Jogja Course Center

product 1

Jogja Course Center (JCC) sebagai lembaga yang memfasilitasi pemenuhan kebutuhan masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan potensi diri, serta mendukung dalam penguasaan dan penerapan ilmu bahasa asing dan komputer, dan ikut serta dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Info detail klik di sini.

Dinda Mustikawati

product 1

Situs Khusus Para Srikandi Penggoncang Dunia. Tempat berbagi info tentang pendidikan, pemberdayaan perempuan, fashion, kesehatan, dll. Silahkan klik di sini.

Iklan Anda

product 1

Pasanglah iklan Anda di sini. Ingsyallah membawa berkah. Apalagi menghidupi hamba Allah yang sedang belajar ilmu agama. Alasan lainnya klik di sini.

Watch Live Video

Live Stream

Dedi Wahyudi Siap Membangun Negeri Menuju Indonesia Digdaya 2030

Dedi Wahyudi Siap Membangun Negeri Menuju Indonesia Digdaya 2030

Podoluhur News

Dedi Wahyudi lagi sibuk garap tesis, mohon doanya semoga diberikan kemudahan oleh Allah, aamiin.
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم


Pemikiran para filsuf pasca UTS 7 soal pilih 4 saja
ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِين
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم


Kisi-kisi Ulangan Tengah Semester untuk mata kuliah Filsafat Umum Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta diantaranya sebagai berikut :
  1. Jelaskan Pengertian dan Ruang lingkup Filsafat?
  2. Jelaskan Pengertian Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi?
  3. Bagaimana perkembangan filsafat?
  4. Bagaimana interelasi filsafat, ilmu, agama, dan kebudayaan?
  5. Apa fungsi filsafat bagi pendidikan?


ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِين
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِين
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِين
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Artikel ini dibuat untuk memenuhi tugas sukarela mata kuliah Filsafat Umum
Dosen Pengampu : Drs. Abul Malik Usman, M.Ag
Disusun Oleh : Dedi Wahyudi 08410153 PAI F

Hermeneutika adalah sebuah istilah baru dalam dunia Islam yang yang menuai banyak kritik. Banyak ulama mengharamkan hermeneutik sebagai metode menafsirkan Al Quraan. Hermenetik berasal dari bahsa Yunani yaitu hermeneuon yang yang artinya menginterpretasi. Hermeneutik juga berasal dari bahasa Inggris yaitu hermeneutik artinya to interpretate atau menginterpretasikan.

Dahulu di Yunani dikenal Hermes atau penyampai pesan yaitu Dewa Yupiter sebagai hermes atau penyampai pesan Maha Dewa untuk umat manusia yang bahasanya sudah bahasa manusia.

Dalam Islam hermeneutik sudah ada sejak Nabi Idris. Dia sebagai penjahit. Pekerjaan penjahit yaitu memintal benang dan menjahitnya sehingga jadi pakaian. Kegiatan memintal benang disebut teger yang produknya berupa textile atau textus yang berkembang menjadi text.

Beda hermeneutik dengan teori kenabian yaitu untuk teori kenabian mengatakan bahwa Nabi Muhammad SAW menerima wahyu dari Alloh melalui malaikat Jibril secara pasif dalam arti hanya menerima dan menghafal serta menyampaikan kepada umat manusia. Sedangkan hermeneutik bedanya setelah dicatat secara verbatim atau tex maka ditempatkan pada situasi tertentu.

Orang-orang banyak yang menolak dan menerima hermeneutik sebagai salah satu metode tafsir Al Quraan, ada tiga golongan manusia yaitu:
1. Hermeneutik diharamkan 100% sebab berpandangan hermeneutik berasal dari teks Bible.
2. Sarjana muslim yang membolehkan 100%
3. Ada yang ditengah-tengah

Dalam mengkaji kita mengenal 4 hal yaitu :
1. Hermenoise atau praktek penafsiran.
Saap para khotib khotbah jum’at lalu dia menyamp[aikan sebuah ayat dan dia menjelaskan ayat itu secara detail maka dia dinamakan sedang melakukan hermenoise. Hermenoise ada di kebudayaan barat dan Islam atau seringnya kita menyebut ta’wil.Hermenoise berlaku untuk semua teks baik Al Quraan maupun Al Hadis. Teks dibaca dan dicerna oleh kita dan keluar melalui tulisan atau lisan dan dilakukan secara sadar atau tidak sadar dinamakan hermenoise
2. Hermeneutik yaitu saat orang berbicara mengenai metode penafsiran misalnya memperhatikan asbabun nuzul, linguistic, dan lainnya.
Kalau ada orang yang menolak istilah hermeneutik berasal dari Bible itu salah sebab jika kita cari dari A-Z tidak akan ditemukan istilah itu. Begitun juga dengan kata ulumul quran tidak ada dalam Al Quraan . Allah tidak memerintah kita untuk menafsirklan Alquran dengan metode ulumul quran saja. Jika kita mengatakan bahwa istilah hermeneutik berasal dari Bible berarti kitra menganggap bahwa ulumul quran tercantum dalam Al Quraan.
Awalnya hermeneutik bukan untuk kitab suci tetapi tetapi untuk menafsirkan mitos-mitos yang berkembang pada saat itu di Yunani.
Alangkah baiknya jika memahami hermeneutik secara substansinya bukan hanya sekedar arti katanya saja.
Pada awalnya Kitab Taurat ditafsirkan secara letter lux tetapi akhirnya di maknai lagi oleh kristiani memakai metode hermeneutik.
3. Hermeneutik filosofis. Hermeneutik berusaha mencari pondasi terkuat dari penafsiran teks.
4. Filsafat hermeneutik menempatkan interpretasi terhadap teks yang merupakan objek pemikirannya serta menempatkan manusia manusia sebagai penafsir

Jika kita menjadikan suatu metode tafsirnya sebagai metode tafsir terbaik maka kita sama artinya sebagai creator atau pengarangnya.

Jika Islam ingin maju maka alangkah baiknya jika kita mencontoh Negara barat. Dahulu barat belajar filsafat yunani dari orang islam cendekia-cendekia muslim dan sekarang menjadi maju kenapa kita tidak mencontoh cara berpikir mereka. Ambillah yang positif. Bahkan ada yang mengharamkan untuk belaqjar dari barat. Apa alasannya?

Al Quraan turun secara maknawi ataukah verbaltim atau lafad sebab Rasullullah memperbolehkan sahabatnya membaca Al Quraan sesuai dialeknya atau dikenal Qiraatussab’ah. Intinya hal itu masih menjadi perdebatan ulama. Para mufasir hanya menafsirkan kearah yang lebih baik.
Hermeneutik itu sangatlah baik dan merupakan pelengkap dari ulumul quran. Quraish shihab juga menyetujuinya.

Alasan mengapa perlu memakai hermeneutik :
1. Tradisi islam sebenarnya sudah memakai sistem hermeneutik yaitu sama-sama suka menggali ilmu.
2. Ulumul Quraan dan hermeneutik sama yaitu objek kajiannya berupa teks.
3. Banyak teori hermeneutik dari barat yang menguatkan Ulumul Quraan seperti ulumul Quraan perlu tahu asbabun nuzul begitu juga hermeneutik Gadamer yaitu sadar akan sejarah.
4. Penafsiran didasarkan pada perkembangan zaman.

Hermeneutik tidak meremehkan ulumul Quraan sebab saling menyempurnakan . Ada hermeneutik semiotic yaitu symbol. Contohnya dalah QS.Al Kahfii ada banyak kisah bercampur maka hermeneutik berhasil menjawab yaitu meskipun Al Quraan itu bermacam macam tema tetapi diikat oleh suatu rangkaian kisah yang dibahasakan semantic atau teologia. Dalam QS Al Kahfii itu kita tahu bahwa ada beberapa tipe muslim yaitu penidur yang digambarkan ashabul kahfi yang tidur pasif, proto muslim yang digambarkan oleh pemilik kebun anggur yang beriman, pahlawan yang digamrakan nabi isa karena merasa palingh hebat, lalu mistik yang digambarkan oleh nabi Khidir As serta anti pahlawan yang digambarkan oleh ya’juj ma’juj.

Dalam berhermeneutik kita tidak bias memasuki psikologi Alloh. Hanya sebagian kecilnya saja maka hermeneutik schemeicher ditinggalkan atau tidak sesuai untuk hermeneutik Al Quraan.

Dalam menafsirkan secara hermeneutik kita tidak boleh menafsirkan secara generalisir misalnya saya adalah NU maka tafsirlah yang sesuai NU atau Muhammadiyah, Persis, Hizbut tahrir dan sebagainya. Itu namanya memaksa Al Quraan untuk berbicara.

Kajian hermeneutik hanya dikalangan mahasiswa, dosen, ulama, dan ilmuwan sebab untuk masyarakat biasa atau awam masih sangat aneh kedengarannya. Maqka kita hanya butuh waktu untuk mengajarkannya kepada masyarakat awam.

Jika sampai saat ini masih ada kyai yang menolak metode tafsir hermeneutik karena alas an berasal dari model Kristen maka berarti kyai itu atau orang itu belum punya kesempatan untuk mempelajari hermeneutik ini sebab untuk mempelqajarinya menyita sedikit waktu agar tidak terjadi kesalahpahaman. Janganlah menganggap suatu tafsir itu menjadi tafsir yang terbaik sebab saat itu pula anda mendeklarasikan penafsir tafsir tersebut sebagai pengarang.

Sumber:
Palmer, Richard E. Hermeneutika Teori Baru Mengenal Interpretasi. 2005.Yogyakarta:Pustaka Pelajar
Louis A. Katsof (penerjemah Soejono Soekamto), 2004, Pengantar filsafat,Yogyakarta:Tiara Wacana Yogya
Syahiron Syamsudin Dkk, Hermeneutika Al Quraan
Bedah buku “ Hermeneutik Alquraan?” karangan Dr. Hasan Hanafi dengan pembicara: Prof. K.Yudian Whyudi Asmin, Ph.D dan Dr. Phil. K.Sahiron Syamsudin, MA di Ruang Teatrikal Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta hari Senin 25 Mei 2009.


ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِين
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah  
FILSAFAT UMUM
Dosen Pengampu : Drs.Malik Usman. M.Ag

Disusun Oleh :
DEDI WAHYUDI 08410153
RINA ELVIYANI 08410185
YULI LESTARI 08410169
WAHYU BEKTI UTAMI 08410152
MUH.ALIF KURNIAWAN 08410182
DALUTI DELIMANUGARI 08410183
MELLA RAHMAWATI 08410148
AISYIYAH 08410154
ROHANA FITRIA 084101
AMRI EVIYANTI 08410

Kelas : PAI F
Jurusan/Prodi : Pendidikan Agama Islam 


FAKULTAS TARBIYAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2009

Daftar Isi
Daftar Isi 2
1. Pendahuluan 3
1.1 Latar Belakang Masalah 3
1.2 Masalah atau Topik Bahasan Makalah 3
1.3 Tujuan Penulisan Makalah 3
2. Pembahasan 4
2.1 Pembahasan 4
2.2 Filsafat Yunani 4
2.3 Tokoh-tokoh filsafat Yunani 5
3. Penutup 19
3.1 Kesimpulan dan Analisa 19
3.2 Penutup 19
Daftar Pustaka 20

Bab I
Pendahuluan 

1.1 Latar Belakang Masalah
Filsafat berakar dari peradaban Yunani. Setiap peradaban memiliki kebijaksanaan dan pemikiran sendiri Namun Yunani merupakan peradaban yang banyak menuliskan hasil pemikirannya lewat para tokoh filsafatnya yang terkenal sampai sekarang seperti Thales, Sokrates, Phytagoras dan sebagainya, sehingga saat ini filsafat yang berkembang adalah filsafat yang berasal dari bangsa Yunani. 

1.2 Masalah atau Topik Bahasan Makalah 
Masalah yang akan kami bahas yaitu perkembangan dan tokoh-tokoh filsafat Yunani.
   
1.3 Tujuan Penulisan Makalah  
  Makalah ini dimaksudkan untuk membahas tentang perkembangan dan tokoh-tokoh filsafat Yunani serta untuk memenuhi tugas mata kuliah Filsafat Umum.


BAB 2
PEMBAHASAN

1. Filsafat 
Kata filsafat dari bahasa Yunani yaitu philosophia. Dalam bahasa ini, kata ini merupakan kata majemuk dan berasal dari kata-kata (philia = persahabatan, cinta dsb.) dan (sophia = "kebijaksanaan"). Sehingga arti harafiahnya adalah seorang “pencinta kebijaksanaan”. Filsafat adalah studi yang mempelajari semua hal tentang kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis. Filsafat merupakan hasil perenungan kefilsafatan. . 
Filsafat muncul ketika orang-orang mulai memikirkan dan berdiskusi akan keadaan alam, dunia, dan lingkungan di sekitar mereka dan tidak menggantungkan diri kepada [agama] lagi untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini.

2. Filsafat Yunani
Filsafat Yunani dalam sejarah filsafat merupakan tonggak pangkal munculnya filsafat. Filsuf-filsuf pada masa Yunani adalah orang yang mulai melepaskan diri dari mitos-mitos dan mencari pertanggungjawaban yang rasional daripada kenyataan mencari apa yang tetap dan kekal dalam kenyataan yang berubah-ubah. Pertama, pada bangsa Yunani, terdapat suatu mitologi yang kaya serta luas. Mitologi ini dapat dianggap sebagai perintis yang mendahului filsafat, karena mite-mite merupakan percobaan untuk mengerti. 
Melalui mite manusia mencari keterangan tentang asal-usul alam semesta dan tentang kejadian yang berlangsung di dalamnya. Mite mencari keterangan tentang asal-usul alam semesta sendiri disebut mite kasinogaris Sedangkan tentang asal-usul alam semesta serta sifat kejadian-kejadian dalam alam semesta disebut mite kosmologis. Masyarakat Yunani mengadakan beberapa usaha untuk menyusun mite-mite yang diceritakan oleh rakyat menjadi suatu keseluruhan yang sistematis, mereka sudah menyatakan keinginan mengerti hubungan mite-mite satu sama lain. 
Awal pergumulan akal dengan mite-mite ini terjadi pada kira-kira abad ke 6 SM, akhirnya di wilayah Yunani muncullah pemikir-pemikir yang disebut filsuf alam. Dinamakan demikian karena objek yang dijadikan pokok persoalan adalah mengenai alam (kosmos). Tujuan filosofi mereka adalah memikirkan soal alam besar darimana terjadinya alam, itulah yang menjadi sentral persoalan bagi mereka

3. Tokoh-tokoh filsafat Yunani antara lain yaitu :
1. Filsafat Yunani pra-Sokrates : filsafat alam mencari penjelasan daripada alam, Khususnya terjadi segala-galanya dari prinsip pertama charce.
A. Filsuf pertama dari miletos 
Ketiga filsuf yang pertama : Thales (625-545 SM), Anaximandros (610-540SM), dan Anaximenes (538-480 SM) yang bertempat tinggal di Milletos. Pada awal abad ke-6 SM, Milletoslah yang menjadi tempat lahir untuk filsafat dan bukan kota lain. Kota ini letaknya di bagian selatan pesisir Asia Kecil.

1. THALES (625-545 SM)
Seorang filosof pertama, gelar yang diberikan oleh Aristoteles. Ia seorang saudagar yang sering berlayar ke negeri Mesir dan menemukan ilmu ukur dari mesir dan membawanya ke Yunani. Diceritakan pula bahwa dia juga ahli politik yang terkenal dari Milletos. Dia juga berhasil meramal gerhana matahari pada tanggal 28 Mei 585 SM. Karena hal itu dia dikenal sebagai ahli astronomi dan metafisika. Beberapa penemuan Thales menggiring cara berpikir manusia dari mitos-mitos kepada alam nyata yang empiris.
Sumber utama ajaran Thales yang diungkapkan oleh Aristoteles sebagaimana pendapatnya mengenai metafisika, Aristoteles menyatakan bahwa Thales adalah orang pertama yang memikirkan tentang asal-muasal terjadinya alam semesta ini. Menurut Thales asal mula alam semesta ini adalah air. Air adalah pusat , sumber, dasar (principle) segala-galanya. Segala sesuatu yang berasal dari air dan kembali menjadi air pula. 
Argumen Thales merupakan argument yang bukan hanya rasional tetapi observatif, meskipun pada zamannya belum lahir ilmu pengetahuan yang segala sesuatu baru dinyatakan benar jika telah terbukti secara empirik dan observatif. Pandangan Thales merupakan cara berpikir yang sangat tinggi karena sebelumnya orang Yunani sering mengambil jawaban tentang alam dengan kepercayaan dan mitos yang dipenuhi dengan ketahayulan. Thales telah membuka alam pikiran dan keyakinan tentang alam serta asal muasalnya. Tanpa menunggu hadirnya penemuan ilmiah dan dalil-dalil agamais. 
Naluriah imannya Thales yaitu animisme, yang mempercayai bahwa bukan hanya yang hidup saja yang memilki jiwa tetapi juga benda mati mempunyai jiwa. Aristoteles menamakan pendapat Thales yang menyatakan bahwa jagat ini mempunyai jiwa. Sering kali itu disebut dengan hylezoisme yaitu teori mengenai materi yang hidup. 
Thales disebut bapak filsafat Yunani sebab dialah filosof yangpertama, ia tak akan pernah meninggalkan pelajaran yang dituliskannya sendiri. Filosofinya diajarkan dari mulut ke mulut. Baru Aristoteles menuliskannya kemudian. 

2. ANAXIMANDROS (610-547 SM)
Dia salah satu murid Thales. Usianya 15 tahun lebih muda dari Thales tetapi meninggal 2 tahun lebih dulu dari Thales. Dia adalah orang yang berjasa dalam dunia astronomi dan geografi sebab dia orang pertama yang membuat peta. Anaximandros juga mencari prinsip terakhir yang dapat memberikan pengertian mengenai kejadian-kejadian dalam alam semesta. Menurutnya segala sesuatu itu berasal dari to opeiron yaitu yang tak terbatas, sesuatu yang tak terhingga, opeiron itu sebagai prinsip yang fundamental. Opeiron adalah barang yang asal yang tidak berhingga dan tiada keputusan itu mustahil bagi salah satu dari barang yang berakhir itu. 
Anaximandros menerangkan bagaimana dari apeiron timbul alam semesta yang bermula dari keluarlah yang panas dan yang dingin. Yang panas membalut yang dingin sehingga yangdingin itu terkandung di dalamnya. Dari yang dingin itu terjadilah yang cair dan yang beku, yang beku inilah yang kemudian menjadi bumi.  
Sebagai filosof ia mempunyai pandangan bahwa alam adalah satu tetapi prinsip dasar tentang alam itu berasal dari jenis yang tak terhitung dan tak terbatas (apeiron). Sifat-sifat yang diberikan Anaximandros tentang apeiron yaitu sesuatu zat yang tak terhingga, tak terbatas, dan tak dapat diserupakan dengan alam. Pemahaman tentang operion dapat dianalogikan dengan pandangan orang muslim tentang Tuhan. Inilah kesimpulan hokum dunia menurut Anaximandros, disini nampak kelebihannya daripada gurunya, selagi Thales berpendapat bahwa barang yang asal itu salah satu dari yang lahir, yang tampak, yang berhingga juga, Anaximandros meletakkannya di luar alam yang memberikan sifat yang tiada berhingga padanya dengan tiada dapat diserupai.
Selain itu, menurutnya bumi berbentuk silinder dan lebarnya tiga kali tingginya. Bumi itu tidak dapat jatuh sebab bumi kedudukannya sebagai pusat jagat raya . 

3. ANAXIMENES (585-524 SM)
 Dia adalah murid Anaximandros yang secara substansial pemahamannya tentang alam tidak berbeda dengan gurunya. Anaximenes mengajarkan asal dari alam ini satu dan tidak terhingga hanya saja dia tidak dapat menerima aximenes bahwa yang asal itu tidak ada persamaannya dengan bartang yang lahir dan tidak dapat dirupakan. Baginya yang asal mestilah satu dari yang ada dan yang nampak. Barang yang asal itu adalah udara, udara itulah yang satu dan tidak berharga.  
 Berpendapat bahwa prinsip yang merupakan asal-usul segala sesuatu yaitu udara. Menurutnya jiwa menjamin kesatuan tubuh kita demikianpun udara meliputi segala-galanya. Jiwa sendiri juga tidak lain dari udara saja yang dipupuk dengan bernafas Mka dia merupakan yang pertama berpikir persamaan antara tubuh manusia dan jagat raya. Pandangan tersebut didasarkan atas alasan: 
1. Udara terdapat dimana-mana, dunia itu diliputi oleh udara, tidak ada satu ruanganpun tidak terdapat udara didalamnya maka udara itu tidak ada habisnya. 
2. Keistimewaan udara yaitu senantiasa bergerak olehkarena itu udara memegang peranan yang penting dalam berbagai perubahan dalam ala mini.
3. Udara adalah unsur kehidupan karena tak ada sesuatupun yang hidup tanpa udara. 
Mengenai terjadinya alam ini semuanya terjadi karena udara. Gerak udaralah yang menjadi sebabnya. Jika udara jarang maka terjadilah api. Jika rapat terjadilat angina dan awan, jika udara bertambah rapat lagi turunlah hujan dari awan itu. Dari pandangan dan hasil perenungan filosof pertama dari Milethos dapat disimpulkan 
a. Alam semesta merupakan keseluruhan yang mempunyai dasar atas asal yang satu 
b. Alam semesta ini dikuasai oleh hukum, kejadiannya tidak terjadi secara kebetulan melainkan ada semacam keharusan di belakang kejadian-kejadian itu.
c. Akibatnya, alam semesta kita ini merup[akan kosmos (alam yang teratur )
Anaximenes merupakan filosof alam terakhir dari kota milethos, sesudah ia meninggal maka berakhirlah filosof dari kiota itu.

B. Filsuf-filsuf lain 
1. PHYTAGORAS
Pada tahun 530 SM, seorang dari Italia menetap dikota Kroton Krovena orang Greek berangsur-angsur mencari tempat kediaman. Di kota itu didirikan sebuah perkumpulan agama,yang biasa disebut kaum Phytagoras. Perkumpulan itu menjadi sebuah torikot, mereka diam dan menyisihkan diri dari masyarakat dan hidup selalu dengan amal ibadah. Menurut berbagai keterangan Phytagoras terpengaruh oleh hal yang mistik yang berkembang pada saat itu di Yunani, yang bernama Orvisisme Ujung yang terikat Phyta, ialah mendidik kebatinan dan mengikat ruh. Phyta percaya akan kepindahan jiwa dari mahluk yang sekarang kepada mahluk yang akan datang. Apabila seseorang meninggal maka jiwanya akan kembali ke dunia, masuk dalam badan salah satu hewan. Menurut kepercayaan Phyta, manusia itu asalnya Tuhan, jiwa itu adalah penjelmaan dari Tuhan, yang jatuh ke dunia karena berdosa dan akan kembali lagi kelangit bila sudah habis dicuci dosanya. Dengan hidup murni tetapi prosesnya berangsur-angsur. Untuk hidup murni harslah orang mematangkan makan daging dan kacang. Menurut kepercayaan Phyta itu menjadi penganjur vegetarisme, makan sayur-sayuran dan buah-buahan saja. Menurut kepercayaan kaum Phyta setiap orang harus bertanggung jawab dalam hatinya tentang perbuatannya sehari-hari. Hidup di dunia menurut paham Phyta, adalah persediaan untuk akhirat, sebab itu semua dikerjakan untuk kemudian. Phyta sendiri tidak meninggalka ajaran yang tertulis, apa yang keliuar dari mulut sendiri susah memisahkannya dari yang dari yang ditambahkan oleh murid-muridnya . orang hanya tahu bahwa Phyta lebih besar pengaruhnya karena dipandang sebagai dewa. Jadi apa yang dikatakannya selalu benar walaupun sebenarnya salah. Selain ahli mistik Phytagoras juga sebagai ahli fikir terutama dalam ilmu matematik dan ilmu hitung sehingga ia tersohor namanya. Filsafah pemikirannya banyak diilhami oleh rahasia angka-angka, ia beranggapan bahwa hakikat segala sesuatu adalah angka. Dunia angka adalah dunia kepastian dan dunia ini erat hubungannya dengan dunia bentuk. Ilmu angka dan ilmu bentuk adalah satu-satunya ilmu pasti atau pure matematiks.
Dunia ilmu pasti adalah dunia kesempurnaan,contohnya: kebenaran = +2ab+ adalah pasti. Ilmu ukur mengajarkan langkah mutlak bulat, namun dalam alam kenyatannya tidak kita lingkaran yang mutlak bulat. Alam dunia itu penuh kekurangan hanya hanya TUhanlah yang penuh kesempurnaan.
Dalam ilmu kalam dan theology zaman pertengahan pikiran Phytagoras sangat berpengaruh sehingga pembuktian adanya Tuhanpun didasarkan pada logika dan ilmu pasti. Kita mengenal sifat Tuhan yang wajib atau pasti dan kebalikannya sifat mustahil, dan ada satu lagi yaitu sifat mungkin.
Cara berfikir demikian adalah berdasarkan ilmu ukur berdasar ilmu pasti atau ilmu pure mathematies yang tidak mungkin terjadi kebenarannya dalam dunia kenyataan .
Sejak zaman Phytagoras, pemikiran matematika menguasai segala bidang, menentang kebenaran akal namun cara pemikiran ini tetap berpengaruh Karena orang tidak mudah mencintai dunia yang ada, dunia yang penuh dengan kepalsuan, kemunafikan dan kegagalan yang pahit kata Phyta, bahwa “all things are numbers”, tampak seolah-olah omong kosongbelaka, akan tetapi justru ajaran itulah yang menjadi segala pokok pangkal ilmu/ hakikat ilmupasti, teologi, mistik, tasyawuf semakin baru kegagalan yang ditemui oleh orang dalam hidupnya sehari-hari, semakin besar kesediaan dia untuk terbang dari dunia kebendaan dan merindukan kepada sesuatu yang hakiki dan abadi, semakin besar kesediaannya untuk menerima barang kramat atau mistik. Dari sini dapat dilihat kecakapan dia dalam matematis mempengaruhi terhadap pemikiran filsafatnya, sehingga pada segala keadaania melihat dari angka-angka dan segala keadaan merupakan paduan dari unsure angka

2. PARMENIDES 540-473 SM
Ta dilahirkan pada tahun 540 SM di Elea, Italy selatan. Di kota kelahirannya ia dikenal sebagai orang besar. Ia ahli dalam politik dan pernah memangku jabatan dalam pemerintahan, namun ia lebih terkenal baku karena jabatannya tapi karena ahli pikir yang melebihi siapapun juga pada masanya. Kebenaran adalah sesuatu , namun berbeda dari orang yang mengatakannya. Ada tiga cara berfikir tentang Tuhan:
1. Ada
2. Tidak ada
3. Ada dan tidak ada
Yang benar ialah ada (1) tidak mungkin ada keyakinan yang tidak ada, (2) sebagai ada karena yang tidak mungkin Tuhan itu ada dan sekaligus tidak ada. Jadi benar tidaknya suatu pendapat diukur dengan logika. Untuk mencapai kebenaran kita tidak dapat berpedoman dengan penglihatan yang menampakkan kepada kita “yang banyak” dan “yang berubah-ubah”, hanya akal yangadapat mengatakan bahwa “yang ada” itu “ mesti ada” serta mengakui bahwa “yang ada” itu “mustahil ada”. Bulan adalah tanda yang sempurna bagi parmenilu. Ajaran Parmenides, yang berpokok pada yang “satu” dan “tetap”, bertentangan dengan ajaran Heroklitos. Heroklitos adalah nabi yang bergerak senantiasa, yang selalu dalam kejadian Parmenidas nabi dari yang tidak berubah-ubah. Bangun dunia Heroklitos dinamis, Dunia Parmenides statis. Ajaran Parmenides banyak yang tidak memuaskan bagi orang yang semasa dengan dia, banyak keterangan yang bertentangan tampaknya dengan yang lahir, sebab banyak orang yang membantah. 

3. DEMOKRITOS
Demokritos lahir di kota Abdera Pesisir Thrake Yunani Utara (460-370 SM). Demokratis tidak dipengaruhi oleh filsafat gaya baru yang berkembang di Athena dalam kalangan Sokrates, dari lain pihak, di Athena rupanya filsafat Demokritas cukup lama tidak dikenal. Menurut Leukippos dan Demokritos jumlah atom tidah terhingga. Atom-atom yang dikaitkan bergerak dengan gerak putting beliung, makin lama makin banyak atom mengambil bagian dari gerak itu, dan badan-badan Qu yang lebih halus dilontarkan ketepinya. Demikianlah kosmos kita dibentuk dan dengan cara ini banyak dunia yang ditimbulkan menurut Demokritas jiwa terdiri dari atom-atom. 

4. PROTAGORAS
Lahir kira-kira pada tahun 485 SM di kota Abdera Pesisir Thrake, Yunani Utara. Dalam bukunya “Aletheia” (kebenaran) terdapat tuturan Photagoras yang isinya “ Manusia adalah ukuran dari segala-galanya untuk hal-hal yang ada sehingga mereka ada dan hal-hal yang tidak ada sehingga mereka tidak ada”. Hal ini bisa disebut retavilisme.
Protagoras berpendapat bahwa Negara tidak berdasarkan kodrat, melainkan diadakan oleh manusia itu sendiri, ia juga berpendapat tentang allah-allah, boleh disbut sesuatu skeptisisme (tidak mungkin mencapai kebenaran). 

5. ZENO ( 490 SM)
Zeno lahir pada tahun 490 SM di Elea. Ia menjadi terkenal karena ketangkasan perkataan dan ketajaman pikirannya. Zeno merupakan salah satu murid Parmanides, ia mempertahanka filsafat gurunya tidak dengan menyambung keterangan atau menambahkannya akan tetapi mengembalikan keterangan terhadap dalil-dalil orang yang membantah gurunya, ia menyatakan jika keterangan orang yang membantah dinyatakan salah maka pendirian gurunya benar dengan sendirinya. Oleh banyak filosof ia dianggap banyak merelatifka kebenaran yang telah mapan terhadap paham yang menyatakan yang bergerak itu ada.
Zeno mengemukakan 4 pasal yaitu:
1. Suatu gerakan tidak bisa bermula, sebab tiap-tiap badan tidak bisa sampai kepada suatu tempat atau titik yang dilaluinya.
2. Achilleus yang cepat seperti kilat tidak dapat mengejar penyu yang begitu lambat jalannya, sebab apabila ia tiba ditempat penyu, dia sudah maj sedikit kemuka.
3. Anak panah yang dipanahkan dari busurnya tidak bergerak, tetapi berhenti sebabsetiap saat ia berada pada suatu tempat yang mana pada suatu tempat itu maknanya berhenti.
4. Setengah waktu sama dengan sepenuh waktu. 
Betapapun juga, dalil-dalil yang di kemukakan Zeno itu kembali dipersoalkan oleh ahli-ahli piker dalam abad ke-17 dan 18.

6. GORGIAS ( 427 SM)
Sejarah kehidupannya kurang diketahui dengan jelas, ada keterangan pada tahun 427 SM dari Leontini ia pergi ke Atena. 
Pandangan falsafahnya ia mengajukan tiga proporsi sebagai kesimpulan falsafah darinya:
1. Tidak ada yang ada, maksudnya realitas itu sebenarnya itu tidak ada.
2. Akal juga tidak mampu meyakinkan kita tentang bahan alam semesta ini
3. Realitas itu dapat diketahui, namun ia tidak akan dapat diberitahukan pada orang lain.
Demikian cara Goreias mengambil sendi bagi uraiannya kepada filosof Elea. Dengan dalil-dalil semacam itu, yang dikeluarkan dengan Retoriela, diajarkannya orang meniadakan segala-galanya.

7. HERAKLEITOS
Herakleitos hidup di Ephesos di Asia Kecil sekitar tahu 500 SM. Herakleitos diberi julukan “si gelap” (ho skoteinos) karena sulit sekali mengerti maksud dan fikirannya. Gaya bahasa Herakleitos menimbulkan kesan, wataknya tinggi hati dan sombong.
Inti pemikiran dari Herakleitos, boleh ditunjukan keyakinannya bahwa setiap benda terdiri dari hal-hal yang saling berlawanan dan hal-hal yang berlawanan itu tetap mempunyai kesatuan
Herakleitos menyatakan “ engkau tidak dapat terjun ke sungai yang sama dua kali karena sungai itu mengalir”. Pernyataan semua mengalir berarti semua berubah bukanlah pernyataan yang sederhana. Pernyataan itu mengandung pengertian bahwa kebenaran selalu berubah. Pengertian adil dalam hal ini belum tente benar besok. Pandangan ini merupakan warna dasar Filsafat Sofisme.


8. XENOPHANES
Dalam tradisi Yunani diceritakan bahwa Xenophanes mengarang suatu syair ketika Elea, kota perantauan di Italia Selatan mengabadikan peristiwa sejarah itu. Plato dalam dialognya Sophistes mengatakan bahwa madzhab filusuf-filusufdari Elea “Unulai dengan Xenophanes, bahkan lebih dulu”. Perkataan ini merupakan titik tolak bagi tanggapan yang lazim dalam tradisi Yunani yaitu bahwa Xenophanes adalah pendiri madzhab Elea. Xenophanes bukanlah filusuf yang sebenarnya, ia adalah seorang penyair yang sifatnya kritis dan berkenalan dengan fikiran-fikiran filsafatpada waktu itu, kritiknya tampak terutama dalam bidang agama. 
Nama Xenophanes menjadi terkenal karena untuk pertama kalinyadalam sejarah Yunani, dialah yang mensinyalir konflik yang sedang berlangsung antara pemikiran filsafat dan tanggapan-tanggapan mitologis yang tradisional. Dengan kritiknya Xenophanes terutama menentang Hemeros dan Hesiodos, kedua penyair Yunani tersebutmengenakan kepada Allah-Allah, berbagai perbuatan yang memalukan seperti pencurian, berzina dan penipuan. Xenophanes menginsyafi adanya hubungan antara anggapan etis yang ideal dalam bidang etis dengan kritik lain, Xenophanes membantah Antropomorfisme Allah-Allah, artinya tanggapan bahawa seakan-akan Allah adalah manusia. Ia mengatakan bahwa manusia cenderung berfikir bahwa allah-allah dilahirkan seperti halnya dengan manusia. Dapat disimpulkan bahwa menurut dia, Allah tidak mempunyai permulaan dalam arti kekal dan menururnya pengetahuan tentang Allah, tidak pernah pasti.
Xenophanes menyangka bahawa bumi tersimpul dalam proses peredaranyang selalu berlangsung terus. Tanah menjadi lumpur, lalu menjadi air laut, sebaliknya laut menjadi lumpur lalu menjadi tanah yang menarik bahwa untuk itu ia menunjuk kepada bukti yang empiris

2 Filsafat Klasik
1 SOKRATES
Kehadiran filosof Yunani klasiksama dengan kehadiran raksasa yang menggoncang bumi berbagai pandangan para filosof Yunani. Merupakan motifasi kuat intuk bangkit kembalidari ilmu pengetahuan yang sangat lemah. Sokates lahir di Athena pada tahun 470 SM dan meninggal 399 SM. Filsafatnya adalah suatu reaksi dan suatu kritik terhadap pemikiran kaum Sofis. Sokrates pernah dimasukkan dalam penjara karena pendapat dan ajarannya. Adapun alsafah pemikiran Sokrates diantaranya adalah pernyataan adanya kebenaran positif yaitu yang tidak bergantung kepada aku dan kita. Dalam membenarkan kebenarannya Sokrates menggunakan metode-metode tertentu yang dikenal dengan metode dialektika (bercakap-cakap). Dari metode dialektikanya ia menemukan dua penemuan metode yang lain yaitu induksi dan definisi. Induksi mana kala pemikiran bertolak dari pengetahuan yang khusus lalu menyimpulkan kepengertian-pengertian yang umum sedangkan definisi pembentukan pengertian yang berlaku universal. 
Sokrates dikenal sebagai orang yang berbudi luhur, arif, dan bijaksana, namun ia tak pernah mengakuinya. Menurutnya filsafat bermula pada “Jika seorang belajar bagaimana meninjau kembali kepercayaan yang sejak kecil dianut”. Paham etika Sokrates merupakan kelanjutan dari metode induksi dan definisi. Ajaran filosofinya tidak pernah dituliskannya melainkan dilakukan dengan perbuatan dengan cara hidup.

2 PLATO
Lahir pada tahun 428 SM di Athena dan meninggal pada tahun 347 SM. Tujuan hidup manusia adalah eudaimonia (hidup yang baik) untuk mencapainya manusia harus mendapatkan pendidikan sebagaimana Sokrates ia menggunakan metode dialog untuk mengantarkan filsafatnya, namun kebenaran umum (devinisi) menurutnya bukan dibuat dengan cara dialog yang induktif sebagaimana cara yang digunakan Sokrates.
Menurut pemikiran filsafatnya, dunia lahir adalah dunia pengalamanyang selalu berubah-ubah dan berwarna-warni, semua itu adalah bayangan dari dunia ideal. Sebagai konsep dari pandangannya tentang dunia ideal dalam masalah etika ia berpendapat bahwa orang yang berpengetahuan dengan pengertian yang bermacam-macamsampai pengertian tentang idenya dengan sendirinya akan berbuat baik.
Pokok filosofi Plato adalahmencari pengetahuan tentang pengetahuan, ia bertolak dari ajaran gurunya Socratusyang mengatakan budi ialah tahu. Budi yang berdasarkan pengetahuan menghendaki suatu ajaran tentang pengetahuan sebagai dasar filosofi. Pertentangan antara fikiran dan pandangan menjadi ukuran bagi Plato. Pengetahuan bukan dari pengalaman, karena pengalaman hanya alasan untuk menuju pengertian yang diperoleh atas usaha akal sendiri

3. ARISTOTELES (384 – 322 SM)
Berasal dari Stageira di daerah thrake, Yunani utara, belajar dalam Akademi Plato di Anthena, tinggal di sana sampai plato wafat. 2 tahun mengajar pangeran Alexander Agung, lalu kemudian Ia mendirikan sekolah bernama Lykeion (dilatinkan Lyceum) . Aristoteles lebih kearah ilmu pengetahuan yang sedapat mungkin menyelidiki dan mengumpulkan data kongkret. Kritik tajam ditujukan pada Plato tentang ide-ide, jadi manusia yang kongkret aja. Ia berpendapat setiap jasmani terdiri 2 hal yaitu bentuk dan materi, Namun yang dimaksudkannya bentuk materi dalam arti metafisika. Materi menurutnya adalah materi yang pertama (hyle prote) . dengan kata pertama dimaksudkan bahwa meteri sama sekali tidak ditentukan. Dengan kata pertama materi pertama selalu mempunyai salah satu bentuk Bentuk (morphe) ialah perinsip yang menentukan. Karena materi pertama suatu benda merupakan benda kongkret mempunyai kodrat tertentu, termasuk jenis tertentu (pohon misalnya bukan binatang) dan akibatnya dapat di kenal oleh rasio kita. Dengan itu kiranya jelas bahwa buat nya ilmu pengetahuan dimungkinkan atas dasar bentuk yang terdapat dalam setiap benda kongkret. Teori ini dinamakan Hilemorfisisme ( berdasarkan kata yunani Hyle dan morphe) menjadi dasar ia melihat manusia. Sehingga bila manusia mati dapat disimpulkan maka jiwanya pun mati .

BAB 3
PENUTUP

3.1 Kesimpulan dan Analisa
Filsafat, terutama Filsafat barat muncul di Yunani semenjak kira-kira abad ke 7 S.M.. Filsafat muncul ketika orang-orang mulai memikirkan dan berdiskusi akan keadaan alam, dunia, dan lingkungan di sekitar mereka dan tidak menggantungkan diri kepada [agama] lagi untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini.
Banyak yang bertanya-tanya mengapa filsafat muncul di Yunani dan tidak di daerah yang beradab lain kala itu seperti Babilonia, Yudea (Israel) atau Mesir. Jawabannya sederhana: di Yunani, tidak seperti di daerah lain-lainnya tidak ada kasta pendeta sehingga secara intelektual orang lebih bebas.
Orang Yunani pertama yang bisa diberi gelar filsuf ialah Thales dari Mileta, sekarang di pesisir barat Turki. Tetapi filsuf-filsuf Yunani yang terbesar tentu saja ialah: Sokrates, Plato dan Aristoteles. Bahkan ada yang berpendapat bahwa sejarah filsafat tidak lain hanyalah “Komentar-komentar karya Plato belaka”. Hal ini menunjukkan pengaruh Plato yang sangat besar pada sejarah filsafat.

3.2 Penutup
Jika ada kesalahan kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Kami nantikan saran dan kritik yang membangun. Terima kasih atas segala perhatiannya.







