut dalam aksi dunia yang dimulai oleh gerakan mahasiswa Jepang, Zengakuren, Federasi Mahasiswa Revolu­sioner Inggris bersama dengan Kampanye Solidaritas Vietnam, dan Komite Mobilisasi Mahasiswa di sini. Ini adalah Minggu Solidaritas untuk revolusi Vietnam, dari tanggal 21 sampai 27 Oktober. Minggu ini ratusan ribu mahasiswa, buruh muda dan revolusioner muda akan turun ke jalan bersamaan untuk mencapai tujuan-tujuan yang diajukan kawan-kawan Vietnam! Perlihatkan pada dunia bahwa di Amerika Serikat ada ratusan ribu orang yang menginginkan penarikan kembali pasukan Amerika dari Vietnam. Itu pasti akan berhasil. (terputus oleh tepuk tangan)

* * *
Sumber
Posted by admin at 2:50 AM 1 comments Links to this post
Labels: Artikel, Gerakan Mahasiswa
Aksi Penolakan Kenaikan Harga BBM
Aksi demonstrasi mahasiswa menolak kenaikan harga BBM terus terjadi sampai hari Sabtu [1/10]. Di Jakarta, puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Forum Kota dan beberapa elemen lainnya kembali melakukan aksi di Jl. Diponegoro depan kampus UKI.
--
Menyusul bentrokan satu hari sebelumnya, penjagaan aksi yang dilakukan aparat kepolisian terlihat sangat berlebihan. Terlihat puluhan polisi anti huru hara, beberapa mobil tahanan dan 1 mobil water canon bersiaga di sekitar lokasi demonstrasi. Mahasiswa tetap melakukan aksi sambil berorasi di jalan.
Sampai sore hari aksi berjalan tertib, sampai seluruh peserta aksi membubarkan aksi mereka di Kampus STTJ, Tugu Proklamasi. Tidak lama setelah mahasiswa membubarkan diri, aparat kepolisian tiba-tiba merangsek masuk ke dalam kampus. Sebagian mahasiswa lari ke arah Jl. Diponegoro dan Jl. Salemba. Tarik menarik antara mahasiswa polisi berlangsung sangat singkat.
Terlihat polisi menyita berbagai atribut aksi, seperti boneka orang-orangan, spanduk, poster-poster, dll. Dan terlihat beberapa mahasiswa ditangkap dan langsung dimasukan ke dalam mobil tahanan. Tidak jelas apa alasan polisi menyerbu ke dalam kampus STTJ dan melakukan penyitaan serta penangkapan tersebut.

Aksi di berbagai daerah

Selain di Jakarta, aksi unjuk rasa juga digelar di berbagai kota lainnya, di antaranya, Bandung, Cirebon, Cianjur, Bogor, Tangerang, Banten, Sidoarjo, Lamongan, Yogyakarta, Tuban, Purbolinggo, Jombang, Surabaya, Denpasar, Jambi, Medan, Nias, Banjarmasin, Pontianak, Samarinda, Bontang, Kutai Kertanegara, Balikpapan, Tarakan, Palangkaraya, Nunukan, Makasar, Palu, Palopo, Flores, Papua, dan lain-lain.

Di Palu, Sulawesi Tengah, aksi unjuk rasa diwarnai bentrok aparat dengan mahasiswa. Bentrokan berawal ketika sebagian dari peserta aksi yang sedang berorasi di Kantor DPRD Sulteng tiba-tiba berbalik haluan dan menuju SPBU 74-0801 di Jalan Pramuka, Palu, sekitar 500 meter dari Kantor DPRD Sulteng. Sebagian tetap berorasi sambil meminta anggota Dewan berdialog menjadi kesal sebab tuntutan mereka tak dikabulkan.
Kondisi ini membuat situasi jadi panas. Para demonstran berteriak-teriak dan mulai mendorong pagar betis aparat. Aparat langsung melepas tembakan peringatan ke udara untuk membubarkan aksi tersebut. Mahasiswa pun mundur sambil melakukan perlawanan. Tercatat empat mahasiswa, yakni Wahyu, Darius, Andri, dan Karim dan tiga polisi luka-luka menyusul bentrokan.
Di Semarang, Jawa Tengah, demonstrasi berlangsung di sepanjang ruas jalan protokol dan terkonsentrasi depan air mancur di Jalan Pahlawan. Pengunjuk rasa dari aliansi masyarakat miskin ini juga sempat menunaikan salat ghaib. Mereka juga membakar patung jenazah "Susilo Bambang Yudhoyono" yang terbungkus kain mori sebagai simbol matinya hati pemimpin bangsa. Saat pembakaran berlangsung, polisi berusaha mematikan api. Meski demikian, tak terjadi bentrokan fisik antara kedua belah pihak.

Di Mataram, Nusatenggara Barat ratusan melampiaskan kemarahan dengan menghentikan kendaraan dinas pemerintah daerah dan menggembosi bannya. Menurut mereka, seharusnya pemerintah yang paling pertama dan pantas merasakan dampak kenaikan harga BBM, bukan rakyat. Demonstran nyaris bentrok dengan polisi yang berupaya menghentikan aksi penggembosan ban kendaraan dinas. Polisi akhirnya bisa membebaskan sejumlah mobil.

Demonstrasi juga digelar puluhan mahasiswa. Aksi diwarnai dengan pembakaran ban bekas serta mendobrak gerbang Kompleks Gedung Sate yang merupakan kompleks gedung pemerintahan daerah dan DPRD. Mereka tak bisa mendekati kantor gubernur, karena dihadang puluhan polisi. Mahasiswa kemudian mundur dan kembali berorasi di jalan.

Di Kupang, NTT, ratusan mahasiswa berhasil menduduki RRI sekitar 30 menit dan menyiarkan penolakan mereka terhadap kenaikan harga BBM.


Pemogokan Angkutan Umum masih berlanjut

Ribuan sopir angkutan kota di Manado, Sulawesi Utara, sejak Sabtu (1/10) pagi, mogok kerja. Para sopir memarkir kendaraan mereka di pinggir jalan, seperti di kawasan Pal Dua, Miangas, dan Jalan Boulevard.

Di Kendari, Sulawesi Tenggara. Ratusan sopir angkot mogok beroperasi. Mereka memarkir kendaraan di sepanjang Jalan Raya Abu Nawas, Kendari.

Di Terminal Kartosuro, Solo, Jawa Tengah, sejak pagi para awak bus menurunkan paksa ratusan penumpang yang akan masuk atau meninggalkan Surakarta. Menurut mereka kenaikan harga solar menyebabkan setoran sulit terpenuhi.

Di Bogor, Jawa Barat. Beberapa angkot menggelar mogok. Diantaranya adalah angkot trayek 07 Warung Jambu-Merdeka dan 08 Citeureup-Pasar Anyar.

Sementara itu di Jakarta sebagian angkot dan mikrolet di terminal Kampung Melayu dan Ciputat juga terlihat masih tetap melakukan aksi mogok.

01-10-2005, 22:06

Sumber
Posted by admin at 2:42 AM 0 comments Links to this post
Labels: Demonstrasi
Thursday, November 09, 2006
Aliansi Gerakan Mahasiswa Akan Follow Up Hasil Dialog Terbuka
Gunungsitoli, WASPADA Online


Aliansi pergerakan mahasiswa akan mem follow up dialog terbuka yang mereka lakukan bersama BRR Perwakilan Nias, pada 31 Oktober 2006 lalu.

“Salah satunya, mempertanyakan sejauhmana tindak lanjut 6 poin hasil rekomendasi yang telah disepakati bersama,” sebut Sekretaris DPC GRI Nias, Yusman Zendrato, Rabu (8/11) didampingi Presiden Mahasiswa STIE Pembnas Nias, Yohanes Giawa, Ketua Presidium PMKRI CC Nias, Yohanes Bu’ulolo dan Koordinator Eksekutif KS Lini Nias, Anugrah N. Hia di Sekretariat GRI Nias Jl. Yos Sudarso Gunungsitoli.

Yusman Zendrato mengungkapkan, tujuan mem follow up dialog terbuka merupakan itikad baik menyatukan persepsi agar proses pelaksanaan rehabilitasi rekonstruksi berjalan lebih baik sesuai harapan bersama.

Namun, ketika hasil rekomendasi hanya untuk menenangkan kontrol elemen gerakan di Nias, maka alternatif terakhir yang akan dilakukan melakukan aksi massa.

Presiden Mahasiswa STIE Pembnas Nias, Yohannes Giawa menambahkan, hasil rekomendasi yang telah ditandatangani bersama bukan hanya lips service. “Kita mendesak BRR tidak menghalalkan pelanggaran, penyalahgunaan wewenang serta pengerjaan proyek bermasalah, yang dapat menjadi petaka baru buat masyarakat Nias ke depan,” tandasnya.

Sehubungan itu, aliansi gerakan mahasiswa ini mendesak penegak hukum lebih serius menangani dan menyelesaikan semua penyelewengan yang terjadi dalam proses rehabilitasi rekonstruksi, dan berharap penegak hukum komitmen terhadap kasus-kasus yang sedang ditangani

Adapun hasil rekomedasi dialog terbuka itu, pembentukan otoritas BRR Nias, pembentukan otoritas kontrol legislatif, mengakuratkan seluruh data penerima bantuan 2007 untuk melaksanakan pembangunan rumah tahun anggaran 2007, segera direkonstruksi dan direhabilitasi orang-orang di BRR, koordinasi lebih diarahkan sebagai koordinasi institusi dengan institusi, serta mendesak Polres Nias dan Kejaksaan Gunungsitoli mengusut tuntas oknum BRR Nias yang terindikasi praktek KKN.(cbj) (sn)

Sumber
Posted by admin at 8:27 AM 0 comments Links to this post
Labels: Aliansi, Berita, Daerah, PMKRI
Thursday, April 13, 2006
Mungkinkah Mahasiswa Bersatu (Kembali)?
http://www.detik.com/kolom/200101/2001125-212453.shtml

Penulis: Aditya Perdana *


detikcom - Maraknya aksi mahasiswa yang menuntut Presiden Abdurrahman Wahid untuk mundur dari kursi kepresidenan akhir-akhir ini membawa romantika pergerakan mahasiswa tahun 1998 ketika menjatuhkan rezim Orde Baru. Tema besar yang dibawakan hampir sama yaitu mengkritisi pemerintahan yang belum berada di jalur demokrasi sesungguhnya. Namun kondisi gerakan mahasiswa saat ini jauh berbeda dengan keadaan 3 tahun lalu.

Kalau dahulu mereka mampu bersatu dalam kekuatan besar yang bernama mahasiswa karena mempunyai musuh bersama yang dianggap layak dijatuhkan, mempunyai keinginan merubah bangsa ini agar lebih demokratis, atau menganggap rezim yang ada sudah selayaknya digantikan dengan kekuatan rakyat yang sesungguhnya. Tetapi sekarang, keadaan telah berubah. Lalu, bagaimana dengan peta gerakan mahasiswa serta kondisi yang saat ini membutuhkan kesatuan gerak mahasiswa dalam mengkritisi pemerintahan, akan menjadi pertanyaan di tulisan ini.

Pasca Mei 1998, gerakan mahasiswa seakan tercerai berai. Euforia kemenangan atas kejatuhan Suharto begitu besar yang akibatnya banyak elemen mahasiswa lupa diri dan hanya menyerahkan begitu saja kepada elit-elit politik. Seterusnya, penentangan terhadap diadakan atau tidak Sidang Istimewa November 1998 adalah bukti awal bahwa gerakan mahasiswa, walau belum kelihatan secara detail, akan terpolarisasi menjadi dua kutub. Dan yang menjadi realitas adalah menjamurnya elemen gerakan mahasiswa baik di dalam atau di luar kampus menambah keyakinan akan polarisasi itu. Hingga saat ini, polarisasi tersebut semakin kuat dan menjadi sulit disatukan kembali.

Ada dua fase utama di mana gerakan mahasiswa semakin terpolarisasi, yang mungkin lebih disebabkan faktor ideologisnya untuk membawa arah dan tujuan gerakan itu. Pertama, fase antara Mei 1998 hingga berlangsungnya Pemilu bahkan ditarik lebih jauh lagi naiknya Gus Dur sebagai presiden. Pada fase ini, mahasiswa dihadapkan berbagai persoalan awal bangsa setelah reformasi berhasil digulirkan.

Sidang Istimewa MPR menjadi perdebatan yang hebat hingga konflik fisik yang menimbulkan banyak korban. Kondisi ini disebabkan oleh dua kekuatan yang menginginkan dibentuknya semacam Komite Rakyat tanpa memperdulikan jalur konstitusional dan membentuk presidium bagi pemerintahan transisi. Sementara di sisi yang berseberangan menginginkan ada jalur konstitusional lewat mekanisme Sidang Istimewa untuk mengeluarkan mandat kepada presiden baru yaitu Habibie untuk mengadakan pemilu paling lambat tahun 1999 untuk memilih presiden dan wakil rakyat yang baru. Peristiwa itu diiringi dengan aksi besar-besaran dan mengakibatkan tragedi Semanggi dengan aparat yang ganas.

Setelah itu, RUU PKB yang rencananya akan dilegalkan oleh pemerintahan Habibie menambah korban keganasan militer. Sebenarnya, penolakan mahasiswa terhadap RUU ini telah gencar dilakukan tetapi kekuatan negara masih mampu menjatuhkan gerakan rakyat. Bahkan akhirnya penilaian mahasiswa tentang keberadaan RUU ini ditanggapi beragam pula karena melihat dari sisi yang berbeda tetapi mampunyai satu visi yang sama, RUU PKB tidak layak dilegalkan jika belum ada perubahan secara signifikan.

Polarisasi gerakan mahasiswa bisa dilihat secara general yiatu gerakan mahasiswa yang terus konsisten akan beberapa isu utama reformasi seperti cabut dwifungsi TNI, adili Soeharto dan kroninya, dan sebagainya. Dan gerakan ini diwakili oleh elemen mahasiswa ekstra-kampus yang lebih bersifat sosialis dalam pergerakan yaitu Forkot, Forbes, LMND dan sebagainya.
Sementara gerakan mahasiswa berikutnya lebih peduli kepada persoalan bangsa terutama jalannya pemerintahan dalam menjalankan amanah reformasi yang telah disepakati dalam Enam Visi Reformasi. Elemen ini diwakili oleh badan atau organisasi intra-kampus seperti Senat Mahasiswa, Badan Eksekutif Mahasiswa universitas di Jawa atau bahkan Indonesia (seperti JMI).

Lalu, gerakan mahasiswa yang tergabung dalam HMI, KAMMI, GKMNI,PMII atau yang lainnya dapat dimasukkan ke dalam kategori yang di atas secara masing-masing (seperti HMI lebih cocok ke tipikal kedua bersama KAMMI, sedangkan GKMNI dan PMII lebih cocok tipikal pertama), karena mereka pada umumnya tidak secara fokus gerakannya, hanya dapat menyikapi keadaan bangsa secara temporer dan beberapa isu saja. Dan kadangkala elemen mahasiswa ini ada sangkut pautnya dengan beberapa partai, sehingga pergerakan mereka seringkali diidentikkan dengan kepentingan partai tertentu.

Kedua adalah fase setelah Gus Dur naik menjadi presiden hingga saat ini. Polarasasi yang disebutkan di atas semakin tajam adanya. Bahkan penyatuan untuk beraksi dalam satu momen yang sama enggan untuk dilakukan. Sehingga, aksi mahasiswa dalam setahun belakangan ini membawa agenda-agenda yang berbeda-beda. Seperti, agenda yang dibawa oleh Forkot untuk pengadilan Suharto atau agenda permasalahan amandemen UUD 45 yang diangkat oleh gerakan mahasiswa yang berasal dari lembaga formal pada Sidang Tahunan MPR adalah cermin perbedaan agenda yang dibawa oleh mahasiswa saat ini.

Walaupun diakui bahwa keduanya sangat setuju dengan isu yang diangkat, hanya saja pola gerakan dan metodenya berbeda. Bahkan, layaknya kekuatan politik, hingga kini, tambahan polarisasi gerakan mahasiswa, di mana ada kelompok mahasiswa yang telah mempunyai bargaining politik dengan pemerintahan sekarang untuk mengambil keuntungan tertentu dalam label mahasiswanya. Entah itu keuntungan materi atau usaha memberi dukungan penuh terhadap pemerintahan ini. Contoh dalam kasus terakhir ini (kasus Buloggate yang menghebohkan), kenapa mahasiswa tidak mampu membuktikan diri untuk menyatukan kekuatan lagi dikala isu yang kuat saat ini adalah maraknya KKN gaya baru yang dimunculkan rezim sekarang. Sedangkan isu ini telah disepakati untuk diberantas oleh seluruh elemen masyarakat termasuk mahasiswa.

Sementara, kalau beranjak dalam pola pikir bahwa apa pun bentuk polarisasi gerakan mahasiswa asalkan mempunyai isu bersama yang dimunculkan, saya pikir akan kembali menyatukan sebuah kekuatan massa yang telah hilang itu. Ternyata hal itu disayangkan karena ada indikasi yang telah saya sebutkan di atas bahwa sebagian kekuatan mahasiswa takluk akan kekuatan materi yang ditawarkan oleh penguasa rezim. Ditambah pula, lihainya penguasa dengan mengambil jalur kekuatan massa serta dukungan yang pro terhadapnya sehingga keyakinan saya bahwa sebagian kelompok mahasiswa berada dalam jalur ini adalah benar adanya.

Mengungkap kebenaran dalam koridor moralitas ditambah dengan kekuatan intelektualitas adalah ciri khas mahasiswa. Kalaupun akhirnya ada kelompok mahasiswa yang melenceng dari hal ini, saya khawatir integritas mereka yang diharapkan sebagai kader pimpinan bangsa ini sangat jauh dari harapan rakyat untuk sekedar berbicara kejujuran saja.

Untuk itu, saya sebenarnya berada dalam kalangan orang yang pesimistis untuk sekedar melihat saja bahwa kekuatan mahasiswa tidak akan mampu lagi menyatukan diri. Karena ada setidaknya tiga alasan, pertama, jika saja kekuatan moral mampu dibeli, maka tidak akan pernah ada lagi kebenaran yang diungkapnya. Kedua, mahasiswa yang tetap berada dalam koridor intelektual dan moralitas, sesungguhnya adalah pejuang-pejuang yang rela berkorban demi rakyatnya sehingga ketiga, penyatuan itu takkan mungkin terlaksana dengan dua kondisi mahasiswa yang sudah berbeda itu karena masing-masing telah terkooptasi dengan egonya yang sangat sulit dilakukan.

Tetapi, saya termasuk orang yang optimis jika melihat ternyata masih banyak mahasiswa yang mau berjuang di jalan mencari kebenaran tanpa pamrih. Ketika melihat kenyataan bahwa respon mahasiswa terhadap kasus Buloggate sangat beragam, sesungguhnya saya melihatnya dalam pola pikir seperti di atas.@

* Penulis adalah mahasiswa FISIP UI jurusan Ilmu Politik, aktivis Lingkar Studi Dialektika dan pengurus BEM UI bidang Sosial Politik.
Posted by admin at 12:33 AM 1 comments Links to this post
Saturday, April 08, 2006
Gerakan Mahasiswa dan Organisasi Kemahasiswaan Era 1990-an

http://www.isnet.org/archive-milis/archive95/dec95/0158.html

Oleh Fadli Zon

Sebuah gerakan mahasiswa tidak akan lahir dalam situasi vakum. Dinamisasi merupakan syarat yang tak bisa dihindarkan ketika mahasiswa menuntut kembali peran politiknya dalam interaksi politik nasional. Relevansi mempertanyakan peran mahasiswa Indonesia memang tepat pada waktunya, saat depolitisasi hampir mencapai titik jenuh. Situasi yang berubah ditandai menaiknya tuntutan demokratisasi dan hak-hak asasi manusia mempercepat pergeseran-pergeseran kekuasaan di tingkat elit serta mempertinggi kesadaran rakyat pada umumnya tentang what's going on in this country.

Titik jenuh depolitisasi kampus memang harus terjadi. Lebih dari sepuluh tahun mahasiswa berada dalam penjara ketidakterlibatan politik yang menyebabkan putusnya akar gerakan mahasiswa sebelum nya. Keadaan ini merupakan konsekuensi logis dari kekalahan-kekalahan beruntun gerakan mahasiswa sejak 1970-an. Bermula dari gerakan moral menuju gerakan politik, gerakan mahasiswa 1970-an ditunggangi pertarungan elit. Gerakan mahasiswa1966 yang telah menjadi mitos gerakan mahasiswa Indonesia hingga kini dianggap berhasil memenangkan pertarungan, yang sebenarnya telah didisain oleh Angkatan Darat. Sebagai ujung tombak kemenangan, demikian Angkatan 1966 sering diidentifikasi, mereka telah masuk dalam grand design elit yang menang. Akibatnya ketika Orde Lama tumbang dan Orde Baru masuk dalam pentaspolitik Indonesia, tidak ada alternatif disain yang ditawarkan gerakan mahasiswa, suatu bukti bahwa mahasiswa hanya menjadi alat dan mediatorpeople's power. Ketika kemenangan tiba, mahasiswa disingkirkan dan berusaha direduksi kekuatan politiknya. Hanya saja, hal yang tak bisa dipungkiri dari Angkatan 1966 adalah kemenangannya memilih partner politik yang kuat, yang tidak berhasil pada 1974 dan seterusnya.

Puing-puing gerakan mahasiswa yang ditinggalkan atas kekalahan gerakan mahasiswa 1978 menjadi klimaks legitimasi pemerintah untuk memberangus bibit-bibit baru gerakan mahasiswa. Putuslah sudah perjuangan politik mahasiswa secara nasional yang membawa isu-isu substansial mengenai strategi pembangunan dan persoalan negara secara makro.

Angkatan 1980-an mencoba menyambung getaran-getaran yang masih tersisa dari kehancuran gerakan mahasiswa itu. Upaya-upaya sistematis dari pemerintah untuk mereduksi kekuatan politik mahasiswa makin gencar dengan proyek Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK), penempatan rektor sebagai penguasa tunggal di kampus, dan berbagai bentuk campur tangan korporatis yang takhentinya memerintahkan mahasiswa untuk menjadikan kampus sebagai tempat belajar. Sendi-sendi politik mahasiswa dipatahkan dengan tesis pendidikan sebagai pemenuhan tekno struktur pembangunan.

Tak terhindarkan lagi, peran lembaga intra kampus yang dulu dimotori DewanMahasiswa (DM) hapus sudah. Pereduksian politik ini berhasil dan akibatnya menyurut pula peran lembaga ekstra universitas. Organisasi kemahasiswaan seperti HMI, GMNI, GMKI, PMKRI, PMII semakin kurang laku di kalangan mahasiswa. Angkatan 1980-an mencoba memajukan tesis baru berupa kelompok studi yang menurut mereka sebagai warming up menuju proses yang akhirnya memunculkan situasi anomik. Mereka lebih memilih menunggu momentum ketimbang menciptakan momentum, sehingga dalam proses sejarahnya yang tidak ditunjang kaderisasi, kelompok studi-kelompok studi yang semula menjamur akhirnya lenyap perlahan-lahan. Aktor-aktornya menjadi elit individual dan jauh dari basis massa. Di sisi lain kelompok demokrasi jalanan atau parlemen jalanan memuntahkan isu-isu populis lokal dan berharap suatu saat isu-isu lokal itu akan menjadi isu nasional. Tetapi demokrasi jalanan inipun tidak kuatstaminanya. Sedangkan LSM cenderung lebih akomodatif terhadap kegiatan aksi dan refleksi, tetapi peran mahasiswa di lembaga ini relatif terbatas dibanding peran mantan-mantan aktivis.

Ada beberapa kekurangan-kekurangan Angkatan 1980-an. Pertama, ketiadaan kaderisasi. Kelompok studi maupun demokrasi jalanan dimotori oleh orang yangitu-itu juga. Kedua, ketiadaan basis massa. Situasi massa memang tidak mendukung, proyek depolitisasi berhasil, tindakan represif mengancam setiapgerakan mahasiswa yang membawa isu-isu substansial. Ketiga, disakumulasi kekuatan mahasiswa. Menyadari pereduksian politik yang berakibat posisimahasiswa berada di jalur peripheral, pinggiran, mestinya kekuatan-kekuatansporadis mahasiswa melakukan akumulasi, saling bergandeng tangan. Tetapiyang terjadi adalah saling menuduh dan saling menghakimi antara kelompok studi dan demokrasi jalanan. Bahkan sesama demokrasi jalanan pun terjadi kleim-mengkleim tentang sebuah move. Ada semacam arogansi, sayangnya arogansi ini lahir dari kaum pinggiran yang makin dimarjinalisasi sehingga kekuatan gerakan mahasiswa 1980-an mengalami disakumulasi kekuatan, power disaccumulation. Bisa dibayangkan jika sebuah kelompok marjinal yang makinmarjinal, ingin "menggoyang" center yang makin menguat. Hasilnya adalah kegagalan Angkatan 1980-an. Angkatan Baru
Membangun sebuah gerakan mahasiswa baru, gerakan mahasiswa 1990-an, bukan hal mudah. Puing-puing gerakan mahasiswa sebelumnya masih membayang-bayangi. Adalah satu keberanian menggulirkan diskursus gerakan mahasiswa 1990-an di tengah kehancuran politik mahasiswa. Bahkan istilah gerakan mahasiswa1990-an adalah nama yang mendahului sejarah. Seringkali angka-angka 1908,1928, 1945, 1966, 1974, 1978, lahir setelah terjadi, post factum. Angka-angka itu pun erat kaitannya dengan sebuah momentum. Bisakah gerakan mahasiswa 1990-an menciptakan momentum ketimbang menunggu momentum, karena memang momentum tidak akan datang dari langit. Kare nanya agenda gerakan mahasiswa 1990-an haruslah menghela sejarah, bukan menunggu masa krisis maupun momentum yang dihela oleh elit-elit politik yang bertikai.

Pesimisme kemungkinan terbangunnya suatu kekuatan baru mahasiswa memang ada. Pertama, aksi-aksi mahasiswa sekarang hanya merupakan bentuk gagah-gagahan dan "menapaktilas" Angkatan 1966. Aksi-aksi itu masih dilingkupi romantisme Angkatan 1966 yang ikut mendongkel Orde Lama. Kedua, aksi-aksi mahasiswasekarang kurang dibekali landasan konsepsional yang matang serta peta politik, ekonomi, yang akurat. Hal ini merupakan dampak NKK yang mengisolasikan mahasiswa dari politik dan persoalan kemasyarakatan. Ketiga,aksi-aksi lebih banyak mengandalkan liputan media massa ketimbang berdiri otonom. Keempat, aksi-aksi bersifat sporadis, temporer dan reaktif, tidakmembangun isu dari bawah. Sementara isu yang dimunculkan juga bersifatsesaat tidak perubahan mendasar. Kelima, dampak NKK masih terasa dan proyekdepolitisasi kampus masih diterapkan. Kebanyakan mahasiswa menjadi asing terhadap persoalan-persoalan bangsanya sendiri. Keenam, gerakan mahasiswa sendiri terpecah belah dalam banyak faksi mewakili kepentingan yang bervariasi dengan strategi gerakan yang juga beragam. Ketujuh, ormas kepemudaan dan ormas kemahasiswaan kurang berperan dan semakin tidak kritis terhadap ketidakadilan dan kesewenang-wenangan. Sehingga, kehadiran aksi-aksi sulit diharapkan menjadi pressure group bagi pemerintah.

Di samping pesimisme itu ada faktor eksternal dan internal yang mendukung optimisme. Faktor eksternal adalah faktor di luar dunia kemahasiswaan atau gerakan mahasiswa yaitu perubahan cuaca politik. Cuaca politik di era1990-an mengalami kemajuan terutama dengan dibukanya keran keterbukaan oleh pemerintah, meskipun belum pada tahap yang diharapkan. Kuatnya isu demokrasi dan hak asasi manusia di dunia internasional telah membawa perhatian pemerintah untuk lebih arif menyelesaikan persoalan-persoalan pemerintah dengan rakyat seperti kasus tanah, upah buruh, monopoli, dan seterusnya. Terjadi pula perubahan power block, blok kekuasaan, dalam konstalasi pemerintahan Orde Baru. Arief Budiman menyebut ini sebagai realiansi, dari Soeharto-Katolik-CSIS-Ali Murtopo ke Soeharto-Islam-ICMI-Habibie yang dipicuUU Peradilan Agama tahun 1989. Berturut-turut Islam, yang selama dua dekade Orde Baru ditempatkan sebagai ekstrem kanan, mendapat akomodasi politik seperti dengan kehadiran ICMI, CIDES, BMI, penghapusan pelarangan jilbab, penghapusan SDSB, dan seterusnya. Meskipun akomodasi politik Islam ini masih bersifat artifisial, namun ia telah membawa kegairahan baru di kalangan umat Islam yang selama ini marjinal dalam politik Indonesia. Hal ini merupakan harapan baru bagi upaya demokratisasi di Indonesia. Tanpa keterlibatan mayoritas, tidak mungkin tercipta demokrasi di Indonesia. Karenanya Islam di Indonesia harus mendorong demokratisasi. Ini merupakan suatu revolution from above yang menjadi blessing in disguise bagi demokratisasi di Indonesia.

Faktor internal adalah faktor dalam dunia kemahasiswaan sendiri. Perlahan-lahan, kesadaran politik mahasiswa mulai kembali meskipun belum pada derajat memahami politik itu. Kepedulian terhadap nasib rakyat yang tertindas masih hadir dan makin hidup. Hal ini tecermin dalam banyak kasus seperti pembelaan terhadap kasus tanah, upah buruh, dan seterusnya. Meskipun pembelaan itu masih dalam kerangka "reaktif" namun masih ada harapan. Contoh yang menarik adalah kasus SDSB tahun 1993. Angkatan 1990-an berhasil menggelindingkan bola salju SDSB sehingga isu lokal populis ini dengan akseleratif menjadi isu nasional yang tak terelakkan dan akumulatif.Menghadapi itu, pemerintah mau tak mau harus mencabut SDSB. Meskipun kemenangan ini kecil, bahkan pemerintah dan ABRI mendapat citra baik dalampencabutan SDSB ini, tetapi tak bisa disangkal bahwa pupusnya SDSB telah menjadi platform dan legitimasi bahwa gerakan mahasiswa masih ada, dan demonstrasi sebagai jalan akhir ketika dialog macet, masih efektif digunakan. Ini merupakan stepping stone bagi gerakan mahasiswa 1990-an.

Kasus SDSB merupakan fenomena menarik melihat gerakan mahasiswa 1990-an. Sebagai sebuah batu loncatan, hapusnya SDSB harus dilihat secara optimistik bahwa dalam isu-isu tertentu akan terjadi konsolidasi yang begitu kuat menghadapi policy pemerintah yang tidak dikehendaki rakyat. Argumentasi relijius dan ekonomis ternyata cukup kuat untuk mendongkel sebuah kebijakan.Terjadilah the unity of action dari berbagai kelompok mahasiswa mulai dari kelompok mahasiswa yang bernafaskan kelompok studi, parlemen jalanan atau demokrasi jalanan, aktivis lembaga mahasiswa SMPT, aktivis ekstra kampus,OKP berbasis mahasiswa dan kelompok mahasiswa relijius. Bahkan dalam perkembangannya, ketika aksi-aksi anti SDSB telah meluas, pihak-pihak tertentu yang semula tidak concern soal SDSB, mungkin juga mendukung SDSB,secara mengejutkan berusaha ikut membonceng dengan niatan berbeda. Keberhasilan gerakan mahasiswa dalam isu SDSB harus diakui tertolong oleh power block politik yang ada. Pemerintah tidak mau berhadapan dengan Islam, hanya untuk mempertahankan SDSB.

Fenomena Baru Gerakan Mahasiswa

Hadirnya argumentasi relijius sebenarnya merupakan salah satu fenomena baru1990-an. Paling tidak ada tiga fenomena baru gerakan mahasiswa 1990-an yang sejauh ini dapat dicatat yaitu fenomena relijius, kesadaran internasional dan kecenderungan konvergensi aksi-refleksi.
Fenomena relijius yang ditandai menguatnya unsur relijiusitas dalam aktivitas kemahasiswaan sebagai reaksi atas pencepatan sekularisme ke arahstagnan dan arus umum revival of faith di masyarakat telah melahirkan sebuahkelompok baru: kelompok mahasiswa relijius. Faktor lain yang memunculkan kelompok ini adalah ketidakmampuan organisasi-organisasi ekstra kampus menjawab tantangan zaman karena memang telah surut akibat depolitisasi kampus. Kalau dulu HMI, PMKRI, GMNI, PMII dan organisasi sejenis memiliki basis di kampus, maka sekarang akar organisasi ekstra itu tercerabut dikampus dan makin tidak populer. Berbeda dengan kelompok studi atau demokrasijalanan di tahun 1980-an maka kelompok mahasiswa relijius menempatkan tema-tema politik setelah tema-tema ideologis sehingga mereka tidak secara eksplisit menyatakan sikap terhadap perkembangan sosial politik diIndonesia. Bagi mereka, proses terpenting adalah pembinaan diri terus-menerus sehingga dalam proses itu mereka benar-benar survive lalu keluar sebagai manusia yang mampu menjawab tantangan dunia sekelilingnya.Dalam kalimat yang lebih pendek sebut saja tarbiyatul qoblal jama'ah, pendidikan yang terus-menerus sebelum membentuk society. Jadi, mereka mempunyai kesadaran politik tetapi lebih memilih membina diri pribadi mereka dahulu ketimbang terlibat dalam isu-isu politik. Hanya dalam isu-isu tertentu saja mereka terlibat.

Bagi kelompok mahasiswa relijius persoalannya adalah tidak kondusifnya lingkungan bagi penerapan keberagamaan mereka, termasuk tidak akomodatifnya sistem yang ada. Untuk itu perlu dibentuk suatu masyarakat yang lebihagamis baik secara keimanan maupun budi pekerti, tingkah laku, sehingga terjadi kesatuan penerapan antara iman, amal dan ilmu. Pengertian keberagamaan yang umum didekonstruksi sedemikian rupa dengan semangat purifikasi. Sebagai konsekuensi pembinaan ke dalam, terjadi pembatasan yang agak transparan antara kelompok mahasiswa relijius dengan kelompok-kelompokmahasiswa pada umumnya. Pada derajat tertentu pembatasan itu mengarah padaekslusivisme sehingga mendukung pengkotakan mereka sebagai kaum"fundamentalis." Namun tentu saja derajat itu berbeda-beda. Dalam prosesberikutnya bahkan sebagian kelompok mahasiswa relijius lebih tanggap terhadap perubahan tanpa emosional.

Basis kelompok mahasiswa relijius termasuk yang paling kuat di antara kelompok-kelompok mahasiswa lainnya. Mereka hadir di jantung-jantungfakultas universitas baik negeri maupun swasta dan mempunyai network yang terbina rapi. Komitmen mereka yang kuat atas perjuangan menegakkan kebenaran dan keadilan tampaknya akan mempunyai peran penting di tahun-tahun mendatang. Apalagi jika komitmen itu menyatu dengan nafas zaman ini yang diidentifikasi sebagai masa tuntutan demokratisasi dan pemenuhan hak-hakasasi manusia.
Sementara fenomena kesadaran internasional lahir karena globalisasi informasi yang cepat, menguatnya diskursus demokrasi dan hak-hak asasi manusia dan kesadaran perlunya menggandeng kekuatan internasional dalam pemenuhan demokrasi dan hak-hak azasi manusia itu. Selain itu mungkin pula karena apatisme terhadap perjuangan isu lokal yang hampir selalu gagal. Hal menarik dari kesadaran internasional ini adalah kaitannya dengan kesadaranrelijius. Munculnya advokasi-advokasi masalah Bosnia-Herzegovina-Serbia, Perang Teluk, Irak-Amerika, PLO-Israel, Aljazair dan Somalia, tidak lepasdari persoalan solidaritas agama.
Sedangkan kecenderungan konvergensi aksi-refleksi tampak dalamkelompok-kelompok mahasiswa yang ada. Pada dasarnya intelektualitas atau kecendekiawanan tetap harus menjadi pegangan. Masalah cara, apakah dialog, lobi, mimbar bebas atau unjuk rasa bukanlah persoalan intelektualitas. Intelektualitas itu ditentukan substansi yang disampaikan dikaitkan dengan argumentasi yang berdasar kuat dan mempunyai konsep yang jelas.

Pada Angkatan 1980-an, berbenturannya kelompok studi dan demokrasi jalanan selain perbedaan ideologi, juga perbedaan persepsi pendekatan gerakan.Kelompok studi dan LSM cenderung tidak apriori terhadap pemerintah dengan memajukan persoalan-persoalan yang bersifat transformatif dan korektif seperti pengembangan isu demokrasi dan hak-hak asasi manusia. Sedangkan demokrasi jalanan memilih pembatasan yang tegas, non kooperatif dengan pemerintah dalam bentuk komite-komite aksi yang pragmatis berdasar isu lokaltertentu dengan harapan melibatkan gerakan rakyat.

Senat Mahasiswa dan Dewan Mahasiswa

Lembaga kemahasiswaan SMPT (Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi) merupakan bagian penting dari fenomena 1990-an. Berlakunya SMPT ini berdasarkan SK Mendikbud Fuad Hassan No. 0457/U/1990 sekaligus mengakhiri NKK/BKK. Walau demikian dampak buruk NKK/BKK dalam aktivitas kemahasiswaan masih tampakjelas hingga kini. Ketika itu Fuad menegaskan bahwa pembentukan senat pada fakultas dan universitas tidak ada kaitannya dengan DM (Dewan Mahasiswa)yang telah diberangus.

Semula beberapa perguruan tinggi menolak konsep SMPT ini termasuk ForumKomunikasi SM-BPM Universitas Indonesia. Berikut adalah sejumlah alasanpenolakan terhadap SMPT. Pertama, SMPT tidak mengakar ke mahasiswa umumnya,tidak populis. Kedua, hubungan SMPT dengan lembaga-lembaga mahasiswa lainseperti Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) hanya bersifat koordinatif sehingga suara tidak menyatu, mudah terpecah belah. Ketiga, adanya peluang menjadikan SMPT sebagai wadah permainan elit mahasiswa belaka. Keempat, tidak diakuinya fungsi legislatif mahasiswa yang seharusnya menjalankan fungsi kontrolterhadap eksekutif. Kelima, SMPT tidak mandiri, tidak otonom, dan tidak independen karena berada di bawah kekuasaan rektorat yang berhak ikut campurdalam persoalan SMPT. SMPT dianggap sebagai upaya kooptasi birokrat kampus. Sebagian lagi menilai SMPT adalah perpanjangan NKK/BKK yang berubah bentuk. Keenam, ada pula yang menilai SMPT harus ditolak karena pemberian pihaklain, bukan dari mahasiswa untuk mahasiswa.

Sejumlah alasan tersebut telah diungkapkan pada awal tahun 1990-an. Darisinilah aktivis mahasiswa intrakampus terbelah kembali. Namun, sebagianbesar kampus-kampus di Indonesia akhirnya menerima SMPT dengan beberapacatatan. Alasan utama penerimaan SMPT itu adalah adanya celah dalam pasal 16ayat 2 dari SK Mendikbud yang menyatakan bahwa petunjuk teknis pelaksanaan keputusan ditetapkan oleh masing-masing perguruan tinggi. Dengan modal ini, aturan main SMPT ditentukan oleh institusi perguruan tinggi masing-masing. Aktivis intrakampus akhirnya bermain diantara celah-celah yang hasilnyadapat dilihat dengan keberadaan SMPT dewasa ini. SMPT-SMPT itu menjadiberagam strukturnya. SM UGM, misalnya, mempunyai kongres yang membawahi SMPT, UKM dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) secara sejajar. Ada mekanisme legislatif-eksekutif. SM UI mengambil celah melalui pemisahan tugas antara Ketua Umum SMPT, yang bertindak sebagai legislatif, dan Ketua Harian SMPT,sebagai eksekutif. Pola pemilihan di SM UI mengalami berbagai perubahan.Dalam usianya yang masih muda itu, tampaklah SMPT mulai kelihatan berperan dalam berbagai isu lokal maupun nasional. SM UGM yang memajukan soal lembaga kepresidenan, SM UI yang mengusulkan rancangan GBHN adalah contoh gerakan yang strategis dilakukan SMPT pada awal berdirinya. SMPT-SMPT jugamengedepankan persoalan korupsi dan kolusi, mengajukan proposal perlunyapembatasan monopoli dan seterusnya. Selain itu, sebagian pimpinan SMPTterlibat dalam pengorganisasian komite-komite mengetengahkan isu-isu tertentu yang tidak bisa membawa nama lembaga. Termasuk dalam kasus SDSB, pimpinan-pimpinan SMPT aktif memimpin massa mahasiswa.

Perlu diakui, ada beberapa kesulitan untuk membawa nama SMPT dalam melakukan gerakan. Untuk melakukan dialog, mimbar bebas di kampus, atau membuat pernyataan tampaknya masih memungkinkan dilakukan. Tetapi melakukan unjuk rasa dengan membawa SMPT agaknya masih riskan. Inilah yang dialami SM UIbeberapa waktu lalu ketika berdemonstrasi SDSB membawa nama SMPT. Pihakrektorat dengan tegas menyatakan tindakan itu bersalah karena tidak ada izin pimpinan untuk membawa nama almamater, meskipun yang dibawa adalah nama SM, bukan universitas secara keseluruhan. Untuk unjuk rasa membawa nama almamater harus ada izin, dan tentu saja tidak akan mendapat izin. SM UIakhirnya mendapat peringatan terakhir dari rektorat secara sepihak. Dalam argumentasi rektorat, cara-cara dan prosedur birokrasi lebih pentingketimbang substansi yang dibawakan. Sehingga bagi SMPT, perjuangan demokratisasi kampus agaknya akan mengalami masa-masa yang berat. Hal ini bisa dipahami karena membawa nama lembaga formal melawan lembaga pemerintah,misalnya, akan meminta konsekuensi politis tertentu. Bagi pemerintah iniadalah trauma dewan mahasiswa di tahun 1970-an. Gerakan yang lahir dari tubuh institusi formal, organisasi intra kampus, jauh lebih berbahaya ketimbang komite-komite aksi yang insidental dan sporadis.

Pada akhir tahun 1994 setelah Kongres IV mahasiswa UGM muncul DewanMahasiswa (DM) yang dianggap sebagai alternatif SMPT. Nama "DM" dipinjam dari Dewan Mahasiswa yang ada pada 1970-an, yang dibekukan tahun 1978. Upaya sosialisasi DM dilakukan di berbagai kota agar terwujud DM-DM di kota lain.Aktivis DM mengemukakan gagasan-gagasan dan kritik-kritik tajam terhadap SMPT yang sebagian besar teah disadari oleh aktivis SMPT ketika menerima SMPT. DM mendefinisikan dirinya sebagai antitesa terhadap kelemahan-kelemahan SMPT. Pertama, DM mengkleim mempunyai basis massa dan memang dikehendaki oleh mahasiswa, tidak seperti SMPT yang elitis dan menggantung ke atas. Kedua, lembaga DM mempunyai otonomi penuh, independensi yang tidak bisa dicampuri rektorat, tidak seperti SMPT yang bertanggungjawab pada rektorat. Hubungan DM bersifat sejajar dengan rektorat. Dan seterusnya.

Kepedulian masalah otonomi, independensi, dan berbagai kelemahan SMPT itusebenarnya juga merupakan kepedulian aktivis-aktivis SMPT. Di kalangan SMPT, perjuangan untuk memperbaiki diri yang berhubungan dengan kelemahan itutetap ada. Persoalannya apakah DM menjadi alternatif? Saya justru melihatkehadiran DM dalam situasi sekarang malah memecah belah mahasiswa dan tidakstrate gis. DM harus berhadapan dengan aktivis-aktivis SMPT yang sebetulnya mempunyai concern yang sama. Polarisasi persoalan lembaga akhirnya mengarah pada perbedaan ideologi perjuangan. Harus diakui, mayoritas aktivis SMPT di Indonesia adalah aktivis mahasiswa Islam. Lucunya, aktivis DM sebelumnya juga duduk di SMPT dan menerima SMPT itu. DM ternyata tidak diterima mayoritas mahasiswa. Karenanya DM juga menjadi lembaga elitis yang menjadi tempat bermain elit-elit aktivisnya.

Beberapa gagasan DM yang patut didukung adalah semangatnya untuk melakukanperubahan. Tetapi, menurut saya, koreksi terhadap SK Mendikbud No.0457/U/1990 seharusnya dilakukan oleh SMPT sebagai badan yang telah diakui.Agenda yang perlu dilakukan SMPT adalah demokratisasi kampus antara laindalam bentuk sharing administration. Segala keputusan universitas yangmenyangkut kepentingan mahasiswa harus mengikutsertakan sikap dan pandanganmahasiswa. Karena mahasiswa adalah bagian paling vital dalam universitas maka mahasiswa perlu diminta pendapatnya karena itu adalah hak mahasiswa. Mahasiswa juga berhak ikut menentukan dekan dan rektor, biaya SPP,pengelolaan kampus seperti asrama mahasiswa, dan seterusnya. Kesejahteraan mahasiswa adalah kunci program SMPT selain pengabdian masyarakat.

