Jogja Course Center

product 1

Jogja Course Center (JCC) sebagai lembaga yang memfasilitasi pemenuhan kebutuhan masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan potensi diri, serta mendukung dalam penguasaan dan penerapan ilmu bahasa asing dan komputer, dan ikut serta dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Info detail klik di sini.

Dinda Mustikawati

product 1

Situs Khusus Para Srikandi Penggoncang Dunia. Tempat berbagi info tentang pendidikan, pemberdayaan perempuan, fashion, kesehatan, dll. Silahkan klik di sini.

Iklan Anda

product 1

Pasanglah iklan Anda di sini. Ingsyallah membawa berkah. Apalagi menghidupi hamba Allah yang sedang belajar ilmu agama. Alasan lainnya klik di sini.

Dedi Wahyudi Siap Membangun Negeri Menuju Indonesia Digdaya 2030

Dedi Wahyudi Siap Membangun Negeri Menuju Indonesia Digdaya 2030

Podoluhur News

Dedi Wahyudi lagi sibuk garap tesis, mohon doanya semoga diberikan kemudahan oleh Allah, aamiin.
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم



HAKEKAT ILMU PENGETAHUAN
 Olwh Dedi Wahyudi, S.Pd.I

Ilmu secara etimologi, berasal dari bahasa arab yang terdiri atas tiga huruf yakniعلم  mengenal, memberi tanda dan petunjuk.[1] Ilmu secara terminologi adalah pengetahuan secara mutlak tentang sesuatu yang disusun secara sistematis menurut metode-metode tertentu dan dapat digunakan untuk merenungkan gejala-gejala tertentu di bidang pengetahuan.[2] Menurut Jujun, ilmu pengetahuan adalah salah satu buah pemikiran manusia dalam menjawab berbagai pertanyaan. Ilmu merupakan salah satu dari pengetahuan manusia. Untuk bisa menghargai ilmu maka kita harus mengerti apa hakekat ilmu itu sebenarnya.[3] Hal ini memberi petunjuk bahwa studi tentang keilmuan tidak akan berhenti untuk dipelajari bahkan berkembang sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Juga harus diakui bahwa sejarah perkembangan ilmu pengetahuan, tidak terlepas dari sejarah perkembangan filsafat ilmu, sehingga muncullah ilmuwan yang digolongkan sebagai filosof.
Filsafat ilmu yang dimaksud disini adalah sistem kebenaran ilmu sebagai hasil dari berfikir radikal, sistematis dan universal. Oleh karena itu, filsafat ilmu hadir sebagai upaya menata kembali peran dan fungsi ilmu pengetahuan dan teknologi sesuai dengan tujuannya yaitu memfokuskan diri terhadap kebahagiaan umat manusia. Dengan demikian kemajuan ilmu pengetahuan selama satu setengah abad terakhir ini, lebih banyak dari pada selama berabad-abad sebelumnya. Hal ini dikarenakan semakin berkembanya zaman, semakin berkembang pula sains dan teknologi.[4] Fenomena ini adalah kebangkitan kesadaran manusia untuk mengkaji ilmu pengetahuan.
Proses berpikir keilmuan terdapat dalam karangan “Dongeng tentang pasang” oleh W.M. Davis. Dia menjelaskan empat kaidah mental yang terdapat dalam suatu individu yang terlatih dalam ilmu pengetahuan atau proses berpikir keilmuan yaitu pertama menggunakan kekuatan pengamatannya untuk menemukan fakta-fakta alam, dan kecerdasannya untuk mengajukan berbagai hipotesis yang mungkin untuk menjelaskan fakta-fakta tersebut. Kemudian dengan mempergunakan logikanya dalam berpikir dia menemukan deduksi dari setiap hipotesis, sesuai dengan pengetahuan yang telah diperoleh sebelumnya, tentang apa yang terjhadi jika hipotesis itu benar. Karakter yang lain yaitu pembawaannya tidak berpihak dalam pengujian untuk memutuskan hipotesis yang mana, jika memang ada, yang kompeten untuk menjelaskan fakta-fakta itu. [5]
