: :

Navbar Bawah

Cari Blog Ini

Memuat...
Format sms: nama#nomor HP anda#pesan anda

Jika Anda kebingungan bagaimana caranya untuk melihat isi blog saya, silahkan ditanyakan di nomor tersebut.

Tanpa Mencantumkan nomor HP Anda, maka sms tidak akan dibalas.

22 Mei 2009

Stratifikasi Sosial

Oleh Rahmat
BAB I
PENDAHULUAN

Pada dasarnya manusia sebagai maahkluk sosial,dimana manusia dalam kehidupan bermasyarakat tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan orang lain.Hidup bermasyarakat dewasa ini lama kelamaan akan berkembang sesuai dengan perkembangan zaman.Dimana dengan adanya Tekhnologi yang canggih menjadikaan atau berdampak pada kehidupan bermasyarakat.Pada zaman yang serba canggih sangat diperlukan penanaman kepribadian baik dalam segi moral untuk dapat berinteraksi didalam masyarakat demi mewujudkan kehidupan yang harmonis demi tercapainya tujuan hidup bersama dalam suatu kehidupan bermasyarakat.Sebagai acuan dalam berinteraksi sosial seharusmya perlu pemahaman tentang begaimana cara berinteraksl sosial yang sesuai
Setelah dijelaskan mengenai latar belakang pernasalahan dalam kajian Interaksi Sosial secara umum,maka lebih jelasnya kami mencoba memaparkan persoalan tersebut dalam rumusan masalah sebagai berikukt:
1. Bagaimana pengertian,bentuk,dan aturan dalam interaksi sosial?
2. Aturan aturan apakah yang dipakai dalam berin teraksi sosial?


BAB II
PEMBAHASAN

1.Pengertian Interaksi Sosial
Pengertian Interaksi Sosial adalah suatu hubungan antara 2 individu atau lebih ,dimana kelakuan individu yang satu mempengaruhi ,mengubah atau memperbaiki kelakuan individu yang lain atau sebaliknya.Interaksi sosial adalah kunci dari semua kehidupan sosial oleh karena itu tanpa interaksi sosial manusia tak akan mungkin ada kehidupan bersama.Interaksl sosial merupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis,yang menyangkut hubungan antara orang-orang perorangan,antara kelompok-kelompok manusia,maupun antara orang perorangan dengan kelompok menusia.
Didalam kehidupan sehari-hari manusia tidak akan lepas darihubungan satu dengan yang lain.Manusia akan selalu menyesuaikan dengan lingkungan,tegasnya individu memerlukan hubungan dengan lingkungan.Dalam hal ini sarjana psikologi Woodwoorth menambahkan bahwa hubungan manusia dengan lingkungan meliputi:
1. Individu dapat bertentangan dengan lingkungan
2. Individu dapat menggunakan lingkungan
3. Individu dapat berpartisipasi dengan lingkungan
4. Individu dapatmenyesuaikan diri dengan lingkungan
*Beberapa Pengertian tentang Interaksi Sosial
a Kimball Young (1959)
Bahwa individu sosial adalah sebagai kunci dad semua kehidupan sosial, oleh karena itu maka jika tanpa interaksl sosial, tidak akan mungkin terdapat kehidupan bersama.
Menurut Kimball ' Young interaksi sosial menjadi syarat utama (essential) terjadinya akfivitas soAal.
b. Prof. Dr. Soerjono Soekanto, SH. MA.
Merumuskan interaksi sosial sebagai bentuk-bentuk yang tampak apabila orang perorangan atau kelompokkelornpok manusia itu mengadakan hubungan satu dengan yang lain terutama mengetengahkan kelompok sosial serta lapisan-lapsian sosial, sebagai unsur-unsur pokok dad struktur sosial
*Dasar-dasar Interaksi Sosial
Dasar Interaksi sosial dilandasi oleh adanya sikap manusia yang selalu ingin bergaul dengan kelompok manusia lain dalam memenuhi kebutuhan hidupnya(gregoriouness),Sehingga proses berlangsungnya Interaksi sosial didasari oleh beberapa faktor pendukung:
a.Faktor Imitasi
faktor ini telah diuraikan oleh Gabriel Tarde yang beranggapan bahwa setiap setiap gerakan itu tidak lain hanya sebuah tiruan.Misalnya:cara memberi hormat,cara berterima kasih,cara memberi isyarat dan lain-lain,itu pada mulanya hanya mengimitasi dari orang lain.
b.Faktor Sugesti
Yang di maksud Sugesti adalah pengaruh phychiss,baik yang datang dari dirinya maupun dari orang lain.Pada sugesti seseorang memandang atu memberi pandangan sebuah sikap dari dirinya lalu diterima oleh orang lain di luarnya.
c.Faktor Identifikasi
Identifikasi dalam hal ini bererti dorongan untuk menjadi identik atau sama sengan orang lain,baik segara lahiriah maupun batiniah.Misalnya:Identifikasi seorang anak laki-laki untuk menjada sama seperti ayahnya.
d.Faktor Simpati
Syimpati adalah perasaan tertariknya orang yang satu terhadap orang lain.sympati hanya akan berlangsung dan berkembang dalam relasi kerjasama.

2.Bentuk-Bentuk Interaksi Sosial
Bentuk-bentuk Interaksi sosial dapat berupa kerjasama(co-operation),Persaingan(Competition),bahkan dapat pula berbntuk pertikaian atau pertentangan(Conflick).


Menurut pendapat Gilin dan Gilin ada 2 magam proses sosial yang timbul sebagai akibat adanya Interaksi Sosial:
1.Proses Asosiatif(Processes of Asociation)
Pada proses ini terbagi kedalam 3 bentuk khusus,yaitu :Kedalam bentuk Akomodasi,Asimilasi Dan Akulturasi.
2.Proses yang Disosiatif (Processes of Disciociation)
Pada proses ini mencakup dengan hal persaingan ,dimana persainngan ini meliputi Contravention dan pertentangan atau pertikaian(conflik).
Sistematika yang lain pernah pula dikemukakan oleh Kimball Young,dimana bentuk-bentuk proses sosial :
1.Oposisi(Oposition)
Pada bentuk ini mencakup Persaingan(Competition) Dan pertenyangan atau pertikaian(Conflik)
2.Kerjasama(co-opertion)
Pada bentuk ini menghasilkan akomodasi
3.Differentiation
Merupakan suatu proses dimana orang perorangan didalam suatu masyarakat memperoleh hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang berbeda dengan orang orang lain di dalam suatu masyarakat atas dasar perbedaan usia,seks dan pekerjaan.
Dari 2 pendapat diatas,Dapat ditarik kesimpulan ataupun penjelasan untuk dapat lebih mudah memahaminya.Dengan menggabungkan sistenatika diatas,mungkin dapat memudahkan atau menghasilkan gambaran yang lebih jelas mengenai Proses-proses Interaksl yang pokok,yaitu:
1.Proses-proses yang asosiatif
a.Kerjasama (Cooperation)
Dengan kerjasama disini simaksudkan sebagai suatu kerjasama antara orang perorangan atau kelompok manusia,untuk memproleh satu atau beberapa tujuan bersama.Kerjasama timbul apabila orang menyadari bahwa meraka mempunyai kepantingan kepentingan yang sama dan pada saat yang bersamaan memnpunyai cukup pengetahuan dan pengendalian terhadap diri sendiri untuk memenuhi kepentingan tersebut melalui kerjasama.Dalam hubungannya sengan kebudayaaan,maka kebudayan itu dapat mengarahkan dan mendorong untuk dapat terjadinya suatu kerjasama.
*Bentuk kerjasama berdasarkan pelaksanaan kerjasama:
a.Bargaining
Yaitu pelaksanaan perjanjian mengenai pertukaran barang-barang dan jasa-jasa antara 2 organisasi atau lebih.
b.Co-optation
Yaitu suatu proses penerimaan unsur unsur baru dalam kepemimpinan dalam suatu organisasi,sebagai salah satu cara untuk menghindari terjadinya kegoncangan dalam stabilitas organisasi yang bersangkutan.
c.Coalition
Yaitu kombinasi antara 2 organisasi atau lebih yang mempunyai tujuan tujuan yang sama.
b.Akomodasi
Menurut Gilin dan Gilin Akomodasi adalah suatu pangartian yang digunakan oleh para sosiolog untuk menggambarkan suatu proses dalam hubungan-hubungan sosial yang sama.Akomodasi merupakan syatu caa untuk penyelesaian masalah tanpa menghancurkan pihak lawan.Tujuan dari akomodasi antara lain untuk dapat mengurangi,mencegah edanya suatu pertentangan,kadang juga diusahakan untuk memungklnkan adanya kerjasama.Adapun bentuk-bentuk Akomodasi,dlmana akomodasi merupakan suatu proses,yaiyu:
1.Coercion:Bemtuk akomodasi yang pelaksanaannya bersifat memaksa
2.Compromise: Dalam Pelaksanaanya mengutamakan sikap toleransi
3.Arbitrasion:Dalam pelaksanaannya membutuhkan orang ketiga.
4.Mediation
5.Consiliation:Usaha untuk mempertemukan pihak pihak yang berselisih
6.Toleration:Bentuk akomodasi tanpa persetujuan formal
7.Stalemate


2.Proses-proses yang Disosiatif(Oppositional prosses)
a.Persaingan (Competition)
merupakan suatu proses sosial,dimana orang perorangan atau kelompok kelomok manusia yang bersaing mengari keuntungan melalui bidang bidang kehidupan dengan cara menarik perhatian publik tanpa menggunakan kekerasan atau ancaman.Persaingan mempunyai 2 tipe:persaingan bersifat pribadi dan persaingan tidak bersifat pribadi.Adapun persaingan berfungsi untuk menyalurkan keinginan keinginan yangbersifat kompetitif,dimana hasil darl suatu persaingan yaitu untuk perubahan kepribadian seseorang demi kemajuan dan solidaritas kelompok.
b.Contravention
Pada hakiatnya merupakan suatu bentuk proes sosial yang berada antara persaingnan dengan pertentangan.Contravention terutana ditandai gejala-gejala adanya ketidakpuasan terhadap diri seseorang atau terhadap suatu rencana.
c.Pertentangan/Pertikaian
Merupakan suatu proses sosial dimana orang perorangan /kelompok manusia berusaha memenuhi kebutuhannya/tujuannya dengan jalan menentang fihak lawan dengan ancaman /kekerasan.


DAFTAR PUSTAKA

• Prof.Dr.Soerjono Soekanto,Sosilogi Suatu Pengantar,Edisi baru kedua 1986.jakarta:Cv.Rajawali
• Kamanto Sunarto,Pengantar Sosiologi
• Drs.H.Abu Ahmadi,Psikolologi Sosial,jakarta:PT.Rineka Cipta
• Ibid,,,,,,,,
• Tri Dayaksini dan Hudainiah,Psikologi Sosial

_+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++_


TUGAS AKHIR
PENGANTAR SOSIOLOGI
SEMESTER GASAL
2008-2009

OLEH :
SAEFUL ARIF
208000010

B. STUDI FALSAFAH DAN AGAMA
UNIVERSITAS PARAMADINA
JAKARTA, 2008
Prakata

Dimulai dengan membaca nama Allah SWT pencipta alam semesta yang maha kasih , tak pilih kasih dan yang maha penyayang tak pandang sayang. Lantunan shalawat beserta salam semoga tercurahkan kepada junjungan kita pemimpin besar umat Islam, yang perkasa tak pernah putus asa dan beliaulah pemimpin akhir jaman nabi muhammad SAW. Yang rela mengorbankan hidup matinya karena Allah SWT. demi menegakkan panji-panji Islam.

Tersurat dalam lembaran- lembaran ini, kami bermaksud mengulas beberapa materi sosiologi demi meningkatkan ilmu pengetahuan kami, karena kami masih merasa masih banyak kekurangan dalam ilmu pengetahuan. Semoga Allah meridhoi kita semua , serta menjadikan perbuatan kita di Dunia ini sebagai amal sholeh untuk akhirat nanti.

Jakarta, 16 Januari 2009














Daftar isi

Prakata 1
Daftar isi 2
Stratifikasi Sosial 3
Dimensi-dimensi Stratifikasi Sosial 3
Jenis-Jenis Stratifikasi Sosial 5
Penyimpangan Sosial 6
Konformitas dan Penyimpangan 7
Penyimpangan dalam Masyarakat 8
Penyimpangan diartikan Sebagai Suatu Proses 9
Teori-Teori Umum tentang Perilaku Menyimpang 9
1. Teori anomi 10
2. Teori Labeling 11
3. Teori Kontrol 11
4. Teori Konflik 12
Teori-Teori Individu tentang Penyimpangan 12
Bentuk-bentuk Penyimpangan Individual 12
Bentuk-bentuk Penyimpangan Bersama-Sama / Kolektif 13
Gerakan Sosial 14
Proses dalam melakukan mobilitas sosial 15
Faktor-faktor yang menjadi penghambat mobilitas sosial 17
Faktor-faktor yang mempengaruhi mobilitas sosial 18
Dampak mobilitas sosial 19
Dampak negatif 19
Dampak positif 20






Stratifikasi Sosial

Definisi

Stratifikasi sosial merupakan suatu konsep dalam sosiologi yang melihat bagaimana anggota masyarakat dibedakan berdasarkan status yang dimilikinya. Status yang dimiliki oleh setiap anggota masyarakat ada yang didapat dengan suatu usaha (achievement status) dan ada yang didapat tanpa suatu usaha (ascribed status). Stratifikasi berasal dari kata stratum yang berarti strata atau lapisan dalam bentuk jamak.

Pitirin A. Sorokin mendefinisikan stratifikasi sebagai pembedaan penduduk atau anggota masyarakat ke dalam kelas-kelas secara hierarkis. Sedangkan menurut Bruce J. Cohen sistem stratifikasi akan menempatkan setiap individu pada kelas sosial yang sesuai berdasarkan kualitas yang dimiliki.

Stratifikasi dapat terjadi dengan sendirinya sebagai bagian dari proses pertumbuhan masyarakat, juga dapat dibentuk untuk tercapainya tujuan bersama. Faktor yang menyebabkan stratifikasi sosial dapat tumbuh dengan sendirinya adalah kepandaian, usia, sistem kekerabatan, dan harta dalam batas-batas tertentu.

Mobilitas sosial merupakan perubahan status individu atau kelompok dalam stratifikasi sosial. Mobilitas dapat terbagi atas mobilitas vertikal dan mobilitas horizontal. Mobilitas vertikal juga dapat terbagi dua, mobilitas vertikal intragenerasi, dan mobilitas antargenerasi.
Berkaitan dengan mobilitas ini maka stratifikasi sosial memiliki dua sifat, yaitu stratifikasi terbuka dan stratifikasi tertutup. Pada stratifikasi terbuka kemungkinan terjadinya mobilitas sosial cukup besar, sedangkan pada stratifikasi tertutup kemungkinan terjadinya mobilitas sosial sangat kecil.

Dimensi-dimensi Stratifikasi Sosial

Untuk menjelaskan stratifikasi sosial ada tiga dimensi yang dapat dipergunakan yaitu : privilege, prestise, dan power. Ketiga dimensi ini dapat dipergunakan sendiri-sendiri, namun juga dapat didigunakan secara bersama.
Karl Marx menggunakan satu dimensi, yaitu privilege atau ekonomi untuk membagi masyarakat industri menjadi dua kelas, yaitu kelas Borjuis dan Proletar. Sedangkan Max Weber, Peter Berger, Jeffries dan Ransford mempergunakan ketiga dimensi tersebut. Dari penggunaan ketiga dimensi tersebut Max Weber memperkenalkan konsep : kelas, kelompok status, dan partai.

Kelas sosial merupakan suatu pembedaan individu atau kelompok berdasarkan kriteria ekonomi. Untuk mendalami kelas sosial ini Soerjono Soekanto memberikan 6 kriteria tradisional.

Menurut Horton and Hunt keberadaan kelas sosial dalam masyarakat berpengaruh terhadap beberapa hal, diantaranya adalah identifikasi diri dan kesadaran kelas sosial, pola-pola keluarga, dan munculnya simbol status dalam masyarakat.
Dalam lingkungan masyarakat kita melihat bahwa ada pembeda-bedaan yang berlaku dan diterima secara luas oleh masyarakat. Di sekitar kita ada orang yang menempati jabatan tinggi seperti gubernur dan wali kota dan jabatan rendah seperti camat dan lurah. Di sekolah ada kepala sekolah dan ada staf sekolah. Di rt atau rw kita ada orang kaya, orang biasa saja dan ada orang miskin.

Perbedaan itu tidak hanya muncul dari sisi jabatan tanggung jawab sosial saja, namun juga terjadi akibat perbedaan ciri fisik, keyakinan dan lain-lain. Perbedaan ras, suku, agama, pendidikan, jenis kelamin, usia atau umur, kemampuan, tinggi badan, cakep jelek, dan lain sebagainya juga membedakan manusia yang satu dengan yang lain.

Beragamnya orang yang ada di suatu lingkungan akan memunculkan stratifikasi sosial (pengkelas-kelasan) atau diferensiasi sosial (pembeda-bedaan).

Stratifikasi Sosial :

Stratifikasi sosial adalah pengkelasan / penggolongan / pembagian masyarakat secara vertikal atau atas bawah. Contohnya seperti struktur organisasi perusahaan di mana direktur berada pada strata / tingkatan yang jauh lebih tinggi daripada struktur mandor atau supervisor di perusahaan tersebut.

Diferensiasi Sosial :

Diferensiasi sosial adalah pengkelasan / penggolongan / pembagian masyarakat secara horisontal atau sejajar. Contohnya seperti pembedaan agama di mana orang yang beragama islam tingkatannya sama dengan pemeluk agama lain seperti agama konghucu, budha, hindu, katolik dan kristen protestan.

Jenis-Jenis Stratifikasi Sosial

1. Stratifikasi Sosial Tertutup

Stratifikasi tertutup adalah stratifikasi di mana tiap-tiap anggota masyarakat tersebut tidak dapat pindah ke strata atau tingkatan sosial yang lebih tinggi atau lebih rendah.
Contoh stratifikasi sosial tertutup yaitu seperti sistem kasta di India dan Bali serta di Jawa ada golongan darah biru dan golongan rakyat biasa. Tidak mungkin anak keturunan orang biasa seperti petani miskin bisa menjadi keturunan ningrat / bangsawan darah biru.

2. Stratifikasi Sosial Terbuka

Stratifikasi sosial terbuka adalah sistem stratifikasi di mana setiap anggota masyarakatnya dapat berpindah-pindah dari satu strata / tingkatan yang satu ke tingkatan yang lain.
Misalnya seperti tingkat pendidikan, kekayaan, jabatan, kekuasaan dan sebagainya. Seseorang yang tadinya miskin dan bodoh bisa merubah penampilan serta strata sosialnya menjadi lebih tinggi karena berupaya sekuat tenaga untuk mengubah diri menjadi lebih baik dengan sekolah, kuliah, kursus dan menguasai banyak keterampilan sehingga dia mendapatkan pekerjaan tingkat tinggi dengan bayaran / penghasilan yang tinggi.



Penyimpangan Sosial

Definisi

Penyimpangan sosial dapat didefinisikan dari berbagai segi, banyak para pakar sosoiologi mengartikannya sebagai berikut:

1. Menurut Robert M. Z. Lawang penyimpangan perilaku adalah semua tindakan yang menyimpang dari norma yang berlaku dalam sistem sosial dan menimbulkan usaha dari mereka yang berwenang dalam sitem itu untuk memperbaiki perilaku menyimpang.

2. Menurut James W. Van Der Zanden perilaku menyimpang yaitu perilaku yang bagi sebagian orang dianggap sebagai sesuatu yang tercela dan di luar batas toleransi.

3.Menurut Lemert penyimpangan dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu penyimpangan primer dan penyimpangan sekunder.

Penyimpangan primer adalah suatu bentuk perilaku menyimpang yang bersifat sementara dan tidak dilakukan terus-menerus sehingga masih dapat ditolerir masyarakat seperti melanggar rambu lalu lintas, buang sampah sembarangan, dll.

Sedangkan penyimpangan sekunder yakni perilaku menyimpang yang tidak mendapat toleransi dari masyarakat dan umumnya dilakukan berulang kali seperti merampok, menjambret, memakai narkoba, menjadi pelacur, dan lain-lain.

Dasar pengakategorian penyimpangan didasari oleh perbedaan perilaku, kondisi dan orang. Penyimpangan dapat didefinisikan secara statistik, absolut, reaktifis atau normatif. Perbedaan yang menonjol dari keempat sudut pandang pendefinisian itu adalah pendefinisian oleh para reaktifis atau normatif yang membedakannya dari kedua sudut pandang lainnya. Penyimpangan secara normatif didefinisikan sebagai penyimpangan terhadap norma, di mana penyimpangan itu adalah terlarang atau terlarang bila diketahui dan mendapat sanksi. Jumlah dan macam penyimpangan dalam masyarakat adalah relatif tergantung dari besarnya perbedaan sosial yang ada di masyarakat.
Konformitas dan Penyimpangan

Konsep konformitas definisikan oleh shepard sebagai bentuk interaksi yang didalamnya seorang berprilaku terhadap orang lain sesuai dengan harapan kelompok.
Pada umumnya kita cenderung bersifat konformis. Berbagai studi memperlihatkan bahwa manusia mudah dipengaruhi orang lain. Salah satu diantaranya ialah studi Muzafer Sherif, yang membuktikan bahwa dalam situasi kelompok orang cenderugn membentuk norma social.

Vander zenden mendefinisikan penyimpangan sebagai prilaku yang oleh yang oleh sejumlah besar masyarakat dianggap sebagai hal tercela dan di luar batas toleransi. Dalam tiap masyarakat kita selalu menjumpai adanya anggota yang menyimpang. Disamping penyimpangan-penyimpangan kita juga menjumpai institusi menyimpang. Menurut para ahli sosialogi penyimpangan bukanlah sesuatu yang melekat pada perilaku tertentu, melainkan diberi cirri penyimpangan melalui definisi social.

Dalam sosiologi dikenal bebagai teori sosiologi untuk menjelaskan mengapa penyimpangan tejadi. Menurut teori differential association (Sutherland) penyimpangan bersumber pada pergaulan yang berbeda dan dipelajari menurut proses alih budaya. Menurut teori labeling (lemert) seseoran menjadi menyimpang karena proses pemberian julukan, cap, etiket, merek, oleh masyarakat kepadanya.

Merton mengidentifikasi lima tipe cara individu terhadap situasi tertentu; empat diantara prilaku tersebut adalah prilaku menyimpang. Pada konformitas prilaku mengikuti tujuan yang ditentukan masyarakat, dan mengikuti cara yang ditentukan masyarakat untuk mencapai tujuan tersebut; pada inovasi prilaku mengikuti tujuan yang ditentukan masyarakat tetapi dengan jalan yang tidak ditentukan masyarakat; pada retreatisme prilaku seseorang tidak mengikuti cara untuk meraih tujuan budaya dan juga tidak menigkuti cara untuk meraih tujuan budaya; dan pada pemberontakan orang juga tidak mengakui struktur sasial yang ada dan berupaya menciptakan struktur social yang lain.

Menurut teori fungsi Durkheim kejahatan perlu bagi masyarakat, Karena dengan adanya kejahatan maka moralitas dan hokum dapat berkembang secara normal. Teori konflik Marx, dipihak lain, berpandangan bahwa apa yang merupakn prilaku menyimpang didefinisikan oleh kelompok berkuasa dalam masyarakat untuk melindungi kepentingan mereka sendiri, dan bahwa hukum merupakan pencerminan kepentingan kelas yang berkuasa.

Para ahli sosiologi membedakan berbagai tipe kejahatan. Kejahatan tanpa korban merupakan kejahatan yang tidak mengakibatkan penderitaan pada korban. Kejahatan terorganisasi ialah komplotan yang berkesinambungan untuk memperoleh uang atau kekuasaan dengan jalan menghindari hukum melalui penyebaran rasa takut atau melalui korupsi. Kejahatan kerah putih mengacu pada kejahatan yang dilakukan oleh orang terpandang atau orang berstatus tinggi dalam rangka pekerjaannya. Tindak pidana korporasi merupakan jenis kejahatan yang dilakukan atas nama organisasi formal dengan tujuan menaikan atau menekan kerugian.
Penyimpangan dalam Masyarakat

Penyimpangan adalah relatif terhadap norma suatu kelompok atau masyarakat. Karena norma berubah maka penyimpangan berubah. Adalah sulit untuk menentukan suatu penyimpangan karena tidak semua orang menganut norma yang sama sehingga ada perbedaan mengenai apa yang menyimpang dan tidak menyimpang. Orang yang dianggap menyimpang melakukan perilaku menyimpang. Tetapi perilaku menyimpang bukanlah kondisi yang perlu untuk menjadi seorang penyimpang. Penyimpang adalah orang-orang yang mengadopsi peran penyimpang, atau yang disebut penyimpangan sekunder. Para penyimpang mempelajari peran penyimpang dan pola-pola perilaku menyimpang sama halnya dengan orang normal yang mempelajari peran dan norma sosial yang normal. Untuk mendapatkan pemahaman penuh terhadap penyimpangan diperlukan pengetahuan tentang proses keterlibatan melakukan perilaku menyimpang dan peran serta tindakan korbannya.



Penyimpangan diartikan Sebagai Suatu Proses

Perilaku menyimpang adalah perilaku manusia dan dapat dimengerti hanya dengan kerangka kerja perilaku dan pikiran manusia lainnnya. Seseorang menjadi penyimpang sama halnya dengan seseorang menjadi apa saja, yaitu dengan proses belajar norma dan nilai suatu kelompok dan penampilan peran sosial. Ada nilai normal dan ada nilai menyimpang. Perbedaannya adalah isi nilai, norma dan peran. Melihat penyimpangan dalam konteks norma sosial membuat kita dapat melihat dan mengintepretasikan arti penyimpangan bagi penyimpang dan orang lain. Peran penyimpang adalah peran yang kuat karena cenderung menutupi peran lain yang dimainkan seseorang. Lebih jauh lagi, peran menyimpang menuruti harapan perilaku tertentu dalam situasi tertentu. Pecandu obat menuruti harapan peran pecandu obat seperti juga penjahat menuruti harapan peran penjahat.

Penyimpangan biasanya dilihat dari perspektif orang yang bukan penyimpang. Pengertian yang penuh terhadap penyimpangan membutuhkan pengertian tentang penyimpangan bagi penyimpang. Studi observasi dapat memberikan pengertian langsung yang tidak dapat diberikan metode lainnya. Untuk menghargai penyimpangan adalah dengan cara memahami, bukan menyetujui apa yang dipahami oleh penyimpang. Cara-cara para penyimpang menghadapi penolakan atau stigma dari orang non penyimpang disebut dengan teknik pengaturan. Tidak satu teknik pun yang menjamin bahwa penyimpang dapat hidup di dunia yang menolaknya, dan tidak semua teknik digunakan oleh setiap penyimpang. Teknik-teknik yang digunakan oleh penyimpang adalah kerahasiaan, manipulasi aspek lingkungan fisik, rasionalisasi, partisipasi dalam subkebudayaan menyimpang dan berubah menjadi tidak menyimpang.

Teori-Teori Umum tentang Perilaku Menyimpang

Teori-teori umum tentang penyimpangan berusaha menjelaskan semua contoh penyimpangan sebanyak mungkin dalam bentuk apapun (misalnya kejahatan, gangguan mental, bunuh diri dan lain-lain). Berdasarkan perspektifnya penyimpangan ini dapat digolongkan dalam dua teori utama. Perpektif patologi sosial menyamakan masyarakat dengan suatu organisme biologis dan penyimpangan diAsamakan dengan kesakitan atau patologi dalam organisme itu, berlawanan dengan model pemikiran medis dari para psikolog dan psikiatris. Perspektif disorganisasi sosial memberikan pengertian pemyimpangan sebagai kegagalan fungsi lembaga-lembaga komunitas lokal. Masing-masing pandangan ini penting bagi tahap perkembangan teoritis dalam mengkaji penyimpangan.
Adapun teori-teori umum yang dipelajari dalam ilmu sosiologi adalah sebagai berikut:

1. Teori anomi

Teori anomi yaitu teori struktural tentang penyimpangan yang paling penting selama lebih dari lima puluh tahun. Teori anomi menempatkan ketidakseimbangan nilai dan norma dalam masyarakat sebagai penyebab penyimpangan, di mana tujuan-tujuan budaya lebih ditekankan dari pada cara-cara yang tersedia untuk mencapai tujuan-tujuan budaya itu. Individu dan kelompok dalam masyarakat seperti itu harus menyesuaikan diri dan beberapa bentuk penyesuaian diri itu bisa jadi sebuah penyimpangan. Sebagian besar orang menganut norma-norma masyarakat dalam waktu yang lama, sementara orang atau kelompok lainnya melakukan penyimpangan. Kelompok yang mengalami lebih banyak ketegangan karena ketidakseimbangan ini (misalnya orang-orang kelas bawah) lebih cenderung mengadaptasi penyimpangan daripada kelompok lainnya.

Teori sosiologi atau teori belajar memandang penyimpangan muncul dari konflik normatif di mana individu dan kelompok belajar norma-norma yang membolehkan penyimpangan dalam keadaan tertentu. Pembelajaran itu mungkin tidak kentara, misalnya saat orang belajar bahwa penyimpangan tidak mendapat hukuman. Tetapi pembelajaran itu bisa juga termasuk mangadopsi norma-norma dan nilai-nilai yang menetapkan penyimpangan diinginkan atau dibolehkan dalam keadaan tertentu. Teori Differential Association oleh Sutherland adalah teori belajar tentang penyimpangan yang paling terkenal. Walaupun teori ini dimaksudkan memberikan penjelasan umum tentang kejahatan, dapat juga diaplikasikan dalam bentuk-bentuk penyimpangan lainnya. Sebenarnya setiap teori sosiologis tentang penyimpangan mempunyai asumsi bahwa individu disosialisasikan untuk menjadi anggota kelompok atau masyarakat secara umum. Sebagian teori lebih menekankan proses belajar ini daripada teori lainnya, seperti beberapa teori yang akan dibahas pada Bab berikutnya.



