Jogja Course Center

product 1

Jogja Course Center (JCC) sebagai lembaga yang memfasilitasi pemenuhan kebutuhan masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan potensi diri, serta mendukung dalam penguasaan dan penerapan ilmu bahasa asing dan komputer, dan ikut serta dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Info detail klik di sini.

Dinda Mustikawati

product 1

Situs Khusus Para Srikandi Penggoncang Dunia. Tempat berbagi info tentang pendidikan, pemberdayaan perempuan, fashion, kesehatan, dll. Silahkan klik di sini.

Iklan Anda

product 1

Pasanglah iklan Anda di sini. Ingsyallah membawa berkah. Apalagi menghidupi hamba Allah yang sedang belajar ilmu agama. Alasan lainnya klik di sini.

Dedi Wahyudi Siap Membangun Negeri Menuju Indonesia Digdaya 2030

Dedi Wahyudi Siap Membangun Negeri Menuju Indonesia Digdaya 2030

Podoluhur News

Dedi Wahyudi lagi sibuk garap tesis, mohon doanya semoga diberikan kemudahan oleh Allah, aamiin.

Urgensi Hadis-Hadis Anti Korupsi dalam Upaya Pemberantasan Korupsi

Dedi Wahyudi | 8/18/2010 09:54:00 am | 0 komentar

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Hadis
Maraknya tindakan korupsi di Indonesia
merupakan sebuah ironi di tengah-tengah
masyarakat yang mayoritas beragama Islam.
Tindakan memperkaya diri sendiri maupun
kelompok dengan cara yang tidak benar, jelasjelas
dilarang. Agama Islam, melalui al-Qur’an
dan Hadis, secara tegas melarang segala bentuk
perolehan harta kekayaan dengan cara yang
tidak benar tersebut, tetapi tetap saja korupsi
merajalela dan menjadi gejala di setiap lapisan
masyarakat. Tulisan ini hendak mengetengahkan
hadis-hadis tentang perbuatan yang berindikasi
korupsi dengan segala konsekwensi hukumnya,
dengan maksud mengingatkan kembali akan
dampak negatif korupsi bagi pelaku maupun
masyarakat.
Urgensi Hadis-Hadis
Anti Korupsi dalam Upaya
Pemberantasan Korupsi
Oleh Fakrur Rozi*
Kata Kunci: hadis, korupsi, ghulul, rishwah
Pendahuluan
Islam hadir sebagai rahmat bagi alam semesta. Itulah jargon yang
sangat populer di kalangan umat Islam, yang memang tercantum di dalam
al-Qur’an. Islam mengajarkan kepada pemeluknya, nilai-nilai luhur yang
berlaku universal. Misalnya, keadilan (al-‘adâlah, justice) , kejujuran/
terpercaya (al-amânah, trust), persamaan derajat manusia (equality),
pertanggungjawaban (al-mas`uliyyah, accountability), toleransi (al-tasamuh)
pembelaan terhadap yang lemah, dan lain-lain. Prinsip-prinsip tersebut
secara jelas tercantum di dalam al-Qur`an maupun hadis Nabi, yang
merupakan nilai-nilai utama ajaran Islam, setelah akidah tauhid. Jika
para pemeluk Islam mampu mengimplementasikan dengan baik nilainilai
tersebut, niscaya Islam benar-benar menjadi rahmatan li al-`âlamîn,
tidak sekedar slogan dan jargon semata.
Dalam konteks ajaran Islam, korupsi merupakan tindakan yang
bertentangan dengan prinsip keadilan, akuntabilitas dan tanggungjawab.
364 Teologia, Volume 19, Nomor 2, Juli 2008
Kontekstualisasi Hadis-Hadis Anti Korupsi Oleh Fakrur Rozi
Korupsi dengan segala dampak negatifnya, telah menimbulkan berbagai
distorsi terhadap kehidupan negara dan masyarakat. Korupsi dapat
dikategorikan perbuatan fasâd, kerusakan di muka bumi, yang juga amat
dikutuk Allâh SWT.1 Perbuatan korupsi juga merupakan perbuatan jahat
dan bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Ultimatum seperti ini,
sayangnya, tidak memberi dampak pada perilaku sosial, termasuk bagi
para pemeluk Islam di Indonesia, yang dinyatakan sebagai negara dengan
penduduk Islam terbesar di dunia, juga sekaligus menjadi negara terkorup
di dunia. Sehingga muncul asumsi, bahwa agama (religiusitas formal)
tidak memiliki korelasi signifikan dengan angka kecenderungan korupsi.2
Ini juga mengindikasikan ketidakberdayaan agama, dan ketidakberhasilan
pendidikan agama menghadapi masalah kemanusiaan secara umum.
Definisi dan Ciri-ciri Korupsi
Korupsi secara etimologis berasal dari bahasa Latin, corruptio, dari
kata kerja corrumpere, yang berarti: busuk, rusak, menggoyahkan,
memutarbalik, menyogok. Dari bahasa Latin itulah turun ke banyak bahasa
Eropa seperti Inggris, yaitu corruption, corrupt; Perancis yaitu corruption;
dan Belanda yaitu corruptie, koruptie. Dari bahasa Belanda inilah kata
itu turun ke bahasa Indonesia menjadi korupsi.3 Dalam Kamus Umum
Bahasa Indonesia, korupsi berasal dari kata korup yang berarti busuk,
palsu, dapat disuap, tidak bermoral, kebejatan, dan ketidakjujuran. Korup
juga berarti dapat disogok, menyelewengkan uang/barang milik
perusahaan atau negara, menerima uang dengan menggunakan jabatan
untuk kepentingan pribadi, penyelewengan atau penggelapan uang
negara atau perusahaan tempat seseorang bekerja untuk kepentingan
pribadi atau orang lain.4
Dalam bahasa Arab, istilah korupsi baru bisa diketemukan dalam
kamus-kamus modern seperti Hans Wehr, al-Mawrid, dan Al-Munawwir.
Padanan kata korupsi diambil dari kata risywah, yang dimaknai uang
suap,5 penyuapan dan korupsi,6 penyuapan (bribery), korupsi (corruption),
dan ketidakjujuran (dishonesty).7
Menurut Syed Husein Alatas,8 korupsi tidak saja berada pada wilayah
penyelewengan keuangan negara (material benefit), tetapi korupsi
mencakup beberapa penyimpangan perilaku sebagai berikut:
Teologia, Volume 19, Nomor 2, Juli 2008 365
Kontekstualisasi Hadis-Hadis Anti Korupsi Oleh Fakrur Rozi
1. Korupsi paling rendah adalah perilaku yang terkait dengan
pengkhianatan terhadap kepercayaan (betrayal of trust), seperti: tidak
disiplin dalam bertugas, mencontek atau melakukan plagiat tulisan ilmiah;
2. Penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power), seperti: nepotisme
dalam pengangkatan sanak saudara, teman-teman atau rekan politik tanpa
memandang jasa mereka maupun konsekuensinya pada kesejahteraan
publik, termasuk memberi nilai bagus pada mahasiswa, karena anak atau
kerabat pimpinan. Sekalipun perbuatannya tidak memberikan
keuntungan material, tindakannya dapat disebut korupsi;
3. Semua bentuk penyalahgunaan kekuasaan yang mendatangkan
keuntungan (material benefit) baik untuk dirinya, keluarga, institusi, klan,
dan primodial tertentu. Tingkatan ketiga ini biasanya ditujukan kepada
dua kasus. Pertama, ditujukan kepada pejabat yang menerima pemberian
“hadiah” dari seseorang dengan tendensi untuk mencari perhatian
istimewa pada kepentingan-kepentingan si pemberi. Kedua, pejabat yang
menyelewengkan dana publik untuk kepentingan dirinya sendiri. Perilaku
ini merugikan kepentingan publik, karena penggelapan uang yang mereka
lakukan harus dibayar dengan sebuah harga yang juga harus dibayar oleh
publik. Dua kasus ini mengandung korupsi yang melibatkan unsur
pemerasan (extortion). Dengan demikian, korupsi adalah penempatan