Kemudian keempat prinsip itu oleh Bertran Russel dijelaskan secara mendalam, menurut dia hakekat ilmu pengetahuan adalah bersifat derajat. Derajat tertinggi ditemukan dalam fakta persepsi, dan dalam keyakinan yang diberikan oleh argumentasi yang sangat sederhana. Derajat paling tinggi berikutnya adalah dalam ingatan yang terangbila sejumlah kepercayan adalah masing-masingsampai tahap tertentu dapat dipercaya, maka akan lebih dipercaya lagi jika mereka ternyata ditemukan bersifat koheren dalam keseluruhan yang logis. Prinsip-prinsip umum tentang penarikan kesimpulan, apakah itu deduktif biasanya tidak jelas contoh-contohnya dan merupakan penjabaran secara psikologis dari apa yang dapat diketahui dari contoh-contoh tersebut. Kiranya jangan dilupakan bahwa pertanyaan “ Apa yang kita maksud dengan pengetahuan?” bukanlah suatu yang bisa dijawab dengan pasti dan tidak samar-samar.[6]
Lalu hakikat ilmu pengetahuan dalam perspektif filsafat ilmu berdasarkan landasan ontologi sangat memiliki sifat yang terbuka yakni ilmu pengetahuan itu sangat bersifat umum tergantung ilmu pengetahuan yang didalaminya, akan tetapi ilmu pengetahuan itu dapat dinilai dari kepribadian seseorang. Ilmu pengetahuan yang dimiliki seseorang  sangat menentukan kehidupannya. [7]
Sedangkan dalam epistemologi atau teori pengetahuan, membahas secara mendalam segala proses yang terlihat dalam usaha kita untuk memperoleh pengetahuan.[8] Pada dasarnya ilmu pengetahuan yang diperoleh oleh manusia melalui akal dan indra sehingga mempunyai metode tersendiri dalam teori pengetahuan yaitu metode induktif, metode deduktif, metode positifisme, metode kontenplatif dan metode dialektis[9].
Menurut Amin Abdullah, dunia Islam berkembang pengetahuan rasional dan kasf, maka sisi inilah yang perlu diletakkan seccara proporsional dalam epistemologi Islam. Persoalannya adalah bagaimana memasukkan empirisme itu dalam paradigma epmikiran kita. Kita perlu mengembangkan empirisme dalam dimensi yang bermuatan spiritualitas dan moralitas. Dengan cara itu, diharapkan epistemologi Islam akan lahir dan memberi jawab atas kegelisahan  umat dewasa ini.[10]
    Kemudian kita mengenal aksiologi, aksiologi menurut bahasa berasal dari bahasa yunani "axios" yang berarti bermanfaat dan 'logos' berarti ilmu pengetahuan atau ajaran. Secara istilah, aksiologi adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakikat nilai yang ditinjau dari sudut kefilsafatan.[11]
Dari uraian di atas, Ilmu pengetahuan pun mendapatkan pedoman untuk bersikap penuh tanggung jawab, baik tanggung jawab ilmiah maupun tanggung jawab moral. Ilmu pengetahuan tidak dibenarkan untuk mengajarkan kebohongan, serta hal-hal negatif lainnya. Ilmu pengetahuan tersebut mengandung nilai yang bertujuan  terwujudnya kesejahteraan dan kebahagiaan umat manusia


halo...tanpa footnote ya
ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِين
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم



PENINDASAN KAPITALISME GLOBAL TERHADAP
PENDIDIKAN DI INDONESIA
(Refleksi Pemikiran Karl Marx tentang Penindasan)
Final paper ini dibuat untuk memenuhi tugas ujian akhir semester mata kuliah 
FILSAFAT ILMU : TOPIK-TOPIK EPISTEMOLOGI
Dosen Pengampu  : Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan, S.U
Penyusun: Dedi Wahyudi, S.Pd.I
  
JURUSAN PENDIDIKAN ISLAM
KONSENTRASI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
PROGRAM PASCA SARJANA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA
2013
BAB I
PENDAHULUAN