DAFTAR PUSTAKA

Louis A. Katsof (penerjemah Soejono Soekamto), 2004, Pengantar filsafat,Yogyakarta:Tiara Wacana Yogya
Bertens, Sejarah Filsafat Yunani, 1975, Yogyakarta : Kanisius.
Drs.Abang Abdul Hakim dan Beni Akhmad Subeni,2008, Filsafat umum dari metologi sampai teofilosofi,Bandung: Pustaka Setia
Drs. H.Ahmad Syadili, M.A dan Drs.Mudzakir, 2004, Filsafat Umum, Bandung: CV.Pustaka Setia,
Prof.Dr. Ahmad Tafsir, 2008, Filsafat Umum Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Capra, Bandung : Rasada Karya
Sejarah Filsafat yunani, http://massofa.wordpress.com/2008/10/28/sejarah-filsafat-yunani/, diakses tanggal 17 Maret 2009 




ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِين
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Lebih Jeluk Tentang Hermeunetik
(Aug 06, 2007 at 09:29 PM) -
Oleh: Muh. Adlani "Ilmu hermeneutik telah melalui proses sejarah yang panjang di dunia Barat, pandangan dan gagasan
yang muncul tentangnya bermacam-macam dan terkadang saling bertolak belakang. Di barat, hermeneutik berproses
dalam tiga jenjang historis, yaitu: hermeneutik pra klasik, hermeneutik klasik, dan hermeneutik kontemporer. Pada
jenjang pertamanya terhitung sejak hadirnya gerakan reformasi agama hingga abad kesembilanbelas Masehi dan
munculnya pemikir Friedrich D. E. Schleiermacher. Masa kedua dari Schleiermacher hingga Martin Heidegger, dan
zaman ketiga adalah pasca Heidegger yang dikenal dengan nama hermeneutik filosofis. Hingga pada zaman
Schleiermacher, hermeneutik hanya difungsikan sebagai media untuk interpretasi teks-teks Kitab Suci agama. Ia
kemudian meluaskan subjeknya dan merumuskan kaidah-kaidah untuk menafsirkan teks-teks selain agama seperti
kesusastraan dan hukum. Setelahnya, ditangan Wilhelm Dilthey, ranah hermeneutik semakin melebar mengkaji segala
teks dan pemahaman terhadap masalah-masalah yang berhubungan dengan humaniora (human sciences). Pada
akhirnya dengan perantaraan Heidegger, domain hermeneutik menjadi sangat universal yang membahas teks dan nonteks,
fenomena-fenomena yang berkaitan dengan prilaku manusia, alam materi, dan metafisika." (Dikutip dari
www.wisdoms4all.com]
Hermeneutik ialah suatu disiplin ilmu yang berkaitan dengan penafsiran, interpretasi, dan pemahaman teks.
Permasalahan pertama yang berhubungan pemahaman adalah esensi dan hakikat pemahaman: apa pemahaman itu?.
Pertanyaan kedua berhubungan dengan subjek dan ranah pemahaman: apa yang bisa dipahami?. Persoalan ketiga
menitikberatkan pada proses terbentuknya suatu pemahaman atau fenomenologi pemahaman: bagaimana pemahaman
itu bisa terwujud?. Namun, persoalan ketiga ini merupakan perkara yang paling urgen dan penting dalam pembahasan
yang terkait dengan hermeneutik. Ilmu hermeneutik telah melalui proses sejarah yang panjang di dunia Barat,
pandangan dan gagasan yang muncul tentangnya bermacam-macam dan terkadang saling bertolak belakang. Di barat,
hermeneutik berproses dalam tiga jenjang historis, yaitu: hermeneutik pra klasik, hermeneutik klasik, dan hermeneutik
kontemporer. Pada jenjang pertamanya terhitung sejak hadirnya gerakan reformasi agama hingga abad
kesembilanbelas Masehi dan munculnya pemikir Friedrich D. E. Schleiermacher. Masa kedua dari Schleiermacher
hingga Martin Heidegger, dan zaman ketiga adalah pasca Heidegger yang dikenal dengan nama hermeneutik filosofis.
Hingga pada zaman Schleiermacher, hermeneutik hanya difungsikan sebagai media untuk interpretasi teks-teks Kitab
Suci agama. Ia kemudian meluaskan subjeknya dan merumuskan kaidah-kaidah untuk menafsirkan teks-teks selain
agama seperti kesusastraan dan hukum. Setelahnya, ditangan Wilhelm Dilthey, ranah hermeneutik semakin melebar
mengkaji segala teks dan pemahaman terhadap masalah-masalah yang berhubungan dengan humaniora (human
sciences). Pada akhirnya dengan perantaraan Heidegger, domain hermeneutik menjadi sangat universal yang
membahas teks dan non-teks, fenomena-fenomena yang berkaitan dengan prilaku manusia, alam materi, dan
metafisika. Pembahasan-pembahasan hermeneutikal ini, pada awalnya, merupakan bagian dari teologi dan
dikategorikan sebagai kaidah-kaidah dan basis-basis teori penafsiran Kitab Suci, yang dengan berlandaskan padanya,
para penafsir dan mufassir menafsirkan teks-teks Kitab Suci. Akan tetapi, pada era-era selanjutnya, kaidah-kaidah dan
metode-metode penafsiran Kitab Suci itu kemudian melebar dan meluas meliputi penafsiran kitab-kitab lain. Dan
akhirnya, yang dimaksud dengan istilah ini adalah metodologi umum yang sama digunakan di semua bidang ilmu dalam
koridor pembahasan linguistik dan teks-teks. Dengan perubahan ini, metode-metode penafsiran Kitab Suci kemudian
didasarkan dengan teori-teori bukan agama, dan Kitab Injil yang merupakan salah satu dari kitab-kitab yang tak terhitung
jumlahnya itu ditafsirkan dengan berpijak pada kaidah-kaidah dan aturan-aturan tersebut. Perubahan ini yang
sesungguhnya dipengaruh oleh Rasionalisme, menyebabkan penafsiran yang pada awalnya bersifat keagamaan lantas
berubah menjadi suatu penafsiran yang bersifat menyeluruh dan meluas, sehingga menurut filosof Schleiermacher dan
Dilthey, hermeneutik itu adalah pengetahuan yang berhubungan dengan pemahaman linguistik secara umum. Dilthey
menganggap hermeneutik itu bertugas untuk membentuk dasar-dasar metodologi bagi ilmu humaniora. Berlawanan
dengan kecenderungan tersebut, Martin Heidegger memaknakan kembali hermeneutik itu secara religius dan spiritual.
Dan dengan mengubah tujuannya, diperoleh makna-makna yang berbeda dari hermeneutik. Dengan perspektif ini, para
penafsir akan menafsirkan realitas berdasarkan karakter-karakter spiritualnya masing-masing dan posisi hermeneutik
berubah menafsirkan hakikat eksistensi manusia. Begitu pula Hans-Georg Gadamer menegaskan hermeneutik itu
sebagai penjelas substansi pemahaman manusia dan semata-mata tidak lagi memandang hermeneutik itu sebagai
dasar-dasar metodologi bagi humaniora dan bukan bagi ilmu-ilmu empirik. Hermeneutik, menurutnya, harus diposisikan
secara umum sebagai penjelas dan penentu hakikat pemahaman dan penafsiran manusia. Pada beberapa kurun
terakhir ini, pembahasan hermeneutik semakin meluas dan telah menghadirkan beberapa cabang baru pengkajian
dalam lautan pemikiran manusia serta menjadi wacana tersendiri yang istimewa. Era ini, banyak para pemikir besar yang
berkecimpung dan menganalisa wacana ini secara mendetail dalam setiap satu pokok permasalahan hermeneutik,
dalam setiap tahunnya beragam risalah dan karya-karya baru yang membahas khusus tentang persoalan-persoalan ini
dicuatkan ke pasaran ilmiah. Selain itu, pada dekade ke duapuluh, pembahasan tentang hermeneutik ini telah
mendapatkan perhatian dan sambutan tersendiri, hasil-hasil kajian dalam bidang ini telah mempengaruhi dan
memberikan imbas yang tak sedikit pada disiplin-disiplin pengetahuan lain dan telah meletakkan para cendekiawan dari
berbagai cabang ilmu pengetahuan lainnya berada di bawah pengaruhnya serta memunculkan pertanyaan-pertanyaan
dan kajian-kajian baru. Munculnya beragam disiplin pemikiran sebagaimana filsafat, teologi, neo-teologi, ilmu sosial,
filsafat ilmu, dan bidang ilmu lainnya telah menjadi bukti akan semakin berkembangnya ilmu hermeneutik dan pengkajianpengkajian
mengenainya. Istilah hermeneutik, dalam sejarah penggunaannya, muncul dalam bentuk sebuah cabang
dari pengetahuan dan menunjuk pada volume pemikiran tertentu dimana karena keluasan dan keragaman kajiannya
berakibat pada adanya pergeseran dari batasan-batasan kedisiplinan subjeknya. Katalog topik-topik yang dianalisa
dalam pembahasan hermeneutik ini sangat luas dan bervariasi, hingga pada wilayah-wilayah kajian kritik historiskal,
http://telagahikmah.org/id - Bentara Budaya Hujjatiyah Powered by Mambo Generated:6 May, 2009, 08:17
budaya, sosial, dan pemikiran-pemikiran teoritis lainnya. Salah satu pembahasan-pembahasan prinsipil dalam
hermeneutik adalah menjelaskan posisi masing-masing dari penulis, teks, dan penafsir dalam pemahaman dan
interpretasi teks-teks. Dalam masalah ini, terdapat ide dan gagasan yang beragam. Sebagian menempatkan peran yang
sangat penting bagi penulis dan penafsiran teks tersebut dibandingkan dengan tujuan dan kedudukan penulis. Yang lain
memandang teks sebagai yang prinsipil dan tidak berhubungan dengan penulis. Dan gagasan lain beranggapan bahwa
pemahaman teks itu sepenuhnya bergantung pada penafsir dan audience. Perspektif yang terakhir ini ialah konsep
hermeneutik filosofis yang sangat menekankan bahwa pemahaman makna teks itu berkaitan erat dengan asumsiasumsi,
budaya-budaya, dan pikiran-pikiran yang berpengaruh pada seorang mufassir. Hal ini merupakan salah satu
faktor fundamental dari relativisme dalam interpretasi teks dimana bertolak belakang dengan keyakinan hakiki dan
kepercayaan tetap keagamaan. Dialektika ini semakin menguat ketika sebagian dari pemikir agama menerima gagasan
hermeneutik filosofis tersebut dan mengaplikasikannya dalam interpretasi teks dan penafsiran wacana-wacana
keagamaan. Oleh sebab itu, penelitian terhadap aliran-aliran dan konsep-konsep hermeneutikal bagi para pemikir dan
pengkaji agama menjadi suatu hal yang sangat urgen dan prinsipil. Dalam ranah budaya dan pemikiran Islam, cabang
ilmu tertentu belum diwujudkan untuk membahas dan mengkaji secara komprehensif persoalan-persoalan dan perspektifperspektif
hermeneutikal. Masalah-masalah penting hermeneutikal itu masih dibahas secara terpisah dalam cabangcabang
ilmu Islam seperti ilmu tafsir, ushul fikih, teologi, dan gnosis. Semua pembahasan semantik dalam ushul fikih
berkaitan dengan hermeneutik. Kajian dasar-dasar dan kaidah-kaidah tafsir al-Quran dan kalam Ilahi berhubungan erat
dengan persoalan hermeneutikal. Begitu pula, analisa teolog dan filosof tentang sifat-sifat Tuhan dan persoalanpersoalan
di seputarnya adalah juga tergolong ke dalam kajian hermeneutik. Pembahasan-pembahasan hermeneutikal
yang terdapat dalam ilmu-ilmu keislaman bisa menjadi wacana-wacana komparatif terhadap kajian-kajian hermeneutikal
Barat. Penggambaran universal tentang hermeneutik, sejarahnya, dan persoalan-persoalannya merupakan tujuan
utama penulisan makalah ini, akan tetapi pada poin pertama dari makalah ini akan diupayakan untuk menyajikan
pembahasan mengenai substansi hermeneutik dan batasan-batasan kajiannya. Oleh karena itu, sangatlah urgen
membahas mengenai latar belakang sejarah penggunaan istilah ini, definisi istilah, demikian juga analisis terhadap posisi
dan hubungannya dengan cabang-cabang pengetahuan lainnya, serta pengenalan terhadap arah dan tujuan pokokpokok
pembahasannya. Hermeneutik kontemporer dan pengaruh-pengaruh yang dimunculkannya dalam ruang lingkup
pemikiran-pemikiran agama juga merupakan dimensi lain yang akan dianalisa dan dikaji dalam poin ini. Pembahasan ini,
selain akan mengantarkan kita pada penggungkapan esensi hermeneutik, juga akan menguak tabir urgensi khusus dari
hermeneutik kontemporer yang nantinya akan diaplikasikan dalam penafsiran, perenungan, dan pengembangan
pemikiran agama. 1. Terminologi Hermeneutik Kata "Hermeneutik" telah dikenal secara umum dan meluas di
kalangan bangsa Yunani kuno. Aristoteles telah menggunakan kata ini untuk menamai salah satu bagian dari kitabnya
yang bernama Arganon yang membahas tentang "Logika Proposisi", dan ia menamai bagian tersebut dengan Peri
Hermeneias yang berarti "Bagian Tafsir". Dalam kitabnya ini, Aristoteles menganalisa tentang struktur gramatikal
percakapan manusia. Dikatakan bahwa dalam percakapan manusia yang biasanya diungkapkan dalam bentuk proposisi
dimana untuk menjelaskan tentang kekhususan sebuah benda maka mesti terjadi penyatuan antara subjek dan predikat.
Meskipun demikian, hingga masa renaisans yaitu hingga dekade ke enambelas Masehi, hermeneutik belum dikokohkan
sebagai salah satu disiplin ilmu.[1] Hingga kurun ke tujuhbelas Masehi, kami belum menemukan satupun bukti ontentik
tentang lahirnya suatu disiplin baru ilmu yang dinamakan hermeneutik. Dann Hauer dikenal secara umum sebagai orang
pertama yang menggunakan kata ini untuk memperkenalkan variasi dari sebuah cabang ilmu. Perlu diketahui bahwa
pada tahun 1654 Masehi, Dann Hauer menggunakan kata ini untuk judul salah satu dari karyanya.[2] Menurut Dann
Hauer, basis dari seluruh ilmu adalah metode penafsiran atau interpretasi, dan setiap cabang dari pengetahuan dan
makrifat senantiasa harus meliputi jenis ilmu ini yaitu ilmu tafsir. Rahasia dari munculnya perspektif ini adalah karena
mayoritas persangkaan dan anggapan yang muncul pada masa itu adalah bahwa seluruh perkembangan dan
pertumbuhan yang terjadi pada cabang-cabang ilmu dan pengetahuan seperti ilmu hukum, teologi, dan kedokteran
senantiasa membutuhkan suatu bantuan penafsiran atas teks-teks yang berkaitan dengan cabang-cabang ilmu tersebut,
dan konsekuensi dari hal ini adalah kemestian keberadaan suatu ilmu yang bertanggung jawab terhadap penetapan
tolok ukur dan penegasan metode yang berhubungan dengan interpretasi dan penafsiran pengetahuan-pengetahuan
tersebut.[3] Oleh karena itu, ilmu hermeneutik dalam posisinya sebagai salah satu disiplin pengetahuan merupakan
sebuah fenomena baru yang berhubungan dengan zaman modern. Kata hermeneutik telah digunakan sejak zaman
Plato, akan tetapi sinonimnya dalam bahasa Latin yaitu hermeneutice yang baru memasyarakat pada dekade ke
tujuhbelas dan setelahnya, diletakkan sebagai sebuah istilah bagi salah satu cabang dari pengetahuan manusia.
Dengan alasan inilah, analisis tentang latar belakang sejarah hermeneutik tersebut baru dimulai dari kurun ke tujuhbelas,
sedangkan masa-masa sebelum itu disebut dengan masa pra historis hermeneutik. Tujuan dan maksud kami dalam
makalah ini adalah membahas dan menganalisa tentang pengertian dan defenisi gramatikal hermeneutik, akan tetapi, di
samping itu, kami juga akan menyinggung secara ringkas tentang pengertian-pengertian leksikalnya. Biasanya dalam
pembahasan etimologi hermeneutik terdapat hubungan yang erat dan jelas antara kata ini dengan Hermes, salah satu
Tuhan yang dimiliki oleh bangsa Yunani yang bertugas sebagai Penyampai Berita. Kata hermeneutic sendiri diambil dari
kata kerja Yunani, hermeneuin, yang berarti "menginterpretasikan atau menafsirkan (to interpret)" dan kata bendanya
adalah hermeneia yang berarti "tafsir". Dilema beragam yang kemudian muncul dari kata ini mengandung pemahaman
terhadap sesuatu atau kondisi yang tak jelas. Bangsa Yunani menisbatkan penemuan bahasa dan tulisan kepada
Hermes, yakni bahasa dan tulisan ini merupakan dua elemen yang dimanfaatkan oleh manusia untuk memahami makna
dan menafsirkan berbagai realitas. Tugas Hermes adalah "memahami" dan "menafsirkan sesuatu", dimana dalam
persoalan ini, unsur bahasa memegang peran yang sangat asasi dan penting.[4] Hermes adalah seorang perantara
yang bertugas menafsirkan dan menjelaskan berita-berita dan pesan-pesan suci Tuhan yang kandungannya lebih tinggi
dari pemahaman manusia sedemikian sehingga bisa dipahami oleh mereka. Sebagian dari para peneliti beranggapan
http://telagahikmah.org/id - Bentara Budaya Hujjatiyah Powered by Mambo Generated:6 May, 2009, 08:17
bahwa tiga unsur mendasar yang terdapat di dalam setiap penafsiran itu merupakan bukti yang jelas bagi adanya
keterkaitan yang erat antara kata hermeneutik dengan Hermes. Setiap tafsiran dan interpretasi senantiasa memiliki tiga
unsur di bawah ini: a. Pesan dan teks yang dibutuhkan untuk lahirnya suatu pemahaman dan interpretasi, b. Penafsir
(Hermes) yang menginterpretasikan dan menafsirkan pesan dan teks, c. Penyampaian pesan dan teks kepada lawan
bicara. Ketiga unsur yang pokok di atas merupakan inti-inti pembahasan dan pengkajian hermeneutik, masalah-masalah
seperti esensi teks, pengertian pemahaman teks, dan pengaruh dari asumsi-asumsi dan kepercayaan-kepercayaan
terhadap lahirnya suatu pemahaman.[5] Sebagian besar menerima analisis etimologi yang menempatkan Hermes
sebagai perantara dan penafsir antara teks dan Tuhan. Analisis ini dipandang lebih tepat dari analisis-analisis lainnya.
Akan tetapi, sebagian yang lain meragukan dan menolak perspektif semacam ini. Bagaimanapun juga, tetap terbuka
secara luas untuk hadirnya perspektif-perspektif baru dalam masalah ini.[6] Ketika kita ingin menempatkan hermeneutik
sebagai salah satu cabang pengetahuan dan majemuk dari teori-teori dan pemikiran-pemikiran, maka kita harus
meletakkan huruf "s" di akhir kata hermeneutic, sehingga menjadi "hermeneutics", meskipun sebagian teori seperti teori
yang dikemukakan oleh James McConkey Robinson yang mengatakan bahwa penyebutan huruf "s" di akhir kata ini
adalah tidak diperlukan.[7] Dengan mengesampingkan penggunaan kata ini sebagai cabang dari ilmu dan pengetahuan
yang diiringi dengan huruf "s", hermeneutic (yang tanpa diikuti dengan huruf "s") juga digunakan dalam kata benda dan
sifat. Dalam pemanfaatan dari kata benda ini kadangkala huruf "s" diletakkan di akhir kata tersebut dan kadangkala pula
tidak digunakan. Dalam penggunaan ini, hermeneutic diposisikan sebagai nama dari berbagai kecenderungankecenderungan,
cabang-cabang, dan aliran-aliran yang beragam yang terdapat dalam ruang lingkup disiplin pemikiran
hermeneutik, atau diletakkan sebagai cabang-cabang, kecenderungan-kecenderungan, dan maktab-maktab beragam
yang ada dalam koridor pemikiran-pemikiran yang berhubungan dengan dan pengkajian pembahasan hermeneutik.
Sebagai contoh kita bisa lihat pada penggabungan semacam "Hermeneutik kitab Suci", "Hermeneutik Linguistik",
"Hermeneutik Metodologi ", dan "Hermeneutik Heidegger". Penggunaan kata sifatnya muncul dalam bentuk
"hermeneutic" dan "hermenutical", misalnya dikatakan "Hermeneutical Theory", "Hermeneutic Theology", "Hermenutic
Event"[8], dan "Hermeneutical Situation".[9] Perlu diketahui bahwa kecermatan dan ketajaman dalam mencari akar kata
leksikal dari kata hermeneutik ini tidak akan membantu pengenalan esensi dan keluasan pembahasan hermeneutik
kontemporer. Keluasan ranah dan pembahasan hermeneutik serta perubahan internal yang ada padanya tidak memiliki
korelasi yang logis dengan makna leksikal dan akar katanya sehingga mampu digunakan untuk menemukan dan
mencari solusi dalam naungan kajian linguistik ke arah pemahaman yang lebih mendalam terhadap apa yang sekarang
dinamakan dengan hermeneutik. Dari sini, tidak ditemukan adanya manfaat yang terlalu penting dalam mengenal akar
kata leksikal dan analisis historis penggunaan kata hermeneutik ini dalam karya-karya para pemikir Yunani kuno seperti
Plato dan Aristoteles, dengan alasan inilah kami menghindarkan pembahasan yang lebih panjang dalam pengkajian
linguistik terhadap masalah ini. 2. Definisi Hermeneutik Dalam sepanjang sejarah yang tidak berapa jauh terlewatkan,
hermeneutik disajikan dalam definisi yang bervariasi dimana masing-masingnya menunjuk pada satu perspektif khusus
yang berkaitan dengan arah, tujuan, subjek, dan aplikasi-aplikasi dari disiplin pengetahuan ini. Sebelum memberikan
keputusan akhir dalam masalah kemungkinan penyajian definisi global hermeneutik yang nampak pada upaya-upaya
pemikiran masa lalu tentangnya, ada baiknya apabila kami menyinggung pula sepintas definisi-definisi hermeneutik yang
ada. Pemahaman yang benar terhadap masing-masing definisi ini membutuhkan penjelasan singkat tentang proses
pembentukannya. Persoalan yang senantiasa hangat ini merupakan ungkapan para pemilik definisi-definisi ini yang
berangkat dari tujuan dan aplikasi hermeneutik. Johannes Martin Chladenius (1710-1759 M) yang menganggap ilmu
humaniora berpijak pada "keahlian interpretasi"[10] dan hermeneutik merupakan nama lain dari keahlian ini. Dalam
proses memahami ungkapan percakapan dan teks penulisan, kadangkala muncul ketidakjelasan yang akan
menghambat proses pencapaian pemahaman sempurna atasnya. Dan di sini hermeneutik, merupakan sebuah keahlian
yang bisa digunakan untuk mendapatkan pemahaman komplit dan sempurna serta menyeluruh dalam ungkapanungkapan
percakapan dan teks-teks penulisan tersebut. Keahlian ini meliputi majemuk dari kaidah-kaidah, yaitu suatu
disiplin yang posisinya mirip dengan ilmu logika yang digunakan membantu menyibak ketakjelasan yang ada dalam
teks.[11] Friedrich August Wolf dalam ceramahnya pada sekitar tahun 1785 hingga 1807 Masehi mendefiniskan
hermeneutik sebagai berikut, "Hermeneutik adalah ilmu tentang kaidah dan aturan dimana dengan bantuannya akan
bisa dipahami makna dari suatu pesan dan teks". Tujuan dari ilmu ini adalah memahami pemikiran-pemikiran dari
percakapan seorang pembicara dan tulisan seorang penulis persis sebagaimana hal-hal yang dipikirkan oleh mereka
tersebut. Gagasan dan fungsi hermeneutik ini, menegaskan bahwa pemahaman itu tidak hanya membutuhkan
pengetahuan bahasa teks, melainkan juga membutuhkan pengetahuan historis. Dan yang dimaksud dengan
pengetahuan histori di sini adalah pengenalan kehidupan penulis dan kondisi-kondisi historis geografi tempat tinggalnya.
Karena penafsir yang ideal harus mengetahui apa yang diketahui oleh penulis.[12] Friedrich Daniel Ernest
Schleiermacher (1768-1834) memandang hermeneutik sebagai "keahlian memahami". Dia memberikan perhatian
khusus pada pemahaman yang keliru, dan karena itulah dia mengatakan bahwa interpretasi teks senantiasa
mengandung bahaya kesalahpahaman. Dengan demikian, hermeneutik harus diletakkan sebagai sebuah metodologi
yang memberikan penjelasan dan pengajaran untuk menghilangkan bahaya kesalahpahaman di atas. Tanpa adanya
keahlian seperti ini, maka tidak akan pernah ditemukan solusi untuk menuju ke sebuah pemahaman yang benar.[13]
Perbedaan yang ada pada definisi di atas dibanding dengan definisi pertama adalah, pada definisi pertama Chladenius
menganggap kebutuhan kepada hermeneutik itu hanya pada tempat dimana terdapat ketidakjelasan dalam proses
pemahaman sebuah teks, sementara Daniel menganggap bahwa penafsir atau mufassir senantiasa membutuhkan
kehadiran hermeneutik dalam setiap proses pemahamannya terhadap teks-teks, karena dalam pandangannya,
hermeneutik tidaklah ditentukan untuk menyibak ketakjelasan tertentu pada teks melainkan merupakan sebuah
pengetahuan yang senantiasa menuntun para penafsir untuk menghindari adanya kesalahpahaman dan kehadiran
pemahaman yang buruk. Dengan ibarat lain, dalam pandangan Chladenius lebih menekankan pada prinsip adanya
http://telagahikmah.org/id - Bentara Budaya Hujjatiyah Powered by Mambo Generated:6 May, 2009, 08:17
kemungkinan kebenaran pemahaman dan interpretasi pada setiap teks, kecuali apabila terjadi problem atau
ketidakjelasan pada teks, maka hermeneutik yang merupakan sebuah pengetahuan pembantu (auxiliary science) bisa
digunakan untuk menyibak ketakjelasan dan kerumitan pada teks tersebut. Sementara dalam pandangan Daniel, ia lebih
menegaskan prinsip kemungkinan kesalahan pada setiap pemahaman teks, dengan demikian, urgensi kehadiran
hermeneutik adalah pasti demi menghindarkan para mufassir dari keburukan dan kesalahan pemahaman. Jadi dalam
kedua pandangan di atas, hermeneutik disepakati sebagai sebuah keahlian yang meliputi kumpulan aturan-aturan,
kaidah-kaidah, dan metodologi. Akan tetapi, kandungan yang terdapat dalam aturan-aturan tersebut dan tujuan dasar
penyusunan metodologinya, dalam pandangan keduanya, memiliki perbedaan. Wilhelm Dilthey (1833-1911)
beranggapan bahwa hermeneutik sebagai sebuah pengetahuan yang bertanggung jawab terhadap penyajian metodologi
humaniora. Tujuan inti dari segala upaya hermeneutiknya adalah menaikkan validitas dan nilai humaniora serta
menyejajarkannya dengan ilmu-ilmu empirik. Menurut pendapatnya, rahasia kebenaran proposisi-proposisi ilmu empirik
terdapat pada kejelasan kaidah dan metodologinya. Karena itulah, supaya humaniora juga setara dengan sains, maka
metodologinya harus jelas dan harus memiliki dasar-dasar serta prinsip-prinsip yang sama, jelas, dan pasti dimana
merupakan tolok ukur bagi seluruh pembenaran dan proposisi humaniora.[14] Rudiger Bubner adalah salah satu dari
penulis kontemporer berkebangsaan Jerman, dalam makalahnya yang berjudul "The Hermeneutics Reader" yang ditulis
pada tahun 1975, mendefinisikan hermeneutik sebagai "Ilmu Pengajaran Pemahaman".[15] Definisi ini memiliki
kesesuaian dengan hermeneutik Filosofis yang dikemukakan oleh Martin Heidegger dan Hans-Georg Gadamer, karena
menurut mereka tujuan dari hermeneutik filosofis adalah mendeskripsikan substansi pemahaman. Hermeneutik filsafat,
berlawanan dengan hermeneutik-hermeneutik yang lampau, tidak saja terbatas pada kategori pemahaman teks dan
koridor pemahaman humaniora (human sciences), melainkan menekankan kesesuaian pemahaman manusia dengan
objek eksternal dan analisis hakikat pemahaman serta menentukan syarat-syarat eksistensial untuk suatu kehadiran
pemahaman dan penafsiran. Apa yang telah kami sebutkan di atas, hanyalah merupakan sebagian dari definisi-definisi
yang ada. Dengan adanya hal ini, cukup untuk menjelaskan poin bahwa pembahasan hermeneutik memiliki keluasan
dan pendapat yang sangat bervariasi. Definisi-definisi ini dengan baik menunjukkan ranah pembahasan-pembahasan
hermeneutik yang semakin beragam dan semakin meluas dari batasan pengenalan hermeneutik yang ditetapkan untuk
penafsiran teks-teks suci agama dan hukum-hukum hingga pada batasan pengenalan hermeneutik yang diaplikasikan
pada analisis-analisis filosofis terhadap hakikat pemahaman dan syarat-syarat eksistensial bagi kehadiran suatu
pemahaman. Dengan perkembangan yang luas ini dengan jelas menunjukkan bahwa tidak satupun dari definisi yang
telah disebutkan di atas mampu memperkenalkan seluruh upaya-upaya teoritis yang dinamakan hermeneutik.
Ketidakmampuan ini tidak dibatasi oleh definisi-definisi di atas, melainkan secara praktis tidak mungkin untuk menyajikan
definisi secara global dan menyeluruh yang mampu mewakili seluruh kecenderungan hermeneutik, karena terdapat
perbedaan pandangan mengenai tujuan dan fungsi hermeneutik, kadangkala persepsi yang ada tentang hermeneutik
memiliki perbedaan yang sangat ekstrim sehingga mustahil untuk bisa dirujukkan dan disatukan. Sebagai contoh,
Wilhelm Dilthey tidak menganggap hermeneutik itu sebagai suatu pengetahuan yang digunakan untuk pemahaman dan
penafsiran teks, melainkan hermeneutik itu identik dengan epistemologi dan metodologi yang secara umum
dimanfaatkan untuk humaniora. Pada sisi lain, hermeneutik filosofis yang dimulai oleh Heidegger, dalam perspektifnya
kadangkala terlihat sangat berbeda, menurutnya, hermeneutik itu tidak dianggap sebagai sebuah metode, tujuan
hermeneutik bukan pada dimensi metodologi, melainkan dianggap sebagai kontemplasi filosofis terhadap basis-basis
ontologi pemahaman dan penentuan syarat-syarat eksistensial bagi kehadiran suatu pemahaman. Hermeneutik
bukanlah epistemologi dan metodolgi, namun merupakan ontologi. Dengan keluasan wilayah pembahasan yang
sedemikian ini dan perubahan yang sangat radikal dan mendalam dalam tujuan, fungsi, dan aplikasi hermeneutik, lantas
bagaimana bisa diharapkan akan adanya kesatuan dan kemanunggalan definisi yang bersifat komprehensif dan global
yang bisa memayungi seluruh upaya pemikiran dan teoritis ini? Dengan tidak mengharapkan penyajian definisi yang
mendetail dan global, terdapat kemungkinan untuk memberikan gambaran luas untuk memperjelas lahan pemikiran dan
ruang lingkup pengkajian hermeneutik. Sebagai contoh, Paul Ricoeur mendefinisikan hermeneutik sebagai berikut,
"Hermeneutik merupakan teori tentang pemahaman dalam kaitannya dengan penafsiran teks-teks".[16] Dengan tujuan
yang sama, Richard E. Palmer mendefinisikan hermeneutik sebagai berikut, "Hermeneutik, saat ini merupakan metode
kontemplasi filosofis bagi orang Jerman dan belakangan ini merupakan pengkajian tentang esensi pemahaman bagi
orang Perancis yang berkembang melalui perantara Daniel dan Dilthey serta Martin Heidegger, dan saat ini disajikan
oleh Gadamer dan Paul Ricoeur.[17] 3. Ranah Hermeneutik Apa ranah dan subjek hermeneutik? Sebagian memberi
jawaban sederhana: "Hermeneutik merupakan tradisi berfikir dan kontemplasi filosofis yang mengupayakan penjelasan
tentang konsepsi dan ide "pemahaman" (fahm, verstehen, understanding) dan memberikan solusi terhadap persoalan
tentang faktor-faktor yang mengakibatkan hadirnya makna bagi segala sesuatu ". Segala sesuatu ini bisa berupa syair,
teks-teks hukum, perbuatan manusia, bahasa, atau kebudayaan dan peradaban asing.[18] Pengenalan masalah
"pemahaman" sebagai sebuah ranah, subjek, dan batasan pengkajian hermeneutik akan menghadapkan pada dua
dilemma asasi, pertama adalah bahwa pemahaman dan persepsi itu dibahas dalam berbagai disiplin yang berbeda dan
memiliki fungsi pada banyak cabang-cabang pengetahuan. Epistemologi (theory of knowledge), filsafat analisis, dan
filsafat klasik (metafisika) adalah bidang-bidang ilmu yang juga mengkaji masalah-masalah pemahaman dan persepsi ini
dalam sudut pandang tertentu. Dengan demikian, pertama-tama harus diketahui dengan jelas bahwa dari sudut pandang
mana disiplin hermeneutik memandang permasalahan pemahaman dan persepsi itu yang membedakannya dengan
disiplin ilmu-ilmu lainnya. Kedua, aliran-aliran berbeda yang terdapat dalam disiplin hermeneutik sendiri memiliki
perspektif yang berbeda-beda terhadap persoalan pemahaman dan persepsi itu. Akan tetapi, adanya kesamaan
konsepsi yang sedikit terhadap persoalan tersebut sama sekali tidak bisa dijadikan patokan terhadap subjek dan
penjelas batasan pembahasan bagi hermeneutik, karena masing-masing aliran pemikiran itu mengkaji tujuan-tujuan
khusus dimana tujuan khusus inilah yang lantas menyebabkan perbedaan subjek dan ranah pembahasannya. Sebagai
http://telagahikmah.org/id - Bentara Budaya Hujjatiyah Powered by Mambo Generated:6 May, 2009, 08:17
contoh, seseorang yang memandang pemahaman itu dari sudut pandang fenomenologikal, maka dalam hermeneutiknya
mustahil ia berupaya menemukan dan menegaskan suatu metode untuk memisahkan antara pemahaman yang benar
dan yang keliru. Yang jelas seorang seperti Wilhelm Dilthey mengarahkan tujuan itu demi menggapai humaniora yang
valid dan benar. Dengan memandang hermeneutik sebagai metodologi, diharapkan refleksi-refleksinya, pada
puncaknya, akan menghadirkan suatu metode umum untuk keseluruhan humaniora. Yang pasti, aliran-aliran
hermeneutik mengkaji subjek pemahaman itu, yang satu membahas kemutlakan pemahaman dari aspek
fenomenologikal, yang lain menjelaskan hakikat dan syarat-syarat wujud kehadiran pemahaman, aliran dari mengkajinya
dari sisi ruang-waktu dan sejarah, dan yang lainnya meneliti pemahaman dunia internal individu dan pikiran-pikiran
setiap manusia lewat peninggalan-peninggalan seni dan literatur-literatur, dan berupaya mencipta suatu metode yang
valid dan akurat untuk memahami pikiran-pikiran individu dan kehidupan internal setiap manusia. Dua perspektif dalam
masalah pemahaman ini, dengan tidak memandang perbedaan dalam ruang lingkup kajian pemahaman, yang satu
menunjuk pada pemahaman secara mutlak dan yang lainnya menyibak pemahaman kehidupan internal manusia. Dua
subjek pembahasan ini tidak bisa dipungkiri memiliki perbedaan dan tidak bisa dikatakan bahwa aliran-aliran
hermeneutik membahas semua persoalan tersebut secara merata dan komprehensif. Lahirnya kajian hermeneutik
filosofis yang dipelopori oleh Martin Heidegger di abad keduapuluh Masehi dan pengembangan ranah pembahasannya
ditangan Hans-Georg Gadamer melahirkan pengaruh yang cukup besar pada cabang-cabang ilmu, seperti kritik literatur,
metodologi, teologi, dan ilmu-ilmu sosial. Sebagian menyangka bahwa domain pembahasan hermeneutik adalah sama
dengan subjek hermeneutik filosofis, yakni refleksi filosofis dan fenomenologikal dalam substansi pemahaman dan
syarat-syarat eksistensial kehadirannya. Yang paling keliru adalah orang yang menyangka bahwa satu-satunya ranah
pengkajian yang mungkin bagi hermeneutik adalah sebagaimana pandangan-pandangan para filosof Jerman terhadap
hermeneutik dan tradisi-tradisi hermeneutik di Jerman pada abad keduapuluh. Pada dasarnya, hermeneutik filosofis
terkait secara horizontal dengan pembahasan-pembahasan universal hermeneutik yang senantiasa kita butuhkan dan
tidak ada jalan lain kecuali harus membahasnya. Kita menerima semua pemikiran penafsiran tentang pemahaman teks
atau setiap kecenderungan dalam kritik literatur atau memilih pembahasan tentang filsafat humaniora yang ada pada
setiap maktab. Kita tidak mungkin menolak dan memungkiri keberadaan pengkajian tentang substansi pemahaman
manusia dan analisis hakikat wujudnya. Akan tetapi, makna dari ungkapan di atas tidaklah membatasi ruang lingkup
pembahasan hermeneutik pada garis horizontal itu. Sebagai contoh, kita bisa memperluas subjek itu pada kategori
penafsiran dan pemahaman teks serta terus mengajukan teori-teori penafsiran baru dalam kategori pemahaman teks.
Pengajuan teori-teori baru ini tidak masuk dalam wilayah dan koridor pengkajian hermeneutik filosofis, akan tetapi
tergolong dalam subjek perumusan dan pengkajian hermeneutik. Tidak terdapat alasan yang tepat bagi kita untuk
membatasi hermeneutik hanya pada subjek pengkajian hermeneutik filosofis yang meliputi maktab Jerman dan Perancis,
atau hanya pada maktab Jerman saja yakni perspektif Heidegger dan Gadamer. Tentang ranah hermeneutik dan
ketidaklogisan pembatasan domainnya hanya pada hermeneutik filosofis, Richard E. Palmer menyatakan bahwa kita
bisa menunjuk tiga kategori yang berbeda secara ekstrim dalam wilayah hermeneutik, ketiga kategori tersebut antara
lain: 1. Hermeneutik regional (khusus) merupakan bentuk hermeneutik yang pertama kali ditetapkan sebagai suatu
disiplin ilmu. Pada kategori ini, dengan maksud merumuskan kualitas penafsiran teks-teks, dibentuk kumpulan dari
kaidah-kaidah dan metode-metode untuk setiap cabang-cabang ilmu dan pengetahuan, seperti ilmu hukum, linguistik,
kitab-kita suci, dan filsafat. Dan setiap ilmu itu memiliki kumpulan kaidah dan dasar penafsiran yang khusus untuknya.
Berdasarkan hal ini, setiap ilmu memiliki hermeneutik tersendiri yang khusus berhubungan dengan ilmu tersebut.
Dengan dalil ini, masing-masing hermeneutik ini berkaitan erat dengan suatu tradisi pemikiran dan ilmiah tertentu.
Seperti dari setiap hermeneutik yang mengajarkan metode tafsir teks-teks suci tak akan digunakan dalam penafsiran
teks-teks literatur klasik.[19] 2. Hermeneutik umum yang berfungsi menetapkan metode pemahaman dan penafsiran.
Hermeneutik ini tidak dikhususkan untuk ilmu tertentu, melainkan diterapkan untuk semua cabang ilmu-ilmu tafsir.
Kehadiran jenis hermeneutik ini dimulai pada abad kedepanbelas dan orang pertama yang menyusun secara sistimatik
adalah teolog Jerman bernama Schleiermacher (1768-1834 M). Kaidah-kaidah dan dasar-dasar umum hermeneutik ini
menjadi tolok atas pemahaman teks, dengan tidak memandang latar belakang teks itu. Para ahli hermeneutik mesti
berusaha menyusun dan menetapkan kaidah-kaidah umum tersebut. Upaya Wilhelm Dilthey semestinya berada pada
wilayah ini, karena ia menekankan ilmu manusia secara mutlak, namun, asumsinya sangat sesuai dengan asumsi para
pengkritik hermeneutik umum. Dilthey mempunyai perspektif bahwa segala prilaku, perkataan, dan karya-karya tulis
manusia mewakili kehidupan pikiran dan internal mereka. Dan semua ilmu manusia seharusnya diarahkan dalam
pencarian dan penyingkapan kehidupan internal manusia sebagai pemiliki perbuatan dan karya-karya tulis, dan masalah
bisa menjadi suatu kaidah, aturan, metode umum dan universal. Dan tujuan utama keberadaan hermeneutik adalah
menyusun dan menetapkan kaidah dan metode ini, yakni menghadirkan secara pasti dan benar suatu metodologi yang
menjadi mizan bagi ilmu manusia. 3. Hermeneutik filosofis yang berupaya menganalisa secara filosofis fenomena
pemahaman itu. Oleh sebab itu, tidak terdapat kecenderungan dalam hermeneutik ini untuk berusaha menghadirkan
suatu metode, dasar, dan kaidah yang bisa menjadi tolok ukur atas pemahaman dan penafsiran, baik itu metode yang
terkait dengan pemahaman teks atau dalam humaniora secara umum. Namun, apabila kita mencermatinya, jenis
hermeneutik ini bukan hanya peduli terhadap adanya ketetapan satu metode, bahkan senantiasa menggugat metodologi
dan menyanggah suatu pernyataan yang berbunyi, "Lewat penetapan metode bisa mencapai hakikat".[20] Dengan
memperhatikan tiga kategori berbeda yang tersebut di atas, kita tak mungkin mengkhususkan subjek hermeneutik itu
kepada salah satu dari ketiga kategori itu. Ketidakmungkinan ini karena ketiga kategori tersebut di bawah cakupan
hermeneutik, dengan demikian, tak logis jika subjek hermeneutik hanya berkaitan dengan salah satu dari ketiga kategori
atau perspektif itu, misalnya hanya menekankan pada hermeneutik filosofis. Dengan realitas seperti ini, arus
hermeneutik dalam semua aspek dan bidang ilmu akan senantiasa berlanjut.[21] 4. Hermeneutik Umum Dalam
pengkajian tentang subjek hermeneutik telah disinggung bahwa hermeneutik khusus diperhadapkan dengan
http://telagahikmah.org/id - Bentara Budaya Hujjatiyah Powered by Mambo Generated:6 May, 2009, 08:17
hermeneutik umum. Hermenenutik filosofis adalah bersifat umum dan aliran-aliran hermeneutik lainnya ialah dipandang
bersifat khusus dan terbatas. Persoalannya adalah apakah hermeneutik merupakan suatu ilmu yang bersifat umum dan
mencakup ilmu-ilmu lainnya ataukah hanya terbatas pada cabang ilmu tertentu? Dikatakan bahwa hermeneutik, di awal
kehadirannya pada abad ketujuhbelas, hanya berhubungan dengan ilmu dan seni penafsiran, dan hingga abad
kesembilanbelas masih dalam bentuk konsep yang mentah dan diharapkan mampu merumuskan secara jelas kaidah
dan aturan ilmu tafsir. Dalam rentangan abad tersebut, hermeneutik ini hanya diletakkan sebagai metodologi untuk ilmuilmu
tafsir dengan tujuan utamanya menghentikan penafsiran-penafsiran yang tak berkaidah dan tak beraturan. Peran
hermeneutik, pada abad itu dan untuk waktu yang cukup lama, adalah pendukung sekunder bagi ilmu-ilmu lainnya yang
dikaitkan dengan penafsiran teks dan simbol-simbol. Pada zaman itu terbentuklah apa yang dinamakan dengan
hermeneutik sakral (hermeneutica sacra) yang memiliki kaidah-kaidah yang sistimatik dan begitu pula hermeneutik
filosofis yang dikenal dengan hermeneutica profana serta hermeneutik hukum disebut dengan nama hermeneutica
juris.[22]Setiap hermeneutik tersebut memiliki fungsi, posisi, dan peran yang signifikan untuk membantu setiap ilmu dan
pengetahuan demi meraih pemahaman yang lebih akurat, valid, dan benar serta penyelesaian berbagai persoalan
mengenai kekaburan teks-teks. Para penulis mencermati teks-teks hermeneutik pertama dan merumuskan kaidahkaidah
dan dasar-dasar penafsiran untuk cabang-cabang dan disiplin ilmu-ilmu tertentu, seperti teologi, hukum, filsafat,
dan philology, kemudian menetapkannya sebagai hermeneutik khusus. Sebagian dari kaidah dan dasar penafsiran
tersebut bisa diaplikasikan secara umum, namun maksud para penulis tersebut tidak merumuskannya untuk
hermeneutik umum dalam semua ilmu dan pengetahuan yang berpijak pada penafsiran, melainkan menetapkan
hermeneutik sakral misalnya untuk teks-teks kitab suci dan hermeneutik filosofis bagi teks-teks filsafat. Para penulis
sejarah pada umumnya sepakat memandang Schleiermacher sebagai orang pertama yang berupaya merumuskan
hermeneutik umum dan semua sepaham atas perspektifnya yang berbunyi, "Pada masa kini hermeneutik hanya
berbentuk hermeneutik-hermeneutik yang berkaitan khusus dengan cabang-cabang ilmu dan belum dirumuskan suatu
konsep umum yang meliputi seluruh ilmu." Tetapi kenyataan yang sesungguhnya adalah D. Howard pada abad
ketujuhbelas yang memunculkan untuk pertama kali kaidah-kaidah dan dasar-dasar umum tentang penafsiran dan
interpretasi.[23] Alasan utama Schleiermacher menghadirkan kaidah-kaidah umum dalam penafsiran teks-teks adalah
dengan perantaraannya para mufassir bisa terhindar dari belbagai kekeliruan pemahaman dan meraih pengetahuan
yang benar dan valid. Hermeneutik Dilthey juga bersifat umum, karena ia pun berupaya merumuskan metodologi umum
untuk semua ilmu humaniora supaya dengan aturan itu ilmu humaniora bisa setara dengan ilmu-ilmu alam dan empiris,
begitu pula pemahaman-pemahaman ilmu humaniora bisa mencapai derajat validitas sebagaimana hasil-hasil
eksperimen dalam disiplin ilmu-ilmu alam. Namun perlu diperhatikan bahwa keumuman kaidah hermeneutik hingga
akhir abad kesembilanbelas adalah bersifat nisbi dan tidak mencakup segala cabang ilmu dan pengetahuan manusia,
karena keumuman yang bisa disaksikan dalam karya-karya Schleiermacher dan Chladenius itu hanya terbatas pada
penafsiran teks-teks, oleh sebab itulah, kaidah-kaidah dan basis-basis tafisr dalam pandangan mereka ini hanya
mencakup ilmu dan pengetahuan manusia yang berkaitan dengan penafsiran teks-teks saja. Begitu pula metodologi
yang digagas oleh Dilthey hanya diperuntukkan bagi ilmu-ilmu humaniora. Di abad keduapuluh ini kita menjadi saksi
belbagai upaya dan usaha perumusan hermeneutik dalam setiap cabang dan disiplin ilmu seperti dalam bidang
linguistik, teologi, dan ilmu-ilmu sosial. Sementara hermeneutik filosofis yang dirumuskan oleh Heidegger dan pemikirpemikir
setelahnya, seperti Gadamer, ialah dengan suatu tujuan umum dan berupaya supaya keumuman yang terdapat
dalam hermeneutik filosofis abad keduapuluh ini meliputi semua pengetahuan manusia dan terpisah dari keumuman
hermeneutik yang ada sebelumnya. Secara terperinci akan dibahas hermeneutik filosofis Heidegger dan Gadamer,
akan tetapi untuk memahami maksud mereka ini tentang 'keumuman', perlu dicermati poin ini bahwa hermeneutik
filosofis Heidegger tidak menekankan penafsiran teks dan juga tidak membatasi penelitiannya kepada pembentukan
metodologi humaniora, melainkan subjek hermeneutik filosofis adalah realitas eksistensial dan syarat-syarat fundamental
yang melandasi hadirnya fenomena-fenomena pemahaman dalam segala variannya.[24] Walhasil, subjek dan ranah
hermeneutik filosofis ialah pemahaman secara umum dan bukan perumusan metodologi pemahaman secara khusus.
Alasan yang sangat mungkin mengapa hermeneutik filosofis yang dipandang oleh para pendukungnya sebagai prima
philosophia (filsafat pertama) dan mencakup seluruh aspek keilmuan ialah kehadirannya secara mutlak dalam segala
bentuk pemahaman dan fenomena penafsiran. Sebelum Heidegger, Friedrich Nietzsche (1844-1900 M) beranggapan
bahwa semua pengalaman dan pemahaman manusia hanyalah bersifat penafsiran semata dan meyakini bahwa apaapa
yang kita pahami hanyalah sebuah penafsiran yang tidak mewakili fakta dan kenyataan hakiki. Penafsiran ini
mencakup semua realitas penafsiran dan ilmu-ilmu teoritis serta pemikiran. Sifat penafsiran itu yang terkait dengan ilmuilmu
dan pemahaman secara mutlak adalah problem umum dan filosofis. Dari sinilah, hermeneutik filosofis kemudian
meletakkan pemahaman secara mutlak itu sebagai subjek kajiannya.[25] Perlu diketahui bahwa pengakuan keumuman
dan keuniversalan subjek hermeneutik filosofis itu, tidak menjadi penghalang bagi perkembangan pemikiran-pemikiran
hermeneutik yang khusus dalam cabang-cabang pengetahuan manusia. Dari hal ini, pembahasan-pembahasan tentang
hermeneutik terus berlanjut dalam bidang linguistik, teologi, hukum, dan ilmu-ilmu sosial. 5. Tujuan Hermeneutik
Sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya bahwa sangat sulit meramu dan merumuskan satu definisi tentang
hermeneutik yang bisa mencakup seluruh aspek-aspeknya, hali ini karena faktor keluasan dan keragaman pembahasan
hermeneutik serta keberadaan aliran-aliran yang berbeda. Begitu pula tidak terdapat kesepakatan tentang ranah
pengkajian hermeneutik. Pada kesempatan ini kita akan mencermati bahwa apakah bisa ditetapkan tujuan-tujuan yang
sama dan bersifat menyeluruh untuk hermeneutik yang dapat diterima oleh semua aliran dan kecenderungan yang
terdapat dalam hermeneutik?. Pertama-tama akan ditegaskan bahwa sesungguhnya tak terdapat tujuan-tujuan yang
sama dan bisa disepakati dalam hermeneutik ini. Hal ini bisa dilihat di sepanjang sejarahnya bagaimana munculnya
aliran, pemikiran, dan kecenderungan fundamental yang berbeda satu sama lain dalam perumusan aplikasi dan
penentuan fungsionalnya. Dengan memandang realitas ini, lantas bagaimana bisa ditetapkan suatu arah dan tujuan
http://telagahikmah.org/id - Bentara Budaya Hujjatiyah Powered by Mambo Generated:6 May, 2009, 08:17
yang sama di antara keragaman pemikiran tentang hermeneutik dalam upaya pemahaman teks, penghapusan segala
keraguan terhadap pemahaman-pemahaman itu, penentuan metodologi bagi humaniora, dan perumusan dasar-dasar
yang menjadi tolok ukur pemahaman terhadap sejarah, karya-karya seni dan tulis, prilaku, dan peradaban manusia?.
Pusaran yang dilahirkan oleh hermeneutik filosofis di awal abad keduapuluh dalam penentuan arah kontemplasi
hermeneutik berkonsekuensi pada tajamnya perbedaan di antara hermeneutik abad keduapuluh ini dan hermeneutik
abad sebelumnya sedemikian sehingga sangat sulit (kalau bisa dikatakan mustahil) kita menentukan tujuan-tujuan sama
yang terdapat dalam hermeneutik filosofis dan yang terdapat dalam aliran-aliran hermeneutik lainnya. Bahkan
penegasan arah dan tujuan yang sama di antara cabang-cabang hermeneutik filosofis sendiri sangat sulit dilakukan. Apa
