Jogja Course Center

product 1

Jogja Course Center (JCC) sebagai lembaga yang memfasilitasi pemenuhan kebutuhan masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan potensi diri, serta mendukung dalam penguasaan dan penerapan ilmu bahasa asing dan komputer, dan ikut serta dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Info detail klik di sini.

Iklan AndaI

product 1

Pasanglah iklan Anda di sini. Ingsyallah membawa berkah. Apalagi menghidupi hamba Allah yang sedang belajar ilmu agama. Alasan lainnya klik di sini.

Iklan Anda

product 1

Pasanglah iklan Anda di sini. Ingsyallah membawa berkah. Apalagi menghidupi hamba Allah yang sedang belajar ilmu agama. Alasan lainnya klik di sini.

Dedi Wahyudi Siap Membangun Negeri Menuju Indonesia Digdaya 2030

Dedi Wahyudi Siap Membangun Negeri Menuju Indonesia Digdaya 2030

Podoluhur News

Dedi Wahyudi lagi sibuk garap tesis, mohon doanya semoga diberikan kemudahan oleh Allah, aamiin.

Sejarah Nabi Muhammad SAW

Dedi Wahyudi | 5/23/2009 12:22:00 am | 0 komentar

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم



Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah
Sejarah Kebudayaan Islam
Dosen Pengampu : : Drs. Nur Hidayat, M.Ag

Disusun Oleh :
DEDI WAHYUDI 08410153
ERMA
SUNU
DENI
REZA
RYAN


Kelas : PAI F
Jurusan/Prodi : Pendidikan Agama Islam
Naskah diserahkan tanggal ……………………
Dipresentasikan tanggal………………………..

FAKULTAS TARBIYAH
UIN SUNAN KALIJAGA
SEMESTER GENAP 2008/2009

Daftar Isi
Daftar Isi 2
1. Pendahuluan 3
1.1 Latar Belakang Masalah 3
1.2 Masalah atau Topik Bahasan Makalah 3
1.3 Tujuan Penulisan Makalah 3
2. Pembahasan 4
2.1 Kelahiran Nabi Muhammad SAW 4
2.2 Dakwah Rasulullah SAW Periode Mekkah 7
2.3 Dakwah Rasulullah SAW Periode Madinah 8
3. Penutup 11
3.1 Kesimpulan dan Analisa 11
3.2 Penutup 11
Daftar Pustaka 12

Bab I
Pendahuluan
1.1 Latar Belakang Masalah
Nabi Muhammad SAW adalah nabi terakhir yang membawa agama Islam. Beliau sangat gigih dalam usaha mendirikan syrai’at Islam. Beliau tak kenal lelah dan pantang menyerah. Banyak orang muslim yang tidak mengetahui perjalanan hidup beliau. Berangkat dari ketidaktahuan itu maka kami berusasha membuat sebuah makalah yang berjudul ”Sejarah Nabi Muhammad SAW”.
1.2 Masalah atau Topik Bahasan Makalah
Masalah yang akan kami bahas yaitu Kelahiran Nabi Muhammad SAW, dakwah Rasulullah SAW Periode Mekkah, dan dakwah Rasulullah SAW Periode Madinah
1.3 Tujuan Penulisan Makalah
Makalah ini dimaksudkan untuk membahas tentang berbagai hal yang berhubungan dengan perjalanan hidup atau sejarah Nabi Muhammad SAW serta untuk memenuhi tugas mata kuliah Sejarah Kebudayaan Islam


BAB 2
PEMBAHASAN
A. Kelahiran Nabi Muhammad SAW
Nabi Muhammad SAW dilahirkan pada tahun gajah , yakni tahun dimana Abrahah al-Asyram berusaha menyerang Makkah dan menghancurkan Ka’bah dengan pasukan gajahnya. Lalu Allah menggagalkannya dengan mu’jizat sebagaimana diceritakan dalam Surat Al-Fiil. Menurut pendapat yang paling kuat, beliau lahir pada hari Senin malam, 12 Rabi’ul Awwal.Di kalangan Syi'ah, sesuai dengan arahan para Imam yang merupakan keturunan langsung Muhammad, menyatakan bahwa ia lahir pada hari Jumat, 17 Rabiulawal; sedangkan kalangan Sunni percaya bahwa ia lahir pada hari Senin, 12 Rabiulawal atau (2 Agustus 570M . Menurut biografi tradisional Muslimnya (dalam bahasa Arab disebut sirah), ia lahir sekitar tahun 570, diperkirakan 20 April 570 di Mekkah ("Makkah").
Silsilah Muhammad dari kedua orang tuanya kembali ke Kilab bin Murrah bin Ka'b bin Lu'ay bin Ghalib bin Fihr (Quraish) bin Malik bin an-Nadr (Qais) bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah (Amir) bin Ilyas bin Mudar bin Nizar bin Ma`ad bin Adnan. Dimana Adnan merupakan keturunan laki-laki ke tujuh dari Ismail bin Ibrahim, yaitu keturunan Sam bin Nuh.
Beliau lahir dalam keadaan yatim. Ayahnya (Abdullah bin Abdul Muthalib) meninggal ketika ibunya (Aminah binti Wahhab bin Abdu Manaf bin Zuhra) mengandung beliau dua bulan. Lalu beliau diasuh Abdul Muthalib, dan disusukannya kepada Tsuwaibah kemudian kepada Halimah binti Abu Dzu’aib, seorang wanita dari Banu Sa’ad
Pada saat Muhammad berusia enam tahun, ibunya Aminah binti Wahab mengajaknya ke Yatsrib (Madinah) untuk mengunjungi keluarganya serta mengunjungi makam ayahnya. Namun dalam perjalanan pulang, ibunya jatuh sakit. Setelah beberapa hari, Aminah meninggal dunia di Abwa' yang terletak tidak jauh dari Yatsrib, dan dikuburkan di sana. Setelah ibunya meninggal, Muhammad dijaga oleh kakeknya, 'Abd al-Muththalib. Setelah kakeknya meninggal, ia dijaga oleh pamannya, Abu Thalib. Ketika inilah ia diminta menggembala kambing-kambingnya disekitar Mekkah dan kerap menemani pamannya dalam urusan dagangnya ke negeri Syam (Suriah, Libanon dan Palestina).
Muhammad (Nama Muhammad berasal dari bahasa arab tetapi juga dikenal sebagai Mohammad, Mohammed, dan kadang-kadang oleh orientalis Mahomet, Mahomed) adalah pembawa ajaran Islam, dan diyakini oleh umat Muslim sebagai nabi Allah (Rasul) yang terakhir"Muhammad" dalam bahasa Arab berarti "dia yang terpuji". Muslim mempercayai bahwa ajaran Islam yang dibawa oleh Muhammad adalah penyempurnaan dari agama-agama yang dibawa oleh nabi-nabi sebelumnya. Mereka memanggilnya dengan gelar Rasulullah, dan menambahkan kalimat sallallaahu alayhi wasallam, yang berarti "semoga Allah memberi kebahagiaan dan keselamatan kepadanya", sering disingkat "s.a.w" atau "S.A.W") setelah namanya. Selain itu Al-Qur'an dalam Surah As-Saff (QS 61:6) menyebut Muhammad dengan nama "Ahmad", yang dalam bahasa Arab juga berarti "terpuji".
Michael H. Hart, dalam bukunya The 100, menetapkan Muhammad sebagai tokoh paling berpengaruh sepanjang sejarah manusia. Menurut Hart, Muhammad adalah satu-satunya orang yang berhasil meraih keberhasilan luar biasa baik dalam hal agama maupun hal duniawi. Dia memimpin bangsa yang awalnya terbelakang dan terpecah belah, menjadi bangsa maju yang bahkan sanggup mengalahkan pasukan Romawi di medan pertempuran.
Pada waktu itu pedalaman Banu Sa’ad sedang mengalami musim kemarau yang menyebabkan keringnya ladang peternakan dan pertanian. Tidak lama setelah Muhammad saaw tinggal di sana, pedalaman Banu Sa’ad kembali menghijau, sehingga kambing-kambing pulang dengan perut kenyang dan penuh air susunya. Kehadiran Muhammad saaw telah membawa keberkahan di sekitarnya.
Ketika masih kecil, Muhammad SAW didatangi dua malaikat yang membedah dadanya untuk mencuci hatinya dengan air dari surga dan dengan air zamzam.
Diriwayatkan daripada Anas bin Malik ra katanya: Rasulullah s.a.w telah didatangi oleh Jibril as ketika baginda sedang bermain dengan kanak-kanak. Lalu Jibril as memegang dan merebahkan baginda, kemudian Jibril as membelah dada serta mengeluarkan hati baginda. Dari hati tersebut dikeluarkan segumpal darah, lalu Jibril as berkata: Ini adalah bahagian syaitan yang terdapat dalam dirimu. Setelah itu Jibril membasuh hati tersebut dengan menggunakan air Zamzam di dalam sebuah wadah yang terbuat dari emas, kemudian meletakkanya kembali ke dalam dada baginda serta menjahitnya sebagaimana asal. Dua orang kanak-kanak segera menemui ibunya yaitu ibu susuan Rasulullah saaw dan mereka berkata: Muhammad telah dibunuh. Seterusnya mereka mengusung baginda, ketika itu rupa baginda telah berubah. Anas berkata: Aku benar-benar pernah melihat bekas jahitan tersebut di dada baginda. (HR. Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi, An-Nasa`i, Abu Daud, Ahmad bin Hanbal)
Dalam masa remajanya, diriwayatkan bahwa Muhammad percaya sepenuhnya dengan keesaan Tuhan. Ia hidup dengan cara amat sederhana dan membenci sifat-sifat angkuh dan sombong. Ia menyayangi orang-orang miskin, para janda dan anak-anak yatim serta berbagi penderitaan dengan berusaha menolong mereka. Ia juga menghindari semua kejahatan yang biasa di kalangan bangsa Arab pada masa itu seperti berjudi, meminum minuman keras, berkelakuan kasar dan lain-lain, sehingga ia dikenal sebagai As-Saadiq (yang benar) dan Al-Amin (yang terpercaya). Ia senantiasa dipercayai sebagai penengah bagi dua pihak yang bertikai di kampung halamannya di Mekkah
Saat berumur empat belas tahun nabi ikut menyaksikan Perang Fijar, yaitu pwrang antara quraisy dan kinanah disatu pihak dan hawazin dipihak lain
Salah satu usaha Muhammad sebelum diutus menjadi ialah berniaga ke syam membawa barang-berang perniagaan Khodijah binti Khuwailid, yang ditemani sahaya Khadijah yaitu maisarah. Kemudian khadijah dan Muhammad menikah