Manusia yang hidup dalam sebuah tatanan masyarakat yang kompleks, tidak akan pernah merasakan kedamaian. Dengan nafsu dan hasrat untuk mencari kebahagiaan, kadang manusia tidak lepas dari sikap anarkis, mengorbankan kepentingan orang lain, dan semangat untuk berkuasa. Anarkisme akan selalu ada dalam sejarah peradaban manusia. Anarkisme berwujud kekerasan fisik, mental, kultural, struktutaral, atau yang lainnya. Bahkan seorang filsuf besar seperti Socrates harus mendapatkan resikonya ketika berbeda dengan orang-orang yang hidup sezaman dengannya.
Anarkisme bukan saja dalam ranah agama, tetapi juga dalam hal yang lain seperti dalam perdagangan yang disebut kapitalisme. Kapitalisme selalu menghantui masyarakat kecil yang mengancam dengan kelaparan dan kemiskinan, bahkan untuk memuluskan jalan kapital para pedagang tidak segan-segan untuk menjadikan buruh-buruh mereka sebagai budak dan diberi upah yang kecil.
Muncullah banyak tokoh yang menentang akan tindakan anarkis yng menyebabkan rakyat mati kelaparan, anak-anak dalam usia sekolah harus bekerja, dan sebagainya. Salah satu tokoh yang kita bahas yaitu Karl Marx. Marx menemukan sebuah kepincangan yang terjadi dalam masyarakatnya, sebuah sistem yang tidak adil serta harus dilakukan perbaikan.
Sekarang ini, kapitalisme sudah berubah bentuk, lebih elegan sehingga masyarakat lebih tergiur akan janji-janji kemakmuran, kedamaian, kesejahteraan, yang ditawarkan oleh kapitalisme itu. Kapitalisme itu berwujud kapitalisme global, dimana menyerang dari berbagai sisi salah satunya adalah dunia pendidikan sehingga sering kita dengar kapitalisme pendidikan yang menyebabkan banyak rakyat negeri ini yang putus sekolah atau tidak mampu melanjutkan pendidikannya akibat dari mahalnya biaya pendidikan. Selain itu, dalam bidang ekonomi, para pemilik kapital tidak hanya menanamkan modalnya di negerinya sendiri tetapi juga di negeri orang lain, proses produksi dan pemasarannya menembus batas administratif dan geografis antar negara.[1]
Di negara-negara yang sudah terjangkiti virus kapitalisme global atau sering disebut globalisasi, masyarakat tidak mampu lagi menemukan hubungan krisis moral, ekonomi, kultural, dan spiritual yang melanda mereka dengan globalisasi.[2] Globalisasi memicu masyarakat untuk melakukan perubahan dalam berbagai sisi kehidupan sebab sebagian masyarakat selalu mensejajarkan pembangunan dengan perubahan sosial.[3] Sistem globalisasi tersebut penuh dengan paham dan ideologi kapitalisme.[4]
Sistem baru ini akan terus mencabut manusia dari hak-haknya, hanya untuk kepentingan yang berkuasa.[5] Kekagagalan sistem ini berupa terdapatnya berbagai bentuk ketimpangan dalam masyarakat baik ekonomi maupun pendidikan terjadi di berbagai negara salah satunya di Indonesia.[6] Akibat ketimpangan ekonomi dan sebagainya yang terjadi dalam masyarakat, mucullah kritik Marx terhadap kapitalisme. Kapitalisme tidak bisa diselesaikan kecuali dengan revolusioner.[7]
Dalam makalah ini, kami ingin mencoba dengan pendekatan sudut pandang filsafat ilmu akan membuka sebuah wacana tentang penindasan kapitalisme global terhadap pendidikan di Indonesia (refleksi pemikiran Karl Marx tentang penindasan) sebab filsafat merupakan keyakinan sistematis-metodologis bagi filosof perorangan, tidak ada institusi lahiriah yang dapat menjadi kaidah pemahaman ini kecuali argumen filosofis yang menyakinkan.[8]