Menaikkan Posisi Tawar

Dalam posisi tawar mahasiswa yang lemah dewasa ini, belum saatnya menentukan partner politik atau memutuskan pilihan-pilihan grand design politik tertentu. Gerakan mahasiswa sekarang belum lagi menjadi agent of socialchange, sebaliknya menjadi gerakan peripherial, pinggiran. Agenda yang diperlukan adalah penyatuan kelompok-kelompok pinggiran mahasiswa dalamsuatu konsolidasi secara nasional.Hal ini dibutuhkan untuk pengembalian posisi tawar yang menyurut. Karenanya, dalam posisi tawar yang lemah, agendagerakan mahasiswa mesti berpihak memilih misi transformatif dan misi korektif. Misi transformatif menekankan pada gerakan penyadaran sosial politik dan penularan gagasan-gagasan demokrasi dan hak-hak azasi manusia. Sedangkan misi korektif menitikberatkan pada koreksi berbagai kebijakan atau sikap dan tindakan yang tidak menguntungkan rakyat banyak.

Diangkatnya isu-isu lokal populis dengan harapan dapat menjadi isu nasional nampaknya masih bisa diandalkan. Pilihan isu-isu mikro memang sesuai dengankondisi gerakan mahasiswa yang lemah. Dalam tahap ini diharapkan terjadi konsolidasi secara bertahap untuk mengembalikan nafas gerakan mahasiswa yangtelah surut akibat depolitisasi kampus. Untuk merajut jaringan secara nasional itu paling tidak dibutuhkan beberapa prinsip. Pertama, perlunya semangat dialog tanpa apriori antarkelompok mahasiswa. Melalui dialog tanpa apriori dapat diketahui kekuatan dan kelemahan masing-masing pihak serta menghindari perasaan curiga atau rasa permusuhan akibat berbedanya pendekatan gerakan. Kedua, kedewasaan berpolitik antaraktivis yang berbeda ideologi dan pendekatan gerakan. Ketiga, konsolidasi berjalan bertahap dan berkesinambungan melalui isu-isu tertentu dengan target "jangka panjang," sehingga terhindar situasi gerakan yang prematur.

Fadli Zon, Mahasiswa Program Studi Rusia UI, aktivis, wartawan.
Posted by admin at 6:34 AM 0 comments Links to this post
Format Gerakan Mahasiswa Pasca Reformasi
http://www.habibie.net/2001/Indonesia/
activities/other/2001/dil/malang_okt30.html


Malang, 30 Oktober 2000

Salah satu peran yang sangat penting dalam proses perubahan politik di Indonesia adalah peran mahasiswa dengan gerakan mahasiswanya. Perjalanan panjang Gerakan mahasiswa mencapai puncaknya pada mei 1998 dengan indikasi turunnya kekuatan otoriter dibawah kepemimpinan Soeharto.

Keberhasilan yang mengesankan ini tampaknya tidak dibarengi oleh kesiapan jangka panjang gerakan mahasiswa. Sejumlah pihak menganggap turunnya Soeharto pada Mei 1998 sebenarnya diluar prediksi semula. Soeharto terlalu cepat turun sementara konsolidasi gerakan mahasiswa sebenarnya masih amburadul.

Pasca reformasi 1998 tampak terlihat bagaimana masih amburadulnya konsolidasi gerakan mahasiswa. Gerakan mahasiswa tahap selanjutnya mengalami krisis identitas. Perbedaan visi yang muncul pada gerakan mahasiswa seringkali mengarah pada persoalan friksi-friksi yang sifatnya teknis. Kenyataan demikian menyebabkan friksi-friksi gerakan mahasiswa kehilangan arah dan bentuk.

Kehilangan arah dan bentuk format gerakan ini menyebabkan sejumlah gerakan mahasiswa harus melakukan konsolidasi internal organisasi. Konsolidasi internal ini sebagai upaya untuk mencariu format baru gerakan mahasiswa dalam konstalasi politik yang baru pula. Disamping itu konsolidasi internal ditujukan agar gerakan mahasiwa harus lebih intropeksi diri terhadap apa yang dilakukan. Upaya konsolidasi internal ini bukan berarti menegasikan dinamika politik sekitar. Tetapi konsolidasi internal ini agar lebih tepat baik secara strategis dan taktis untuk melakukan gerakan kedepan.

Pada awal reformasi terjadi konsolidasi massif melawan simbol-simbol kekeuasaan otoriter yaitu Soeharto. Perkembangan selanjutnya, gerakan mahasiswa lebih disibukkan oleh kondisi internal organisasi, tanpa melihat nilai-nilai apa yang telah digulirkan pada awal-awal reformasi yaitu untuk melakukan perubahan yang sangat mendasar yang dihadapi oleh rakyat. Artinya disini ada satu otokritik bagi elemen gerakan mahasiswa yaitu penyebaran-penyebaran yang dilakukan bukan pada masifikasi gerakan. Gerakan Mahasiswa tidak menjadi sebuah inklusifitas gerak tetapi menjadi eklusifitas gerak.

Kondisi ini terjadi karena mahasiswa tidak mempunyai konsistensi orientasi dari kondisi otoriter ke kondisi leberalisme politik. Seharusnya mahasiswa harus terus konsisten dengan orientasinya bahwa saat ini kalau dalam tataran opini tidak sampai muncul dalam konstalasi politik bukan berarti gerakan mahasiswa harus mengendap, akan tetapi ditengah pengendapan itu harus ada konsolidasi ditingkatan grasroot yaitu konsolidasi masyarakat sipil yang solid.
Agenda gerakan mahasiswa kedepan adalah ruang gerak mahasiswa harus lebih reaktif dalam mensikapi kondisi sosial masyarakat. Mahasiswa tidak perlu terjebak dalam konstalasi politik nasional sementara ia harus kehilangan jati dirinya sebagai mahasiswa. Perjuangan kedepan adalah bagaimana membangun kekuatan sosial masyarakat dengan melakukan kerja bareng bersama-sama rakyat. Hal ini menginggat bahwa salah satu hal yang menyebabkan terpecahnya konsolidasi gerakan mahasiswa adalah terjebak dalam arus politik nasional yang sebenarnya jauh dari kegiatan mahasiswa. Untuk itu salah satu perekat dari keberlanjutan gerakan mahasiswa adalah membangun kekuatan bersama-sama rakyat.

Penulis: unidentified
Posted by admin at 6:25 AM 0 comments Links to this post
Analisis singkat sejarah gerakan mahasiswa Indonesia 1966-2001
http://www.sosialista.org/081801_09_pelopor.html

PELOPOR DAN PENGAWAL REVOLUSI DEMOKRASI:GERAKAN MAHASISWA SEBAGAI GERAKAN POLITIK NILAI
oleh : M. Fadjroel Rahman

DUA TAHAP REVOLUSI DEMOKRASI DAN PERAN OPOSISI ADHOC

Puncak revolusi mei 1998 adalah penggulingan Jenderal Besar (purn) Soeharto, didahului oleh pendudukan gedung DPR/MPR oleh mahasiswa Indonesia. Namun, revolusi mei 1998 hanyalah awal dari tahap pertama (first strage) revolusi demokrasi yang dipelopori gerakan mahasiswa. Tahap pertama revolusi demokrasi ini merupakan tahap pembongkaran kesadaran massa dan mahasiswa terhadap struktur ekonomi, politik, sosial dan budaya yang menindas atau eksploitatif. Proses pembentukkan tahap pertama revolusi demokrasi ini berlangsung sepanjang sejarah rezim Orde baru (ditandai sejumlah "puncak" perlawanan gerakan mahasiswa 1974, 1987,1989, dan 1998). Peran oposisi adhoc gerakan mahasiswa merupakan peran historis yang dipaksakan secara struktural oleh rezim Orde baru yang menjalankan satu jenis faasisme baru yaitu fasisme pembangunan (developmental fascism). Peran ini menjadi permanen sepanjang sejarah rezim Orde baru karena diberangusnya semua kekuatan oposisi formal (dalam kondisi demokrasi merupakan peran partai politik) dan ditundukkannya masuarakat sipil secara korporatis-fasistis, maupun melalui kekerasan terbuka.

Peran oposisi adhoc ini kembali dijalankan gerakan mahasiswa dibawah rezim Abdurrahman Wahid karena; Pertama: agenda reformasi total tidak dilaksanakan oleh semua lembaga politik baik legislatif, eksekutif maupun yudikatif; kedua: tidak ada satupun partai politik yang menegaskan kekuatan politik oposisional dan memperjuangkan pelaksanaan agenda reformasi total tanpa kompromi politik dengan rezim Orde baru; ketiga: semua partai politik peserta pemilu 1999 (48 parpol) adalah legitimator UU pemilu yang cacat demokrasi karena mensyahkan keberadaan TNI/POLRI di legislatif (DPR/MPR, DPRD I dan DPRD II) dan keikutsertaan partai Golongan Karya dalam pemilu tanpa pertanggungjawaban hukum terhadap kejahatan politik, ekonomi dan HAM sepanjang 32 tahun rezim Orde baru. Dengan demikian semua partai politik berkhianat terhadap agenda reformasi total dan revolusi demokrasi, karena menjadi kolaborator politik rezim Orde baru .

Tahap pertama revolusi demokrasi ini berawal pada tergulingnya Jenderal Besar (purn) Soeharto da berakhir pada pelaksanaan seluruh agenda reformasi total. Bila seluruh agenda reformasi total dijalankan maka terbentuklah demarkasi politik demokrasi/reformasi total terhadap politik anti-demokrasi/anti reformasi total. Oleh karena agenda reformasi total belum dijalankan hingga rezim Abdurrahman Wahid sekarang, maka gerakan mahasiswapun terus menerus menjalankan oposisi adhoc-nya. Dapat dicatat dengan sejumlah "puncak lain" selain Mei 1998 (pendudukan DPR/MPR dan penggulingan Soeharto), November 1998 (Semanggi I, penolakan terhadap SI MPR), September 1999 (Semanggi II, Penolakan terhadap UU Penanggulangan Keadaan Bahaya), Oktober 1999 (Penolakan terhadap Habibie dan Wiranto), Januari 2001 hingga sekarang (tuntutan terhadap penurunan Abdurrahman Wahid serta pembubaran dan pengadilan Partai Golkar).

Dalam skala waktu,tidak dapat ditetapkan kapan tahap pertama revolusi demokrasi atau pelaksanaan agenda reformasi total berakhir. Bukan tidak mungkin, bahkan rezim berikutnyapun yang berasal dari pemilu 1999 yang cacat demokrasi, bila Abdurrahman Wahid mengundurkan diri, tidak akan mampu dan mau menyelesaikan tahap pertama revolusi demokrasi tersebut. Tetapi secara teoritis, tahap kedua (second stage) dari revolusi demokrasi dapat diawali bila semua agenda reformasi total sudah dijalankan. Tahap kedua ini merupakan tahap pembongkaran struktur ekonomi, politik, sosial dan budaya yang menindas atau eksploitatif. Pada tahap keduainilah pemantapan dan pengembangan demokrasi dijalankan melalui proses konsolidasi dan pendalaman demokrasi.

GERAKAN POLITIK NILAI VERSUS GERAKAN POLITIK KEKUASAAN

Apakah gerakan mahasiswa bebas kepentingan politik? Tentu tidak, karena kepentingan pertama dan terutama yang diperjuangkannya adalah nilai-nilai (values) atau sistem nilai (values system) yang sifatnya universal seperti keadilan sosial, kebebasan, kemanusiaan, demokrasi dan solidaritas kepada rakyat yang tertindas. Karena itu oposisi adhoc gerakan mahasiswa di Indonesia merupakan gerakan politik nilai (values political movement) dan bukan gerakan politik kekuasaan (power political movement) yang merupakan fungsi dasar partai politik.Nilai-nilai universal tersebut juga hidup dalam konteks kesejarahan suatu gerakan mahasiswa. Gerakan mahasiswa di Indonesia menterjemahkan nilai-nilai tersebut dalam konteks politik kontemporer Indonesia dalam bentuk agenda reformasi total sekarang ini berupa:
1. Amandemen UUD '45 menjadi konstitusi demokrasi,
2. Pencabutan Dwifungsi ABRI (TNI/Polri) atau penghapusan peran politik, bisnis dan teritorial TNI/Polri.
3. Pengadilan pelaku KKN sepanjang pemerintahan Soeharto, Habibie dan Abdurrahman Wahid,
4. Pengadilan pelaku kejahatan HAM sepanjang pemerintahan Soeharto, Habibie dan Abdurrahman Wahid.
5. desentralisasi atau otonomi daerah seluas-luasnya,
6. reformasi perburuhan dan pertanian.

Dibandingkan dengan gerakan politik kekuasaan yang menjadi ciri khas partai politik, dimana penetapan agenda dan target politik maupun pemilahan lawan dan kawan politik semata-mata sebagai urusan taktis dan strategis untuk memperkuat dan mengukuhkan posisi politiknya dalam percaturan kekuasaan sekarang dan di masa depan. Maka gerakan politik nilai yang menjadi ciri khas gerakan mahasiswa walaupun melakukan penetapan agenda dan target politik maupun pemilahan lawan dan kawan politik, tetapi samasekali tidak untuk memperkuat dan mengukuhkan posisi politiknya dalam percaturan kekuasaan. Contohnya, ketika gerakan mahasiswa menolak pemilu 1999 dimasa rezim Habibie, lebih disebabkan oleh perhitungan bahwa pemilu tersebut cacat demokrasi dan mnegkhianati agenda reformasi total. Tetapi, untuk 48 parpol peserta pemilu 1999, pemilu tersebut merupakan peluang untuk meraih dan mengukuhkan kekauasaan politik atau sekedar memperoleh legitimasi hukum untuk keberadaan partainya, bahkan sekedar memperoleh sedikit jabatan dan sejumput uang.

GERAKAN POLITIK NILAI UNTUK MENUNTASKAN REVOLUSI DEMOKRASI

Karena berdiri sebagai gerakan politik nilai, maka gerakan mahasiswa angkatan 2001 sekarang pun dengan luwes menetapkan sejumlah agenda dan target politik baru yang menghindarkan mereka dari jebakan dan manipulasi kepentingan elite maupun partai politik tertentu. Melalui pertarungan gagasan yang cukup tajam antar kelompok dan gerakan mahasiswa, sekarang secara praktis semua elemen gerakan mahasiswa "bersatu lagi" sebagai gerakan politik nilai, membela dan mengawal revolusi demokrasi dengan memperjuangkan agenda reformasi total yang mereka cita-citakan bahu membahu. Kini, kita semua menyaksikan sinergi gagasan dan kekuatan gerakan mahasiswa "bersatu" memperjuangkan agenda reformasi total atau enam visi reformasi ditambah dengan agenda menurunkan Abdurrahman Wahid, menolak kenaikan harga BBM dan sembako dan menjadikan KKN orde baru -partai Golkar sebagai musuh bersama (Common Enemy).


Disarikan dari berbagai sumber
Posted by admin at 6:08 AM 0 comments Links to this post
Kekerasan dalam Gerakan Mahasiswa: Demonstran/Pemberang?
http://www.bubu.com/kampus/maret99/fokus3.htm


Banyak kritik, gerakan mahasiswa belakangan ini dianggap tak lagi murni, dan sudah mulai memaksakan kehendak. Terutama karena merekapun mulai mempraktikkan kekerasan sebagai reaksi balik atas sikap represif aparat keamanan yang diterimanya. Kok bisa ya? Bukankah dulunya mereka semua adalah "anak-anak manis" yang berhasil didepolitisir oleh Orde Baru?

Dalam banyak pemberitaan pers, berbagai kesempatan perbincangan, atau sekedar nguping pembicaraan orang di bus, halte, atau mana saja, kemarin-kemarin ini memang sempat menguat kecemasan bercampur kecewa orang kebanyakan soal aksi-aksi mahasiswa belakangan ini. Keluhan mereka rata-rata sama: demonstrasi mahasiswa = macet di mana-mana, lalu soal turut beringasnya aksi-aksi mahasiswa dalam menyikapi perilaku represif aparat keamanan. Bahkan keluhan-keluhan ini kemudian bisa berkembang lebih parah lagi dan bermetamorfosis menjadi kecurigaan atas kemurnian motif dari setiap aksi mahasiswa, yang memang lebih banyak digelar dengan memenuhi-sesaki jalanan.

Untuk keluhan yang pertama –tanpa berpretensi mewakili suara seluruh kawan-kawan mahasiswa yang menggantungkan kerinduannya di jalan raya— harap dimaafkan. (Barangkali –mirip yang dilakukan para pekerja galian telepon atau ledeng— besok-besok setiap kali diadakan demonstrasi, mahasiswa harus memasang plang: "Maaf perjalanan anda terganggu. Anda harap mengambil jalan lain. Indonesia masih dalam perbaikan") Menduduki jalan raya dengan massa dalam jumlah besar memang sejak lama lazim dipakai untuk memperagakan protes kepada para penguasa yang tuli hatinya, beku nuraninya, dan membenci perubahan. Tujuannya jelas, sekali lagi peragaan. Unjuk rasa –bukan pertama-tama unjuk kekuataan— bahwa ada suara-suara ketidakpuasan yang gagal diserap oleh dinding-dinding gedung parlemen dan para penghuninya. Soal efektivitas cara ini, semua orang boleh berargumen dengan bukti masing-masing. Tapi cara ini memang sudah terlanjur menjadi tradisi. Karenanya, barangkali memang perlu ada proses pencanggihan metode aksi di masa mendatang, tentunya dengan tidak mengabaikan urgensi untuk mengakomodasi berbagai dukungan dan kritik dari masyarakat.

Memang, masih ada banyak cara menyatakan protes. Sebagai contoh, dalam bukunya The Politics of Nonviolent Action (1980), Gene Sharp mencatat ada sekitar 198 metode aksi nirkekerasan yang berhasil dihimpun dari sejarah gerakan politik dari berbagai belahan dunia. Itu yang tertulis, masih banyak metode yang tidak tertulis melekat dalam budaya masyarakat yang belum ditemukan. Juga, dari ke-198 aksi itu kemungkinan bisa berkembang lebih banyak tergantung kreativitas manusia dalam mengembangkannya sesuai dengan rezim politik yang dihadapinya. Dengan bukunya itu, Sharp -- yang pernah dijuluki sebagai ''Machiavelli nirkekerasan'' itu -- menolak anggapan umum bahwa metode nirkekerasan Gandhi tidak taktis untuk gerakan perubahan praktis untuk gerakan perubahan politik. Sebaliknya, kajian historisnya menunjukkan bahwa umat manusia dengan cara mereka masing-masing telah melakukan aksi nirkekerasan ketika ditindas oleh rezim berkuasa. Memang ada sebagian yang gagal mencapai perubahan politik cepat, tetapi sebagian besar berhasil mengesankan.
Dari sekian banyak macam metode aksi itu, Sharp membaginya ke dalam tiga bagian besar menurut derajat intensitasnya: (1) protes, demonstrasi, dan persuasi; (2) nonkooperasi ekonomi, sosial, politik; dan (3) intervensi tanpa kekerasan. Ketika dengan protes, demonstrasi, dan persuasi, sudah berhasil, metode nonkooperasi tidak dipergunakan. Metode intervensi dipakai hanya sebagai senjata pamungkas, ketika protes, persuasi, nonkooperasi, tidak berhasil.
Metode pertama adalah penyampaian tuntutan dengan jalan komunikasi publik, agar penguasa menanggapinya. Komunikasi tidak terbatas verbal, tetapi juga simbolik dan interaktif. Terdapat sekitar 54 metode termasuk di sini, di antaranya pernyataan publik, deklarasi, petisi, slogan, karikatur, poster, leflet, lobi, simbol pakaian, warna bendera, gambar seseorang sebagai protes, doa protes, drama, musik, parade, upacara kematian korban represi, pengiriman deputi perwakilan, duduk di jalan, walk-out, dan sebagainya.

Metode nonkooperasi adalah aksi nirkekerasan dengan cara tidak mau kerjasama dengan rezim atau memutus hubungan dengan rezim sehingga kepentingan rezim terganggu. Sekitar 103 macam metode termasuk di sini. Di antaranya, boikot, penundaan dukungan, mogok, keluar dari lembaga tertentu, tinggal di rumah saja, pergi hijrah, boikot ekonomi, embargo, sanksi ekonomi, menolak mendukung, menolak membantu, memblok komando dan informasi, menolak rapat, menolak dialog, dan sebagainya.

Metode intervensi diambil ketika kedua metode di atas tidak berjalan. Ia sebagai cara terakhir karena di dalamnya memiliki risiko tinggi. Metode ini adalah menekan secara psikologis dan fisik tanpa kekerasan kepada pihak lawan atau penguasa. Terdapat sekitar 41 macam aksi masuk di sini. Di antaranya ialah puasa, mempuasai hari-hari jatuhnya korban, mogok makan, menduduki tempat strategis, membuat alternatif organisasi massa, blokade tempat simbol penindasan, membuka kedok agen rahasia, membebaskan tahanan politik, memutus hubungan penguasa dengan pendukungnya, memojokkan posisi penguasa dari pergaulan internasional, dan sebagainya.

Sebagian besar aksi di atas telah dipraktikkan mahasiswa dalam banyak aksinya sepanjang tahun 1998 dengan hasil yang cukup gemilang. Prinsip dari semua aksi itu adalah nirkekerasan. Aksi demikian bisa berhasil efektif tanpa pengorbanan massa yang besar. Namun, aksi demikian akan efektif bila dilakukan secara konsisten, keberhasilan yang satu mendukung lainnya. Aksi nirkekerasan secara konsisten dapat meruntuhkan struktur bangunan kekuasaan, karena kekuasaan pada dasarnya bersandar pada hubungan kooperatif antara penguasa dan yang dikuasai, yaitu rakyat. Bila hubungan itu goyah dan retak, maka penguasa akan kehilangan pijakan. Semua jenis aksi di atas sedikit banyak menggoyahkan hubungan penguasa dan rakyatnya. Penguasa yang cerdas biasanya sangat tahu bahaya ini. Mereka akan segera merespons munculnya aksi dengan segera, bahkan sejak metode pertama muncul, kalau tidak ingin kehilangan basis kekuasaannya.

Sementara untuk keluhan yang kedua, jawabannya ternyata lebih sulit, dan sepertinya memang tidak cukup dengan sebuah permintaan maaf atau permakluman. Kalau dikatakan mahasiswa tidak mengerti politik tanpa kekerasan, itu tidak benar. Sebagian besar, kalau tidak dikatakan semua, protes mahasiswa selama ini sebenarnya demonstrasi tanpa kekerasan. Mahasiswa baru mengambil cara kekerasan, itu pun sangat minim seperti melempar dengan batu, sebatas untuk melindungi diri dari aparat yang brutal. Juga, demonstrasi mahasiswa selama Reformasi Damai antara Februari-Mei 1998 lalu yang berhasil menurunkan Soeharto hampir semua bersifat damai, tanpa kekerasan. Mengapa mahasiswa di Jakarta akhir-akhir ini tiba-tiba mengambil cara kekerasan? Melihat tindakan mahasiswa yang bersifat menyerang (offensive), mahasiswa kelihatan telah kehilangan daya kreasi dan terperangkap dalam cara kekerasan. Kawab-kawan mahasiswa sepertinya telah memasuki wilayah kekerasan. Mahasiswa telah menuntut perubahan politik dengan pemaksaan kehendak dengan kekuatan fisik (coercion by force) yang bisa mengerasi, melukai, bahkan menelan korban nyawa, mungkin nyawa mahasiswa sendiri, nyawa aparat, atau pihak lain.

Sejumlah suara kritik bahkan sudah mencemaskannya begitu jauh hingga ada yang sampai membayangkan bisa jadi saja nanti akan berkembang faksi-faksi garis keras dari kalangan mahasiswa yang berkembang mirip Brigade Merah di Italia, Tentara Merah di Jepang, atau kelompok-kelompok teroris ternama lainnya yang memang banyak beranggotakan para mantan aktivis mahasiswa yang sudah terlanjut frustasi dan memilih kekerasan dan terorisme sebagai sarana perjuangannya. Kalau sekarang baru pentung versus pentungan, gas air mata dan pelor versus lemparan batu ala intifadah, jangan-jangan di kemudian hari berkembang menjadi bom bunuh diri, atau modus-modus lain yang tak kalah menyeramkan. Wow!
Kalau mau disebut frustasi –sama seperti motivasi yang melatarbelakangi para anggota kelompok-kelompok penebar teror yang telah disebut di atas— barangkali memang ada sebagian kawan mahasiswa yang mengalaminya, tentunya dalam kadar dan tingkatan yang berbeda. Radikalisasi di mana-mana memang muncul dan berakar kuat dari menguatnya ketidakpuasan. Namun hal ini tidak bisa menjelaskan radikalisasi tiban –menjadi radikal dalam sekonyong-konyong— yang terjadi pada sekelompok besar mahasiswa Jakarta? Bukankah mereka terhitung "lebih miskin" tradisi aksi ketimbang banyak rekan mahasiswa di kota-kota "biang demo" seperti Bandung, Yogya, Semarang, Malang, Makassar, dan lain-lainnya?
Sejumlah analisis barangkali bisa kita pinjam untuk menjelasnya. Tapi sebagian besar bersepakat bahwa ada ketidakpuasan yang akumulatif, terus bertimbun. Kemarahan dan kekecewaan yang menggunung seperti itu memang selalu menjadi "lahan persemaian" yang subur bagi pemikiran-pemikiran radikal. Nah, hal itu makin kondusif karena "diberi pupuk", ada situasi yang secara obyektif mendukungnya, yakni berlarut-larutnya krisis ekonomi yang membuahkan kehancuran kredibilitas pemerintah di hadapan rakyatnya. Hasilnya, muncul sebuah kesadaran baru yang fenomenal, sebuah kesadaran to do something. Nah, begitu kesadaran ini hampir mematang, secara terus menerus dibenturkan oleh kenyataan empirik bahwa suatu perubahan senantiasa bukanlah sebuah proses tawar menawar yang berjalan mulus. Ada konflik keras di sana, ada korban yang jatuh karenanya. Di saat seperti itu, kekesalan yang memuncak akibat terlalu gemas menyaksikan perubahan yang diharapkannya tak kunjung terjadi, rasa frustasi mulai muncul. Cara-cara lama menegoisasikan kehendak pun mulai dikaji ulang. Sebagian mereka yang belum sampai pada kepenuhan pemahaman bahwa perjuangannya itu adalah sebuah "pekerjaan jangka panjang", tidak segan-segan memangkas akal sehatnya. Tanpa pikir panjang, mereka merasa perlu mengelaborasi lebih lanjut prinsip-prinsip nirkekerasan –tanpa menutup sikap pembelaan diri tentunya—dengan mencari jalan lain yang bisa lebih efektif, sekalipun sedikit banyak hal itu mengandung prinsip kekerasan yang dikecamnya sendiri. Situasi ini diperparah oleh belum terkonsolidasinya secara baik kesadaran massa. Sehingga setiap aksi yang dilakukan selalu beresiko bakal dimuati oleh banyak "turis-turis politik", sejumlah mahasiswa yang ikut aksi tanpa didukung oleh kematangan refleksi atas aksinya dan hanya mengalaminya sebagai sebuah petualangan yang memacu adrenalinnya –sebuah kebutuhan eksistensial yang memang melekat dengan karakter kemudaannya.
Penjelasan di atas dapat dengan mudah memperoleh pembenaran, cukup dengan mencermati betapa cairnya ikatan politis –apalagi ideologis— massa yang selama digelar. Harap maklum, setelah sekian lama didepolitisasi, sebagian besar kawan terlanjur menjadi mahasiswa yang mahal dan manja. Kehadiran sebagian mereka sebagai "penggembira" dalam setiap aksi sesungguhnya berbahaya –meskipun kuantitas mereka sangat signifikan untuk "menggentarkan" lawan. Dengan kesadaran politik yang masih sungguh cair, dan masih berkutat sebatas slogan, sulit bagi mereka untuk bisa menempatkan dirinya sebagai massa aksi.
Pantas dipertanyakan bila sebagian aktivis menilai bahwa dialektika pemikiran tentang paradigma gerakan telah selesai, seolah-olah telah terbangun sebuah ideologi gerakan yang terlalu suci untuk selalu direevaluasi. Kita bisa bersepakat pada perubahan politik sebagai muara dari pergerakan ini, tapi visi mereka yang menempatkan mobilisasi untuk melakukan perlawanan terbuka dan frontal justru akan berhadapan dengan tembok yang terlalu keras untuk bisa ditembus saat sebagian besar anggota masyarakat dan kelompok-kelompok strategis lainnya belum siap.

Ini jelas bukan penghakiman. Siapapun boleh saja setuju, atau berseberangan dengan analisis ini. Pahamilah, deras bergulirnya dinamika gerakan mahasiswa selalu membuka kemungkinan terjadinya perubahan-perubahan internal, ataupun pergeseran visi dalam memahami gerakan kita ini. Satu-satunya yang tak bakal berubah adalah kesepakatan kita bersama: kita akan terus bergerak sampai perubahan yang kita rindukan bakal terjelang. Setiap penindasan senantiasa akan mendatangkan perlawanan. Sepakat?

Andreas Ambar Purwanto
Posted by admin at 6:04 AM 1 comments Links to this post
Friday, April 07, 2006
Teologi Pembebasan dan Gerakan Mahasiswa
www.geocities.com/frontnasional/
teologi_pembebasan_dan_gerakan_m.htm


Oleh Herwindo

Gerakan mahasiswa pada era rezim diktator Soeharto hingga saat ini, tidak sedikit pula yang memberikan label bahwa gerakan liberal mulai mengembang. Stigmatisasi kaum radikal mulai menjamur pada kalangan bawah (masyarakat biasa) dan menebarkan wahyu pemberontakan, juga hal yang sempat menjadi mitos terbesar dalam setiap gerakan mahasiswa. Namun tidak kalah banyaknya opini, bahwa mahasiswa Indonesia yang radikal dan progressiv dari berbagai lingkungan sosial serta lintas kultur mulai memainkan perannya, fungsi sosialnya melalui gerakan-gerakan pembebasan.
Linkungan sosial di Indonesia mayoritas bangsa Indonesia yang religiusitasnya tinggi, menjadikan gerakan mahasiswa dengan misi pembebasannya dari penindasan totaliter Soeharto mendapatkan stereotip positif. Khususnya bagi umat Islam. Terideologisasi oleh teologi pembebasan. Tetapi di sini tidak berupaya untuk meng-klaim, bahwa gerakan penggusuran simbol orde baru (Soeharto) yang represif itu merupakan hasil kesadaran umat Islam yang menjadi mayoritas di Indonesia.
Namun bila berbicara formasi sosial yang menindas dari rezim Soeharto, berekses lebih pada pemeluk Islam dan membentuk bola salju atas pegerakan pembebasan yang digulirkan oleh intelektual muda Indonesia merupakan bentuk geneologis dari violence yang dilakukan negara (state). Adanya sosial gap, kaya-miskin dan tumbuhnya konflik horisontal adalah, anak kandung dari kebijakan pemerintah maupun negara yang timpang. Tidak adanya pemerataan kesejahteraan sosial.
Kemiskinan absolut yang bersumber pada minimnya pertumbuhan ekonomi dan kemiskinan relatif yang merupakan akibat pertumbuhan ekonomi, menjadi abstraksi sosial yang nyata di Indonesia. Melalui “ideologi” pembangunan nasional, rezim Soeharto membangun kemiskinan dan krisis multi dimensional hingga sekarang. Kemiskinan adalah, sesuatu bisa (racun) disatu sisi dan memberi madu pada sisi lain.
Monopoli, kolusi, korupsi dan nepotisme sedari sang diktator Soeharto sampai saat ini merupakan komoditas yang surplus. Relasinya dengan tekstual teologi pembebasan yang bersinggungan dengan wacana agama sangat jelas yaitu, pembebasan aspek atau dimensi sosial dari teologi pembebasan melarang keras adanya eksploitasi dan manipulasi diberbagai bidang, baik secara fisik maupun psikis oleh dan/atau siapapun.
Bentangan relevansi dalam tulisan ini diberikan dapatlah disisipkan contoh seperti, dalam bidang ekonomi praktek riba dan monopoli yang mengedepankan nilai lebih dilarang keras (Qs. Al Baqarah 275-278). Segala bentuk zakat, infaq dan sedekah merupakan sugesti yang baik dan benar agar manusia tidak teralienasi atas dirinya dari lingkungan sekitarnya dan tidak mengadakan penimbunan harta yang mengakibatkan surplus yang pada akhirnya secara langsung mengeksploitasi manusia lainnya.
Hal lainnya yang dapat dijadikan pijakan identifikasi nilai-nilai teologi pembebasan yaitu, manusia memiliki hak untuk hidup, manusia memiliki hak untuk bereproduksi, manusia memiliki hak untuk berpikir bebas dan manusia memiliki hak untuk mendapatkan keadilan. Empat pointer ini merupakan nilai-nilai teologi pembebasan dalam ajaran agama Islam yang mungkin juga merupakan ajaran agama-agama lain di dunia.
Ada atau tidaknya korelasi antara pergerakan kaum intelektual muda atau mahasiswa dengan teologi pembebasan masih perlu dicari validitasnya dan kebenarannya. Namun jikalau berbicara humanitas, yang lekat juga dengan ajaran agama yang menjadi nilai-nilai teologi pembebasan dari pergerakan pembebasan untuk menciptakan perubahan sosial, yang dilancarkan mahasiswa bersama rakyat mungkin bukanlah hubungan yang insidental pula.
Intinya perubahan harus tetap ada, apapun alasannya dan seperti apa perubahan yang menjadi kebutuhan mahasiswa ? Perubahan yang mendasar, Revolusi Sosial !!!
Posted by admin at 3:49 AM 0 comments Links to this post
Thursday, April 06, 2006
Buloggate II dan Progresivitas Gerakan Mahasiswa

Kompas, Senin, 15 april 2002

Ahmad Fuad Fanani

Perkembangan kasus dana nonbudgeter Bulog, sampai saat ini masih terus menarik untuk dicermati. Terlebih lagi pascaperistiwa penangguhan penahanan Akbar Tandjung oleh PN Jakarta Pusat hari Jumat.

Alasan dibebaskannya Akbar, menurut Humas PN Jakarta Pusat karena dia tidak lagi dikhawatirkan melarikan diri, menghilangkan bukti, ataupun mengulangi tindakan kejahatan lagi. Maka, keluarlah SK No 449.Pid.B/2002/PN Jak-Pus, yang menurut mereka berawal dari jaminan dari istri beliau. (Kompas, 7/4/2002)

Seperti sudah banyak diduga, penangguhan penahanan tersebut pasti menimbulkan banyak pertanyaan dan kontroversi. Kontroversi itu paling tidak, bisa dilihat dari kenyataan tidak dibebaskannya tahanan lain pada kasus yang sama, yaitu Rahardi Ramelan, Wilfred Simatupang, dan Dadang Sukandar. Bahkan, yang lebih aneh lagi, Rahardi Ramelan justru diperpanjang masa penahanannya 60 hari, dengan dalih untuk mempermudah pengusutan dan penanganan kasus tersebut.

Sebetulnya, dari fakta yang ada, tampak dari awal bahwa penanganan kasus ini jauh berbeda dengan kasus terdahulu (Buloggate I). Bila dahulu proses perjalanannya di DPR tidak bertele-tele, maka sekarang tampaknya sedikit terulur-ulur, tidak ada kekompakan, dan terjadi perubahan keputusan politik tiap detik.

Hal itu bisa terlihat tidak hanya di panggung politik saja, namun juga merambah pada penanganan hukum ataupun peliputan media yang tidak segegap-gempita masa lampau. Maksudnya, bila dahulu hampir semua media membangun wacana bahwa Gus Dur beserta kawan-kawannya harus diadili, maka yang tampak sekarang adalah seakan-akan terjadi politisasi pada kasus ini.

Meskipun publik akhirnya agak lega sedikit dengan ditahannya Akbar Tandjung pada 7 Maret 2002, tetapi itu tetap belum bisa memulihkan kepercayaan publik. (Kompas, 8/3/ 2002). Karena, sebagian besar dari mereka menganggap bahwa penahanan itu tak lebih dari sebuah sandiwara murahan dan gampang basi.

Apalagi, Akbar yang sudah jelas menjadi tersangka belum juga mau mundur dari jabatannya sebagai Ketua DPR. Jika ia tidak mau mundur dari Ketua Umum DPP Golkar, mungkin orang masih mau memaklumi, namun pada hal yang pertama tentu menimbulkan tanda tanya besar. Karena, persoalan moralitas politik dan keteladanan publik layak dipertimbangkan olehnya.

Fenomena gerakan mahasiswa

Pemerintahan Indonesia yang sedang berjalan di era transisi, agar tidak menyimpang ke otoritarianisme kembali, haruslah bergerak secara progresif, dinamis, dan kalau perlu revolusioner. Maka, penanganan atas penyelewengan dana Bulog ini haruslah diusut secara tuntas dan maksimal. Dalam hal ini, gerakan mahasiswa banyak diharapkan geraknya untuk memberikan pressure kepada pemerintah yang berjalan dengan lemah gemulai seperti saat sekarang. Namun, dalam menyikapi kasus Buloggate II, ironisnya gerakan mahasiswa mengidap penyakit yang tidak jauh berbeda dengan fenomena keadaan politik Indonesia di atas. Padahal, pada pemerintahan sebelumnya dan untuk kasus yang sama, gerakan mereka berjalan secara spektakuler, fenomenal, dan mengundang decak kagum sebagian rakyat Indonesia.

Bila kita amati gerakan mahasiswa 2001, setidaknya akan kita jumpai tiga warna gerakan berdasarkan pemetaan isu yang diusung dan diperjuangkan. (Tabloid Detak, Edisi Maret 2001)

Pertama, gerakan mahasiswa yang terkumpul dalam aliansi BEMI (Badan Eksekutif Mahasiswa Indonesia). Mereka terdiri dari PMII, Famred, Jarkot, Forkot, BEM PT Jawa Timur, serta sebagian gerakan kiri lainnya. Pada waktu itu, isu yang mereka perjuangkan adalah pembubaran Golkar, pengadilan Soeharto, dan desakan untuk percepatan pemilu. Dalam hal penurunan Gus Dur yang terlibat Buloggate I, mereka cenderung tidak larut serta bahkan terkesan membelanya.

Kedua, mahasiswa yang tergabung dalam BEMSI (Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia). Kelompok ini terdiri dari UI, ITB, Trisakti, UNJ, IPB, dan beberapa perguruan tinggi lainnya. Isu yang mereka usung dan perjuangkan adalah menuntut Gus Dur untuk turun, pembersihan KKN, pengadilan Soeharto, dan pelaksanaan enam agenda reformasi. Di antara beberapa elemen gerakan mahasiswa yang ada, merekalah yang paling gegap-gempita dan bersemangat untuk menurunkan Gus Dur.

Ketiga, kelompok yang tidak bergabung dengan mereka di atas dan berdiri membawa benderanya masing-masing. Mereka adalah KAMMI, HMI MPO, HMI DIPO, IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah), Alfonso (Aliansi Lembaga Formal Seluruh Indonesia), Hammas, dan lain-lain. Kelompok ini menganggap bahwa Gus Dur hanyalah entry point dari seluruh desakan untuk menegakkan clean and good governance. Maka, yang lebih diperlukan adalah revolusi sistemik atas segala perangkat politik dan budaya Indonesia.

Beberapa pengelompokan gerakan mahasiswa berdasarkan tipologi gerakan diusung, sampai sekarang masih bisa kita jumpai. Setidaknya sekarang ini ada kelompok mahasiswa kanan, kiri, dan tengah yang tampak muncul di permukaan. (Ahmad Fuad Fanani, Republika, 16/3/2002). Namun, berbagai tipologi gerakan mahasiswa 2002 yang ada tersebut, dalam penyikapannya terhadap kasus Buloggate II, sangat jauh tertinggal dari gerakan mahasiswa 2001. Karena, sampai persidangan Akbar yang ketiga kalinya, hanya BEM UI yang bisa kita saksikan bersama-sama menuntut. Meskipun KAMMI melakukan demonstrasi juga, itu hanya terjadi di daerah-daerah. Malahan, sekarang ini KAMMI dan gerakan mahasiswa kanan lainnya seperti Hammas dan HMI MPO lebih menyukai dan merasa perlu untuk melakukan demonstrasi mengutuk penyerangan Israel atas Palestina.

Kemudian, gerakan mahasiswa yang sering diidentikkan radikal, revolusioner, dan garang dalam berunjuk rasa seperti PMII, Famred, Forkot, Jarkot, dan lain sebagainya juga terlihat diam dan tenteram melihat permainan politik dan hukum di balik kasus Buloggate II ini. Padahal, merekalah yang dahulu paling agresif mengutuk Orde Baru, menuntut pengadilan Soeharto, dan mendesak pembubaran Golkar. Namun, pada kasus yang merupakan momentum pembukaan kotak pandora atas tuntutannya di atas, mereka kurang terlihat pro-aktif untuk meresponsnya.

Lantas, ke mana pula perginya dan istirahatnya gerakan mahasiswa yang bertipologi tengah-tengah seperti IMM, HMI DIPO, PMKRI, GMNI, GMKI, dan sebagainya? Kenapa mereka belum melakukan demonstrasi mengutuk pembantaian negara Palestina dan tidak juga mendesak penuntasan kasus Buloggate II sebagai perwujudan visinya sebagai agent of social change and moral control? Padahal, peran kesejarahan dan visi transformasi mahasiswa yang harum sepanjang sejarah dalam menegakkan keadilan dan demokratisasi, banyak ditunggu masyarakat banyak yang sudah jengah terimpit oleh krisis dan ketidakpastian politik.

Tuntutan kesejarahan

Menurut M Hatta, pemuda yang di antaranya sebagian besar terdiri dari para mahasiswa adalah harapan bangsa dan pelopor dalam setiap perjuangan. Pernyataan itu bukanlah sekadar pujian atau isapan jempol belaka, tetapi sebuah fakta sejarah yang tidak bisa dimungkiri. Hal itu tampak terlihat pada gegap-gempita perjuangan para pemuda Indonesia yang berhimpun dalam Budi Oetomo pada 2 Mei 1908, para pemuda yang menggalang persatuan Indonesia lewat Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, Hatta dan kawan-kawannya di Belanda yang menyosialisasikan negara Indonesia, serta perjuangan Soekarno beserta angkatannya lewat pendirian PNI di Bandung yang bergerak memperjuangkan nasionalisme dan menolak hegemoni Belanda. Begitu juga, ketika persiapan proklamasi kemerdekaan, para pemuda Indonesia yang dipandegani Sukarni adalah mereka yang meyakinkan Soekarno dan Hatta untuk segera melaksanakan proklamasi itu. (Ben Anderson, Revoloesi Pemoeda, 1988)

Pernyataan Bung Hatta di atas relevan dengan keadaan sekarang, khususnya sebagai pemecut semangat kebangkitan dan progresivitas gerakan mahasiswa yang cenderung melemah. Karena, ketika partai politik sebagai organisasi politik resmi negara melemah fungsinya seperti saat ini, gerakan mahasiswalah yang dituntut untuk mengingatkan dan mendesak terus-menerus. Terlebih lagi partai politik Indonesia saat ini, tidak peka sama sekali terhadap isu-isu publik untuk pemberdayaan rakyat, pengentasan krisis, serta pencerdasan bangsa. Mereka lebih sibuk dengan isu-isu berdimensi aliran, uang, serta pembagian kekuasaan.

Oleh karena itu, tidak alasan lagi bagi gerakan mahasiswa untuk tidak bergerak dan menyatukan langkah dalam menegakkan kebebasan dan keadilan.

Pada dasarnya, gerakan mahasiswa merupakan sebuah gerakan budaya, karena ia memiliki kemandirian dan berdampak politik yang sangat luas. Oleh karena itu, mereka tidaklah boleh cepat puas dengan hasil yang dicapai. Gerakan mereka juga harus senantiasa menegakkan asas kebenaran politik dan pengungkapan kebenaran publik sekaligus. Maka, budaya Indonesia yang cenderung cepat puas dengan keadaan dan tidak peduli dengan perkembangan karena sibuk sendirian, tidaklah patut menjadi paradigma gerakan mahasiswa. (Yozar Anwar, Pergolakan Mahasiswa Abad ke-20, 1981)

Meskipun pemerintah, para politisi, anggota DPR, ataupun para eksekutif dan penguasa seperti tampak kita saksikan sehari-hari kurang berbudaya adiluhung, namun mahasiswa sebagai harapan bangsa terbesar tidaklah perlu terhinggapi virus tersebut. Terlebih lagi, budaya patron-client, malu, sungkan dengan senior, dan bermuka dua (munafik) yang banyak menjangkiti politisi dan sebagian masyarakat itu, bukanlah contoh yang bagus bagi para aktivis gerakan mahasiswa.

Agar gerakan mahasiswa menjadi progresif, dinamis, revolusioner, dan inklusif, menurut penulis, gerakan mahasiswa haruslah meniscayakan hal berikut ini.

Pertama, pro-aktif merespons keadaan dan teguh pendirian. Gerakan mahasiswa haruslah bersatu dalam visi penegakan keadilan dan penumpasan kemunafikan. Hal ini bisa dilakukan dengan saling memasok informasi untuk selanjutnya dilanjutkan pada penyusunan agenda aksi. Sedangkan teguh pendirian yang dimaksud di sini adalah gerakan mahasiswa haruslah bersifat independen dan tidak menjadi perpanjangan tangan para seniornya. Karena, hal ini biasanya hanya akan menimbulkan friksi di kalangan sendiri dan saling memperebutkan proyek demonstrasi.

Kedua, melakukan dialog transformatif-meminjam istilah Jurgen Habermas-untuk menciptakan masyarakat komunikatif yang demokratis. Bila selama ini gerakan intelektual cenderung elitis dan menggunakan bahasa yang mengawang, maka gerakan mahasiswa yang juga gerakan intelektual plus, haruslah mencerdaskan, mencerahkan, dan memberdayakan masyarakat yang selama ini banyak ditindas.

Ketiga, mendorong para aktivisnya untuk membentuk kapasitas intelektul yang memadai dan berjiwa intelektual organik-meminjam istilah Antonio Gramsci.

