: :

Navbar Bawah

Cari Blog Ini

Memuat...

12 Maret 2011

Pluralisme Di Tengah Pluralitas Agama

Adalah jasa Majelis Muslim Indonesia (MUI) bahwa mereka mengangkat kembali ke panggung diskursus publik sebuah tema yang tidak berhenti-henti menantang tiga agama Abrahamistik: hal pluralisme. Debat ini memang tidak boleh dan tidak dapat dihindari dan kita harus berterimakasih kepada MUI bahwa MUI mengembalikannya ke panggung diskursus publik. Prasaran ini – yang tidak secara khusus mau menanggapi sikap MUI – mau menjadi sumbangan terhadap diskursus itu. Masalahnya dapat dirumuskan begini: Agama-agama mengklaim membawa berkah dankeselamatan kepada seluruh manusia. Tetapi dalam kenyataan sebagian sejarah agama-agama monotheis, Keyahudian, Kristianitas dan Islam, ditulis dengan darah. Itu beda dengan agama misionaris besar keempat di dunia, Buddhisme. Sejauh saya tahu, penyebaran Buddhisme serta pertemuan dan komunikasinya dengan agama-agama “saingan” tak pernah disertai kekerasan. Sebagai anggota yakin salah satu agama misionaris, Kristianitas Katolik, yang banyak mencurahkan darah dan cenderung ke kekerasan dalam sejarah penyebaran dan konfrontasinya dengan agama-agama lain, saya merasa malu, sekaligus iri dan rindu dengan gaya “misi” Buddhisme itu. Saya merasa bahwa sebenarnya itulah cari agama-agama misionaris melakukan misi mereka dan bertemu dengan agama-agama lain.
Namun sejarah tidak bisa ditiadakan lagi. Dan di sini bukan tempat untuk menelusuri (yang sudah banyak dilakukan) mengapa agama-agama monotheis begitu cenderung ke kekerasan dan kekejaman. Tetapi kita tentu wajib berat belajar dari sejarah. Sejarah yang untuk sebagian buruk itu jangan ditutup-tutup, melainkan diingat untuk tidak diulang lagi, atau, lebih tepat, untuk, dengan rahmat Allah, membebaskan diri daripadanya. Yang jelas, di abad ke-21 mutu suatu agama tidak akan diukur lagi dari klaim-klaimnya sendiri, melainkan dari apakah dia betul-betul menunjukkan diri sebagai rahmat bagi seluruh masyarakjat di tengah-tengahnya ia hadir. Jadi sebagai kekuatan yang ramah, yang mendukung kehidupan, yang mendamaikan, yang acuh tak acuh terhadap ketidakadilan, penindasan dan peminggiran mereka yang lemah di mana pun dan dari golongan apa pun, yang tidak beringas dan menakutkan, melainkan sejuk dan positif, yang anti-kekerasan, komunikatif, mampu membangun hubungan atas dasar saling percaya. Agama harus nyata-nyata mendobrak batas-batas kecemburuan, kecurigaan, kebencian, dendam, arogansi. Jadi agama harus membawa diri dengan rendah hati. Itu berarti, para agamawan, para tokoh agama, harus betul-betul rendah hati, tahu diri, selalu siap ditegur, diminta pertanggungjawaban, siap belajar, siap memperbaiki diri. Sikap rendah hati itu hakiki karena kalau agaman arogan, ia justru menyangkal apa yang diakui dengan mulut, yaitu iman dan ketaatan pada Allah. Hanya manusia yang tahu bahwa ia selalu masih tidak tahu, termasuk mengenai agamanya sendiri, dapat menjadi saksi serius tentang Allah yang Mahatahu dan Mahabaik dan Mahaadil. Orang yang betul-betul tahu tentang Allah, tahu juga betapa pengertiannya sendiri, termasuk pengertiannya tentang agamanya sendiri, teramat terbatas. Ia rendah hati dan tidak arogan.
Indonesia
Indonesia merupakan negara paling plural di dunia. Plural berarti majemuk. Dari Sabang sampai Merauke, terentang di atas ribuan pulau sejauh lebih dari 5000 kilometer, dengan ratusan bahasa, suku dengan adat dan budaya sendiri-sendiri, pelbagai daerah yang cukup berbeda, serta hampir semua agama yang terdapat di dunia juga ada, serta agama-agama itu sendiri jauh dari monolit. Indonesia itu secara hakiki plural. Itulah yang sudah terungkap dalam semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”.
