Jogja Course Center

product 1

Jogja Course Center (JCC) sebagai lembaga yang memfasilitasi pemenuhan kebutuhan masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan potensi diri, serta mendukung dalam penguasaan dan penerapan ilmu bahasa asing dan komputer, dan ikut serta dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Info detail klik di sini.

Dinda Mustikawati

product 1

Situs Khusus Para Srikandi Penggoncang Dunia. Tempat berbagi info tentang pendidikan, pemberdayaan perempuan, fashion, kesehatan, dll. Silahkan klik di sini.

Iklan Anda

product 1

Pasanglah iklan Anda di sini. Ingsyallah membawa berkah. Apalagi menghidupi hamba Allah yang sedang belajar ilmu agama. Alasan lainnya klik di sini.

Dedi Wahyudi Siap Membangun Negeri Menuju Indonesia Digdaya 2030

Dedi Wahyudi Siap Membangun Negeri Menuju Indonesia Digdaya 2030

Podoluhur News

Dedi Wahyudi lagi sibuk garap tesis, mohon doanya semoga diberikan kemudahan oleh Allah, aamiin.

HADIS LARANGAN KORUPSI

Dedi Wahyudi | 8/19/2010 08:47:00 am | 2 komentar

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

HADIS LARANGAN KORUPSI
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah
AL HADIS DAN PEMBELAJARANNYA
Dosen Pengampu : : Dr.Marhumah










Disusun Oleh :
EKO WAHYUDI 08410147
DEDI WAHYUDI 08410153
ROHANA 08410140
MUHAMMAD JIHAD 08410166
SANDRA HERIAWAN 0841


KELAS : PAI F





FAKULTAS TARBIYAH
UIN SUNAN KALIJAGA
SEMESTER GANJIL 2009/2010
Bab I
Pendahuluan
1.1Latar Belakang Masalah
Praktek korupsi semakin menjamur di Indonesia. Apa yang sedang terjadi dengan bangsa ini? Dipandang dari semua sisi sudah pasti bisa diketahui bahwa korupsi itu sangat dilarang dan sangat berbahaya tetapi, kenapa praktek itu terus terjadi? Korupsi (uang) yaitu penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara, (perusahaan dan sebagainya) untuk keuntungan pribadi atau orang lain. Disamping itu juga ada korupsi waktu : menggunakan waktu dinas untuk urusan.pribadi.
Kejahatan pengambilan kekayaan orang lain secara tidak sah untuk memperkaya diri sendiri, digunakan terminologi sariqah (pencurian), ikhtithaf (menjambret), khiyanah (menggelapkan), ikhtilas (mencopet), al-nahb (merampas), ghulul (korupsi) dan al-ghasb (menggunakan sesuatu tanpa seizin pemiliknya). Dalam Alquran surat Ali Imran (3):161 dinyatakan ayat yang artinya: "... Barang siapa yang berkhianat (korupsi?) dalam urusan harta rampasan perang maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu..."
Masalah atau Topik Bahasan Makalah
Permasalahan-permasalahan utama yang akan kami bahas yaitu
1Dasar larangan korupsi (hadis)
2Akar munculnya korupsi
3Akibat korupsi
4Sikap tegas anti korupsi
1.3Tujuan Penyusunan Makalah
Makalah ini dimaksudkan untuk membahas tentang berbagai hal yang berhubungan dengan korupsi serta untuk memenuhi tugas mata kuliah Al Hadis dan Pembelajarannya.
BAB II
PEMBAHASAN
A.Teks Hadist tentang Larangan Korupsi.


B.Kata dasar dan kunci.
Ghulul merupakan istilah yang paling banyak digunakan oleh Rasulullah saw. dalam hadis-hadisnya terkait dengan perilaku korupsi atau penggelapan harta publik. Ghulul adalah isim masdar dari kata ghallaya ghullu ghallan wa ghullun. Artinya, Akhdzu al-syai wa dassabu fi mata’hi”(mengambil sesuatu dan menyembunyikannya dalam hartanya).
Ibnu Hajar al-Asqalani mendefinisikan ghullul dengan “ ma yu’khazu min alghanimati khafiyyatan qabla qismatika (apa saja yang diambil dari barang rampasan perang secara sembunyi-sembunyi sebelum pembagian). Ada juga pendapat yang hampir sama bahwa ghulul dimaknai “akhdzu al syaiwa dassahu fi mata’ibi” (pengkhianatan dalam hal harta rampasan perang). Semula ghulul merupakan istilah khusus bagi penggelapan harta rampasan perang sebelum dibagikan secara transparan. Definisi di atas menunjukkan bahwa ghulul terjadi pada penggelapan harta rampasan perang. Hal ini sejalan dengan makna Q.S Ali Imran: 161 dan sejumlah hadis tentang ghulul.

