: :

Navbar Bawah

Cari Blog Ini

Memuat...
Format sms: nama#nomor HP anda#pesan anda

Jika Anda kebingungan bagaimana caranya untuk melihat isi blog saya, silahkan ditanyakan di nomor tersebut.

Tanpa Mencantumkan nomor HP Anda, maka sms tidak akan dibalas.

13 Februari 2013

Muhammad Abduh: Ijtihad dan Modernisasi Pendidikan



Muhammad Abduh: Ijtihad dan Modernisasi Pendidikan[1]
Oleh: Dedi Wahyudi, S.Pd.I dan Arif Rahman, S.Pd.I

A.    Latar Belakang
Modernisasi dalam bidang pendidikan adalah bagian terpenting dari modernisasi sosial, ekonomi, dan politik.[2] Hal tersebut bermakna bahwa untuk membangun dan membina masyarakat modern, maka pendidikan adalah bagian yang sangat penting sebagai media tranformasi nilai dan budaya maupun pengetahuan. Pendidikan akan mendorong berkembangnya kecerdasan dan produk budaya masyarakat. Melalui pendidikan pula, muncul banyak pembaharuan di berbagai aspek kehidupan.
Asumsi adanya hubungan yang signifikan antara pembaharuan dengan pendidikan yaitu sebagaimana pendapat Syafi’i Ma’arif, bahwa salah satu fungsi pendidikan adalah membebaskan masyarakat dari belenggu keterbelakangan.[3]  Hal itu mengindikasikan bahwa untuk mengadakan ijtihad, perubahan, atau pembaharuan dalam masyarakat adalah pendidikan.
Bentuk  ijtihad, pembaharuan, serta modernisasi pendidikan dalam makalah ini mengacu pada pemikiran-pemikiran Muhammad Abduh. Dia merupakan sosok yang gigih dalam mengembangkan gerakan pembaharuan Islam melalui gerakan intelektual. Pemikirannya meninggalkan pengaruh yang luas, tidak hanya di tanah airnya Mesir dan dunia Arab lainnya di Timur Tengah, tetapi juga di dunia Islam lainnya  termasuk di Indonesia. Biasanya disebutkan bahwa pembaharuan dalam Islam di Indonesia timbul atas pengaruhnya Muhammad Abduh,  melalui artikel-artikel yang dimuat Al Urwa Al Wusqa di Paris dan Majalah Al Manar di Kairo, serta pemikiran-pemikirannya yang terkandung dalam Tafsir Al Manar dan Risalah At Tauhid.[4] Pemikiran-pemikirannya layak untuk terus dikaji dan dipelajari. Persoalan yang kita kaji dan pelajari bukan hanya pada persoalan kelembagaan pendidikan, tetapi juga sikap mental yang dipengaruhi oleh budaya serta tata nilai dari sebuah masyarakat.