Hal ini berguna agar para aktivis gerakan tidak hanya sibuk di lapangan, kurang melakukan refleksi, dan cenderung bergerak secara pragmatis. Bila mereka mampu memiliki kapasitas intelektual yang tinggi, tentu saja akan berguna pada penyusunan strategi dan pengajuan alternatif konsep penyelesaian masalah yang dikritik secara lebih sistematis dan memadai.

Terakhir, ketidakpastian penanganan Buloggate II dan kelambanan pemerintah dalam melaksanakan agenda reformasi untuk menegakkan demokrasi adalah sebuah momentum yang baik untuk membangkitkan kembali progresivitas gerakan mahasiswa. Karena, kesempatan ini tidaklah bisa datang untuk kedua kali. Di samping, bila gerakan mahasiswa hanya diam dan tidak merespons secara kritis pada era kali ini, hal itu tentu saja mengkhianati kesadaran kesejarahan dan visitransformatif gerakan mahasiswa.

Viva gerakan mahasiswa Indonesia, semoga sukses perjuangan kita! Wallahu A'lam.
Ahmad Fuad Fanani Redaktur Pelaksana Jurnal Progresif DPP IMM, Mahasiswa Fakultas Ushuluddin IAIN Jakarta

http://gerakanmahasiswa.blogspot.com
_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+__+_+_+_+_+_+_+_+

Dinamika Kehidupan Kampus dan Peranannya dalam Pengembangan

Potensi Generasi Muda1

Donny Syofyan2



Pemuda dunia memainkan peranan penting dalam kehidupan ini dan sesuatu yang tak dapat dielakkan. Di tangan generasi muda itu terletak tujuan berjuta-juta rakyat di dunia. Generasi muda harus menggarap tantangan dunia modern (Tom Mboya)



Pengantar

Dalam konteks wacana sosial dan politik hari ini, kampus tampil dengan potret yang unik. Disebut unik, karena kampus—yang dihidupkan serta digerakkan oleh mahasiswa—ternyata berperan handal dan strategis dalam mengarahkan perubahan. Bukan saja perubahan sejarah, seperti terlihat dari peran mahasiswa dalam menumbangkan Soeharto pada 1998 atau kiprah mahasiswa angkatan ’66 dalam menjatuhkan rezim Orde Lama; atau perubahan sosial, semisal tampak pada keterlibatan mereka dalam proses pencerdasan masyarakat lewat kerja-kerja pendidikan yang dilakukannya dengan pelbagai lembaga kemahasiswaan, pengabdian kepada masyarakat lewat program KKN, dan kiprah-kiprah advokasi terhadap wacana-wacana tertindas sebagai kran yang melepaskan semua keluhan rakyat (kenaikan BBM, mahalnya biaya pendidikan, meningkatnya pengangguran dan membengkaknya kemiskinan, dan sebagainya).

Juga tak kalah krusialnya, kampus sangat fungsional untuk melakukan transformasi pemikiran. Artinya, kampus menjadi kawah candradimuka berkembangnya aneka warna pemikiran dengan kadar kemandirian yang luar biasa. Kemampuan kalangan mahasiswa merespon pelbagai arus pemikiran yang eksis di kampus bakal memproduksi tipologi mahasiswa bukan hanya sebagai “penghapal” (memorizer), textbook-oriented, dan kutu buku tapi mewujud sebagai kaum pemikir dengan gagasan-gagasan yang cerdas dan berkualitas. Dalam bahasa populer di kampus, golongan terakhir ini dikategorikan sebagai “aktivis kampus”.



Potensi Mahasiswa

Menjadi mahasiswa memang menyisakan kebanggaan. Tapi, yang jauh lebih urgen, bahwa menjadi mahasiswa menghajatkan kesyukuran, dengan kekuatan potensial yang dipunyainya. Pada hemat saya, paling tidak, adalah sebagai berikut.

Pertama, mahasiswa merupakan kelompok masyarakat yang memperoleh pendidikan terbaik sehingga mempunyai horizon yang lebih luas untuk bergerak dalam atau di antara lapisan masyarakat. Saya mencermati bahwa level pendidikan tinggi yang disandang oleh mahasiswa memposisikan mereka sebagai kelompok dengan tingkat legitimasi yang sahih tatkala bergerak ke tengah-tengah masyarakat. Perlu dipahami bahwa status “berpendidikan” apalagi “berpendidikan tinggi” menjadi kartu As sebagai parameter untuk merebut simpati dan memenangkan wacana publik. Status ini juga bakal menjadi katalisator untuk memadukan antara aspek kekaguman—yang muncul dari penguasaan ranah akademik—dan kepercayaan publik—yang bersumber dari pemahaman ladang organisasi.

Kedua, mahasiswa merupakan kelompok yang paling lama menduduki bangku pendidikan—sekolah sampai perguruan tinggi—sehingga telah mengalami proses sosialisasi politik terpanjang di antara angkatan muda. Dengan demikian, mahasiswa mempunyai pengatahuan yang relatif baik dibandingkan dengan kelompok lain. Pada hemat saya, lamanya rentang pendidikan ini seyogianya bukan saja memperluas spektrum pemahaman terhadap hal-hal abstrak (teori, konsep, refleksi, dan ilmu) tapi juga meneguhkan kemelekan seputar hal-hal konkret (praktik, aplikasi, aksi dan amal). Perjalanan waktu akan mendorong integrasi antara teori dan praktik, konsep dan aplikasi, refleksi dan aksi, serta ilmu dan amal serta meminimalisir dikotomisasi di antara keduanya. Di sinilah akan lahir mahasiswa-mahasiswa dengan kompetensi selaku “harmonisator” antara dua kutub tersebut—abstrak dan konkret, dan mahasiswa-mahasiswa dengan karakter yang bisa menghimpun tanpa harus memilih, yang sanggup menggabungkan tanpa perlu memisahkan, dan yang mampu mendekatkan tanpa mesti menjauhkan. Perjalanan waktu yang dilewati oleh mahasiswa dalam lini pendidikan tersebut mengkristal dalam sebuah kata; pengalaman. Dan bukankah “experience is the best teacher and the mother of wisdom” (pengalaman adalah guru terbaik dan sumber kebijaksanaan),” ungkap pepatah Inggris.

Ketiga, kehidupan kampus membentuk gaya yang unik di kalangan mahasiswa. Di kampus, mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah, suku, bahasa, dan agama menjalin interaksi dalam kehidupan sehari-hari. Jika dibandingkan dengan lembaga-lembaga sosial lainnya, maka perguruan tinggi telah mengkristal sebagai basis pembentukan akulturasi sosial dan budaya di kalangan angkatan muda. Dengan atmosfer demikian, pada satu sisi saya melihat bahwa mahasiswa merupakan komunitas yang paling siap dan siaga dengan keniscayaan pluralisme atau kemajemukan. Hal ini membuat mahasiswa menjadi sukar disentuh oleh pola-pola sentralisasi dan uniformitas, baik dalam wacana maupun gerakan. Dalam konteks ini, bisa dipahami kenapa mahasiswa pemegang saham dominan atas kejatuhan rezim Orla dan Orba. Kedua rezim ini hadir dengan warna sentralisasi dan uniformitas yang amat kental, sesuatu yang berseberangan dengan atmosfer kampus yang diapresiasi kuat oleh mahasiswa. Pada sisi lain, akulturasi sosial dan budaya yang tertanam di kampus berguna mendidik kultur dialogis di kalangan mahasiswa yang saling menguntungkan dan menggenapi. Konsekuensinya, mahasiswa terbiasa dengan iklim perbedaan, warna warni dan penuh nuansa, bukan lagi hitam-putih, atau benar-salah. Akhirnya, mereka tertempa untuk bekerja sama dalam hal-hal yang disepakati dan bertenggang rasa dalam hal-hal yang diperselisihkan.

Keempat, mahasiswa merupakan kalangan “elit” di kalangan angkatan muda karena mewakili kelompok yang bakal memasuki lapisan atas dari susunan kekuasaan, struktur perekonomian, dan prestise dalam masyarakat. Saya ingin mengatakan bahwa terma “elit” ini menyiratkan bahwa mahasiswa merupakan calon-calon pemimpin hari esok. Karenanya, kampus perlu dikreasikan dan dikondisikan sebagai ajang regenerasi, kaderisasi, pembeliaan, dan eksperimentasi kepemimpinan sedari dini. Tanpa itu, mahasiswa hanya bermental sebagai makmum, bukan imam; bertipe gerbong, bukan lokomotif. Untuk itu, perlu diingat bahwa pemimpin bukan dilahirkan, tapi dibentuk dan dilatih. Mahasiswa yang hanya menjadikan kampus sebagai medan pengajaran semata, dan bukan ajang pemberdayaan, tidak akan bergerak untuk mewujud sebagai pemimpin dan pelaku sejarah umat manusia pada masa depan. Tekanan dan kesulitan yang diperoleh dari trial and error kepemimpinan di kampus menciptakan daya kreatif, rangsangan inovatif dan dukungan produktivitas dalam pemecahan pelbagai masalah. Orang-orang sukses lahir, tumbuh dan berkembang bukan di atas situasi normal dan datar, tapi di atas keterbatasan demi keterbatasan, tekanan, tantangan dan kesedihan. Dan kampus adalah miniatur untuk training dan up-grading kepemimpinan yang sesungguhnya.



Dinamika Kehidupan Kampus: Artikulasi Peran

Secara umum, dapat dikatakan bahwa sebagian masyarakat masih beranggapan bahwa masyarakat kampus (perguruan tinggi), dalam hal ini mahasiswa, adalah sekelompok orang yang memiliki kemampuan teoritik, pengetahuan dan wawasan lebih baik dibandingkan masyarakat umum. Dalam sebutan lain, saya ingin mengatakan bahwa masyarakat perguruan tinggi adalah golongan masyarakat intelektual dan sosial.[3] Dinamika kehidupan kampus akan tercipta dengan adanya integrasi antara kapabilitas ilmiah-akademis dan sensitivitas sosial-intelektual.

• Kapabilitas Ilmiah-Akademis

Kapabilitas ilmiah-akademis dicirikan oleh kemampuan untuk menguasai suatu pusat keunggulan (core competence) terhadap sebuah bidang ilmu. Seorang mahasiswa akan berhasil menguasai ranah ilmiah-akademis ketika ia bekerja secara optimal pada pusat keunggulannya. Pusat keunggulan ini bisa diidentifikasi lewat proses pemotretan dan pemetaan potensi diri secara berkesinambungan. Untuk mengetahui di mana pusat keunggulan kita, biasanya ditunjukkan oleh beberapa hal; adanya minat yang tinggi terhadap suatu bidang, kemampuan penguasaan yang cepat dalam bidang itu, kegembiraan alamiah di saat menjalankannya, optimisme pada kemampuan pengembangan lebih lanjut, dan seterusnya.

Kita harus sadar bahwa bahwa bahasa ilmiah-akademis kampus adalah “nilai, IP, karya ilmiah, track record forum-forum ilmiah, prestasi perkuliahan, dan lain sebagainya. Walaupun tingginya IP tidak selalu menunjukkan tingginya kapabilitas ilmiah-akademis, namun itulah bahasa yang dimengerti oleh masyarakat kampus. Karena dengan bahasa itulah kualitas yang abstrak bisa dibaca dengan ukuran kuantitas. Bila setiap, atau setidaknya, kebanyakan mahasiswa memiliki nilai akademik di atas standar barulah kita bisa berbicara tentang ilmu pengetahuan dan teknologi. Apalagi sekarang seluruh fasilitas sudah tersedia, mulai dari perpustakaan sampai internet.

Mahasiswa harus menata spesialisasi diri dengan fokus bidang keilmuan masing-masing agar penguasaan keilmuan bisa diukur dengan jelas. Ukurannya bukan saja nilai, tapi juga hasil. Bisa saja dalam bentuk hasil karya ilmiah, hasil penelitian, hasil rancang bangun, dan sejenisnya yang menunjukkan bahwa mahasiswa nyata-nyata menguasai ilmu tersebut. Dengan cara begitu, paradigma ilmu sebagai fungsi terlihat dalam pengaruhnya terhadap perbaikan mutu hidup sehari-hari. Jangan bosan untuk terus mencoba dan mencoba sambil terus mengembangkannya pada tingkat ahli. Dalam mencapai taraf sebagai seorang ahli atau pakar, proses dan hasil sama pentingnya. Orang yang cuma mementingkan hasil tanpa proses ibarat mencuri, sementara orang yang mengutamakan proses tanpa hasil laksana pertapa yang tidak memutuskan. Dalam konteks pengembangan potensi generasi muda, lebih-lebih mahasiswa, penguasaan spesialisasi ilmu memberikan bobot yang besar untuk memberikan penguasaan mikro, efek ketepatan, kedalaman, dan ketajaman.

Namun demikian, penguasaan kapabilitas ilmiah-akademis tidak sebatas pada kehebatan mendapatkan nilai setingginya-tingginya. Menurut hemat saya, yang paling signifikan dalam penguasaan kapabilitas ilmiah-akademis adalah membangun dan mengokohkan tradisi ilmiah. Tradisi ilmiah bukan sekadar kebiasaan-kebiasaan ilmiah yang baik, tapi lebih merupakan standar mutu yang menjelaskan di peringkat mana suatu bangsa atau komunitas itu berada. Tradisi ilmiah bukanlah gambaran dari suatu kondisi permanen, namun lebih mengacu kepada suatu proses yang dinamis dan berkembang secara kontiniu. [4] Di antara sekian tradisi ilmiah yang perlu ditumbuhkan adalah: berbicara atau bekerja berdasarkan ilmu pengetahuan; tidak bersikap apriori dan memberikan penilaian terhadap sesuatu sebelum mengetahuinya dengan baik dan akurat; selalu membandingkan pendapatnya dengan pendapat kedua dan ketiga sebelum mengambil suatu kesimpulan atau keputusan; lebih banyak mendengar daripada berbicara; gemar membaca dan secara sadar menyediakan waktu khusus untuk itu; lebih banyak diam dan menikmati saat-saat perenungan dalam kesendirian; selalu mendekati masalah secara komprehensif, integral, objektif dan proporsional; gemar berdiskusi dan proaktif dalam mengembangkan ide-ide tapi tidak suka berdebat kusir; berorientasi kepada kebenaran dalam diskusi dan bukan kemenangan; berpikir secara sistematis dan berbicara secara teratur; dan seterusnya.

Orientasi pada tradisi ilmiah ini sesungguhnya merupakan upaya menggabungkan antara intellectual resources dan character power—mempertemukan kecerdasan dengan ketekunan, akurasi data dan amanah, membaca dengan berpikir, kekayaan informasi dengan ketajaman intuisi, pengetahuan dan kearifan, dan akhirnya, cara berpikir yang benar dengan pola bertindak yang benar.

• Sensitivitas Sosial-Intelektual

Kampus bukanlah kumpulan orang-orang terasing dari masyarakat. Masyarakat kampus adalah bagian dari masyarakat yang lebih luas dan kompleks. Karenanya, aktivitas mahasiswa harus memperhatikan permasalahan sosial di sekitarnya., khususnya lewat pelbagai organisasi mahasiswa yang ada dalam kampus. Dalam masyarakat kita, orang-orang berpendidikan tinggi masih menjadi rujukan. Itu artinya setiap jebolan kampus sedikit banyak dapat mempengaruhi persepsi dan ritme kehidupan masyarakat. Tak jarang seorang sarjana diangkat menjadi pemimpin masyarakat, baik formal ataupun informal.

Potensi dan peran ini harus ditangani secara serius oleh kiprah dan aktivitas mahasiswa, yang lazim dinamakan sebagai mahasiswa aktivis. Berbagai aktivitas sosial-intelektual mahasiswa harus berdaya menelorkan pribadi-pribadi yang dapat membimbing dan mengarahkan masyarakat, untuk kemajuan moral dan material. Dalam bahasa lain, mahasiswa dituntut tidak hanya sebagai agen perubahan (agent of change) tapi juga pengarah perubahan (director of change).

Memimpin dan mengarahkan masyarakat tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Tidak juga seringan membaca teori dalam buku. Maka, latihan memimpin masyarakat yang beragam (plural) sangat dibutuhkan. Para mahasiswa aktivis bisa melatih diri dalam unit-unit maupun institusi-institusi yang ada di kampus, seperti lembaga mahasiswa jurusan (LMJ), badan eksekutif mahasiswa (BEM) dan unit kegiatan mahasiswa (UKM) pada tingkat fakultas maupun universitas, karena kampus merupakan prototype masyarakat pada umumnya. Bila mahasiswa pada umumnya hanya berjalan pada konsep 4 K (kos, kampus, kafe dan kampung), maka saya menambhkan bahwa mahasiswa aktivis adalah pemegang hak paten 5 K (kos, kampus, kafe, kampung dan khalayak)

Di samping memiliki kepedulian terhadap persoalan-persoalan sosial, para mahasiswa aktivis adalah pembela sejati pengembangan pemikiran. Ketika mahasiswa mengembangkan pemikirannya mereka tidak lantas merebut kavling dosen mereka. Perbedaan mendasar di antara keduanya adalah bahwa dosen semakin tidak berani menembus frontier (tapal batas) cara berpikirnya sendiri ketika otak semakin dijejali oleh banyak pengetahuan dan teori serta banyaknya kepentingan-kepentingan pribadi yang harus diamankan. Dosen cenderung menjadi peragu. Ditambah lagi kebiasaan berpikir disipliner yang dengan ketat membatasi bidang persoalan dan perhatiannya. Kecuali jika ia adalah sejatinya intelektual dan atau pernah menjadi mahasiswa aktivis. Para mahasiswa aktivis perlu mengaristeki kelahiran sikap tradisi ilmiah yang senantiasa bersikap mempertanyakan, memperdebatkan, mendiskusikan, dan meragukan demi menghampiri lapangan raksasa kebenaran. Sikap ini kian mendesak di tengah kecenderungan anti-tradisi akademis, sikap para dosen dan guru besar yang alergi didebat, tampilan muka merah sewaktu pernyataannya diragukan, atau eksekusi dendam kepada mahasiswa yang kelewat kritis. Satu-satunya tradisi yang ditegakkan adalah tradisi menghapal, jangan membantah, jangan bertanya dan jangan menggugat. Di sinilah peran mahasiswa aktivis sebagai “juru bicara” dan “juru kamera” zamannya, mampu berdebat dan sanggup memfirasati zamannya. Semoga!

1 Disampaikan pada Seminar Pendidikan, “Mau Ke Mana Tamat SMA?” oleh Forum Komunikasi Pemuda Islam Solok (FKPIS) Cab. Padang di Balai Kota Solok, Sabtu 26 Maret 2005.

2 Dosen Sastra Inggris Fakultas Sastra Universitas Andalas dan kolumnis di media massa lokal dan nasional.

[3] Aprinus Salam, Biarkan Dia Mati (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001), h. 196.

[4] Anis Matta, Menikmati Demokrasi (Jakarta: Pustaka Saksi, 2002), h. 117.



http://donnysyofyan.multiply.com/journal/item/14/Dinamika_Kehidupan_Kampus_dan_Peranannya_dalam_Pengembangan_

_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+__+_+_+_+_+_+_+_+






1.1 HUBUNGAN ANTARA ORGANISASI DENGAN PENGURUSAN

ebelum seseorang itu meninjau dengan lebih mendalam tentang konsep pengurusan secara menyeluruh, eloklah sekiranya seseorang itu memahami dengan lebih jelas tentang organisasi dan ciri-cirinya. Kefahaman yang mendalam tentang konsep organisasi itu penting kerana pengurusan dan organisasi merupakan satu hubungan yang tidak dapat dipisahkan. Wujudnya sesebuah organisasi itu sama ada organisasi kecil atau besar, swasta atau awam memerlukan pengurusan atau pengendalian aktiviti-aktiviti organisasi.

1.1.1 Definisi Organisasi

Organisasi dapat didefinisikan sebagai satu unit sosial yang terdiri daripada manusia yang bekerjasama dan saling bergantung antara satu dengan lain bagi mencapai matlamat individu, kumpulan, dan organisasi.

Definisi di atas menjelaskan unsur-unsur yang perlu ada di dalam sesebuah organisasi: organisasi sebagai satu unit sosial, penyatuan usaha, dan hubungan antara seorang individu dengan individu yang lain.

1.1.2 Organisasi sebagai Unit Sosial

Apabila organisasi itu dianggap sebagai unit sosial, ini bermakna ia mempunyai beberapa orang pekerja yang telah diberi peranan tertentu untuk menjalankan sesuatu tugas. Mereka perlu bekerjasama dan berhubung antara satu dengan lain bagi menyiapkan sesuatu tugas itu. Sekiranya mereka ini menjalankan tugas tanpa memerlukan perkhidmatan dan kerjasama daripada pihak lain, sudah tentu tugas yang dijalankan itu tidak dapat disiapkan seperti yang dikehendaki sama ada dari segi masa, kualiti, kuantiti, dan penentuan-penentuan lainnya.

1.1.3 Penyatuan Usaha dan Hubungan di Kalangan Pekerja

Sesebuah organisasi memerlukan pekerja yang menyatupadukan usaha mereka supaya mencapai matlamat yang dikehendaki. Sekiranya tidak ada perpaduan di kalangan pekerja, sudah tentu organisasi itu tidak dapat menjalankan aktivitinya dengan berkesan dan sempurna. Keadaan organisasi akan menjadi kucar-kacir tanpa sebarang haluan yang tertentu. Penyatuan usaha hendaklah wujud di dalam sesebuah organisasi bagi menjamin pencapaian yang telah disenaraikan. Hubungan di kalangan kakitangan dapat menjamin organisasi itu bergerak dengan sempurna, tersusun dan berkesan. Penyelarasan melalui peraturan dan prosedur yang dibuat dapat meningkatkan hubungan antara satu fungsi dengan satu fungsi yang lain dan antara individu dengan individu yang lain.



1.2 CIRI-CIRI ORGANISASI

1. Sesebuah organisasi yang telah dibentuk akan melambangkan identitinya yang tersendiri. Misalnya, sebuah universiti seharusnya melambangkan tempat untuk menimba ilmu, sebagai sebuah pusat penyelidikan, dan juga sebagai sebuah institusi yang memberi perkhidmatan dan sumbangan kepada masyarakat sama ada dalam bentuk bimbingan atau khidmat nasihat, dan pengajaran dan pembelajaran lain. Untuk mencerminkan identiti atau nilai-nilai tinggi sebagai sebuah menara gading, universiti hendaklah memainkan peranan yang diharapkan oleh masyarakat kampus khususnya dan masyarakat awam amnya. Dengan demikian fungsi sesebuah universiti itu didapati berbeza dengan organisasi-organisasi lain yang mempunyai objektif tertentu.

2. Di dalam sesebuah organisasi, sama ada organisasi kecil atau besar, ia mempunyai hierarki atau tingkat autoriti. Jika dibandingkan antara kedua-dua organisasi kecil dan besar, sudah tentu ia berbeza dari segi bilangan hierarki (tingkat) aktiviti dan bilangan kakitangan pengurusan pada setiap tingkat. Misalnya, organisasi besar mungkin mempunyai lebih daripada tiga tingkat autoriti dan setiap tingkat autoriti itu akan mempunyai lebih daripada tiga atau empat pegawai yang bertanggung-jawab kepada ketua-ketua mereka yang berada pada peringkat yang lebih tinggi lagi.

3. Di dalam sesebuah organisasi, terdapat pembahagian kerja berdasarkan jenis pekerjaan atau bahagian yang diwujudkan. Pada umumnya, organisasi pembuatan mewujudkan bahagian-bahagian seperti bahagian pengeluaran dan pentadbiran. Di bahagian pentadbiran, terdapat beberapa unit lain seperti personel, pemasaran, dan kewangan. Organisasi yang mempunyai tiga bahagian itu beroperasi secara pembahagian kerja mengikut tanggungjawab yang tertentu.

4. Bagi menentukan aktiviti organisasi supaya berjalan dengan lebih teratur seperti yang dirancangkan, ia memerlukan sistem pengawasan, penyelarasan dan pengawalan ke atas perjalanan aktiviti. Dengan demikian, di dalam sesebuah organisasi, peraturan, dasar, prosedur, dan sistem hubungan hendaklah dijelaskan kepada kakitangan dengan jelas dan nyata.

Keempat-empat ciri yang disebutkan di atas hendaklah wujud di dalam sesebuah organisasi. Penentuan sama ada organisasi itu berkesan, efisien atau tidak, bergantung kepada sejauh mana keempat-empat ciri itu diseleng-garakan, disusun, dan diamalkan.

1.3 APAKAH YANG DIKATAKAN PENGURUSAN?

Apabila organisasi telah diwujudkan mengikut keempat-empat ciri seperti yang diterangkan di atas, masalah yang akan timbul ialah bagaimana organisasi itu harus diuruskan dengan sempurna, berkesan dan mencapai matlamat yang dirancangkan. Tanpa pengurusan yang betul, pelbagai masalah mungkin akan timbul, baik dari segi kewangan, pemprosesan, dan inventori hinggalah kepada masalah peribadi di kalangan para pekerja.

Kita pernah mendengar dari media massa tentang beberapa organisasi perniagaan khususnya, yang telah gagal bukan semata-mata kerana masalah persaingan tetapi juga disebabkan oleh pergolakan di dalam organisasi itu sendiri seperti tidak ada persefahaman antara pihak atasan dengan peringkat bawahan, perancangan dan ramalan yang tidak tepat, pembaziran sumber atau penyusunan struktur yang mengelirukan.
Pengurusan, pada amnya dapat didefinisikan seperti berikut:

1. Pengurusan sebagai proses perancangan, penyusunan, pengarahan, dan pengawalan usaha ahli-ahli organisasi dan menggunakan semua sumber organisasi untuk mencapai matlamat organisasi.

2. Pengurusan sebagai proses pengarahan, penyelarasan, dan pengaruh ke atas operasi organisasi untuk mencapai matlamat yang dikehendaki dan prestasi sepenuhnya.

Definisi di atas, walaupun mempunyai sedikit perbezaan dari segi bilangan dan jenis fungsi pengurusan, tetapi kedua-dua definisi itu mengandungi perkataan "proses" dan "matlamat". Ini bermakna, dua aspek penting di dalam pengurusan ialah:

1. Pengurusan sebagai proses: Menjalankan kerja secara sistematik serta memerlukan hubungan tertentu antara satu aktiviti dengan satu aktiviti yang lain.

2. Mencapai matlamat organisasi: Apabila aktiviti organisasi itu berjalan dengan teratur dan berhubung atau membantu antara satu dengan lain, maka matlamat organisasi itu dapat dicapai. Matlamat organisasi dapat berbentuk kualitatif (subjektif) atau kuantitatif (objektif).

1.4 PROSES PENGURUSAN

Proses atau fungsi pengurusan dapat dibahagikan kepada beberapa fungsi bergantung kepada cara kita mengelaskan fungsi-fungsi perancangan, penyusunan, penyelarasan, penstafan, dan pengawalan. Pada amnya, fungsi pengurusan dibahagikan kepada empat sahaja, iaitu perancangan, penyusunan, pengarahan, dan pengawalan.

1.4.1 Perancangan

Sebelum pihak pengurusan memulakan aktiviti organisasi, perancangan hendaklah dibuat terlebih dahulu. Pada peringkat perancangan, perkara yang perlu dipersoalkan adalah seperti berikut:

1. Tujuan dan objektif: Ini termasuk mengenal pasti perkara yang ingin dicapai oleh sesebuah organisasi berdasarkan matlamat penubuhan organisasi tersebut dan prestasi yang diinginkan seperti kadar pertumbuhan organisasi atau peratusan keuntungan dan lain-lain.

2. Strategi organisasi: Apabila matlamat dan tujuan telah ditakrifkan dengan jelas, organisasi perlu mencari jalan (strategi) untuk mencapai matlamat dan tujuan seperti yang diharapkan itu. Di dalam strategi, pihak pengurusan akan membincangkan perkara seperti strategi pemasaran yang meliputi perletakan harga, perluasan pasaran atau perbezaan barangan agar organisasi itu dapat bersaing dengan pihak luar.

3. Langkah seterusnya, pihak pengurusan harus mengatur program atau projek mengikut strategi yang berasaskan matlamat organisasi.

1.4.2 Penyusunan

Penyusunan melibatkan kerja menstruktur organisasi dan penstafan (proses pengambilan kakitangan). Struktur organisasi menunjukkan pembahagian kerja mengikut aktiviti (pemasaran, kewangan, pemprosesan dan lain-lain), tingkat (hierarki) autoriti, penyelarasan melalui peraturan dan dasar serta prosedur yang dibuat. Penstafan meliputi perancangan sumber manusia, pengambilan dan pemilihan kakitangan, orientasi dan latihan, penilaian prestasi, sistem pampasan (gaji, upah, dan faedah), program peningkatan produktiviti dan kualiti, program keselamatan dan kesihatan kakitangan, dan program kebajikan dan perkhidmatan kakitangan.

1.4.3 Pengarahan

Pengarahan merupakan fungsi penting untuk menjamin aktiviti organisasi berjalan dengan teratur dan sempurna dalam suasana yang harmoni. Untuk mencapai matlamat ini faktor-faktor motivasi, kepimpinan, dan sistem komunikasi perlu diberi perhatian oleh pihak pengurusan.

1.4.4 Pengawalan

Pengawalan merupakan fungsi terakhir untuk menentukan bahawa prestasi organisasi telah dicapai mengikut perancangan; masalah dalam penyusunan dikenal pasti dan langkah tertentu diambil; faktor-faktor di dalam organisasi, keinginan dan sifat kakitangan yang ada hubungan dengan prestasi dan tingkah laku perlu diberi perhatian dan diawasi.

1.5 MENGAPAKAH PENGURUSAN?

Pengurusan diperlukan di dalam semua organisasi, tidak kira sama ada organisasi itu kecil atau besar, swasta atau badan kerajaan. Fungsi pengurusan bukan saja merupakan tanggungjawab seorang pengurus besar atau pengarah tetapi juga tanggungjawab penyelia atau ketua bahagian yang berada di dalam organisasi.

Kita pernah mendengar kata-kata seperti: "Masalah yang timbul itu adalah dari pihak pengurusan... ". Pernyataan seperti ini dimaksudkan kepada mereka yang menduduki tingkat atas di dalam organisasi, padahal kelemahan dan masalah yang timbul itu berpunca dari semua pihak pada peringkat pengurusan. Dalam konteks pengurusan, pengurus dimaksudkan kepada mereka yang bertanggungjawab terhadap pekerjaan orang lain pada semua peringkat.
Setiap pengurus mempunyai tugas dan tanggungjawab yang tertentu, antaranya:

1. Pengurus ialah penyelaras dan pengarah di dalam organisasi yang mengawasi aliran kerja serta menyatupadukan semua unsur organisasi. Mereka mempunyai kuasa yang diberikan untuk mengarah orang lain yang berada di bawah tanggungjawabnya.

2. Pengurus bertanggungjawab menggunakan segala sumber dengan efisien untuk mencapai matlamat yang telah ditetapkan.

3. Pengurus juga tidak boleh lari daripada bertanggungjawab ke atas kegagalan dan kejayaan orang di bawah jagaannya. Kegagalan dan kejayaan itu mencerminkan prestasi pengurus berkenaan.

4. Pengurus mengimbangkan matlamat dan menetapkan prioriti seperti menjalankan kerja yang penting dahulu atau dengan serta-merta.

5. Pengurus mewujudkan matlamat, perancangan, dasar, dan mengimple-mentasikan strategi.

Aktiviti pengurusan berbeza mengikut tingkatan di dalam organisasi. Misalnya, pengurus atasan menggunakan kebanyakan masa mereka di dalam perancangan jangka panjang, perhubungan awam, membuat dasar serta menganalisis perkara-perkara yang berlaku di persekitaran luaran. Pengurus pertengahan atau penyelia sebaliknya memainkan peranan yang lebih di dalam penyelarasan dan pengawalan kerja pada peringkat operasi. Satu kenyataan yang harus kita terima ialah pengurus lebih berhadapan dengan faktor-faktor yang tidak dapat dikawal daripada faktor-faktor yang boleh dikawal. Misalnya, sumber selalunya terhad, kuasa yang diberikan terbatas, pihak atasan mengharapkan sesuatu yang mesti dicapai dan permintaan orang bawahan memerlukan pertimbangan. Oleh yang demikian, untuk membolehkan sesuatu perkara itu dilaksanakan, pengurus memerlukan kepakaran, keyakinan, dan mempunyai kesabaran.

1.6 PENGURUS DI DALAM ORGANISASI

1.6.1 Tingkat Pengurusan

Sudah menjadi kebiasaan untuk membezakan kedudukan pengurus mengikut hierarki kuasa atau pangkat di dalam organisasi. Perbezaan ini dapat dilihat di dalam rajah 1.1 hierarki pengurusan.



Rajah 1.1. Hierarki pengurusan



1.6.2 Pengurus Atasan

Pengurus yang menduduki peringkat atasan ini terdiri daripada Ketua Eksekutif, Presiden atau Pengurus Besar yang menetapkan matlamat dan menentukan ia tercapai mengikut tujuan organisasi. Pengurus atasan ini juga meneliti perkembangan dan peluang yang berlaku di persekitaran luaran supaya organisasi itu dapat menyesuaikan diri kepada perubahan yang berlaku.

1.6.3 Pengurus Pertengahan

Tugas pengurus pada peringkat ini, termasuklah menyelaras dan menyatupadukan aktiviti bahagian untuk mencapai matlamat yang telah ditetapkan oleh pihak atasan. Mereka pada peringkat ini terdiri daripada Pengurus Kawasan, Dekan Pusat Pengajian di universiti, Pengurus Personel dan lain-lain.

1.6.4 Pengurus Bawahan

Penyelia, Fomen, dan Ketua Kumpulan adalah antara mereka yang dimasukkan ke dalam kategori pengurus bawahan. Tugas mereka mengawasi pekerjaan harian di bahagian operasi seperti bahagian pengeluaran agar pengeluaran itu mengikut perancangan yang telah ditetapkan oleh pihak pengurusan pertengahan dan bawahan.

1.7 PERANAN PENGURUS DI DALAM ORGANISASI

Apabila seseorang pengurus memasuki organisasi, tidak kira sama ada organisasi swasta atau kerajaan, ia diberikan autoriti rasmi dan juga pangkat untuk menjalankan tugas dan tanggungjawab. Apabila pengurus itu mempunyai autoriti dan pangkat di dalam organisasi, misalnya sebagai seorang ketua jabatan atau ketua bagi keseluruhan organisasi, maka peranannya selain tugas rasmi, menjadi lebih kompleks lagi.
Henry Mintzberg membahagikan peranan pengurus kepada tiga bahagian:

1. Peranan sebagai penghubung atau orang perantaraan.
2. Peranan sebagai penyebar atau penyampai maklumat.
3. Peranan sebagai pembuat keputusan.

Rajah 1.2 di bawah ialah petikan daripada Henry Mintzberg, The manager's job: folklore and fact.

Rajah 1.2. Peranan pengurus

1.7.1 Peranan Penghubung Individu

Terdapat tiga peranan pengurus sebagai penghubung individu. Peranan-peranan ini datangnya terus daripada autoriti yang dipunyai oleh beliau.

1.7.1.1 Sebagai orang terpenting. Pertama ialah peranan sebagai orang terpenting. Oleh kerana pengurus itu mempunyai pangkat sebagai seorang ketua unit organisasi, maka beliau mestilah menjalankan tanggungjawab yang bersifat sosial. Sebagai contoh, seorang pengurus itu perlu menghadiri majlis perkahwinan kakitangan bawahannya atau seorang pengurus pemasaran melayani pelanggannya di majlis jamuan. Walaupun peranan ini tidak memerlukan keputusan penting diambil dan kadang-kadang dianggap biasa, tetapi ia penting demi untuk mengeratkan perhubungan dan rasa tanggungjawab sebagai seorang ketua yang dihormati.

1.7.1.2 Sebagai pemimpin. Oleh kerana pengurus itu bertanggungjawab kepada unit organisasi, maka ia bertanggungjawab ke atas kerja-kerja kakitangan unit tersebut. Setiap pengurus memainkan peranan sebagai

pemimpin yang mendorong dan menggalakkan pekerja untuk bekerja dan menentukan bahawa matlamat mereka itu sealiran dengan matlamat organisasi.

1.7.1.3 Sebagai pegawai perhubungan. Sebagai pegawai perhubungan, pengurus harus mengadakan hubungan dengan pihak luar untuk mendapatkan maklumat tentang perkembangan yang berlaku di luar organisasi. Perhubungan ini dapat dilakukan secara tidak rasmi atau secara persendirian tetapi mestilah berkesan.

1.7.2 Peranan Penyampai Maklumat

Oleh kerana pengurus itu adalah penghubung individu, maka ia dianggap sebagai nadi penting di dalam unitnya. Ia mungkin tidak mengetahui segala-galanya tetapi ia tentu mengetahui lebih daripada kakitangan lain hasil hubungannya dengan kakitangan di dalam dan pihak luar.

1.7.2.1 Sebagai pengawas. Sebagai pengawas, pengurus menjelajahi persekitaran untuk mendapatkan maklumat. Maklumat dapat diperolehi melalui perbualan, percakapan, dan secara spekulasi. Memandangkan pengurus itu berhubung dengan pihak lain, maka ia mempunyai kelebihan mengumpulkan maklumat untuk organisasi.

1.7.2.2 Sebagai penyampai. Pengurus mestilah berkongsi dan membaha-gikan maklumat yang diterima dari pihak luar. Sebagai penyampai, pengurus perlu memberikan sebahagian daripada maklumat yang diperolehi itu terus kepada kakitangan bawahannya yang tidak berpeluang mendapatkan maklumat tersebut. Apabila kaki-tangannya mempunyai kesukaran untuk berhubung dengan kakitangan yang lain, maka pengurus kadang kala hendaklah menghantarkan maklumat tersebut terus kepada kakitangan yang lain itu.

1.7.2.3 Sebagai jurucakap. Sebagai jurucakap, pengurus menghantarkan sebahagian maklumatnya kepada mereka yang di luar dari unitnya. Sebagai contoh, seorang penyelia pengeluaran di sebuah gedung mencadangkan kepada pihak pembekal supaya mengubah jadual bekalannya untuk memenuhi jadual pengeluaran gedungnya.

1.7.3 Peranan sebagai Pembuat Keputusan

Maklumat adalah bahan asas di dalam membuat keputusan. Pengurus memainkan peranan yang penting untuk membuat keputusan di unitnya. Dengan autoriti yang ada, pengurus dapat bertanggungjawab dan melibatkan diri di dalam sesuatu tindakan; dan sebagai nadi di dalam sebuah organisasi, pengurus harus mempunyai maklumat yang lengkap dan kemaskini untuk membuat keputusan tentang strategi unitnya.

Empat peranan yang menghuraikan pengurus sebagai pembuat keputusan adalah seperti berikut:

1.7.3.1 Sebagai usahawan. Sebagai usahawan, pengurus cuba membaiki unitnya dan menyesuaikannya dengan keadaan persekitaran yang berubah-ubah. Sebagai pengawas, pengurus hendaklah berada dalam keadaan berjaga-jaga untuk mendapatkan ilham baru. Apabila ilham yang baik didapati, beliau akan memulakan projek itu secara bersendiri dahulu atau beliau boleh mendelegasikan projek tersebut kepada kakitangannya. Sesuatu projek itu, melibatkan perkara seperti barangan baru, kempen perhubungan awam, peraliran dana yang kemaskini, penyusunan semula bahagian yang lemah, penyelesaian masalah imej di divisi luar negeri, menyatupadukan operasi komputer dan lain-lain.

1.7.3.2 Sebagai pengawal gangguan. Oleh kerana perubahan yang berlaku itu di luar kawalan pengurus, maka ia mestilah mengambil tindakan tertentu untuk mengelakkan keadaan daripada menjadi bertambah teruk dan tidak terkawal. Dalam kejadian seperti pelanggan utama telah ditimpa kebankrapan atau pembekal telah melanggar kontrak atau berlakunya mogok oleh pekerja, maka pengurus hendaklah menumpukan masanya untuk mengatasi masalah tersebut. Gangguan yang berlaku itu bukanlah disebabkan pengurus lemah dan tidak menghiraukan keadaan, tetapi juga kerana ia tidak dapat meneka akibat tindakan yang telah diambil, sekalipun ia seorang pengurus yang baik.

1.7.3.3 Sebagai pembahagi sumber. Peranan pembuat keputusan yang ketiga ialah sebagai pembahagi sumber. Pengurus bertanggungjawab untuk menentukan pihak yang akan mendapat sesuatu dan banyaknya. Sumber yang penting, pengurus itu harus memperuntukkan masanya kepada kakitangan supaya mereka dapat berhubung dengannya yang dianggap sebagai nadi dan pembuat keputusan. Pengurus juga bertanggungjawab dalam membentuk unit struktur, perhubungan rasmi dan menentukan cara sesuatu kerja itu dibahagikan dan diselaraskan. Pengurus juga meluluskan keputusan penting sebelum mengimplementasikannya. Dengan menetapkan kuasa ini, pengurus dapat menentukan bahawa keputusan yang dibuat itu mempunyai hubungan dengan perjalanan aktiviti dan fungsi-fungsi di dalam organisasi.

1.7.3.4 Sebagai perunding. Pengurus menghabiskan masa yang sewajarnya di dalam perundingan. Sebagai contoh, pengurus besar mengadakan perundingan dengan kesatuan sekerja atau pengurus jualan mengadakan perundingan kontrak dengan pembeli atau pengurus akan berunding dengan penyelia tentang isu-isu kerja dan lain-lain. Perundingan diibaratkan sebagai satu tugas penting memandangkan pengurus mempunyai autoriti dan maklumat yang cukup untuk mengadakan perundingan.

Kesepuluh peranan yang dibincangkan di atas amat susah untuk dipisahkan.


Rajah 1.3. Talian pengurus dengan sektor-sektor di dalam organisasi



1.8 KEMAHIRAN PENGURUS

Sebahagian besar masa seseorang pengurus itu digunakan untuk berkomunikasi, membuat keputusan, dan berinteraksi dengan orang lain. Sekiranya pengurus itu mencapai prestasi yang tinggi, ini bererti beliau telah berkesan melalui proses yang tersebut di atas. Dalam hal kebolehan seseorang pengurus itu, mereka yang tidak faham dengan pengertian kemahiran atau kebolehan menganggap bahawa kemahiran teknik dan kemahiran pengurusan sama. Padahal kedua-dua kemahiran itu dapat kita definisikan secara berasingan dan berbeza.

1.8.1 Kemahiran Teknik

Kemahiran teknik adalah kemahiran atau kebolehan yang khusus dalam sesuatu bidang. Contohnya, kemahiran dalam bidang kejuruteraan, pengeluaran, kewangan, dan pemasaran. Bidang-bidangnya memerlukan latihan sebelum dapat menjalankan pekerjaan.

1.8.2 Kemahiran Pengurusan

Kemahiran pengurusan atau kebolehan mengurus adalah berhubung dengan proses pengarahan, penyelarasan, atau pengawasan pekerjaan orang lain.
Kepentingan kemahiran teknik atau kemahiran pengurusan bergantung kepada tingkat pengurus itu berada dalam organisasi dan keadaan operasi yang dijalankan. Semakin rendah pangkat seseorang pengurus itu, semakin tinggi ia memerlukan kemahiran teknik untuk menjalankan tugas pada peringkat operasi.


Rajah 1.4. Hubungan antara kemahiran dengan pengurus

1.9 PENGURUSAN DAN PROSES PENGURUSAN

Pihak pengurusan ialah gabungan individu yang mengendalikan sesebuah organisasi. Secara akademik definisi seperti ini sangatlah terhad pengertiannya. Oleh kerana pengurusan itu bukannya individu atau sekumpulan individu, maka untuk tujuan kita, ia boleh didefinisikan sebagai proses perancangan, penyusunan, pengarahan, dan pengawalan penggunaan sumber untuk mencapai tujuan dan matlamat organisasi.

1.9.1 Empat Fungsi Pengurusan

Perancangan, penyusunan, pengarahan, dan pengawalan merupakan empat fungsi asas pengurusan.

1.9.1.1 Perancangan. Sebelum organisasi itu menjalankan kegiatannya, ia mesti merancang, iaitu menentukan terlebih dahulu perkara yang hendak dicapai olehnya. Ini termasuklah menetapkan tujuan, objektif, strategi, program, projek, dan kerja yang akan dimainkan oleh organisasi.

1.9.1.2 Penyusunan. Di dalam penyusunan, sumber manusia dan bahan disusun, dan dibahagikan mengikut gabungan yang tepat bagi menentukan perancangan itu berjalan dan mencapai matlamatnya. Ini termasuklah menyusun tingkat kuasa, membahagikan unit-unit atau bahagian, serta memilih kakitangan untuk memenuhi jawatan yang diwujudkan.

1.9.1.3 Pengarahan. Pengarahan memberikan panduan, bimbingan, dan perangsang kepada tenaga pekerja untuk mencapai matlamat organisasi. Perkara yang dilakukan termasuklah memberi kepimpinan, dorongan, dan berkomunikasi di dalam organisasi.

1.9.1.4 Pengawalan. Pengawalan merujuk kepada langkah-langkah mengawasi prestasi, membandingkan keputusan dengan matlamat organisasi dan mengambil tindakan yang betul sekiranya berlaku kesisihan.
Bab-bab seterusnya akan membincangkan empat fungsi pengurusan dengan lebih mendalam.

1.10 PENGURUSAN SEBAGAI BIDANG SAINS ATAU SENI

Persoalan sama ada pengurusan itu dianggap sebagai satu bidang sains atau seni masih lagi pada peringkat perbincangan dan perdebatan. Gulick menyifatkan pengurusan itu hanya dapat diakui sebagai bidang sains apabila:

1. Teorinya berkeupayaan untuk memberi panduan dan memberitahu pengurus tentang sesuatu keputusan yang mesti diambil di dalam sesuatu keadaan.
2. Teorinya juga dapat menentukan akibat yang akan berlaku hasil tindakan pengurus.