C.Takhrij Hadis
Setelah mengetahui dan menentukan kata dasar dari hadits tersebut, maka kata dasar tersebut digunakan untuk mempermudah dalam mencari sumber asli hadits melalui kitab referensi dan sebagainya. Setelah proses pelacakan, maka ditemukan referensi kitab-kitab yang menjadi acuan hadits tersebut, seperti ini :
1.Hadits ini dikeluarkan oleh Muslim dalam Shahih-nya dalam kitab Al-Imarah, bab Tahrim Hadaya Al-Ummal, hadits no. 3415
2.Abu Dawud dalam Sunan-nya dalam kitab Al-Aqdhiyah, bab Fi Hadaya Al-Ummal, hadits no. 3110
3.Imam Ahmad dalam Musnad-nya, 17264 dan 17270, dari jalur Ismail bin Abu Khalid, dari Qais bin Abu Hazim, dari Sahabat Adiy bin Amirah Al-Kindi Radhiyallahu ‘anhu di atas. Adapun lafadz hadits di atas dibawakan oleh Muslim.1
D.Biografi Sanad
Beliau merupakan sahabat mulia, dengan nama lengkapnya Adiy bin Amirah bin Farwah bin Zurarah bin Al-Arqam, Abu Zurarah Al-Kindu. Beliau hanya sedikit meriwayatkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, di antaranya adalah hadits ini.
Beliau wafat pada masa kekhalifahan Mu’awiyah Radhiyallahu ‘anhu. Ada pula yang berpendapat selain itu. Wallahu a’lam bish shawab.
E.Terjemahan Hadits
Dari ‘Adiy bin ‘amirah ra., ia berkata: saya mendengar Rasulullah SAW bersabda : “siapa saja yang kami serahi tugas, lalu ia menyembunyikannya walau sekecil jarum atau lebih kecil dengan maksud untuk mengambilnya, kelak di hari kiamat ia datang dengan membawa apa yang disembunyikannya. Berdirilah seorang kulit hitam dari bangsa Anshar, yang seakan-akan saya pernah melihatnya, ia kemudian berkata : “wahai Rasulullah, terimalah kembali tugas yang telah engkau serahkan kepada saya.” Beliau bertanya : “Mengapa demikian?” Ia menjawab : “karena saya mendengar engkau bersabda begini dan begitu.” Beliau bersabda : “sekarang saya tegaskan siapa saja yang telah saya serahi tugas, maka ia harus melaksanakannya, baik mendapatkan hasilnya sedikit maupun banyak. Dan apa saja yang telah diberikan kepada dirinya, maka ia boleh mengambilnya dan apa yang dilarang untuk dirinya, maka janganlah ia mengambilnya. (HR. Muslim)
F.Makna Mufradat
Kata ghululan dalam lafadz Muslim, atau ghullan dalam lafadz Abu Dawud, keduanya dengan huruf ghain berharakat dhammah. Ini mengandung beberapa pengertian, di antaranya bermakna belenggu besi, atau berasal dari kata kerja ghalla yang berarti khianat. Ibnul Atsir menerangkan, kata al-ghulul, pada asalnya bermakna khianat dalam urusan harta rampasan perang, atau mencuri sesuatu dari harta rampasan perang sebelum dibagikan. Kemudian, kata ini digunakan untuk setiap perbuatan khianat dalam suatu urusan secara sembunyi-sembunyi.
Jadi, kata ghulul di atas, secara umum digunakan untuk setiap pengambilan harta oleh seseorang secara khianat, atau tidak dibenarkan dalam tugas yang diamanahkan kepadanya (tanpa seizin pemimpinnya atau orang yang menugaskannya). Dalam bahasa kita sekarang, perbuatan ini disebut korupsi, seperti tersebut dalam hadits yang sedang kita bahas ini.2