Maka jelas juga bahwa Indonesia hanya bisa bersatu, bahkan bangsa Indonesia hanya ada, kalau kemajemukan itu diakui. Segala usaha untuk menyamaratakan semua dengan satu pola budaya atau beragama adalah sama dengan usaha dominasi sebagian warga di atas yang lain-lain dan pasti akan mengakibatkan kehancuran Indonesia. Indonesia terlalu besar untuk bisa dipertahankan kesatuaannya hanya dengan cara-cara paksa. Karena itu para pendiri Republik ini menyepakati Pancasila, karena itu tokoh-tokoh Islam pun 1945 memiliki keluasan wawasan dan kebesaran hati untuk menerima bahwa negara yang baru diproklamasikan kemerdekaannya ini harus bisa dimiliki oleh semua warganya, tanpa membedakan antara mayoritas dan minoritas. Itulah hakekat Pancasila. Dan karena Pancasila dipertahankan sampai hari ini, Indonesia masih bersatu.
Pluralisme dan penataan inklusif
Di sini pluralisme masuk. Pluralisme adalah kesediaan untuk menerima pluralitas. Bukan hanya menerima dalam arti membiarkan, melainkan dengan melihat pluralitas sebagai sesuatu yang positif. Pluralisme adalah sikap orang yang memang mempunyai pandangan dan keyakinan-keyakinannya sendiri dan karena itu tidak menyetujui semua keyakinan lain di sekelilingnya, akan tetapi tetap mudah bergaul serta kerja sama dengan orang-orang/kelompok-kelompok/golongan-golongan yang mempunyai pandangan dan keyakinan religius, kultural dan politik lain. Seorang pluralis bukannya orang yang tidak mempunyai pendirian. Melainkan ia mengakui hak semua orang lain untuk mempunyai pendirian juga. Jadi pluralisme menuntut toleransi positif.
Yang diandaikan oleh pluralisme adalah bahwa kita mempunyai nilai-nilai bersama. Jadi kita menjunjung tinggi hal-hal dalam kemanusiaan dan kemasyarakatan kita yang sama. Hanya nilai-nilai religius atau budaya yang berbeda. Di Indonesia kesamaan nilai-nilai dasar yang memungkinkan kita membentuk negara bersama terungka- dalam Pancasila. Lima sila Pancasila persis nilai-nilai yang kita yakini semua – betapa pun berbeda keyakinan keagamaan kita – dan karena itu kita bersama-sama dapat membangun kehidupan bangsa yang adil, sejahtera, damai dan beradab.
Nilai-nilai yang mempersatukan kaum humanis dari pelbagai keyakinan religius adalah misalnya: Hormat terhadap keutuhan setiap manusia, penolakan pemakaian kekerasan untuk menyelesaikan perbedaan, keadilan, kebebasan beragama, berpendapat dan berekspresi, solidaritas dengan kaum miskin dan tertindas, pluralitas .ekspresi-ekspresi kultural, toleransi seluas-luasnya selama tidak ada orang terinjak, keyakinan bahwa dalam kondisi apa pun kekejaman tidak dapat dibenarkan, bahwa yang jahat adalah sengaja melukai, menyakiti, menghina orang lain tanpa membedakan menurut gender, keyakinan agama dan politik, ras, ciri budaya dan kedudukan sosial.
Persatuan ini sekarang diancam oleh kelompok-kelompok yang keras eksklusif, yang mau memaksakan pandangan totaliter mereka kepada yang lain. Eksklusivisme mereka mengancam eksistensi Indonesia. Kiranya jelas bahwa bangsa seplural Indonesia hanya bisa ditata secara inklusif. Penataan inklusif berarti bahwa undang-undang dasar dan sistem hukum disusun sedemikian rupa sehingga di Indonesia semua komponen bangsa bisa merasa seperti di rumahnya sendiri. Undang-undang dasar serta perundangan harus dapat diterima oleh semua sehingga tidak ada yang harus mengurbankan identitasnya demi keIndonesiaannya. Setiap kelompok dan komponen bebas hidup menurut cita-citanya sendiri, tetapi tak ada kelompok satu pun yang boleh memaksakan cita-cita atau keyakinannya kepada yang lain. Indonesia masih bersatu karena sampai sekarang semua eksklusivisme tegas-tegas ditolak.
Bagi Indonesia hal ini berarti: Indonesia hanya akan bersatu apabila pluralitasnya diterima sebagai kekayaan, jadi sebagai sesuatu yang positif. Dan itu berarti, Indonesia harus ditata secara inklusif. Alternatif penataan inklusif adalah eksklusivisme. Eksklusivisme adalah tak lain kediktatoran orang-orang yang mengangkat diri sendiri sebagai maha-tahu dan maha-benar sehingga mereka bisa sepihak menentukan pandangan dan gaya hidup orang lain mana yang benar dan mana yang jahat. Eksklusivisme itu perlu dilawan karena merupakan kesombongan, karena dengan sendirinya menindas mereka yang berlainan pendapatnya, dan karena bertentangan dengan Pancasila, konsensus dasar bangsa Indonesia yang kalau dikhianati berarti dasar Indonesia bersatu dikhianati juga.

