: :

Navbar Bawah

Cari Blog Ini

Memuat...

22 Mei 2009

OPERASI KELAMIN DAN OPERASI KECANTIKAN

OPERASI KELAMIN DAN OPERASI KECANTIKAN
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugasmata kuliah:
Masa`ilul Fiqhi
Dosen Pengampu: Drs. A. Miftah, M.Pd




 



Disusun Oleh: 
Ahmad Bahtera (05410136)




JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM 
FAKULTAS TARBIYAH 
UIN SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2007
A. PENDAHULUAN
Saat ini baik disadari ataupun tidak kecantikan wanita sudah menjadi industri yang menggiurkan, dari usaha salon kecantikan, produk kosmetik, produk obat-obatan pelangsing tubuh, produk apearel, produk fashion dan bahkan paranormal pun laku untuk pemasangan susuk agar seorang wanita terlihat cantik. Menandakan begitu terobsesinya wanita dengan kecantikan.
 Tanpa sadar banyak wanita saat ini dari wanita ABG, Remaja, Dewasa, dan usia cukup berumur yang menjadi objek dari suatu industri kecantikan untuk merawat kecantikan dan tubuhnya demi kecantikan yang ditentukan oleh industri kecantikan dengan parameter yang sengaja diciptakan suatu industri.
Sungguh menyedihkan saya melihat beberapa wanita yang terobsesi untuk menjadi cantik dengan cara operasi kecantikan untuk merubah bentuk bagian tubuhnya dengan cara operasi plastik, yang terkadang bila dilakukan bukan orang yang profesional maka bukan kecantikan yang didapat, malah perubahan yang menyedihkan, bahkan bisa berakibat fatal berupa kematian.
B. ISI
1. Operasi Kecantikan
Mentatoo badan dan mengikir gigi adalah perbuatan yang dilaknat oleh Rasulullah s.a.w., seperti tersebut dalam hadisnya:
"Rasulullah s.a.w. melaknat perempuan yang mentatoo dan minta ditatoo, dan yang mengikir gigi dan yang minta dikikir giginya." (Riwayat Thabarani)
Tatoo, yaitu memberi tanda pada muka dan kedua tangan dengan warna biru dalam bentuk ukiran. Sebagian orang-orang Arab, khususnya kaum perempuan, mentatoo sebagian besar badannya. Bahkan sementara pengikutpengikut agama membuatnya tatoo dalam bentuk persembahan dan lambang-lambang agama mereka, misalnya orang-orang Kristen melukis salib di tangan dan dada mereka.
Perbuatan-perbuatan yang rusak ini dilakukan dengan menyiksa dan menyakiti badan, yaitu dengan menusuk-nusukkan jarum pada badan orang yang ditatoo itu.
Semua ini menyebabkan laknat, baik terhadap yang mentatoo ataupun orang yang minta ditatoo.
Dan yang disebut mengikir gigi, yaitu merapikan dan memendekkan gigi. Biasanya dilakukan oleh perempuan. Karena itu Rasulullah melaknat perempuan-perempuan yang mengerjakan perbuatan ini (tukang kikir) dan minta supaya dikikir.
Kalau ada laki-laki yang berbuat demikian, maka dia akan lebih berhak mendapat laknat.
Termasuk diharamkan seperti halnya mengikir gigi, yaitu menjarangkan gigi. Dalam hal ini Rasulullah pernah melaknatnya, yaitu seperti tersebut dalam hadisnya:
"Dilaknat perempuan-perempuan yang menjarangkan giginya supaya menjadi cantik, yang mengubah ciptaan Allah." (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Yang disebut al-Falaj, yaitu meletakkan sesuatu di sela-sela gigi, supaya nampak agak sedikit jarang. Di antara perempuan memang ada yang oleh Allah dicipta demikian, tetapi ada juga yang tidak begitu. Kemudian dia meletakkan sesuatu di sela-sela gigi yang berhimpitan itu, supaya giginya menjadi jarang. Perbuatan ini dianggap mengelabui orang lain dan berlebih-lebihan dalam berhias yang samasekali bertentangan dengan jiwa Islam yang sebenarnya.
Dari hadis-hadis yang telah kita sebutkan di atas, maka kita dapat mengetahui tentang hukum operasi kecantikan seperti yang terkenal sekarang karena perputaran kebudayaan badan dan syahwat, yakni kebudayaan Barat materialistis, sehingga banyak sekali perempuan dan laki-laki yang mengorbankan uangnya beratus bahkan beribu-ribu untuk mengubah bentuk hidung, payudara atau yang lain. Semua ini termasuk yang dilaknat Allah dan RasulNya, karena di dalamnya terkandung penyiksaan dan perubahan bentuk ciptaan Allah tanpa ada suatu sebab yang mengharuskan untuk berbuat demikian, melainkan hanya untuk pemborosan dalam hal-hal yang bersifat show dan lebih mengutamakan pada bentuk, bukan inti; lebih mementingkan jasmani daripada rohani.
Adapun kalau ternyata orang tersebut mempunyai cacat yang kiranya akan dapat menjijikkan pandangan, misalnya karena ada daging tambah yang dapat menimbulkan sakit secara perasaan ataupun secara kejiwaan kalau daging lebih itu dibiarkan, maka waktu itu tidak berdosa orang untuk berobat selama untuk tujuan demi menghilangkan penyakit yang bersarang dan mengancam hidupnya. Karena Allah tidak menjadikan agama buat kita ini dengan penuh kesukaran.
Barangkali yang memperkuat permasalahan tersebut di atas, yaitu tentang hadis "dilaknat perempuan-perempuan yang menjarangkan giginya supaya cantik" seperti tersebut di atas. Dari hadis itu pula dapat difahamkan, bahwa yang tercela itu ialah perempuan yang mengerjakan hal tersebut semata-mata untuk tujuan keindahan dan kecantikan yang dusta. Tetapi kalau hal tersebut dilakukan dengan tujuan untuk menghilangkan penyakit atau bahaya yang mengancam, maka sedikitpun tidak ada halangan.  

2. Operasi Kelamin 
Segala sesuatu yang kita kerjakan tentu ada tujuannya. Kita diperbolehkan melakukan operasi kelamin kalau tujuannya untuk pengobatan. Dalam dunia kedokteran dikenal tiga bentuk operasi kelamin, 
1. Operasi perbaikan atau penyempurnaan kelamin yang dilakukan terhadap orang yang sejak lahir memiliki cacat kelamin, seperti penis atau vagina yang tidak berlubang.
 2. Operasi pembuangan salah satu dari kelamin ganda yang dilakukan terhadap orang yang sejak lahir memiliki dua jenis kelamin (penis dan vagina)
3. Operasi penggantian jenis kelamin yang dilakukan terhadap orang yang sejak lahir memilikikelaminnormal. 
Mencermati tiga bentuk operasi kelamin yang disebutkan di atas, kita bisa memastikan bahwa jenis operasi kelamin pertama dan kedua, yaitu opreasi kelamin dengan tujuan untuk memperbaiki kelamin yang cacat atau kelamin ganda, hukumnya mubah (boleh) bahkan dianjurkan karena dikategorikan sebagai pengobatan, sebagaimana dijelaskan dalam riwayat berikut. Diceritakan bahwa seorang Arab Badui mendatangi Rasulullah saw. seraya bertanya, Apakah kita harus berobat? Rasulullah menjawab, Ya hamba Allah, berobatlah kamu, sesungguhnya Allah tidak menurunkan penyakit melainkan juga (menentukan) obatnya, kecuali untuk satu penyakit, yaitu “penyakit tua.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad) Sedangkan jenis operasi kelamin yang ketiga, yaitu operasi yang tujuannya bukan untuk pengobatan, tapi sekedar mengikuti nafsu --merasa sudah bosan menjadi laki-laki, akhirnya kelaminnya dioperasi jadi perempuan atau sebaliknya, atau bisa juga dilakukan untuk menarik perhatian publik (bikin sensasi)--, hukumnya haram. Sebagaimana dijelaskan dalam keterangan berikut. “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (QS. Al-Hujurat 49:13) 
Imam Athabari menyebutkan, yang dimaksud “Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan” adalah bahwa kodrat laki-laki tidak bisa diubah menjadi perempuan atau sebaliknya. Jadi, kalau kita ditakdirkan menjadi laki-laki, haram diubah menjadi perempuan, demikian pula sebaliknya.
Kesimpulannya, operasi kelamin hukumnya mubah (boleh) bahkan dianjurkan kalau tujuannya untuk pengobatan. Hukumnya menjadi haram kalau tujuannya sekedar mengikuti hawa nafsu, mencari popularitas, atau menentang kodrat yang Allah swt. tetapkan. 

C. PENUTUP
Menurut saya yang tidak memiliki ilmu tentang kecantikan, kecantikan itu berdasarkan rasa percaya diri, keunikan pribadi, dan tidak terpaku pada dimensi visual yang dapat dilihat mata, kepribadian yang menarik bisa membuat suatu wanita terlihat cantik dan menarik. Dan kecantikan bisa terpancar dari karakter, prilaku dan pengetahuan.

Daftar Pustaka
• Yusuf Qardhawi, Halal dan Haram. Penerbit Jabal, Bandung, 2007. hlm: 98-100.
• Http://percikaniman.org/Tanya-jawab-aam.php?cID=34
• http://www.wiwiku.com

_+_+_+_+_+_+_+_+__+_+_+_+_+_+_+_

Bak barang dagangan yang sedang laris, tayangan waria makin marak di layar kaca. Dalam kehidupan nyata, sama saja. Sejak 2004, kaum waria tercatat sudah tiga kali menggelar kontes. Pertanda apa ini?

Ketika memasuki ruangan Yayasan Srikandi Sejati yang nempel pada kantor Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) di bilangan Pisangan, Jakarta Timur, Nancy (53) langsung menyapa, �Dari Sabili, ya?�

Selanjutnya, waria kelahiran Bandung, 1 April 1954 ini mengenalkan Sabili pada ketiga waria yang ada di ruangan 2 X 3 meter itu. Tampak juga seorang dokter. Penampilan Nancy berbeda dengan yang lainnya. Waria bernama asli Nandy Iskandar ini mengenakan jilbab. Sedangkan ketiga waria lainnya berdandan menor seperti umumnya waria.

Sabili diminta masuk ke ruangan itu. Yang dimaksud ruangan adalah kamar yang hanya tersedia dua kursi dengan satu meja yang dipenuhi booklet penerangan HIV/AIDS. Demikian pula dindingnya. Bahkan ada manequin alat kelamin pria. �Ini buat contoh cara masang kondom,� Nancy menjawab keheranan Sabili.

Ketika wawancara berlangsung, para waria berlalu lalang. Dengan ramah, Nancy menjawab pertanyaan Sabili seputar kegiatan lembaganya dan latar belakang kehidupan waria yang sempat lolos seleksi anggota HAM beberapa waktu lalu.

Nancy adalah salah satu potret fenomena waria yang makin tumbuh berkecembah di Indonesia. Di layar kaca, kita kerap disuguhi tontonan waria. Sebut misalnya sosok Irfan Hakim. Tak tanggung-tanggung, selain sering memainkan peran sebagai perempuan di acara Ngelenong Nyok, Irfan juga berperan sebagai perempuan di sinetron Putri Ke-4 di sebuah stasiun TV swasta. Dalam sinetron ini, ia berperan sebagai Erika, seorang gadis yang tinggal di sebuah rumah kos bersama tiga anak lainnya yang semuanya wanita.

Irfan Hakim bisa dibilang artis yunior yang sering memainkan peran wanita. Jauh sebelum alumnus IAIN Sunan Gunung Djati ini tampil, kita sudah mengenal Tessy. Artis bernama asli Kabul Basuki ini sejak awal memang sudah menggeluti dunia lawak dengan ikon perempuan. Dan, sampai kini pun ia tetap enjoy dengan dunianya itu. �Ya, rezeki saya dari situ!� ujarnya, pada Sabili yang menghubunginya via telepon pekan lalu.

Jauh sebelum Tessy muncul, dunia hiburan dihadiri oleh sosok Dorce Gamalama. Waria yang bernama asli Dedi Yuliardi Ashadi kelahiran Solok, Sumatra Barat, 21 Juli 1963 ini termasuk artis serba bisa. Kini ia memandu acara Dorce Show di sebuah televisi swasta.

Sejak kecil, Dorce sudah menggeluti dunia seni. Karir musiknya diawali dengan menyanyi bersama kelompok Bambang Brothers. Kala itu ia masih duduk di bangku SD. Di SMP ia semakin tidak tertarik pada pelajaran sekolah dan lebih memusatkan perhatian pada karir menyanyi.

Selain itu, ia juga mulai menyadari kecenderungannya untuk tertarik pada pria. Hal ini juga ia manfaatkan untuk membuat penampilannya di panggung tambah menarik, yaitu melawak dengan berpura-pura menjadi wanita. Ketika itulah ia mendapatkan nama panggilan Dorce Ashadi dari Myrna, pemimpin kelompok tari waria Fantastic Dolls.

Karena semakin merasa terperangkap dalam tubuh seorang laki-laki, ia kemudian memutuskan untuk operasi ganti kelamin menjadi seorang wanita. Walaupun mendapat tentangan dari berbagai pihak, hal ini juga diberitakan luas oleh media massa dan membuat Dorce semakin terkenal. Setelah muncul di TVRI stasiun daerah Surabaya, ia mulai muncul juga di TVRI pusat Jakarta dan diundang untuk tampil di berbagai kota di Indonesia. Acara ini diikuti film Dorce Sok Akrab dan Dorce Ketemu Jodoh, dan kontrak rekaman lainnya.

Menurutnya, ia mendapat inspirasi untuk nama Gamalama dari suatu perjalanan untuk menyanyi di Ternate bersama Benyamin Suaeb, di mana ia melihat gunung Gamalama. Setelah naik haji, ia juga menambahkan nama Halimatussadiyah.

Sosok lainnya yang bergelut di dunia ini adalah Aming. Pria kelahiran 7 November 1980 mempunyai nama lengkap Aming Sugandhi. Ia selalu memainkan peran sebagai perempuan lewat acara komedi Extravaganza di sebuah stasiun TV swasta. Selain mereka, masih banyak artis lainnya yang berjenis kelamin laki-laki dan sering memainkan peran sebagai perempuan. Dalam hukum Islam, mereka ini termasuk takhannuts atau laki-laki menyerupai wanita.

Selain di layar kaca, fenomena waria ini sejak lama sudah menunjukkan identitasnya secara terang-terangan di dunia nyata. Dari hari ke hari, keberadaan kaum waria di Indonesia, terasa makin banyak. Di Jakarta saja, saat ini tercatat ada lebih dari enam ribu waria yang terdata oleh Yayasan Srikandi Sejati yang juga digawangi oleh para waria sendiri.

Belum lagi mereka yang masih tertutup dan dikucilkan keberadaannya, karena dianggap sebagai aib oleh keluarganya. Para waria, kebanyakan hidup berkelompok antara 10 orang sampai 30 orang. Di Jakarta, mereka tersebar di berbagai wilayah.

Para waria yang cukup sukses menapaki hidupnya berprinsip, harus berani melakukan terobosan-terobosan, jika ingin diakui dan tidak menjadi cemoohan. Berbekal keberanian, segelintir waria mulai berani muncul di hadapan publik dengan kesan bersih, pintar dan tetap cantik.

Hal itu diwujudkan pula melalui pemilihan putri waria, yang sudah diadakan tiga kali sejak 2004, meskipun mengundang kontroversi. Pada 2004 pernah digelar Kontes Miss Waria Indonesia. Megi Megawati terpilih sebagai pemenang.

Selanjutnya pada pertengahan 2005, digelar Kontes Pemilihan Miss Waria Indonesia di Gedung Sarinah, Jakarta Pusat. Sebanyak 30 waria dari berbagai daerah mengikuti kontes ini. Mereka unjuk kebolehan dengan bernyanyi dan menari. Olivia Lauren, kontestan dari Jakarta, terpilih sebagai Miss Waria Indonesia 2005. Penyematan mahkota langsung dilakukan Miss Waria Indonesia 2004 Megi Megawati. Menurut Ketua Dewan Juri Ria Irawan, salah satu penilaian adalah kesempurnaan fisik peserta yang menyerupai wanita. "Pemenang akan dikirim ke ajang internasional," kata Ria Irawan, kala itu.

Acara ini sempat mendapat respon. Di luar gedung, sekitar seratus anggota Front Pembela Islam (FPI) memrotes Kontes Miss Waria ini. Mereka meminta acara tersebut dibubarkan. Menurut Sekretaris Dewan Pimpinan Pusat FPI Soleh Mahmud, acara ini telah menghina Islam. "Ini adalah kontes waria jadi-jadian, bukan waria yang diakui keberadaannya oleh Islam," kata Soleh. Setelah beraksi sekitar dua jam, mereka kemudian bernegosiasi dengan panitia. Namun, pemilihan Miss Waria 2005 tetap dilanjutkan.