G.Makna hadis
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan sebuah peringatan atau ancaman kepada orang yang diberio tugas untuk menangani suatu urusan, lalu ia mengambil sesuatu dari hasil urusannyanya tersebut secara diam-diam tanpa seizin pimpinan atau orang yang menugaskannya, di luar hak yang telah ditetapkan untuknya, meskipun hanya sebatang jarum. Maka, apa yang dia ambil dengan cara tidak benar tersebut akan menjadi belenggu, yang akan dia pikul pada hari Kiamat. Yang dia lakukan ini merupakan korupsi terhadap amanah yang diembannya. Orang itu akan dimintai pertanggungjawabannya nanti.pada.hari.Kiamat.
Ketika kata-kata ancaman tersebut didengar oleh salah seorang dari kaum Anshar, yang orang ini merupakan satu diantara para petugas yang ditunjuk oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta merta dia merasa takut. Dia meminta kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk melepaskan jabatannya. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan, agar setiap orang yang diberi tugas dengan suatu pekerjaan, hendaknya membawa hasil dari pekerjaannya secara keseluruhan, sedikit maupun banyak kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian mengenai pembagiannya, akan dilakukan sendiri oleh beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apa yang diberikan, berarti boleh mereka ambil. Sedangkan yang ditahan oleh beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka mereka tidak boleh mengambilnya.3
H.Syarah hadis
Hadits di atas intinya berisi larangan berbuat ghulul (korupsi), yaitu mengambil harta di luar hak yang telah ditetapkan, tanpa seizin pimpinan atau orang yang menugaskannya. Seperti ditegaskan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Buraidah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam besabda
“Barangsiapa yang kami tugaskan dengan suatu pekerjaan, lalu kami tetapkan imbalan (gaji) untuknya, maka apa yang dia ambil di luar itu adalah harta ghulul.(korupsi)”.
Asy-Syaukani menjelaskan, dalam hadits ini terdapat dalil tidak halalnya (haram) bagi pekerja (petugas) mengambil tambahan di luar imbalan (upah) yang telah ditetapkan oleh orang yang menugaskannya, dan apa yang diambilnya di luar itu adalah ghulul (korupsi).
Dalam hadits tersebut maupun di atas, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan secara global bentuk pekerjaan atau tugas yang dimaksud. Ini dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa peluang melakukan korupsi (ghulul) itu ada dalam setiap pekerjaan dan tugas, terutama pekerjaan dan tugas yang menghasilkan harta atau yang berurusan dengannya. Misalnya, tugas mengumpulkan zakat harta, yang bisa jadi bila petugas tersebut tidak jujur, dia dapat menyembunyikan sebagian yang telah dikumpulkan dari harta zakat tersebut, dan tidak menyerahkan kepada pimpinan yang menugaskannya.