yang hari ini dikenal dengan nama hermeneutik filosofis tidak lain ialah aliran yang didirikan oleh Martin Heidegger dan
muridnya, Hans-Georg Gadamer, serta dipopulerkan oleh dua filosof Perancis, Jacques Derrida dan Paul Ricoeur.
Namun, keempat tokoh tersebut yang sama-sama penganut hermeneutik filosofis memiliki pandangan yang berbeda
dalam penentuan arah dan tujuan hermeneutik. Di bawah ini akan diungkapkan beberapa perspektif mereka supaya kita
bisa mengetahui seberapa mendalam perbedaan yang ada berhubungan dengan tujuan hermenutik filosofis tersebut: a.
Martin Heidegger dalam kitabnya, Being and Time, menyatakan bahwa filosof Yunani Kuno mengungkapkan persoalan
eksistensi secara filosofis dan berupaya mengetahui hakikatnya secara apa adanya. Namun, sejak zaman Aristoteles
hingga filsafat masa kini, persoalan mengenai hakikat eksistensi itu menjadi terlupakan dan pembahasan beralih pada
pemahaman tentang fenomena-fenomena wujud partikular. Para filosof pasca Plato memandang bahwa eksistensi itu
merupakan konsep yang paling umum dan universal yang tidak bisa didefinisikan (aksioma) serta bersifat sangat
gamblang (badihi). Berpijak pada hal ini, mereka tidak memandang masalah hakikat eksistensi itu sebagai persoalan
filsafat. Heidegger beranggapan bahwa eksistensi yang bersifat aksioma dan konsep yang paling universal itu tidak
menjadi halangan untuk melakukan pencarian hakikat eksistensi itu. Ia menetapkan bahwa tujuan filsafat yang benar
adalah menemukan jawaban dan solusi universal atas persoalan hakikat eksistensi. Lebih lanjut ia menyatakan bahwa
filsafat itu mesti menemukan dan merumuskan persoalan ini menjadi suatu kaidah dan metode dalam pencarian hakikat
eksistensi tersebut. Dalam pandangannya, setiap maujud memiliki hakikat eksistensi yang berbeda, bahkan di mana
saja suatu maujud tertentu berada, maka di situ pula hadir hakikat eksistensi. Kita tidak bisa mengetahui hakikat
eksistensi itu dengan cara mengamati dan melihat secara langsung, karena hakikat eksistensi itu merupakan dimensi
lain dari maujud-maujud yang tercipta, dengan demikian, hakikat tersebut mesti diungkap dan dihadirkan dalam bentuk
pertanyaan-pertanyaan dan analisis. Di antara maujud-maujud, maujud manusia, oleh Heidegger disebut sebagai
dasein, memiliki satu jalan pengenalan terhadap hakikat eksistensi, karena dasein itu adalah suatu maujud yang bisa
melahirkan beri-ribu pertanyaan-pertanyaan tentang hakikat eksistensi dibanding maujud-maujud lain dan penelitian
terhadap hakikat eksistensi itu merupakan salah satu dari kemampuan-kemampuan wujudnya yang luar biasa. Namun,
menurutnya, ini tidak berarti bahwa dari dimensi wujud, dasein itu mendahului hakikat eksistensi. Oleh karena itu, dalam
pengenalan dan pengungkapan hakikat itu tidak ada cara lain kecuali mengenal secara hakiki eksistensi manusia
(dasein).[26] Heidegger menegaskan bahwa bentuk pengenalan fenomenologikal dasein yang dimaksudkan untuk
memahami hakikat wujud itu tidak lain adalah tujuan utama filsafat dan fenomenologikal ini disebut dengan hermeneutik,
karena arti hermeneuin itu ialah "membuat sesuatu itu bisa dipahami" dan feneomenologikal dasein dirumuskan untuk
memahami hakikat eksistensi. Maka dari itu, analisis terhadap esensi wujud dasein itu dan fenomenologikalnya
merupakan aktivitas hermeneutik.[27] Inti tujuan kontemplasi filsafat Heidegger adalah pengenalan hakikat keberadaan,
yakni memiliki tujuan ontological. Berbeda dengan tokoh-tokoh hermeneutik sebelumnya, ia tidak berusaha mencari
rumusan untuk suatu pemahaman dan metode baru yang akurat dalam memahami teks atau ilmu humaniora. Ia
mengangkat hermeneutik itu dari tingkat epistemologi dan metodologi ke derajat filsafat serta memandang hermeneutik
itu sejenis fenomenologikal dan filsafat. Perlu dikatakan di sini bahwa tujuan utama filsafat Heidegger tidak bermaksud
menganalisa substansi pemahaman manusia dan syarat-syarat eksistensial kehadiran pemahaman itu, karena tujuan
pertamanya adalah menjawab pertanyaan tentang hakikat eksistensi dan analisis kerangka wujud dasein merupakan
tujuan menengah. Sementara pengungkapan pertanyaan itu dan analisis hakikat pemahaman serta penjelasan terhadap
karakteristik-karakteristik fenomenologikalnya ialah suatu perkara yang akan dituju oleh Heidegger dalam analisis
kerangka wujud dasein, dan hal ini bukanlah merupakan tujuan utama hermeneutiknya. b. Hans-Georg Gadamer,
murid utama Heidegger, dalam hermeneutik filosofisnya sangat berpegang teguh pada gagasan-gagasan yang
dihembuskan gurunya tentang analisis dasein, terutama dalam bagian esensi pemahaman manusia. Ia memandang
hermeneutik filosofisnya sebagai basis ontologi dan membedakannya dengan metodologi. Dari sisi ini, ia searah dengan
Heidegger. Ia pun tidak ingin merumuskan secara umum suatu metodologi baru dalam pemahaman teks dan ilmu
humaniora. Namun, perlu diperhatikan poin ini bahwa tujuan utama dalam hermeneutik Gadamer sama sekali tidak
seirama dengan tujuan filsafat Heidegger. Heidegger melangkah untuk menciptakan ontologi baru dan pengetahuan atas
hakikat eksistensi yang walaupun ia gagal dalam tujuan ini, dan sementara Gadamer tidak menelusuri jejak itu dan tidak
pula berupaya mengetahui hakikat wujud. Ontologi, dalam pandangannya, adalah ontologi pemahaman dari dimensi
bahwa pemahaman tersebut senantiasa merupakan suatu penafsiran dan interpretasi. Ia menganalisa hakikat suatu
penafsiran dan interpretasi. Ia tidak merumuskan metode penafsiran, namun mengobservasi penafsiran itu sendiri dan
syarat-syarat eksistensial atas kehadiran interpretasi. Analisis atas hakikat pemahaman dan interpretasi, bagi
Heidegger, adalah tujuan menengah dimana tangga mencapai tujuan-tujuan lain yang utama, sementara bagi Gadamer
analisis terhadap perkara itu dan basis-basis eksistensialnya merupakan tujuan utama serta tidak dalam upaya mengejar
tujuan-tujuan yang lain.[28] Perbedaan lain yang ada pada kedua hermeneutik ini adalah bahwa Heidegger, yang
berbeda dengan Dilthey, tidak memperhatikan problematika bagi basis-basis ilmu manusia, yakni masalah obyektivitas.
Sementara dalam hermeneutik Gadamer, masalah ini ialah hal yang utama, yakni Gadamer menempatkan ontologi
pemahaman itu sebagai jembatan menuju epistemologi dan kedua hal ini saling terkait. Begitu pula ia memandang
bahwa analisis terhadap hakikat pemahaman dan syarat-syarat bagi perwujudannya niscaya akan memberikan hasil
http://telagahikmah.org/id - Bentara Budaya Hujjatiyah Powered by Mambo Generated:6 May, 2009, 08:17
yang sangat bermanfaat dalam pengembangan humaniora, dan ia juga menunjukkan, yang berlawanan dengan Dilthey,
bahwa metode itu tidak bisa mengungkap suatu hakikat, dan secara mendasar, hakikat itu mesti dipandang secara
berbeda dengan apa-apa yang telah dikonsepsi mengenai hakikat dalam tradisi filsafat dan ilmu. Menurutnya,
penekanan kepada metodologi dan penetapan tolok ukur bukan hanya tidak mampu mengantarkan kita kepada
pencapaian hakikat, bahkan menyebabkan kita menjadi terasing dan teralienasi dengan subjek yang dibahas. Dalam
magnum opusnya, Truth and Method, ia juga membagi pembahasan menjadi tiga bagian dan masing-masing unsur ini
(seperti estetika, sejarah, bahasa, interpretasi teks) ia bahas berdasarkan pandangan-pandangan filosofisnya yang
berkaitan dengan pengkajian pemahaman dan interpretasi serta juga menunjukkan bahwa objektivitas – yang
sebagaimana dipandang oleh penganut aliran Objektivisme dalam humaniora (human sciences) - dalam unsur-unsur itu
adalah mustahil. c. Paul Ricoeur adalah pemikir kontemporer asal Perancis yang pemikirannya banyak dipengaruhi oleh
Heidegger. Namun, ia berbeda pandangan dengan Heidegger dalam penggabungan antara hermeneutik dan
fenomenologi. Heidegger menggali hakikat eksistensi dengan analisis suatu fenomena khusus yang bernama dasein itu.
Dengan demikian, hermeneutiknya adalah ontologi fundamental yang lebih tinggi dari epistemologi, metodologi, dan
basis ontologi pemahaman. Sementara ontologi Ricoeur tidak secara langsung menganalisa eksistensi dasein,
melainkan ia ingin menyelami persoalan eksistensi lewat pendekatan semantik dan penjelasan linguistik atas seluruh
dimensi interpretasi ontologis. Menurut Ricoeur, segala bagian fenomenologi yang bertujuan untuk memahami hakikat
eksistensi tidak dihubungkan dengan persoalan semantik. Oleh karena itu, seluruh ranah hermeneutik mesti dirujukkan
kembali kepada perkara-perkara semantik. Mitologi dalam kesastraan dan keagamaan adalah salah satu bentuk
fenomenologi yang menafsirkan simbol-simbol alam, dunia, dan zaman supaya dapat disingkap dan diketahui maknamaknanya
yang tersembunyi. Dalam pandangan Ricoeur, kita tak bisa memahami secara langsung dan mandiri
hakikat eksistensi itu yang sebagaimana dikonstruksi oleh Heidegger, dan pada sisi lain, segala ontologi itu bersifat
penafsiran dan takwil atas simbol-simbol. Dengan demikian, untuk mengenal wujud tidak ada metode selain dari
pengkajian semantik. Kita mesti mengkaji realitas keberadaan dengan fenomenologi dan pengungkapan secara
mendalam berbagai simbol-simbol serta berupaya melangkah ke tingkatan berpikir yang lebih tinggi dari derajat
pemikiran yang lahiriah.[29] Paul Ricoeur tidak seperti Heidegger yang menggali ontologi dan pemahaman hakikat
eksistensi melalui suatu ontologi dasein, dan juga tidak sebagaimana Gadamer yang merumuskan ontologi pemahaman.
Filsafatnya tidak dalam rangka menegaskan suatu ontologi hermeneutical. Kalaupun hermeneutik Ricoeur menguraikan
persoalan ontologi interpretasi, hal itu tidak dimaksudkan mengkaji dan menganalisa secara langsung substansi
pemahaman, akan tetapi, dalam hubungannya dengan korespondensi simbol-simbol dan linguistik. Dari hal ini, ia
kemudian menggagas teori umum tentang ontologi pemahaman.[30] 6. Urgensi Hermeneutik Hal ini telah sebagian
disinggung dalam pembahasan ranah hermeneutik. Dengan memandang keuniversalan kajiannya dan keragaman aliranaliran
hermeneutik, bisa dikatakan bahwa hermeneutik memayungi begitu banyak aktivitas-aktivitas berpikir. Keluasan
wilayah ini membuat hermeneutik banyak bersinggungan dengan dengan ilmu-ilmu lain dan membuka peluang pengaruh
hermeneutik terhadap pemikiran-pemikiran yang ada. Hubungan luas hermeneutik dengan berbagai cabang ilmu dan
pengaruhnya yang sangat melebar itu adalah karena penekanan hermeneutik pada kajian linguistik dan teks. Pada sisi
lain, pembahasan tentang bahasa dan interpretasi teks juga menjadi perhatian berbagai cabang-cabang pengetahuan
manusia sedemikian sehingga Paul Ricoeur menamakannya sebagai cross roads pemikiran-pemikiran kontemporer.
Karena perhatiannya terhadap kategori bahasa dan penafsiran teks, hermeneutik kemudian berubah menjadi disiplin
utama bagi pemikiran-pemikiran kontemporer. Ilmu-ilmu seperti kritik literatur, semiotik, filsafat bahasa, filsafat analisis,
dan teologi memiliki kaitan yang sangat erat dengan kategori bahasa dan pemahaman teks, dan hermeneutik,
khususnya hermeneutik filosofis, dengan wacana-wacananya yang radikal melahirkan perubahan dan pengaruh
signifikan pada bidang-bidang ilmu itu. Hermeneutik filosofis Jerman, yang dicetuskan oleh Heidegger dan Gadamer,
dalam pasal esensi pemahaman manusia memunculkan ide dan gagasan yang tidak hanya dikaji dan dikritis oleh para
filosof, epistemolog, teolog, dan pengkaji literatur, bahkan melibatkan para ilmuwan empirik. Perspektif-perspektif
hermeneutik ini membantu percepatan observasi para pengkaji sejarah dan pengamat seni serta juga mempengaruhi
para teolog dan peneliti ilmu-ilmu agama, karena ia mendobrak sebagian asumsi yang terdapat dalam wilayah
probabilitas pencapaian pemahaman yang objektif, mutlak, dan tidak relatif. Perluasan yang dilakukan oleh Paul
Ricouer terhadap konsepsi teks dimana menggolongkan semua simbol dan mitos-mitos agama sebagai teks,
menyebabkan secara praktis ranah hermeneutik meluas, karena menurutnya, segala bentuk kajian semantik dan
interpretasi simbol-simbol niscaya akan berujung pada bentuk pembahasan hermeneutik. Yang pasti, apabila
hermeneutik umum ingin terwujud, maka mesti mengupayakan perumusan tolok-tolok ukur yang bersifat umum yang
menjadi landasan pijak bagi fenomenologi hermeneutik. Oleh sebab itu, hermeneutik umum bisa mencakup pembahasan
tentang dasar-dasar dan pokok-pokok yang sama yang menjadi pondasi dan pilar utama bagi jenis-jenis fenomenologi.
Keluasan ranah dan domain ini, seperti ontologi pemahaman Gadamer, menyebabkan hermeneutik itu bersinggungan
dengan berbagai pembahasan dan ilmu-ilmu lainnya, dan keluasannya ini akan menambah nilai urgensi hermeneutik,
karena disiplin ilmu-ilmu lain mesti membutuhkan informasi atas perolehan hermeneutik dan mesti menyampaikan
gagasan-gagasannya terhadap apa yang dicapai dan diraih dalam pembahasan hermeneutik. Pada masa kini,
hermeneutik mendapatkan posisi penting dalam ilmu-ilmu sosial dan humaniora serta merupakan basis utama dalam
filsafat ilmu-ilmu sosial. Urgensi ini pertama-tama dirasakan ketika Dilthey telah mengungkapkan bahwa sifat dan
karakteristik manusia akan terjewantahkan dalam bentuk prilaku, seni, teks, dan peristiwa-peristiwa sejarah yang
kesemuanya ini memiliki makna dimana hanya bisa dipahami dengan media subjek dan mufassir. Pada sisi lain,
perhatian para pemikir hermeneutik pada poin ini bahwa para penafsir berupaya mengharmonisasikan kategori-kategori
(teks, seni, prilaku manusia, peristiwa-peristiwa sejarah) yang bermakna bagi manusia dengan kumpulan makna-makna
lainnya, nilai-nilai, dan perspektif-perspektif, karena sangat mungkin terjadi bahwa makna suatu fenomena yang dikaji
telah mengalami perubahan. Ia kemudian melontarkan pertanyaan penting tentang hermeneutik: apakah dengan
http://telagahikmah.org/id - Bentara Budaya Hujjatiyah Powered by Mambo Generated:6 May, 2009, 08:17
keberadaan subjektivitas para penafsir, kemudian objektivitas akan fenomena-fenomena manusia bisa menjadi berarti
dan bermakna? Berkaitan dengan pertanyaan di atas, hermeneutik filosofis dan perspektif-perspektif hermeneutik
lainnya menawarkan dua soluai berbeda dalam hubungannya dengan ilmu-ilmu humaniora. Dilthey, yang mewakili
perspektif lain itu, berusaha merumuskan ide umum dan metodologi akurat untuk memungkinkan pencapaian objektivitas
humaniora, sementara hermeneutik filosofis, karena sangat menekankan kemestian kesamaan ufuk dan horizon antara
mufassir dan subjek yang dikaji, menolak objektivitas fenomena-fenomena tersebut. 7. Hermeneutik Tanpa Nama
Sebagaimana yang dikatakan sebelumnya bahwa hermeneutik dikenal secara resmi sebagai disiplin ilmu mulai abad
ketujuhbelas Masehi. Namun, sebelum abad ini dan setelahnya, senantiasa bermunculan gagasan dan konsep yang
dilontarkan tidak dengan nama hermeneutik, sementara hal itu secara substansial terkait dengan kajian hermeneutik.
Bentuk perspektif dan pemikiran seperti ini biasa disebut dengan "hermeneutik tanpa nama". Yang dimaksud dengan
suatu pemikiran dan konsep yang secara esensial merupakan hermeneutik ialah bahwa gagasan ini senada dan
seirama dengan sebagian aliran-aliran hermeneutik. Sebagai contoh, jika seorang pemikir percaya pada keberadaan
interpretasi dan pemahaman manusia, maka realitas ini sesuai dengan hermeneutik filosofis Heidegger dan Gadamer,
dan dari sisi ini, ia telah mengemukakan suatu konsep hermeneutikal, walaupun ia tidak mengatasnamakan gagasan
dan pemikirannya itu sebagai bagian dari konsep hermeneutikal. Di bawah ini akan diungkapkan beberapa gagasan
para pemikir yang melontarkan beberapa konsep di sela-sela karyanya yang mereka tidak namakan hermeneutik: a.
Santa Augustine (AD 430-454) ialah seorang filosof dan teolog yang banyak mempengaruhi hermeneutik modern.
Heidegger dan Gadamer, terilhami dari pikiran-pikiranya. Heidegger sering menyebut Augustine dalam karya-karya dan
orasinya. Makalah Augustine, On Christian Doctrine, yang menurut Jean Grondin, dari sisi historis, merupakan karya
yang sangat berpengaruh dalam hermeneutik.[31] Ia menitikberatkan penelitian hermeneutik itu pada dimensi-dimensi
yang kabur dari Kitab Suci dan beranggapan bahwa Kitab Suci itu bisa dipahami. Kebutuhan terhadap hermeneutik
hanya pada wilayah-wilayah yang tak jelas dimana memerlukan penafsiran dan pemahaman. Idenya ini melandasi
perumusan kaidah-kaidah hermeneutik. Augustine tidak mencukupkan pemahaman Kitab Suci hanya pada kaidahkaidah
tafsir, sesungguhya harus "datang" dari sisi Tuhan suatu "cahaya" yang dengannya segala bentuk kekaburan dan
ketakjelasan yang ada pada Kitab Suci menjadi sirna, dengan demikian, segala sesuatunya berpijak pada kondisi jiwa
seorang mufassir. Poin terakhir ini menjadi perhatian dan sumber ilham bagi kehadiran hermeneutik filosofis, yakni
untuk sampai pada pemahaman itu, selain konsentrasi pada teks, juga sangat dipengaruhi oleh kondisi jiwa dan pikiran
penafsir. Menurutnya, ketiadaan pemisahan yang jelas antara makna hakiki dengan majasi adalah penyebab utama
kekaburan Kitab Suci, pemilahan ini bisa tercapai dengan pencerahan Ilahi dan penjelasan makna yang kabur dengan
berpijak pada makna-makna yang sudah jelas dan gamblang. Para mufassir mesti sedemikian rupa berupaya mengenal
Kitab Suci sehingga bisa memahami dengan benar aspek-aspek yang kabur dengan bantuan dimensi-dimensi yang
nyata dan jelas. Konsepnya ini juga sebagai poin mendasar dalam wilayah penafsiran teks.[32] Disamping itu, ia juga
menekankan bahwa ketika kita mendengar sebuah kalimat, kita tak lagi mencermati kata-kata itu sendiri yang ada pada
kalimat, melainkan berupaya memahami "sesuatu" yang tidak dapat didengar oleh telinga dan lebih tinggi dari bahasa
lahiriah. Ia menamai "sesuatu" itu sebagai "kata internal (verbum)" atau "reason" yang berada tersembunyi dibalik
kalimat dan bahasa lahiriah. Reason (akal-pikiran) ini tidak bisa diungkapkan secara nyata sehingga mampu ditangkap
dengan indera lahiriah. Bahasa kita bukanlah terjemahan akurat atas pemikiran-pemikiran internal kita, dan bahasa
lahiriah tidak dapat memanifestasikan secara sempurna dan komprehensif makna-makna internal atau verbum itu,
sebagaimana Isa Almasih yang merupakan manifestasi Tuhan di alam natural, walaupun tajalli itu sendiri bersifat
sempurna dan kamil, akan tetapi, secara hakiki tidak bisa dipandang mewakili hakikat wujud Tuhan yang azali. Maknamakna
internal kita bersumber dari makrifat jiwa yang bersifat batin, dengan alasan ini, bahasa kita - yang merupakan
manifestasi batin – tidak menjadi jelas dan menjelma dalam bentuk yang beragam.[33] Gagasan Augustine ini
sangat menarik perhatian Gadamer dan sekaligus mengilhami perluasan teori-teori tafsirnya.[34] b. Friedrich Nietzsche
(1844-1900 M), filosof Jerman, yang dalam karya-karyanya juga ditemukan sisi pemikiran hermeneutik. Salah satu
pemikirannya yang terpenting adalah beranggapan bahwa semua pengetahuan manusia bersifat interpretatif. Nietzsche
memandang bahwa segala hakikat dan realitas murni tidak bisa dipahami, namun apa-apa yang kita sebut sebagai
"pemahaman" itu tidak lain ialah mitos dan fiksi yang bersumber dari penafsiran-penafsiran dan takwil-takwil kita.
Penafsiran dan takwil ini berasal dari perspektif-perspektif, dan segala perspektif sangat dipengaruhi oleh
kecenderungan alami manusia. Begitu pula kategori-kategori akal yang terbentuk dari kekuatan imajinasi juga tidak lepas
dari kenyataan tersebut, yakni juga bersifat mitologikal dan semata-mata merupakan perspektif logikal yang kemudian
menjelma sebagai hakikat-hakikat yang niscaya dan pasti.[35] Gagasan tentang keinterpretasian pengetahuan dan
pemahaman merupakan hal yang sangat ditekankan oleh hermeneutik filsafat, dan Heidegger, dalam salah satu
karyanya, menunjukkan bahwa pemahaman kita terhadap segala sesuatu, bahkan terhadap diri sendiri, senantiasa
bersifat hermeneutikal. Pengertian dia atas "pemahaman hermeneutikal" adalah berpijak pada latar belakang
penginderaan dan kerangka berpikir, dimana realitas ini banyak semakna dengan gagasan Nietzsche tentang efek
perspektif terhadap pengetahuan dan pemahaman. Pemikiran lain Nietzsche yang bersifat hermeneutikal adalah
seputar masalah "hakikat". Konklusi dari pemikiran yang menyatakan bahwa "segala pemahaman itu bersifat
interpretatif" adalah kemustahilan kita menjangkau hakikat (yang bermakna pengetahuan objektif) itu, melainkan
pemahaman kita itu tidak lain adalah fiksi dan mitos yang bersumber dari perspektif dimana sebagian dari fiksi itu lebih
bermanfaat dari yang lain. Manfaat fiksi ini, kalau bersifat tetap dan konstan, maka kita menyebutnya dengan "hakikat"
yang mesti diterima dengan tanpa alasan dan sebab. Begitu banyak manusia menginginkan suatu ilmu dan
pengetahuan yang bersumber dari proposisi-proposisi yang tetap dan konstan. Dengan dasar ini, mereka tidak lagi
memperhatikan bahwa sesungguhnya realitas-realitas itu senantiasa berubah. Rahasia kecenderungan kepada ilmu ini
merupakan fitrah manusia. Iradah manusia yang seiring dengan kodratnya dan kecenderungannya kepada sesuatu yang
bersifat konstan dan tetap kemudian memaksanya untuk mencipta suatu ilmu alat demi menjelmakan kodratnya itu dan
http://telagahikmah.org/id - Bentara Budaya Hujjatiyah Powered by Mambo Generated:6 May, 2009, 08:17
tidak memandang realitas eksternal dan hakikat manusia sebagaimana adanya serta menetapkan segala konsep dan
perspektifnya sebagai suatu "hakikat" yang tetap dan diterima tanpa alasan.[36] Dalam hermeneutik filosofis
kontemporer, "hakikat" atau kebenaran (truth) juga dimakna sama sebagaimana umumnya, karena di sini ditekankan
bahwa para mufassir tidak mungkin bersifat netral dalam pemahamannya. Baik dalam penafsirannya tentang teks,
kesusastraan, dan analisis fenomena sejarah pengaruh latar belakang pikiran dan makna-makna horizontal serta asumsiasumsi
para mufassir tidak bisa dipungkiri. Adalah suatu asa yang sis-sia kalau mengharap adanya objektivitas
fenomena atau teks tanpa keterlibatan subjektivitas pikiran mufassir. c. Dalam karya-karya seperti Ludwig Josef Johann
Wittgenstein (1889-1951 M) dan Edmund Husserl (1859-1938 M) juga terdapat pembahasan yang berrhubungan dengan
hermeneutikal. Heidegger mencerap fenomenologi sebagai suatu metode itu dari gurunya, Edmund Husserl. Heidegger
beranggapan bahwa penyingkapan makna dan hakikat eksistensi itu hanya melalui fenomenologi dasein dan analisis
wujud manusia. Metode analisis ini, bukan bersifat argumentatif dan demonstratif silogisme, karena demonstratif
silogisme itu berupaya menarik konklusi dari perkara yang lain, sementara tidak ada sesuatu yang lain selain wujud dan
eksistensi itu sendiri. Dengan demikian, jalan pengenalan satu-satunya adalah analisis wujud manusia dan fenomenologi
eksistensial. Hakikat wujud itu tidak bisa ternampakkan, oleh karena itu, dengan kita memahami konsep wujud dan
melihat penampakan maujud tak seketika mengetahui hakikatnya. Namun, penerimaan yang sama atas fenomenologi
yang nampak pada kedua pemikir tersebut, Husserl dan Heidegger, tidak berujung pada kesamaan pandangan. Dengan
metode itu, Husserl berupaya supaya filsafat itu berdiri tegak di atas keyakinan-keyakinan – seperti Descartes
– dan filsafat itu diupayakan setara dengan ilmu. Sementara Heidegger mengejar tujuan lain, yakni mencari
jawaban atas makna dan hakikat eksistensi. Dengan dasar ini, Heidegger tetap pada tingkatan kajian prinsipalitas
eksistensi manusia dan tidak bisa disetarakan dengan derajat pembahasan metafisika. Dengan penguraian ini, jelaslah
bahwa pengkajian hermeneutik tidaklah terbatas pada karya-karya resmi tentang hermeneutik dan begitu banyak
pembahasan yang menunjukkan kesesuaiannya dengan hermeneutikal. Dengan berpijak pada realitas ini, tertegaslah
keberadaan "hermeneutik tanpa nama" tersebut. 8. Refleksi Hermeneutik dalam Pemikiran Religius Pemikiran
keagamaan kontemporer ialah kenyataan atas bentuk pengkajian baru yang mempunyai akar dalam hermeneutik.
Probabilitas pelontaran interpretasi yang beragam dan tak berhingga terhadap teks-teks agama, penafsiran yang bersifat
historikal, perubahan interpretasi yang terus menerus, adanya keabsahan intervensi pikiran para mufassir dalam
penafsiran teks-teks, dan pengaruh ilmu-ilmu lain terhadap pemahaman keagamaan adalah dimensi-dimensi baru yang
hadir dalam wilayah dan ranah pembahasan keagamaan yang mempunyai akar mendalam pada teori-teori pemikiran
hermeneutikal. Hermeneutik kontemporer dari dua sisi memberikan pengaruh terhadap pemikiran-pemikiran
keagamaan: a. Sebagian dari pembahasan hermeneutikal sangat berhubungan erat dengan pemikiran filosofis tentang
pemahaman dan pengetahuan secara umum. Pemikiran tentang substansi pemahaman dan syarat-syarat eksistensial
kehadirannya serta karakteristik-karakteristiknya yang prinsipil, akan berkonsekuensi pada kehadiran suatu hukum dan
kaidah umum tentang pemahaman dimana juga meliputi makrifat keagamaan, pemahaman, dan penafsiran teks-teks
suci keagamaan, dengan demikian, akan mewujudkan suatu pertalian yang sangat erat dan mendalam antara kajiankajian
hermeneutikal dan segala pengetahuan keagamaan. b. Islam, Kristen, dan Yahudi adalah agama-agama yang
berpijak pada wahyu dan kalam Ilahi. Realitas ini akan menyebabkan agama-agama tersebut akan menerima pengaruh
dalam aspek-aspek beragam dari teks-teks keagamaan, interpretasi, dan pemahaman-pemahamannya. Pertalian
mendalam ini antara tradisi keagamaan dan kategori interpretasi teks-teks religius menyebabkan perumusan teori-teori
baru dalam bidang penafsiran dan pemahaman teks-teks, merekontruksi metode-metode penafsiran teks yang umum
digunakan, serta pencarian solusi baru atas persoalan-persoalan kontemporer, yang kesemuanya ini akan berefek
secara radikal pada segala pemikiran keagamaan. Hermeneutik senantiasa bersinggungan dengan masalah-masalah
interpretasi teks, yang walaupun terjadi banyak perubahan dalam ranah dan tujuannya, akan tetapi tetap memberikan
penekanan khusus pada kategori pemahaman teks. Dari sisi ini, pelontaran konsep-konsep baru dalam wilayah
hermeneutik tekstual akan berefek pada kedalaman pemikiran dan penafsiran keagamaan. Hermeneutik pra Heidegger,
pra abad keduapuluh, dengan berbagai horizon-horizon baru dalam interpretasi teks, tidak melahirkan benturan dalam
domain perspektif keagamaan, karena seluruh aliran hermeneutik pada saat itu, sejalan dan mendukung tradisi
metodologi dalam pemahaman dan penafsiran teks, dan masing-masingnya berupaya menegaskan dan merumuskan
tolok ukur pada berbagai dimensi dalam metodologi umum yang diterima itu. Namun, hermeneutik filosofis dan segala
kajian yang berada dalam wilayah pengaruhnya lantas bangkit untuk melakukan kritik dan rekonstruksi terhadap
kesusastraan dan semiotik serta melakukan perubahan radikal terhadap metode umum pemahaman dan panafsiran
teks. Walhasil, objektivitas pengetahuan keagamaan menjadi diragukan. Sebelum kita menyinggung perubahan penting
yang dihembuskan oleh hermeneutik kontemporer dalam ranah pemahaman teks adalah urgen mengupas secara umum
pencapaian universal dari pemahaman terhadap teks. Tradisi interpretasi teks keagamaan yang lazim dan umum
berkembang di kalangan para pemikir kontemporer berpijak pada gagasan-gagasan di bawah ini: a. Upaya mufassir
dalam menggali makna-makna teks. Makna-makna setiap teks adalah sesuatu yang diinginkan oleh subjek pembicara
dan penulis teks dimana untuk mengungkapkannya mereka menggunakan kata-kata dan kalimat-kalimat. Oleh sebab
itu, setiap teks mempunyai makna-makna tertentu dan terbatas yang diinginkan dan dituju oleh pemilik teks dan
pembicara secara serius. Tujuan serius dan makna-makna khusus itu ialah hal yang objektif dan riil yang senantiasa
diupayakan oleh para mufassir untuk diungkapkan dan dijelaskan. Maksud dari objektivitas dan realitas tersebut adalah
bahwa terkadang mufassir salah menafsirkannya dan tak berhasil mengungkap realitas hakikinya. Bagaimanapun,
makna-makna tersebut merupakan perkara yang konstan dan tak berubah serta pikiran mufassir sama sekali tidak
berperan dalam perubahan makna tersebut. Berdasarkan perspektif ini, teks-teks keagamaan berisi pesan-pesan Ilahi
yang ditujukan untuk umat manusia dan tujuan para mufassir teks-teks ini adalah menggali, menganalisa, dan
mengungkap pesan-pesan serius dari pemilik teks-teks itu. b. Untuk sampai pada tujuan dan maksud tersebut, dapat
menggunakan metode yang diterima secara umum oleh orang-orang yang berakal dalam aspek pemahaman atas teks.
http://telagahikmah.org/id - Bentara Budaya Hujjatiyah Powered by Mambo Generated:6 May, 2009, 08:17
Dalam metode itu, kata-kata lahiriah teks merupakan jembatan penghubung untuk menemukan tujuan inti dan makna
yang dimaksud, karena pembicara dan pemilik teks menggunakan kata-kata untuk menyampaikan maksud yang
sesungguhnya. Implikasi kata-kata terhadap makna-makna mengikuti kaidah-kaidah bahasa dan aturan-aturan logis
dalam setiap dialog, pembicaraan, dan proses belajar mengajar. Kaidah dan aturan tersebut bersifat umum dan logis
yang digunakan secara disiplin oleh para pembicara dan lawan bicara, dan tidak mengikuti aturan ini membuat
kesalahan dalam pemahaman dan interpretasi teks. Berdasarkan pandangan yang absah dalam tradisi keilmuan, aturan
dan hukum tersebut bisa disusun dan dirumuskan, sebagaimana perumusan dan penyusunan secara sistimatik kaidahkaidah
berpikir dan berargumentasi yang dapat disaksikan pada disiplin ilmu logika (mantik). c. Kondisi ideal untuk
mufassir adalah pencapaian suatu pemahaman yang benar-benar diyakini sebagai tujuan inti dari pembicara dan pemilik
teks. Namun, keyakinan dan kepercayaan ini tidak senantiasa hadir dalam semua teks. Kejelasan implikasi teks
terhadap makna yang dituju (sebagaimana kehendak utama sang pemilik teks), dalam tradisi keagamaan, disebut
dengan "nash". Dalam nash keagamaan, para mufassir meraih pemahaman objektif yang sesuai dengan realitas
hakikinya. Dalam selain nash, yang secara istilah disebut dengan "makna lahiriah", para mufassir tidak dapat
menyatakan secara jelas, yakin, dan tegas terhadap objektivitas pemahaman dan interpretasinya, akan tetapi, perolehan
makna-makna tersebut tidak dikatakan telah keluar dari domain validitas penafsiran. Ketiadaan kejelasan ini dan
kesulitan pencapaian maksud utama pembicara dan pemilik teks, tidaklah lantas menggambarkan ketiadaan tolok ukur
untuk memilah dan memilih mana interpretasi yang benar dan yang tidak benar. Dalam kategori-kategori penafsiran teks,
khususnya interpretasi terhadap teks-teks keagamaan, sangat diupayakan menemukan pemahaman valid yang dapat
dipertanggung jawabkan dalam koridor metodologi dan kaidah-kaidah umum dan logis yang secara disiplin diaplikasikan
oleh kaum intelektual dan cendekiawan dalam menafsirkan setiap teks. d. Perbedaan dan kesenjangan zaman yang
terdapat antara penafsir dan kehadiran teks adalah bukanlah penghalang bagi tercapainya makna-makna yang
dimaksud dan objektivitas dalam teks-teks religius, karena perubahan-perubahan bahasa dalam rentang perjalanan
waktu tidaklah membuat pemahaman atas teks menjadi sangat sulit dan tidak akan terjadi kontradiksi antara makna
lahiriah dan makna-makna yang diinginkan oleh pembicara dan penulis. e. Segala upaya interpretator mesti diarahkan
untuk menggali pesan-pesan utama teks dan maksud asli penulis lewat implikasi-implikasi teks. Atas dasar ini, menolak
segala bentuk pikiran-pikiran penafsir dalam penentuan pesan dan maksud teks. Tafsir birra'yi secara tegas ditolak
karena akan berujung pada kehadiran warna pemikiran mufassir dan bertolak belakang dengan metode umum dalam
penafsiran teks. Berdasarkan cara ini, mufassir akan dipengaruhi oleh pesan-pesan teks dan terposisikan sebagai
penerima pesan-pesan teks, ia tidak berhak merumuskan sendiri bentuk pesan-pesan teks itu. Dan jika ia menginginkan
aktif dalam penentuan pesan-pesan uatama teks secara sepihak, maka ia telah keluar dari metode interpretasi yang sah.
f. Tradisi penafsiran yang benar atas teks sangat bertentangan dengan aliran relativisme pemahaman dimana
beranggapan tentang ketiadaan tolok ukur yang pasti dan jelas dalam penentuan pemahaman yang benar dan keliru,
tidak mungkin memisahkan dan menentukan pemahaman hakiki dan objektif dari pemahaman yang salah, menerima
berbagai bentuk keragaman pemahaman teks, dan menolak adanya ketunggalan pemahaman dan objektivitas.
Kehadiran aliran hermeneutik filosofis pada abad keduapuluh yang melontarkan berbagai kritikan-kritikan terhadap
kaidah-kaidah, hukum-hukum, dan tradisi-tradisi umum interpretasi teks yang diterima sebagai landasan bagi perumusan
pemikiran keagamaan, pada akhirnya mengerucut kepada keraguan atas realitas penafsiran teks keagamaan dan
berbagai pikiran-pikiran religius. Di bawah ini akan diungkapkan secara ringkas ide dan gagasan utama hermeneutik
filosofis yang kemudian melahirkan kondisi-kondisi pertentangan dengan metode umum interpretasi yang diterima oleh
penafsir muslim: a. Pemahaman-pemahaman atas teks merupakan hasil dari penggabungan antara horizon dan
perspektif mufassir dan makna-makna teks. Oleh karena itu, pengaruh pemikiran-pemikiran para penafsir dalam
pemahaman bukanlah hal yang negatif, melainkan juga syarat eksistensial kehadiran pemahaman dan merupakan hal
yang tak bisa ditolak dan dipungkiri. b. Memperoleh pemahaman objektif teks yang berarti kemungkinan mencapai
suatu pemahaman yang sesuai dengan kenyataan hakiki adalah hal yang mustahil, karena unsur-unsur itu (seperti
pikiran dan asumsi mufassir) merupakan syarat perwujudan pemahaman, dan dalam setiap perolehan tidak lepas dari
pengaruh pengetahuan-pengetaguan penafsir. c. Pemahaman teks secara praktis tidak berakhir dan kemungkinan
adanya penafsiran dan interpretasi lain yang beragam dengan ranah tak terbatas, karena penafsiran teks itu adalah
gabungan antara horizon mufassir dan makna-makna teks, dan dengan adanya perubahan sosok penafsir dan
perspektif-perspektifnya, akan melahirkan interpretasi yang tak terbatas dari probabilitas penggabungan tersebut. jadi
kemungkinan munculnya komposisi-komposisi tak berhingga. Walhasil, kemungkinan perwujudan pemahaman dan
penafsiran terhadap teks yang beragam pun menjadi realitas yang tak terbatas. d. Tak ada suatu pemahaman dan
interpretasi pun yang konstan dan tak berubah dimana merupakan suatu pemahaman puncak yang bersifat tetap. e.
Tujuan dari penafsiran teks adalah bukan berupaya memahami maksud dan keinginan pemilik teks. Kita berhadapan
dengan teks dan bukan pencipta teks itu. Bahkan, penulis teks juga diposisikan sebagai penafsir teks yang tidak
berbeda dengan mufassir-mufassir lainnya. Teks adalah realitas mandiri yang "berdialog" dengan interpretator dan
pemahaman itu lahir dari hasil "percakapan" dan "dialog" tersebut. Seorang penafsir sama sekali tak berurusan dengan
pesan-pesan inti dan maksud-maksud utama yang dikehendaki oleh para penulis dan pemiliki teks. f. Tak ada satu pun
tolok ukur yang bisa digunakan untuk membandingkan antara interpretasi yang benar dan yang keliru, karena secara
mendasar tak ada satu penafsiran yang dianggap paling absah. g. Hermeneutik filosofis memiliki kesamaan dengan ide
relativitas interpretasi dan membuka secara luas penafsiran-penafsiran teks yang radikal. Sangat perlu dikatakan
bahwa hermeneutik filosofis mempengaruhi pemikiran-pemikiran keagamaan secara tidak langsung dan juga ia tak
mengajukan metode baru dalam pemahaman teks. Ketidaklangsungan pengaruh-pengaruhnya itu telah disinggung di
awal pembahasan ini dan telah kami tunjukkan bahwa hermeneutik filosofis tidak memiliki kecenderungan religius
dengan segala konsep dan gagasan khususnya itu. Pengaruh-pengaruh yang ditimbulkan dalam ranah pemikiran
keagamaan itu melewati kritikan-kritikan yang diajukannya kepada cara dan metode umum interpretasi teks yang
http://telagahikmah.org/id - Bentara Budaya Hujjatiyah Powered by Mambo Generated:6 May, 2009, 08:17
diterima itu. Poin penting yang ditekankan di sini adalah bahwa kritikan hermeneutik filosofis terhadap metodologi umum
itu tidak dalam rangka mengajukan rumusan metode baru sebagai pengganti metode umum tersebut. Hermeneutik
filosofis tidak memandang posisinya itu sebagai ungkapan metodologi baru untuk pemahaman dan interpretasi teks,
termasuk teks-teks keagamaan, melainkan ia mengajukan analisis substansi pemahaman teks, syarat perwujudan
pemahaman, dan tujuan-tujuan penafsiran serta sangat kontra dengan tradisi analisis interpretasi teks. Gagasan ini,
merupakan serangan dan kritikan serius terhadap metodologi umum penafsiran teks. Dan kelanggengan metode umum
dan keabadian pemikiran formal religius tersebut sangat bergantung kepada solusi komprehensif dan universal terhadap
berbagai kritikan-kritikan itu. 9. Hermeneutik dan Epistemologi Hubungan dekat di antara kedua ilmu ini karena
keduanya sama-sama mengkaji subjek pemahaman dan makrifat manusia. Walaupun demikian, kita tidak dapat
menyamakan kedua ilmu tersebut dan menyatakan bahwa hermeneutik itu tidak lain adalah epistemologi itu sendiri atau
sebaliknya. Hermeneutik, sebagaimana yang telah dijelaskan, menguraikan metode pencapaian pemahaman, syaratsyarat
dan kaidah perwujudanya. Sementara pada epistemologi membahas persoalan-persoalan seperti, apakah
makrifat manusia bersifat fitri, inderawi, empirik, atau gabungan dari semua itu? Apakah konsepsi pikiran manusia
berakar pada fitrah atau indera? Apakah makrifat manusia bersifat terbatas dan bagaimana terwujudnya konsepsikonsepsi
yang tak terbatas itu dalam pikiran? Tolok ukur kebenaran dan kesalahan? Hubungan antara pikiran (subjek)
dan alam eksternal (objek)? Media-media dan sumber-sumber pengetahuan manusia? Tak satupun dari masalahmasalah
tersebut ini dibahas dalam ranah-ranah hermeneutik. Terkadang dalam epistemologi dikaji tentang syaratsyarat
dan penghalang-penghalang ilmu dan makrifat. Kajian-kajian seperti ini bisa dikategorikan sebagai pembahasanpembahasan
hermeneutikal. 10. Hermeneutik dan Ilmu Logika Keduanya memiliki kesamaan karena masing-masing
membahas metode pemikiran dan pemahaman. Namun, peran ilmu logika adalah merumuskan kerangka-kerangka yang
dijadikan landasan dan metode bagi seluruh pengetahuan dan pemikiran manusia, termasuk juga metode-metode umum
dalam hermeneutik, karena dalam tingkat argumentasi dan demonstrasi tidak mungkin lepas dari penggunaan salah satu
dari metode logikal, apakah para penafsir hermeneutik berpijak mutlak pada penulis teks, teks sentris, atau mufassir
sentris. Dengan ungkapan lain, dalam ilmu hermeneutik akan dikatakan bahwa apa syarat-syarat dan kaidah-kaidah
pemahaman dan interpretasi atas suatu teks, karya-karya kesusastraan, atau bahkan fenomena-fenomena natural.
Sebagai contoh, apakah pandangan dunia penulis dan pemilik teks, atau syarat-syarat alami dan sosial sebagai faktorfaktor
yang berpengaruh dalam kemunculan karya-karya manusia dan fenomena-fenomena natural, atau kondisi-kondisi
ruhani, pikiran dan budaya mufassir, yang memiliki peran positif atau negatif dalam penafsiran dan pemahaman
manusia? Akan tetapi, bagaimana konsepsi-konsepsi dan pengetahuan-pengetahuan manusia tersebut disusun secara
sistimatik dan bagaimana memperoleh suatu konklusi yang diinginkan dari premis-premis yang ada, hanya dipaparkan
dan diulas oleh ilmu logika dan tidak dijelaskan dan diuraikan oleh ilmu hermeneutik. 11. Hermeneutik dan Linguistik
Linguistik adalah salah satu disiplin ilmu manusia yang tertua. Hal ini karena bahasa itu merupakan rukun-rukun penting
dan urgen dalam kehadiran konsepsi dan transaksi pemikiran serta komunikasi sosial. Berdasarkan realitas ini, bahasa
senantiasa menjadi subjek dan ranah pembahasan teoritis para pemikir. Pilologi, aturan-aturan bahasa, makna-makna,
dan estetika bahasa merupakan kajian-kajian klasik bahasa. Dalam era modern, terdapat kecenderungankecenderungan
baru di wilayah penelitian bahasa yang berpuncak pada kehadiran filsafat analisis bahasa yang
memandang segala pengkajian filosofis itu mesti berangkat dari observasi linguistik dan fungsinya. Pada sisi lain,
hermeneutik juga berurusan dengan teks-teks, sementara bahasa merupakan pembentuk teks. Dengan demikian,
hermeneutik juga memandang penting masalah-masalah linguistik. Gagasan ini, juga terlontar dalam hermeneutik klasik
dan hermeneutik modern, yang terkhusus sangat ditekankan pada hermeneutik Gadamer. Menurut Gadamer, bahasa itu
bukan hanya sebagai media penyaluran pemahaman, melainkan pembentuk suatu pemahaman. Dengan ibarat lain,
hakikat dan substansi pemahaman itu adalah bahasa. Berdasarkan gagasan ini, ilmu hermeneutik mempunyai
hubungan erat dengan linguistik beserta cabang-cabang dan metode-metodenya yang beragam. Namun masing-masing
ilmu tersebut merupakan disiplin-disiplin ilmu tertentu yang mempunyai subjek, ranah, metode, dan tujuan-tujuan khusus.
Pada hakikatnya, bisa dikatakan bahwa ilmu hermeneutik itu mengambil manfaat dari pembahasan linguistik. Begitu pula
linguistik, khususnya pengkajian yang merumuskan fungsi, kaidah, dan kerangka bahasa, sangatlah terkait dengan ilmu
hermeneutik, khususnya penerapan hukum dan kaidah bahasa. Kenyataan ini sebagaimana hubungan hermeneutik
dengan ilmu logika, yakni hermeneutik tidak mungkin melepaskan dan memisahkan dirinya dari penggunaan metodemetode
umum logika dan berpikir.[dikutip dari www.wisdoms4all.com]
[1] . The Hermeneutics Reader Ed by Kort Muller volmer, Basil Black well, PP 1, 2. [2] . Nama kitab Dann Hauer
adalah sebagai berikut: "Hermeneutica sacra sive methodus exponendarum sacrum litterarum", yang bermakna
"Hermeneutik Suci atau Metode Penafsiran Teks-teks Suci Injil". [3] . Jean Grondin, Introduction to Philosophical
hermeneutics, yale university press, 1994, p, 48. [4] . Palmer, Ricard E, Hermeneutics, North western university press,
1969, PP 12, 13; Routlege Encyclopedia of Philosophy, Edward craig, volume 4, 1998, P 385. [5] . The Encyclopedia df
Religion, mircea Eliade, volume 5, P 179. [6] . Jean Grondin, Introduction to Philosophical Hermeneutics, P 22. [7] .
Palmer, Tichard, Hermeneutics, P xii. Argumen Robinson adalah sebagai berikut bahwa keumuman dari kata ini dalam
bahasa yang lain kosong dari huruf "s" , di Jerman, ilmu ini disebut dengan "Hermeneutik", di Perancis "Hermeneutique",
dan di Latin disebut dengan "Hermeneutica" dimana keseluruhannya diucapkan tanpa adanya huruf "s". [8] . Dalam
hermeneutik filosofis, biasanya pemisahan Immanuel Kant antara fenomena dan hakikat sesuatu disebutkan sebagai
realitas hermeneutical. Karena pemisahan dan pembedaan ini memiliki peran penting dalam perubahan filsafat Barat
dari Metafisika menjadi Hermeneutik. Grondin, Jean, Sources of Hermeneutics, Stute University of New York press,
1995, P 3. [9] . Hans-Georg Gadamer dalam analisisnya terhadap esensi pemahaman dan interpretasi teks
menganggapnya sebagai konklusi dari penggabungan dan fusi horizontal antara makna penafsir dan makna teks (fusion
of horizons). Jadi, penafsir mengamati dan memahami teks dengan pengetahuan-pengetahuan dan asumsi-asumsi yang
dimiliki sebelumnya, yaitu ia menafsirkan dengan dimensi hermeneutik khusus yang dimilikinya. Berdasarkan analisis ini,
http://telagahikmah.org/id - Bentara Budaya Hujjatiyah Powered by Mambo Generated:6 May, 2009, 08:17
interpretasi teks merupakan hasil diskursus hermeneutik (hermeneutical discourse) antara penafsir dan teks. [10] .
Auslegekunst. [11] . The Hermeneutics Reader, P 5. [12] . Routledge Encyclopedia of Philosophy, vol 4, P 385. [13] .
Sources of Hermeneutics, P 6. [14] . Introduction to Philosophical Hermeneutics, PP 86, 88, 89. [15] . The
Hermeneutics Reader, P 27. [16] . Makalah ini telah dicetak di berbagai tempat, antara lain pada awal terjemahan
Murad Farhadpuur dari kitab Halqeye Intiqadi, yang disusun oleh David Guznazhawey. [17] . Contemporary Philosophy,
Edited by G. Floisad, Volume 2, Martinus Nijohoff oublisher, 1982, P 457. [18] . Bruns, Gerald L, Hermeneutics Ancient
and Modern, P 1. [19] . Richard E. Palmer, Contemporary Philosophy, P 461. [20] . Menurut Hans-Georg Gadamer,
hakikat-hakikat yang ada dalam fenomena-fenomena sejarah seperti teks, peninggalan seni, tradisi, dan sejarah itu tidak
bisa dicapai lewat bantuan suatu metode. [21] . Richard E. Palmer, Contemporary Philosophy, PP 461, 464. [22] .
Contemporary Philosophy, PP 461, 464. [23] . Jean Grondin, Introduction to Philosophical Hermeneutics, P 50. [24] .
Hans-Georg Gadamer, Philosophical Hermeneutics, P 50. [25] . Jean Grondin, Introduction to Philosophical
Hermeneutics, P 14. [26] . Martin Heidegger, Being and Time, PP 21, 28. [27] . Ibid, PP 61, 62. [28] . Brice R.
Wachterhausey. Hermeneutics and Modern Philoshophy. [29] . Paul Ricoeur, Hermeneutics, P 14. [30] . Jeanrond G.
Werner, Text and Interpretation as categories of theological thinking trans by Thomas J. Wilson, P 40. [31] . Jean
Grondin, Introduction to Philosophical Hermeneutics, PP 32, 33. [32] . Ibid, PP 34, 35. [33] . Ibid, PP 36, 37. [34] . Hans-
Georg Gadamer, Truth and Method, PP 421, 435. [35] . Frederick Copleston, Tarikh-e Falsafe, jilid tujuh, hal. 400. [36] .
Ibid, hal, 398 dan 399. Penulis adalah mahasiswa postgraduate, Filsafat & Irfan, Universitas Imam Khomeini Ra, Qum
http://telagahikmah.org/id - Bentara Budaya Hujjatiyah Powered by Mambo Generated:6 May, 2009, 08:17