B.     Riwayat Hidup Muhammad Abduh
Muhammad Abduh lahir pada tahun 1849 M (1265 H) di desa Mahallah Nasr, suatu perkampungan agraris termasuk Mesir Hilir di provinsi Gharbiyyah,[5] tetapi ada yang mengatakan bahwa dia lahir sebelum tahun itu, di sekitar tahun 1845 M. Muhammad Abduh wafat pada tahun 1905 M. Ayahnya bernama Abduh ibnu Hasan Khairillah, mempunyai silsilah keturunan dengan bangsa Turki, dan ibunya Junainah binti Utsman Al Kabir,[6] mempunyai keturunan dengan Umar bin Khattab, khalifah kedua (Khulafaur Rasyidin).[7] Kedua orangtua Abduh hidup pada masa Rezim Muhammad Ali Pasha yang memerintah Mesir dengan segala kelebihan dan kekurangannya.[8]
Orang tuanya sangat memperhatikan terhadap pendidikan Muhammad Abduh, ayahnya mendatangkan seorang guru untuk mengajar Muhammad Abduh secara privat di rumahnya untuk memberi pelajaran membaca dan menulis saat usia 10 tahun (1859 M),[9] kemudian setelah dia pandai membaca dan menulis, dia diserahkan kepada seorang guru hafidz Al Qur’an. Pada tahun 1861 M Muhammad Abduh telah hafal Al Qur’an.[10]
Pada tahun 1862 M dia dikirim oleh ayahnya ke perguruan agama di Masjid Ahmadi yang terletak di desa Tanta. Hanya dalam waktu enam bulan dia belajar di sana kemudian berhenti, karena metode yang dipakai hanya mementingkan hafalan saja, tidak diikuti dengan pemahaman.[11]
Pada tahun 1282 H (1866 M) Muhammad Abduh menikah,[12] kemudian setelah empat puluh hari setelah pernikahan, ayahnya tetap memaksa agar dia tetap kembali ke Tanta untuk menuntut ilmu pengetahuan. Dia pun pergi, tetapi tidak ke Tanta melainkan ke desa Kanisah Urin, rumah saudara ayahnya (pamannya) bernama Syekh Darwisy Khadr.[13]
Muhammad Abduh seorang murid Syekh Darwisy Khadr, dia  menghadapi kesulitan dalam belajar disebabkan karena dia harus menghadapi kitab Syarah Al Kafrawi. Dia putus asa dan mempunyai anggapan  bahwa dia tidak dapat belajar dan tidak akan dapat belajar. Oleh karena itu ia bertekad untuk tidak meneruskan belajar. Dalam hal ini Syekh Darwisy menghilangkan kesulitan ini dengan jalan memberikan kitab yang berhubungan dengan ajaran akhlak untuk dipelajari. Abduh membaca kitab tersebut dan Syekh Darwisy menerangkannya, Abduh dapat memahami kitab itu dan kesulitan belajar terpecahkan. Kini Muhammad Abduh mempunyai keyakinan bahwa dia juga dapat belajar.[14]
Dengan bimbingan pamannya Muhammad Abduh kembali mencintai ilmu pengetahuan dan kembali ke perguruan Tanta. Setelah belajar di Tanta pada tahun 1866 dia meneruskan ke perguruan tinggi Al Azhar di Kairo, Abduh juga merasakan  bahwa sistem pengajarannya cenderung verbalistis dan dogmatis. Murid tidak lebih hanya disuruh menghafal dan menerima materi-materi yang diberikan gurunya.[15]  Namun, Abduh belajar filsafat Ibnu Sina dan logika Aristoteles  melalui seorang ulama bernama Hasan At Thawil kemudian belajar sastra Arab kepada Syeikh Muhammad Al Basyuni.[16] Di Al Azhar inilah dia bertemu dan berkenalan dengan Sayid Jamaludin Al Afghani.[17]
Menurut Mukti Ali, pelajaran di Al Azhar waktu itu mempunyai ciri sebagai berikut:
1.      Perdebatan secara akal yang dimaksudkan untuk memperoleh kepuasan batin lebih banyak daripada mengetahui nilai alasan-alasan yang diajukan.
2.      Menekankan kepada pembahasan soal bahasa yang berkisar sekitar kalimat atau strukturnya lebih banyak daripada membicarakan arti dan tujuan umum dari susunan kalimat itu.
3.      Menekankan kepada hukum fiqh tertentu yang dikeluarkan pada waktu-waktu tertentu pula dari pengarang-pengarang tertentu lebih banyak daripada usaha memahami hukum-hukum itu, lalu menegakkan hukum sendiri diatas hukum itu.[18]
Sedangkan menurut Harun Nasution, Al Azhar metode yang digunakan dalam pembelajaran sama dengan yang di Masjid Al Ahmadi di Tanta, masih tetap dengan metode menghafal. Kurikulum yang digunakan hanya mencakup ilmu-ilmu agama Islam dan Bahasa Arab.[19]
Ketika Jamaluddin Al Afgani datang ke Mesir pada tahun 1871 M, untuk menetap di Mesir, Muhammad Abduh menjadi muridnya yang paling setia. Dia belajar filsafat dibawah bimbingan Afghani dan di masa inilah (1876 M) dia mulai membuat karangan untuk harian Al Ahram yang pada saat itu baru didirikan. Pada tahun 1877 M studinya selesai di Al Azhar dengan hasil yang sangat baik dan mendapat gelar alim [20] dan kelulusannya mendapat gelar Darajah Al Tsani (amat baik)[21]. Kemudian dia diangkat menjadi dosen ilmu kalam dan logika di al Azhar. Selain itu, dia mengajar ilmu kalam, sejarah, ilmu politik, dan kesusateraan Arab di Universitas Darul Ulum. Karena hubungannya dengan Jamaluddin Al Afghani yang dituduh mengadakan gerakan menentang Khedewi Ismail juga anaknya yang bernama Khadewi Taufik maka Muhammad Abduh yang  juga turut dipandang ikut campur dalam persoalan ini. Tuduhan itu misalnya akibat reaksi terhadap tindakan Abduh dalam mendidik mahasiswa untuk tanggap situasi sosial-politik yang sedang berkembang dan kalau perlu mengoreksi terhadap penyimpangan yang dilakukan baik oleh masyarakat maupun oleh pemerintah. Muhammad Abduh kepada mahasiswanya sering menceritakan perjuangan gurunya, Jamaluddin Al Afghani, dalam membangkitkan semangat cinta tanah air rakyat Mesir sehingga dia bentuk pula Al Hizb Al Wathan, Partai Nasional Mesir.
Kemudian Abduh  dibuang keluar kota Kairo pada tahun 1879 M dan  menjalani tahanan kota di Mahallat Nasr, kampung halamannya[22], tetapi setahun kemudian, di tahun 1880 M  oleh Perdana Menteri Riyadh Pasya, dia dibolehkan kembali ke Ibu kota dan diangkat menjadi redaktur kemudian ketua redaktur surat kabar resmi pemerintah Mesir yang bernama Al Waqa’il Mishriyah.[23] Abduh dibantu oleh Sa’ad Zaglul Pasya, yang kemudian ternyata menjadi pemimpin mesir yang termasyhur. Dengan majalah ini Muhammad Abduh mendapat kesempatan yang lebih luas menyampaikan ide-idenya melalui artikel-artikelnya yang hangat dan tinggi nilainya tentang ilmu agama, filsafat, kesusateraan, dan lainnya. dia juga mempunyai kesempatan untuk mengadakan kritikan terhadap pemerintahan tentang nasib rakyat, pendidikan, dan pengajaran di Mesir.[24]  
Dalam peristiwa pemberontakan Urabi Pasya (1882 M) Muhammad Abduh ikut terlibat di dalamnya, sehingga ketika pemberontakan berakhir, dia di usir dari Mesir. Urabi Pasya ditangkap dan dibuang ke Sri Langka seumur hidup sedangkan Abduh sebenarnya tidak setuju dengan politik Urabi Pasya dalam menentang pemerintah dan menuntut parlemen. Menurut Abduh, rakyat Mesir belum matang untuk kehidupan parlemen. Oleh karena itu yang diperlukan Mesir pada waktu itu bukan parlemen tetapi pendidikan yang baik. Untuk kehidupan parlemen raskyat harus dicerdaskan dulu.[25] Dalam pembuangannya dia memilih Syria (Beirut) di sini dia mendapat kesempatan  untuk mengajar pada perguruan tinggi Sultaniah, kurang lebih satu tahun lamanya. Kemudian dia pergi ke Paris atas panggilan Sayid Jamaludin Al Afghani, yang pada waktu itu tahun 1884 M telah berada di sana. Bersama-sama Jamaludin Al Afghani disusunlah suatu gerakan yang bernama “Al Urwatul Wusqa” suatu gerakan kesadaran umat Islam sedunia. Untuk mencapai tujuan gerakan ini dibuatlah (diterbitkan) sebuah majalah dengan nama organisasi ini juga yaitu “Al Urwatul Wusqa”.[26]
Melalui majalah itulah ditiupkan suara keinsyafan ke seluruh dunia Islam, supaya mereka bangkit. Gerakan ini dengan cepat menggema ke seluruh dunia Islam, terlihat pengaruhnya di kalangan umat Islam, maka dalam waktu yang singkat kaum imperialis menjadi cemas dan gempar. Akhirnya Inggris dan Belanda melarang majalah ini masuk ke daerah jajahannya, kemudian tahun 1884 M setelah majalah itu terbit 18 nomor, atas permintaan Inggris dan Belanda, Perancis melarang terbit majalah tersebut. Muhammad Abduh kebetulan diperkenankan pulang ke Beirut, sedangkan Jamaludin mengembara di Eropa kemudian terus ke Moskow. [27]
Abduh selama di Beirut memusatkan perhatiannya dan kegiatannya pada ilmu dan pendidikan. Dia mengajarkan tafsir di masjid-masjid tanpa terikat kepada pendapat penafsir-penafsir klasik. dia menafsirkan ayat-ayat Al Qur’an sesuai dengan ijtihadnya sendiri. Dia juga mengajar di Madrasah Sultaniah, yang dia tingkatkan kedudukannya menjadi sekolah menengah. Di sini dia mengajarkan logika, ilmu tauhid (teologi), sejarah Islam, dan fiqih. Rumahnya sendiri menjadi tempat pertemuan ilmiah yang dihadiri bukan oleh orang Islam Sunni dan Syiah saja tetapi orang-orang Nasrani. Dia juga menulis artikel-artikel untuk surat kabar setempat. Di kota inilah dia mengarang komentarnya (syarah) tentang dua buku dalam sastra Arab yaitu Nahj Al Balaghah dan Maqamat Badi’ Al Zaman Al Hamdani. Di waktu itu pulalah dia terjemahkan ke dalam bahasa Arab buku Al Radd ‘Ala Al Dahriyin  yang dikarang Jamaluddin Al Afghani dalam bahasa Persia. Pelajaran tauhid yang diberikannya di Madrasah Sultaniah tersebut dasarnya dari bukunya yang termashur Risalah Al Tawhid.[28]
Pada tahun 1888 M Abduh bisa kembali ke Kairo berkat bantuan kalangan istana, teman-temannya, dan sebagainya.[29]  Di Mesir Muhammad Abduh diserahi amanah untuk menjadi Mufti Mesir, disamping itu pula dia diangkat menjadi anggota Majelis Perwakilan (Legislative Council), Muhammad Abduh juga pernah diserahi jabatan Hakim Mahkamah pada tahun 1890 M, dan di dalam tugas ini dikenal sebagai seorang hakim yang adil. [30]
Abduh diangkat menjadi anggota dewan pimpinan Al Azhar sebagai perwakilan dari pemerintah pada tahun 1895 M, dialah yang menjadi penggerak dari dewan itu. Anggota dewan tersebut yaitu para ulama besar madzhab Maliki, Hanafi, Syafi’i dan Hambali.[31]
Muhammad Abduh juga pernah diangkat menjadi dewan Majlis Syura atau Dewan Legislatif Mesir, dia sangat giat bekerja di Majelis Syura bersama-sama dengan anggota Majelis lainnya untuk mendidik rakyat memasuki kehidupan politik demokratis yang didasarkan atas musyawarah.[32]  
Pada tahun 1905 M Muhammad Abduh mengundurkan diri dari dewan pimpinan Al Azhar[33] dan beberapa bulan setelahnya dia wafat setelah mengalami sakit kanker hati yang  lama kemudian jenazahnya dikebumikan di pemakaman Negara di Kairo.[34] Sejak beliau hidup sampai akhir hayatnya, dia tidak melaksanakan ibadah haji. Menurut Rasyid Ridha, Muhammad Abduh sangat menginginkan untuk ziarah ke Madinah dan mengunjungi tempat-tempat bersejarah di Hejaz. Namun, Sultan Abdul Hamid dari Istambul curiga dan takut kalau  dia menjalankan kegiatan politik di Tanah Suci itu. Demikian juga Khedewi Abbas di Mesir dengan alasan yang sama, tidak senang pada kepergiannya ke Hijaz. Demikianlah, sehingga dia meninggal dunia pada tanggal 11 Juli 1905, dia tidak sempat melaksanakan niatnya untuk ziarah ke Madinah dan mengunjungi tempat-tempat bersejarah di Hejaz.[35]

C.     Pemikiran Pendidikan Muhammad Abduh
Pokok-pokok pikiran Muhammad Abduh dapat disimpulkan menjadi empat aspek yaitu:
1.      Aspek Kebebasan,
Antara lain dalam usaha memperjuangkan cita-cita pembaharuannya, Muhammad Abduh berbeda dengan gurunya Jamaludin Al Afghani yang menghendaki Pan Islamisme bahkan secara revolusi, akan tetapi Muhammad Abduh memperkecil ruang lingkupnya, yaitu Nasionalisme Arab saja dan dititikberatkan pada pendidikan. Kesadaran rakyat bernegara dapat disadarkan melalui pendidikan, surat kabar, majalah, dan sebagainya.[36]
Salah satu tema yang beliau lontarkan dalam rangka memperjuangkan cita-cita pembaharuannya yaitu tentang manusia dan kebebasannya. Menurut Abduh, sungguhpun manusia berbuat atas kemauannya sendiri namun daya, kemauan, dan pengetahuan yang ada pada manusia tidaklah sempurna.[37] Artinya bahwa dalam menjalani hidup, kemauan bebas manusia itu tidak mungkin berjalan sepenuhnya sesuai dengan yang diinginkan, sebabnya ialah karena adanya berbagai faktor X yang berada di luar jangkauan kekuasaannya. Abduh memberi contoh sebagaimana seorang yang berkemauan menyenangkan hati sahabatnya, tetapi yang terjadi adalah sebaliknya, kawannya itu marah karena salah tanggap. Atau dalam contoh lain, seorang yang dimaksud menghindari dari suatu bahaya yang mengancamnya tetapi akhirnya dia tetap juga terkena bahaya tersebut.[38] Contoh-contoh itu mengindikasikan bahwa kemauan bebas manusia dibatasi oleh kelemahan (taqshir) yang ada pada diri manusia sendiri.
Di samping itu, Abduh juga menyebutkan faktor lain yang menjadi penghalang yaitu hukum alam. Contoh yang diambilnya adalah gejala-gejala alam yang sering tidak mampu dikendalikan oleh manusia semisal badai yang dahsyat dan petir yang ganas. Akan tetapi, hal itu berlaku sementara. Artinya kalau manusia mempunyai ilmu pengetahuan maka gejala-gejala alam dapat ditaklukkan dan dengan demikian penghalang berasal dari alam dapat dikurangi. Jika manusia semakin menguasai sains, otomatis akan memperbesar kemampuannya dalam menentukan langkah dan usaha sesuai yang dikehendakinya. Masih dalam kaitannya dengan ini, Abduh menghubungkan konsep kebebasan manusia dengan Qadha dan Qadar yang membawa pada konsep yang dinamis. Baginya, qadha dan qadar bukanlah penghalang kebebasan manusia yang oleh masyarakat umum sering dijadikan benteng ketidakberdayaan mereka.[39]
Lebih jelasnya, Abduh mendefinisikan qadha dengan “kaitan antara ilmu Tuhan dengan sesuatu yang diketahui” (Taalluq al Ilm al Ilahi bi al Syai). Sedangkan qadar adalah “terjadinya sesuatu sesuai dengan ilmu Tuhan (Wuqu Al Syai Ala Hasb Al Ilm).[40] Jadi ilmu pengetahuan Tuhan merupakan inti pengertian yang terkandung dalam qadha dan qadar. Apa yang diketahui Tuhan pasti akan sesuai dengan kenyataan, mustahil dapat disebut sebagai sesuatu yang diketahuiNya jika tidak sesuai dengan kenyataan.[41]
Jadi dalam menentukan suatu pilihan, manusia tetap bebas. Meskipun Tuhan Maha Mengetahui atas apa yang dipilih dan diusahakannya tetapi pengetahuan Tuhan itu tidak ada hak untuk mencegah atau merintangi. Jika beramal baik dan berhasil itu adalah hasil keringatnya dan Tuhan membalas setimpal. Sebaliknya jika dia niat jahat dan berhasil maka dia harus bertanggungjawab kelak. Jadi semua kembali kepada manusia.[42]