Pluralisme bukan relativisme

Oleh karena itu, apabila pluralisme dikutuk, perlu dikatakan dengan jelas apa yang dikutuk dan apa yang tidak dikutuk. Jangan sampai ada kesan bahwa kemajemukan bangsa dan tatanan negara dan masyarakat Indonesia yang inklusif mau dibatalkan dan diganti dengan kediktatoran eksklusivitas keyakinan salah satu golongan.
Memang betul, istilah pluralisme kadang-kadang dibajak sebagai nama untuk pandangan yang mengatakan bahwa semua agama adalah sama saja. Atas nama pluralisme agama-agama diminta untuk jangan menganggap dirinya sendiri paling benar. Agama-agama diartikan sebagai ungkapan berbeda dari dimensi transenden manusia yang sama sahnya. Bahwa pandangan ini ditolak adalah wajar. Tetapi pandangan ini jangan disebut pluralisme. Pandangan ini bukan pluralisme, melainkan relativisme. Apabila relativisme mengatakan bahwa semua agama sama saja, semua hanya ungkapan berbeda dari kodrat religius manusia yang sama, di mana lantas pluralitas? Pluralisme yang benar justru mengakui perbedaan di antara agama-agama dan bersedia menerimanya. Jadi relativisme justru tidak pluralistik dan juga tidak toleran karena menuntut agar agama-agama melepaskan dulu keyakinan bahwa mereka benar. Maka kalau pandangan ini yang mau ditolak, sebaiknya jangan disebut pluralisme melainkan relativisme.
Bahwa relativisme bertentangan dengan hakekat agama-agama wahyu kiranya memang jelas. Relativisme menganggap semua agama sama benarnya. Nah, bagaimana saya dapat mempercayai sesuatu apabila saya tidak boleh percaya bahwa yang saya percayai itu benar? Pluralisme persis sebaliknya. Pluralisme justru menerima bahwa kita mempunyai kepercayaan-kepercayaan yang berbeda, yang tidak seluruhnya dapat disesuaikan satu dengan yang lainnya. Para pluralis tidak merelatifkan ajaran masing-masing, mereka tentu mempercayai agamanya sendiri, tetapi mereka juga yakin bahwa meskipun iman kita berbeda, kita bersatu dalam nilai-nilai yang kita miliki bersama. Kita di Indonesia banyak sudah mendapat pengalaman sangat positif bahwa kita memang memiliki nilai-nilai bersama melintang agama-agama yang berbeda.
Hanya orang yang betul-betul pluralis bisa toleran. Toleransi jangan dianggap pendapat bahwa “semua agama sama saja”. Toleransi mengakui perbedaan. Toleransi dalam arti yang sebenarnya adalah penerimaan gembira terhadap kenyataan bahwa kita berbeda, bahwa di sekitar kita hidup orang-orang dengan kepercayaan-kepercayaan dan agama-agama yang berlainan. Toleransi adalah pengakuan terhadap orang dan kelompok orang lain dalam keberlainannya. Pluralisme bersedia menjamin toleransi itu dengan melembagakan hak-hak dan kebebasan-kebebasan yang sama orang-orang dengan kepercayaan-kepercayaan religius yang berbeda itu. Jadi pluralisme juga berarti meyakini dan menjamin hak asasi kebebasan beragama dan kebebasan untuk menentukan sendiri pola kehidupan religius.