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Riwayat Hidup Karl Marx.
Karl Heinrich Marx lahir pada tanggal 5 Mei 1818 di kota Trevivorum (Trier), Prusia Reineland. Ayahnya seorang pengacara  beragama Yahudi kemudian pindah ke Protestan pada tahun 1824 akibat situasi politik yang memaksa.[9]
Pada usia 17 tahun Marx menamatkan sekolah menengahnya di Treves kemudian menlanjutkan ke Fakultas Hukum Universitas Bonn. Kemudian pindah ke Universitas Berlin karena berminat ke filsafat. Marx termasuk dalam kelompok yang menaruh minat melakukan kritik terutama pada kritik agama.[10]
Pada usia 23 tahun, Marx mendapat gelar doctor bidang filsafat kemudian menjadi editor dalam majalah Cologne, Rheinischer Zeitung (Rhine Gazette), tulisan-tulisan Marx menunjukkan dia seorang liberal dan radikal. Ia banyak menulis tentang kebebasan pers dan perlindungan rakyat kelas bawah.[11] Marx pernah menjadi kepala redaksi dalam majalah ini, tetapi karena kritiknya yang tajam kepada pemerintah, maka majalah ini diberangus, kemudian dia ke Paris dan menulis majalah yang isinya kritikan keras kepada pemerintahan Jerman.[12]
Pada tahun 1848 Marx diundang ke Paris yang masa itu adalah masa-masa pergolakan karena gerakan revolusioner dengan cepat mendapat sambutan di seluruh Eropa. [13]
Teori revolusi Marx tidak dijalankan secara konsekuen oleh kaum buruh. Marx ditangkap dan diadil oleh Jerman kemudian dia lolos ke Perancis kemudian dibuang ke London dan menghabiskan sisa hidupnya di London. Perjalanan hidup Marx dipengaruhi oleh dua pemikiran filsuf yaitu George Wilhelm Frederick Hegel dan L. A. Feurbach.


B.     Karya-karya Marx dalam bidang Filsafat
Karena banyaknya karya Marx, kami hanya mampu menampilkan karya-karyanya dalam bidang filsafat, diantaranya yaitu:
1.      Uber die Differen der democratichen und Apukuraischen Naturphilophie, disertasi Mark untuk mencapai gelar doctor Ilmu Filsafat di Universitas Jena (1841).
2.      Criticsm of The Hegelian Philosophy of Law.
3.      Oekonomische-philosophische Ausgabe (1844)
4.      On the Jewish Question (1844)
5.      Contribution to Critique of Hegel’s Pholosophy of Right (1844)
6.      La misere de la Philosophie (1877) dan masih banyak karya lainnya yuang tidak dapat disebutkan di sini.

C.    Pemikiran Marx tentang Penindasan
Filsafat sosial tentang penindasan bermakna mempelajari realitas sosial yang ada dalam masyarakat khususnya kajian tentang penindasan sebagai wujud dari ketidak seimbangan interaksi dalam masyarakat. Marx pernah menulis tentang usaha kerjasama para birokrat dan kapital dengan cara kaum birokrat membuat undang-undang yang melindungi kepentingan kaum kapital dan merugikan kaum miskin tertindas. Penindasan merupakan memanfaatkan secara tiak adil demi suatu kepentingan. Penindasan juga menurut Marx sangat identik dengan penguasaan, jika manusia ingin hidup, maka dia harus produktif menguasa dunia di luar dirinya dengan tindakan mengekspresikan kekuasaan manusiawinya dan menguasai dunia dengan kekuasaan.[14]
Karl Marx membagi kelas sosial yang ada dalam masyarakat menjadi tiga yaitu kaum buruh (hidup dari upah), kaum pemilik modal (hidup dari laba), dan para tuan tanah (hidup dari rente tanah). kemudian membagi menjadi dua kelas yaitu kelas pemilik modal (borjuis) dan kelas pekerja (proletar). Kelas atas selalu identik dengan kelas penindas. Pekerjaan upah merupakan pekerjaan di mana seseorang menjual tenaga kerjanya demi memperoleh upah, kaum ini kaum tertindas (harapan dan hak mereka dirampas).[15]
Setelah membagi kelas, Marx mengkritisi berbagai kebijakan yang dilakukan negara dalam menindas rakyatnya. Kemudian. dalam perjalanan sejarahnya, Marx sangat menentang sistem kapitalisme global yang sekarang ini sudah berwujud berbagai bentuk kebudayaan manusia di hamper seluruh Negara, bukan hanya dalam bidan ekonomi, tetapi sudah memasuki wilayah social, politik, teknologi informasi, budaya, pendidikan, dan agama.
Dalam bidang teknologi informasi bahwa sebagian besar kebutuhan masyarakat hanya mampu dipenuhi oleh perusahaan multi nasional. Sehingga Negara berkembang seperti Indonesia akan selalu tergantung padany. Begitu pula dalam pendidikan, Negara Indonesia masih tergantung dengan pola dan sistem kepada negara-negara adi kuasa di dunia ini.
Ketergantungan negara-negara miskin dan berkembang kepada negara-negara industri pernah terjadi pada masa kapitalisme klasik, bahwa para buruh bekerja kepada kaum kapital karena para buruh tersebut tidak punya pilihan, demi kelangsungan hidup mereka, bahkan diantara para buruh itu adalah kaum terdidik. Hal ini dapat kita dijumpai di era modern, banyak buruh lulusan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Upah yang didapat tidak sesuai dengan jumlah nilai kopmoditi yang diberikan. Hal ini disebut dengan penindasan. Penindasan yang terjadi sekarang ini juga berbentuk internasionalisasi modal, melalui perusahaan-perusahaan luar negeri mengeruk kekayaan negara berkembang dan miskin. Perusahaan multi nasional mampu menggusur perusahaan lokal dalam persaingan pasar global, bahkan dalam dunia pendidikan. Sebuah instansi yang mempunyai modal banyak mampu mengalahkan instansi pendidikan yang miskin dan berkembang.
Kemiskinan dan kebodohan, serta rendahnya pendidikan dan kualitas pendidikan masyarakat di negara-negara berkembang termasuk Indonesia diakibatkan kurangnya penghasilan, kurangnya hak ekonomi, social, politik, dan kurangnya hak kebebasan yang diberikan negara kepada rakyat yang lemah. Kemiskinan yang ada di Indonesia dan negara berkembang lainnya untuk memperbaikinya adalah dengan memberi jaminan politik untuk setiap individu dalam mewujudkan kemampuan dan bakatnya baik di bidang hukum, ekonomi, pendidikan, agama, budaya, maupun lainnya.