_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_



Definisi dan Karakteristik Epistemologi Agama

Epistemologi agama merupakan suatu bentuk makrifat derajat kedua, dimana seorang epistemolog dengan pandangan kesejarahannya melihat kepada makrifat-makrifat agama dan memberikan penjelasan tentang dasar-dasar representasi, pembenaran dan aksiden-aksidennya. Untuk lebih jelasnya masalah ini, perlu kami isyaratkan terlebih dahulu suatu bentuk pembagian universal dalam wilayah pembahasan epistemologi.  

Epistemologi dalam telaah universal dibagi atas dua jenis, epistemologi apriori dan epistemologi aposteriori.

1. Epistemologi apriori: Bagian epistemologi ini membicarakan tentang wujud mental, ilmu dan kognisi. Dengan kata lain, subyek dari epistemologi ini, adalah eksistensi dan esensi daripada ilmu. Adapun predikat-predikat yang dipredikasikan atas subyek epistemologi ini, seperti kenonmaterian ilmu, kematerian ilmu, kesatuan 'âlim dan ma'lûm, kualitas mental dan sebagainya. Misalnya dikatakan: wujud ilmu, adalah non materi atau esensi ilmu, adalah kualitas mental atau ilmu dibagi atas hudhuri dan hushuli serta contoh-contoh lainnya. Jenis epistemologi ini, disebut epistemologi sebelum terealisasi dan teraktual ilmu-ilmu atau disebut juga epistemologi filosofis. Perlu juga disebutkan bahwa jenis epistemologi ini mempunyai dua tema bahasan utama, ontologi ilmu dan penyingkapan ilmu. Yakni, terkadang pembahasan berbicara tentang wujud dan mahiyah ilmu dan terkadang pembahasan berhubungan dengan penyingkapan makrifat-makrifat terhadap realitas dan hakikat.

2. Epistemologi aposteriori: Jenis epistemologi ini merupakan kebalikan dari jenis epistemologi terdahulu, ia ada sesudah merealitas dan mengaktualnya ilmu dan makrifat manusia serta tidak memperhatikan pada wujud atau mahiyah ilmu sebagai realitas dalam akal dan mental manusia; akan tetapi subyek-subyeknya, adalah totalitas makrifat-makrifat dan proposisi-proposisi atau konsepsi-konsepsi (tashawwur) dan afirmasi-afirmasi (tashdiq) yang maujud dalam berbagai ilmu. Dengan kata lain, subyek dari golongan epistemologi ini adalah dari tipe dan jenis makrifat.

 

Selanjutnya poin ini perlu diketahui juga bahwa epistemologi memiliki tinjauan terhadap seluruh proposisi-proposisi ilmu, baik proposisi-proposisi itu sesuai dengan realitas ataukah sama sekali tidak ada kesesuaian; dengan kata lain, seluruh penerimaan dan penolakan proposisi-proposisi ilmu itu menjadi hal yang diterima oleh para ilmuan dari disiplin ilmu tersebut dan menjadi bahan telaah mereka.

  Untuk penjelasan yang lebih luas berkenaan masalah ini perlu kami isyaratkan juga pembagian lain dari pengetahuan dan makrifat manusia. Pengetahuan dan makrifat manusia dalam suatu bentuk pengelompokan dikelompokkan menjadi dua, pengetahuan dan makrifat derajat pertama dan pengetahuan dan makrifat derajat kedua. Pengetahuan dan makrifat derajat pertama adalah makrifat-makrifat yang membahas tentang hakikat-hakikat tertentu; sebagai contoh, dalam fisika dibahas subyek-subyek seperti materi, energi, gerak, kekuatan, cahaya dan sebagainya, dan dalam kimia dibahas dan diteliti tentang unsur-unsur; akan tetapi makrifat-makrifat derajat kedua berbicara tentang pengetahuan dan makrifat derajat pertama; seperti filsafat ilmu Fisika (philosophy of physics) dimana yang dibahas dan ditelaah didalamnya adalah ilmu fisika itu sendiri atau secara global filsafat ilmu (philosophy of Science) dari ilmu-ilmu eksperimen, dibahas dan dikaji dari dimensi bahwa ia mempunyai satu esensi kesejarahan serta berusaha menjawab terhadap pertanyaan-pertanyaan seperti: apakah stetemen-stetemen ilmu dapat menerima pembuktian ataukah menerima pembatilan? Apakah proposisi-prosposisi (qadhâyah) ilmu bersifat tetap atau berubah? Dan pertanyaan-pertanyaan lain serupa itu. Dengan memperhatikan uraian-uraian di atas akan menjadi jelas bahwa filsafat setiap ilmu berada dalam tataran vertikal ilmu itu sendiri, tidak dalam kesejajarannya atau lebih utama darinya. Oleh karena itu topik-topik ilmu dan filsafat seperti filsafat akhlak, filsafat kalam (teologi), filsafat politik, filsafat matematika dan juga epistemologi agama, semuanya dipandang sebagai bagian dari pengetahuan dan makrifat derajat kedua atau epistemologi aposteriori.

Subyek epistemologi agama, adalah makrifat agama, dan makrifat agama merupakan suatu komprehensi umum yang dimutlakkan atas seluruh proposisi-proposisi yang diambil dari syariat. Maka dari itu sebagai konklusinya, pengetahuan dan makrifat fiqih, teologi, tafsir, hadis dan akhlak, semuanya terhitung sebagai makrifat agama. Akan tetapi tidak semua makrifat-makrifat kalam dapat dihitung sebagai makrifat agama; sebab tidak semua pembahasannya diambil dari syariat, sebagaimana dapat disaksikan pembahasan tentang Ilâhiyyât bil-ma'na al-akhash (filsafat ketuhanan) dalam kitab-kitab Kalam. Namun di samping itu pengetahuan dan makrifat rasional yang berhubungan dengan agama, harus dipandang sebagai bagian dari makrifat agama.

 

Penjelasan Mengenai Mafhûm Agama

  Untuk memahami lebih dalam pembahasan epistemologi agama, harus terlebih dahulu dijelaskan dan didefinisikan mafhûm (komprehensi) agama, sehingga dapat diketahui secara baik kedudukan dari epistemologi tersebut. Agama (dîn) dalam bahasa Arab bermakna ketaatan, balasan, khudhu' (tunduk) dan menyerah; tetapi definisi lughawi (leksikal) agama (dîn) dalam bentuk pembahasan ini tidak memecahkan masalah; oleh karena itu kita terpaksa mendefinisikan agama secara peristilahan. Istilah agama dalam zaman kita ini sangat sulit menerima definisi; sebab definisi-definisi yang diutarakan, terkadang sangatlah luas, yang mana juga memberi jalan masuk hal-hal yang berbeda pada batasannya, sehingga meliputi ideologi-ideologi Materialisme seperti Marxisme atau ia sedemikian terbatasnya sehingga tidak menghimpun semua individu-individunya.

Problem mendasar dalam pembahasan ini, apakah agama-agama yang ada ini mempunyai perkara yang sama sehingga berasaskan perkara yang sama itu dapat diutarakan suatu definisi baginya ataukah tidak?

  Definisi-definisi agama yang beragam telah diutarakan dalam bentuk pembahasan tersendiri; sebab itu dalam pembahasan ini hanya akan diisyaratkan definisi-definisi dari sebagian penulis; oleh karena itu di antara definisi-definisi agama yang dipandang perlu diungkapkan adalah:

  1.

  Dari Kitab dan Sunnah[1];
  2.

  Rukun-rukun, prinsip-prinsip dan cabang-cabang agama yang turun atas Nabi Saw[2];
  3.

  Teks-teks agama, keadaan-keadaan dan prilaku-prilaku pemimpin-pemimpin agama (para Nabi dan pembawa agama)[3];
  4.

  Kitab, sunnah dan sejarah kehidupan pemimpin-pemimpin agama[4]. 

Definisi-definisi ini, di samping terdapat pertentangan-pertentangan dalam ungkapan, juga memiliki problem ilmiah (isykal) seperti di bawah ini:

Problem pertama: Penulis dalam ungkapan-ungkapannya, terkadang bermaksud mendefinisikan agama dan terkadang bermaksud menedefinisikan syariat; dan bagi orang-orang yang ahli dalam ilmu Kalam, tidak tersamar bagi mereka bahwa kedua istilah ini adalah berbeda; sebab di samping isytarâk lafzhi (equivocal) dalam terma syariat, juga syariat dimutlakkan terhadap cabang-cabang agama dan mempunyai makna yang lebih khusus dari agama.

Problem Kedua: Penulis mencampuradukkan antara agama dan naskah agama; agama adalah sekumpulan hakikat-hakikat dan nilai-nilai, sementara naskah dan teks agama adalah yang menberitakan dan mengisahkan tentang hakikat dan nilai tersebut. Oleh sebab itu relasi (nisbah) antara teks agama dan agama, adalah relasi (nisbah) antara yang memberitakan dan diberitakan.

  Sebagai konklusi, definisi agama yang menjadi pilihan kita adalah sekumpulan hakikat-hakikat dan nilai-nilai yang sampai ke tangan manusia dari jalan wahyu, dalam bentuk Kitab dan Sunnah yang bertujuan memberi hidayah dan petunjuk kepada manusia.

 

Makrifat Agama

  Berdasarkan definisi-definisi yang beragam dari agama, maka pengertian tentang makrifat agama juga menemukan perbedaan-perbedaan. Penulis kitab "Qabz wa basth teori syariat", dalam ungkapan yang berbeda-beda menjelaskan dan mendefinisikan istilah makrifat agama; terkadang pengertiannya adalah pemahaman agama atau pemahaman syariat dan terkadang pengertiannya adalah pemahaman manusia tentang syariat serta di dalam banyak kesempatan ia menyebutkannya dengan pengetahuan agama[5], yang pada tulisan ini kami akan isyaratkan sebagian dari ungkapan-ungkapan tersebut:

"Makrifat agama dalam definisi kami adalah identik dengan tafsir syariat yang dihasilkan dari pemahaman terhadap kalam Tuhan dan ucapan-ucapan pemimpin-pemimpin agama" (Nabi-nabi As dan pembawa agama). "Maksud kami dari makrifat agama adalah sekumpulan dari proposisi-proposisi yang dihasilkan dari jalan khusus dengan bantuan media khusus dengan memperhatikan terhadap teks-teks agama dan kondisi-kondisi serta prilaku-prilaku pemimpin-pemimpin agama".

"Makrifat agama, yakni pengetahuan dan makrifat yang dihasilkan dari pemahaman kitab dan sunnah, sejarah kehidupan pemimpin-pemimpin agama, pemahaman terhadap prinsip-prinsip dan dasar-dasar serta rukun-rukun dan cabang-cabang agama; semua ungkapan kami dalam tulisan ini tentang makrifat agama, tidak lain adalah makrifat-makrifat yang digunakan dari kitab dan sunnah itu sendiri…."[6]

  Definisi-definisi penulis kitab ini dari makrifat agama, di samping terdapat pertentangan dan perbedaan di antara definisi-definisi itu sendiri, pada dasarnya lebih banyak kembali pada makrifat teks-teks agama dari pada makrifat agama. Tapi pembahasan istilah-istilah ini tidak terlalu urgen untuk dipermasalahkan, yang urgen bagi kita adalah pemahaman unitas dari istilah-istilah yang ada sehingga kita aman dari kerancauan musytarak lafzhi (equivocal).

 

Iman dan Makrifat Agama

  Salah satu yang menjadi dasar dan landasan epistemologi agama adalah kejelasan perbedaan dan pemisah antara iman dan makrifat agama, sehingga dengannya kategori iman dapat dikeluarkan dari fokus pembahasan. Oleh karena itu kita harus juga membawakan sekelumit uraian dan penjelasan tentang iman dalam tulisan ini.

  Setiap maujud yang memiliki jiwa (ruh), baginya keterikatan-keterikatan; manusia juga disamping memiliki keterikatan terhadap materi, ia mempunyai keterikatan dan ketertarikan kepada pengetahuan, keindahan, politik dan kemasyarakatan. Iman juga adalah suatu bentuk keterikatan final, dimana seluruh maklumat-maklumat lain berada di bawah radius pancarannya atau yang lain tertolak karenanya; sebagai contoh, keterikatan final dan fanatisme nasionalisme ekstrim terhadap bangsa.

Oleh karena itu, dari jalan ini seluruh unsur-unsur kehidupan person di dalam prilaku dan amal menyatu dengan iman. Koridor dan batasan iman untuk setiap orang merupakan areal yang disucikan; yakni keterikatan final manusia pada akhirnya akan berubah menjadi suatu keterikatan suci dan saat itulah ia akan melahirkan unsur keberanian, keperkasaan dan kecintaan.[7]

  Hal yang berhubungan dengan iman, senantiasa berupa sesuatu atau individu tertentu; maka dari itu, pribadi mukmin dinisbahkan terhadapnya (sesuatu atau individu) harus mempunyai pengetahuan dan makrifat; itupun dalam bentuk makrifat yaqînî (disertai keyakinan); sehingga ia dapat dikategorikan sebagai hal yang bergantung dan berhubungan dengan iman; sebab iman terhadap sesuatu yang tidak diketahui secara mutlak adalah tidak mungkin, akan tetapi terkadang kepercayaan dalam diri akan menyebabkan lahirnya iman, tapi inipun pada hakikatnya dampak dari keyakinan.

  Adapun kekhususan-kekhususan dari iman di antaranya; senantiasa bergerak melakukan pencarian, menyempurna, melemah dan menipis. Kondisi-kondisi iman ini bisa saja dipengaruhi oleh faktor-faktor pengetahuan, psikologi, politik, kemasyarakatan dan lain-lain. Sampai di sini telah jelas bahwa iman merupakan kategori qalbu yang diperoleh dari dua unsur, yaitu ilmu dan kewajiban, dan makrifat agama sebagai subyek dari epistemologi agama, adalah ilmu dan pengetahuan para ulama agama yang dihasilkan lewat metode penelitian atau ilmu yang diperoleh dari jalan merujuk kepada akal dan sumber-sumber agama.

 

Hermeneutik  

  Mengingat bahwa pembahasan epistemologi agama berhubungan dengan masalah-masalah hermeneutik, maka sebaiknya kami juga menyinggung sekelumit pembahasan urgen dan hangat ini di hadapan para pembaca.

 

  A. Makna Hermeunetik  

Istilah hermeunetik (hermeneutics) merupakan derivasi dari kata kerja Yunani hermeneuein yang bermakna penafsiran dan dari sudut tinjauan etimologi mempunyai hubungan dengan kata Hermes, Tuhan bangsa Yunani kuno yang bertugas membawa pesan langit kepada manusia.

Gambaran dari struktur tiga tahapan penafsiran, adalah pesan (teks) tafsiran penafsir (Hermes) dan mukhâtab (yang disampaikan padanya pesan).

Adapun penggunaan kata hermeunetik dalam bentuk penggunaan sifat, berbentuk hermeneutic dan hermeneutical; seperti teori hermeneutik (hermeneutic theory). Urgen kami ingatkan bahwa pendekatan etimologi hermeunetik tidak dapat menyampaikan orang pada hakikat hermeunetik, maka dari itu harus dengan teliti melakukan penggalian terhadap esensi dan mahiyahnya. Dewasa ini, istilah hermeunetik sudah dimutlakkan pada cabang dan disiplin ilmu rasional yang mempunyai hubungan dengan mahiyah serta asumsi-asumsi sebelum interpretasi.

Hermeunetik dan teori penakwilan, telah diungkapkan sejak dahulu dalam dunia Barat (dunia Kristen) dan dunia Islam. Para ulama agama, menawarkan pendekatan-pendekatan seperti tahdzib dan tazkiyah nafs (Pembersihan dan pensucian jiwa) untuk menyingkap makna dari teks-teks suci dan menafsirkannya; akan tetapi dunia Barat, pada awal abad ke 19, dengan perantara ilmuan-ilmuan seperti Schleier Macher (1768-1834 M), Wilhelm Dilthey (1833-1911 M), dan Hans Georg Gadamer (1900 M) meletakkan landasan baru bagi ilmu ini. Teori tafsir Schleier Macher dengan merubah hermeunetik dari kedudukan khususnya menjadi kaidah-kaidah umum, berkisar pada fokus dua prinsip penafsiran, penafsiran grammatical dan technical. Dilthey dengan mengajukan metodelogi umum dalam ilmu-ilmu humaniora melakukan pembedaan metodelogis kelompok ilmu-ilmu ini dengan ilmu-ilmu alam, dengan itu ia memasukkan hermeunetik pada babak baru keilmuan. Sedangkan Gadamer, dengan karyanya "Truth and Method" menempatkan dirinya pada tataran pemikir-pemikir beraliran takwil. Gadamer, berseberangan dengan Macher dan Dilthey yang berpandangan bahwa jarak sejarah dan budaya seorang penafsir dari penyusun merupakan sumber dari buruknya pemahaman, menekankan bahwa tidak mungkin ada pemahaman tanpa pra asumsi-pra asumsi dan keyakinan para penafsir sebelum berhadapan dengan teks. Berdasarkan ini, Gadamer tidak memandang penting menyingkap maksud dari pada penyusun dan ia juga tidak meyakini penafsiran hakiki serta penafsiran final.

Sebagian dari ilmuan-ilmuan kontemporer yang beraliran takwil seperti E.D. Hirsch menekankan perbaikan teori dan pandangan Schleier Macher tentang bentuk dari maksud dan niat penyusun untuk menjauhi idealisme. Sementara Emilio Betti sejarawan Italia, mengeritik Gadamer dari dimensi menghilangkan kemungkinan memahami tafsir rasional dari tafsir muktabar.[8]

 

 B. Islam dan Hermeunetik  

Hermeunetik dalam dunia Islam, kendatipun tidak diungkapkan dalam bentuk mendiri dan terpisah, tetapi ilmu ini juga tidak terlalaikan. Bahkan para ulama 'Ulûm al-Qur'an dan Ushul al-Fiqh dalam karya-karya mereka, mengungkapkan pembahasan-pembahasan seperti ilmu tafsir dan perbedaannya dengan takwil, metode-metode penafsiran dan bentuk-bentuk penafsiran nakli, ramzi, syuhudi, akal dan ijtihad, tafsir al-Qur'an dengan al-Qur'an, tafsir dengan ra'yu (tafsir bir ra'y), dan pembahasan-pembahasan alfâzh seperti ilmu tentang wadh', macam-macam dilâlah; tashawwuri, tasdhiqi awwali, tashdiqi tsanawi, menyingkap maksud penyusun dan pembicara, dan lain-lain untuk tujuan Fiqih dan Tafsir.

Para ulama Islam kebalikan dari Gadamer dan seperti Schleier Macher serta Dilthey meyakini maksud dan niat penyusun sebagai makna final dan hakiki pembicara.

 

C. Pengaruh Asumsi Sebelumnya dan Hermeunetik

Fungsi dan tujuan paling penting dari takwil (interpretasi) adalah memberi jawaban pertanyaan-pertanyaan seperti: Apakah kita sebagai penafsir dapat sampai pada makna hakiki suatu ungkapan, dimana kita sendiri mempunyai persepsi dan pandangan khusus, tanpa memasukkan keputusan sebelumnya dan asumsi sebelumnya terhadap pengertian ungkapan itu? Apakah ungkapan-ungkapan di samping mempunyai makna lahir juga mempunyai makna lain (makna batin)? Apakah ada kemungkinan menemukan makna batin itu? Mengapa bisa terjadi perbedaan penafsiran di antara penafsir-penafsir terhadap satu teks? Apakah perbedaan asumsi-asumsi sebelumnya dan jarak sejarah antara penyusun dan penafsir tidak menimbulkan ambiguitas dan kerumitan-kerumitan ungkapan? Apakah perbedaan kaidah dan metode penjelasan serta penafsiran setiap orang merupakan penyebab timbulnya aliran-aliran beragam in? Apakah dapat diungkapkan niat dan maksud penyusun, terlebih khusus niat dan maksud Tuhan? Apakah ada jalan untuk membedakan antara pemahaman benar dan pemahaman salah, atau harus mengarah pada pandangan fenomenologi hermeunetik dan Gadamer yang berujung pada relativisme dalam pemahaman? Apakah setiap pemahaman butuh pada interpretasi? Apakah setiap teks mempunyai makna tersembunyi yang harus diungkap dengan penafsiran? Ataukah tanpa penafsiran juga dapat diperoleh makna dari teks-teks? Dan yang lebih penting, apa hakikat dari pemahaman, realisasi, dan kenyataan pemahaman itu?  