2. Teori Labeling

Teori-teori umum tentang penyimpangan mencoba menjelaskan semua bentuk penyimpangan. Tetapi teori-teori terbatas lebih mempunyai lingkup penjelasan yang terbatas. Beberapa teori terbatas adalah untuk jenis penyimpangan tertentu saja, atau untuk bentuk substantif penyimpangan tertentu (seperti alkoholisme dan bunuh diri), atau dibatasi untuk menjelaskan tindakan menyimpang bukan perilaku menyimpang. Dalam bab ini perpektif-perpektif labeling, kontrol dan konflik adalah contoh-contoh teori-teori terbatas yang didiskusikan.

Perspektif labeling mengetengahkan pendekatan interaksionisme dengan berkonsentrasi pada konsekuensi interaksi antara penyimpang dengan agen kontrol sosial. Teori ini memperkirakan bahwa pelaksanaan kontrol sosial menyebabkan penyimpangan, sebab pelaksanaan kontrol sosial tersebut mendorong orang masuk ke dalam peran penyimpang. Ditutupnya peran konvensional bagi seseorang dengan pemberian stigma dan label, menyebabkan orang tersebut dapat menjadi penyimpang sekunder, khususnya dalam mempertahankan diri dari pemberian label. Untuk masuk kembali ke dalam peran sosial konvensional yang tidak menyimpang adalah berbahaya dan individu merasa teralienasi. Menurut teori labeling, pemberian sanksi dan label yang dimaksudkan untuk mengontrol penyimpangan malah menghasilkan sebaliknya.

3. Teori Kontrol

Perspektif kontrol adalah perspektif yang terbatas untuk penjelasan delinkuensi dan kejahatan. Teori ini meletakkan penyebab kejahatan pada lemahnya ikatan individu atau ikatan sosial dengan masyarakat, atau macetnya integrasi sosial. Kelompk-kelompok yang lemah ikatan sosialnya (misalnya kelas bawah) cenderung melanggar hukum karena merasa sedikit terikat dengan peraturan konvensional. Jika seseorang merasa dekat dengan kelompok konvensional, sedikit sekali kecenderungan menyimpang dari aturan-aturan kelompoknya. Tapi jika ada jarak sosial sebagai hasil dari putusnya ikatan, seseorang merasa lebih bebas untuk menyimpang.


4. Teori Konflik

Teori konflik adalah pendekatan terhadap penyimpangan yang paling banyak diaplikasikan kepada kejahatan, walaupun banyak juga digunakan dalam bentuk-bentuk penyimpangan lainnya. Ia adalah teori penjelasan norma, peraturan dan hukum daripada penjelasan perilaku yang dianggap melanggar peraturan. Peraturan datang dari individu dan kelompok yang mempunyai kekuasaan yang mempengaruhi dan memotong kebijakan publik melalui hukum. Kelompok-kelompok elit menggunakan pengaruhnya terhadap isi hukum dan proses pelaksanaan sistem peradilan pidana. Norma sosial lainnya mengikuti pola berikut ini. Beberapa kelompok yang sangat berkuasa membuat norma mereka menjadi dominan, misalnya norma yang menganjurkan hubungan heteroseksual, tidak kecanduan minuman keras, menghindari bunuh diri karena alasan moral dan agama.

Teori-Teori Individu tentang Penyimpangan

Pendekatan individu tentang penyimpangan mengkaitkan proses menjadi penyimpang dengan sesuatu yang ada dalam diri manusia, psikologi atau biologi. Teori individual sama dengan model pandangan medis yang mengkaitkan penyimpangan dengan kesakitan (illness), yang membutuhkan perawatan dan penyembuhan. Pandangan psikiatri dan psikoanalisis adalah sama dalam hal mencari akar penyimpangan pada pengalaman masa kecil, tetapi pandangan psikoanalisis lebih menekankan keterbelakangan dalam perkembangan kepribadian, konflik seksual dan alam pikiran bawah sadar. Tetapi tidak ada metode yang dapat membuktikan perbedaan yang konsisten antara penyimpang dan non penyimpang berdasarkan kepribadian bawaan.

Bentuk-bentuk Penyimpangan Individual

Penyimpangan individual atau personal adalah suatu perilaku pada seseorang dengan melakukan pelanggaran terhadap suatu norma pada kebudayaan yang telah mapan akibat sikap perilaku yang jahat atau terjadinya gangguan jiwa pada seseorang.
Tingkatan bentuk penyimpangan seseorang pada norma yang berlaku :
1. Bandel atau tidak patuh dan taat perkataan orang tua untuk perbaikan diri sendiri serta tetap melakukan perbuatan yang tidak disukai orangtua dan mungkin anggota keluarga lainnya.

2. Tidak mengindahkan perkataan orang-orang disekitarnya yang memiliki wewenang seperti guru, kepala sekolah, ketua rt rw, pemuka agama, pemuka adat, dan lain sebagainya.

3. Melakukan pelanggaran terhadap norma yang berlaku di lingkungannya.

4. Melakukan tindak kejahatan atau kerusuhan dengan tidak peduli terhadap peraturan atau norma yang berlaku secara umum dalam lingkungan bermasyarakat sehingga menimbulkan keresahan. ketidakamanan, ketidaknyamanan atau bahkan merugikan, menyakiti, dll.

Bentuk-bentuk Penyimpangan Bersama-Sama / Kolektif

Tindak Kenakalan

Suatu kelompok yang didonimasi oleh orang-orang yang nakal umumnya suka melakukan sesuatu hal yang dianggap berani dan keren walaupun bagi masyarakat umum tindakan trsebut adalah bodoh, tidak berguna dan mengganggu. Contoh penyimpangan kenakalan bersama yaitu seperti aksi kebut-kebutan di jalan, mendirikan genk yang suka onar, mengoda dan mengganggu cewek yang melintas, corat-coret tembok orang dan lain sebagainya.

Tawuran / Perkelahian Antar Kelompok

Pertemuan antara dua atau lebih kelompok yang sama-sama nakal atau kurang berpendidikan mampu menimbulkan perkelahian di antara mereka di tempat umum sehingga orang lain yang tidak bersalah banyak menjadi korban. Contoh : tawuran anak sma 70 dengan anak sma 6, tawuran penduduk berlan dan matraman, dan sebagainya.


Tindak Kejahatan Berkelompok / Komplotan

Kelompok jenis ini suka melakukan tindak kejahatan baik secara sembunyi-sembunyi maupun secara terbuka. Jenis penyimpangan ini bisa bertindak sadis dalam melakukan tindak kejahatannya dengan tidak segan melukai hingga membunuh korbannya. Contoh : Perampok, perompak, bajing loncat, penjajah, grup koruptor, sindikat curanmor dan lain-lain.

Penyimpangan Budaya

Penyimpangan kebudayaan adalah suatu bentuk ketidakmampuan seseorang menyerap budaya yang berlaku sehingga bertentangan dengan budaya yang ada di masyarakat. Contoh : merayakan hari-hari besar negara lain di lingkungan tempat tinggal sekitar sendirian, syarat mas kawin yang tinggi, membuat batas atau hijab antara laki-laki dengan wanita pada acara resepsi pernikahan, dsb.


Gerakan Sosial

Definisi

Gerakan sosial (Mobilitas sosial) adalah perubahan, pergeseran, peningkatan, ataupun penurunan status dan peran anggotanya. Misalnya, seorang pensiunan pegawai rendahan salah satu departemen beralih pekerjaan menjadi seorang pengusaha dan berhasil dengan gemilang. Contoh lain, seorang anak pengusaha ingin mengikuti jejak ayahnya yang berhasil. Ia melakukan investasi di suatu bidang yang berbeda dengan ayahnya. namun, ia gagal dan jatuh miskin. Proses keberhasilan ataupun kegagalan setiap orang dalam melakukan gerak sosial seperti inilah yang disebut mobilitas sosial (social mobility)

Menurut Paul B. Horton, mobilitas sosial adalah suatu gerak perpindahan dari satu kelas sosial ke kelas sosial lainnya atau gerak pindah dari strata yang satu ke strata yang lainnya. Sementara menurut Kimball Young dan Raymond W. Mack, mobilitas sosial adalah suatu gerak dalam struktur sosial yaitu pola-pola tertentu yang mengatur organisasi suatu kelompok sosial. Struktur sosial mencakup sifat hubungan antara individu dalam kelompok dan hubungan antara individu dengan kelompoknya.
Dalam dunia modern, banyak orang berupaya melakukan mobilitas sosial. Mereka yakin bahwa hal tersebut akan membuat orang menjadi lebih bahagia dan memungkinkan mereka melakukan jenis pekerjaan yang peling cocok bagi diri mereka. Bila tingkat mobilitas sosial tinggi, meskipun latar belakang sosial berbeda. Mereka tetap dapat merasa mempunyai hak yang sama dalam mencapai kedudukan sosial yang lebih tinggi. Bila tingkat mobilitas sosial rendah, tentu saja kebanyakan orang akan terkukung dalam status nenek moyang mereka. Mereka hidup dalam kelas sosial tertutup.

Mobilitas sosial lebih mudah terjadi pada masyarakat terbuka karena lebih memungkinkan untuk berpindah strata. Sebaliknya, pada masyarakat yang sifatnya tertutup kemungkinan untuk pindah strata lebih sulit. Contohnya, masyarakat feodal atau pada masyarakat yang menganut sistem kasta. Pada masyarakat yang menganut sistem kasta, bila seseorang lahir dari kasta yang paling rendah untuk selamanya ia tetap berada pada kasta yang rendah. Dia tidak mungkin dapat pindah ke kasta yang lebih tinggi, meskipun ia memiliki kemampuan atau keahlian. Karena yang menjadi kriteria stratifikasi adalah keturunan. Dengan demikian, tidak terjadi gerak sosial dari strata satu ke strata lain yang lebih tinggi.

Proses dalam melakukan mobilitas sosial

Secara umum, cara orang untuk dapat melakukan mobilitas sosial ke atas adalah sebagai beriku.

1.Perubahan standar hidup

Kenaikan penghasilan tidak menaikan status secara otomatis, melainkan akan mereflesikan suatu standar hidup yang lebih tinggi. Ini akan mempengaruhi peningkatan status.
Contoh: Seorang pegawai rendahan, karena keberhasilan dan prestasinya diberikan kenaikan pangkat menjadi Menejer, sehingga tingkat pendapatannya naik. Status sosialnya di masyarakat tidak dapat dikatakan naik apabila ia tidak merubah standar hidupnya, misalnya jika dia memutuskan untuk tetap hidup sederhana seperti ketika ia menjadi pegawai rendahan.

2.Perkawinan

Untuk meningkatkan status sosial yang lebih tinggi dapat dilakukan melalui perkawinan.
Contoh: Seseorang wanita yang berasal dari keluarga sangat sederhana menikah dengan laki-laki dari keluarga kaya dan terpandang di masyarakatnya. Perkawinan ini dapat menaikan status si wanita tersebut.

3.Perubahan tempat tinggal

Untuk meningkatkan status sosial, seseorang dapat berpindah tempat tinggal dari tempat tinggal yang lama ke tempat tinggal yang baru. Atau dengan cara merekonstruksi tempat tinggalnya yang lama menjadi lebih megah, indah, dan mewah. Secara otomatis, seseorang yang memiliki tempat tinggal mewah akan disebut sebagai orang kaya oleh masyarakat, hal ini menunjukkan terjadinya gerak sosial ke atas.

4.Perubahan tingkah laku

Untuk mendapatkan status sosial yang tinggi, orang berusaha menaikkan status sosialnya dan mempraktekkan bentuk-bentuk tingkah laku kelas yang lebih tinggi yang diaspirasikan sebagai kelasnya. Bukan hanya tingkah laku, tetapi juga pakaian, ucapan, minat, dan sebagainya. Dia merasa dituntut untuk mengkaitkan diri dengan kelas yang diinginkannya.
Contoh: agar penampilannya meyakinkan dan dianggap sebagai orang dari golongan lapisan kelas atas, ia selalu mengenakan pakaian yang bagus-bagus. Jika bertemu dengan kelompoknya, dia berbicara dengan menyelipkan istilah-istilah asing.

5.Perubahan nama

Dalam suatu masyarakat, sebuah nama diidentifikasikan pada posisi sosial tertentu. Gerak ke atas dapat dilaksanakan dengan mengubah nama yang menunjukkan posisi sosial yang lebih tinggi.
Contoh: Di kalangan masyarakat feodal Jawa, seseorang yang memiliki status sebagai orang kebanyakan mendapat sebutan "kang" di depan nama aslinya. Setelah diangkat sebagai pengawas pamong praja sebutan dan namanya berubah sesau dengan kedudukannya yang baru seperti "Raden"
Faktor-faktor yang menjadi penghambat mobilitas sosial
Ada beberapa faktor penting yang justru menghambat mobilitas sosial. Faktor-faktor penghambat itu antara lain sebagai berikut :

1.Perbedaan kelas rasial

Seperti yang terjadi di Afrika Selatan di masa lalu, dimana ras berkulit putih berkuasa dan tidak memberi kesempatan kepada mereka yang berkulit hitam untuk dapat duduk bersama-sama di pemerintahan sebagai penguasa. Sistem ini disebut Apharteid dan dianggap berakhir ketika Nelson Mandela, seorang kulit hitam, terpilih menjadi presiden Afrika Selatan

2.Agama

3.Diskriminasi Kelas

Dalam sistem kelas terbuka dapat menghalangi mobilitas ke atas. Hal ini terbukti dengan adanya pembatasan suatu organisasi tertentu dengan berbagai syarat dan ketentuan, sehingga hanya sedikit orang yang mampu mendapatkannya.

Contoh: jumlah anggota DPR yag dibatasi hanya 500 orang, sehingga hanya 500 orang yang mendapat kesempatan untuk menaikan status sosialnya menjadi anggota DPR.
4.Kemiskinan

Kemiskinan dapat membatasi kesempatan bagi seseorang untuk berkembang dan mencapai suatu sosial tertentu.
Contoh: "A" memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolahnya karena kedua orangtuanya tidak bisa membiayai, sehingga ia tidak memiliki kesempatan untuk meningkatkan status sosialnya.
5.Perbedaan jenis kelamin

Perbedaan jenis kelamin dalam masyarakat juga berpengaruh terhadap prestasi, kekuasaan, status sosial, dan kesempatan-kesenmpatan untuk meningkatkan status sosialya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi mobilitas sosial
Perubahan kondisi sosial
Struktur kasta dan kelas dapat berubah dengan sendirinya karena adanya perubahan dari dalam dan dari luar masyarakat. Misalnya, kemajuan teknologi membuka kemungkinan timbulnya mobilitas ke atas. Perubahan ideologi dapat menimbilkan stratifikasi baru.
Ekspansi teritorial dan gerak populasi
Ekspansi teritorial dan perpindahan penduduk yang cepat membuktikan cirti fleksibilitas struktur stratifikasi dan mobilitas sosial. Misalnya, perkembangan kota, transmigrasi, bertambah dan berkurangnya penduduk.

Komunikasi yang bebas

Situasi-situasi yang membatasi komunikasi antarstrata yang beraneka ragam memperkokoh garis pembatas di antara strata yang ada dalam pertukaran pengetahuan dan pengalaman di antara mereka dan akan mengahalangi mobilitas sosial. Sebaliknya, pendidikan dan komunikasi yang bebas sertea efektif akan memudarkan semua batas garis dari strata sosial uang ada dan merangsang mobilitas sekaligus menerobos rintangan yang menghadang.
Pembagian kerja
Besarnya kemungkinan bagi terjadinya mobilitas dipengaruhi oleh tingkat pembagian kerja yang ada. Jika tingkat pembagian kerja tinggi dan sangat dispeliasisasikan, maka mobilitas akan menjadi lemah dan menyulitkan orang bergerak dari satu strata ke strata yang lain karena spesialisasi pekerjaan nmenuntut keterampilan khusus. Kondisi ini memacu anggota masyarakatnya untuk lebih kuat berusaha agar dapat menempati status tersebut.
Tingkat Fertilitas (Kelahiran) yang Berbeda
Kelompok masyarakat yang memiliki tingkat ekonomi dan pendidikan rendah cenderung memiliki tingkat fertilitas yang tinggi. Pada pihak lain, masyarakat kelas sosial yang lebih tinggi cenderung membatasi tingkat reproduksi dan angka kelahiran. Pada saat itu, orang-orang dari tingkat ekonomi dan pendidikan yang lebih rendah mempunyai kesempatan untuk banyak bereproduksi dan memperbaiki kualitas keturunan. Dalam situasi itu, mobilitas sosial dapat terjadi.

Dampak mobilitas sosial
Dampak negatif
Konflik antarkelas
Dalam masyarakat, terdapat lapisan-lapisan sosial karena ukuran-ukuran seperti kekayaan, kekuasaan, dan pendidikan. Kelompok dalam lapisan-lapisan tadi disebut kelas sosial. Apabila terjadi perbedaan kepentingan antara kelas-kelas sosial yang ada di masyarakat dalam mobilitas sosial maka akan muncul konflik antarkelas.
Contoh: demonstrasi buruh yang menuntuk kenaikan upah, menggambarkan konflik antara kelas buruh dengan pengusaha.
Konflik antarkelompok sosial
Di dalam masyatakat terdapat pula kelompok sosial yang beraneka ragam. Di antaranya kelompok sosial berdasarkan ideologi, profesi, agama, suku, dan ras. Bila salah satu kelompok berusaha untuk menguasai kelompok lain atau terjadi pemaksaan, maka timbul konflik.
Contoh: tawuran pelajar, perang antarkampung.

Konflik antargenerasi
Konflik antar generasi terjadi antara generasi tua yang mempertahankan nilai-nilai lama dan generasi mudah yang ingin mengadakan perubahan.
Contoh: Pergaulan bebas yang saat ini banyak dilakukan kaum muda di Indonesia sangat bertentangan dengan nilai-nilai yang dianut generasi tua.
Penyesuaian kembali
Setiap konflik pada dasarnya ingin menguasai atau mengalahkan lawan. Bagi pihak-pihak yang berkonflik bila menyadari bahwa konflik itu lebih banyak merugikan kelompoknya, maka akan timbul penyesuaian kembali yang didasari oleh adanya rasa toleransi atau rasa penyesuaian kembali yang didasari oleh adanya rasa toleransi atau rasa saling menghargai. Penyesuaian semacam ini disebut Akomodasi.
Dampak positif
Orang-orang akan berusaha untuk berprestasi atau berusaha untuk maju karena adanya kesempatan untuk pindah strata. Kesempatan ini mendorong orang untuk mau bersaing, dan bekerja keras agar dapat naik ke strata atas.
Contoh: Seorang anak miskin berusaha belajar dengan giat agar mendapatkan kekayaan dimasa depan.
Mobilitas sosial akan lebih mempercepat tingkat perubahan sosial masyarakat ke arah yang lebih baik.
Contoh: Indonesia yang sedang mengalami perubahan dari masyarakat agraris ke masyarakat industri. Perubahan ini akan lebih cepat terjadi jika didukung oleh sumber daya yang memiliki kualitas. Kondisi ini perlu didukung dengan peningkatan dalam bidang pendidikan.