2.      Aspek kemasyarakatan,
Pandangannya Muhammad Abduh antara lain pemikiran-pemikirannya yang mengajak untuk mencintai diri sendiri, masyarakatnya,  dan negaranya. Misalnya, dalam hal pernikahan, Muhammad Abduh pada dasarnya monogami, sedangkan QS An Nisa: 3 membolehkan poligami diikat dengan syarat adil yang tidak mungkin dilaksanakan oleh seorang mausia.[43] Poligami juga hanya diperbolehkan dalam keadaan khusus misalnya ketika istrinya tidak mampu mengandung atau melahirkan. Sementara itu kalau poligami dilakukan semata-mata untuk memenuhi kebutuhan biologisnya, maka menjadi haram hukumnya.[44]
3.      Aspek keagamaan,
a.       Taqlid
Dalam masalah ini Muhammad Abduh tidak menghendaki adanya taqlid, seperti ketika dipanggil oleh Syeikh Alasy yang menanyakan apakah abduh memilih Mu’tazilah, Abduh menjawab “Jika aku meninggalkan taklid  kepada Asy’ari, mengapa aku mesti taklid kepada Mu’tazilah, Aku tidak mau bertaklid kepada siapapun, yang kuutamakan adalah argumen yang kuat.[45]
Selanjutnya ia mengecam kaum muslimin, khususnya yang berpengetahuan yang mengikuti pendapat ulama-ulama terdahulu tanpa memperhatikan hujjahnya.[46]
Abduh menyerukan anti taqlid karena kenyataannya umat Islam telah mengalami kejumudan berpikir. Sikap sedemikian ini pada gilirannya akan melahirkan sikap antipati terhadap perkembangan sains modern. Sikap taqlid buta harus dipupus sebaliknya kita harus membuka pintu ijtihad lebar-lebar sebab menurut Abduh, akal manusia merupakan akal manusia, baik dulu maupun sekarang. Kedudukan seorang Muslim di hadapan Al Qur’an dan As Sunnah dalam setiap waktu, dulu maupun sekarang adalah sama yaitu seorang muslim jaman akhir dan jaman dulu memiliki hak yang sama dalam memahami Al Qur’an dan As Sunnah. Bahkan sebenarnya umat Islam pada jaman akhir ini mempunyai pengetahuan yang tidak kalah luasnya dengan umat Islam yang dahulu sebagai syarat untuk berijtihad.[47]
Dalam hal berijtihad ini, Abduh menekankan hanya bagi orang-orang yang memiliki pengetahuan dan kekuatan intelektual yang diperlukan yang boleh melakukan ijtihad sedangkan orang lain hendaknya mengikuti ulama yang mereka percayai[48] dan  mengikuti  ulama-ulama salaf sebelum timbulnya perpecahan-perpecahan (Untuk itu maka umat Islam dalam usaha memahami ajaran Islam harus kembali kepada sumber-sumbernya yang pertama yaitu Al Qur’an dan As Sunnah.[49] Selain itu, Abduh juga mengajak untuk membuka kembali pintu ijtihad dengan bersemangat. Wajarlah dia mengatakan bahwa agama dan ilmu tidak ada pertentangan, Al Qur’an bukan hanya sesuai dengan ilmu pengetahuan tetapi juga mendorong semangat umat Islam untuk mengembangkannya.[50]
Menurut Abduh, kita harus menggunakan akal agar tidak taklid. Seperti diketahui taqlid  biasanya dipakai dalam ilmu fiqih, berkaitan dengan orang-orang yang tidak mengetahui langsung dalil-dalil agama lalu mereka mengikuti saja praktek keberagamaannya pada orang-orang yang patut diteladani. Taqlid dalam bidang seperti ini untuk kalangan awam masih bisa ditolerir. Namun dalam bidang aqidah tidak bisa ditolerir karena aqidah merupakan kepercayaan batin terdalam dan berfungsi sebagai fondasi dalam beragama, sehingga jika aqidahnya kuat maka akan selamat tetapi jika aqidahnya goyah, maka akan sangat membahayakan. Jadi jika dalam masalah aqidah masih diperbolehkan untuk bertaklid, hal itu sama dengan menciptakan aqidah-aqidah umat yang rapuh. [51]