I.Akar penyebab korupsi
Pemikir Jack Bologne mengatakan, akar penyebab korupsi ada empat: Greed, Opportunity, Need, Exposes. Dia menyebutnya GONE theory, yang diambil dari huruf depan tiap kata tadi.
1.Greed, terkait keserakahan dan kerakusan para pelaku korupsi. Koruptor adalah orang yang tidak puas pada keadaan dirinya. Punya satu gunung emas, berhasrat punya gunung emas yang lain. Punya harta segudang, ingin pulau pribadi.
2.Opportunity, terkait dengan sistem yang memberi lubang terjadinya korupsi. Sistem pengendalian tak rapi, yang memungkinkan seseorang bekerja asal-asalan. Mudah timbul penyimpangan. Saat bersamaan, sistem pengawasan tak ketat. Orang gampang memanipulasi angka. Bebas berlaku curang. Peluang korupsi menganga lebar.
3.Need, berhubungan dengan sikap mental yang tidak pernah cukup, penuh sikap konsumerisme, dan selalu sarat kebutuhan yang tak pernah usai.
4.Exposes, berkaitan dengan hukuman pada pelaku korupsi yang rendah. Hukuman yang tidak membuat jera sang pelaku maupun orang lain. Deterrence effect yang minim.4
Selain keempat hal tersebut, korupsi juga dapat disebabkan oleh penegakan hukum yang masih lemah, mental aparatur negara yang lemah, kesadaran masyarakat yang masih rendah, istri pemboros, gaya hidup mewah, nafsu seks berlebih dan gaji rendah
J.Akibat Korupsi
Korupsi selalu membawa konsekuensi. Konsekuensi negatif dari korupsi sistemik terhadap proses demokratisasi dan pembangunan yang berkelanjutan adalah:
1.Korupsi mengurangi kepercayaan publik terhadap proses politik melalui politik uang.
2.Korupsi mendistorsi pengambilan keputusan pada kebijakan publik, membuat tiadanya akuntabilitas publik, dan menafikan the rule of law. Hukum dan birokrasi hanya melayani kepada kekuasaaan dan pemilik modal.
3.Korupsi meniadakan sistim promosi dan hukuman yang berdasarkan kinerja karena hubungan patron-client dan nepotisme.
4.Korupsi mengakibatkan proyek-proyek pembangunan dan fasilitas umum bermutu rendah dan tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat sehingga mengganggu pembangunan yang berkelanjutan.
5.Korupsi mengakibatkan kolapsnya sistem ekonomi karena produk yang tidak kompetitif dan penumpukan beban hutang luar negeri.5
6.Korupsi menyebabkan kemiskinan.
7.Harta hasil korupsi adalah haram, sehingga ia menjadi salah satu penyebab yang dapat menghalangi terkabulnya do’a.
8.Allah tidak menerima shadaqah seseorang dari harta ghulul (korupsi)
9.Orang yang mati dalam keadaan membawa harta ghulul (korupsi), ia tidak mendapat jaminan atau terhalang masuk surga.
10.Perbuatan korupsi menjadi penyebab kehinaan dan siksa api neraka pada hari Kiamat.
K.Sikap anti korupsi
Upaya penanggulangan korupsi adalah sebagai berikut :
1.Preventif.
a)Membangun dan menyebarkan etos pejabat dan pegawai baik di instansi pemerintah maupun swasta tentang pemisahan yang jelas dan tajam antara milik pribadi dan milik perusahaan atau milik negara.
b)mengusahakan perbaikan penghasilan (gaji) bagi pejabat dan pegawai negeri sesuai dengan kemajuan ekonomi dan kemajuan swasta, agar pejabat dan pegawai saling menegakan wibawa dan integritas jabatannya dan tidak terbawa oleh godaan dan kesempatan yang diberikan oleh wewenangnya.
c)Menumbuhkan kebanggaan-kebanggaan dan atribut kehormatan diri setiap jabatan dan pekerjaan. Kebijakan pejabat dan pegawai bukanlah bahwa mereka kaya dan melimpah, akan tetapi mereka terhormat karena jasa pelayanannya kepada masyarakat dan negara.
d)Bahwa teladan dan pelaku pimpinan dan atasan lebih efektif dalam memasyarakatkan pandangan, penilaian dan kebijakan.
e)menumbuhkan pemahaman dan kebudayaan politik yang terbuka untuk kontrol, koreksi dan peringatan, sebab wewenang dan kekuasaan itu cenderung disalahgunakan.
f)hal yang tidak kalah pentingnya adalah bagaimana menumbuhkan “sense of belongingness” dikalangan pejabat dan pegawai, sehingga mereka merasa peruasahaan tersebut adalah milik sendiri dan tidak perlu korupsi, dan selalu berusaha berbuat yang terbaik.
2.Represif.
a)Perlu penayangan wajah koruptor di televisi.
b)Herregistrasi (pencatatan ulang) terhadap kekayaan pejabat.