Para penyelenggara kontes waria ini seperti tak pernah kapok. Pada 2006, mereka kembali menggelar Pemilihan Putri Waria 2006. Kali ini Merlyn Sopjan yang bernama asli Aryo Pamungkas terpilih sebagai pemenang.

Begitu gigihnya acara ini dilangsungkan sangat bisa dipahami. Para penyelenggara mendapatkan dukungan langsung dari para petinggi negeri ini. Seperti acara Pemilihan Putri Waria 2006, mereka mendapat dukungan langsung dari mantan Presiden Abdurahman Wahid dan Gubernur DKI Sutiyoso. �Saya hanya menagih janji Gus Dur yang pernah bilang dia Bapak Bangsa,� papar Megie yang bernama asli Totok Sugiarto. Dialah tokoh paling penting dalam penyelenggaraan pemilihan miss waria 2006.

Dukungan juga datang dari kalangan liberal. Seperti diberitakan Jawa Pos (Kamis, 1/7/2004), Ulil Abshar Abdalla pernah mengeluarkan siaran pers bersama dengan LSM Pelangi (Perhimpunan Lesbian dan Gay Indonesia) di Kantor YLBHI Yogyakarta pada 30 Juni 2004, untuk pembuatan UU khusus mengenai perlindungan lesbian dan gay.

Selain itu, fenomena maraknya artis di layar kaca juga bisa berdampak buruk. �Dampaknya buruk sekali. Ini menjadi semacam angin segar bagi para waria atau bencong. Orang melihat itu hal biasa. Sebagai sebuah pilihan yang diserahkan kepada orangnya, mau silakan, tidak mau tidak apa-apa. Padahal perbuatan itu perbuatan terkutuk. Dalam hadits sudah dikatakan, Allah melaknat perbuatan seperti itu. Allah melaknat laki-laki yang keperempuan-perempuanan, dan sebaliknya,� terang Dosen Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Dr Daud Rasyid.

Menurut doktor bidang hadits dari Universitas Kairo, Mesir ini, dari segi moral waria sudah menyalahi kaidah-kaidah Islam. Seorang laki-laki tidak boleh memakai pakaian perempuan, sebagaimana disebutkan sebuah hadits shahih.

Selanjutnya, menurut Daud Rasyid, praktik kebencong-bencongan ini menyalahi kaidah-kaidah moral. �Dalam kaidah moral kita, perempuan ada batasan-batasannya. Laki-laki juga ada batasan-batasannya. Jadi sangat tidak etis laki-laki tampil, apalagi di depan publik dengan pakaian-pakaian perempuan. Ini mengundang amarah Allah SWT karena itu merupakan bagian perbuatan yang berdosa,� tegasnya.

Ironisnya, sebagian dari mereka yang sering melakukan peran lawan jenisnya itu justru tidak mengetahui bahwa profesi yang mereka geluti dilarang. Ketika ditanya apakah profesinya dipermasalahkan secara agama, Kabul Basuki yang lebih tenar dengan panggilanTessy menjawab, �Agama yang mana?� Tessy juga heran kalau perbuatannya itu terlarang dalam Islam. �Diharamkan? Wah, saya baru dengar. Saya nggak pernah dengar hal itu,� ujar Kabul pada Sabili ketika dikonfirmasi tentang hadits yang melarang seorang laki-laki menyerupai wanita.

Berbeda dengan Tessy, Irfan Hakim justru mengetahui bahwa perbuatannya tidak boleh secara agama. Menurutnya, perbuatannya itu hanya sebatas di panggung. "Tapi kalau sampai dalam keseharian, agak miris juga ya. Itu kan sebenarnya dilarang kan oleh agama,� ujarnya pada Sabili.

Produser acara Catatan si Tessy, Boim Lebon juga mengaku kurang sreg dengan maraknya waria di layar kaca. �Saya sebenarnya kurang setuju kalau mengekspos waria-waria. Saya ada perasaan kurang sreg aja gitu,� ujarnya.

Lalu mengapa dia menggawangi acara Catatan si Tessy? �Kalau kita pakai Tessy karena dia dari dulu udah begitu ya. Kalau di TV lain, dia suka pakai buah dada-buah dadaan, di kita nggak boleh. Kalau dia pakai baju perempuan ya udahlah. Tapi kalau sampai kayak banci bener, sebetulnya kebijakan di RCTI nggak boleh ada banci-banci sekarang,� imbuh penulis Serial Lupus ini.

Dosen IAIN Sunan Gunung Djati Dr Daud Rasyid mengkhawatirkan fenomena maraknya waria ini. �Musibah-musibah ini kalau boleh dikatakan, merupakan jawaban atas kumpulan dosa-dosa yang begitu hebat di negeri kita. Begitu beragam, dari kanan, dari kiri. Maksiat ini jadi numpuk. Dari timbunan dosa-dosa yang dilakukan manusia, akhirnya pada gilirannya adalah murka Allah,� ujarnya.

Daud Rasyid berpesan, �Di zaman yang banyak terjadi musibah, justru kita berusaha mengurangi perbuatan-perbuatan yang sifatnya maksiat dan mengundang murka Allah. Fenomena terakhir ini menjadikan kita semakin terancam. Meski itu alasannya sekadar untuk penampilan atau tuntutan seni, itu dalam Islam tidak bisa diterima. Dalam Islam kesenian itu ada batasannya. Salah satunya dalam hal busana, tidak boleh laki-laki memakai kostum yang biasa dipakai perempuan. Demikian juga sebaliknya.�

Beginilah jadinya kalau kita tidak mengindahkan aturan Allah. Banci marak, bencana pun merebak. (sabili)

http://al-islahonline.com
_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_