kepentingan-kepentingan publik di bawah tujuan-tujuan private dengan
pelanggaran norma-norma tugas dan kesejahteraan, yang dibarengi dengan
keserbarahasiaan, pengkhianatan, penipuan, dan pengabaian yang kejam atas
setiap konsekuensi yang diderita oleh publik.
Sedangkan ciri-ciri korupsi, berbeda dengan tindakan kriminal seperti
kriminal dan perampokan. Ciri-ciri tersebut, sebagaimana dikemukakan
oleh Syed Husein Alatas adalah:
1. Korupsi senantiasa melibatkan lebih dari satu orang;
2. Korupsi pada umumnya dilakukan secara rahasia, kecuali apabila
telah merajalela dan berurat berakar;
3. Korupsi melibatkan elemen kewajiban dan keuntungan timbal balik.
Kewajiban atau keuntungan itu tidaklah senantiasa berupa uang;
4. Pelaku korupsi biasanya berusaha untuk menyelubungi
perbuatannya dengan berlindung di balik pembenaran hukum;
5. Mereka yang terlibat korupsi adalah mereka yang menginginkan
keputusan-keputusan yang tegas dan mampu mempengaruhi keputusan
tersebut;
366 Teologia, Volume 19, Nomor 2, Juli 2008
Kontekstualisasi Hadis-Hadis Anti Korupsi Oleh Fakrur Rozi
6. Setiap perbuatan korupsi mengandung penipuan, baik oleh badan
publik maupun masyarakat umum;
7. Setiap bentuk korupsi adalah suatu pengkhianatan kepercayaan;
8. Setiap bentuk korupsi melibatkan fungsi ganda yang kontradiktif
dari mereka yang melakukan tindakan itu;
9. Suatu perbuatan korupsi melanggar norma-norma tugas dan
pertanggungjwaban dalam tatanan masyarakat.
Perlunya Menggali Hadis-hadis Antikorupsi
Ironisnya, dalam masyarakat yang berbasis agama, hampir tanpa
kecuali, pemandangan korupsi yang bertolak belakang dengan nilai-nilai
keadilan dan kejujuran itu seolah menjadi peristiwa harian yang diberikan
secara rutin. Praktek korupsi, klolusi, suap, money politic seakan tak pernah
reda, bahkan semakin menggejala dan menggila. Jika perilaku korupsi
dan suap menyuap tumbuh subur di tengah masyarakat, berarti ada sesuatu
mendasar yang perlu dilihat kembali (dievaluasi) terkait dengan sistem
kemasyarakatan dan kebangsaan. Juga sangat terkait dengan pola
pemahaman dan pembelajaran pengetahuan agama. Pemahaman
keagamaan muncul berangkat dari teks-teks wahyu, ayat maupun hadis.
Diyakini bahwa Al-Qur’an dan Hadis menjadi sumber utama ajaran dan
moral agama Islam. Karenanya, upaya mengkaji dan menggali secara
mendalam ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis Nabi terkait kehidupan yang
bebas dari korupsi sangatlah penting dan mendesak dilakukan.
Hadis sebagai sumber agama Islam kedua setelah Al-Qur’an diyakini
memberikan tuntutan lugas dalam menjalani kehidupan yang diridhai
Tuhan, kehidupan yang bersih dan jujur. Nabipun dalam sejarahnya telah
membuktikan kehidupan masyarakat saat itu diperjuangkan bebas dari
perilaku korupsi. Jika terjadi pelanggaran korupsi sekecil apapun, tanpa
basa-basi, Nabipun tidak mau menshalati jenazahnya, mengecam
pelakunya dengan laknat, dan mengancamnya tidak masuk surga.
Nabi pun pernah berpidato terkait adanya upaya pembebasan atau
pengurangan hukuman atas suatu kasus pencurian yang dilakukan oleh
seorang perempuan al-Makhzumiyyah. Nabi dengan lantang bersabda
(kepada Hai Usamah)- karena dia mengajukan penangguhan dan
keringanan hukuman bagi wanita tersebut: “Apakah engkau hendak meminta
keringanan dari ketentuan Allah?”. Kemudian Rasulullah saw. . berkhutbah:
“Wahai manusia, sesungguhnya kebinasaan yang menimpa orang-orang
Teologia, Volume 19, Nomor 2, Juli 2008 367
Kontekstualisasi Hadis-Hadis Anti Korupsi Oleh Fakrur Rozi
terdahulu sebelum kalian adalah karena jika ada orang terhormat (Al-Syarif)
mencuri, dia dibebaskan dari hukuman. Sebaliknya, jika orang kecil (al-Dha’if)
mencuri, segera ditegakkan hukum atas mereka”. Rasulullah saw.
melanjutkan: “Waimullahi lau anna Fatimah binti Muhammad saraqat
laqatha’tu yadaha”, (Demi Allah, andai Fatimah putri Muhammad mencuri,
pasti aku akan memotong tangannya).9 Terkait dengan kasus tersebut,
sikap Nabi terhadap pencurian sangatlah tegas, tanpa kompromi dan
diskriminasi, seperti ditunjukkan sejumlah hadis.
Kajian hadis-hadis anti korupsi dirasakan sangat mendesak. Dengan
mengungkap sejumlah hadis Nabi yang bertema anti korupsi, diharapkan
gerakan pencegahan dan pemberantasan korupsi mengalami kemajuan,
yang pada gilirannya kehidupan masyarakat dan negara bebas dari
penyakit ganas, yakni korupsi dan suap. Masyarakat luas akan
mendapatkan landasan teologis untuk menjauhi kehidupan korup dan
bahkan berani memberantasnya dari lingkungan yang paling kecil dan
dekat hingga ke ruangan publik dan negara yang lebih luas.
Jika digali lebih dalam, hadis-hadis yang bertema anti korupsi dan
anti suap sangatlah banyak. Selama ini ayat atau hadis yang terkait
pemberantasan korupsi tidak populer/dipopulerkan kepada masyarakat
luas. Tentu hal ini membawa konsekuensi logis tumbuh suburnya budaya
korupsi dan suap di kalangan masyarakat. Bagi kelompok yang
“diuntungkan” oleh korupsi, jelas bahwa penyebarluasan ayat atau hadis
anti korupsi, berarti mempersempit ruang gerak para koruptor, baik di
lembaga legislatif, eksekutif, yudikatif, dan juga di sektor swasta maupun
di ranah publik lainnya. Namun bagi insan yang setia keluhuran budi
dan akal sehat, penyebarluasan hadis anti korupsi sangatlah diperlukan
guna mendorong kehidupan berbangsa dan bermasyarakat yang baik, adil,
beradab, dan berkemakmuran.
1. Menjaga Amanah sebagai Benteng Anti Korupsi
Sebelum membahas hadis-hadis yang spesifik tentang korupsi, akan
lebih baik jika dikaji lebih dahulu hadis-hadis tentang pentingnya
menjaga amanah. Semua tindakan korupsi dimulai dari penyalahgunaan
amanah (abuse of trust), yang menjalar menjadi penyalahgunaan
kekuasaan/wewenang (abuse of power), baik dalam urusan individu
maupun publik. Amanah, diyakini sebagai benteng anti korupsi yang
368 Teologia, Volume 19, Nomor 2, Juli 2008
Kontekstualisasi Hadis-Hadis Anti Korupsi Oleh Fakrur Rozi
sangat kuat. Jika benteng amanah telah rusak, maka yang lain pun akan
rusak.
Rasulullah saw. bersabda tentang pentingnya jujur dan menjaga
amanah:
Sulaiman Abu Rabi’ telah menceritakan hadis kepada kami, Ismail ibnu Ja’far telah
menceritakan hadis kepada kami, Nafi’ ibnu Malik ibnu Abi Amir, yaitu Abu
Suhail, telah menceritakan hadis kepada kami dari bapaknya dari Abi Hurairah
dari Nabi . bersabda: “Tanda-tanda orang munafik ada tiga: jika berbicara
berbohong, jika berjanji ingkar, jika dipercaya berkhianat”. (HR. Bukhari). 10
Hadis ini sangat tegas dan lugas, bahwa kejujuran, keterbukaan,
dan tanggungjawab adalah tanda-tanda pokok keimanan yang harus
dipelihara. Tanpa ketiga hal tersebut, walaupun telah banyak beribadah
ritual, seseorang layak disebut munafik. Betapa banyak orang berjanji
ketika kampanye politik, bersumpah ketika hendak memangku sebuah