  Sejarah memberi kesaksian bahwa penelitian dan analisa hermeunetik serta secara umum metode-metode pemahaman teks, khususnya teks-teks agama, memiliki tingkat keurgenan lebih besar dibanding cabang dan disiplin ilmu lainnya; sebab setiap agama dan masyarakat agama, dengan sekumpulan dan setumpuk penafsiran yang berbeda-beda telah memunculkan banyak pertikaian dan permusuhan di antara agama-agama, mazhab-mazhab teologi, dan mazhab-mazhab fiqih, dan ini terus berlanjut dalam perjalan sejarah hingga sekarang ini.[www.wisdoms4all.com]

   

 

[1] . Abdul Karim Surûsy, Qabz wa Basth Teorik Syariat, Hal. 25,79,80 dan 225.

[2] . Ibid.

[3] . Ibid.

[4] . Ibid.

[5] . Abdul Karim Surûsy, Qabz wa Basth Teorik Syariat, Hal. 25, 79, 80, 97, 122, 206, 243 dan 255. 

[6] . Ibid.

[7] . Paul Tilich, Puyâyî Iman, Penerjemah: Husain Nuruzi, Hal.15.

[8] . Hermeneutics, The Encyclopedia of Religion. Mircea Eliade 1987.


http://www.wisdoms4all.com/Indonesia/index.htm
_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+__+_+_+ 
Tulisan Heurmeneutika Nashr Hamid keren dan mabruk. Ada pertanyaan yang menggelitik. Duluan mana antara makna dan teks? Pertanyaan ini senada dengan pertanyaan duluan mana antara ayam dan telor? Dalam konteks ini, saya rasa heurmeneutika mucul dengan ragamnya yang kaya. Bisakah seseorang (Muslim?) yang berani mengkaji teks Quran yang begitu sakral dengan kajian heurmeneutika post-strukturalis yang mengandaikan bahwa teks telah lepas dari sang pengarangnya (seperti Derrida). Teks dicumbuhi selaras dengan daya nalar sang penafsir, dengan memangkas relasi teks dari pengarangnya. Pengarang telah mati. Gimana Ustadz Akmal?

----- Original Message ----
From: eurekamal
To: wisdoms4all@yahoogroups.com
Sent: Monday, November 12, 2007 2:03:37 PM
Subject: [wisdoms4all] Membincang Hermeunetik Abu Zaid

Dr. Hamid Abu Zaid memandang matan merupakan sebuah hasil dan produk
dari sebuah kebudayaan yang mesti dikaji dalam ufuk sejarah. Dalam
mengkaji setiap teks yang harus diperhatikan adalah kebudayaan yang
berkembang pada masa tersebut. Relasi antara teks (matan) dan
kebudayaan harus selalu mengalami dialektika, lantaran keduanya
saling mempengaruhi, matan mempengaruhi kebudayaan dan demikian
sebaliknya.
Menurut Abu Zaid, al-Qur'an adalah satu teks bahasa dan ia harus
ditelaah, dikaji dengan metodologi analisa bahasa. Abu Zaid meyakini
bahwa al-Qur'an mengandung dimensi esoterik (di samping dimensi
eksoterik), kendati manusia tidak dapat sepenuhnya memahami dimensi
esoterik al-Qur'an.
Menelaah matan atau teks dalam ufuk sejarah menandakan bahwa ahkam
(plural dari hukum) menemukan maknanya dalam relasi masa turunnya
(revelasi) makna tersebut. Dan sebagian hukum-hukum tersebut tidak
lagi berguna untuk digunakan pada masa kini. Pada setiap masa dan
zaman, bacaan (penafsiran) dan takwil tentang teks harus mengalami
perubahan. Peran pembaca juga dalam memahami teks menjadi fokus
perhatian Abu Zaid. Menurutnya, kebudayaan zaman dalam al-Qur'an
mengalami reaksi dan dengan demikian sebagian komprehensi dan
pemahamannya seperti jin dan setan yang bertautan dengan masa
turunnya masalah tersebut tidak lagi sesuai dengan masa sekarang.
Dalam pandangan Abu Zaid, hermeunetik Gadamer dapat membantu seorang
penafsir sehingga ia dapat memperbaharui pandangannya terhadap
warisan budaya (al-Qur'an) dan memasukkan pandangan-pandangan (baru)
yang disampaikan pada setiap zaman"..
Pandangan Abu Zaid ini sebenarnya bukan pandangan yang sama sekali
baru, karena pendahulunya Arkoun telah menjadi path-finder dalam
permasalahan ini. Abu Zaid menjadi fenomenal lantaran ia melawan
arus main-stream pemikiran yang bergolak di sekitarnya.. Nah members
MILIS, mungkin dalam rangka mengisi kevakuman ada baiknya kita
mendiskusikan masalah hermeunetik, khususnya hermeunetik yang
diusung oleh Abu Zaid...
Untuk lengkapnya dari bacaan di atas. silahkan klik..
http://isyraq. wordpress. com/
pada Abu Zaid dan Penafsiran Teks dalam Ufuk Sejarah...

Regards

Eurekamal

http://groups.yahoo.com/group/wisdoms4all/messages
_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_
Hermeneutika (dari bahasa Yunani Ερμηνεύς hermēneuō: menafsirkan) adalah aliran filsafat yang bisa didefinisikan sebagai teori interpretasi dan penafsiran sebuah naskah melalui percobaan. Biasa dipakai untuk menafsirkan Alkitab, terutama dalam studi kritik mengenai Alkitab.
http://id.wikipedia.org/wiki/Hermeneutika
_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_


Hermeunetik; Seni Memahami Teks Oktober 29, 2007
Posted by makkawaru in Wacana.
trackback

Akar kata “hermeneutik” dalam fi’il Yunani “hermeneuein” bermakna menakwilkan (menafsirkan) dan dalam bentuk nomina “hermeneid” bermaka takwil (tafsir). Dalam karya Aristoteles dijumpai kata peri hermeneids yang menyangkut pembahasan proposisi-proposisi dan kemudian dihubungkan dengan takwil. Kata ini dalam bentuk isim juga dijumpai dalam teodhisi udipus di kulunus dan juga dalam karya-karya Plato. Kedua kata “hermeneuein” dan “hermeneid” ini di nisbahkan pada Tuhan pembawa pesan yunani bernama “Hermes” dan secara lahiriah kata tersebut diambil darinya, dan mungkin juga sebaliknya.Nama Hermes berhubungan dengan tugas mengganti apa yang di atas pemahaman manusia ke dalam suatu bentuk di mana fikiran dan akal manusia dapat memahaminya. Orang-orang Yunani menghubungkan penemuan bahasa dan tulisan pada Hermes, yakni dua hal tersebut (bahasa dan tulisan) merupakan alat bagi manusia untuk memahami makna-makna dan memindahkan pada orang lain.

Oleh sebab itu, asas dan sumber kata hermeneutik mengandung aktivitas pada pemahaman, secara khusus aktivitas yang merupakan kemestian dari bahasa, sebab itu bahasa adalah perantara semua ukuran aktivitas ini.

Aktivitas perantara dan pemahaman “pesan” atau “berita” sudah mencitrakan nama Hermes, dan ini mempunya tiga aspek penting:

1.Menjelaskan kalimat-kalimat dengan suara keras yakni berkata atau berucap.

2.Menjelaskan dan menguraikan agar dapat terpahami dan disertai dengan argumen-argumen.

3. Menjelaskan seperti penerjemahan dari bahasa asing.

  Ketiga aspek di atas bisa diartikan dalam bahasa inggris dengan fi’il “to interpret”. Oleh karena itu, kata hermeneutic atau takwil mempunyai tiga aspek yang berbeda:

-Berkata

-Menjelaskan agar dapat dipahami

-Menerjemahkan

Dan ketiga tugas di atas oleh orang-orang Yunani dihubungkan dengan Hermes.

“Berkata lebih kuat daripada tulisan, sebab di dalam berkata terdapat kekuatan hidup makna-makna, yang dalam tulisan kekuatan tersebut bisa menjadi hilang.”

Definisi Hermeneutik

Para ilmuan dalam mendefinisikan hermeneutik, mempunyai definisi yang berbeda-beda. Dan kita tidak dapat menemukan satu definisi yang menyeluruh yang mewakili definisi-defini mereka serta bersifat meliputi.

Namun kita dapat mengambil suatu definisi yang memiliki kedekatan dan kesamaan di antara definisi-definisi yang ada: Hermeneutik adalah ilmu yang berhubungan dengan penjelasan kebagaimanaan dan keharmonian pamahaman manusia, apakah itu berhubungan dengan batas pemahaman terhadap teks tertulis, ataukah secara mutlak aktivitas-aktivitas kehendak dan pilihan manusia atau mutlak realitas-realitas eksistensi.

Paul Richor mendefinisikan hermeneutik: “Teori aktivitas pemahaman yang berhubungan dengan interpretasi teks.”

Antony Kerbooy, hermeneutik adalah ilmu atau teori penakwilan.

Andrew Bovy, hermeneutik adalah keahlian interpretasi.

Richard Polmer berpendapat bahwa defenisi-defenisi hermeneutik dapat disatukan meskipun memiliki sudut-sudut yang berbeda. Pandangan ini diutarakannya setelah ia mengungkap enam macam definisi hermeneutik.

  Keenam definisi tersebut:

1. Hermeneutik adalah teori penafsiran kitab suci (definisi yang paling tua);

2. Hermeneutik adalah ilmu yang berposisi sebagai metodologi umum bahasa (zaman renaisains);

3. Hermeneutik adalah ilmu setiap bentuk pemahaman bahasa (Schleiermacher);

4. Hermeneutik adalah dasar epistemologi untuk ilmu-ilmu humaniora (Wilhelm Dilthey);

5. Hermeneutik adalah fenomena eksistensi dan fenomena pemahaman eksistensi (Martin Heidegger);

6. Hermeneutik adalah sistem-sistem interpretasi (Paul Richoer). 

Dan pada akhirnya Richard Polmer juga mendefinisikan hermeneutik sebagai studi pemahaman dan secara spesifik pemehaman teks.

 Hubungan Hermeneutik dengan Ilmu-ilmu Lainnya

1. Hermeneutik dan Epistemologi

Hermeneutik dan epistemologi ditinjau dari dimensi peran yang berhubungan dengan makrifat dan pemahaman manusia, keduanya mempunyai hubungan yang dekat. Tapi kedua ilmu ini juga tidak bisa dikatakan satu, atau salah satu dari keduanya dikembalikan pada lainnya (dasar yang lainnya). Sebab hermeneutik adalah menjelaskan tentang metode mendapatkan pemahaman, syarat-syarat serta kaidah-kaidahnya; sedangkan epistemologi mempunyai permasalahan lain seperti:

a. Apakah pemahaman dan pengetahuan manusia fitri dan apriori, atau hissi (panca indra), empirik dan aposteriori, dan atau kedua-duanya dari itu?

b. Apa ukuran kebenaran dan kesalahan, hakikat dan bukan hakikat?

c. Hubungan apa yang terjadi antara subyek dan obyek?

d. Apa yang menjadi wasilah makrifat manusia? Akal, hissi atau wijdân ( hati nurani) atau semuanya?

Permasalahan-permasalahan di atas tidaklah dibahas dalam hermeneutik. Memang terkadang dalam epistemologi masalah syarat dan penghalang mendapatkan pengetahuan juga dibahas, pembahasan seperti ini juga bisa dikembangkan dalam hermeneutik, sebab itu pada dasarnya pembahasan ini mempunyai warna hermeneutik.

 2. Hermeneutik dan Logika

Kedua ilmu ini dari sisi mengajarkan cara berfikir dan memahami adalah satu. Tetapi ilmu logika dengan berdasarkan batasan-batasan yang dimiliki sebagai ilmu alat, merupakan persiapan ilmu, di mana di seluruh metode-metode pemikiran dan ilmiah menjadi tolok ukur. Dan hal ini tidak terlepas (berlaku juga) pada seluruh metode-metode hermeneutik yang beraneka ragam, sebab dalam posisi mengambil konklusi dan berargumen, hermeneutik tidak bisa terlepas dari menggunakan salah satu dari metode-metode ilmu logika, apakah itu hermeneutik yang berdasar (berfokus) penyusun, berdasar teks, atau berdasar penafsir.

Dengan kata lain dalam ilmu hermeneutik terdapat pandangan bahwa suatu teks tertulis, dan tafsiran suatu karya seni, atau bahkan dalam suatu fenomena natural berlaku syarat-syarat atau kaidah-kaidah, dimana hal itu berhubungan dengan pandangan dunia penyusun, dan atau syarat-syarat natural serta sosiologi dimana karya tersebut dihasilkan, dan atau keadaan, ruh serta syarat-syarat pemikiran dan kebudayaan si penafsir. Pengaruh apa yang diberikan (positif atau negatif) terhadap penafsiran dan pemahaman manusia? Tapi adapun bagaimana karya-karya manusia mendapatkan sistem keteraturan dan bagaimana dari mukadimah-mukadimah (premis-premis) dihasilkan konklusi tidaklah dijelaskan dalam ilmu hermeneutik, dan ini merupakan tanggungjawab ilmu logika shuri (formal). 

 3.Hubungan Hermeneutik dengan Ilmu Bahasa (linguistik)

Dari satu sisi hermeneutik mempunyai hubungan dengan teks, sedangkan di sisi lain keberadaan teks tergantung pada bahasa. Maka, kedua ilmu ini memiliki hubungan yang kuat. Masalah ini juga dalam hermeneutik klasik dan juga dalam hermeneutik modern, lebih khusus pada hermeneutik Gadamer sampai Gadamer memandang bahwa bahasa tidak hanya sebagai wasilah pindahnya pemahaman tetapi juga pemberi keberadaan pemahaman, dengan kata lain dia memandang esensi pemahaman adalah bahasa.

Oleh sebab itu, ilmu hermeneutik dan ilmu bahasa mempunyai hubungan kuat, tetapi tetap keduanya merupakan ilmu yang berbeda sebab masing-masing mempunyai subyek, metode dan tujuan khusus. Pada hakikatnya ilmu hermeneutik mengambil pendapat dari ilmu bahasa, dengan kata lain ilmu bahasa terutama bagian yang membahas penggunaan dan struktur bahasa mempunyai hubungan dengan ilmu hermeneutik sebagaimana hubungan ilmu logika dengan ilmu hermeneutik.

 4.Hermeneutik dan Ilmu Tafsir

Tidak diragukan bahwa di dunia Islam pandangan hermeneutik juga mewarnai pikiran-pikiran para ulama Islam. Sebab jika kita melihat bahwa Nabi Saw. beliau juga bertugas dan berperan sebagai penjelas dan penafsir al-Qur’an itu sendiri.

Allamah Thaba-thabai dalam menghubungkan ayat ini:

  “Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan dzikr (al-Qur’an) kepadamu, supaya kamu menjelaskan kepada manusia apa yang telah Kami turunkan kepada mereka. Dan semoga mereka menjadi orang-orang yang berpikir” (Q.S: an-Nahl :44)

kepada ayat:“Sebagaimana Kami telah mengutus pada kamu seorang Rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepadamu dan mensucikan kamu serta mengajarkan kepada kamu kitab dan hikmah”  

Berdalil dan berkata : sejarah penafsiran dimulai pada zaman turunnya al-Qur’an.

Jadi sesudah turunnya al-Qur’an, kaum Muslimin dengan seksama memperhatikan pemahaman dan penafsirannya dan para sahabat Nabi Saw. menjadi penafsir dan orang yang mengetahui pada pemahaman dan maksud dari pada al-Qur’an, dimana Imam Ali As. merupakan yang terbaik di antara mereka.

Setelah berlalu zaman dan semakin jauh dari masa turunnya wahyu maka kebutuhan kaum Muslimin terhadap penafsiran, pemahaman dan maksud dari pada al-Qur’an, dirasakan lebih besar lagi. Dan ini menyebabkan perhatian ulama islam terhadap ilmu tafsir semakin tinggi sehingga melahirkan karya-karya tafsir yang banyak di dunia Islam.

Dalam sejarah Ilmu tafsir di dunia Islam terdapat tiga metode tafsir umum:

1. Tafsir al-Qur’an dengan riwayat.

2. Tafsir al-Qur’an dengan ilmu pengetahuan manusia

3. Tafsir al-Qur’an dengan al-Qur’an sendiri.

 Kaidah Hermeneutik 

1. Prinsip Makna dalam Teks

Para pemikir Islam (Penafsir, Ahli Fiqh, Teolog) mempunyai keyakinan bahwa ayat-ayat al-Qur’an menunjukkan makna-makna khusus. Makna-makna di mana maksud Allah Swt yang Mahatahu dan Mahabijaksana tertuang dalam bentuk bahasa Arab yang fasih dan baligh (elokuen) dalam ikhtiar manusia untuk memberi hidayah pada manusia.

Dan tugas para ilmuan agama serta ahli tafsir adalah menggunakan metode benar dan menjaga kaidah-kaidah serta prinsip-prinsip tertentu untuk mendapatkan pemahaman yang benar dari makna-makna ayat suci al-Qur’an.

Prinsip tersebut tidak terkhususkan pada al-Qur’an tetapi juga untuk hadits-hadits maksum As dan juga setiap teks yang dipilih oleh setiap penyusun berakal dalam perkataan-perkataan dan tulisan-tulisannya.

Konstruksi kaidah ini berasal dari metode dan cara-cara manusia berakal dimana mereka berkehendak memindahkan hasil pikiran dan konsepsinya, mereka pindahkan dengan jalan bahasa. Pada hakikatnya Sistem percakapan dan pemahaman manusia berdiri atas ini.

Di antara orang-orang berakal baik itu ilmuan maupun masyarakat biasa semuanya menerima asas ini, bahwa sipembicara dalam menjelaskan maksudnya dengan jalan kalimat-kalimat dan ungkapan-ungkapan atau tulisan-tulisan mereka lakukan. Berdasarkan ini maka setiap teks mempunyai makna khusus dimana si penulis menuangkan maksudnya.

Di dunia Barat berlaku juga teori ini pada abad-abad sebelumnya, dan itu tidak hanya berlaku untuk konteks percakapan biasa tapi juga pada pembahasan filsafat dan pembahasan ilmiah. Para ilmuan dan teoritis ilmu hermeneutik seperti Schleier Macher dan Wilhelm Dilthey masih perpijak pada teori ini sampai kemudian muncul fase postmoderisme yang meragukan prinsip dan asas rasional ini. Di antara yang menolak pandangan tersebut datang dari pengikut hermeneutik filsafat Gadamer dan pengikut dekonstruksi Derrida.

Derida melakukan kritik terhadap pandangan bahwa makna dalam perkataan mempunyai kehadiran sedangkan dalam tulisan adalah tersembunyi, tetapi ia juga tidak menerima kebalikan dari itu bahwa tulisan lebih baik dari pada perkataan dan makna hadir di dalamnya. Dia berpendapat bentuk keyakinan ini adalah fokus penulis namanya, dan ia berkeyakinan dalam teks tulisan makna juga adalah gaib. Darida tidak menerima “pemahaman makna akhir teks”, sebab dalam pembacaan akan tecipta makna-makna yang tidak terhitung jumlahnya. Darida tidak bermaksud meruntuhkan teks, tetapi ia meruntuhkan dalil-dalil makna teks. Menurut pandangannya makna bukanlah suatu perkara yang tetap dan dahulu atas petunjuk atau tujuan, tetapi makna bahkan bergantung pada petunjuk yang secara esensial adalah tidak tetap dan tidak permanen. Dalam dekonstruksi dengan mengacak hubungan kata satu sama lain, dan dengan mendekonstruksi teks, memungkinkan perluasan nisbah makna-makna dan petunjuk-petujuk yang bermacam-macam, dan pada akhirnya tidak menerima adanya satu dalil dan makna khusus sebagai wajah akhir teks dan sebagai petunjuk akhir teks.

Dalam hermeneutik filsafat Gadamer, juga berpandangan kalau makna teks bukanlah sesuatu yang menjadi maksud penyusun, tetapi hasil persinggungan antara horizon makna penyusun dan horizon penafsir teks. Dan dalam hal ini asumsi-asumsi penafsir mempunyai dampak kunci, dan secara otomatis mengingkari makna sentral dan makna akhir teks. Gadamer juga tidak meyakini realitas makna dalm teks, tetapi ia berpandangan bahwa makna teks adalah menifestasi yang dihasilkan oleh pembaca atau si penafsir teks. Dan penampakan ini juga lebih dari segala sesuatunya yang mengikut pada alam rasional dan ruh si penafsir teks, hatta penyusun teks itu sendiri.

Dalam hermeneutik Gadamer titik penting bukan hasrat atau meksud penyusun dan bukan karya atau teks sebagai sesuatu fi nafsihi di luar dari sejarah, tetapi yang urgen adalah sesuatu yang menjadi arah berulang-ulang sejarah dalam memanifestasi. Menurut Gadamer dzihniyyat (alam pikiran) penyusun atau pembaca tidak ada satu pun menjadi rujukan realitas, tetapi makna sejarah itu sendiri dimana pengaruhnya dalam zaman sekarang untuk kita, yang menjadi rujukan realitas.

2. Penyusun sebagai Sentral dalam Tafsir (sentralisasi penyusun).

Untuk memahami makna teks yang menjadi perhatian dari si penyusun maka si pembaca berusaha memahami dan memahamkan hasrat dan maksud si penulis atau si penyusun. Kaidah hermeneutik ini berlaku secara mapan sebelumnya, yakni teks secara realitas dan nafsul amr menerangkan makna khusus yang meupakan niat , tujuan dan hasrat si penyusun, dan kaidah ini berhubungan dengan maqam penerapan dan pemahaman, yakni pemahaman fokus makna dalam teks harus memperhatikan maksud dan niat penyusun. Di sini pengikut hermeneutik filsafat juga melakukan penentangan, dari sudut pandang mereka pemahaman teks mengenyampingkan niat dan maksud penyusun atau dihasilkan dengan memadukan horizon makna penyusun dan pembaca teks.

Emilio Betty (Italia) dalam hal ini mengembalikan pada pandangan hermeneutik realistis. Sementara Eric (Amerika) pewaris pandangan Betty mengembalikan pada pandangan hermeneutik klasik, dan berkata: Jika makna tidak tetap dan permanen maka tidak akan ada realitas penafsiran.

  Dalam hermeneutik fokus penyusun terdapat dua pandangan:

1. Pandangan fokus niat penyusun.

2. Pandangan fokus pribadi penyusun (penyusun secara kepribadian)

  Yang pertama penafsir berusaha mendapatkan maksud dan niat penyusun dari karya dan ucapan ia dan jalan untuk memperoleh itu menjaga dan memelihara kaidah nahwu dan bahasa (Martin Kladinius). Yang kedua penafsir harus berusaha dengan jalan mengenal pribadi penyusun, sehingga mendapat makna yang menjadi perhatian ia (Schleier Macher). Yang pertama tidak bisa mengetahui teks lebih baik dari pada penyusun, maksimalnya menyamai penyusun dalam pemahaman sedangkan yang kedua memungkinkan mengetahui teks lebih baik dari pada penyusun.

 Teori-teori Hermeneutik 

1. Frederic Ernest Schleier Macher (1768-1834) Teolog, sastrawan dan penerjemah karya-karya Plato.

 Teori hermeneutik Schleier Macher didasari dengan pandangan filsafat dan Gnosis dimana secara umum menjelaskan metode tafsir teks. Dan teori ini tidak membatasi diri pada tafsiran teks tua dan teks kitab suci. Dia dengan mengganti pemahaman pada aturan hermeneutik untuk pemahaman kitab suci, tidak meyakini doktrin-doktrin gereja, dan menganggap metode hermeneutiknya universal dan menyeluruh.

 Schleiermacher hidup di zaman di mana dua aliran filsafat, yaitu filsafat romantik dan filsafat kritik Kant berkembang; sebab itu hermeneutik ia tercampur dengan dua aliran filsafat tersebut. Maka dari itu hermeneutik ini memiliki penekanan pada aspek kondisi-kondisi kejiwaan dan emosional penyusun dan juga memiliki aspek kritik. Dia punya harapan meletakkan kaidah-kaidah universal untuk pemahaman sebagaimana Kant sebelumnya terhadap epistimologi dan penelitian keagamaan mengungkapkan kaidah universal.

 Schleiermacher mengungkap dua teori penafsiran, yakni “Grammatical” (nahwu) dan “Technical” (Psychological) untuk menopang dasar-dasar hermeneutiknya.

Tafsir grammatical memperhatikan aspek-aspek kekhususan perkataan dan keanekaragaman kalimat-kalimat serta bentuk bahasa dan budaya dimana penyusun hidup dan membuat pikiran penulis terpengaruhi. Sedangkan tafsir technical atau Psichological terselip aspek aliran individu (subyetifitas) dalam pesan penyusun dan corak pikiran tulisan ia. Dengan kata lain setiap penjelasan (perkataan atau tulisan ) harus merupakan bagian dari sistem bahasa, dan untuk memahaminya tanpa mengenal sistem ini tidaklah mungkin. Tetapi penjelasan itu juga mempunyai dimensi insani dan harus dipahami dalam teks kehidupan orang yang memiliki kehendak tersebut.

Dalam tafsir grammatical terdapat dua unsur penting:

Pertama, yang dianggap sebagai takwil dalam suatu perkataan yakni apa yang berkembang dalam ilmu bahasa (pengetahuan bahasa) yang sama di antara penyusun dengan pembaca. Kedua, makna setiap kata dalam suatu kalimat diketahui dari hubungan kata tersebut degan kata-kata lain dalam kalimat tersebut.

Yang pertama memungkinkan hubungan penyusun dengan pembaca dan yang kedua memperjelas hubungan dalam sistem bahasa

 Adapu tafsir technical meliputi metode Syuhûdi (penyaksian) dan qiyâsi (perbandingan). Metode syuhudi membimbing si penafsir menduduki posisi penyusun sehingga dia dapat memperoleh kondisi-kondisi penyusun. Metode qiyâsi membawa si penyusun sebagai bahagian dari keseluruhan, dan kemudian sesudah membandingkan penyusun tersebut dengan penyusun-penyusun lainnya (keseluruhan) menghadirkan spesifikasi-spesifikasi yang berbeda dengan yang lainnya. Kepribadian seseorang hanya bisa diperoleh dengan cara membandingkan perbedaan-perbedaannya dengan yang lain.

 Schleiermacher tidak meyakini unsur niat penyusun sebagaimana pandangan Cladinus, dan berpendapat bahwa penyusun apa yang ia buat, ia tidak mengetahuinya, dan senantiasa ia tidak mengetahui dimensi-dimensi yang beraneka ragam dari yang dibuatnya.

Pengetahuan si penakwil dari si penyusun lebih besar ketimbang pengenalan si penyusun dari dirinya. Dia menggantikan keseluruhan kehidupan penyusun dengan mafhum (pemahaman) niat penyusun, sebab karya seni memperlihatkan dari keseluruhan kehidupan penyusun tidak hanya niat penyusun pada waktu khusus berkarya. Di sini terlihat Schleier Macher terpengaruh dengan konsep Frued “alam bawah sadar”.

Dia menghakimi bahwa teks mempunyai makna akhir, asli dan pasti, dan berpandangan bahwa setiap kata dalam setiap kalimat mempunyai satu makna dimana makna tersebut adalah mendasar serta dia mengingkari suatu teks dapat ditakwilkan dari beberapa sudut pandang.

Schleiermacher berpandangan bahwa untuk mengenal ucapan seseorang harus mengenal seluruh kehidupannya, dan dari sisi lain untuk mengenal dia harus mengenal pembicaraannya.

 Kritik:

1. Jika kekhususan seorang berdampak dalam

bahasa (sedangkan bahasa adalah tidak hanya perantara masyarakat bahkan kehidupan masyarakat itu sendiri), maka tidak perlu terjadi dialog dan saling memahamkan antara individu satu masyarakat dan orang-orang yang mengenal bahasa. Padahal kondisi ini terjadi sebaliknya, saling memahamkan dan saling kritik dan menjawab kritik.

2. emindahkan hasil pemikiran l dari metode dan cara-cara manusia berakal dimana jia mereka berkehendak tiap tDia dalam tafsir technical yang terdiri dua metode: metode syuhudi dan qiyasi, dan dalam metode syuhudi penafsir mempunyai kedudukan penyusun. Problemnya perbuatan ini untuk penyusun yang sudah mati tidaklah memungkinkan dan untuk penyusun yang masih hidup yang sezaman dengan penafsir adalah sangat sulit, sebab setiap manusia melewati pendidikan dan pengajaran serta tarbiyah yang bermacam-macam yang kemudian membentuk kepribadian seorang individu.

3. Metode qiyasi (perbandingan) dalam tafsir technical bisa terjadi daur atau tasalsul, dan jika dari jalan induksi tidak memungkinkan terjadinya pengenalan yakin.

4. Dia tidak meyakini niat penyusun dan menggantinya dengan keseluruhan kehidupan penyusun dan informasi penafsir terhadap penyusun lebih besar dari informasi penyusun terhadap dirinya sendiri, padahal tujuan setiap penafsir adalah mengenal maksud dan niat penyusun meskipun dia mungkin memperoleh topik- topik baru.

5. Dia meyakini makna akhir dari pada tulisan, padahal jika suatu proposisi ditinjau dari sudut madlul mutâbiqi dan madlul iltizâmi, dan atau dalam ungkapan urafa meliputi batin dan derajat-derajat, maka bisa ditinjau suatu teks dengan berbagai sudut tinjauan.

 2. Wilhelm Dilthey (1833-1912)

Dia berpendapat bahwa tugas seorang ahli hermeneutik melakukan analisis filsafat dan perubahan pemahaman serta takwil dalam ilmu-ilmu humaniora. Dia punya anggapan bahwa kehidupan itu adalah suatu mafhum (komprehensi) metafisika, kehidupan adalah suatu kekuatan yang menjelaskan keinginan-keinginan perasaan (emosi) dan ruh, dan ini dipahami dengan pengalaman. Dia berkata: kehidupan adalah suatu rentetan berkesinambungan dan yang lewat menyambungkan yang sekarang; dan horizon masa datang menggiring kita ke arahnya. Dilthry dengan mengutarakan metode logikanya dalam ilmu-ilmu humaniora mengambil langkah baru dalam hermeneutik dan takwil teks dan dengan perhatian terhadap kekhususan jiwa penyusun dan penyebaran sejarahnya, dia mengutarakan pandangan-pandangan baru dalam hal ini. Menurut ia takwil digunakan ketika kita menginginkan sesuatu yang asing dan tidak diketahui dengan cara faktor-faktor yang diketahui. Oleh sebab itu jika seseorang, seluruh bentuk-bentuk kehidupan baginya asing dan tidak diketahuinya atau secara mutlak dia tahu, maka dia tidak butuh pada takwil.

Dia melihat bahwa kata itu adalah hasil kontrak sebagaimana teriakan itu muncul dari rasa sakit sebagai alamat natural.

Dilthey berpendapat ukuran dasar makna dalam teks adalah niat penyusun dan bahkan makna teks itu menyatu dengan niat rasional penyusun. Dia berkata: seni berasal dari kehendak dan manfaat serta niat seniman dan tidak berpisah dari seniman, dan takwil adalah media untuk mengetahui niat ini. Dan dia menganggap bahwa teks itu merupakan manifestasi kehidupan dan secara nyata merupakan kehidupan ruh dan jiwa si penyusun.

Dia sebagaimana Schleier Macher, penafsir harus mendekatkan dirinya terhadap unsur penyusun bukan penyusun dan karyanya dikembalikan pada zamannya. Dan dengan hal ini, pengetahuan si penakwil terhadap perkataan penyusun lebih sempurna dihubungkan dengan penyusun sendiri. Oleh sebab itu Dilthry berpandangan bahwa hermeneutik bertujuan mengetahui lebih sempurna dari penyusun dari karyanya dimana si penyusun tidak mendapat pengetahuan itu sebelumnya. Dia juga berpendapat tentang kemungkinan menyingkap makna akhir suatu teks. Menurutnya tujuan penakwil menghilangkan jarak zaman dan sejarah antara dia dan penyusun dan syarat terciptanya itu melewatkan seluruh asumsi-asumsi dari zaman kekinian dan mecapai horizon pemikiran-pemikiran penyusun dan melepaskan seluruh ikatan-ikatan dan beban sejarah kekinian dan fanatisme serta asumsi-asumsi.

 Kritik:

a. Sebagian kritik yang berlaku pada Schleier Macher juga berlaku untuk pandangannya seperti 1,4 dan 5.

b. Dilthey untuk mendekati horizon penyusun harus menghilangkan seluruh asumsi-asumsi dan ikatan serta beban sejarah kekinian, padahal setiap pengetahuan bersandar pada asumsi-asumsi, kecuali pengetahuan badihi (aksioma). Ilmu terhadap teks juga berdasar pada asumsi-asumsi yang jika dilalaikan akan membuat kepincangan pada makrifat agama.

 3. Hans Lacory Gadamer ( Polandia 1901, murid Haddegger karyanya Truth and method). Hermeneutik Gadamer berhubungan dengan hermeneutik filsafat, hermeneutiknya sendiri merupakan upaya penggabungan pemikiran antara Heidegger dengan Dilthey.

a. Gadamer seperti Ludwig witgenstein salah satu dari tujuan hermeneutik adalah hubungan antara “pemahaman” dan praktek, dalam arti pemahaman bertumpu pada batasan makna khusus. Menurutnya pemahaman dan praktek tidak bisa berpisah satu sama lain.

b. Hermeneutik Gadamer lahir dari dasar pengetahuan ia bahwa hakikat mempunyai batin dan kisi-kisi, dan untuk memperolehnya harus dengan cara dialog. Menurutnya ukuran kebenaran bukanlah kesesuaian antara konsepsi dengan realitas (prinsipalitas realitas) dan bukan juga penyaksian bidahat dzati konsepsi (pengetahuan fitri mazhab Descartes), tetapi kebenaran adalah kesadaran antara partikular dan bagian-bagian serta keseluruhan.

c. Gadamer mengikuti Heidegger bahwa interpretasi selalu diawali dengan asumsi dan hipotesis, pandangan dan budaya. Interpretasi adalah sebuah pra pemahaman sejarah dan berkaitan erat dengan nilai-nilai tradisional, yakni mengasumsikan horizon intelektual yang melatarbelakangi asumsi dan hipotesis tidak menghalangi pemahaman, bahkan sebagai pra syarat yang menunjang.

Oleh sebab itu, setiap penafsiran berakhir pada fusi antara horizon masa lalu dan sekarang, atau antara horizon penafsir dengan horizon teks. Interpretasi menghasilkan keseimbangan tetap, tidak akan ada interpretasi yang absolut dan akhir, We can not be sure that our interpretation is correct or better than previous interpretations.

d. Gadamer, dengan memanfaatkan pasilitas teori-teori Plato dan Aristoteles, meyakini bahwa dalam peristiwa penting hermeneutik harus dilakukan proses dialog dengan suatu teks dan seperti proses dialog di antara dua orang, dan dialog tersebut dilakukan secara kontinuitas sampai mencapai kesepakatan di antara keduanya. Dia dalam menjelaskan proses interpretasi, meyakini bahwa setiap pemahaman adalah suatu penafsiran; sebab setiap pemahaman dalam kondisi khusus mempunyai akar; maka dari itu ia adalah manifestasi khusus dari suatu pandangan. Tidak satupun pandangan yang bersifat mutlak yang dapat ditinjau darinya seluruh manifestasi-manifestasi yang dimungkinkan. Tafsir secara dharuri adalah suatu proses sejarah; tetapi ia tidak hanya pengulangan masa silam; akan tetapi mempunyai kebersamaan dengan makna kekinian. Dari tinjauan ini maka “pandangan terdapat satu macam penafsiran yang sahih”, adalah suatu dugaan yang batil. Menurut pandangan Gadamer, tafsir satu teks tidak dapat membatasi observasi maksud penyusun atau memahami zaman penyusun; sebab teks, bukanlah manifestasi dari kondisi rasionalitas penyusun; akan tetapi hanya dengan berasaskan dialog antara si penafsir dan teks eksistensi, akan diperoleh realitas dari itu.  

Kritik:

1. Habermes dan lainnya memandang bahwa hermenetik Gadamer masuk dalam suatu bentuk relativisme; sebab Gadamer dengan mengungkapkan pandangannya tentang saling berhadapan dua horizon pemaknaan si penafsir dan teks, warisan-warisan kebudayaan, pertanyaan-pertanyaan dan pra anggapan-pra anggapan dalam tafsiran si penafsir, telah menghadirkan suatu bentuk relativisme yang menyerupai dengan relativisme Kant.

2. Kemestian dari ungkapan Gadamer, jalan untuk dapat saling kritik-mengeritik di dalam tafsiran-tafsiran, adalah tertutup; sebab setiap orang berasaskan suatu nisbah terhadap kondisi warisan kebudayaan, pra asumsi dan pertanyaan-pertanyaan yang dimiliki, melakukan interpretasi kepada teks-teks dan karya-karya seni serta nilai kebenran dan kesalahn dari semua penafsir adalah satu, bahkan hatta kemungkinan keberadaan penafsiran sahih dan sempurna di sisi Gadamer, adalah tidak bermakna; padahal secara jelas dan terang kita saksikan bahwasanya terdapat kritik-kritik yang sangat banyak terhadap tafsir-tafsir yang bermacam-macam. Dan kritik-kritik ini juga meliputi wilayah tradisi-tradisi, kondisi-kondisi kebudayaan dan pra asumsi-pra asumsi.

3. Jika setiap pemahaman butuh kepada pra asumsi, maka akan terperangkapa kepada daur dan tasalsul; sebab pemahamannya terhadap pra asumsi juga butuh kepada pra asumsi lain dan rentetan ini sampai tiada akhir.[Pernah dimuat di site www.telagahikmah.org]
http://makkawaru.wordpress.com/
_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_

Wednesday, February 27, 2008
Ijtihad dan Keragaman Pemahaman Agama
Ditulis oleh isyraq di/pada Februari 2, 2008
Mukaddimah
religious-law-product.jpgMasalah pluralisme agama dan kesimpulan yang beragam dari teks agama, merupakan salah satu tema baru yang mengemuka dalam dunia Islam. Dan sebagian dalam menerima atau menolak masalah ini, antara mereka yang pro dan yang kontra, telah banyak menulis tentang hal tersebut. Salah satu lintasan yang tepat dalam pembahasan ini adalah masalah ijtihad para juris dan perbedaan fatwa fuqaha sepanjang perjalanan sejarah umat Islam.

Penulis tidak berada pada tataran menjelaskan dan menganalisa seluruh angle dan sisi pembahasan pluralisme agama. Analisa dan penjelasan jeluk masalah ini memerlukan satu pembahasan yang terpisah dan detil.

Apakah keragaman pemahaman para juris yang merupakan keharusan ijithad mereka memiliki hubungan dengan masalah keragaman pemahaman agama?

Dan apakah seperti yang disebutkan oleh para proponen hermeneutik filsafat termasuk dalam bentuk positif universal (mujibah kulliyah), perbedaan pemahaman yang beragam dari teks-teks agama, dari seluruh hukum-hukum syariat dan proposisi-proposisi agama yang tentu saja keharusannya adalah relatifnya pemahaman agama para fuqaha, atau perbedaan fatwa ini (perbedaan konklusi dari teks-teks agama), atau dalam bentuk positif partikular (mujiba juz’iyah)? Hal ini tentu saja memerlukan sebuah kajian yang rigoris. Apakah untuk menentukan antara pemahaman-pemahaman sahih dan batil, terdapat kriteria tertentu atau dalam dimensi ini, dimana harus diyakini bahwa terdapat relativitas metodeologi dalam memahami agama. Sebagaimana apa yang diyakini oleh para pendukung hermeneutik filsafat? Dan pada akhirnya apakah faktor kemunculan keragaman inferensi (istinbâth) para juris dapat dihilangkan sedemikian sehingga seluruh juris tersebut mengeluarkan satu fatwa dalam satu subjek syar’i yang bersumber dari berbagai dalil-dalil yang berhubungan dengannya – dari Qur’an, Sunnah, Akal dan Ijma?

Dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas membuat pembahasan harus ini ditinjau sebagai pembahasan teologis, namun demikian pembahasan ini harus bersandar pada analisa dan uraian pemahaman beragama para juris yang merupakan pijakan yang tepat bagi pembahasan pluralisme. Sebelum pembahasan ini dimulai, kiranya perlu batasan maksud dari dua kalimat “ijtihad” dan “keragaman pemahaman agama” dijelaskan sehingga tidak terjadi miksture permasalahan (campur aduk) dalam melakukan penilaian (judgment). Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Seri Hermeunetik | Tidak ada komentar »
Hermeneutik dan Ushul Fiqih; Sebuah Studi Komparatif

Ditulis oleh isyraq di/pada Januari 14, 2008

principle-and-hermeneutic.jpgApabila kita berpandangan bahwa masa-masa bersemi dan berbuahnya pemikiran Scheleirmacher (seorang teolog dan sastrawan Jerman yang hidup pada tahun 1768 hingga 1834 M yang menjadi peletak dasar batu pertama neo-hermeneutik) sebagai pemantik munculnya pengetahuan ini maka kita harus berkata bahwa kurang-lebih dua kurun telah berlalu dari ditemukannya pengetahuan ini.