Hukum Donor Mata
Senin, 17/11/2008 18:36 WIB 
Assalamu'alaikum wr. wb.
Begini pak Ustadz.
Saya punya masalah pada anak saya yang bernama annisa berumur 2.5 th. Semenjak lahir anak saya punya kelainan pada penglihatannya. Setelah konsultasi dengan dokter, ia divonis tidak bisa melihat. Untuk mengatasinya harus dengan donor mata dan dilakukan secepatnya sebelum melebihi umur 10 tahun karena dapat menghambat perkembangannya.
Yang ingin saya tanyakan :
1. Bagaimana hukumnya dalam Islam tentang donor mata.
2. Bagaimana jika antara donor dan pendonor beda agama apakah diperbolehkan dan apakah ada dalil yang memperbolehkannya.  
3. Apakah pendonor boleh dari negara lain.
Demikian pertanyaaan dari saya dan terima kasih.
wassalam.
Dion 
Jawaban
Wa’alaikumussalam Wr. Wb.
Allah Swt. menurunkan ajaran dien Al-Islam ke dunia untuk menjadi rahmat bagi semua makhlukNya. Dengan mengkaji sumber-sumber khazanah Islam (Al-Qur’an dan Sunnah Nabi), maka kita akan menemukan ajaran hidup yang sarat pesan untuk dapat hidup bahagia, sejahtera, sehat lahir dan batin sebagai kontribusi Islam kepada kehidupan manusia dan manivestasi kerahmatan nya yang universal. Islam disamping memperhatikan kesehatan rohani sebagai jembatan menuju ketenteraman hidup duniawi dan keselamatan ukhrawi, ia juga sangat menekankan pentingnya kesehatan jasmani sebagai nikmat Allah yang sangat mahal untuk dapat hidup aktual secara optimal. Sebab kesehatan jasmani disamping menjadi faktor pendukung dalam terwujudnya kesehatan rohani, juga sebagai modal kebahagiaan lahiriah. Keduanya saling terkait dan melengkapi tidak bisa dipisahkan bagai dua sisi mata uang. 
Oleh karena itu Islam sangat memuliakan ilmu kesehatan dan kedokteran sebagai perawat kehidupan dan misi kemanusiaan dengan izin Allah swt. Bahkan ia memerintahkan kita semua sebagai fardhu 'ain (kewajiban individual) untuk mempelajarinya secara global dan mengenali sisi biologis diri kita sebagai media peningkatan iman untuk semakin mengenal Allah Al-Khaliq disamping sebagai kebutuhan setiap individu dalam menyelamatkan dan menjaga hidupnya. 
Firman Allah swt. yang artinya : " Dan di bumi terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang yakin. Dan juga pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan.?" QS. Ad-Dzariyat ( 51) : 20, 21.) Sabda Nabi saw.: " Berobatlah wahai hamba Allah! karena sesungguhnya Allah tidak menciptakan penyakit melainkan Ia telah menciptakan pula obatnya, kecuali satu penyakit, yaitu tua." (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi).
Islam juga menetapkan fardhu kifayah (kewajiban kolektif) dan menggalakkan adanya ahli-ahli di bidang kedokteran dan memandang kedokteran sebagai ilmu yang sangat mulia. Imam Syafi'i berkata: "Aku tidak tahu suatu ilmu setelah masalah halal dan haram (Fiqih/syariah) yang lebih mulia dari ilmu kedokteran." (Al-Baghdadi, Atthib minal kitab was sunnah hal :187).
Transplantasi jaringan mulai dipikirkan oleh dunia sejak 4000 tahun silam menurut manuscrip yang ditemukan di Mesir yang memuat uraian mengenai eksperimen transplantasi jaringan yang pertama kali dilakukan di Mesir sekitar 2000 tahun sebelum diutusnya Nabi Isa as. Sedang di India beberapa puluh tahun sebelum lahirnya Nabi Isa as. seorang ahli bedah bangsa Hindu telah berhasil memperbaiki hidung seorang tahanan yang cacat akibat siksaan, dengan cara mentransplantasikan sebagian kulit dan jaringan lemak yang diambil dari lengannya. Pengalaman inilah yang merangsang Gaspare Tagliacosi, seorang ahli bedah Itali, pada tahun 1597M untuk mencoba memperbaiki cacat hidung seseorang dengan menggunakan kulit milik kawannya.
Pada ujung abad ke-19 M para ahli bedah, baru berhasil mentransplantasikan jaringan, namun sejak penemuan John Murphy pada tahun 1897 yang berhasil menyambung pembuluh darah pada binatang percobaan, barulah terbuka pintu percobaan mentransplantasikan organ dari manusia ke manusia lain. Percobaan yang telah dilakukan terhadap binatang akhirnya berhasil, meskipun ia menghabiskan waktu cukup lama yaitu satu setengah abad. Pada tahun 1954 M Dr. J.E. Murray berhasil mentransplantasikan ginjal kepada seorang anak yang berasal dari saudara kembarnya yang membawa perkembangan pesat dan lebih maju dalam bidang transplantasi.
Tatkala Islam muncul pada abad ke-7 Masehi, ilmu bedah sudah dikenal di berbagai negara dunia, khususnya negara-negara maju saat itu, seperti dua negara adi daya Romawi dan Persi. Namun pencangkokan jaringan belum mengalami perkembangan yang berarti, meskipun sudah ditempuh berbagai upaya untuk mengembangkannya. Selama ribuan tahun setelah melewati bantak eksperimen barulah berhasil pada akhir abad ke-19 M, untuk pencangkokan jaringan, dan pada pertengahan abad ke-20 M untuk pencangkokan organ manusia. Di masa Nabi saw. negara Islam telah memperhatikan masalah kesehatan rakyat, bahkan senantiasa berupaya menjamin kesehatan dan pengobatan bagi seluruh rakyatnya secara cuma-cuma. Ada beberapa dokter ahli bedah di masa Nabi yang cukup terkenal seperti al Harth bin Kildah dan Abu Ramtah Rafa'ah, juga Rafidah al Aslamiyah dari kaum wanita. 
Meskipun pencangkokan organ tubuh belum dikenal oleh dunia saat itu, namun operasi plastik yang menggunakan organ buatan atau palsu sudah dikenal di masa Nabi saw., sebagaimana yang diriwayatkan Imam Abu Daud dan Tirmidzi dari Abdurrahman bin Tharfah (Sunan Abu Dawud, hadits. no.4232) "bahwa kakeknya 'Arfajah bin As'ad pernah terpotong hidungnya pada perang Kulab, lalu ia memasang hidung (palsu) dari logam perak, namun hidung tersebut mulai membau (membusuk), maka Nabi saw. menyuruhnya untuk memasang hidung (palsu) dari logam emas". Imam Ibnu Sa'ad dalam Thabaqatnya (III/58) juga telah meriwayatkan dari Waqid bin Abi Yaser bahwa 'Utsman (bin 'Affan) pernah memasang mahkota gigi dari emas, supaya giginya lebih kuat (tahan lama). 
Pada periode Islam selanjutnya berkat doktrin Islam tentang urgensi kedokteran mulai bertebaran karya-karya monumental kedokteran yang banyak memuat berbagai praktek kedokteran termasuk transplantasi dan sekaligus mencuatkan banyak nama besar dari ilmuwan muslim dalam bidang kesehatan dan ilmu kedokteran, diantaranya adalah; Al-Rozy (Th.251-311 H.) yang telah menemukan dan membedakan pembuluh vena dan arteri disamping banyak membahas masalah kedokteran yang lain seperti, bedah tulang dan gips dalam bukunya Al-Athibba. Lebih jauh dari itu, mereka bahkan telah merintis proses spesialisasi berbagai kajian dari suatu bidang dan disiplin. Az-Zahrawi ahli kedokteran muslim yang meninggal di Andalusia sesudah tahun 400-an Hijriyah telah berhasil dan menjadi orang pertama yang memisahkan ilmu bedah dan menjadikannya subjek tersendiri dari bidang Ilmu Kedokteran. Beliau telah menulis sebuah buku besar yang monumental dalam bidang kedokteran khususnya ilmu bedah dan diberi judul "At-tashrif". 
Buku ini telah menjadi referensi utama di Eropa dalam bidang kedokteran selama kurang-lebih lima abad dan sempat diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dunia termasuk bahasa latin pada tahun 1497 M. Dan pada tahun 1778 M. dicetak dan diterbitkan di London dalam versi arab dan latin sekaligus. Dan masih banyak lagi nama-nama populer lainnya seperti Ibnu Sina (Lihat, Dr.Mahmud Alhajj Qasim, Atthibb 'indal 'arab wal muslimin hal: 105, Al-Ward, Mu'jam 'Ulama al-A'rab I / 144).
Transplantasi menurut Dr. Robert Woworuntu dalam bukunya Kamus Kedokteran dan Kesehatan (1993:327) berarti : Pencangkokan. Dalam Kamus Kedokteran DORLAND dijelaskan bahwa transplantasi berasal dari transplantation [trans-+ L.plantare menanam] berarti : penanaman jaringan yang diambil dari tubuh yang sama atau dari individu lain. Adapun transplant berarti : 1. mentransfer jaringan dari satu bagian ke bagian lain. 2. organ atau jaringan yang diambil dari badan untuk ditanam ke daerah lain pada badan yang sama atau ke individu lain. Jadi, menurut terminologi kedokteran "transplantasi" berarti; "suatu proses pemindahan atau pencangkokan jaringan atau organ tubuh dari suatu atau seorang individu ke tempat yang lain pada individu itu atau ke tubuh individu lain". Dalam dunia kedokteran jaringan atau organ tubuh yang dipindah disebut graft atau transplant; pemberi transplant disebut donor; penerima transplant disebut kost atau resipien.
Dalam prakteknya, berhasil tidaknya jaringan atau organ yang ditransplantasikan dari donor ke resipien tergantung pada terjadi atau tidak terjadinya reaksi immunitas pada resipien. Penolakan jaringan atau organ oleh resipien disebabkan adanya antigen yang dimiliki oleh sel donor tetapi tidak dimiliki oleh sel resipien. Meskipun demikian, faktor tersebut tidak merupakan suatu hambatan besar dalam dunia kedokteran. Para ahli medis di lapangan masih mampu mengatasinya dengan berbagai macam cara yang dapat memperkecil kemungkinan terjadinya reaksi penolakan, seperti dengan merusak sel-sel limfosit yang dimiliki oleh resipien atau membuang organ yang memproduksi sel limfosit yaitu limpa dan thymus.
Transplantasi termasuk inovasi alternatif dalam dunia bedah kedokteran modern. Dalam beberapa dekade terakhir tampaknya transplantasi semakin marak dan menjadi sebuah tantangan medis, baik dari upaya pengembangan aplikasi terapan dan teknologi prakteknya, maupun ramainya polemik yang menyangkut kode etik dan hukum nya khususnya hukum syariah Islam. 
Seperti beberapa topik yang diangkat dalam seminar berjudul "Organ Transplantation and Health Care Management From Islamic Perspective" yang diselenggarakan oleh FOKKI (Forum Kajian Kedokteran Islam Indonesia), FIMA (Federation of Islamic Medical Association) dan MUI di Universitas Yarsi pada tanggal 29-30 Juli 1996 diantaranya mengangkat persoalan tentang tata cara penetapan kepastian mati, boleh tidaknya donor mengambil imbalan, binatang sebagai alat donor, donor dari orang kafir untuk muslim/sebaliknya. 
Banyak orang yang bertanya-tanya tentang hukum dan ketentuan syariah Islam mengenai transplantasi yang menyangkut berbagai kasus prakteknya serta persoalan konsepsional mendasarnya khususnya di kalangan medis, seperti kata Dr. Tarmizi yang menyoroti fenomena bahwa saat ini yang paling sesuai untuk transplantasi organ jantung manusia adalah babi (Media Dakwah, No.265 Rab. Awal 1417 H/Agustus 1996). Karena masalah ini menyangkut banyak dimensi hukum, moral, etika kemanusiaan dan berbagai aspek kehidupan maka bermunculanlah kontroversi pendapat pro-kontra mengenai kasus ini.
Pada hakekatnya, syari'ah Islam ketika berbicara tentang boleh dan tidaknya suatu masalah, tidak terpasung pada batas 'hukum sekedar untuk hukum'. Lebih jauh dari itu, bahwa semua kaedah dan kebijakan hukum syariah Islam memiliki hikmah. Dimensi vertikalnya, sebagai media ujian iman yang menumbuhkan motivasi internal terlaksananya suatu etika dan peraturan hidup. Adapun dimensi horisontalnya adalah ia berdampak positif dan membawa kebaikan bagi kehidupan umat masunisa secara universal. Meskipun demikian, ketika para pakar hukum, pakar syariah Islam dan tokoh atau pemuka agama mengatakan bahwa praktek transplantasi pada kenyataanya adalah perlu dan sangat bermanfaat bagi kemanusiaan untuk menyelamatkan kehidupan dan dapat mengfungsikan kembali tempat organ atau jaringan tubuh manusia yang telah rusak yang oleh karenanya dibolehkan dan perlu dikembangkan, namun bagaimanapun juga perlu kajian mendalam lebih lanjut agar dalam prakteknya tetap dalam koridor kaedah syari'ah, tidak melenceng dari tujuan kemanusiaan serta menghindari kasus penyalahgunaan, distorsi pelacuran medis dan eksploitasi rendah yang menjadikannya komoditi dan ajang bisnis sehingga justri menampilkan perilaku tidak manusiawi.
Secara prinsip syariah secara global, mengingat transplantasi organ merupakan suatu tuntutan, kebutuhan dan alternatif medis modern tidak ada perselisihan dalam hal bolehnya transplantasi organ ataupun jaringan. Dalam simposium Nasional II mengenai masalah "Transplantasi Organ" yang telah diselenggarakan oleh Yayasan Ginjal Nasional pada tangal 8 September 1995 di arena PRJ Kemayoran, telah ditandatangani sebuah persetujuan antara lain wakil dari PB NU, PP Muhammadiyah, MUI disetujui pula oleh wakil-wakil lain dari berbagai kelompok agama di Indonesia. Bolehnya transplantasi organ tersebut juga ditegaskan oleh DR. Quraisy Syihab bahwa; "Prinsipnya, maslahat orang yang hidup lebih didahulukan." selain itu KH. Ali Yafie juga menguatkan bahwa ada kaedah ushul fiqh yang dapat dijadikan penguat pembolehan transplantasi yaitu "hurmatul hayyi a'dhamu min hurmatil mayyiti" (kehormatan orang hidup lebih besar keharusan pemeliharaannya daripada yang mati.) 
Lebih rinci, masalah transplantasi dalam kajian hukum syariah Islam diuraikan menjadi dua bagian besar pembahasan yaitu : Pertama : Penanaman jaringan/organ tubuh yang diambil dari tubuh yang sama. Kedua : Penanaman jaringan/organ yang diambil dari individu lain yang dirinci lagi menjadi dua persoalan yaitu: A. Penanaman jaringan/organ yang diambil dari individu orang lain baik yang masih hidup maupun sudah mati, dan B. Penanaman jaringan/organ yang diambil dari individu binatang baik yang tidak najis/halal maupun yang najis/haram.
Masalah pertama yaitu seperti praktek transplantasi kulit dari suatu bagian tubuh ke bagian lain dari tubuhnya yang terbakar atau dalam kasus transplantasi penyumbatan dan penyempitan pembuluh darah jantung dengan mengambil pembuluh darah pada bagian kaki. Masalah ini hukumnya adalah boleh berdasarkan analogi (qiyas) diperbolehkannya seseorang untuk memotong bagian tubuhnya yang membahayakan keselamatan jiwanya karena suatu sebab. (Dr. Al-Ghossal dalam Naql wa Zar'ul A'dha (Transplantasi Organ) : 16-20, Dr. As-Shofi, Gharsul A'dha : 126 ).
Adapun masalah kedua yaitu penanaman jaringan/organ yang diambil dari orang lain maka dapat kita lihat persoalannya apabila jaringan/organ tersebut diambil dari orang lain yang masih hidup, maka dapat kita temukan dua kasus. 
Kasus Pertama : Penanaman jaringan/organ tunggal yang dapat mengakibatkan kematian donaturnya bila diambil. Seperti, jantung, hati dan otak. Maka hukumnya adalah tidak boleh yaitu berdasarkan firman Allah Swt dalam al-Qur’an surat Al-Baqarah:195, An-Nisa’:29, dan Al-Maidah:2 tentang larangan menyiksa ataupun membinasakan diri sendiri serta bersekongkol dalam pelanggaran. 
Kasus kedua : Penanaman jaringan/organ yang diambil dari orang lain yang masih hidup yang tidak mengakibatkan kematiannya seperti, organ tubuh ganda diantaranya ginjal atau kulit atau dapat juga dikategorikan disini praktek donor darah. Pada dasarnya masalah ini diperbolehkan selama memenuhi persyaratannya yaitu: 
1. Tidak membahayakan kelangsungan hidup yang wajar bagi donatur jaringan/organ. Karena kaidah hukum islam menyatakan bahwa suatu bahaya tidak boleh dihilangkan dengan resiko mendatangkan bahaya serupa/sebanding. 
2. Hal itu harus dilakukan oleh donatur dengan sukarela tanpa paksaan dan tidak boleh diperjual belikan. 
3. Boleh dilakukan bila memang benar-benar transplantasi sebagai alternatif peluang satu-satunya bagi penyembuhan penyakit pasien dan benar-benar darurat. 4.Boleh dilakukan bila peluang keberhasilan transplantasi tersebut sangat besar. (Lihat: Mudzakarah Lembaga Fiqh Islam Rabithah Alam Islami, edisi Januari 1985 M.)
Namun demikian, ada pengecualian dari semua kasus transplantasi yang diperbolehkan yaitu tidak dibolehkan transplantasi buah zakar meskipun organ ini ganda karena beberapa alasan diantaranya: dapat merusak fisik luar manusia, mengakibatkan terputusnya keturunan bagi donatur yang masih hidup dan transplantasi ini tidak dinilai darurat, serta dapat mengacaukan garis keturunan. Sebab menurut ahli kedokteran, organ ini punya pengaruh dalam menurunkan sifat genetis. (Ensiklopedi Kedokteran Modern, edisi bahasa Arab III/ 583, Dr. Albairum, Ensiklopedi Kedokteran Arab, hal 134.)
Adapun masalah penanaman jaringan/organ tubuh yang diambil dari orang mati yang kondisinya benar-benar telah mati secara devinif dan medis. Organ/jaringan yang akan ditransfer tersebut dirawat dan disimpan dengan cara khusus agar dapat difungsikan. Maka hal ini secara prinsip syariah membolehkannya berdasarkan firman Allah dalam al-Qur’an surat Al-Kahfi:9-12 dan berdasarkan kaedah fiqih diantaranya: " Suatu hal yang telah yakin tidak dapat dihilangkan dengan suatu keraguan/tidak yakin ", " Dasar pengambilan hukum adalah tetap berlangsungnya suatu kondisi yang lama sampai ada indikasi pasti perubahannya." 
Berbagai hasil muktamar dan fatwa lembaga-lembaga Islam internasional yang berkomperten membolehkan praktek transplantasi jenis ini diantaranya konperensi OKI (Malaysia, April 1969 M ) dengan ketentuan kondisinya darurat dan tidak boleh diperjualbelikan, Lembaga Fikih Islam dari Liga Dunia Islam (Mekkah, Januari 1985 M.), Majlis Ulama Arab Saudi (SK. No.99 tgl. 6/11/1402 H.) dan Panitia Tetap Fawa Ulama dari negara-negara Islam seperti Kerajaan Yordania dengan ketentuan harus memenuhi persyaratan; 
1. Harus dengan persetujuan orang tua mayit / walinya atau wasiat mayit 2. Hanya bila dirasa benar-benar memerlukan dan darurat. 3. Bila tidak darurat dan keperluannya tidak urgen atau mendesak, maka harus memberikan imbalan pantas kepada ahli waris donatur ( tanpa transaksi dan kontrak jual-beli ). Demikian pula negara Kuwait (menurut SK Dirjen Fatwa Dept. Wakaf dan Urusan Islam no.97 tahun 1405 H. ), Mesir. (SK. Panitia Tetap Fatwa Al-Azhar no. 491), dan Al-Jazair (SK Panitia Tetap Fatwa Lembaga Tinggi Islam Aljazair, 20/4/1972)
Disamping itu banyak fatwa ulama bertaraf internasional yang membolehkan praktek tersebut diantaranya: Abdurrahman bin Sa'di ( 1307-1367H.), Ibrahim Alyakubi ( dalam bukunya Syifa Alqobarih ), Jadal Haq (Mufti Mesir dalam majalah Al-Azhar vol. 7 edisi Romadhon 1403), DR. Yusuf Qordhowi (Fatawa Mu'ashiroh II/530 ), DR. Ahmad Syarofuddin ( hal. 128 ), DR. Rouf Syalabi ( harian Syarq Ausath, edisi 3725, Rabu 8/2/1989 ), DR. Abd. Jalil Syalabi (harian Syarq Ausath edisi 3725, 8/2/1989M.), DR. Mahmud As-Sarthowi (Zar'ul A'dho, Yordania), DR. Hasyim Jamil (majalah Risalah Islamiyah, edisi 212 hal. 69).
Alasan mereka membolehkannya berdasarkan pada; a. ayat al-Qur’an yang membolehkan mengkonsumsi barang-barang haram dalam kondisi benar-benar darurat. (QS. Al-Baqarah:173, Al-Maidah:3, Al-An’am:119,145, b. anjuran al-Qur’an untuk merawat dan meningkatkan kehidupan (QS. Al-Maidah: 32.c. ayat-ayat tentang keringanan dan kemudahan dalam Islam (QS.2:185, 4:28, 5:6, 22:78), d. hal itu sebagai amal jariyah bagi donatur yang telah mati dan sangat berguna bagi kemanusiaan. e. Allah sangat menghargai dan memuji orang-orang yang berlaku 'itsaar' tanpa pamrih dan dengan tidak sengaja membahayakan dirinya atau membinasakannya.(QS. 95:9) f. Kaedah-kaedah umum hukum Islam yang mengharuskan dihilangkannya segala bahaya.
Masalah penanaman jaringan/organ yang diambil dari tubuh binatang , maka dapat kita lihat dua kasus yaitu; 
Kasus Pertama: Binatang tersebut tidak najis/halal, seperti binatang ternak (sapi, kerbau, kambing ). Dalam hal ini tidak ada larangan bahkan diperbolehkan dan termasuk dalam kategori obat yang mana kita diperintahkan Nabi untuk mencarinya bagi yang sakit. 
Kasus Kedua : Binatang tersebut najis/ haram seperti, babi atau bangkai binatang dikarenakan mati tanpa disembelih secara islami terlebih dahulu. Dalam hal ini tidak dibolehkan kecuali dalam kondisi yang benar-benar gawat darurat. dan tidak ada pilihan lain. Dalam sebuah riwayat atsar disebutkan: "Berobatlah wahai hamba-hamba Allah, namun janganlah berobat dengan barang haram." Dalam kaedah fiqh disebutkan "Adh Dharurat Tubihul Mahdhuraat" (darurat membolehkan pemanfaatan hal yang haram) atau kaedah "Adh Dhararu Yuzaal" (Bahaya harus dihilangkan) yang mengacu surat Al Maidah: 3. "Adh Dharurat Tuqaddar Biqadarihaa" (Peertimbangan kondisi darurat harus dibatasi sekedarnya) Al Baqarah: 173 (Majma' Annahr : II/535, An-Nawawi dalam Al-Majmu' : III/138 ).
Sebagai penutup jawaban, perlu saya kemukakan beberapa catatan untuk praktik transplantasi yang dibolehkan yaitu dari segi Resipien (Reseptor) harus diperhatikan skala prioritas dan pertimbangan dalam memberikan donasi organ atau jaringan seperti tingkat moralitas, mental, perilaku dan track record yang menentramkan lingkungan serta baik bagi dirinya dan orang lain. (QS. Al Hujurat: 1, Ali Imran: 28, Al Mumtahanah: 8, Shaad: 28), peranan, jasa atau kiprahnya dalam kehidupan umat (QS. Shaad: 28), hubungan kekerabatan dan tali silatur rahmi ( QS. Al Ahzab: 6), tingkat kebutuhan dan kondisi gawat daruratnya dengan melihat persediaan. 
Adapun dari segi Donor juga harus diperhatikan berbagai pertimbangan skala prioritas yaitu ; 1. menanam jaringan/organ imitasi buatan bila memungkinkan secara medis. 2. Mengambil jaringan/organ dari tubuh orang yang sama selama memungkinkan karena dapat tumbuh kembali seperti, kulit dan lainnya. 3. Mengambil dari organ/jaringan binatang yang halal, adapun binatang lainnya dalam kondisi gawat darurat dan tidak ditemukan yang halal. 4. Mengambil dari tubuh orang yang mati dengan ketentuan seperti penjelasan di atas. 5. Mengambil dari tubuh orang yang masih hidup dengan ketentuan seperti diatas disamping orang tersebut adalah mukallaf ( baligh dan berakal ) harus berdasarkan kesadaran, pengertian, suka rela dan tanpa paksaan. 
Disamping itu donor harus sehat mental dan jasmani yang tidak mengidap penyakit menular serta tidak boleh dijadikan komoditas. 
Wallahu A'lam Wabillahit taufiq wal Hidayah
http://www.eramuslim.com/

_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_


Fenomena Bencong di Teve

Assalamu ''alaikum wr.wb

Intinya gini ustadz, saya kok agak "gerah" melihat banyaknya acara-acara di televisi yang menampilkan mereka yang kita sebut "bencong"
Sebetulnya bagaimana sih dalam pandangan Islam tentang mereka itu? Lalu sikap dan pandangan ustadz secara pribadi?

Wassalam
jawaban

Sebuah kesalahan persepsi yang paling fatal adalah mengatakan bahwa menjadi bencong (waria) merupakan takdir atau kehendak Allah. Dan dikatakan bahwa itu merupakan pilihan hati yang harus dilindungi serta menjadi hak asasi.

Ini adalah sebuah perkataaan yang paling dahsyat dan tuduhan yang paling nista yang dinisbatkan kepada Allah SWT.

Pernyataan itu sama saja dengan seorang pelacur beralasan bahwa dirinya melacurkan diri karena kehendak Allah juga. Sehingga bila seseorang rela menjadi pelacur, maka itu merupakan hak asasi yang harus dilindungi.La haula wala quwwata illa billah.

Menjadi bencong pada jelas bukan kehendak Allah SWT, sebab justru Allah SWT telah mengharamkan perbuatan itu. Bahkan lafadz haditsnya sampai kepada sebutan laknat.

Dan para ulama mengatakan bahwa apabila dalam suatu larangan, Allah sampai mengancam dengan laknat, maka perbuatan itu merupakan dosa besar dan pelakunya berhak dihukum secara berat di hadapan mahkamah syar''iyah.

Kedua hadits berikut ini tidak lepas dari ancaman dalam bentuk "Laknat"

عن عبد الله بن عباس رضي الله عنهما قال: لعن رسول الله صلى الله عليه وسلم المتشبهين من الرجال بالنساء والمتشبهات من النساء بالرجال

Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ''anhu berkata, "Rasululllah SAW telah melaknat laki-laki yang bergaya (menyerupai) perempuan, dan juga melaknat perempuan yang bergaya (menyerupai) laki-laki. (HR Bukhari)

Rasulullah SAW pernah menghitung orang-orang yang dilaknat di dunia ini dan disambutnya juga oleh malaikat, di antaranya ialah laki-laki yang memang oleh Allah dijadikan betul-betul laki-laki, tetapi dia menjadikan dirinya sebagai perempuan dan menyerupai perempuan; dan yang kedua, yaitu perempuan yang memang dicipta oleh Allah sebagai perempuan betul-betul, tetapi kemudian dia menjadikan dirinya sebagai laki-laki dan menyerupai orang laki-laki (Hadis Riwayat Thabarani).