b.      Dzat Allah
Abduh adalah seorang yang tidak fanatik terhadap konsep teologi kelompok tertentu, dia mengomentari tentang perbedaaan pendapat dikalangan ulama, misalnya dalam hal Dzat Allah yang tidak terjangkau yang sering menimbulkan perbedaan paham yang terjadi dikalangan ulama. Bagi Abduh, yang wajib kita imani adalah dzat Allah itu maujud dan tidak menyerupai apa yang ada dalam alam semesta ini. Lebih dari itu merupakan masalah yang telah diselisihkan yang menyebabkan pertengkaran kronis diantara kaum muslim sendiri. Maka yang seperti itu tidak perlu didalami lebih jauh untuk dipersengketakan.[52]
c.       Akal dan kemampuannya
Akal merupakan satu-satunya ciri pembeda terpenting antara manusia dengan mahluk lain. Abduh menempatkan akal pada posisi yang istimewa, baik dalam hubungannya dengan akidah maupun syariah. Menurut Abduh, Allah sebenarnya amat mencintai orang-orang yang mau menggunakan akalnya secara maksimal.[53] Bagi Abduh, Islam merupakan agama rasional. Artinya agama dapat dipertemukan dengan akal dan akal sendiri merupakan faktor pelengkap terpenting bagi Agama.[54]
Abduh berpendapat bahwa semua manusia dapat sampai pada pengetahuan bahwa Tuhan itu ada (maujud). Hal ini dapat dibuktikan cukup dengan fenomena lahiriah eksistensi alam raya ini.[55] Selanjutnya akal juga dapat mengetahui sifat-sifat Tuhan. Tuhan haruslah bersifat tidak berpermulaan (Qadim) dalam wujudnya. Tuhan jelas mempunyai sifat kekal (Baqa) yaitu tidak mempunyai kesudahan dalam wujudnya. Tuhan juga bersifat hidup (Hayat) sebab jika tidak begitu berarti banyak yang di alam ini yang mulia dari Dia. Tuhan juga mesti bersifat tuggal (Wahdaniyyah) oleh karena jika Tuhan lebih dari satu pasti terjadi kekacauan. Serta masih banyak lagi sifat yang diungkap Abduh. Kesemuanya bisa diterima melalui akal tanpa perantara wahyu. Meskipun sejumlah sifat-sifat Tuhan dapat diketahui secara langsung oleh akal, tetapi sejumlah sifat-sifat Tuhan yang lain tidak mampu  diketahui oleh akal, atau ada sifat-sifat yang ditunjukkan oleh wahyu harus diterima oleh akal. Dengan demikian wahyu datang untuk menyempurnakan akal. Beberapa sifat Tuhan yang diinformasikan oleh wahyu misalnya sifat kalam, kemudian Tuhan Maha Melihat dan Maha Mendengar. Sifat-sifat seperti digambarkan wahyu tersebut bagaimanapun harus diterima oleh akal.[56]
Dalam pandangan Abduh, akal juga dapat mengetahui yang baik dan yang buruk sungguhpun tidak secara rinci. Yang dimaksud dengan baik adalah apa yang membawa manfaat sedangkan yang dimaksud buruk adalah sesuatu yang membawa madharat. Dalam hubungan ini Abduh memberi penjelasan lebih lanjut bahwa ada perbuatan-perbuatan yang menimbulkan rasa sakit tetapi pada dasarnya membawa kebaikan.[57] Hanya sampai di sini Abduh tidak memberikan klarifikasi lebih jauh, apa sebenarnya yang menjadi ukuran akal dalam menilai sesuatu itu baik dan buruk.
Kemampuan akal yang lain menurut Abduh adalah bahwa akal juga dapat mengetahui keadaan hidup sesudah mati. Keyakinan semacam ini sudah lama ada dan berkembang di kalangan para filosof dan bagi mereka akal dapat membuktikan adanya kehidupan setelah hidup di dunia ini. Hanya Abduh mencatat, yang dapat mempunyai pengetahuan perihal hari berbangkit adalah akalnya orang-orang khawas saja,[58]  sedangkan selain mereka sulit sampai ke pemikiran sejauh itu. Sementara akal kaum awam tidak sampai ke masalah seluk beluk hari akhir, Abduh menambahkan bahwa akal kaum khawas sendiripun banyak tidak menjangkaunya. Ini artinya permasalahan hari akhir masih sangat misterius sekali bagi akal manusia secara keseluruhan.
Dengan demikian dalam pandangan Abduh, meskipun keberadaan akal sangat luhur dan dapat mengetahui beberapa hal. Namun, tetap membutuhkan sesuatu selainnya sebagai sumber pengetahuan. Sesuatu itu tidak lain adalah wahyu yang datang dari Tuhan. Jadi wahyu turun untuk menyempurnakan akal.
d.      Penafsiran Al Qur’an
Abduh dikenal sebagai pencetus ide “kebebasan rasionalitas” (Al ‘Aqliyah Al Mutahrirah) dalam menafsirkan Al Qur’an yaitu bahwa kemukjizatan Al Qur’an itu dalam perjalanan waktunya dapat mengagumkan umat manusia disebabkan mampu membatalkan sesuatu (fakta atau pengetahuan). Selain itu, Abduh menjadikan rasionalitas sebagai tahkim atau penentu  dalam berbagai penjelasannya tentang Al Qur’an. dia menggabungkan metode Islam dengan peradaban barat.[59]
Selanjutnya ia menyatakan bahwa Al Qur’an adalah pangkal keselamatan umat Islam. Tidak ada cara lain untuk menyelesaikan persoalan-persoalan umat Islam kecuali kembali kepada Al Qur’an itu. Dengan itu maka kesatuan umat Islam akan terpelihara dan akan tercapai.[60] Kemudian diterangkannya bahwa sebab-sebab yang mengajak kepada ijtihad, ialah bahwa ijtihad itu adalah hakikat hidup dan keharusan pergaulan manusia. Kehidupan manusia itu berproses dan berkembang, disitu terdapatlah kejadian-kejadian yang tidak diketahui oleh orang-orang dahulu. Ijtihad merupakan alat ilmiah dan pandangan yang diperlukan untuk menghampiri berbagai segi kehidupan yang baru.[61]
Muhammad Abduh telah membuka pintu secara lebar dengan pendapatnya yang membolehkan ijtihad personal atau kebolehan seorang mukmin untuk bersandar pada fatwa pribadi tanpa perlu mengikuti fatwa-fatwa atau bertaklid. Baginya Islam tidak mengenal adanya lembaga al Sulthoh al Diniyah (otoritas keagamaan), dan barangkali lembaga kekuasaan ini merupakan unsur luar yang masuk kedalam Islam yang kemudian dibekukan. Hubungan mukmin dengan Tuhan adalah hubungan langsung tanpa perantara, sedangkan tugas syeikh Islam, mufti, dan qadi adalah dalam urusan birokrasi pemerintahan dan tidak memiliki kekuasaan mutlak atas persoalan akidah dan penetapan hukum. Dan tidak ada sepatutnya bagi mereka untuk menyalahi ijtihad seseorang, jika muslim tersebut memahami hukum Allah dan dari kitab-Nya dan sunnah Rasul-Nya.[62]
Menurut Abduh, Al Qur’an mencakup berbagai perkara sosial (Al Ijtima’iyyah) dan alam semesta (Al ‘Alam Al Kauniyah). Juga mencakup berbagai wujud permasalahan sains dan historis yang belum diketahui oleh umat manusia di waktu pernyataan ayat Al Qur’an diturunkan pertama kali kepada Muhammad.[63] Sebagai contoh, dia menafsirkan lafal  Ath Thair dalam surah Al Fiil dengan makna mikroba dan lafal Al Hijarah ditafsirkan dengan bakteri penyakit.[64] Hal ini seperti dijelaskan oleh Sahiron bahwa Abduh menafsirkan Thairon Ababil adalah bakteri atau mikroba yang dibawa oleh lalat.[65]
Dalam berbagai penafsirannya penjelasan Abduh tentang At Tafsir Al ‘Ilmi banyak memberikan inspirasi dan stimulan bagi ditemukannya teori ilmiah dan teknologi  melalui pemahaman atas ayat-ayat Al Qur’an melalui penggabungan peradaban  barat atau ilmu pengetahuan dalam menafsirkan ayat Al Qur’an. Itu menunjukkan adanya fungsi at tabyin, al ijaz, juga berusaha menciptakan istikhraj al ‘ilm bagi peradaban umat Islam yang masih terbelakang dibanding teori ilmiah dan pengetahuan serta teknologi di dunia barat.[66]



4.      Aspek pendidikan,
Bagi Muhammad Abduh pendidikan  bertujuan “mendidik akal dan jiwa serta mengembangkannya hingga batas-batas yang memungkinkan anak didik mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat”.[67] Dari tujuan pendidikan di atas Muhammad Abduh nampaknya berkeinginan agar proses pendidikan dapat membentuk keperibadian Muslim yang seimbang antara jasmani dan rohani serta intlektualitas dan moralitas. Jadi pendidikan bukan hanya pengembangkan aspek kognitif (akal) semata, tapi juga harus menyelaraskan dengan aspek afektif (moral) dan psikomotorik (keterampilan). Pendidikan seyogyanya dapat memerhatikan segi material dan spritual sekaligus. Pandangan ini merupakan kritiknya terhadap situasi dan aktivitas pendidikan di Mesir pada waktu itu, di mana pendidikan hanya menekankan pengembangan salah satu aspek saja dengan mengabaikan aspek lainnya.
Abduh, sosok yang dikenal seorang yang peduli sekali dengan dunia pendidikan, dia sangat senang  ketika melihat pelajar yang giat menuntut ilmu,  teguh memegang saripati dan jiwa agama, serta tidak melepaskan adat-istiadat mereka yang luhur.[68] Selain itu, Abduh juga memperhatikan sekali perbaikan pendidikan di Al Azhar, demikian juga bahasa Arab dan pendidikan pada umumnya.
Menurut Muhammad Abduh, bahasa Arab perlu dihidupkan dan untuk itu metodenya perlu diperbaiki, dalam hal ini kaitannya dengan metode pendidikan. Sistem menghafal diluar kepala perlu diganti dengan sistem penguasaan dan penghayatan materi yang dipelajari. Selain itu hendaknya peserta didik melakukan studi secara langsung mengenai para maestro terkemuka.[69]
Sistem madrasah yang lama akan mengeluarkan ulama-ulama tanpa memiliki pengetahuan modern dan sekolah-sekolah pemerintah yang tidak memiliki pengetahuan-pengetahuan agama yang cukup. Untuk itu Muhammad Abduh menyarankan menambah pengetahuan agama pada sekolah-sekolah umum, sehingga jurang pemisahnya yang mungkin timbul antara dua lembaga pendidikan itu akan dapat ditanggulangi.[70] Untuk mengimbangi antara pengetahuan agama dan pengetahuan umum, saat Abduh menjabat sebagai anggota Dewan Pendidikan di Al Azhar, dia memasukkan kurikulum ilmu-ilmu yang sebelumnya diabaikan seperti etika, sejarah, geografi, [71] matematika, aljabar, dan ilmu ukur[72] walaupun banyak perlawanan terhadap pemakaian kurikulum tersebut.
Selanjutnya dia perpanjang masa belajar dan memperpendek masa libur. Juga dibuat aturan yang melarang pembacaan hasyiah (komentar) dan syarh (penjelasan panjang lebar tentang teks pelajaran) kepada mahasiswa untuk empat tahun pertama. Kepada mereka diberikan pokok-pokok mata pelajaran dalam bahasa yang mudah dimengerti. Sebagai akibat dari perubahan ini,  jumlah mahasiswa yang maju untuk diuji semakin bertambah. Sungguhpun usahanya untuk mengubah Al Azhar menjadi serupa dengan universitas Eropa gagal, dia berhasil dalam memasukkan beberapa mata pelajaran umum seperti matematika, aljabar, ilmu ukur, ilmu bumi ke dalam kurikulum Al Azhar.[73]
Menurut Mukti Ali, Muhammad Abduh sangat menekankan pemikirannya dalam bidang pendidikan, yaitu Abduh mengikut sertakan orang-orang kaya  dalam kegiatan pendidikan. dia memperingatkan kepada orang-orang kaya kepada kemelaratan yang menimpa umat Islam akibat kebodohan. Oleh karena itu maka untuk menghilangkan penderitaan itu adalah merupakan keharusan untuk meningkatkan ilmu di kalangan mereka. Dia menganjurkan kepada orang-orang kaya untuk membuka madrasah-madrasah dan ruang-ruang sekolah untuk meratakan pendidikan dan menguatkan pemikiran, membangkitkan jiwa kebenaran dan pembaharuan, membersihkan jiwa dan memperkuat kesadaran tentang mana yang manfaat dan mana yang bahaya.[74]
Perbaikan yang diadakannya dalam bidang administrasi adalah penentuan honorarium yang layak bagi ulama Al Azhar, sehingga mereka tidak tergantung pada usaha masing-masing atau  pemberian dari mahasiswa mereka. Asrama mahasiswa dia perbaiki dengan memasukkan air mengalir ke dalamnya. Beasiswa mahasiswa juga dinaikkan jumlahnya.[75]
Untuk keperluan administrasi dia mendirikan gedung tersendiri dan untuk membantu rektor, dia angkat pegawai-pegawai yang sebelumnya memang tidak ada. Sebelum perubahan itu, rektor memimpin Al Azhar dari rumahnya, sehingga tempat tinggalnya itu selalu dikerumuni baik oleh ulama maupun oleh mahasiswa.[76]
Perpustakaan Al Azhar yang dimasa-masa sebelumnya tidak dipelihara, mendapatkan perhatian penuh dari Muhammad bin Abduh. Sebagai seorang ulama yang suka meneliti, dia mengerti betul pentingnya perpustakaan bagi suatu perguruan tinggi. Buku-buku Al Azhar, yang bertebaran di berbagai tempat penyimpanan, dia kumpulkan dalam satu tempat perpustakaan yang teratur.[77]
Sungguhpun dia banyak memperhatikan soal administrasi, dia tidak lupa soal pengajaran. Dia sendiri turut memberi kuliah di Al Azhar dalam mata pelajaran teologi Islam, logika, retorika, dan tafsir.[78]
Dengan perbaikan-perbaikan serta pembaharuan yang dibawanya ke dalam tubuh Al Azhar, dia mengharap universitas ini menjadi pusat pembaharuan yang diingininya untuk dunia Islam. Tetapi usahanya kandas karena mendapat tantangan dari ulama-ulama yang kuat berpegang pada tradisi lama dan kuat mempertahankannya. Abduh dituduh kafir dan tidak percaya kepada kemahaesaan Tuhan, sehingga ada orang khusus datang menghadiri pelajaran yang diberikannya di Al Azhar untuk melihat betulkah dia mengucapkan pendapat-pendapat yang membawa kepada kekufuran. Setelah itu,  bagi mereka tuduhan itu tidak benar dan akhirnya mereka menjadi pengikutnya. Yang menjadi musuhnya, kata Rasyid Ridha, adalah golongan ulama fiqih yang bersikap keras dan golongan awam yang mereka pengaruhi.[79] Dia dituduh seorang wahabi yang sesat agamanya.[80] Tantangan mereka kepadanya bertambah keras setelah Khedewi Abbas pada akhirnya tidak merestui usaha-usaha pembaharuan itu.