Demikian juga apabila benar adanya bahwa setiap ilmu memiliki subyek permasalahan tersendiri dan masalah-masalah makro dan mikro dengan pengaturan dan penataan logis ihwal subyek tersebut bersatu, akan tampak bahwa hermeneutik sebelum ia menjadi sebuah ilmu yang bermakna resmi, ia merupakan dialog ilmiah yang memiliki sisi mediasi dan barangkali pada masa-masa mendatang mencapai tingkatan yang dapat dibandingkan dengan logika dan linguistik.

Akan tetapi sebelum mencapai tingkatan tersebut, terdapat pelbagai tingkatan yang terbentang di depan, lantaran dialog ilmiah seperti ini belum sampai pada kesimpulan yang bersifat definitif. Para periset setelahnya tanpa basa-basi dan bersikap kritis menerima kesimpulan tersebut dan pada kelanjutan serta penyempurnaannya belum sampai kepada apa yang diharapkan.

Satu-satunya poin yang telah diterima dan menjadi konsensus seluruh periset dan para pemilik otoritas dalam bidang ini bahwa: Apa yang menjadi pertanyaan utama dalam batasan ilmu ini atau riset yang mengemuka harus dipikirkan. Sangat jelas bahwa dengan takaran ini hermeneutik sukar untuk dapat sampai pada satu ilmu resmi dan mandiri. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Seri Hermeunetik | Tidak ada komentar »
Logika [guna] Memahami al-Qur’an

Ditulis oleh isyraq di/pada Desember 31, 2007

logic-for-quran.jpgMeskipun tema “logika [guna] memahami al-Qur’an” pada batas-batas tertentu memiliki kesamaan dengan istilah (redaksi) yang biasa kita gunakan dalam ilmu-ilmu rasional, namun kemungkinan sebagian orang tidak banyak memahaminya. Menggunakan ilmu-ilmu rasional dan proposisi-proposisi argumentatif (Qadhaya Burhaniyah) memiliki kaitan dengan logika tertentu. Dengan kata lain ia berkaitan dengan asas-asas dan kaidah-kaidah yang merupakan pijakan guna terbentuknya sebuah argumentasi.

Setiap bidang ilmu membutuhkan kaidah-kaidah yang menjadi pijakan untuk mencapai sebuah kesimpulan, berdasarkan hal ini sebagian ulama mengatakan bahwa ilmu “Ushul Fiqih” merupakan Logika (mantiq) bagi “ilmu Fiqih”. Jika ilmu Ushul Fiqih dapat disebut sebagai logika ilmu Fiqih, maka menyebut prinsip-prinsip dan kaidah-kaidah tertetu sebagai “logika [guna] memahami al-Qur’an” bukanlah suatu yang asing dan mengherankan, terlebih lagi dalam memahami al-qur’an sudah barang tentu memerlukan asas-asas serta kaidah-kaidah tertentu. Jika keharusan adanya logika guna memahami al-Qur’an dapat diterima, secara global kita dapat membagi pembahasan ini menjadi dua bagian.

Pertama; adalah kaidah-kaidah serta prinsip-prinsip dasar (ushul maudhu’ah) bagi yang menerima validitas penafsiran dan pemahaman al-Qur’an. Dan yang kedua; adalah kaidah-kaidah tertetu yang mengharuskan bersandar pada ayat-ayat al-qur’an saat menfsirkan ayat-ayatnya. Merupakan suatu kejelasan bahwa setiap bidang ilmu memerlukan metodologi tersendiri sehingga dengan metode tersebut tujuan dari bidang ilmu tertentu dapat tercapai. Dari sini sangatlah wajar jika penafsiran al-Qur’an pun memerlukan metode tersendiri. Walaupun demikian sangat disayangkan, sedikit sekali kajian yang dilakukan dalam masalah ini, walau bagaimanapun kajian masalah ini akan selalu dibutuhkan. Mengapa seseorang yang ingin menafsirkan al-Qur’an harus mengetahui kaidah dan asas yang menjadi pijakannya? Dan bagaimana metode menggunakan kaidah-kaidah tersebut? Oleh karenanya, kebutuhan ini terus ada, terlebih lagi dengan munculnya kajian-kajian baru seperti hermeneutik dan lainnya, maka kajian terhadap masalah ini terasa lebih urgen dan diperlukan. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Seri Hermeunetik | Tidak ada komentar »
Kritik atas Kritik Teks Abu Zaid

Ditulis oleh isyraq di/pada Desember 16, 2007

Abstraksi

abu-zaid.jpgDr. Hamid Abu Zaid memandang matan merupakan sebuah hasil dan produk dari sebuah kebudayaan yang mesti dikaji dalam ufuk sejarah. Dalam mengkaji setiap teks yang harus diperhatikan adalah kebudayaan yang berkembang pada masa tersebut. Relasi antara teks (matan) dan kebudayaan harus selalu mengalami dialektika, lantaran keduanya saling mempengaruhi, matan mempengaruhi kebudayaan dan demikian sebaliknya.

Menurut Abu Zaid, al-Qur’an adalah satu teks bahasa dan ia harus ditelaah, dikaji dengan metodologi analisa bahasa. Abu Zaid meyakini bahwa al-Qur’an mengandung dimensi esoterik (di samping dimensi eksoterik), kendati manusia tidak dapat sepenuhnya memahami dimensi esoterik al-Qur’an.

Menelaah matan atau teks dalam ufuk sejarah menandakan bahwa ahkam (plural dari hukum) menemukan maknanya dalam relasi masa turunnya (revelasi) makna tersebut. Dan sebagian hukum-hukum tersebut tidak lagi berguna untuk digunakan pada masa kini. Pada setiap masa dan zaman, bacaan (penafsiran) dan takwil tentang teks harus mengalami perubahan. Peran pembaca juga dalam memahami teks menjadi fokus perhatian Abu Zaid. Menurutnya, kebudayaan zaman dalam al-Qur’an mengalami reaksi dan dengan demikian sebagian komprehensi dan pemahamannya seperti jin dan setan yang bertautan dengan masa turunnya masalah tersebut tidak lagi sesuai dengan masa sekarang.

Dalam pandangan Abu Zaid, hermeneutik Gadamer dapat membantu seorang penafsir sehingga ia dapat memperbaharui pandangannya terhadap warisan budaya (al-Qur’an) dan memasukkan pandangan-pandangan (baru) yang disampaikan pada setiap zaman. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Seri Hermeunetik | Tidak ada komentar »
Kajian Kritis atas Hermeunetik dan Hermenes

Ditulis oleh isyraq di/pada Nopember 27, 2007

hermes1.jpgIstilah hermeneutik (hermeneutic) disebut sebagai seni menafsirkan. Kata ini derivasi dari kata verba Yunani (hermeneuien) yang bermakna “menafsirkan”. Hermenia berarti tafsir dan galibnya istilah ini digunakan pada hal yang bertautan dengan tafsir teks-teks suci. Plato menyebut para pujangga dan penyair sebagai interpreter dan penafsir (hermenes) para dewa.

Aristoteles menggunakan lafaz ini sebagai judul risalahnya dalam bab logika proposisi dalam buku Organun.

Kata ini dari sudut pandang leksikal bertalian dengan Hermes, dewa Yunani. Sebagian periset pertalian ini mengandung tiga tingkatan atau bagian utama aktivitas tafsir:

1. Alamat, pesan atau teks yang keluar dari sebuah sumber;

2. Perantara, penafsir atau interpreter (hermenes);

3. Transformasi pesan kepada pendengar (audiens atau mukhatab)

Kendati manusia dan penggunaan kata ini senantiasa berurusan dengan pahaman dan tafsir teks-teks, namun dalam dunia pemikiran, kita senantiasa memerlukan kaidah dan norma untuk melakukan aktifitas tafsir sehingga dengannya ia dapat memberikan interpretasi yang sahih dan benar. Akan tetapi tidak lebih dari satu atau dua abad neo-hermeneutik telah dikemukakan sebagai suatu cabang dari ilmu. Dan biasanya Friedrich Schleirmacher dipandang sebagai pendiri atau bapak (founding fathers ) dari neo-hermeneutik.

Namun sebenarnya Wilhelm Diltheylah yang untuk pertama kali mengembangkan satu metode dan pendekatan fundamental untuk ilmu-ilmu humaniora, sehingga berdasarkan metode tersebut resultan-resultan ilmu-ilmu humaniora (insani) sebanding konsiderannya dengan ilmu-ilmu alam (tabiat); lantaran Dilthey berpandangan bahwa hermeneutik merupakan ilmu metodologi untuk ilmu-ilmu humaniora.

Dalam pandangan Dilthey tujuan utama dalam usaha hermeneutik adalah meninggikan konsideran dan nilai ilmu-ilmu humaniora dan mensejajarkannya dengan ilmu-ilmu empiris. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Seri Hermeunetik | 2 Komentar »
Menyusuri Belantara Hermeunetik

Ditulis oleh isyraq di/pada Agustus 7, 2007

Hermeneutik ialah suatu disiplin ilmu yang berkaitan dengan penafsiran, interpretasi, dan pemahaman teks. Permasalahan pertama yang berhubungan pemahaman adalah esensi dan hakikat pemahaman: apa pemahaman itu?. Pertanyaan kedua berhubungan dengan subjek dan ranah pemahaman: apa yang bisa dipahami?. Persoalan ketiga menitikberatkan pada proses terbentuknya suatu pemahaman atau fenomenologi pemahaman: bagaimana pemahaman itu bisa terwujud?. Namun, persoalan ketiga ini merupakan perkara yang paling urgen dan penting dalam pembahasan yang terkait dengan hermeneutik.

Ilmu hermeneutik telah melalui proses sejarah yang panjang di dunia Barat, pandangan dan gagasan yang muncul tentangnya bermacam-macam dan terkadang saling bertolak belakang. Di barat, hermeneutik berproses dalam tiga jenjang historis, yaitu: hermeneutik pra klasik, hermeneutik klasik, dan hermeneutik kontemporer. Pada jenjang pertamanya terhitung sejak hadirnya gerakan reformasi agama hingga abad kesembilanbelas Masehi dan munculnya pemikir Friedrich D. E. Schleiermacher. Masa kedua dari Schleiermacher hingga Martin Heidegger, dan zaman ketiga adalah pasca Heidegger yang dikenal dengan nama hermeneutik filosofis. Hingga pada zaman Schleiermacher, hermeneutik hanya difungsikan sebagai media untuk interpretasi teks-teks Kitab Suci agama. Ia kemudian meluaskan subjeknya dan merumuskan kaidah-kaidah untuk menafsirkan teks-teks selain agama seperti kesusastraan dan hukum. Setelahnya, ditangan Wilhelm Dilthey, ranah hermeneutik semakin melebar mengkaji segala teks dan pemahaman terhadap masalah-masalah yang berhubungan dengan humaniora (human sciences). Pada akhirnya dengan perantaraan Heidegger, domain hermeneutik menjadi sangat universal yang membahas teks dan non-teks, fenomena-fenomena yang berkaitan dengan prilaku manusia, alam materi, dan metafisika. Baca entri selengkapnya »
http://djohar1962.blogspot.com/2008/02/ijtihad-dan-keragaman-pemahaman-agama.html
_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_



  * Home
  * About Me
  * About This Blog

« UJIAN ALLAH DENGAN KEJADIAN YANG BURUK
SRIKANDI PADANG PASIR »
KITAB AL-QUR’AN YANG AJAIB

Oleh : Fadhil ZA

1- Alif Laam Miim

2- Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,

3- (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan salat dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka,

4- dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.

5- Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.

Al-Qur’an adalah pedoman hidup bagi umat Islam, tidak ada keraguan padanya dan merupakan petunjuk bagi orang yang bertakwa. Namun sayang sekali dalam kenyataan sehari hari sedikit sekali umat Islam yang rajin membaca, mempelajari dan berusaha memahami Al-Qur’an secara rutin setiap hari. Sebagian umat Islam lebih mengutamakan pemikiran dan pendapat Ulama, atau ahli fikir yang mereka kagumi. Ketika para Ulama dan ahli pikir yang mereka kagumi mengeluarkan pendapat yang saling betentangan, terjadilah perpecahan dikalangan pengagum dan pengikutnya.

Membaca dan mempelajari Al-Qur’an adalah kewajiban dan hak setiap umat Islam, yang sudah baligh dan berakal. Zaman dahulu ketika ilmu masih banyak tersembunyi, yang mempelajari dan menguasai Al-Qur’an hanya sekelompok orang tertentu yang disebut kiyai, ulama atau ajengan. Orang awam seolah olah tabu membaca, mengkaji dan berpendapat tentang ayat Qur’an. Orang awam hanya sekedar mengikuti pendapat, guru,kiyai atau ajengan, yang kadang kadang berbeda pendapat satu dengan lainnya. Perbedaan pendapat diantara para guru, kiyai dan ajengan menimbulkan pertentangan diantara para pengikutnya masing masing, yang kadangkala diakhiri dengan pertumpahan darah.

Sekarang di-era kemajuan teknologi dan informasi ini, ilmu pengetahuan terbuka lebar, Al-Qur’an sudah diterjemahkan kedalam berbagai bahasa. Kitab tafsir dari berbagai ulama dan pemikir Islam bisa kita dapat dengan mudah. Informasi tentang pengetahuan al-Qur’an juga bisa kita dapat dengan mudah di dunia internet. Sepatutnyalah jika setiap muslim berusaha memahami Qur’an dengan membaca langsung dari kitab al-Qur’an, tidak perlu kuatir dengan kendala bahasa, karena al Qur’an telah diterjemahkan kedalam berbagai bahasa didunia.

 

Sarana bantu untuk mempelajari dan memahami al-Qur’an

Kendala utama untuk memahami Al-Qur’an adalah masalah bahasa, namun kendala tersebut sudah bisa diatasi dengan adanya Qur’an yang sudah diterjemahkan kedalam berbagai bahasa.Selanjutnya untuk memahami Qur’an kita harus melengkapi diri dengan pengetahuan tentang :

  1. Sejarah kehidupan para Nabi dan Rasul sejak nabi Adam sampai dengan nabi terakhir yaitu nabi Muhammad SAW.

  2. Pengetahuan tentang berbagai kisah dalam Qur’an seperti kisah ashabul Kahfi, ashabul Ughdud, kisah malaikat Harut-Marut, kisah Uzair, Khidir, Negeri Saba’, Kaum Aad, Tsamud, Aikah, kaum Luth, Fir’aun dan lain lain.

  3. Pengetahuan tentang asbabun nuzul ayat Qur’an

  4. Sejarah kehidupan Rasulullah serta perjuangannya sejak lahir sampai wafatnya.

  5. Berbagai pengetahuan alam dan teknologi yang mendukung kebenaran ayat Qur’an , misalnya seperti pada buku-buku karya Harun Yahya

  6. Kitab tafsir dari ulama terdahulu seperti Ibnu Katsir, Jalalain,Al Mannar, Al Maroghi, Tafsir Qur’an dari Buya Hamka, dan lain sebagainya

Insya Allah dengan 6 butir alat bantu tersebut diatas, setiap umat Islam akan dapat mempelajari dan memahami al-Qur’an dengan mudah. Orang yang bersungguh sungguh mempelajari Qur’an untuk dijadikan pedoman hidup, Allah pasti akan memimpin dan menunjukinya sebagaimana janji Allah dalam surat Al Ankabut 69:


Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.(Al-Ankabut 69)

 

Al-Qur’an bagaikan pisau bermata dua

Orang yang membaca dan mempelajari Qur’an untuk mencari kelemahan dan menghujat Qur’an akan menemukan keruwetan yang banyak, semakin dibaca Qur’an terasa semakin ruwet dan kusut, ia tidak akan mendapat hidayah dan petunjuk. Qur’an hanya menambah pusing dan ruwet pikiran mereka. Sebaliknya orang yang tawadhu, membaca dan mempelajari Qur’an karena ingin mendapat bimbingan dan hidayah dari Allah, maka ia akan mendapatkan apa yang diharapkan. Allah akan memberi bimbingan dan petunjuk untuk memahami Qur’an; Allah menyatakan hal ini dalam surat Al Israak ayat 82

Dan Kami turunkan dari Al Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang lalim selain kerugian. (Al Israak 82)

Kaum Orientalis ada yang mengatakan bahwa Qur’an adalah kitab yang kacau, tidak teratur, sulit dimengerti. Ayat nya tidak disusun secara teratur menurut waktu atau pembahasan suatu masalah. Ayat Qur’an sering meloncat tidak karuan, sedang bercerita tentang masalah Nabi Luth tiba- tiba putus dan disambung bercerita tentang angin, burung dan gunung, kemudian loncat lagi cerita tentang Adam, loncat lagi masalah syurga, loncat lagi tentang kehidupan dunia. Salah satu orang yang bingung dengan Qur’an adalah Robert Morey dengan bukunya “Islamic Invasion”. Di Internet saya banyak menemukan orang yang bingung dengan Qur’an antara lain dari kelompok Faithfreedom dan kelompok yang benci pada Islam. Demikianlah Allah membutakan hati dan fikiran orang yang memusuhi-Nya. Merekalah orang yang telah dikunci mati hati dan fikirannya sehingga sulit untuk memahami Al-Qur’an sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat7

Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat. (Al Baqarah 7)

Sebaliknya orang yang membaca dan mempelajari Qur’an karena ingin mencari kebenaran, melakukan penelitian dengan ikhlas, niscaya akan mendapat Hidayah dan petujuk dari Allah. Hati dan fikirannya akan terbuka untuk memahami kebenaran Al-Qur’an. Akhir akhir ini banyak orang Amerika yang penasaran dengan tragedi 11 sept 2001 ,mereka berusah mempelajari Islam langsung dengan membaca Al-Qur’an. Mereka berusaha mencari ayat Qur’an yang membenarkan tindakan teroris, mereka tidak menemukannya, justru mereka menemukan kebenaran Islam. Allah telah membuka mata hati mereka karena mereka mempelajari Qur’an dengan Ikhlas.

Barang siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman. (Al An Aam 125)

 

Al-Qur’an kitab yang ajaib

Sejak tahun 2004 saya mencoba mendisiplinkan diri untuk membaca Al-Qur’an setiap hari setelah sholat subuh. Pada tahun pertama saya menkhatamkan Qur’an selama 6 bulan, satu tahun bisa dua kali khatam. Pada tahun ke dua bacaan saya semakin lancar saya bisa mengkhatamkan Qur’an tiga kali setahun. Pada tahun ke tiga saya bisa khatam Qur’an dalam waktu 3 bulan, sehingga setahun bisa 4 kali khatam. Demikianlah seterusnya saya pertahankan agar bisa khatam Qur’an 3 bulan sekali sampai sekarang.

Saya membaca Qur’an setiap hari berikut dengan terjemahannya, pertama saya baca Al-Qur’an dalam bahasa arab sebanyak satu halaman, kemudian saya baca terjemahnnya satu halaman pula. Pada ayat tertentu saya berhenti mencoba untuk memahaminya, kalau ada yang kurang jelas saya merujuk pada kitab tafsir Ibnu Katsir yang saya miliki. Kadang kala saya coba mentadabburi ayat Qur’an tersebut, saya berdialogh dengan Allah menggunakan ayat yang saya baca. Hati terasa bergetar, air mata tak terasa meleleh membasahi pipi. Kadang kala saya sering menangis ter-isak, ayat Qur’an betul betul menggetarkan seluruh tubuh sampai keujung syaraf . Saya merasakan kenikmatan yang tiada tara dengan Qur’an. Ayat Qur’an memberi ketenangan, kenyaman dan kesejukan hati.

Seumur hidup saya belum pernah menemukan bacaan sedahsyat al-Qur’an. Setiap hari saya membacanya, dan tidak pernah bosan. Setelah tamat saya ulang lagi membacanya. Aneh sekali setiap hari saya selalu merasa mendapatkan hal yang baru, walaupun ayat tersebut dulu sudah pernah saya baca. Pemahaman saya tentang setiap ayat Qur’an yang saya baca selalu baru. Sungguh bacaan yang tidak pernah membosankan, tidak ada satu kitabpun didunia ini yang bisa menandingi Qur’an. Saya sudah banyak membaca buku, namun tidak ada yang seperti al-Qur’an. Buku lainnya setelah dibeli, dibaca hanya sekali, kalau dibaca berulang-ulang pasti bosannya. Kalau mau dibaca lagi paling kalau sudah mengendap beberapa tahun. Tapi al-Qur’an… sungguh ajaib. Saya tidak pernah bosan membacanya, bahkan saya selalu rindu untuk membacanya. Betul betul kitab yang ajaib.

Bagi saudaraku sesama Muslim, saya sangat menganjurkan anda untuk mulai membaca Qur’an setiap hari dengan cara seperti yang saya ceritakan diatas. Rasakan kenikmatannya, temukan keajaibannya. Anda akan menemukan jawaban seluruh problem hidup yang anda hadapi, anda akan mendapat solusi dari berbagai masalah yang anda hadapi. Saya telah membuktikan sendiri, berbagai problem yang saya hadapi saya temukan solusinya dalam Qur’an. Saya merasakan kebahagiaan, kenyamanan, kesejukan bersama Al-Qur’an.

 

Kitab yang mempersatukan umat Islam

Jika setiap umat Islam mau kembali pada Qur’an dan menjadikan Qur’an sebagai pedoman hidup, insya Allah tidak akan ada perpecahan dikalangan umat Islam. Umat Islam akan menjadi umat yang kompak, bersatu dan kuat. Memimpikan negara khilafah adalah suatu keniscayaan. Jika umat Islam tidak kembali pada al-Qur’an dan lebih mengutamakan pendapat manusia diatas Al-Qur’an, maka perpecahan akan tetap menghantui umat Islam selama lamanya. Umat Islam akan menjadi umat yang lemah, diadu domba oleh umat lain. Cita cita membangun negara Khilafah hanya impian kosong.

Perbedaan pendapat adalah hal yang alami tidak bisa di cegah, Al-Qur’an mengajarkan kita untuk legowo menerima perbedaan pendapat. Jadikan Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnah ) diatas segala-galanya.

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (An Nisa’ 59)

Jangan sampai kita saling hujat, saling serang, mengkafirkan satu dengan yang lainnya hanya karena perbedaan pendapat. Kembalilah kepada Allah dan Rasulnya, insya Allah Islam akan menjadi kuat dan bersatu.

 

Solusi berbagai masalah dalam Qur’an

Al Qur’an merupakan petunjuk dan pedoman hidup bagi umat Islam. Bagaimana Al-Qur’an bisa memberi solusi bagi bermacam masalah yang kita hadapi?. Kalau kita mau membaca Qur’an setiap hari insya Allah kita akan menemukan solusi dari berbagai masalah yang kita hadapi dalam kehidupan sehari hari. Saya akan memberikan contoh beberapa kasus.

Bagi seorang yang sedang mendapat kemalangan, musibah atau kehidupan yang tertekan karena berbagai masalah, solusinya ada pada surat Al-Ankabut ayat 2-3, Al Baqarah 152 :

 


2-Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?

3-Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.
(Al Ankabut 2-3)

 

153- Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) salat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.

. 155- Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar,

156- (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun”
(Al Baqarah 153-156)

 

Orang yang mengalami kesulitan keuangan, ekonomi dan finansial serta sedang berusaha berjuang membebaskan diri dari keadaan tersebut, bisa membaca dan merenungi ayat Qur’an pada surat Al-Fath ayat 1-5, Ali Imran 26-27, Fathir ayat 1-3, Al Israak 30, Ali Imran 160.

Orang yang terlibat kasus perselingkuhan, godaan syahwat dan kehidupan dunia yang glamour bisa menghayati surat Ali Imran ayat 14-15, Al Hadit ayat 20-21.

Berbagai masalah dan problema kehidupan sehari hari dapat ditemukan solusinya dalam Al-Qur’an. Bacalah Al-Qur’an dengan tawadhu, Iman dan yakin pada kebenaran Al-Qur’an serta mohon bimbingan pada Allah untuk dapat memahami setiap ayat yang dibaca. Insya Allah anda akan menemukan solusi berbagai masalah yang anda hadapi.

 


Namun jika anda membaca Qur’an dimulai dengan keraguan, tidak yakin pada kebenaran Qur’an, kemudian berusaha mencari cari kelemahan dan kekeliruan Qur’an, anda tidak akan mendapat hidayah. Metode hermeunetik yang dikembangkan pada beberapa perguruan tinggi Islam untuk menafsirkan dan memahami Qur’an, juga sangat berbahaya. Karena pada metode hermeunetik mempelajari Qur’an dimulai dengan kecurigaan akan kebenaran Qur’an. Metode Hermeunetik dahulu digunakan oleh orang Nasrani untuk mempelajari Injil, karena mereka menemukan banyak hal yang meragukan dalam Injil. Mana ayat yang firman Tuhan, pendapat Isa atau penulis Injil, mereka perlu memilihnya dengan metode hermeunetik. Kasus seperti kitab Injil tidak ditemukan dalam Qur’an, maka metode hermeunetik tidak sesuai diterapkan pada Al-Qur’an. Orang yang berusaha menterapkan metode hermeunetik pada Al-Qur’an , hanya akan pusing sendiri, bisa bisa jadi kaya Robert Morey dan kelompok Faithfreedom yang hatinya jadi tertutup untuk memahami Qur’an. Na’udzubillahi mindzalika..

Kalau ingin merasakan kenikmatan membaca Qur’an dan mendapatkan solusi dari berbagai masalah kehidupan yang dihadapi, mulailah membaca Qur’an dengan dasar Iman dan yakin pada kebenaran Qur’an. Baca Qur’an dengan tawadhu, jauhkan diri dari perasaan sombong, lebih pintar dan pandai serta meremehkan Qur’an. Mohon bimbingan dan hidayah dari Allah. Insya Allah anda akan mendapatkan kenikmatan membaca Al-Qur’an. Anda akan menemukan solusi dari berbagai masalah yang anda hadapi.

2- Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, 3- (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan salat dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka, 4- dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. 5- Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung. (Al-Baqarah 2-5)

Namun jika anda memulai membaca Qur’an dengan dasar keraguan dan tidak yakin akan kebenaran Qur’an kemudian berusaha mencari kelemahan dan kekeliruan Qur’an, selanjutnya dengan sombong anda mulai mengkritik, memper-olok olokan serta meremehkan ayat Qur’an niscaya anda tidak akan mendapat kenikmatan membaca Qur’an. Anda hanya akan menemukan kerumitan, semakin banyak anda membaca Qur’an, anda akan semakin pusing. Saya banyak menemukan orang seperti ini dari diskusi dan dialog di internet, hati dan fikirannya tertutup untuk memahami Qur’an karena kesombongan dirinya.

7. Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan-akan ada sumbat di kedua telinganya; maka beri kabar gembiralah dia dengan azab yang pedih.(Luqman 7)

15- Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: “(Ini adalah) dongeng- dongengan orang-orang dahulu kala.” (Al Qolam 15)

41- Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari Al Qur’an ketika Al Qur’an itu datang kepada mereka, (mereka itu pasti akan celaka), dan sesungguhnya Al Qur’an itu adalah kitab yang mulia. (Fushilat 41)

124- Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”.(Thaha 124)

Pada kenyataannya memang ada beberapa orang dari kalangan Pendeta dan misionaris Kristen yang membaca dan mempelajari Qur’an untuk mencari kelemahan Qur’an, namun karena niatnya untuk mencari kebenaran, dan tidak diiringi dengan kesombongan dirinya akhirnya malah mendapat hidayah, dan menjadi pemeluk Islam yang taat. Orang yang mempelajari Qur’an untuk mencarai kebenaran, insya Allah akan menemukannya.

125- Barang siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.
(Al An’am 125)

Popularity: 28% [?]

This entry was posted on Thursday, January 8th, 2009 at 7:25 am and is filed under TADABBUR QUR’AN. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
2 Responses to “KITAB AL-QUR’AN YANG AJAIB”

  1. Mida Says:
  February 2nd, 2009 at 11:11 am

  Subhanallahhh

  karya yang begitu indah

  q ingin seperti kmu yang mendptkn hidayah dg membaca alquran

  saya akan berusaha
  2. soldado Says:
  February 6th, 2009 at 10:55 pm

  -.IDAK KATA YANG PANTAS UNTUK SELAIN SUBHANALLAH WALHAMDULILLAH WALA ILAHA ILLALLAHU ALLAHU AKBAR.
  -. SEMOGA DARI PENGALAMAN SAUDARA DAPAT MENJADI MOTIFASI BUAT SAYA PRIBADI UNTUK TIDAK PERNAH BOSAN TERUS MEMPELAJARI ALQURAN.
  -. KADANG KITA UMAT ISLAM SENDIRI DALAM MEMPELAJARI ALQURAN HANYA DARI SISI AMAL IBADAHNYA SAJA SEDANGKAN ILMU ILMU PENGETAHUAN YANG TERKANDUNG DI DALAM NYA BARU SEDIKIT YANG DI PELAJARI . UNTUK MENAMBAH SEMANGAT MEMBACA DAN MEMPELAJARI ALQURAN ,MARILAH JUGA BELAJAR TENTANG
  ILMU ILMU LAIN YANG TERSURAT MAUPUN YANG TERSIRAT DALAM KITAB SUCI ALQURAN .
http://www.fadhilza.com/2009/01/tadabbur/kitab-al-qur%E2%80%99an-yang-ajaib.html
_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_

Menyusuri Belantara Hermeunetik

  Hermeneutik ialah suatu disiplin ilmu yang berkaitan dengan penafsiran, interpretasi, dan pemahaman teks. Permasalahan pertama yang berhubungan pemahaman adalah esensi dan hakikat pemahaman: apa pemahaman itu?. Pertanyaan kedua berhubungan dengan subjek dan ranah pemahaman: apa yang bisa dipahami?. Persoalan ketiga menitikberatkan pada proses terbentuknya suatu pemahaman atau fenomenologi pemahaman: bagaimana pemahaman itu bisa terwujud?. Namun, persoalan ketiga ini merupakan perkara yang paling urgen dan penting dalam pembahasan yang terkait dengan hermeneutik.

  Ilmu hermeneutik telah melalui proses sejarah yang panjang di dunia Barat, pandangan dan gagasan yang muncul tentangnya bermacam-macam dan terkadang saling bertolak belakang. Di barat, hermeneutik berproses dalam tiga jenjang historis, yaitu: hermeneutik pra klasik, hermeneutik klasik, dan hermeneutik kontemporer. Pada jenjang pertamanya terhitung sejak hadirnya gerakan reformasi agama hingga abad kesembilanbelas Masehi dan munculnya pemikir Friedrich D. E. Schleiermacher. Masa kedua dari Schleiermacher hingga Martin Heidegger, dan zaman ketiga adalah pasca Heidegger yang dikenal dengan nama hermeneutik filosofis. Hingga pada zaman Schleiermacher, hermeneutik hanya difungsikan sebagai media untuk interpretasi teks-teks Kitab Suci agama. Ia kemudian meluaskan subjeknya dan merumuskan kaidah-kaidah untuk menafsirkan teks-teks selain agama seperti kesusastraan dan hukum. Setelahnya, ditangan Wilhelm Dilthey, ranah hermeneutik semakin melebar mengkaji segala teks dan pemahaman terhadap masalah-masalah yang berhubungan dengan humaniora (human sciences). Pada akhirnya dengan perantaraan Heidegger, domain hermeneutik menjadi sangat universal yang membahas teks dan non-teks, fenomena-fenomena yang berkaitan dengan prilaku manusia, alam materi, dan metafisika.  

Pembahasan-pembahasan hermeneutikal ini, pada awalnya, merupakan bagian dari teologi dan dikategorikan sebagai kaidah-kaidah dan basis-basis teori penafsiran Kitab Suci, yang dengan berlandaskan padanya, para penafsir dan mufassir menafsirkan teks-teks Kitab Suci. Akan tetapi, pada era-era selanjutnya, kaidah-kaidah dan metode-metode penafsiran Kitab Suci itu kemudian melebar dan meluas meliputi penafsiran kitab-kitab lain. Dan akhirnya, yang dimaksud dengan istilah ini adalah metodologi umum yang sama digunakan di semua bidang ilmu dalam koridor pembahasan linguistik dan teks-teks.

  Dengan perubahan ini, metode-metode penafsiran Kitab Suci kemudian didasarkan dengan teori-teori bukan agama, dan Kitab Injil yang merupakan salah satu dari kitab-kitab yang tak terhitung jumlahnya itu ditafsirkan dengan berpijak pada kaidah-kaidah dan aturan-aturan tersebut. Perubahan ini yang sesungguhnya dipengaruh oleh Rasionalisme, menyebabkan penafsiran yang pada awalnya bersifat keagamaan lantas berubah menjadi suatu penafsiran yang bersifat menyeluruh dan meluas, sehingga menurut filosof Schleiermacher dan Dilthey, hermeneutik itu adalah pengetahuan yang berhubungan dengan pemahaman linguistik secara umum. Dilthey menganggap hermeneutik itu bertugas untuk membentuk dasar-dasar metodologi bagi ilmu humaniora.

  Berlawanan dengan kecenderungan tersebut, Martin Heidegger memaknakan kembali hermeneutik itu secara religius dan spiritual. Dan dengan mengubah tujuannya, diperoleh makna-makna yang berbeda dari hermeneutik. Dengan perspektif ini, para penafsir akan menafsirkan realitas berdasarkan karakter-karakter spiritualnya masing-masing dan posisi hermeneutik berubah menafsirkan hakikat eksistensi manusia. Begitu pula Hans-Georg Gadamer menegaskan hermeneutik itu sebagai penjelas substansi pemahaman manusia dan semata-mata tidak lagi memandang hermeneutik itu sebagai dasar-dasar metodologi bagi humaniora dan bukan bagi ilmu-ilmu empirik. Hermeneutik, menurutnya, harus diposisikan secara umum sebagai penjelas dan penentu hakikat pemahaman dan penafsiran manusia.  

Pada beberapa kurun terakhir ini, pembahasan hermeneutik semakin meluas dan telah menghadirkan beberapa cabang baru pengkajian dalam lautan pemikiran manusia serta menjadi wacana tersendiri yang istimewa. Era ini, banyak para pemikir besar yang berkecimpung dan menganalisa wacana ini secara mendetail dalam setiap satu pokok permasalahan hermeneutik, dalam setiap tahunnya beragam risalah dan karya-karya baru yang membahas khusus tentang persoalan-persoalan ini dicuatkan ke pasaran ilmiah. Selain itu, pada dekade ke duapuluh, pembahasan tentang hermeneutik ini telah mendapatkan perhatian dan sambutan tersendiri, hasil-hasil kajian dalam bidang ini telah mempengaruhi dan memberikan imbas yang tak sedikit pada disiplin-disiplin pengetahuan lain dan telah meletakkan para cendekiawan dari berbagai cabang ilmu pengetahuan lainnya berada di bawah pengaruhnya serta memunculkan pertanyaan-pertanyaan dan kajian-kajian baru. Munculnya beragam disiplin pemikiran sebagaimana filsafat, teologi, neo-teologi, ilmu sosial, filsafat ilmu, dan bidang ilmu lainnya telah menjadi bukti akan semakin berkembangnya ilmu hermeneutik dan pengkajian-pengkajian mengenainya.

  Istilah hermeneutik, dalam sejarah penggunaannya, muncul dalam bentuk sebuah cabang dari pengetahuan dan menunjuk pada volume pemikiran tertentu dimana karena keluasan dan keragaman kajiannya berakibat pada adanya pergeseran dari batasan-batasan kedisiplinan subjeknya. Katalog topik-topik yang dianalisa dalam pembahasan hermeneutik ini sangat luas dan bervariasi, hingga pada wilayah-wilayah kajian kritik historiskal, budaya, sosial, dan pemikiran-pemikiran teoritis lainnya.

  Salah satu pembahasan-pembahasan prinsipil dalam hermeneutik adalah menjelaskan posisi masing-masing dari penulis, teks, dan penafsir dalam pemahaman dan interpretasi teks-teks. Dalam masalah ini, terdapat ide dan gagasan yang beragam. Sebagian menempatkan peran yang sangat penting bagi penulis dan penafsiran teks tersebut dibandingkan dengan tujuan dan kedudukan penulis. Yang lain memandang teks sebagai yang prinsipil dan tidak berhubungan dengan penulis. Dan gagasan lain beranggapan bahwa pemahaman teks itu sepenuhnya bergantung pada penafsir dan audience. Perspektif yang terakhir ini ialah konsep hermeneutik filosofis yang sangat menekankan bahwa pemahaman makna teks itu berkaitan erat dengan asumsi-asumsi, budaya-budaya, dan pikiran-pikiran yang berpengaruh pada seorang mufassir. Hal ini merupakan salah satu faktor fundamental dari relativisme dalam interpretasi teks dimana bertolak belakang dengan keyakinan hakiki dan kepercayaan tetap keagamaan.

  Dialektika ini semakin menguat ketika sebagian dari pemikir agama menerima gagasan hermeneutik filosofis tersebut dan mengaplikasikannya dalam interpretasi teks dan penafsiran wacana-wacana keagamaan. Oleh sebab itu, penelitian terhadap aliran-aliran dan konsep-konsep hermeneutikal bagi para pemikir dan pengkaji agama menjadi suatu hal yang sangat urgen dan prinsipil.

  Dalam ranah budaya dan pemikiran Islam, cabang ilmu tertentu belum diwujudkan untuk membahas dan mengkaji secara komprehensif persoalan-persoalan dan perspektif-perspektif hermeneutikal. Masalah-masalah penting hermeneutikal itu masih dibahas secara terpisah dalam cabang-cabang ilmu Islam seperti ilmu tafsir, ushul fikih, teologi, dan gnosis. Semua pembahasan semantik dalam ushul fikih berkaitan dengan hermeneutik. Kajian dasar-dasar dan kaidah-kaidah tafsir al-Quran dan kalam Ilahi berhubungan erat dengan persoalan hermeneutikal. Begitu pula, analisa teolog dan filosof tentang sifat-sifat Tuhan dan persoalan-persoalan di seputarnya adalah juga tergolong ke dalam kajian hermeneutik. Pembahasan-pembahasan hermeneutikal yang terdapat dalam ilmu-ilmu keislaman bisa menjadi wacana-wacana komparatif terhadap kajian-kajian hermeneutikal Barat.  

Penggambaran universal tentang hermeneutik, sejarahnya, dan persoalan-persoalannya merupakan tujuan utama penulisan makalah ini, akan tetapi pada poin pertama dari makalah ini akan diupayakan untuk menyajikan pembahasan mengenai substansi hermeneutik dan batasan-batasan kajiannya. Oleh karena itu, sangatlah urgen membahas mengenai latar belakang sejarah penggunaan istilah ini, definisi istilah, demikian juga analisis terhadap posisi dan hubungannya dengan cabang-cabang pengetahuan lainnya, serta pengenalan terhadap arah dan tujuan pokok-pokok pembahasannya. Hermeneutik kontemporer dan pengaruh-pengaruh yang dimunculkannya dalam ruang lingkup pemikiran-pemikiran agama juga merupakan dimensi lain yang akan dianalisa dan dikaji dalam poin ini. Pembahasan ini, selain akan mengantarkan kita pada penggungkapan esensi hermeneutik, juga akan menguak tabir urgensi khusus dari hermeneutik kontemporer yang nantinya akan diaplikasikan dalam penafsiran, perenungan, dan pengembangan pemikiran agama.

1. Terminologi Hermeneutik

Kata “Hermeneutik” telah dikenal secara umum dan meluas di kalangan bangsa Yunani kuno. Aristoteles telah menggunakan kata ini untuk menamai salah satu bagian dari kitabnya yang bernama Arganon yang membahas tentang “Logika Proposisi”, dan ia menamai bagian tersebut dengan Peri Hermeneias yang berarti “Bagian Tafsir”. Dalam kitabnya ini, Aristoteles menganalisa tentang struktur gramatikal percakapan manusia. Dikatakan bahwa dalam percakapan manusia yang biasanya diungkapkan dalam bentuk proposisi dimana untuk menjelaskan tentang kekhususan sebuah benda maka mesti terjadi penyatuan antara subjek dan predikat. Meskipun demikian, hingga masa renaisans yaitu hingga dekade ke enambelas Masehi, hermeneutik belum dikokohkan sebagai salah satu disiplin ilmu.[1]

Hingga kurun ke tujuhbelas Masehi, kami belum menemukan satupun bukti ontentik tentang lahirnya suatu disiplin baru ilmu yang dinamakan hermeneutik. Dann Hauer dikenal secara umum sebagai orang pertama yang menggunakan kata ini untuk memperkenalkan variasi dari sebuah cabang ilmu. Perlu diketahui bahwa pada tahun 1654 Masehi, Dann Hauer menggunakan kata ini untuk judul salah satu dari karyanya.[2]

Menurut Dann Hauer, basis dari seluruh ilmu adalah metode penafsiran atau interpretasi, dan setiap cabang dari pengetahuan dan makrifat senantiasa harus meliputi jenis ilmu ini yaitu ilmu tafsir. Rahasia dari munculnya perspektif ini adalah karena mayoritas persangkaan dan anggapan yang muncul pada masa itu adalah bahwa seluruh perkembangan dan pertumbuhan yang terjadi pada cabang-cabang ilmu dan pengetahuan seperti ilmu hukum, teologi, dan kedokteran senantiasa membutuhkan suatu bantuan penafsiran atas teks-teks yang berkaitan dengan cabang-cabang ilmu tersebut, dan konsekuensi dari hal ini adalah kemestian keberadaan suatu ilmu yang bertanggung jawab terhadap penetapan tolok ukur dan penegasan metode yang berhubungan dengan interpretasi dan penafsiran pengetahuan-pengetahuan tersebut.[3]

Oleh karena itu, ilmu hermeneutik dalam posisinya sebagai salah satu disiplin pengetahuan merupakan sebuah fenomena baru yang berhubungan dengan zaman modern. Kata hermeneutik telah digunakan sejak zaman Plato, akan tetapi sinonimnya dalam bahasa Latin yaitu hermeneutice yang baru memasyarakat pada dekade ke tujuhbelas dan setelahnya, diletakkan sebagai sebuah istilah bagi salah satu cabang dari pengetahuan manusia. Dengan alasan inilah, analisis tentang latar belakang sejarah hermeneutik tersebut baru dimulai dari kurun ke tujuhbelas, sedangkan masa-masa sebelum itu disebut dengan masa pra historis hermeneutik.