jabatan, berpidato berapi-api dalam sambutan pelantikan, tetapi semuanya
hanya tinggal janji, sumpah palsu dan omong-kosong. Kursi kekuasaan
seringkali membuat orang lupa pada janji dan sumpah jabatan yang
disaksikan orang banyak serta disaksikan Allah. Harta berlimpah
seringkali membutakan mata, menulikan telinga, dan menumpulkan akal
budi, sehingga kepercayaan publik yang dibangun sejak lama pun
dikorbankan.
Terkait dengan tema kajian ini, tindak korupsi sangat bertentangan
dengan prinsip amanah dan kejujuran yang diajarkan dalam agama. Lebih
jelas lagi, Rasulullah saw. berpesan tentang akibat pelanggaran atau
penyalahgunaan amanah, yaitu sebuah kerusakan total sistem kehidupan
masyarakat. Pernyataan Rasulullah saw. ini terbukti, ketika banyak
pejabat pemegang amanah menyeleweng, semua sistem sosial
kemasyarakatan lambat laun menjadi rusak.
Dari Abu Hirairah ra., ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Jika amanah
disia-siakan, maka tunggulah kehancuran. Kemudian dinyatakan: “bagaimana
maksud amanah disia-siakan itu? Rasul menjawab: “Jika suatu perkara (amanat/
pekerjaan) diserahkan pada orang yang tidak ahli (profesional), maka tunggulah
saat kehancuran.” (HR. Bukhari). 11
Dari hadis diatas, hubungan antara amanah dan keahlian sangatlah
erat. Jika keduanya hilang, maka kehancuran akan mengancam. Dan
salah satu faktor yang dapat merusak amanah dan profesionalitas adalah
Teologia, Volume 19, Nomor 2, Juli 2008 369
Kontekstualisasi Hadis-Hadis Anti Korupsi Oleh Fakrur Rozi
suap. Seseorang sebelum menjabat, tantangan berlaku jujur mungkin
tidak berat. Berbeda halnya, ketika ia sudah menjabat suatu urusan,
tawaran suap datang dari kanan dan kiri. Di sini amanah sang pejabat
diuji. Dalam hadis lain, Rasulullah saw. menegaskan hubungan iman
dengan amanah dan kaitan ketat agama dengan pemenuhan janji.
“Tidak beriman (tidak sempurna iman) orang yang tidak menjaga amanah
dan tidak beragama (tidak sempurna agama) seseorang yang tidak menepati
janjinya.”(HR. Ahmad). 12
Amanah sangatlah dijunjung tinggi dalam Islam. Iman, amanah, dan
aman berasal dari asal kata yang sama, yaitu a-m-n (Amuna, ya’munu,
amnan, amanatan atau dengan mengikuti wazan/struktur kata af ’ala
menjadi amanah, yu’minu, imanan).13 Hadis di atas menjelaskan bahwa
iman harus dibuktikan dengan sikap amanah dalam berinteraksi sosial.
Tanpa sikap amanah, iman menjadi rusak sehingga rasa aman menjadi
hilang. Jelasnya, jika kecurangan dan korupsi di semua lini, iman dan
amanah sudah tidak ada, maka kemanan menjadi problem yang sulit
dikendalikan. Akhirnya, kejahatan merajalela dan hukum pun tidak
berdaya, karena jika amanah telah tiada, maka hukum dan keadilan
bisa diperjual belikan. Selanjutnya, rusaklah tata kehidupan masyarakat
dan sendi-sendi bangsa dan negara.
2. Hadis tentang Pemimpin yang Menipu
Rasulullah saw. jauh-jauh telah berpesan kepada pemimpin/pejabat
untuk tidak menipu rakyat demi keuntungan pribadi dan kelompok.
Dari Abi Ali Ma’qil ibn Yasar, ia berkata: “Aku mendengar Rasulullah
saw. bersabda: “Tak seorangpun hamba yang diberi amanat pemimpin oleh
Allah untuk suatu urusan dan pada hari kematiannya ia telah menipu/curang
dalam kepemimpinannya maka Allah mengharamkan surga atasnya.” 14
Rasulullah saw. berpesan demikian tentu didasari asumsi bahwa
pemimpin, pejabat, atau pegawai pemegang amanah sangat berpeluang
berlaku curang. Karenanya demi kemaslahatan hidup dan keselamatan
dunia akhirat, Rasulullah saw. memberikan pencegahan sebelum terjadi.
Walau demikian, pesan Rasul ini tidak banyak diindahkan oleh para
pejabat, dulu maupun sekarang.
Andai saja semua pemimpin berlaku jujur dan bertanggungjawab
atas semua yang diamanahkan kepadanya, niscaya kemakmuran dan
370 Teologia, Volume 19, Nomor 2, Juli 2008
Kontekstualisasi Hadis-Hadis Anti Korupsi Oleh Fakrur Rozi
kebahagiaan akan mudah dicapai. Padahal kejujuran akan membimbing
pada kebaikan dan kebaikan akan mengantarkan pada surga. Sementara
kebohongan atau kecurangan akan membawa pada kejahatan dan
kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Demikian itu pernah
dipesankan oleh Rasulullah saw. dalam hadisnya yang diriwayatkan oleh
Bukhari dan Muslim.15
Di sisi lain, kini perlu dikampanyekan budaya “malu korupsi” melalui
pelbagai media, seperti: sticker, pamflet, spanduk, poster, VCD dan
sejenisnya. Kampanye budaya malu ini selaras dengan hadis Nabi yang
menyatakan bahwa malu adalah bagian penting dari iman (fa inna alhayaa’a
min al-iman).16 Karenanya, siapapun yang sudah tidak memiliki
rasa malu dalam berbuat curang, tidak malu dalam korupsi, berarti salah
satu catatan imannya telah putus.
3. Hadis-hadis tentang Korupsi
Dalam kitab-kitab hadis, beberapa istilah yang sering diidentikkan
atau memiliki kedekatan arti dengan korupsi antara lain: Ghulul dan
risywah.
- Ghulul: bentuk korupsi yang sangat populer
Ghulul merupakan istilah yang paling banyak digunakan oleh
Rasulullah saw. dalam hadis-hadisnya terkait dengan perilaku korupsi
atau penggelapan harta publik. Ghulul adalah isim masdar dari kata ghalla
ya ghullu ghallan wa ghullun. Artinya, Akhdzu al-syai wa dassabu fi mata’hi”
(mengambil sesuatu dan menyembunyikannya dalam hartanya).17 Ibnu
Hajar al-Asqalani mendefinisikan ghullul dengan “ ma yu’khazu min al
ghanimati khafiyyatan qabla qismatika (apa saja yang diambil dari barang
rampasan perang secara sembunyi-sembunyi sebelum pembagian). Ada
juga pendapat yang hampir sama bahwa ghulul dimaknai “akhdzu al syai
wa dassahu fi mata’ibi” (pengkhianatan dalam hal harta rampasan perang).18
Semula ghulul merupakan istilah khusus bagi penggelapan harta rampasan
perang sebelum dibagikan secara transparan.
Definisi di atas menunjukkan bahwa ghulul terjadi pada penggelapan
harta rampasan perang. Hal ini sejalan dengan makna Q.S Ali Imran:
161 dan sejumlah hadis tentang ghulul. Kendati demikian, melihat
beberapa hadis lainnya, ghulul juga terjadi pada kasus pegawai/pejabat
yang mengambil sesuatu di luar haknya yang diatur secara resmi. Pejabat
Teologia, Volume 19, Nomor 2, Juli 2008 371
Kontekstualisasi Hadis-Hadis Anti Korupsi Oleh Fakrur Rozi
yang menerima hadiah dari pihak tertentu terkait dengan tugasnya, dan
orang yang mengambil tanah orang lain yang bukan haknya. Dengan
melihat unsur-unsur yang melingkupinya, cakupan makna ghulul bisa
diperluas, dikembangkan hingga ke istilah korupsi dalam berbagai
bentuknya yang kini semakin canggih modus operandi-nya dan menjadi
duri dalam kehidupan masyarakat.
Hadis-hadis tentang ghulul berikut dinilai mewakili kajian tematik
tentang korupsi. Hadis pertama terdapat dalam shahih Bukhari, kitab al-
Jihad wa al-sair, nomor 2845:
Ali ibn Abdillah telah menceritakan hadis kepada kami. Sufyan telah menceritakan