D.    Karya-karya Muhammad Abduh
Muhammad Abduh adalah seorang sarjana muslim, banyak sekali menulis artikel-artikel di berbagai surat kabar seperti al-Ihram, Tsamrotul Funun, al-Urwatul Wutsqa dan sebagainya. Beliau seorang yang amat teliti apa yang ditulis atau yang diceramahkan selalu dengan persiapan yang lengkap, maka tidaklah mengherankan apabila kebanyakan hasil kuliah-kuliahnya itu dalam keadaan siap dibukukan.
Adapun karya-karya Muhammad Abduh adalah sebagai berikut:
1.      Risalah al-Waridah: kitab yang pertama kali dikarang beliau yang isinya menerangkan ilmu tauhid dari segi tasawuf.
2.      Wahdatul Wujud: menerangkan faham segolongan ahli tasawuf tentang kesatuan antara Tuhan dengan makhluk-Nya.
3.      Falsafatul Ijtima’ Wattarikh: disusun ketika memberi kuliah di madrasah Darul Ulum, berisi uraian tentang filsafat sejarah dan perkembangan masyarakat.
4.      Syarah Nahjul Balagha: uraian dari karangannya sayyidina Ali yang berisi kesusastraan Arab dan menerangkan tentang tauhid serta kebenaran agama Islam.
5.      Syarah Bashairun Nasiriyah: uraian tentang ringkasan ilmu mantiq (logika), kitab ini diselesaikan M. Rasyid Ridha.
6.      Risalah Tauhid: buku ini berisi masalah bagaimana manusia dapat mengenal ke-Esa-an Tuhan dengan dalil-dalil yang rasional.
7.      al-Islamu wa Nashraniyah ma’al ilmi wa madaniyah: berisi tentang pembelaan Islam terhadap serangan agama kristen dalam lapangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan.
8.      Tafsir juz ‘amma: tafsir yang isinya untuk menghilangkan segala tahayul dan syirik yang menghinggapi kaum muslimin.
Selain buku-buku tersebut ada karangan-karangan yang lain seperti:
1.      Hasy’iyyah ala Syarh ad Daiwani lil aqo’idil adudiyah
2.      Risalah ar rodad ‘ala dhohriyyah, yaitu terjemahan dari karangan Jamaluddin al-Afghani.
3.      Maqomat badi’ az-Zamanai al-Hamdi Nizamaut Tarbiyah al-Mishriyah, dan lain-lain.[81]