Berdasarkan Gulick, kita boleh menyifatkan bahawa pengurusan itu satu seni kerana keputusan yang diambil oleh pengurus itu berdasarkan pandangan, pertimbangan, dan gerak hati pengurus itu sendiri dengan berpandukan maklumat yang terhad. Kita mengakui bahawa sebahagian aspek pengurusan ada mengandungi ciri-ciri saintifik tetapi pada keseluruhannya pengurusan kekal sebagai seni.

1.11 PENGURUS SEBAGAI PENGHUBUNG DI DALAM ORGANISASI

Pengurus yang berada di dalam tingkat pengurusan, sama ada pada peringkat penyeliaan atau sehingga ke peringkat atasan, memainkan peranan sebagai penghubung antara tingkat pengurusan (Rensis Likert, 1961). Menerusi pengurus bahagian (fungsi) yang mewakili bahagian masing-masing, perbincangan, perundingan, dan penyelarasan berhubung dengan tugas, dan tanggungjawab dapat diadakan. Sebarang maklumat dari peringkat bawahan dapat disalurkan ke peringkat atasan menerusi pengurus bahagian. Begitu juga perhubungan dan penyelarasan antara satu bahagian dengan bahagian yang lain tentang sesuatu perkara dapat dibuat dan diselaraskan pada peringkat pengurus bahagian.



Rajah 1.5. Pengurus sebagai penghubung di dalam organisasi



1.12 KECEKPAN, KEBERKESANAN, PRODUKTIVITI, DAN KUALITI

Kejayaan mengurus sesebuah organisasi boleh diukur dari aspek kecekapan, keberkesanan, produktiviti dan kualiti produk, dan perkhidmatan yang ditawarkan oleh organisasi.

Kecekapan organisasi boleh diukur dari aspek kuantiti input yang digunakan oleh organisasi untuk menghasilkan satu unit pengeluaran atau perkhidmatan. Contohnya, apabila organisasi berupaya menambahkan bilangan produk atau perkhidmatan dengan menggunakan kuantiti input yang sama atau kurang, organisasi tersebut dianggap telah meningkatkan kecekapannya. Kecekapan juga bermaksud apabila pengurus membuat tugasnya dengan betul.

Keberkesanan boleh diukur dari segi sama ada pengurus membuat kerja yang betul dan matlamat organisasi berjaya dicapai. Contohnya, organisasi disifatkan tidak berkesan apabila ia gagal mencapai matlamatnya disebabkan oleh pelaksanaan rancangan yang lemah atau kerana kegagalan pihak pengurusan meramal perubahan persekitaran organisasi dengan lebih tepat.

Produktiviti disifatkan sebagia nisbah output yang dikeluarkan dibandingkan dengan input (sumber) yang digunakan dalam proses pengeluaran produk atau perkhidmatan. Input dalam sistem pengeluaran termasuk: tanah, bahan, mesin, wang, masa, dan tenaga pekerja. Produktiviti pekerja boleh diukur dari segi bilangan produk yang dikeluar atau bilangan pelanggan yang diberi perkhidmatan dalam jangka masa yang tertentu. Manakala produktiviti pengurus atau penyelia boleh diukur dari segi kecekapannya menggunakan tenaga pekerja ke tahap paling optimum. Sekiranya pekerja tidak dapat menjalankan kerja dengan lebih cekap atau pekerja terpaksa menunggu atau memperlahankan kerja kerana kelemahan sistem penyusunan dan penugasan, pengurus yang bertanggungjawab disifatkan tidak cekap dan tidak berkesan. Organisasi yang produktif berupaya bersaing pada peringkat nasional dan antarabangsa. Contohnya,

organisasi yang menggunakan teknologi moden dan terkini boleh memperbaiki produktiviti kerana ia mampu mengeluarkan produk dan perkhidmatan baru dengan harga yang lebih kompetitif. Persaingan sengit, perubahan cita rasa pengguna serta peningkatan tahap pendidikan masyarakat, kekurangan tenaga pekerja dan kekurangan bekalan sumber pengeluaran menyebabkan organisasi memberi penuh perhatian kepada program peningkatan produktiviti dan kualiti.
Kualiti produk atau perkhidmatan boleh diukur dari segi kepuasan pengguna atau pelanggan. Kualiti produk atau perkhidmatan merangkumi aspek daya tarikan produk, pembungkusan, kesenian, dan kehalusan kerja (pertukangan), layanan, hubungan inter-peribadi dan komunikasi, perkhidmatan sokongan, dan perkhidmatan lepas jualan.

Sama ada sesebuah organisasi ini organisasi sektor awam atau swasta, perkhidmatan atau keluaran industri, produktiviti dan kualiti adalah faktor penting yang boleh memimpin daya saing dan daya maju organisasi.

1.13 RUMUSAN

Pengurusan adalah satu bidang yang luas, merangkumi bidang-bidang sains sosial seperti sosiologi, antropologi, sains politik, ekonomi, dan juga psikologi. Kemahiran di dalam pengurusan bukan sahaja diperolehi melalui bacaan dan kefahaman tentang konsep dan prinsip-prinsip yang telah dikemukakan di dalam buku-buku teks. Malahan kemahiran ini dapat diperolehi melalui pengalaman yang dialami oleh pihak pengurusan semasa menjalankan tugas.
Peranan pengurus bukan sahaja tertumpu kepada aspek pengawasan dan pengawalan kakitangan, bahkan ia juga merangkumi tugas yang tidak tercatat di dalam gambaran tugasnya seperti peranan sebagai penyampai maklumat atau sebagai pendorong kakitangan atau sebagai seorang pemimpin atau tokoh.

http://www.tripod.lycos.com/

_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+__+_+_+_+_+_+_+_+

Metode Penelitian Kualitatif
Saturday, 17 January 2009 00:00 Iyan Afriani H.S
Print PDF
A. Pengantar

Dalam penelitian sosial, masalah penelitian, tema, topik, dan judul penelitian berbeda secara kualitatif maupun kuantitatif. Baik substansial maupun materil kedua penelitian itu berbeda berdasarkan filosofis dan metodologis. Masalah kuantitatif lebih umum memiliki wilayah yang luas, tingkat variasi yang kompleks namun berlokasi dipermukaan. Akan tetapi masalah-masalah kualitatif berwilayah pada ruang yang sempit dengan tingkat variasi yang rendah namun memiliki kedalaman bahasan yang tak terbatas.

Pendekatan kualitatif adalah suatu proses penelitian dan pemahaman yang berdasarkan pada metodologi yang menyelidiki suatu fenomena sosial dan masalah manusia. Pada pendekatan ini, peneliti membuat suatu gambaran kompleks, meneliti kata-kata, laporan terinci dari pandangan responden, dan melakukan studi pada situasi yang alami (Creswell, 1998:15). Bogdan dan Taylor (Moleong, 2007:3) mengemukakan bahwa metodologi kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis maupun lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati.

Penelitian kualitatif dilakukan pada kondisi alamiah dan bersifat penemuan. Dalam penelitian kualitatif, peneliti adalah instrumen kunci. Oleh karena itu, peneliti harus memiliki bekal teori dan wawasan yang luas jadi bisa bertanya, menganalisis, dan mengkonstruksi obyek yang diteliti menjadi lebih jelas. Penelitian ini lebih menekankan pada makna dan terikat nilai. Penelitian kualitatif digunakan jika masalah belum jelas, untuk mengetahui makna yang tersembunyi, untuk memahami interaksi sosial, untuk mengembangkan teori, untuk memastikan kebenaran data, dan meneliti sejarah perkembangan.


B. Sistematika Penelitian Kualitatif
Judul
Abstrak
Kata Pengantar
Daftar Isi
Daftar Gambar
Bab I Pendahuluan
Konteks Penelitian
Fokus Kajian Penelitian
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Bab II Perspektif Teoritis dan Kajian Pustaka
Bab III Metode Penelitian
Pendekatan
Batasan Istilah
Unit Analisis
Deskripsi Setting Penelitian
Pengumpulan Data
Analisis Data
Keabsahan data
Bab IV Hasil dan pembahasan
Bab VI Kesimpulan dan saran
Daftar pustaka
Lampiran


Penjelasan secara ringkas keseluruhan unsur yang ada dalam penelitian kualitatif, yaitu:

1. Judul, singkat dan jelas serta mengisyaratkan fenomena dan fokus kajian penelitian. Penulisan judul sedapat mungkin menghindari berbagai tafsiran yang bermacam-macam dan tidak bias makna.
2. Abstrak, ditulis sesingkat mungkin tetapi mencakup keseluruhan apa yang tertulis di dalam laporan penelitian. Abstrak penelitian selain sangat berguna untuk membantu pembaca memahami dengancepat hasil penelitian, juga dapat merangsang minat dan selera orang lain untuk membacanya.
3. Perspektif teoritis dan kajian pustaka, perspektif teori menyajikan tentang teori yang digunakan sebagai perpektif baik dalam membantumerumuskan fokus kajian penelitian maupun dalam melakukan analisis data atau membahas temuan-temuan penelitian. Sementara kajian pustaka menyajikan tentang studi-studi terdahulu dalam konteks fenomena dan masalah yang sama atau serupa.
4. Metode yang digunakan, menyajikan secara rinci metode yang digunakan dalam proses penelitian.
5. Temuan–temauan penelitian, menyajikan seluruh temuan penelitian yang diorganisasikan secara rinci dan sistematis sesuai urutan pokok masalah atau fokus kajian penelitian. Temuan-temuan penelitian yang disajikan dalam laporan penelitian merupakan serangkaian fakta yang sudah direduksi secara cermat dan sistematis, dan bukan kesan selintas peneliti apalagi hasil karangan atau manipulasi peneliti itu sendiri.
6. Analisis temuan– temuan penelitian. Hasil temuanmemrlukan pembahasan lebih lanjut dan penafsiran lebih dalam untuk menemukan makna di balik fakta. Dalam melakukan pembahasan terhadap temuan-temuan penelitian, peneliti harus kembali mencermati secara kritis dan hati-hati terhadap perspektif teoritis yang digunakan.


C. Jenis-jenis Penelitian Kualitatif
Penelitian kualitatif memiliki 5 jenis penelitian, yaitu:
1. Biografi
Penelitian biografi adalah studi tentang individu dan pengalamannya yang dituliskan kembali dengan mengumpulkan dokumen dan arsip-arsip. Tujuan penelitian ini adalah mengungkap turning point moment atau epipani yaitu pengalaman menarik yang sangat mempengaruhi atau mengubah hidup seseorang. Peneliti menginterpretasi subjek seperti subjek tersebut memposisikan dirinya sendiri.

2. Fenomenologi
Penelitian fenomenologi mencoba menjelaskan atau mengungkap makna konsep atau fenomena pengalaman yang didasari oleh kesadaran yang terjadi pada beberapa individu. Penelitian ini dilakukan dalam situasi yang alami, sehingga tidak ada batasan dalam memaknai atau memahami fenomena yang dikaji. Menurut Creswell (1998:54), Pendekatan fenomenologi menunda semua penilaian tentang sikap yang alami sampai ditemukan dasar tertentu. Penundaan ini biasa disebut epoche (jangka waktu). Konsep epoche adalah membedakan wilayah data (subjek) dengan interpretasi peneliti. Konsep epoche menjadi pusat dimana peneliti menyusun dan mengelompokkan dugaan awal tentang fenomena untuk mengerti tentang apa yang dikatakan oleh responden.

3. Grounded theory
Walaupun suatu studi pendekatan menekankan arti dari suatu pengalaman untuk sejumlah individu, tujuan pendekatan grounded theory adalah untuk menghasilkan atau menemukan suatu teori yang berhubungan dengan situasi tertentu . Situasi di mana individu saling berhubungan, bertindak, atau terlibat dalam suatu proses sebagai respon terhadap suatu peristiwa. Inti dari pendekatan grounded theory adalah pengembangan suatu teori yang berhubungan erat kepada konteks peristiwa dipelajari.

4. Etnografi
Etnografi adalah uraian dan penafsiran suatu budaya atau sistem kelompok sosial. peneliti menguji kelompok tersebut dan mempelajari pola perilaku, kebiasaan, dan cara hidup. Etnografi adalah sebuah proses dan hasil dari sebuah penelitian. Sebagai proses, etnografi melibatkan pengamatan yang cukup panjang terhadap suatu kelompok, dimana dalam pengamatan tersebut peneliti terlibat dalam keseharian hidup responden atau melalui wawancara satu per satu dengan anggota kelompok tersebut. Peneliti mempelajari arti atau makna dari setiap perilaku, bahasa, dan interaksi dalam kelompok.

5. Studi kasus
Penelitian studi kasus adalah studi yang mengeksplorasi suatu masalah dengan batasan terperinci, memiliki pengambilan data yang mendalam, dan menyertakan berbagai sumber informasi. Penelitian ini dibatasi oleh waktu dan tempat, dan kasus yang dipelajari berupa program, peristiwa, aktivitas, atau individu.

D. Metode Pengumpulan Data

Beberapa metode pengumpulan data dalam penelitian kualitatif, yaitu:

1. Wawancara
Wawancara merupakan alat re-cheking atau pembuktian terhadap informasi atau keterangan yang diperoleh sebelumnya. Tehnik wawancara yang digunakan dalam penelitian kualitatif adalah wawancara mendalam. Wawancara mendalam (in–depth interview) adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan informan atau orang yang diwawancarai, dengan atau tanpa menggunakan pedoman (guide) wawancara, di mana pewawancara dan informan terlibat dalam kehidupan sosial yang relatif lama.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan seorang peneliti saat mewawancarai responden adalah intonasi suara, kecepatan berbicara, sensitifitas pertanyaan, kontak mata, dan kepekaan nonverbal. Dalam mencari informasi, peneliti melakukan dua jenis wawancara, yaitu autoanamnesa (wawancara yang dilakukan dengan subjek atau responden) dan aloanamnesa (wawancara dengan keluarga responden). Beberapa tips saat melakukan wawancara adalah mulai dengan pertanyaan yang mudah, mulai dengan informasi fakta, hindari pertanyaan multiple, jangan menanyakan pertanyaan pribadi sebelum building raport, ulang kembali jawaban untuk klarifikasi, berikan kesan positif, dan kontrol emosi negatif.

2. Observasi
Beberapa informasi yang diperoleh dari hasil observasi adalah ruang (tempat), pelaku, kegiatan, objek, perbuatan, kejadian atau peristiwa, waktu, dan perasaan. Alasan peneliti melakukan observasi adalah untuk menyajikan gambaran realistik perilaku atau kejadian, untuk menjawab pertanyaan, untuk membantu mengerti perilaku manusia, dan untuk evaluasi yaitu melakukan pengukuran terhadap aspek tertentu melakukan umpan balik terhadap pengukuran tersebut.

Bungin (2007: 115) mengemukakan beberapa bentuk observasi yang dapat digunakan dalam penelitian kualitatif, yaitu observasi partisipasi, observasi tidak terstruktur, dan observasi kelompok tidak terstruktur.

* Observasi partisipasi (participant observation) adalah metode pengumpulan data yang digunakan untuk menghimpun data penelitian melalui pengamatan dan pengindraan dimana observer atau peneliti benar-benar terlibat dalam keseharian responden.
* Observasi tidak berstruktur adalah observasi yang dilakukan tanpa menggunakan guide observasi. Pada observasi ini peneliti atau pengamat harus mampu mengembangkan daya pengamatannya dalam mengamati suatu objek.
* Observasi kelompok adalah observasi yang dilakukan secara berkelompok terhadap suatu atau beberapa objek sekaligus.


Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam observasi adalah topografi, jumlah dan durasi, intensitas atau kekuatan respon, stimulus kontrol (kondisi dimana perilaku muncul), dan kualitas perilaku.

3. Dokumen
Sejumlah besar fakta dan data tersimpan dalam bahan yang berbentuk dokumentasi. Sebagian besar data yang tersedia adalah berbentuk surat-surat, catatan harian, cenderamata, laporan, artefak, foto, dan sebagainya. Sifat utama data ini tak terbatas pada ruang dan waktu sehingga memberi peluang kepada peneliti untuk mengetahui hal-hal yang pernah terjadi di waktu silam. Secara detail bahan dokumenter terbagi beberapa macam, yaitu otobiografi, surat-surat pribadi, buku atau catatan harian, memorial, klipping, dokumen pemerintah atau swasta, data di server dan flashdisk, data tersimpan di website, dan lain-lain.

4. Focus Group Discussion (FGD)
Focus Group Discussion (FGD) adalah teknik pengumpulan data yang umumnya dilakukan pada penelitian kualitatif dengan tujuan menemukan makna sebuah tema menurut pemahaman sebuah kelompok. Teknik ini digunakan untuk mengungkap pemaknaan dari suatu kalompok berdasarkan hasil diskusi yang terpusat pada suatu permasalahan tertentu. FGD juga dimaksudkan untuk menghindari pemaknaan yang salah dari seorang peneliti terhadap fokus masalah yang sedang diteliti.

E. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data dalam penelitian kualitatif di dasarkan pada pendekatan yang digunakan. Beberapa bentuk analisis data dalam penelitian kualitatif, yaitu:

1. Biografi
Langkah-langkah analisis data pada studi biografi, yaitu:
a. Mengorganisir file pengalaman objektif tentang hidup responden seperti tahap perjalanan hidup dan pengalaman. Tahap tersebut berupa tahap kanak-kanak, remaja, dewasa dan lansia yang ditulis secara kronologis atau seperti pengalaman pendidikan, pernikahan, dan pekerjaan.
b. Membaca keseluruhan kisah kemudian direduksi dan diberi kode.
c. Kisah yang didapatkan kemudian diatur secara kronologis.
d. Selanjutnya peneliti mengidentifikasi dan mengkaji makna kisah yang dipaparkan, serta mencari epipani dari kisah tersebut.
e. Peneliti juga melihat struktur untuk menjelaskan makna, seperti interaksi sosial didalam sebuah kelompok, budaya, ideologi, dan konteks sejarah, kemudian memberi interpretasi pada pengalaman hidup individu.
f. Kemudian, riwayat hidup responden di tulis dengan berbentuk narasi yang berfokus pada proses dalam hidup individu, teori yang berhubungan dengan pengalaman hidupnya dan keunikan hidup individu tersebut.

2. Fenomenologi
Langkah-langkah analisis data pada studi fenomenologi, yaitu:
a. Peneliti memulai mengorganisasikan semua data atau gambaran menyeluruh tentang fenomena pengalaman yang telah dikumpulkan.
b. Membaca data secara keseluruhan dan membuat catatan pinggir mengenai data yang dianggap penting kemudian melakukan pengkodean data.
c. Menemukan dan mengelompokkan makna pernyataan yang dirasakan oleh responden dengan melakukan horizonaliting yaitu setiap pernyataan pada awalnya diperlakukan memiliki nilai yang sama. Selanjutnya, pernyataan yang tidak relevan dengan topik dan pertanyaan maupun pernyataan yang bersifat repetitif atau tumpang tindih dihilangkan, sehingga yang tersisa hanya horizons (arti tekstural dan unsur pembentuk atau penyusun dari phenomenon yang tidak mengalami penyimpangan).
d. Pernyataan tersebut kemudian di kumpulkan ke dalam unit makna lalu ditulis gambaran tentang bagaimana pengalaman tersebut terjadi.
e. Selanjutnya peneliti mengembangkan uraian secara keseluruhan dari fenomena tersebut sehingga menemukan esensi dari fenomena tersebut. Kemudian mengembangkan textural description (mengenai fenomena yang terjadi pada responden) dan structural description (yang menjelaskan bagaimana fenomena itu terjadi).
f. Peneliti kemudian memberikan penjelasan secara naratif mengenai esensi dari fenomena yang diteliti dan mendapatkan makna pengalaman responden mengenai fenomena tersebut.
g. Membuat laporan pengalaman setiap partisipan. Setelah itu, gabungan dari gambaran tersebut ditulis.

3. Grounded theory
Langkah-langkah analisis data pada studi grounded theory, yaitu:
a. Mengorganisir data
b. Membaca keseluruhan informasi dan memberi kode.
c. Open coding, peneliti membentuk kategori informasi tentang peristiwa dipelajari.
d. Axial coding, peneliti mengidentifikasi suatu peristiwa, menyelidiki kondisi-kondisi yang menyebabkannya, mengidentifikasi setiap kondisi-kondisi, dan menggambarkan peristiwa tersebut.
e. Selective coding, peneliti mengidentifikasi suatu jalan cerita dan mengintegrasikan kategori di dalam model axial coding.
Selanjutnya peneliti boleh mengembangkan dan menggambarkan suatu acuan yang menerangkan keadaan sosial, sejarah, dan kondisi ekonomi yang mempengaruhi peristiwa.

4. Etnografi
Langkah-langkah analisis data pada studi etnografi, yaitu:
a. Mengorganisir file.
b. Membaca keseluruhan informasi dan memberi kode.
c. Menguraikan setting sosial dan peristiwa yang diteliti.
d. Menginterpretasi penemuan.
e. Menyajikan presentasi baratif berupa tabel, gambar, atau uraian.

5. Studi kasus
Langkah-langkah analisis data pada studi kasus, yaitu:
a. Mengorganisir informasi.
b. Membaca keseluruhan informasi dan memberi kode.
c. Membuat suatu uraian terperinci mengenai kasus dan konteksnya.
d. Peneliti menetapkan pola dan mencari hubungan antara beberapa kategori.
e. Selanjutnya peneliti melakukan interpretasi dan mengembangkan generalisasi natural dari kasus baik untuk peneliti maupun untuk penerapannya pada kasus yang lain.
f. Menyajikan secara naratif.

F. Keabsahan Data

Banyak hasil penelitian kualitatif diragukan kebenarannya karena beberapa hal, yaitu subjektivitas peneliti merupakan hal yang dominan dalam penelitian kualitatif, alat penelitian yang diandalkan adalah wawancara dan observasi mengandung banyak kelemahan ketika dilakukan secara terbuka dan apalagi tanpa kontrol, dan sumber data kualitatif yang kurang credible akan mempengaruhi hasil akurasi penelitian. Oleh karena itu, dibutuhkan beberapa cara menentukan keabsahan data, yaitu:

1. Kredibilitas
Apakah proses dan hasil penelitian dapat diterima atau dipercaya. Beberapa kriteria dalam menilai adalah lama penelitian, observasi yang detail, triangulasi, per debriefing, analisis kasus negatif, membandingkan dengan hasil penelitian lain, dan member check.
Cara memperoleh tingkat kepercayaan hasil penelitian, yaitu:
a. Memperpanjang masa pengamatan memungkinkan peningkatan derajat kepercayaan data yang dikumpulkan, bisa mempelajari kebudayaan dan dapat menguji informasi dari responden, dan untuk membangun kepercayaan para responden terhadap peneliti dan juga kepercayaan diri peneliti sendiri.
b. Pengamatan yang terus menerus, untuk menemukan ciri-ciri dan unsur-unsur dalam situasi yang sangat relevan dengan persoalan atau isu yang sedang diteliti, serta memusatkan diri pada hal-hal tersebut secara rinci.
c. Triangulasi, pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data tersebut.
d. Peer debriefing (membicarakannya dengan orang lain) yaitu mengekspos hasil sementara atau hasil akhir yang diperoleh dalam bentuk diskusi analitik dengan rekan-rekan sejawat.
e. Mengadakan member check yaitu dengan menguji kemungkinan dugaan-dugaan yang berbeda dan mengembangkan pengujian-pengujian untuk mengecek analisis, dengan mengaplikasikannya pada data, serta denganmengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang data.

2. Transferabilitas yaitu apakah hasil penelitian ini dapat diterapkan pada situasi yang lain.
3. Dependability yaitu apakah hasil penelitian mengacu pada kekonsistenan peneliti dalam mengumpulkan data, membentuk, dan menggunakan konsep-konsep ketika membuat interpretasi untuk menarik kesimpulan.
4. Konfirmabilitas yaitu apakah hasil penelitian dapat dibuktikan kebenarannya dimana hasil penelitian sesuai dengan data yang dikumpulkan dan dicantumkan dalam laporan lapangan. Hal ini dilakukan dengan membicarakan hasil penelitian dengan orang yang tidak ikut dan tidak berkepentingan dalam penelitian dengan tujuan agar hasil dapat lebih objektif.

G. Reliabilitas
Reliabilitas penelitian kualitatif dipengaruhi oleh definisi konsep yaitu suatu konsep dan definisi yang dirumuskan berbeda-beda menurut pengetahuan peneliti, metode pengumpulan dan analisis data, situasi dan kondisi sosial, status dan kedudukan peneliti dihadapan responden, serta hubungan peneliti dengan responden.(IAHS)

Daftar Pustaka
Bungin, B. 2007. Penelitian Kualitatif. Prenada Media Group: Jakarta.
Bungin, B. 2003. Analisis Data Penelitian Kualitatif. PT Rajagrafindo Persada: Jakarta.
Creswell, J. W. 1998. Qualitatif Inquiry and Research Design. Sage Publications, Inc: California.


http://penalaran-unm.org/

_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+__+_+_+_+_+_+_+_+



1
HUBUNGAN ANTARA ORANG KRISTEN DAN
ISLAM DI INDONESIA
(Studi Kasus: Universitas Muhammadiyah Malang)
OLEH:
KATE LOUISE STEVENS
NIM: 05210548
PROGRAM AUSTRALIAN CONSORTIUM FOR IN-COUNTRY
INDONESIAN STUDIES (ACICIS)
ANGKATAN KE XXII SEMESTER GENAP 2005/2006
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
MEI 2006
2
JUDUL PENELITIAN : HUBUNGAN ANTARA ORANG
KRISTEN DAN ISLAM DI INDONESIA
(Studi Kasus: Universitas Muhammadiyah Malang)
NAMA PENELITI : KATE LOUISE STEVENS (NIM: 05210548)
Malang, 27 Mei 2006
Mengetahui,
Dekan FISIP Dosen Pembimbing,
Drs. Budi Suprapto, MSi Drs. Sulismadi, MSi
Resident Director ACICIS Ketua Program ACICIS
FISIP-UMM
Phil King, PhD H. Moh. Mas’ud Said, PhD
3
Peneliti ingin mempersembahkan karya ini kepada:
Ibu dan kakak saya yang selalu memberikan sokongan, motivasi dan
kasih setiap saat. Terima kasih banyak atas semuanya khususnya
dukungan selama tahun ini waktu saya jauh dari kalian.
Keluarga saya di Indonesia: semua teman-teman di Yogyakarta dan
Malang dan mahasiswa ACICIS angkatan ke-22, khususnya Saarah
dan Marianne – kalian semua saudara saya.
4
KATA PENGANTAR
Tujuan penulisan laporan ini adalah untuk melihat bagaimana
hubungan antara orang Kristen dan Islam di Indonesia dan menguji
stereotip bahwa dua kaum tersebut tidak bisa hidup berdampingan tanpa
konflik. Hubungan antara umat Kristen dan Islam di Universitas
Muhammadiyah Malang diperiksa karena kampus Islam ini dengan
minoritas mahasiswa Kristen merupakan tempat yang cocok dan menarik
untuk diteliti.
Tujuan tersebut tidak mungkin tercapai tanpa bantuan banyak
orang. Peneliti ingin mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat:
1. Bapak Rektor Universitas Muhammadiyah Malang dan Bapak Dekan
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yang telah memperbolehkan
mahasiswa Australia belajar di UMM.
2. Program Australian Consortium for In-Country Indonesian Studies
(ACICIS), khususnya: Resident Director Phil King, PhD dan Ketua
ACICIS di UMM, H. Moh. Mas’ud Said, PhD. Terima kasih banyak
atas segala kesabaran, kebaikan, nasehat dan bantuannya.
3. Drs. Sulismadi, M.Si. selaku dosen pembimbing, terima kasih atas
bantuan dan bimbingan dalam proses penelitian dan penyusunan
laporan ini.
4. Semua Bapak dan Ibu dosen dan karyawan di UMM. Terima kasih
atas semua bantuan.
5. University of New South Wales, khususnya Prof. David Reeve dan
Dr. Rochayah Machali. Terima kasih atas bantuan, dukungan dan
nasehat sejak peneliti mulai belajar di UNSW dan selama tahun ini
sehingga peneliti dapat menyelesaikan studi di Indonesia.
6. Semua mahasiswa UMM yang diwawancarai untuk penelitian ini.
Terima kasih atas segala kebaikan, kerendahan hati, keramahan dan
bantuan. Tanpa kalian penelitian ini tidak mungkin diselesaikan.
7. Semua pihak lain yang membantu dengan penelitian ini baik yang
diwawancarai maupun yang memberi nasehat. Terima kasih.
Semoga penelitian ini dapat memperdalam pengetahuan pembaca
tentang hubungan antara agama Kristen dan Islam di Indonesia. Semoga
juga dapat bermanfaat peneliti lain yang ingin meneliti dengan tema yang
sama.
Peneliti,
Kate Stevens
5
ABSTRAK
Dalam dunia sekarang hubungan antara orang Kristen dan Islam sering sekali
disebut sebagai faktor yang menimbulkan konflik. Orang Islam dan orang Kristen
distereotipkan sebagai dua pihak yang tidak bisa hidup berdampingan tanpa konflik.
Dalam negara-negara Barat, umat Islam selalu digambarkan sebagai orang yang tidak
mungkin baik kepada tetangga Kristen. Indonesia merupakan negara dengan
penduduk mayoritas Islam dan minoritas Kristen. Oleh karena itu, konflik atas nama
agama kadang-kadang terjadi dan stereotip tersebut sering dipakai baik oleh pers
maupun oleh masyarakat.
Penelitian ini mau memeriksa dan mendeskripsikan hubungan antara umat
Kristen dan Islam di Indonesia. Stereotip tersebut akan diuji untuk melihat kalau itu
memang benar. Penelitian ini terbatas karena waktu jadi masalah ini akan dilihat
secara mikro. Universitas Muhammadiyah Malang mempunyai mayoritas mahasiswa
Islam dan minoritas mahasiswa Kristen. Jadi tempat ini menarik dan unik untuk
melihat bagaimana hubungan antara orang Kristen dan Islam di Indonesia.
Tujuh belas mahasiswa Kristen UMM diwawancarai oleh peneliti. Peneliti
memakai cara purposif untuk mendapat mahasiswa Kristen. Wawancara semi
terstruktur dan juga angket dipakai untuk mendapat informasi dari responden. Selain
mahasiswa Kristen ini, tujuh belas mahasiswa Islam UMM juga diwawancarai oleh
peneliti. Wawancara semi terstruktur dan angket dipakai lagi. Mahasiswa tersebut
didapat cara purposif pada awalnya dan kemudian ‘snow ball’ dipakai. Setelah
informasi didapat dari responden, data direduksi, diorganisir dan dianalis dan jawaban
responden dilihat dari pandangan tujuan penelitian, yaitu bagaimana hubungan antara
umat Kristen dan Islam di kampus UMM.
Dari pihak mahasiswa Kristen, hubungan antara mahasiswa Islam dan Kristen
di kampus baik. Akan tetapi, mahasiswa Kristen menghadapi beberapa masalah di
kampus. Misalnya dengan pelajaran wajib Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK),
pemakaian jilbab dan perasaan didorong pindah agama. Meskipun ini, mahasiswa
Kristen sendiri mengucapkan masalah ini jarang terjadi dan hubungan mereka dengan
mahasiswa Islam tetap baik. Semua responden Kristen mempunyai banyak teman di
kampus UMM dan hampir semua teman ini beragama Islam.
Responden Islam juga mengatakan hubungan dengan mahasiswa Kristen baikbaik
saja. Mahasiswa Islam yang diwawancarai jarang bertemu dengan mahasiswa
Kristen di kampus tetapi menurut pendapat mereka tidak masalah kalau orang Kristen
mau belajar di UMM. Mereka juga mengatakan kalau ketemu sama orang Kristen
masih akan bergaul sama orang itu, mereka tidak mementingkan agama. Sebagian
besar mahasiswa Islam merasa mahasiswa Kristen seharusnya tidak diwajibkan
masuk mata kuliah AIK kalau mereka merasa terganggu.
Jadi hubungan antara mahasiswa Kristen dan Islam di kampus UMM baik.
Walaupun mahasiswa Kristen menghadapi beberapa masalah, pada umumnya
hubungannya dengan orang Islam baik sekali. Mereka semuanya saling bergaul dan
saling menghormati agama lain. Dari studi kasus di Universitas Muhammadiyah
Malang ini, dapat dilihat bahwa stereotip bahwa orang Islam dan Kristen tidak bisa
hidup berdampingan tanpa masalah itu tidak benar.
Penelitian ini diharapkan dipakai untuk peneliti lain yang ingin memeriksa
hubungan antara umat Kristen dan Islam baik di Malang, maupun di Indonesia atau di
dunia. Pembandingan antara kampus UMM dan orang desa di Jawa Timur atau antara
kampus UMM dan kampus Kristen dengan minoritas mahasiswa Islam akan menarik
untuk diteliti. Penelitian lain bisa melihat lebih dalam alasan-alasan konflik tidak
terjadi di kampus UMM tetapi terjadi di tempat lain di Indonesia.
6
ABSTRACT
In today’s world Christian-Muslim relations are considered one of the major
causes of conflict. This relationship is stereotyped as full of resentment and hatred.
Muslims are considered by many Westerners as rarely showing kindness to Christians
or Christian minorities in majority Muslim nations. Indonesia is one such nation with
a majority Muslim population and a small minority of Christian citizens. Conflict in
the name of religion has taken place over the past decades in certain areas in
Indonesia. Stereotypes of Christians and Muslims are rife in Indonesia and often fuel
already tense relationships.
This research examines this relationship between Christians and Muslims in
Indonesia. Stereotypes concerning Christian and Muslim relationships are also
examined. This research has time constraints and so was conducted on a micro level.
Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) is an appropriate location for such
research as it has a majority of Muslim students with a small Christian minority.
Seventeen Christian students from UMM were interviewed for this report. Christian
students on campus were deliberately sought out (the ‘purposive’ technique). A semistructured
interview was used with all respondents, as well as a short survey to gain
personal data. Seventeen Muslim students were also interviewed. Similar techniques
were used, a semi-structured interview and a short survey. Muslim students were
selected deliberately at first but after a small number of students were interviewed, the
‘snow ball’ effect was used to gain more respondents. Information from the
interviews was sorted, organised and analysed. The respondents’ answers were
examined and correlated with reference to the purposes and goals of the research.
Christian students stated that the relationship between Muslim and Christian
students on campus was good. However, these students experience a number of
problems on campus including with the compulsory Islamic studies class, ‘Al-Islam
dan Kemuhammadiyahan’ (AIK), with the wearing of the head scarf, and with
feelings of being overly encouraged to convert to Islam. However, Christian students
stated these problems were only minor and occurred infrequently. They also stated
their relationship with Muslim students remained good despite these problems. All
Christian students interviewed had many Muslim friends on campus.
Muslim students also stated that their relationship with Christian students was
good. The students interviewed rarely met Christian students on campus however they
did not oppose the idea of Christian students studying at UMM. These same students
said that if they met a Christian student they happily to socialise with them. A number
of Muslim respondents also said they do not agree with Christian students having to
attend compulsory Islam studies classes.
Overall although Christian students do face some problems, in general the
relationship between Christian and Muslim students on campus is good. Both groups
of students are happy to socialise with each other and respect each others’ religion.
Furthermore, it is clear that the stereotype that Muslim and Christians cannot live or
study together without conflict is, in this context, incorrect.
It is hoped that this research will be useful for other researchers examining the
same topic either in Malang, Indonesia or another part of the world. Interesting ideas
for future research could include comparative studies between UMM and village
people in a village in East Java or between UMM and a Christian campus which has a
small minority of Muslim students. Another possibility for research could be focusing
more specifically at the reasons why there is little conflict between Christians and
Muslims at UMM while there is conflict between these groups in other areas of
Indonesia.
7
DAFTAR ISI
Halaman
Kata Pengantar…………………………………………………………………........... i
Abstrak Bahasa Indonesia……………………………………………………………. ii
Abstrak Bahasa Inggris……………………………………………………………… iii
Daftar Isi……………………………………………………………………………... iv
Daftar Tabel…………………………………………………………………………. vi
BAB I. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang…………………………………………………………… 1
2. Rumusan Masalah………………………………………………………... 4
3. Tujuan Penelitian………………………………………………………… 4
4. Metode Penelitian………………………………………………………… 5
4.1. Sampel Penelitian………………………………………………... 5
4.1.1. Mahasiswa Kristen…………………………… 5
4.1.2. Mahasiswa Islam……………………………... 6
4.2. Jenis data dan teknik pengumpulan data………………………… 7
4.3. Teknik analisa data………………………………………………. 8
BAB II. KAJIAN PUSTAKA
1. Literatur Tingkat Dunia…………………………………………………... 9
2. Literatur Tingkat Indonesia……………………………………………... 12
BAB III. PENYAJIAN DAN ANALISA DATA (Responden Mahasiswa Kristen)
1. Penyajian Data………………………………………………………………. 18
1.1. Monografi Lapangan……………………………………………….. 18
1.2. Karakteristik Responden Kristen…………………………………... 19
1.2.1. Jenis Kelamin Responden………………….. 19
1.2.2. Usia Responden……………………………. 19
1.2.3. Tempat Asal Responden…………………… 20
1.2.4. Aliran Responden………………………….. 21
1.2.5. Semester responden………………………... 21
2. Hasil Penelitian dan Analisa Data…………………………………………... 22
2.1. Alasan responden memilih UMM………………………………….. 23
2.2. Bagaimana perasaan responden tentang UMM?.…………………... 24
2.3. Bagaimana hubungan responden dengan orang Islam?……………. 25
2.4. Dalam cara apa iman responden dipengaruhi lingkungan kampus
UMM?………………………………………………………………. 27
2.5. Masalah dihadapi oleh mahasiswa Kristen di kampus UMM……… 28
2.6. Kesimpulan…………………………………………………………. 33
BAB IV. PENYAJIAN DAN ANALISA DATA (Responden Mahasiswa Islam)
1. Penyajian Data………………………………………………………………. 35
1.1. Monografi Lapangan……………………………………………….. 35
1.2. Karakteristik Responden Islam…………………………………….. 35
1.2.1. Jenis Kelamin Responden………………….. 35
1.2.2. Usia Responden……………………………. 35
1.2.3. Tempat Asal Responden…………………… 36
1.2.4. Semester Responden……………………….. 37
2. Hasil Penelitian dan Analisa Data…………………………………………... 38
8
2.1. Apakah mahasiswa Islam di kampus UMM taat?………………….. 38
2.2. Bagaimana hubungan responden dengan mahasiswa Kristen di
kampus?……………………………………………………………... 40
2.3. Komentar lain………………………………………………………. 43
2.4. Kesimpulan…………………………………………………………. 45
BAB V. PENUTUP
1. Kesimpulan………………………………………………………………….. 47
2. Rekomendasi………………………………………………………………... 49
3. Saran………………………………………………………………………… 50
DAFTAR PUSTAKA
1. Dokumentasi………….……………………………………………………... 52
2. Daftar wawancara…………………………………………………………… 54
LAMPIRAN-LAMPIRAN
1. Daftar pertanyaan untuk responden Kristen………………………………… 56
2. Angket responden Kristen…………………………………………………... 58
3. Daftar pertanyaan untuk responden Islam…………………………………... 59
4. Angket Responden Islam…………………………………………………… 60
5. Surat Permohonan Ijin Penelitian…………………………………………… 61
9
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1. Jenis Kelamin Responden Kristen………………………………………… 19
Tabel 2. Usia Responden Kristen…………………………………………………… 19
Tabel 3. Tempat Asal Responden Kristen…………………………………………... 20
Tabel 4. Agama Responden Kristen………………………………………………… 21
Tabel 5. Semester Responden Kristen………………………………………………. 21
Tabel 6. Jenis Kelamin Responden Islam…………………………………………... 35
Tabel 7. Usia Responden Islam……………………………………………………... 36
Tabel 8. Tempat Asal Responden Islam…………………………………………….. 36
Tabel 9. Semester Responden Islam………………………………………………... 37
10
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Islam versus Kristen. Kristen versus Islam. Itulah yang menjadi topik hangat
dalam dunia sekarang. Perang Irak, masalah terorisme, Amerika Serikat melawan
dunia Islam dan sebaliknya. Ini yang sering didengar dari televisi, radio dan dibaca
dalam berbagai koran. Masyarakat Islam dan Kristen sekarang saling menyerang di
banyak daerah seluruh dunia.
Sudah lama sekali masyarakat Islam dan Kristen hidup berdampingan di
Indonesia. Indonesia berdasarkan prinsip Pancasila yang memperbolehkan setiap
orang beragama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha atau Konghucu. Indonesia
merupakan masyarakat yang sangat majemuk. Jumlah penduduk Indonesia lebih dari
220 juta jiwa. Indonesia terdiri dari ribuan pulau. Penduduk Indonesia terdiri dari
ratusan suku, adat dan beraneka ragam bahasa daerah. Sejarah Indonesia juga sangat
rumit apalagi pengaruh baik dari pedagang India, Tiongkok dan Arab maupun dari
penjajah Belanda, Portugis, Inggris dan Jepang. Somboyan Indonesia “Bhinneka
Tunggal Ika” harus berlaku kalau Indonesia akan tetap satu negara tanpa perang sipil
di setiap daerah.
Sejak lengsernya Soeharto pada tahun 1998, beberapa konflik muncul di