kepada kami. Dari Amr, dari Salim ibn Abi Al-Ja’di, dari Abdullah ibn Umar
berkata: bahwa pada rombongan Rasulullah saw. .. Ada seorang bernama Kirkirah
yang mati di medan perang. Rasulullah saw. bersabda: “dia masuk neraka”. Para
sahabat pun bergegas pergi menyelidiki perbekalan perangnya. Mereka mendapatkan
mantel yang ia korup dari harta rampasan perang. 19 (H.R Bukhari).
Hadis kedua dalam Shahih Muslim, kitab al-Iman, Nomor 165:
Zuhair ibn Harb talah menceritakan hadis kepadaku, Hasyim ibn Al-Qasim telah
menceritakan hadis kepada kami, Iqrimah ibn Amr telah menceritakan hadis kepada
kami. Ia berkata simak al Hanafi Abu Zumail telah bercerita kepadaku. Ia berkata
Abdullah ibn Abbas telah menceritakan kepadaku. Umar ibn Al-Khattab
menceritakan kepadaku bahwa ia berkata: ketika terjadi perang Khaibar beberapa
sahabat Nabi berkata: “si Fulan mati syahid, si Fulan mati syahid. Hingga mereka
berpapasan dengan seseorang. Mereka pun berkata: si Fulan mati syahid. Kemudian
Rasulullah saw. bersabda: Tidak begitu. Sungguh aku melihatnya di dalam neraka
karena burdah (selimut atau aba’ah) mantel yang ia korup dari harta rampasan
perang. Lalu Rasulullah saw. berkata: Wahai ibn al-Khattab, berangkatlah dan
sampaikan kepada manusia bahwa tidak akan masuk surga selain orang-orang yang
beriman.” Maka aku keluar dan menyerukan kepada manusia: ingatlah,
sesungguhnya tidak masuk surga selain orang-orang yang beriman”.20 (H.R. Muslim).
Dua hadis di atas menjelaskan tentang peristiwa ghulul/korupsi di
medan perang khaibar. Seorang pejuang yang gagah berani dan kemudian
mati di medan perang, belum dapat dijamin bahwa ia syahid dan masuk
surga. Ternyata setelah diinvestigasi (dilacak) secara cermat dan jujur,
orang tersebut terlibat ghulul, mengambil selimut atau mantel dan itu
menjadikannya mati sia-sia, kemudian masuk neraka.
Dalam konteks kekinian, seorang pejabat atau pegawai publik (terkait
urusan orang banyak) yang telah berjuang mati-matian dalam tugasnya,
tetapi jika ditemukan kasus-kasus terkait “ketidakbersihan”, kecurangan,
372 Teologia, Volume 19, Nomor 2, Juli 2008
Kontekstualisasi Hadis-Hadis Anti Korupsi Oleh Fakrur Rozi
penyalahgunaan jabatan, korupsi dan suap maka citra yang selama ini
dibangun menjadi tercemar dan nasibnya pun terancam neraka dalam
arti yang luas.
Banyak sekali kasus korupsi atau suap yang menimpa pejabat publik
Indonesia mulai dari kasus-kasus kecil hingga kasus besar. Beberapa
tindakan berikut dapat dikategorikan sebagai ghulul, misalnya: pejabat/
pegawai yang menggunakan fasilitas negara/publik untuk kepentingan
pribadi atau kelompoknya, pejabat pengadaan barang yang me-mark up
(menggelembungkan) biaya pembelian dari yang seharusnya, pegawai
parkir yang tidak menyerahkan seluruh pendapatan parkir kepada yang
berwenang, petugas pajak yang kongkalikong dengan wajib pajak dan
mengajari bagaimana memperkecil tagihan pajak sembari menerima
“hadiah” dari wajib pajak tersebut, pejabat yang tidak mengembalikan
sarana dinas (kendaraan, rumah dan lain-lain) setelah tidak menjabat
lagi. Bahkan, sering kali diberitakan seorang pejabat/pegawai ketika masih
menjabat dikenal bersih, ternyata setelah berakhir masa tugas, diketahui
telah menggelapkan kekayaan negara atau publik.
- Hadiah bagi pejabat/pemegang kebijakan termasuk ghulul
Jika dalam menjalankan tugas atau jika terkait dengan tugasnya,
seseorang yang memiliki jabatan atau mempunyai wewenang tertentu
diberi hadiah oleh pihak lain dengan harapan pejabat tersebut dapat
memberi kemudahan tertentu atau memberi keringanan tertentu atas
suatu tuntutan, maka hadiah yang demikian dikategorikan sebagai ghulul
(korupsi). Hal ini dapat dipahami secara logis, sebab hadiah, tips, bingkisan
atau parcel tersebut, sedikit atau banyak mempengaruhi kebijakan dan
keputusannya sebagai pejabat/pegawai. Contoh yang paling nyata adalah
pegawai/pejabat tingkat atas yang mendapat bingkisan/hadiah tertentu
dari bawahannya demi memperoleh keuntungan tertentu. Tindakan
demikian dapat merusak sistem yang dilandaskan pada asas keadilan
dan kejujuran dan tentu akan merugikan kepentingan umum.
Terkait hadiah bagi para pejabat atau pegawai publik, Rasulullah
saw. bersabda:
“Sesungguhnya Rasulullah saw. mengangkat seorang pegawai. Ketika selesai dari
pekerjaannya, dia mendatangi Rasulullah saw. dan berkata: Wahai Rasulullah saw.
ini untukmu (untuk baitul mal, baca: negara) dan ini dihadiahkan untukku. Kemudian
Rasulullah saw. berkata kepadanya: tidakkah engkau duduk dirumah ayah ibumu,
Teologia, Volume 19, Nomor 2, Juli 2008 373
Kontekstualisasi Hadis-Hadis Anti Korupsi Oleh Fakrur Rozi
lalu engkau tunggu apakah engkau diberi hadiah atau tidak? Rasulullah saw. pun
menyampaikan khutbah malam hari setelah shalat. Beliau mengucapkan syahadat,
memuji Allah dengan pujian yang layak bagi-Nya, lalu ia berkata: bagaimana perilaku
seorang pegawai yang kami anggap lalu dia datang kepadaku kemudian dia
mengucapkan: “Ini hasil dari pekerjaan yang engkau berikan dan dihadiahkan
kepadaku”. Tidakkah dia duduk (saja) dirumah ayah-ibunya lalu ia tunggu apakah
ia diberi hadiah atau tidak? Demi Allah, Zat yang jiwa Muhammad di dalam
genggamannya, setiap orang yang melakukan ghulul (korupsi), pasti dai akan datang
pada hari kiamat sambil mengalungkan barang yang ia korupsi dilehernya. Jika yang
dukorup unta maka ia akan membawanya dengan bersuara, sungguh aku telah
menyampaikan (peringatan ini). Abu Humaid berkata kemudian Rasulullah saw.
mengangkat tangannya sampai kami melihat bulu ketiaknya. Abu Humaid
mengatakan bahwa Zaid bin Tsabit mendengar pesan itu bersamaku, maka
tanyakanlah kepadanya. 21
Hadis diatas, jika diterapkan pada pejabat masa kini, tentu penjara
akan penuh sesak. Pasalnya, banyak pejabat yang ketika bertugas banyak
mendapat hadiah ini dan itu yang menurut Rasulullah saw. disebut ghulul.
Betapa banyak pejabat yang menjadi kaya mendadak tidak lama setelah
menduduki posisi tertentu, sementara gajinya yang kecil jika berlipatlipat
pun belum tentu setara dengan jumlah kekayaan atau fasilitas yang
dimiliki, bila hadis di atas berlaku secara ketat, korupsi dan suap akan
bisa dicegah lebih dini.Dalam bahasa yang singkat dan lugas, Rasulullah
saw. menegaskan:
Ishaq ibn Isa telah menceritakan hadis kepada kami, Isma’il ibn Ayyasy telah
menceritakan hadis kepada kami, dari Yahya ibn Sa’id, dari Urwah ibn al-Zubair,
dari Abi Humaid al-Sa’idi, ia berkata bahwa Rasulullah saw. .. Berabda: “Hadiah
yang diterima pra pejabat/pemegang kebijakan adalah ghulul (korupsi).”22
Pernyataan “Hadiah bagi pejabat adalah korupsi” tersebut perlu
disosialisasikan di kantor-kantor pelayanan umum, departemendepartemen
pemerintah, kantor kepolisian, imigrasi, bea cukai, dan