E.     Nilai-nilai kehidupan yang dapat diambil dari riwayat hidup dan pemikiran Muhammad Abduh
Nilai-nilai kehidupan yang dapat diambil dari riwayat hidup dan pemikiran Muhammad Abduh yaitu:
1.      Muhammad Abduh lahir di keluarga yang miskin di suatu perkampungan agraris kemudian tumbuh menjadi sosok pembaharu yang kapasitasnya diakui dunia. Dari perjalanan hidupnya kita bisa melihat bahwa guru dan lingkungannya mengajarkan dia menjadi sukses dalam bahasa Johannes Surya, hal ini disebut semesta mendukung (MESTAKUNG). Selain itu, perjalanan kisah hidupnya juga memberi pelajaran pada kita bahwa kebanyakan mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sebagian besar memiliki latar belakang keluarga dengan taraf ekonomi menengah ke bawah, hendaknya optimis menatap masa depan dengan tidak meratapi nasib dirinya, tetapi berusaha untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik dari sekarang ini dan selalu berpikirlah positif  dalam menghadapi sisi kehidupan ini (meminjam istilah Ibrahim Elfiky).
2.      Orang tuanya Abduh sangat memperhatikan terhadap pendidikan Muhammad Abduh, ayahnya mendatangkan seorang guru untuk mengajar Muhammad Abduh secara privat di rumahnya untuk memberi pelajaran membaca dan menulis saat usia 10 tahun, kemudian setelah dia pandai membaca dan menulis, dia diserahkan kepada seorang guru hafidz Al Qur’an. Pada tahun 1861 M Muhammad Abduh telah hafal Al Qur’an. Bagi seorang pendidik, hendaknya kita dapat mencontoh perbuatan orangtua Abduh. Orangtua hendaknya memperhatikan pendidikan anaknya, sebab pendidikan adalah investasi masa depan. Ajarilah anak-anak kita dengan berbagai disiplin keilmuan dasar misalnya membaca, menulis, menggambar, hafalan, dan sebagainya selagi dia masih kecil. Ada sebuah ungkapan yang disampaikan Imam Ali Karomallahu Wajhah,  “cetaklah tanah selagi ia masih basah dan tanamlah kayu selagi ia masih lunak”.[82]
3.      Pada tahun 1862 M Abduh dikirim oleh ayahnya ke perguruan agama di Masjid Ahmadi yang terletak di desa Tanta. Hanya dalam waktu enam bulan dia belajar di sana kemudian berhenti, karena metode yang dipakai hanya mementingkan hafalan saja, tidak diikuti dengan pemahaman. Sebagai pendidik hendaknya kita menerapkan berbagai strategi dan metode dalam pembelajaran, khususnya pembelajaran PAI.  Pendidikan hendaknya mengembangkan berbagai dimensi kecerdasan (bukan hanya kecerdasan hafalan saja) tetapi juga memperhatikan berbagai dimensi kecerdasan peserta didik dengan konsep pembelajaran yang menyenangkan sehingga siswa akan betah dan senang untuk belajar.[83]
4.      Muhammad Abduh seorang murid Syekh Darwisy Khadr, dia  menghadapi kesulitan dalam belajar disebabkan karena dia harus menghadapi kitab Syarah Al Kafrawi. Dia putus asa dan mempunyai anggapan  bahwa dia tidak dapat belajar dan tidak akan dapat belajar. Oleh karena itu ia bertekad untuk tidak meneruskan belajar. Dalam hal ini Syekh Darwisy menghilangkan kesulitan ini dengan jalan memberikan kitab yang berhubungan dengan ajaran akhlak untuk dipelajari. Abduh membaca kitab tersebut dan Syekh Darwisy menerangkannya, lalu Abduh dapat memahami kitab itu dan kesulitan belajar terpecahkan. Kini Muhammad Abduh mempunyai keyakinan bahwa dia juga dapat belajar.[84] Dalam hal ini, menurut analisis penulis Syekh Darwisy mempunyai pengetahuan dan ketrampilan yang luar biasa dalam memberi semangat muridnya. Jika kita ambil hikmahnya maka sebagai guru ketika melihat murid malas atau bermasalah dalam menerima pelajaran, hendaknya kita mencari dahulu penyebabnya. Selain itu, menurut penulis, berilah anak kita semacam kegiatan Achievement Motivation Training atau kegiatan character building lainnya. Selain hal tersebut, kita tahu bahwa Darwisy menggunakan metode pemahaman konsep dalam pembelajaran, maka Abduh sebagai peserta didiknya mamahami maksud apa yang dipelajari dan tidak bosan.
5.      Ketika Jamaluddin Al Afgani datang ke Mesir pada tahun 1871 M, untuk menetap di Mesir, Muhammad Abduh menjadi muridnya yang paling setia. Dia belajar filsafat dibawah bimbingan Afghani dan di masa inilah (1876 M) dia mulai membuat karangan untuk harian Al Ahram yang pada saat itu baru didirikan. Pelajaran yang dapat kita ambil adalah ketika kita sebagai seorang murid, hendaknya setia kepada guru dan menghormati guru agar ilmu yang kita peroleh berkah. Selain itu, hendaknya ketika kita mendirikan sebuah lembaga pendidikan tinggi, masukkanlah sebuah mata pelajaran yang sangat penting yaitu filsafat sehingga akan melahirkan generasi muda yang kritis dan mempunyai pemikiran yang mendalam. Generasi muda yang kritis dan akademis biasanya sering menyampaikan gagasannya melalui berbagai macam media misalnya bulletin, majalah, koran dan sebagainya.
6.      Pada tahun 1877 M studinya selesai di Al Azhar dengan hasil yang sangat baik dan mendapat gelar alim,[85] dan kelulusannya mendapat gelar Darajah Al Tsani (amat baik).[86] Kemudian dia diangkat menjadi dosen ilmu kalam dan logika di Al Azhar. Selain itu, dia mengajar ilmu kalam, sejarah, ilmu politik, dan kesusateraan Arab di Universitas Darul Ulum. Ini membuktikan bahwa seorang pembaharu seperti dia adalah orang yang cerdas, maka jika kita ingin berbuat sesuatu demi kemajuan umat atau ingin meraih gelar Magister Pendidikan Islam Lulus terbaik tercepat, maka mulai sekarang hendaknya belajar dengan semangat serta rajin membaca, sebab dengan membaca wawasan keilmuan kita akan bertambah. Salah satu bacaan yang perlu kita baca yaitu tentang kisah kesuksesan Abduh dalam menyelesaikan pendidikannya di Al Azhar.
7.      Abduh pernah dibuang keluar kota Kairo pada tahun 1879 M kemudian menjalani tahanan kota di Mahallat Nasr, kampung halamannya,[87] kemudian Abduh juga pernah dibuang ke Beirut. Dari peristiwa ini, kita semakin yakin bahwa banyak tokoh besar kita pernah mengalami masa-masa pahit pembuangan atau penyingkiran dari penguasanya, seperti beberapa pahlawan nasional Indonesia juga pernah dibuang. Mereka tetap gigih memperjuangkan pemikirannya demi umat walapun harus mengkorbankan dirinya. Jika kita ingin memperjuangkan kebenaran, maka kita harus gigih memperjuangkannya.
8.      Pada tahun 1880 M  Abduh diangkat menjadi redaktur kemudian ketua redaktur surat kabar resmi pemerintah Mesir yang bernama Al Waqa’il Mishriyah. Dengan majalah ini Muhammad Abduh mendapat kesempatan yang lebih luas menyampaikan ide-idenya melalui artikel-artikelnya yang hangat dan tinggi nilainya tentang ilmu agama, filsafat, kesusateraan, dan lainnya. Dia juga mempunyai kesempatan untuk mengadakan kritikan terhadap pemerintahan tentang nasib rakyat, pendidikan, dan pengajaran di Mesir.[88] Selain itu, Abduh juga berperan dalam penerbitan sebuah majalah dengan nama “Al Urwatul Wusqa”.[89] Pelajaran yang dapat kita ambil adalah “siapa yang menguasai media, dia menguasai dunia”.[90] Sekarang yang menguasai media adalah orang-orang yahudi dan nasrani melalui google.com, yahoo.com, kompas, dan berbagai media lainnya. Jika umat Islam ingin bangkit (khususnya pendidikan Islam) maka kuasailah media, seperti yang pernah dilakukan oleh Muhammad Abduh.
9.      Rumahnya Abduh menjadi tempat pertemuan ilmiah yang dihadiri bukan oleh orang Islam Sunni dan Syiah saja tetapi orang-orang Nasrani. Kecintaan kepada ilmu dapat kita wujudkan dengan diskusi ilmiah atau seminar ilmiah, ini sering terjadi di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Banyak pertemuan ilmiah yang diselenggarakan oleh lembaga mahasiswa maupun lembaga lainnya seperti diskusi yang diselenggarakan oleh mahasiswa PMII (Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia), KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia), diskusi ilmiah dosen tetap UIN Sunan Kalijaga, hingga untuk kelas PAI A Program Pasca Sarjana UIN Sunan Kalijaga diadakan diskusi ilmiah rutin bulanan yang bertempat di rumah mahasiswa secara rutin dan bergilir.
10.  Muhammad Abduh juga pernah diangkat menjadi dewan Majlis Syuro atau Dewan Legislatif Mesir, dia sangat giat bekerja di Majelis Syuro untuk bersama-sama dengan anggota Majelis lainnya untuk mendidik rakyat memasuki kehidupan politik demokratis yang didasarkan atas musyawarah.[91] Hal ini hendaknya dicontoh oleh generasi muda khususnya Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, ketika ada kegiatan Pemilu Mahasiswa atau pemilihan pengurus lembaga kampus lainnya (misal pengurus lembaga Dana Penunjang Pendidikan Program Pengembangan Tahsinul Qur’an) kadang kehidupan politik demokratis yang didasarkan atas musyawarah tidak terlihat, masing-masing kubu menggunakan siasat politik kotornya demi terwujudnya ambisi mereka.
11.  Dalam usaha memperjuangkan cita-cita pembaharuannya, Muhammad Abduh berbeda dengan gurunya Jamaludin Al Afghani yang menghendaki Pan Islamisme bahkan secara revolusi, akan tetapi Muhammad Abduh memperkecil ruang lingkupnya, yaitu Nasionalisme Arab saja dan dititikberatkan pada pendidikan. Kesadaran rakyat bernegara dapat disadarkan melalui pendidikan, surat kabar, majalah, dan sebagainya.[92] Sebagai seorang calon Magister Pendidikan Islam, kita harus punya visi dan misi dalam menyusun strategi perjuangan kita dalam membangun Indonesia. Melalui gelarnya, hendaknya kita menitikberatkan pada pendidikan. Banyak lulusan UIN Sunan Kalijaga yang aktif dalam dunia pendidikan, penulisan, dan sebagainya dengan tujuan untuk mencerahkan umat dan mencerdaskan kehidupan bangsa.
12.  Salah satu tema yang beliau lontarkan dalam rangka memperjuangkan cita-cita pembaharuannya yaitu tentang manusia dan kebebasannya. Menurut Abduh, sungguhpun manusia berbuat atas kemauannya sendiri namun daya, kemauan, dan pengetahuan yang ada pada manusia tidaklah sempurna.[93] Artinya bahwa dalam menjalani hidup, kemauan bebas manusia itu tidak mungkin berjalan sepenuhnya sesuai dengan yang diinginkan, sebabnya ialah karena adanya berbagai faktor X yang berada di luar jangkauan kekuaasaannya. Misalnya ketika seorang mahasiswa yang berkemauan menyenangkan hati sahabatnya, tetapi yang terjadi adalah sebaliknya, kawannya itu marah karena salah tanggap. Itu mengindikasikan bahwa kemauan bebas manusia dibatasi oleh kelemahan (taqshir) yang ada pada diri manusia sendiri. Maka bebas berbuat disini masih terikat oleh nilai ketuhanan, bukan bebas yang free will and free act.
13.  Abduh juga menyebutkan faktor lain yang menjadi penghalang kebebasan manusia yaitu hukum alam. Contoh yang diambilnya adalah gejala-gejala alam yang sering tidak mampu dikendalikan oleh manusia semisal badai yang dahsyat dan petir yang ganas. Akan tetapi, hal itu berlaku sementara. Artinya kalau manusia mempunyai ilmu pengetahuan maka gejala-gejala alam dapat ditaklukkan dan dengan demikian penghalang berasal dari alam dapat dikurangi. Jika manusia semakin menguasai sains, otomatis akan memperbesar kemampuannya dalam menentukan langkah dan usaha sesuai yang dikehendakinya. Hal ini jika diterapkan dalam pembuatan kurikulum, hendaknya kita mengintegrasikan kurikulum siaga bencana dalam kurikulum di sekolah. Seperti di Kebumen ada beberapa sekolah yang dijadikan sekolah yang memasukkan kurikulum siaga bencana dalam kurikulumnya. Hal itu dimaksudkan agar dapat meminimalisis korban ketika terjadi halangan oleh alam atau bencana alam.
14.  Antara lain usaha-usaha pendidikan perlu diarahkan untuk mencintai dirinya, masyarakatnya, dan negaranya. Dasar-dasar pendidikan yang demikian akan membawa kepada seseorang untuk mengetahui siapa dia dan siapa yang menyertainya. Dalam hal pernikahan, Muhammad Abduh pada dasarnya monogami, sedangkan QS An Nisa: 3 membolehkan poligami diikat dengan syarat adil yang tidak mungkin dilaksanakan oleh seorang mausia.[94] Poligami juga hanya diperbolehkan dalam keadaan khusus misalnya ketika istrinya tidak mampu mengandung atau melahirkan. Sementara itu kalau poligami dilakukan semata-mata untuk memenuhi kebutuhan biologisnya, maka menjadi haram hukumnya.[95] Jika kita ambil value-nya maka sebagai muslim kita tidak boleh mengumbar nafsu dengan banyak menikah karena dalih agama membolehkannya.
15.  Muhammad Abduh tidak menghendaki adanya taqlid, Abduh menyerukan anti taqlid karena kenyataannya umat Islam telah mengalami kejumudan berpikir. Sikap sedemikian ini pada gilirannya akan melahirkan sikap antipati terhadap perkembangan sains modern. Sikap taqlid buta harus dipupus sebaliknya kita harus membuka pintu  ijtihad lebar-lebar sebab menurut Abduh, akal manusia merupakan akal manusia, baik dulu maupun sekarang. Jika kita terus taqlid buta tanpa mengembangkan nalar kritis kita maka kita secara tidak sadar menerima expired knowledge. Perlu adanya refresh terhadap pemikiran-pemikiran klasik yang sudah tidak relevan dengan jaman sekarang ini yang serba modern dan instant. Tentunya dalam merefresh atau berijtihad benar-benar hati-hati dan dilakukan orang-orang yang memiliki pengetahuan dan kekuatan intelektual yang diperlukan yang boleh melakukan ijtihad sedangkan orang lain hendaknya mengikuti ulama yang mereka percayai[96] dan  mengikuti  ulama-ulama salaf sebelum timbulnya perpecahan-perpecahan. Untuk itu maka umat Islam dalam usaha memahami ajaran Islam harus kembali kepada sumber-sumbernya yang pertama yaitu Al Qur’an dan As Sunnah.[97]
16.  Abduh mengatakan bahwa agama dan ilmu tidak ada pertentangan, Al Qur’an bukan hanya sesuai dengan ilmu pengetahuan tetapi juga mendorong semangat umat Islam untuk mengembangkannya.[98] Jika kita perhatikan, sekarang banyak usaha menggali hubungan dalil-dalil Al Qur’an dengan ilmu pengetahuan, dan hasilnya keduanya saling mendukung tidak terjadi pertentangan. Misalnya tentang gerakan sholat, sekarang sudah dikaji tentang rahasia gerakan sholat jika ditinjau dari sisi ilmu kesehatan dan psikologi. Ke depannya diharapkan para Sarjana, Magister, dan Doktor lulusan UIN Sunan Kalijaga bisa menghasilkan penemuan-penemuan baru dalam dunia keilmuan berkat proses integrasi-interkoneksi keilmuan dan keislamannya.
17.  Abduh adalah seorang yang tidak fanatik terhadap konsep teologi kelompok tertentu, dia mengomentari tentang perbedaaan pendapat dikalangan ulama, misalnya dalam hal Dzat Allah yang tidak terjangkau yang sering menimbulkan perbedaan paham yang terjadi dikalangan ulama. Bagi Abduh, yang wajib kita imani adalah dzat Tuhan itu maujud dan tidak menyerupai apa yang ada dalam alam semesta ini. Lebih dari itu merupakan masalah yang telah diselisihkan yang menyebabkan pertengkaran kronis diantara kaum muslim sendiri. Maka yang seperti itu tidak perlu didalami lebih jauh untuk dipersengketakan.[99] Jika kita ambil nilainya dari sikap Abduh tersebut, jika diterapkan oleh kita maka kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara akan aman dan nyaman, sebab diantara kita tidak membesarkan atau menonjolkan perbedaan yang ada sehingga tidak ada lagi saling mengklaim pandangannya adalah paling benar (truth claim).
18.  Abduh memandang bahwa meskipun keberadaan akal sangat luhur dan dapat mengetahui beberapa hal. Namun, tetap membutuhkan sesuatu selainnya sebagai sumber pengetahuan. Sesuatu itu tidak lain adalah wahyu yang datang dari Tuhan. Jadi wahyu turun untuk menyempurnakan akal. Nilai yang dapat kita ambil adalah sebagai seorang pendidik hendaknya kita mengoptimalkan kemampuan peserta didik dalam penggunaan akalnya juga selalu mendampingi perkembangan akalnya dengan dikonsultasikan perkembangan tersebut kepada wahyu.
19.  Abduh adalah seorang yang peduli sekali dengan dunia pendidikan. Menurut Muhammad Abduh, bahasa Arab perlu dihidupkan dan untuk itu metodenya perlu diperbaiki  dan ini kaitannya dengan metode pendidikan. Sistem menghafal diluar kepala perlu diganti dengan sistem penguasaan dan penghayatan materi yang dipelajari. Selain itu hendaknya peserta didik melakukan studi secara langsung mengenai para maestro terkemuka.[100] Metode pembelajaran kontekstual inilah yang sekarang sedang dikembangkan di beberapa sekolah, misalnya di sekolah alam Qaryah Tayyibah Salatiga diajarkan tentang bagaimana belajar beternak, maka mereka langsung terjun ke lapangan untuk menggali ilmu beternak langsung dari peternak yang sukses bahkan mereka diajari untuk mempraktikkannya.
20.  Sistem madrasah yang lama akan mengeluarkan ulama-ulama tanpa memiliki pengetahuan modern dan sekolah-sekolah pemerintah yang tidak memiliki pengetahuan-pengetahuan agama yang cukup. Untuk itu Muhammad Abduh menyarankan menambah pengetahuan agama pada sekolah-sekolah umum, sehingga jurang pemisahnya yang mungkin timbul antara dua lembaga pendidikan itu akan dapat ditanggulangi.[101] Untuk mengimbangi antara pengetahuan agama dan pengetahuan umum, saat Abduh menjabat sebagai anggota Dewan Pendidikan di Al Azhar, dia memasukkan kurikulum ilmu-ilmu yang sebelumnya diabaikan seperti etika, sejarah, geografi, [102] matematika, aljabar, dan ilmu ukur[103] walaupun banyak perlawanan terhadap pemakaian kurikulum tersebut. Di sinilah Abduh ingin menyampaikan tentang tujuan pendidikan yaitu pendidikan agama dan umum yang berorientasi peda pencapaian kebahagiaan di akherat melalui pendidikan jiwa dan kebahagiaan di dunia dengan pendidikan akal.
Selain  itu, seperti yang disampaikan Prof. Dr. H. Maragustam Siregar, M.A dalam kuliah Filsafat Pendidikan Islam Pendidikan Agama Islam Program Pasca Sarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta beliau menyampaikan bahwa jika pendidikan di Indonesia ingin maju, khususnya pendidikan Islam maka salah satu caranya adalah dalam kurikulumnya dimasukkan kurikulum umum 100% dan agama 100% agar seimbang tidak nanggung. Agar hal itu terwujud maka perlu mencontoh sistem madrasah dengan model pesantren, Sekolah Islam Terpadu, dan sebagainya yaitu dengan model asrama maka pendidikan Islam dapat diberikan 100% dan pendidikan umum 100%.
21.  Selanjutnya Abduh memperpanjang masa belajar dan memperpendek masa libur sekolah. Kepada mereka diberikan pokok-pokok mata pelajaran dalam bahasa yang mudah dimengerti. Sebagai akibat dari perubahan ini,  jumlah mahasiswa yang maju untuk diuji semakin bertambah. Hal ini telah diterapkan di UIN Sunan Kalijaga khususnya di Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, dimana saat semester 6 sudah dipersiapkan untuk PPL KKN di saat semester pendek hingga semester 7, disamping itu mahasiswa dapat mengerjakan skripsi juga selama PPL KKN, sehingga masa belajar mahasiswa semakin panjang, seolah-olah dalam semester 6-7 tidak ada liburnya. Hasilnya seperti penulis alami, saat semester 7 pertengahan (3 tahun 2 bulan) sudah banyak mahasiswa yang maju untuk diuji munaqosyah. Mahasiswa tidak perlu menunggu dan membuang waktu berlama-lama di kampus, sebab kehadiran mereka sudah ditunggu oleh masyarakat.
22.  Muhammad Abduh sangat menekankan pemikirannya dalam bidang pendidikan, yaitu Abduh mengikutsertakan orang-orang kaya  dalam kegiatan pendidikan. dia memperingatkan kepada orang-orang kaya kepada kemelaratan yang menimpa umat Islam akibat kebodohan. Oleh karena itu maka untuk menghilangkan penderitaan itu adalah merupakan keharusan untuk meningkatkan ilmu di kalangan mereka. Dia menganjurkan kepada orang-orang kaya untuk membuka madrasah-madrasah dan ruang-ruang sekolah untuk meratakan pendidikan dan menguatkan pemikiran, membangkitkan jiwa kebenaran dan pembaharuan, membersihkan jiwa dan memperkuat kesadaran tentang mana yang manfaat dan mana yang bahaya.[104] Jika kita ambil nilainya, hal ini sejalan dengan sebuah program yang baru beberapa tahun ini diluncurkan yaitu Indonesia Mengajar yang diprakarsai oleh Anis Baswedan yang mengirimkan beberapa pengajar mudanya ke sekolah-sekolah yang ada dipelosok. Kegiatannya dibiayai oleh pihak sponsor yang rata-rata lembaga-lembaga yang kaya.[105]
23.  Perbaikan yang diadakannya dalam bidang administrasi adalah penentuan honorarium yang layak bagi ulama Al Azhar, sehingga mereka tidak tergantung pada usaha masing-masing atau  pemberian dari mahasiswa mereka. Hal ini bisa kita ambil nilainya, yaitu sekarang ini pemerintah mulai memperhatikan nasib para pendidik dengan diadakannya sertifikasi bagi guru dan dosen. Hal ini untuk meningkatkan kualitas hidup dan keilmuan mereka.
24.  Asrama mahasiswa dia perbaiki dengan memasukkan air mengalir ke dalamnya. Beasiswa mahasiswa juga dinaikkan jumlahnya.[106] Perlu sekali UIN Sunan Kalijaga membuat sebuah asrama seperti yang dilakukan oleh UIN Malang, agar proses transfer ilmu dan nilai berlangsung maksimal. Dalam hal beasiswa, UIN Sunan Kalijaga banyak menyediakan beasiswa untuk S1 seperti dari PT Djarum, Kementerian Agama, dan lainnya. Itu sangat berpengaruh dalam meningkatkan motivasi belajar mahasiswa. Namun sayangnya, untuk S2 beasiswa sangat sedikit. Hanya ada beasiswa bagi dosen dan mahasiswa lulus terbaik tercepat (itupun hanya 3 orang dari 21 mahasiswa lulus terbaik tercepat)
25.  Untuk keperluan administrasi dia mendirikan gedung tersendiri dan untuk membantu rektor, dia angkat pegawai-pegawai yang sebelumnya memang tidak ada. Sebelum perubahan itu, rektor memimpin Al Azhar dari rumahnya, sehingga tempat tinggalnya itu selalu dikerumuni baik oleh ulama maupun oleh mahasiswa.[107] Jika kita ambil valuenya, hal ini telah diterapkan oleh UIN Sunan Kalijaga dalam pengelolaannya, rektor mempunyai gedung tersendiri yaitu rektorat yang terintegrasi dengan Pusat Administrasi Universitas.
26.  Perpustakaan Al Azhar yang dimasa-masa sebelumnya tidak dipelihara, mendapatkan perhatian penuh dari Muhammad bin Abduh. Sebagai seorang ulama yang suka meneliti, dia mengerti betul pentingnya perpustakaan bagi suatu perguruan tinggi. Buku-buku Al Azhar, yang bertebaran di berbagai tempat penyimpanan, dia kumpulkan dalam satu tempat perpustakaan yang teratur.[108] Seperti halnya UIN Sunan Kalijaga yang memiliki perpustakaan yang dapat di bilang cukup dalam penerapan teknologi juga menjadi perpustakaan terbaik ketiga se-Indonesia, serta jumlah koleksinya yang dapat dikatakan banyak. Namun sayangnya, perpustakaan di UIN Sunan Kalijaga hanya buka sampai jam 20.00 WIB untuk perpustakaan pusat dan pukul 14.45 WIB untuk perpustakaan Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga. Hal ini masih dirasa kurang bagi mereka para pemustaka yang rajin ke perpustakaan. Namun sayangnya, kadang perpustakaan oleh segelintir mahasiswa-mahasiswi dijadikan tempat kencan masa kini yang elegan bagi mereka.
27.  Dari sederet nilai-nilai yang bisa kita ambil, maka kita mengetahui bahwa Muhammad Abduh adalah seorang yang mempunyai kecerdasan emosional, sebab menurut Daniel Goleman untuk mempunyai kecerdasan emosional ada lima tahap yang harus dilalui yaitu kesadaran diri, pengaturan diri, motivasi, empati, dan ketrampilan sosial. Itu semua telah dilalui Abduh dalam kehidupannya.