Tujuan dan maksud kami dalam makalah ini adalah membahas dan menganalisa tentang pengertian dan defenisi gramatikal hermeneutik, akan tetapi, di samping itu, kami juga akan menyinggung secara ringkas tentang pengertian-pengertian leksikalnya.

Biasanya dalam pembahasan etimologi hermeneutik terdapat hubungan yang erat dan jelas antara kata ini dengan Hermes, salah satu Tuhan yang dimiliki oleh bangsa Yunani yang bertugas sebagai Penyampai Berita. Kata hermeneutic sendiri diambil dari kata kerja Yunani, hermeneuin, yang berarti “menginterpretasikan atau menafsirkan (to interpret)” dan kata bendanya adalah hermeneia yang berarti “tafsir“. Dilema beragam yang kemudian muncul dari kata ini mengandung pemahaman terhadap sesuatu atau kondisi yang tak jelas. Bangsa Yunani menisbatkan penemuan bahasa dan tulisan kepada Hermes, yakni bahasa dan tulisan ini merupakan dua elemen yang dimanfaatkan oleh manusia untuk memahami makna dan menafsirkan berbagai realitas. Tugas Hermes adalah “memahami” dan “menafsirkan sesuatu”, dimana dalam persoalan ini, unsur bahasa memegang peran yang sangat asasi dan penting.[4]

Hermes adalah seorang perantara yang bertugas menafsirkan dan menjelaskan berita-berita dan pesan-pesan suci Tuhan yang kandungannya lebih tinggi dari pemahaman manusia sedemikian sehingga bisa dipahami oleh mereka. Sebagian dari para peneliti beranggapan bahwa tiga unsur mendasar yang terdapat di dalam setiap penafsiran itu merupakan bukti yang jelas bagi adanya keterkaitan yang erat antara kata hermeneutik dengan Hermes. Setiap tafsiran dan interpretasi senantiasa memiliki tiga unsur di bawah ini:

 a. Pesan dan teks yang dibutuhkan untuk lahirnya suatu pemahaman dan interpretasi,

b. Penafsir (Hermes) yang menginterpretasikan dan menafsirkan pesan dan teks,

c. Penyampaian pesan dan teks kepada lawan bicara.

Ketiga unsur yang pokok di atas merupakan inti-inti pembahasan dan pengkajian hermeneutik, masalah-masalah seperti esensi teks, pengertian pemahaman teks, dan pengaruh dari asumsi-asumsi dan kepercayaan-kepercayaan terhadap lahirnya suatu pemahaman.[5]

Sebagian besar menerima analisis etimologi yang menempatkan Hermes sebagai perantara dan penafsir antara teks dan Tuhan. Analisis ini dipandang lebih tepat dari analisis-analisis lainnya. Akan tetapi, sebagian yang lain meragukan dan menolak perspektif semacam ini. Bagaimanapun juga, tetap terbuka secara luas untuk hadirnya perspektif-perspektif baru dalam masalah ini.[6]

Ketika kita ingin menempatkan hermeneutik sebagai salah satu cabang pengetahuan dan majemuk dari teori-teori dan pemikiran-pemikiran, maka kita harus meletakkan huruf “s” di akhir kata hermeneutic, sehingga menjadi “hermeneutics“, meskipun sebagian teori seperti teori yang dikemukakan oleh James McConkey Robinson yang mengatakan bahwa penyebutan huruf “s” di akhir kata ini adalah tidak diperlukan.[7]

Dengan mengesampingkan penggunaan kata ini sebagai cabang dari ilmu dan pengetahuan yang diiringi dengan huruf “s”, hermeneutic (yang tanpa diikuti dengan huruf “s”) juga digunakan dalam kata benda dan sifat. Dalam pemanfaatan dari kata benda ini kadangkala huruf “s” diletakkan di akhir kata tersebut dan kadangkala pula tidak digunakan. Dalam penggunaan ini, hermeneutic diposisikan sebagai nama dari berbagai kecenderungan-kecenderungan, cabang-cabang, dan aliran-aliran yang beragam yang terdapat dalam ruang lingkup disiplin pemikiran hermeneutik, atau diletakkan sebagai cabang-cabang, kecenderungan-kecenderungan, dan maktab-maktab beragam yang ada dalam koridor pemikiran-pemikiran yang berhubungan dengan dan pengkajian pembahasan hermeneutik. Sebagai contoh kita bisa lihat pada penggabungan semacam “Hermeneutik kitab Suci”, “Hermeneutik Linguistik”, “Hermeneutik Metodologi “, dan “Hermeneutik Heidegger”.

Penggunaan kata sifatnya muncul dalam bentuk “hermeneutic” dan “hermenutical“, misalnya dikatakan “Hermeneutical Theory“, “Hermeneutic Theology“, “Hermenutic Event“[8], dan “Hermeneutical Situation“.[9]

Perlu diketahui bahwa kecermatan dan ketajaman dalam mencari akar kata leksikal dari kata hermeneutik ini tidak akan membantu pengenalan esensi dan keluasan pembahasan hermeneutik kontemporer. Keluasan ranah dan pembahasan hermeneutik serta perubahan internal yang ada padanya tidak memiliki korelasi yang logis dengan makna leksikal dan akar katanya sehingga mampu digunakan untuk menemukan dan mencari solusi dalam naungan kajian linguistik ke arah pemahaman yang lebih mendalam terhadap apa yang sekarang dinamakan dengan hermeneutik. Dari sini, tidak ditemukan adanya manfaat yang terlalu penting dalam mengenal akar kata leksikal dan analisis historis penggunaan kata hermeneutik ini dalam karya-karya para pemikir Yunani kuno seperti Plato dan Aristoteles, dengan alasan inilah kami menghindarkan pembahasan yang lebih panjang dalam pengkajian linguistik terhadap masalah ini.  

2. Definisi Hermeneutik

Dalam sepanjang sejarah yang tidak berapa jauh terlewatkan, hermeneutik disajikan dalam definisi yang bervariasi dimana masing-masingnya menunjuk pada satu perspektif khusus yang berkaitan dengan arah, tujuan, subjek, dan aplikasi-aplikasi dari disiplin pengetahuan ini. Sebelum memberikan keputusan akhir dalam masalah kemungkinan penyajian definisi global hermeneutik yang nampak pada upaya-upaya pemikiran masa lalu tentangnya, ada baiknya apabila kami menyinggung pula sepintas definisi-definisi hermeneutik yang ada. Pemahaman yang benar terhadap masing-masing definisi ini membutuhkan penjelasan singkat tentang proses pembentukannya. Persoalan yang senantiasa hangat ini merupakan ungkapan para pemilik definisi-definisi ini yang berangkat dari tujuan dan aplikasi hermeneutik.

Johannes Martin Chladenius (1710-1759 M) yang menganggap ilmu humaniora berpijak pada “keahlian interpretasi”[10] dan hermeneutik merupakan nama lain dari keahlian ini. Dalam proses memahami ungkapan percakapan dan teks penulisan, kadangkala muncul ketidakjelasan yang akan menghambat proses pencapaian pemahaman sempurna atasnya. Dan di sini hermeneutik, merupakan sebuah keahlian yang bisa digunakan untuk mendapatkan pemahaman komplit dan sempurna serta menyeluruh dalam ungkapan-ungkapan percakapan dan teks-teks penulisan tersebut. Keahlian ini meliputi majemuk dari kaidah-kaidah, yaitu suatu disiplin yang posisinya mirip dengan ilmu logika yang digunakan membantu menyibak ketakjelasan yang ada dalam teks.[11]

Friedrich August Wolf dalam ceramahnya pada sekitar tahun 1785 hingga 1807 Masehi mendefiniskan hermeneutik sebagai berikut, “Hermeneutik adalah ilmu tentang kaidah dan aturan dimana dengan bantuannya akan bisa dipahami makna dari suatu pesan dan teks”. Tujuan dari ilmu ini adalah memahami pemikiran-pemikiran dari percakapan seorang pembicara dan tulisan seorang penulis persis sebagaimana hal-hal yang dipikirkan oleh mereka tersebut. Gagasan dan fungsi hermeneutik ini, menegaskan bahwa pemahaman itu tidak hanya membutuhkan pengetahuan bahasa teks, melainkan juga membutuhkan pengetahuan historis. Dan yang dimaksud dengan pengetahuan histori di sini adalah pengenalan kehidupan penulis dan kondisi-kondisi historis geografi tempat tinggalnya. Karena penafsir yang ideal harus mengetahui apa yang diketahui oleh penulis.[12]

Friedrich Daniel Ernest Schleiermacher (1768-1834) memandang hermeneutik sebagai “keahlian memahami”. Dia memberikan perhatian khusus pada pemahaman yang keliru, dan karena itulah dia mengatakan bahwa interpretasi teks senantiasa mengandung bahaya kesalahpahaman. Dengan demikian, hermeneutik harus diletakkan sebagai sebuah metodologi yang memberikan penjelasan dan pengajaran untuk menghilangkan bahaya kesalahpahaman di atas. Tanpa adanya keahlian seperti ini, maka tidak akan pernah ditemukan solusi untuk menuju ke sebuah pemahaman yang benar.[13]

Perbedaan yang ada pada definisi di atas dibanding dengan definisi pertama adalah, pada definisi pertama Chladenius menganggap kebutuhan kepada hermeneutik itu hanya pada tempat dimana terdapat ketidakjelasan dalam proses pemahaman sebuah teks, sementara Daniel menganggap bahwa penafsir atau mufassir senantiasa membutuhkan kehadiran hermeneutik dalam setiap proses pemahamannya terhadap teks-teks, karena dalam pandangannya, hermeneutik tidaklah ditentukan untuk menyibak ketakjelasan tertentu pada teks melainkan merupakan sebuah pengetahuan yang senantiasa menuntun para penafsir untuk menghindari adanya kesalahpahaman dan kehadiran pemahaman yang buruk. Dengan ibarat lain, dalam pandangan Chladenius lebih menekankan pada prinsip adanya kemungkinan kebenaran pemahaman dan interpretasi pada setiap teks, kecuali apabila terjadi problem atau ketidakjelasan pada teks, maka hermeneutik yang merupakan sebuah pengetahuan pembantu (auxiliary science) bisa digunakan untuk menyibak ketakjelasan dan kerumitan pada teks tersebut. Sementara dalam pandangan Daniel, ia lebih menegaskan prinsip kemungkinan kesalahan pada setiap pemahaman teks, dengan demikian, urgensi kehadiran hermeneutik adalah pasti demi menghindarkan para mufassir dari keburukan dan kesalahan pemahaman. Jadi dalam kedua pandangan di atas, hermeneutik disepakati sebagai sebuah keahlian yang meliputi kumpulan aturan-aturan, kaidah-kaidah, dan metodologi. Akan tetapi, kandungan yang terdapat dalam aturan-aturan tersebut dan tujuan dasar penyusunan metodologinya, dalam pandangan keduanya, memiliki perbedaan.

Wilhelm Dilthey (1833-1911) beranggapan bahwa hermeneutik sebagai sebuah pengetahuan yang bertanggung jawab terhadap penyajian metodologi humaniora. Tujuan inti dari segala upaya hermeneutiknya adalah menaikkan validitas dan nilai humaniora serta menyejajarkannya dengan ilmu-ilmu empirik.

Menurut pendapatnya, rahasia kebenaran proposisi-proposisi ilmu empirik terdapat pada kejelasan kaidah dan metodologinya. Karena itulah, supaya humaniora juga setara dengan sains, maka metodologinya harus jelas dan harus memiliki dasar-dasar serta prinsip-prinsip yang sama, jelas, dan pasti dimana merupakan tolok ukur bagi seluruh pembenaran dan proposisi humaniora.[14]

Rudiger Bubner adalah salah satu dari penulis kontemporer berkebangsaan Jerman, dalam makalahnya yang berjudul “The Hermeneutics Reader” yang ditulis pada tahun 1975, mendefinisikan hermeneutik sebagai “Ilmu Pengajaran Pemahaman”.[15]

Definisi ini memiliki kesesuaian dengan hermeneutik Filosofis yang dikemukakan oleh Martin Heidegger dan Hans-Georg Gadamer, karena menurut mereka tujuan dari hermeneutik filosofis adalah mendeskripsikan substansi pemahaman. Hermeneutik filsafat, berlawanan dengan hermeneutik-hermeneutik yang lampau, tidak saja terbatas pada kategori pemahaman teks dan koridor pemahaman humaniora (human sciences), melainkan menekankan kesesuaian pemahaman manusia dengan objek eksternal dan analisis hakikat pemahaman serta menentukan syarat-syarat eksistensial untuk suatu kehadiran pemahaman dan penafsiran.

Apa yang telah kami sebutkan di atas, hanyalah merupakan sebagian dari definisi-definisi yang ada. Dengan adanya hal ini, cukup untuk menjelaskan poin bahwa pembahasan hermeneutik memiliki keluasan dan pendapat yang sangat bervariasi. Definisi-definisi ini dengan baik menunjukkan ranah pembahasan-pembahasan hermeneutik yang semakin beragam dan semakin meluas dari batasan pengenalan hermeneutik yang ditetapkan untuk penafsiran teks-teks suci agama dan hukum-hukum hingga pada batasan pengenalan hermeneutik yang diaplikasikan pada analisis-analisis filosofis terhadap hakikat pemahaman dan syarat-syarat eksistensial bagi kehadiran suatu pemahaman.

Dengan perkembangan yang luas ini dengan jelas menunjukkan bahwa tidak satupun dari definisi yang telah disebutkan di atas mampu memperkenalkan seluruh upaya-upaya teoritis yang dinamakan hermeneutik. Ketidakmampuan ini tidak dibatasi oleh definisi-definisi di atas, melainkan secara praktis tidak mungkin untuk menyajikan definisi secara global dan menyeluruh yang mampu mewakili seluruh kecenderungan hermeneutik, karena terdapat perbedaan pandangan mengenai tujuan dan fungsi hermeneutik, kadangkala persepsi yang ada tentang hermeneutik memiliki perbedaan yang sangat ekstrim sehingga mustahil untuk bisa dirujukkan dan disatukan. Sebagai contoh, Wilhelm Dilthey tidak menganggap hermeneutik itu sebagai suatu pengetahuan yang digunakan untuk pemahaman dan penafsiran teks, melainkan hermeneutik itu identik dengan epistemologi dan metodologi yang secara umum dimanfaatkan untuk humaniora. Pada sisi lain, hermeneutik filosofis yang dimulai oleh Heidegger, dalam perspektifnya kadangkala terlihat sangat berbeda, menurutnya, hermeneutik itu tidak dianggap sebagai sebuah metode, tujuan hermeneutik bukan pada dimensi metodologi, melainkan dianggap sebagai kontemplasi filosofis terhadap basis-basis ontologi pemahaman dan penentuan syarat-syarat eksistensial bagi kehadiran suatu pemahaman. Hermeneutik bukanlah epistemologi dan metodolgi, namun merupakan ontologi. Dengan keluasan wilayah pembahasan yang sedemikian ini dan perubahan yang sangat radikal dan mendalam dalam tujuan, fungsi, dan aplikasi hermeneutik, lantas bagaimana bisa diharapkan akan adanya kesatuan dan kemanunggalan definisi yang bersifat komprehensif dan global yang bisa memayungi seluruh upaya pemikiran dan teoritis ini?

Dengan tidak mengharapkan penyajian definisi yang mendetail dan global, terdapat kemungkinan untuk memberikan gambaran luas untuk memperjelas lahan pemikiran dan ruang lingkup pengkajian hermeneutik. Sebagai contoh, Paul Ricoeur mendefinisikan hermeneutik sebagai berikut, “Hermeneutik merupakan teori tentang pemahaman dalam kaitannya dengan penafsiran teks-teks”.[16]

Dengan tujuan yang sama, Richard E. Palmer mendefinisikan hermeneutik sebagai berikut, “Hermeneutik, saat ini merupakan metode kontemplasi filosofis bagi orang Jerman dan belakangan ini merupakan pengkajian tentang esensi pemahaman bagi orang Perancis yang berkembang melalui perantara Daniel dan Dilthey serta Martin Heidegger, dan saat ini disajikan oleh Gadamer dan Paul Ricoeur.[17]

3. Ranah Hermeneutik

Apa ranah dan subjek hermeneutik? Sebagian memberi jawaban sederhana: “Hermeneutik merupakan tradisi berfikir dan kontemplasi filosofis yang mengupayakan penjelasan tentang konsepsi dan ide ”pemahaman” (fahm, verstehen, understanding) dan memberikan solusi terhadap persoalan tentang faktor-faktor yang mengakibatkan hadirnya makna bagi segala sesuatu “. Segala sesuatu ini bisa berupa syair, teks-teks hukum, perbuatan manusia, bahasa, atau kebudayaan dan peradaban asing.[18]

Pengenalan masalah “pemahaman” sebagai sebuah ranah, subjek, dan batasan pengkajian hermeneutik akan menghadapkan pada dua dilemma asasi, pertama adalah bahwa pemahaman dan persepsi itu dibahas dalam berbagai disiplin yang berbeda dan memiliki fungsi pada banyak cabang-cabang pengetahuan. Epistemologi (theory of knowledge), filsafat analisis, dan filsafat klasik (metafisika) adalah bidang-bidang ilmu yang juga mengkaji masalah-masalah pemahaman dan persepsi ini dalam sudut pandang tertentu. Dengan demikian, pertama-tama harus diketahui dengan jelas bahwa dari sudut pandang mana disiplin hermeneutik memandang permasalahan pemahaman dan persepsi itu yang membedakannya dengan disiplin ilmu-ilmu lainnya.

Kedua, aliran-aliran berbeda yang terdapat dalam disiplin hermeneutik sendiri memiliki perspektif yang berbeda-beda terhadap persoalan pemahaman dan persepsi itu. Akan tetapi, adanya kesamaan konsepsi yang sedikit terhadap persoalan tersebut sama sekali tidak bisa dijadikan patokan terhadap subjek dan penjelas batasan pembahasan bagi hermeneutik, karena masing-masing aliran pemikiran itu mengkaji tujuan-tujuan khusus dimana tujuan khusus inilah yang lantas menyebabkan perbedaan subjek dan ranah pembahasannya. Sebagai contoh, seseorang yang memandang pemahaman itu dari sudut pandang fenomenologikal, maka dalam hermeneutiknya mustahil ia berupaya menemukan dan menegaskan suatu metode untuk memisahkan antara pemahaman yang benar dan yang keliru.

Yang jelas seorang seperti Wilhelm Dilthey mengarahkan tujuan itu demi menggapai humaniora yang valid dan benar. Dengan memandang hermeneutik sebagai metodologi, diharapkan refleksi-refleksinya, pada puncaknya, akan menghadirkan suatu metode umum untuk keseluruhan humaniora. Yang pasti, aliran-aliran hermeneutik mengkaji subjek pemahaman itu, yang satu membahas kemutlakan pemahaman dari aspek fenomenologikal, yang lain menjelaskan hakikat dan syarat-syarat wujud kehadiran pemahaman, aliran dari mengkajinya dari sisi ruang-waktu dan sejarah, dan yang lainnya meneliti pemahaman dunia internal individu dan pikiran-pikiran setiap manusia lewat peninggalan-peninggalan seni dan literatur-literatur, dan berupaya mencipta suatu metode yang valid dan akurat untuk memahami pikiran-pikiran individu dan kehidupan internal setiap manusia. Dua perspektif dalam masalah pemahaman ini, dengan tidak memandang perbedaan dalam ruang lingkup kajian pemahaman, yang satu menunjuk pada pemahaman secara mutlak dan yang lainnya menyibak pemahaman kehidupan internal manusia. Dua subjek pembahasan ini tidak bisa dipungkiri memiliki perbedaan dan tidak bisa dikatakan bahwa aliran-aliran hermeneutik membahas semua persoalan tersebut secara merata dan komprehensif.

  Lahirnya kajian hermeneutik filosofis yang dipelopori oleh Martin Heidegger di abad keduapuluh Masehi dan pengembangan ranah pembahasannya ditangan Hans-Georg Gadamer melahirkan pengaruh yang cukup besar pada cabang-cabang ilmu, seperti kritik literatur, metodologi, teologi, dan ilmu-ilmu sosial. Sebagian menyangka bahwa domain pembahasan hermeneutik adalah sama dengan subjek hermeneutik filosofis, yakni refleksi filosofis dan fenomenologikal dalam substansi pemahaman dan syarat-syarat eksistensial kehadirannya. Yang paling keliru adalah orang yang menyangka bahwa satu-satunya ranah pengkajian yang mungkin bagi hermeneutik adalah sebagaimana pandangan-pandangan para filosof Jerman terhadap hermeneutik dan tradisi-tradisi hermeneutik di Jerman pada abad keduapuluh.

  Pada dasarnya, hermeneutik filosofis terkait secara horizontal dengan pembahasan-pembahasan universal hermeneutik yang senantiasa kita butuhkan dan tidak ada jalan lain kecuali harus membahasnya. Kita menerima semua pemikiran penafsiran tentang pemahaman teks atau setiap kecenderungan dalam kritik literatur atau memilih pembahasan tentang filsafat humaniora yang ada pada setiap maktab. Kita tidak mungkin menolak dan memungkiri keberadaan pengkajian tentang substansi pemahaman manusia dan analisis hakikat wujudnya.

Akan tetapi, makna dari ungkapan di atas tidaklah membatasi ruang lingkup pembahasan hermeneutik pada garis horizontal itu. Sebagai contoh, kita bisa memperluas subjek itu pada kategori penafsiran dan pemahaman teks serta terus mengajukan teori-teori penafsiran baru dalam kategori pemahaman teks. Pengajuan teori-teori baru ini tidak masuk dalam wilayah dan koridor pengkajian hermeneutik filosofis, akan tetapi tergolong dalam subjek perumusan dan pengkajian hermeneutik.

  Tidak terdapat alasan yang tepat bagi kita untuk membatasi hermeneutik hanya pada subjek pengkajian hermeneutik filosofis yang meliputi maktab Jerman dan Perancis, atau hanya pada maktab Jerman saja yakni perspektif Heidegger dan Gadamer.

  Tentang ranah hermeneutik dan ketidaklogisan pembatasan domainnya hanya pada hermeneutik filosofis, Richard E. Palmer menyatakan bahwa kita bisa menunjuk tiga kategori yang berbeda secara ekstrim dalam wilayah hermeneutik, ketiga kategori tersebut antara lain:

 1. Hermeneutik regional (khusus) merupakan bentuk hermeneutik yang pertama kali ditetapkan sebagai suatu disiplin ilmu. Pada kategori ini, dengan maksud merumuskan kualitas penafsiran teks-teks, dibentuk kumpulan dari kaidah-kaidah dan metode-metode untuk setiap cabang-cabang ilmu dan pengetahuan, seperti ilmu hukum, linguistik, kitab-kita suci, dan filsafat. Dan setiap ilmu itu memiliki kumpulan kaidah dan dasar penafsiran yang khusus untuknya. Berdasarkan hal ini, setiap ilmu memiliki hermeneutik tersendiri yang khusus berhubungan dengan ilmu tersebut. Dengan dalil ini, masing-masing hermeneutik ini berkaitan erat dengan suatu tradisi pemikiran dan ilmiah tertentu. Seperti dari setiap hermeneutik yang mengajarkan metode tafsir teks-teks suci tak akan digunakan dalam penafsiran teks-teks literatur klasik.[19]

2. Hermeneutik umum yang berfungsi menetapkan metode pemahaman dan penafsiran. Hermeneutik ini tidak dikhususkan untuk ilmu tertentu, melainkan diterapkan untuk semua cabang ilmu-ilmu tafsir. Kehadiran jenis hermeneutik ini dimulai pada abad kedepanbelas dan orang pertama yang menyusun secara sistimatik adalah teolog Jerman bernama Schleiermacher (1768-1834 M). Kaidah-kaidah dan dasar-dasar umum hermeneutik ini menjadi tolok atas pemahaman teks, dengan tidak memandang latar belakang teks itu. Para ahli hermeneutik mesti berusaha menyusun dan menetapkan kaidah-kaidah umum tersebut. Upaya Wilhelm Dilthey semestinya berada pada wilayah ini, karena ia menekankan ilmu manusia secara mutlak, namun, asumsinya sangat sesuai dengan asumsi para pengkritik hermeneutik umum. Dilthey mempunyai perspektif bahwa segala prilaku, perkataan, dan karya-karya tulis manusia mewakili kehidupan pikiran dan internal mereka. Dan semua ilmu manusia seharusnya diarahkan dalam pencarian dan penyingkapan kehidupan internal manusia sebagai pemiliki perbuatan dan karya-karya tulis, dan masalah bisa menjadi suatu kaidah, aturan, metode umum dan universal. Dan tujuan utama keberadaan hermeneutik adalah menyusun dan menetapkan kaidah dan metode ini, yakni menghadirkan secara pasti dan benar suatu metodologi yang menjadi mizan bagi ilmu manusia.

3. Hermeneutik filosofis yang berupaya menganalisa secara filosofis fenomena pemahaman itu. Oleh sebab itu, tidak terdapat kecenderungan dalam hermeneutik ini untuk berusaha menghadirkan suatu metode, dasar, dan kaidah yang bisa menjadi tolok ukur atas pemahaman dan penafsiran, baik itu metode yang terkait dengan pemahaman teks atau dalam humaniora secara umum. Namun, apabila kita mencermatinya, jenis hermeneutik ini bukan hanya peduli terhadap adanya ketetapan satu metode, bahkan senantiasa menggugat metodologi dan menyanggah suatu pernyataan yang berbunyi, “Lewat penetapan metode bisa mencapai hakikat”.[20]  

Dengan memperhatikan tiga kategori berbeda yang tersebut di atas, kita tak mungkin mengkhususkan subjek hermeneutik itu kepada salah satu dari ketiga kategori itu. Ketidakmungkinan ini karena ketiga kategori tersebut di bawah cakupan hermeneutik, dengan demikian, tak logis jika subjek hermeneutik hanya berkaitan dengan salah satu dari ketiga kategori atau perspektif itu, misalnya hanya menekankan pada hermeneutik filosofis. Dengan realitas seperti ini, arus hermeneutik dalam semua aspek dan bidang ilmu akan senantiasa berlanjut.[21]

4. Hermeneutik Umum

  Dalam pengkajian tentang subjek hermeneutik telah disinggung bahwa hermeneutik khusus diperhadapkan dengan hermeneutik umum. Hermenenutik filosofis adalah bersifat umum dan aliran-aliran hermeneutik lainnya ialah dipandang bersifat khusus dan terbatas. Persoalannya adalah apakah hermeneutik merupakan suatu ilmu yang bersifat umum dan mencakup ilmu-ilmu lainnya ataukah hanya terbatas pada cabang ilmu tertentu?

  Dikatakan bahwa hermeneutik, di awal kehadirannya pada abad ketujuhbelas, hanya berhubungan dengan ilmu dan seni penafsiran, dan hingga abad kesembilanbelas masih dalam bentuk konsep yang mentah dan diharapkan mampu merumuskan secara jelas kaidah dan aturan ilmu tafsir. Dalam rentangan abad tersebut, hermeneutik ini hanya diletakkan sebagai metodologi untuk ilmu-ilmu tafsir dengan tujuan utamanya menghentikan penafsiran-penafsiran yang tak berkaidah dan tak beraturan. Peran hermeneutik, pada abad itu dan untuk waktu yang cukup lama, adalah pendukung sekunder bagi ilmu-ilmu lainnya yang dikaitkan dengan penafsiran teks dan simbol-simbol.

  Pada zaman itu terbentuklah apa yang dinamakan dengan hermeneutik sakral (hermeneutica sacra) yang memiliki kaidah-kaidah yang sistimatik dan begitu pula hermeneutik filosofis yang dikenal dengan hermeneutica profana serta hermeneutik hukum disebut dengan nama hermeneutica juris.[22]Setiap hermeneutik tersebut memiliki fungsi, posisi, dan peran yang signifikan untuk membantu setiap ilmu dan pengetahuan demi meraih pemahaman yang lebih akurat, valid, dan benar serta penyelesaian berbagai persoalan mengenai kekaburan teks-teks.

  Para penulis mencermati teks-teks hermeneutik pertama dan merumuskan kaidah-kaidah dan dasar-dasar penafsiran untuk cabang-cabang dan disiplin ilmu-ilmu tertentu, seperti teologi, hukum, filsafat, dan philology, kemudian menetapkannya sebagai hermeneutik khusus. Sebagian dari kaidah dan dasar penafsiran tersebut bisa diaplikasikan secara umum, namun maksud para penulis tersebut tidak merumuskannya untuk hermeneutik umum dalam semua ilmu dan pengetahuan yang berpijak pada penafsiran, melainkan menetapkan hermeneutik sakral misalnya untuk teks-teks kitab suci dan hermeneutik filosofis bagi teks-teks filsafat. Para penulis sejarah pada umumnya sepakat memandang Schleiermacher sebagai orang pertama yang berupaya merumuskan hermeneutik umum dan semua sepaham atas perspektifnya yang berbunyi, “Pada masa kini hermeneutik hanya berbentuk hermeneutik-hermeneutik yang berkaitan khusus dengan cabang-cabang ilmu dan belum dirumuskan suatu konsep umum yang meliputi seluruh ilmu.” Tetapi kenyataan yang sesungguhnya adalah D. Howard pada abad ketujuhbelas yang memunculkan untuk pertama kali kaidah-kaidah dan dasar-dasar umum tentang penafsiran dan interpretasi.[23]

  Alasan utama Schleiermacher menghadirkan kaidah-kaidah umum dalam penafsiran teks-teks adalah dengan perantaraannya para mufassir bisa terhindar dari belbagai kekeliruan pemahaman dan meraih pengetahuan yang benar dan valid. Hermeneutik Dilthey juga bersifat umum, karena ia pun berupaya merumuskan metodologi umum untuk semua ilmu humaniora supaya dengan aturan itu ilmu humaniora bisa setara dengan ilmu-ilmu alam dan empiris, begitu pula pemahaman-pemahaman ilmu humaniora bisa mencapai derajat validitas sebagaimana hasil-hasil eksperimen dalam disiplin ilmu-ilmu alam.

  Namun perlu diperhatikan bahwa keumuman kaidah hermeneutik hingga akhir abad kesembilanbelas adalah bersifat nisbi dan tidak mencakup segala cabang ilmu dan pengetahuan manusia, karena keumuman yang bisa disaksikan dalam karya-karya Schleiermacher dan Chladenius itu hanya terbatas pada penafsiran teks-teks, oleh sebab itulah, kaidah-kaidah dan basis-basis tafisr dalam pandangan mereka ini hanya mencakup ilmu dan pengetahuan manusia yang berkaitan dengan penafsiran teks-teks saja. Begitu pula metodologi yang digagas oleh Dilthey hanya diperuntukkan bagi ilmu-ilmu humaniora.

  Di abad keduapuluh ini kita menjadi saksi belbagai upaya dan usaha perumusan hermeneutik dalam setiap cabang dan disiplin ilmu seperti dalam bidang linguistik, teologi, dan ilmu-ilmu sosial. Sementara hermeneutik filosofis yang dirumuskan oleh Heidegger dan pemikir-pemikir setelahnya, seperti Gadamer, ialah dengan suatu tujuan umum dan berupaya supaya keumuman yang terdapat dalam hermeneutik filosofis abad keduapuluh ini meliputi semua pengetahuan manusia dan terpisah dari keumuman hermeneutik yang ada sebelumnya.

  Secara terperinci akan dibahas hermeneutik filosofis Heidegger dan Gadamer, akan tetapi untuk memahami maksud mereka ini tentang ‘keumuman’, perlu dicermati poin ini bahwa hermeneutik filosofis Heidegger tidak menekankan penafsiran teks dan juga tidak membatasi penelitiannya kepada pembentukan metodologi humaniora, melainkan subjek hermeneutik filosofis adalah realitas eksistensial dan syarat-syarat fundamental yang melandasi hadirnya fenomena-fenomena pemahaman dalam segala variannya.[24] Walhasil, subjek dan ranah hermeneutik filosofis ialah pemahaman secara umum dan bukan perumusan metodologi pemahaman secara khusus.

  Alasan yang sangat mungkin mengapa hermeneutik filosofis yang dipandang oleh para pendukungnya sebagai prima philosophia (filsafat pertama) dan mencakup seluruh aspek keilmuan ialah kehadirannya secara mutlak dalam segala bentuk pemahaman dan fenomena penafsiran. Sebelum Heidegger, Friedrich Nietzsche (1844-1900 M) beranggapan bahwa semua pengalaman dan pemahaman manusia hanyalah bersifat penafsiran semata dan meyakini bahwa apa-apa yang kita pahami hanyalah sebuah penafsiran yang tidak mewakili fakta dan kenyataan hakiki. Penafsiran ini mencakup semua realitas penafsiran dan ilmu-ilmu teoritis serta pemikiran.

  Sifat penafsiran itu yang terkait dengan ilmu-ilmu dan pemahaman secara mutlak adalah problem umum dan filosofis. Dari sinilah, hermeneutik filosofis kemudian meletakkan pemahaman secara mutlak itu sebagai subjek kajiannya.[25] Perlu diketahui bahwa pengakuan keumuman dan keuniversalan subjek hermeneutik filosofis itu, tidak menjadi penghalang bagi perkembangan pemikiran-pemikiran hermeneutik yang khusus dalam cabang-cabang pengetahuan manusia. Dari hal ini, pembahasan-pembahasan tentang hermeneutik terus berlanjut dalam bidang linguistik, teologi, hukum, dan ilmu-ilmu sosial.

5. Tujuan Hermeneutik  

  Sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya bahwa sangat sulit meramu dan merumuskan satu definisi tentang hermeneutik yang bisa mencakup seluruh aspek-aspeknya, hali ini karena faktor keluasan dan keragaman pembahasan hermeneutik serta keberadaan aliran-aliran yang berbeda. Begitu pula tidak terdapat kesepakatan tentang ranah pengkajian hermeneutik. Pada kesempatan ini kita akan mencermati bahwa apakah bisa ditetapkan tujuan-tujuan yang sama dan bersifat menyeluruh untuk hermeneutik yang dapat diterima oleh semua aliran dan kecenderungan yang terdapat dalam hermeneutik?.

  Pertama-tama akan ditegaskan bahwa sesungguhnya tak terdapat tujuan-tujuan yang sama dan bisa disepakati dalam hermeneutik ini. Hal ini bisa dilihat di sepanjang sejarahnya bagaimana munculnya aliran, pemikiran, dan kecenderungan fundamental yang berbeda satu sama lain dalam perumusan aplikasi dan penentuan fungsionalnya. Dengan memandang realitas ini, lantas bagaimana bisa ditetapkan suatu arah dan tujuan yang sama di antara keragaman pemikiran tentang hermeneutik dalam upaya pemahaman teks, penghapusan segala keraguan terhadap pemahaman-pemahaman itu, penentuan metodologi bagi humaniora, dan perumusan dasar-dasar yang menjadi tolok ukur pemahaman terhadap sejarah, karya-karya seni dan tulis, prilaku, dan peradaban manusia?.

  Pusaran yang dilahirkan oleh hermeneutik filosofis di awal abad keduapuluh dalam penentuan arah kontemplasi hermeneutik berkonsekuensi pada tajamnya perbedaan di antara hermeneutik abad keduapuluh ini dan hermeneutik abad sebelumnya sedemikian sehingga sangat sulit (kalau bisa dikatakan mustahil) kita menentukan tujuan-tujuan sama yang terdapat dalam hermeneutik filosofis dan yang terdapat dalam aliran-aliran hermeneutik lainnya.

  Bahkan penegasan arah dan tujuan yang sama di antara cabang-cabang hermeneutik filosofis sendiri sangat sulit dilakukan. Apa yang hari ini dikenal dengan nama hermeneutik filosofis tidak lain ialah aliran yang didirikan oleh Martin Heidegger dan muridnya, Hans-Georg Gadamer, serta dipopulerkan oleh dua filosof Perancis, Jacques Derrida dan Paul Ricoeur. Namun, keempat tokoh tersebut yang sama-sama penganut hermeneutik filosofis memiliki pandangan yang berbeda dalam penentuan arah dan tujuan hermeneutik. Di bawah ini akan diungkapkan beberapa perspektif mereka supaya kita bisa mengetahui seberapa mendalam perbedaan yang ada berhubungan dengan tujuan hermenutik filosofis tersebut:

 a. Martin Heidegger dalam kitabnya, Being and Time, menyatakan bahwa filosof Yunani Kuno mengungkapkan persoalan eksistensi secara filosofis dan berupaya mengetahui hakikatnya secara apa adanya. Namun, sejak zaman Aristoteles hingga filsafat masa kini, persoalan mengenai hakikat eksistensi itu menjadi terlupakan dan pembahasan beralih pada pemahaman tentang fenomena-fenomena wujud partikular. Para filosof pasca Plato memandang bahwa eksistensi itu merupakan konsep yang paling umum dan universal yang tidak bisa didefinisikan (aksioma) serta bersifat sangat gamblang (badihi). Berpijak pada hal ini, mereka tidak memandang masalah hakikat eksistensi itu sebagai persoalan filsafat.

Heidegger beranggapan bahwa eksistensi yang bersifat aksioma dan konsep yang paling universal itu tidak menjadi halangan untuk melakukan pencarian hakikat eksistensi itu. Ia menetapkan bahwa tujuan filsafat yang benar adalah menemukan jawaban dan solusi universal atas persoalan hakikat eksistensi. Lebih lanjut ia menyatakan bahwa filsafat itu mesti menemukan dan merumuskan persoalan ini menjadi suatu kaidah dan metode dalam pencarian hakikat eksistensi tersebut.

Dalam pandangannya, setiap maujud memiliki hakikat eksistensi yang berbeda, bahkan di mana saja suatu maujud tertentu berada, maka di situ pula hadir hakikat eksistensi. Kita tidak bisa mengetahui hakikat eksistensi itu dengan cara mengamati dan melihat secara langsung, karena hakikat eksistensi itu merupakan dimensi lain dari maujud-maujud yang tercipta, dengan demikian, hakikat tersebut mesti diungkap dan dihadirkan dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan dan analisis. Di antara maujud-maujud, maujud manusia, oleh Heidegger disebut sebagai dasein, memiliki satu jalan pengenalan terhadap hakikat eksistensi, karena dasein itu adalah suatu maujud yang bisa melahirkan beri-ribu pertanyaan-pertanyaan tentang hakikat eksistensi dibanding maujud-maujud lain dan penelitian terhadap hakikat eksistensi itu merupakan salah satu dari kemampuan-kemampuan wujudnya yang luar biasa. Namun, menurutnya, ini tidak berarti bahwa dari dimensi wujud, dasein itu mendahului hakikat eksistensi. Oleh karena itu, dalam pengenalan dan pengungkapan hakikat itu tidak ada cara lain kecuali mengenal secara hakiki eksistensi manusia (dasein).[26]

Heidegger menegaskan bahwa bentuk pengenalan fenomenologikal dasein yang dimaksudkan untuk memahami hakikat wujud itu tidak lain adalah tujuan utama filsafat dan fenomenologikal ini disebut dengan hermeneutik, karena arti hermeneuin itu ialah “membuat sesuatu itu bisa dipahami” dan feneomenologikal dasein dirumuskan untuk memahami hakikat eksistensi. Maka dari itu, analisis terhadap esensi wujud dasein itu dan fenomenologikalnya merupakan aktivitas hermeneutik.[27]

Inti tujuan kontemplasi filsafat Heidegger adalah pengenalan hakikat keberadaan, yakni memiliki tujuan ontological. Berbeda dengan tokoh-tokoh hermeneutik sebelumnya, ia tidak berusaha mencari rumusan untuk suatu pemahaman dan metode baru yang akurat dalam memahami teks atau ilmu humaniora. Ia mengangkat hermeneutik itu dari tingkat epistemologi dan metodologi ke derajat filsafat serta memandang hermeneutik itu sejenis fenomenologikal dan filsafat.

Perlu dikatakan di sini bahwa tujuan utama filsafat Heidegger tidak bermaksud menganalisa substansi pemahaman manusia dan syarat-syarat eksistensial kehadiran pemahaman itu, karena tujuan pertamanya adalah menjawab pertanyaan tentang hakikat eksistensi dan analisis kerangka wujud dasein merupakan tujuan menengah. Sementara pengungkapan pertanyaan itu dan analisis hakikat pemahaman serta penjelasan terhadap karakteristik-karakteristik fenomenologikalnya ialah suatu perkara yang akan dituju oleh Heidegger dalam analisis kerangka wujud dasein, dan hal ini bukanlah merupakan tujuan utama hermeneutiknya.  

b. Hans-Georg Gadamer, murid utama Heidegger, dalam hermeneutik filosofisnya sangat berpegang teguh pada gagasan-gagasan yang dihembuskan gurunya tentang analisis dasein, terutama dalam bagian esensi pemahaman manusia. Ia memandang hermeneutik filosofisnya sebagai basis ontologi dan membedakannya dengan metodologi. Dari sisi ini, ia searah dengan Heidegger. Ia pun tidak ingin merumuskan secara umum suatu metodologi baru dalam pemahaman teks dan ilmu humaniora. Namun, perlu diperhatikan poin ini bahwa tujuan utama dalam hermeneutik Gadamer sama sekali tidak seirama dengan tujuan filsafat Heidegger. Heidegger melangkah untuk menciptakan ontologi baru dan pengetahuan atas hakikat eksistensi yang walaupun ia gagal dalam tujuan ini, dan sementara Gadamer tidak menelusuri jejak itu dan tidak pula berupaya mengetahui hakikat wujud. Ontologi, dalam pandangannya, adalah ontologi pemahaman dari dimensi bahwa pemahaman tersebut senantiasa merupakan suatu penafsiran dan interpretasi. Ia menganalisa hakikat suatu penafsiran dan interpretasi. Ia tidak merumuskan metode penafsiran, namun mengobservasi penafsiran itu sendiri dan syarat-syarat eksistensial atas kehadiran interpretasi.