B. Dakwah Rasulullah SAW Periode Mekkah
Sejak kecil hingga dewasa, Muhammad tidak pernah menyembah berhala. Sering ia mengasingkan diri dan merenung untuk mendapatkan pemusatan jiwa yang sempurna.Ia bertahannuts di sebuah gua kecil bernama hira’ yang terletak kira-kira dua mil di sebelah utara kota mekkah.
Pada saat di gua hira’ inilah nabi Muhammad mendapatkan wahyu yang pertama. Dengan diterimanya wahyu inilah, maka nabi Muhammad secara resmi dinobatkan oleh Allah sebagai rosul kepada seluruh umat islam. Menurut riwayat, setelah wahyu pertama turun maka turunlah wahyu yang kedua dan ketiga.Dengan turunnya wahyu itu, maka jelaslah sudah apa yang harus beliau lakukan yaitu mengajak para kaumnya untuk menyembah Allah SWT.
Memulai tugasnya menyiarkan agama islam di Mekkah, Rosulullah bekerja secara diam-diam menyeru keluarganya yang tinggal dalam satu rumah dan sahabat-sahabat beliau yang terdekat mula-mula beriman dan memeluk agama islam adalah istri beliau sendiri yaitu Siti Khadijah.
Tiga tahun lamanya Rosululloh melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi, kemudian Allah memerintah agar dakwah dilaksanakan secara terang-terangan. Hampir segala cara dilakukan oleh pihak Quraisyi. Sekalipun dalam lindungan pamannya Abu Thalib, Muhammad dan pengikutnya harus menghadapi kesulitan yang besar. Pada tahun kelima dari kenabiannya atau 615 M, Muhammad tidak bisa meringankan penderitaan para pengikutnya sehingga beliau menganjurkan kepada mereka untuk pindah atau hijrah ke negeri Habsyah yang diikuti oleh kira-kira 100 laki-laki dan perempuan, meninggalkan negara mereka menuju negara lain dimana mereka diterima dengan baik oleh raja kristen di negara itu. Kelompok muhajirin itu tinggal di negeri Habsyah selama tiga bulan dan kemudian mereka pulang kembali ke Mekah menggabungkan diri lagi dengan nabi.
Belum lagi sembuh dari kepedihan dan kesedihan karena ulah kaum Quraisyi, tibalah pula musibah besar menimpa nabi yaitu meninggalnya paman beliau Abu Thalib dan disusul istri tercintanya Khadijah.Meninggalnya Abu Thalib dan Khadijah berarti rasululloh kehilangan dua orang pelindung dan pembelanya yang konsekuen dan konsisten. Pihak Quraisyi telah mulai berani menyakiti Nabi, tidak lagi dengan kata-kata ejekan dan cemoohan, tetapi menyakiti langsung badan nabi.
Pada saat seperti itulah, Nabi merasa bahwa mekah tidak lagi sesuai menjadi pusat agama Islam. Maka berpindahlah beliau ke luar kota Mekah. Tempat yang dituju adalah Thaif, daerah kabilah Tsaqif. Ajakan dan himbauan Nabi yang penuh ramah itu ditolak oleh pemuka-pemuka kabilah Tsaqif dengan kasar dan brutal. Nabi terpaksa kembali ke Mekah terus menuju ke Baitulloh. Di rumah suci ini beliau Thawaf dan sujud berdoa, semoga Allah mengampuni kaumnya dan memberi kekuatan kepadanya untuk melanjutkan risalah Tuhannya. Sesudah itu barulah beliau pulang ke rumah.
Nabi Muhammad diperintahkan oleh Allah menjalani Isra’ dan Mi’raj 27 Rajab tahun kesebelas kerasulan Muhammad.
Sampai tibalah saatnya Nabi dalam suatu musim haji “berkenalan” dengan suku Aus dan Khazraj dari Madinah dan perkenalan itu membawa mereka kepada suatu baiat dengan nabi. Sejak itulah nabi Muhammad melihat suatu prospek yang cerah dan mengarahkan minat dan semangatnya bagi penyiaran Islam di Madinah.

c. Dakwah Rasulullah SAW Periode Madinah
Peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW ini terjadi pada 12 Rabi`ul Awwal tahun pertama Hijrah, yang bertepatan dengan 28 Juni 621 Masehi. Hijrah adalah sebuah peristiwa pindahnya Nabi Muhammad Saw dari Mekkah ke Madinah atas perintah Allah, untuk memperluas wilayah penyebaran Islam dan demi kemajuan Islam itu sendiri.
Rencana hijrah Rasulullah diawali karena adanya perjanjian antara Nabi Muhammad SAW dengan orang-orang Yatsrib yaitu suku Aus dan Khazraj saat di Mekkah yang terdengar sampai ke kaum Quraisy hingga Kaum Quraisy pun merencanakan untuk membunuh Nabi Muhammad SAW. Pembunuhan itu direncanakan melibatkan semua suku. Setiap suku diwakili oleh seorang pemudanya yang terkuat. Rencana pembunuhan itu terdengar oleh Nabi SAW, sehingga ia merencanakan hijrah bersama sahabatnya, Abu Bakar. Abu Bakar diminta mempersiapkan segala hal yang diperlukan dalam perjalanan, termasuk 2 ekor unta. Sementara Ali bin Abi Thalib diminta untuk menggantikan Nabi SAW menempati tempat tidurnya agar kaum Quraisy mengira bahwa Nabi SAW masih tidur. Segala halangan dan cobaan dilalui nabi Muhammad dan dapat diatasinya hingga sampai madinah.
Setelah Nabi SAW tiba di Madinah dan diterima penduduk Madinah, Nabi SAW menjadi pemimpin penduduk kota itu. Ia segera meletakkan dasar-dasar kehidupan yang kokoh bagi pembentukan suatu masyarakat baru yang para ahli sejarah menyebutnya Negara Madinah. Banyak peristiwa yang dialami Nabi diantaranya.
a. Perang Badar
Perang Badar yang merupakan perang antara kaum muslimin Madinah dan kaun musyrikin Quraisy Mekah terjadi pada tahun 2 H. Perang ini merupakan puncak dari serangkaian pertikaian yang terjadi antara pihak kaum muslimin Madinah dan kaum musyrikin Quraisy. Perang ini berkobar setelah berbagai upaya perdamaian yang dilaksanakan Nabi Muhammad SAW gagal dan kaum muslimin keluar sebagai pemenang.
b. Perang Uhud
Perang yang terjadi di Bukit Uhud ini berlangsung pada tahun 3 H. Perang ini disebabkan karena keinginan balas dendam orang-orang Quraisy Mekah yang kalah dalam perang Badr. Prajurit-prajurit Islam dapat memukul mundur pasukan musuh yang jauh lebih besar itu. Tentara Quraisy mulai mundur dan kocar-kacir meninggalkan harta mereka. Melihat kemenangan yang sudah di ambang pintu, pasukan pemanah yang ditempatkan oleh Rasulullah di puncak bukit meninggalkan pos mereka dan turun untuk mengambil harta peninggalan musuh. Mereka lupa akan pesan Rasulullah untuk tidak meninggalkan pos mereka dalam keadaan bagaimana pun sebelum diperintahkan. Situasi ini dimanfaatkan musuh untuk segera melancarkan serangan balik. Tanpa konsentrasi penuh, pasukan Islam tak mampu menangkis serangan. Mereka terjepit, dan satu per satu pahlawan Islam berguguran
c. Perang Khandaq
Perang yang terjadi pada tahun 5 H ini merupakan perang antara kaum muslimin Madinah melawan masyarakat Yahudi Madinah yang mengungsi ke Khaibar yang bersekutu dengan masyarakat Mekah. Karena itu perang ini juga disebut sebagai Perang Ahzab (sekutu beberapa suku)
d. Perjanjian Hudaibiyah
Pada tahun 6 H, ketika ibadah haji sudah disyariatkan, hasrat kaum muslimin untuk mengunjungi Mekah sangat bergelora. Nabi SAW memimpin langsung. Sebelum tiba di Mekah, mereka berkemah di Hudaibiyah yang terletak beberapa kilometer dari Mekah. Orang-orang kafir Quraisy melarang kaum muslimin masuk ke Mekah dengan menempatkan sejumlah besar tentara untuk berjaga-jaga.
Akhirnya diadakanlah Perjanjian Hudaibiyah antara Madinah dan Mekah,Tujuan Nabi SAW membuat perjanjian tsb sebenarnya adalah berusaha merebut dan menguasai Mekah, untuk kemudian dari sana menyiarkan Islam ke daerah-daerah lain.
e. Pemberian cop mohor
Rasulullah s.a.w mengutuskan surat dan watikah kepada kerajaan – kerajaan luar seperti kerajaan Rom dan Parsi bagi mengembangkan risalah dakwah. Semua surat dan watikah diletakkan cop yang tertulis kalimah la ila ha illahlah wa ana Rasullah
f. Hubungan luar
Hubungan luar merupakan orientasi penting bagi melabarkan sayap dakwah. Ini terbukti melalui tindakan Rasulullah s.a.w menghantar para dutanya ke negara-negara luar bagi menjalinkan hubungan baik berteraskan dakwah tauhid kepada Allah. Negara-negara itu termasuklah Mesir, Iraq, Parsi dan Cina. Sejarah turut merakamkan bahawa Saad Ibn Waqqas pernah berdakwah ke negeri Cina sekitar tahun 600 hijrah. Sejak itu, Islam bertebaran di negeri Cina sehingga kini. Antara para sahabat yang menjadi duta Rasulullah ialah Dukyah Kalibi kepada kaisar Rom, Abdullah bin Huzaifah kepada kaisar Hurmuz, Raja Parsi, Jaafar bin Abu Talib kepada Raja Habsyah.

BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan dan Analisa
Strategi dakwah Rasulullah s.a.w di Madinah lebih agresif dan besar. Madinah, sebagai Negara Islam pertama menjadi nadi pergerak dakwah Islam ke seluruh dunia. Tapak yang disediakan oleh Rasulullah s.a.w begitu kukuh sehingga menjadi tauladan kepada pemerintahan Islam sehingga kini. Strategi yang bersumberkan kepada dua perundangan utama yaitu al-Quran dan Hadis menjadi intipati kekuatan perancangan Islam dalam menegakkan kalimah Tauhid.
Sukses hijrah Nabi Muhammad SAW ditandai, antara lain, keberhasilannya mencerdaskan masyarakat Muslim yang bodoh menjadi umat yang cerdas, menyejahterakan sosial ekonomi umat dan masyarakat dengan asas keadilan dan pemerataan, serta penegakan nilai etik-moral dan norma hukum yang tegas. Pendeknya, Nabi Muhammad SAW berhasil membangun kesalehan ritual yang paralel dengan kesejahteraan material, ketaatan individual yang seiring dengan kepatuhan sosial, dan terwujudnya kesejahteraan duniawiah-temporal yang seimbang dengan keberkahan ukhrawiah yang kekal.
Sebuah fakta sejarah kemudian membuktikan bahwa proses penyebaran Islam dengan dakwah jauh lebih cepat dan berkembang pada periode Madinah ini dibandingkan periode Mekkah. Selain itu juga di Madinah, Rasulullah dan Umat Islam berhasil membangun tata peradaban baru, tata pemerintahan, tata ekonomi dan sosial yang demikian pesat perkembangannya.
3.2 Penutup
Jika ada kesalahan kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Kami nantikan saran dan kritik yang membangun. Terima kasih atas segala perhatiannya.


DAFTAR PUSTAKA
Ismail, Faisal. 1984, Sejarah dan Kebudayaan Islam, Yogyakarta:CV Bina Usaha
Syalabi, Ahmad. 2003, Sejarah Dan Kebudayaan Islam 1, Jakarta,:PT Pustaka Al Husna Baru
Abdurrahman, Dudung. 2004, Sejarah Peradaban Islam Dari Masa Klasik Hingga Modern ,Siti Maryam (editor), Yogyakarta: Lesfi,
A.Mailk, Maman,dkk. 2005, Sejarah Kebudayaan Islam, Yogyakarta:Pokja UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Muhammad, http://id.wikipedia.org/wiki/Muhammad, diakses pada 18 Februari 2009
Kelahiran Nabi Muhammad SAW, http://hotarticle.org/kelahiran-nabi-muhammad-saaw/, diakses pada 18 Februari 2009


_________+++++++++++_________+}++++++++________
Masa Pemerintahan Khulafa al-Rasyidin
Pengangkatan Kepala Negara/Khalifah
Nepotisme yang dibolehkan
Lobi politik (tahkim)
Pengangkatan Putra Mahkota
Kebijakan Pemerintahan dinasti Umayyah

Kebijakan Pemerintahan Khulafa al Rasyidin
memerangi Kaum Riddah
Pengolahan Kas Negara
Penataan Birokarasi Pemerintahan
Pemberlakuan ijtihad
Perluasan wilayah ekspansi
Sistem nepotisme
Organisasi Negara Islam
An Nidham as Siyasyi (organisasi Politik)
Al-Khilafat (memilih khalifah)
Al-Wizariat (menteri pembantu khalifah)
Al-Kitabah (sekretaris negara)
An-Nidham al- Idary (diwan,Gubernur, pos, dan kepolisian)
An-Nidham al-Maly (keuangan Negara) Baitul Mal.
Pemberlakuan Ijtihad
Tidak melaksanakan potong tangan terhadap pencuri yang terpaksa karena kelaparan
Menghapuskan zakat bagi muallaf
Menghapuskan hukum mut`ah (kwn sementara)
Perluasan wilayah (ekspansi)
Ajaran Islam mencakup kehidupan dunia akhirat
Keyakinan bagi sahabat tentang kewajiban menyampaikan ajaran Islam keseluruh daerah
Kekaisyaran Persia dan Bizantium dalam keadaan lemah
Islam tidak memaksa rakyat untuk mengubah agamanya
Rakyat tidak senang tertindas oleh penguasa Persia dan Bizantium Timur
Sistem Nepotisme
Pada pertengahan akhir pemerintahan Ustman
Banyak pejabat negara gubernur dari keluarga Ustman
Seperti Marwan bin Hakam menjadi Segneg. Mengangkat Abdullah bin Saad jadi Guberbur di Mesir dsb.
Ini mengakhiri pemerintahan demokrasi menjadi monarchi heriditis (kerajaan turun temurun)

_++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++_

MASA PEMERINTAHAN BANI UMAYYAH
Sifat pemerintahan adalah Monarchi heridetis (kerajaan turun temurun)
Sifat itu dipengaruhi oleh kerajaan di Persia dan Bizantium
Agenda yang dikembangkan pada masa Umayyah :
Ekspansi perluasan wilayah diperluas sampai india, dan spanyol,Afrika Utara,syiria, Palestina,Jazirah Arabia, Irak, Persia, afganiftan dan Pakistan.
Pembangunan diberbagai bidang, antara lain, Jawatan Pos, Menertibkan angkatan Perang, mencetak mata uang sendiri.
Pada masa Abdul Malik mata uang Bizantium diubah dengan tulisan arab pada tahun 659 M. Dan memberlakukan bahasa Arab sebagai bahasa Resmi pemerintahan islam.