F.     PENUTUP
Muhammad Abduh adalah seorang pembaharu. Pemikirannya muncul atas situasi dan tuntutan sosial yang mengharuskannya melakukan pembaharuan. Ketika orang lain tidak melakukan hal yang sama dan bahkan sering menentang pembaharuan yang dilakukannya, memang itulah watak setiap modernis. Modernis adalah orang yang paling cepat tanggap  merespon perkembangan yang terjadi dan sekaligus paling cepat diresponi oleh masyarakat sekitarnya. 
Meskipun seorang modernis, Abduh juga seorang yang mempertahankan warisan klasik yang masih relevan digunakan. Beliau masih berpijak pada akar sejarah dan tradisi keislaman yang relative kuat seperti dengan menulis syarh untuk kitab Al Basair Al Nasiriyah dalam bidang logika, Nahj Al Balaghah untuk bidang sastra, dan beberapa kitab lainnya.
Muhammad Abduh adalah seorang pembaharu yang mengajak kepada perbaikan yang tidak hanya dalam tataran teoritis dengan jalan mengarang, pidato-pidato, seminar-seminar, mempresentasikan makalahnya saja tetapi ia bersaha membawa pikiran pemikiran pembaharuannya kepada amal perbuatan dan tenggelam dalam kehidupan nyata agar dapat melangsungkan rencana pembaharuannya. Dia sudah mati, tetapi pemikirannya tidak akan mati. Mudah-mudahan Allah memberinya rahmat kepadanya. Aamiin.