Kalau memang itu kehendak Allah, maka seharusnya tidak ada larangan untuk melakukan tindakan yang tidak senonoh itu. Dan kalau menjadi waria itu merupakan hak asasi, maka tidak perlu ada laknat dari Allah.

Yang benar adalah bahwa menjadi waria atau bencong itu adalah sebuah tindakan yang dilakukan secara sadar, nyata, pilihan, dan tentunya sebuah dosa besar yang menurunkan laknat. Bukan sebuah takdir dari Allah, apalagi hak asasi.

PeranTV Dalam Menghancurkan Syariah Islam

Salah satu bentuk peperangan umat Islam melawan kekafiran yang maha dahsyat adalah kampanye dan propaganda gaya hidup waria dan bencong. Nyaris semua televisi dan programnya tidak pernah melewatkan propaganda kufur yang satu ini.

Coba hitung lagi, nyaris hampir semua group lawak selalu ada bencongnya. Bahkan tanpa sadar, propaganda untuk menjadi bencong sudah ada sejak zaman dulu. Bayangkan, di masa yang masih sangat murni dan kental dengan agama, sudah banyak pelawak yang berkostum perempuan, meski saat itu nyaris semata-mata buat lucu-lucuan semata.

Di tahun 80-an sudah adaada Ester atau Joice yang mendampingi Jojon (Jayakarta Group). Di Srimulat ada Kabul yang berlagak jadi Tessy. Masih di zaman itu, dulu ada Karjo AC-DC yang juga selalu berdandan ala perempuan.

Tapi di zaman sekarang ini, gaya bencong itu bukan saja masih dipertahankan, tapi bahkan sudah jauh semakin merajalela. Bahkan sudah mendominasi.Hari ini nyaris semua bencong di pinggir jalan masuk TV. Termasuk juga para bencong salon, ikut-ikutan masuk ke TV kita, ditonton oleh jutaan pasanga mata yang mengaku beragama Islam.

Hari ini siapa yang tidak kenal tokoh lawak selalu tampil sebagai bencong? Siapa tidak kenal Dorce Gamalama (Dedi Yuliardi Ashadi), Olga, Tata Dado, Aming, Avi (Joko), Ivan Gunawan, Ruben, Dave Hendrikdan seterusnya. Penampilan bencog mereka di TV sudah sangat akrab di mata para pemirsa, sampai nyaris tidak ada lawakan kecuali selalu ada tokoh bencong ini tampil.

Para artis di Ekstravaganza selain Aming, yang lainnya juga pada rajin berpenampilan bencong. Seolah jadi bencong itu memang lucu dan silahkan ditertawai. Seakan sebuah lawakan masih kurang afdhal kalau tidak menampilkan bencog.

Yangamat menyedihkan adalah Irfan Hakim. Pemuda yang berbakat dan lulsan IAIN Sunan Gunung Djati ini ternyata juga sering latah ikut-ikutan tampil jadi bencong. Dia sering nongol sebagai perempuan di acara Ngelenong Nyok. Meski mengaku sudah tahu bahwa hal itu tidak boleh, tapi alasannya dia bilang ini kan cuma aksi panggung, bukan betulan. Jadi logikanya, kalau sekedar jadi bencong-bencongan, hukumnya tidak apa-apa. Yang haram adalah kalau jadi bencong betulan. Wah, ini ada mujtahid baru.

Tessi Srimulat malah jauh lebih parah. Dia malah mengaku tidak tahu bahwa berpenampilan daya wanita itu haram. Majalah Sabili menuliskan wawancara dengan bencong TV ini:

Ketika ditanya apakah profesinya dipermasalahkan secara agama, Kabul Basuki yang lebih tenar dengan panggilanTessy menjawab, “Agama yang mana?” Tessy juga heran kalau perbuatannya itu terlarang dalam Islam. “Diharamkan? Wah, saya baru dengar. Saya nggak pernah dengar hal itu, ” ujar Kabul pada Sabili ketika dikonfirmasi tentang hadits yang melarang seorang laki-laki menyerupai wanita.

Ramadhan: Bulan Bencong

Lebih parah dari yang parah, kita harus mengurut dada kalau sudah masuk bulan Ramadhan. Bayangkan, sejak acara pengantar sahur hingga acara menjelang berbuka, semua diwarnai lelucon yang konyol. Hampir seluruh acara Ramadhan menampilkan sosok waria.

Entah karena jahil atau karena ada unsur kesengajaan, yang pasti kita melihat fenomena aneh. Pengelola acara Ramadhan di televisi secara kompak, serempak, dan berjamaah dengan terang-terangan dan secara sengaja menampilkan kaum banci sebagai menu wajib yang harus dipelototi umat Islam. Dan itu akan mencapai puncaknya di masa Ramadhan.

Ramadhan yang seharusnya penuh berkah berubah kalau kita melihat TV, karena isinya kaum bencog merajalela. Tanpa sadar dan memperhatikan syariah, mereka tampil dengan ikhlas karena dapat bayaran yang tinggi.

Direktur Eksekutif Lembaga Pemberdayaan dan Penguatan Publik (LAMPIK), Mayjen Simanungkalit menilai sebagian besar acara Ramadhan di televisi swasta disusupi misi-misi yang menyesatkan, karenanya umat Islam diimbau agar tidak mudah terjebak.

“Hanya sedikit acara Ramadhan di televisi yang istiqomah pada misi dakwah, selebihnya justru disusupi misi-misi menyesatkan dan bahkan misi-misi setan, ” katanya kepada ANTARA di Medan, Rabu [26/09].

Menurut alumni Fakultas Dakwah IAIN Medan yang juga Wakil Ketua GP Ansor Sumut itu, di antara ciri masuknya misi setan dalam acara Ramadhan di televisi terlihat dari upaya menonjolkan sosok waria atau manusia idiot menjadi tokoh utama dalam sebuah tayangan.

Ranah Iklan

Bahkan demam bencong pun juga masuk ke ranah iklan. Salah satu operator seluer besar di negeri inigiat berdakwah mempopulerkan perbencongan ini. Jargonnya adalah "Kasih deh...." Seolah dalam benak pembuat iklan itu, kartunya akan laku karena para bencong se-Indonesia akan membelinya.

Iklan ini juga telah menjadi kampanye terselubung yang masuk ke alam bawah sadar 200 juta muslim Indonesia, bahwa setidaknya menjadi bencong itu wajar, boleh, manusiawi, dan merupakan hak asasi yang harus dihargai orang lain.

Bencong Betulan

Banyak artis yang merasa dapat rejeki kalau berpenampilan bencong, meski kesehariannya tidak demikian. Tapi jangan lupa, tidak sedikit dari mereka yang memang dalam kesehariannya memang bencong betulan.

Seolah sekarang ini bencong sudah benar-benar diridhai, bukan sekedar lawakan lucu-lucuan, tetapi sudah dianggap sah, diakui hak-hak asasinya, dan dianggap sebagai kodrat dan takdir dari Allah. Naudzubillah.

Para Bencong Bersatu

Kita bisa menggigil kalau melihat bagaimana para bencong sudah merajalela di negeri ini. Dan mereka pun bersatu, saling bela dan saling dukung sesama penganut kebatilan. Mereka punya komunitas, bahkan punya oraganisasi serta rajin berbagi job.

Pendeknya, era ini adalah era para bencong merajalela. Era di mana para ulama sudah hampir tidak terdengar suaranya, khususnya urusan perbencongan ini.

Di tahun 80-an, Buya Hamka ketika menjabat sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia pernah mengharamkan operasi ganti kelamin, karena para bencong sering melakukannya. Namun sampai hari ini, kami belum mendapat fatwa baru yang mengharamkan berpenampilan bencong, terutama terkait dengan maraknya kemunculan para bencong di layar TV. Padahal layar TV itu dipirsa oleh anak-anak dalam jumlah berjuta. Lalu mau dibawa ke mana anak-anak itu?

Himbauan

Maka kami himbau kepada MUI untuk mengeluarkan fatwa haramnya mencari nafkah dengan menjadi bencong, baik di layar TV sebagai pelawak, penyanyi, artis, penghibur, atau pun sebagai pelacur di pinggir jalan.

Mengingat dalam hukum Islam, menjadi bencong atau berpenampilan waria hukumannya dari Allah sangat berat. Dan dari sisi hukum dunia, mereka bisa dihukum mati atau diasingkan.

Kepada teman-teman para da''i, mohon lebih sering diangkat tema anti bencong, karena sekarang ini bencong sudah menjadi penyakit besar. Harus ada kekuatan bersama untuk menolak keberadaan bencong, baik di TV atau tempat-tempat yang sekiranya akan merusak moral umat.

Wallahu a''lam bishshawab, wassalamu ''alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc
http://www.ustsarwat.com/index.php

_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_

Jalan dorce di tahun kuda
Fatwa mui: tindakan menyempurnakan kelamin dibenarkan bagi yang berkelamin ganda. tapi menukar atau mengubah kelamin pria jadi wanita & sebaliknya, tak boleh. a.r. fakhruddin membolehkan ganti kelamin.
DALAM Tahun Kuda ini, jalan mulai rata bagi yang kelaminnya mau disempurnakan. Untuk mereka, fatwanya datang dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). "Tindakan menyempurnakan kelamin dibenarkan bagi yang berkelamin ganda," kata K.H. Hasan Basri. Ketua Umum MUI ini bicara soal tadi kepada wartawan di Departemen Agama RI, ketika silaturahmi dan memperingati ulang tahun departemen itu Rabu pekan lalu.

Bila fungsi kelamin waria (wanita yang pria) cenderung wanita, boleh direparasi seperti wanita normal. Kalau cenderung fungsi kelaminnya pria, maka disempurnakan seperti pria normal. Namun, menukar atau mengubah kelamin pria menjadi wanita, dan sebaliknya, itu tak boleh. "Tindakan menggantikan kelamin hukumnya tetap haram," kata Hasan Basri. Ini yang mesti diteliti dulu sebelum kelamin waria dioperasi. Apakah ia khuntsa musykil, pseudohermafrodit, alias kelamin ganda, atau sebenarnya khuntsa muthlaq (hermaf- rodit) yang di fikih memang disebut "lelaki". Sebab, menurut Ahmad Azhar Basyir, M.A., bila jenis kelaminnya kembar, itu jelas kelainan.

Karena itu, Ketua Majelis Tarjih Pengurus Pusat Muhammadiyah itu setuju "penegasan" kelamin dengan dioperasi. Seandainya tindakan ini malah memfungsikan unsur biologisnya, operasi dimaksud menjadi amal saleh. "Tindakan ini dipandang semacam mengobati orang sakit," katanya.

Menurut dosen di Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada dan UII (Universitas Islam Indonesia) Yogya itu, yang dibenarkan cuma operasi "penegasan" -- bukan merombak yang sudah sempurna -- sehingga waria yang berkelamin ganda itu tidak lagi kesulitan batin atau kejiwaan.

Suara serupa juga muncul dalam seminar "Tinjauan Islam tentang Operasi Ganti Kelamin" akhir Agustus tahun kemarin di Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur. Acara tiga hari itu, prakarsa Pengurus Wilayah Nahdatul Ula- ma Jawa Timur. Pertemuan yang juga mengundang Dorce (dahulu Dedi Yuliardi) itu, yang kini berkibar sebagai artis film dan penyanyi, mematok:

1. Kelamin yang sudah sempurna, kalau dioperasi atau diubah, haram. 2. Yang semula kelaminnya sempurna, tapi telanjur memilih dioperasi, "hukumnya dikembalikan kepada status asal sebelum ia dioperasi". 3. Yang mubah atau boleh dioperasi: Lelaki atau perempuan yang kelaminnya tak sama antara yang di luar dan yang di dalam, dioperasi untuk disamakan. Tapi kalau luar dan dalamnya serupa, cuma bentuknya kurang sempurna, boleh pula disempurnakan. 4. Lelaki dan wanita yang berkelamin ganda, salah satu boleh dibuang -- asal lebih dulu ditentukan oleh tim ahli (medis).

Pertemuan Bahtsul Masail Diniyah (Membahas Kasus Keagamaan) NU itu bahkan meminta masyarakat jangan mencibir mereka yang sulit menentukan jenis kelaminnya. Seruan itu malah mengharapkan supaya mereka dibantu dan disayangi. Termasuk yang suka membantu adalah Kiai Haji A.R. Fakhruddin. Suatu hari Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah itu didatangi seorang lelaki yang tingkahnya kewanita-wanitaan atau medoki.

Pada tamunya Pak AR -- begitu ia akrabnya dipanggil -- dijelaskan bahwa dalam Quran dan Hadis tak ada dasar hukum (nash) boleh atau dilarang mengganti kelamin. "Hanya, kalau kamu nanti jadi wanita, maka harus menerima hukumnya sebagai wanita. Bila salat harus menutup aurat. Kalau menikah dengan lelaki dan menerima pembagian warisan, sesuai hakmu sebagai wanita," katanya. Ia tak tahu apakah lelaki yang datang itu sudah ganti kelamin.

Bahkan dalam rubrik tanya jawab agama di koran Kedaulatan Rakyat Yogyakarta, 28 Desember silam, A.R. Fakhruddin menjawab kontroversial: "boleh ganti kelamin". Sementara, yang tadi berpendapat ganti kelamin hukumnya haram, karena mengubah takdir Tuhan.

"Tapi, menurut saya mengubah kelamin juga karena takdir dari Allah," katanya. Seorang waria yang bertingkah kewanitaan itu kemauannya sendiri. "Jadi, perubahan kelamin merupakan takdir yang kembali pada takdir," ujar A.R. Fakhruddin. Dan kalau belum jelas statusnya, (disebut khuntsa, maka diambil mana yang paling berat. "Jika lebih berat sebagai laki-laki, dia harus menerima hukum lelaki. Tapi kalau lebih berat sebagai wanita, ia harus menerima dirinya sebagai wanita," katanya.

Jika dikembalikan nada aslinya, masalah ganti kelamin bukan ibadat, melainkan soal dunia yang asalnya "halal" -- artinya dibenarkan. Menurut Ushul Fiqh, kata Pak AR lagi, urusan dunia asalnya adalah halal, kecuali kalau dilarang. Misalnya, daging babi. Asalnya halal. Tapi karena ada larangan, daging babi berubah haram. Karena mengubah kelamin soal dunia yang asalnya halal, dan tak ada dasar melarangnya, maka hukumnya halal.

Masih menurut Pak AR, waria yang sudah mengubah diri sebagai wanita, hukumnya boleh menjadi imam ketika salat sesama wanita. Dasarnya sabda Nabi: "Kami ingin memberi hukum yang nampak." Jadi, orang itu secara lahiriah tampak sebagai wanita, maka ia jelas seorang wanita. Dan wanita yang asalnya waria, tambah Pak AR, wudunya tak batal bila dia bersentuhan dengan wanita.

Karena itu, kata Pak AR, masalah ganti kelamin itu tidak ada hubungannya dengan Surat An-Nisa: 119. Surat itu tentang orang yang menyembah sesuatu, misalnya lembu.

Mengapa waria mengubah dirinya menjadi wanita lewat ganti kelamin, bisa ditanya padanya. Si wanita yang semula waria menjawab: ganti kelamin karena ingin sebagai perempuan. "Sehingga jelas statusnya," kata A.R. Fakhruddin.

Begitu juga mengenai Surat As-Sura: 49. Itu bukan larangan bagi mereka yang mengubah dirinya jadi wanita. Surat As-Sura hanya penegasan tentang anak-anak: "Lelaki dan perempuan yang lahir di dunia itu merupakan kehendak Allah." Tak ada sangkut pautnya dengan ganti kelamin sama sekali. Karenanya, Pak AR menilai laki-laki yang berkejiwaan perempuan boleh ganti kelamin. Puas Dorce?

Laporan Slamet Subagyo dan Aries Margono (Yogya)
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1990/01/13
_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_

“Operasi Face Off” ketegori Muslim. Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh

Ustadz Ahmad Sarwat, semoga Anda senantiasa selalu dirahmati Allah SWT. Bagaimana pandangan Islam terhadap operasi permak wajah atau face Off seperti yang saat ini dilakukan oleh dokter-dokter di Indonesia?

WAssalamualaikum wr. wb

Dermawan Soesilo

Jawaban

Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh,

Hukum operasi wajah untuk memperbaiki bagian tubuh yang rusak karena sebuah musibah dibenarkan. Dalilnya ada beberapa riwayat yang menyebutkan bahwa ada seorang shahabat Rasulullah SAW yang mengganti hidungnya dengan emas lantaran patah saat perang. Logikanya, kalau mengganti hidung yang patah dengan emas dibolehkan, apalagi dengan kulit sendiri, tentu lebih utama.