Inklusivisme keselamatan
Hal pluralisme harus dibedakan dari sebuah pertanyaan lain, yang memang sangat mendasar, yaitu pertanyaan apakah keselamatan abadi, jadi surga, terbuka bagi seluruh umat manusia (asal bertobat dari dosa-dosa mereka), atau hanya kepada mereka yang termasuk agamanya sendiri? Jadi misalnya apakah orang Katolik dapat percaya bahwa orang yang tidak dibaptis masuk surga? Apakah orang Islam dapat percaya bahwa orang Katolik atau orang Konghutzu yang baik masuk surga?
Tentu saja, jawaban atas pertanyaan itu hanya dapat diberikan oleh masing-masing agama sendiri. Untuk umat Katolik Konsili Vatikan II (lembaga tertinggi Gereja Katolik di mana semua uskup sedunia berkumpul di bawah pimpinan Paus) telah memberikan suatu jawaban yang penting. Pada tahun 1965 Konsili itu menyatakan tiga hal: Pertama, juga orang yang tidak dibaptis, bahkan yang, tanpa kesalahannya sendiri, tidak percaya pada Allah, dapat diselamatkan asal mereka hidup menurut suara hati mereka. Kedua, setiap orang berhak untuk mengikuti agama yang diyakininya. Ketiga, umat Katolik dianjurkan untuk menghormati apa yang baik dalam agama-agama lain. Dalam Gereja-gereja Protestan terdapat pandangan yang berbeda-beda tentang hal itu. Dalam agama Islam Nurcholish Madjidlah (dan beberapa teolog di luar Indonesia, seperti misalnya Abdulaziz Sachedina) memperlihatkan bahwa juga orang di luar agama Islam, misalnya orang Yahudi atau orang Buddha, dapat merupakan orang “Islam” apabila ia menyerah kepada Yang Ilahi menurut keyakinan agamanya sendiri, dan karena itu ia dapat masuk surga juga.
Namun harus diperhatikan bahwa pandangan ini lebih tepat tidak disebut pluralisme, melainkan inklusivisme. Sedangkan mereka yang berpendapat bahwa di luar agama mereka sendiri tidak ada yang bisa masuk surga disebut eksklusivis. Pernah tiga agama Abrahamistik, Yahudi, Kristiani dan Islam, tegas-tegas ekslusif. Mereka masing-masing pernah menyangkal bahwa orang di luar mereka masing-masing bisa masuk surga. Bahkan ada yang berpendapat bahwa mereka yang di luar agama sendiri (yang tidak dibaptis, yang tidak formal termasuk Islam) masuk neraka. Namun sejak beberapa puluh tahun ada refleksi teologis baru yang membuka pintu ke arah pandangan yang lebih inklusif. Yang jelas, eksklusivisme sekarang dipertanyakan. Dari luar agama ditanyakan bagaimana agama bisa mempermaklumkan Tuhan yang baik hati dan adil dan sekaligus mengajar bahwa semua orang yang tidak termasuk agama mereka sendiri masuk neraka, termasuk orang-orang yang kelihatan hidup dengan baik. Dalam sejarah, terlalu banyak hal mengerikan dilakukan atas nama agama. Maka sekarang, siapa pun yang terdorong untuk menunjuk bahwa ada itu Allah yang adil dan penuh kasih sayang mestinya amat berhati-hati memasukkan siapa pun ke neraka kekal.