Masa al-Walid bin Abdul Malik (705-715 M)
Melanjutkan pembangunan seperti panti untuk orang cacat dengan melibatkan personil yang digaji oleh negara secara tetap. Membangun jalan raya yang menghubungkan suatu daerah kedaerah lain,dan masjid.
Kaum Mawali yaitu umat Islam bukan Arab, berasal dari Persia, Armenia yang pada masa Bani umayyah dianggap sebagai warga negara kelas dua
Hubungan pemerintahan dengan golongan oposisi dapat berjalan dengan baik ketika masa pemerintahan Khalifah Umar Ibn Abdul al-Aziz (717-720 M)
Masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz
Dia memperbaiki dan meningkatkan dalam negeri yang lebih baik daripada menambah wilayah kekuasaan.
Dia menjalin hubungan baik dengan kaum syi`ah, dan memberi kebebasan penganut agama lain untuk beribadah sesuai dengan keyakinan dan kepercayaan
Pajak diperingan
Kedudukan mawali disejajarkan dengan muslim arab.
Masa Khalifah Yazid bin Abdul Malik (720-724)
Masa kemewahan & kekacauan serta kurang memperhatikan kehidupan rakyat
Masa kemunduran sampai masa akhir pemerintahannya karena faktor dari dalam dan dari luar

Faktor-faktor yang menyebabkan Dinasti Bani Umayyah runtuh
Sistem pergantian khalifah melalui turun menurun yang tidak jelas.
Konflik politik yang terjadi pada masa Ali, syi`ah, dan khawarij terus menjadi gerakan oposisi, secara diam-diam dan terbuka
Permasalahan etnis antar suku Arabia Utara (Bani Qais) dan Arabia Selatan (Bani Kalb) makin meruncing
Permasalahan golongan Mawali (non Arab) merasa tidak puas karena dinomer duakan.
Sikap hidup mewah dilingkungan istana termasuk anak-anaknya tidak bisa memikul beban meneruskan kekuasaan
Munculnya kekuatan baru yang dipelopori oleh keturunan Al-Abbas ibn Muthalib dan mendapat dukungan dari dari Bani Hasyim, Syi`ah, dan kaum Mawali yang kurang diperhatikan.

___________+++++++++++____________

BAB I

PENDAHULUAN


Peradaban Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus ini juga disebut peradaban Umayyah timur, sedangkan Bani Umayyah Barat berkedudukan di Andalusia. Ini merupakan fase ketiga kekuasaan Islam yang berlangsung selama kurang lebih 1 abad (661 M – 750 M). fase ini bukan saja menunjukkan perubahan sistem kekuasaan Islam dari masa sebelumnya (masa Nabi dan Khulafaurrasyidin) merupakan juga perubahan-perubahan lain di bidang sosial dan peradaban. Ciri yang menonjol dalam masa ini yaitu pemindahan ibukota kekuasaan Islam dari Madinah ke Damaskus, kepemimpinan di kuasai militer Arab dari lapisan Bangsawan, dan ekspansi kekuasaan Islam yang lebih meluas yaitu pada masanya kekuasaan Islam terbentang sejak dari Spanyol, Afrika Utara, Timur Tengah sampai perbatasan Tiongkok.
Dinasti Umawiyyah dalam keberhasilanya melakukan ekspansi kekuasaan Islam jauh lebih besar daripada imperium Romadan di ikuti pula keberhasilan perjuangan bagi penyebaran syari’at Islam. Dengan begitu dapat berhasil pula mengembangkan aspek-aspek peradaban Islam yang sangat besar kontribusinya bagi Islam di masa selanjutnya. Untuk itu perlu adanya pendiskripsian tentang bagaimanakah sistem pemerintahan dan peradaban Islam yang diletakkan oleh para penguasa Umawiyyah berpengaruh terhadap kemajuan peradaban Islam.








BAB II

PEMBAHASAN

A. Kelahiran Bani Umayyah
Daulah Bani Umayyah berasal dari nama “Umayyah ibn ‘Abdi Syam ibn Abdi Manaf, salah seorang pemimpin suku Quraisy pada zaman Jahiliyyah. Sepeninggal Rasulullah, Bani Umayyah sesungguhnya telah menginginkan jabatan pengganti Rasul (khalifah), tetapi mereka belum berani menampakkan cita-citanya pad masa Abu Bakar dan Umar. Baru setelah meninggal, akhirnya Umar lah yang terpilih. Sejak saat itu mulailah Bani Umayyah meletakkan dasar-dasar untuk menegakkan Khilafah Umayyah. Pada masa pemerintahan Ustman inilah mu’awiyyah mencurahkan segala tenaga untuk memperkuatktan dirinya dan menyiapkan daerah Syam sebagai pusat kekuasaanya di kemudian hari.
Ketika Ali Bin Abi Thalib naik menggantikan kedudukan Khalifah Ustman bin Affan, Mu’awiyyah selaku gubernur di Syam (Syiria) membentuk partai yang kuat dan menolak untuk memenuhi perintah Ali. Dia mendesaknya untuk membalas kematian khalifah Ustman sehingga terjadilah Perang Siffin (37/657). Dalam pertempuran sengit antarar pasukan Ali dan pasukan Mu’awiyyah itu, Amr bin ‘As menasihati mu’awiyyah agar pasukannya mengangkat mushaf-mushaf al-Qur’an di ujung-ujung lembing mereka sebagai pertanda seruan untuk damai. Ali menasehatkkan pasukannya agar mereka tidak tertipu dengan tindakan itu, dan meneruskan peperangan sampai akhir, tetapi malah terjadi perpecahan diantara mereka sendiri, sehingga pada akhirnya Ali terpaksa menghentikan perangdan berjanji untuk menerima Takhkim.
Peristiwa Takhkim itu justru merugikan pihak Ali, mengakibatkan banyak pengikut Ali telah ingkar yang kemudian hari di sebut kaum Khawarij. Oleh karena itu umat Islam pada saat itu terbagi menjadi tiga golongan yaitu :
1. Bani Umayyah, dipimpin oleh Mu’awiyyah.
2. Syi’ah (pendukung Ali) yaitu golongan yang mendukung kekhalifahan Ali.
3. Khawarij yang menjadi lawan dari kedua partai.
Kaum Khawarij selalu berusaha untuk merebut masa Islam dari pengikut Ali, Mu’awiyyah, dan ‘Amr. Tekad mereka adalah membunuh tokoh tersebut. Pada tanggal 20 Ramadhan 40 H salah seorang Khawarij berhasil membunuh Ali di Masjid Kufah, yang berarti pula mengakhiri masa pemerintahan Khulafaurrasyidin.

B. Para Khalifah Ummayyah.
Wafatnya Ali adalah satu jembatan emas bagi Mu’awiyyah guna merealisasikan keputusan-keputusan perdamaian guna menjadikan dia sebagai penguasa terkuat di wilayah kekuasaan Islam.
Daulah Umawiyah yang ibukota pemerintahannya di Damaskus, berlangsung selama 91 tahun dan diperintah oleh 14 khalifah. Mereka itu adalah : Mu’awiyyah (41 H/ 661), Yazid 1 (60/680), Mu’awiyyah II (64/683), Marwan I (64/683), Abdul Malik (65/685), Walid I (86/695), Umar Ii (99/715), Yazid Ii (101/717), Hisyam (105/724), Walid II (125/743), Yazid Iii (126/744), Ibrahim (126/744), dan Marwan II (127-132/747-750).
Dilihat dari perkembangan kepemimpinan ke-14 khalifah tersebut, maka periode Bani Umayyah dapat dibagi menjadi tiga masa, yaitu :
1) Masa Permulaan
Masa ini ditandai dengan usaha-usaha Mu’awiyyah meletakkan dasar-dasar pemerintahan dan orientasi kekuasaan, pembunuhan terhadap Husain bin ali, perampasan kota madinah, penyerbuan kota Makah pada masa Yazid I, dan perselisihan diantara suku-suku Arab pada masa Mu’awiyyah II.
2) Masa perkembangan (kejayaan)
Kejayaan bani Umayyah dimulai pada masa pemerintahan Abdul Malik. Dia dianggap sebagai pendiri Bani Umayyah kedua, karena mampu mencegah disintegrasi yang telah terjadi dimasa Marwan. Masa penggantinya, Walid I, merupakan periode kemenangan, kemakmuran dan kejayaan.
3) Masa keruntuhan
Bani Umayyah berakhir pada masa pemerintahan Umar bin abdul Aziz. Dia terpelajar dan taat beragama dan merupakan pelopor penyebaran agama Islam. Akan tetapi pemerintahannya hanya bertahan selama 2 tahun 5 bulan.
Sepeninggal Umar II kekhalifahan mulai lelemah dan akhirnya hancur. Para khalifah pengganti Umar II selalu mengorbankan kepentingan umum untuk kesenagan pribadi. Perselisihan antara para putera mahkota serta perselisihan diantara para pemimpin merupakan sebab-sebab lain yang membawa kehancuran. Tidak lama kemudian Damaskus jatuh ketangan kekuasaan Bani Abbas.

C. Sistem Pemerintahan
Pemindahan kekuasaan kepada Muawiyah mengakhiri bentuk demokrasi kekhalifahan menjadi monarci heridetis (kerajaaan turun temurun), yang diperoleh tidak denagn pemilihan atau suara terbanyak. Pada masa Muawiyah mulai diadakan perubaha-perubahan administerasi pemerintahan, dibenbtuk pasukan-pasukan bertombak pengawal raja, dan dibangun bagian khusus di dalam masjid untuk pengamanan tak kala menjalankan sholat. Muawiyah juga memperkenalkan materai resmi untuk pengiriman memorandum yang berasal dari kholifah.
Pada masa Muawiyah dibentuk semacam dewan sekretaris Negara (diwan al-kitabah) untuk mengurus berbagai urusan pemerintahan yang terdiri dari lima orang sekretaris yaitu: Katib ar-rasail, Katib al-kharraj, Katib al-jund, Katib asy-syurtah dan Katib al-qodi.
Pada masa Abdul Malik bin Marwan, jalannya pemerintahan ditentukan oleh empat depaartemen pokok (diwan). Keempatnya yaitu:
1. Kementrian pajak tanah (diman al-kharraj) yang tugasnya mengawasi departemen keuangan.
2. Kementrian khatam (diwan al-khtam) yang tugasnya merangcang dan mengesahkan ordenansi pemerintah.
3. Kementrian surat menyurat (diwan al-rasail) untuk mengontrol permasalahan di daerah-daerah dan semua komunikasi dari gubernur-gebernur.
4. Kementrian urusan perpajakan (diwan al-mustagallat).