sebagainya dengan menggunakan berbagai media kampanye. Pasalnya,
para pejabat tersebut sudah mendapatkan gaji/upah untuk pekerjaan yang
dilakukannya secara rutin. Mereka digaji memang untuk melaksanakan
tugasnya tanpa mengharapkan imbalan/hadiah dari masyarakat yang
sedang berurusan. Mentalitas pegawai/pejabat yang baru bekerja setelah
mendapat hadiah “uang pelicin” dari pengguna jasa adalah bentuk korupsi
yang sangat nyata. Muncul pernyataan, apakah seorang yang benar-benar
beriman akan ikut melestarikan budaya uang pelicin tersebut?
Hadis di atas dikuatkan oleh banyak hadis. Salah satunya adalah:
374 Teologia, Volume 19, Nomor 2, Juli 2008
Kontekstualisasi Hadis-Hadis Anti Korupsi Oleh Fakrur Rozi
Zaid bin Akhzam Abu Thalib telah menceritakan hadis kepada kami, Abu ‘Ashim
telah menceritakan kepada kami, dari Abd Al-Warits ibn Sa’id dari Husain al-
Mu’alim, dari Abdullah ibn Buraidah, dari bapaknya, dari Nabi .. Beliau bersabda:
“siapa saja yang telah kami angkat untuk mengerjakan suatu pekerjaan/jabatan
kemudian kami telah memberikan gaji, maka sesuatu yang diterima di luar gajinya
yang sah adalah ghulul (korupsi).”23
Hadis di atas berupaya memberikan pencegahan sebelum terjadi
kerusakan sistem akibat hadiah dan bingkisan bagi pejabat atau pegawai
yang mengurusi suatu tugas terkait urusan publik. Pejabat/pegawai yang
telah mendapatkan gaji/pendapatan resmi dan sah sesuai dengan aturan
yang berlaku, tidak diperkenankan menerima hadiah dari pihak-pihak
lain yang sangat mungkin memiliki kepentingan tertentu yang
menguntungkan satu pihak dan merugikan pihak lain.
Dari hadis di atas pula, dapat dikembangkan apa yang kini
dikembangkan audit kekayaan pejabat sebelum dan sesudah menjabat
suatu posisi. Artinya, siapa saja yang mengaku suatu jabatan diminta
menyerahkan daftar kekayaan secara jujur kepada pihak berwenang.
Daftar tersebut menjadi bahan pertimbangan untuk menerima atau tidak
pertanggungjawaban pejabat tersebut ketika purnatugas.
- Mangambil Tanah yang Bukan Haknya termasuk Ghulul
Beberapa hadis Nabi telah menjelaskan tentang seseorang yang
mengambil tanah tetangganya secara bathil dikategorikan sebagai a’dzamu
al-ghulul (korupsi paling besar). Bahkan ancaman Rasulullah saw. sangat
serius bahwa di hari kiamat pelakunya akan dikalungi tujuh tanah yang
digelapkan. Hadis-hadis tersebut antara lain:
Abd al-Malik ibn ‘Amr telah menceritakan kepada kami, Zubair yakni ibn
Muhammad telah menceritakan hadis kepada kami, dari Abdullah ibn Muhammad
ibn ‘Aqil, dari ‘Atha ibn Yasar, dari Abi Malik al-Asy’ari, dari Nabi ., beliau bersabda:
Ghulul yang paling besar dalam pandangan Allah ‘azza wa jalla adalah satu dzira
(sejengkal) tanah yang didapatkan dalam dua orang bertetangga dalam suatu
perkebunan atau perumahan. Salah satu dari keduanya mengambil bagian sahabatnya
satu dzira (secara tidak sah), niscaya akan dibebankan kepadanya tujuh kali tanah
tersebut hingga hari kiamat. 24
Dikuatkan dengan hadis Ahmad lainnya:
Waqi’ telah menceritakan hadis kepada kami, dari Syarik, dan ‘Abdillah ibn
Muhammad ibn ‘Aqil, dari Atha’ibn Yasar, dari Abi Malik al-Asy’ari, ia berkata
bahwa Rasulullah saw. ., bersabda: “Ghulul yang paling besar dalam pandangan
Allah pada hari kiamat adalah sejengkal tanah yang terdapat di antara dua orang
Teologia, Volume 19, Nomor 2, Juli 2008 375
Kontekstualisasi Hadis-Hadis Anti Korupsi Oleh Fakrur Rozi
atau dua orang yang bersebelahan rumah. Keduanya membagi tanah tersebut, lalu
salah satu dari keduanya mengambil satu dzira (sejengkal) dari tanah sahabatnya,
maka akan dikalungkan kepadanya tujuh jengkal tanah.” 25
Jika dicermati, hadis ini mengingatkan bahwa banyak kasus ghulul
terkait dengan masalah tanah. Kasus-kasus penggusuran tanah rakyat
dengan dalih pembangunan, penguasaan lahan orang lain, dan
perampasan tanah-tanah rakyat/tanah adat oleh jaringan mafia tanah
dengan bekal surat tanah yang aspal (asli tapi palsu) yang dapat
dikategorikan ghulul besar. Mungkin para penyerobot tanah yang bukan
haknya telah bersiap diri mendapatkan balasannya di dunia dan akhirat.
- Nabi Tidak Bersedia Menyalati Jenazah Koruptor
Selanjutnya, hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud tentang Nabi
tidak mau menyalati jenazah pelaku ghulul dan batas harta yang bisa
digolongkan sebagai ghulul:
Musadad telah menceritakan hadis kepada kami bahwa Yahya ibn Sa’id dan Bisr
ibn al-Mufadhdhal menceritakan hadis dari Yahya ibn Sa’id, dari Muhammad ibn
Yahya ibn Hbban, dari Abi ‘Amrah, dari Zaid ibn Khalid al-Juhani (diriwayatkan)
bahwa salah seorang sahabat Nabi meninggal dunia pada waktu peperangan Khaibar.
Sahabat memberitahukan hal itu kepada Rasulullah saw. ., kemudian beliau bersabda:
“Shalatkanlah kawanmu itu.” Berubahlah wajah orang-orang itu karena
(mendengar) sabda tersebut. Kemudian Rasulullah saw. menegaskan, temanmu itu
telah melakukan ghulul di jalan Allah”. Kamipun segera memeriksa barang-barangnya,
lalu kami menemukan perhiasan milik orang Yahudi yang harganya tidak mencapai
dua dirham.26
Hadis di atas dikuatkan oleh Imam Nasa’i berikut:
Ubdaidillah ibn Said mengkhabarkan hadis kepada kami. Ia berkata Yahya ibn Said
telah menceritakan hadis dari Yahya ibn Said al-Anshary, dari Muhammad ibn
Yahya ibn Habban dari Abu ‘Amrah dari Zaid ibn Khalid. Ia berkata bahwa ada
seseorang mati di medan perang Khaibar. Kemudian Rasulullah saw. . bersabda:
“Shalatkanlah untuk sahabatmu itu (sedang aku sendiri tidak ikut shalat), karena
ia telah korupsi harta rampasan perang di jalan Allah.” Kamipun segera memeriksa
perbelakalan perang tersebut dan kami mendapatkan di dalam perbekalannya kharaz
(perhiasan) milik orang Yahudi yang nilainya tidak sampai dua dirham. 27
Pernyataan di atas masih dikuatkan lagi oleh hadis yang diriwayatkan
oleh Imam Ahmad ibn Hanbal sebagai berikut:
Dari Zaid ibn Khalid al-Juhannni, ia berkata bahwa salah seorang dari kaum muslimin
meninggal di perang Khaibar. Hal ini disampaikan kepada Rasulullah saw. .,
376 Teologia, Volume 19, Nomor 2, Juli 2008
Kontekstualisasi Hadis-Hadis Anti Korupsi Oleh Fakrur Rozi
kemudian beliau bersabda: “Shalatkanlah jenazah teman kalian!” berubahlah wajah
orang-orang di sana mendengar pernyataan Nabi. Rasulullah saw. menegaskan
“Sungguh temanmu itu telah korupsi di jalan Allah”. Kemudian kami menyeldiki
barang-barang orang yang mati tersebut, kami temukan sebuah perhiasan dari bangsa
Yahudi yang nilainya tidak mencapai dua dirham. 28
Hadis-hadis di atas sangatlah kuat menjadi dalil tentang kerasnya
larangan ghullul. Hadis ini juga menunjukkan bahwa korupsi terjadi dalam
konteks harta atau kekayaan publik yang pada masa dahulu dicontohkan
dengan harta rampasan perang. Jumlah barang/kekayaan yang dikorup