Indonesia. Konflik terjadi di Poso (dan daerah sekitarnya di Sulawesi Tengah),
Ambon, Maluku, Jawa Timur dan beberapa daerah lain di Indonesia. Pembakaran
rumah ibadah, penyerangan, pemboman, penembakan, pembunuhan sering terjadi di
daerah tersebut.1 Tulisan tentang konflik-konflik ini sangat banyak sekali dan
1 Daftar kejadian kekerasan di Poso dan Maluku terlihat di International Crisis Group, Weakening
Indonesia’a Mujahidin Networks: Lessons from Maluku and Poso, dalam Asia Report, no. 103, 13
Oktober 2005, hal. 27-29 dan International Crisis Group Indonesia Backgrounder: Jihad in Central
Sulawesi, dalam Asia Report, no. 74, 3 Februari 2004, hal. 28-33.
11
biasanya mencoba menjelaskan mengapa konflik tersebut terjadi. Dalam pers dan
media, atau dari masyarakat konflik ini biasanya dianggap perang agama. Orang
Kristen dianggap menyerang orang Islam dan sebaliknya. Konflik ini memang berbau
agama tetapi kebanyakan akademikus merasa konflik ini tidak hanya menjadi karena
faktor agama. Tulisan tentang konflik tersebut biasanya mengusulkan faktor lain
seperti faktor politik, ekonomi, ras, etnis dan pemicu dari luar tempatnya.2
Stereotip baik tentang orang Indonesia maupun masyarakat dunia adalah
bahwa orang Islam dan Kristen tidak mungkin hidup di satu daerah bersama tanpa
konflik. Islam sekarang dianggap musuh Kristen dan sebaliknya. Karena konflik yang
sudah terjadi dan karena Indonesia memang negara yang masyarakatnya majemuk,
stereotip ini lebih terlihat di Indonesia.
Selain stereotip kekerasan ini dalam media Barat orang Kristen sering
dianggap didiskriminasikan di negara yang mayoritas masyarakatnya Islam.
Asumsinya adalah bahwa orang Islam tidak mungkin baik kepada orang Kristen dan
pasti menanggap orang Kristen sebagai kafir yang harus dikuasai. Pers Barat jarang
menggambarkan hubungan antara orang Kristen dan Islam sebagai hubungan yang
baik dan saling menghormati.3 Di Australia tidak banyak yang dimengerti tentang
orang Islam. Oleh karena itu lebih mudah lagi untuk masyarakat Australia ikut
stereotip bahwa orang Islam semuanya mau menyerang orang non Islam dan tidak
mau bergaul sama orang non Islam. Sering sekali hanya orang fanatik yang dilihat
2 Lihat Bab II Kajian Pustaka untuk penjelasan lebih dalam.
3 Sebagai contohnya lihat Miranda Devine, Wolves in sheep’s clothing on an extremist Islamic
mission, dalam Sydney Morning Herald, 23 April 2006, dilihat di www.smh.com.au pada tanggal 23
April 2006 atau Paul Sheehan God v God in the new global war, dalam Sydney Morning Herald, 13
Maret 2006, dilihat di www.smh.com.au pada tanggal 13 Maret 2006.
12
oleh masyarakat Australia dan orang ini yang menjadi bayangan kalau ‘Islam’
disebutkan.4
Satu konsep mengenai bagaimana bisa memperbaiki hubungan antara orang
Kristen dan Islam adalah konsep dialog antariman. Salah satu organisasi yang
berusaha untuk membantu dengan kesalahpahaman antara agama dan memberi
kesempatan untuk dialog antaragama adalah Forum Komunikasi antar Umat
Beragama (FKUB). FKUB didirikan di Malang pada Agustus 1998. Wakil dari
FKUB, Muchammad Fahazza, menceritakan pada waktu Mei 1998 banyak masalah di
Indonesia antara orang dengan suku, ras, etnis atau agama yang berbeda.5 Di Jawa
Timur waktu itu ada masalah dengan santet yang memicu konflik antaragama.
Fahazza waktu itu aktif dengan Nahdlatul Ulama dan dia dan temannya dari NU
memutuskan untuk berjuang sehingga konflik itu tidak sampai terjadi di Malang.
Setelah mendapat dukungan dari tokoh agama dari agama Islam, Kristen, Katolik,
Hindu, Budha dan Konghucu, FKUB didirikan. Tujuan FKUB adalah untuk “merajut
persaudaraan sejati, berpartisipasi untuk membangun perdamaian”, membangun
hubungan yang harmonis dan menjaga perbedaan masing-masing.6 Menurut Fahazza,
kunci untuk tujuan ini adalah komunikasi jadi kegiatan FKUB terfokus kepada
komunikasi.7
Fahazza menjelaskan masalah yang paling sering didengarkan oleh FKUB
adalah masalah pembangunan rumah ibadah. Dari pengalaman Fahazza, sering sekali
ada orang Protestan yang datang ke FKUB dan minta bantuan dengan membangun
rumah ibadah. Menurut Fahazza pembangunan rumah ibadah memang sekarang
masalah paling sering terjadi di Malang antara umat Kristen dan Islam karena
4 Salah satu buku yang menjelaskan bagaimana pandangan orang Australia tentang orang Islam adalah
Tony Payne Islam in Our Backyard: A Novel Argument, Matthias Media, Kingsford, Australia, 2002.
5 Hasil wawancara dengan Pak Muchammad Fahazza wakil FKUB pada tanggal 4 Mei 2006.
6 Ibid.
7 Ibid.
13
peraturan untuk membangun rumah ibadah sangat taat sekali.8 FKUB memberi
kesempatan untuk kedua pihak berdialog bersama dan berjuang sehingga berhasil dan
keduanya puas.9 Dialog antaragama seperti yang didukung oleh FKUB penting
dengan hubungan antara umat Kristen dan Islam.
Kalau kita mau memperbaiki hubungan antara orang Kristen dan Islam kita
harus memperdalam pengetahuan kita. Kita harus menghindari stereotip-stereotip dan
harus lebih banyak belajar tentang agama lain sehingga kita mengerti bagaimana
kehidupan mereka dan bagaimana kita bisa saling menghormati orang lain supaya kita
bisa hidup berdampingan bersama dan tenteram.
2. Rumusan Masalah
Penelitian ini mau melihat bagaimana hubungan antara orang Islam dan
Kristen di Indonesia. Apakah stereotip tersebut diatas benar atau bisakah orang Islam
dan Kristen tinggal bersama tanpa konflik dan diskriminasi?
3. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini untuk menguji stereotip bahwa orang Kristen dan Islam
tidak bisa tinggal bersama dengan perdamaian. Bisakah orang Indonesia yang
beragama lain tinggal bersama tanpa konflik? Kalau satu tempat tidak ada masalah,
apakah itu hanya karena penduduknya tidak pernah bergaul dengan orang yang
beragama lain? Apakah diskriminasi sering terjadi di tempat yang mempunyai
mayortias Islam?
8 Menurut Fahazza, kalau misalnya rumah ibadah mau dibangun di satu daerah, semua orang
disekitarnya (dalam radius 200m) harus menandatangani bahwa mereka setuju dengan pembangunan
ini. Apalagi satu rumah ibadah tidak boleh dibangun 300m dari rumah ibadah lain.
9 Hasil wawancara dengan Pak Fahazza pada tanggal 4 Mei 2006.
14
Hasil penelitian ini memang terbatas karena waktu. Oleh karena itu, peneliti
ini akan berfokus secara mikro kepada kampus Universitas Muhammadiyah Malang.
Kampus ini mempunyai masyarakat (mahasiswa) mayoritas Islam dan minoritas
(kecil) Kristen. Jadi stereotip bahwa orang Kristen dan Islam tidak bisa tinggal (atau
dalam konteks ini belajar) bersama akan diuji secara mikro di kampus UMM.
4. Metode Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan terhadap mahasiswa Universitas Muhammadiyah
Malang, propinsi Jawa Timur. Kampus ini merupakan salah satu tempat yang
mempunyai mayoritas mahasiswanya Islam dan minoritas mahasiswanya Kristen.
Kampus ini cocok untuk melihat bagaimana hubungan antara orang Kristen dan Islam
karena sebagian besar penduduk Indonesia beragama Islam dan minoritasnya Kristen.
Maksudnya, kampus UMM bisa dilihat sebagai studi kasus untuk tujuan penelitian
tersebut.
4.1. Sampel Penelitian
Sampel Penelitian ini diambil dari dua populasi. Populasi pertama adalah
mahasiswa Kristen di kampus UMM. Populasi kedua adalah mahasiswa Islam di
kampus UMM. Jumlah mahasiswa Kristen dan mahasiswa Islam sama sebagai
sampelnya.
4.1.1. Mahasiswa Kristen
Bagian Administrasi Akademik UMM memberi kepada peneliti daftar
mahasiswa UMM yang non Islam. Dari daftar ini peneliti menghubungi mahasiswa
Protestan dan Katolik. Mahasiswa Protestan dan Katolik diwawancarai di kampus
15
UMM (atau terkadang di tempat lain). Sampel penelitian ditentukan dengan cara
purposif yaitu sengaja mencari mahasiswa Kristen. Tetapi setelah daftar mahasiswa
Kristen ditemukan, cara memilih responden random (yaitu tidak sengaja) karena
semua mahasiswa Protestan dihubungi dan yang dapat diwawancarai. Mahasiswa
Protestan dihubungi dulu sehingga sampelnya lebih sederhana tetapi setelah beberapa
mahasiswa Protestan diwawancarai menjadi jelas, yang penting bahwa respondennya
Kristen, tidak semata-mata Protestan atau Katolik, dikarenakan Kristen dan Islam itu
berbeda. Perbedaan di dalam agama Kristen tidak penting dalam konteks ini karena
perbedaan antara agama Islam dan Kristen yang difokuskan. Kalau seorang
mengasumsikan diri sendiri dengan agama Kristen – dan membedakan ini dengan
agama Islam – itulah yang paling penting dalam konteks penelitian. Jadi keduanya
mahasiswa Protestan dan Katolik diwawancarai sebagai responden mahasiswa Kristen
di UMM.
Populasi mahasiswa Kristen di kampus UMM berjumlah tiga puluh lima (35)
orang dan tujuh belas (17) mahasiswa dari populasi ini diwawancarai oleh peneliti.
Dua puluh enam (26) orang dihubungi dan diberi kesempatan untuk diwawancarai.
Dari orang ini, tujuh belas membalas dan bisa diwawancarai (yang lain sibuk, tidak
membalas, atau tidak mau diwawancarai). Sebelas orang lain tidak diwawancarai
karena dengan tujuh belas responden ini sudah mulai mendapat jawaban yang mirip
dari semua dan batasan waktu yang ditetapkan.
4.1.2. Mahasiswa Islam
Sampel mahasiswa Islam ditentukan dengan cara purposif dan snow ball. Pada
awalnya, peneliti dapat informasi tentang mahasiswa sosiologi yang ikut salah satu
organisasi mahasiswa Islam di kampus, yaitu Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).
16
Informasi ini didapatkan dari dosen pembimbing karena ingin responden yang aktif
dengan agamanya. Mahasiswa anggota HMI ini diwawancarai dan peneliti minta
kalau mereka mempunyai teman yang mau diwawancarai juga. Jadi dari lima anggota
HMI peneliti memakai cara “snow ball” untuk mencapai jumlah tujuh belas
mahasiswa Islam. Dari sampel ini, ada mahasiswa yang sangat aktif di kegiatan
mahasiswa Islam di kampus, ada yang menanggap diri sendiri “Islam KTP” dan ada
yang setengah aktif. Jadi sampel ini mewakili populasi mahasiswa Islam di kampus
UMM. Kalau sudah sampai tujuh belas orang yang diwawancarai peneliti berhenti
karena ingin jumlah sama dengan responden Kristen. Akan tetapi, mahasiswa Islam
ini mulai menjawab jawaban yang mirip dengan jawaban mahasiswa yang lebih
terdahulu.
4.2. Jenis data dan teknik pengumpulan data
Semua responden diwawancarai dengan wawancara diagnostik yang bersifat
lisan. Karena responden lebih terbuka kalau cara wawancara santai, wawancara semi
terstruktur dipakai oleh peneliti. Pertanyaan sudah dibuat sebelum wawancaranya
tetapi waktu wawancara pertanyaan spontan sering ditanyakan. Sering kali
wawancara menjadi pembicaraan lebih bebas tetapi tetap mendiskusikan topik agama
sebagai tujuan utama.
Teknik pengumpulan data digunakan peneliti adalah wawancara, karena ini
cara yang paling bermanfaat untuk mendapatkan pendapat orang lain. Wawancara
pribadi dengan responden menyebabkan suasana yang nyaman supaya responden
mengucapkan pendapat sendiri dan menjawab dengan cara paling terbuka. Karena
memakai wawancara juga bisa menyesuaikan diri dengan responden. Kalau beberapa
17
pertanyaan tidak relevan untuk responden, tidak harus ditanyakan. Apalagi kalau
responden tidak nyaman atau tidak mengerti pertanyaannya, bisa didiskusikan.
Semua responden juga ditanyakan informasi pribadi yaitu nama lengkap,
umur, tempat asal, pekerjaan orang tua, sudah berapa semester belajar di UMM, dan
tentang keluarganya. Peneliti memakai angket untuk mendapatkan informasi ini.
Selain mahasiswa UMM, dua orang lain diwawancarai oleh peneliti sehingga
hubungan antara orang Kristen dan Islam di Malang dapat lebih dalam dipahami. Satu
wawancara lain dilakukan terhadap orang Kristen diluar kampus UMM. Orang ini
memberikan nasehat dan pendapat dia tentang penelitian ini. Wakil Forum
Komunikasi Antar Umat Beragama (FKUB) juga diwawancarai untuk mendapat
pendapat dia tentang hubungan antara umat Kristen dan umat Islam di Malang.
Wawancara semi terstruktur juga dipakai untuk wawancara terhadap orang ini.
Selain wawancara, banyak dokumen telah dibaca untuk mendapatkan
pengetahuan tentang topik ini. Banyak sekali yang sudah ditulis tentang hubungan
antaragama baik di Indonesia maupun di negara lain. Oleh karena itu, banyak literatur
dibaca oleh peneliti sehingga lebih banyak tahu apa yang sudah dibahas dan supaya
mengerti teori-teori dari ahli dalam literatur mengenai topik ini.
4.3. Teknik analisa data
Data yang sudah ditemukan direduksi, diorganisir supaya bisa membuat
penyajian data yang sesuai dengan kebutuhan permasalahan hasil penelitian. Katakata
dan pernyataan responden dianalis. Datanya dianalis untuk melihat jawaban
responden dan menyesuaikan jawaban dengan tujuan penelitian ini, untuk melihat
pengalaman mereka di kampus UMM dan hubungan antara orang Islam dan Kristen
di kampus UMM.
18
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
Hubungan antaragama adalah satu topik hangat sekarang di dunia. Sejak 11
September 2001 Islam dan Kristen dianggap berperang. Paul Sheehan sebuah
wartawan Australia berpendapat perkembangan Islam menciptakan suasana dunia
yang terpecah. Blok Barat dianggap Kristen dan negara-negara Islam dianggap
musuhnya.10 War on terrorism (perang melawan terorisme); penyerangan Amerika
Serikat di Afghanistan dan Irak; pertambahan ketegangan antara Israel dan Palestina
bisa dilihat dari segi agama. Akhir-akhir ini juga semakin banyak kerusuhan di
seluruh dunia karena agama. Misalnya di Perancis karena undang-undang tentang
pemakaian simbol agama; kerusuhan di beberapa negara termasuk Indonesia karena
“penerbitan kartun yang menghina Nabi Muhammad SAW” di Denmark.11 Masalahmasalah
ini, kesalahpahaman dan saling curiga antara agama menciptakan suasana
ketegangan antara agama yang satu dengan yang lainnya.
Oleh karena itu, topik ini sering dibahas oleh kalangan akademik, tokoh
agama, pers maupun oleh masyarakat biasa. Kesusasteraan tentang hubungan antara
agama Islam dan Kristen sangat luas sekali. Ada literatur yang berfokus kepada
tingkat dunia dan ada yang berfokus lebih khusus kepada Indonesia.
1. Literatur Tingkat Dunia
Edward Mortimer menegaskan setelah Perang Dingin, negara-negara Barat
mencari ciri-ciri khas Barat. Menurut pendapat Mortimer, blok Barat mendefinisikan
diri sendiri dari lawannya. Jadi waktu Perang Dingin blok Barat menanggap diri
sendiri sebagai lawan komunisme. Menurut dia, blok Barat selalu harus ada lawanan
10 Sheehan God v God, op. cit.
11 Yang diperlukan adalah Dialog, dalam Tajuk, Opini, Republika, 13 Maret 2006, hal. 4.
19
sehingga tahu bagaimana ciri-ciri itu sendiri. Oleh karena itu setelah Perang Dingin
bagian Barat mencari lawan baru sehingga bisa menanggap diri sendiri sebagai
baliknya.12
Sejarah hubungan antara Kristen dan Islam penuh dengan konflik – Perang
Salib; pada zaman Muhammad dan setelahnya penyerbuan orang Islam di negara
Kristen; pada zaman penjajahan negara Islam dijajah oleh orang Eropa. Imigrasi
orang Islam ke Eropa dan negara lain, termasuk Australia, juga membuat orang Eropa
(yang biasanya diasosiasikan sebagai orang Kristen) khawatir. Orang Eropa
kebanyakan tidak terlalu mengerti agama atau kebudayaan Islam dan karena banyak
migran pindah ke Eropa suasana ketegangan tambah lebih parah lagi. Dalam konteks
ini, Islam dianggap lawan kebudayaan, agama dan masyarakat Barat. Islam menjadi
lawan blok Barat dan karena blok Barat diasosiasikan dengan Kristen, Islam menjadi
lawan Kristen.13
Pauline Rae mendukung teori Mortimer dan menjelaskan lebih dalam lagi
bagaimana hubungan Islam dan Kristen (dalam konteks sejarah) dari pihak Islam.
Menurut pendapat Rae, banyak orang Islam semakin membenci blok Barat karena
negara Barat semakin kaya dan maju sedangkan negara Islam semakin miskin. Rae
merasa orang Islam semakin iri dan marah bahwa negara Barat semakin kaya,
khususnya karena seringkali negara Islam dieksploitasi oleh negara Barat.14
Pemandangan lain tentang hubungan antara Kristen dan Islam pada tingkat
dunia adalah untuk melihat faktor-faktor yang menyebabkan konflik antara umat
Kristen dan Islam. Jacques Waardenburg menjelaskan delapan belas faktor yang dia
menanggap menyebabkan masalah antara orang Kristen dan Islam. Faktor yang
12 Edward Mortimer, Christianity and Islam, dalam International Affairs (Royal Institute of
International Affairs 1944-), vol. 67, no. 1, (Jan., 1991), hal. 7-13.
13 Ibid.
14 Pauline Rae, Christian-Muslim Relations, dalam Compass: A Review of Topical Theology, vol. 36,
no. 1, 2002, hal. 403-416.
20
disebutkan termasuk faktor internal, faktor sejarah dan konteks, faktor politik, faktor
kebudayaan dan masyarakat, dan faktor dari luar. Waardenburg juga menjelaskan
bagaimana hubungan antara orang Kristen dan Islam sejak zaman dulu sampai
sekarang selalu berubah karena identitas orang Kristen dan Islam tidak statis tetapi
selalu berkembang.15
Isu terakhir yang sering dibahas dalam literatur tingkat dunia tentang
hubungan antara orang Kristen dan Islam adalah dialog antariman. Dialog antara
orang Kristen dan Islam dianggap salah satu cara untuk memperbaiki hubungan antara
Islam dan Kristen. Banyak artikel sudah ditulis tentang dialog dan juga tentang
pluralisme. Orang Kristen dan Islam didorong ikut dialog dan menerima pluralisme
supaya konflik bisa dihindari.16 Dialog dianggap bagus karena bisa memberi
kesempatan untuk umat Kristen dan Islam menjelaskan bagaimana agama mereka
sendiri kepada orang beragama lain. Kalau dialog dipakai, stereotip dan
kesalahpahaman yang sering memicu konflik bisa diganti dengan saling menghormati
dan mengerti orang beragama lain. Kalau ini bisa terjadi, mungkin konflik tidak akan
terjadi sesering sekarang dan perdamaian tercapai.17
Kalau pluralisme, itu didukung oleh Paul Knitter yang mendorong orang
Kristen menerima iman dan agama lain sebagai benar. Menurut dia tidak hanya satu
agama yang benar tetapi setiap agama sah dan benar. Kalau pluralisme menerima dari
15 Jacques Waardenburg, Muslims and Christians: Changing Identities, dalam Islam & Christian
Muslim Relations, vol. 11, iss. 2, Juli 2000, hal. 149-163.
16 Otto Gusti, Agama, Ilmu Pengetahuan dan Commonsense, dalam Jaringan Islam Liberal
(www.islamlib.com), 2 Oktober 2003, hal. 1-2, dilihat 23 April 2006; Redmond Fitzmaurice, Jesus and
the Other Names: Christian mission and global responsibility, dalam Islam & Christian Muslim
Relations, vol. 9, iss. 1, Maret 1998, hal. 122-3; Suha Taji-Farouki, Muslim-Christian cooperation in
the twenty-first century: Some global challenges and strategic responses, dalam Islam & Christian
Muslim Relations, vol. 11, iss. 2, Juli 2000, hal 167-194; Hugh Goddard, Enam Dimensi Hubungan
Kristen-Islam, dalam Alef Theria Wasim, Abdurrahman Mas’ud dkk (eds.) Harmoni Kehidupan
Beragama: Problem, Praktik & Pendidikan, Oasis Publisher, Yogyakarta, 2005, hal. 89-98.
17 Gusti, Agama, op. cit., hal. 1-2.
21
semua pihak agama, menurut Knitter keadilan sosial, hak azasi manusia (tentang
agama), persamaan hak wanita dan kebudayaan bisa dilindungi.18
Literatur yang berfokus kepada tingkat dunia membahas hubungan antara
orang Kristen dan Islam dari pemandangan sejarah, ekonomi, penjelasan konflik dan
penghindaran konflik. Hubungan antara agama dijelaskan dalam pihak ini dengan
tujuan mengerti konflik yang sudah terjadi dan mendorong umat Kristen dan Islam
untuk lebih saling mengerti dan menghormati orang lain sehingga konflik bisa
dihindari dan diharapkan tidak terulang lagi.
2. Literatur Tingkat Indonesia
Literatur tentang hubungan orang Islam dan Kristen di Indonesia juga luas
sekali. Kebanyakan literatur ini membahas konflik-konflik yang terjadi di Indonesia.
Konflik ini termasuk konflik di Ambon, Maluku, Sulawesi Tengah (Poso) dan
beberapa tempat lain. Alasan untuk konflik ini hampir selalu dibahas baik dari
pemandangan sejarah maupun dari konteks politik dan ekonomi.
Kebanyakan para ahli di Indonesia mencermati tentang konflik antara orang
Islam dan Kristen di Indonesia menekankan faktor selain agama untuk menjelaskan
konflik tersebut. Misalnya Arifin Assegaf mengatakan konflik di Ambon dan Maluku
“sama sekali bukan konflik agama”19 dan Franz Magnis-Suseno SJ menulis “Perang
Sipil [di Maluku dan Sulawesi Tengah] bukanlah konflik agama.”20 Biasanya konflik
tersebut dianggap terjadi karena faktor pengaruh sejarah, politik, ekonomi,
kebijaksanaan Orde Baru termasuk SARA (Suku Agama Ras Antar golongan) dan
transmigrasi yang dijalankan selama Orde Baru.
18 Paul Knitter disebut dalam Fitzmaurice Jesus and the Other Names, op. cit., hal. 122.
19 Arifin Assegaf, Memahami Sumber Konflik Antariman, dalam Th. Sumartana (ed.) Pluralisme,
Konflik dan Pendidikan Agama di Indonesia, Institut DIAN, Yogyakarta, 2005, hal. 28.
20 Magnis-Suseno SJ, Kerukunan Beragama dalam Keragaman Agama, op. cit., hal. 9-21.
22
Fatimah Husein menjelaskan bagaimana sejarah Indonesia mempengaruhi
hubungan antara orang Islam dan Kristen sekarang.21 Menurut dia, penjajah Belanda
menomorsatukan orang Kristen selama penjajahan Belanda. Orang Kristen diberi
lebih banyak kesempatan dan oleh karena itu berhasil dan sampai sekarang menjadi
lebih kaya. Dari pemandangan Husein, orang Islam menanggap penjajah Belanda
sebagai orang luar yang mau memaksa orang Islam pindah ke agama Kristen. Orang
Islam menanggap orang Belanda dan orang pribumi Indonesia yang Kristen sebagai
orang yang mengeksploitasi masyarakat Indonesia.22
Husein melanjutkan bahasan sampai pada zaman Soeharto. Dia mengatakan
hubungan Soeharto dengan masyarakat Tionghoa (yang biasanya diasosiasikan
sebagai orang Kristen) juga membuat orang Islam di Indonesia semakin marah, iri dan
curiga dengan orang Kristen. Soeharto membuat hubungan akrab dengan usahawan
Tionghoa dan memberi lebih banyak kesempatan kepada orang ini tetapi dalam pers
dan kepada masyarakat pribumi Soeharto mengkambinghitamkan orang Tionghoa
ini.23 Apalagi, Soeharto pada awal Orde Baru sering menindas dan mendiamkan segisegi
Islam. Karena waktu ini Soeharto dekat dengan orang Tionghoa dan mereka yang
makmur, orang Kristen dianggap lebih beruntung dalam Orde Baru.24 Tindakan ini
dari Soeharto menambah suasana saling curiga dan saling tidak menyukai antara
orang Islam dan Kristen di Indonesia.
Menurut Husein, pengaruh dari zaman Belanda dan Orde Baru keduanya
memburukkan hubungan antara orang Kristen dan Islam. Jadi satu faktor yang masih
mempengaruhi hubungan antara orang Kristen dan Islam sekarang adalah sejarah.
21 Fatimah Husein, Muslim-Christian Relations in the New Order Indonesia – The Exclusivist and
Inclusivist Muslims’ Perspectives, Mizan Pustaka, Bandung, Indonesia, 2005.
22 Ibid, hal. 67.
23 Ibid, hal. 95-99.
24 Ibid, hal. 113-119.
23
Literatur lain tentang hubungan antara orang Kristen dan Islam menjelaskan
sebab-sebab yang memicu konflik antaragama. Selain sejarah, faktor lain yang
disebutkan termasuk pembalasan dendam. Misalnya kalau masalah terjadi antara dua
orang, tidak karena agama tetapi karena soal lain, dan ternyata satu orang Kristen dan
satu orang Islam, ini bisa dianggap oleh masyarakat sebagai penyerangan agama dan
pembalasan dendam terjadi terus-menerus.25
Faktor lain yang dianggap penting adalah persaingan ekonomi. Persaingan
tentang tanah, sumber alam dan pasar pedagangan sudah cukup tinggi dan ini
ditambah lagi setelah transmigrasi. Banyak orang dari luar, datang ke satu daerah dan
mengambil tanah dan sumber alam yang sudah dimiliki orang lain. Karena orang yang
bersaing sering dari agama lain, ketegangan ekonomi ini bisa memicu konflik antara
agama.26
Konflik di Maluku dan Poso memang berbau agama. Satu laporan dari
‘International Crisis Group’ melaporkan bahwa orang Islam merasa Poso dan Maluku
ada potensi untuk menjadi tempat syariat, tempat khusus untuk orang Islam. Mereka
juga merasa terancam dari masyarakat Kristen di daerah ini. Tetapi walaupun
ketegangan ini memang nyata pemicu konflik sering dari luar. Orang luar yang
datang, sering dari jaringan Mujahidin, misalnya Jemaah Islamiyah, Laskar Jihad dan
Mujahidin KOMPAS (Komite Aksi Penanggulangan Akibat Krisis) memicu orang
daerah itu untuk saling berperang. Pendatang ini biasanya orang fanatik yang sudah
pernah ke luar negeri untuk belajar bagaimana bisa menyerang kalau konflik atas
nama agama terjadi. Tujuan mereka macam-macam tetapi mereka biasanya mau
25 International Crisis Group, Indonesia Backgrounder: Jihad in Central Sulawesi, dalam Asia Report,
no. 74, 3 Februari 2004.
26 Elizabeth Fuller Collins, Indonesia: A Violent Culture? dalam Asian Survey, vol. 42, no. 4, The
Legacy of Violence in Indonesia, (Jul. – Aug., 2002), hal. 582-604. International Crisis Group,
Indonesia: Managing Decentralisation and Conflict in South Sulawesi (Executive Summary and
Recommendations), dalam Asia Report no. 60, July 2003, dilihat di www.crisisweb.org pada tanggal
23 April 2006.
24
melindungi masyarakat Islam dari ancaman Kristen. Pendatang ini
mengeksploitasikan masyarakat aslinya. Sering masyarakat tersebut ada banyak lakilaki
yang kurang dididik, menganggur dan bosan jadi mudah didorong menyerang
dengan orang lain.27
Faktor dari luar yang juga terkadang disebutkan sebagai pemicu konflik
adalah tentara Indonesia. Ini lebih sering waktu zaman Orde Baru tetapi ada juga yang
masih menyebutkan faktor militer sebagai faktor konflik antaragama sekarang. Pada
zaman Soeharto konflik di Flores dianggap dipicu oleh militer. Militer Indonesia
dianggap mau memicu konflik di Flores sehingga mereka dihargai oleh masyarakat
Indonesia sebagai sesuatu yang penting sekali dan juga untuk menjadi lebih kuat.28
Faktor lain yang disebutkan adalah korupsi dengan pegawai negeri, ketakutan
karena kekerasan dan kejahatan yang sering terjadi dan persekutuan suku.29 Tetapi
faktor tersebut diatas – yaitu faktor sejarah, politik, ekonomi, dan faktor dari luar –
yang lebih sering dianggap faktor konflik antara agama.30
Memang ada banyak literatur yang hanya membahas konflik yang terjadi di
Indonesia antaragama. Tetapi juga banyak literatur yang membahas soal dialog
antariman.
27 International Crisis Group, Weakening Indonesia’s Mujahidin Networks: Lessons from Maluku and
Poso, Asia Report, no. 103, Oktober 2005, dilihat di www.crisisweb.org pada tanggal 23 April 2006.
28 IRIP News Service Why Flores? dalam Inside Indonesia, December 1995, hal. 8-10.
29 Gerry van Klinken What caused the Ambon violence? dalam Inside Indonesia, October-December
1999, hal. 15-16. Smith Alhadar The forgotten war in North Maluku, dalam Inside Indonesia, July-
September 2000, hal. 15-16.
30 Literatur tentang topik ini sangat luas sekali. Selain tulisan yang sudah dibahas, lihat juga: Franz
Magnis-Suseno SJ, Pluralisme Agama, Dialog dan Konflik di Indonesia, dalam Th. Sumartana (ed.)
Pluralisme, Konflik dan Pendidikan Agama op. cit., hal. 63-75. International Crisis Group,
Decentralisation and Conflict in Indonesia: The Mamasa Case (Overview), dalam Asia Briefing no. 37,
May 2005, dilihat di www.crisisweb.org pada tanggal 23 April 2006. International Crisis Group,
Indonesia: Managing Decentralisation and Conflict in South Sulawesi (Executive Summary and
Recommendations), dalam Asia Report no. 60, July 2003, dilihat di www.crisisweb.org pada tanggal
23 April 2006. Th. Sumartana, Towards the building of cooperations between religious groups in a
time of national crisis dalam Arief Budiman, Barbara Hatley dkk (eds.) Reformasi: Crisis and change
in Indonesia, Monash Asia Institute, 1999, hal. 253-263.
25
Dialog antariman dianggap satu cara untuk memperbaiki hubungan antara
agama dan menghindari konflik antara umat Islam dan Kristen. Dialog dianggap baik
karena umat Kristen dan Islam bisa saling menukar pikiran, membahas isu-isu
kontroversiil dan lebih dalam mengerti orang beragama lain.31 Jawa Pos menerbitkan
artikel tentang pertemuan Perdana Menteri Belanda dengan pemimpin Nadhatul
Ulama dan Muhammadiyah.32 Menurut pendapat PM Belanda “dialog menjadi sangat
penting untuk menghapus semua stigmatisasi [buruk tentang Islam]… pemerintah
Belanda menilai pentingnya peran Indonesia dalam melakukan dialog antaragama.”33
Alexander Downer, Menteri Luar Australia juga sudah pernah mengucapkan
betapa penting dialog antariman. Pendapat dia adalah “Dialog antar-agama… akan
mampu memberikan semangat bagi upaya untuk memberantas terorisme dan
kekerasan…dalam dialog seperti itu…kemitraan dan saling memahami yang muncul
dan akhirnya memberikan hasil bagi upaya menciptakan perdamian dan keselarasan
di seluruh dunia.”34
Jadi yang jelas, literatur tentang hubungan antara umat Kristen dan Islam
sangat luas sekali. Literatur pada tingkat global menunjukan hubungan tersebut dari
pemandangan sejarah, ekonomi, penjelasan konflik dan penghindaran konflik.
Sedangkan literatur pada tingkat Indonesia menjelaskan konflik antara orang Kristen
dan Islam di beberapa daerah di Indonesia, dan melihat bagaimana dialog antariman
bisa memperbaiki hubungan antaragama. Literatur ini memberi konteks untuk
31 Novriantoni, Revisi SKB dan Intoleransi Beragama, dalam Jaringan Islam Liberal, 27 Maret 2006,
dilihat di www.islamlib.com pada tanggal 23 April 2006. Sapto Pradityo, UU Kerukunan Umat
Beragama Tidak Diperlukan, dalam Tempo Interaktif, 2 Des 2003, dilihat di www.tempointeraktif.com
pada tanggal 23 April 2006. Th. Sumartana Pluralisme, Konflik dan Dialog: Refleksi Tentang
Hubungan Antaragama di Indonesia, dalam Th. Sumartana (ed.) Pluralisme, Konflik & Pendidikan
Agama di Indonesia, op. cit, hal. 77-85.
32 Sepakat Tingkatkan Dialog, dalam Jawa Pos, Sabtu 8 April 2006, hal 2.
33 Ibid.
34 Downer: Dialog Agama Penting Saat Perdamaian Dunia Terancam, dalam KOMPAS, 6 Desember
2004, dilihat di www.kompas.co.id, pada tanggal 23 April 2006.
26
mengerti hubungan antara orang Kristen dan Islam. Dari konteks tersebut, hubungan
antara orang Islam dan Kristen di Universitas Muhammadiyah Malang bisa
dijabarkan lebih mendalam sebagaimana hasil penelitian selama ini dilaksanakan
peneliti.
27
BAB III
PENYAJIAN DAN ANALISA DATA
Responden Mahasiswa Kristen
1. Penyajian Data
1.1. Monografi Lapangan
Tempat penelitian ini adalah Universitas Muhammadiyah, Malang. Malang
adalah salah satu kota di Jawa Timur dengan populasi mayoritas Islam dan minoritas
Kristen. Menurut Kanwil Departemen Agama Jawa Timur, 687 111 dari jumlah
penduduk 783 853 beragama Islam (88%) dan 82 193 beragama Kristen (termasuk
Protestan dan Katolik) atau 10%.35 Kalau dilihat dari tempat peribadahan orang Islam
disediakan 1570 rumah ibadah (Mesjid dan Mushola) sedangkan orang Kristen
disediakan 79 gereja (termasuk gereja Protestan dan gereja Katolik).36 Jadi penduduk
Malang mayoritasnya orang Islam dengan minoritas Kristen.
Kalau Universitas Muhammadiyah Malang terlihat dari namanya, universitas
ini adalah universitas Islam. Akan tetapi, masih ada beberapa orang non Islam yang
masuk kampus ini. Jumlah mahasiswa UMM aktif semester genap 2005/2006 adalah
14 313.37 Dari jumlah ini 35 mahasiswa beragama Kristen Protestan atau Katolik (21
mahasiswa yang Protestan dan 14 mahasiswa yang Katolik). 35 mahasiswa ini
diprosentasekan hanya 0,24% dari mahasiswa UMM. Jadi mahasiswa Kristen di
UMM terdapat sedikit sekali. Hubungan antara orang Kristen dan Islam di kampus
UMM unik dan menarik untuk diteliti karena jumlah mahasiswa Kristen kecil sekali.
35 Tabel 5.4.1. Penduduk Menurut Agama, 2004 (Sumber: Kanwil Departemen Agama Jawa Timur)
dalam Jawa Timur Dalam Angka 2005, BPS Propinsi Jawa Timur, Jawa Timur, 2005, hal. 151.
36 Tabel 5.4.2 Tempat Peribatan Menurut Kebupaten/Kota, 2004 (Sumber: Kanwil Departemen Agama
Jawa Timur) dalam Jawa Timur Dalam Angka, op. cit., hal. 152.
37 Tabel Rekapitulasi Mahasaiswa Yang Telah Her-Registrasi, Semester Genap Tahun Akademik
2005/2006 (Berdasarkan hasil entry KRS-Online), Sumber: Bagian Adiminstrasi Akademik,
Universitas Muhammadiyah Malang.
28
1.2. Karakteristik Responden Kristen38
1.2.1. Jenis Kelamin Responden
Berdasarkan data hasil penelitian di lapangan, jenis kelamin responden yang
Kristen di kampus UMM sebagai berikut:
Tabel 1:
Jenis Kelamin Responden Kristen
No.
Jenis
Kelamin
Frekuensi
(f)
Persentase
(%)
1 Laki-laki 12 71%
2 Perempuan 5 29%
Jumlah 17 100%
Sumber: Hasil Penelitian (Pertanyaan Angket Nomor 2)
Dari tabel 1, dapat dilihat kebanyakan responden Kristen di kampus adalah
laki-laki (71%), sedangkan 29% mahasiswa Kristen berjenis kelamin perempuan.
1.2.2. Usia Responden
Dari data hasil penelitian di lapangan, usia responden mahasiswa Kristen di
UMM sebagai berikut:
Tabel 2:
Usia Responden Kristen
No. Usia
Frekuensi
(f)
Persentase
(%)
1 18 1 6%
2 19 4 24%
3 20 3 18%
4 21 2 12%
5 22 3 18%
6 23 1 6%
7 24 1 6%
8 25 1 6%
9 26 - 0%
10 27 - 0%
11 28 - 0%
12 29 1 6%
Jumlah 17 100%
Sumber: Hasil Penelitian (Pertanyaan Angket Nomor 3)
38 Semua angka disebut dalam laporan ini dibulat sehingga menjadi angka bulat. Oleh karena itu,
terkadang jumlah persentase lebih dari 100%.
29
Dari tabel 2 tersebut, dapat dilihat bahwa sebesar 72% mahasiswa Kristen di
kampus berusia dari 19 tahun hingga 22 tahun. Sebesar 6% mahasiswa Kristen
berusia 18 tahun, 23 tahun, 24 tahun, 25 tahun atau 29 tahun. Nampaknya orang
Kristen biasanya belajar dari usia 19 tahun hingga 22 tahun.
1.2.3. Tempat Asal Responden
Apabila mahasiswa Kristen ditinjau dari tempat asal, dapat dilihat dalam table
3 berikut:
Tabel 3:
Tempat Asal Responden Kristen
No. Asal
Frekuensi
(f)
Persentase
(%)
1 Jawa 6 35%
2 Jakarta 2 12%
3 Sulawesi 2 12%
4 Kalimantan 2 12%
5 Papua 3 18%
6 Timor Leste 1 6%
7
Nusa Tenggara
Timor (NTT) 1 6%
Jumlah 17 100%
Sumber: Hasil Penelitian (Pertanyaan Angket Nomor 4)
Berdasarkan tabel 3, dapat digambarkan bahwa sebagian besar 35%
mahasiswa Kristen di kampus UMM berasal dari Jawa. Sebagian lainnya tersebar
sebagai berikut 12% berasal dari Jakarta, Sulawesi atau Kalimantan. 18% mahasiswa
berasal dari Papua, 6% dari Timor Leste dan 6% lagi dari NTT. Yang jelas banyak
mahasiswa berasal dari Jawa atau Jakarta (47%) oleh karena itu mereka belajar di
Jawa. Sedangkan, sebagian besar yang lainnya juga berasal luar Jawa, dan banyak
dari tempat yang mayoritas Kristen yaitu Papua, Timor Leste dan NTT (30% berasal
dari Papua, Timor Leste dan NTT).
30
1.2.4. Aliran Responden
Walaupun sampel ini semua beragama Kristen, masih ada mahasiswa yang
Kristen Protestan atau Kristen Katolik. Yang Protestan dan Katolik terlihat dari tabel
berikut:
Tabel 4:
Aliran Responden Kristen
No. Agama
Frekuensi
(f)
Persentase
(%)
1 Protestan 13 76%
2 Katolik 4 24%
Jumlah 17 100%
Sumber: Hasil Penelitian (Pertanyaan Angket Nomor 6)
Dari tabel 4 diatas dapat dilihat bahwa sebagian besar 76% responden
beragama Protestan dan 24% beragama Katolik. Alasannya, pada awal penelitian ini
hanya mahasiswa Protestan yang diwawancarai tetapi untuk membandingkan jawaban
ini dengan jawaban mahasiswa Katolik, mahasiswa Katolik diwawancarai juga.
Ternyata jawaban mahasiswa Katolik mirip atau hampir sama dengan jawaban dari
mahasiswa Protestan. Jadi, yang penting respondennya Kristen, tidak semata-mata
Kristen Protestan atau Kristen Katolik saja.
1.2.5. Semester Responden
Responden Kristen ditanyakan melalui angket sudah berapa semester belajar
di UMM. Jawabannya sebagai berikut:
Tabel 5:
Semester Responden Kristen
No.
Semester
Berapa
Frekuensi
(f)
Persentase
(%)
1 2 7 41%
2 4 2 12%
3 6 6 35%
4 8 1 6%
5 10 1 6%
Jumlah 17 100%
Sumber: Hasil Penelitian (Pertanyaan Angket Nomor 12B)
31
Dapat dilihat dari tabel 5 kebanyakan mahasiswa Kristen yang belajar di
UMM baru semester dua (41%) tetapi juga sebagian besar yang sudah sampai
semester enam (35%). Dua mahasiswa sekarang semester empat (12%), satu
mahasiswa yang semester delapan (6%) dan satu mahasiswa yang semester sepuluh
(6%).
2. Hasil Penelitian dan Analisa Data
Tujuan laporan ini untuk memeriksa stereotip bahwa orang Kristen dan Islam
tidak bisa tinggal bersama dengan damai dan untuk melihat bagaimana hubungan
antara orang Kristen dan Islam di kampus UMM. Untuk mencapai tujuan ini,
mahasiswa Kristen UMM diwawancarai tentang beberapa hal.39 Mereka ditanyakan
mengapa masuk kampus UMM, yaitu kampus yang beragama Islam; bagaimana
menurut mereka tentang UMM (yaitu birokrasinya); bagaimana hubungan dengan
mahasiswa UMM yang beragama Islam; bagaimana iman mereka dipengaruhi oleh
teman atau pelajaran di UMM; masalah apa yang dihadapi sebagai orang Kristen di
kampus UMM yang bersifat Islam; dan pengalaman baik yang dialami oleh
mahasiswa Kristen di kampus UMM. Jawaban dari pertanyaan ini diharapkan
memberi pengetahuan tentang masalah tersebut – yaitu bisakah orang Kristen dan
Islam hidup berdampingan tanpa masalah dan bagaimana hubungan selama belajar di
UMM?
39 Daftar pertanyaan untuk wawancara dapat dilihat dalam lampiran-lampiran.
32
2.1. Alasan responden memilih UMM
Mahasiswa Kristen memberi beberapa alasan mengapa mereka, sebagai orang
Kristen, masuk ke kampus UMM yang terkenal sebagai universitas Islam.
Alasan yang paling sering diucapkan adalah bahwa pilihan pertama bukan
UMM. Mahasiswa ini tidak diterima di kampus lain jadi kemudian memutuskan
untuk belajar di UMM. Alasan lain adalah bahwa mereka mencari kampus yang ada
jurusan khusus (yaitu, mereka memilih jurusan dulu kemudian baru mencari kampus
yang menyediakan jurusan itu). Tiga mahasiswa mengucapkan mereka masuk ke
UMM karena banyak teman dari tempat asal dulu sudah pernah memilih UMM.
Alasan lain termasuk bahwa UMM sudah terkenal sebagai universitas yang bagus;
universitas lain terlalu mahal dan UMM termasuk universitas yang murah tetapi
qualitasnya masih baik.
Satu alasan lain yang menarik dari dua responden adalah mereka sudah pernah
melihat kegiatan mahasiswa di kampus lain dan mahasiswa tersebut selalu berkumpul
dengan orang sesuku (dalam satu suku). Responden ini tidak mau berkumpul seperti
itu jadi mereka memilih UMM sehingga bisa bergaul dengan orang dari seluruh
Indonesia. Mereka mencari pengalaman dengan orang lain selain orang dalam satu
suku.
Satu responden mengungkapkan bahwa dia sengaja memilih UMM karena
mau bergaul dengan orang Islam dan ingin memperdalam pengetahuan tentang Islam.
Satu responden lain, YJ menyatakan universitas UMM “biasa aja”. Menurut
pendapat dia tidak penting bahwa UMM adalah kampus Islam.40 Alasan yang mirip
dari responden lain, IF, adalah bahwa “yang penting saya ambil ilmu”.41 Alasan
40 Hasil wawancara dengan YJ pada tanggal 15 Maret 2006.
41 Hasil wawancara dengan IF pada tanggal 16 Maret 2006.
33
berbeda dari satu responden adalah dia suka UMM karena kampusnya indah dan
mewah.
Dari data tersebut dapat dilihat bahwa kebanyakan mahasiswa Kristen
memilih UMM karena mereka tidak diterima di kampus negeri, mereka ingin mencari
kampus yang ada jurusan diminati mereka atau mereka ikut sama teman dari tempat
asal. Yang jelas, biasanya mereka tidak mempunyai keinginan yang sangat tinggi
untuk masuk ke UMM tetapi sebaliknya banyak yang terpaksa masuk ke UMM
karena faktor dari luar (yaitu faktor ekstern).
2.2. Bagaimana perasaan responden tentang UMM?
Data berikut ini diambil dari jawaban ke-tujuh dan ke-delapan dari hasil
wawancara. Pertanyaan ke-tujuh yaitu bagaimana perasaan responden waktu baru dan
mau masuk ke UMM. Sedangkan pertanyaan ke-delapan bertanya tentang perasaan
setelah masuk ke UMM, dan khusunya menurut pendapat responden tentang
keuntungan dan kekurangan belajar di UMM.
Kebanyakan responden merasa “biasa aja”42 waktu mau masuk ke UMM,
tidak ada perasaan takut atau khawatir. Menurut mahasiswa ini mereka ingin belajar
saja jadi tidak merasa aneh belajar di kampus Universitas Muhammadiyah Malang.
Akan tetapi enam responden merasa takut atau khawatir sebelum mulai kuliah di
UMM. Alasannya perasaan ini karena takut sebagai minoritas di kampus ini; khawatir
apa yang harus dilakukan dengan pendidikan agama; ragu-ragu kekuatan imannya dan
takut nanti akan tertarik ke Islam.
Dari bagian 2.1. diatas (alasan responden memilih UMM) terlihat kebanyakan
orang Kristen masuk UMM karena terpaksa. Akan tetapi, yang menarik adalah
42 Hasil wawancara MM pada tanggal 13 Maret 2006; DC pada tanggal 14 Maret 2006; YJ pada
tanggal 15 Maret 2006; GN pada tanggal 15 Maret 2006; FP pada tanggal 23 Maret 2006.
34
banyak mahasiswa Kristen setelah masuk UMM mempunyai perasaan beruntung
memilih kampus UMM. Salah satu keuntungan yang sangat menarik adalah mereka
senang bisa mendapatkan banyak pengetahuan tentang Islam. Keuntungan lain yang
diucapkan oleh responden adalah bahwa kualitas UMM bagus, mahasiswa bisa
mendapat ilmu yang bagus dari dosen yang disiplin.
Kalau kekurangan UMM yang dialami sejak mulai kuliah, banyak responden
mengucapkan dengan semangat “tidak ada”.43 Keluhan yang paling sering diucapkan
adalah bahwa mahasiswa Kristen harus mengikuti pelajaran Al-Islam dan
Kemuhammadiyahan (AIK), yaitu mereka harus belajar agama Islam. Kekurangan
lain termasuk masalah dengan dosen karena mereka sering berbicara tentang Islam
atau menjelekkan agama Kristen di kuliah biasa. Juga ada teman responden yang
berusaha untuk mendorong teman masuk ke Islam.44
Dari data tersebut terlihat walaupun beberapa orang Kristen mengalami
ketakutan sebelum masuk ke UMM dan merasa ada beberapa kekurangan dengan
UMM, setelah berjalan beberapa bulan di UMM kebanyakan merasa senang di UMM
dan menurut mereka keuntungan belajar di UMM sangat banyak.
2.3. Bagaimana hubungan responden dengan orang Islam?
Pertanyaan ke-sembilan sampai dua belas bertanya bagaimana hubungan
orang Kristen dengan orang Islam di kampus UMM. Pertanyaan ini bertanya apakah
orang Kristen mempunyai banyak teman Islam, apakah mereka lebih senang bergaul
sama teman Islam atau Kristen dan apakah mereka sering berbicara dengan temanteman
tentang iman mereka sendiri-sendiri.
43 Hasil wawancara dengan IF pada tanggal 16 Maret 2006.
44 Masalah-masalah ini dijelaskan lebih dalam di bab ini di bagian 2.5.
35
Tidak satupun responden yang mengatakan hubungan mereka sama
mahasiswa Islam di kampus UMM buruk. Semuanya mengungkapkan mereka
mempunyai banyak teman Islam. Mahasiswa Kristen ini semua senang bergaul
bersama teman-teman Islam di kampus UMM. Hanya dua responden yang
mengucapkan mereka lebih senang bergaul sama teman Kristen. Jadi menurut orang
Kristen di kampus UMM, hubungan mereka sama teman Islam sangat baik sekali.
Responden Kristen juga ditanya apakah mereka sering berbicara sama temanteman
Islam di kampus tentang agama. Sebagian besar menjawab mereka jarang
berbicara tentang agama atau mereka hanya akan berbicara tentang agama kalau
ditanya dulu dari teman-teman lain. Beberapa mahasiswa Kristen di UMM
mengatakan mereka ingin berbicara dengan teman tentang agama tetapi mereka
merasa hal itu sulit untuk dibicarakan. Apalagi ada responden yang takut mereka akan
dianggap sombong atau takut berantem dengan teman-teman kalau berdiskusi tentang
agama.
Jadi menurut mahasiswa Kristen di kampus UMM, hubungan mereka dengan
mahasiswa Islam sangat baik sekali, tidak ada masalah. Mereka semuanya
mempunyai banyak teman di kampus dan hampir semua teman ini beragama Islam.
Tetapi agamanya tidak mempengaruhi hubungannya karena mereka jarang berdiskusi
tentang agama. Mungkin hubungan antara orang Kristen dan Islam di kampus tetap
baik karena mereka menghindari topik agama, mereka tidak mau berbicara tentang
iman mereka dan takut reaksi teman kalau mereka berbicara tentang agama Kristen
atau Islam.
36
2.4. Dalam cara apa iman responden dipengaruhi lingkungan kampus UMM?
Supaya mengerti bagaimana hubungan orang Kristen dan Islam di kampus dan
apakah mereka saling menyebarkan agama kepada umat lain, mahaiswa Kristen
ditanya apakah iman mereka dipengaruhi karena belajar di kampus Islam.
Kalau ditanya secara langsung apakah imannya sudah pernah dipengaruhi
karena belajar di kampus UMM hanya satu mahasiswa Kristen dari tujuh belas
mengatakan imannya dipengaruhi karena masuk kampus Islam. Akan tetapi empat
mahasiswa mengucapkan mereka sudah pernah mempunyai keinginan pindah agama
(yaitu masuk ke Islam). Dari responden tersebut, mereka ada perasaan mau masuk ke
agama Islam karena mereka ditengah banyak orang Islam, merasa aneh kalau tidak
ikut sholat waktu semua teman sholat dan merasa kehidupan akan lebih mudah kalau
masuk ke Islam. Dari empat mahasiswa ini ternyata belum ada satu yang telah pindah
ke Islam. Alasan tidak pindah agama karena mereka hanya memikirkan hal itu tetapi
sekarang sudah memutuskan mau tetap Kristen. Alasan lain adalah mereka dilarang
dengan keras dari orang tuanya. Responden TH berkata ayah dia “agak fanatik” dan
kalau dia mendapat izin dari orang tua untuk pindah dia akan “ya lihat-lihat aja”.45
Jadi walaupun hanya sedikit, memang ada beberapa mahasiswa Kristen yang
mempunyai keinginan mau pindah agama dan masuk ke Islam tetapi sampai sekarang
belum ada yang benar pindah agama.46
Pertanyaan ke-empat belas tentang kekuatan iman ternyata pertanyaan yang
paling banyak responden terlihat tidak nyaman pada saat menjawab. Dari tujuh belas
responden hanya lima mahasiswa mengucapkan iman mereka lebih kuat sejak masuk
ke UMM. Alasannya, mereka selalu memikirkan agamanya dan membandingkan
45 Hasil wawancara dengan TG pada tanggal 20 Maret 2006.
46 Data ini hanya benar untuk orang Kristen yang diwawancarai. Beberapa responden Kristen dan Islam
menceritakan dua teman yang sudah pernah pindah dari agama Kristen dan masuk agama Islam. Tetapi
karena laporan ini tidak tentang perubahan agama hal ini, walaupun menarik, tidak dilanjutkan.
37
dengan agama Islam. Responden ini juga sering ke gereja. Dua dari lima responden
ini merasa imannya lebih kuat karena menurut mereka tindakan orang Islam di
kampus tidak cocok dengan agamanya. Responden LN berkata dosen UMM “terlalu
mencap Kristen itu jelek” dan oleh karena itu iman dia menjadi “lebih kuat, lebih
strong”.47
Dari tiga mahasiswa Kristen yang mengatakan imannya lebih lemah,
alasannya karena mereka sibuk dengan kuliah dan karena di tengah banyak orang
Islam. Lima mahasiswa lagi merasa imannya tetap sama saja, tidak lebih kuat dan
tidak lebih lemah. Mahasiswa lain bingung waktu ditanya, responden RJ berkata
“bingung saya jawab itu”.48 Satu lagi tidak menjawab dan hanya lihat ke bahwa,
senyum dan diam. Ketidaknyamanan responden bisa dijelaskan karena hal iman
memang hal pribadi.
Waktu ditanya langsung kalau mereka dipengaruhi oleh teman-teman Islam
sebagian besar mahasiswa Kristen mengucapkan tidak. Tetapi sebenarnya dapat
dilihat dari data diatas bahwa juga ada mahasiswa Kristen yang dipengaruhi oleh
lingkungan kampus karena mereka ingin ikut sama teman dan pindah agama ke
agama Islam atau merasa imannya lebih lemah karena masuk ke kampus UMM.
2.5. Masalah dihadapi oleh mahasiswa Kristen di kampus UMM
Setiap mahasiswa Kristen ditanya tujuh pertanyaan tentang kalau mereka
menghadapi masalah di kampus. Pertanyaan tersebut bertanya apakah mahasiswa
sudah pernah mengalami masalah sehari-hari, dengan cara masuk UMM, upacara
