: :

Navbar Bawah

Cari Blog Ini

Memuat...

18 Agustus 2010

LARANGAN KORUPSI DAN KOLUSI

BAB VIII
LARANGAN KORUPSI DAN KOLUSI
A. LARANGAN MENYUAP (BM: 1412)
1. Terjemah Hadis:
“Abu hurairah r.a berkata kepada Rasulullah SAW. Melaknat penyuap dan yang diberi
suap dalam urusan hukum.”
(H.R Ahmad dan Imam yang Empat dan dihasankan oleh Turmudzi dan disahihkan
oleh Ibnu Hibban)
2. Tinjauan bahasa:
Orang yang menyuap :
Orang yang diberi suap atau yang :
menerima suap
3. Biografi Perawi:
Biografi Abu Hurairah telah dibahas pada Bab I.
4. Penjelasan Hadis:
Menyuap dalam masalah hokum adalah memberikan sesuatu,baik merupakan
uang maupun lainnya kepada penegak hukum agar terlepas dari ancaman hukum atau
mendapat hukuman ringan.
Perbuatan itu sangat dilarang dalam islam dan disepakati oleh para ulama
sebagai perbuatan haram. Harta yang diterima dari hasil menyuap tersebut tergolong
dalam harta yang diperoleh melalui jalan batil.Allah SWT. Berfirman dalam Alquran:
Artinya:
“dan janganlah sebagian kamu memakan sebagian yang lain di antara kamu dengan
jalan yang batil,(janganlah kamu) membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya
kamu dapat memakan sebagian pada harta benda orang lain dengan (jalan) berbuat
dosa, padahal kamu mengetahuinya.”
(Q.S. Al-Baqarah: 188)
Suap-menyuap sangat berbahaya bagi kehidupan masyarakat karena akan
merusak berbagai tatanan atas sistem yang ada di masyarakat, dan menyebabkan
terjadinya kecerobohan dan kesalahan dalam menetapkan ketetapan hukum sehingga
hukum dapat dipermainkan dengan uang. Akhibatnya, terjadi kekacauan dan
ketidakadilan. Dengan suap, banyak para pelanggar yang seharusnya diberi hukuman
berat justru dapat hukuman ringan, bahkan lolos dari jeratan hukum. Sebaliknya,
banyak pelanggar hukum kecil, yang dilakukan oleh orang kecil hukuman sangat
berat karena tidak memiliki uang untuk menyuap para hakim.
Islam melarang perbuatan tersebut, bahkan menggolongkannya sebagai salah satu
dosa besar, yang dilaknat oleh Allah dan Rasul-Nya. Karena perbuatan tersebut tidak
hanya melecehkan hukum, tetapi lebih jauh lagi melecehkan hak seseorang untuk
mendapatkan perlakuan yang sama di depan hukum. Oleh karena itu, seorang hakim
hendaklah tidak menerima pemberian apapun dari pihak manapun selain gajinya
sebagai hakim.
Untuk mengurangi perbuatan suap-menyuap dalam masalah hukum, jabatan
hakim lebih utama diberikan kepada mereka yang berkecukupan daripada dijabat oleh
orang yang hidupnya serba kekurangan karena kemiskinan seorang hakim akan
mudah membawa dirinya untuk berusaha mendapatkan sesuatu yang bukan haknya.
Sebenarnya, suap-menyuap tidak hanya dilarang dalam masalah hukum saja,
tetapi dalam dalam berbagai aktivitas dan kegiatan. Dalam beberapa hadis lainnya,
suap-menyuap tidak dikhususkan terhadap masalah hukum saja, tetapi bersifat umum,
seperti dalam hadis
Artinya
”Dari Abdullah bin Amr, ”Rasullah SAW. melaknat penyuap dan orang yang
disuap.”
(H.R. turmudzi)
Misalnya, dalam penerimaan tenaga kerja, jika didasarkan pada uang suap, bukan
pada profesionalisme dan kemampuan, hal itu diyakini akan merusak kualitas dan
kuantitas hasil kerja, bahkan tidak tertutup kemungkinan bahwa pekerja tersebut tidak
mampu melasanakan pekerjan yang ditugaskan kepadanya, sehingga akan merugikan
rakyat.
Dengan demikian, kapan dan dimana saja, suap akan menyebabkan kerugian bagi
masyarakat banyak.dengan demikian, larangan islam untuk menjauhi suap tidak lain
agar manusia terhindar dari kerusakan dan kebinasaan di dunia dan siksa ALLAH
SWT. kelak di akirat.sebagaimana telah diungkapakan M. qurais Shihab, masyarakat
telah melahirkan yang tadinya munkar (tidak dibenarkan) dapat menjadi ma’ruf