pun dijelaskan, walaupun hanya ditemukan relatif kecil, tidak sampai
dua dirham. Sekecil itupun Rasulullah saw. . tidak bersedia menyalatkan
jenazahnya, apalagi yang lebih besar daripada itu. Dengan tidak bersedia
menyalatkan, berarti Rasulullah saw. sangat marah dan tidak mau
mendoakan untuk pengampunan dan keselamatannya.
- Batas Minimal Tindakan Dikategorikan Korupsi
Dalam banyak hadis disebutkan bahwa orang yang menggelapkan
sebatang jarum saja sudah dinilai melakukan ghulul. Memang harga
sebatang jarum itu tidak seberapa atau relatif murah, tetapi jika
pelanggaran yang kecil ini dibiarkan akan merembet ke yang lebih besar.
Bila didiamkan terus, orang akan mengkorup besi bangunan gedung
sekolah, batu dan pasir untuk jembatan, kayu-kayu gelondongan dari
hutan, semen-semen proyek, buku-buku sekolah, kertas atau alat-alat
dari kantor, mobil dinas, minyak mentah yang diselundupkan keluar
negeri, fasilitas-fasilitas umum, dan lain-lain.
Rasulullah saw. mengingatkan manusia untuk menghindari korupsi
sekecil apapun, karena itu akan mendatangkan laknat Allah. Laknat
tersebut sudah bisa dirasakan dalam bentuk kegelisahan hidup di tengah
gelimang harta hasil korupsi.
Musadad telah menceritakan hadis kepada kami, Yahya telah menceritakan hadis
kepada kami, dari Ismail ibn Abi Khalid, Qais telah menceritakan hadis kepadaku,
ia berkata ‘Adi ibn Umairah al-Kindi telah menceritakan kepadaku, bahwa
Rasulullah saw. . bersabda: “Wahai manusia, siapa saja di antara kalian yang diberi
pekerjaan (tugas) lalu menyembunyikan walau sebatang jarum hingga yang lebih
kecil dari itu, maka yang demikian termasuk ghulul yang akan dibawa olehnya
(untuk dipertanggungjawabkan) pada hari kiamat.” Kemudian seorang laki-laki
dari Anshar bernama Aswad berdiri seolah aku meliharnya, seraya ia berkata:
“Wahai Rasulullah saw., terimalah hasil tugas darimu.” Rasulullah saw. berkata:
Teologia, Volume 19, Nomor 2, Juli 2008 377
Kontekstualisasi Hadis-Hadis Anti Korupsi Oleh Fakrur Rozi
“Apa itu yang ada padamu?” orang tersebut berkata: “Aku mendengarmu bersabda
begini dan begini.” Rasulullah saw. menegaskan “Siapa saja yang kami beri pekerjaan/
tugas untuk suatu urusan, maka hendaklah ia menyerahkan semuanya, sedikit atau
banyak. Apa-apa yang diberikan (sebagai upah kerja resmi) hendaklah ia menerimanya
dan apa saja yang dilarang mengambilnya, hendaklah ia menahan diri (untuk tidak
mengambilnya).” 29
Hadis senada diriwayatkan oleh Ahmad30.
Semua harta hasil korupsi, sekecil apapun, harus
dipertanggungjawabkan kepada Allah. Sungguh pengawasan Allah lebih
cermat dan teliti dibanding pengawasan Komisi Pemberantasan Korupsi
yang ada di banyak negara.
- Allah Tidak Menerima Sedekah dari Hasil Korupsi
Rasulullah saw. menegaskan bahwa Allah tidak menerima sedekah
yang dihasilkan dari korupsi atau tindak kecurangan lainnya. Dengan
pernyataan yang lebih populer, dosa korupsi tidak bisa diputihkan dengan
sedekah sebanyak apapun. Hal ini dipahami dari beberapa hadis yang
jumlahnya sangat banyak.
Dalam hadis riwayat muslim, kitab al-Thaharah, nomor: 329
disebutkan:
Said ibn Mansur, Qutaibah ibn Said, dan Abu Kamil al-Jahdari telah menceritakan
hadis kepada kami, sementara lafadznya milik Said. Mereka berkata Abu Awanah
telah menceritakan hadis kepada kami dari Simak ibn Harb, dari Mush’ab ibn Sa’d.
Ia berkata, Abdullah ibn ‘Umar masuk ke rumah Ibn ‘Amir untuk menjenguknya
karena sakit. Kemudian Ibn ‘Amir berkata, “mengapa engkau tidak berdoa kepada
Allah untuk kesembuhanku, hai Ibn Umar?” Ibn Umar berkata, “Aku mendengar
Rasulullah saw. bersabda: “Shalat tanpa bersuci tidak diterima dan begitu juga
sedekah dari hasil ghulul.” 31
Qutaibah ibn Sa’id telah menceritkan kepada kami, Abu Awanah telah menceritakan
hadis kepada kami, dari Simak ibn Harb (al-Tahwil). Dan Hannad telah
menceritakan hadis kepada kami, Waqi’ telah menceritakan hadis kepada kami,
dari Israil, dari Simak, dari Mush’ab, ibn Sa’d, dari Ibn ‘Umar, dari Nabi .. Beliau
bersabda: “Shalat tanpa kesucian tidak akan diterima, begitu juga sedekah dari
hasil korupsi”. Hannad berkata dalam hadisnya menggunakan “Illa bi thahurin.”
Abu ‘Isa berkata bahwa hadis ini adalah yang paling sahih dalam bab ini dan paling
bagus. 32
Bagi sebagian koruptor, setelah sukses melakukan korupsi, ia akan
berusaha tampil “saleh” dengan membagi sebagian hasilnya untuk
membangun masjid, menyantuni anak-anak yatim, memberi beasiswa
378 Teologia, Volume 19, Nomor 2, Juli 2008
Kontekstualisasi Hadis-Hadis Anti Korupsi Oleh Fakrur Rozi
belajar bagi anak tak mampu, mengundang fakir miskin, bolak-balik ke
Makkah tiap tahun untuk Umrah dan Haji sebagai topeng yang menutupi
wajahnya yang korup, dan sebagainya. Walaupun itu dilakukan dengan
intensif, terutama di bulan Ramadhan, tetap saja sia-sia dalam pandangan
Allah. Tindakan demikian sebenarnya hendak mengelabui atau menyuap
Allah dengan sejumput sedekah yang riya atau ibadah yang pura-pura.
Berangkat dari hadis di atas pula, bisa dipahami bahwa sedekah untuk
pemutihan dosa korupsi adalah tindakan sia-sia, tidak tahu malu, dan
hanya mementingkan kesalehan pribadi setelah mengemplang harta publik.
Dalam konteks ini, tidak berlaku pahala sedekah yang berlipat ganda
seperti dalam keadaan yang normal dan dari sumber yang sah dan halal.
- Ghulul Menghalangi Masuk Surga
Dalam beberapa riwayat, Rasulullah saw. menjelaskan bahwa ghullul
(korupsi), kibr (angkuh), dan dain (hutang yang tidak dibayar) dapat
menghalangi seseorang masuk surga. Di riwayat lain, Rasulullah saw.
tidak menyebut al-kibr (sombong), tetapi al-kanz (penimbunan atau
penyembunyian barang ketika dibutuhkan oleh publik). Walaupun
seseorang memiliki banyak kebaikan dan ibadah lainnya, tetapi jika ia
terlibat korupsi, keangkuhan (riwayat lain, penimbunan) dan enggan
membayar hutang, maka sulit baginya untuk masuk ke dalam surga. Surga
hanya diperuntukkan untuk mereka yang hidupnya jujur, tidak curang,
tidak sombong dan jika berhutang bersedia melunasinya.
Hal ini didasarkan pada hadis-hadis berikut, antara lain:
Hadis riwayat Imam al-Tirmidzi:
Qutaibah ibn Said telah menceritakan hadis kepada kami, Abu Awanah telah
menceritakan hadis kepada kami, dari Qatadah, dari Salim ibn Abi al-Ja’di, dari
Tsauban, ia berkata bahwa Rasulullah saw. telah bersabda: “Siapa saja yang
meninggal dunia dalam keadaan terbebas dari tiga hal, yaitu kesombongan, korupsi,
dan hutang, niscaya ia masuk surga.” 33
Dalam hadis diatas, tiga hal itu adalah sombong, ghulul, dan hutang.
Tiga hal tersebut menghalangi seseorang masuk surga. Hadis di atas
sedikit berbeda redaksi dengan riwayat lain yang mengganti al-kibr
(sombong) dengan alkanz (menyimpan atau menimbun kebutuhan pokok
rakyat) dengan tetap menyebutkan kata ghulul.
Riwayat dengan redaksi berbeda tersebut masih dalam kitab Sunan
al-Tirmidzi:
Teologia, Volume 19, Nomor 2, Juli 2008 379
Kontekstualisasi Hadis-Hadis Anti Korupsi Oleh Fakrur Rozi
Muhammad ibn Basyar telah menceritakan kepada kami, Ibn Abi ‘Adi telah
menceritakan hadis kepada kami, dari Said, dari Qatdah, dari Salim Ibn Abi al-
Ja’di, dari Ma’dan ibn Abi Thalhah, dari Tsauban, ia berkata bahwa Rasulullah
saw. bersabda: “Siapa saja yang ruhnya telah berpisah dari jasadnya sedang ia
terbebas dari tiga perkara, yaitu: penimbunan, korupsi, dan hutang, niscaya ia masuk
surga. 34
Hadis ini sangat tegas. Siapa saja manusia yang terbelit atau terkait
tiga masalah tersebut dengan bukti-bukti yang cukup akan terhalangi
masuk surga. Juga dapat dipahami bahwa pelaku korupsi harus
mengembalikan semua kekayaan hasil korupsi, bila tidak akan menjadi
hutang yang harus dibayar. Seorang yang tidak tertangkap atau tidak
diketahui oleh pihak lain bahwa ia korupsi, maka tetap saja akan menjadi
hutang yang harus dibayar atau dikembalikan. Jika tidak, akan
mengganjal pintunya menuju surga.
- Risywah (Suap-Menyuap)
Istilah lain yang serupa dengan korupsi tetapi tak sama adalah risywah/
suap-menyuap. Jika ghulul dilakukan oleh satu pihak yang aktif, risywah
dilakukan oleh dua pihak yang sama-sama aktif dan sama-sama
berkepentingan. Si penyuap berkepentingan mendapatkan sesuatu
keuntungan yang lebih besar atau terhindar dari suatu belitan hukum.
Sedangkan si penerima suap berkepentingan mendapatkan imbalan, baik
materi maupun non materi dengan cara tidak sah, menyalahgunakan
wewenang/amanah jabatan, dan melanggar hukum.
Risywah (atau rasywah/rusywah) adalah suap-menyuap untuk
mempengaruhi sebuah keputusan agar menguntungkan pihak tertentu
dan sebaliknya merugikan pihak lain. Al-Jurjani mendefinisikan risywah
sebagai ma yu’tha li ibthali baqqin aw li ihqaqi bathilin35 (apa saja yang
diberikan untuk membatalkan yang benar dan membenarkan yang batal).
Orang yang menyuap disebut al-rasyi dan yang meminta atau menerima
suap disebut al-murtasyi.
Risywah sangatlah berbahaya bagi kehidupan masyarakat karena dapat
merusak sistem yang adil serta memutarbalikkan fakta dan kebenaran.
Risywah dapat menghambat nilai profesionalitas, merusak martabat pihak
lain, dan menurunkan standar kualitas. Betapa tidak, masyarakat menjadi
tidak jujur dalam menilai sesuatu, menyebabkan biaya tinggi (high cost)
dan dapat mempengaruhi keputusan seseorang. Dalam kehidupan politik,
380 Teologia, Volume 19, Nomor 2, Juli 2008
Kontekstualisasi Hadis-Hadis Anti Korupsi Oleh Fakrur Rozi
suap sering dikenal sebagai money politics (politik uang). Artinya dengan
menggunakan kekuatan uang (dan sejenisnya) keputusan atau pilihan
seseorang bisa berubah drastis. Suap seringkali digunakan untuk
mengurangi hukuman seseorang, bahkan membebaskannya dari tuntutan
hukum.
Hadis-hadis tentang risywah, antara lain:
Affan telah menceritakan hadis kepada kami, Abu Awanah telah menceritakan
hadis kepada kami, ia berkata Umar ibn Abi Salamah telah menceritakan hadis
kepada kami, dari bapaknya, dari Abi Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah saw.
bersabda: “Allah melaknat orang yang menyuap dan orang yang disuap terkait
masalah hukum/kebijakan.” 36
Hadis ini menjelaskan bahwa Allah SWT melaknat orang yang
menyuap dan menerima suap dalam masalah hukum atau kebijakan.
Dalam riwayat lain tidak disebutkan kata “fi al-hukm”, sehingga cakupan
maknanya lebih luas ke semua aspek.
“Rasulullah saw. bersabda:Laknat Allah untuk orang yang memberi suap
dan yang menerima suap.” 37 (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).
Hadis ini semakin menegaskan bahwa Allah sangat murka kepada
para penyuap dan penerima suap dalam semua hal.
Dari Tsauban, ia berkata bahwa Rasulullah saw. melaknat penyuap,
penerima suap, dan perantaranya, yaitu orang yang menghubungkan antara
keduanya.” 38
Riwayat hadis ini ada tambahan kata al-raisy, yaitu orang yang
menjadi perantara antara penyuap dan yang disuap. Tentu hadist ini
menunjukkan bahwa semua orang yang terlibat aktif dalam proses suapmenyuap
mendapat laknat dari Allah dan Rasul-Nya.
Penutup
Dengan mengkaji secara mendalam hadis-hadis Nabi tentang ghulul
dan risywah dapat ditarik kesimpulan bahwa Islam melalui sejumlah ayat
dan hadis sangat jelas melarang keras tindak korupsi dan suap, bahkan
berusaha melakukan pencegahan sebelum praktik kecurangan itu terjadi.
Hadis tentang pentingnya menjaga amanah dan menepati janji serta
perintah bekerja secara halal dan tayyib merupakan upaya pencegahan
yang jelas terhadap bahaya korupsi.
Dalam hadis Nabi, korupsi dinyatakan sebagai ghulul dan suapmenyuap
digunakan istilah risywah. Ghulul yang pernah terjadi pada masa
Teologia, Volume 19, Nomor 2, Juli 2008 381
Kontekstualisasi Hadis-Hadis Anti Korupsi Oleh Fakrur Rozi
perang Badar saat seorang prajurit melakukan ghulul selimut atau mantel
yang disembunyikan dari harta rampasan perang, karenanya Nabi
mengancamnya dengan neraka. Kemudian dalam perang Khaibar, seorang
pejuang yang mati dan diketahui melakukan ghulul perhiasan senilai
kurang dari dua dirham (sekitar Rp. 85.000,-) karenanya Nabi tidak mau
menyalatkan jenazahnya.
Para pejabat/pegawai yang mengurus kepentingan publik diingatkan
oleh Nabi agar tidak menerima hadiah atau bingkisan selain gaji yang
sudah ditetapkan karena dapat merusak sistem yang berlaku di
masyarakat. Salah seorang sahabat Nabi yang pernah menerima hadiah
ketika dalam masa tugas diminta untuk mengembalikan ke Baitul Mal.
Hadiah-hadiah tersebut digolongkan sebagai ghulul yang menghalangi
seseorang masuk surga.
Di hadis lainnya, Allah dan Rasulullah saw. . melaknat para pelaku
risywah, baik pemberi, penerima, dan perantaranya. risywah dapat
menghambat profesionalitas dan menurunkan kualitas sesuatu dari yang
seharusnya. Dalam konteks kekinian, money politics dan jual beli keadilan
oleh para penegak hukum merupakan salah satu bentuk risywah yang
merusak moralitas dan pada gilirannya merusak kehidupan.
Kini, semua diserahkan kepada umat manusia, bagaimana sikap
mereka terhadap segala bentuk korupsi dan suap-menyuap, apakah akan
senantiasa mencegah dan menjauhinya atau sebaliknya akan menjadi
korupsi sebagian budaya sehari-hari? Semua tergantung kepada kejujuran
nurani, ketahanan mental, dan kejernihan akal sehat manusia. Yang jelas
Nabi Muhammad . telah memberikan pesan-pesan anti korupsi dalam
sejumlah hadis sejak 15 abad yang lalu. Hal ini tentu untuk kemaslahatan
kehidupan masyarakat itu sendiri, baik di dunia dan di akhirat. Walluhu
a’lam. []
Catatan Akhir:
*Penulis adalah dosen Hadis pada Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo.
Saat ini tinggal di Perum Beringin Indah Pinang E-21 Ngaliyan Semarang..
Telp. 024-7619300/ 081325642649.
1Azyumardi Azra, “Agama dan Pemberantasan Korupsi” dalam
Pramono U. Tanthowi, dkk. (Ed.), Membasmi Kanker Korupsi (Jakarta:
PSAP, 2005), h. 244.
382 Teologia, Volume 19, Nomor 2, Juli 2008
Kontekstualisasi Hadis-Hadis Anti Korupsi Oleh Fakrur Rozi
2Azyumardi Azra, Kompas, 5 September 2003.
3KPK, Mengenali dan Memberantas Korupsi, (Jakarta: KPK, 2006), h.
12. Lihat juga Andi Hamzah, Pemberantasan Korupsi melalui Hukum Pidana
Nasional dan Internasional (Jakarta: Rajawali, 2006), h. 4.
4Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Umum Bahasa
Indoneisia (Jakarta: Balai Pustaka, 1995), h. 527.
5A.W. Munawir, Kamus al-Munawwir Arab – Indonesia Terlengkap
(Krapyak: PP al-Munawwir, 1984), h. 537.
6Rohi Baalbaki, al-Mawrid: A Modern Arabic-English Dictionary (Beirut:
Dar al-Ilm li al-Malayin, 2000), h. 585.
7Hans Wehr, A Dictionary of Modern Written Arabic (Beirut: Libraire
du Liban, 1980), cet. Ke-3, h. 342.
8Syed Hussein Alatas, Sosiologi Korupsi: Sebuah Penjelajahan dengan
Data Kontemporer (Jakarta: LP3Es, 1982), h. 11 – 14.
9Hadis tersebut diriwayatkan oleh Aisyah RA, istri Nabi. Nabi
berpidato: innama ahlaka ala alladzina min qablikum annabum kanu idza
saraqa fihim al-syarif tarakuhu, wa idza saraqa fihim aldza’if aqamu ‘alaihi alhadd”.
(Muttafaq ‘alaihi, wa al lafdz lil muslim) dalam Ibn Hajar Al-Asqalani,
Bulugh al-Maram min Adillati al-Ahkam, hal. 319. Baca juga, al-Nawawi,
Riyadhu al-Shalihin, hadis nomor 651, h. 232.
10Bukhari, Shahih al-Bukhari: Kitab al-Iman (Beirud: Dar al-Fikr, 1420
H/2000 M), jilid I, h. 14.
11Bukhari, Shahih Bukhari: Kitab al-Ilm, Jilid I, h. 21.
12Ahmad ibn Hanbal, Musnad Ahmad, no. hadis 12722.
13A.W. Munawwir, Op. Cit., h. 44-45.
14Al-Nawawi, Riyadhu al-Shahih, hadis nomor. 653, h. 233.
15Hadis, Muttafaq ‘alaihi disebut dalam Al-Nawawi, Riyadhu al-Shalihin,
hadis nomor 53, h. 37.
16Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari: Kitab Al-Iman, h. 11.
17Muhammad Rawwas Qal’ah Ji, Mu’jam Lughat al-Fuqaha, (Beirut:
Dar al-Nafais, 1985), h. 334.
18Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Fath al-Bari fi Syarh Shahih al-Bukhari, (Kairo:
Dar Diyan al-Turats), h. 117.
19Shahih Bukhari, Kitab al-Jihad wa al-Sair, no. hadis 2845
20Muslim, Shahih Muslim: Kitab al-Iman, no. hadis 165.
Teologia, Volume 19, Nomor 2, Juli 2008 383
Kontekstualisasi Hadis-Hadis Anti Korupsi Oleh Fakrur Rozi
21Bukhari, Shahih Bukhari: kitab al-aiman wa al nudzur, no. hadis 6145.
lihat pula riwayat muslim no. hadis 3414 bahwa Rasulullah saw.
memberikan tugas kepada Ibn al-Lutbiyyah untuk mengumpulkan zakat/
sedekah di kawasan bani Sulaim. Ketika telah selesai, ia melaporkan
kepada Nabi dan mengatakan: Ini harta zakatnya dan ini hadiah untukku.
Kemudian Rasulullah saw. bersabda: “Tidakkah engkau duduk-duduk saja
di rumah ayah ibumu sampai ada hadiah yang datang padamu, jika kamu
orang yang jujur”. Kemudian Rasulullah saw. berkhutbah panjang seputar
peristiwa ini.
22Ahmad Ibn Hanbal, Musnad Ahmad, no. hadis 22495.
23Abu Dawud, Sunan Abi Dawud, no. hadis 2554.
24Ahmad, Musnad Ahmad, no. hadis 21822.
25Ahmad, Musnad Ahmad, no. hadis 21839.
26Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, Juz XII, hlm. 284-285, no. hadis
2335. Dirham adalah ukuran uang perak. Satu dirham=0,4325 gram emas.
Dua dirham=0,85 gram. Jika harga I gram emas diasumsikan Rp. 100.000,
maka 0,85 gram emas sama dengan Rp. 85.000.
27Sunan al-Nasa’i, Kitab al-Jana’iz, no. hadis 1933
28Ahmad Ibn Hanbal, Musnad Ahmad, no. hadis 16417
29Abu Dawud, Sunan Abi Dawud: Kitab al-Aqdhiyyah, no. Hadis 3110
30Ahmad ibn Hanbal, Musnad Ahmad, no. Hadis 17056
31Muslim, Jami’u al-Shahih, no. Hadis 329
32Al-Tirmidzi, Sunan al-Tirmidzi: Kitab al-Thaharah, no. Hadis 1
33Al-Tirmidzi, Sunan al-Tirmidzi: Kitab al-Sair, no. Hadis 1496
34Al-Tirmidzi, no. Haidts 1498
35Al-Jurjani, Ali Ibn Muhammad, Kitab Ta’rifat, (Beirut: Maktabah
Lubnan, 1978 M), h. 116. Lihat pula Al-Munawi, Muhammad Abdu al-
Ra’uf, al-Tauqif ‘ala Muhimmaati al-Ta’rif (Beirut: Dar al-Fikr, 1410 H/1990
M), h. 365
36Ahmad ibn Hanbal, Musnad Ahmad, no. Hadis 8670. Lihat juga
Abu Dawud, Sunan Abi Dawud, Juz IV, hlm. 10; Ibn Majah, Sunan Ibn
Majah, Juz II, h. 776
37Ahmad Ibn Hanbal, no. Hadis 2289. Lihat juga Ibn Majah, Sunan
Ibn Majah, no. Hadis 2304
38Ahmad ibn Hanbal, no. Hadis 21365
384 Teologia, Volume 19, Nomor 2, Juli 2008
Kontekstualisasi Hadis-Hadis Anti Korupsi Oleh Fakrur Rozi
DAFTAR PUSTAKA
Azyumardi Azra, “Agama dan Pemberantasan Korupsi” dalam Pramono
U. Tanthowi, dkk. (Ed.), Membasmi Kanker Korups, Jakarta: PSAP,
2005
A.W. Munawir, Kamus al-Munawwir Arab – Indonesia Terlengkap, Krapyak:
PP al-Munawwir, 1984
Abu Dawud, Sunan Abi Dawud, Juz IV
Abu Dawud, Sunan Abi Dawud:
Ahmad ibn Hanbal, Musnad Ahmad, no. hadis 12722.
Al-Jurjani, Ali Ibn Muhammad, Kitab Ta’rifat,Beirut: Maktabah Lubnan,
1978 M
Al-Munawi, Muhammad Abdu al-Ra’uf, al-Tauqif ‘ala Muhimmaati al-Ta’rif,
Beirut: Dar al-Fikr, 1410 H/1990 M
al-Nawawi, Riyadhu al-Shalihin, hadis nomor 651
Al-Tirmidzi, Sunan al-Tirmidzi: Kitab al-Thaharah
Andi Hamzah, Pemberantasan Korupsi melalui Hukum Pidana Nasional dan
Internasional, Jakarta: Rajawali, 2006
Azyumardi Azra, Kompas, 5 September 2003.
Bukhari, Shahih al-Bukhari: Kitab al-Iman, Beirud: Dar al-Fikr, 1420 H/
2000 M, jilid I
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Umum Bahasa
Indoneisia, Jakarta: Balai Pustaka, 1995.
Hans Wehr, A Dictionary of Modern Written Arabic, Beirut: Libraire du
Liban, 1980, cet. Ke-3
Ibn Hajar Al-Asqalani, Bulugh al-Maram min Adillati al-Ahkam, hal. 319.
Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Fath al-Bari fi Syarh Shahih al-Bukhari, Kairo: Dar
Diyan al-Turats
KPK, Mengenali dan Memberantas Korupsi Jakarta: KPK, 2006, h. 12.
Teologia, Volume 19, Nomor 2, Juli 2008 385
Kontekstualisasi Hadis-Hadis Anti Korupsi Oleh Fakrur Rozi
Muhammad Rawwas Qal’ah Ji, Mu’jam Lughat al-Fuqaha, Beirut: Dar al-
Nafais, 1985
Muslim, Shahih Muslim: Kitab al-Iman, no. hadis 165.
Rohi Baalbaki, al-Mawrid: A Modern Arabic-English Dictionary, Beirut:
Dar al-Ilm li al-Malayin, 2000
Sunan al-Nasa’i, Kitab al-Jana’iz,
Syed Hussein Alatas, Sosiologi Korupsi: Sebuah Penjelajahan dengan Data
Kontemporer, Jakarta: LP3Es, 1982
386 Teologia, Volume 19, Nomor 2, Juli 2008
Kontekstualisasi Hadis-Hadis Anti Korupsi Oleh Fakrur Rozi
ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِين

Category:

Dedi Wahyudi, S.Pd.I: Kami harapkan senyum, salam, sapa, saran dan kritik untuk tulisan serta tampilan blog ini. Terima kasih atas kunjungannya. Semoga ilmunya membawa berkah.

0 komentar

Silahkan kirim komentar anda!