D.    Implikasi Pemikiran Karl Marx tentang Penindasan dalam Bidang Pendidikan di Indonesia
Teori Karl Marx dalam hal penindasan jika kita tarik benang merahnya lalu kita terapkan dalam pendidikan di Indonesia maka pendidikan adalah hak setiap warga negara. Di Indonesia, kita sadar bahwa pendidikan masih menjadi kebutuhan nomor sekian dalam masyarakat. Sehingga banyak masyarakat yang bodoh dan tidak tahu kalau dirinya ditindas oleh negara dan kaum-kaum yang ekonomi kuat.
Selain alasan itu, mahalnya biaya pendidikan menjadi alasan kuat bahwa pemereintah bersama para pemegang modal melakukan penindasan kepada rakyatnya. Misalnya untuk masuk sekolah SD/SMP/SMA yang berkualitas, seseorang harus rela mengeluarkan puluhan juta demi mendapatkan pendidikan yang layak. Jika ada orang miskin yang tidak mampu membiayainya maka mereka tidak mampu sekolah. Namun, akhir-akhir ini muncul BOS (Biaya Operasional Siswa) yang menurut analisis penulis, itu hanya usaha pemerintah dalam menutupi kelemahannya dalam membendung kelompok kapitalis menindas rakyat. Tetap saja walaupun ada BOS, sekolah masih menarik iuran dari siswanya dengan alasan beli seragam, perbaikan gedung, dan seabrek alasan lainnya.
Untuk menjadi bisa kuliah di Fakultas Kedokteran UGM seorang calon mahasiswa harus menyiapkan uang ratusan juta. Hal ini sangat tidak mungkin dilakukan oleh seorang calon mahasiswa dari kalangan kaum bawah,. Walaupun mereka cerdasnya luar biasa, tetapi tetap kalah dengan mereka yang memiliki modal banyak walaupun dengan kecerdasan minim. Akhirnya, lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada dan universitas bergengsi lainnya sudah mampukah mewujudkan Tri Darma Perguruan Tingginya, ataukah mereka hanya sibuk mengumpulkan kembali rupiah yang telah mereka keluarkan selama pendidikan. Hasilnya bisa kita rasakan yaitu pendidikan, ekonomi, sosial, dan politik di Indonesia masih belum stabil masih anatara batas hidup dan mati.

maaf tanpa footne, coz ini riskan, halo sahabat pai, ada yang mau iseng kayake hehehehehhe
ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِين