: :

Navbar Bawah

Cari Blog Ini

Memuat...

26 Februari 2010

PENGERTIAN HADITS, SUNNAH, KHABAR, DAN ATSAR

BAB I
PENGERTIAN HADITS, SUNNAH, KHABAR, DAN ATSAR

1. PENGERTIAN HADITS
Hadits menurut bahasa adl “‰ƒ‰f<#”, yaitu sesuatu yang baru, menunjukkan sesuatu yang dekat atau waktu yang singkat, seperti perkataan: “Px™}#’ù‰gè<#]ƒ‰t qf”, artinya Dia baru masuk/memeluk Islam.
Hadits juga berarti “�;‚<#”, artinya berita, yaitu sesuatu yang diberitakan, diperbincangkan, dan dipindahkan dari seseorang kepada orang lain. Selain itu, hadits juga berarti “=ƒ�)<#”, artinya dekat, tidak lama lagi terjadi.
Hadits dengan pengertian khabar dapat dilihat pada:
1. “`�%Š$¹#qS$2b)m=÷B ]ƒ‰s0#qA'Š=ù” (QS. Ath-Thuur: 34)
2. “Maka barangkali kamu akan membunuh dirimu karena sedih sesudah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al-Quran).” (QS. Al-Kahfi: 6)
3. “Dan terhadap ni’mat Tuhanmu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur).” (QS. Ad-Dhuha: 11)
Ahli hadits dan ahli ushul berbeda pendapat dalam memberikan pengertian tentang hadits.
Menurut ahli hadits, pengertian hadits adalah “Seluruh perkataan, perbuatan, dan hal ihwal tentang Nabi Muhammad SAW”, sedangkan menurut yang lainnya adalah “Segala sesuatu yang bersumber dari Nabi, baik berupa perkataan, perbuataan, maupun ketetapannya.”
Menurut rumusan lain, hadits adalah “Sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir, maupun sifat beliau.”
Adapun menurut muhadditsin, hadits itu adalah “Segala apa yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW, baik itu hadits marfu’(yang disandarkan kepada Nabi) ataupun hadits maqthu’ (yang disandarkan kepada tabi’in).”
Dan ahli ushul berpendapat, bahwa hadits adalah “Semua perkataan, perbuatan, dan taqrir Nabi Muhammad SAW yang berkaitan dengan hukum syara’ dan ketetapannya.”

2. PENGERTIAN SUNNAH
Menurut bahasa, sunnah adalah “Kebiasaan dan jalan (cara) yang baik dan yang jelek.”
Menurut batasan lain, sunnah berarti “Jalan (yang dilalui) baik yang terpuji atau yang tercela ataupun jalan yang lurus atau tuntutan yang tetap (konsisten).”
Ayat-ayat Al-Quran yang menunjukkan arti sunnah menurut bahasa antara lain:
1. QS. Al-Anfal: 38
2. QS. Al-Hijr: 13
3. QS. Al-Ahzab: 62
4. QS. Al-Fathir: 43
5. QS. Al-mukmin: 85
6. QS. Al-Fath:23
Sedangkan arti sunnah menurut istilah, ulama terbagi menjadi tiga golongan: ahli hadits, ahli ushul, dan ahli fiqih.
Ahli hadits berpendapat bahwa sunnah adalah “Segala sesuatu yang bersumber dari Nabi, baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir, budi pekerti, perjalanan hidup, baik sebelulm menjadi Rasul maupun sesudahnya.”
Pendapat di atas didasarkan pada QS. Al-Ahzab: 21 dan QS. Asy-Syura: 52-53. Dalam hadits riwayat Al-Hakim dari Abu Hurairah disebutkan: “Aku tinggalkan pada kalian dua pusaka yang kalian tidak akan tersesat setelah kalian berpegang pada keduanya, yaitu Kitab Allah dan Sunnahku.”
Ahli ushul membatasi pengertian sunnah hanya pada sesuatu yang bersumber dari Nabi, baik perkataan, perbuatan, maupun taqrirnya yang berkaitan dengan syara’ yang terjadi setelah Nabi diutus menjadi Rasul.”
Mereka beragumentasi pada QS. Al-Hasyr: 7 dan QS. An-Nahl: 44.
Dan ahli fiqih mengartikan sunnah sebagai “Segala ketetapan yang berasal dari Nabi selain yang difardhukan dan diwajibkan.” Menurut mereka, “Sunnah merupakan salah satu hukum yang lima (wajib, sunah, haram, makruh, dan mubah), dan yang tidak termasuk kelima hukum ini disebut bid’ah.”