Wajah manusia adalah bagian dari keindahan yang dianugerahi Allah SWT. Sebaiknya dijaga dan dipelihara. Memang tidak boleh diubah dengan cara mencukur alis, karena adanya larangan dari Rasulullah SAW tentang hal itu.

Rasulullah s.a.w. melaknat perempuan-perempuan yang mencukur alisnya atau minta dicukurkan alisnya.` .

Namun bila wajah rusak total sehingga membuat yang bersangkutan kehilangan muka, tentang babnya bukan urusan mengubah ciptaan Allah SWT. Sebaliknya, justru mengembalikan anugerah Allah SWT yang sempat rusak. Sehingga operasi wajah dengan tujuan seperti itu, memang dibolehkan. Sebab akan mengembalikan harga diri seseorang.

Yang termasuk dibolehkan juga adalah operasi untuk memperbaiki cacat bawaan. Misalnya, operasi menambal mulut yang sumbing. Sekarang dengan teknologi implantasi modern, masalah ini sudah bisa diatasi. Dan akan mengembalikan rasa percaya diri seseorang karena bisa hidup normal tanpa cacat.

Sedangkan yang diharamkan adalah bila tujuannya semata-mata bedah kosmetik. Atau yang popler dengan bedah plastik. Misalnya, hidungnya yang pesek dibikin mancung, matanya yang sipit dibikin luas, bibirnya yang tebal dibikin tipis. Seperti yang banyak dilakukan oleh para selebriti hedonis tak bermoral itu. Padahal apa yang Allah SWT berikan itu bukan sebuah cacat atau kekurangan seperti pada kasus sumbing atau wajah rusak karena musibah. Tapi semata-mata karena ‘gatel’ dan kurang kerjaan.

Operasi seperti ini selain berbahaya, karena sangat beresiko komplikasi, juga sangat kuat aroma mengubah ciptaan Allah SWT. Seolah mereka tidak bisa terima diberi wajah sejak lahir seperti itu. Dalam pandangan kami, kalau semangatnya semata-mata hanya itu, yaitu tidak puas dengan anugerah Allah SWT, maka operasi kecantikan semacam ini termasuk yang dilarang. Sebab pada dasarnya Allah SWT sudah menciptakan manusia dalam keadaan yang paling sempurna.

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

Sumber Operasi Face Off : http://assunah.or.id
http://blog.re.or.id/

_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_

   

Persoalan-persoalan Etis di Sekitar Pencangkokan Organ dengan Ilustrasi Perspektif Islam [1] Makalah dipresentasikan di Seminar “Bioetika: Tantangan dan Permasalahannya”, diselenggarakan Listhia dan Percik, Salatiga, 12-13 April 2006.
  

Zainal Abidin Bagir
Center for Religious and Cross-cultural Studies
Gadjah Mada University, Yogyakarta, Indonesia

Abstract:

This paper begins by listing three groups of ethical questions involved in organ transplantation: 1) intrinsic ethical issue of whether the technology itself is acceptable; 2) how the organs are acquired and how they are distributed; and 3) some broader issues involving the notion of distributive justice. In the next section Islamic perspectives on some of these issues are discussed as an illustration of how religion deals with them. Despite the existence of impressive consensus—as compared to Islamic responses to other biomedical issues—this paper raises several criticisms concerning the limitation of current Islamic approach to organ transplantation. This paper is concluded with several remarks on general bioethical issues which need to be discussed especially in the Indonesian context.

Keywords : organ transplantation, bioethics, Islam, distributive justice

 

Sementara ada isu-isu dan nilai-nilai etis yang berlaku secara umum dalam beberapa bidang bioetika, ada pula isu-isu etis khusus untuk masing-masing persoalan biomedis. Makalah ini dimulai dengan mendaftar masalah-masalah yang cukup spesifik terkait dengan pencangkokan organ, yang dikelompokkan menjadi tiga kelompok persoalan etis besar. Tulisan ini tak berpretensi untuk menjawab semua persoalan pelik tersebut, namun sekadar mengajukan beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan dalam mengambil keputusan-keputusan etis terkait.

Pembahasan etika di makalah ini ingin dipusatkan pada etika yang bersumber dari agama (tanpa menafikan adanya upaya-upaya menawarkan etika sekular untuk menjawab persoalan etis pencangkokan organ). Karena itu, bagian kedua mencoba menjawab sebagian kecil dari persoalan-persoalan tersebut, dengan mengambil contoh kasus tanggapan Islam terhadap teknologi medis ini. Meski ada konsensus yang cukup mengesankan dalam Islam ketika merespon pencangkokan organ, tanggapan tersebut dianggap kurang lengkap karena hanya terfokus kepada satu dari tiga kelompok masalah etis pencangkokan organ. Secara khusus, satu masalah yang tak cukup banyak mendapat perhatian adalah mengenai isu keadilan distributif.

Di bagian akhir diberikan beberapa catatan mengenai dua isu umum dan mendasar dalam bioetika yang perlu diperbincangkan, khususnya dalam konteks Indonesia .

 

I. Persoalan-persoalan etis dalam transplantasi organ

Terkait dengan pencangkokan organ, di bawah ini akan dicoba didaftar secara agak terinci isu-isu etis yang mungkin muncul dalam empat kelompok.

A. Kebolehan intrinsik pencangkokan

Di sini pertanyaannya adalah kebolehan atau ketidakbolehan secara intrinsik teknologi ini maupun dampak-dampak negatif yang dipersepsi akan ditimbulkannya. Misalnya, ada beberapa pandangan keagamaan tertentu yang melihat upaya ini sebagai melanggar kesakralan tubuh atau martabat manusia yang merupakan ciptaan Tuhan. Ini bisa jadi merupakan bentuk lain, atau bisa diturunkan dari, keberatan umum terhadap kedokteran yang melakukan intervensi atas tubuh manusia. Berhakkah manusia mengintervensi kehidupan manusia? Sebagian besar agama akan memberikan jawaban afirmatif terhadap pertanyaan ini, namun biasanya dengan kualifikasi-kualifikasi tertentu. Maka persoalannya adalah: sampai sejauh apa intervensi itu bisa dilakukan? Ini adalah pertanyaan mengenai batas-batas intervensi yang diperbolehkan, dengan mempertimbangkan upaya mempertahankan martabat manusia maupun upaya menghindari “playing god”. Di bagian akhir tulisan ini nanti akan disinggung mengenai masalah ini lebih jauh.

Di samping itu, dalam literatur etika dan hukum Islam, misalnya, ada pula persoalan-persoalan spesifik seperti: apakah boleh seorang Muslim menerima organ dari non-Muslim? Bagaimana pula dengan organ dari binatang, khususnya binatang yang diharamkan bagi Muslim untuk mengkonsumsinya, seperti babi? Apakah memindahkan organ babi, misalnya, ke tubuh manusia bisa dianalogikan dengan mengkonsumsi daging itu?

Pertanyaan mengenai boleh/tidak bolehnya pencangkokan organ ini bisa juga dilihat dari konteks sosial-ekonomi: kepada kelompok masyarakat manakah teknologi ini berpihak—orang miskin atau kaya? Isu ini akan dibahas lebih lanjut dalam pembahasan mengenai keadilan distributif di bawah. Sebelum itu, fakta bahwa ada pertanyaan-pertanyaan etis yang bisa dimunculkan mengenai kebaikan/keburukan intrinsik teknologi pencangkokan, ini saja sudah menunjukkan bahwa teknologi ini tidak bebas-nilai—bahkan sebelum kita melihat dampak-dampaknya. [2]

B. Perolehan dan distribusi organ

Salah satu persoalan terbesar, khususnya di negara maju seperti AS, muncul karena jauh lebih tingginya permintaan akan organ ketimbang suplai yang ada. Di AS, pada 2003 lebih dari 19,000 pencangkokan organ dilakukan; organ-organ tersebut diambil dari 9,800 donor. Namun angka ini menjadi amat kecil jika dibandingkan dengan daftar tunggu: pada tahun itu, ada 83,000 orang yang menunggu; sehingga rata-rata ada 17 orang setiap harinya yang meninggal karena tak beruntung mendapat organ pada waktunya. [3] Karena itu, ada dua kelompok pertanyaan besar menyangkut permintaan dan suplai organ:

 

• Bagaimana memperoleh organ?

Secara garis besar, ada dua cara memperoleh organ: melalui donor hidup dan donor mati. Menyangkut donor hidup, bolehkah organ ditukar dengan sejumlah uang? Atau haruskah sumbangan organ didasarkan pada motif yang sepenuhnya altruistik? Etiskah jual-beli organ? Tidakkkah ini akan menjadikan kedokteran menjadi semacam pasar bebas untuk organ? Bolehkah orang—dengan kemauannya sendiri—menjual organnya, dan orang lain membelinya? Saat ini, organ trafficking sudah menjadi masalah global. Meski secara resmi pemerintah-pemerintah di dunia melarang ini dengan hukuman yang cukup keras, nyatanya perdagangan organ terus berlangsung.

Di sini ada masalah etis lain: biasanya penyuplai organ datang dari negara-negara dengan amat banyak orang miskin (seperti India , Bangladesh , China , dan sebagainya), sedangkan penerima organ adalah negara-negara maju (AS, sebagian negara Eropa, Singapura, dan sebagainya). Tidakkah ini menunjukkan bahwa seakan-akan orang kaya memiliki hak lebih atas hidup dan kesehatan (dan kehidupan) dibanding orang miskin? Bagaimana tanggapan etis kita terhadapnya? [4]

Untuk memenuhi kelangkaan organ, bolehkah (khususnya dari sudut pandang agama-agama) mencangkok organ binatang ke tubuh manusia? Bolehkah binatang dikorbankan demi kesejahteraan manusia? Bagaimana juga dengan menggunakan embryo sebagai “pabrik organ”? Atau, memanfaatkan embryo yang akan diaborsi? Ini segera akan membawa ke masalah lain dalam bioetika, yaitu menyangkut peminakan sel tunas, yang dibahas di sesi lain seminar ini. Peminakan sel tunas menjanjikan penyelesaian masalah sumber organ untuk pencangkokan, namun ia juga memunculkan masalah-masalah etis lain.

Terkait dengan donor mati, menjadi hak siapakah organ manusia yang mati? Si manusia itu sendiri, keluarganya, atau bahkan negara? Di Inggris, misalnya, ada prinsip “presumed consent”—bahwa jika tak ada permintaan/wasiat khusus dari orang yang mati, berarti ia menyetujui organ-organ tertentu dalam tubuhnya diambil untuk dicangkokkan pada orang lain (atas dasar pandangan bahwa adalah tugas kewarganegaraan untuk mendonorkan organ tubuhnya setelah tak dipakai). Namun di AS, berlaku prinsip kebalikan yaitu pengambilan organ dari orang mati hanya bisa dilakukan jika ada permintaan/wasiat yang mengijinkannya. (Saat ini sedang diusulkan cara lain yang disebut “mandated choice”, dimana setiap orang wajib memberitahu apakah ia akan mendonorkan organnya atau tidak setelah meningal.) Terkait dengan isu-isu di atas, akan muncul pula pertanyaan lain mengenai bagaimana mendefiniskan kematian (isu yang muncul secara lebih kuat dalam kasus euthanasia, dan pasien dalam situasi persistent vegetative state ).

 

• Bagaimana mendistribusikan organ?

Karena ada jauh lebih banyak orang yang ingin mendapatkan organ ketimbang suplai yang ada, bagaimana caranya kita menyeleksi siapa yang berhak mendapatkan prioritas menerima organ? Apakah cukup membuat daftar tunggu berdasarkan waktu permintaan? Ataukah perlu ada kriteria lain untuk menyeleksinya? Misalnya, mestikah orang berusia lebih muda mendapatkan prioritas ketimbang orang tua, dengan pertimbangan bahwa yang pertama memiliki harapan hidup produktif yang lebih besar?

Bagaimana dengan narapidana? Bolehkah ia—sebagai orang yang pernah melakukan kejahatan terhadap masyarakat—menerima kebaikan hati anggota masyarakat lain? Di negara seperti AS, ada isu yang pernah menjadi kontroversi: bolehkah imigran ilegal menerima cangkok organ? Atau, bolehkah orang yang tak berhati-hati menjaga kesehatannya menerima organ baru (pecandu alkohol menerima hati baru; atau perokok berat menerima paru-paru)? Pertanyaan-pertanyaan ini terkesan mendiskriminasi kelompok masyarakat tertentu yang pernah melakukan kesalahan sosial ataupun personal. Bolehkah diskriminasi semacam ini diberlakukan? Secara lebih umum, adakah situasi yang memungkinkan diperbolehkannya (secara etis) diskriminasi? [5]

Persoalan-persoalan di atas muncul karena desakan kekurangan organ yang luar biasa, dibandingkan dengan yang membutuhkannya, sehingga siapa yang berhak mendapatkan organ, atau mendapatkan prioritas untuk itu, menjadi persoalan yang amat mendesak. Masalah-masalah seperti ini biasanya dibahas dalam konteks keadilan distributif (secara sempit). Yaitu, dalam suatu masyarakat, apakah semua anggota masyarakat punya hak yang sama ( equal access ) atas organ? Ada beberapa kriteria lain yang biasa dipakai—misalnya berdasarkan asas kebutuhan (siapa yang paling membutuhkan), kontribusi pada masyarakat, atau pasar-bebas (siapa yang dapat membayar, dia akan mendapatkan)—namun tak ada yang bersifat mutlak keberlakuannya.

 

  1. Isu keadilan distributif

Jika berbicara mengenai keadilan distributif, isu utamanya adalah mengupayakan agar semua orang mendapatkan hak yang sama atas sumberdaya yang terbatas, atau bagaimana membagi sumberdaya terbatas itu secara adil ( fair ). Dalam contoh di atas, isu ini pertama kali muncul dalam pengertiannya yang sempit sebagai isu mengenai bagaimana membagikan organ yang terbatas pada penderita yang membutuhkannya yang jumlahnya lebih banyak.

Namun dalam konteks yang lebih luas, konteks sumberdaya medis secara lebih luas, ada isu lain. Hingga kini pencangkokan organ adalah prosedur yang amat mahal, yang hanya bisa diperoleh orang yang cukup kaya. Bagi sebagian besar orang, pencangkokan organ bukanlah pilihan sama sekali—artinya, jika tak ada alternatif lain selain pencangkokan, ia akan merosot kesehatannya atau bahkan mati. Di sini penting diperhatikan bahwa warga Amerika Serikat termasuk yang paling banyak menerima organ—jauh lebih banyak dari yang mereka sumbangkan—sehingga seakan-akan prosedur cankok organ sudah seperti prosedur yang biasa, meskipun sesungguhnya tidak.

Sementara itu, penjualan organ amat marak di negara-negara berkembang karena himpitan ekonomi. Jurang sosial antara kaya-miskin jelas tercermin dalam teknologi pencangkokan organ. Teknologi ini jelas tidak berpihak kepada orang miskin, bahkan secara tidak langsung justru amat merugikan banyak orang miskin karena membuka pasar yang luas bagi orang miskin untuk menjual organnya. Kecuali jika alternatif sumber organ ditemukan (misalnya memalui teknologi peminakan sel atau sel tunas, yang masih perlu waktu cukup lama untuk bisa menjadi alternatif yang berarti), sampai kapan pun teknologi ini akan tetap memiliki sifat itu. Sampai di sini, ada pertanyaan yang lebih mendasar mengenai apakah pencangkokan organ merupakan “kemajuan” kedokteran yang tak terbantahkan. Secara teknis, memang ini pencapaian luar biasa; tapi secara inheren juga ada kesulitan besar untuk menjadikan teknologi ini bermanfaat untuk semua atau sebagian besar manusia, seperti akan dibahas di bagian akhir tulisan ini.

Karena itu, berbicara mengenai keadilan distributif dalam konteks yang lebih luas, kita bisa mempertanyakan apakah teknologi ini bermanfaat untuk sebagian besar manusia. Jika tidak, apakah tak seharusnya sumberdaya medis yang ada diprioritaskan untuk prosedur-prosedur medis atau penanganan kasus-kasus media lain, yang menyangkut hidup lebih banyak orang yang tak dapat menikmati teknologi ini? Pada gilirannya, ini akan membawa pada pertanyaan mengenai etika pemilihan masalah untuk riset medis—masalah seperti apakah yang perlu mendapat prioritas riset medis? Perlu dicatat di sini bahwa persoalan semacam ini tak hanya muncul di negara berkembang, tapi bahkan juga di negara maju seperti AS, yang banyak rakyatnya masih belum mendapatkan pelayanan kesehatan dasar.