kampus, pemakaian jilbab (khusus ditanya kepada perempuan), Jumatan (khusus
ditanya kepada laki-laki), atau diskriminasi dari dosen waktu di kelas. Pada awal
47 Hasil wawancara dengan LN pada tanggal 23 Maret 2006.
48 Hasil wawancara dengan RJ pada tanggal 21 Maret 2006.
38
wawancara, mahasiswa ditanya secara umum kemudian ditanya secara khusus
sehingga mereka diberi kesempatan untuk menjawab tanpa perasaan malu dan untuk
menimbulkan atau membangkitkan jawaban paling jujur dari responden tersebut.
Pertanyaan ke-lima belas dan enam belas bertanya secara langsung kalau
mahasiswa Kristen sudah pernah mengalami masalah, diskriminasi atau pengalaman
buruk di kampus UMM. Tidak satupun yang menjawab “sudah”. Semuanya
menjawab “belum”. Meskipun begitu masih ada cukup banyak masalah yang
diceritakan oleh responden tersebut. Jadi kalau dinamakan “masalah” , “diskriminasi”
atau “pengalaman buruk” mereka tidak mengakui bahwa memang ada masalah di
kampus UMM. Tetapi kalau mahasiswa menjawab pertanyaan lain yang disamar atau
yang lebih khusus mereka bercerita banyak tentang pengalaman buruk di kampus.
Tidak semua masalah yang diceritakan adalah masalah diskriminasi, beberapa
masalah hanya membuat mahasiswa merasa aneh atau berbeda dibandingkan
mahasiswa Islam di kampus UMM.
Masalah yang paling sering ditemukan oleh mahasiswa Kristen di kampus
adalah dengan masalah pelajaran AIK. Sembilan mahasiswa mengucapkan mereka
merasa keberatan harus ikut pelajaran Islam. Dari sembilan ini, enam mahasiswa
bercerita tentang pengalaman mereka dengan dosen AIK masing-masing yang
menjelekkan agama lain, khususnya agama Kristen. Responden N mengucapkan
dosen AIK dia sudah pernah bilang di depan kelas bahwa kepercayaan orang Kristen
tentang kematian dan kebangkitan Yesus “bull shit, omong kosong”.49 Satu
mahasiswa lain bercerita bahwa dosen dia, baik dosen AIK maupun dosen matakuliah
49 Hasil wawancara dengan N pada tanggal 14 Maret 2006.
39
biasa sudah pernah menjelekkan agama Kristen. Salah satu dosen bilang bahwa orang
yang bukan orang Islam hanya “binatang”.50
Di kelas AIK sudah pernah ada mahasiswa Islam yang bertanya pertanyaan
dengan tujuan untuk memprovokasikan balasan dari dosen yang menjelekkan agama
Kristen atau balasan dari mahasiswa Kristen. Responden TY bercerita waktu itu
dosen AIK tersebut menjawab dengan secara baik dan tidak ikut sama mahasiswa
itu.51
Lima mahasiswa mengucapkan waktu mau masuk ke UMM dan diwawancarai
mereka ditanya tentang agama mereka dan ditanya mengapa mereka sebagai orang
Kristen ingin masuk ke UMM kampus yang Islam. Tidak satupun dari lima
mahasiswa ini merasa keberatan karena pertanyaan ini, semuanya menjawab
pertanyaannya tanpa masalah.
Beberapa responden perempuan mengucapkan masalah dengan pemakaian
jilbab. Kalau bulan puasa, matakuliah AIK atau ujian akhir semester semua
mahasiswa perempuan harus memakai jilbab, baik orang Islam maupun yang non
Islam. Dari mahasiswa ini tidak semua merasa keberatan kalau harus memakai jilbab,
malah sabaliknya responden LN mengatakan dia merasa “lebih nyaman” dan
“senang” kalau memakai jilbab.52 Tetapi juga ada responden lain yang merasa
keberatan kalau diwajibkan memakai jilbab karena mereka bukan orang Islam.
Masalah lain dengan jilbab adalah teman-teman mahasiswa Kristen yang
beragama Islam sudah pernah ditanya mengapa mereka tidak memakai jilbab.
Menurut pendapat responden DM, pertanyaan ini biasanya ditanya dari perempuan
dari Fakultas Agama Islam yang dia belum kenal dan yang memakai cadar. DM
50 Hasil wawancara dengan FP pada tanggal 23 Maret 2006.
51 Hasil wawancara dengan TY pada tanggal 20 Maret 2006.
52 Hasil wawancara dengan LN pada tanggal 23 Maret 2006.
40
menjelaskan dia merasa berbeda dan tidak nyaman kalau ditanyakan tentang soal
jilbab.53
Dua mahasiswa Kristen berkata mereka tidak ingin ikut kegiatan mahasiswa di
kampus karena semua kelompok mahasiswa “terlalu mementingkan agama”.54 Juga
ada mahasiswa yang merasa organisasi-organisasi kampus tidak mau mahasiswa
Kristen masuk ke organisasi mereka.55
Tujuh masalah lain diungkapkan oleh satu mahasiswa saja.
Pada waktu Pesmaba (Pekan Studi Mahasiswa Baru) responden ER (laki-laki)
berkata dia merasa aneh pada waktu Jumatan. Dia merasa sendirian dan tidak tahu apa
yang harus dilakukan oleh dia pada waktu itu.56
Responden RJ menceritakan masalah waktu Pelatihan Pengembangan
Kepribadian dan Kepemimpinan (P2KK). Sebelum dia masuk kuliah untuk pertama
kali, dia harus ikut P2KK tersebut. Masalahnya, P2KK terjadi dari tanggal 20
Desember sampai tanggal 25 Desember, pada hari Natal untuk orang Kristen. Oleh
karena itu, responden ini minta izin dari dosen supaya dia bisa pulang lebih awal
untuk merayakan Natal. Tetapi izinnya tidak diberi jadi dia baru bisa pulang malam
pada hari Natal.57
Responden RJ juga mengalami masalah dengan satu atau dua teman yang
sering menggoda dia, karena agamanya berbeda. Responden ini mengatakan bahwa
temannya selalu mengingatkan dia bahwa dia tidak boleh berpacaran dengan
perempuan Islam.58
53 Hasil wawancara dengan DM pada tanggal 13 Maret 2006.
54 Ibid.
55 Hasil wawancara dengan TY pada tanggal 18 Maret 2006.
56 Hasil wawancara dengan ER pada tanggal 16 Maret 2006.
57 Hasil wawancara dengan RJ pada tanggal 21 Maret 2006.
58 Ibid.
41
Responden yang sama bercerita tentang waktu dia ikut salah satu forum
diskusi tentang agama. Dia ingin ikut karena tertarik dan senang membahas hal-hal
agama. Tetapi menurut dia forumnya kurang bagus karena beberapa mahasiswa dari
Fakultas Agama Islam mengejek agama Kristen. Dia kurang senang waktu itu dan
sejak pengalaman itu tidak ingin ikut forum lagi.59
Responden FP mengungkapkan dia sering didorong oleh teman dan dosen
untuk masuk ke Islam. Dia bilang temannya sering bertanya kalau dia tertarik masuk
ke Islam, mengapa dia belum masuk ke Islam, apakah dia sudah sholat atau belum
dan lain-lain. Dia tidak senang selalu didorong masuk ke agama Islam dan kurang
suka ditanyakan masalah ini terus-menerus tetapi dia berkata dia berusaha untuk tetap
sabar saja.60
Masalah lain termasuk waktu Lebaran, responden FP memberi salam kepada
temannya yang merayakan Idul Fitri tetapi pada waktu Natal teman itu menolak
membalas memberi salam. Dia merasa sedikit sakit hati dan kurang dihormati.61
Waktu ditanya oleh peneliti kalau dia tertarik masuk ke Islam, satu
mahasiswa, responden LN, menjawab “malah sebaliknya” karena dia merasa orang
Islam di kampus “terlalu mendoktrin” dan “terlalu sombong” dengan agamanya.
Alasan dia adalah dosen AIK yang menjelekkan agama Kristen atau orang yang
bilang agama mereka yang benar dan semua agama lain salah. Menurut dia “agama
itu cuma cara kita aja” jadi seharusnya tidak ada yang merasa mereka lebih benar.62
Dari pihak lain, empat responden lainnya merasa tidak ada masalah sama
sekali. Banyak responden yang menceritakan masalah juga mengucapkan pada cara
59 Ibid.
60 Hasil wawancara dengan FP pada tanggal 23 Maret 2006.
61 Ibid.
62 Hasil wawancara dengan LN pada tanggal 23 Maret 2006.
42
umum, mahasiswa dan dosen di UMM sangat saling menghormati, sangat toleran.
Misalnya responden DC berkata UMM adalah “sistem bebas, sistem fair”.63
Kebanyakan mahasiwa mengucapkan mereka belum pernah mengalami
masalah atau diskriminasi di kampus UMM kalau ditanya secara langsung. Tetapi
kalau mereka diberi kesempatan untuk bercerita secara bebas, mereka mengakui
sudah pernah ada masalah macam-macam di kampus. Dari masalah-masalah ini
terlihat hubungan antara orang Kristen dan Islam tidak baik-baik saja seperti
diungkapkan dari responden dalam bab ini dalam bagian 2.3. Akan tetapi, walaupun
masalah ini berbagai macam, tidak terlalu serius (tidak sampai saling berantem atau
menyerang) dibandingkan hubungan antara orang Kristen dan Islam di daerah konflik
di Indonesia. Jadi meskipun memang ada beberapa masalah antara mahasiswa Kristen
dan Islam di kampus, biasanya hubungannya tetap baik tanpa masalah.
2.6. Kesimpulan
Dari data diatas terlihat bahwa sebenarnya orang Kristen di kampus UMM
bisa tinggal bersama orang Islam tanpa konflik. Semua responden bergaul sama
banyak orang Islam dengan senang hati. Jadi stereotip bahwa orang Kristen dan Islam
tidak bisa berhidup bersama tanpa konflik atau saling membenci itu tidak benar.
Tetapi responden mahasiswa Kristen tidak merasa begitu bebas dengan
masalah berbicara tentang agama, kebanyakan mahasiswa jarang berbicara sama
teman-teman kampus tentang agama. Alasannya mungkin karena mereka ingin
menghindari konflik sama teman-teman. Cukup banyak masalah diungkapkan yang
harus dihadapi oleh orang Kristen di kampus tetapi menurut mereka sendiri, masalah
63 Hasil wawancara dengan DC pada tanggal 14 Maret 2006.
43
tersebut jarang terjadi dan tidak terlalau besar. Kebanyakan mahasiswa Kristen
merasa mahasiswa Islam di kampus sangat baik kepada mereka dan sangat toleran.
Jadi hubungan antara orang Kristen dan Islam di kampus, dari pendapat orang
Kristen, baik sekali dan walaupun ada masalah, masalah ini bisa dikuasai dan tidak
menciptakan suasana saling membenci. Responden Kristen sangat senang belajar di
UMM meskipun masalahnya ada akan tetapi hubungan dengan teman dan dosen
Islam tetap baik dan tidak menimbulkan konflik.
44
BAB IV
PENYAJIAN DAN ANALISA DATA
Responden Mahasiswa Islam
1. Penyajian Data
1.1. Monografi Lapangan
Lapangan untuk mahasiswa Islam sama untuk mahasiswa Kristen (yaitu
Universitas Muhammadiyah Malang) yang telah dideskripsikan dalam Bab III.64
1.2. Karakteristik Responden Islam65
1.2.1. Jenis Kelamin Responden
Dari hasil jawaban angket, jenis kelamin responden yang Islam dapat dilihat
dalam tabel berikut:
Tabel 6:
Jenis Kelamin Responden Islam
No.
Jenis
Kelamin
Frekuensi
(f)
Persentase
(%)
1 Laki-laki 9 53%
2 Perempuan 8 47%
Jumlah 17 100%
Sumber: Hasil Penelitian (Pertanyaan Angket Nomor 2)
Dari tabel 6 diatas terlihat hampir keberimbangan persentase responden lakilaki
(53%) dan responden perempuan (47%).
1.2.2. Usia Responden
Berdasarkan data penelitian di lapangan, usia responden yang Islam dapat
dilihat dalam tabel 7 berikut:
64 Lihat halaman 18 untuk monografi lapangan.
65 Semua angka disebut dalam laporan ini dibulat sehingga menjadi angka bulat. Oleh karena itu,
terkadang jumlah persentase lebih dari 100%.
45
Tabel 7
Usia Responden Islam
No. Usia
Frekuensi
(f)
Persentase
(%)
1 18 - 0%
2 19 1 6%
3 20 3 18%
4 21 4 24%
5 22 7 41%
6 23 1 6%
7 24 1 6%
Jumlah 17 100%
Sumber: Hasil Penelitian (Pertanyaan Angket Nomor 3)
Dari tabel 7 diatas, dapat dilihat bahwa kebanyakan responden berusia 22
tahun (41%) dan usia responden mencakup 19 tahun sampai 24 tahun. Usia
kebanyakan responden 20 tahun, 21 tahun atau 22 tahun karena metode dipakai untuk
mencari responden. Snow ball metode dipakai sehingga satu responden
memperkenalkan temannya yang biasanya satu kelas atau satu angkatan jadi rata-rata
usianya responden sama.
1.2.3. Tempat Asal Responden
Kalau ditanya tempat asal di mana, mahasiswa Islam menjawab sebagai
berikut:
Tabel 8:
Tempat Asal Responden Islam
No. Asal
Frekuensi
(f)
Persentase
(%)
1 Jawa 11 65%
2 Jakarta 1 6%
3 Sulawesi 1 6%
4 Kalimantan 2 12%
5 Sumatra 1 6%
6 Madura 1 6%
Jumlah 17 100%
Sumber: Hasil Penelitian (Pertanyaan Angket Nomor 4)
46
Dari tabel 8 diatas dapat dilihat kebanyakan responden Islam berasal dari Jawa
(65%). Dua mahasiswa berasal Kalimantan (12%) dan satu mahasiswa yang
diwawancarai berasal dari Jakarta (6%), satu dari Sulawesi (6%), satu dari Sumatra
(6%) dan satu dari Madura (6%). Dari informasi ini, terlihat kebanyakan mahasiswa
UMM berasal dari Jawa (65%) walaupun ada sebagian yang berasal dari luar Jawa
(36%). Ini bisa dijelaskan karena tempat penelitian, yaitu UMM, di Jawa Timur jadi
kebanyakan mahasiswa yang kuliah di kampus UMM akan berasal dari Jawa.
1.2.4. Semester Responden
Apabila mahasiswa Islam ditinjau dari semester berapa, dapat dilihat dalam
tabel 9 berikut:
Tabel 9
Semester Responden Islam
No.
Semester
Berapa
Frekuensi
(f)
Persentase
(%)
1 2 1 6%
2 4 5 29%
3 6 5 29%
4 8 5 29%
5 10 1 6%
Jumlah 17 100%
Sumber: Hasil Penelitian (Pertanyaan Angket Nomor 13)
Dapat dilihat dari data diatas bahwa kebanyakan responden mahasiswa Islam
sedang belajar di UMM selama empat semester (29%), enam semester (29%) atau
delapan semester (29%). Hanya satu responden yang baru semester dua (6%) dan satu
mahasiswa yang sudah semester sepuluh (6%). Alasan ini juga karena metode snow
ball dipakai, jadi kebanyakan responden memperkenalkan teman dari semester sama.
Oleh karena itu ternyata kebanyakan responden dari semester empat, enam atau
delapan.
47
2. Hasil Penelitian dan Analisa Data
Mahasiswa Islam diwawancarai serta dengan banyak pertanyaan tetapi
pertanyaan ini berfokus kepada dua hal. Hal pertama adalah apakah responden taat
dengan imannya. Hal ini penting karena stereotip adalah bahwa orang Islam yang
‘fanatik’ tidak mungkin senang berhubungan dengan orang Kristen walaupun orang
Islam yang tidak taat dianggap lebih moderat dan oleh karena itu diperkirakan lebih
senang bergaul sama orang Kristen. Hal kedua yang ditanyakan adalah bagaimana
hubungan mahasiswa Islam dengan mahasiswa Kristen di kampus UMM.
2.1. Apakah mahasiswa Islam di kampus UMM taat?
Banyak mahasiswa Islam tidak nyaman ditanyakan tentang imannya, kalau
taat atau tidak. Kebanyakan mahasiswa tidak mau menjawab atau ragu-ragu waktu
mau menjawab. Satu mahasiswa mengatakan taat “urusan Tuhan, sulit dijawab”.66
Mereka tidak mau dianggap sombong karena langsung menjawab ‘ya, saya taat’.
Akan tetapi, setelah ragu-ragu, sebagian besar (tujuh) mahasiswa mengungkapkan
bahwa dirinya sendiri taat. Beberapa mahasiswa merasa mereka taat dengan ibadah
Islam (yaitu sholat, puasa dan jumatan untuk laki-laki) tetapi tidak taat dengan iman.67
Apalagi tiga mahasiswa tidak langsung menjawab ‘taat’ tetapi mereka mengucapkan
“Insyaallah taat”.68
Beberapa mahasiswa mengucapkan dengan kebanggaan mereka tidak taat.
Mahasiswa ini malah lebih senang dianggap tidak taat. Menurut mereka orang tidak
taat lebih maju dan lebih moderat dibandingkan orang taat.69 Satu responden merasa
66 Hasil wawancara dengan DI pada tanggal 5 April 2006.
67 Hasil wawancara dengan SP pada tanggal 12 April 2006.
68 Hasil wawancara dengan GI pada tanggal 6 April 2006 dan AS dan LA pada tanggal 15 April 2006.
69 Hasil wawancara dengan RH pada tanggal 6 April 2006.
48
kalau seseorang taat berarti orang itu fanatik. Menurut dia kalau terlalu taat itu sama
dengan “ekstrem”.70
Selain mahasiswa yang menganggap dirinya sendiri taat atau tidak taat, juga
ada mahasiswa yang merasa mereka “biasa aja” dengan imannya.71 Ada mahasiswa
lain yang aktif dengan organisasi Islam di kampus tetapi tidak menganggap dirinya
sendiri taat.72 Jadi definisi ‘taat’ juga menjadi masalah karena satu responden bisa
menganggap dirinya sendiri tidak taat tetapi teman orang itu akan menganggap orang
itu sebenarnya taat. Untuk melihat hal ini dengan cara lebih jelas, responden juga
ditanya tentang berapa sering mereka ikut kegiatan mahasiswa Islam dan apakah
mereka aktif dengan organisasi Islam di kampus UMM.
Kebanyakan responden ikut kegiatan mahasiswa Islam di kampus. Di kampus
UMM ada banyak sekali organisasi mahasiswa Islam. Misalnya, Himpunan
Mahasiswa Islam (HMI), Al-Faruq (khusus fakultas FISIP), Jamaah Masjid AR
Fachrudin (JMAF), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonsia (KAMMI) dan
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Enam mahasiswa yang diwawancarai ikut
HMI. Kepala JMAF, HMI dan Al-Faruq diwawancarai oleh peneliti. Juga satu
responden ikut komite HMI dan satu lain ikut komite IMM. Dari semua responden
hanya lima yang belum pernah ikut organisasi Islam di kampus. Jadi responden
mahasiswa Islam di kampus biasanya sangat aktif dengan kegiatan mahasiswa Islam
di kampus UMM.
70 Hasil wawancara dengan LL pada tanggal 8 April 2006.
71 Hasil wawancara dengan ID pada tanggal 12 April 2006.
72 Hasil wawancara dengan AN pada tanggal 12 April 2006.
49
Alasan untuk ikut organisasi-organisasi ini termasuk ingin memperdalam
pengetahuan tentang agama Islam, ingin mencari pengalaman baru, ingin
mendiskusikan hal agama dan ingin mendapat lebih banyak teman.73
Jadi meskipun tidak semua responden menganggap dirinya sendiri taat,
kebanyakan masih ikut setidaknya satu organisasi mahasiswa Islam di kampus dan
banyak yang sangat aktif – sebagai ketua, pengurus atau anggota komite
organisasinya. Sekarang harus dilihat kalau informasi ini mempengaruhi hubungan
mahasiswa Islam dengan mahasiswa Kristen di UMM.
2.2. Bagaimana hubungan responden dengan mahasiswa Kristen di kampus?
Dari mahasiswa Islam yang diwawancarai hanya tiga yang sudah pernah
ketemu orang Kristen di kampus UMM. Ini karena jumlah mahasiswa Islam sangat
banyak dan jumlah Kristen sangat kecil. Jumlah mahasiswa UMM 14 313 tetapi yang
beragama Kristen hanya 35 jadi mahasiswa Islam jarang sekali akan ketemu
mahasiswa Kristen.74 Dari tiga responden yang sudah pernah berteman sama
mahasiswa Kristen di kampus, semuanya mengucapkan hubungannya baik-baik saja,
tidak ada masalah.75 Menurut mereka, mahasiswa Kristen di kampus mempunyai
banyak teman dan walaupun agamanya berbeda, tetap akrab bersama teman Islam di
kampus UMM.76
Selain tiga responden yang ada teman Kristen di kampus, kebanyakan
responden lain meskipun belum bertemu mahasiswa Kristen di kampus, sudah pernah
berteman dengan orang Kristen di luar kampus. Mahasiswa ini ditanyakan bagaimana
73 Hasil wawancara dengan SA pada tanggal 5 April 2006; GI pada tanggal 6 April 2006; AT pada
tanggal 7 April 2006; ID pada tanggal 12 April 2006.
74 Data ini sumber dari Bagian Administrasi Akademik UMM.
75 Hasil wawancara dengan GI pada tanggal 6 April 2006; wawancara dengan RH pada tanggal 6 April
2006 dan wawancara dengan AN pada tanggal 12 April 2006.
76 Hasil wawancara RH pada tanggal 6 April 2006.
50
hubungan mereka dengan teman ini dan juga ditanyakan kalau misalnya suatu hari
pada masa datang bertemu sama orang Kristen di kampus bagaimana hubungannya.
Tidak satupun responden yang mengatakan hubungan sama teman Kristen buruk,
semuanya merasa hubungannya baik-baik saja.
Kalau responden ditanya apakah mereka lebih senang bergaul sama orang
Kristen atau orang Islam, hampir semuanya mengucapkan mereka senang bergaul
sama siapa saja, yang penting orangnya baik.77 Hanya satu responden menjelaskan dia
lebih senang bergaul sama teman seiman karena merasa lebih nyaman dengan
mereka.78 Jadi hampir semua mahasiswa Islam merasa agama tidak masalah dengan
hubungan berteman. Mereka menekankan pribadi orang yang penting, bukan
agamanya.
Karena kebanyakan mahasiswa Islam belum pernah ada pengalaman dengan
orang Kristen di kampus, susah untuk melihat bagaimana hubungannya. Jadi untuk
melihat lebih dalam hal tersebut, responden ditanyakan hal-hal ‘seandainya’ dan
diminta komentar tentang jawaban responden Kristen yang sudah didapat oleh
peneliti.
Kebanyakan mahasiswa Islam mendukung mahasiswa Kristen masuk ke
UMM, kampus yang Islam. Mahasiswa Islam merasa kalau orang Kristen mencari
pendidikan dan ilmu saja, tidak masalah kalau mereka masuk UMM. Apalagi, salah
satu responden mengkhawatirkan orang Kristen akan terganggu karena masuk ke
kampus Islam dan dia tidak mau iman mereka diremehkan.79 Beberapa responden
mengungkapkan mahasiswa Kristen harus menjaga keyakinan diri sendiri dan tidak
77 Misalnya hasil wawancara dengan TA, RW, RE dan LI (yang diwawancarai bersama) pada tanggal
11 April 2006.
78 Hasil wawancara dengan AT pada tanggal 7 April 2006.
79 Hasil wawancara dengan SA pada tanggal 5 April 2006.
51
boleh ikut ibadah Islam kalau masuk UMM.80 Mahasiswa Islam juga merasa masalah
agama itu masalah pribadi dan tidak boleh diganggu oleh orang lain. Jadi mereka
tidak mau menyebarkan agama Islam kepada teman Kristen atau mendorong mereka
masuk ke Islam.81 Meskipun ini, ada mahasiswa Islam yang ingin menyerbarkan
agama Islam kepada teman Kristen. Mereka merasa ini salah satu kewajiban Islam.
Tetapi mereka mengucapkan mereka masih akan menghormati orang Kristen dan
hanya akan menyebarkan agama kalau sudah akrab sama orang itu.82
Masalah di kampus yang paling sering diucapkan oleh responden Kristen
adalah masalah dengan pelajaran wajib AIK. Oleh karena itu, responden mahasiswa
Islam ditanyakan bagaimana pendapat mereka tentang mahasiswa Kristen yang
diwajibkan masuk AIK. Separuh responden merasa mahasiswa Kristen harus ikut
AIK untuk mendapat pengetahuan tentang agama Islam karena mereka masuk
kampus Islam. Tetapi responden lain mengucapkan mahasiswa Kristen sebaiknya
jangan diwajibkan mengikuti AIK. Malah ada satu responden yang merasa mahasiswa
Kristen seharusnya diberi kesempatan untuk belajar agamanya sendiri.83
Menurut pendapat mahasiswa Islam tentang pelajaran AIK dan pengalaman
mahasiswa Kristen dengan AIK adalah menarik. Satu mahasiswa tidak mau
mahasiswa Kristen diwajibkan mengikuti AIK karena menurut dia kalau mahasiswa
Kristen terpaksa belajar tentang Islam nanti mereka akan merasa terganggu. Dia tidak
mau mahasiswa Kristen merasa marah dengan orang Islam karena terpaksa
melakukan sesuatu yang mereka tidak ingin melakukan.84 Waktu peneliti
menceritakan pengalaman mahasiswa Kristen di AIK dan agama Kristen dijelekkan,
80 Ibid.
81 Hasil wawancara dengan SP pada tanggal 12 April 2006.
82 Hasil wawancara dengan AS dan LA pada tanggal 15 April 2006.
83 Hasil wawancara dengan AN pada tanggal 12 April 2006.
84 Hasil wawancara dengan DI pada tanggal 5 April 2006.
52
satu mahasiswa dengan semangat mengucapkan “jangan sampai agama lain”.85
Menurut dia agama Islam tapi aliran berbeda dengan Muhammadiyah (Nahdlatul
Ulama) juga dijelekkan di kuliah AIK. Jadi menurut dia pelajaran AIK terkadang
tidak baik untuk semua mahasiswa, tidak hanya mahasiswa Kristen. Mahasiswa lain
mendorong ide ini. Menurut satu responden, AIK sebaiknya mata kuliah tambahan,
mata kuliah yang boleh dipilih tetapi tidak wajib untuk semua mahasiswa, baik
mahasiswa Kristen maupun mahasiswa Islam.86 Pendapat ini salah satu contoh
mahasiswa Islam merasa pelajaran di UMM penting untuk mendapat ilmu, bukan
untuk mendapat pengetahuan tentang agama.
Dapat dilihat hubungan antara orang Kristen dan Islam di kampus sangat baik.
Walaupun responden mahasiswa Islam sangat aktif dengan organisasi mahasiswa
Islam masing-masing, mereka juga merasa mahasiswa Kristen harus dihormati. Tidak
ada satupun responden yang mau menolak mahasiswa Kristen masuk ke kampus
UMM, semuanya merasa tidak masalah kalau berteman sama orang Kristen, menurut
mereka bukan agama yang penting tetapi kepribadian orangnya. Stereotip bahwa
orang Kristen dan Islam tidak bisa hidup bersama tanpa masalah atau saling
mencurigai tidak benar untuk konteks kampus UMM.
2.3. Komentar lain
Selain dua hal tersebut diatas, mahasiswa Islam memberi komentar-komentar
yang menarik tentang hubungan antaragama. Komentar ini berbagai macam tetapi
setiap komentar disebut dibawah ini untuk memperdalam pengetahuan tentang
hubungan antara mahasiswa Islam dan Kristen di kampus UMM.
85 Hasil wawancara dengan LL pada tanggal 8 April 2006.
86 Hasil wawancara dengan TA pada tanggal 11 April 2006.
53
Satu responden menjelaskan menurut dia di UMM tidak ada masalah antara
umat Islam dan Kristen karena masyarakat kampus berpendidikan sedangkan
masyarakat di luar kampus, khususnya di pinggiran kota atau di desa tidak begitu
terdidik. Dia merasa kebanyakan orang desa tidak memahami kehidupan atau
kebudayaan orang dengan agama lain. Oleh karena itu menurut dia mereka mudah
dipicu. Menurut dia kalau ada konflik biasanya konflik itu terjadi dengan orang yang
kurang berpendidikan dan kurang mengerti atau menghormati agama lain.87
Satu mahasiswa lain yang sangat aktif dengan organisasi mahasiswa Islam di
kampus mengucapkan walaupun mahasiswa Kristen boleh masuk ke kampus UMM
mereka harus ingat mereka di “tanah orang lain” jadi harus ikut peraturan kampus.
Dia juga mengatakan biasanya tidak ada masalah antaragama tetapi kalau orang
Kristen membikin masalah, kaum Islam akan menolak dan melawan mereka.
Misalnya kalau ada pelanggaran etika dari orang Kristen orang itu akan dilawan dan
ditolak.88
Dari pihak lain satu responden yang juga aktif dengan kegiatan mahasiswa
Islam di kampus mengekspresikan kesedihan bahwa Islam “didiskreditkan” di luar
negeri walaupun kebanyakan orang Islam ingin hidup “berdampingan” orang
Kristen.89 Dia menjelaskan sudah lama sekali orang Kristen hidup dengan orang Islam
secara damai dan hanya akhir-akhir ini konflik terjadi. Teman responden ini
menambah komentar dan mengatakan hanya kaum kecil sekali, orang yang “bisa
dikatakan ‘ekstrem’” yang mau membuat konflik sama orang Kristen.90 Menurut dua
mahasiswa ini stereotip tentang orang Islam menghancurkan hubungan baik antara
87 Hasil wawancara dengan RH pada tanggal 6 April 2006.
88 Hasil wawancara dengan AT pada tanggal 7 April 2006.
89 Hasil wawancara dengan AS dan LA pada tanggal 15 April 2006.
90 Ibid.
54
orang Islam dan Kristen dan menambah perasaan saling mencurigai satu pihak dan
pihak lain.
Dua responden lain merasa konflik antara masyarakat Islam dan Kristen pasti
tidak terjadi karena agama. Malah sebaliknya, menurut mereka agama mengajarkan
kebaikan bukan kejahatan. Menurut mereka yang memicu masalah adalah SARA, hal
ekonomi, politik dan etnis.91 Pendapat dari dua mahasiswa ini mendukung teori-teori
dari kalangan akademik tentang konflik di Indonesia. Arifin Assegaf dan Franz
Magnis-Suseno SJ92 dua penulis yang berpendapat konflik antara umat agama tidak
disebabkan oleh agama tetapi dari faktor lain – sejarah, ekonomi, politik dan masalah
SARA.93
Dari komentar ini hubungan antara mahasiswa Kristen dan Islam di kampus
UMM bisa lebih dalam dipahami. Mahasiswa Islam di UMM merasa berbeda dengan
mahasiswa Kristen dan terkadang merasa distereotipkan sebagai orang jahat walaupun
mereka ingin hubungan dengan mahasiswa Kristen baik. Menurut mahasiswa Islam
ini, tidak agama yang menyebabkan konflik tetapi pendidikan orang, kesalahpahaman
karena SARA dan masalah politik atau ekonomi.
2.4. Kesimpulan
Hasil penelitian dari wawancara dengan mahasiswa Islam di kampus UMM
menunjukkan mahasiswa Islam di kampus sangat aktif dengan kegiatan mahasiswa
Islam di kampus dan kebanyakan bisa dianggap taat. Mahasiswa Islam di kampus
tidak mendiskriminasikan mahasiswa Kristen. Mahasiswa Islam senang bergaul sama
orang Kristen asalkan pribadinya baik. Responden Islam mendukung orang Kristen
91 Hasil wawancara dengan AN pada tanggal 12 April dan DI pada tanggal 5 April 2006.
92 Assegaf, Memahami Sumber Konflik Antariman, op. cit. dan
Magnis-Suseno SJ, Kerukunan Beragama dalam Keragaman Agama, op. cit.
93 Hal ini dibahas dalam Bab II Kajian Pustaka.
55
masuk ke kampus UMM kalau mahasiswa Kristen tidak merasa terganggu dan
sebagian besar merasa mahasiswa Kristen seharusnya tidak diwajibkan masuk mata
kuliah AIK.
Jadi sterotip bahwa orang Kristen dan Islam tidak bisa hidup berdampingan
tidak benar kalau dilihat dari kampus UMM. Mahasiswa Islam senang berteman
dengan orang Kristen dan hubungannya baik. Dari pandangan responden Islam belum
pernah ada masalah antara orang Kristen dan Islam di kampus UMM.
56
BAB V
PENUTUP
1. Kesimpulan
Pada awalnya penelitian ini ada dua tujuan. Yang pertama ingin melihat
bagaimana hubungan antara umat Islam dan Kristen di Indonesia. Yang kedua ingin
menguji stereotip bahwa orang Kristen dan Islam tidak bisa hidup bersama tanpa
masalah.
Untuk mencapai tujuan ini, tujuh belas mahasiswa Kristen dan tujuh belas
mahasiswa Islam diwawancarai oleh peneliti di kampus Universitas Muhammadiyah
Malang. UMM dianggap tempat yang bagus untuk mencapai tujuan penelitian ini
karena UMM salah satu universitas Islam di Jawa Timur dengan mayoritas
mahasiswa Islam dan hanya minoritas mahasiswa Kristen. Dalam hal ini UMM
senada dengan Indonesia yang sebagian besar jumlah penduduknya mayoritas Islam
dan hanya minoritas yang Kristen.
Mahasiswa Kristen di kampus UMM diwawancarai tentang alasan mereka
belajar di kampus UMM sebagai kampus Islam, apa perasaan mereka tentang UMM
sebagai institusi, bagaimana hubungan mereka dengan mahasiswa Islam di kampus,
apakah imannya dipengaruhi karena masuk kampus Islam dan apa masalah yang
dihadapi sebagai mahasiswa Kristen di kampus UMM.
Mahasiswa Kristen ini mengungkapkan hubungan sama mahasiswa Islam baik
sekali. Mereka mempunyai banyak teman di kampus dan untuk kebanyakan
responden semua teman beragama Islam. Mahasiswa Kristen senang bergaul sama
orang Islam di kampus. Meskipun mahasiswa Kristen merasa hubungan dengan orang
Islam di kampus baik, mereka tetap menceritakan tentang beberapa masalah yang
sudah pernah terjadi di kampus. Masalah ini termasuk masalah dengan agama Kristen
57
dijelekkan waktu mata kuliah AIK; kewajiban memakai jilbab waktu Ramadhan atau
ujian akhir semester; dan kewajiban P2KK walaupun itu pada waktu Natal. Masalah
ini tidak dengan mahasiswa Islam tetapi dengan UMM dan peraturannya. Masalah
yang diucapkan dengan teman Islam adalah mahasiswa Kristen terkadang merasa
digoda karena agamanya berbeda atau didorong masuk agama Islam. Tetapi masalah
ini, dengan mahasiswa UMM hanya diceritakan oleh dua responden. Empat
responden mengatakan belum pernah mengalami masalah di kampus UMM.
Jadi walaupun mahasiswa Kristen menghadapi beberapa masalah di kampus
UMM, pada umumnya hubungan antara mahasiswa Kristen dan Islam di kampus, dari
pihak Kristen, baik. Dari pandangan ini stereotip bahwa orang Kristen dan Islam tidak
bisa hidup (atau dalam konteks ini belajar) berdampingan tanpa masalah tidak benar.
Supaya adil dan mahasiswa Islam diberi kesempatan untuk menekspresikan
diri sendiri tentang hal ini, tujuh belas mahasiswa Islam juga diwawancarai. Mereka
ditanyakan tentang imannya, kalau mereka merasa diri sendiri taat atau tidak, dan
juga ditanyakan menurut mereka bagaimana hubungan antara mahasiswa Islam dan
Kristen di kampus UMM.
Tidak semua mahasiswa Islam menganggap diri sendiri taat, malah ada yang
senang dianggap tidak taat. Akan tetapi, hampir semua mahasiswa Islam yang
diwawancarai oleh peneliti sudah pernah aktif dengan organisasi mahasiswa Islam di
kampus. Ketua dari tiga organisasi dan juga dua anggota komite organisasi Islam di
kampus diwawancarai oleh peneliti. Kalau stereotip bahwa orang Islam yang aktif
dengan agamanya tidak bisa bergaul atau hidup berdampingan orang Kristen benar,
pasti mahasiswa ini tidak senang bergaul sama mahasiswa Kristen di kampus.
Dari jawaban responden Islam, mereka memang bisa belajar dan hidup
bersama orang Kristen di kampus. Walaupun kebanyakan responden belum pernah
58
bertemu mahasiswa Kristen di kampus (karena jumlah mahasiswa Kristen sangat
kecil sekali), mereka tetap mendukung mahasiswa Kristen kalau mereka mau belajar
di UMM. Apalagi beberapa responden mengucapkan mahasiswa Kristen harus
menjaga keyakinannya dan seharusnya tidak diwajibkan masuk mata kuliah Al-Islam
Kemuhammadiyahan. Jadi sebagian besar mahasiswa Islam senang dengan
mahasiswa Kristen di kampus dan belum pernah mengalami masalah dengan
mahasiswa Kristen tersebut.
Yang jelas, hubungan antara orang Kristen dan Islam di kampus UMM baik.
Walaupun mahasiswa Kristen menghadapi beberapa masalah, masalah ini sangat jauh
dari konflik yang terjadi di Poso, Ambon, Maluku dan sebagainya. Stereotip bahwa
orang Kristen dan Islam tidak bisa hidup berdampingan tidak benar kalau dilihat dari
UMM. Di kampus ini, setiap hari mahasiswa Kristen dan Islam belajar bersama tanpa
konflik besar.
2. Rekomendasi Untuk Penelitian Kelanjutan
Masalah hubungan antaragama sangat penting untuk diteliti sekarang.
Penelitian ini hanya melihat hal ini dari pandangan sangat kecil dan terbatas – yaitu
dari pandangan mahasiswa di satu kampus Islam di Jawa Timur. Supaya pengetahuan
lebih dalam bisa didapat, penelitian kelanjutan bisa dilakukan oleh peneliti lain.
Menurut satu responden, penelitian sama sebaiknya dilakukan dengan
mahasiswa dari kampus lain di Malang dan dibandingkan. Dia merekomendasikan
Universitas Muhammadiyah Malang, Universitas Brawijaya, Universitas Islam Negeri
Malang dan Universitas Negeri Malang sebaiknya dibandingkan.94
94 Hasil wawancara dengan SA pada tanggal 5 April 2006.
59
Menurut peneliti, kampus-kampus di Malang memang harus dibandingkan
tetapi yang lebih penting lagi adalah perbandingan antara UMM dan kampus Kristen
yang mempunyai minoritas mahasiswa Islam. Kalau penelitian di kampus seperti ini,
yang sebaliknya dari UMM, bisa dilakukan kita bisa lebih dalam memahami
bagaimana hubungan antara mahasiswa Islam dan Kristen di Indonesia. Akan menarik
kalau bisa melihat masalah yang dihadapi oleh mahasiswa Islam yang minoritas di
kampus Kristen dengan mayoritas mahasiswa Kristen.
Penelitian yang mirip dengan ide ini adalah melihat bagaimana hubungan
antara mahasiswa Islam dan Kristen di kampus negeri yang tidak cenderung kepada
satu agama tetapi ada jumlah mahasiswa Islam dan Kristen yang dijadikan
pertimbangan. Kalau kampus seperti ini bisa diteliti, akan menarik untuk melihat
kalau hubungannya tetap baik atau hubungannya lebih buruk.
Satu perbandingan lagi bisa untuk membandingkan penelitian dalam laporan
ini dengan penelitian mirip tetapi di tempat lain. Yaitu kalau pertanyaan mirip
ditanyakan kepada orang di desa. Kalau satu desa dengan proporsi jumlah Kristen dan
Islam mirip dengan UMM bisa ditemukan, bisa melihat kalau pendidikan orang (yang
lebih rendah di desa) mempengaruhi hubungan antara umat agama.
Rekomendasi ini untuk peneliti lain yang mau memperdalam pengetahuan
tentang hubungan antara umat Kristen dan Islam di Indonesia, ataupun di dunia.
Kalau peneliti mau memeriksa hubungan ini dan juga konflik-konflik yang terjadi
mungkin bisa mulai dari rekomendasi ini.
3. Saran
Walaupun hubungan antara mahasiswa Kristen dan Islam di kampus UMM
sudah baik, sehingga hubungan bisa menjadi lebih baik lagi, mahasiswa Kristen harus
60
diberi kesempatan untuk mengekspresikan masalah-masalah mereka dengan UMM.
Juga akan bagus kalau mahasiswa Kristen dan Islam bisa sering berdiskusi tentang
agama masing-masing supaya mereka saling memahami agamanya pihak lain.
Pengalaman dan kehidupan mahasiswa Kristen di kampus UMM akan lebih baik lagi
kalau dosen AIK tidak menjelekkan agama lain, ataupun aliran lain dalam agama
Islam.
Saran terakhir adalah bahwa hubungan antara mahasiswa Kristen dan Islam di
UMM harus lebih dalam dipahami. Misalnya, penelitian kelanjutan bisa melihat
alasan-alasan hubungan antara mahasiswa Kristen dan Islam di kampus baik. Kalau
alasan ini bisa dipahami, konflik antara umat Kristen dan Islam di tempat lain di
Indonesia bisa lebih dalam dipahami. Kalau konflik ini bisa dipahami, mungkin cara
penyelesaian bisa ditemukan.
61
DAFTAR PUSTAKA
1. Dokumentasi
Alhadar, Smith The forgotten war in North Maluku, dalam Inside Indonesia, July-
September 2000, hal. 15-16.
Azra, Asyumardi Konflik Baru Antar Peradaban – Globalisasi, Radikalisme &
Pluralitas, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2002.
Budiman, Arief dkk (ed.) Reformasi – Crisis and Change in Indonesia, Monash Asia
Institute, Australia, 1999.
De, Kathryn Coughlin Christian-Muslim Dialogue in the Twentieth Century, dalam
Islam & Christian Muslim Relations, vol. 10, iss. 1, Maret 1999, hal. 85-87.
Devine, Miranda Wolves in sheep’s clothing on an extremist Islamic mission, dalam
Sydney Morning Herald, 23 April 2006, dilihat di www.smh.com.au pada tanggal 23
April 2006.
Downer: Dialog Agama Penting Saat Perdamaian Dunia Terancam, dalam KOMPAS,
6 Desember 2004, dilihat di www.kompas.co.id, pada tanggal 23 April 2006.
Fitzmaurice, Redmond Jesus and the Other Names: Christian mission and global
responsibility, dalam Islam & Christian Muslim Relations, vol. 9, iss. 1, Maret 1998,
hal. 122-3.
Fuller Collins, Elizabeth Indonesia: A Violent Culture?, dalam Asian Survey, vol. 42,
no. 4, The Legacy of Violence in Indonesia, (Jul. – Agu., 2002), hal. 582-604.
Gusti, Otto Agama, Ilmu Pengetahuan dan Commonsense, dalam Jaringan Islam
Liberal, 2 Oktober 2003, dilihat di www.islamlib.com pada tanggal 23 April 2006.
Husein, Fatimah Muslim-Christian Relations in the New Order Indonesia – The
Exclusivist and Inclusivist Muslims’ Perspectives, Mizan Pustaka, Bandung, 2005.
International Crisis Group, Decentralisation and Conflict in Indonesia: The Mamasa
Case (Overview), dalam Asia Briefing no. 37, May 2005, dilihat di
www.crisisweb.org pada tanggal 23 April 2006.
International Crisis Group, Indonesia Backgrounder: Jihad in Central Sulawesi, dalam
Asia Report, no. 74, 3 Februari 2004, hal. 1-42.
International Crisis Group, Indonesia: Managing Decentralisation and Conflict in
South Sulawesi (Executive Summary and Recommendations), dalam Asia Report no.
60, July 2003, dilihat di www.crisisweb.org pada tanggal 23 April 2006.
International Crisis Group, Indonesia: Violence Erupts Again in Ambon, dalam Asia
Briefing, 17 May 2004, hal. 1-12.
62
International Crisis Group, Weakening Indonesia’a Mujahidin Networks: Lessons
from Maluku and Poso, dalam Asia Report, no. 103, 13 Oktober 2005, hal. 1-35.
IRIP News Service Why Flores?, dalam Inside Indonesia, December 1995, hal. 8-10.
Jawa Timur Dalam Angka 2005, BPS Propinsi Jawa Timur, Jawa Timur, 2005.
Moore, Kathleen M dan Pelletier, Stephen R Weaving new fabric: The challenge of
immigration for Muslim-Christian relations, vol. 10, iss. 2, Juli 1999, hal. 177-197.
Mortimer, Edward Christianity and Islam, dalam International Affairs (Royal Institute
of International Affairs 1944-), vol. 67, no. 1, (Jan., 1991), hal. 7-13.
Nasr, Seyyed Hossein Islamic-Christian dialogue: Problems and obstacles to be
pondered and overcome, dalam Islam & Christian Muslim Relations, vol. 11, iss. 2,
July 2000, hal. 213-228.
Novriantoni, Revisi SKB dan Intoleransi Beragama, dalam Jaringan Islam Liberal, 27
Maret 2006, dilihat di www.islamlib.com pada tanggal 23 April 2006.
Payne, Tony Islam in Our Backyard: A Novel Argument, Matthias Media, Kingsford,
Australia, 2002.
Pradityo, Sapto UU Kerukunan Umat Beragama Tidak Diperlukan, dalam Tempo
Interaktif, 2 Desember 2003, dilihat di www.tempointeraktif.com pada tanggal 23
April 2006.
Rae, Pauline Christian-Muslim Relations, dalam Compass:A Review of Topical
Theology, vol. 36, no. 1, 2002, hal. 403-416.
Rekapitulasi Mahasaiswa Yang Telah Her-Registrasi, Semester Genap Tahun
Akademik 2005/2006 (Berdasarkan hasil entry KRS-Online), Sumber: Bagian
Adiminstrasi Akademik, Universitas Muhammadiyah Malang.
Ricklefs, M. C., A History of Modern Indonesia since c. 1200, Palgrave, Hampshire,
2001.
Sepakat Tingkatkan Dialog, dalam Jawa Pos, Sabtu 8 April 2006, hal 2.
Sheehan, Paul God v God in the new global war, dalam Sydney Morning Herald, 13
Maret 2006, dilihat di www.smh.com.au pada tanggal 13 Maret 2006.
Sinaga, Martin Lukito Pembaruan Islam di Indonesia: Pandangan Kristen dalam
Jaringan Islam Liberal, 3 April 2006, dilihat di www.islamlib.com pada tanggal 23
April 2006.
Sumartana, Th. dkk Pluralisme, Konflik & Pendidikan Agama di Indonesia Institut
DIAN, Yogyakarta, 2005.
63
Taji-Farouki, Suha Muslim-Christian cooperation in the twenty-first century: Some
global challenges and strategic responses, dalam Islam & Christian Muslim Relations,
vol. 11, iss. 2, Juli 2000, hal 167-194.
van Akkeren, Philip Sri and Christ - A Study of the Indigenous Church in East Java,
Lutterworth Press, London, 1970.
van Klinken, Gerry What caused the Ambon violence?, dalam Inside Indonesia,
October-December 1999, hal. 15-16.
Waardenburg, Jacques Muslims and Christians: Changing Identities, dalam Islam &
Christian Muslim Relations, vol. 11, iss. 2, Juli 2000, hal. 149-163.
Wasim, Alef Theria dan Mas’ud, Abdurrahman dkk (eds.) Harmoni Kehidupan
Beragama: Problem, Praktik & Pendidikan, Oasis Publisher, Yogyakarta, 2005.
Yang diperlukan adalah Dialog, Tajuk, Opini, Republika, 13 Maret 2006, hal. 4.
2. Wawancara
Untuk keamanan dan kebebasan pribadi responden peneliti memakai inisial saja untuk
semua mahasiswa yang diwawancarai.95
Responden Kristen dari luar kampus UMM
Wawancara dengan SY pada tanggal 4 Maret 2006 setelah ibadah gereja.
Wawancara kedua dengan SY pada tanggal 9 Maret 2006 di Malang Town Square.
Responden Islam dari luar kampus UMM
Wawancara dengan Muchammad Fahazza (wakil dari Forum Komunikasi Antar Umat
Beragama) pada tanggal 4 Mei 2006 di Jl. Jaksa Agung Suprapto 12.
Responden Kristen yang mahasiswa UMM
Wawancara dengan DM pada tanggal 13 Maret 2006 di kampus UMM.
Wawancara dengan MM pada tanggal 13 Maret 2006 di kampus UMM.
Wawancara dengan N pada tanggal 14 Maret 2006 di kampus UMM.
Wawancara dengan DC pada tanggal 14 Maret 2006 di kampus UMM.
Wawancara dengan YJ pada tanggal 15 Maret 2006 di kampus UMM.
Wawancara dengan GN pada tanggal 15 Maret 2006 di kampus UMM.
Wawancara dengan ER pada tanggal 16 Maret 2006 di kampus UMM.
Wawancara dengan IF pada tanggal 16 Maret 2006 di Malang Town Square.
95 Pak Muchammad Fahazza memperbolehkan peneliti memakai nama lengkapnya.
64
Wawancara dengan EK pada tanggal 18 Maret 2006 di kampus UMM.
Wawancara dengan WU pada tanggal 18 Maret 2006 di kampus UMM.
Wawancara dengan TY pada tanggal 20 Maret 2006 di kampus UMM.
Wawancara dengan TH pada tanggal 20 Maret 2006 di kampus UMM.
Wawancara dengan RJ pada tanggal 21 Maret 2006 di kampus UMM.
Wawancara dengan KK pada tanggal 21 Maret 2006 di kampus UMM.
Wawancara dengan AW pada tanggal 22 Maret 2006 di kampus UMM.
Wawancara dengan FP pada tanggal 23 Maret 2006 di kampus UMM.
Wawancara dengan LN pada tanggal 23 Maret 2006 di kampus UMM.
Responden Islam yang mahasiswa UMM
Wawancara dengan SA pada tanggal 5 April 2006 di kampus UMM.
Wawancara dengan DI pada tanggal 5 April 2006 di kampus UMM.
Wawancara dengan GI pada tanggal 6 April 2006 di kampus UMM.
Wawancara dengan RH pada tanggal 6 April 2006 di kampus UMM.
Wawancara dengan AT pada tanggal 7 April 2006 di kampus UMM.
Wawancara kedua dengan RH pada tanggal 8 April 2006 di kos RH.
Wawancara dengan LL pada tanggal 8 April 2006 di kos LL.
Wawancara dengan TA pada tanggal 11 April 2006 di kos TA.
Wawancara dengan RW pada tanggal 11 April 2006 di kos TA.
Wawancara dengan RE pada tanggal 11 April 2006 di kos TA.
Wawancara dengan LI pada tanggal 11 April 2006 di kos TA.
Wawancara dengan SP pada tanggal 11 April 2006 waktu jalan-jalan.
Wawancara kedua dengan SP pada tanggal 12 April 2006 di kampus UMM.
Wawancara dengan GW pada tanggal 12 April 2006 di kampus UMM.
Wawancara dengan DK pada tanggal 12 April 2006 di kampus UMM.
Wawancara dengan ID pada tanggal 12 April 2006 di kampus UMM.
Wawancara dengan AN pada tanggal 12 April 2006 di kampus UMM.
Wawancara dengan AS pada tanggal 15 April 2006 di kampus UMM.
Wawancara dengan LA pada tanggal 15 April 2006 di kampus UMM.
65
LAMPIRAN 1
Pertanyaan Yang Ditanya Kepada Responden Kristen
1. Agama Anda apa? Protestan atau Katolik?
2. Ikut gereja mana?
3. Ikut gereja berapa kali seminggu? Kapan?
4. Mengapa ikut gereja?
5. Sehari-hari, Anda paling sering bertemu orang Islam di mana?
6. Mengapa Anda masuk Universitas Muhammadiyah Malang? Sengaja atau
tidak sengaja? Anda memilih sendiri atau tidak?
7. Kesan atau perasaan Anda apa waktu baru mau masuk UMM?
8. Keuntungan apa? Kekurangan apa?
9. Bagaimana hubungan Anda dengan orang Islam?
10. Berapa banyaknya teman-teman Islam Anda?
11. Anda lebih senang bergaul dengan orang yang beragama Islam atau Kristen?
Mengapa?
12. Apakah Anda berani berbicara tentang kepercayaan dan iman Anda dengan
orang Islam?
13. Dalam cara apa Anda dipengaruhi oleh teman-teman Islam? Anda sudah
pernah merasa tertarik tentang Islam atau mau ikut agama Islam?
14. Dalam cara apa iman Anda diperkuat atau diperlemah karena Anda masuk
UMM?
15. Sehari-hari Anda menghadapi masalah apa di UMM, di kos atau di tempat
lain?
16. Apakah Anda sudah pernah mengalami diskriminasi atau pengalaman lain
yang buruk? Tolong menceritakan pengalaman Anda.
17. Bagaimana cara masuk ke UMM? Sama dengan mahasiswa Islam atau ada
cara khusus karena agama Anda berbeda?
18. Apakah Anda merasa keberatan atau terganggu kalau di upacara atau
matakuliah cenderung ke Islam, misalnya “Assalamwalaikum”?
19. (a) (Pertanyaan ini khusus untuk perempuan) Bagaimana perasaan Anda
karena tidak memakai jilbab di kampus?
(b) (Pertanyaan ini khusus untuk laki-laki) Bagaimana perasaan Anda waktu
Jumatan dan semua teman ke Mesjid?
20. Sebelum masuk kuliah apakah Anda aktif di gereja? Dan sekarang?
66
21. Apakah sudah pernah ada dosen bertanya langsung kepada Anda karena
agamanya berbeda?
22. Apakah Anda ada komentar atau cerita lain sebagai orang Kristen di kampus
UMM?
67
LAMPIRAN 2
Angket Responden Kristen
1. Nama Lengkap:
2. Jenis kelamin: laki-laki / perempuan
3. Umur:
4. Asalnya:
5. Alamat:
6. Agama:
7. Bapak bekerja sebagai:
8. Ibu bekerja sebagai:
9. Saudara berapa:
10. Sudah menikah atau belum:
11. Belajar
- di mana:
- jurusan apa:
- semester berapa:
68
LAMPIRAN 3
Pertanyaan Yang Ditanya Kepada Responden Islam
1. Agama Anda apa? Aliran apa?
2. Aktif di mesjid kampus UMM atau tidak?
3. Apakah Anda menanggap diri sendiri taat atau tidak?
4. Apakah Anda anggota organisasi mahasiswa Islam? Mengapa Anda ikut
organisasi itu?
5. Berapa banyaknya teman yang beragama Kristen?
6. Bagaimana hubungan Anda dengan orang yang beragama Kristen?
7. Apakah Anda lebih senang bergaul sama orang Islam atau orang Kristen?
8. Kalau di kampus UMM, apakah Anda memperkirakan ada mahasiswa Kristen
atau tidak?
9. Sebetulnya, ada beberapa orang Kristen yang masuk ke UMM, apakah Anda
sadar atau tidak?
10. Apa menurut Anda tentang mahasiswa Kristen yang masuk ke UMM?
11. Menurut Anda, apakah mahasiswa ini sebaiknya diperbolehkan masuk UMM
atau tidak?
12. Anda sudah mengalami apa dengan orang Kristen di kampus?
13. Apakah Anda sudah pernah mengalami masalah dengan orang Kristen?
14. Menurut Anda orang Kristen di kampus harus menyesuaikan diri dengan cara
Islam di kampus atau mereka sebaiknya tetap melakukan cara agama mereka
sendiri?
15. Mahasiswa Kristen di kampus harus ikut AIK. Menurut Anda apa tentang ini?
Bagus atau tidak mereka ikut AIK?
16. Apakah Anda sering berbicara dengan teman Islam tentang agama? Dengan
teman Kristen?
17. Kalau mempunyai teman Kristen
a. Apakah Anda ingin menyebarkan agama Islam kepada mereka?
b. Apakah Anda dipengaruhi oleh mereka?
c. Apakah iman Anda diperlemah atau diperkuat karena bergaul sama
orang Kristen?
69
LAMPIRAN 4
Angket Responden Islam
1. Nama:
2. Jenis kelamin: laki-laki / perempuan
3. Umur:
4. Asalnya:
5. Alamat:
6. Agama:
7. Agama bapak apa:
8. Agama ibu apa:
9. Bapak bekerja sebagai:
10. Ibu bekerja sebagai:
11. Saudara berapa:
12. Sudah menikah atau belum:
Pelajaran
13. Belajar
- di mana:
- jurusan apa:
- semester berapa:
70
LAMPIRAN 5
Surat Permohonan Ijin Penelitian