D. Orientasi Kebijakan Politik dan Ekonomi
Kebijakan politik Umawiyyah, selain usaha-usaha pengamanan di dalam negeri yang sering dilakukan oleh saingan-saingan politiknya serta pertentangan diantara suku-suku Arab, adalah upaya-upaya perluasan wilayah kekuasaan. Pada zaman Mu’awiyyah, Uqbah ibn Nafi’ berhasil menguasai Tunis, dan kemudian didirikan kota Qairawan yang kemudian menjadi salah satu pusat kebudayaan Islam. Di sebelah Timur, Mu’awiyyah dapat memperoleh daerah Khurasan sampai ke Lahore di Pakistan. Di sebelah Barat da Utara diarahkan ke Byzantium.
Ekspansi ke Timur maupun Barat mencapai keberhasilan yang gemilang pada zaman Walid I. selama pemerintahannya, terdapat tiga orang pimpinan pasukan terkemuka, sebagai penakhluk yaitu Qutaybah ibn Muslim, Muhammad ibn al-Qasim, dan Musa ibn Nashir.
Di masa Abdul Malik, Qutaybah di angkat oleh Gubernur khurasan, menjadi wakilnya. Bersama pasukanya ia menyeberangi sungai Oxus dan akhirnya menetapkan kedudukannya di Transoxiana. Ia pun tak puas, akhirnya dengan memimpin pasukan yang besar, dia menuju ke perbatasan Cina, kemudian dia menjelajahi kekuasaanya. Muhammad bin Qasim di beri kepercayaan untuk menundukkan India, ia dapat memperluas kemenangannya sdi seluruh penjara Sind, sehingga tiba di Maltan pusat haji orang India di selatan Punjab. Akhirnya Maltan menyerah kepada pasukan ibn Al-Qasim.
Ekspansi Barat di zaman Walid I dilakukan oleh Musa ibn Nusyair yang berhasil menyerang Maroko dan Aljazair. Setelah berhasil ia mengangkat Tariq ibn Ziyad sebagai wakilnya. Didorong oleh kemenangan di Afrika Utara dan timbulnya kerusuhan perebutan kekuasan kerajaan Goia Barat di Spanyol, Tariq pun dikirim dengan bala tentaranya. Dengan demikian pintu untuk menguasai Spanyol terbuka luas, Toledo ibukota Spanyol akhirnya jatuh ke tangan pasukan muslim.
Kemenangan-kemenangan yang diperoleh umat Islam secara luas itu, menjadikan orang Arab bertempat tinggal di daerah yang telah dikalahkan itu, bahkan mereka menjadi tuan tanah. Prinsip keuangan Negara yang diberlakukan mengikuti apa yang ada pada masa Khulafaurrasydin, yaitu penetapan pajak tanah dan pajak perorangan untuk setiap individu penghuni daerah-daerah yang telah dikalahkan merupakan income bagi pemerintah Umawiyah. Hal ini memperlancar terlaksananya sistem pengajian bagi bala tentara, sehingga memberikan banyak waktu orang Arab untuk berdakwah.

E. Perkembangan Peradaban dan Kebudayaan
1. Arsitektur
Arsitektur pada zaman Umawiyyah bertumpu pada bangunan sipil berupa kota-kota dan bangunan agama berupa masjid-masjid. Beberapa kota baru atau perbaikan kota lama telah dibangun dalam zaman Umawiyyah yang di iringi pembangunan berbagai gedung dengan gaya perpaduan Persia, Romawi dan Arab.
Damaskus yang masa sebelum Islam merupakan Ibokota kerajaan Romawi Timur di Syam, adalah kota lama yang dibangun kembali pada masa Umawiyah, dan dijadikan ibukota daulah ini. Pada masa WAlid dibangun juga masjid agung yang terkenal dengan nama “Masjid Damaskus”. Dimana kubah-kubahnya berbentuk tapak besi kuda bulat. Di sekeliling masjid ini terdapat empat bush mercu yang merupakan bangunana peninggalan Yahudi, tetapi oleh orang Islam hanya diambil satu mercu saja untuk dijadikan sebagai menara tempat azan yang terletak disebelah tenggara masjid. Adapun ruangan dalam dari masjid dihiasi dengan ukiran-ukiran indah, marmer halus (mosaics) dan pintu-pintunya dipasang memakai kaca-kaca berwarna-warni.
Salah satu kota baru yang dibangun di zaman ini adalah kota Kairawan, yang didirikan oleh Uqbah bin Nafi’I ketika menjadi gubernur pada asa Khalifah Muawiyyah.kota ini dibangun dengan gaya arsitektur Islam dan dilengkapi dengan berbagaim gedung, masjid, taman rekreasi, pangkalan militer,dsb.
Pada masa gubernur Hisyam ibn Abd Malik diadakan perbaikan sehingga menjadi masjid kebanggaan kaum muslimin di Afrika Utara. Selain itu juga menyediakan dana untuk melakukan perbaikan-perbaikan terhadap masjid-masjid tua di zaman Rasulullah, antara lain Masjid al-Haram dengan memperhatikan aspek-aspek estetikanya. Begitu pula Masjid Nabawi, yang oleh Walid diperluas dan diperindah dengan konstruksi dan arsitektur Syiria.

2. Organisasi Militer
Pada nasa Umawiyah organisasi militer terdiri dari Angkatan Darat (al-Jund), Angkatan Laut (al-Bahriyah), dan Angkatan Kepolisian (as-Syurtah). Angkatan Laut yang sesungguhnya telak dirintis oleh Mu’awiyah sejak masa Umar tatkala ia akan melakukan penyerangan ke negeri Roma melalui jalan laut, kenudian pada masa Usman dilanjutkan dengan pembentukan Angkatan Musim Panas dan Musim Dingin.
Maka semenjak resmi menjadi Khalifah Umawiyyah mulai diusahakan pembuatan kapal-kapal perang guna menangkis serangan Armada Byzantium serta keperluan sarana transportasi dalam usaha perluasan kekuasaan Islam ke daerah-daerah lain.waktu itu armada laut Umawiyah mencapai di Raudah.
Adapun organisasi kepolisian pada mulanya merupakan bagian dari organisasi kehakiman. Tetapi kemudian bersifat independent, dengan tugas mengawasi danj mengurus soal-soal kejahatan. Pada masa Hisyam, di dalam organisasi kepolisian dibentuk Brigade Mobil yang bertujuan hanpir serupa dengan tugas-tugas tentara.

3. Perdagangan
Setelah Daulah Umawiyah berhasil menguasai wilayah yang cukup luas maka lalu lintas perdagangan mendapat jaminan yang layak. Lalu lintas darat melali jalan Sutera ke Tiongkok guna memperlancar perdagangan sutera, keramik, obat-obatan dan wewangian. Adapun lalu lintas dilautan kea rah negeri-negeri belahan timur untuk mencari rempah-rempah, bamboo, kasturi, permata, logam mulia, gading dan bulu-buluan.
Dengan ini membawa ibukta Basrah di teluk Persi menjadi pelabuhan dagang yang teramat ramai dan makmur. Perkembangan perdagangan itu telak mendorong meningkatnya kemakmuran bagi Daulah Umawiyah.

4. Kerajinan
Pada masa Khalifah Abd Malik mulai di rintis pembuatan tiraz (bordiran), yakni cap resmi yang digetak pada pakaian Khalifah dan para pembesar pemerintahan. Format Tiraz yang mula-mula merupakan terjemahan dari rumus Kristen, kemudian oleh Gubernur Mesir diganti dengan rumus Islam, lafaz “La Illaha Illa Allah”.
Di bidang seni lukis, sejak Khalifah Mu’awiyah sudah mendapat perhatian masyarakat. Seni lukis tersebut selain terdapat di masjid-masjid, juga tunbuh di luar masjid. Adanya lukisan dalam istana Bani Umayyah, merupakan langkah baru yang muncul dikalamgan bangsawan Arab. Sebuah lukisan yang pertama kali ditorehkan oleh Khalifah Walid 1 adalah likisan berbagai gambar binatang. Adapun corak dan warna lukisan masih bersifat Hellenisme murni, tetapi kemudian di modifikasi menurut cara-gara Islam.

5. Reformasi Fiskal
Selama masa pemerintahan Umawiyah hamper semua pemilik tanah baik muslim maupun non muslim, diwajibkan membayar pajak tanah. Sementara itu pajak kepala tidak berlakau bagi penduduk muslim, sehingga banyaknya penduduk yang masuk Islam secara ekonomis merupakan latar belakang berkurangnya penghasilan Negara. Namun demikian dengan berhasilnya Umawiyah dalam melakukan penakhlukan Imperium Sassani (Parsi) beserta wilayah kepunyaannya Imperium Byzantium, sesunggihnya kemakmuran bagi bagi Daulah ini melimpah-limpah yang mengalir ke dalam perbendaharaan Negara. System yang berbeda itu pada giliranya menyebabkan keresahan dan ketidakpuasan dalam lingkungan muslim non Arab. Sehingga menimbulkan gerakan untuk menumbangkan kekuasaan pada Mu’awiyah.



BAB III
PENUTUP

Demikian kekuasaan Islam dalam kepemimpinan Bani Umayyah di Timur (Damaskus). Meskipun berlangsung dalam pembentukan monarchi Arab dengan mengandalkan panglima-panglima Arab yang sesungguhnya berlawanan dengan kebijaksanaan Nabi dan para khalifah sebelumnya. Bagaimanapun ia telah memperkenalkan dan memperkembangkan lembaga istimewa dari pemerintahan Islam.
Hal demikian kemudian di dukung oleh sumbangan para khalifahnya tehadap pembentukan dan pengembangan peradaban Islam, sekalipun belum cukup sebanding dengan kegiatan kebudayaan pemerintahan Islam sesudahnya, Bani Abbasiyah, yamg berhasil mengembangkan kebudayaan terbesar dalam perkenbangan peradaban Islam. Hal ini barangkali karena selama pemerintahan Umawiyyah seringkali dilanda konflik-konflik internal umat Islam yang muncul dari akibat perselisihan politik antar golongan um,at Islam sendiri.



DAFTAR PUSTAKA

Maryam, Siti dkk. Sejarah dan Peradaban Islam. Yogyakarta : Jurusan SPI fakultas adab dan LESFI, 2003.
Syalabi, Ahmad. SejarahKebudayaan Islam. Terj. Muchtar yahya. Jakarta: Pustaka al-husna, 1983.
Al maududi, Abdul a’lah. Khilafah dan Kerajaan. Bandung: Al- mizan, 1984.
Hasan, hasan ibrahim, Sejarah Kebudayaan Islam, Yogyakarta: Kota kembang, 1989.
Nasition, Harun. Islam ditinjau dari berbagai aspeknya, Jakarta: UI Press, 1978.
Hasjmy, A. Sejarah Kebudayaan Islam, Jakarta: Bulan bintang, 1975.

___________++++++++++++++++++++_____________


PERTEMUAN PERTAMA
Oleh : Nur Hidayat

1. Pengertian Sejarah Kebudayaan Islam

Pembuka
Sebelum kita menguraikan apa itu sejarah, terlebih dahulu kita harus mengetahui termasuk bagian mana ilmu sejarah ini dalam kerangka ilmu pengetahuan. Hal ini sangat diperlukan karena akan menentukan metode apa yang harus dipergunakan dalam melakukan penelitian.
Dilihat dari sifat obyek yang akan dipelajari maka ilmu pengetahuan ini dibagi menjadi dua bagian besar:
Pertama : Ilmu Pengetahuan Alam (Natural Science), yaitu mempelajari benda-benda yang mempunyai sifat-sifat umum dan tetap. Untuk mempelajarinya dengan metode abstraksi, yaitu berusaha mencari sifat –sifatnya yang umum dan tetap. Seperti matematika, ilmu hitung dan metode eksperimental. Ketiga ilmu ilmu tersebut telah disumbangkan oleh sarjana Muslim pada abad sembilan.
Kedua : Ilmu Pengetahuan Sosial (Social Science) yaitu ilmu yang mempelajari hal-hal yang menyangkut manusia dan kemanusiaan. Yang dicari adalah gejala-gejalanya yang bersifat umum tetapi berubah-ubah. Dalam Ilmu Pengetahuan Sosial berlaku juga hukum sebab akibat (hukum kausal)
Metode yang baik untuk mempelajari Ilmu Pengetahuan Sosial adalah metode historica (sejarah). Dalam mempelajari Ilmu Pengetahuan Sosial ada bebera hal yang harus diperhatikan, anatara lain :
Pertama,Walaupun dalam Ilmu Pengetahuan Sosial itu berlaku hukum sebab akibat, namun harus diingat bahwa sebab yang sama tidak selalu menimbulkan akibat yang sama. Demikian pula sebaliknya, akibat yang sama belum tentu ditimbulkan oleh sebab yang sama.
Kedua, Harus berhati-hati dalam memahami dan menginterpretasikannya.
Ketiga, Tidak boleh apriori dalam menerima atau menolak sesuatu peristiwa atau persoalan.
Karena sejarah adalah satu ilmu yang mempelajari tentang manusia dan kemanusiaan, maka jelas bahwa ilmu sejarah ini termasuk kedalam Ilmu Pengetahuan Sosial.

a. Sejarah
Secara bahasa banyak terma yang digunakan untuk menunjuk kata sejarah.
- Dalam bahasa Arab ada istilah : tarikh, sirah, qishshah, sajara, syajarah.
- Dalam bahasa Inggris dengan istilah : history, dan story.
- Dalam bahasa Jerman geschichte yang berarti terjadi.
- Dalam bahasa Yunani dengan kata historia atau istoria yang artinya ilmu.
- Dalam bahasa Indonesia dengan kata cerita, legenda, babad dan semisalnya.
Dari beberapa istilah tersebut diatas tidak semua kata cukup representatif untuk menjelaskan pengertian sejarah. Akan tetapi semuanya memiliki arti yang hampir sama yaitu “masa lampau umat manusia”.
Para ahli sejarah Islam lebih banyak memakai kata syajarah sebagai rujukan dalam mendefinisikan sejarah secara bahasa dengan beberapa argumen sebagai berikut :
Pertama : dari sisi pengucapan dalam bahasa Indonesia kata syajarah paling dekat dengan kata sejarah jika dibandingkan dengan kata lain seperti seperti sirah, qishah, apalagi history, story, istoria dan sebagainya.
Kedua : ada makna filosofis tentang syajarah yang berarti pohon. Pohon secara structural muncul dari biji atau tunas kemudian membesar dan semakin besar tetapi suatu ketika pohon itu tumbang. Demikian juga dengan kondisi komunitas baik itu daulat atau umat manusia senantiasa muncul dari suatu yang kecil kemudian membesar dan semakin besar tetapi suatu ketika ia binasa. Begitu juga dalam sejarah peradaban Islam kondisi itu dapat diketemukan pada setiap tahapan perkembangannya. Contoh Nabi Muhammad SAW membawa nilai-nilai luar biasa yang jauh dari diskriminasi. Kondisi ini terus dijaga oleh para khalifah dalam memegang imamah atas umat Islam sehingga masa tersebut lebih terlihat sebagai al-Mamlakah al-Islamiyah. Akan tetapi kondisi semacam itu sirna ketika kekuasaan berpindah ketangan Muawiyah yang lebih mengedepankan dan Umayah yang sangat arab dari pada umat Islam secara keseluruhan sehingga masa tersebut lazim disebut sebagai al-mamlakah al-Arabiyyah. Namun akhirnya daulah Umayah juga runtuh dan digantikan oleh Abbasiyah yang berkuasa selama hampir 5 (lima) abad dan akhirnya runtuh juga.
Ketiga : Pohon juga dapat dianalogikan sebagai kehidupan dunia ini. Contoh konkritnya dalam gunungan dalam pewayangan. Gunungan terdapat komponen-komponen pertama : pohon sebagai simbul kehidupan dunia ini (Syajaratun Hayyun), kedua : binatang , baik ular, kera, dan banteng sebagai simbul nafsu manusia, ketiga : rumah sebagai simbul baitullah. Simbol-simbol tersebut memberikan gambaran bahwa manusia memiliki nafsu yang menyertai didunia ini. Nafsu tersebut harus dikembalikan dan dihadapkan kepada Baitullah dalam bentuk ritual peribadatan kepada Allah SWT.
Secara istilah, ada beberapa pengertian oleh para ahli sebagai berikut :
Ibnu Chaldun memberikan pengertian sejarah sebagai berikut “ Sejarah adalah catatan tentang masyarakat umat manusia atau peradaban dunia, tentang perubahan-perubahan yang terjadi pada watak masyarakat itu, seperti keliaran, keramahan, dan solidaritas golongan, tentang revolusi revolusi dan pemberontakan-pemberontakan oleh segolongan rakyat melawan golongan yang lain dengan akibat timbulnya kerajaan-kerajaan dan Negara-negara dengan tingkat bermacam-macam, serta tentang macam kegiatan dan kedudukan orang untuk mencapai kehidupannya maupun dalam cabang ilmu pengetahuan dan pertukangan, tentang segala perubahan yang terjadi dalam masyarakat karena watak masyarakat itu”.
Menurut R.Moh. Ali memberikan pengertian yang hampir sama. Menurutnya suatu peristiwa dapat dikatakan sejarah jika mencakup tiga hal, pertama, perubahan, kejadian dan peristiwa disekitar kita, kedua, cerita tentang perubahan/peristiwa tersebut. Ketiga ilmu yang menyelidiki perubahan tersebut.
Pemikiran ini senada dengan Sartono Kartodirejo yang membagi sejarah menjadi sejarah objektif dan sejarah subyektif. Sejarah obyektif adalah kejadian atau peristiwa itu sendiri atau proses sejarah dalam aktualitasnya. Sedang sejarah subyektif adalah suatu konstruk yang disusun oleh penulis sejarah sebagai suatu uraian atau cerita. Dengan demikian apa yang kita baca adalah hasil rekonstruksi sejarawan atas peristiwa yang terjadi, ini disebut sejarah serba subyek.
Dari beberapa rumusan yang disajikan diatas walaupun terdapat perbedaan dalam penekanannya, namun semua sepakat bahwa apa yang dinamakan sejarah itu adalah peristiwa masa lampau yang tidak hanya memberi informasi tentang terjadinya peristiwa, tetapi juga memberikan interpretasi atas peristiwa yang terjadi dengan melihat pada hukum sebab akibat. Oleh karena itu mungkin terjadinya interpretasi baru, karena ditemukannya bukti-bukti baru maka haruslah tetap terbuka. Apalagi mempelajari tentang sifat manusia yang perubahannya sangat besar dan kadang-kadang sulit dipahami.

b. Kebudayaan
Secara bahasa, berasal dari kata budaya. Budaya berasal dari bahasa Sansekerta Budhayah. Kata ini berasal dari dua kata yaitu budi dan daya.
Budi artinya : akal, tabiat, watak, akhlak, perangai, kebaikan, daya upaya, kecerdikan untuk pemecahan masalah. Sedangkan daya : berarti kekuatan, tenaga, pengaruh, jalan, cara, muslihat.
Dalam bahasa Arab, kata yang dipakai untuk kebudayaan adalah : al-Hadlarah, as Tsaqafiyah/Tsaaqafah yang artinya juga peradaban. Kata lain yang digunakan untuk menunjuk kata kebudayaan adalah : Culture (Inggris), Kultuur (Jerman), Cultuur(Belanda).
Catatan : Kajian tentang kebudayaan sering disamakan /disandingkan dengan peradaban. Kedua istilah ini memiliki kesamaan dan perbedaan arti.
Secara istilah, banyak pengertian tentang kebudayaan diantaranya : 1. Kebudayaan adalah cara berfikir dan cara merasa yang menyatakan diri dalam keseluruhan segi kehidupan dari segolongan manusia yang membentuk kesatuan sosial dalam suatu ruang dan waktu. 2. Aspek ekspresi simbolik prilaku manusia atau makna bersama yang mempengaruhi kehidupan sehari-hari sehingga menjadi konsesus dan karenanya mengabaikan konflik. 3. Kondisi kehidupan biasa yang melebihi dari yang diperlukan.(Ibnu Chaldun) 4. Bentuk ungkapan tentang semangat mendalam suatu masyarakat, struktur intuitif yang mengandung nilai-nilai rahaniah tinggi yang menggerakkan masyarakat atau hasanah historis yang terefleksikan dalam nilai yang menggariskan bagi kehidupan suatu tujuan ideal dan makna rahaniyah yang jauh dari kontradiksi ruang dan waktu.
Istilah yang hampir sama dengan kebudayaan adalah peradaban. Secara bahasa, peradaban berasal dari kata Arab adab yang berarti etika, sopan santun, terdidik. Disamping itu juga berasal dari kata Civilization yang berakar dari civic yang berhubungan dengan hak dan kewajiban warga Negara. Oleh karena itu Civilisasi menjadikan seseorang warga negara hidup lebih baik, tetatur, tertib, sopan dan maju. Ciri-ciri masyarakat semacam ini adalah masyarakat yang beradab, beretika dan berakhlak (mulia). Arti yang sepadan dengan peradaban dalam bahasa Arab adalah ; Madaniyah (kota) dan Tsaqafiyah (kehalusan budi pekerti).
Secara istilah, Peradaban adalah hasanah pengetahuan terapan yang dimaksudkan untuk mengangkat dan meninggikan manusia dari peringatan penyerahan diri terhadap kondisi alam sekitar. Peradaban merupakan ikhtisar perkembangan yang diraih tenaga intelektual manusia, dan sejauh mana kemampuan itu dalam mengendalikan tabiat sesuatu. Peradaban meliputi semua pengalaman praktis yang diwarisi dari satu generasi kegenerasi. Peradaban juga berarti gejala yang dibuat dan bersifat material, apa yang kita pergunakan sehingga ia dapat disebut sebagai pranata-pranata sosial.
Perbedaan istilah antara kebudayaan (culture) dengan peradaban (civilization) jalan yang terbaik menurut Nourouzzaman Shiddiqie ialah mengambil pilihan yang tepat guna memudahkan kita memahami kebudayaan selanjutnya. Jika kita memahami pendapat Wensink yaitu culture = kebudayaan dan civilization = peradaban. Maka kebudayaan adalah satu sikap batin, sifat dari jiwa manusia, yaitu usaha untuk mempertahankan hakikat dan kebebasannya sebagai makhluk yang membuat hidup ini lebih indah dan mulia. Sedangkan peradaban ialah suatu aktifitas lahir walaupun keduanya sangat erat hubungannya namun pengertiannya tetap berbeda. Seorang yang beradab belum tentu berbudaya. Kemajuan dalam bidang materi tidak mesti bersesuaian dengan perkembangan akal. Sebaliknya manusia yang berbudaya belum tentu sungguh-sungguh berperadaban. Sebagai contoh , Austria tinggi dalam kebudayaan namun tidak dalam peradaban, sedangkan Amirika tinggi dalam peradaban namun tidak dalam kebudayaan.

c. Kebudayaan Islam
Sebagai budaya yang muncul di tanah Arab, maka muncul pertanyaan : Kebudayaan Islam atau Kebudayaan Arab? Dari hal seperti ini muncul dua pendapat. Pendapat Pertama, mengatakan bahwa kebudayaan ini lebih tepat disebut sebagai kebudayaan Arab karena kebudayaan ini lahir ditanah Arab sehingga disebut juga kebudayaan padang pasir. Dalam perkembangannya masyarakat Arab dengan bahasa Arabnya memiliki peran sangat strategis dalam penyebarannya. Disamping itu, terdapat sifat-sifat rahaniah khusus yang biasa didapatkan pada bangsa Arab.
Abdul Muin Majid menyimpulkan, bahwa tidak mudah mengetahui dasar-dasar kebudayaan Islam, karena kebudayaan tersebut seperti halnya kebudayaan yang lain tidak muncul begitu saja. Tetapi ada proses pendahulunya yaitu munculnya kebudayaan-kebudayaan lain yang mendahuluinya. Kebudayaan Islam merupakan perpaduan antara kebudayaan lama dan baru. Antara kebudayaan kadang saling menopang, menutupi bahkan mengubah. Jadi secara sederhana dapat dikatakan bahawa dasar kebudayan Islam adalah orang Arab kemudian kawasan lain yang ditaklukkan oleh orang islam.
Hal ini sesuai dengan pendapat Ibnu Chaldun, bahwa “ Bangsa Arab tidaklah mampu mendirikan suatu kerajaan melainkan atas dasar agama, seperti wahyu seorang Nabi, atau ajaran seorang waliyullah”.
Pendapat kedua, lebih memakai sebagai kebudayaan Islam. Karena meskipun kebudayaan ini lahir di Arab, akan tetapi dalam perkembangannya Islam adalah agama yang dominon dalam kebudayaan ini dan syariah Islam adalah pengikat satu-satunya bagi bangsa-bangsa di dunia Islam, baik di Asia, Afrika, maupun Eropa. Dengan demikian penyebutan kebudayaan ini sebagai kebudayaan Islam diatas landasan bahwa Islamlah yang menaungi kebudayaan ini dan membekalinya dengan visi historisnya dari kulturalnya, dan memberi bentuk intuitifnya secara khusus.
Jadi kebudayaan Islam adalah hasil cipta, karsa dan rasa bersama dari orang-orang yang berada diwilayah kekuasaan pemerintahan islam tanpa peduli asal bangsa, agama dan sebagainya. Pendapat lain yaitu setiap produk kecerdasan yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip ajaran Islam. Jadi produk-produk dari non muslim yang berada dan bekerja diwilayah kekuasaan non muslim juga dinamakan kebudayaan Islam. Ada pendapat lain, bahawa kebudayaan Islam adalah kebudayaan yang mencerminkan perintah agama Islam, seperti perintah menutup aurat, khususnya bagi wanita adalah khas kebudayaan Islam. Dalam hal ini ada pertanyaan, 1. Apakah wahyu Tuhan termasuk kategiri kebudayaan, 2. apakah mode pakaiaan muslimah diseluruh dunia Islam itu sama? Jelas tidak dan mode pakaian itu lebih cenderung dimasukkan dalam kategiri peradaban daripada kebudayaan.

2. Tujuan dan Manfaat Mempelajari Sejarah Kebudayaan Islam
Tujuan dan manfaat belajar yang dimaksudkan adalah mempelajari sejarah.
Manfaat mempelajari sejarah dapat dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu intrinsic dan ektrinsik. Secara instrinsik sejarah memiliki empat manfaat, yaitu 1. Sejarah sebagai ilmu, 2. Sejarah sebagai cara mengetahui masa lampau, 3. Sejarah sebagai pernyataan sikap, 4. Sejarah sebagai profesi. Sedang secara ekstrisik, sejarah memilki beberapa manfaat, yaitu: 1. Sejarah sebagai latar belakang, 2. Sebagai rujukan, 3. Bukti, 4. Pendidikan. Manfaat sejarah dalam pendidikan dapat diketemukan dalam pendidikan moral, penalaran, politik, kebijakan, perubahan, masa depan, keindahan dan ilmu bantu.
Sebagai ilmu Bantu, sejarah dapat digunakan untuk menjelaskan studi-studi keislaman, seperti ilmu tafsir, ilmu hadis dan sebagainya. Sebagai contoh dalam periwayatan hadis dikenal istilah Asbabul wurud.
Manfaat lain dari sejarah adalah dapat dijadikan sebagai `ibrah (pelajaran) . Banyak peristiwa masa lampau yang dapat diambil pelajaran secara positif. Hal ini berbeda dengan pemahaman aliran “Berhala Sejarah” yang menganggap segala peristiwa masa lampau harus diikuti baik positif maupun negative.

3. Sumber Sejarah Islam
Sumber-sumber yang dapat dijadikan alat bukti tentang terjadinya peristiwa sejarah ialah : peninggalan-peninggalan baik yang berbentuk relief-relief, monumen-monumen , manuskrip-manuskrip atau bukti lain yang otentik. Jadi semua peristiwa baru dapat dikatakan sebagai peristiwa sejarah jika dia didukung oleh bukti-bukti sejarah. Cerita, legenda, mitos dan lain-lain yang tidak didukung oleh bukti-bukti sejarah tidaklah bisa dipergunakan sebagai sumber sejarah.

4. Ciri-ciri dan Struktur Kebudayaan Islam
Ciri-ciri kebudayaan Islam antara lain ; 1. Bernafaskan tauhid, karena tauhidlah yang menjadi prinsip pokok ajaran Islam, 2. Hasil buah pikiran dan pengolahannya dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan dan membahagiaan ummat. Sebab Nabi Muhammad diutus sebagai rahmatan lilalamin.
Kedua ciri kebudayaan Islam diatas merupakan formulasi dari dua kata dalam al-Qur`an yang senantiasa muncul secara berurutan, Amanuu dan `amilushalihaat .
Kebudayaan Islam mencerminkan adanya perpaduan antara moral yang merupakan pokok ajaran Islam dengan dorongan pemakaian akal. Aspek pertama ditunjukkan oleh al-Qur`an melalui formulasi perlunya mengedepankan aspek moral dalam beraktifitas, seperti ayat: ya ayyuhalladziina amanuu anfiquu mimma razaqnaakum. Untuk yang terakhir dalam al-qur`an seperti : afalaa ya`qiluun, afalaa tatadabbaruun dan sebagainya.
Struktur semacam ini merupakan perpaduan antara dua arus besar kebudayaan yang pernah muncul sebelum kehadiran Islam. Dua arus tersebut adalah Mesir dan Yunani. Mesir merupakan pusat gerakan moral dalam agama-agama samawi, sedangkan Yunani merupakan pusat pengkajian logic filosifis.

5. Periodisasi Perkembangan Kebudayaan Islam
Periodisasi sejarah Peradaban Islam dimulai dari pertanyaan tentang kapan awal sejarah Islam ?. Ada dua cara pandang yang berbeda. Pertama, Sejarah Islam dimulai sejak proses penciptaan alam. Kedua, sejarah Islam dimulai sejak diutusnya Nabi Muhammad SAW. Bagi pendapat pertama, sejarah Islam tidak dimulai sejak diutusnya Nabi Muhammad SAW, ada dua alasan, pertama, kata Islam tidak hanya dipergunakan sejak Nabi Muhammad sebagai rasul, tetapi sudah ada sejak proses penciptaan alam itu. Kedua, jika sejarah Islam dimulai masa Muhammad, berarti ada missing link antara Adam sampai Isa.
Sementara bagi pendapat kedua, sejarah Islam dimulai sejak awal kenabian Muhammad yang dimulai dari masa pra diutusnya Muhammad dengan terma Pra Islam/masa Jahiliyyah.
Periodisasi Sejarah Kebudayaan Islam menurut A.Hasymi membaginya menjadi 9 periode.Periode tersebut adalah sebagai berikut:
1. Masa Permulaan Islam (dari lahirnya Islam 17 Ramadhan 12 sebelum hijrah sampai tahun 41 H/6 Agustus 610 sampai 661 M).
2. Masa Umayah ( 41-132 H/661- 750 M)
3. Masa Abbasiyah I ( 132- 232 H/750 – 847 M)
4. Abbasiyah II (232 – 334H/ 847 – 946 M)
5. Abbasiyah III ( 334 – 467 H/ 946 – 1075 M)
6. Abbasiyah IV (467 – 656 H/1075-1261 M)
7. Mugholiyah (656 – 927 H/ 1261- 1520 M)
8. Usmaniyah (927 – 1213 H/ 1520 – 1801 M)
9. Kebangkitan Baru (1213 H/ 1801 M) sampai awal abad XX
Sebagian ahli sejarah membagi periodesasi Sejarah Kebudayaan Islam menjadi :
1. Periode Klasik (650 – 1250) yang meliputi :
a. Masa Kemajuan Islam I (650 – 1000)
b. Masa Disintegrasi (1000 – 1250)
2. Periode Pertengahan ( 1250 – 1800) yang meliputi :
a. Masa Kemunduran I ( 1250- 1500)
b. Masa Tiga Kerajaan Besar (1500-1800) terbagi :
1) Fase Kemajuan (1500-1700)/Masa Kemajuan II
2) Fase Kemunduran (1700-1800)/Fase Kemunduran II
3. Periode Modern (1800 M) /Masa Kebangkitan Islam
. Periodisasi ini menjadi ciri babakan sejarah berdasarkan bentuk negara atau system politik. Jika di break down akan nampak sebagai berikut.
Periode Klasik (650-1258) terbagi menjadi masa Kemajuan Islam I (650-1000) dan Masa Disintegrasi (1000-1250). Masa Kemajuan Islam I merupakan masa perluasan, integrasi dan keemasan Islam, dimulai sejak kelahiran Nabi Muhammad SAW sampai dihanguskannya Baghdad oleh Hulagu Khan. Sehingga masa ini meliputi; masa Nabi Muhammad Saw, Masa Khulafaurrasyidin, Masa Dinasti Umayyah Timur atau Umayah Damaskus, dan masa Dinasti Abbasiyah. Sedangkan masa disintegrasi yang dimaksudkan sebagai masa terjadinya pemisahan beberapa wilayah Abbasiyah dan tidak kuasanya para sultan dibawah tekanan para tentara pengawal.
Periode Pertengahan (1258-1800), yaitu masa jatuhnya abbasiyah Baghdad sampai penghujung abad tujuhbelas. Periode ini meliputi Masa Kemunduran I (1250- 1500), yaitu masa Jengis Khan menghancurkan beberapa dinasti Islam kemudian mencapai puncaknya dengan dihancurkannya Baghdad oleh cucunya Hulagu Khan. Masa ini disentralisasi dan disintegrasi dunia Islam meningkat sehingga menghilangkan system khilafah secara formal. Setelah berlangsung hampir dua setengah abad, dunia Islam menemukan kemajuannya dengan munculnya beberapa dinasti yang memberi harapan bagi kemajuan Islam. Masa ini disebut sebagai masa Tiga Kerajaan Besar (1500-1800), yaitu Usmaniyah diTurki, Syafawiyah di Persia dan Mughal di India. Masa ini mengalami dua fase, yaitu Fase Kemajuan (1500-1700) disebut masa Kemajuan II, dan fase Kemunduran (1700-1800) disebut masa Kemunduran II.
Fase Kemajuan yang diraih selama dua abad yaitu munculnya sultan-sultan yang mampu mengangkat harkat dan martabat dinasti. Tapi masa itupun juga mengalami kemunduran karena beberapa hal, 1. Tidak kredibelnya para sultan, 2. Serangan dari dinasti Islam lain, 3. Serangan agama lain seperti Hindu terhadap Mughal di India, dan 4. Serangan dari bangsa lain.
Periode Modern (1800 M) disebut sebagai masa Kebangkitan Islam. Masa tersebut sebagai akibat dari terbukanya mata dunia Islam atas kemunduran dan ketertinggalan Islam dari Dunia Barat. Para penguasa muslim mencari cara untuk memunculkan balance of power dalam rangka mengangkat harga diri umat yang hilang. Maka dari itu muncullah gerakan melawan penjajahan dan pemikiran-pemikiran untuk kemajuan Umat Islam.

