3. KHABAR DAN ATSAR
Khabar menurut bahasa adalah “Semua berita yang disampaikan oleh seseorang kepada orang lain.” Menurut ahli hadits, khabar sama dengan hadits. Keduanya dapat dipakai untuk sesuatu yang marfu’, mauquf, dan maqthu’, dan mencakup segala sesuatu yang datang dari Nabi, sahabat, dan tabi’in.
Adapun atsar berdasarkan bahasa sama pula dengan khabar, hadits, dan sunnah. Adapun pengertian atsar menurut istilah terdapat di antara para ulama. Jumhur ulama mengatakan bahwa atsar sama dengan khabar, yaitu “Sesuatu yang didasarkan kepada Nabi, sahabat, dan tabi’in. Sedangkan menurut ulama Khurasan bahwa atsar ditujukan untuk yang mauquf, sedangkan khabar ditujukan untuk yang marfu’.

BAB II
BENTUK-BENTUK HADITS

1. HADITS QOULI
Adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi, baik berupa perkataan yang memuat berbagai maksud syara’, peristiwa, dan keadaan yang berkaitan dengan aqidah, syari’ah, atau lainnya. Contohnya adalah hadits tentang bacaan Al-Fatihah dalam shalat yaitu “Tidak sah shalat seseorang yang tidak membaca ummul Quran (Al-Fatihah).”

2. HADITS FI’LI
Adalah hadits yang menyebutkan perbuatan Nabi yang sampai kepada kita. Contohnya adalah hadits tentang shalat, yaitu “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.”

3. HADITS TAQRIRI
Adalah hadits yang menyebutkan ketetapan Nabi terhadap apa yang datang dari sahabatnya. Contohnya adalah sikap Rasul yang membiarkan para sahabat melaksanakan perintahnya sesuai dengan penafsiran mereka terhadap sabdanya, yang berbunyi: “Janganlah seseorang pun shalat ‘Ashar, kecuali bila tiba di Bani Quraizhah.”
4. HAMMI
Adalah hadits yang menyebutkan keinginan Nabi yang belum terealisasikan, seperti keinginan untuk berpuasa pada tanggal 9 ‘Asyura.

5. HADITS AHWALI
Adalah hadits yang menyebutkan hal ihwal Nabi yang menyangkut keadaan fisik, sifat-sifat, dan kepribadiannya.

BAB III
PENGERTIAN ILMU HADITS

Yang dimaksud ilmu hadits menurut ulama mutaqaddimin adalah ilmu pengetahuan yang membicarakan cara-cara persambungan hadits sampai kepada Rasulullah dari segi hal ihwal para perawinya, yang menyangkut kedhabitan dan keadilannya dan dari segi bersambung dan terputusnya sanad, dsb.
Ulama mutaakhirin membagi ilmu hadits ini menjadi dua, yaitu ilmu hadits riwayah dan ilmu hadits dirayah.
1. ILMU HADITS RIWAYAH
Adalah ilmu pengetahuan yang memelajari hadits-hadits yang disandarkan kepada Nabi, baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir, tabi’at, maupun tingkah lakunya.
Ibnu Al-Akfani mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ilmu hadits riwayah adalah ilmu pengetahuan yang mencakup perkataan dan perbuatan Nabi, baik periwayatan, pemeliharaan, maupun penulisan atau pembukuan lafal-lafalnya.
Objek ilmu hadits dirayah adalah ilmu yang membicarakan tentang cara menerima, menyampaikan, memindahkan, atau mendewankan hadits kepada orang lain. Demikian menurut As-Suyuti. Dalam penyampaian dan pembukuan hadits disebutkan apa adanya, baik yang berkaitan dengan matan maupun sanadnya. Ilmu ini tidak membicarakan syadz (kejanggalan), ‘illat (kecacatan), dan matan hadits. Ilmu ini juga tidak membahas tentang kualitas para perawi, baik keadilan, kedhabitan, atau kefasikannya.
Adapun faedah memelajari ilmu hadits riwayah adalah untuk menghindari adanya penukilan yang salah sehingga tidak sesuai dengan sumbernya yang pertama, yaitu Nabi Muhammad SAW.