 

II. Dari fikih ke kosmologi tubuh: Pencangkokan organ dalam literatur Islam

Di antara banyak pertanyaan etis terkait dengan pencangkokan organ seperti yang dibahas di atas, ada penekanan yang berbeda di antara komunitas yang berbeda-beda dari sisi sosial-ekonomi maupun keagamaan. Di AS, misalnya, isu-isu utama yang dibahas terutama berkisar pada kelompok pertanyaan kedua, mengenai perolehan dan distribusi organ. Di negara berkembang, sementara penggunaan teknologi ini jauh di belakang negara maju, banyak isu muncul terkait dengan organ trafficking , sementara distribusi organ tak menjadi isu.

Pada bagian ini akan dibahas satu contoh respon terhadap pencangkokan organ dari para pemikir Muslim. Terkait dengan karakter agama Islam maupun konteks sosial Muslim, tak mengherankan jika tak semua pertanyaan di atas tidak mendapatkan penekanan yang sama. Secara umum, kelompok-kelompok kegamaan, khususnya Islam, memberikan soratan cukup mendasar pada persoalan boleh tidaknya—dari sudut pandang nilai-nilai keagamaan—melakukan pencangkokan organ.

Literatur Islam mengenai isu ini didominasi oleh pendekatan fikih (hukum/ jurisprudensi). Dan persoalan utama yang mendominasi fikih biasanya terbatas pada masalah halal-haram , meskipun tidak selalu demikian. Dalam Islam, pertanyaan penting mengenai apakah pencangkokan organ diperbolehkan oleh agama dijawab dengan merujuk pada sumber tekstual utama (Qur'an dan hadis) maupun kitab-kitab hukum fikih.

Dari segi metodologi, untuk menjawab masalah-masalah kontemporer ulama mencari kasus-kasus yang dibahas dalam kitab-kitab lama itu, atau kasus-kasus yang analog dengannya. Pengambilan keputusan seperti ini dibimbing oleh seperangkat prinsip umum, yang disebut usul fikih (prinsip-prinsip fikih). Di antaranya, ada prinsip pertimbangan manfaat dan mudarat (keburukan) dari suatu keputusan; prinsip mendahulukan menghindari keburukan; prinsip bahwa manfaat yang amat besar dapat mengatasi keburukan-keburukan inheren yang lebih kecil; prinsip darurat (sesuatu yang dalam keadaan normal tak diperbolehkan, tapi dalam keadaan darurat diperbolehkan); prinsip maslahah atau kesejahteraan publik; dan sebagainya.

Dalam hal pencangkokan organ, keputusan-keputusan legal-etis bisa dicari dengan melihat bagaimana kitab-kitab klasik itu memandang penggunaan bagian-bagian tubuh manusia untuk tujuan penyembuhan. [6] Kadang-kadang, seperti akan ditunjukkan contohnya di bawah, upaya ini dilakukan dengan tak memperhatikan konteksnya dengan baik, tapi hanya melihat kasus dimana organ tubuh manusia diperlakukan meski dalam konteks yang amat jauh berbeda dengan konteks pencangkokan. Meskipun pendekatan ahistoris semacam ini telah sering dikritik, tapi masih juga kerap digunakan.

Sebagaimana halnya dalam kasus-kasus lain, karena karakter fikih dalam Islam, pendapat yang muncul tak hanya satu, tapi beragam, dan satu dengan lainnya bahkan terkadang saling bertolak belakang, meski menggunakan sumber-sumber yang identik. Di sini akan disampaikan beberapa pandangan yang cukup populer mengenai isu ini. [7]

Pandangan yang menentang pencangkokan organ diajukan atas dasar setidaknya tiga alasan:

  * • Kesucian hidup/tubuh manusia : setiap bentuk agresi terhadap tubuh manusia dilarang, karena ada beberapa perintah yang jelas mengenai ini dalam Al-Qur'an. Dalam kaitan ini ada satu hadis (ucapan) Nabi Muhammad yang terkenal yang sering dikutip untuk menunjukkan dilarangnya manipulasi atas tubuh manusia, meskipun sudah menjadi mayat: “Mematahkan tulang mayat seseorang adalah sama berdosa dan melanggarnya dengan mematahkan tulang orang itu ketika ia masih hidup.”
  * • Tubuh manusia adalah amanah : hidup, diri, dan tubuh manusia pada dasarnya adalah bukan miliknya sendiri, tapi pinjaman dari Tuhan dengan syarat untuk dijaga, karena itu manusia tak memiliki hak mendonorkannya pada orang lain.
  * • Tubuh tak boleh diperlakukan sebagai benda material semata: pencangkokan dilakukan dengan mengerat organ tubuh seseorang untuk dicangkokkan pada tubuh orang lain; di sini tubuh dianggap sebagai benda material semata yang bagian-bagiannya bisa dipindah-pindah tanpa mengurangi ke-tubuh-an seseorang.

 

Sedangkan pandangan yang mendukung pencangkokan organ memiliki beberapa dasar, sebagai berikut

Kesejahteraan publik (maslahah) : pada dasarnya manipulasi organ memang tak diperkenankan, meski demikian ada beberapa pertimbangan lain yang bisa mengalahkan larangan itu, yaitu potensinya untuk menyelamatkan hidup manusia, yang mendapat bobot amat tinggi dalam hukum Islam. Dengan alasan ini pun, ada beberapa kualifikasi yang mesti diperhatikan:

  * Pencangkokan organ boleh dilakukan jika tak ada alternatif lain untuk menyelamatkan nyawa; derajat keberhasilannya cukup tinggi
  * ada persetujuan dari pemilik organ asli (atau ahli warisnya);
  * penerima organ sudah tahu persis segala implikasi pencangkokan ( informed consent )
  * Altruisme : ada kewajiban yang amat kuat bagi Muslim untuk membantu manusia lain, khususnya sesama Muslim; pendonoran organ secara sukarela merupakan bentuk altruisme yang amat tinggi (tentu ini dengan anggapan bahwa si donor tak menerima uang untuk tindakannya), dan karenanya dianjurkan. Sekali lagi, untu k ini pun ada beberapa syarat:
  * ada persetujuan dari donor;
  * nyawa donor tak terancam dengan pengambilan organ dari tubuhnya;
  * pencangkokan yang akan dilakukan berpeluang berhasil amat tinggi.

Setelah beberapa alasan yang membolehkan itu, pendukung pencangkokan organ masih menambahkan beberapa syarat lain:

  * organ tak diperoleh melalui transaksi jual-beli, karena tidak sah hukumnya menjual organ (yang notabene bukan miliknya sendiri)
  * seorang Muslim, kecuali dalam dalam situasi-situasi yang mendesak, hanya boleh menerima organ dari Muslim lainnya. Ada satu implikasi yang menarik dari sini. Jika syarat ini dikombinasikan dengan kebolehan (dan dalam kasus tertentu kewajiban) melakukan pencangkokan organ, maka mendonorkan organ bagi Muslim hukumnya adalah wajib-sosial ( fardh kifayah ), yaitu, dalam suatu komunitas Muslim, adalah kewajiban bagi salah seorang Muslim untuk mendonorkan organnya jika ada orang lain yang membutuhkan! (Sekali lagi, tentu dengan memenuhi pembatasan-pembatasan di atas.)

Belakangan ini, di antara lembaga-lembaga pemberi fatwa di dunia Muslim, pandangan yang dominan adalah pandangan yang mendukung bolehnya pencangkokan organ. Di antara lembaga semacam itu yang mendukung pencangkokan organ adalah Akademi Fikih Islam (lembaga di bawah Liga Muslim Se-Dunia, yang berpusat di Arab Saudi) pada fatwa-fatwanya pada tahun 1985 dan 1988; Akademi Fikih Islam India (1989); dan Dar al-Ifta' (lembaga otonom semcam MUI, di bawah Departemen Agama, Mesir, yang biasanya diketuai oleh ulama dari Universitas al-Azhar). Pencangkokan yang diperbolehkan mencakup autotransplantasi, allotransplantasi, dan juga heterotransplantasi—dalam urutan keterdesakan (situasi darurat) yang lebih tinggi. Meski demikian, diperbolehkannya pencangkokan organ ini selalu diikuti syarat-syarat sebagaimana disebutkan di atas.

Kasus pencangkokan organ ini termasuk kasus yang agak langka, dimana ada konsensus yang cukup luas. Meski demikian, ada dua catatan lain yang perlu diberikan. Pertama , di samping konsensus umum itu, ada beberapa variasi mengenai beberapa hal yang lebih terinci dan mengenai tingkat keterdesakan (yang paling tinggi menyatakan bahwa prosedur ini boleh dilakukan hanya dalam kondisi dimana nyawa seseorang benar-benar terancam dan tak ada jalan lain sama sekali kalau ia masih mau dipertahankan tetap hidup). Satu contoh dari hal yang spesifik itu adalah adanya fatwa yang menyatakan bahwa pencangkokan organ hanya boleh diambil dari donor hidup, dan tak boleh membahayakan nyawa donor—artinya, donor ginjal diperbolehkan, sementara jantung tidak.

Kedua, perlu dicatat bahwa tetap saja ada fatwa-fatwa yang berbeda, meski tak sepopuler fatwa-fatwa di atas.Yang cukup terkenal di antara penentang pencangkokan organ adalah mazhab Deoband di Pakistan (dengan ulamanya yang terkenal cukup konservatif, Mufti Muhammad Syafi'). [8]

Dalam pandangan yang lebih moderat/liberal, keberatan ulama konservatif itu tak terlalu sulit dijawab. Keberatan utama mereka terkait dengan status tubuh manusia: bahwa tubuh adalah suci dan tak boleh dihinakan; dan bahwa tubuh bukanlah milik manusia (lihat tiga alasan yang dibahas di atas). Mengenai yang pertama, argumen yang diambil dari hadis mengenai larangan mematahkan tulang dapat segera ditolak setelah kita melihat konteks ucapan Nabi Muhammad itu. Konteksnya adalah peristiwa di mana seorang penggali kubur yang kasar mematahkan tulang mayat karena kuburan yang sudah digali ternyata terlalu sempit. Ini jelas perbuatan yang tak menghormati mayat. Sementara dalam pencangkokan organ, ada tujuan yang jelas, dan tujuan itu amat mulia. Demikian pula, mengambil organ dengan alasan mulia yang jelas bukanlah tindakan yang melanggar amanah, tapi justru upaya memenuhi perintah lain Tuhan untuk menyelamatkan hidup sesama manusia.

Tiga catatan kritis atas wacana fikih yang dominan:

Pembahasan terakhir membawa kita ke persoalan yang lebih jauh mengenai apa yang disebut oleh Moosa (2002) sebagai “kosmologi tubuh”. Moosa menganalisis bahwa perbedaan-perbedaan fatwa tersebut bersumber dari pandangan mengenai tubuh yang berbeda. Kosmologi tubuh konservatif nyaris menutup hak manusia untuk memperlakukan tubuhnya sendiri untuk tujuan apapun. Ujung-ujungnya adalah pandangan mengenai takdir yang deterministik. Dalam konteks lain, kosmologi tubuh ini juga mempengaruhi, misalnya, pandangan negatif terhadap perempuan, karena, di antaranya, darah menstruasi dipandang sebagai sesuatu yang najis. Padahal, darah menstruasi dapat sepenuhnya dijelaskan sebagai peristiwa biologis/alamiah sepenuhnya, tanpa perlu diberi signifikansi spiritual. Dalam kasus yang kedua ini lebih tampak jelas adanya inkoherensi antara pandangan konservatif atas tubuh dengan pandangan mengenai tubuh yang disampaikan sains. Inilah yang dikeluhkan oleh Moosa: tak adanya koherensi epistemik antara fikih dengan sains di masa ini, sementara di masa yang lebih awal, pemahaman fikih selalu dilandasi oleh pemahaman ilmiah yang up to date .

Ditarik lebih jauh, jika kosmologi tubuh modern diterima, maka mungkin tak perlu ada pembedaan sama sekali antara organ yang diperoleh dari manusia hidup, manusia mati, atau bahkan dari binatang, kecuali pembedaan yang sifatnya biologis semata. Demikian pula, pembedaan antara tubuh Muslim dengan non-muslim juga menjadi sesuatu yang tak relevan. [9]

Sebagai catatan terakhir, bisa kita lihat bahwa di antara tiga kelompok persoalan etis menyangkut pencangkokan organ (yang dibahas pada bagian I di atas), fikih Islam terlalu condong pada kelompok pertama, mengenai kebolehan prosedur ini dari sudut pandang pemahaman keagamaan yang kurang luas. Kelompok masalah etis kedua (perolehan dan distribusi organ) hanya sedikit tersentuh, itu pun sejauh ada hubungannya dengan kelompok masalah pertama. Benar bahwa, seperti diungkapkan di atas, kelompok masalah kedua memang terasa jauh lebih urgen di tempat-tempat dimana pencangkokan organ menjadi prosedur yang amat sering dilakukan, seperti di AS. Meski demikian, jenis-jenis pencangkokan organ tertentu, khususnya ginjal, sudah cukup lazim pula dilakukan dalam komunitas Muslim; namun persoalan etika perolehan dan distribusi organ belum cukup mendapat perhatian.

Demikian pula, ketakbolehan memperjualbelikan organ diajukan semata-mata dengan alasan bahwa tubuh seseorang bukan miliknya sendiri. Di luar alasan teologis itu, sebenarnya ada alasan sosial-ekonomis yang pada saat ini terasa jauh lebih mendesak menyangkut terjadinya organ trafficking yang terjadi di negara-negara Dunia Ketiga.

Yang nyaris absen dari literatur Islam adalah pembahasan mengenai isu keadilan distributif. Memandang bahwa keadilan adalah salah satu nilai etis terpenting Islam, nyaris tak adanya pembahasan ini tentu patut disesalkan. Perhatian yang lebih serius pada aspek keadilan sosial-ekonomi kiranya akan mengubah wacana pemfatwaan masalah pencangkokan organ.

Situasi ini terjadi kemungkinan besar karena secara umum tradisi etika dalam Islam kontemporer tak cukup berkembang, terdominasi oleh wacana fikih yang mau tak mau lebih berkutat pada persoalan-persoalan legal mengenai halal-haram secara intrinsik. Di sisi lain, jika dalam kasus pelarangan jual beli organ yang muncul terutama adalah alasan teologis, ini karena pembuat fatwa pada masa kini pun terlalu terpaku pada wacana di masa yang lebih awal dan kurang memberikan perhatian pada konteks sosial-ekonomi saat ini. Upaya-upaya me(re-)konstruksi suatu sistem etika Islam telah dilakukan, namun kita belum melihat munculnya ragam mazhab-mazhab etika yang cukup kuat untuk mendukung perdebatan etis mengenai masalah-masalah kontemporer. Ini adalah suatu kelemahan yang banyak dikeluhkan pemikir Muslim, dan sedang diperbaiki, namun kiranya masih membutuhkan waktu. Sementara itu, perdebatan-perdebatan etis yang terjadi biasanya mengambil bentuk-bentuk parsial dan ad hoc , tidak sistemik.

 

III. Catatan penutup

1. Pluralisme etika keagamaan dalam wacana publik

Di atas telah dibahas secara singkat respon Muslim terhadap transplantasi organ, sebagai ilustrasi bagaimana agama merespon persoalan biomedis. Dari pembahasan singkat itu saja telah tampak bahwa, terlepas dari adanya konsensus yang cukup luas, menghadapi persoalan pencangkokan organ, khususnya, dan persoalan biomedis lain pada umumnya, Islam tak memiliki satu jawaban pasti. Dari sumber-sumber tekstual yang sama, merespon persoalan yang sama, bisa muncul beberapa pandangan yang berbeda, bahkan bertolak-belakang.

Persoalan yang sama dapat kita lihat juga dalam Hindu. S. Cromwell Crawford, di pengantar bukunya yang membahas bieotika dalam pandangan Hindu abad ke-21, menunjukkan bahwa perbedaan seperti ini sulit dihindari dalam Hindu, karena tiadanya Paus atau Vatikan sebagai lembaga otoritas tertinggi. Sesungguhnya, meski ada Paus dan Vatikan, dalam Katolik pun ada perbedaan-perbedaan di antara para pemikir Katolik. Hal serupa dapat ditunjukkan dengan mudah, jelas terjadi pula dalam tradisi Protestan, Yahudi, Buddha, dan sebagainya. Menghadapi persoalan pluralitas pandangan ini, tampaknya akan terlalu sulit, dan mungkin tak terlalu bermanfaat untuk memastikan pandangan manakah yang bisa disebut sebagai “pandangan Islam”, “pandangan Hindu”, “pandangan Kristen”, dan sebagainya. Pluralitas pandangan ini tampaknya tak bisa lain harus diterima.