(dikenal dan dinilai dengan baik) apabila berulang-ulang dilakukan banyak orang.
Yang ma’ruf pun dapat menjadi munkar bila tidak lagi dilakukan orang.
Menurut Muhammad Ibn Ismail Al-Kahlany, suap dibolehkan dalam rangka
memperoleh sesuatu yang menjadi haknya atau untuk mencegah dari kezaliman, baik
yang akan menimpa dirinya maupun keluarganya. Hal itu didasarkan pada pendapat
sebagian tabi’in bahwa boleh melakukan suap jika takut tertimpa zalim, baik terhadap
dirinya maupun keluarganya.
Adapun menurut Imam Asy-Syaukani, sesungguhnya keharaman suap adalah
mutlak dan tidak dapat ditakshish. Namun demikian, dalam Islam ada kaidah:
(kemadaratan membolehkan sesuatu yang membahayakan).
Dengan demikian, jika tidak ada jalan lain bagi seseorang untuk menjaga dirinya
dari kerusakan, kecuali dangan suap, ia boleh melakukannya.
Menurut M. Quraish Shihab, argument para ulama di atas tidaklah jelas, tetapi
keadaan ketika itu mirip dengan keadaan masa sekarang. Tampaknya saat itu
kebudayaan sogok-menyogok telah menjamur, sehinggga menyulitkan penuntut hak
untuk memperoleh haknya makanya lahirlah pendapat yang membolehkan tadi.
Akan tetapi, menurutnya, Asy- Syaukani mengingatkan bahwa pada dasarnya
agama tidak membolehkan pemberian dan penerimaan sesuatu dari seseorang, kecuali
dengan hati yang tulus.
5. Fiqh Al-Hadis
Dalam Islam suap mnyuap temasuk pelanggaran berat sehingga Rasullah SAW.
pun telah melaknat para pelaku suap, baik menyuap maupun orang yang menyuap,
terutama dalam urusan hukum, dalam urusan-urusan lain pun, suap menyuap tetap
tidak diperbolehkan dalam Islam.
Akan tetapi, menurut sebagian ulama, menyuap boleh dilakukan dalam keadaan
terpaksa untuk menghindari kecelakaan atau mendapatkan sesuatu hak yang tidak ada
jalan lain, kecuali dengan menyuap.
B. LARANGAN BAGI PEJABAT UNTUK MENERIMA HADIAH (LM: 1202)
1. Terjemah Hadis
Abu Humaid Assa’id r.a berkata, ‘Rasulullah SAW., mengangkat seorang
pegawai untuk menerima sedekah/zakat’ kemudian sesudah selesai ia
dating kepada Nabi SAQ. dan berkata, “Ini untukmu dan yang ini unutuk
hadiah yang diberikan orang kepadaku,’ Maka Nabi SAW. bersabda
kepadanya, ‘Mengapakah Anda tidak duduk saja di rumah di rumah ayah
atau ibu Anda untuk melihat apakah diberi hadiah atau tidak (oleh orang)?’
Kemudian sewsudah shalat, NabiSAW. Berdiri, setelah tasyahud memuji
Allah selayaknya, lalu bersbda, “Amma ba’du, menapakah seorang yang
diserahi amal, kemudian ia dating dan berkata, ini hasil untuk kamu dan
ini aku diberi hadiah, mengapa ia tidak duduk saja di rumah ayah atau
ibunya untuk melihat apakah diberi hadiah atau tidak. Demi Allah yang
jiwa Muhammad di tangan-Nya, tiada seseorang yang menyembunyikan
sesuatu (korupsi), melainkan ia akan menghadap di hari kiamat memikul
di atas lehernya, jika berupa onta bersuara, atau lembu yang menguak atau
kambing yang mengembik, maka sungguh aku telah menyampaikan. Abu
Humaid berkata, ‘Kemudian Nabi SAW. mengangkat kedua tangannya
sehingga aku dapat melihat putih kedua ketiaknya.”
(Dikeluarkan oleh Al-Bukhari dalam kitab “Imam dan Nadzar,”bab: “B
agaimana Cara Nabi SAW. Bersumpah”)
2. Tinjauan Bahasa
Mempekerjakan seorang pekrja,
Pada hadis di atas Rasulullah
mempekerjakan Abdulluh AL-Lutbiyah
Berkhianat, menyembunyikan
sesuatu, korupsi.
Suara onta
Suara lembu(sapi)
Suara kambing yang kera
Leher
Memuji
3. Biografi Perawi
Abu Humaid As-Saidy, nama lengkapnya adalah Abdurrahman Ibn Sa’ad
As-Saidy r.a Menurut Adz-Dzahaby, “Ia adalah Abdurahamn Ibn Amr Ibn
Saad. Dikatakan pula bahwa ia adalah Al-Mundzir Ibn Sa’ad. Ibn Atsir
menambahkan, “Ibn Malik Ibn Khalid Ibn Tsa’ labah Ibn Jari’ah, Ibn Amr, Ibn
Khajraj.
Dikatakan bahwa ia termasuk salah seorang penduduk Medinah, dan