Kesimpulan
Kita sudah melihat beberapa arti kata pluralisme. Ada yang mencampurkan pluralisme dengan relativisme. Jadi dengan anggapan bahwa semua agama pada hakekatnya sama saja (dan bahwa semua agama berupa “agama bumi”). Pandangan ini sudah betul kalau ditolak oleh agama-agama Abrahamistik, akan tetapi seharusnya pandangan ini tidak disebut pluralisme, melainkan relativisme. Jadi yang mestinya ditolak adalah relativisme. Begitu pula harapan bahwa surga terbuka bagi seluruh umat manusia dan bukan hanya bagi anggota agamanya sendiri – suatu anggapan yang harus disikapi oleh masing-masing agama sendiri, sesuai dengan dasar-dasar keyakinannya – bukan pluralisme, melainkan “inklusivisme keselamatan”. Pluralisme dalam arti yang sebenarnya adalah suatu implikasi dari sikap toleran: Yaitu kesediaan untuk menerima baik kenyataan pluralitas agama-agama, artinya kenyataan bahwa dalam satu masyarakat dan negara hidup orang dan kelompok orang dengan keyakinan agama yang berbeda. Pluralisme sama sekali tidak menuntut agar semua –keyakinan itu dianggap benar. Pluralisme tidak bicara tentang kebenaran. Melainkan pluralisme itu sikap keterbukaan: Meskipun saya barangkali sulit memahami ajaran agama golongan lain, namun saya sepenuhnya menghormati keberadaannya di lingkungan hidup masyarakat dan negara saya sendiri.
Kiranya jelas sekali bahwa pluralisme merupakan baik tuntutan etis maupun politis. Tuntutan politis karena Indonesia tidak mempunyai masa depan sebagai negara yang adil, sejahtera, damai dan beradab, dan kiranya juga tidak sebagai satu negara, kecuali pluralitas yang menjadi hekakatnya terus diakui dan disikapi positif. Setiap usaha untuk memaksakan ajaran atau cita-cita sepihak, dengan alasan apa pun, bahwa seluruh Indonesia, akan menghancurkannya. Dan tuntutan itu bersifat etis. Karena yang etis adalah mengakuai manusia dalam keutuhannya. Memaksakan ajarannya sendiri pada orang lain merupakan pemerkosaan harkat kemanusiaannya. Itulah perbuatan asusila. Dan karena itu harus ditolak. Indonesia jangan dikira mempunyai masa depan apabila dibangun atas kezaliman, atas pemerkosaan harkat kemanusiaan warga-warganya. Agama termasuk hal di mana paksaan tidak boleh ada. Kita mengharapkan agar konsensus yang tertuang dalam Pancasila, yang merupakan konsensus bahwa pluralitas Indonesia diakui, tetap diteruskan dengan setia.
Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP)

http://mygoder.wordpress.com/2007/11/30/pluralisme-di-tengah-pluralitas-agama/

0   komentar

Silahkan kirim komentar anda!

Cancel Reply