: :

Navbar Bawah

Cari Blog Ini

Memuat...

13 Februari 2013

TIPOLOGI PEMIKIRAN TAFSIR KONTEMPORER



TIPOLOGI PEMIKIRAN TAFSIR KONTEMPORER
Oleh Dedi Wahyudi

A.     Pendahuluan
Entah apapun pendapat kita tentang Abdullah Saeed, kita tahu bahwa Al Qur’an sangat luar biasa dalam sisi bahasa dan penafsiran. Al Qur’an itu selalu shalih li kulli zaman wa makan. Faktanya sejak 15 abad yang lalu, dimana situasi agama, sosial, budaya yang berbeda dengan sekarang, Al Quran masih kokoh dan layak dijadikan sebagai pedoman hidup. Lantas, shalih li kulli zaman wa maklan itu ditafsirkan seperti apa dan bagaimana? apakah secara literal atau non literal.
Abdullah Saeed adalah seorang yang tekstualis amaka dia menyatakan bahwa hasil final penafsiran kita dihadapkan  ke kehidupan pemikiran nabi. Lalu bagaimana menafsirkan Al Qur’an di masa sekarang atau kontemporer ini?
B.     Aliran Penafsiran Al Qur’an:
1.      Quasi Objektifis Tekstualis (tekstualis)
2.      Quasi Objektifis Tradisional (Semi Tekstualis)
Schumacher mirip dengan ini, dimana berusaha menemukan makna asli teks. Untuk mendapatkan makna asli maka dilakukan analisis linguistik dan analisis historis (asbabun nuzul baik kubro maupun sughro).
Kelompok tekstualis ini memandang makna literal atau kata perkata ini yang menjadi acuan atau patokan sehingga teks inilah yang disebut shalih li kulli zaman wa makan.
Penggunaan maqasidussyariah digunakan untuk menjadikan  masuk akal. Misal dalam warisan QS. 4 : 11 tentang warisan putra diobanding putri yaitu 2:1 dalam aliran ini bagaimanapun keadaannya itu harus diaplikasikan dalam keadaan seperti apapun. Alasan rasionalnya yaitu karena laki-laki yang memberikannafkah dan sebagainya.

3.      Subjectifis
Aliran ini dikontruksi oleh derida atau reader responsitive stanley fish, menekankan pada peran pembaca atau penafsir dalam memperoleh makna. Jadi makna dibuat dengan bahasa yang sederhana tetapi berfungsi untuk sekarang sehingga makna literal itu tidak penting,tetapi sesuai dengan perkembangan jaman ini.
Pada aliran ini, jika penafsiran tidak dapat memberikan atau mengatasi problem sosial maka penafsiran itu ditolak. Tokohnya muhammad sahrur dalam hal warisan seperti diatas, bagian laki-laki sebagai bagian atas dan perempuan sebagai bagian yang rendah. Maksudnya, bagian laki-laki boleh lebih boleh kurang dari dua, dan perempuan boleh lebih dari satu bagian. Sehingga dalam situasi tertentu pembagian putra banding putri yaitu 1:1
Jika jumlah pembagian perempuan 2 laki-laki 1 maka ayat yang dipakai laki-laki 1 dan p[erempuan 0.5, jika perempuan 5 dan laki-laki 6 maka pembagian perempuan 2/3 dan laki-laki 1/3, dan jika sama-sama jumlahnya misal laki-laki 1 perempuan 1 maka bagi jumlahnya.
Lain halnya dengan masalah poiligami, aliran ini menggunakan fungsi matematika. Dalam hal poligami, aliran ini mensyaratkan istri kedua, ketiga, dan keempat yaitu janda dan beranak kecil.

4.      Kuasi objektifis modernis
Aliran ini menggabungkan aliran satu dan kedua, tokohnya gracia dan gadamer. Makna Literal hanyalah starting point, sedangkan tujuan utamanya adalah maqasidusysyariah. Atau dengan istilah lain, penafsiran ini bercirikan tidak terikat makna literal (makna literal hanya sebagai pijakan awal) tetapi mengintrepretasikan Al Qur’an sesuai dengan konteks sosio historis tanpa meninggalkan spiritnya. Tokoh-tokoh terkenal lainnya yaitu Fazlur Rahman, Aminah Wadud, Abdullah Saeed, Nasr Hamid Abu Zaed, dan lainnya.
Contoh penafsirannya yaitu pada warisan, bagian 2:1 tidaklah penting, yang penting sesuai kebutuhan laki-laki dan perempuan. Ayat 2:1 pada masa nabi mungkin sudah adil, dimana pada zaman nabi, wanita awalnya sudah tidak dihargai lalu dihargai tanpa waris kemudian diberi waris setengah karena menganut patriakhi atau nafkah pada ayah. Beda dengan di barat yang egaliter dimana putra dan putri sama.

C.     Model Penafsiran
1.      Rasionalis pencerahan : Muhammad Abduh
2.      Saintifik pencerahan : Taumi Puhari . Contojh lain al manar Muhammad abduh yang mengartikan thoiron ababil sebagai kuman yang dibawa lalat.
3.      Sastra : dipandang sebagai karya sastra
4.      Pengembangann terbaru dari historis al Qur’an
5.      Pendekatan baru dalam penafsiran yaitu pendekatan sastra, historis, semiotic oleh Nasr Hamid Abu Zaid
6.      Semi tekstualis : Sayyid Qutb (Tafsir Fi Dzilalil Qur’an edisi pertama kontekstualis dan edisi kedua tekstualis)
7.      Tematik (realita – Al Qur’an dan Al Qur’an – realita)

D.    Contoh Penafsiran
Dialog antara Ibrahim dan ismail dalam menyampaikan mimpi tercantum dalam QS. Ash Shoffat ayat 102 yaitu adanya dialog pendekatan dialogis, setiap sesuatu harus ada komitmen, kesadaran dan kesiapan untuk mendapatkan ujian.
Maaf, footnote atau rujukan yang lebih komplit sementara kami simpan, sebab menghindari kasus plagiasi yang hanya kopi paste tanpa minta ijin pemiliknya yang sah, jika anda berminat untuk kepentingan keilmuan silahkan hubungi Dedi Wahyudi di 085726476495 . Selain itu, saya hanya ridho untuk memberikan ilmu ini pada anda jika anda minta ijin untuk menggunakannya, silahkan sms untuk minta ijin ke nomor tersebut. Terima kasih

halo...tanpa footnote ya

0   komentar

Silahkan kirim komentar anda!

Cancel Reply