_=+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++=_
1
MASALAH-MASALAH SOSIAL
DALAM MASYARAKAT MULTIETNIK 1
Oleh : Yoseph Yapi Taum2
1. Pengantar
Menurut estimasi Juli 2003, Penduduk Indonesia berjumlah 234.893.453 orang
dan tersebar di 17.000 pulau (Taum, 2006). Indonesia merupakan salah satu di antara
sedikit negara di dunia yang memiliki karakteristik sebagai negara multietnik. Di
Indonesia diperkirakan terdapat 931 etnik dengan 731 bahasa. Ada etnis yang besar dan
ada yang kecil (lihat Lampiran 1). Etnis besar di Indonesia antara lain: Jawa, Sunda,
Madura, Melayu, Bali, Minangkabau, Batak, Dayak, Bugis, dan Cina. Sebagai negara
yang multietnis, tidak hanya bentuk fisik melainkan juga sistem religi, hukum, arsitektur,
obat-obatan, makanan, dan kesenian orang Indonesia pun berbeda-beda menurut etnisnya.
Indonesia juga merupakan sebuah negara yang mempunyai tradisi religi atau
agama yang cukup kuat. Ada lima agama besar di Indonesia, yakni Islam, Katolik,
Protestan, Hindu, dan Buddha. Dalam beberapa tahun ini, setelah tahun 1998, Kong Hu
Cu juga mulai kembali berpengaruh di Indonesia.
Indonesia ibarat sebuah taman yang ditumbuhi aneka bunga berwarna-warni.
Akan tetapi, jika keragaman itu tidak dikelola dengan baik, konflik akan mudah pecah.
Futurolog terkemuka seperti John Naisbitt dan Alfin Toffler juga memprediksikan
tentang menguatnya kesadaran etnik (ethnic consciousnes) di banyak negara pada abad
ke-21. Berbagai peristiwa pada dua dasawarsa terkahir abad ke-20 memang perlawanan
terhadap dominasi negara ataupun kelompok-kelompok etnik lain. Berjuta-juta nyawa
telah melayang dan banyak orang menderita akibat pertarungan-pertarungan itu. Samuel
Huntington (1997) merupakan futurolog yang pertama kali mensinyalir bakal munculnya
perbenturan antar masyarakat "di masa depan" yang akan banyak terjadi dalam bentuk
perbenturan peradaban “clash of civilisation.” Sentimen ideologis yang selama ini
dominan dalam perang dingin, berubah dengan sentimen agama dan budaya. Blok-blok
dunia juga akan banyak ditentukan oleh kepemihakan terhadap agama dan kebudayaan.
Kutipan pernyataan para futurolog ini hanya untuk mengingatkan bahwa
kebudayaan tidak jarang membangun blok-blok yang dapat menimbulkan ketegangan dan
bahkan peperangan. Masyarakat terutama yang mempunyai karakter multi-etnis dan
multi-agama perlu senantiasa menggali wawasan kebangsaannya untuk menghindari
ketegangan-ketegangan baru. Konflik horisontal antar kelompok masyarakat tertentu di
Indonesia (Ambon, Kupang, Sambas, Palangkaraya, Sampit, Papua, Poso, Lombok,
Tasikmalaya, Jakarta, Solo, Surabaya, dll) seharusnya menggugah bangsa ini untuk
kembali merenungi pertanyaan-pertanyaan mendasar.
1 Makalah dibawakan dalam Focus Group Discussion (FGD) “Identifikasi Isu-isu Strategis yang Berkaitan
dengan Pembangunan Karakter dan Pekerti Bangsa”, dilaksanakan oleh Balai Kajian Sejarah dan Nilai
Tradisional Yogyakarta, tanggal 10 Oktober 2006.
2 Yoseph Yapi Taum, Dosen F. Sastra Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, mewakili tokoh masyarakat
adat/etnis.
2
Pertanyaannya adalah apakah pola hidup dalam keberagaman sudah membudaya
dalam alam kesadaran orang Indonesia? Sedalam apakah pemahaman kita akan
keragaman orientasi, referensi, dan tindakan-tindakan dalam pengambilan kebijakan?
Apakah kesadaran etnik yang bermunculan di berbagai wilayah tanah air akan mengarah
pada perbenturan peradaban bangsa kita? Masalah-masalah sosial apa sajakah yang
mudah memunculkan konflik dalam masyaraat multietnik? Adakah metode yang dapat
digunakan untuk mengatasi konflik berbasis etnik? Makalah ini bermaksud membahas
masalah-masalah tersebut, sekalipun hanya bersifat permukaan saja. Tidak ada pretensi
untuk membahas dan memberi jawaban dan solusi yang tuntas. Makalah ini dimaksudkan
sekedar untuk memancing diskusi dan pembahasan lebih lanjut.
2. Keragaman pada Masa Orde Lama, Orde Baru, dan Era Reformasi
Indonesia telah mengalami beberapa bentuk pemerintahan dengan nuansa
demokrasi yang berbeda-beda. Pemerintahan Orde Lama melihat keragaman budaya di
Indonesia sebagai sebuah bentuk pluralisme. Konsep pluralisme adalah buah dari
kompromi Sutan Takdir Alisjahbana dengan Sanusi Pane yang ditengahi oleh Ki Hajar
Dewantara, sehingga muncullah rumusan seperti kebudayaan nasional adalah puncakpuncak
kebudayaan daerah, dan seterusnya itu. Kesadaran akan pluralisme kebudayaan
membuat pemerintah Orde Lama berkeinginan mengkonservasi pencapaian budayabudaya
daerah, sehingga mengabaikan unsur dinamika dalam kebudayaan.
Selama tiga dekade kekuasaan rezim Orde Baru, Indonesia dipaksa untuk
menukar kebebasan politik dengan kemajuan ekonomi. Selama pemerintahan yang
otoriter dan militeristik ini, pembicaraan seputar SARA (Suku, Agama, dan Ras)
merupakan hal tabu. Permasalahan di ranah tersebut hampir tidak pernah diangkat atau
didialogkan secara terbuka. Bangsa ini seolah-olah bersembunyi di balik slogan “Bhineka
Tunggal Ika” yang hanya sekedar mengukuhkan otoritas penguasa dalam melakukan
penyeragaman, uniformalitas dan menyepelekan perbedaan.
Kebijakan Orde Baru menyimpan potensi konflik sebagai sebuah bom waktu.
Begitu Orde Baru runtuh, konflik bernuansa SARA bermunculan dan mewarnai Era
Reformasi. Deretan peristiwa kerusuhan berbau SARA itu sesungguhnya merupakan
perwujudan dari menguatnya apa yang disebut revolusi identitas (identity revolution).
Batas-batas identitas (etnis, juga agama, ras, dan antar golongan) yang selama rezim orde
baru ditabukan sebagai SARA dan dipercaya subversif justru sudah mulai bangkit
sebagai sebuah kekuatan basis.
Kebijakan Era Reformasi memberikan otonomi daerah tidak serta-merta
menyelesaikan masalah keragaman ini. Satu hal yang unik di Indonesia, sebuah
pemerintahan di Daerah Tingkat II umumnya didominasi satu suku. Kondisi masyarakat
daerah seperti ini bisa menjadikan orang daerah menjadi lebih sukuis/etnosentris. Contoh
yang paling muda diamati adalah Pilkada langsung, yang cenderung diikuti dengan
demontrasi jalanan dan perusakan fasilitas umum. Perilaku ini membuat budaya daerah
tertentu kehilangan nilai-nilai, mereka berubah jadi buas dan brutal. Contoh yang lain
adalah konflik-konflik bermotif etnik, seperti: Aceh, Kalimantan, Poso, dan Maluku.
Inilah kondisi yang telah terjadi di Indonesia dan masih berpotensi untuk muncul.
Apakah Indonesia dapat menjamin bahwa desentralisasi benar-benar akan menjadi
perekat bagi persatuan nasional dan memperkuat komitmen nasional terhadap
pembangunan manusia?
3
3. Masalah-masalah Sosial Pemicu Konflik
3.1 Menguatnya Primordialisme dan Etnosentrisme
Ikatan primodial pada dasarnya berakar pada identitas dasar yang dimiliki oleh
para anggota suatu kelompok etnis, seperti tubuh, nama, bahasa, agama atau kepercayaan,
sejarah dan asal-usul (Issac, 1993: 48-58). Identitas dasar ini merupakan sumber acuan
bagi para anggota suatu kelompok etnik dalam melakukan intreaksi sosialnya. Oleh
karena itu, identitas dasar merupakan suatu acuan yang sangat mendasar dan bersifat
umum, serta menjadi kerangka dasar bagi perwujudan suatu kelompok etnik.
Identitas dasar diperoleh secara askriptif dan tidak mudah untuk mengingkarinya,
identitas dasar muncul dalam interaksi sosial antar kelompok etnik. Dalam interaksi
tersebut para pelaku dari berbagai kelompok etnik akan menyadari bahwa terdapat
perbedaan kelompok di antara mereka. Identitas dasar kemudian menjadi suatu pembeda
antara berbagai kelompok etnik yang sedang berinteraksi. Identitas dasar merupakan
sumber adanya ikatan primodial, suatu ikatan yang lahir dari hubungan-hubungan
keluarga atau hubungan darah (garis keturunan), hubungan ras, lingkungan kepercayaan
atau keagamaan, serta bahasa atau dialek tertentu. Suatu persamaan hubungan darah,
dialek, ras, kebiasaan dan sebagainya yang melahirkan ikatan emosional (Greetz, 1992:
3) yang kadang kadarnya berlebihan sehingga dapat menjadi sesuatu yang bersifat
destruksif. Ikatan-ikatan tersebut Geerz dapat dianggap sebagai “warisan” dari sifat sosial
yang telah ada… suatu “kelangsungan yang berkesinambungan” dan sebagian besar
merupakan ikatan keluarga, namun lebih dari itu merupakan warisan yang berasal dari
kelahiran di tengah-tengah masyarakat beragama tertentu, yang berbicara dalam dialek
bahasa tertentu, dan mengikuti praktik-praktik sosial tertentu (Isaacs, 1993:45).
Dalam kehidupan sehari-hari identitas dasar suatu kelompok etnik seringkali
dimanipulasi (Cohen, 1971). Identitas dasar dapat dinon-aktifkan, diaktifkan, dipersempit
dapat dimungkinkan karena identitas dasar itu bukanlah sesuatu yang masih seperti batu
melainkan cair, sehingga dapat mengalir dan berkembang dalam rangka penyesuaianpenyesuaian
dalam kehidupan. Namun tidak jarang aliran identitas dasar menerjang
dengan kuat bagaikan air bah yang membobol bendungan-bendungan, serta merusak
segala sesuatu yang dilaluinya. Pada keadaan-keadaan tertentu identitas dasar yang
mewujudkan keberadaaannya dalam bentuk ikatan-ikatan primodial melahirkan kohesi
emosional yang sangat kuat atau menjadi etnosentrisme yang berlebihan, sehingga
menjadi sumber malapetaka.
Di sisi lain kohesi emosional yang berasal dari ikatan primordial dapat
menimbulkan rasa aman, kehangatan atau kepercayaan di kalangan mereka sendiri. Rasa
kepercayaan di antara kalangan sendiri bagi kelompok etnik tertentu dapat dijadikan
dasar bagi kegiatan bisnis. Banyak kegiatan bisnis dilakukan tanpa didukung oleh
jaminan surat-surat perjanjian, kontrak hukum atau bahkan secarik kertaspun. Mereka
melakukannya berdasarkan rasa saling percaya, karena mereka berasal dari kampung
halaman yang sama, berbahasa atau berdialek yang sama, memiliki nama keluarga yang
sama, atau dari keturunan yang sama, singkatnya kesamaan identitas dasar mendorong
untuk saling mempercayaai, minimal pada pertemuan pertama mereka beranggapan
bahwa mereka memiliki perilaku yang sama, karena berasal dari kalangan sendiri.
Kesadaran etnik yang bersumber pada identitas dasar suatu kelompok etnik
merupakan suatu hal yang pasti dialami setiap orang. Identitas dasar ini merupakan
4
sumber terbentuknya ikatan primordial. Ikatan primordial dapat diekspresikan dalam
berbagai bentuk aktivitas hidup manusia.
Indonesia telah memulai program desentralisasi yang cukup radikal yang telah
menimbulkan banyak permasalahan yang cukup rumit, khususnya tentang hubungan
keuangan antara pusat dan daerah, dan juga kemungkinan melebarnya jurang
ketimpangan jika kabupaten-kabupaten yang lebih kaya maju sangat pesat, meninggalkan
kabupaten-kabupaten lainnya.
3.2 Ketidakadilan Sosial
Di negara yang sangat besar dan terdiri dari beragam etnis, selalu ada potensi
bahaya dimana konflik ketenagakerjaan, pertanahan, atau konflik atas sumber daya alam
akan muncul ke permukaan sebagai konflik antar etnis dan konflik antar agama. Ketika
pemerintahan Orde Baru runtuh, terbuka format politik baru yang memungkinkan
pemunculan kembali berbagai pertikaian yang terjadi di masa lampau. Munculnya
berbagai konflik ini akan menimbulkan dampak yang sangat buruk, yaitu menurunnya
kepercayaan kepada lembaga-lembaga politik yang akan membahayakan keberlanjutan
masa depan reformasi ekonomi Indonesia.
Ketidakadilan sosial, budaya, dan ekonomi menjadi lapisan subur bagi tumbuhnya
konflik. Terbuka kemungkinan berbagai kepentingan dari luar sengaja memanaskan suhu.
Namun, ketidakadilan mendorong meletusnya konflik. Agama atau etnik menjadi
seringkan digunakan sebagai legitimasi pembenar.
Mereka kini menjadi lebih sadar akan hak-hak mereka, bukan saja hak di bidang
politik tetapi juga hak di bidang ekonomi, misalnya atas pangan, kesehatan, atau
pekerjaan. Ketika masyarakat menekankan identitas kedaerahan dan identitas etnisnya,
mereka tidak sekedar menuntut otonomi atau kebebasan politik yang lebih besar, tetapi
mereka juga menyuarakan bahwa sebagian dari hak sosial dan ekonomi dasar mereka
belum terpenuhi.
4. Solusi: Beberapa Isu Strategis Kebangsaan
Keberagaman di Indonesia harus diakui sebagai kebenaran obyektif yang nyata di
dalam masyarakat. Perbedaan tidak perlu dieksploitasi guna memenangkan kepentingan.
Tekanan berpotensi mengakumulasi ketidakpuasan dari kelompok tertekan karena
ekspresi dan identitas baik agama atau etnik tidak bisa dimunculkan.
4.1 Membangun Hubungan Kekuatan
Dalam masyarakat yang multietnik, pola dan model pergaulan yang etnosentrik
dapat berakibat kontraproduktif. Usaha bisnis yang maju pesat dan dikuasai oleh satu
kelompok etnis sama seperti menyimpan bom waktu yang pada saat tertentu akan
menimbulkan ledakan sosial.
Sosialisasi kesadaran multietnik dapat dilaksanakan melalui konsep proses sosial,
yaitu suatu cara berhubungan antarindividu atau antarkelompok atau individu dengan
kelompok yang menimbulkan bentuk hubungan tertentu. Dari hubungan ini diharapkan
mereka semakin saling mengenal, semakin akrab, lebih mudah bergaul, lebih percaya
pada pihak lain, dan akhirnya dapat bekerjasama dan bersinergi. Kesemuanya ini dapat
dipahami sebagai bagian dari peradaban manusia.
5
Proses sosialisasi dimulai dari interaksi sosial dengan perilaku imitasi, sugesti,
identifikasi, dan simpati (Pidarta, 1997:147). Interaksi sosial akan terjadi apabila
memenuhi dua syarat: kontak sosial dan komunikasi. Setiap masyarakat saling
berinteraksi satu dengan lainnya, dan saling beradaptasi pada lingkungan secara
totalitas. Lingkungan ini mencakup lembaga sosiopolitik masyarakat dan elemen
organik lainnya. Dari hasil interaksi sosial diharapkan tidak ada strata sosial antaretnik,
dan seharusnya ada pembentukan peradaban atau akultrasi antaretnik.
Peradaban adalah jaringan kebudayaan. Biasanya setiap budaya memiliki wilayah
(Cohen,1970:64). Peradaban itu dapat dibuat melalui saling ketergantungan antaretnik.
Saling ketergantungan ini dapat berupa program (kegiatan), dengan adanya kegiatan
hubungan kekuatan (power relationships) semakin erat. Kegiatan tersebut dapat berupa:
perdagangan, kesenian dan pendidikan. (Lihat Gambar 1).
Gambar 1 Paradigma hubungan dalam jaringan peradaban
(Cohen, 1970: 65)
Hubungan kekuatan (HK) dalam bentuk saling ketergantungan akan
meningkatkan adaptasi antaretnik, dan dapat menimbulkan peradaban baru. Peradaban
itu adalah kebudayaan yang sudah lebih maju (Pidarta, 1997: 158). Bila kebudayaan
diartikan cara hidup yang dikembangkan oleh anggota-anggota masyarakat, ini berarti
‘kerjasama’ adalah suatu kebudayaan. Misalnya, kerjasama antar etnik Cina dan Jawa
dalam distribusi mobil dapat menciptakan hubungan kekuatan yang kokoh.
4.2 Membangun Budaya Toleransi
Istilah budaya toleransi (culture of tolerance) tampaknya belum banyak dikenal
dalam wacana sosial-politik Indonesia, karena selama masa otoriter Orde Baru, toleransi
menjadi salah satu nilai yang dimobilisasikan dan diintroduksikan secara represif dalam
paket ideologi uniformitas Pancasila. Dalam alam militeristik tersebut, setiap gerakan
yang berbau keagamaan, kedaerahan, ataupun kesukuan yang eksklusif cenderung
dianggap sebagai pembangkangan SARA, dan biasanya ditindak dengan tegas oleh aparat
negara. Karena itu, toleransi lebih banyak dipahami sebagai ideologi kaum penguasa dan
bukan bagian dari proses kebudayaan masyarakat bangsa.
6
Sejalan dengan berakhirnya masa despotisme Orde Baru, masa-masa romantis
ideologi Pancasila juga berakhir. Penataran-penataran P4 di berbagai level dengan
bermacam-macam pola pun dihentikan dengan berbagai dampak, baik positif maupun
negatif. Dalam alam reformasi ini, issu-issu mengenai toleransi, identitas, dan pluralitas
menjadi persoalan masyarakat dan bukan lagi tanggungjawab 'ideologis' negara. Akan
tetapi, perubahan tersebut berlangsung dengan sangat cepat, sehingga banyak pengamat
budaya Indonesia mengkhawatirkan bakal hilangnya rantai pemersatu bangsa (chain of
national unity). Barangkali belum terlalu disadari bahwa harga sosial yang harus dibayar
karena hilangnya rantai pemersatu itu sangat mahal.
Beberapa pakar kebudayaan (seperti Galtung, Soedjatmoko) mengungkapkan
bahwa nilai toleransi bukanlah sebuah nilai yang hadir pada dirinya sendiri. Kadar
toleransi bersumber dari adanya nilai empati yang secara inherent sudah ada dalam hati
setiap manusia. Empati merupakan kemampuan hati nurani manusia untuk ikut
merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain; kemampuan untuk ikut bergembira
ataupun berduka dengan kegembiraan dan kedukaan orang lain. Semakin tinggi kadar
empati seseorang, semakin tinggi pula kemampuan orang itu membangun nilai toleransi,
yaitu kemampuan untuk menerima dan menghargai adanya perbedaan.
Nilai toleransi merupakan salah satu nilai dalam khazanah budaya berpikir positif.
Ir. Jero Wacik, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI Kabinet Indonesia Bersatu baru
saja menerbitkan sebuah buku saku berjudul Budaya Berpikir Positif (2005). Menurut
Wacik, budaya berpikir positif, ---yakni cara berpikir manusia yang senantiasa melihat
sisi positif, optimistik, integratif dan realistik terhadap berbagai permasalahan hidup,
sesungguhnya telah hidup dalam kebudayaan setiap etnik di bumi Nusantara ini.
"Semakin sering kita berpikir positif, semakin banyak kita memiliki sahabat. Sekat-sekat
primordialisme di antara kita akan menjadi semakin menipis. Sebaliknya, semakin sering
kita berpikir negatif, semakin banyak pula kita memiliki musuh. Dengan demikian,
kehidupan bangsa kitapun akan menjadi semakin kerdil," demikian pernyataan Jero
Wacik dalam sebuah pertemuan di Jakarta (18/2).
Sebelum diideologikan, nilai toleransi, kasih dan persahabatan yang tulus antar
kelompok komunitas orang yang berbeda latar belakang SARA sebetulnya sudah
membudaya. Membicarakan kebudayaan suku-suku bangsa dalam suatu tulisan singkat
semacam ini tentulah tidak mungkin, sebab kebudayaan itu sangat luas dan kompleks.
Untuk itu tulisan ini hanya mengemukakan sebuah kasus Flores berikut ini sebagai
sebuah contoh kasus dari ribuan fenomena serupa yang pernah terjadi di bumi Nusantara
ini.
4.3 Pendidikan
Pendidikan adalah proses membuat orang berbudaya dan beradab. Pendidikan
adalah kunci bagi pemecahan masalah-masalah sosial dan melalui pendidikan masyarakat
dapat direkonstruksi. Rekonstruksi berarti reformasi budaya, dengan melalui pendidikan
reformasi dapat dijalankan, terutama reformasi budi pekerti, reformasi kebudayaan
(keindonesiaan), dan reformasi nasionalisme (NKRI).
Tolstoy berpendapat sasaran puncak pendidikan ada di luar pendidikan
(Achambault, dalam Freire, 2001:491), yaitu kebudayaan. Tolstoy beranggapan nilainilai
masyarakat “beradab” akan tetap bertahan meski dihujani aneka ragam konflik atau
ajang klaim-klaim yang saling bertentangan.
7
Pendidikan yang dinginkan masyarakat ialah proses pendidikan yang bisa
mempertahankan dan meningkatkan keselarasan hidup dalam pergaulan manusia.
Konsep sosialisasi pendidikan yang dapat diterapkan adalah cara berhubungan
antarindividu atau antarkelompok atau individu dengan kelompok yang menimbulkan
bentuk hubungan tertentu.
Sekolah dapat dijadikan sarana pembauran multietnik. Guru harus membina
siswa agar bisa memiliki kebiasaan hidup yang harmonis, bersahabat, dan akrab dengan
sesama teman dari berbagai latar belakang etnik. Proses pembelajaran di kelas multietnik
dapat menghasilkan peradaban baru sesuai dengan harapan reformasi. Untuk ini, dapat
dipakai teori, model, strategi pengajaran multietnik sebagai sarana menjalankan reformasi
pendidikan dan kebudayaan (lihat Wakhinudin, 2006). Implementasi strategi pengajaran
multietnik di kelas hendaklah bertujuan pembentukan peradaban bangsa Indonesia yang
mulia.
Sampai saat ini, pengajaran multietnik belum dilegalisasikan oleh pemerintah.
Pengajaran bahasa daerah dilaksanakan dalam format restorasi (menjaga bahasa/budaya
dari kepunahan) dan bukan dalam format pluralisme (mengakui perbedaan bahasa).
Dengan format tersebut, pengajaran bahasa daerah lebih terkesan otoriter dan cenderung
mengabaikan fakta keragaman etnik di dalam kelas.
5. Penutup
Indonesia sesungguhnya merupakan sebuah himpunan kerajaan-kerajaan,
wilayah-wilayah yang secara kebetulan berada di bawah kolonialisme Belanda. Nama
Indonesia pun diberikan oleh orang asing, etnolog Inggris, G.R. Logan, pada 1850, konon
dari Bahasa Yunani (Indo = India, Nesos = Kepulauan; jadi Kepulauan India). Apa
sebenarnya konsepsi keindonesiaan itu? Apa sesungguhnya yang mengikat kita secara
moral?
Indonesia masih perlu terus-menerus melakukan kajian, diskusi, dialog tentang
isu-isu berkaitan dengan pembangunan karakter dan pekerti kita sebagai bangsa.
Rumusan yang lebih jelas dan tegas dapat dijadikan panduan untuk membangun sebuah
Indonesia yang kuat, beradab, dan bermartabat, sebelum dilanda terpaan gelombang
globalisasi.
Daftar Acuan
Cohen, A.Y., 1970. Schools and Civilizational States, dalam The Social Sciences and
The Comparative Study of Education systems. (Joseph Fischer; editor).
Pennsylvania: International Textbook Company.
Geertz, Clifford, 1992. Politik Kebudayaan (terjemahan). Yogyakarta : Penerbit
Kanisius.
Huntington, Samuel, 1997. The Clash of Civilisation and the Remaking of World Order.
New York: Simon and Schuster.
Issacs, Harold R., 1993. Pemujaan Terhadap Kelompok Etnik (terjemahan). Jakarta :
Yayasan Obor Indonesia.
Pidarta, M., 1997. Landasan Pendidikan: Stimulus Ilmu Pendidikan Bercorak
Indonesia. Jakarta : Rineka Cipta.
Taum, Yoseph Yapi, 2006. “Wawasan Kebangsaan dari Perspektif Budaya Flores.”
Makalah Dialog Budaya Daerah "Merumuskan Kembali Wawasan Kebangsaan
8
Melalui Perspektif Budaya Lokal" yang diselenggarakan Balai Kajian Sejarah dan
Nilai Tradisional Yogyakarta, 18 – 19 April 2006 di Wisma Kinasih Kaliurang.
Wakhinudin, S., 2006. “Pembentukan Peradaban Bangsa Melalui Pengajaran Multi-Etnik
dalam Era Reformasi” dalam Portal Informasi Pendidikan di Indonesia.
Didownload tanggal 26 September 2006 dari
http://www.depdiknas.go.id/Jurnal/41/Wakhinuddin.htm
Lampiran: Ilustrasi Etnik “Kecil” di Indonesia
Tabel 1: Data Etnis ‘Kecil’ di Nusa Tenggara
1. Alor 2. Abui 3. Kabola 4. Kafoa 5. Kelon 6. Kui
7. Woisika 8. Babar 9. Flores 10. Ende-Li'o 11. Kedang 12. Lamaholot
13. Manggarai 14. Ngada 15. Palu'e 16. Riung 17. Sikka 18. Leti
19. Lombok 20. Bali 21. Sasak 22. Pantar 23. Blagar 24. Lama
25. Nedebang 26. Tewa 27. Roti 28. Sawu 29. Sumba 30. Anakalang
31. Kambera 32. Kodi 33. Laboya 34. Mamboru 35. Wanukaka 36. Weyewa
37. Bima 38. Sumbawa 39. Timor 40. Atoni 41. Galoli 42. Kemak
Tabel 2: Data Etnis ‘Kecil’ di Maluku
1. Ambon 2. Aru 3. Kola 4. Ujir 5. Wokam 6. Banda
7. Biak 8. Buru 9. Halmahera 10. Galela 11. Kalabra 12. Loloda
13. Modole 14. Pagu 15. Sahu 16. Tehit 17. Tobaru 18. Tobelo
19. Kai 20. Makian 21. Seram 22. Alune 23. Geser 24. Hitu
25. Manusela 26. Nuaulu
27. Sepa-
Teluti
28. Watubela 29. Wemale 30. Sula
31. Taliabo 32. Tanimbar 33. Ternate 34. Tidore
_+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++_

Prosedur Analisis Stratifikasi Sosial
dalam Perspektif Sosiologi
Doddy Sumbodo Singgih
Jurusan Ilmu Sosiologi FISIP, Universitas Airlangga
Abstract
Social stratification is a concept that can be useful in analyzing both society and state system. In ord er to
have a useful analysis, however, it needs a proper procedure, which allows it to be applied in various
targets. By so doing, the result of analysis could be useful for either a community or those who wish to be
agent of social, economical, political, and even cultural change.
Keyword: systemic analysis, social stratification, community.
Per definisi, stratifikasi sosial adalah sebuah konsep yang menunjukkan adanya pembedaan
dan/atau pengelompokan suatu kelompok sosial (komunitas) secara bertingkat. Misalnya: dalam
komunitas tersebut ada strata tinggi, strata sedang dan strata rendah. Pembedaan dan/atau
pengelompokan ini didasarkan pada adanya suatu simbol -simbol tertentu yang dianggap berharga
atau bernilai — baik berharga atau bernilai secara sosial , ekonomi, politik, hukum, budaya
maupun dimensi lainnya — dalam suatu kelompok sosial (komunitas). Simbol -simbol tersebut
misalnya, kekayaan, pendidikan, jabatan, kesalehan dalam beragama, dan pekerjaan. Dengan kata
lain, selama dalam suatu kelompok sosia l (komunitas) ada sesuatu yang dianggap berharga atau
bernilai, dan dalam suatu kelompok sosial (komunitas) pasti ada sesuatu yang dianggap berharga
atau bernilai, maka selama itu pula akan ada stratifikasi sosial dalam kelompok sosial (komunitas)
tersebut. Secara sosiologis --jika dilacak ke belakang-- konsep stratifikasi sosial memang kalah
populer dengan istilah kelas sosial, dimana istilah kelas sosial pada awalnya menurut Ralf
Dahrendorf (1986), diperkenalkan pertama kali oleh penguasa Romawi Kuno. P ada waktu itu,
istilah kelas sosial digunakan dalam konteks penggolongan masyarakat terhadap para pembayar
pajak. Ketika itu ada dua masyarakat, yaitu masyarakat golongan kaya dan miskin.
Pada abad ke-18, istilah kelas sosial digunakan oleh ilmuwan Eropa d alam pengertian yang
berbeda, yaitu digunakan dalam pengertian sebagai status sosial atau kedudukan. Dengan kata
lain, istilah kelas sosial dan status sosial dianggap sama. Pada abad ke -19, istilah kelas sosial
mulai digunakan dalam analisis kesenjangan so sial yang berakar dari kondisi ekonomi suatu
masyarakat. Akhirnya sejak Marx mengajukan konsepnya tentang kelas sosial penggunaan istilah
ini dibedakan dengan istilah status sosial.
Dalam studi-studi sosiologi kontempo-rer, istilah status sosial dikaitkan dengan istilah peran
(role), di mana kedua istilah tersebut memiliki hubungan yang bersifat ko -eksistensial (Beteille,
1977). Misalnya, jika ada status sosial tentu akan ada peran sosial, semakin tinggi status sosial
semakin banyak peran sosialnya, atau s emakin tinggi status sosial semakin sedikit peran
sosialnya.
Perbedaan secara tegas antara kelas sosial dan status sosial antara lain dikemu -kakan Max
Weber dengan mengaju-kan konsep tentang kelas sosial, status sosial dan partai. Menurut Weber,
kelas sosial merupakan stratifikasi sosial yang berkaitan dengan hubungan produksi dan
penguasaaan kekayaan. Sedangkan status sosial merupakan manifestasi dari stratifikasi sosial
yang berkaitan dengan prinsip yang dianut oleh komunitas dalam mengkonsumsi kekayaa nnya
dan/atau gaya hidupnya. Partai merupa -kan perkumpulan sosial yang berorientasi penggunaan
kekuasaan untuk mempenga-ruhi suatu tindakan sosial tertentu.
Konsep Weber tentang kelas sosial merupakan perluasan dari konsep Marx. Menurut Marx,
kelas sosial meru-pakan himpunan orang-orang yang mem-peragakan fungsi yang sama dalam or -
ganisasi produksi. Kelas-kelas sosial dalam komunitas dibedakan berdasarkan per -bedaan
posisinya dalam tatanan ekonomi, yaitu pembedaan dalam posisinya dalam penguasaan alat -alat
produksi. Weber menggunakan istilah kelas sosial dalam pengertian seperti yang digunakan
Marx, dengan menambahkan dua faktor, yaitu kemampuan individu dan situasi pasar. Menurut
Weber: pertama, kelas merupa-kan himpunan manusia yang berada dalam situasi ya ng sama;
kedua, kelas bukan merupakan sebuah komunitas
Dimensi Stratifikasi Sosial
Ada banyak dimensi yang bisa digunakan untuk mendeskripsikan stratifikasi sosial yang ada
dalam suatu kelompok sosial atau komunitas (Svalastoga, 1989), misalnya: dimensi pemilikan
kekayaan (diteorikan Koentjaraningrat), sehingga ada strata wong sugih dan wong cilik. Awalnya,
di-mensi ini digunakan untuk melakukan identifikasi pada masyarakat Jawa, maka yang disebut
pemilikan kekayaan akan ter -fokus pada simbol-simbol ekonomi yang lazim dihargai masyarakat
Jawa. Misalnya, pemilikan tanah (rumah, pekarangan atau sawah).
Dimensi distribusi sumber daya diteorikan oleh Gerhard Lensky, di mana ada strata tuan
tanah, strata petani bebas, strata pedagang, strata pegawai, strata p etani, strata pengrajin, strata
penganggur-an, dan strata pengemis. Dimensi ini pada awalnya diberlakukan pada masyarakat
pra-industri di mana sistem stratifikasi sosialnya belum sekompleks masyarakat industri. Ada
tujuh dimensi stratifikasi sosial (diteor ikan Bernard Baber), yaitu: occupational prestige,
authority and power ranking, income or wealth, educational and knowledge, religious and ritual
purity, kinship, ethnis group, and local community. Ketujuh dimensi ini, baik secara terpisah
maupun bersama-sama, akan bisa membantu dalam mendes -kripsikan bagaimana susunan
stratifikasi sosial suatu kelompok sosial (komunitas) dan faktor yang menjadi dasar terben -tuknya
stratifikasi sosial tersebut.
Samuel Huntington mengemukakan bahwa ada dimensi modernisasi u ntuk menjelaskan
stratifikasi sosial, yaitu: strata sosial (baru) yang mampu merealisasi aspirasinya ( the new have)
dan strata sosial yang tidak mampu merealisasi aspirasinya atau mereka kalah dalam
memperebutkan posisi strata dalam komunitasnya ( the looser). Dimensi ini lebih terfokus pada
stratifikasi sosial yang pembentukannya didasarkan pada berbagai simbol gaya hidup. Teorisasi
Huntington ini dalam beberapa hal berhimpitan dengan teori Leisure Class-nya dari Thorstein
Veblen (Beteille, 1977).
Sistem Analisis
Ada banyak sistem analisis stratifikasi sosial yang saat ini lazim digunakan dalam studi -studi
sosiologi kontemporer, misalnya pertama, menganalisis sistem pertentangan (konflik) yang ada
dan/atau berkembang dalam suatu kelompok sosial (komunitas ). Analisis ini diarahkan untuk
mengurai apa-kah ada dan bagaimana faktor -faktor yang menjadi dasar terbentuknya stratifikasi
sosial yang diperebutkan oleh kelompok sosial (komunitas). Mereka yang berhasil merebut
sesuatu yang berharga atau ber -nilai dalam kelompok sosial (komunitas) tersebut akan
menduduki strata atas, se-dangkan mereka yang tidak berhasil merebut akan menduduki strata
bawah.
Kedua, menganalisis sistem distribusi hak -hak istimewa (penghasilan, kekayaan, kesehatan,
kewenangan) yang ada dan/atau berkembang dalam kelompok sosial (komunitas). Analisis ini
agak sama deng-an analisis butir pertama di atas, hanya bedanya faktor yang digunakan untuk
ana-lisis tampak lebih terbatas. Ketiga, meng -analisis sistem penghormatan ( prestige dan reward)
yang diciptakan oleh kelompok sosial (komunitas). Analisis ini diarahkan pada respon yang
diberikan pada kelompok tertentu, dengan meng -utamakan interaksi sosial yang terbentuk.
Keempat, menganalisis alasan-alasan konflik yang ada dan/atau berkembang dalam suatu
kelompok sosial (komunitas), apakah alasannya berdasarkan kualitas pribadi, keanggotaan
kelompok dalam ke-kerabatan tertentu, pemilikan, benda -benda ekonomi, kewenangan atau
kekua-saan. Kelima, menganalisis simbol -simbol kedudukan tertentu yang ada d an/atau
berkembang dalam suatu kelompok sosial (komunitas), misal cara berpakaian, model perumahan,
keanggotaan organisasi, perilaku sosial secara khusus. Keenam, menganalisis sirkulasi ke -
dudukan yang ada dan/atau berkembang dalam suatu kelompok sosial ( komunitas), misalnya:
apakah sirkulasinya cepat, lambat atau bahkan tidak ada sirkulasi. Dan ketujuh, menganalisis
solidaritas individual atau kelompok yang ada dan/atau ber -kembang dalam suatu kelompok
sosial (komunitas), misalnya, apakah solidaritas -nya berkembang berdasarkan ikatan fungsional
atau nilai-nilai tertentu.
Apa pun sistem analisis stratifikasi sosial yang kita pilih, studi -studi stratifikasi sosial dalam
sosiologi telah berkembang pesat dengan meletakkan stratifikasi sosial sebagai variabel X
(independen) maupun sebagai variabel Y (dependen), tergantung tipe analisis apa yang
digunakan. Oleh karena itu, agar analisis kita tidak dangkal, kita juga perlu mencermati konsep -
konsep yang berhimpitan dengan konsep stratifikasi sosial, misalnya kons ep tentang kemiskinan
(miskin atau sangat miskin), kesenjangan (lebar atau sempit), deferensiasi (apa dasar
terbentuknya), polarisasi (apa dasar terbentuknya), atau konsep -konsep lain yang berkaitan
dengan situasi yang hierarkhis dalam suatu kelompok sosia l.
Beberapa konsep tersebut berhimpitan dengan konsep stratifikasi sosial, karena dalam
kenyataannya stratifikasi sosial bisa muncul sebagai faktor yang mempengaruhi (variabel X), atau
faktor yang dipengaruhi (variabel Y). Misalnya, stratifikasi sosial bi sa mempengaruhi
kemiskinan, tapi seba-liknya, kemiskinan juga bisa mempenga -ruhi stratifikasi sosial.
Dalam kenyataan sosial biasanya simbol -simbol yang dihargai atau dinilai dan digunakan
sebagai dasar untuk memben-tuk stratifikasi sosial dalam suatu ke lompok sosial (komunitas) akan
bersifat kumulatif. Ini berarti ketika melakukan analisis stratifikasi sosial harus menggunakan
scoring untuk setiap simbol yang dihargai atau dinilai, kemudian menjumlahkan skor -skor
tersebut. Deskripsi stratifikasi sosial s elain akan berupa frekuensi dari masing -masing strata
dalam suatu kelompok sosial yang dikemukakan dalam suatu tabel frekuensi, bisa juga
dideskripsikan melalui skema piramida atau bentuk lain yang menggambarkan susunan secara
bertingkat.
Fungsi Lahan
Beberapa literatur menjelaskan bahwa fungsi lahan dalam analisis stratifikasi sosial sangatlah
kompleks, setidak-tidaknya jika dilihat dari dimensi sosiologis, dimensi eko -nomi (pertanian)
maupun dimensi ekologi (manusia) (Amaluddin, 1987; Maeda & Matulada , 1984; Sutanto, 2006;
Tjondro-negoro & Gunawan, 1984). Jika dilihat dari dimensi sosiologis, fungsi lahan bisa
dianalisis secara struktural dan/atau kultural, misalnya, jika dilihat dari dimensi ekonomi
(pertanian), fungsi lahan bisa ana -lisis dari pola-pola manajemen usaha tani yang dilakukan
petani. Sedangkan jika dilihat dari dimensi ekologi (manusia), fungsi lahan bisa dianalisis dari
situasi hu-bungan ko-eksistensial antara sistem sosial dengan ekosistem, dalam upayanya untuk
mencapai keseimbangan yang dinamis (steady state).
Dilihat dari dimensi sosiologis, fungsi lahan --baik dalam pengertiannya sebagai media tanam
(soil) maupun sebagai ruang (space)-- memang sangatlah kompleks. Misalnya, ketika manusia
baru mengenal usaha tani secara monokultur, maka fungsi lahan tidak hanya sebagai media
bercocok tanam secara subsisten saja, namun juga sebagai salah satu instrumen untuk mem -
bentuk stratifikasi sosial, struktur sosial, pranata sosial, sub -kebudayaan, dan berbagai perangkat
sosial lainnya.
Kompleksnya fungsi lahan dalam pe-ngertiannya sebagai media tanam ( soil) tersebut bisa
dilihat, misalnya: dari masalah ketimpangan rasio antara manusia dengan lahan ( man-land ratio),
meningkatnya kepadatan fisik (physical density) dan kepadatan agraris (agricultural density) pada
suatu daerah, dan menyempitnya rata -rata luas pemilikan dan/atau penguasaan lahan pertanian
dalam setiap rumah tangga tani, yang digunakan untuk usahatani.
Kekompleksan fungsi lahan dalam pengertiannya sebagai ruang ( space) bisa dilihat misalnya
dari makin mengecilnya daya dukung ( carrying capacity) lahan terhadap kebutuhan kehi -dupan
manusia, alih-fungsi lahan yang me-lebihi ambang-batas, dan penggunaan lahan marjinal untuk
membangun infra-struktur kehidupan manusia. Oleh karena itu, dalam sosiologi, analisis fungsi
lahan dalam stratifikasi sosial seyogianya dikaitkan dengan perspektif teori yang digunakan.
Setidak-tidaknya ada lima perspekif teori untuk menganalisis fungsi lahan dalam stratifikasi
sosial, yaitu: pertama, perspektif phisi okrat (dipopulerkan oleh Francois Quesnay); kedua,
perspektif klasik (dipopulerkan oleh David Ricardo); ketiga, perspektif ekonomi moral
(dipopulerkan James C. Scott); keempat, perspektif ekonomi politik (dipopulerkan oleh Samuel
L. Popkin); dan kelima, pe rspektif ekologi manusia (dipopulerkan oleh A.Terry Rambo).
Dalam perspektif phisiokrat, lahan dianggap sebagai sumber daya pertanian yang memiliki
hasil lebih (produit net), dan hasil lebih tersebut didistribusikan ke seluruh komponen
masyarakat, sesuai dengan posisinya dalam stratifikasi sosial. Oleh karena itu, menurut perspektif
ini, masalah utamanya terletak pada bagaimana manusia mengeksploitasi lahan sebagai salah satu
faktor produksi, yang hasilnya kemudian didistribusikan ke seluruh stra -tifikasi sosial yang ada
dalam suatu masya-rakat (komunitas), untuk dikonsumsi dan untuk melakukan produksi lagi.
Dalam konteks ini, fungsi lahan sangat mungkin mengalami persegeran dalam suatu masya -rakat
(komunitas), jika struktur stratifikasi sosial dalam masyara kat (komunitas) tersebut juga
mengalami pergeseran.
Dalam perspektif klasik, lahan dianggap sebagai sumber daya yang bisa menghasil -kan sewa
lahan (rent). Tinggi atau rendah-nya rent, sangat tergantung pada harga komoditas yang
diproduksinya. Misalnya, makin mahal harga beras akan makin tinggi rent-nya dan sebaliknya.
Dalam perkem-bangannya, perbedaan rent (defferential rent) ini tidak hanya dilihat dari
perbedaan kesuburuan lahan saja, namun juga dilihat dari perbedaannya dengan letak pasar.
Akibat besarnya permintaan produksi pertanian dan makin banyaknya petani melakukan usaha
tani yang sama, maka akan menyebabkan rent tersebut menjadi naik, dan akhirnya terjadilah
kelangkaan lahan (scarcity rent). Oleh karena itu, pada akhirnya, perbedaan rent ini juga akan
menjadi salah satu faktor atas terjadinya pergeseran dan/atau peru -bahan dalam stratifikasi sosial,
di mana hanya strata atas yang lebih memiliki akses untuk memiliki dan/atau menguasai lahan
yang menghasilkan rent yang tinggi. Dalam perspektif ekonomi moral, lahan dianggap sebagai
salah satu instrumen un-tuk menjalin hubungan sosial yang ber -landaskan pada moralitas.
Dalam konteks ini, moralitas menjadi indikator untuk mengukur baik atau buruk -nya jalinan
hubungan sosial. Misalnya, di kalangan masyar akat tani, adanya feno-mena komersialisasi
pertanian diyakini akan menyebabkan terjadinya perubahan hubungan antar -stratifikasi sosial.
James C. Scott (1979), misalnya, merumuskan adanya enam proposisi yang menjelaskan
hubungan antara komersialiasi pertani an dengan perubahan hubungan antar -stratifikasi sosial di
pedesaan, yaitu: pertama, ketidakmerataan yang makin besar dalam pemilikan lahan, menyebab -
kan penguasaan lahan menjadi dasar utama bagi kekuasaan; kedua, pertambah -an penduduk
menyebabkan kedudukan pemilik lahan dalam menghadapi penyewa dan/atau buruh tani menjadi
lebih kuat; ketiga, fluktuasi harga produsen, kon -sumen dan penetapan harga pasar menye -babkan
kedudukan pemilik lahan menjadi lebih kuat; keempat, hilangnya sumber mata -pencaharian di
waktu luang menye-babkan hilangnya alternatif yang mem-perlemah kedudukan penyewa lahan
da-lam menghadapi pemilik lahan; kelima, memburuknya mekanisme distribusi menyebabkan
hilangnya alternatif yang memperlemah kedudukan penyewa lahan dalam menghadapi pemili k
lahan, dan keenam, negara kolonial yang melindungi hak milik para pemilik lahan menyebabkan
pemilik lahan kurang membutuhkan klien yang setia.
Dalam perspektif ekonomi politik, lahan dianggap sebagai salah satu sumber daya untuk
melakukan suatu “permainan politik”. Artinya, suatu permainan yang memungkinan petani
memperoleh ke-untungan, terutama dalam kapasitasnya sebagai free-rider. Menurut Popkin
(1979), setidak-tidaknya ada empat “per-mainan politik” yang lazim dilakukan dan/atau menjadi
bahan pertimbangan petani, baik petani yang berada di posisi strata atas, strata tengah maupun
strata bawah, yaitu: pertama, seberapa besar sumber daya yang telah dikeluarkan; kedua, keun -
tungan apa yang akan diperolehnya, ketiga, ada atau tidaknya peluang untuk mela -kukan tindakan
dalam memperoleh keuntungan; keempat, ada -tidaknya pim-pinan yang mampu memobilisasi
sumber daya yang tersedia?
Dalam perspektif ekologi (manusia), lahan dianggap sebagai salah satu sumber daya yang bisa
ditransformasikan ke dalam suatu sis tem sosial. Seperti dijelaskan oleh A. Terry Rambo (1981),
bahwa antara sistem sosial dengan ekosistem terjalin hubungan yang harmonis, di mana kedua
sistem tersebut saling mentransformasikan energi, materi dan informasi untuk mencapai
keseimbangan yang dinamis (steady state). Masalah hubungan antara kedua sistem ini, akan
ditentukan oleh besarnya unit sumber daya (lahan) yang dimiliki. Makin besar sumber daya
(lahan) yang dimiliki atau makin tinggi strata sosial -nya, tentu akan makin besar pula kapasitas -
nya dalam melakukan transformasi energi, materi dan informasi.
Kelima perspektif teori tentang lahan tersebut --baik secara terpisah maupun bersama -sama--
akan mempengaruhi bagaimana sistem analisis dalam studi stra -tifikasi sosial. Misalnya, dalam
analisis sosiologi, lahan dianggap sebagai salah satu sumber daya yang memiliki potensi sebagai
pembentuk dan/atau perubah stratifikasi sosial. Dalam studi ini akan dilakukan analisis secara
struktural: (1) seberapa besar terjadi pergeseran stratifikasi sosial; (2) dampak apa saja yang
ditimbulkan dari pergeseran stratifikasi social tersebut? Jika merujuk Scott maka akan dinalisis:
apakah pergeseran stratifikasi sosial mempenga -ruhi hubungan patron-klien? Jika merujuk
Popkin maka akan dianalisis: apakah pergeseran stratifikasi sosial akan mem-pengaruhi “pola
permainan politik” petani?
Lebih jauh daripada itu, karena lahan juga memiliki fungsi ekonomi, di mana la -han dianggap
sebagai sumber daya produk-tif untuk melakukan usaha tani, maka akan dianalisis: tentang
karakteristik usaha tani, yang meliputi aliran pendapatan dan/atau pengeluaran keluarga tani,
analisis tentang rasio keuntungan dan kerugian (B/C ratio) usaha tani, analisis rasio
pengembalian modal (R/C ratio) dalam usaha tani, dan analisis tentang fungsi p roduksi.
Sementara itu, untuk analisis kultural, dimensinya tidak akan jauh beda dengan analisis secara
struktural, yaitu: (1) melihat unsur -unsur apa saja dari kultur petani yang mengalami pergeseran;
(2) dampak apa saja yang timbul dari pergeseran terse but? (lihat: konsep Everett M. Rogers
tentang The Subculture of Peasantry). Meski antara struktur dan kultur merupakan dua konsep
yang beda, namun keduanya merupakan satu kesatuan kon -sep (two face of one coin) dalam
analisis stratifikasi sosial. Artinya, perubahan-perubahan dalam sesuatu yang dihargai dan/atau
di-nilai dalam suatu masyarakat (komunitas), yang kemudian menjadi ins -trumen dasar dalam
membentuk stratifi-kasi sosial, sebenarnya tidak terlepas dari nilai -nilai kultural yang menjadi
acuan dalam masyarakat (komunitas) tersebut.
Oleh karena itu, agar diperoleh hasil analisis stratifikasi sosial yang kompre -hensif,
seyogianya kita tidak hanya meng-gunakan satu perspektif saja, apalagi jika yang kita analisis
adalah sistem stratifikasi sosial dalam suatu masyarakat yang se -dang mengalami transformasi,
baik di pe-desaan, perkotaan maupun interface an-tara pedesaan dan perkotaan. Pengertian lahan
sebagai soil misalnya, dalam realita sosial saat ini juga sedang mengalami per -geseran, karena
fungsi tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh rata -rata luas penguasaan lahan saja, namun juga di -
pengaruhi oleh tingkat produktivitas lahan. Ini berarti, pengertian lahan sebagai soil dan sebagai
space sebenarnya saling tumpang-tindih, apalagi jika digunakan untuk menganalisis stratifikasi
sosial.
Prosedur Pengukuran
Pada umumnya dalam kehidupan ber -masyarakat selalu akan ada kategorisasi anggota
komunitasnya berdasarkan skala superioritas atau inferioritas, karena memang dalam
kenyataannya akan selalu ada suatu p erbedaan-perbedaan di antara mereka secara signifikan
(Hasbullah, 2006). Perbedaan-perbedaan itulah yang menjadi awal dari munculnya ketegorisasi
tersebut. Kategorisasi secara vertikal inilah yang kemudian membentuk suatu stratifikasi sosial
dalam komunitas itu.
Dalam melakukan pengukuran stratifikasi sosial akan berlaku asumsi -asumsi bahwa: pertama,
ada perbedaan strata dan perbedaan tesebut akan meningkat seiring dengan mening -katnya
aktivitas sosial di dalam komunitas. Kedua, hubungan antara aktivitas s osial dengan integrasi
antar-kelompok akan berbentuk kurve linier. Dan ketiga, ada korelasi yang negatif antara
integrasi antar-kelompok dengan perbedaan dalam strata.
Untuk melakukan pengukuran strati -fikasi sosial dengan dengan unit analisis individu,
setidak-tidaknya akan dilakukan dengan empat cara (dimensi), yaitu: per -tama, melakukan
pengukuran stratifi-kasi sosial dengan cara menilai diri sendiri ( self ranking). Cara pengukuran
seperti ini disebut sebagai pengukuran secara su -byektif. Kedua, melakukan pengukuran
stratifikasi sosial dengan cara menilai po -sisi seseorang dalam komunitas. Cara pengukuran
seperti ini disebut sebagai pengukuran secara obyektif. Ketiga, me-lakukan pengukuran
stratifikasi sosial dengan menggunakan indikator -indikator interaksi. Cara pengukuran ini disebut
sebagai pengukuran secara intersubyektif. Dan keempat, melakukan pengukuran stratifikasi sosial
dengan menggunakan indikator -indikator secara khusus.
Pengukuran stratifikasi sosial dengan menggunakan cara penilaian diri sen diri artinya, peneliti
mengajukan berbagai pertanyaan kepada responden, untuk me -nilai status sosial mereka sendiri.
Dalam praktek di lapangan, pada umumnya menggunakan pertanyaan yang bersifat open-ended
questions, para responden cenderung akan menempatk an dirinya (menjawab pertanyaan -
pertanyaan dalam kuesioner) tersebut pada posisi tengah.
Pengukuran stratifikasi sosial yang menggunakan cara peng -ukuran komunitas adalah peneliti
mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada sejumlah informan yang secara senga ja dipilih, untuk
menilai status sosial seseorang (orang lain). Wawancara ini bertujuan untuk: pertama, mengetahui
berapa jumlah strata sosial yang diakui oleh komunitas; dan kedua, mengetahui di mana
seseorang sebagai anggota komunitas ditempatkan pada st rata sosial?
Untuk melakukan pengukuran ini, setidak -tidaknya ada enam dimensi pertanyaan standar yang
harus dikemuka-kan, yaitu: pertama, pertanyaan yang digunakan untuk mencocokkan, artinya:
pertanyaan tersebut ditujukan untuk mencocokan suatu data atau informasi, misalnya: apakah
posisi sosial seseorang anggota komunitas memang pas, sesuai dengan pengukuran
komunitasnya. Kedua, pertanyaan yang digunakan untuk menempatkan secara simbolis, artinya:
pertanyaan tersebut mengarah pada ada -tidaknya simbol-simbol tertentu yang melekat pada
seseorang anggota komunitas. Misalnya: seseorang (X) adalah orang miskin yang hidup dalam
lingkungan yang kumuh. Ketiga, pertanyaan yang digunakan untuk melihat reputasi status sosial,
artinya: pertanyaan ini diarahkan untuk melihat bagaimana reputasi seseorang dalam komunitas.
Misalnya: dengan menanyakan apakah seseorang (X) adalah orang miskin, tetapi dia jujur?
Keempat, pertanyaan yang membanding -kan, artinya: pertanyaan tersebut berupa pertanyaan
pembandingan antar-status sosial. Misalnya: dengan menanyakan apakah status sosial seseorang
(X) lebih tinggi daripada status sosial seseorang yang lain (Y)? Kelima, pertanyaan yang
digunakan untuk menetapkan secara sederhana, artinya: pertanyaan tersebut mengarah pada
penetapan posisi status. Misalnya: dengan menanyakan apakah seseorang (X) adalah termasuk ke
dalam strata menengah? Dan keenam, pertanyaan yang digunakan untuk melihat keanggotaan
dalam kelembagaan, artinya: pertanyaan tersebut berupa pertanyaan tentang keanggotaan
seseorang dalam suatu lembaga. Misalnya: dengan menanyakan apakah seseorang (X) adalah
anggota suatu lembaga tertentu, yang memiliki strata tertentu dalam komunitas?
Cara pengukuran stratifikasi sosial dengan menggunakan indikator interaksi artinya,
mengukur stratifikasi sosial dengan melihat pola interaksi sosial yang terjadi antar -kelompok
dalam komunitas. Pola interaksi ini ada dua, yaitu: pertama, interaksi yang saling membedakan
antar-kelompok, misalnya: dengan memperhati -kan bentuk-bentuk/simbol yang digunakan dalam
interaksi); dan kedua, interaksi yang saling mempengaruhi antar -kelompok, misalnya: dengan
melihat cara seseorang diperlakukan oleh orang lain. Sedangkan cara pengukuran stratifikasi
sosial dengan menggunakan indikator secara khusus artinya, mengukur stratifikasi sosial deng-an
cara menggunakan indikator yang secara sengaja (khusus) dirumuskan. Misalnya, dengan
menggunakan indikator: pertama, pekerjaan yang dilakukan (jenis, gengsi, jabatan); kedua,
penghasilan yang diperoleh (jumlah, jenis tu njangan, aliran dana); ketiga, keadaaan kondisi perumahan
(tipe, model, kualitas bangunan); dan keempat, kawasan tempat tinggal/perumahan
(kawasan elite, kumuh).
Apa pun cara yang digunakan untuk mengukur stratifikasi sosial, biasanya scoring digunakan,
apalagi jika peng-ukuran tersebut menggunakan banyak indikator. Prosedur scoring ini untuk
melihat berapa banyak score yang dimiliki seseorang, setelah menjawab berbagai pertanyaan
yang diajukan tentang di mana posisi sosial mereka. Sehingga pada akhirnya akan tampak di
mana sebenar-nya posisi sosialnya. Untuk menghasilkan pengukuran stratifikasi sosial yang valid
dan reliable seyogianya menggunakan keempat dimensi tersebut secara ber -sama-sama. Artinya,
pengukuran tersebut menggunakan cara penilaian diri s endiri, menggunakan cara penilaian
komunitas, menggunakan indikator interaksi antar -kelompok, dan menggunakan indikator secara
khusus. Keempat dimensi ini kemudian perolehan score-nya digabung.
Secara prinsip cara penggabung-an score ini tidak berbeda dengan cara penggabungan score
dalam proses analisis data kuantitatif pada umumnya, dengan langkah -langkah sebagai berikut:
pertama, lebih dulu definisikan konsep -konsep yang digunakan untuk mengukur stratifikasi
sosial. Kedua, tentukan score dari masing-masing jawaban yang diberikan responden sesuai
konsep/teori yang digunakan. Ketiga, lakukan pengumpulan data, atas sejumlah responden
tertentu. Keempat, lakukan analisis data (penggabungan score). Kelima, tarik suatu kesimpulan,
yang memperlihatkan di mana pos isi hierarkhis seseorang dalam komu -nitas. Penggabungan
score dilakukan dengan cara masing-masing score dalam setiap jawaban yang paling tinggi
dijumlah dan yang paling rendah juga dijumlah. Kemudian dicari selisihnya ( range)-nya untuk
menentukan berapa intervalnya. Setelah interval ditemukan, masing -masing perolehan score
responden bisa ditentukan di mana posisinya.
Parameter Pengukuran
Dalam setiap teori stratifikasi sosial ada perbedaan parameter yag digunakan untuk mengukur
stratifikasi sosial. Namun secara umum dikenal ada tiga parameter yang digunakan untuk
mengukur stratifikasi sosial, yaitu: pertama, dengan meng -gunakan parameter distributif. Artinya,
deskripsi stratifikasi sosial pada suatu kelompok sosial (komunitas) dilakukan dengan cara
mengukur distribusi barang dan/atau jasa. Misalnya: adanya stratifikasi sosial dalam sistem
penggajian karyawan, merupakan bukti adanya ketidakmerataan disribusi barang dan/atau jasa
dalam kelompok sosial (komunitas) ini. Kedua, dengan menggunakan parameter kor elatif.
Artinya, deskripsi stratifikasi sosial pada suatu kelompok sosial (komunitas) dilakukan dengan
cara mengkorelasikan berbagai faktor yang menjadi dasar terbentuknya stratifikasi sosial.
Misalnya: adanya stratifikasi sosial karena adanya hubungan yan g korelasional antar-faktorfaktor
yang membentuk stratifikasi sosial.
Dalam realitanya, mereka yang menduduki strata sosial atas adalah mereka yang memiliki
kekuasaan, memiliki pendidikan tinggi dan memiliki jabatan. Dan ketiga, dengan menggunakan
parameter tingkat perubahan. Artinya, deskripsi stratifikasi sosial pada suatu kelompok sosial
(komunitas) dilakukan dengan cara mengukur kecepatan perubahan dan implikasi sosialnya.
Misalnya, adanya stratifikasi sosial karena adanya perubahan yang memiliki impl ikasi sosial.
Semakin perubahan tersebut tidak memiliki implikasi sosial, maka semakin memperlambat
perubahan stratifikasi sosial.
Apa pun parameter yang digunakan untuk mengukur stratifikasi sosial, pada umumnya studi -
studi sosiologi kontemporer memfokusk an pada aspek mobilitas antar -stratanya. Artinya, dalam
stratifikasi sosial tersebut dilihat apakah ada kemungkinan dan/atau sejauhmana bisa terjadi gerak
(perubahan) antar-strata yang ada. Posisi strata bawah akankah bisa bergerak menjadi (berada)
strata tengah, dsb. Mobilitas antar -strata tersebut dianggap rendah jika faktor kelahiran dan
kematian sangat me-nentukan posisi individu dalam stratifikasi sosial (lihat: perbedaan konsep
ascribed status dan achieved status). Sebaliknya, mobilitas sosial antar -strata dianggap tinggi jika
posisi individu tidak tergantung pada kelahiran atau kematian. Ditinjau secara teoritis, tinggi -
rendahnya mobilitas antar -strata tergantung pada model stratifi -kasi sosial yang tumbuh dan/atau
berkem-bang dalam kelompok sosial (komunitas).
Secara umum dikenal lima model stratifikasi sosial, yaitu: pertama, model kasta, di mana
dalam model ini tingkat mobilitas antar -stratanya tidak dimungkin-kan (nol). Kedua, model strata,
di mana dalam model ini tingkat mobilitas antar -stratanya rendah. Ketiga, model kelas, di mana
dalam model ini tingkat mobilitas antar -stratanya menengah. Keempat, model kontinum, di mana
dalam model ini tingkat mobilitas antar -stratanya agak tinggi. Dan kelima, model egalitarian, di
mana dalam model ini tingkat mobilitas antar-stratanya sangat tinggi.
Dalam menganalisis kelima model stratifikasi sosial yang ada dalam suatu kelompok sosial
(komunitas), pada umumnya kita jarang menggunakan konsep interaksi dan integrasi, yang
merupakan dua faktor yang yang sangat signifikan dan inherent dalam stratifikasi sosial.
Misalnya, kita jarang menganalisis: apakah kesamaan status sosial akan cenderung menyebabkan
tingginya frekuensi interaksi sosial dikalangan mereka? Atau: apakah mereka yang memiliki
status sosial yang sama akan cenderung melakukan integrasi atau disintegrasi dalam
komunitasnya? Interaksi sosial di sini tidak dimaksudkan untuk melihat benar atau tidaknya
hubungan antar-strata, namun sebagai asumsi bahwa interaksi sosial tersebut akan memberikan
implikasi hubungan antar-strata. Misalnya, mereka akan melakukan interaksi, karena mereka
dalam kondisi yang saling menguntungkan. Dengan kata lain: interaksi sosial di antara kedua
strata tersebut bersifat simbiosis mutualisme. Jika mereka yang melakukan interaksi so sial
tersebut dalam posisi statusnya sama (sama -sama tinggi atau sama-sama rendah), maka
interaksinya disebut sepadan. Namun, jika interaksi tersebut terjadi karena adanya pilihan mereka
sendiri (mungkin berbeda status) yang diperkuat dengan ikatan bersama , maka interaksi sosial
tersebut disebut konsensus. Dalam konteks ini, adalah wajar terjadi jika intensitas interaksi sosial
akan terjadi seiring dengan meningkatnya kesadaran akan status. Interaksi sosial tersebut akan
menurun frekuensinya, seiring dengan meningkat-nya perbedaan status antar -mereka yang
melakukan interaksi sosial (lihat: bagaimana terjadinya proses deferensiasi dan polarisasi sosial,
akibat dari adanya kesenjangan antar -strata sosial yang semakin lebar).
Untuk mengintegrasikan individu ya ng mengelompok secara longgar ke dalam suatu
kelompok solidaritas diperlukan interaksi sosial yang intensif. Secara teoritis sering
dikemukakan bahwa integrasi akan lebih besar kemungkinannya ditemukan dalam kelompok
yang perubahan sosialnya relatif lamba t, karena lambatnya perubahan sosial itu memberikan
kesempatan pada individu untuk menempati posisi yang sama dalam waktu yang relatif lama.
Model stratifikasi sosial yang berbentuk kasta, strata, dan kelas hanya akan berkembang menjadi
kelompok yang terintegrasi jika ada kondisi khusus yang menyertai. Pada masyarakat industri
misalnya, umumnya intergrasi sosial dalam kelompok -kelompok besar sangat tergantung pada
adanya organisasi yang otonom yang menjembatani terjadinya interaksi antar -kelompok.
Organisasi otonom ini berfungsi sebagai penengah atas adanya perbedaan antar -strata, misalnya:
antara strata penguasa (pemerintah) dengan strata bawah (buruh). Saat ini, untuk melakukan studi
tentang stratifikasi sosial tidak hanya akan berkaitan dengan cara -cara pengukuran-nya saja,
namun juga berkaitan dengan mobilitas antar -strata dan implikasi-implikasi dari mobilitas antar -
strata tersebut, terutama dilihat dari dimensi interaksi dan integrasi sosialnya.
Daftar Pustaka
Amaluddin, Moh., Kemiskinan dan Polarisasi Sosial: Studi Kasus di Desa Bulugede, Kabupaten
Kendal, Jawa Tengah (Jakarta: UI Press, 1987).
Beteille, Andre, Inequality among Man (London: Basil Blac Well, 1977).
Dahrendorf, Ralf, Konflik dan Konflik Kelas dalam Masyarakat Industri (Jakarta: CV Rajawali,
1986).
Dewanta, Awan Setya (ed)., Kemiskinan dan Kesenjangan di Indonesia (Yogyakarta: Aditya
Media, 1995).
Laeyendecker, L., Tata, Perubahan dan Ketimpangan (Jakarta: PT Gramedia, 1983).
Maeda, Narifumi & Matulada, Transformation of the Agricultural Landscape in Indonesia
(Japan: Center for South East Asian Studies, Kyoto University, 1984).
Popkin, Samuel L., The Rational Peasant: The Political Economy of Rural Society in Vietnam
(California: California University Press, 1979).
Rambo, A. Terry, Conceptual Approaches to Human Ecology (Honolulu: East-West Environment
and Policy Institute, 1981).
Salim, Agus, Stratifikasi Etnik: Kajian Mikro Sosiologi Interaksi Etnis Jawa dan Cina
(Yogyakarta: Tiara Wacana, 2006).
Scott, James C., The Moral Economy of the Peasant: Rebellion and Subsistence in South East
Asia (New Haven: Yale University Press, 1979).
Sutanto Jusuf & Tim (ed)., Revitalisasi Pertanian dan Dialog Peradaban (Jakarta: PT Kompas
Media Nusan-tara, 2006).
Svalastoga, Kaare, Social Differentiation (USA: University of Washington, 1989).
Tjondronegoro, Sediono M.P. & Gunawan Wiradi, Dua Abad Penguasaan Tanah: Pola
Penguasaan Tanah Pertanian dari Masa ke Masa (Jakarta: PT Gramedia, 1984).

_++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++_

Prosedur Analisis Stratifikasi Sosial
dalam Perspektif Sosiologi
Doddy Sumbodo Singgih
Jurusan Ilmu Sosiologi FISIP, Universitas Airlangga
Abstract
Social stratification is a concept that can be useful in analyzing both society and state system. In ord er to
have a useful analysis, however, it needs a proper procedure, which allows it to be applied in various
targets. By so doing, the result of analysis could be useful for either a community or those who wish to be
agent of social, economical, political, and even cultural change.
Keyword: systemic analysis, social stratification, community.
Per definisi, stratifikasi sosial adalah sebuah konsep yang menunjukkan adanya pembedaan
dan/atau pengelompokan suatu kelompok sosial (komunitas) secara bertingkat. Misalnya: dalam
komunitas tersebut ada strata tinggi, strata sedang dan strata rendah. Pembedaan dan/atau
pengelompokan ini didasarkan pada adanya suatu simbol -simbol tertentu yang dianggap berharga
atau bernilai — baik berharga atau bernilai secara sosial , ekonomi, politik, hukum, budaya
maupun dimensi lainnya — dalam suatu kelompok sosial (komunitas). Simbol -simbol tersebut
misalnya, kekayaan, pendidikan, jabatan, kesalehan dalam beragama, dan pekerjaan. Dengan kata
lain, selama dalam suatu kelompok sosia l (komunitas) ada sesuatu yang dianggap berharga atau
bernilai, dan dalam suatu kelompok sosial (komunitas) pasti ada sesuatu yang dianggap berharga
atau bernilai, maka selama itu pula akan ada stratifikasi sosial dalam kelompok sosial (komunitas)
tersebut. Secara sosiologis --jika dilacak ke belakang-- konsep stratifikasi sosial memang kalah
populer dengan istilah kelas sosial, dimana istilah kelas sosial pada awalnya menurut Ralf
Dahrendorf (1986), diperkenalkan pertama kali oleh penguasa Romawi Kuno. P ada waktu itu,
istilah kelas sosial digunakan dalam konteks penggolongan masyarakat terhadap para pembayar
pajak. Ketika itu ada dua masyarakat, yaitu masyarakat golongan kaya dan miskin.
Pada abad ke-18, istilah kelas sosial digunakan oleh ilmuwan Eropa d alam pengertian yang
berbeda, yaitu digunakan dalam pengertian sebagai status sosial atau kedudukan. Dengan kata
lain, istilah kelas sosial dan status sosial dianggap sama. Pada abad ke -19, istilah kelas sosial
mulai digunakan dalam analisis kesenjangan so sial yang berakar dari kondisi ekonomi suatu
masyarakat. Akhirnya sejak Marx mengajukan konsepnya tentang kelas sosial penggunaan istilah
ini dibedakan dengan istilah status sosial.
Dalam studi-studi sosiologi kontempo-rer, istilah status sosial dikaitkan dengan istilah peran
(role), di mana kedua istilah tersebut memiliki hubungan yang bersifat ko -eksistensial (Beteille,
1977). Misalnya, jika ada status sosial tentu akan ada peran sosial, semakin tinggi status sosial
semakin banyak peran sosialnya, atau s emakin tinggi status sosial semakin sedikit peran
sosialnya.
Perbedaan secara tegas antara kelas sosial dan status sosial antara lain dikemu -kakan Max
Weber dengan mengaju-kan konsep tentang kelas sosial, status sosial dan partai. Menurut Weber,
kelas sosial merupakan stratifikasi sosial yang berkaitan dengan hubungan produksi dan
penguasaaan kekayaan. Sedangkan status sosial merupakan manifestasi dari stratifikasi sosial
yang berkaitan dengan prinsip yang dianut oleh komunitas dalam mengkonsumsi kekayaa nnya
dan/atau gaya hidupnya. Partai merupa -kan perkumpulan sosial yang berorientasi penggunaan
kekuasaan untuk mempenga-ruhi suatu tindakan sosial tertentu.
Konsep Weber tentang kelas sosial merupakan perluasan dari konsep Marx. Menurut Marx,
kelas sosial meru-pakan himpunan orang-orang yang mem-peragakan fungsi yang sama dalam or -
ganisasi produksi. Kelas-kelas sosial dalam komunitas dibedakan berdasarkan per -bedaan
posisinya dalam tatanan ekonomi, yaitu pembedaan dalam posisinya dalam penguasaan alat -alat
produksi. Weber menggunakan istilah kelas sosial dalam pengertian seperti yang digunakan
Marx, dengan menambahkan dua faktor, yaitu kemampuan individu dan situasi pasar. Menurut
Weber: pertama, kelas merupa-kan himpunan manusia yang berada dalam situasi ya ng sama;
kedua, kelas bukan merupakan sebuah komunitas
Dimensi Stratifikasi Sosial
Ada banyak dimensi yang bisa digunakan untuk mendeskripsikan stratifikasi sosial yang ada
dalam suatu kelompok sosial atau komunitas (Svalastoga, 1989), misalnya: dimensi pemilikan
kekayaan (diteorikan Koentjaraningrat), sehingga ada strata wong sugih dan wong cilik. Awalnya,
di-mensi ini digunakan untuk melakukan identifikasi pada masyarakat Jawa, maka yang disebut
pemilikan kekayaan akan ter -fokus pada simbol-simbol ekonomi yang lazim dihargai masyarakat
Jawa. Misalnya, pemilikan tanah (rumah, pekarangan atau sawah).
Dimensi distribusi sumber daya diteorikan oleh Gerhard Lensky, di mana ada strata tuan
tanah, strata petani bebas, strata pedagang, strata pegawai, strata p etani, strata pengrajin, strata
penganggur-an, dan strata pengemis. Dimensi ini pada awalnya diberlakukan pada masyarakat
pra-industri di mana sistem stratifikasi sosialnya belum sekompleks masyarakat industri. Ada
tujuh dimensi stratifikasi sosial (diteor ikan Bernard Baber), yaitu: occupational prestige,
authority and power ranking, income or wealth, educational and knowledge, religious and ritual
purity, kinship, ethnis group, and local community. Ketujuh dimensi ini, baik secara terpisah
maupun bersama-sama, akan bisa membantu dalam mendes -kripsikan bagaimana susunan
stratifikasi sosial suatu kelompok sosial (komunitas) dan faktor yang menjadi dasar terben -tuknya
stratifikasi sosial tersebut.
Samuel Huntington mengemukakan bahwa ada dimensi modernisasi u ntuk menjelaskan
stratifikasi sosial, yaitu: strata sosial (baru) yang mampu merealisasi aspirasinya ( the new have)
dan strata sosial yang tidak mampu merealisasi aspirasinya atau mereka kalah dalam
memperebutkan posisi strata dalam komunitasnya ( the looser). Dimensi ini lebih terfokus pada
stratifikasi sosial yang pembentukannya didasarkan pada berbagai simbol gaya hidup. Teorisasi
Huntington ini dalam beberapa hal berhimpitan dengan teori Leisure Class-nya dari Thorstein
Veblen (Beteille, 1977).
Sistem Analisis
Ada banyak sistem analisis stratifikasi sosial yang saat ini lazim digunakan dalam studi -studi
sosiologi kontemporer, misalnya pertama, menganalisis sistem pertentangan (konflik) yang ada
dan/atau berkembang dalam suatu kelompok sosial (komunitas ). Analisis ini diarahkan untuk
mengurai apa-kah ada dan bagaimana faktor -faktor yang menjadi dasar terbentuknya stratifikasi
sosial yang diperebutkan oleh kelompok sosial (komunitas). Mereka yang berhasil merebut
sesuatu yang berharga atau ber -nilai dalam kelompok sosial (komunitas) tersebut akan
menduduki strata atas, se-dangkan mereka yang tidak berhasil merebut akan menduduki strata
bawah.
Kedua, menganalisis sistem distribusi hak -hak istimewa (penghasilan, kekayaan, kesehatan,
kewenangan) yang ada dan/atau berkembang dalam kelompok sosial (komunitas). Analisis ini
agak sama deng-an analisis butir pertama di atas, hanya bedanya faktor yang digunakan untuk
ana-lisis tampak lebih terbatas. Ketiga, meng -analisis sistem penghormatan ( prestige dan reward)
yang diciptakan oleh kelompok sosial (komunitas). Analisis ini diarahkan pada respon yang
diberikan pada kelompok tertentu, dengan meng -utamakan interaksi sosial yang terbentuk.
Keempat, menganalisis alasan-alasan konflik yang ada dan/atau berkembang dalam suatu
kelompok sosial (komunitas), apakah alasannya berdasarkan kualitas pribadi, keanggotaan
kelompok dalam ke-kerabatan tertentu, pemilikan, benda -benda ekonomi, kewenangan atau
kekua-saan. Kelima, menganalisis simbol -simbol kedudukan tertentu yang ada d an/atau
berkembang dalam suatu kelompok sosial (komunitas), misal cara berpakaian, model perumahan,
keanggotaan organisasi, perilaku sosial secara khusus. Keenam, menganalisis sirkulasi ke -
dudukan yang ada dan/atau berkembang dalam suatu kelompok sosial ( komunitas), misalnya:
apakah sirkulasinya cepat, lambat atau bahkan tidak ada sirkulasi. Dan ketujuh, menganalisis
solidaritas individual atau kelompok yang ada dan/atau ber -kembang dalam suatu kelompok
sosial (komunitas), misalnya, apakah solidaritas -nya berkembang berdasarkan ikatan fungsional
atau nilai-nilai tertentu.
Apa pun sistem analisis stratifikasi sosial yang kita pilih, studi -studi stratifikasi sosial dalam
sosiologi telah berkembang pesat dengan meletakkan stratifikasi sosial sebagai variabel X
(independen) maupun sebagai variabel Y (dependen), tergantung tipe analisis apa yang
digunakan. Oleh karena itu, agar analisis kita tidak dangkal, kita juga perlu mencermati konsep -
konsep yang berhimpitan dengan konsep stratifikasi sosial, misalnya kons ep tentang kemiskinan
(miskin atau sangat miskin), kesenjangan (lebar atau sempit), deferensiasi (apa dasar
terbentuknya), polarisasi (apa dasar terbentuknya), atau konsep -konsep lain yang berkaitan
dengan situasi yang hierarkhis dalam suatu kelompok sosia l.
Beberapa konsep tersebut berhimpitan dengan konsep stratifikasi sosial, karena dalam
kenyataannya stratifikasi sosial bisa muncul sebagai faktor yang mempengaruhi (variabel X), atau
faktor yang dipengaruhi (variabel Y). Misalnya, stratifikasi sosial bi sa mempengaruhi
kemiskinan, tapi seba-liknya, kemiskinan juga bisa mempenga -ruhi stratifikasi sosial.
Dalam kenyataan sosial biasanya simbol -simbol yang dihargai atau dinilai dan digunakan
sebagai dasar untuk memben-tuk stratifikasi sosial dalam suatu ke lompok sosial (komunitas) akan
bersifat kumulatif. Ini berarti ketika melakukan analisis stratifikasi sosial harus menggunakan
scoring untuk setiap simbol yang dihargai atau dinilai, kemudian menjumlahkan skor -skor
tersebut. Deskripsi stratifikasi sosial s elain akan berupa frekuensi dari masing -masing strata
dalam suatu kelompok sosial yang dikemukakan dalam suatu tabel frekuensi, bisa juga
dideskripsikan melalui skema piramida atau bentuk lain yang menggambarkan susunan secara
bertingkat.
Fungsi Lahan
Beberapa literatur menjelaskan bahwa fungsi lahan dalam analisis stratifikasi sosial sangatlah
kompleks, setidak-tidaknya jika dilihat dari dimensi sosiologis, dimensi eko -nomi (pertanian)
maupun dimensi ekologi (manusia) (Amaluddin, 1987; Maeda & Matulada , 1984; Sutanto, 2006;
Tjondro-negoro & Gunawan, 1984). Jika dilihat dari dimensi sosiologis, fungsi lahan bisa
dianalisis secara struktural dan/atau kultural, misalnya, jika dilihat dari dimensi ekonomi
(pertanian), fungsi lahan bisa ana -lisis dari pola-pola manajemen usaha tani yang dilakukan
petani. Sedangkan jika dilihat dari dimensi ekologi (manusia), fungsi lahan bisa dianalisis dari
situasi hu-bungan ko-eksistensial antara sistem sosial dengan ekosistem, dalam upayanya untuk
mencapai keseimbangan yang dinamis (steady state).
Dilihat dari dimensi sosiologis, fungsi lahan --baik dalam pengertiannya sebagai media tanam
(soil) maupun sebagai ruang (space)-- memang sangatlah kompleks. Misalnya, ketika manusia
baru mengenal usaha tani secara monokultur, maka fungsi lahan tidak hanya sebagai media
bercocok tanam secara subsisten saja, namun juga sebagai salah satu instrumen untuk mem -
bentuk stratifikasi sosial, struktur sosial, pranata sosial, sub -kebudayaan, dan berbagai perangkat
sosial lainnya.
Kompleksnya fungsi lahan dalam pe-ngertiannya sebagai media tanam ( soil) tersebut bisa
dilihat, misalnya: dari masalah ketimpangan rasio antara manusia dengan lahan ( man-land ratio),
meningkatnya kepadatan fisik (physical density) dan kepadatan agraris (agricultural density) pada
suatu daerah, dan menyempitnya rata -rata luas pemilikan dan/atau penguasaan lahan pertanian
dalam setiap rumah tangga tani, yang digunakan untuk usahatani.
Kekompleksan fungsi lahan dalam pengertiannya sebagai ruang ( space) bisa dilihat misalnya
dari makin mengecilnya daya dukung ( carrying capacity) lahan terhadap kebutuhan kehi -dupan
manusia, alih-fungsi lahan yang me-lebihi ambang-batas, dan penggunaan lahan marjinal untuk
membangun infra-struktur kehidupan manusia. Oleh karena itu, dalam sosiologi, analisis fungsi
lahan dalam stratifikasi sosial seyogianya dikaitkan dengan perspektif teori yang digunakan.
Setidak-tidaknya ada lima perspekif teori untuk menganalisis fungsi lahan dalam stratifikasi
sosial, yaitu: pertama, perspektif phisi okrat (dipopulerkan oleh Francois Quesnay); kedua,
perspektif klasik (dipopulerkan oleh David Ricardo); ketiga, perspektif ekonomi moral
(dipopulerkan James C. Scott); keempat, perspektif ekonomi politik (dipopulerkan oleh Samuel
L. Popkin); dan kelima, pe rspektif ekologi manusia (dipopulerkan oleh A.Terry Rambo).
Dalam perspektif phisiokrat, lahan dianggap sebagai sumber daya pertanian yang memiliki
hasil lebih (produit net), dan hasil lebih tersebut didistribusikan ke seluruh komponen
masyarakat, sesuai dengan posisinya dalam stratifikasi sosial. Oleh karena itu, menurut perspektif
ini, masalah utamanya terletak pada bagaimana manusia mengeksploitasi lahan sebagai salah satu
faktor produksi, yang hasilnya kemudian didistribusikan ke seluruh stra -tifikasi sosial yang ada
dalam suatu masya-rakat (komunitas), untuk dikonsumsi dan untuk melakukan produksi lagi.
Dalam konteks ini, fungsi lahan sangat mungkin mengalami persegeran dalam suatu masya -rakat
(komunitas), jika struktur stratifikasi sosial dalam masyara kat (komunitas) tersebut juga
mengalami pergeseran.
Dalam perspektif klasik, lahan dianggap sebagai sumber daya yang bisa menghasil -kan sewa
lahan (rent). Tinggi atau rendah-nya rent, sangat tergantung pada harga komoditas yang
diproduksinya. Misalnya, makin mahal harga beras akan makin tinggi rent-nya dan sebaliknya.
Dalam perkem-bangannya, perbedaan rent (defferential rent) ini tidak hanya dilihat dari
perbedaan kesuburuan lahan saja, namun juga dilihat dari perbedaannya dengan letak pasar.
Akibat besarnya permintaan produksi pertanian dan makin banyaknya petani melakukan usaha
tani yang sama, maka akan menyebabkan rent tersebut menjadi naik, dan akhirnya terjadilah
kelangkaan lahan (scarcity rent). Oleh karena itu, pada akhirnya, perbedaan rent ini juga akan
menjadi salah satu faktor atas terjadinya pergeseran dan/atau peru -bahan dalam stratifikasi sosial,
di mana hanya strata atas yang lebih memiliki akses untuk memiliki dan/atau menguasai lahan
yang menghasilkan rent yang tinggi. Dalam perspektif ekonomi moral, lahan dianggap sebagai
salah satu instrumen un-tuk menjalin hubungan sosial yang ber -landaskan pada moralitas.
Dalam konteks ini, moralitas menjadi indikator untuk mengukur baik atau buruk -nya jalinan
hubungan sosial. Misalnya, di kalangan masyar akat tani, adanya feno-mena komersialisasi
pertanian diyakini akan menyebabkan terjadinya perubahan hubungan antar -stratifikasi sosial.
James C. Scott (1979), misalnya, merumuskan adanya enam proposisi yang menjelaskan
hubungan antara komersialiasi pertani an dengan perubahan hubungan antar -stratifikasi sosial di
pedesaan, yaitu: pertama, ketidakmerataan yang makin besar dalam pemilikan lahan, menyebab -
kan penguasaan lahan menjadi dasar utama bagi kekuasaan; kedua, pertambah -an penduduk
menyebabkan kedudukan pemilik lahan dalam menghadapi penyewa dan/atau buruh tani menjadi
lebih kuat; ketiga, fluktuasi harga produsen, kon -sumen dan penetapan harga pasar menye -babkan
kedudukan pemilik lahan menjadi lebih kuat; keempat, hilangnya sumber mata -pencaharian di
waktu luang menye-babkan hilangnya alternatif yang mem-perlemah kedudukan penyewa lahan
da-lam menghadapi pemilik lahan; kelima, memburuknya mekanisme distribusi menyebabkan
hilangnya alternatif yang memperlemah kedudukan penyewa lahan dalam menghadapi pemili k
lahan, dan keenam, negara kolonial yang melindungi hak milik para pemilik lahan menyebabkan
pemilik lahan kurang membutuhkan klien yang setia.
Dalam perspektif ekonomi politik, lahan dianggap sebagai salah satu sumber daya untuk
melakukan suatu “permainan politik”. Artinya, suatu permainan yang memungkinan petani
memperoleh ke-untungan, terutama dalam kapasitasnya sebagai free-rider. Menurut Popkin
(1979), setidak-tidaknya ada empat “per-mainan politik” yang lazim dilakukan dan/atau menjadi
bahan pertimbangan petani, baik petani yang berada di posisi strata atas, strata tengah maupun
strata bawah, yaitu: pertama, seberapa besar sumber daya yang telah dikeluarkan; kedua, keun -
tungan apa yang akan diperolehnya, ketiga, ada atau tidaknya peluang untuk mela -kukan tindakan
dalam memperoleh keuntungan; keempat, ada -tidaknya pim-pinan yang mampu memobilisasi
sumber daya yang tersedia?
Dalam perspektif ekologi (manusia), lahan dianggap sebagai salah satu sumber daya yang bisa
ditransformasikan ke dalam suatu sis tem sosial. Seperti dijelaskan oleh A. Terry Rambo (1981),
bahwa antara sistem sosial dengan ekosistem terjalin hubungan yang harmonis, di mana kedua
sistem tersebut saling mentransformasikan energi, materi dan informasi untuk mencapai
keseimbangan yang dinamis (steady state). Masalah hubungan antara kedua sistem ini, akan
ditentukan oleh besarnya unit sumber daya (lahan) yang dimiliki. Makin besar sumber daya
(lahan) yang dimiliki atau makin tinggi strata sosial -nya, tentu akan makin besar pula kapasitas -
nya dalam melakukan transformasi energi, materi dan informasi.
Kelima perspektif teori tentang lahan tersebut --baik secara terpisah maupun bersama -sama--
akan mempengaruhi bagaimana sistem analisis dalam studi stra -tifikasi sosial. Misalnya, dalam
analisis sosiologi, lahan dianggap sebagai salah satu sumber daya yang memiliki potensi sebagai
pembentuk dan/atau perubah stratifikasi sosial. Dalam studi ini akan dilakukan analisis secara
struktural: (1) seberapa besar terjadi pergeseran stratifikasi sosial; (2) dampak apa saja yang
ditimbulkan dari pergeseran stratifikasi social tersebut? Jika merujuk Scott maka akan dinalisis:
apakah pergeseran stratifikasi sosial mempenga -ruhi hubungan patron-klien? Jika merujuk
Popkin maka akan dianalisis: apakah pergeseran stratifikasi sosial akan mem-pengaruhi “pola
permainan politik” petani?
Lebih jauh daripada itu, karena lahan juga memiliki fungsi ekonomi, di mana la -han dianggap
sebagai sumber daya produk-tif untuk melakukan usaha tani, maka akan dianalisis: tentang
karakteristik usaha tani, yang meliputi aliran pendapatan dan/atau pengeluaran keluarga tani,
analisis tentang rasio keuntungan dan kerugian (B/C ratio) usaha tani, analisis rasio
pengembalian modal (R/C ratio) dalam usaha tani, dan analisis tentang fungsi p roduksi.
Sementara itu, untuk analisis kultural, dimensinya tidak akan jauh beda dengan analisis secara
struktural, yaitu: (1) melihat unsur -unsur apa saja dari kultur petani yang mengalami pergeseran;
(2) dampak apa saja yang timbul dari pergeseran terse but? (lihat: konsep Everett M. Rogers
tentang The Subculture of Peasantry). Meski antara struktur dan kultur merupakan dua konsep
yang beda, namun keduanya merupakan satu kesatuan kon -sep (two face of one coin) dalam
analisis stratifikasi sosial. Artinya, perubahan-perubahan dalam sesuatu yang dihargai dan/atau
di-nilai dalam suatu masyarakat (komunitas), yang kemudian menjadi ins -trumen dasar dalam
membentuk stratifi-kasi sosial, sebenarnya tidak terlepas dari nilai -nilai kultural yang menjadi
acuan dalam masyarakat (komunitas) tersebut.
Oleh karena itu, agar diperoleh hasil analisis stratifikasi sosial yang kompre -hensif,
seyogianya kita tidak hanya meng-gunakan satu perspektif saja, apalagi jika yang kita analisis
adalah sistem stratifikasi sosial dalam suatu masyarakat yang se -dang mengalami transformasi,
baik di pe-desaan, perkotaan maupun interface an-tara pedesaan dan perkotaan. Pengertian lahan
sebagai soil misalnya, dalam realita sosial saat ini juga sedang mengalami per -geseran, karena
fungsi tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh rata -rata luas penguasaan lahan saja, namun juga di -
pengaruhi oleh tingkat produktivitas lahan. Ini berarti, pengertian lahan sebagai soil dan sebagai
space sebenarnya saling tumpang-tindih, apalagi jika digunakan untuk menganalisis stratifikasi
sosial.
Prosedur Pengukuran
Pada umumnya dalam kehidupan ber -masyarakat selalu akan ada kategorisasi anggota
komunitasnya berdasarkan skala superioritas atau inferioritas, karena memang dalam
kenyataannya akan selalu ada suatu p erbedaan-perbedaan di antara mereka secara signifikan
(Hasbullah, 2006). Perbedaan-perbedaan itulah yang menjadi awal dari munculnya ketegorisasi
tersebut. Kategorisasi secara vertikal inilah yang kemudian membentuk suatu stratifikasi sosial
dalam komunitas itu.
Dalam melakukan pengukuran stratifikasi sosial akan berlaku asumsi -asumsi bahwa: pertama,
ada perbedaan strata dan perbedaan tesebut akan meningkat seiring dengan mening -katnya
aktivitas sosial di dalam komunitas. Kedua, hubungan antara aktivitas s osial dengan integrasi
antar-kelompok akan berbentuk kurve linier. Dan ketiga, ada korelasi yang negatif antara
integrasi antar-kelompok dengan perbedaan dalam strata.
Untuk melakukan pengukuran strati -fikasi sosial dengan dengan unit analisis individu,
setidak-tidaknya akan dilakukan dengan empat cara (dimensi), yaitu: per -tama, melakukan
pengukuran stratifi-kasi sosial dengan cara menilai diri sendiri ( self ranking). Cara pengukuran
seperti ini disebut sebagai pengukuran secara su -byektif. Kedua, melakukan pengukuran
stratifikasi sosial dengan cara menilai po -sisi seseorang dalam komunitas. Cara pengukuran
seperti ini disebut sebagai pengukuran secara obyektif. Ketiga, me-lakukan pengukuran
stratifikasi sosial dengan menggunakan indikator -indikator interaksi. Cara pengukuran ini disebut
sebagai pengukuran secara intersubyektif. Dan keempat, melakukan pengukuran stratifikasi sosial
dengan menggunakan indikator -indikator secara khusus.
Pengukuran stratifikasi sosial dengan menggunakan cara penilaian diri sen diri artinya, peneliti
mengajukan berbagai pertanyaan kepada responden, untuk me -nilai status sosial mereka sendiri.
Dalam praktek di lapangan, pada umumnya menggunakan pertanyaan yang bersifat open-ended
questions, para responden cenderung akan menempatk an dirinya (menjawab pertanyaan -
pertanyaan dalam kuesioner) tersebut pada posisi tengah.
Pengukuran stratifikasi sosial yang menggunakan cara peng -ukuran komunitas adalah peneliti
mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada sejumlah informan yang secara senga ja dipilih, untuk
menilai status sosial seseorang (orang lain). Wawancara ini bertujuan untuk: pertama, mengetahui
berapa jumlah strata sosial yang diakui oleh komunitas; dan kedua, mengetahui di mana
seseorang sebagai anggota komunitas ditempatkan pada st rata sosial?
Untuk melakukan pengukuran ini, setidak -tidaknya ada enam dimensi pertanyaan standar yang
harus dikemuka-kan, yaitu: pertama, pertanyaan yang digunakan untuk mencocokkan, artinya:
pertanyaan tersebut ditujukan untuk mencocokan suatu data atau informasi, misalnya: apakah
posisi sosial seseorang anggota komunitas memang pas, sesuai dengan pengukuran
komunitasnya. Kedua, pertanyaan yang digunakan untuk menempatkan secara simbolis, artinya:
pertanyaan tersebut mengarah pada ada -tidaknya simbol-simbol tertentu yang melekat pada
seseorang anggota komunitas. Misalnya: seseorang (X) adalah orang miskin yang hidup dalam
lingkungan yang kumuh. Ketiga, pertanyaan yang digunakan untuk melihat reputasi status sosial,
artinya: pertanyaan ini diarahkan untuk melihat bagaimana reputasi seseorang dalam komunitas.
Misalnya: dengan menanyakan apakah seseorang (X) adalah orang miskin, tetapi dia jujur?
Keempat, pertanyaan yang membanding -kan, artinya: pertanyaan tersebut berupa pertanyaan
pembandingan antar-status sosial. Misalnya: dengan menanyakan apakah status sosial seseorang
(X) lebih tinggi daripada status sosial seseorang yang lain (Y)? Kelima, pertanyaan yang
digunakan untuk menetapkan secara sederhana, artinya: pertanyaan tersebut mengarah pada
penetapan posisi status. Misalnya: dengan menanyakan apakah seseorang (X) adalah termasuk ke
dalam strata menengah? Dan keenam, pertanyaan yang digunakan untuk melihat keanggotaan
dalam kelembagaan, artinya: pertanyaan tersebut berupa pertanyaan tentang keanggotaan
seseorang dalam suatu lembaga. Misalnya: dengan menanyakan apakah seseorang (X) adalah
anggota suatu lembaga tertentu, yang memiliki strata tertentu dalam komunitas?
Cara pengukuran stratifikasi sosial dengan menggunakan indikator interaksi artinya,
mengukur stratifikasi sosial dengan melihat pola interaksi sosial yang terjadi antar -kelompok
dalam komunitas. Pola interaksi ini ada dua, yaitu: pertama, interaksi yang saling membedakan
antar-kelompok, misalnya: dengan memperhati -kan bentuk-bentuk/simbol yang digunakan dalam
interaksi); dan kedua, interaksi yang saling mempengaruhi antar -kelompok, misalnya: dengan
melihat cara seseorang diperlakukan oleh orang lain. Sedangkan cara pengukuran stratifikasi
sosial dengan menggunakan indikator secara khusus artinya, mengukur stratifikasi sosial deng-an
cara menggunakan indikator yang secara sengaja (khusus) dirumuskan. Misalnya, dengan
menggunakan indikator: pertama, pekerjaan yang dilakukan (jenis, gengsi, jabatan); kedua,
penghasilan yang diperoleh (jumlah, jenis tu njangan, aliran dana); ketiga, keadaaan kondisi perumahan
(tipe, model, kualitas bangunan); dan keempat, kawasan tempat tinggal/perumahan
(kawasan elite, kumuh).
Apa pun cara yang digunakan untuk mengukur stratifikasi sosial, biasanya scoring digunakan,
apalagi jika peng-ukuran tersebut menggunakan banyak indikator. Prosedur scoring ini untuk
melihat berapa banyak score yang dimiliki seseorang, setelah menjawab berbagai pertanyaan
yang diajukan tentang di mana posisi sosial mereka. Sehingga pada akhirnya akan tampak di
mana sebenar-nya posisi sosialnya. Untuk menghasilkan pengukuran stratifikasi sosial yang valid
dan reliable seyogianya menggunakan keempat dimensi tersebut secara ber -sama-sama. Artinya,
pengukuran tersebut menggunakan cara penilaian diri s endiri, menggunakan cara penilaian
komunitas, menggunakan indikator interaksi antar -kelompok, dan menggunakan indikator secara
khusus. Keempat dimensi ini kemudian perolehan score-nya digabung.
Secara prinsip cara penggabung-an score ini tidak berbeda dengan cara penggabungan score
dalam proses analisis data kuantitatif pada umumnya, dengan langkah -langkah sebagai berikut:
pertama, lebih dulu definisikan konsep -konsep yang digunakan untuk mengukur stratifikasi
sosial. Kedua, tentukan score dari masing-masing jawaban yang diberikan responden sesuai
konsep/teori yang digunakan. Ketiga, lakukan pengumpulan data, atas sejumlah responden
tertentu. Keempat, lakukan analisis data (penggabungan score). Kelima, tarik suatu kesimpulan,
yang memperlihatkan di mana pos isi hierarkhis seseorang dalam komu -nitas. Penggabungan
score dilakukan dengan cara masing-masing score dalam setiap jawaban yang paling tinggi
dijumlah dan yang paling rendah juga dijumlah. Kemudian dicari selisihnya ( range)-nya untuk
menentukan berapa intervalnya. Setelah interval ditemukan, masing -masing perolehan score
responden bisa ditentukan di mana posisinya.
Parameter Pengukuran
Dalam setiap teori stratifikasi sosial ada perbedaan parameter yag digunakan untuk mengukur
stratifikasi sosial. Namun secara umum dikenal ada tiga parameter yang digunakan untuk
mengukur stratifikasi sosial, yaitu: pertama, dengan meng -gunakan parameter distributif. Artinya,
deskripsi stratifikasi sosial pada suatu kelompok sosial (komunitas) dilakukan dengan cara
mengukur distribusi barang dan/atau jasa. Misalnya: adanya stratifikasi sosial dalam sistem
penggajian karyawan, merupakan bukti adanya ketidakmerataan disribusi barang dan/atau jasa
dalam kelompok sosial (komunitas) ini. Kedua, dengan menggunakan parameter kor elatif.
Artinya, deskripsi stratifikasi sosial pada suatu kelompok sosial (komunitas) dilakukan dengan
cara mengkorelasikan berbagai faktor yang menjadi dasar terbentuknya stratifikasi sosial.
Misalnya: adanya stratifikasi sosial karena adanya hubungan yan g korelasional antar-faktorfaktor
yang membentuk stratifikasi sosial.
Dalam realitanya, mereka yang menduduki strata sosial atas adalah mereka yang memiliki
kekuasaan, memiliki pendidikan tinggi dan memiliki jabatan. Dan ketiga, dengan menggunakan
parameter tingkat perubahan. Artinya, deskripsi stratifikasi sosial pada suatu kelompok sosial
(komunitas) dilakukan dengan cara mengukur kecepatan perubahan dan implikasi sosialnya.
Misalnya, adanya stratifikasi sosial karena adanya perubahan yang memiliki impl ikasi sosial.
Semakin perubahan tersebut tidak memiliki implikasi sosial, maka semakin memperlambat
perubahan stratifikasi sosial.
Apa pun parameter yang digunakan untuk mengukur stratifikasi sosial, pada umumnya studi -
studi sosiologi kontemporer memfokusk an pada aspek mobilitas antar -stratanya. Artinya, dalam
stratifikasi sosial tersebut dilihat apakah ada kemungkinan dan/atau sejauhmana bisa terjadi gerak
(perubahan) antar-strata yang ada. Posisi strata bawah akankah bisa bergerak menjadi (berada)
strata tengah, dsb. Mobilitas antar -strata tersebut dianggap rendah jika faktor kelahiran dan
kematian sangat me-nentukan posisi individu dalam stratifikasi sosial (lihat: perbedaan konsep
ascribed status dan achieved status). Sebaliknya, mobilitas sosial antar -strata dianggap tinggi jika
posisi individu tidak tergantung pada kelahiran atau kematian. Ditinjau secara teoritis, tinggi -
rendahnya mobilitas antar -strata tergantung pada model stratifi -kasi sosial yang tumbuh dan/atau
berkem-bang dalam kelompok sosial (komunitas).
Secara umum dikenal lima model stratifikasi sosial, yaitu: pertama, model kasta, di mana
dalam model ini tingkat mobilitas antar -stratanya tidak dimungkin-kan (nol). Kedua, model strata,
di mana dalam model ini tingkat mobilitas antar -stratanya rendah. Ketiga, model kelas, di mana
dalam model ini tingkat mobilitas antar -stratanya menengah. Keempat, model kontinum, di mana
dalam model ini tingkat mobilitas antar -stratanya agak tinggi. Dan kelima, model egalitarian, di
mana dalam model ini tingkat mobilitas antar-stratanya sangat tinggi.
Dalam menganalisis kelima model stratifikasi sosial yang ada dalam suatu kelompok sosial
(komunitas), pada umumnya kita jarang menggunakan konsep interaksi dan integrasi, yang
merupakan dua faktor yang yang sangat signifikan dan inherent dalam stratifikasi sosial.
Misalnya, kita jarang menganalisis: apakah kesamaan status sosial akan cenderung menyebabkan
tingginya frekuensi interaksi sosial dikalangan mereka? Atau: apakah mereka yang memiliki
status sosial yang sama akan cenderung melakukan integrasi atau disintegrasi dalam
komunitasnya? Interaksi sosial di sini tidak dimaksudkan untuk melihat benar atau tidaknya
hubungan antar-strata, namun sebagai asumsi bahwa interaksi sosial tersebut akan memberikan
implikasi hubungan antar-strata. Misalnya, mereka akan melakukan interaksi, karena mereka
dalam kondisi yang saling menguntungkan. Dengan kata lain: interaksi sosial di antara kedua
strata tersebut bersifat simbiosis mutualisme. Jika mereka yang melakukan interaksi so sial
tersebut dalam posisi statusnya sama (sama -sama tinggi atau sama-sama rendah), maka
interaksinya disebut sepadan. Namun, jika interaksi tersebut terjadi karena adanya pilihan mereka
sendiri (mungkin berbeda status) yang diperkuat dengan ikatan bersama , maka interaksi sosial
tersebut disebut konsensus. Dalam konteks ini, adalah wajar terjadi jika intensitas interaksi sosial
akan terjadi seiring dengan meningkatnya kesadaran akan status. Interaksi sosial tersebut akan
menurun frekuensinya, seiring dengan meningkat-nya perbedaan status antar -mereka yang
melakukan interaksi sosial (lihat: bagaimana terjadinya proses deferensiasi dan polarisasi sosial,
akibat dari adanya kesenjangan antar -strata sosial yang semakin lebar).
Untuk mengintegrasikan individu ya ng mengelompok secara longgar ke dalam suatu
kelompok solidaritas diperlukan interaksi sosial yang intensif. Secara teoritis sering
dikemukakan bahwa integrasi akan lebih besar kemungkinannya ditemukan dalam kelompok
yang perubahan sosialnya relatif lamba t, karena lambatnya perubahan sosial itu memberikan
kesempatan pada individu untuk menempati posisi yang sama dalam waktu yang relatif lama.
Model stratifikasi sosial yang berbentuk kasta, strata, dan kelas hanya akan berkembang menjadi
kelompok yang terintegrasi jika ada kondisi khusus yang menyertai. Pada masyarakat industri
misalnya, umumnya intergrasi sosial dalam kelompok -kelompok besar sangat tergantung pada
adanya organisasi yang otonom yang menjembatani terjadinya interaksi antar -kelompok.
Organisasi otonom ini berfungsi sebagai penengah atas adanya perbedaan antar -strata, misalnya:
antara strata penguasa (pemerintah) dengan strata bawah (buruh). Saat ini, untuk melakukan studi
tentang stratifikasi sosial tidak hanya akan berkaitan dengan cara -cara pengukuran-nya saja,
namun juga berkaitan dengan mobilitas antar -strata dan implikasi-implikasi dari mobilitas antar -
strata tersebut, terutama dilihat dari dimensi interaksi dan integrasi sosialnya.
Daftar Pustaka
Amaluddin, Moh., Kemiskinan dan Polarisasi Sosial: Studi Kasus di Desa Bulugede, Kabupaten
Kendal, Jawa Tengah (Jakarta: UI Press, 1987).
Beteille, Andre, Inequality among Man (London: Basil Blac Well, 1977).
Dahrendorf, Ralf, Konflik dan Konflik Kelas dalam Masyarakat Industri (Jakarta: CV Rajawali,
1986).
Dewanta, Awan Setya (ed)., Kemiskinan dan Kesenjangan di Indonesia (Yogyakarta: Aditya
Media, 1995).
Laeyendecker, L., Tata, Perubahan dan Ketimpangan (Jakarta: PT Gramedia, 1983).
Maeda, Narifumi & Matulada, Transformation of the Agricultural Landscape in Indonesia
(Japan: Center for South East Asian Studies, Kyoto University, 1984).
Popkin, Samuel L., The Rational Peasant: The Political Economy of Rural Society in Vietnam
(California: California University Press, 1979).
Rambo, A. Terry, Conceptual Approaches to Human Ecology (Honolulu: East-West Environment
and Policy Institute, 1981).
Salim, Agus, Stratifikasi Etnik: Kajian Mikro Sosiologi Interaksi Etnis Jawa dan Cina
(Yogyakarta: Tiara Wacana, 2006).
Scott, James C., The Moral Economy of the Peasant: Rebellion and Subsistence in South East
Asia (New Haven: Yale University Press, 1979).
Sutanto Jusuf & Tim (ed)., Revitalisasi Pertanian dan Dialog Peradaban (Jakarta: PT Kompas
Media Nusan-tara, 2006).
Svalastoga, Kaare, Social Differentiation (USA: University of Washington, 1989).
Tjondronegoro, Sediono M.P. & Gunawan Wiradi, Dua Abad Penguasaan Tanah: Pola
Penguasaan Tanah Pertanian dari Masa ke Masa (Jakarta: PT Gramedia, 1984).
6. Kriteria untuk Menentukan Stratifikasi Sosial

Kriteria atau ukuran yang umumnya digunakan untuk mengelompokkan para anggota masyarakat ke dalam suatu lapisan tertentu adalah sebagai berikut :
a. Kekayaan
Kekayaan atau sering juga disebut ukuran ekonomi. Orang yang memiliki harta benda berlimpah (kaya) akan lebih dihargai dan dihormati daripada orang yang miskin.
b. Kekuasaan
Kekuasaan dipengaruhi oleh kedudukan atau posisi seseorang dalam masyarakat. Seorang yang memiliki kekuasaan dan wewenang besar akan menempati lapisan sosial atas, sebaliknya orang yang tidak mempunyai kekuasaan berada di lapisan bawah.
c. Keturunan
Ukuran keturunan terlepas dari ukuran kekayaan atau kekuasaan. Keturunan yang dimaksud adalah keturunan berdasarkan golongan kebangsawanan atau kehormatan. Kaum bangsawan akan menempati lapisan atas seperti gelar :
- Andi di masyarakat Bugis,
- Raden di masyarakat Jawa,
- Tengku di masyarakat Aceh, dsb.
d. Kepandaian/penguasaan ilmu pengetahuan Seseorang yang berpendidikan tinggi dan meraih gelar kesarjanaan atau yang memiliki keahlian/profesional dipandang berkedudukan lebih tinggi, jika dibandingkan orang berpendidikan rendah. Status seseorang juga ditentukan dalam penguasaan pengetahuan lain, misalnya pengetahuan agama, ketrampilan khusus, kesaktian, dsb.
7. Tiga Sifat Stratifikasi Sosial

Menurut Soerjono Soekanto, dilihat dari sifatnya pelapisan sosial dibedakan menjadi sistem pelapisan sosial tertutup, sistem pelapisan sosial terbuka, dan sistem pelapisan sosial campuran.
a.

Stratifikasi Sosial Tertutup (Closed Social Stratification)

Stratifikasi ini adalah stratifikasi dimana anggota dari setiap strata sulit mengadakan mobilitas vertikal. Walaupun ada mobilitas tetapi sangat terbatas pada mobilitas horisontal saja. Contoh:
- Sistem kasta.
Kaum Sudra tidak bisa pindah posisi naik di lapisan Brahmana.
- Rasialis.
Kulit hitam (negro) yang dianggap di posisi rendah tidak bisa pindah kedudukan di posisi kulit putih.
-
Feodal.
Kaum buruh tidak bisa pindah ke posisi juragan/majikan.
b.

Stratifikasi Sosial Terbuka (Opened Social Stratification)


Stratifikasi ini bersifat dinamis karena mobilitasnya sangat besar. Setiap anggota strata dapat bebas melakukan mobilitas sosial, baik vertikal maupun horisontal. Contoh:
- Seorang miskin karena usahanya bisa menjadi kaya, atau sebaliknya.
- Seorang yang tidak/kurang pendidikan akan dapat memperoleh pendidikan asal ada niat dan usaha.
c.

Stratifikasi Sosial Campuran

Stratifikasi sosial c a m p u r a n m e r u p a k a n kombinasi antara stratifikasi tertutup dan terbuka. Misalnya, seorang Bali b e r k a s t a Brahmana mempunyai kedudukan terhormat di Bali, namun apabila ia pindah ke Jakarta menjadi buruh, ia memperoleh kedudukan rendah. Maka, ia harus menyesuaikan diri dengan aturan kelompok masyarakat di Jakarta.



http://www.e-dukasi.net/index.php
_++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++_

Guru dan Strata Sosial

Oleh Agus Listiyono

Media Indonesia: 12 Oktober 2004

Beberapa waktu lalu penulis bertemu dengan sepasang suami isteri yang berprofesi sebagai guru. Suami sebagai Kepala Sekolah di sebuah sekolah boarding sedang isteri sebagai guru mata pelajaran Bahasa Indonesia di sebuah sekolah menengah pertama. Keduanya sebagai guru di lembaga pendidikan swasta. Mereka tinggal di kota Bogor. Jika dihitung dengan rentang tahun, pasangan ini telah mengabdikan dirinya sebagai guru kurang lebih 5 tahun, yaitu setelah lulus dari sekolah guru yang dulu bernama IKIP.

Dalam tulisan ini penulis ingin sekali mengemukakan pada kita semua tentang sisi yang selama ini kita ketahui, pahami dan sadari bersama, yaitu tentang profesi guru dan pandangan kita (baca: masyarakat) terhadap profesi tersebut. Termasuk juga profesi Pak Jono dan Bu Ani, sepasang guru yang dimaksud. Pak Jono dan Bu Ani adalah lulusan dari sekolah guru yang bernama IKIP. Dan beginilah cerita Pak Jono.

Sebagai lulusan yang tergolong baik di sekolah menengah umum teladan (Parameter keteladanan adalah tingginya persentasi lulusan SMU ini yang diterima di Universitas atau perguruan negeri ternama di Indonesia. SMU ini konon sebagai SMU percontohan. Dan hal ini diakui oleh seluruh anggota masyarakat), ia tidak ikut berebut kursi di perguruan tinggi bergengsi tetapi justru masuk ke lembaga pendidikan guru yang bernama IKIP. Keyakinan untuk masuk dalam lembaga pendidikan keguruan tersebut muncul bukan karena kondisi ekonomi keluarga tetapi karena terpanggilnya ia untuk menjadi guru. Tekadnya masuk institut pendidikan guru untuk pertama kali mendapat ’hambatan’ bukan dari pihak keluarga tetapi justru dari staf administrasi dan beberapa guru di sekolah asalnya, SMU teladan tersebut. Komentar yang bernada merendahkan ia dapat ketika ia harus mengurus legalisasi ijazah aslinya (Dia hingga sekarang belum menjadi caleg dari partai politik apapun, jadi ijazahnya 100 % asli) di SMUnya.

’Kok masuk IKIP?’ begitu komentar padanya ketika diketahui bahwa ia akan melanjutkan studinya. ’Ya, saya ingin seperti Bapak?’ lanjutnya. ’Dengan prestasi dan hasil nilaimu seperti sekarang, kamu layak masuk ITB atau UI. Kok malah ke IKIP?’

***

Dari gambaran dan dialog pendek yang dikutip di atas kita akan lihat beberapa implikasi dari fragmen tersebut. Karena penulis yakin sekali bahwa fragmen tersebut adalah cermin jujur dari konstelasi sosial yang hidup di masyarakat kita dewasa ini. Pertama, harus diakui bersama bahwa profesi guru adalah profesi bukan kelas berharga. Pengakuan ini lahir tidak saja dari orang-orang yang berprofesi bukan sebagai guru tetapi juga dari para guru itu sendiri. Pertanyaan guru Pak Jono kepadanya saat dia meminta legalisasi ijazah, adalah bentuk konkrit dari paradigma itu. Kenyataan ini sangat memprihatinkan bagi pengembangan sumber daya manusia kita. Karena sumber daya alam kita yang melimpah ternyata hanya menyisakan kubangan limbah bagi sebagian rakyatnya. Hal ini salah satu penyebabnya adalah kerena minimnya SDM yang mampu mengelolanya.

Kedua, guru adalah profesi yang tidak perlu dipasok dengan kepandaian. Sehingga guru tidak linier dengan pandai. Oleh karena itu bila kita adalah orang-orang pandai di sekolah maka masuklah ke perguruan tinggi bergengsi dengan jurusan prestisius. Walaupun ketika lulus nanti anda yang jurusan pertanian sangat boleh jadi akan bekerja sebagai perbankan. Dan jika demikian maka mahasiswa keguruan adalah kumpulan mahasiswa yang gagal masuk ke perguruan bergengsi dengan jurusan prestisius. Dengan demikian mereka adalah genersi yang tidak pandai. Dan anehnya hal ini ditolelir oleh masyarakat kita, even mereka adalah guru, sebagaimana cerita di awal tulisan ini.

Ketiga, bila kita ingin melihat lebih dalam lagi terhadap kenyataan di atas, maka kita dapat menarik lagi satu asumsi bahwa masyarakat kita masih memiliki keyakinan yang teramat tebal terhadap pen’strataan’. Inilah virus feodalisme. Dalam kacamata kesejagatan, kanyataan hidup ini menjadikan kita kerdil dalam arus multikultural. Penulis teringat dengan kisah cinta teman guru yang berkeluarganegaraan Australia dengan seorang anggota satuan pengamanan sekolah. Dari pandangan kita sebagai bagian dari bangsa ini, jika kita mau jujur, kenyataan ini terasa ’kurang’ layak. Tapi di negara si asing ini, setiap profesi memiliki martabat yang sejajar, jadi tentang hubungan dekatnya dengan salah seorang anggota satuan pengamanan adalah sesuatu yang sah dan layak.

***

Uraian tersebut adalah kenyataan yang ada dalam masyarakat kita. Kita semua tidak tahu pasti hingga kapan kehidupan kita memandang strata sosial yang ada dengan martabat yang berimbang. Penulis berasumsi bahwa membongkar paradigma yang timpang, egois dan feodal tersebut hanya dapat dilakukan melalui jalur pemberdayaan sumber daya manusia yaitu edukasi. Dengan memperlihatkan, melatih, serta mempraktikkan sebuah generasi yang kulturnya bersandarkan egaliterian sebagaimana yang telah diteladankan oleh Muhammad SAW. Dan mudah-mudahan ini pula yang akan menjadi salah satu dari apa yang dimaksud dengan peletakan fondasi yang efektif untuk memajukan pendidikan nasional oleh presiden terpilih dalam pidato politiknya, Sabtu (9/10/2004). Semoga. (Agus Listiyono, Praktisi Pembelajaran di Jakarta).


_++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++_

Jenis-Jenis/Macam-Macam Status Sosial & Stratifikasi Sosial Dalam Masyarakat - Sosiologi
Tue, 07/10/2008 - 12:34am — godam64

Definisi / pengertian dari status sosial, kelas sosial, stratifikasi sosial dan diferensiasi sosial telah dijelaskan dalam artikel sebelumnya. Berikut di bawah ini adalah jenis-jenis atau macam-macam status sosial serta jenis / macam stratifikasi yang ada dalam masyarakat luas :

A. Macam-Macam / Jenis-Jenis Status Sosial

1. Ascribed Status
Ascribed status adalah tipe status yang didapat sejak lahir seperti jenis kelamin, ras, kasta, golongan, keturunan, suku, usia, dan lain sebagainya.

2. Achieved Status
Achieved status adalah status sosial yang didapat sesorang karena kerja keras dan usaha yang dilakukannya. Contoh achieved status yaitu seperti harta kekayaan, tingkat pendidikan, pekerjaan, dll.

3. Assigned Status
Assigned status adalah status sosial yang diperoleh seseorang di dalam lingkungan masyarakat yang bukan didapat sejak lahir tetapi diberikan karena usaha dan kepercayaan masyarakat. Contohnya seperti seseorang yang dijadikan kepala suku, ketua adat, sesepuh, dan sebagainya.

B. Macam-Macam / Jenis-Jenis Stratifikasi Sosial

1. Stratifikasi Sosial Tertutup

Stratifikasi tertutup adalah stratifikasi di mana tiap-tiap anggota masyarakat tersebut tidak dapat pindah ke strata atau tingkatan sosial yang lebih tinggi atau lebih rendah.

Contoh stratifikasi sosial tertutup yaitu seperti sistem kasta di India dan Bali serta di Jawa ada golongan darah biru dan golongan rakyat biasa. Tidak mungkin anak keturunan orang biasa seperti petani miskin bisa menjadi keturunan ningrat / bangsawan darah biru.

2. Stratifikasi Sosial Terbuka

Stratifikasi sosial terbuka adalah sistem stratifikasi di mana setiap anggota masyarakatnya dapat berpindah-pindah dari satu strata / tingkatan yang satu ke tingkatan yang lain.

Misalnya seperti tingkat pendidikan, kekayaan, jabatan, kekuasaan dan sebagainya. Seseorang yang tadinya miskin dan bodoh bisa merubah penampilan serta strata sosialnya menjadi lebih tinggi karena berupaya sekuat tenaga untuk mengubah diri menjadi lebih baik dengan sekolah, kuliah, kursus dan menguasai banyak keterampilan sehingga dia mendapatkan pekerjaan tingkat tinggi dengan bayaran / penghasilan yang tinggi.
http://organisasi.org/
_++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++_

Kelas Sosial dalam Great Expectations Aug 8, '08 6:47 AM
for everyone

Donny Syofyan

Mahasiswa Pascasarjana The Australian National University, Canberra

Dosen Sastra Inggris, FSUA



Great Expectations (Harapan-Harapan Besar) adalah novel karya Charles Dicknes yang awalnya merupakan cerita bersambung pada All the Year Round, mulai edisi 1 Desember 1860 sampai Agustus 1861. Serangkaian peristiwa dalam cerita ini terjadi pada malam Natal, 1812, ketika tokoh protagonis mendekati usia tujuh belas tahun. Novel ini mengisahkan seorang anak yatim bernama Pip, seorang tokoh protagonis dengan gaya penyajian otobiografis, mulai dari masa kanak-kanaknya hingga ia berhasil menyudahi berbagai konflik yang dihadapinya saat ia dewasa. Cerita ini bisa dianggap semi-otobiografis-nya Dickens, seperti kebanyakan karyanya, yang bersandar pada pengalaman hidup banyak orang. Salah satu tema menarik yang menjadi napas utama dalam novel ini adalah konflik seputar kelas sosial.

Golongan buruh atau kelas pekerja—hierarki paling rendah dalam strata masyarakat Inggris di zaman Revolusi Industri—kerap dipersepsikan sebagai kelas bawah (underclass). Kelompok ini terpaksa menjalani hidup dengan kerja keras dan dikendalikan sepenuhnya oleh industri dan pasar. Mereka adalah satu-satunya kelompok masyarakat yang memperoleh keuntungan paling kecil dalam berbagai perubahan akibat Revolusi Industri. Golongan buruh adalah kelompok mayoritas dalam masyarakat, mencakup masyarakat Inggris sendiri dan warga asing. Kebanyakan mereka tinggal di pusat-pusat kota dekat dengan perusahaan tempat mereka bekerja. Keluarga mereka hidup dengan segala kekurangan. Kehidupan mereka sangat tergantung pada pemilik perusahaan tempat mereka bekerja. Sebagian besar istri kelas pekerja ini tak mendapatkan keuntungan hanya dengan tinggal di rumah dan menjadi ibu rumah tangga. Mereka terpaksa ikut bekerja sehingga bisa mengumpulkan tambahan uang untuk kebutuhan keluarga.

Sebagian dari mereka berupaya menyesuaikan diri dengan pola dan tingkah hidup keluarga Victoria dengan bergabung pada gereja dan organisasi sukarelawan. Tapi ini jarang terjadi. Mereka lazimnya tidak turut serta dalam kerja amal maupun aktivitas gereja. Alasannya sederhana; mereka adalah sasaran dari semua kerja amal itu sendiri. Bagi mereka, kegiatan semisal dansa dan salon jauh lebih menarik dibandingkan kegiatan gereja dan organisasi sukarelawan. Mereka menganggap kegiatan ini lebih banyak diikuti oleh golongan masyarakat dari kelas terhormat dan menengah.

Kelas sosial memainkan peranan utama dalam masyarakat yang digambarkan oleh Charles Dickens dalam novel Great Expectations ini. Kelas sosial menentukan bukan saja bagaimana seseorang diperlakukan tapi juga akses mereka terhadap pendidikan. Namun, kelas sosial sama sekali tidak mendefiniskan watak seseorang. Banyak tokoh dalam novel ini diperlakukan secara berbeda karena pebedaan kelas sosial mereka. Kontrasnya perlakuan yang diterima oleh orang kaya dan orang miskin bakal memberikan pemahaman yang lebih jernih betapa pentingnya kelas sosial dalam novel ini.

Joe, sebagai contoh, mewakili contoh sempurna seorang kelas buruh atau pekerja. Ia menghabiskan hidupnya dengan bekerja sebagai seorang tukang besi. Kehidupannya tergantung pada pekerjaannya. Ia tidak memiliki cukup uang untuk hidup mewah. Lantaran itu, sebagian besar masyarakat menganggapnya sebagai anggota kelas paling bawah; kelas pekerja. Ketika Joe datang menemui Pip, misalnya, ia memperlakukan Joe sungguh berbeda dibandingkan sebelumnya, karena posisi Joe yang saat ini berada pada kelas sosial paling rendah. Perasaannya tentang kedatangan Joe, seperti pengakuannya yang terbaca dalam novel ini, “Bukan dengan rasa senang....Saya merasakan sensitivitas yang tajam ketika ia dilihat oleh Drummle” (Not with pleasure... I had the sharpest sensitiveness as to his being seen by Drummle) [h.203]. Ia khawatir kalau Drummle sampai memandang rendah padanya disebabkan Joe yang berasal dari kelas bawah. Bukan hanya Pip yang memperlakukan Joe berbeda, Joe juga melihat Pip secara berbeda lantaran perbedaan kelas sosial itu. Ia mulai memanggil Pip dengan sebutan “Sir” (Tuan). Panggilan ini sebetulnya cukup mengganggu Pip karena “Sir” adalah panggilan buat orang kelas atas.

Pip merasakan bahwa mereka masih berteman baik dan seharusnya kedua-duanya memperlakukan satu sama lain sederajat. Joe segera meninggalkan Pip dan menjelaskan kepergian ini, “Pip, teman lamaku yang baik, hidup ini terdiri dari banyak perbedaan yang saling menyatu, kalau boleh aku mengatakan, ada seorang pandai besi, seorang pandai emas dan seorang lainnya tukang tembaga. Pembagian di antara demikian pasti akan muncul” (Pip, dear old chap, life is made of ever so many partings welded together, as I may say, and one man's a blacksmith, and one's a whitesmith, and one's a goldsmith, and one's a coppersmith. Divisions among such must come) [h.209]. Ia menciptakan metafor ini untuk menegaskan perbedaan mereka, ia hanyalah seorang tukang besi biasa sementara Pip tak lain adalah seorang pandai emas.

Tokoh-tokoh lain yang juga dinilai berdasarkan kelas sosial mereka adalah Magwitch dan Compeyson. Mereka berdua sama-sama diadili untuk kejahatan yang sama. Namun Compeyson mendapatkan kemudahan melebihi Magwitch karena status sosialnya yang lebih tinggi. Magwitch menggambarkan pidato pembelaan Compeyson sebagai berikut, “di sini, Anda melihat di depan secara berdampingan, dua orang yang dengan mata kepala Anda sendiri bisa membedakan; seseorang, masih muda dan berpendidikan baik dan seorang lainnya; orang tua dan tidak berpendidikan...mana yang paling buruk?” (...here you has afore you, side by side, two persons as your eyes can separate wide; one, the younger, well brought up... one; the elder, ill brought up... which is the worst one?) [h.325]. Putusan pengadilan itu sepenuhnya didasarkan pada penampilan kelas sosial mereka. Kasus ini, bersamaan dengan kasus-kasus lainnya, menunjukkan bagaimana sebuah kelas sosial begitu krusial dan amat menentukan.

Dalam Great Expectations, strata sosial seseorang menentukan jumlah dan tingkat pendidikan yang diperolehnya. Hubungan antara pendidikan dan kelas sosial amat penting guna menunjukkan secara jelas signifikansi kelas sosial. Orang seperti Joe, seorang pandai besi biasa, jelas-jelas tidak menikmati pendidikan sama sekali. Pip, sewaktu masih berada pada kelas sosial rendah, hanya mengecap pendidikan rendahan di sebuah sekolah yang kecil. Sekolah ini bukanlah sekolah yang terbaik, namun inilah satu-satunya sekolah yang dimiliki oleh kelompok masyarakat terbawah. Para guru lebih banyak menghabiskan waktunya dengan tidur ketimbang mengajar. Pip belajar lebih banyak hal dari Biddy daripada guru kebanyakan di sekolah itu. Sungguhpun ia mendapat pendidikan di sekolah ini, namun pendidikannya sebagai seorang gentleman dengan Mr. Pocket jauh lebih penting dan mewarnai hidupnya. Contoh lain terkait kelas sosial dan pendidikan ini juga dapat diidentifikasi pada kasus dua orang narapidana d atas; Magwitch dan Compeyson. Magwitch, terlahir dari keluarga miskin dan kelas bawah, tidak menikmati pendidikan sama sekali. Sebaliknya, Compeyson, yang besar dari keluarga berada, adalah seorang gentleman golongan atas dengan pendidikan yang memadai. Pendidikan, karenanya, adalah faktor yang menjustifikasi betapa strata sosial seseorang sangat mempengaruhi maruah dan kedudukannya dalam relasi sosial.

Walaupun begitu, perbedaaan kelas sosial tidak berbanding lurus dengan karakter terdalam seseorang. Karakter seperti Joe, Biddy, atau Magwitch, adalah orang-orang kelas rendahan, namun berhati mulia. Joe selalu di sana untuk membantu Pip, demikian pula Biddy yang tidak henti-hentinya menolong Mrs. Joe. Magwitch adalah seorang narapidana yang jorok dari kelas sosial paling bawah, namun kemudan ia berubah menjadi seorang yang ramah dan penuh perhatian. Berbeda dengan Orlick, yang juga mewakili golongan bawah, tetap saja memiliki watak jahat lantaran ia adalah seorang pembunuh. Faktanya bahwa terdapat orang-orang yang baik ataupun berhati dingin di kalangan masyarakat bawah menunjukkan bahwa strata sosial tidak memiliki koneksi dengan watak dan kepribadian seseorang.

Demikian pula dengan golongan orang-orang berpunya, di antaranya Ms. Havisham, Estella, Herbert, Jaggers, and Wemmick. Ms Havisham dan Estella adalah tipikal wanita-wanita brutal yang kerap membawa “neraka” bagi laki-laki. Sebaliknya, Herbert memperlihatkan hal yang berseberangan. Ia adalah teman sejati Pip dan senantiasa berpihak padanya. Jagger dan Wemmick, yang juga dari kalangan masyarakat kaya, tetap menyokong Pip pada tahun-tahun ia sebagai gentleman. Sekali lagi, hal ini meneguhkan kenyataan bahwa kelas sosial sama sekali tidak menentukan karakter dan personalitas seseorang. Sungguhpun ia berperan dalam banyak hal, namun tetap saja ada pengecualian.

Disparitas kelas sosial ini mendorong banyak orang untuk melakukan protes terhadap kenyataan yang ada. Seperti kentara pada tokoh utama, Pip, yang berupaya mencapai hal-hal yang di luar jangkauannya dan berlaku apatis terhadap sesuatu yang bisa didapatinya dengan mudah. Sebagai misal, Pip mencoba mendapatkan Estella walaupun ia bisa memiliki Biddy dengan gampang, atau hasratnya untuk berubah sebagai gentleman ketika ia bisa menjadi seorang pandai besi.

Pip jatuh cinta pada Estella, namun ini tidak kesampaian karena Estella tidak mencintainya. Hal lain adalah ketika ia mencoba menjadi seorang gentleman. Niatnya ini pun tidak tercapai disebabkan ia hanyalah seorang rakyat jelata. Ia sangat terpukul, misalnya dengan, “seorang wanita muda cantik di rumah Miss Havisham, ia lebih cantik melebihi siapapun yang pernah ada, aku mengaguminya bukan kepalang dan aku ingin menjadi seorang gentleman atas kemauannya” (the beautiful young lady at Miss Havisham's and she is more beautiful than anybody ever was and I admire her dreadfully and I want to be a gentleman on her account) [h.780]. Jelaslah bahwa Pip ingin menjadi seorang gentleman semata-mata karena Estella.