BAB 3
PENUTUP

3.1 Kesimpulan dan Analisa
Korupsi adalah penyalahgunaan wewenang yang ada pada pejabat atau pegawai demi keuntungan pribadi, keluarga dan teman atau kelompoknya.
Korupsi menghambat pembangunan, karena merugikan negara dan merusak
sendi-sendi kebersamaan dan menghianati cita-cita perjuangan bangsa.
Cara penaggulangan korupsi adalah bersifat Preventif dan Represif. Pencegahan (preventif) yang perlu dilakukan adalah dengan menumbuhkan dan membangun etos kerja pejabat maupun pegawai tentang pemisahan yang jelas antara milik negara atau perusahaan dengan milik pribadi, mengusahakan perbaikan penghasilan (gaji), menumbuhkan kebanggaan-kebanggaan dan atribut kehormatan diri setiap jabatan dan pekerjaan, teladan dan pelaku pimpinan atau atasan lebih efektif dalam memasyarakatkan pandangan, penilaian dan kebijakan, terbuka untuk kontrol, adanya kontrol sosial dan sanksi sosial, menumbuhkan rasa “sense of belongingness” diantara para pejabat dan pegawai. Sedangkan tindakan yang bersifat Represif adalah menegakan hukum yang erlaku pada koruptor dan penayangan wajah koruptor di layar televisi dan herregistrasi (pencatatan ulang) kekayaan pejabat dan pegawai.

3.2 Penutup
Penyusun mengakui bahwa dalam pembuatan makalah ini masih terdapat kelemahan dan kekurangan yang semestinya perlu ditambah dan diperbaiki. Uraian dan contoh yang diambil masih sangat kurang. Oleh sebab itu, segala masukan yang bersifat positif sangat penyusun harapkan demi kesempurnaan makalah ini dimasa yang akan datang. Harapan penyusun semoga inti dari permasalahan yang kita bahas ini dapat dipraktikkan dikehidupan sosial.

DAFTAR PUSTAKA
Buku :
Al-Quraan dan Terjemahannya” Al-Hikmah”, 2007, Bandung:CV Penerbit Diponegoro
Ismail, Syuhudi, 2007, Metodologi Penelitian Hadis Nabi, Jakarta : Bulan Bintang
Ranuwijaya, Utang, 2001, Ilmu Hadis, Jakarta : Gaya Medha Pratama
Artikel-artikel :
Tindakan.Korupsi.Perspektif.Hadits.Nabawy,http://ariefanick.blogspot.com/2009/05/tindakan-korupsi-perspektif-hadits.html
Mewaspadai Bahaya Korupsi, http://www.almanhaj.or.id/content/2413/slash/0
Hadits tarbawi, http://jis.blogspot.com/search/label/Article
Hidup Sederhana, http://www.republika.co.id/halaman/291/229/25
Islam dan Jalan Pemberantasan Korupsi, http://www.khabarislam.com/category/
dakwah/siyasah
Kapan Penguasa Wajib Diperangi? , http://www.hayatulislam.net/go-to-larger-thread-discussion-of-this-topic.html
Korupsi Akar Segala Masalah, http://purbayubs.multiply.com/journal/item/4/
Korupsi_Akar_Segala_Masalah
Asumsi A + asumsi B = Korupsi, http://politikana.com/baca/2009/07/23/asumsi-a-asumsi-b-korupsi-hore.html
“Gerakan Sosial Anti Korupsi: Sebuah Refleksi dan Rekomendasi”, http://donnyjawir.blog.friendster.com/
Kupang.Kota.Koruptor,http://wilsontherik.blogspot.com/2009/02/kupang-kota-koruptor.html
Software :
Salafi DB, Maktabah Tsamilah, Kutubut Tis’ah
E-Book :
Bulughul Marom
Riyadushalihin
Fakrur Rozi, Urgensi Hadis-Hadis Anti Korupsi dalam Upaya Pemberantasan Korupsi
Amrul Muzan, Korupsi, Suap Dan Hadiah Dalam Islam
Dra. Erika Revida, Ms., Korupsi di Indonesia: Masalah Dan Solusinya
Komisi Pemberantasan Korupsi, Memahami Untuk Membasmi : Buku Panduan Untuk Memahami Tindak Pidana Korupsi
Majelis Ulama Indonesia, Keputusan Fatwa Majelis Ulama Indonesia Tentang Suap (Risywah) Korupsi (Ghulul) Dan Hadiah Kepada Pejabat



ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِين

Category:

Dedi Wahyudi, S.Pd.I: Kami harapkan senyum, salam, sapa, saran dan kritik untuk tulisan serta tampilan blog ini. Terima kasih atas kunjungannya. Semoga ilmunya membawa berkah.

2 komentar

Silahkan kirim komentar anda!