2. ILMU HADITS DIRAYAH
Atau disebut juga ilmu musthalah hadits, ilmu ushul hadits, ulumul hadits, dan qawa’idul hadits.
Ilmu hadits dirayah menurut At-Turmudzi adalah kaidah-kaidah untuk mengetahui keadaan sanad dan matan, cara menerima dan meriwayatkan, sifat-sifat perawi, dll.
Sedang menurut Al-Kafani adalah ilmu pengetahuan untuk mengetahui hakikat periwayatan, syarat-syarat, macam-macam, dan hukum-hukum hadits serta untuk mengetahui keadaan para perawi, baik syarat-syaratnya, macam-macam hadits yang diriwayatkan dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya.
Keterangan:
a. Hakikat periwayatan adl penukilan hadits dan penyandarannya kepada sumber hadits atau sumber berita.
b. Syarat-syarat periwayatan adl penerimaan perawi terhadap hadits yang akan diriwayatkan dengan bermacam-macam cara, misalnya melalui As-sima’ (pendengaran), Al-qira-ah (pembacaan), Al-wasiyyah (wasiat), Al-ijazah (pemberian izin dari perawi).
c. Macam-macam periwayatan adl membicarakan tentang bersambung dan terputusnya periwayatan, dll.
d. Hukum-hukum periwayatan adl pembicaraan tentang diterima atau ditolaknya suatu hadits.
e. Keadaan para perawi adl pembicaraan tentang keadaan kecacatan para perawi, dan syarat-syarat mereka dalam menerima dan meriwayatkan hadits.
f. Macam-macam hadits yang diriwayatkan meliputi hadits-hadits yang dapat dihimpun pada kitab-kitab tasnif, kitab tasnid, dan kitab mu’jam.
Yang dimaksud dengan rawi adl orang yang menyampaikan atau meriwayatkan hadits, sedang yang dimaksud dengan marwi adl sesuatu yang disandarkan kepada Nabi, sahabat, atau tabi’in. Dan yang dimaksud dengan rawi dari sudut maqbul dan mardud adl keadaan para perawi dari segi kecacatan, keadilan, peristiwa sekitar penerimaan dan periwayatannya, serta segala sesuatu yang berkaitan dengan hal tersebut.
Dalam sejarah perkembangan hadits, tercatat bahwa ulama yang pertama kali berhasil menyusun ilmu ini dalam suatu disiplin ilmu secara lengkap adalah Al-Qadhi Abu Muhammad Ar-Ramahurmuzi (wafat 360 H), dengan kitabnya Al-Muhaddits Al-Fasil Baina Ar-Rawi wa Al-Wa’i. Kemudian muncul Al-Hakim Abu Abdillah An-Naisaburi (321 – 405 H) dengan kitabnya Ma’rifah ‘Ulum Al-Hadits, Nu’aim Ahmad bin Abdillah As-Asfahani (339 – 430 H), Al-Khatib Al-Baghdadi (wafat 463 H) melalui kitabnya Al-Kifayah fi Qawanin Ar-Riwayah dan Al-Jami’ li Adabi Asy-Syekh wa As-Sami’, Al-Qadi’iyat bin Musa (wafat 544 H) dengan kitabnya Al-Ilma fi Dabt Ar-Riwayah wa Taqyid Al-Asma’, Abu Hafs Umar bin Abd. Majid Al-Mayanzi (wafat 580 H) dengan kitabnya Mala Yasi’u Al-Muhaddits Jahlahu, Abu Amr dan Utsman bin Abd. Ar-Rahman Asy-Syahrazuri (wafat 643 H) dengan kitabnya Ulum Al-Hadits yang dikenal dengan Muqaddimah Ibn As-Shalah. Kitab ini oleh para ulama berikutnya disyarahkan dan dibuat 27 mukhtasharnya, sehingga dapat dijadikan pegangan oleh ulama generasi berikutnya.

BAB IV
CABANG-CABANG ILMU HADITS
1. ILMU RIJAL AL-HADITS
Adalah ilmu untuk mengetahui para perawi hadits dalam kapasitas mereka sebagai perawi hadits.
Ilmu ini mencakup dua cabang ilmu hadits lainnya, yaitu ilmu al-jarh wa at-ta’dil dan ilmu tarikh ar-ruwah.
2. ILMU AL-JARH WA TA’DIL
Adalah ilmu yang mempeajari kecacatan para perawi, seperti pada keadilan dan kedhabitannya. Para ahli hadits mendefinisikan al-jarh dengan kecacatan pada perawi hadits karena sesuatu yang dapat merusak keadilan dan kedhabitannya.
Adapun at-ta’dil adalah pembersihan atau penyucian perawi dan ketetapan bahwa ia adil atau dhabit.
Ulama lain mendefinisikan dengan ilmu yang membahas tentang para perawi hadits dari segi yang dapat menunjukkan keadaan mereka, baik yang dapat mencacatkan atau membersihkan mereka, dengan ungkapan atau lafal tertentu.
Contoh ungkapan tertentu untuk mengetahui para perawi, antara lain fulanun autsaqun naasi (fulan adl orang yang paling fipercaya), fulanun dhabithun (fulan kuat hafalannya), dan fulanun hujjatun (fulan hujjah). Adapun contoh untuk mengetahui kecacatan para perawi, antara lain fulanun akdzabun naasi (fulan adalah orang yang paling berdusta), fulanun muttahamun bil kadzibi (ia tertuduh dusta), dan fulanun la muhajjatun (fulan bukan hujjah).
3. ILMU TARIKH AR-RUWAH
Adalah ilmu untuk mengetahui para perawi hadits yang berkaitan dengan usaha periwayatan mereka terhadap hadits.
Ilmu ini memelajari keadaan dan identitas para perawi, seperti kelahirannya, wafatnya, guru-gurunya, orang yang meriwayatkan hadits darinya, tempat tinggal mereka, tempat mereka mengadakan lawatan, dll. Sebagai bagian dari ilmu rijal al-hadits, ilmu ini mengkhususkan pembahasannya secara mendalam pada sudut kesejarahan dari orang-orang yang terlibat dalam periwayatan.
Adapun berkenaan dengan hubungan ilmu ini dengan ilmllu tabaqah ar-ruwah, terdapat perbedaan pendapat di antara para ulama. Ada ulama yang membedakannya secara khusus, tetapi ada juga yang mempersamakannya. Menurut As-Suyuti, hubungan antara ilmu tabaqah ar-ruwah dan ilmu tarikh ruwah adalah umum dan khusus. Keduanya bersatu dalam pengertian yang berkaitan dengan para perawi, tetapi ilmu tarikh ar-ruwah menyendiri dalam hubungannya dengan kejadian-kejadian yang baru. Menurut As-Sakhawi, para ulama mutaakhirin membedakan antara kedua disiplin ilmu tersebut. Menurut mereka, ilmu tarikh ar-ruwah melalui eksistensinya berfungsi untuk memperhatikan kelahiran dan wafat para perawi dan melalui sifatnya, berfungsi untuk memerhatikan hal ihwal para perawi. Adapun ilmu tabaqah ar-ruwah, melalui eksistensinya, berfungsi untuk memerhatikan hal ihwal perawi dan melalui sifatnya, berfungsi untuk memerhatikan kelahiran dan wafat mereka.
4. ILMU ‘ILAL AL-HADITS
Kata ‘ilal adalah bentuk jamak dari kata Al-‘Ilah, yang menurut bahasa berarti al-marad (penyakit atau sakit). Menurut ulalma muhadditsin, istilah ‘Ilah berarti sebab yang tersembunyi atau samar-samar yang dapat mencemarkan hadits, sehingga pada hadits tersebut tidak terlihat adanya kecacatan.