Jadi di sini ada dua jenis keragaman: keragaman intra-agama, maupun antar-agama. Persoalan berikutnya adalah bagaimana membicarakan perbedaan-perbedaan ini dalam wacana publik, yang disamping diramaikan oleh penganut pandangan-pandangan keagamaan yang berbeda, juga mungkin memiliki pendukung sistem-sitem etika lain. Dalam konteks Indonesia , misalnya, keragaman ini terjadi, dan tak bisa diabaikan dengan mudah. Yang terjadi saat ini adalah masing-masing komunitas agama berdiri sendiri secara eksklusif dan hanya berbicara pada masing-masing penganutnya (yang terdiri dari pasien maupun dokter yang harus mengambil keputusan-keputusan bioetis sendiri).

Situasi ini mungkin tak bisa berlangsung terus seperti ini. Ketika kebijakan menyangkut isu-isu biomedis harus diambil, cepat atau lambat persentuhan antara sistem-sistem etika yang berlainan akan muncul. Tentu persoalan semacam ini tak terjadi hanya dalam konteks bioetika, tapi juga dalam setiap hubungan antara agama-agama dan masyarakat dalam wacana publik. Untuk itu, sampai tingkat tertentu, agama-agama dituntut untuk melakukan rasionalisasi (“objektifikasi”) etika keagamaannya, sehingga dapat saling berbicara dalam bahasa bersama, bukan bahasa eksklusif keagamaannya sendiri. Kesetiaan berlebihan pada suatu bahasa agama ataupun pemimpin agama sendiri akan menyulitkan komunikasi dalam wacana publik itu.

2. “Kemajuan” medis dan penaklukkan kematian

Di atas telah disinggung sedikit mengenai kelemahan prosedur pencangkokan karena sejauh ini ia hanya bisa dinikmati oleh orang-orang yang cukup kaya untuk membayarnya (yang jumlahnya jauh lebih sedikit dibanding orang yang bisa memanfaatkannya). Kelemahan lain yang cukup serius , dari sisi medis, adalah bahwa sesungguhnya prosedur ini masih jauh dari sempurna. Salah satu persoalan terbesar di sini adalah adanya kemungkinan penolakan tubuh atas organ yang dicangkokkan, sehingga si penerima organ harus terus meminum obat-obatan untuk menekan perlawanan tubuh yang ingin mematikan “benda asing” itu.

Demikian seriusnya isu ini, sehingga Ronald Munson mempertanyakan apakah pencangkokan organ bisa disebut sebagai kemajuan medis! [10] Munson meragukan ini sebagai kemajuan medis karena tampaknya yang terjadi dalam diri pasien adalah pertukaran dari penyakit akut menjadi kondisi kronis yang lain—bukan, sebagaimana seharusnya tujuan kedokteran, menghilangkan penyakit! [11]

Dalam beberapa kasus, si penerima justru menjadi amat menderita karena keharusan mengkonsumsi immunosuppressant terus menerus, yang menjadikannya tetap tak bisa hidup normal. Dalam salah satu dari kasus tersebut [12], akhirnya si pasien memutuskan untuk berhenti mengkonsumsi obat anti-kekebalan tubuh itu, dan beberapa waktu kemudian meninggal. Keputusan itu diawali dengan penerimaan sadar bahwa kehidupan bersama immunosuppressant bukanlah kehidupan yang berkualitas, dan bahwa kematian tak perlu dilawan.

“Kita hidup dalam dunia yang makin takut terhadap kematian,” kata Christine Gudorf. Dalam dunia ini, kematian yang ideal adalah kematian di masa tua, yang mendadak dan tanpa penderitaan. Karena itu manusia tak menyiapkan diri untuk mati, dan berusaha melawannya sedapat mungkin. Benar bahwa dorongan untuk terus hidup adalah dorongan alamiah manusia, namun perlawanan tanpa henti atas kematian justru dapat menimbulkan penderitaan yang lebih besar. Persoalannya, memang, kita tak pernah tahu, sampai di titik mana kita bisa berkata bahwa kita sudah cukup berusaha, dan kemudian menyerah pada kematian. Terlepas dari itu, “keputusan terakhir mengenai sejauh mana kita menjadi manusia adalah sebaik apa kita menghadapi kematian.” [13] Tugas utama kedokteran adalah menyelamatkan hidup manusia. Namun, tak kalah penting, tugas lainnya adalah menyiapkan seseorang untuk menghadapi kematian yang tak bisa dihindari, karena kematian bukanlah musuh kedokteran.

Ini pula yang menjadi salah satu guideline etis penting dalam Islam, sebagaimana disampaikan Abul Fadl Mohsen Ebrahim (1988). Kedokteran adalah bidang yang amat mulia karena tujuan utamanya adalah menyelamatkan kehidupan, namun ia tak boleh melewati batas hingga ingin “menaklukkan kematian”. Tentu sulit untuk menarik batas seperti itu; dan mungkin ini akan menjadi keputusan individual yang berbeda dari kasus satu ke kasus lain. Bioetika memberikan guidelines umum, dan kemudian, mau tak mau, banyak keputusan-keputusan khusus yang mesti diambil sendiri oleh dokter, pasien, amaupun keluarganya. Yang bisa dilakukan dalam wacana publik adalah membuka mata kita atas pilihan-pilihan etis yang beragam beserta masing-masing konsekuensi personal maupun sosialnya. *** 

 

Daftar Pustaka:

Lawrence Cohen, “Where It Hurts: Indian Material for an Ethics of Organ Transplantation”, Zygon , 38: 3 (2003), 663-688,

S. Cromwell Crawford, Hindu Bioethics for the Twenty-first Century , State University of New York Press, 2003.

Christine Gudorf, “Withdrawal of Artificial Nutrition and Hydration: Some Reflections”, salah satu catatan pengantar yang ditulis untuk seminar Seminar Bioetika di Yogyakarta, Juni 2005.

Ethics of Organ Transplantation , Center for Bioethics – University of Minnesota , 2004 (dapat diakses di: www.bioethics.umn.edu)

Damien Keown, Buddhism and Bioethics, Palgrave, 1995, 2001

Lary May, Shari Collins-Chobanian, Kai Wong, Applied Ethics-A Multicultural Approach (2 nd Edition), Prentice-Hall, 1998.

Abul Fadl Mohsen Ibrahim, Biomedical Issues: Islamic Perspective , Islamic Medical Association of South Africa , 1988.

Abul Fadl Mohsen Ibrahim, Organ Transplantation, Euthanasia, Cloning and Animal Experimentation: An Islamic View, The Islamic Foundation, Leicester, 2001 (diterjemahkan menjadi Kloning, Eutanasia, Transfusi Darah, Transplantasi Organ, dan Eksperimen pada Hewan, Telaah Fikih dan Bioetika Islam , Serambi 2004.)

Ebrahim Moosa, “Interface of Science and Jurisprudence: Dissonant gazes at the Body in Modern Muslim Ethics”, dalam God, Life, and Cosmos , eds. Ted Peters, Muzaffar Iqbal, dan Syed Nomanul Haq, Ashgate Press, 2002.

David L. Perry, “Should Violent Felons Receive Organ Transplants?,” diakses dari http://www.scu.edu/ethics/publications/submitted/Perry/transplant.html

Heidi Williams, “ Allocating a Future: Ethics and Organ Transplantation”, diakses dari: http://www.scu.edu/ethics/publications/submitted/allocating_organs.html

 

Penulis adalah staf pengajar pada Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS), Sekolah Pascasarjana, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, untuk matakuliah “Religion, Science and Technology” dan “Environment, Worldview, and Religion”. Selain mengajar, penulis mengembangkan program mengenai ilmu dan agama di CRCS dan juga menjadi koordinator Masyarakat Yogyakarta untuk Ilmu dan Agama (MYIA). Latar belakang keilmuan penulis adalah filsafat ilmu dan filsafat Islam.

 

[1] Makalah ini pertama kali disajikan sebagai bahan diskusi dalam Seminar Bioetika di Percik, Salatiga, 12-13 April 2006.

[2] Isu ini perlu ditekankan, karena ada analogi yang amat populer, tapi sering digunakan terlalu jauh, dalam debat tentang kebebasnilaian teknologi, yaitu analogi pisau. Teknologi dianggap sebagai semacam pisau yang bisa digunakan untuk tujuan yang bermanfaat bagi manusia namun juga untuk membunuh manusia. Artinya, pisau itu sendiri tak memiliki sifat baik atau buruk, tapi nilai baik/buruk muncul terkait dengan tujuan apa ia digunakan. Yang ingin penulis tunjukkan oleh pernyataan mengenai tak bebas nilainya pencangkokan organ di atas (dan ini akan dikuatkan dengan contoh-contoh lain di bawah) adalah bahwa “pisau” itu sendiri tidak selalu bebas nilai; bisa jadi “pisau” itu buruk atau baik secara intrinsik, dalam dirinya sendiri. Beberapa teknologi mungkin netral secara intrinsik; teknologi lain tidak netral.

[3]Lihat situs lembaga pencangkokan organ Amerika Serikat, United Network for Organ Sharing, www.unos.org , untuk data-data terkait.

[4] Salah satu artikel baru yang membahas masalah ini adalah Cohen (2003). Di artikel tersebut Cohen menunjukkan bagaimana orang-orang miskin di India menjual organnya, khususnya ginjal, untuk membayar hutang. Namun segera setelah hutang terbayar, mereka kembali terlilit hutang!

[5] Pertanyaan etis yang mirip akan muncul dalam kasus HIV/AIDS. Atas dasar anggapan bahwa penderita penyakit ini melakukan keburukan moral (seks bebas, homseksualitas, penggunaan narkoba—meski jelas tak semua penderita terjangkit HIV/AIDS karena alasan itu), sebagian kaum agamawan yang konservatif menolak merestui tindakan-tindakan preventif seperti distribusi kondom yang luas. Dalam kasus HIV/AIDS, diskriminasi seperti ini mungkin lebih terasa keterlaluan karena seringkali muncul dari prasangka; namun sesungguhnya prinsip yang diterapkan sama dengan diskriminasi terhadap perokok dalam hal pencangkokan organ di atas.

[6] Pada bagian ini, kecuali jika disebutkan lain, sumber utama yang digunakan adalah salah satu literatur paling komprehensif dalam masalah ini, karya Abul Fadl Mohsen Ibrahim, Organ Transplantation, Euthanasia, Cloning and Animal Experimentation: An Islamic View, The Islamic Foundation, Leicester, 2001 (diterjemahkan menjadi Kloning, Eutanasia, Transfusi Darah, Transplantasi Organ, dan Eksperimen pada Hewan, Telaah Fikih dan Bioetika Islam , Serambi 2004.)

[7] Akan amat menarik mencermati bagaimana Muslim Indonesia—melalui lembaga-lembaga pemberi fatwa seperti MUI, Majelis Tarjih Muhammadiyah, atau Bahtsul Masa'il NU, merespon persoalan ini; namun ini tak bisa dilakukan dalam tulisan ini.

[8] Lihat Ebrahim Moosa, “Interface of Science and Jurisprudence: Dissonant gazes at the Body in Modern Muslim Ethics”, dalam God, Life, and Cosmos , eds. Ted Peters, Muzaffar Iqbal, dan Syed Nomanul Haq, Ashgate Press, 2002.

[9] Bisa jadi, pembedaan tubuh Muslim-non-Muslim di sini tak terkait dengan kosmologi tubuh, dan bukan merupakan sesuatu yang sifatnya esensial (bahwa tubuh Muslim berbeda/lebih unggul dari tubuh non-Muslim secara inheren, atau pandangan sejenis). Tapi ini mungkin berakar dari persoalan politis. Di masa dimana Islam berada pada momen eksklusifnya, dan ada persaingan politis yang cukup kuat antar kelompok-kelompok agama, pembedaan seperti ini memiliki signifikansi politis yang kuat.

[10] Ronald Munson, Raising the Dead : Organ Transplants, Ethics and Society, Oxford University Press, 2004.

[11] Dengan ini tentu kita tak mengingkari fakta bahwa pencangkokan organ telah membawa manfaat luar biasa dalam menyelamatkan banyak kehidupan. Tapi, seperti disampaikan Munson, teknologi pencangkokan mungkin mesti dianggap sebagai baru separuh jalan—jalan berikutnya mungkin melibatkan peminakan sel tunas. Perkembangan lebih jauh dalam bidang peminakan sel tunas diharapkan dapat mengatasi persoalan ini sebagiannya—sekaligus persoalan-persoalan besar mengenai perolehan dan distribusi organ—namun ini masih membutuhkan waktu lama dan akan menimbulkan persoalan-persoalan etis lain.

[12] Kasus yang disampaikan Christine Gudorf dalam Seminar Bioetika di Yogyakarta, Juni 2005.

[13] Christine Gudorf, “Withdrawal of Artificial Nutrition and Hydration: Some Reflections”, salah satu catatan pengantar yang ditulis untuk seminar yang disebut pada c.k. 10.

 _+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_

Minggu, 11 Mei 2008 00:05 WIB
Sel Tunas Kurangi Transplantasi
JIKA kata transplantasi terdengar di telinga, yang muncul di pikiran adalah penyakit yang sudah berada dalam level parah. Transplantasi organ adalah pemindahan seluruh atau sebagian organ dari satu tubuh ke tubuh yang lain, atau dari suatu tempat ke tempat yang lain pada tubuh yang sama. Transplantasi biasanya dilakukan untuk menggantikan organ yang rusak atau tidak berfungsi. Walau efektif, transplantasi sering kali dianggap menakutkan dan traumatis.
Salah satu penyakit yang sering berkaitan dengan transplantasi adalah penyakit liver atau hati. Ilmuwan mencoba mencari cara bagaimana penyakit liver dapat diobati dengan sel tunas embrionik. Mereka akan meneliti bagaimana sel liver yang berasal dari sel tunas embrionik dapat digunakan dalam terapi untuk penyakit liver kronis dan akut. Dengan begitu, kebutuhan akan transplantasi diharapkan berkurang.
Penelitian mengenai sel tunas ini adalah salah satu dari dua proyek hampir sama di Universitas Edinburgh. Penelitian yang pertama menerima dana 3,6 juta poundsterling dari Scottish Enterprise dan Medical Research Council (MRC). Proyek kedua yang juga melibatkan sel tunas embrionik berusaha mencari cara baru untuk memperbaiki kerusakan tulang. Proyek ini menerima dana sebesar 1,7 juta poundsterling.
Profesor John Iredale dari MRC Centre for Regenerative Medicine di Universitas Edinburgh mengharapkan kesuksesan pengembangan sel liver dari sel tunas embrionik. Dengan begitu, pengembangan cara yang mungkin untuk menguji obat-obatan dan terapi baru, baik bagi liver dan organ lainnya, pada akhirnya mengarah kepada pendekatan dasar sel tunas untuk 'melahirkan kembali' hati (liver).
Penemuan sel tunas ini akan memberi dampak yang signifikan dalam hal pengurangan kebutuhan donasi organ. Selain itu, sel tunas dapat menjelma menjadi pengobatan yang tidak menyebabkan trauma bagi pasien yang hanya bisa disembuhkan dengan transplantasi. Selain itu, diharapkan juga akan didapat pengertian lebih dalam hal perubahan sel tunas embrionik menjadi sel liver. Juga bagaimana penemuan ini dapat memperbaiki liver yang rusak.
Proyek kedua di Universitas Edinburgh akan mengamati perbedaan sel tunas embrionik dalam sel yang memiliki potensi untuk membuat tulang dan tulang rawan. Dr Brendon Noble dari Medical Research Council Centre for Regenerative Medicine mengatakan kerusakan tulang rawan akibat terluka atau penyakit seperti osteoarthritis adalah masalah besar di Inggris. Jika kerusakan tulang rawan dapat dicegah atau bahkan berhasil diperbaiki, kebutuhan akan penggantian pinggul dapat dikurangi. Beberapa pasien dengan kecelakaan traumatik akan menghadapi tulang-tulang yang remuk. Akan sangat baik jika cara untuk menyembuhkan tulang dengan menggunakan sel tunas dapat ditemukan. Hasilnya, kualitas hidup pasien-pasien tersebut akan meningkat secara dramatis. (BBC/Nisa/Ghp/M-2)

http://mediaindonesia.com/index.php
_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_

KAJIAN
Judul : Transplantasi
Kategori : Aqidah
Nama Pengirim : rian
Tanggal Kirim : 2009-01-22 11:07:26
Tanggal Dijawab : 2009-01-23 09:38:24
Pertanyaan assalammualaikum
maaf pak ,bagaimana pandangan islam tentang pencankokan organ pada manusia
Jawaban 

Assalamu `alaikum Wr. Wb.