PERTEMUAN KEDUA
OLEH : NUR HIDAYAT
BANGSA ARAB SEBELUM ISLAM

1. Masa sebelum lahir Islam disebut zaman jahiliyah. Zaman ini terbagi menjadi dua periode, yaitu jahiliyah pertama dan jahiliyah kedua. Jahiliyah pertama meliputi masa yang sangat panjang, tetapi tidak banyak yang bisa diketahui hal ihwalnya dan sudah lenyap sebagian besar masyarakat penduduknya. Adapun jahiliyah kedua sejarahnya bisa diketahui agak jelas. Zaman jahiliyah kedua ini berlangsung kira-kira 150 tahun sebelum Islam lahir.
2. Kata jahiliyah berasal dari kata jahl tetapi yang dimaksud disini bukan jahl lawan dari `ilm, melainkan lawan dari hilm(akal,moral). Bangsa Arab sebelum Islam sudah mengenal dasar-dasar beberapa cabang ilmu pengetahuan, bahkan dalam hal seni sastra mereka telah mencapai tingkat kemajuan yang pesat. Akan tetapi karena kemerosotan moral melanda mereka, maka label jahiliyah diberikan kepada mereka. Syair-syair Arab jahili amat kaya dengan informasi yang berkaitan dengan kebudayaan mereka itu. Tentu saja al-Qur`an merupakan sumber yang paling bisa dipercaya mengenai moral bangsa Arab menjelang dan pada saat da`wah Islam dimulai.
3. Bangsa Arab adalah penduduk asli jazirah Arab, semenanjung yang terletak dibagian barat daya Asia ini. Sebagian besar permukaannya terdiri dari padang pasir. Secara umum iklim dijazirah Arab amat panas, bahkan termasuk yang paling panas dan paling kering dimuka bumi. Para ahli geologi memperkirakan, daratan Arab dahulu merupakan sambungan padang pasir yang terbentang luas dari Sahara di Afrika sampai gurun Gobi di Asia Tengah. Tidak terdapat satu sungaipun di jazirah ini, kecuali dibagian selatan, yang selalu berair dan mengalir sampai kelaut, selain telaga-telaga yang hanya berair selama turun hujan. Padahal hujan hampir tidak pernah turun dikawasan padang pasir yang luas ini.
4. Bangsa Arab termasuk rumpun bangsa Smit, yaitu keturunan Sam ibn Nuh, serumpun dengan bangsa Babilonia, kaldea, Asyuria, Ibrani, Phunisia, Aram dan Habsyi. Bangsa Arablah rumpun Semit yang sampai sekarang masih bertahan, sedangkan sebagian besar yang lain sudah lenyap dan tidak dikenal lagi.
5. Dari segi pemukimannya, bangsa Arab dapat dibedakan atas ahl-al-badwi dan ahl-al-hadlar. Kaum Badwi adalah penduduk padang pasir. Mereks tidak memiliki tempat tinggal tetap, tetapi hidup secara nomaden, yaitu berpindah-pindah dari satu tempat ketempat lain untuk mencari sumber mata air dan padang rumput. Mata pencaharian mereka adalah beternak kambing, biri-biri, kuda dan unta. Kehidupan masyarakat Badwi yang nomaden tidak banyak memberi peluang kepada mereka untuk membangun kebudayaan. Karenanya sejarah mereka tidak diketahui dengan tepat dan jelas. Ahl-al-hadlar ialah penduduk yang sudah bertempat tinggal tetap dikota-kota atau daerah-daerah pemukiman yang subur. Mereka hidup dari berdagang, bercocok tanam, dan industri. Berbeda dengan masyarakat Badwi, mereka memilki peluang yang besar untuk membangun kebudayaan, sebagaimana yang dilakukan oleh penduduk Yaman di selatan dan penduduk kota-kota lain dibagian utara semenajung ini. Oleh karena itu, sejarah mereka bisa diketahui lebih jelas dibanding dengan kaum Badwi.
6. Dalam struktur masyarakat Arab terdapat kabilah sebagai intinya. Ia adalah organisasi keluarga besar yang biasanya hubungan antara anggota-anggotanya terikat oleh pertalian darah (nasab). Akan tetapi, adakalanya hubungan seseorang dengan kabilahnya disebabkan oleh ikatan perkawinan, suaka politik atau karena sumpah setia. Kabilah dalam masyarakat Badwi, disamping merupakan ikatan keluarga juga merupakan ikatan politik. Sebuah kabilah dipimpin oleh seorang kepala yang disebut syaikh al-qabilah , yang biasanya dipilih dari salah seorang anggota yang usianya paling tua. Solidaritas kesukuan atau ashabiyah qabaliyah dalam kehidupan masyarakat Arab sebelum Islam terkenal amat kuat. Hal ini diwujudkan dalam bentuk proteksi kabilah atas seluruh anggota kabilahnya. Kesalahan seorang anggota kabilah terhadap kabilah lain menjadi tanggungjawab kabilahnya, sehingga ancaman terhadap salah seorang anggota kabilah berarti ancaman terhadap kabilah yang brsangkutan. Oleh karena itu, perselisihan perorangan hampir selalu menimbulkan konflik antar kabilah yang berakibat melahirkan peperangan yang berlangsung lama. Dalam masyarakat yang suka berperang nilai wanita menjadi rendah. Selain itu, akibat perang yang terus menerus kebudayaan mereka tidak berkembang.
7. Agama pra-Islam, sebagian besar bangsa Arab jahiliyah adalah penyembah berhala. Setiap kabilah memiliki patung sendiri, sehingga tidak kurang dari 360 patung bertengger di Ka`bah yang suci itu. Ada empat patung yang terkenal, yaitu Lata, uzza, Manah dan Hubal milik kabilah Quraisy. Sebenarnya mereka percaya pada Allah sebagai Pencipta, Pengatur dan Penguasa Alam semesta, sekalipun mereka ingkar tentang hidup sesudah mati. Mereka menyembah patung dengan maksud mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kepercayaan kepada Allah itu merupakan sisa ajaran tauhid yang dibawa oleh Ibrahim as.
8. Selain penyembah berhala, ada beberapa kabilah yang tergolong shabiah atau penyembah binatang. Penyembah binatang dan penyembah jin, disamping mereka yang percaya bahwa malaikat adalah anak-anak perempuan Tuhan. Dikalangan penduduk Hirah dan Ghassasinah tersebar agama Nasrani melalui Bizantium, demikian pula di Najran agama ini masuk melalui Habsyi.
9. Pusat-pusat agama Yahudi terdapat di Taima, Wadi al-Qura, Fadk, Khaibar dan yang terpenting adalah Yatsrib. Dalam pada itu, dibagian timur Jazirah Arab yang berbatasan dengan Persia tersebar agama Majusi. Semua agama dan kepercayaan itu terdesak oleh Islam ketika ajaran Tauhid ini memancarkan sinarnya dari jantung jazirah Arab pada abad ke – 7 Masehi.
10. Ekonomi, bangsa Arab Jahiliyah memiliki beberapa pasar tempat mereka berkumpul untuk melakukan transaksi jual beli dan membacakan syair. Pasar-pasar itu terletak di dekat Makah yang terpenting diantaranya ialah Ukaz, Majinnah dan Dzul Majaz. Kabilah Quraisy terkenal sebagai pedagang yang menguasai jalur niaga Yaman-Hijaz-Syiria. Mereka juga mendominasi perdagangan lokal dengan memanfaatkan kehadiran para penziarah ka`bah, terutama pada musim haji.
11. Seni Budaya, sastra mempunyai arti penting dalam kehidupan bangsa Arab. Mereka mengabadikan peristiwa-peristiwa dalam syair yang diperlombakan setiap tahun di pasar seni Ukaz, Majinnah, dan Dzul Majaz. Bagi yang memiliki syair bagus, ia akan diberi hadiah, dan mendapatkan kehormatan bagi suku dan kabilahnya serta syairnya digantung di Ka`bah. Tujuh syair terbaik (al-muallaq al-sab`ah) kemudian ditulis dengan tinta emas dan digantungkan di Ka`bah dekat patung pujaan mereka. Menurut catatan sejarah, bangsa Arab adalah bangsa yang mempunyai kemampuan menghafal yang sangat tinggi, khususnya hafalan terhadap syair-syair.
12. Sistem Politik, sudah sejak lama sebelum Islam Ka`bah selalu dikunjungi oleh bangsa Arab dari seluruh penjuru jazirah untuk melaksanakan ibadah haji. Oleh karena itu, di Mekah berdirilah pemerintahan untuk melindungi jamaah haji dan menjamin keamanan serta keselamatan mereka. Ditetapkan pula kesepakatan larangan berperang di kota itu, disamping larangan berperang selama bulan-bulan tertentu.
13. Beberapa kabilah yang pernah mengusai Mekah antara lain, Amaliqah, Jurhum, Khuza`ah dan yang terahir adaalah Quraisy. Quraisy dibawah pimpinan Qushai merebut kekuasaan dari tangan Khuza`ah pada sekitar tahun 400 M. Qushai mendirikan dar al-nadwah untuk tempat bermusyawarah bagi penduduk Mekah. Selain itu, ia juga mengatur urusan-urusan yang berkaitan dengan Ka`bah dengan membentuk al-siqayah, al-rifadah, al-liwa dan al-hijabah. Keempat badan ini secara turun temurun dipegang oleh anak cucu Qushai sampai kepada Abd.al-Muthalib, kakek Rasulullah SAW.
Masa Pemerintahan Khulafa al-Rasyidin:
1. Pengangkatan Kepala Negara/Khalifah
2. Nepotisme yang dibolehkan
3. Lobi politik (tahkim)
4. Pengangkatan Putra Mahkota
5. Kebijakan Pemerintahan dinasti Umayyah

Kebijakan Pemerintahan Khulafa al Rasyidin
• memerangi Kaum Riddah
• Pengolahan Kas Negara
• Penataan Birokarasi Pemerintahan
• Pemberlakuan ijtihad
• Perluasan wilayah ekspansi
• Sistem nepotisme

Organisasi Negara Islam
• An Nidham as Siyasyi (organisasi Politik)
a) Al-Khilafat (memilih khalifah)
b) Al-Wizariat (menteri pembantu khalifah)
c) Al-Kitabah (sekretaris negara)
• An-Nidham al- Idary (diwan,Gubernur, pos, dan kepolisian)
• An-Nidham al-Maly (keuangan Negara) Baitul Mal.

Pemberlakuan Ijtihad
• Tidak melaksanakan potong tangan terhadap pencuri yang terpaksa karena kelaparan
• Menghapuskan zakat bagi muallaf
• Menghapuskan hukum mut`ah (kwn sementara)

Perluasan wilayah (ekspansi)
• Ajaran Islam mencakup kehidupan dunia akhirat
• Keyakinan bagi sahabat tentang kewajiban menyampaikan ajaran Islam keseluruh daerah
• Kekaisyaran Persia dan Bizantium dalam keadaan lemah
• Islam tidak memaksa rakyat untuk mengubah agamanya
• Rakyat tidak senang tertindas oleh penguasa Persia dan Bizantium Timur

Sistem Nepotisme
• Pada pertengahan akhir pemerintahan Ustman
• Banyak pejabat negara gubernur dari keluarga Ustman
• Seperti Marwan bin Hakam menjadi Segneg. Mengangkat Abdullah bin Saad jadi Guberbur di Mesir dsb.
• Ini mengakhiri pemerintahan demokrasi menjadi monarchi heriditis (kerajaan turun temurun)




MASA PEMERINTAHAN BANI UMAYYAH
• Sifat pemerintahan adalah Monarchi heridetis (kerajaan turun temurun)
• Sifat itu dipengaruhi oleh kerajaan di Persia dan Bizantium
• Agenda yang dikembangkan pada masa Umayyah :
1. Ekspansi perluasan wilayah diperluas sampai india, dan spanyol,Afrika Utara,syiria, Palestina,Jazirah Arabia, Irak, Persia, afganiftan dan Pakistan.
2. Pembangunan diberbagai bidang, antara lain, Jawatan Pos, Menertibkan angkatan Perang, mencetak mata uang sendiri.
3. Pada masa Abdul Malik mata uang Bizantium diubah dengan tulisan arab pada tahun 659 M. Dan memberlakukan bahasa Arab sebagai bahasa Resmi pemerintahan islam.

Masa al-Walid bin Abdul Malik (705-715 M)
• Melanjutkan pembangunan seperti panti untuk orang cacat dengan melibatkan personil yang digaji oleh negara secara tetap. Membangun jalan raya yang menghubungkan suatu daerah kedaerah lain,dan masjid.
• Kaum Mawali yaitu umat Islam bukan Arab, berasal dari Persia, Armenia yang pada masa Bani umayyah dianggap sebagai warga negara kelas dua
• Hubungan pemerintahan dengan golongan oposisi dapat berjalan dengan baik ketika masa pemerintahan Khalifah Umar Ibn Abdul al-Aziz (717-720 M)

Masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz
• Dia memperbaiki dan meningkatkan dalam negeri yang lebih baik daripada menambah wilayah kekuasaan.
• Dia menjalin hubungan baik dengan kaum syi`ah, dan memberi kebebasan penganut agama lain untuk beribadah sesuai dengan keyakinan dan kepercayaan
• Pajak diperingan
• Kedudukan mawali disejajarkan dengan muslim arab.

Masa Khalifah Yazid bin Abdul Malik (720-724)
• Masa kemewahan & kekacauan serta kurang memperhatikan kehidupan rakyat
• Masa kemunduran sampai masa akhir pemerintahannya karena faktor dari dalam dan dari luar

Faktor-faktor yang menyebabkan Dinasti Bani Umayyah runtuh
• Sistem pergantian khalifah melalui turun menurun yang tidak jelas.
• Konflik politik yang terjadi pada masa Ali, syi`ah, dan khawarij terus menjadi gerakan oposisi, secara diam-diam dan terbuka
• Permasalahan etnis antar suku Arabia Utara (Bani Qais) dan Arabia Selatan (Bani Kalb) makin meruncing
• Permasalahan golongan Mawali (non Arab) merasa tidak puas karena dinomer duakan.
• Sikap hidup mewah dilingkungan istana termasuk anak-anaknya tidak bisa memikul beban meneruskan kekuasaan
• Munculnya kekuatan baru yang dipelopori oleh keturunan Al-Abbas ibn Muthalib dan mendapat dukungan dari dari Bani Hasyim, Syi`ah, dan kaum Mawali yang kurang diperhatikan.