meninggal pada akhir masa pemerintahan Khalifah Mu’awiyah.
Ia meriwayatkan 120 hadis dari Rasulullah SAW. bukhari dan Muslim
telah sepakat dalam tiga hadis, dan sisanya adalah Muslim.
4. Penjelasan Singkat
Dalam Islam, hadiah dianggap sebagai salah satu cara untuk lebih
merekatkan persaudaraan atau persahabatan, sebagaimana disebutkan dalam
sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Malik dalam kitab Muwatha dari
Al-Khurasany:
Artinya:
“saling bersalamanlah kamu semua, niscaya akan menghilangkan kedengkian,
saling memberi hadiahlah kamu semua, niscaya akan saling mencintai, dan
menghilangkan percekcokan.”
(H.R. Imam Malik)
Senada dengan hadis di atas, Turmudzi meriwayatkan hadis lain dari Abu
Hurairah:
Artinya:
“saling memberi hadiahlah kamu semua, sesungguhnya hadiah itu
menghilangkan kebencian dan kemarahan.”
(H.R. Turmudzi)
Bagi orang yang diberi hadiah, disunahkan untuk menerimanya meskipun
hadiah tersebut kelihatannya hina dan tidak berguna. Nabi bersabda:
Artinya:
“dari Khalid bin Adi bahwa
Nabi SAW. bersabda “Siapa yang mendapatkan dari saqudaranya suatu
kebaikan (hadiah) tanpa berlebuh-lebihan dan (tanpa mendatangkan)
masalah, maka hendaklah ia menerimanya dan tidak menolaknya. Hal itu
merupakan rejeki yang diturunkan Allah kepadanya.”
Dari keterangan-keterangan di atas, jelaslah bahawa pada dasarnya
memberikan hadiah kepada orang lain sangat baik dan dianjurkan untuk lebih
meningkatkan rasa saling mencintai. Begitu pula bagi yang diberi hadiah
disunahkan untuk menerimanya.
Akan tetapi, Islam pun memberi rambu-rambu tertentu dalam masalah
hadiah, baik yang berkaitan dengan pemberi hadiah maupaun penerimanya.
Dengan kata lain, tidak semua orang diperbolehkan menerima hadiah,
misalnya bagi seorang pejabat atau pemegang kekuasaan.
Hal itu ditunjukan untuk kemaslahatan dalam kehidupan manusia. Banyak
sekali orang yang ingin mengenal bahkan akrab dengan orang-orang yang
terpandang, baik para pejabat maupun orang-orang yang memiliki kedudukan
tinggi lainnya. Mereka menempuh berbagai jalan untuk dapat mendekati
orang-orang trersebut dengan cara memberi hadiah kepoadanya padalah
pejabat tersebut hidup berkecukupan, bahkan tak pantas untuk diberi hadiah,
karena masih banyak orang lainnya yang lebih membutuhkan hadiah tersebut.
Oleh karena itu, Islam melarang seorang pejabat atau petugas negara
dalam posisi apapun untuk menerima atau memperoleh hadiah dari siapapun
karene hal itu tidaklah layak dan dapat menimbulkan fitnah. Di samping sudah
mendapatkan gaji dari negara, alas an pemberian hadiah tersebut tersebut
berkat kedudukan. Bila dia tidak memiliki kedudukan atau jabatan, belum
tentu orang-orang tersebut memberinya hadiah. Sebagaimana dinyatakan
dalam hadis di atas bahwa jika ia tidak menjabat dan hanya diam di rumah,
tidak ada seorangpun yang memberikan hadiah kepadanya.
Dengan demikian,hadiah yang diberikan kepada para pejabat atau yang
kecil atau besar wewenangnya apabila sebelumnya tidak biasa terima dinilai
sebagai sogokan terselubung.
Dengan kata lain, hadiah yang diberikan kepada pejabat sebenarnya
bukanlah haknya. Di samping itu, niat orang-orang memberikan hadiah
kepada para pejabat atau para pegawai, dipastikan tidak didorong dan
didasarkan pada keikhlasan sehingga perbuatan mereka akan sia-sia dihadapan
Allah SWT.
5. Fiqh Al-Hadis:
Dalam Islam, para pegawai instansi atau para pemegang kekuasaan
dilarang menerima hadiah karena hadiah yang diberikan kepadanya berkaitan
dengan jabatannya. Jika ia tidak menduduki suatu jabatan, dipastikan tidak
akan menerima hadiah tersebut. Dengan demikian, hadiah tersebut akan
menjadikannya melakukan perbuatan kolusi dan nepotisme.

0   komentar

Silahkan kirim komentar anda!

Cancel Reply