_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+__+_+_+_+_+_+_+_+

189 ANALISIS, TAHUN II, NOMOR 3 Januari 2001
PARTISIPASI KELOMPOK SOSIAL
DAN PERBAIKAN LINGKUNGAN
PERMUKIMAN MASYARAKAT PINGGIRAN
KOTA MANADO
RUDDY ALFREDS TOMPUNU *
ABSTRACT
The result of this study shows that the participation of social group members
for the improvement of environment has not been realized yet, meaning that
most of the social group members rarely participate in the activity. While the
other party in increasing participation of social group members, it was really
effect by leadership factor, value and norm, status and role as well as public
interest. Furthermore, one of the weaknesses found in this research is the
awareness level of the members is still low. The participation level of social
group members between religious group and harmonius group was
significant difference, in effort to improve residential environment of
marginal community in Manado municipality.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Masalah penduduk di wilayah perkotaan
khususnya di pinggiran kota telah membawa
konsekuensi dan polemik yang sangat urgen
khususnya dalam pembangunan yang
berwawasan lingkungan, akibat berkembangya
masyarakat yang ditandai dengan timbulnya
berbagai kelompok sosial.
Dengan berbagai aktivitas yang diwujudkan
kelompok sosial sangat dituntut adanya
pola tindakan yang mampu mencerminkan
keterlibatan atas semua aspek dalam organisasi
(Zeitlin, 1995).
Sehubungan dengan berkembangnya kelompok
sosial dalam masyarakat telah
menimbulkan konsekuensi logis yang cukup
___________________
* Staf pengajar IKIP Negeri Manado.
penting melalui pola partisipasi perbaikan
lingkungan. Hal ini tidak dapat diantisipasi
melalui program kelompok masyarakat dimana
pimpinan maupun anggota sebagai faktor yang
turut menentukan dalam peningkatan partisipasinya
terhadap perbaikan lingkungan. Karena
akhir-akir ini nampak kesenjangan sosial yang
mempengaruhi kesejahteraan masyarakat
akibat lingkungan yang kurang sehat, seperti
jalanan yang sering menampung air hujan,
sampah tidak terpusat, selokan yang banyak
menampung sampah, sementara sikap dan
kemauan kelompok untuk ikut peduli terhadap
lingkungan melalui sumbangan uang, ide/
tenaga masih rendah. Hal ini merupakan
masalah bagi masyarakat sehingga masyaraat
semakin ditantang untuk mengatasi ketimpangan
yang timbul. Karena itu peran manusia
sangat menentukan, khususnya pelibatan
organisasi sosial. Hal ini ditegaskan oleh
Koesnadi (1994) bahawa dalam rangka
perbaikan lingkungan pemukiman perlu
190 ANALISIS, TAHUN II, NOMOR 3 Januari 2001
diupayakan peran serta lembaga masyarakat
yang lebih efektif.
Bertolak dari pokok pikiran di atas, maka
dapat dinyatakan bahwa persoalan dalam
penelitian ini ialah bagaimana bentuk, tingkat
partisipasi serta faktor-faktor yang turut
mempengaruhi anggota kelompok sosial dalam
perbaikan lingkungan. Faktor-faktor yang
dimaksud sebagai upaya pendekatan sosiologis
antara lain, kepemimpinan, nilai dan norma,
status dan peranserta kepentingan bersama
yang diduga sangat berpengaruh terhadap
tingkat partisipasi. Dilain pihak dapat ditelusuri
bahwa bentuk serta tingkat partisipasi dan
perbedaan antara kelompok agama dan
kerukunan merupakan salah satu faktor yang
cukup penting dalam memahami keikutsertaan
kelompok dalam perbaikan lingkungan.
Perumusan Masalah
Dengan melihat berbagai masalah yang
timbul dalam lingkungan permukiman
masyarakat pinggiran kota Manado, dapatlah
dikemukakan beberapa rumusan masalah
sebagai berikut:
1. Bagaimana partisipasi anggota kelompok
sosial, dalam upaya perbaikan lingkungan
permukiman masyarakat pingiran kota
Manado.
2. Faktor-faktor apakah yang mempengaruhi
tingkat partisipasi anggota kelompok
sosial dalam perbaikan lingkungan.
3. Apakah yang menjadi kendala anggota
kelompok sosial dalam perbaikan lingkungan
permukiman masyarakat.
4. Bagaimana perbedaan tingkat partisipasi
antara kelompok agama dan kelompok
sosial dalam perbaikan lingkungan
permukiman.
5. Bagaimana pengaruh kepemimpinan, nilai
dan norma, status dan peran serta
kepentingan bersama antara kelompok
agama dan kerukunan dalam perbaikan
lingkungan permukiman masyarakat
pinggiran kota Manado.
Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Tujuan Penelitian
a. Untuk mengetahui bagaimana partisipasi
anggota kelompok sosial dalam upaya
perbaikan lingkungan permukiman
masyarakat pinggiran kota Manado.
b. Untuk mengetahui faktor-faktor yang
mempengaruhi tingkat partisipasi anggota
kelompok sosial serta kendala yang
dihadapi dalam upaya perbaikan
lingkungan permukiman.
c. Untuk mengetahui tingkat partisipasi
antara kelompok agama dan kelompok
kerukunan dalam perbaikan lingkungan
permukiman.
d. Untuk mengetahui perbedaan pengaruh
kepemimpinan nilai dan norma, status dan
peranserta kepentingn bersama antara
kelompok dan kelompok kerukunan dalam
perbaikan lingkungan permukiman.
2. Kegunaan Penelitian
a. Memberi masukan kepada pemerintah
Kotamadya Tingkat II Manado di dalam
penentuan strategi untuk meningkatkan
motivasi serta semangat kerja anggota
kelompok sosial dalam rangka perbaikan
lingkungan permukiman.
b. Untuk dijadikan dasar pemikiran dalam
penyusunan strategi yang berwawasan
lingkungan.
c. Pihak lain yang ingin meneliti lebih lanjut
serta berguna sebagai bahan dan informasi
dalam rangka pengembangan ilmu
pengetahuan.
METODE PENELITIAN
Metode
Metode yang digunakan adalah penelitian
survei dengan tipe explanatory.
Lokasi Penelitian
Penelitian ini berlokasi di daerah pinggiran
kota Manado, khususnya masyarakat yang
berdomisili dalam wilayah kecamatan Sario
191 ANALISIS, TAHUN II, NOMOR 3 Januari 2001
dan kecamatan Wenang yaitu kelurahan Teling
dan Banjer/Taas.
Populasi dan Sampel
Populasi
Yang menjadi populasi dalam penelitian
ini adalah anggota kelompok sosial yang
terbesar dalam 5 wilayah kelurahan yang
berada di pinggiran kota Manado.
Sampel
Penentuan sampel digunakan multi stage
cluster sample (Arikuto, 1991), dengan menentukan
dua wilayah kelurahan dari 5 wilayah
secara purposive yaitu; kelurahan Teling Atas
dan Tikala Baru/Taas.
Dari kedua wilayah tersebut ditarik sampel
sebanyak 90 responden, di mana 40 responden
dari anggota kelompok agama secara acak dan
untuk 50 responden ditentukan secara
purposive sampling pada kelompok rukun
gotong royong dan rukun pinaesaan. Jadi
jumlah unit analisis anggota kelompok sosial
sebesar 90 orang.
Jenis dan sumber data
Jenis data yang dikumpulkkan adalah data
primer dan data sekunder. Data primer
diperoleh dari responden sedangkan data
sekunder diperoleh melalui dokumentasi pada
instansi terkait seperti kantor kelurahan dan
kantor statistik Kodya Manado.
Teknik pengumpulan data/analisis data
Teknik yang digunakan dalam penelitian
ini adalah kuisioner, wawancara, dan observasi
dengan menggunakan analisis tabel silang,
regresi multipel dan t test.
Variabel penelitian
Dalam penelitian ini terdapat 2 variabel
yang terdiri atas variabel independent/bebas
(X) dan variabel dependent/terikat (Y).
variabel X adalah partisipasi anggota
kelompok sosial sedangkan variabel Y adalah
perbaikan lingkungan permukiman.
Untuk variabel X terdiri dari X1 adalah
kepemimpinan, X2 adalah nilai dan norma, X3
adalah status dan peran, X4 adalah faktor
kepentingan bersama. Sedangkan untuk variabel
Y adalah tingkat partisipasi anggota
kelompok sosial.
HASIL PENELITIAN
Krakteristik Responden
Tingkat pendidikan
Frekuensi tingkat pendidikann anggota
kelompok sosial sebagian besar adalah tamat
SMU sederajat (46%). Hal ini dikategorikan
sedang.
Jenis pekerjaan
Jenis pekerjaan anggota kelompok sosial
sangat bervariasi dan heterogen. Responden
pada umumnya bekerja di sektor pemerintah
(43.33%) dan swasta (43.33%).
Tingkat Pendapatan
Sebagian besar responden memiliki
pendapatan berkisar antara Rp. 251.000 – Rp.
500.000 (50%, sedangkan yang berpendapatan
Rp. 750.000 – ke atas hanya 5.55%
Status tempat tinggal
Sebagian besar anggota kelompok sosial
memiliki tempat tinggal dalam bentuk
sederhana yang terbuat dari papan dan bambu
(36.67%), sementara 14.40% memiliki rumah
dalam bentuk darurat.
Partisipasi anggota kelompok sosial
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
tingkat partisipasi anggota kelompok sosial
terhadap perbaikan rumah, dan partisipasi
dalam bentuk sumbangan uang dapat
dikategorikan sedang dengan tingkat
persentase masing-masing. Rumah (64.44%),
jalan (64.45%), selokan/drainase (61.11%).
pengelolaan sampah (60.00%) bentuk
sumbangan uang (64.44%), sementara bentuk
192 ANALISIS, TAHUN II, NOMOR 3 Januari 2001
ide/pikiran dapat dikategorikan rendah
(67.67%).
Faktor-faktor yang mempengaruhi
partisipasi
Berdasarkan hasil penelitian dengan
menggunakan analisis SPSS reliase 6.0 for
windows bahwa hasil uji F=23.95 dengan
tingkat kepercayaan 0.05% diperoleh F=3.58
dengan prob. 0.000 ternyata jauh lebih besar F
tabel. Jika dilihat secara menyeluruh bahwa
regresi linier multiple bersifat nyata dan regresi
Y=1.95+0.37X1+0.16X2+0.18X3+0.29X4. Ini
berarti dapat digunakan untuk memprediksi
rata-rata Y apabila X1,X2,,X3 dan X4
diketahui.
Untuk melihat pengaruh variabel (x)
terhadap variabel terikat (Y) dapat dilihat pada
hasil perhitungan dibawah ini:
1. pengaruh kepemimpinan kelompok
terhadap tingkat partisipasi anggota dalam
perbaikan lingkungan.
2. Pengaruh nilai dan norma terhadap tingkat
partisipasi anggota kelompok sosial dalam
perbaikan lingkungan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
berdasarkan perhitungan koefisien korelasi
sebesar 0.5066 dengan prob. 1.000,
sedangkan nilai t hit 2.006 lebih besar dari
t tab. 1.67 pada taraf kepercayaan 0.05.
Dari hasil perhitungan sederhana melalui
persamaan Y=198+0.18 X dengan tingkat
kekeliruan 1.29 menunjukkan adanya
perubahan yang terjadi pada Y sangat
tergantung pada perubahan yang terjadi
pada nilai X.
3. Pengaruh status dan peran terhadap tingkat
partisipasi anggota kelompok sosial dalam
perbaikan lingkungan.
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan
bahwa hasil T hit 2.094 lebih besar dar t
tab 1.67 pada taraf kepercayaan 0.05
menggambarkan suatu pengaruh yang
kuat. Hasil koefisien korelasi adalah cukup
tinggi dengan nilai 0.52 pada tingkat
probabilitas 1.000. Berdasarkan hasil perhitungan
sederhana melalui Y=98+0.16X
dengan tingkat kekeliruan 1.29
menunjukkan bahwa perubahan nilai Y
sangat tergantung pada perubahan X.
4. Pengaruh kepentingan bersama terhadap
tingkat partisipasi anggota kelompok
sosial dalam lingkungan permukiman.
Berdasarkan hasil perhitungan koefisien
korelasi sebesar 0.5337 dengan tingkat
probabilitas 0.000. secara statistik
hipotesis diterima karena hasil pengujian
menunjukkan t hit 3.13 lebih besar dari t
tab 1.67 pada tingkat signifikan 0.0024.
Berdasarkan hasil perhitungan sederhana
melalui persamaan Y=1.98+0.3X dengan
tingkat kekeliruan 1.29 menunjukkan
bahwa perubahan pada nilai X. Dengan
demikian dapat dikatakan bahwa
perubahan yang terjadi pada tingkat
partisipasi anggota kelompok sangat
tergantung pada perubahan yang terjadi
pada kepentingann bersama.
Kendala
Hasil penelitian menunjukkan tingkat
kesadaran anggota kelompok sosial
dikategorikan rendah dengan frekuensi 66.67%
sementara tingkat partisipasi dikategorikan
(61.11%). Dengan demikian semakin tinggi
tingkat kesadaran, semakin tinggi pula
partisipasi perbaikan lingkungan. Demikian
sebaliknya, bahwa semakin rendah tingkat
kesadaran anggota semakin rendah pula tingkat
partisipasi anggota kelompok dalam perbaikan
lingkungan.
Perbedaan tingkat partisipasi
Antara kelompok agama dan kelompok
kerukunan terdapat perbedaan tingkat partisipasi
dalam perbaikan lingkungan. Perbedaan
dimaksud dapat dilihat:
1. Perbaikan rumah
Kelompok agama dikategorikan sedang
(37.50%) sedangkan kelompok kerukunan
termasuk rendah (50%).
193 ANALISIS, TAHUN II, NOMOR 3 Januari 2001
2. Perbaikan jalan
Kelompok agama dapat dikategorikan
tinggi (50%), sedangkan kelompok kerukunan
dikategorikan rendah (40%).
3. Perbaikan drainase
Kelompok agama dikategorikan rendah
(75%), sedangkan kelompok kerukunan
sebesar 50% dalam kategori sedang.
4. Pengelolaan sampah
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
kelompok agama dikategorikan rendah
(50%) sedangkan kelompok kerukunan
dikategorikan tinggi (60%)
5. Sumbangan usaha/materi
Kelompok agama menunjukkan 37%
dalam kategori sedang, dan kelompok
kerukunan dapat dikategorikan rendah
(36%).
6. Sumbangan pikiran/ide
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
kelompok agama 50% (tinggi) sedangkan
kelompok kerukunan rendah (46%)
F. Perbedaan Pengaruh
1. Faktor kepemimpinan kelompok
Hasil perhitungan yang diperoleh sebesar
0.035, menunjukkan adanya pengaruh
yang sangat kecil baik kelompok agama
maupun kelompok kerukunan. Dengan
mengkonsultasikan pada harga kritik
ternyata hasil perhitungan t=0.035 jauh
lebih kecil dari harga kritik. Dengan
demikian antara kepemimpinan kelompok
agama dan kelompok kerukunan tidak
terdapat perbedaan yang berarti, terutama
pengaruhnya terhadap perbaikan
lingkung-an permukiman.
2. Nilai
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa
nilai dan norma yang diterapkan oleh
kelompok kerukunan tidak terdapat
pengaruh yang perhitungan t = 0.006
adalah jauh lebih kecil dari harga kritik,
baik pada taraf kepercayaan 95% maupun
pada taraf kepercayaan 99%.
3. Status dan Peran
Hasil perhitungan dengan rumus yang
digunakan menunjukkan nilai sebesar
0.00, dimana hasil ini menunjukkan
adanya pengaruh yang sangat kecil. Bila
dikonsultasikan pada harga kritik pada
taraf kepercayaan 95% maupun pada taraf
99%. Dengan demikian status dan peran
tidak terdapat pengaruh yang berbeda
antara kelompok agama dan kerukunan
dalam perbaikan lingkungan.
4. Kepentingan bersama
Dari hasil perhitungan diperoleh bahwa t =
0.006 menunjukkan suatu pengaruh yang tidak
berbeda antara kelompok agama dan kelompok
kerukunan dalam lingkungan. Bila dikonsultasikan
pada harga kritik, ternyata hasil
perhitungan t = 0.006 adalah jauh lebih kecil
dari pada harga kritik pada taraf 95% maupun
pada taraf 99%
PEMBAHASAN
Partisipasi anggota kelompok sosial
Berdasarkan hasil penelitian, dapat
dipahami bahwa partisipasi anggota kelompok
sosial dalam perbaikan rumah, jalanan, selokan
drainase, pengelolaan sampah masih jauh dari
harapan, karena sebagain besar kegiatan
kelompok tidak terfokus pada faktor
lingkungan namun hanya mengarah pada
kegiatan kelompok itu sendiri, misalnya
kegiatan arisan mapalus uang. Akhirnya dalam
menerapkan sikap dan perilakunya terhadap
lingkungan dalam rangka menciptakan adanya
keserasian, akan menghalangi peningkatan
kualitas lingkungan hidup (Abdulsyani, 1994).
Demikian pula dengan faktor sumbangan
uang dan sumbangan pikiran belum dapat
dijadikan sebagai faktor yang turut
memberikan motivasi anggota dalam
partisipasinya terhadap perbaikan lingkungan,
karena pada hakekatnya segala pola pikiran
yang dituangkan dalam anggota tidak sematamata
untuk perbaikan lingkungan hidup, tetapi
hanya kepentingan pribadi. Hal inilah yang
mengakibatkan tingkat partisipasi anggota
194 ANALISIS, TAHUN II, NOMOR 3 Januari 2001
kelompok sosial belum memberi wujud nyata,
pada hal secara sosiologis semua anggota
memiliki sikap dan kemauan untuk melakukan
tindakan yang dapat memberikan kontribusi
yang cukup tinggi terhadap perbaikan
lingkungan sekitar.
Faktor-faktor yang mempengaruhi
partisipasi
Berdasarkan temuan penelitian dapat
dipahami bahwa partisipasi anggota kelompok
sosial dalam upaya perbaikan lingkungan
permukiman ternyata sangat dipengaruhi oleh
kepemimpinan, nilai/norma , status peran serta
kepentingan bersama. Hal ini dibuktian dengan
hasil koefisien korelasi multiple sebesar 0.72.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa
hubungan varibel dapat terukur dari tingkat
signifikansinya hasil korelasi. Kemudian untuk
mengetahui besarnya pengaruh variabel
tersebut dapat ditafsirkan melalui uji koefisien
diterminasi sebesar 0.52 atau 52%.
Hal ini menunjukkan bahwa tingkat
partisipasi anggota kelompok sosial dalam
upaya perbaikan lingkungan permukiman 52%
dipengaruhi oleh kepemimpinan, nilai dan
norma, status dan peran serta kepentingan
bersama, sedangkan sisanya 48% diakibatkan
oleh faktor lain yang tidak diungkapkan dalam
penelitian ini.
Kendala
Yang menjadi kendala bagi anggota
kelompok sosial dalam peningkatan
partisipasinya terhadap perbaikan lingkungan
permukiman, tidak lain karena kesadaran
anggota kelompok sekaligus sebagai anggota
masyarakat dalam kepeduliannya terhadap
lingkungan masih rendah. Ini diakibatkan
pimpinan kurang memberikan motivasi
terhadap persoalan lingkungan Semua aktivitas
kelompok terfokus pada kegiatan ibadah
maupun arisan atau melawat orang sakit. Jadi
timbulnya partisipasi hanya karena terpaksa
atau sekedar memperlihatkan adanya sikap
toleransi satu dengan lainnya.
Perbedaan tingkat partisipasi
Timbulnya perbedaan tingkat partisipasi
kedua kelompok sosial yang menjadi sasaran
penelitian diakibatkan karena berbagai pola
tindakan sosial yang berbeda prinsip yang
diwujudkan dalam bermasyarakat. Ini ditandai
dengan kemampuan yang berbeda-beda,
karena status/kedudukan yang dimiliki, tingkat
pendidikan, wawasan pengetahuan tentang
pembangunan yang berwawasan lingkungan
tidak dimiliki oleh setiap anggota kelompok.
Disamping itu faktor kesempatan dan
kamampuan yang nampaknya selalu didasar
kan atas situasi dan kondisi masing-masing
anggota, hanya terbatas pada hubungan kerabat
antara sesama anggota atau antar tetangga satu
dengan lainnya.
Perbedaan pengaruh
Berdasarkan hasil uji statistik diperoleh
gambaran bahwa aspek yang ditampilkan
dalam kedua kelompok sosial sebagai sasaran
penelitian ternyata tidak menggambarkan
adanya perbedaan. Dalam arti, kepemimpinan,
nilai dan norma, status dan peran, serta
kepentingan bersama menunjukkan pengaruh
yang sangat kecil pada kedua kelompok
tersebut. Hal ini dapat dipahami bahwa dalam
memanfaatkan sesuatu tidak selamanya
didominasi oleh satu kelompok saja, namun
dalam kenyataannya bahwa sikap untuk
memiliki secara bersama telah menjadi
kebiasaan masyarakat pinggiran. Disamping itu
sistem sosial kemasyarakatan pada kelompok
sosial di pinggiran kota terlalu nampak adanya
prinsip tidak memihak kelompok yang satu,
atau mengabaikan kelompok yang lain.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. Partisipasi anggota kelompok sosial dalam
perbaikan lingkungan permukiman tidak
sesuai dengan yang diharapkan karena
tingkat kesadaran yang rendah, sementara
tingkat partisipasi antara kelompok agama
195 ANALISIS, TAHUN II, NOMOR 3 Januari 2001
dan kerukunan terdapat perbedaan, baik
kemauan, kemampuan maupun kesempatan.
2. Bahwa kepemimpinan, nilai dan norma,
status dan peran serta kepentingan
bersama cukup berpengaruh terhadap
perbaikan lingkungan, walaupun di dalam
kehidupan kelompok yang dimaksud
masih terdapat kelemahan.
3. Bahwa kepemimpinan, nilai dan norma,
status dan peran serta kepentingan
bersama yang diwujudkan kedua
kelompok sosial tidak terdapat perbedaan
yang berarti dalam rangka perbaikan
lingkungan.
Saran
1. Perlu adanya peningkatan partisipasi
anggota kelompok perbaikan lingkungan
diikuti dengan kesadaran dan tanggung
jawab terhadap lingkungan sekitar.
2. Perlu adanya perbaikan tingkat
kepemimpinan kelompok dengan disertai
nilai dan norma yang berlaku, serta
memiliki status dan peran sosial yang
dominan dengan dilandasi nilai
kepentingan bersama agar wujud
partisipasi terhadap perbaikan lingkungan
dapat menunjukkan nilai yang positif.
3. Perlu dipertegas tentang nilai kepemimpinan
kelompok, nilai dan norma, status
dan peranserta kepentingan bersama antara
kelompok agama maupun kelompok
kerukunan.
DAFTAR PUSTAKA
Abdulsyani,1994, Sosiologi Sistematika; Teori
dan Terapan, Bumi Aksara, Jakarta.
Arikunto Suharsimi, 1992, Prosedur Penelitian
Suatu Pendekatan Praktis, Rineka Cipta,
Yogyakarta.
Babbie Eari R, 1979. The Practice of Social
Research, Second Edition, By Wade Wortf
Publishing Company, Inc. Belmont,
California.
Johnson, Paul Doyle, 1994, Teori Sosiologi
Klasik dan Modern 1 (Terjemahan Robert
Lawang), PT. Gramedia Pustaka Utama,
Jakarta.
Kinlok, Graham, 1977, Sociology Theory; Its
Development and Major Paradigm,
Printed in the Limited Stated of America.
Koesnadi, 1994, Hukum Tata Lingkungan,
Gajah Mada University Press, Yogyakarta.
Soekanto Soerjono, 1986, Pengantar Sosiologi
Kelompok, CV Remaja Karya Bandung.
Soemarwoto Otto, Ekologi Lingkungan Hidup
dan Pembangunan, Jembatan, Jakarta.
Uphoff dan Cohen, 1977, Rural Development
Participation : Concept and Measures For
Project Design, Implementation dan
Evaluation, Rural Development
Committee, Cornell University, New
York.
Zeitlin, 1995, Memahami Kembali Sosiologi,
Gajah Mada University Press, Yogyakarta.

_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+__+_+_+_+_+_+_+_+

Bahan Ajar Pengantar Sosiologi
Gumgum Gumilar, S.Sos., M.Si./ Program Studi Ilmu Komunikasi Unikom
BAB VI
KELOMPOK SOSIAL
6.1. Pengertian
kelompok Sosial atau Social Group adalah himpunan atau kesatuan-kesatuan
manusia yang hidup bersama, oleh karena adanya hubungan antara mereka. Hubungan
tersebut antara lain menyangkut hubungan timbal-balik yang saling mempengaruhi dan
juga suatu kesadaran untuk saling menolong.
Syarat-syarat Kelompok sosial :
a. Setiap anggota kelompok tersebut harus sadar bahwa dia merupakan sebagian dari
kelompok yang bersangkutan.
b. Ada hubungan timbal balik antara anggota yang satu dengan anggota lainnya.
c. Terdapat suatu faktor yang dimiliki bersama oleh anggota-anggota kelompok itu,
sehingga hubungan antara mereka bertambah erat. Faktor tadi dapat merupakan nasib
yang sama, kepentingan yang sama, tujuan yang sama, ideologi politik yang sama dan
lain-lain.
d. Berstruktur, berkaidah dan mempunyai pola perilaku.
6.2. Tipe-tipe Kelompok Sosial
Tipe-tipe Kelompok sosial dapat diklasifikasikan dari beberapa sudut atau dasar
pelbagai kriteria atau ukuran :
1) Besar kecilnya jumlah anggota
2) Derajat interaksi sosial
3) Kepentingan dan wilayah
4) Berlangsungnya suatu kepentingan
5) Derajat Organisasi
6) Kesadaran akan jenis yang sama, hubungan sosial dan tujuan.
Bahan Ajar Pengantar Sosiologi
Gumgum Gumilar, S.Sos., M.Si./ Program Studi Ilmu Komunikasi Unikom
Kelompok-kelompok Sosial yang teratur
a. In-Group
Kelompok sosial, dengan mana individu mengidentifikasikan dirinya.
b. Out-Group
Kelompok sosial yang oleh individu diartikan sebagai lawan in-groupnya.
c. Kelompok Primer (Primary Group) atau Face to Face Group.
Merupakan kelompok sosial yang peling sederhana, di mana anggota-anggotanya
saling mengenal dan ada kerja sama yang erat.
d. Kelompok Sekunder (Secondary Group)
Kelompok-kelompok yang terdiri dari banyak orang, antara siapa hubungan tidak
perlu didasarkan pengenalan secara pribadi dan sifatnya juga tidak begitu langgeng.
e. Paguyuban (Gemeinschaft)
Bentuk kehidupan bersama, di mana anggota-anggotanya diikat oleh hubungan batin
yang murni dan bersifat alamiah serta kekal. Dasar hubungan tersebut adalah rasa
cinta dan rasa persatuan batin yang memang telah dikodratkan.
f. Patembayan (Gesselschaft)
Ikatan lahir yang bersifat pokok dan biasanya untuk jangka waktu pendek. Ia bersifat
sebagai suatu bentuk dalam pikiran belaka.
g. Formal Group
Kelompok yang mempunyai peraturan tegas dan sengaja diciptakan oleh anggotaanggotanya
untuk mengatur hubungan antara sesamanya.
h. Informal Group
Tidak mempunyai struktur dan organisasi tertentu atau yang pasti. Kelompokkelompok
tersebut biasanya terbentuk karena pertemuan-pertemuan yang
berulangkali, yang menjadi dasar bertemunya kepentingan-kepentingan dan
pengalaman-pengalaman yang sama.
i. Membership Group, Merupakan suatu kelompok di mana setiap orang secara fisik
menjadi anggota kelompok tersebut.
j. Reference Group
Kelompok-kelompok sosial yang menjadi acuan bagi seseorang (bukan anggota
kelompok tersebut) untuk membentuk pribadi dan peilakunya.
Bahan Ajar Pengantar Sosiologi
Gumgum Gumilar, S.Sos., M.Si./ Program Studi Ilmu Komunikasi Unikom
k. Kelompok Okupasional
l. Kelompok Volunter
Kelompok-kelompok Sosial yang Tidak Teratur
a. Kerumunan (Crowd) adalah individu yang berkumpul secara bersamaan serta
kebetulan di suatu tempat dan juga pada waktu yang bersamaan.
Bentuk-bentuk Kerumunan :
1) Kerumunan yang beartikulasi dengan struktur sosial ;
- Khalayak penonton atau pendengar yang formal
- Kelompok Ekspresif yang telah direncanakan
2) Kerumunan yang bersifat sementara (Casual Crowds)
- Kumpulan yang kurang menyenangkan
- Kerumunan orang yang sedang dalam keadaan panik
- Kerumunan Penonton
3) Kerumunan yang berlawanan dengan norma-norma hukum.
- Kerumunan yang bertindak emosional
- Kerumunan yang bersifat imoral.
Masyarakat Pedesaan dan Perkotaan
Istilah masyarakat Setempat (Community) menunjuk pada bagian mesyarakat
yang bertempat tinggal di suatu wilayah (dalam arti geografis) dengan batas-batas
tertentu, di mana faktor utama yang menjadi dasarnya adalah interaksi yang lebih besar di
antara anggota, dibandingkan dengan interaksi dengan penduduk di luar batas
wilayahnya.
Empat kriteria untuk mengklasifikasikan masyarakat-masyarakat setempat :
1) Jumlah penduduk
2) Luas, kekayaan dan kepadatan penduduk daerah pedalaman
3) Fungsi-fungsi khusus dari masyarakat setempat terhadap seluruh masyarakat
4) Organisasi masyarakat setempat yang bersangkutan.
Bahan Ajar Pengantar Sosiologi
Gumgum Gumilar, S.Sos., M.Si./ Program Studi Ilmu Komunikasi Unikom
Urbanisasi
Urbanisasi adalah suatu proses berpindahnya penduduk dari desa ke kota atau dapat pula
dikatakan urbanisasi merupakan proses terjadinya masyarakat kota.
Sebab-sebab Urbanisasi dapat ditinjau dari dua sudut :
1) Faktor-faktor yang mendorong penduduk desa untuk meninggalkan tempat/daerah
kediamannya.
2) Faktor kota yang menarik penduduk desa untuk pindah dan menetap di kota-kota.
Akibat Negatif Urbanisasi yang terlalu cepat :
1) Pengangguran
2) Naiknya kriminalitas
3) Persoalan tunawisma
4) Kenakalan anak-anak/kejahatan anak-anak
5) Persoalan rekreasi.