____________________))))))))))))))______________________

ا لسلا م عليكم ورحمةالله وبر
كا ته
Presented By :
Masda Tanjung
Khamroatul Fatimah
Eka Nurul Putriani
Nur Tafsin
Moh. Fahmi Kapita


ZAMAN
BANI ABBASIYAH 1
( 750-847 M)
Latar Belakang
Adanya pembangkangan yang dilakukan oleh Dinasti Ummayah di Andalusia.
Pada abad ke-7 terjadi pemberontakan diseluruh negeri dan puncak pemberontakan yakni perang antara pasukan Abdul Abbas VS pasukan Marwan ibn Muhammad (Bani Ummayah).
Jatuhnya negeri Syiria.
Adanya Revolusi
Adanya tempat kegiatan kelompok Bani Abbas yaitu Humaimah, Kufah, dan Khurasan


Sistem Politik
Para khalifah tetap dari keturunan Arab, sedangkan menteri, panglima, gubernur, dan pegawai Lain dari keturunan Persia dan Mawali.
Baghdad sebagai ibukota negara, pusat kegiatan poleksosbud.
IPTEK dipandang penting dan sangat mulia.
Kebebasan berfikir sebagai HAM diakui sepenuhnya.
Para menteri turunan Persia diberi kekuasaan penuh untuk menjalankan tugas dalam pemerintahan.
(Hasjmy, 1993:213-214)
Strategi dalam mengamankan dan mempertahankan dari gangguan/pemberontakan
Tindakan keras terhadap Bani Ummayah.
Pengutamaan orang-orang Persi.
Periodesasi Zaman Abbasiyah
Periode Pertama (132 H/750M-232H/847M) disebut periode pengaruh Persia Pertama.
Periode Kedua (232 H/847M-334H/945M) disebut pengaruh Turki pertama.
Periode Ketiga (334 H/945M-447H/1055M), masa kekuasaan dinasti Buwaih atau disebut juga masa pengaruh Persia kedua.
Periode Keempat (447 H/1055M-590H/1194M) disebut masa pengaruh Turki kedua.
Periode Kelima (590 H/194M-656H/1258M)

Khalifah periode pertama
Abul Abbas as-Saffah (750-754M)
Abu Ja’far al-Mansyur (754-775M)
Abu Abdullah M. Al-Mahdi bin Al Mansyur(775-785M)
Abu Musa Al-Hadi (785-786M)
Abu Ja’far Harun Ar-Rasyid (786-809)
Abu Musa Muh. Al Amin (809-813)
Abu Ja’far Abdullah Al-Ma’mun (813-833M)
Abu Ishak M. Al Mu’tashim (833-842M)
Abu Ja’far Harun Al-Watsiq (842-847M)
Abul Fadhl Ja’far Al Mutawakkil (847-861M)

Sejarah Singkat Periode Pertama
Bani Abbasiyah mencapai masa keemasan.
Secara politis, para khalifah betul-betul tokoh yang kuat dan merupakan pusat kekuasaan politik dan agama sekaligus.
Kemakmuran masyarakat mencapai tingkat tertinggi.
Berhasil menyiapkan landasan bagi perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan dalam Islam.

Abu Ja’far al-Mansyur (754-775M)
Memindahkan ibukota negara ke kota yang baru dibangunnya, yakni Baghdad tahun 762 M
Melakukan konsolidasi dan penertiban pemerintahan.
Membentuk lembaga protokol negara, sekretaris dan kepolisian negara serta membenahi angkatan bersenjata.
Menunjuk Muhammad ibn Abd al-Rahman sebagai hakim dan lembaga kehakiman negara.
Meningkatkan Jawatan Pos yang sudah ada pada zaman Ummayah.
Menaklukan daerah-daerah yang sebelumnya telah melepaskan diri.
Berdamai dengan kaisar konstantine V
Mengubah pengertian khalifah.

Harun al-Rasyid
Mencapai puncak kejayaan.
Membangun Rumah sakit, lembaga pendidikan dokter, farmasi.
Membangun pemandian-pemandian umum.
Meningkatkan kesejahteraan, sosial, kesehatan, pendidikan, ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan kesusastraan.
Menempatkan negara Islam sebagai negara terkuat dan tak tertandingi.
Abu Ja’far Abdullah Al-Ma’mun (813-833M)

Terkenal sebagai Khalifah yang cinta kepada ilmu Filsafat.
Menggalakkan penerjemahan buku-buku asing.
Mendirikan sekolah, salah satu karya terbesarnya adalah pembangunan Baitul Hikmah, pusat penerjemahan yang berfungsi sebagai perguruan tinggi dengan perpustakaan yang besar
Baghdad mulai menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan.
Abu Ishak M. Al Mu’tashim
(833-842M)
Memberi peluang kepada orang Turki untuk masuk kedalam pemerintahan yang dimulai sebagai tentara pengawal.
Mengadakan perubahan sistem ketentaraan.
Praktek-praktek orang Muslim mengikuti perang sudah terhenti.
Hal-hal yang Mempengaruhi kemajuan intelektual
Terjadi asimilasi antara bangsa Arab dan bangsa-bangsa lain yang lebih dahulu mengalami perkembangan dalam ilmu pengetahuan.
Adanya gerakan terjemah:
Bid. Filsafat: al-Kindi, al-Farabi, Ibnu Bajah, Ibnu Tufail, Ibnu Sina, al-Ghazali, Ibnu Rusyid
Bid. Kedokteran: Jabir Ibnu Hayan, Hunain bin Ishaq, Tabib bin Qurra, A-Razi
Bid. Matematika: Umar al-Farukhan, al-Khawarizmi
Bid. Astronomi: al-Fazari, al-Battani, Abul Watak, al-Farghoni, dsb.

Ilmu Filsafat
Al-Kindi (809-873M) buku karangannya 236 judul.
Ibnu Sina, karangan yang terkenal : Shafa, Najat, Qoman, Saddiya, dll
Al-Ghazali, dikenal sebagai Hujjatul Islam. karangannya: al-Munqizh Minadl-Dlalal, Tahafutul Falasifah, Mizanul Amal, Ihya Ulumuddin,dll
Ibnu Rusd, karangannya: Kulliyaat, Tafsir Urjuza, Kasful Afillah,dll
Bidang Kedokteran
Jabir bin Hayyan, dikenal sebagai bapak Kimia.
Hurain bin Ishaq, ahli mata yang terkenal disamping sebagai penterjemah bahas asing.
Ar-Razi atau Razes, karangan yang terkenal mengenai cacar dan campak yang diterjemahkan kedalam bahasa Latin.
Bidang Matematika
Umar al-Farukhan : Insinyur Arsitek Pembangunan Kota Baghdad.
Al-Khawarizmi : Pengarang kitab Al-Gebra (Al Jabar), penemu angka nol (0).

Bidang Astronomi
Al-Farazi : Pencipta Astro Lobe
Al Gattani/ Al-Betagnius
Abu Wafat: menemukan jalan ketiga dari bulan
Al-Farghoni atau al-Al-Fragenius.
Bidang Seni
Seni Ukir : Badr dan Tariff
Seni Musik
Seni Tari
Seni Pahat
Seni Sulam
Seni Lukis
Seni Bangunan
Ilmu Naqli
Ilmu Tafsir: Ibnu Jarir ath TabariIbnu Athiyah al Andalusy
Ilmu Hadist : Imam Bukhari, Imam Muslim, Inmu Majah, Abu Daud, At Tarmidzi, dll
Ilmu Kalam : kaum Mu’tazilah yakni Wasil Bin Atha’, Adh Dhaam, Hujjatul Islam Imam Ghazali.
Ilmu Tasawuf : al-Qusyairy (ar Risalatul Qusyairiyah), Imam Ghazali (al-Bashut, al-Wajiz)
Para Imam Fuqaha : Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad bin Hambal.
Perkembangan Peradaban Bidang Fisik
Kuttab, yakni tempat belajar pendidikan rendah dan menengah.
Majlis Muhadharah tempat pertemuan para ulama, sarjana, ahli pikir, dan pujangga untuk membahas masalah ilmiah.
Darul Hikmahperpustakaan yang didirikan Harun al-Rasyid.
Madrasah, Perdana Menteri Nidhomul Mulk adalah orang yang mula-mula mendirikan sekolah.
Masjid dipakai untuk pendidikan tinggi dan tahassus.
Keberhasilan Bidang Ekonomi
Membela dan menghormati kaum tani, meringankan pajak.
Membangun berbagai industri.
Meningkatkan perdagangan.
Peninggalan Bani Abbasiyah
1. Istana Qarruzzabad di Baghdad
2. Istana di kota Samarra
3. Bangunan-bangunan sekolah
4. Kuttab
5. Masjid
6. Majlis Muhadharah
7. Darul Hikmah
8. Masjid Raya Kordova (786 M)
9. Masjid Ibnu Taulon di Kairo (876 M)
10. Istana Al Hamra di Kordova
Strategi Kebudayaan dan Rasionalitas
Kebudayaan Persia, Pesatnya perkembangan kebudayaan Persia di zaman faktor, yaitu :
a. Pembentukan lembaga wizarah
b. Pemindahan ibukota
2. Kebudayaan Hindi, Peranan orang India dalam membentuk kebudayaan Islam terjadi dengan dua cara:
a. Secara langsung, Kaum muslimin berhubungan langsung dengan orang-orang India
seperti lewat perdagangan dan penaklukan.
b. Secara tak langsung,penyaluran kebudayaan India ke dalam kebudayaan Islam lewat kebudayaan Persia.
3. Kebudayaan Yunani
kehidupan kebudayaan Yunani. Yang paling termasyur diantaranya adalah :
a. Jundaisabur, Terletak dibangun oleh Sabur yang dijadikan tempat pembuangan para tawanan Romawi, Sekolah-sekolah tinggi kedokteran yang asalnya diajar berbagai ilmu Yunani dan bahasa Persia, diadakan perubahan-perubahan dan pembaharuan.

b. Harran,Kota di utara Iraq yang menjadi pusat pertemuan segala macam kebudayaan. Warga kota Harran merupakan pengembangan kebudayaan Yunani terpenting di zaman Islam, terutama dimasa Daulah Abbassiyah.
c. Iskandariyyah, Ibukota Mesir waktu menjadi jajahan Yunani. Dalam kota
Iskandariyyah ini lahir aliran falsafah terbesar yang dikenal “Filsafat Baru Plato”(Neo Platonisme). Dalam masa Bani Abbassiyah hubungan alam pemikiran Neo Platonisme bertambah erat dengan alam pikiran kaum muslimin.
4. Kebudayaan Arab
Masuknya kebudayaan Arab ke dalam kebudayaan Islam terjadi dengan dua jalan utama, yaitu :
a. Jalan Agama, Mengharuskan mempelajari Qur’an, Hadist, Fiqh yang semuanya dalam bahasa Arab.
b. Jalan Bahasa,Jazirah Arabia adalah sumber bahasa Arab, bahasa terkaya diantara rumpun bahasa samy dan tempat lahirnya Islam.

Ciri Yang menonjol Bani Abbasiyah yang tidak terdapat pada Bani Ummayah
Abbasiyah :
Jauh dari pengaruh Arab.
Ada jabatan Wazir .
Ada tentara khusus profesional

Ummayah
Sangat berorientasi pada Arab.
Tidak ada jabatan Wazir
Tidak ada tentara khusus profesional

Thank You

____________++++++++++++_______________
ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِين

Category:

Dedi Wahyudi, S.Pd.I: Kami harapkan senyum, salam, sapa, saran dan kritik untuk tulisan serta tampilan blog ini. Terima kasih atas kunjungannya. Semoga ilmunya membawa berkah.

0 komentar

Silahkan kirim komentar anda!