G.    DAFTAR  PUSTAKA

Ali, Mukti. 1990. Ijtihad: Dalam Pandangan Muhammad Abduh, Ahmad Dahlan. dan Muhammad Iqbal. (Jakarta: Bulan Bintang).

-------. 1995. Alam Pikiran Islam Modern di Timur Tengah. (Jakarta: Djambatan).

Asmuni, Yusran. 1998. Pengantar Studi Pemikiran dan Gerakan Pembaharuan dalam Islam: Dirasah Islamiah III. (Jakarta: Raja Grafindo Persada).

Aziz, Ahmad Amir. 2009. Pembaharuan Teologi: Perspektif Modernisme Muhammad Abduh dan Neo-Modernisme Fazlur Rahman.(Yogyakarta: Teras).

Hourani, Albert.2004. Pemikiran Liberal di Dunia Arab.  (Bandung: Mizan).

Ma’arif, Syafi’i. 1994. Peta Intelektual Muslim Indonesia. (Bandung: Mizan).

Madjid, Abdul dan Dian Andayani. 2011. Pendidikan Karakter Perspektif Islam. (Bandung: Remaja Rosdakarya)

Mulkhan, Abdul Munir. 1992. Paradigma Intelektual Muslim: Pengantar Filsafat Pendidikan dan Dakwah. (Yogyakarta: SI Press).

Nasution, Harun. 1987. Muhammad Abduh dan Teologi Rasional Mu’tazilah, (Jakarta: UI-Press)

Sarjuli, et. al(penj.). 1996. Active Learning: 101 Strategi Pembelajaran Aktif.  (Yogyakarta: Pustaka Insan Madani)

Sastra, Andi Rosadi. 2007. Metode Tafsir Aayat-ayat Sains dan Sosial, (Jakarta: Amzah).

Shihab, M. Quraish. 1994. Studi Kritis Tafsir Al-Manar Karya Muhammad Abduh dan M. Rasyid Ridha. (Bandung: Pustaka Hidayah)

Suharto, Toto. 2006. Filsafat Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Arruzz)

Syaf, Mahyuddin dan A. Bakar Usman. 1978.  Ilmu dan Peradaban. (Bandung: Diponegoro).

http://ms.wikipedia.org/wiki/Syeikh_Muhammad_Abduh#Karya di akses tanggal 28 November 2012

Maaf, footnote atau rujukan yang lebih komplit sementara kami simpan, sebab menghindari kasus plagiasi yang hanya kopi paste tanpa minta ijin pemiliknya yang sah, jika anda berminat untuk kepentingan keilmuan silahkan hubungi Dedi Wahyudi di 085726476495 . Selain itu, saya hanya ridho untuk memberikan ilmu ini pada anda jika anda minta ijin untuk menggunakannya, silahkan sms untuk minta ijin ke nomor tersebut. Terima kasih



halo...tanpa footnote ya

0   komentar

Silahkan kirim komentar anda!

Cancel Reply