Cara lain Pip menunjukkan keputusasaannya terhadap kenyataan yang dihadapinya adalah di saat ia enggan menjadi seorang pandai besi. Sebetulnya ipar laki-lakinya adalah seorang pandai besi sehingga memudahkannya mempelajari hal-ihwal perdagangan. Miss Havisham setuju membayar pekerjaan magangnya. Namun Pip bersikeras bahwa ia bisa lebih baik dari sekadar seorang pandai besi. Ia menyatakan ketidakpuasannya “dengan rumahku, perdaganganku dan dengan segalanya” (with my home, my trade and with everything) [h.773]. Demikian pula, misalnya, tatkala Pip berbalik dari Biddy, seorang wanita yang bisa dimilikinya. Biddy adalah satu-satunya yang mencintai Pip. Celakanya, Pip menolak Biddy dan malah memanfaatkanya demi mencapai tujuannya. Pip hendak menunjukkan kesan bahwa ia jauh lebih “agung” daripada Biddy, padahal ia juga seorang biasa layaknya Biddy.
Pergumulan kelas sosial yang pada banyak hal “mengorbitkan” kekecewaan pada kehidupan menjadi warna kental sepanjang novel ini. Ketika “harapan-harapan besar” (great expectations) Pip muncul, ia justru kian tidak bahagia dengan seluruh keberkahan yang digenggamnya. Pip tetap saja malu dengan kehidupan dan keluarganya, padahal tidak ada satu atau seorang pun yang harus dimalukan. Pip bisa membangun hubungan yang lebih baik dengan Estella, sayangnya ia memilih untuk mencintai Estella, dan terluka. Akhirnya, walau agak terlambat, Pip sadar bahwa rumput tidak selalu kelihatan hijau bila dilihat dari seberang. Ia perlu lebih sabar dengan apa yang telah dimilikinya, puas dengan apa yang telah diraihnya.

http://bahas.multiply.com/journal/item/51/Kelas_Sosial_dalam_Great_Expectations
_++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++_


Pengertian deferensiasi sosial.....?????????
Jawaban Terbaik - Dipilih oleh Suara Terbanyak
Diferensiasi adalah klasifikasi terhadap perbedaan-perbedaan yang biasanyasama. Pengertian sama disini menunjukkan pada penggolongan atau klasifikasi masyarakat secara horisontal, mendatar, atau sejajar. Asumsinya adalah tidak ada golongan dari pembagian tersebut yang lebih tinggi daripada golongan lainnya.
Stratifikasi sosial (Social Stratification) berasal dari kata bahasa latin “stratum” (tunggal) atau “strata” (jamak) yang berarti berlapis-lapis. Dalam Sosiologi, stratifikasi sosial dapat diartikan sebagai pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat.
Beberapa definisi stratifikasi sosial :
a. Pitirim A. Sorokin
Mendefinisikan stratifikasi sosial sebagai perbedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas yang tersusun secara bertingkat (hierarki).

b. Max Weber
Mendefinisikan stratifikasi sosial sebagai penggolongan orang-orang yang termasuk dalam suatu sistem sosial tertentu ke dalam lapisan-lapisan hierarki menurut dimensi kekuasaan, previllege dan prestise.

c. Cuber
Mendefinisikan stratifikasi sosial sebagai suatu pola yang ditempatkan di atas kategori dari hak-hak yang berbeda.

Diferensiasi sosial ditandai dengan adanya perbedaan berdasarkan ciri-ciri sebagai berikut:
a. Ciri Fisik
Diferensiasi ini terjadi karena perbedaan ciri-ciri tertentu.
Misalnya : warna kulit, bentuk mata, rambut, hidung, muka, dsb.
b. Ciri Sosial
Diferensiasi sosial ini muncul karena perbedaan pekerjaan yang menimbulkan cara pandang dan pola perilaku dalam masyarakat berbeda. Termasuk didalam kategori ini adalah perbedaan peranan, prestise dan kekuasaan.
Contohnya : pola perilaku seorang perawat akan berbeda dengan seorang karyawan kantor.
c. Ciri Budaya

dan cirinya sebagai berikut:
Diferensiasi budaya berhubungan erat dengan pandangan hidup suatu masyarakat menyangkut nilai-nilai yang dianutnya, seperti religi atau kepercayaan, sistem kekeluargaan, keuletan dan ketangguhan (etos). Hasil dari nilai-nilai yang dianut suatu masyarakat dapat kita lihat dari bahasa, kesenian, arsitektur, pakaian adat, agama, dsb.

mungkin itu aja semoga bermanfaat::::::<<

* 9 bulan lalu

http://id.answers.yahoo.com/dir/;_ylt=ApaUhAWWC6tWk_P7mj70X.j_Rgx.;_ylv=3?link=list&sid=396545306
_++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++_


Pengertian stratifikasi sosial..........???????
Jawaban Terbaik - Dipilih oleh Suara Terbanyak
Stratifikasi sosial merupakan suatu konsep dalam sosiologi yang melihat bagaimana anggota masyarakat dibedakan berdasarkan status yang dimilikinya. Status yang dimiliki oleh setiap anggota masyarakat ada yang didapat dengan suatu usaha (achievement status) dan ada yang didapat tanpa suatu usaha (ascribed status). Stratifikasi berasal dari kata stratum yang berarti strata atau lapisan dalam bentuk jamak.

Pitirin A. Sorokin mendefinisikan stratifikasi sebagai pembedaan penduduk atau anggota masyarakat ke dalam kelas-kelas secara hierarkis. Sedangkan menurut Bruce J. Cohen sistem stratifikasi akan menempatkan setiap individu pada kelas sosial yang sesuai berdasarkan kualitas yang dimiliki.

Stratifikasi dapat terjadi dengan sendirinya sebagai bagian dari proses pertumbuhan masyarakat, juga dapat dibentuk untuk tercapainya tujuan bersama. Faktor yang menyebabkan stratifikasi sosial dapat tumbuh dengan sendirinya adalah kepandaian, usia, sistem kekerabatan, dan harta dalam batas-batas tertentu.

Mobilitas sosial merupakan perubahan status individu atau kelompok dalam stratifikasi sosial. Mobilitas dapat terbagi atas mobilitas vertikal dan mobilitas horizontal. Mobilitas vertikal juga dapat terbagi dua, mobilitas vertikal intragenerasi, dan mobilitas antargenerasi.

Berkaitan dengan mobilitas ini maka stratifikasi sosial memiliki dua sifat, yaitu stratifikasi terbuka dan stratifikasi tertutup. Pada stratifikasi terbuka kemungkinan terjadinya mobilitas sosial cukup besar, sedangkan pada stratifikasi tertutup kemungkinan terjadinya mobilitas sosial sangat kecil.

Dimensi Stratifikasi Sosial

Untuk menjelaskan stratifikasi sosial ada tiga dimensi yang dapat dipergunakan yaitu : privilege, prestise, dan power. Ketiga dimensi ini dapat dipergunakan sendiri-sendiri, namun juga dapat didigunakan secara bersama.

Karl Marx menggunakan satu dimensi, yaitu privilege atau ekonomi untuk membagi masyarakat industri menjadi dua kelas, yaitu kelas Borjuis dan Proletar. Sedangkan Max Weber, Peter Berger, Jeffries dan Ransford mempergunakan ketiga dimensi tersebut. Dari penggunaan ketiga dimensi tersebut Max Weber memperkenalkan konsep : kelas, kelompok status, dan partai.

Kelas sosial merupakan suatu pembedaan individu atau kelompok berdasarkan kriteria ekonomi. Untuk mendalami kelas sosial ini Soerjono Soekanto memberikan 6 kriteria tradisional.

Menurut Horton and Hunt keberadaan kelas sosial dalam masyarakat berpengaruh terhadap beberapa hal, diantaranya adalah identifikasi diri dan kesadaran kelas sosial, pola-pola keluarga, dan munculnya simbol status dalam masyarakat.

Bentuk stratifikasi dapat dibedakan menjadi bentuk lapisan bersusun yang diantaranya dapat berbentuk piramida, piramida terbalik, dan intan. Selain lapisan bersusun bentuk stratifikasi dapat juga diperlihatkan dalam bentuk melingkar. Bentuk stratifikasi melingkar ini terutama berkaitan dengan dimensi kekuasaan.

Ada tiga cara yang dapat kita lakukan untuk bisa mengetahui bentuk dari stratifikasi sosial. Ketiga cara tersebut adalah dengan pendekatan objektif, pendekatan subyektif, dan pendekatan reputasional.
http://id.answers.yahoo.com/dir/;_ylt=ApaUhAWWC6tWk_P7mj70X.j_Rgx.;_ylv=3?link=list&sid=396545306
_++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++_

Sosialisasi dan Stratifikasi Sosial
Ditulis pada Januari 25, 2008 oleh Pakde sofa

Sosialisasi dan Stratifikasi Sosial

Pengantar Sosiologi

Bag 2

Pengertian Sosialisasi

Pengertian sosialisasi mengacu pada suatu proses belajar seorang individu yang akan mengubah dari seseorang yang tidak tahu menahu tentang diri dan lingkungannya menjadi lebih tahu dan memahami. Sosialisasi merupakan suatu proses di mana seseorang menghayati (mendarahdagingkan - internalize) norma-norma kelompok di mana ia hidup sehingga timbullah diri yang unik, karena pada awal kehidupan tidak ditemukan apa yang disebut dengan “diri”.

Tujuan sosiologi dalam mempelajari sosialisasi karena dengan mempelajari bagaimana orang berinteraksi maka kita dapat memahami orang lain dengan lebih baik. Dengan memperhatikan orang lain, diri sendiri dan posisi kita di masyarakat maka kita dapat memahami bagaimana kita berpikir dan bertindak.

Terdapat beberapa konsep yang berkaitan dengan sosialisasi, yaitu the significant others , the generalized other , looking glass self serta impression management. Masing-masing konsep tersebut memberikan sumbangan yang berarti dalam diri seorang individu yang mengalami proses sosialisasi.

Produk penting dari proses sosialisasi adalah self/personality/diri. Dalam rangka interaksi dengan orang lain, seseorang akan mengembangkan suatu keunikan dalam hal perilaku, pemikiran dan perasaan yang secara bersama-sama akan membentuk self.

Agen sosialisasi meliputi keluarga, teman bermain, sekolah dan media massa. Keluarga merupakan agen pertama dalam sosialisasi yang ditemui oleh anak pada awal perkembangannya. Kemudian kelompok sebaya sebagai agen sosialisasi di mana si anak akan belajar tentang pengaturan peran orang-orang yang berkedudukan sederajat. Sekolah sebagai agen sosialisasi merupakan institusi pendidikan di mana anak didik selama di sekolah akan mempelajari aspek kemandirian, prestasi, universalisme serta spesifisitas. Agen sosialisasi yang terakhir adalah media massa di mana melalui sosialisasi pesan-pesan dan simbol-simbol yang disampaikan oleh berbagai media akan menimbulkan berbagai pendapat pula dalam masyarakat
Jenis Sosialisasi dan Pola Sosialisasi

Proses yang dialami individu terbagi atas sosialisasi primer dan sekunder, sosialisasi primer dialami individu pada masa kanak-kanak, terjadi dalam lingkungan keluarga, individu tidak mempunyai hak untuk memilih agen sosialisasinya, individu tidak dapat menghindar untuk menerima dan menginternalisasi cara pandang keluarga

Sedangkan sosialisasi sekunder berkaitan dengan ketika individu mampu untuk berinteraksi dengan orang lain selain keluarganya. Dalam sosialisasi sekunder terdapat proses resosialisasi dan desosialisasi, di mana keduanya merupakan proses yang berkaitan satu sama lain. Resosialisasi berkaitan dengan pengajaran dan penanaman nilai-nilai yang berbeda dengan nilai-nilai yang pernah dialami sebelumnya, untuk penguatan dalam penanaman nilai-nilai baru tersebut maka desosialisasi terjadi di mana diri individu yang lama “dicabut dan diberi” diri yang baru dalam proses resosialisasi. Kedua proses tersebut terlihat dengan jelas dalam suatu total institusi yang merupakan suatu tempat di mana terdapat sejumlah besar individu yang terpisah dari lingkungan sosialnya.

Pola sosialisasi mengacu pada cara-cara yang dipakai dalam sosialisasi , terdapat dua pola, yaitu represif dan partisipatoris. Represif menekankan pada penggunaan hukuman, memakai materi dalam hukuman dan imbalan, kepatuhan anak pada orang tua, komunikasi satu arah, nonverbal dan berisi perintah, orang tua sebagai pusat sosialisasi sehingga keinginan orang tua menjadi penting, keluarga menjadi significant others. Sedangkan sosialisasi partisipatoris menekankan pada individu diberi imbalan jika berkelakuan baik, hukuman dan imbalan bersifat simbolik, anak diberi kebebasan, penekanan pada interaksi, komunikasi terjadi secara lisan, anak pusat sosialisasi sehingga keperluan anak dianggap penting, keluarga menjadi generalized others.

Seseorang akan mengalami proses sosialisasi yang bersifat terus menerus selama individu tersebut hidup mulai dari anak-anak sampai mereka dewasa. Termasuk pula sosialisasi gender akan pula dialami oleh individu baik laki-laki maupun perempuan. Sosialisasi Gender mengacu pada cara-cara yang dipakai oleh masyarakat dalam mempelajari identitas gender dan berkembang menurut norma budaya tentang laki-laki dan perempuan

Pengertian Stratifikasi Sosial

Stratifikasi sosial merupakan suatu konsep dalam sosiologi yang melihat bagaimana anggota masyarakat dibedakan berdasarkan status yang dimilikinya. Status yang dimiliki oleh setiap anggota masyarakat ada yang didapat dengan suatu usaha (achievement status) dan ada yang didapat tanpa suatu usaha (ascribed status). Stratifikasi berasal dari kata stratum yang berarti strata atau lapisan dalam bentuk jamak.

Pitirin A. Sorokin mendefinisikan stratifikasi sebagai pembedaan penduduk atau anggota masyarakat ke dalam kelas-kelas secara hierarkis. Sedangkan menurut Bruce J. Cohen sistem stratifikasi akan menempatkan setiap individu pada kelas sosial yang sesuai berdasarkan kualitas yang dimiliki.

Stratifikasi dapat terjadi dengan sendirinya sebagai bagian dari proses pertumbuhan masyarakat, juga dapat dibentuk untuk tercapainya tujuan bersama. Faktor yang menyebabkan stratifikasi sosial dapat tumbuh dengan sendirinya adalah kepandaian, usia, sistem kekerabatan, dan harta dalam batas-batas tertentu.

Mobilitas sosial merupakan perubahan status individu atau kelompok dalam stratifikasi sosial. Mobilitas dapat terbagi atas mobilitas vertikal dan mobilitas horizontal. Mobilitas vertikal juga dapat terbagi dua, mobilitas vertikal intragenerasi, dan mobilitas antargenerasi.

Berkaitan dengan mobilitas ini maka stratifikasi sosial memiliki dua sifat, yaitu stratifikasi terbuka dan stratifikasi tertutup. Pada stratifikasi terbuka kemungkinan terjadinya mobilitas sosial cukup besar, sedangkan pada stratifikasi tertutup kemungkinan terjadinya mobilitas sosial sangat kecil.

Dimensi Stratifikasi Sosial

Untuk menjelaskan stratifikasi sosial ada tiga dimensi yang dapat dipergunakan yaitu : privilege, prestise, dan power. Ketiga dimensi ini dapat dipergunakan sendiri-sendiri, namun juga dapat didigunakan secara bersama.

Karl Marx menggunakan satu dimensi, yaitu privilege atau ekonomi untuk membagi masyarakat industri menjadi dua kelas, yaitu kelas Borjuis dan Proletar. Sedangkan Max Weber, Peter Berger, Jeffries dan Ransford mempergunakan ketiga dimensi tersebut. Dari penggunaan ketiga dimensi tersebut Max Weber memperkenalkan konsep : kelas, kelompok status, dan partai.

Kelas sosial merupakan suatu pembedaan individu atau kelompok berdasarkan kriteria ekonomi. Untuk mendalami kelas sosial ini Soerjono Soekanto memberikan 6 kriteria tradisional.

Menurut Horton and Hunt keberadaan kelas sosial dalam masyarakat berpengaruh terhadap beberapa hal, diantaranya adalah identifikasi diri dan kesadaran kelas sosial, pola-pola keluarga, dan munculnya simbol status dalam masyarakat.

Bentuk stratifikasi dapat dibedakan menjadi bentuk lapisan bersusun yang diantaranya dapat berbentuk piramida, piramida terbalik, dan intan. Selain lapisan bersusun bentuk stratifikasi dapat juga diperlihatkan dalam bentuk melingkar. Bentuk stratifikasi melingkar ini terutama berkaitan dengan dimensi kekuasaan.

Ada tiga cara yang dapat kita lakukan untuk bisa mengetahui bentuk dari stratifikasi sosial. Ketiga cara tersebut adalah dengan pendekatan objektif, pendekatan subyektif, dan pendekatan reputasional.

Pengantar Sosiologi karya Wawan Hermawan

http://massofa.wordpress.com/2008/01/25/sosialisasi-dan-stratifikasi-sosial/
_++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++_

Sosiologi Dimensi Stratifikasi Sosial

Ada banyak dimensi yang bisa digunakan untuk mendeskripsikan stratifikasi sosial yang ada dalam suatu kelompok sosial atau komunitas (Svalastoga, 1989), misalnya: dimensi pemilikan kekayaan (diteorikan Koentjaraningrat), sehingga ada strata wong sugih dan wong cilik. Awalnya, di-mensi ini digunakan untuk melakukan identifikasi pada masyarakat Jawa, maka yang disebut pemilikan kekayaan akan ter-fokus pada simbol-simbol ekonomi yang lazim dihargai masyarakat Jawa. Misalnya, pemilikan tanah (rumah, pekarangan atau sawah).

Dimensi distribusi sumber daya diteorikan oleh Gerhard Lensky, di mana ada strata tuan tanah, strata petani bebas, strata pedagang, strata pegawai, strata petani, strata pengrajin, strata penganggur-an, dan strata pengemis. Dimensi ini pada awalnya diberlakukan pada masyarakat pra-industri di mana sistem stratifikasi sosialnya belum sekompleks masyarakat industri.

Ada tujuh dimensi stratifikasi sosial (diteorikan Bernard Baber), yaitu: occupational prestige, authority and power ranking, income or wealth, educational and knowledge, religious and ritual purity, kinship, ethnis group, and local community. Ketujuh dimensi ini, baik secara terpisah maupun bersama-sama, akan bisa membantu dalam mendeskripsikan bagaimana susunan stratifikasi sosial suatu kelompok sosial (komunitas) dan faktor yang menjadi dasar terbentuknya stratifikasi sosial tersebut.

Samuel Huntington mengemukakan bahwa ada dimensi modernisasi untuk menjelaskan stratifikasi sosial, yaitu: strata sosial (baru) yang mampu merealisasi aspirasinya ( the new have) dan strata sosial yang tidak mampu merealisasi aspirasinya atau mereka kalah dalam memperebutkan posisi strata dalam komunitasnya (the looser). Dimensi ini lebih terfokus pada stratifikasi sosial yang pembentukannya didasarkan pada berbagai simbol gaya hidup. Teorisasi Huntington ini dalam beberapa hal berhimpitan dengan teori Leisure Class-nya dari Thorstein Veblen (Beteille, 1977).

http://de-kill.blogspot.com/
_++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++_

Stratifikasi Sosial
Posted by Ario on May 9, '08 1:51 PM for everyone

“The history of all hitherto existing society is the history of class struggles".[1]


Sebuah Pendahuluan



Masyarakat manusia terdiri dari beragam kelompok-kelompok orang yang ciri-ciri pembedanya bisa berupa warna kulit, tinggi badan, jenis kelamin, umur, tempat tinggal, kepercayaan agama atau politik, pendapatan atau pendidikan. Pembedaan ini sering kali dilakukan bahkan mungkin diperlukan.

Semua manusia dilahirkan sama seperti yang selama ini kita tahu, melalui pendapat para orang-orang bijak dan orang tua kita atau bahkan orang terdekat kita. Pendapat demikian ternyata tidak lebih dari omong kosong belaka yang selalu ditanamkan kepada setiap orang entah untuk apa mereka selalu menanamkan hal ini kepada kita.

Dalam kenyataan kehidupan sehari-hari, kenyataan itu adalah ketidaksamaan. Beberapa pendapat sosiologis mengatakan dalam semua masyarakat dijumpai ketidaksamaan di berbagai bidang misalnya saja dalam dimensi ekonomi: sebagian anggota masyarakat mempunyai kekayaan yang berlimpah dan kesejahteraan hidupnya terjamin, sedangkan sisanya miskin dan hidup dalam kondisi yang jauh dari sejahtera. Dalam dimensi yang lain misalnya kekuasaan: sebagian orang mempunyai kekuasaan, sedangkan yang lain dikuasai. Suka atau tidak suka inilah realitas masyarakat, setidaknya realitas yang hanya bisa ditangkap oleh panca indera dan kemampuan berpikir manusia. Pembedaan anggota masyarakat ini dalam sosiologi dinamakan startifikasi sosial.

Seringkali dalam pengalaman sehari-hari kita melihat fenomena sosial seperti seseorang yang tadinya mempunyai status tertentu di kemudian hari memperoleh status yang lebih tinggi dari pada status sebelumnya. Hal demikian disebut mobilitas sosial. Sistem Stratifikasi menuruf sifatnya dapat digolongkan menjadi straifikasi terbuka dan stratifikasi tertutup, contoh yang disebutkan diatas tadi merupakan contoh dari stratifikasi terbuka dimana mobilitas sosial dimungkinkan.

Suatu sistem stratifikasi dinamakan tertutup manakala setiap anggota masyarakat tetap pada status yang sama dengan orang tuanya, sedangkan dinamakan terbuka karena setiap anggota masyarakat menduduki status berbeda dengan orang tuanya, bisa lebih tinggi atau lebih rendah.

Mobilitas Sosial yang disebut tadi berarti perpindahan status dalam stratifikasi sosial. Banyak sebab yang dapat memungkinkan individu atau kelompok berpindah status, pendidikan dan pekerjaan misalnya adalah salah satu faktor yang mungkin dapat meyebabkan perpindahan status ini. Masih banyak sebab-sebab lain dalam mobilitas sosial ini, namun yang menjadi pertanyaan saya adalah kondisi dan atas dasar apa individu maupun kelompok melakukan perpindahan status ini? Tetapi biarlah pertanyaan ini tetap menjadi pertanyaan.



“ Historically four basic systems of stratification have existed in human societies: slavery, caste, estates and class ” [2]



Stratifikasi sosial digunakan untuk menunjukan ketidaksamaan dalam masyarakat manusia. Seperti yang telah disebutkan diatas bahwa banyak dimensi dalam stratifikasi sosial akan tetapi tidak semua dimensi akan ditulis dalam makalah ini mengingat keterbatasan pengetahuan saya soal hal ini. Namun beberapa stratifikasi yang menurut saya penting akan saya tuliskan. Pertama, perbudakan seperti yang kita tahu pada sistem seperti ini masyarakat di bagi menjadi dua pemilik budak dan budak. Dimana seseorang atau kelompok orang dimiliki sebagai hak milik seseorang. Namun hal ini sudah lama tidak berlaku lagi saat ini. Salah satu penyebab adanyanya budak adalah perang. Dimana pihak yang kalah kemudian dijadikan tawanan kerja paksa.. Kedua, kasta hal ini berhubungan dengan kepercayaan bansa India dimana mereka percaya terhadap reinkarnasi bahwa manusia akan dilahirkan kembali, dan setiap orang wajib menjalani hidupnya sesuai dengan kastanya, dan bagi mereka yang tidak menjalankan kewajiban sesuai kastanya maka dalam kehidupan mendatang akan dilahirkan kembali didalam kasta yang lebih rendah. Setiap orang dalam sistem kasta ini mendapatkan tingkatan kastanya berdasarkan kasta keluarga mereka. Namun yang masih belum jelas disini adalah atas dasar apa dan darimana keluarga mereka mendapatkan kedudukan dalam kasta tersebut? Ketiga, Estates hal ini erat hubungannya dengan sistem Feodal dimana kedudukan seseorang dinilai dari seberapa banyak dia memiliki tanah. Tanah ini merupakan hadiah atau penghargaan untuk para raja-raja bangsawaan atas dukungannya terhadap raja. Keempat, kelas ialah pembagian masyarakat atas dasar kemampuan ekonomi yang tercermin dalam gaya hidupnya.

Perubahan sosial yang dialami oleh masyarakat sejak jaman perbudakan sampai revolusi industri hingga sekarang secara mendasar dan menyeluruh telah memperlihatakan pembagian kerja dalam masyarakat. Berdasarkan hal tersebut maka diferensiasi sosial yang tidak hanya berarti peningkatan perbedaan status secara horizontal maupun vertical. Hal ini telah menarik para perintis sosiologi awal untuk memperhatikan diferensiasi sosial, yang termasuk juga stratifikasi sosial. Perbedaan yang terlihat di dalam masyarakat ternyata juga memiliki berbagai macam implikasinya dalam kehidupan sehari-hari. Status yang diperoleh kemudian menjadi kunci akses kesegala macam hak-hak istimewa dalam masyarakat yang pada dasarnya hak istimewa tersebut merupakan hasil dari rampasan dan penguasaan secara paksa oleh yang satu terhadap yang lainya, mendominasi dan didominasi, yang pada akhirnya merupakan sumber dari ketidaksamaan di dalam masyarakat. Berbagai macam argumentasi pun diajukan guna menjelaskan ketidaksamaan ini yang kemudian berubah menjadi ketidakadilan.



Kelas dan Stratifikasi



Karl Marx



Seseorang yang mengguncangkan dunia dengan analisisnya yang tajam dan akurat tentang keadaan manusia di era kapitalisme. Pembedahan atas situasi ekonomi dan politik yang dilakukannya dalam kondisi pelarian politik dan kematian tragis anak-anaknya. Tak ada ungkapan yang tepat selain revolusioner baginya. Lahir di Jerman pada tanggal 5 mei 1818. Semuanya berawal ketika ia kuliah di di Berlin, dari sini lah seorang pelarian politik di kemudian hari ini memberi inspirasi kepada jutaan umat manusia untuk mengemansipasi dirinya lewat perjuangan kelas akibat ketertindasan dan penghisapan yang dilakukan oleh para kapitalis.

Seluruh pemikiran Karl Marx berdasarkan bahwa pelaku-pelaku utama dalam masyarakat adalah kelas-kelas sosial. Salah satu kesulitan dalam teori kelasnya Marx adalah meskipun Marx sering berbicara tentang kelas-kelas sosial, namun ia tidak pernah mendefinisikan apa yang dimaksud dengan istilah “kelas”. Ada baiknya kita ambil saja salah satu definisi tentang kelas dari seorang marxis sekaligus pemimpin revolusi Bolshevik 1917 yang termahsyur, Lenin mendefinisikan kelas sebagai berikut:



“Classes are large groups of people differing from each other by the place they occupy in a historically determined system of social production, by their relation (in most cases fixed and formulated in law) to the means of production, by their role in the social organisation of labour, and, consequently, by the dimensions and mode of acquiring the share of social wealth of which they dispose. Classes are groups of people one of which can appropriate the labour of another owing to the different places they occupy in a definite system of social economy“.[3]



Inilah definisi kelas khas kaum marxis. Kelas-kelas sosial pun dibedakan menjadi berdasarkan posisinya dalam produksi, menurut mereka:



“kriteria fundamental yang membedakan kelas-kelas adalah posisi yang mereka duduki dalam produksi sosial, dan kosekuensinya menentukan relasi mereka terhadap alat-alat produksi”[4].



Relasi dimana kelas-kelas menempati posisi atas alat produksi menentukan peran mereka dalam organisasi sosial kerja, sebab kelas-kelas memiliki fungsi-fungsi yang berbeda dalam produksi sosial. Dalam masyarakat antagonis beberapa kelas mengatur produksi, mengatur perekonomian dan mengatur seluruh urusan-urusan sosial, misalnya mereka yang memiliki keunggulan dalam kerja mental. Sementara kelas-kelas lainnya menderita di bawah beban kewajiban kerja fisik yang berat. Biasanya, dalam masyarakat yang tebagi atas kelas-kelas, manajemen produksi dijalankan oleh kelas yang memiliki alat produksi. Namun segera setelah beberapa relasi produksi menjadi sebuah halangan bagi perkembangan tenaga-tenaga produktif, kelas-kelas penguasa pun harus mulai memainkan peran yang berbeda dalam organisasi sosial kerja. Ia berangsur-angsur kehilangan signifikansinya sebagai organisator produksi, dan merosot posisisnya menjadi sebuah sampah parasitis dalam tubuh masyarakat dan hidup atas kerja keras orang lain. Seperti pada nasib tuan tanah feodal dulu, hal inilah yang dialami oleh para borjuasi atau kapitalis kini. Menurut Marx kehancuran feodalisme dan lahirnya kapitalisme telah membuat terpecahnya masyarakat menjadi dua kelas yang sifatnya antagonistis, yaitu kelas borjuis yang memiliki alat produksi dan kelas proletar yang tidak mempunyai alat produksi. Dua kelas inilah yang dalam terminologi marxis disebut kelas fundamental karena sifatnya yang tak terdamaikan atau antagonis. Penghancuran atas salah satunya merupakan gerak sejarah yang di manifestasikan lewat perjuangan kelas.

Marx membuktikan bahwa masyarakat kapitalis adalah masyarakat terakhir dalam sejarah manusia dengan kelas-kelas antagonistisnya. Jalan yang mengarahkan kepada masyarakat tanpa kelas terletak pada perjuangan kelas proletariat melawan segala bentuk penindasan, demi membangun kekuatannya dalam masyarakat yang diciptakan untuk melindungi kepentingan rakyat pekerja.