Al-Hamdulillahi Rabbil `Alamin, Washshalatu Wassalamu `Alaa Sayyidil Mursalin, Wa `Alaa `Aalihi Waashabihi Ajma`in, Wa Ba`d

Sebenarnya, kajian yang membahas hukum syariah tentang praktek transplantasi jaringan maupun organ dalam khazanah intelektual dan keilmuan fikih Islam klasik relatif jarang dan hampir tidak pernah dikupas oleh para fukaha secara mendetail dan jelas yang mungkin karena faktor barunya masalah ini dan dimensi terkaitnya yang komplek yang meliputi kasus transplantasi Oleh karena itu tidak heran jika hasil ijtihad dan penjelasan syar'i tentang masalah ini banyak berasal dari pemikiran para ahli fikih kontemporer, keputusan lembaga dan institusi Islam serta simposium nasional maupun internasional.

Mengingat transplantasi organ merupakan suatu tuntutan, kebutuhan dan alternatif medis modern, pada dasarnya secara global tidak ada perselisihan dalam hal bolehnya transplantasi organ. Dalam simposium Nasional II mengenai masalah "transplantasi Organ" yang telah diselenggarakan oleh Yayasan Ginjal Nasional pada tangal 8 September 1995 di arena PRJ Kemayoran, telah ditandatangani sebuah persetujuan antara lain wakil dari PB NU, PP Muhammadiyah, MUI disetujui pula oleh wakil-wakil lain dari berbagai kelompok agama di Indonesia bolehnya transplantasi organ tersebut juga ditegaskan oleh DR. Quraisy Syihab bahwa; "Prinsipnya, maslahat orang yang hidup lebih didahulukan." selain itu KH. Ali Yafie juga menguatkan bahwa ada kaedah ushul fiqh yang dapat dijadikan penguat pembolehan transplantasi yaitu "hurmatul hayyi a'dhamu min hurmatil mayyiti" (kehormatan orang hidup harus lebih diperhatikan daripada yang mati.) Meskipun demikian sangat perlu dan harus ada penjelasan hukum syariah yang lebih detail dan tegas dalam masalah ini dan tidak boleh ta'mim (menggeneralisasi) hukum terlepas dari batas dan ketentuan serta syarat-syarat lebih lanjut agar tidak keluar dari hikmah kemanusiaan dan norma agama serta moral samawi sehingga menjadi praktek netralitas etis yang tidak sesuai dengan budaya manusiawi dan keagamaan.

Masalah transplantasi dalam kajian hukum syariah Islam diuraikan menjadi dua bagian besar pembahasan yaitu sebagai berikut:

 Pertama : Penanaman jaringan/organ tubuh yang diambil dari tubuh yang sama. Kedua : Penanaman jaringan/organ yang diambil dari individu lain yaitu sbb: A. Penanaman jaringan/organ yang diambil dari individu orang lain. a.1. Penanaman jaringan/organ yang diambil dari individu orang hidup. a.2. Penanaman jaringan/organ yang diambil dari individu orang mati. B. Penanaman jaringan/organ yang diambil dari individu binatang. b.1. Penanaman jaringan/organ yang diambil dari binatang tidak najis/halal. b.2. Penanaman jaringan/organ yang diambil dari binatang najis/haram.

Masalah Pertama: Penanaman organ/jaringan yang diambil dari tubuh ke daerah lain pada tubuh tersebut. Seperti, praktek transplantasi kulit dari suatu bagian tubuh ke bagian lain dari tubuhnya yang terbakar atau dalam kasus transplantasi penyumbatan dan penyempitan pembuluh darah jantung dengan mengambil pembuluh darah pada bagian kaki. Masalah ini hukumnya adalah boleh berdasarkan analogi (qiyas) diperbolehkannya seseorang untuk memotong bagian tubuhnya yang membahayakan keselamatan jiwanya karena suatu sebab. ( lihat, Dr. Al-Ghossal, Naql wa Zar'ul A'dha (Tranplantasi Organ) : 16-20, Dr. As-Shofi, Gharsul A'dha:126).

Masalah Kedua : Penanaman jaringan/organ yang diambil dari individu lain.

A. Penanaman jaringan/organ yang diambil dari orang lain. A.1. Penanaman jaringan/organ yang diambil dari orang lain yang masih hidup. Kasus Pertama : Penanaman jaringan/organ tunggal yang dapat mengakibatkan kematian donaturnya bila diambil. Seperti, jantung, hati dan otak. Maka hukumnya adalah tidak boleh . Atas dasar firman Allah: Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (QS Al Baqarah:195.) Dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu (QS An-Nisa 29) Dan tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran (QS Al-Maa-idah 2).

Kasus kedua : Penanaman jaringan/organ yang diambil dari orang lain yang masih hidup yang tidak mengakibatkan kematiannya seperti, organ tubuh ganda diantaranya ginjal atau kulit atau dapat juga dikategorikan disini praktek donor darah. Pada dasarnya masalah ini diperbolehkan hanya harus memenuhi syarat-syarat berikut dalam prakteknya yaitu : 1. Tidak akan membahayakan kelangsungan hidup yang wajar bagi donatur jaringan/organ. Karena kaidah hukum islam menyatakan bahwa suatu bahaya tidak boleh dihilangkan dengan resiko mendatangkan bahaya serupa/sebanding 2. Hal itu harus dilakukan oleh donatur dengan sukarela tanpa paksaan dan tidak boleh diperjual belikan. 3. Boleh dilakukan bila memang benar-benar transplantasi sebagai alternatif peluang satu-satunya bagi penyembuhan penyakit pasien dan benar-benar darurat. 4. Boleh dilakukan bila kemumgkinan keberhasilan transplantasi tersebut peluangnya optimis sangat besar. (Lihat hasil mudzakarah lembaga fiqh islam dari Liga Dunia Islam/Rabithah Alam Islami, edisi Januari 1985 M.)

Namun demikian, ada pengecualian dari semua kasus tranplantasi yang diperbolehkan yaitu tidak dibolehkan tranplantasi buah zakar meskipun organ ini ganda karena beberapa alasan sbb. 1. Merusak citra dan penampilan lahir ciptaan manusia 2. Mengakibatkan terputusnya keturunan bagi donatur yang masih hidup 3. Dalam hal ini tranplantasi tidak dinilai darurat dan kebutuhannya tidak mendesak 4. Dapat mengacaukan garis keturunan. Sebab menurut ahli kedokteran, organ ini punya pengaruh dalam menitiskan sifat keturunan Ensiklopedi kedokteran modern edisi bahasa arab vol. III hal. 583, Dr. Albairum, Ensiklopedi Kedokteran Arab, hal 134

A.2. Penanaman jaringan/organ tubuh yang diambil dari orang mati. Dalam kasus ini penanaman jaringan/organ tubuh diambil dari orang yang kondisinya benar-benar telah mati (kematian otak dan jantungnya sekaligus). Organ/jaringan yang akan ditransfer tersebut dirawat dan disimpan dengan cara khusus agar dapat difungsikan. ( Kajilah QS. 18:9-12, kaedah-kaedah hukum Islam al.: Suatu hal yang telah yakin tidak dapat dihilangkan dengan suatu keraguan/tidak yakin ; Dasar pengambilan hukum adalah tetap berlangsungnya suatu kondisi yang lama sampai ada indikasi pasti perubahannya. Sesungguhnya telah banyak fatwa dan konsensus mufakat para ulama dari berbagai muktamar, lembaga, organisasi dan institusi internasional yang membolehkan praktek transplantasi ini diantaranya adalah sbb. A. Konperensi OKI ( di Malaysia, April 1969 M ). dengan ketentuan kondisinya darurat dan tidak boleh diperjualbelikan B. Lembaga Fikih Islam dari Liga Dunia Islam ( dalam keputusan mudzakarohnya di Mekkah, Januari 1985 M C. Majlis Ulama Arab Saudi ( dalam keputusannya no. 99 tgl. 6/11/1402 H D. Panitia Tetap Fawa Ulama dari negara-negara Islam diantaranya seperti : Kerajaan Yordania dengan ketentuan ( syarat-syarat ) sbb. : 1. Harus dengan persetujuan orang tua mayit / walinya atau wasiat mayit. 2. Hanya bila dirasa benar-benar memerlukan dan darurat. 3. Bila tidak darurat dan keperluannya tidak urgen atau mendesak, maka harus memberikan imbalan pantas kepada ahli waris donatur ( tanpa transaksi dan kontrak jual-beli E. Negara Kuwait ( oleh Dirjen Fatwa Dept. Wakaf dan Urusan Islam keputusan no.97 tahun 1405 H. ) dengan ketentuan seperti di atas. F. Rep. Mesir. ( dengan keputusan Panitia Tetap fatwa Al-Azhar no. 491 ) G. Rep. Al-Jazair ( Keputusan Panitia Tetap Fatwa Lembaga Tinggi Islam Aljazair, 20/4/1972) Disamping itu banyak fatwa dari kalangan ulama bertaraf internasional yang membolehkan praktek tersebut diantaranya adalah : A. Abdurrahman bin Sa'di ( 1307-1367H.), B. Ibrahim Alyakubi ( dalam bukunya Syifa Alqobarih ), C. Jadal Haq ( mufti Mesir dalam majalah Al-Azhar vol. 7 edisi Romadhon 1403), D. DR. Yusuf Qordhowi ( dalam Fatawa Mu'ashiroh II/530 ), E. DR. Ahmad Syarofuddin ( hal. 128 ), F. DR. Rouf Syalabi ( harian Syarq Ausath, edisi 3725, Rabu 8/2/1989 ) G. DR. Abd. Jalil Syalabi (harian Syarq Ausath edisi 3725, 8/2/1989M.) H. DR. Mahmud As-Sarthowi ( dalam bukunya Zar'ul A'dho, Yordania), I. DR. Hasyim Jamil ( majalah Risalah Islamiyah, edisi 212 hal. 69). Secara umum dan pada prinsipnya mereka membolehkannya dengan alasan dan dalil sebagai berikut:

a. Ayat-ayat tentang dibolehkannya mengkonsumsi barang-barang haram dalam kondisi benar-benar darurat. al. QS. 2:173, 5:3, 6:119,145.

b. Firman Allah swt. yang artinya : ...dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. QS. Al-Maidah (5): 32.

c. ayat-ayat tentang keringanan dan kemudahan dalam Islam al.QS. 2:185, 4:28, 5:6, 22:78

d. Hal itu sebagai amal jariyah bagi donatur yang telah mati dan sangat berguna bagi kemanusiaan.

e. Allah sangat menghargai dan memuji orang-orang yang berlaku 'itsaar' tanpa pamrih dan dengan tidak sengaja membahayakan dirinya atau membinasakannya.QS. 95:9 f. Kaedah-kaedah umum hukum Islam yang mengharuskan dihilangkannya segala bahaya. Sebenarnya hampir semua ulama mendukung praktek ini asalkan mengikuti ketentuan-ketentuan kaedah syari'ah kecuali sebagian kecil dari mereka yang keberatan dan tidak memperbolehkannya seperti : Syeikh As-Sya'rowi ( harian Alliwa edisi 226, 27/6/1407), Al-Ghomari ( dalam bukunya ttg. haramnya transplantasi ), Assumbuhli ( Qodhoya fiqhiyyah mu'ashiroh, hal.27), Hasan Assegaf ( dalam bukunya ttg tranplantasi) dan DR. Abd. Salam Asssakri ( dalam bukunya ttg transplantasi) dan lainnya. Alasan mereka secara umum adalah keberatan mereka terhadap praktek transplantasi karena dapat berakibat dan menjurus kepada tindakan merubah dan merusak kehormatan jasad manusia yang telah dimulyakan Allah. Semuanya itu sebenarnya dapat ditangkal dan diatasi atau ditanggulangi dengan mengikuti ketentuan-ketentuan medis dan syari'eh yang berlaku dengan penuh kehati-hatian dan amanah. ( lihat, QS. 17:70, 4:29. )

B. Penanaman jaringan/organ yang diambil dari tubuh binatang. b.1. Kasus Pertama: Binatang tersebut tidak najis/halal, seperti binatang ternak (sapi, kerbau, kambing ). Dalam hal ini tidak ada larangan bahkan diperbolehkan dan termasuk dalam kategori obat yang mana kita diperintahkan Nabi untuk mencarinya bagi yang sakit. b.2. Kasus Kedua : Binatang tersebut najis/ haram seperti, babi atau bangkai binatang dikarenakan mati tanpa disembelih secara islami terlebih dahulu. Dalam hal ini tidak dibolehkan kecuali dalam kondisi yang benar-benar gawat darurat dan tidak ada pilihan (alternatif organ) lain. (lihat; QS Al Baqarah:173, Al Maidah:3, Majma' Annahr : II/535, An-Nawawi dalam Al-Majmu' : III/138).

PENUTUP (CATATAN):

Mengingat kondisi darurat, kebutuhan dan kompleksitas dimensi masalah serta keterbasan jaringan/organ transplan yang layak, maka menurut hemat saya semua kasus yang diperbolehkan di ataspun dalam prakteknya harus dilakukan dengan ketentuan skala prioritas sebagai berikut : I. Segi Resipien atau Reseptor harus diperhatikan hal-hal berikut untuk didahulukan antara lain: 1. Keyakinan agamanya (QS. Al Hujurat: 1, Ali Imran: 28, Al Mumtahanah: 8). 2. Peranan, Jasa atau kiprahnya dalam kehidupan umat. (QS. Shaad: 28) 3. Kesholehan, ketaatan dan pengetahuannya ttg ajaran Islam. (Al Mujadalah: 11) 4. Hubungan kekerabatan dan tali silatur rahmi ( QS. Al Ahzab: 6) 5. Tingkatan kebutuhan dan kondisi gawat daruratnya dengan melihat persediaan. II. Segi Donor juga harus diperhatikan ketentuan berikut dalam prioritas pengambilan: 1. Menanam jaringan/organ imitasi buatan bila memungkinkan secara medis. 2. Mengambil jaringan/organ dari tubuh orang yang sama selama memungkinkan karena dapat tumbuh kembali seperti, kulit dan lainnya. 3. Mengambil dari organ/jaringan binatang yang halal, adapun binatang lainnya dalam kondisi gawat darurat dan tidak ditemukan yang halal. Dalam sebuah riwayat atsar disebutkan: "Berobatlah wahai hamba-hamba Allah, namun janganlah berobat dengan barang haram." Tetapi dalam kondisi "darurat syar'i sebagaimana dalam kaedah fiqh disebutkan Adh Dharurat Tubihul Mahdhuraat (darurat membolehkan pemanfaatan hal yang haram) atau kaedah (Bahaya harus dihilangkan) yang mengacu pada ayar dharurat seperti surat Al Maidah: 3 maka boleh memanfaatkan barang haram dengan sekedar kebutuhan dan tidak boleh berlebihan dan jadi kebiasaan sebab dalam kaedah fiqh dijelaskan "Adh Dharurat Tuqaddar Biqadarihaa" (Peertimbangan Kondisi Darurat Harus Dibatasi Sekedarnya) sebagaimana mengacu pada batasan dalam ayat darurat tersebut diatas; fii makhmashah ghaira mutajanifin lill itsmi (karena kondisi kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa) atau dalam surat Al Baqarah: 173 dibatasi; famanidh dhuturra ghaira baaghin walaa �aadin falaa itsma �alaih (Tetapi barang siapa dalam keadaan terpaksa/darurat sedang ia tidak menginginkannya dan tidak melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya). 4. Mengambil dari tubuh orang yang mati dengan ketentuan seperti penjelasan di atas. 5. Mengambil dari tubuh orang yang masih hidup dengan ketentuan seperti diatas disamping orang tersebut adalah mukallaf ( baligh dan berakal ) dengan kesadaran, pengertian, suka rela atau tanpa paksaan.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,

Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

http://www.syariahonline.com/index.php
_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_

DEDI WAHYUDI
tanggal :160409
Judul :Transplantasi Organ
Materi :diskusi

Transplantasi organ, operasi kecantikan, dan operasi kelamin bertujuan untuk kemashlahatan dan dilakuakan secara islami
Transplantasi organ dibagi 3 yaitu
1. Auto transplantasi yaitu masih satu tubuh missal ambil kulit pantat
2. Homo transplantasi yaitu diambilkan darti orang lain 
3. Heterotranplantasi yaitu diambilkan dari hewan
SAyarat transplantasi yaitu 
1. Harapan berhasil tinggi
2. Tak merugikan
3. Ijin dari donor
4. Social
5. Diperhitungkan usia donor dan recipient serta peran merka
Operrasi kecantikan dipengaruhi oleh motif
a. Kepentingan suami
b. Kepentoingan rehabilitasi
c. Kepentingan public

Operasi ganti kelamin 
Dasarnya QS.ArRuum ayat 30 dan hadis nabi yang artinya melaknatwanitab yang merubah tubuhnya.
Motif: merubah dan menyempurnakan

Semoga manfaat dan semofga artikel ini halal


0   komentar

Silahkan kirim komentar anda!

Cancel Reply