_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+__+_+_+_+_+_+_+_+



Tugas : Individu
Mk : Sosiologi Pendidikan
Makalah
PENDIDIKAN DAN HUBUNGAN
ANTAR KELOMPOK
Oleh:
Hartoto (064104015)
JURUSAN KURIKULUM DAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
2008
ii
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT sehingg makalah dengan
judul “Pendidikan dan Hubungan antar Kelompok” ini dapat terselesaikan.
Makalah ini disusun sebagai prasyarat tugas mata kuliah Saosiologi Pendidikan.
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana yang sistematis dalam upaya
memanusiakan manusia. Sosiologi pendidikan adalah ilmu yang mempelajari
seluruh aspek pendidikan, baik itu struktur, dinamika, masalah-masalah
pendidikan, ataupun aspek-aspek lainnya secara mendalam melalui analisis atau
pendekatan sosiologis. Salah satu pokok pembahasan sosiologi pendidikan
menurut Nasution (1994) adalah hubungan antar manusia dalam sekolah.
Mencakup di dalamnya pola interaksi sosial dan struktur masyarakat di sekolah.
Kamanto Sunarto (2004) menjelaskan keterkaitan antara pendidikan dan
hubungan antar kelompok. Keilmuan dan kearifan individu melalui tempaan
pendidikan akan dapat merapatkan dan memecahkan masalah yang timbul dalam
hubungan antar kelompok. Oleh karena itu, dalam makalah ini penulis akan
menguraikan bagaimana pendidikan dan hubungan antar kelompok itu
sebenarnya. Mencakup jenis-jenis kelompok sosial, struktur dan masalah sekolah
sebagai kelompok sosial, dan hal-hal lain yang relevan dengan pokok masalah di
atas.
Akhirnya penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Tak
lupa terima kasih penulis sampaikan kepada pihak-pihak yang telah membantu
dalam penyususnan makalah ini. Saran dan kritik tetap penuli harapkan demi
perbaikan makalah ini kedepan. Wassalam
Makassar, April 2008
Penulis
iii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ................................................................................. i
DAFTAR ISI ............................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................ 1
A. Latar Belakang ................................................................................ 1
B. Tujuan Penulisan ............................................................................. 1
BAB II PEMBAHASAN ............................................................................. 3
A. Pengertian Pendidikan ..................................................................... 3
B. Pengertian Kelompok ...................................................................... 5
C. Kelompok-kelompok Sosial dalam Masyarakat ............................... 5
D. Pengaruh Pendidikan terhadap Status Sosial Individu
dalam Suatu Kelompok ................................................................... 7
E. Sekolah sebagai Suatu Organisasi.................................................... 9
F. Struktur Hubungan antar Kelompok di Sekolah ............................... 10
G. Masalah-Masalah yang Muncul dalam Hubungan
antar Kelompok di Sekolah ............................................................. 12
H. Upaya Pendidikan dalam Mengatasi Masalah yang Muncul
dalam Hubungan antar Kelompok di Sekolah. ................................. 13
BAB III PENUTUP ..................................................................................... 15
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 17
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana yang sistematis dalam upaya
memanusiakan manusia. Sosiologi pendidikan adalah ilmu yang mempelajari
seluruh aspek pendidikan, baik itu struktur, dinamika, masalah-masalah
pendidikan, ataupun aspek-aspek lainnya secara mendalam melalui analisis atau
pendekatan sosiologis. Salah satu pokok pembahasan sosiologi pendidikan
menurut Nasution (1994) adalah hubungan antar manusia dalam sekolah.
Mencakup di dalamnya pola interaksi sosial dan struktur masyarakat di sekolah.
Kamanto Sunarto (2004) menjelaskan keterkaitan antara pendidikan dan
hubungan antar kelompok. Keilmuan dan kearifan individu melalui tempaan
pendidikan akan dapat merapatkan dan memecahkan masalah yang timbul dalam
hubungan antar kelompok. Oleh karena itu, dalam makalah ini penulis akan
menguraikan bagaimana pendidikan dan hubungan antar kelompok itu
sebenarnya. Mencakup jenis-jenis kelompok sosial, struktur dan masalah sekolah
sebagai kelompok sosial, dan hal-hal lain yang relevan dengan pokok masalah di
atas.
B. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini selain sebagai tugas mata kuliah Sosiologi
Pendidian, juga untuk mengetahui:
1. Pengertian pendidikan
2. Pengertian kelompok
3. Kelompok-kelompok sosial dalam masyarakat
4. Pengaruh pendidikan terhadap status sosial individu dalam suatu kelompok
5. Sekolah sebagai suatu organisasi
6. Struktur hubungan antar kelompok di sekolah
7. Masalah-masalah yang muncul dalam hubungan antar kelompok di sekolah
2
8. Upaya pendidikan dalam mengatasi maslah yang muncul dalam hubungan
antar kelompok di sekolah.
3
BAB II
PEMABAHASAN
A. Pengertian Pendidikan
Pendidikan dapat diartikan secara sederhana sebagai usaha manusia untuk
membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai di dalam masyarakat dan
kebudayaan. Dalam perkembangannya, istilah pendidikan atau paedagogie berarti
bimbingan atau pertolongan yang diberikan dengan sengaja oleh orang dewasa
agar ia amenjadi dewasa. Selanjutnya, pendidikan diartikan sebagai usaha yang
dijalankan orang lain agar menjadi dewasa atau mencapai hidup atau penghidupan
yang lebih tinggi dalam arti mental.
Hasbullah (2007:2) menyebutkan beberapa pengertian pendidikan yang diberikan
oleh para ahli sebagai berikut:
1. Langeveld
Pendidikan adalah setiap usaha, pengaruh, perlindungan, dan bantuan yang
diberikan anak kepada anak tertuju kepada pendewasaan anak itu, atau lebih
tepatnya membantu anak agar cukup cakap melaksanakan tugas hidupnya
sendiri.
2. John Dewey
Pendidikan adalah proses pembentukan kecakapan-kecakapan fundamental
secara intelektual dan emosional kearah alam dan sesama manusia.
3. J.J. Rousseau
Pendidikan adalah memberikan perbekalan yang tidak ada pada masa anakanak,
akan tetapi kita membutuhkannya pada waktu dewasa.
4. Driyakara
Pendidikan adalah pemanusiaan manusia muda atau pengangkatan manusia
muda ke taraf insani.
4
5. Carter V. Good
Pendidikan adalah:
a. Seni, praktik, atau profesi sebagai pengajar
b. Ilmu yang sistematis atau pengajaran yang berhubungan dengan prinsip
dan metode-metode mengajar, pengawasan dan bimbingan murid,
dalam arti luas digantikan dengan istilah pendidikan.
6. Ahmad D. Marimba
Pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh si pendidik
terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju terbentuknya
kepribadian utama.
7. Ki Hajar Dewantara
Pendidkan yaitu tuntutan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak, adapun
masksudnya, pendidikan yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada
pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan anggota masyarakat
dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.
8. Menurut UU Nomor 2 Tahun 1989
Pendidian adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui
kegiatan bimbingan, pengajaran, dan latihan bagi peranannya di masa yang
akan datang.
9. Menurut UU Nomor 20 Tahun 2003
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana
belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, keterampilan, kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.
Dari beberapa defenisi pendidikan di atas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan
adalah usaha sadar yang terencana dan tersistematis dalam memanusiakan
manusia.
5
B. Pengertian Kelompok
Secara sosiologis, istilah kelompok mempunyai pengertian sebagai suatu
kumpulan dari orang-orang yang mempunyai hubungan dan beriteraksi, di mana
dapat mengakibatkan tumbuhnya perasaan bersama.
Beberapa defenisi kelompok:
1. Joseph S. Roucek.
Suatu kelompok meliputi dua atau lebih manusia yang diantara mereka
terdapat beberapa pola interasi yang dapat dipahami oleh para anggotanya atau
orang lain secara keseluruhan.
2. Mayor Polak
Kelompok sosial adalah satu group, yaitu sejumlah orang yang ada antara
hubungan satu sama lain dan hubungan itu bersifat sebagai sebuah struktur.
3. Wila Huky
Kelompok merupakan suatu unit yang terdiri dari dua orang atau lebih, yang
saling berinteraksi atau saling berkomunikasi.
Dari beberapa defenisi di atas, dapat disimpulkan bahwa kelompok menurut
tinjauan sosiologi adalah sekumpulan dua orang atau lebih yang saling
berinteraksi dan terjadi hubngan timbal balik dimana ia merasa menjadi bagian
dari kelompok tersebut.
C. Kelompok-Kelompok Sosial dalam Masyarakat
Kelompok sosial dapat diklasifikasikan menjadi beberapa bentuk. Hal ini sangat
bergantung dari sudut pandang ahli yang bersangkutan. Ada yang memandang
dari proses terbentuknya, ada dari kekuatan ikatan emosional yang terbentuk.
Bahkan ada yang membaginya berdasarkan banyakya jumlah anggota kelompok.
Abdul Syani (2007:105) membagi kelompok sosial menjadi kelompok
kekerabatan, kelompok primer dan kelompok sekunder, gemeinschaft dan
gessellschaft, kelompok formal dan nonformal, dan membership group, dan
reference group.
6
Kamanto Sunarto (2004:137) secara ringkas menyebutkan berbagai klasifikasi
kelompok sosial dari beberapa pakar. Biersted membedakan empat jenis
kelompok sosial berdasarkan ada tidaknya organisasi, hubungan sosial di antara
anggota kelompok, dan kesadaran jenis; yaitu kelompok statistik, kelompok
kemasyarakatan, kelompok sosial, dan kelompok asosiasi.
Menurut Merton, kelompok merupakan sekelompok orang yang saling
berinteraksi sesuai dengan pola yang telah mapan, sedangkan kolektiva
merupakan orang yang mempunyai rasa solidaritas karena berbagai niai bersama
dan yang telah memiliki rasa kewajiban moral untuk menjalankan harapan peran.
Konsep lain yang diajukan Merton ialah konsep kategori sosial.
Durkheim membedakan antara kelompok yang didasarkan pada solidaritas
mekanik, dan kelompok yang didasarkan pada solidaritas organik. Solidaritas
mekanik merupakan ciri yang menandai masyarakat yang masih sederhana,
sedangkan solidaritas organis merupakan bentuk solidaritas yang sangat kompleks
yang telah mengenal pembagian kerja yang rinci dan dipersatukan oleh
kesalingtergantungan antar bagian.
Tonnies mengadakan pembedaan antara dua jenis kelompok, yang dinamakan
gemeinschaft dan gesellschaft. Gemeinschaft digambarkan sebagai kehidupan
bersama yang intim, pribadi, dan eksklusif; suatu keterikatan yang dibawa sejak
lahir dan dibagi dalam tiga jenis: gemeinschaft by blood, gemeinschaft of place,
dan gemeinschaft of mind. Gellschaft merupakan kehidupan publik, yang terdiri
atas orang yang kebetulan hadir bersama tetapi masing-masing tetap mandiri dan
bersifat sementara dan semu.
Cooley memperkenalkan konsep kelompok primer. Sebagai lawannya, sejumlah
ahli sosiologi menciptakan kelompok sekunder. Suatu klasifikasi lain, yaitu
pembedaan antara kelompok dalam dan kelompok luar, didasarkan pada
pemikiran Summer. Summer mengemukakan bahwa di kalangan anggota
kelompok dalam dijumpai persahabatan, kerja sama, keteraturan, dan kedamaian
7
sedangkan hubungan anatara kelompok dalam dan kelompok luar cenderung
ditandai kebencian, permusuhan, perang, dan perampokan.
Merton mengamati bahwa kadang-kadang perilaku seseorang tidak mengacu pada
kelompoknya yang di dalamnya ia menjadi anggota, melainkan pada kelompok
lain. Di kala seseorang berubah kenggotaan kelompok, ia sebelumnya dapat
menjalani perubahan orientasi. Proses ini oleh Merton kemudian diberi nama
sosialisasi antisipatoris.
Persons memperkerkenalkan perangkat variabel pola. Menurut Persons variabel
pola merupakan seperangkat dilema universal yang dihadapi dan harus
dipecahkan seorang pelaku dalam setiap situasi sosial. Suatu klasifikasi yang
digali Geertz dari masyarakat jawa ialah pembedaan antara subtradisi abangan,
santri, dan pryayi. Menurut Geertz pembagian masyarakat yang ditelitinya ke
dalam tiga tipe budaya ini didasarkan atas p[erbedaan pandangan di antara
mereka.
Menurut Weber dalam masyarakat modern kita menjumpai suatu sistem jabatan
yang dinamakan birokrasi. Organisasi birokrasi yang oleh Weber mengandung
sejumlah prinsip. Prinsip tersebut hanya dijumpai pada birokrasi yang oleh Weber
disebut tipe ideal, yang tidak akan kita jumpai dalam masyarakat.
D. Pengaruh Pendidikan Terhadap Status Sosial Individu dalam Suatu
Kelompok.
Status dalam bahasa indonesia sama artinya dengan “posisi” atau “kedudukan”.
Tetapai maknanya jelas berbeda. Status berhubungan dengan stratifikasi sosial,
sedangkan posisi berhubungan dengan situasi (tempat, situasi lain, dan situasi diri
sendiri). Menurut Raphh Linton (dalam Ary Gunawan, 2000:42) kemungkinan
seseorang dalam memperoleh status ada dua macam:
1. Ascribed status, ialah status yang diperoleh dengan sendirinya oleh seorang
anggota masyarakat. Misanya dalam sistem kasta, seorang anak sudra,
8
langsung saja sejak lahir ia berstatus sudra. Seorang anak raja langsung
menjadi bangsawan.
2. Achieved status ialah kedudukan yang dicapai seseorang dengan usaha yang
disengaja, seperti sarjana untuk kelulusan dengan usaha yang disengaja,
seperti sarjana untuk kelulusan S1, magister untuk lulusan S2, dan doktor
untuk lulusan S3, dan seterusnya.
Mayor Polak mennambahkan assigned status, yaitu status yang diberikan kepada
seseorang karena jasanya. Misalnya seseorang mendapat status putera mahkota
karena berjasa menyembuhkan sang raja dari sakitnya yang parah. Atau seorang
yang berjasa karena dapat menghalau dan mengamankan negeri dari kejahatan
yang mengancam kesejahteraan negara.
Selanjutnya Mayor Polak menyataan bahwa status ialah kedudukan sosial
seseorang dalam kelompok serta dalam masyarakat. Status mempunyai dua aspek:
1. Aspek stabil (structural), yakni yang bersifat hirarki (berjenjang) yang
mengandung perbandingan tinggi/rendah secara relatif terhadap status-status
lain.
2. Aspek dinamis (fungsional), yakni peranan sosial yang berkaitan dengan sosial
yang berkaitan dengan suatu status tertentu, yang diharapkan dari seseorang
yang menduduki suatu status tertentu.
Ralph Linton menjelaskan bahwa status memiliki dua arti:
1. Dalam pengertian abstrak (berhubungan dengan individu yang
mendudukinya), status adalah suatu posisi dalam pola tertentu.
2. Dilihat dari arti lainnya (tanpa dihubungkan dengan individu yang
mendudukinya), secara sederhana status itu dapat dikatakan sebagai kumpulan
hak-hak dan kewajiban.
Dari penjelasan di atas, perlu digarisbawahi bahwa pendidikan merupakan saluran
mobilitas sosial. Jadi pendidikan dapat menentukan status seorang individu dalam
suatu kelompok. Status yang diperoleh merupakan jenis achieved status.
9
Masyarakat atau kelompok akan memposisikan individu tersebut sesuai tingkatan
pendidikannya. Misalnya untuk masyarakat pedesaan, lulusan SMA biasa
merupakan jenjang teratas di kalangan mereka karena kebanyakan mereka tidak
sekolah. Orang tersebut biasanya dijadikan sebagai penasihat untuk urusan-urusan
tertentu. Hal yang berbeda jika tamatan SMA tersebut dalam komunitas orang
kota yang kebanyakan mereka telah mengenyam pendidikan hingga jenjang
perguruan tinggi. Status tamatan SMA terasa sangat rendah.
Meskipun tidak dapat dipungkiri, jenjang pendidikan belum dapat mewakili
kearifan dan keilmuan seseorang. Tetapi paling tidak, jenjang pendidikan dapat
menjadi ciri individu yang satu dengan yang lain untuk kemudian menempatkan
status mereka dalam suatu kelompok atau masyarakat.
E. Sekolah sebagai Suatu Organisasi
Secara umum organisasi dapat didefenisikan sebagai kelompok manusia yang
berkumpul dalam suatu wadah yang mempunyai tujuan yang sama, dan bekerja
untuk mencapai tujuan itu. Organisasi merupakan unit sosial yang dengan sengaja
dibentuk dan dibentuk kembali untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Sekolah
dengan sengaja diciptakan dalam arti bahwa pada saat tertentu telah diambil suatu
keputusan untuk mendirikan sebuah sekolah guna memudahkan pegajaran
sejumlah mata pelajaran yang beraneka ragam. Sekolah juga dibentuk kembali,
dalam arti bahwa setiap orang-orang berhubungan satu sama lain dalam konteks
sekolah; ada yang mengajar, ada yang bersusah payah untuk belajar, dan ada
yang membersihkan ruangan, menyedikan makanan atau melakukan berbagai
kegiatan sekolah (Philip Robinshon, 1987:237).
Sekolah merupakan contoh dari suatu organisasi formal. Davis (dalam Robinshon,
1987:238) mengungkapkan sekolah sebagai suatu organisasi:
“Meskpun sekolah merupakan benda yang sudah tidak asing lagi bagi ita
semua, semua college-college bagi orang banyak, kemampuan kita untuk
menjelaskan dan menggeneralisasikan cara kerjanya dengan cara yang
agak mendalam masih dibatasi oleh kekurangan-kekurangan dalam analisa
10
organisasi itu sendiri oleh kelangkaan telaah empiris yang layak dalam
bidang pendidikan”
Berlangsungnya terus ketiadaan suatu teori yang koheren dan dapat diterima
secara umum mengenai sekolah sebagai organiasi mungkin merupakan petunjuk
bahwa dalam hal ini kita hanya berhadapan dengan suatu khayalan sosiologi
belaka. Kompleksitas lembaga-lembaga pendidikan adalah demikian rupa
sehingga tidak ada teori umum yang dapat menggagmbarkan nuansa dan kekhasan
lembaga-lembaga yang unik tanpa menimbulkan kesan dangkal dan sepele. Yang
telah dikembangakan adalah berbagai cara memandang sekolah, perspektifperspektif
yang menerangi beberapa aspek dan mengaburkan aspek lainnya.
Seperti akan kita lihat, yang terbaik dibangun sekitar telaah khusus, pembahasanpembahasan
mengenai lembaga-lembaga yang spesifik, dan dengan itu
diusahakan untuk menghubungkan biografi dan struktur dengan suatu konteks
historis.
F. Struktur Hubungan antar Kelompok di Sekolah
Salah satu aspek yang biasa terlupakan oleh sekolah adalah memupuk hubungan
sosial di kalangan murid-murid. Biasanya sekolah terlalu fokus pada peningkatan
kualitas akademik saja. Program pendidkan antar murid, antar golongan ini
bergantung pada sruktur sosial murid-murid. Ada tidaknya golongan minoritas di
kalangan mereka mempengaruhi hubngan kelompok-kelompok itu. Kebanyakan
negara mempunyai penduduk yang multi rasial, menganut agama yang berbedabeda,
dan mengikuti adat kebiasaan yang berlainan. Perbedaan golongan dapat
juga disebabkan oleh perbedaan kedudukan sosial dan ekonomi.
Murid-murid di sekolah sering menunjukkan perbedaan asal kesukuan, agama,
adat istiadat, dan kedudukan sosial. Berdasarkan perbedaan-perbedaan itu
mungkin timbul golongan minoritas di kalangan murid-murid, yang tersembunyi
ataupun yang nyata-nyata.
11
Menurut penulis, kelompok dalam sekolah dapat dikategorikan berdasarkan.
1. Status sosial orang tua murid
Status sosial orang tua sangat mempengaruhi pergaulan siswa tersebut. Tidak
dapat dipungkiri, seorang siswa yang merupakan anak pejabat akan cenderung
bergaul dengan teman yang se-level. Hal ini dapat terjadi di dalam maupun di
hingga pergaulan di luar sekolah. Anak pejabat enggan bergaul dengan anak
buruh. Jikalau ada jumahnyapun sangat sedikit.
2. Hobi/minat/kegemaran
Kesamaan hobi mendorong timbulnya rasa kebersamaan diantara mereka. Anakanak
yang suka olahraga sepak bola cenderung intensif bergaul dengan teman se
klub mereka. Biasanya di sekolah terdapat beberapa jenis kegiatan ekstra
kurikuler seperti KIR (Kelompok Ilmiah Remaja), Rohis, kelompok seni,
pramuka, PMR, dan keolahragaan. Masing-masing membentuk ikatan emosianal
diantara anggotanya.
3. Intelektualitas
Ada juga peluang terjadi kelompok-kelompok berdasarkan tingkatan
intelektualitas mereka, meskipun in tidak dominan. Orang pintar karena biasanya
suka membaca lebih sering berada di pepustakaan daripada di kantin. Kehidupan
mereka di sekolah benar-benar padat dengan kegiatan akademis.
4. Jenjang kelas
Perbedaan jenjang kelas ini merupakan faktor dominan yang sering terjadi di
sekolah. Biasanya anak kelas tiga yang merasa lebih tua sering berbuat sesuka hati
kepada adik kelasnya. Anak-anak kelas satu karena takut dengan seniornya lebih
nyaman bergaul dengan teman-teman satu tingkatnya. Hal ini menyebabkan
pergaulan mereka menjadi terkotak-kotak dan kurang harmonis.
12
5. Agama
Ada peluang terbentuknya kelompok karena persamaan agama. Kegiatan perayaan
dan peribadatan agama yang mereka anut sering mempertemukan mereka dalam
kebersamaan dan kepemilikan. Namun demikian ini bukanlah faktor dominan di
kalangan anak sekolahan.
6. Asal daerah
Kesamaan asal daerah juga memberikan peluang bagi terbentuknya kelompok di
sekolah, namun bukan juga merupakan faktor dominan. Hal ini disebabkan karena
sebagian besar siswa di skolah tersebut berasal dari daerah yang sama. Berbeda
dengan kehidupan kampus yang nuansa kedaerahannya sangat kental, di sekolah
biasanya murid cenderung lebih menaruh minat pada mood dan hobi ketimbang
regionalitas.
G. Masalah-Masalah yang Muncul dalam Hubungan antar Kelompok di
Sekolah
Sebagai sebuha komunitas sosial sekolah juga tidak akan luput dari masalah
dalam hubungan antar kelompok. Masalah tersebut antara lain adalah gap atau
kesenjangan antar kelompok. Stigma kelompok minoritas sering muncul
dipermukaan, dimana kelompok dalam kuantitas yang sedikit cenderung
diabaikan baik secara fisik maupun kebijakan.
Kecemburuan dan persaingan tidak sehat antar kelompok juga dapat memicu
timbulnya masalah antar kelompok di sekolah. Istilah gang menjadi trend anak
sekolah saat ini. Gang adalah representasi dari keakuan siswa dalam lingungan
pergaulannya di sekolah. Ikatan psikologis-emosional sering menyebabkan
terjadinya perkelahian antar pelajar meskipun hanya karena persolanan sepele.
Hal ini dapat dimaklumi dari tinjauan psikologis dimana perkembangan peserta
didik dimasa itu merupakan babak pencarian jati diri sehingga cenderung tidak
stabil, emosional, dan mau menang sendiri.
13
H. Upaya Pendidikan dalam Mengatasi Masalah yang Muncul dalam
Hubungan antar Kelompok di Sekolah.
Dalam sebuah sekolah, tentunya sering atau pernah terjadi kesalahpahaman antara
orang-orang di dalamnya. Hal itu bisa saja terjadi antara murid kelas yang satu
dengan kelas yang lainnya. Siswa dari daerah yang satu dengan yang lainnya,
banyak motif yang dapat memicu hal ini, terlebih lagi jika ada golongan
minoritas. Ada beberapa upaya yang dapat dilakukan oleh pihak sekolah untuk
mengatasi masalah yang muncul dalam hubungan antar kelompok. Diantaranya
adalah sebagai berikut:
1. Pemberian informasi, diskusi kelompok, hubungan pribadi, dan sebagainya.
Guru dapat memberikan informasi tentang hakikat dan perbedaan rasial dan
kultural dengan menekankan bahwa perbedaan-perbedaan di kalangan
manusia bukanlah disebabkan oelh pembawaan biologis, melainkan karena
dipelajari dari lingkungan kebudayaan masing-masing. Informasi semacam ini
juga dapat diperoleh dalam pelajaran biologi dan ilmu-ilmu sosial.
2. Memberikan informasi tentang sumbangan minoritas kepada kelompok.
Guru dapat menceritakan bagaimana setiap kelompok itu sangat berpengaruh
terhadap kelompok lainnya. Orang arab, yahudi, dan india meberikan
sumbangan yang berarti bagi seuruh masyarakat dunia. Hal yang sama juga
dilakukan oleh kelompok-kelompok kecil yang berusaha meraih kemerdekaan
di tanah air ini, sumbangan mereka merupakan salah satu sebab merdekanya
Indonesia.
3. Menanamkan nilai-nilai toleransi antar siswa.
Nilai toleransi ini sangat penting. Jika mereka mempunyai sikap toleran maka
mereka dapat mempengaruhi sikap murid-murid lain ke arah toleransi yang
lebih besar. Guru dapat memobilisasi tenaga-tenaga ini untuk memupuk sikap
yang sehat dikalangan murid-murid.
4. Membuka kesempatan seluas-luasnya untuk mengadakan hubungan atau
pergaulan antara murid-murid dari berbagai golongan.
14
Jika mereka dapat saling berkunjung dan menghadiri kegiatan atau upacara
dalam keluarga masing-masing, maka diharapkan lahirnya saling pengertian
yang lebih mendalam dan toleransi yang lebih besar.
5. Menggunakan teknik bermain peranan atau sosiodrama.
Peristiwa yang terjadi dalam masyarakat dapat dimainkan dalam kelas dalam
bentuk sosiodrama dengan menyuruh golongan mayoritas memainkan peranan
golongan minoritas. Tujuannya adalah agar lebih memahami perasaan
golongan minoritaa dan dapat mengidentifikasi diri dengan keadaan mereka.
6. Menggalakkan kegiatan ekstrakurikuler
Kegiatan ekstrakurikuler bisa melibatkan banyak orang dengan berbagai latar
belakang murid yang berbeda. Keseringan komunikasi dan kerjasama diantara
mereka menumbuhkan kebersamaan yang mendalam. Hal ini dapat menceah
sekaligus meredam masalah-masalah seputar gap antara kelompok sosial.
15
BAB III
KESIMPULAN
1. Pendidikan adalah usaha sadar yang terencana dan tersistematis dalam
memanusiakan manusia.
2. Kelompok menurut tinjauan sosiologi adalah sekumpulan dua orang atau lebih
yang saling berinteraksi dan terjadi hubngan timbal balik dimana ia merasa
menjadi bagian dari kelompok tersebut.
3. Kelompok sosial dapat diklasifikasikan menjadi beberapa bentuk. Hal ini
sangat bergantung dari sudut pandang ahli yang bersangkutan. Ada yang
memandang dari proses terbentuknya, ada dari kekuatan ikatan emosional
yang terbentuk. Bahkan ada yang membaginya berdasarkan banyakya jumlah
anggota kelompok.
4. Status ialah kedudukan sosial seseorang dalam kelompok serta dalam
masyarakat. Pendidikan merupakan saluran mobilitas sosial, jadi pendidikan
dapat menentukan status seorang individu dalam suatu kelompok. Dimana
status individu dalam suatu kelompok tergantug sejauh mana kearifan dan
kedalaman individu tersebut memaknai keilmuannya.
5. Organisasi merupakan kelompok manusia yang berkumpul dalam suatu wadah
yang mempunyai tujuan yang sama, dan bekerja untuk mencapai tujuan itu.
Sekolah merupakan contoh dari suatu organisasi formal.
6. Struktur hubungan antar kelompok di sekolah dipengaruhi oleh homogenitas
individu-individu yang ada di dalamnya. Semakin banyak kesamaan yang ada
semakin sederhana pula struktruk yang akan terbentuk.
7. Masalah yang sering terjadi dalam hubungan antar kelompok di sekolah
adalah tersisihnya kelompok minoritas, persaingan tidak sehat, gang, dan
kecemburuan.
8. Upaya pendidikan dalam mengatasi masalah yang timbul dalam hubungan
antar kelompok di sekolah adalah dengan cara : Pemberian informasi, diskusi
kelompok, hubungan pribadi, dan sebagainya. Memberikan informasi tentang
sumbangan minoritas kepada kelompok. Menanamkan nilai-nilai toleransi
16
antar siswa. Membuka kesempatan seluas-luasnya untuk mengadakan
hubungan atau pergaulan antara siswa. Menggunakan teknik bermain peranan
atau sosiodrama. dan menggalakkan kegiatan ekstrakurikuler
17
DAFTAR PUSTAKA
H. Guawan, Ary. 2000. Sosiologi Pendidikan Suatu Analisis tentang Pelbagai
problem Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta
Hasbullah. 2005. Dasar-dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada.
M. Hernki, James. 2007. Sosiologi dengan Pendekatan Membumi –Terjemahan.
Jakarta: Erlangga.
Nasution, S. . 1994. Sosiologi Pendidikan Ed.2 Cet.1. Jakarta: Bumi Aksara
Robinshon, Philip. 1986. Beberapa Perspektif Sosiologi Pendidikan - Terjemahan
Ed.1 Cet.1. Jakarta: CV. Rajawali
Soekanto, Soerjono. 2006. Sosologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada.
Sunarto, Kamanto. 2004. Pengantar Sosiologi (Edisi Revisi). Jakarta: Lembaga
Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Syani, Abdul. 2007. Sosologi, Skematika, teori, dan Terapan. Jakarta: Bumi
Aksara.
Tirtarahardja, Umar, & La Sulo,S.L.. 2005. Pengantar Pendidikan (Edisi Revisi).
Jakarta: Rineka Cipta.

_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+__+_+_+_+_+_+_+_+


Bab 4. Mengurangi Prasangka
Kontribusi dari Achmanto Mendatu
Tuesday, 27 January 2009
Mengapa mengurangi prasangka penting?
Mengurangi prasangka melalui hubungan antar kelompok
Mengurangi prasangka melalui sosialisasi
Mengurangi prasangka melalui rekayasa sosial
Mengurangi prasangka melalui penyadaran pribadi
Mengapa mengurangi prasangka penting?
Prasangka merupakan faktor yang potensial menciptakan konflik dalam kehidupan sosial. Tidak akan ada kehidupan
sosial yang damai dan saling dukung bila prasangka hadir di tengah masyarakat. Anda tentu juga tidak akan nyaman jika
terus menerus dirundung prasangka terhadap orang lain. Kekerasan sangat mungkin muncul jika prasangka dibiarkan.
Dalam rangka membentuk sebuah kehidupan bersama yang nir kekerasan dan damai, rendahnya prasangka merupakan
prasyarat penting. Bayangkan kehidupan di mana setiap orang berprasangka pada yang lain. Tidak ada percaya di
antara sesama anggota masyarakat. Pasti ‘chaos’ yang terjadi.
Kita tahu, bahwa prasangka akan muncul dalam kondisi rendahnya pemahaman lintas budaya di masyarakat.
Sementara itu, pemahaman lintas budaya adalah sendi dari sebuah masyarakat multietnik yang sehat, di mana setiap
orang sadar akan perbedaan dan menghargai perbedaan itu. Pemahaman lintas budaya merupakan kemampuan
seseorang untuk memahami perbedaan dan sadar akan adanya perbedaan budaya, serta mampu menerima adanya
perbedaan itu. Pada hakikatnya mengurangi prasangka sama artinya dengan menumbuhkan pemahaman lintas budaya.
Menumbuhkan pemahaman lintas budaya dan upaya-upaya mengurangi prasangka lainnya, bisa dilakukan di segenap
aspek kehidupan, dimulai dari keluarga, lingkungan pertetanggaan, sekolah, organisasi, dan masyarakat secara lebih
luas.
Upaya mengurangi prasangka bisa dilakukan dalam banyak cara. Sekurangnya ada empat strategi yang bisa digunakan.
Pertama, melalui rekayasa dalam hubungan antar kelompok. Kedua, melalui sosialisasi anti prasangka dalam keluarga,
sekolah, dan lingkungan. Ketiga, melalui rekayasa sosial. Terakhir, melalui penyadaran diri pribadi. Semua strategi
tersebut akan dibahas lebih lanjut dalam bab ini.
Mengurangi prasangka melalui hubungan antar kelompok
Menurut salah satu teori hubungan antar kelompok yakni ‘the contact hypothesis’, diasumsikan bahwa
anggota kelompok yang berbeda bila melakukan interaksi satu sama lain akan mengurangi banyak prasangka antara
mereka, dan menghasilkan sikap antar kelompok dan stereotip yang lebih positif. Semakin banyak dan erat interaksi
yang terjadi maka prasangka dan stereotip negatif akan semakin berkurang.
Tidak semua interaksi bisa mengurangi prasangka. Interaksi yang mengurangi prasangka harus memenuhi setidaknya
empat syarat berikut :
1. Adanya dukungan sosial dan dukungan institusional.
Adanya kerangka sosial dan dukungan institusional bisa mendorong kontak lebih erat antara kelompok yang berlainan.
Dukungan diberikan oleh pihak otoritas yang berwenang, dalam hal ini bisa pemerintah, sekolah, pemimpin organisasi,
orangtua, dan lain-lain. Otoritas biasanya berada dalam posisi bisa memberi sanksi (dan rewards) untuk tindakan
berparasangka. Jadi, misalnya ada anak berprasangka terhadap kelompok lain, orangtua bisa memberikan hukuman.
Selain itu adanya peraturan yang tegas dari pihak otoritas tentang anti-diskriminasi, akan memaksa orang untuk
berperilaku dalam perilaku yang tidak berprasangka.
2. Ada potensi untuk saling mengenal
“Orang Cina itu pelit, sombong, nggak mau bergaul, seringkali licik” ujar Vivi, seorang etnis Jawa
berkomentar tentang etnik Cina “Kecuali Dewi dan Diana, mereka baik, tidak seperti orang Cina lainnya”
tambahnya melanjutkan. Dewi dan Diana adalah dua orang teman dekat Vivi yang beretnis Cina.
Apa yang dikatakan Vivi merupakan tipikal yang umumnya dilakukan oleh orang-orang. Mereka memiliki stereotip negatif
terhadap kelompok lain, tetapi menolak bila orang yang dikenalnya secara akrab, yang berasal dari kelompok
bersangkutan memiliki stereotip-stereotip itu. Cerita itu menggambarkan bahwa stereotip negatif dan prasangka tumbuh
karena ketiadaan pergaulan yang erat dan akrab antar pribadi diantara kelompok yang berbeda.
Hubungan antar etnik yang memungkinkan saling mengenal secara pribadi antar anggota kelompok yang berlainan bisa
PSIKOLOGI ONLINE
http://psikologi-online.com Powered by Joomla! Generated: 19 April, 2009, 07:27
mengurangi prasangka secara signifikan. Hubungan itu mesti dalam waktu yang cukup, dengan frekuensi yang tinggi,
dan adanya kedekatan yang memungkinkan peluang membangun hubungan erat dan bermakna antara anggota
kelompok yang berkaitan. Apabila hubungan antar anggota kelompok tidak memungkinkan terjalinnya hubungan akrab
maka kurang bisa mengurangi prasangka antar kelompok.
Ada tiga alasan mengapa potensi untuk saling mengenal penting guna mengurangi prasangka. Pertama, membangun
hubungan interpersonal yang fair dan dekat menimbulkan pikiran untuk menghargai orang lain secara positif, dan
diharapkan digeneralisasikan ke keseluruhan kelompok. Kedua, akan memungkinkan menerima info baru yang lebih
akurat tentang kelompok lain yang menjadikan orang sadar bahwa kenyataannya ada banyak kesamaan antara
kelompok yang berbeda. Menurut hipotesis similarity-attraction, kesamaan-kesamaan yang dipersepsi seseorang
dengan orang lain dari kelompok lain akan meningkatkan kesukaan pada kelompok tersebut. Ketiga, seseorang akan
menemukan bahwa stereotip negatif kelompok lain tidak benar. Hal mana akan mengubah pandangan seseorang
terhadap kelompok lain.
3. Adanya status yang setara antara pihak-pihak yang berinteraksi
Dalam masyarakat, organisasi, sekolah, atau yang lain, harus ada status yang setara antara pihak-pihak yang
berprasangka sebelum terjadi interaksi. Jika satu kelompok lebih dominan dibanding kelompok lain, maka interaksi antar
kelompok belum tentu dapat mengurangi prasangka. Misalnya bila satu kelompok selalu berada dalam posisi berkuasa
dan selalu menjadi bos, sedangkan yang lain yang dikuasai maka hubungan antar kelompok kurang bisa mengurangi
prasangka.
4. Adanya kerjasama
Sebuah interaksi akan mengurangi prasangka jika interaksi yang terjadi berbentuk kerjasama bukannya konflik. Dalam
kerjasama itu, juga harus terjadi ketergantungan. Mendasarkan pada teori realistic-group conflict theory, harus ada
alasan instrumental untuk bekerjasama dan membangun persahabatan. Tujuan bersama biasanya harus konkret, skala
kecil, dan bisa dilakukan bersama-sama. Contohnya pada saat banjir, semua orang bekerja sama untuk menanggulangi.
Interaksi semacam ini bisa mengurangi prasangka.
Mengurangi prasangka melalui sosialisasi
Sosialisasi nilai-nilai nir prasangka bisa dilakukan di rumah atau keluarga, di sekolah maupun di masyarakat. Salah satu
media sosialisasi nilai-nilai toleransi adalah media massa, baik berupa TV, radio, internet, media cetak seperti buku,
majalah, koran, buletin dan lainnya. Prasangka antar kelompok akan berkurang jika media-media itu mampu
memberikan informasi yang positif tentang berbagai kelompok dalam masyarakat. Sayangnya, banyak media malah
berperilaku buruk dengan menjelek-jelekkan kelompok tertentu. Akibatnya prasangka antar kelompok bisa tambah
menguat.
Keluarga adalah faktor yang sangat penting dalam sosialisasi nilai-nilai yang mendorong anak-anak tidak berprasangka.
Hanya memang, keluarga tidak menjadi satu-satunya faktor yang dominan. Bisa jadi keluarga yang telah mendorong
sikap berprasangka tetap tidak berhasil membuat anak tidak berprasangka karena sekolah atau teman-teman
sebayanya tidak mendukung upaya itu. Demikian juga sebaliknya, upaya sekolah untuk mengurangi prasangka mungkin
tidak akan berhasil jika di rumah situasi keluarga tidak mendukung.
Keluarga yang memiliki prasangka tinggi terhadap kelompok lain akan cenderung melahirkan anak-anak berprasangka.
Idiom-idiom bahasa penuh prasangka yang digunakan dalam komunikasi menjadi sarana pewarisan prasangka. Sebagai
misal, meskipun anak-anak etnis Jawa tidak pernah bertemu dengan agama lain, tetapi bila sang orangtua terus
menerus mengatakan pada anak-anak secara negatif tentang agama lain maka anak-anak juga akan mengembangkan
perasaan negatif pada agama lain itu.
Anak-anak belajar melalui identifikasi atau imitasi, atau melalui pembiasaan. Apa yang dilakukan orangtua, anggota
keluarga lain dan semua yang dilihat anak-anak akan ditiru. Misalnya orang tua sering mengata-ngatai tetangganya yang
waria dengan kata-kata “dasar bencong”, maka sang anak juga akan meniru dan mengembangkan
perasaan tidak suka terhadap waria secara keseluruhan.
Ada beberapa cara yang mungkin berguna dalam upaya mendidik anak-anak dalam keluarga agar memiliki pemahaman
lintas budaya yang tinggi, yang pada gilirannya akan mengurangi prasangka, yaitu :
- Berkata tidak pada komentar yang merendahkan etnis tertentu. Orangtua harus tegas menyatakan sikap tidak senang,
kalau perlu disertai hukuman secara konsisten atas kata-kata rasis-diskriminatif-etnosentris yang diucapkan anak-anak.
misalnya menegur anak-anak yang berkata-kata mengumpat teman lainnya dengan kata-kata menghina berdasarkan
agama, seperti “dasar kristen”,”dasar islam”, dan lain-lain.
- Menyediakan bacaan yang berpotensi menumbuhkan kesadaran akan pluralitas, misalnya dongeng-dongeng dari
berbagai etnik dari seluruh nusantara.
- Lebih mendorong dengan pujian jika anak berhasil menjalin hubungan perkawanan dengan anak dari kelompok lain,
PSIKOLOGI ONLINE
http://psikologi-online.com Powered by Joomla! Generated: 19 April, 2009, 07:27
misalnya dari etnik lain dan agama lain.
- Tidak menoleransi adanya perlakuan diskriminatif oleh anak-anak pada teman-temannya hanya karena didasarkan
pada latar belakang kelompoknya. Misalnya mendiskriminasi orang cacat atau agama lain harus diberi teguran keras,
kalau perlu hukuman.
Mengurangi prasangka melalui rekayasa sosial
Prasangka antar kelompok tidak hanya disebabkan oleh faktor psikologis semata, tapi juga oleh faktor lainnya, seperti
sejarah, ekonomi, politik, budaya, dan struktur sosial. Karenanya diperlukan adanya political will yang kuat dari
pemerintah untuk melakukan upaya-upaya mengurangi prasangka. Sebab hanya pemerintah yang memiliki kemampuan
melakukan rekayasa sosial secara luas dan memaksa, baik dalam bidang politik, ekonomi, maupun sosial. Misalnya,
tidak dapat dipungkiri, pemberlakuan desentralisasi politik menguatkan semangat kedaerahan, dan etnosentrisme.
Keadaan ini dapat menimbulkan dan memperkuat prasangka etnik. Semangat penonjolan identitas etnik itu perlu diberi
ruang partisipasi dalam tatanan kebijakan publik.
Kita tahu, ekonomi memainkan peran hubungan antar kelompok dalam masyarakat. Pola-pola hubungan ekonomi yang
tidak adil bisa menimbulkan prasangka. Penguasaan kelompok tertentu akan sumber daya ekonomi bisa menggiring
kelompok lain untuk berprasangka, dan berpotensi menimbulkan konflik. Oleh karena itu pemerintah harus
merencanakan pemberdayaan ekonomi rakyat secara adil.
Pada sisi lain, prasangka tetap lestari karena adanya pihak-pihak yang mengambil keuntungan darinya. Seperti yang
telah dikemukakan di muka, keuntungan itu bisa bersifat ekonomis maupun politis. Misalnya saja, adanya prasangka
terhadap etnis lain mencegah etnis tersebut menerima kerja sama dari etnis lain itu, dan hal ini menguntungkan pihakpihak
tertentu yang mendapatkan kerja sama dan fasilitas dari etnis bersangkutan. Akibatnya pihak yang diuntungkan itu
akan berusaha memelihara prasangka yang berkembang di masyarakat.
Mengurangi prasangka melalui penyadaran pribadi
Beberapa hal berikut akan membantu kita mengurangi prasangka yang kita miliki :
- Mengakui bahwa kita berprasangka dan bertekad untuk menguranginya.
- Mengidentifikasi stereotip yang merefleksikan atau menggambarkan prasangka kita dan mengubahnya.
- Mengidentifikasi tindakan-tindakan yang merefleksikan atau menggambarkan prasangka kita dan mengubahnya.
- Mencari umpan Balik dari teman dan rekan yang berbeda-beda latar belakangnya tentang seberapa baik cara kita
berkomunikasi, apakah terlihat cukup respek pada mereka dan menghargai perbedaan yang ada.
PSIKOLOGI ONLINE
http://psikologi-online.com Powered by Joomla! Generated: 19 April, 2009, 07:27

_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+__+_+_+_+_+_+_+_+


0   komentar

Silahkan kirim komentar anda!

Cancel Reply