Marx memandang kelas pekerja sebagai kekuatan sosial utama di jaman kapitalisme yang memiliki kemampuan untuk mengeleminasi sistem kapitalis dan menciptakan sebuah masyarakat baru tanpa kelas yang terbebas dari eksploitasi.



Asal Mula Kelas.



Dalam hukum perkembangan masyarakat Marx berdasarkan salah satu jarannya tentang materialisme histories, Pada awalnya tidak ada kelas dalam masyarakat yaitu pada jaman komunal primitif. Pada jaman ini, orang harus saling toltong menolong dalam rangka terus bertahan hidup dan melindungi diri berbagai macam binatang pemangsa. Hal ini memaksa orang harus tinggal menetap, untuk bertahan hidup manusia saat itu berburu hewan, mengumpulkan makanan (tanaman dan buah-buahan) yang dapat dimakan bersama. Tempat tinggal mereka pun dibedakan, dan menjadi pembeda antara kelompok manusia yang satu atas yang lainnya. Berbagai macam keterampilan, bahasa muncul. Semua hal ini diidetifikasikan sebagai suku atau klan.

Pada saaat ini kerja awalnya dibedakan anatara laki-laki dan perempuan, lalu dibedakan atas dasar kelompok-kelompok usia yang berbeda. Lalu berkembang pada kakhasan pekerjaan rutin yang dilakukan oleh komunitas penanam, peternak dan pemburu. Pembagian kerja merupakan hak prerogatif dari anggota komunitas yang tertua dan paling berpengalaman. Namun demikian, mereka tidaklah dianggap sebagai kelas yang memiliki privilese istimewa karena jumlah mereka yang sedikit jika dibandingkan dengan mayoritas dewasa dikomunitas disamping hak mereka didapat melalui persetujuan dari mayoritas dewasa. Posisi khusus mereka terletak pada otoritasnya, nukan pada kepemilikan properti atau kekuatan mereka. Pada jaman ini produksi yang dihasilkan orang dibuat hanya untuk mencukupi kebutuhan-kebutuhan langsung, jadi tidak terdapat lahan untuk mengakarnya ketidakadilan sosial.

Setelah jaman komunal primitif berangsur-angsur pudar, banyak hal yang menjadi penyebab hal ini terjadi, selain keharusan sejarah. Berakhirnya jaman ini tidak terjadi secara berbarengan berbagai daerah didunia ini sebgai contoh negara-negara Afrika, formasi kelas-kelas baru mulai terbentuk setelah rejim-rejim kolonial tresingkirkan, yaitu sejak tahun 1950-an sedangkan kelas di Mesir Kuno pada akhir milenium ke-4 dan di awal milenium ke-3 sebelum masehi.

Kemunculan kelas-kelas sosial ini terjadi akibat dari pembagian kerja secara sosial, disaat kepemilikan pribadi atas alat produksi menjadi sebuah kenyataan. Marx melakukan stratifikasi terhadap masyarakat berdasarkan dimensi ekonomi, dimana hal yang paling pokok menurut ia adalah kepemilikan atas alat produksi. Seperti yang selalu dia katakan dalam berbagai tulisannya, pembagian kerja yang merupakan sumber ketidakadilan sosial timbul saat memudarnya masyarakat komunal primitif.



“Salah satu dari pra kondisi yang paling general dari kehadiran masyarakat yang terbagi atas kelas adalah perkembangan tenaga-tenaga produktif. Dalam perjalanan panjangnya, proses ini menimbulkan tingkat produksi yang bergerak jauh lebih tinggi dari yang dibutuhkan orang untuk melanjutkan hidupnya. Jadi surplus produk memberikan kepada umat manusia lebih dari yang dibutuhkannya, dan sebagai konsekuensinya, ketidakadilan sosial secara bertahap tumbuh dengan sendirinya dalam masyarakat”[5]





Bersamaan dengan kepemilikan pribadi atas alat produksi yang menguasai perkembangan tenaga-tenaga produktif, dan produksi individu atau keluarga telah menghapuska produksi komunal sebelumnya, ketidak adilan ekonomi menjadi tidak terhindarkan lagi dan hal ini mengkondisikan masyarakat ke dalam kelas-kelas.

Para pemimpin dan tetua komunitas yang mempunyai otoritas dalam komuntas untuk melindungi kepentingan bersama ini. Temasuk dalam hal pengawasan dan pengambilan putusan yang dianggal adil oleh komunitas. Hal demikian juga dapat kita sebut sebagai kekuasaan negara elementer, namun pada dasarnya mereka tidak pernah berhenti mengabdi pada komunitas.

Perkembangan tenaga-tenaga produktif dan penggabungan komunitas-komunitas tersebut kedalam entitas yang lebih besar mengarah pada pembagian kerja lebih lanjut. Dalam perkembangnya terbentuklah badan-badan khusus yang berfungsi untuk melindungi kepentingan bersama serta juri dalam perselisihan antar komunitas. Secara bertahap badan-badan ini mendapat otonomi yang semakin besar dan memisahkan dirinya dari masyarakat sekaligus merepresentasikan kepentingan kelompok sosial utama. Otonomi ini dari pejabat urusan publik berubah menjadi bentuk dominasi terhadap masyarakat yang membentuknya, dulunya abdi publik sekarang para pejabat itu berubah menjadi tuan-tuan (lords).



“Pada umumnya, perkembangan produksi sosial menuntut adanya tenaga kerja manusia yang lebih banyak guna terlibat dalam produksi material. Tidak ada komunitas yang sanggup mnyediakan hal itu sendiri, dan tenaga kerja manusia tambahan disediakan oleh peperangan”[6]



Cara lain pembentukan kelas adalah melalui pembudakan terhadap bala tentara musuh yang tertangkap saat perang. Para peserta perang mulai menyadari bahwa lebih bermanfaaat untuk membiarkan para tawanan mereka terus hidup dan memaksa mereka unutuk bekerja. Jadi hak-hak mereka sebagai manusia dicabut dan diperlakukan tak ubahnya seperti binatang pekerja.



Dalam perkembangan masyarakat selanjutnya, kita akan mengenal kelas-kelas yang salingbbertentangan. Hal ini disebabkan karena kepentingan mereka selalu tidak dapat diketemukan. Dalam terminologi marxis kita akan mengenal bahwa kelas di bedakan menjadi dua macam bentuk dan sifatnya yaitu kelas-kelas fundamental dan kelas-kelas non fundamental.

Kelas-kelas fundamental adalah kelas-kelas yang keberadaannya ditentukan oleh corak produksi yang mendominasi dalam formasi sosial ekonomi tertentu. Setiap formasi sosial ekonomi yang antagonistis memilki dua kelas fundamental. Kelas-kelas ini bisa berupa pemilik budak dan budak, tuan feudal dan hambanya, ataupaun borjuasi dan proletar. Kontradiksi-kontradiksi antagonistis diantara kelas-kelas tersebut berubah oleh penggantian sistem yang berlaku dengan sebuah sistem baru yang progresif.

Kelas-kelas non fundamental adalah bekas-bekas atau sisa-sisa dari kelas dalam sistem yang lama dan masih bisa dilihat dalam sistem yang baru, biasanya kelas ini menumbuhkan corak produksi yang baru dalam bentuk struktur ekonomi yang spesifik. Sebagai contoh para pedagang, lintah darat, petani-petani kecil yang terdapat dalam masyarakat kepemilikan budak dengan kelas yang fundamental pemilik budak dan budak.

Kelas-kelas fundamental dan non fundamental saling bergantung secara erat, karena dalam perkembangan sejarahnya, kelas fundamental bisa menjadi non fundamental, dan demikian pula sebaliknya. Sebuah kels fundamental merosot menjadi sebuah kelas non fundamental saaat corak produksi yang dominan yang mendasarinya secara bertahap berubah menjadi sebuah struktur sosial ekonomi yang sekunder. Sebuah kelas non fundamental menjadi fundamental saat sebuah struktur sosial ekonomi baru yang terdapat di dalam sebuah formasi sosial ekonomi berubah menjadi corak produksi yang dominan.

Masyarakat juga bisa memiliki lapisan orang-orang yang tidak termasuk ke dalam kelas-kelas tertentu, yaitu elemen-elemen tak berkelas yang telah kehilangan ikatan-ikatan dengan kelas asalnya. Hal ini berlaku bagi lumpen-lumpen kapitalisme yang terdiri atas orang-orang tanpa pekerjaan tertentu atau yang biasa disebut sebagai sampah-sampah masyarakat, seperti pengemis, pelacur, pencuri dan sejenisnya.

Selain kelas, terdapat kelompok sosial besar lain yang garis pembatasnya terletak pada latar yang berbeda dengan latar-latar pembagian kelas, ia munkin saja didasrkan pada usia, jenis kelamin, ras, profesi, kebangsaaan, dan pembeda lainnya.



Max Weber



Lahir di Jerman pada tahun 1864. Belajar ilmu hukum di Universitas Berlin dan Universitas Heidelberg, selepas studinya ia bekerja sebagai dosen ilmu hokum di Univesitas tempat ia belajar dulu. Selain mengajar ia pun berperan sebagai konsulatan dan peneliti, dan semasa Perang Dunia I ia mengabdi di angkatan bersenjata Jerman. Pada tahun 1889 ia menulis sebuah disertasi yang berjudul A Contribution to the History of Medieval Buisness Organization. Salah satu bukunya yang terkenal adalah The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism. Dalam bukunya ini Weber menggambarkan hubungan antara Etika Protestant dan Kapitalisme di Eropa Barat.

Max Weber termasuk diantara salah satu sosiolog yang tidak sepakat dengan penggunaan dimensi ekonomi semata-mata untuk menentukan stratifikasi sosial. Giddens dalam bukunya sociology menunjukan persamaan antara Marx dan Weber:

“Like Marx, weber regarded society as characterized by conflict over power and resources”[7]



Sekaligus pebedaannya,



“Although Weber accepted Marx’s view that class is founded on objectively given economic factors as important in class formation than were recognized by Marx”[8]



baik Marx maupun Weber keduanya melihat bahwasahnya kelas adalah stratifikasi atas masyarakat berdasarkan dimensi ekonomi. Namun seperti yang telah dikatakan sebelumnya bahwa Weber termasuk ilmuwan sosial yang menolak penggunaan dimensi stratifikasi ekonomi semata-mata dalam menntukan stratifikasi sosial masyarakat.

Menurut Weber , stratifikasi sosial tidak sesederhana demikian hingga dapat dijelaskan lewat kelas, ia menambahkan dalam uraiannya tentang kekuasaan dalam masyarakat bahwa pembedaan masyarakat dapat dilihat melalui kelompok status, partai dan kelas.

Kelas menurut Weber adalah sejumlah orang yang mempunyai persamaan dalam hal peluang untuk hidup atau nasib (life chances). Peluang untuk hidup orang tersebut ditentukan oleh kepentingan ekonomi berupa penguasaan atas barang serta kesempatan untuk memperoleh penghasilan dalam pasaran komoditas atau pasaran kerja. Sebagai akibat dari dipunyainya persamaan untuk menguasai barang dan jasa sehingga diperoleh penghasilan tertentu, mka orang yang berada di kelas yang sama mempunyai persamaan yang dinamakan situasi kelas.

Situasi kelas adalah persamaan dalam hal peluang untuk menguasai persediaan barang, pengalaman hidup pribadi, atau cara hidup. Kategori dasar untuk membedakan kelas ialah kekayaan yang dimilikinya, dan faktor yang menciptakan kelas ialah kepentingan ekonomi, pada titik ini konsep kelas Marx dan Weber adalah sama, yaitu pembedaan kelas dan faktor yang mendorong terciptanya kelas.

Dimensi lain yang digunakan weber adalah ialah dimensi kehormatan. Manusia dikelompokan dalam kelompok status. Kelompok status merupakan orang yang berada dalam situasi status yang sama, dimana orang yang peluang hidupnya ditentukan oleh ukuran kehormatan, coba lihat pembedaan sultan dan abdi dalem yang ada di Yogyakarta. Persamaan kehormatan status dinyatakan dalm persamaan gaya hidup. Dalam bidang pergaulan hal ini dapat berupa pembatasan dalam pergaulan dengan orang yang statusnya lebih rendah. Selain danya pembatasan dalam pergaulan, menurut Weber kelompok status ditandai oleh adanya hak istimewa dan monopoli atas barang dan kesempatan ideal maupun material. Dalam hal gaya hidup, hal ini bisa kita lihat dari gaya konsumsi.

Disamping pembedaan lewat dimensi ekonomi dan kehormatan Weber menambakan bahwa masyarakat juga dibeda-bedakan berdasarkan kekuasaan yang dimilikinya. Kekuasaan menurut Weber adalah peluang bagi seseorang atau sejumlah orang untuk mewujudkan keinginan mereka sendiri melalui suatu tindakan komunal meskipun mengalami tentangan dari orang lain yang ikut serta dalam tindakan komunal itu. Bentuk dari tindakan komunal ini adalah partai yang diorientasikan pada diperolehnya kekuasaan.


Erik Olin Wright



Sosiolog dari Amerika ini telah membangun teori kelas kombinasi dari pendekatan Marx dan Weber. Sulit rasanya untuk menulis tentang ilmuan sosial yang satu ini, hal ini di sebabkan Wright sendiri tidak pernah mendefinisikan kelas menurut dia sendiri, disamping buat saya adalah referensi tentang pikirannya dalam bentuk buku masih jarang ditemui, beberapa bahan dapat saya temukan lewat internet namun hal ini juga ternyata tidak cukup memuaskan. Dari berbagai tulisannnya tentang sosiologi Erik Olin Wright dapat digolongkan ke kelompok Neo Marxis. Tulisannya tentang kelas dapat banyak ditemukan di Internet. Menurut Wright:



“According to Wright, there are three dimensions of control economic recources in modern capitalist production, and these allow us to identify the major classes which exist”.

1. Control over investments or money capital.
2. Control over the physically means of production (land or Factories and offices).
3. Control over labour power.[9]



Ketiga point diatas seluruhnya dikuasi oleh kelas kapitalis, sedangkan kelas pekerjanya sendiri tidak menguasai satu pun dari tiga hal diatas. Padahal menurut Marx bahwa point pertama dan kedua diatas dihasilkan dari point ketiga. Ironis memang jika melihat hal demikian, bayangkan ada sekelompok orang yang telah seharian bekerja keras namun hasil kerja tidak dapat ia nikmati sendiri.

Diantara dua kelas utama ini ada kelompok yang posisinya ambigu menurut dia, sebut saja seprti yang dia contohkan yaitu para manajer dan pekerja kerah putih atau para professional. Letak ambiguitas orang-orang ini dalam sistem produksi adalah mereka mampu mempengaruhi beberapa aspek dari produksi namun meraka tidak mampu menguasinya. Sama seperti para pekerja manual mereka menjual tenaga mereka kepada kaum kapitalis lewat kontrak kerja namun disatu sisi mereka mempunyai wewenang dalam perencanaan kerja atau kerja mental.

Kita tentu masih ingat apa yang dikatakan Marx, bahwa diantara kelas borjuis dan kelas proletar ada kelas yang dinamakan kelas borjuis kecil, yang dalam perkembangannya akan jatuh kedalam barisan kaum proletariat disebabkan karena mereka tidak mempunyai modal yang cukup besar dalam usahanya. Dalam perjalanan kapitalisme besar tidaknya modal menentukan dalam usaha mempertahankan produksi dan mendapatkan surplus guna memperbesar modal produksi. Sistem monopoli dan persaingan bebas yang berlaku didalam kapitalisme telah memaksa orang-orang yang seperti disebut oleh wright “contradictory class locations” akhirnya habis dimakan oleh kapitalis-kapitalis besar.

Tentu ada sebab-sebab yang menjadikannya kelompok ini muncul, yaitu keahlian dan kemampuan. Dalam konsep mobilitas sosial factor pendidikan mainkan peranan yang cukup penting disini lewat pendidikan individu yang berasal dari status rendah namun berpendidikan tinggi, dalam masyarakat kapitalis yang membutuhkan para pekerja ahli misalnya manajer guna mengawasi berjalannya sistem produksi. Kelas pekerja tidak mempunyai keahlian yang cukup dalam hal manajemen ini karena cuma tenaga yang mereka punya. Itupun akan digantikan oleh mesin-mesin sering dengan kemajuan teknologi. Tentu ada aspek-aspek lain dari hal ini. Biasanya pekerja yang mempunyai keahlian dan berpengalaman dalam bidang dapat memperoleh upah kerja diatas-rata yang diterima oleh pekerja biasa. Kesempatan kerja pun terbuka lebih jauh dan lebar dari kelompok ini akibat dari keahlian yang dimilikinya. Menurut Wright:



“ employees with knowledge and skills are more difficult to monitor and control, employers are obliged to secure their loyalty and cooperation by rewarding them accordingly”[10]



Dimensi kekuasaan dalam sistem produksi dari kelompok ini juga ikut memasukan konsepnya Weber dalam stratifikasi sosialnya Erik Olin Wright. Pada hakekatnya sifat dari kelompok ini adalah oportunis dan pragmatis.



Berdasarkan pengalaman sehari-hari, menurut saya pendekatan Marx dalam melakukan stratifikasi terhadap masyarakat dimana saya hidup cukup relevan. Masyarakat di dalam negara dunia ketiga seperti Indonesia dimana kesenjangan antara yang kaya dan yang dimiskinkan demikian lebarnya, pendekatan Marx bisa menjelaskan apa yang saya alami sehari-hari.

Jaman yang sedang berlangsung ini adalah jaman kapitalisme yang telah mencapai tahapnya yang tertinggi yaitu Imperialisme, dan sedang berjalan menuju kehancurannya, seperti yang diyakini Marx dan para Marxis. Dua kelas utama dalam masyarakat ini adalah borjuis dan proletar. Borjuasi terdiri dari para pemilik properti pertanian dan industri besar yang hanya kerja di perusahaanya, dan menikmati surplus dalam bentuk keuntungan yang didapatnya dari hasil kerja para buruh upahan yang tetap tidak terbayar sesuai dengan kebutuhannya di dalam jaman kapitalisme. Kelas yang berseberangan dengan borjuis, yang di satu sisi merupakan prakondisi dari kemunculannya, dan disisi lain adalah proletar, yaitu kelas yang harus menjual tenaganya kepada para kapitalis sekedar untuk terus bertahan hidup.

Ketergantungan kelas ini terhadap para kapitalis cukup besar dan hal ini diwujudkan dalam bentuk yang berbeda-beda. Seorang pekerja tidak berhak atas alat produksi. Ia bergantung pada tenaganya sendiri dalam kehidupan, dalam jaman ini tak seorangpun kecuali para kapitalis yang memiliki alat produksi dapat membeli dan mempergunakan tenga kerja. Konsekuensi dari hal ini adalah para pekerja terpaksa bekerja untuk para kapitalis tersebut. Borjuis bergerak terus dalam perkembangannya yang sesuai dengan tahap-tahap perkembangan ekonomi dari masyarakat kapitalis. Munculnya borjuis sebagai kelas dihubungkan dengan jaman yang disebut akumulasi modal primitif. Indikasi dari jaman ini adalah perampasan tanah dan instrumen kerja milik masyarakat luas, melalui eleman terpentingnya yaitu perampasan barang-barang kolonial dan ekspansionisme. Disaat semua syarat telah tersedia bagi mulainya sebuah corak produksi kapitalis. Syarat-syarat itu termasuk telah hadirnya masssa pekerja upahan independen dan konsentrasi kapital ditangan borjuasi.

Di Indonesia hal ini berlangsung dengan masuknya kolonialisme Belanda. VOC sebagai serikat dagangnya waktu itu. Bentuk-bentuk pengisapan yang dilakukan VOC waktu itu adalah leveratien dan contingenten. Leverienten adalah sistem penyerahan hasil pertanian oleh para bupati pesisir kepada VOC dalam jumlah yang ditentukan oleh VOC. Contingeten adalah sistem jatah penyerahan hasil pertanian yang dikenakan pada bupati di pesisir Jawa oleh VOC, dengan demikian kaum tani pada masa itu menderita dua macam penindasan, dari raja-raja, dan dari VOC. Hal ini terus berjalan hingga sampai ke masa imperialisme yang telah menimbulkan situasi baru di Indonesia. Kemunculan pabrik-pabrik, perkebunan-perkebunan besar, pelabuhan-pelabuhan, hingga perusahaan swasta membutuhkan tenaga kerja terdidik untuk melaksanakan pekerjaan yang serba modern. Perubahan tanah-tanah pertanian yang kini telah berubah menjadi kawasan tempat berdirinya berbagai fasilitas produksi. Bersamaaan dengan terjadinya hal ini kelas pekerja pun muncul.

Perkembangan borjuasi dikaitkan dengan revolusi industri dan kapitalisme pra monopoli sampai periode monopoli kapitalisme dan revolusi sains dan teknologi. Awal abad ke 20 adalah tahu oligarki finansial timbul kepermukaan. Sebagai akibat munculnya jutawan-jutawan, kebangkrutan banyak pengusaha kecil dan menengah, konsentrasi modal dan produksi, inilah basis ekonomi kapitalisme mulai masuk ketahapannya yang tertinggi yaitu Imperialisme. Dalam Imperialisme, borjuasi cenderung secara terus-menerus mengecil jumlahnya hal ini diakibatkan oleh persaingan bebas yang menjadi hukum dijaman imperialisme ini. Konsekuensi logis dari hal ini adalah meningkatnya jumlah kaum pekerja.

Proses pembentukan kelas pekerja di negara berkembang, yang ekonominya seringkali merupakan kombinasi antara elemen kapitalis, foedal bahkan patriarkal, merupakan proses yang rumit dan pelik. Hampir tidak ada negara didunia ini dimana kapitalisme hadir dalm bentuk aslinya. Biasanya kelas warisan dari sistem sosial ekonomi sebelumnya terus bertahan dan berdampingan dengan kapitalis, khususnya sisa-sisa dari kelas feodal atau pemilik tanah yang mendominasi terus bertahan di bebrapa negara bahkan dibawah kapitalisme seperti di Indonesia dapat kita jumpai hubungan-hubungan itu dibeberapa daerah misalnya Yogyakarta dan daerah Jawa lainnya.

Pada masyrakat kapitalis, terdapat beberapa strata kecil yang terdiridari pemilik alat produksi kecil strata ini terbentuk dari petani dan borjusi kecil perkotaaan. Namun dalam perkembangan selanjutnya strata ini akan hancur jika relasi-relasi produksi akan menajam dalam perkembangannya. Seperti yang dapat kita lihat didalam kondisi di Indonesia dimana angka tenaga kerja yang terus meningkat tak pernah tercukupi oleh lapangan pekerjaan yang tersedia. Negara yang merupakan alat dari kelas yang berkuasa- di Indonesia adalah kelas kapitalis dan kaum komprador-telah melegitimasi atas kondisi yang terjadi dan bahkan mengkondisikan hal ini demi kepentingan kelas yang berkuasa.


Kemiskinan dan Eksklusi Sosial



Urbanisasi Sebagai salah satu implikasi dari pertumbuhan penduduk menjadi, salah satu factor dari kemiskinan. Harapan akan hidup lebih baik yang dibawa dari daerah asalnya ke tempatnya yang baru. Namun di tempatnya yang baru harapanya ternyata tidak juga terpenuhi. Akhirnya ditempat baru ini hanya kemiskinan dan hidup yang tak terjamin dengan penghasilan yang tidak tetap dan dibawah standar guna memenuhi kebutuhan hidupnya.

Hidup di daerah perkotaan seperti kota Jakarta ini tentu biaya hidup yang dikeluarkan tidak murah, akhirnya orang hanya bisa berpikir bagaimana caranya bertahan hidup dengan segala macam kebutuhan primer dan sekundernya hari ini. Persoalan kebutuhan makanan, pakaian dan tempat tinggal pun muncul sebgai masalah pertama untuk hidup diperkotaan. Baru-baru penggusuran terhadap perumahan rakyat dilakukan oleh Pemerintahan Daerah Jakarta. Ada baiknya kita mundur terlebih dahulu,beberapa tahun yang lalu World Bank menyodorkan program tata kota yaitu “ city without slumps”, disamping pemotongan subsidi publik seperti BBM, pendidikan, etc guna mendapatkan pinjaman hutang luar negeri. Program ini segera direspon oleh Pemda Jakarta dengan semangat juang yang tinggi. Akhir tahun 2001 pun dijadwalkan sebagai waktunya pelaksanaan program ini, mulai dari penggarukan becak yang dianggap sebagai biang keladi kemacetan di Jakarta dan kemudian disusul oleh penggusuran perumahan rakyat yang dianggap kumuh. Umumnya masyarakat yang tinggal di kawasan perumahan ini adalah masyarakat yang mempunyai status kemiskinan absolut [11] menurut Giddens. Program World Bank ini ternyata dipakai oleh Pemda Jakarta guna menghilangkan perkampungan yang menurut mereka dari sanalah segala macam bentuk kriminalitas itu timbul. Kemiskinan yang dialami penduduk kota ini telah mengakibatkan dicabutnya hak mereka untuk bertempat tinggal di kota metropolitan ini oleh negara dimana dalm kondisinya agar mendapat pinjaman diri negara luar, yang padahal belum tentu pinjaman yang mengatasnamakan rakyat itu jatuh ketangan rakyat, karena korupsi sudah sedemikian akutnya di pemerintahan negara ini.

Menurut saya penggusuran yang dilakukan ini merupakan salah satu factor kemiskinan tetap ada di kota Jakarta ini. Dengan dicabutnya hak asasi manusia untuk bertempat tinggal ini, warga kota Jakarta harus bekerja berkali-kali lipat lagi untuk memenuhi kebutuhan primer yang satu ini, padahal kehidupan sehari-hari kebutuhan primer yang lain belum tentu bisa tercukupi oleh penghasilan yang didapatkan.

Namun bisa juga berlaku sebaliknya, bahwa kemiskinan yang diderita orang-orang ini adalah karena ekslusi sosial dari negara dan kelas dalam masyarakat. Seperti yang saya ketahui bahwa penyediaan kebutuhan publik, seperti air minum, listrik, pendidikan, pekerjaan. Oleh negara tidak dilakukan, bahkan pengakuan sebagai penduduk kota ini pun tidak diberikan kepada mereka. Akibat dari hilangnya akses-akses seperti inilah yang juga menyebabkan kenapa kemiskinan masih saja tetap ada bahkan cenderung ke arah pemerataan kemiskinan.



Daftar Pustaka dan Bahan Bacaan.



1. Giddens, Anthony, Sociology, edisi ke –4, Cambridge; Polity press.
2. Sunarto, Kamanto, Pengantar Sosiologi edisi ke-2,2000; Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
3. Marx, Karl dan Engels, Frederick, Selected Works, vol 1 dan vol 2, Moscow, 1962; Foreign Languages Publishing House.
4. Yermakova, Antonina dan Ratnikov, Valentine, Kelas dan Perjuangan Kelas, cetakan-1, Yogyakarta; Sumbu.
5. Rius, Marx untuk Pemula, cetakan ke-1, 2000; Insist Press.
6. Lenin, V.I, Marx- Engels- Marxism, seventh revised edition, Moscow, 1965; Progress Publishers.
7. Suseno, Franz Magnis, Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme, Jakarta, 2001; PT Gramedia Pustaka Utama.
8. Simon, Roger, gagasan-gagasan politik Gramsci, cetakan ke-1, 1999; Pustaka Pelajar dan Insist Press.
9. Sadali, Sejarah Gerakan Buruh Indonesia, 2002; Pustaka Pena
10. Afanasyev, A, Marxist Philosophy, Moscow, 1968; Progress Publishers.
11. Makalah Kelompok 4 dan 5 dalam mata kuliah Sosiologi.



666

[1] Karl Marx and Frederick Engels, Manifesto Communist 1848, dalam Marx and Engels selected work vol 1, Moscow, Foreign Languages Publishing House,1962, hal 34.

[2] Lihat Giddens, Anthony, Sociology, chapter 10, edisi ke 4, Cambridge: Polity Press.

[3] V.I. Lenin, A Great Beginning (excerpt), 1919, dalam Marx, Engels, Marxism, Progress Publishers, Moscow, 1965, hal 384.

[4] V.I. Lenin, Vulgar Socialism and Narodism as Resurrected by the Socialist Revolusioneries, Kumpulan Tulisan, vol 6, 1977, hal 262-263

[5] Yermakova, Antonina dan Ratnikov, Valentine, Kelas dan Perjuangan Kelas, Cetakan 1, Yogyakarta, 2002; Sumbu

[6] Yermakova, Antonina dan Ratnikov, Valentine, Kelas dan Perjuangan Kelas, Cetakan Ke-1, Yogyakarta, 2002; Sumbu.

[7] Giddens, Anthony, Sociology, chapter 10, Class, Stratification and Inequality, hal 285, edisi ke-4, Cambridge: Polity Press.

[8] Giddens, Anthony, Sociology, chapter 10, Class, Stratification and Inequality, hal 285, edisi ke-4, Cambridge: Polity Press.



[9] Giddens, Anthony, Sociology, chapter 10, Class, Stratification and Inequality, hal 286, edisi ke-4, Cambridge: Polity Press.





[10] Giddens, Anthony, Sociology, chapter 10, Class, Stratification and Inequality, hal 287, edisi ke-4, Cambridge: Polity Press.





[11] “The concept of absolute poverty is grounded in the idea of subsistence-the basic conditions that must be met in order to sustain a physically healthy existence. People who lack these fundamental requirements for human existences-such as sufficient food, shelter and clothing-are said to live in poverty “.


http://arioadityo.multiply.com/journal

_++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++_

0   komentar

Silahkan kirim komentar anda!

Cancel Reply