Adapun yang dimaksud dengan Ilmu ‘Ilal Al-Hadits, menurut ulama muhadditsin adalah ilmu yang membahas sebab-sebab yang tersembunyi yang dapat mencacatkan kesahihan hadits, misalnya mengatakan muttashil terhadap hadits yang munqathi’, menyebut marfu’ terhadap hadits mauquf, memasukkan hadits ke dalam hadits lain, dll seperti itu.
Abu Abdullah Al-Hakim An-Naisaburi dalam kitabnya ma’rifah ulum al-hadits menyebutkan bahwa ilmu ‘ilal al-hadits adalah ilmu yang berdiri sendiri, selain dari ilmu shahih dan dha’if, jarh, dan ta’dil. Ia menerangkan, illat hadits tidak termasuk dalam bahasan jarh sebab hadits yang majrub adalah hadits yang gugur dan tidak dipakai. Illat hadits yang banyak terdapat pada hadits yang diriwayatkan oleh orang-orang kepercayaan, yaitu orang-orang yang menceritakan suatu hadits yang mengandung illat tersembunyi. Karena illat tersebut, maka haditsnya disebut hadits ma’lul. Lebih jauh lagi, Al-Hakim menyebutkan bahwa dasar penetapan illat hadits adalah hafalan yang sempurna, pemahaman yang mendalam, dan pengetahuan yang cukup.
5. ILMU AN-NASIKH WA AL-MANSUKH
Yang dimaksud dengan ilmu an-nasikh wa al-mansukh di sini terbatas sekitar nasikh dan mansukh pada hadits.
Kata an-nasakh menurut bahasa mempunyai dua pengertian, al-izalah (menghilangkan), seperti nasakhatisy syamsuzh zhilla (matahari menghilangkan bayangan) dan an-naql (menyalin), seperti nasakhtul kitab (saya menyalin kitab) yang berarti saya menyalin isi suatu kitab untuk dipindahkan pada kitab lain.
Pengertian An-Nasakh menurut bahasa dapat dijumpai dalam Al-Quran, antara lain dalam firman Allah, surat Al-Baqarah ayat 106.
Adapun An-Nasakh menurut istilah, sebagaimana pendapat ulama ushul adalah syari’ mengangkat (membatalkan) suatu hukum syara’ dengan menggunakan dalil syar’i yang datang kemudian.
Konsekuensi dari pengertian ini adalah bahwa menerangkan nash yang mujmal, menakhsiskan yang ‘aam, dan men-taqyid-kan yang mutlak tidaklah dikatakan nasakh.
Adapun yang dimaksud dengan ilmu nasikh wa an-mansukh dalam hadits adalah ilmu yang membahas tentang hadits-hadits yang berlawanan yang tidak dapat dipertemakan dengan ketetapan bahwa yang datang terdahulu disebut mansukh dan yang datang kemudian dinamakan nasikh.
6. ILMU ASBAB WURUD AL-HADIA
Kata asbab adalah bentuk jamak dari sabab. Menurut ahli bahasa, asbab diartikan dengan al-habl (tali), yang menurut lisan Al-Arab berarti saluran, yang artinya adalah segala sesuatu yang menghubungkan saru benda dengan benda lainnya.
Adapun arti asbab menurut istilah adalah segala sesuatu yang mengantar pada tujuan.
Ada juga yang mendefinisikan dengan jalan menuju terbentuknya suatu hukum tanpa adanya pengaruh apa pun dalam hukum itu.
Kata wurud (sampai, muncul) berarti air yang memancar atau yang mengalir.
sumber : http://kuman-aidss.blogspot.com/

0   komentar

Silahkan kirim komentar anda!

Cancel Reply