  Analisis atas hakikat pemahaman dan interpretasi, bagi Heidegger, adalah tujuan menengah dimana tangga mencapai tujuan-tujuan lain yang utama, sementara bagi Gadamer analisis terhadap perkara itu dan basis-basis eksistensialnya merupakan tujuan utama serta tidak dalam upaya mengejar tujuan-tujuan yang lain.[28]

  Perbedaan lain yang ada pada kedua hermeneutik ini adalah bahwa Heidegger, yang berbeda dengan Dilthey, tidak memperhatikan problematika bagi basis-basis ilmu manusia, yakni masalah obyektivitas. Sementara dalam hermeneutik Gadamer, masalah ini ialah hal yang utama, yakni Gadamer menempatkan ontologi pemahaman itu sebagai jembatan menuju epistemologi dan kedua hal ini saling terkait. Begitu pula ia memandang bahwa analisis terhadap hakikat pemahaman dan syarat-syarat bagi perwujudannya niscaya akan memberikan hasil yang sangat bermanfaat dalam pengembangan humaniora, dan ia juga menunjukkan, yang berlawanan dengan Dilthey, bahwa metode itu tidak bisa mengungkap suatu hakikat, dan secara mendasar, hakikat itu mesti dipandang secara berbeda dengan apa-apa yang telah dikonsepsi mengenai hakikat dalam tradisi filsafat dan ilmu. Menurutnya, penekanan kepada metodologi dan penetapan tolok ukur bukan hanya tidak mampu mengantarkan kita kepada pencapaian hakikat, bahkan menyebabkan kita menjadi terasing dan teralienasi dengan subjek yang dibahas.

  Dalam magnum opusnya, Truth and Method, ia juga membagi pembahasan menjadi tiga bagian dan masing-masing unsur ini (seperti estetika, sejarah, bahasa, interpretasi teks) ia bahas berdasarkan pandangan-pandangan filosofisnya yang berkaitan dengan pengkajian pemahaman dan interpretasi serta juga menunjukkan bahwa objektivitas – yang sebagaimana dipandang oleh penganut aliran Objektivisme dalam humaniora (human sciences) - dalam unsur-unsur itu adalah mustahil.

 c. Paul Ricoeur adalah pemikir kontemporer asal Perancis yang pemikirannya banyak dipengaruhi oleh Heidegger. Namun, ia berbeda pandangan dengan Heidegger dalam penggabungan antara hermeneutik dan fenomenologi. Heidegger menggali hakikat eksistensi dengan analisis suatu fenomena khusus yang bernama dasein itu. Dengan demikian, hermeneutiknya adalah ontologi fundamental yang lebih tinggi dari epistemologi, metodologi, dan basis ontologi pemahaman. Sementara ontologi Ricoeur tidak secara langsung menganalisa eksistensi dasein, melainkan ia ingin menyelami persoalan eksistensi lewat pendekatan semantik dan penjelasan linguistik atas seluruh dimensi interpretasi ontologis. Menurut Ricoeur, segala bagian fenomenologi yang bertujuan untuk memahami hakikat eksistensi tidak dihubungkan dengan persoalan semantik. Oleh karena itu, seluruh ranah hermeneutik mesti dirujukkan kembali kepada perkara-perkara semantik.

  Mitologi dalam kesastraan dan keagamaan adalah salah satu bentuk fenomenologi yang menafsirkan simbol-simbol alam, dunia, dan zaman supaya dapat disingkap dan diketahui makna-maknanya yang tersembunyi.

  Dalam pandangan Ricoeur, kita tak bisa memahami secara langsung dan mandiri hakikat eksistensi itu yang sebagaimana dikonstruksi oleh Heidegger, dan pada sisi lain, segala ontologi itu bersifat penafsiran dan takwil atas simbol-simbol. Dengan demikian, untuk mengenal wujud tidak ada metode selain dari pengkajian semantik. Kita mesti mengkaji realitas keberadaan dengan fenomenologi dan pengungkapan secara mendalam berbagai simbol-simbol serta berupaya melangkah ke tingkatan berpikir yang lebih tinggi dari derajat pemikiran yang lahiriah.[29] 

Paul Ricoeur tidak seperti Heidegger yang menggali ontologi dan pemahaman hakikat eksistensi melalui suatu ontologi dasein, dan juga tidak sebagaimana Gadamer yang merumuskan ontologi pemahaman. Filsafatnya tidak dalam rangka menegaskan suatu ontologi hermeneutical. Kalaupun hermeneutik Ricoeur menguraikan persoalan ontologi interpretasi, hal itu tidak dimaksudkan mengkaji dan menganalisa secara langsung substansi pemahaman, akan tetapi, dalam hubungannya dengan korespondensi simbol-simbol dan linguistik. Dari hal ini, ia kemudian menggagas teori umum tentang ontologi pemahaman.[30]  

   

6. Urgensi Hermeneutik

  Hal ini telah sebagian disinggung dalam pembahasan ranah hermeneutik. Dengan memandang keuniversalan kajiannya dan keragaman aliran-aliran hermeneutik, bisa dikatakan bahwa hermeneutik memayungi begitu banyak aktivitas-aktivitas berpikir. Keluasan wilayah ini membuat hermeneutik banyak bersinggungan dengan dengan ilmu-ilmu lain dan membuka peluang pengaruh hermeneutik terhadap pemikiran-pemikiran yang ada.

  Hubungan luas hermeneutik dengan berbagai cabang ilmu dan pengaruhnya yang sangat melebar itu adalah karena penekanan hermeneutik pada kajian linguistik dan teks. Pada sisi lain, pembahasan tentang bahasa dan interpretasi teks juga menjadi perhatian berbagai cabang-cabang pengetahuan manusia sedemikian sehingga Paul Ricoeur menamakannya sebagai cross roads pemikiran-pemikiran kontemporer.

  Karena perhatiannya terhadap kategori bahasa dan penafsiran teks, hermeneutik kemudian berubah menjadi disiplin utama bagi pemikiran-pemikiran kontemporer. Ilmu-ilmu seperti kritik literatur, semiotik, filsafat bahasa, filsafat analisis, dan teologi memiliki kaitan yang sangat erat dengan kategori bahasa dan pemahaman teks, dan hermeneutik, khususnya hermeneutik filosofis, dengan wacana-wacananya yang radikal melahirkan perubahan dan pengaruh signifikan pada bidang-bidang ilmu itu.

  Hermeneutik filosofis Jerman, yang dicetuskan oleh Heidegger dan Gadamer, dalam pasal esensi pemahaman manusia memunculkan ide dan gagasan yang tidak hanya dikaji dan dikritis oleh para filosof, epistemolog, teolog, dan pengkaji literatur, bahkan melibatkan para ilmuwan empirik. Perspektif-perspektif hermeneutik ini membantu percepatan observasi para pengkaji sejarah dan pengamat seni serta juga mempengaruhi para teolog dan peneliti ilmu-ilmu agama, karena ia mendobrak sebagian asumsi yang terdapat dalam wilayah probabilitas pencapaian pemahaman yang objektif, mutlak, dan tidak relatif.

  Perluasan yang dilakukan oleh Paul Ricouer terhadap konsepsi teks dimana menggolongkan semua simbol dan mitos-mitos agama sebagai teks, menyebabkan secara praktis ranah hermeneutik meluas, karena menurutnya, segala bentuk kajian semantik dan interpretasi simbol-simbol niscaya akan berujung pada bentuk pembahasan hermeneutik. Yang pasti, apabila hermeneutik umum ingin terwujud, maka mesti mengupayakan perumusan tolok-tolok ukur yang bersifat umum yang menjadi landasan pijak bagi fenomenologi hermeneutik. Oleh sebab itu, hermeneutik umum bisa mencakup pembahasan tentang dasar-dasar dan pokok-pokok yang sama yang menjadi pondasi dan pilar utama bagi jenis-jenis fenomenologi.

  Keluasan ranah dan domain ini, seperti ontologi pemahaman Gadamer, menyebabkan hermeneutik itu bersinggungan dengan berbagai pembahasan dan ilmu-ilmu lainnya, dan keluasannya ini akan menambah nilai urgensi hermeneutik, karena disiplin ilmu-ilmu lain mesti membutuhkan informasi atas perolehan hermeneutik dan mesti menyampaikan gagasan-gagasannya terhadap apa yang dicapai dan diraih dalam pembahasan hermeneutik.

  Pada masa kini, hermeneutik mendapatkan posisi penting dalam ilmu-ilmu sosial dan humaniora serta merupakan basis utama dalam filsafat ilmu-ilmu sosial. Urgensi ini pertama-tama dirasakan ketika Dilthey telah mengungkapkan bahwa sifat dan karakteristik manusia akan terjewantahkan dalam bentuk prilaku, seni, teks, dan peristiwa-peristiwa sejarah yang kesemuanya ini memiliki makna dimana hanya bisa dipahami dengan media subjek dan mufassir. Pada sisi lain, perhatian para pemikir hermeneutik pada poin ini bahwa para penafsir berupaya mengharmonisasikan kategori-kategori (teks, seni, prilaku manusia, peristiwa-peristiwa sejarah) yang bermakna bagi manusia dengan kumpulan makna-makna lainnya, nilai-nilai, dan perspektif-perspektif, karena sangat mungkin terjadi bahwa makna suatu fenomena yang dikaji telah mengalami perubahan. Ia kemudian melontarkan pertanyaan penting tentang hermeneutik: apakah dengan keberadaan subjektivitas para penafsir, kemudian objektivitas akan fenomena-fenomena manusia bisa menjadi berarti dan bermakna?

  Berkaitan dengan pertanyaan di atas, hermeneutik filosofis dan perspektif-perspektif hermeneutik lainnya menawarkan dua soluai berbeda dalam hubungannya dengan ilmu-ilmu humaniora. Dilthey, yang mewakili perspektif lain itu, berusaha merumuskan ide umum dan metodologi akurat untuk memungkinkan pencapaian objektivitas humaniora, sementara hermeneutik filosofis, karena sangat menekankan kemestian kesamaan ufuk dan horizon antara mufassir dan subjek yang dikaji, menolak objektivitas fenomena-fenomena tersebut.

7. Hermeneutik Tanpa Nama  

  Sebagaimana yang dikatakan sebelumnya bahwa hermeneutik dikenal secara resmi sebagai disiplin ilmu mulai abad ketujuhbelas Masehi. Namun, sebelum abad ini dan setelahnya, senantiasa bermunculan gagasan dan konsep yang dilontarkan tidak dengan nama hermeneutik, sementara hal itu secara substansial terkait dengan kajian hermeneutik. Bentuk perspektif dan pemikiran seperti ini biasa disebut dengan “hermeneutik tanpa nama”.

  Yang dimaksud dengan suatu pemikiran dan konsep yang secara esensial merupakan hermeneutik ialah bahwa gagasan ini senada dan seirama dengan sebagian aliran-aliran hermeneutik. Sebagai contoh, jika seorang pemikir percaya pada keberadaan interpretasi dan pemahaman manusia, maka realitas ini sesuai dengan hermeneutik filosofis Heidegger dan Gadamer, dan dari sisi ini, ia telah mengemukakan suatu konsep hermeneutikal, walaupun ia tidak mengatasnamakan gagasan dan pemikirannya itu sebagai bagian dari konsep hermeneutikal.

  Di bawah ini akan diungkapkan beberapa gagasan para pemikir yang melontarkan beberapa konsep di sela-sela karyanya yang mereka tidak namakan hermeneutik:

 a. Santa Augustine (AD 430-454) ialah seorang filosof dan teolog yang banyak mempengaruhi hermeneutik modern. Heidegger dan Gadamer, terilhami dari pikiran-pikiranya. Heidegger sering menyebut Augustine dalam karya-karya dan orasinya. Makalah Augustine, On Christian Doctrine, yang menurut Jean Grondin, dari sisi historis, merupakan karya yang sangat berpengaruh dalam hermeneutik.[31] Ia menitikberatkan penelitian hermeneutik itu pada dimensi-dimensi yang kabur dari Kitab Suci dan beranggapan bahwa Kitab Suci itu bisa dipahami. Kebutuhan terhadap hermeneutik hanya pada wilayah-wilayah yang tak jelas dimana memerlukan penafsiran dan pemahaman. Idenya ini melandasi perumusan kaidah-kaidah hermeneutik.  

  Augustine tidak mencukupkan pemahaman Kitab Suci hanya pada kaidah-kaidah tafsir, sesungguhya harus “datang” dari sisi Tuhan suatu “cahaya” yang dengannya segala bentuk kekaburan dan ketakjelasan yang ada pada Kitab Suci menjadi sirna, dengan demikian, segala sesuatunya berpijak pada kondisi jiwa seorang mufassir. 

  Poin terakhir ini menjadi perhatian dan sumber ilham bagi kehadiran hermeneutik filosofis, yakni untuk sampai pada pemahaman itu, selain konsentrasi pada teks, juga sangat dipengaruhi oleh kondisi jiwa dan pikiran penafsir.

  Menurutnya, ketiadaan pemisahan yang jelas antara makna hakiki dengan majasi adalah penyebab utama kekaburan Kitab Suci, pemilahan ini bisa tercapai dengan pencerahan Ilahi dan penjelasan makna yang kabur dengan berpijak pada makna-makna yang sudah jelas dan gamblang. Para mufassir mesti sedemikian rupa berupaya mengenal Kitab Suci sehingga bisa memahami dengan benar aspek-aspek yang kabur dengan bantuan dimensi-dimensi yang nyata dan jelas. Konsepnya ini juga sebagai poin mendasar dalam wilayah penafsiran teks.[32]

  Disamping itu, ia juga menekankan bahwa ketika kita mendengar sebuah kalimat, kita tak lagi mencermati kata-kata itu sendiri yang ada pada kalimat, melainkan berupaya memahami “sesuatu” yang tidak dapat didengar oleh telinga dan lebih tinggi dari bahasa lahiriah. Ia menamai “sesuatu” itu sebagai “kata internal (verbum)” atau “reason” yang berada tersembunyi dibalik kalimat dan bahasa lahiriah. Reason (akal-pikiran) ini tidak bisa diungkapkan secara nyata sehingga mampu ditangkap dengan indera lahiriah. Bahasa kita bukanlah terjemahan akurat atas pemikiran-pemikiran internal kita, dan bahasa lahiriah tidak dapat memanifestasikan secara sempurna dan komprehensif makna-makna internal atau verbum itu, sebagaimana Isa Almasih yang merupakan manifestasi Tuhan di alam natural, walaupun tajalli itu sendiri bersifat sempurna dan kamil, akan tetapi, secara hakiki tidak bisa dipandang mewakili hakikat wujud Tuhan yang azali.

  Makna-makna internal kita bersumber dari makrifat jiwa yang bersifat batin, dengan alasan ini, bahasa kita - yang merupakan manifestasi batin – tidak menjadi jelas dan menjelma dalam bentuk yang beragam.[33] Gagasan Augustine ini sangat menarik perhatian Gadamer dan sekaligus mengilhami perluasan teori-teori tafsirnya.[34]

 b. Friedrich Nietzsche (1844-1900 M), filosof Jerman, yang dalam karya-karyanya juga ditemukan sisi pemikiran hermeneutik. Salah satu pemikirannya yang terpenting adalah beranggapan bahwa semua pengetahuan manusia bersifat interpretatif. Nietzsche memandang bahwa segala hakikat dan realitas murni tidak bisa dipahami, namun apa-apa yang kita sebut sebagai “pemahaman” itu tidak lain ialah mitos dan fiksi yang bersumber dari penafsiran-penafsiran dan takwil-takwil kita. Penafsiran dan takwil ini berasal dari perspektif-perspektif, dan segala perspektif sangat dipengaruhi oleh kecenderungan alami manusia. Begitu pula kategori-kategori akal yang terbentuk dari kekuatan imajinasi juga tidak lepas dari kenyataan tersebut, yakni juga bersifat mitologikal dan semata-mata merupakan perspektif logikal yang kemudian menjelma sebagai hakikat-hakikat yang niscaya dan pasti.[35]

  Gagasan tentang keinterpretasian pengetahuan dan pemahaman merupakan hal yang sangat ditekankan oleh hermeneutik filsafat, dan Heidegger, dalam salah satu karyanya, menunjukkan bahwa pemahaman kita terhadap segala sesuatu, bahkan terhadap diri sendiri, senantiasa bersifat hermeneutikal. Pengertian dia atas “pemahaman hermeneutikal” adalah berpijak pada latar belakang penginderaan dan kerangka berpikir, dimana realitas ini banyak semakna dengan gagasan Nietzsche tentang efek perspektif terhadap pengetahuan dan pemahaman.

  Pemikiran lain Nietzsche yang bersifat hermeneutikal adalah seputar masalah “hakikat”. Konklusi dari pemikiran yang menyatakan bahwa “segala pemahaman itu bersifat interpretatif” adalah kemustahilan kita menjangkau hakikat (yang bermakna pengetahuan objektif) itu, melainkan pemahaman kita itu tidak lain adalah fiksi dan mitos yang bersumber dari perspektif dimana sebagian dari fiksi itu lebih bermanfaat dari yang lain. Manfaat fiksi ini, kalau bersifat tetap dan konstan, maka kita menyebutnya dengan “hakikat” yang mesti diterima dengan tanpa alasan dan sebab.

  Begitu banyak manusia menginginkan suatu ilmu dan pengetahuan yang bersumber dari proposisi-proposisi yang tetap dan konstan. Dengan dasar ini, mereka tidak lagi memperhatikan bahwa sesungguhnya realitas-realitas itu senantiasa berubah. Rahasia kecenderungan kepada ilmu ini merupakan fitrah manusia. Iradah manusia yang seiring dengan kodratnya dan kecenderungannya kepada sesuatu yang bersifat konstan dan tetap kemudian memaksanya untuk mencipta suatu ilmu alat demi menjelmakan kodratnya itu dan tidak memandang realitas eksternal dan hakikat manusia sebagaimana adanya serta menetapkan segala konsep dan perspektifnya sebagai suatu “hakikat” yang tetap dan diterima tanpa alasan.[36]

  Dalam hermeneutik filosofis kontemporer, “hakikat” atau kebenaran (truth) juga dimakna sama sebagaimana umumnya, karena di sini ditekankan bahwa para mufassir tidak mungkin bersifat netral dalam pemahamannya. Baik dalam penafsirannya tentang teks, kesusastraan, dan analisis fenomena sejarah pengaruh latar belakang pikiran dan makna-makna horizontal serta asumsi-asumsi para mufassir tidak bisa dipungkiri. Adalah suatu asa yang sis-sia kalau mengharap adanya objektivitas fenomena atau teks tanpa keterlibatan subjektivitas pikiran mufassir.

 c. Dalam karya-karya seperti Ludwig Josef Johann Wittgenstein (1889-1951 M) dan Edmund Husserl (1859-1938 M) juga terdapat pembahasan yang berrhubungan dengan hermeneutikal. Heidegger mencerap fenomenologi sebagai suatu metode itu dari gurunya, Edmund Husserl.

  Heidegger beranggapan bahwa penyingkapan makna dan hakikat eksistensi itu hanya melalui fenomenologi dasein dan analisis wujud manusia. Metode analisis ini, bukan bersifat argumentatif dan demonstratif silogisme, karena demonstratif silogisme itu berupaya menarik konklusi dari perkara yang lain, sementara tidak ada sesuatu yang lain selain wujud dan eksistensi itu sendiri. Dengan demikian, jalan pengenalan satu-satunya adalah analisis wujud manusia dan fenomenologi eksistensial. Hakikat wujud itu tidak bisa ternampakkan, oleh karena itu, dengan kita memahami konsep wujud dan melihat penampakan maujud tak seketika mengetahui hakikatnya.

  Namun, penerimaan yang sama atas fenomenologi yang nampak pada kedua pemikir tersebut, Husserl dan Heidegger, tidak berujung pada kesamaan pandangan. Dengan metode itu, Husserl berupaya supaya filsafat itu berdiri tegak di atas keyakinan-keyakinan – seperti Descartes – dan filsafat itu diupayakan setara dengan ilmu. Sementara Heidegger mengejar tujuan lain, yakni mencari jawaban atas makna dan hakikat eksistensi. Dengan dasar ini, Heidegger tetap pada tingkatan kajian prinsipalitas eksistensi manusia dan tidak bisa disetarakan dengan derajat pembahasan metafisika.

  Dengan penguraian ini, jelaslah bahwa pengkajian hermeneutik tidaklah terbatas pada karya-karya resmi tentang hermeneutik dan begitu banyak pembahasan yang menunjukkan kesesuaiannya dengan hermeneutikal. Dengan berpijak pada realitas ini, tertegaslah keberadaan “hermeneutik tanpa nama” tersebut.

8. Refleksi Hermeneutik dalam Pemikiran Religius

  Pemikiran keagamaan kontemporer ialah kenyataan atas bentuk pengkajian baru yang mempunyai akar dalam hermeneutik. Probabilitas pelontaran interpretasi yang beragam dan tak berhingga terhadap teks-teks agama, penafsiran yang bersifat historikal, perubahan interpretasi yang terus menerus, adanya keabsahan intervensi pikiran para mufassir dalam penafsiran teks-teks, dan pengaruh ilmu-ilmu lain terhadap pemahaman keagamaan adalah dimensi-dimensi baru yang hadir dalam wilayah dan ranah pembahasan keagamaan yang mempunyai akar mendalam pada teori-teori pemikiran hermeneutikal.

  Hermeneutik kontemporer dari dua sisi memberikan pengaruh terhadap pemikiran-pemikiran keagamaan:

 a. Sebagian dari pembahasan hermeneutikal sangat berhubungan erat dengan pemikiran filosofis tentang pemahaman dan pengetahuan secara umum. Pemikiran tentang substansi pemahaman dan syarat-syarat eksistensial kehadirannya serta karakteristik-karakteristiknya yang prinsipil, akan berkonsekuensi pada kehadiran suatu hukum dan kaidah umum tentang pemahaman dimana juga meliputi makrifat keagamaan, pemahaman, dan penafsiran teks-teks suci keagamaan, dengan demikian, akan mewujudkan suatu pertalian yang sangat erat dan mendalam antara kajian-kajian hermeneutikal dan segala pengetahuan keagamaan.  

b. Islam, Kristen, dan Yahudi adalah agama-agama yang berpijak pada wahyu dan kalam Ilahi. Realitas ini akan menyebabkan agama-agama tersebut akan menerima pengaruh dalam aspek-aspek beragam dari teks-teks keagamaan, interpretasi, dan pemahaman-pemahamannya. Pertalian mendalam ini antara tradisi keagamaan dan kategori interpretasi teks-teks religius menyebabkan perumusan teori-teori baru dalam bidang penafsiran dan pemahaman teks-teks, merekontruksi metode-metode penafsiran teks yang umum digunakan, serta pencarian solusi baru atas persoalan-persoalan kontemporer, yang kesemuanya ini akan berefek secara radikal pada segala pemikiran keagamaan.  

Hermeneutik senantiasa bersinggungan dengan masalah-masalah interpretasi teks, yang walaupun terjadi banyak perubahan dalam ranah dan tujuannya, akan tetapi tetap memberikan penekanan khusus pada kategori pemahaman teks. Dari sisi ini, pelontaran konsep-konsep baru dalam wilayah hermeneutik tekstual akan berefek pada kedalaman pemikiran dan penafsiran keagamaan.

Hermeneutik pra Heidegger, pra abad keduapuluh, dengan berbagai horizon-horizon baru dalam interpretasi teks, tidak melahirkan benturan dalam domain perspektif keagamaan, karena seluruh aliran hermeneutik pada saat itu, sejalan dan mendukung tradisi metodologi dalam pemahaman dan penafsiran teks, dan masing-masingnya berupaya menegaskan dan merumuskan tolok ukur pada berbagai dimensi dalam metodologi umum yang diterima itu. Namun, hermeneutik filosofis dan segala kajian yang berada dalam wilayah pengaruhnya lantas bangkit untuk melakukan kritik dan rekonstruksi terhadap kesusastraan dan semiotik serta melakukan perubahan radikal terhadap metode umum pemahaman dan panafsiran teks. Walhasil, objektivitas pengetahuan keagamaan menjadi diragukan.

Sebelum kita menyinggung perubahan penting yang dihembuskan oleh hermeneutik kontemporer dalam ranah pemahaman teks adalah urgen mengupas secara umum pencapaian universal dari pemahaman terhadap teks.

Tradisi interpretasi teks keagamaan yang lazim dan umum berkembang di kalangan para pemikir kontemporer berpijak pada gagasan-gagasan di bawah ini:

a. Upaya mufassir dalam menggali makna-makna teks. Makna-makna setiap teks adalah sesuatu yang diinginkan oleh subjek pembicara dan penulis teks dimana untuk mengungkapkannya mereka menggunakan kata-kata dan kalimat-kalimat. Oleh sebab itu, setiap teks mempunyai makna-makna tertentu dan terbatas yang diinginkan dan dituju oleh pemilik teks dan pembicara secara serius. Tujuan serius dan makna-makna khusus itu ialah hal yang objektif dan riil yang senantiasa diupayakan oleh para mufassir untuk diungkapkan dan dijelaskan. Maksud dari objektivitas dan realitas tersebut adalah bahwa terkadang mufassir salah menafsirkannya dan tak berhasil mengungkap realitas hakikinya. Bagaimanapun, makna-makna tersebut merupakan perkara yang konstan dan tak berubah serta pikiran mufassir sama sekali tidak berperan dalam perubahan makna tersebut. Berdasarkan perspektif ini, teks-teks keagamaan berisi pesan-pesan Ilahi yang ditujukan untuk umat manusia dan tujuan para mufassir teks-teks ini adalah menggali, menganalisa, dan mengungkap pesan-pesan serius dari pemilik teks-teks itu.  

b. Untuk sampai pada tujuan dan maksud tersebut, dapat menggunakan metode yang diterima secara umum oleh orang-orang yang berakal dalam aspek pemahaman atas teks. Dalam metode itu, kata-kata lahiriah teks merupakan jembatan penghubung untuk menemukan tujuan inti dan makna yang dimaksud, karena pembicara dan pemilik teks menggunakan kata-kata untuk menyampaikan maksud yang sesungguhnya. Implikasi kata-kata terhadap makna-makna mengikuti kaidah-kaidah bahasa dan aturan-aturan logis dalam setiap dialog, pembicaraan, dan proses belajar mengajar. Kaidah dan aturan tersebut bersifat umum dan logis yang digunakan secara disiplin oleh para pembicara dan lawan bicara, dan tidak mengikuti aturan ini membuat kesalahan dalam pemahaman dan interpretasi teks. Berdasarkan pandangan yang absah dalam tradisi keilmuan, aturan dan hukum tersebut bisa disusun dan dirumuskan, sebagaimana perumusan dan penyusunan secara sistimatik kaidah-kaidah berpikir dan berargumentasi yang dapat disaksikan pada disiplin ilmu logika (mantik).

c. Kondisi ideal untuk mufassir adalah pencapaian suatu pemahaman yang benar-benar diyakini sebagai tujuan inti dari pembicara dan pemilik teks. Namun, keyakinan dan kepercayaan ini tidak senantiasa hadir dalam semua teks. Kejelasan implikasi teks terhadap makna yang dituju (sebagaimana kehendak utama sang pemilik teks), dalam tradisi keagamaan, disebut dengan “nash“. Dalam nash keagamaan, para mufassir meraih pemahaman objektif yang sesuai dengan realitas hakikinya. Dalam selain nash, yang secara istilah disebut dengan “makna lahiriah”, para mufassir tidak dapat menyatakan secara jelas, yakin, dan tegas terhadap objektivitas pemahaman dan interpretasinya, akan tetapi, perolehan makna-makna tersebut tidak dikatakan telah keluar dari domain validitas penafsiran. Ketiadaan kejelasan ini dan kesulitan pencapaian maksud utama pembicara dan pemilik teks, tidaklah lantas menggambarkan ketiadaan tolok ukur untuk memilah dan memilih mana interpretasi yang benar dan yang tidak benar. Dalam kategori-kategori penafsiran teks, khususnya interpretasi terhadap teks-teks keagamaan, sangat diupayakan menemukan pemahaman valid yang dapat dipertanggung jawabkan dalam koridor metodologi dan kaidah-kaidah umum dan logis yang secara disiplin diaplikasikan oleh kaum intelektual dan cendekiawan dalam menafsirkan setiap teks.  

d. Perbedaan dan kesenjangan zaman yang terdapat antara penafsir dan kehadiran teks adalah bukanlah penghalang bagi tercapainya makna-makna yang dimaksud dan objektivitas dalam teks-teks religius, karena perubahan-perubahan bahasa dalam rentang perjalanan waktu tidaklah membuat pemahaman atas teks menjadi sangat sulit dan tidak akan terjadi kontradiksi antara makna lahiriah dan makna-makna yang diinginkan oleh pembicara dan penulis.

e. Segala upaya interpretator mesti diarahkan untuk menggali pesan-pesan utama teks dan maksud asli penulis lewat implikasi-implikasi teks. Atas dasar ini, menolak segala bentuk pikiran-pikiran penafsir dalam penentuan pesan dan maksud teks. Tafsir birra’yi secara tegas ditolak karena akan berujung pada kehadiran warna pemikiran mufassir dan bertolak belakang dengan metode umum dalam penafsiran teks. Berdasarkan cara ini, mufassir akan dipengaruhi oleh pesan-pesan teks dan terposisikan sebagai penerima pesan-pesan teks, ia tidak berhak merumuskan sendiri bentuk pesan-pesan teks itu. Dan jika ia menginginkan aktif dalam penentuan pesan-pesan uatama teks secara sepihak, maka ia telah keluar dari metode interpretasi yang sah.

f. Tradisi penafsiran yang benar atas teks sangat bertentangan dengan aliran relativisme pemahaman dimana beranggapan tentang ketiadaan tolok ukur yang pasti dan jelas dalam penentuan pemahaman yang benar dan keliru, tidak mungkin memisahkan dan menentukan pemahaman hakiki dan objektif dari pemahaman yang salah, menerima berbagai bentuk keragaman pemahaman teks, dan menolak adanya ketunggalan pemahaman dan objektivitas.  

Kehadiran aliran hermeneutik filosofis pada abad keduapuluh yang melontarkan berbagai kritikan-kritikan terhadap kaidah-kaidah, hukum-hukum, dan tradisi-tradisi umum interpretasi teks yang diterima sebagai landasan bagi perumusan pemikiran keagamaan, pada akhirnya mengerucut kepada keraguan atas realitas penafsiran teks keagamaan dan berbagai pikiran-pikiran religius.

Di bawah ini akan diungkapkan secara ringkas ide dan gagasan utama hermeneutik filosofis yang kemudian melahirkan kondisi-kondisi pertentangan dengan metode umum interpretasi yang diterima oleh penafsir muslim:

 a. Pemahaman-pemahaman atas teks merupakan hasil dari penggabungan antara horizon dan perspektif mufassir dan makna-makna teks. Oleh karena itu, pengaruh pemikiran-pemikiran para penafsir dalam pemahaman bukanlah hal yang negatif, melainkan juga syarat eksistensial kehadiran pemahaman dan merupakan hal yang tak bisa ditolak dan dipungkiri.

b. Memperoleh pemahaman objektif teks yang berarti kemungkinan mencapai suatu pemahaman yang sesuai dengan kenyataan hakiki adalah hal yang mustahil, karena unsur-unsur itu (seperti pikiran dan asumsi mufassir) merupakan syarat perwujudan pemahaman, dan dalam setiap perolehan tidak lepas dari pengaruh pengetahuan-pengetaguan penafsir.

c. Pemahaman teks secara praktis tidak berakhir dan kemungkinan adanya penafsiran dan interpretasi lain yang beragam dengan ranah tak terbatas, karena penafsiran teks itu adalah gabungan antara horizon mufassir dan makna-makna teks, dan dengan adanya perubahan sosok penafsir dan perspektif-perspektifnya, akan melahirkan interpretasi yang tak terbatas dari probabilitas penggabungan tersebut. jadi kemungkinan munculnya komposisi-komposisi tak berhingga. Walhasil, kemungkinan perwujudan pemahaman dan penafsiran terhadap teks yang beragam pun menjadi realitas yang tak terbatas.

d. Tak ada suatu pemahaman dan interpretasi pun yang konstan dan tak berubah dimana merupakan suatu pemahaman puncak yang bersifat tetap.

e. Tujuan dari penafsiran teks adalah bukan berupaya memahami maksud dan keinginan pemilik teks. Kita berhadapan dengan teks dan bukan pencipta teks itu. Bahkan, penulis teks juga diposisikan sebagai penafsir teks yang tidak berbeda dengan mufassir-mufassir lainnya. Teks adalah realitas mandiri yang “berdialog” dengan interpretator dan pemahaman itu lahir dari hasil “percakapan” dan “dialog” tersebut. Seorang penafsir sama sekali tak berurusan dengan pesan-pesan inti dan maksud-maksud utama yang dikehendaki oleh para penulis dan pemiliki teks.

f. Tak ada satu pun tolok ukur yang bisa digunakan untuk membandingkan antara interpretasi yang benar dan yang keliru, karena secara mendasar tak ada satu penafsiran yang dianggap paling absah.

g. Hermeneutik filosofis memiliki kesamaan dengan ide relativitas interpretasi dan membuka secara luas penafsiran-penafsiran teks yang radikal.  

Sangat perlu dikatakan bahwa hermeneutik filosofis mempengaruhi pemikiran-pemikiran keagamaan secara tidak langsung dan juga ia tak mengajukan metode baru dalam pemahaman teks. Ketidaklangsungan pengaruh-pengaruhnya itu telah disinggung di awal pembahasan ini dan telah kami tunjukkan bahwa hermeneutik filosofis tidak memiliki kecenderungan religius dengan segala konsep dan gagasan khususnya itu. Pengaruh-pengaruh yang ditimbulkan dalam ranah pemikiran keagamaan itu melewati kritikan-kritikan yang diajukannya kepada cara dan metode umum interpretasi teks yang diterima itu.

Poin penting yang ditekankan di sini adalah bahwa kritikan hermeneutik filosofis terhadap metodologi umum itu tidak dalam rangka mengajukan rumusan metode baru sebagai pengganti metode umum tersebut. Hermeneutik filosofis tidak memandang posisinya itu sebagai ungkapan metodologi baru untuk pemahaman dan interpretasi teks, termasuk teks-teks keagamaan, melainkan ia mengajukan analisis substansi pemahaman teks, syarat perwujudan pemahaman, dan tujuan-tujuan penafsiran serta sangat kontra dengan tradisi analisis interpretasi teks. Gagasan ini, merupakan serangan dan kritikan serius terhadap metodologi umum penafsiran teks. Dan kelanggengan metode umum dan keabadian pemikiran formal religius tersebut sangat bergantung kepada solusi komprehensif dan universal terhadap berbagai kritikan-kritikan itu.

9. Hermeneutik dan Epistemologi

  Hubungan dekat di antara kedua ilmu ini karena keduanya sama-sama mengkaji subjek pemahaman dan makrifat manusia. Walaupun demikian, kita tidak dapat menyamakan kedua ilmu tersebut dan menyatakan bahwa hermeneutik itu tidak lain adalah epistemologi itu sendiri atau sebaliknya. Hermeneutik, sebagaimana yang telah dijelaskan, menguraikan metode pencapaian pemahaman, syarat-syarat dan kaidah perwujudanya. Sementara pada epistemologi membahas persoalan-persoalan seperti, apakah makrifat manusia bersifat fitri, inderawi, empirik, atau gabungan dari semua itu? Apakah konsepsi pikiran manusia berakar pada fitrah atau indera? Apakah makrifat manusia bersifat terbatas dan bagaimana terwujudnya konsepsi-konsepsi yang tak terbatas itu dalam pikiran? Tolok ukur kebenaran dan kesalahan? Hubungan antara pikiran (subjek) dan alam eksternal (objek)? Media-media dan sumber-sumber pengetahuan manusia? Tak satupun dari masalah-masalah tersebut ini dibahas dalam ranah-ranah hermeneutik. Terkadang dalam epistemologi dikaji tentang syarat-syarat dan penghalang-penghalang ilmu dan makrifat. Kajian-kajian seperti ini bisa dikategorikan sebagai pembahasan-pembahasan hermeneutikal.

10. Hermeneutik dan Ilmu Logika  

  Keduanya memiliki kesamaan karena masing-masing membahas metode pemikiran dan pemahaman. Namun, peran ilmu logika adalah merumuskan kerangka-kerangka yang dijadikan landasan dan metode bagi seluruh pengetahuan dan pemikiran manusia, termasuk juga metode-metode umum dalam hermeneutik, karena dalam tingkat argumentasi dan demonstrasi tidak mungkin lepas dari penggunaan salah satu dari metode logikal, apakah para penafsir hermeneutik berpijak mutlak pada penulis teks, teks sentris, atau mufassir sentris.

  Dengan ungkapan lain, dalam ilmu hermeneutik akan dikatakan bahwa apa syarat-syarat dan kaidah-kaidah pemahaman dan interpretasi atas suatu teks, karya-karya kesusastraan, atau bahkan fenomena-fenomena natural. Sebagai contoh, apakah pandangan dunia penulis dan pemilik teks, atau syarat-syarat alami dan sosial sebagai faktor-faktor yang berpengaruh dalam kemunculan karya-karya manusia dan fenomena-fenomena natural, atau kondisi-kondisi ruhani, pikiran dan budaya mufassir, yang memiliki peran positif atau negatif dalam penafsiran dan pemahaman manusia? Akan tetapi, bagaimana konsepsi-konsepsi dan pengetahuan-pengetahuan manusia tersebut disusun secara sistimatik dan bagaimana memperoleh suatu konklusi yang diinginkan dari premis-premis yang ada, hanya dipaparkan dan diulas oleh ilmu logika dan tidak dijelaskan dan diuraikan oleh ilmu hermeneutik.

11. Hermeneutik dan Linguistik

  Linguistik adalah salah satu disiplin ilmu manusia yang tertua. Hal ini karena bahasa itu merupakan rukun-rukun penting dan urgen dalam kehadiran konsepsi dan transaksi pemikiran serta komunikasi sosial. Berdasarkan realitas ini, bahasa senantiasa menjadi subjek dan ranah pembahasan teoritis para pemikir. Pilologi, aturan-aturan bahasa, makna-makna, dan estetika bahasa merupakan kajian-kajian klasik bahasa. Dalam era modern, terdapat kecenderungan-kecenderungan baru di wilayah penelitian bahasa yang berpuncak pada kehadiran filsafat analisis bahasa yang memandang segala pengkajian filosofis itu mesti berangkat dari observasi linguistik dan fungsinya.

  Pada sisi lain, hermeneutik juga berurusan dengan teks-teks, sementara bahasa merupakan pembentuk teks. Dengan demikian, hermeneutik juga memandang penting masalah-masalah linguistik. Gagasan ini, juga terlontar dalam hermeneutik klasik dan hermeneutik modern, yang terkhusus sangat ditekankan pada hermeneutik Gadamer. Menurut Gadamer, bahasa itu bukan hanya sebagai media penyaluran pemahaman, melainkan pembentuk suatu pemahaman. Dengan ibarat lain, hakikat dan substansi pemahaman itu adalah bahasa. Berdasarkan gagasan ini, ilmu hermeneutik mempunyai hubungan erat dengan linguistik beserta cabang-cabang dan metode-metodenya yang beragam. Namun masing-masing ilmu tersebut merupakan disiplin-disiplin ilmu tertentu yang mempunyai subjek, ranah, metode, dan tujuan-tujuan khusus. Pada hakikatnya, bisa dikatakan bahwa ilmu hermeneutik itu mengambil manfaat dari pembahasan linguistik. Begitu pula linguistik, khususnya pengkajian yang merumuskan fungsi, kaidah, dan kerangka bahasa, sangatlah terkait dengan ilmu hermeneutik, khususnya penerapan hukum dan kaidah bahasa. Kenyataan ini sebagaimana hubungan hermeneutik dengan ilmu logika, yakni hermeneutik tidak mungkin melepaskan dan memisahkan dirinya dari penggunaan metode-metode umum logika dan berpikir.[wisdoms4all.com]

   


 


[1] . The Hermeneutics Reader Ed by Kort Muller volmer, Basil Black well, PP 1, 2.

[2] . Nama kitab Dann Hauer adalah sebagai berikut: “Hermeneutica sacra sive methodus exponendarum sacrum litterarum“, yang bermakna “Hermeneutik Suci atau Metode Penafsiran Teks-teks Suci Injil”.

[3] . Jean Grondin, Introduction to Philosophical hermeneutics, yale university press, 1994, p, 48.

[4] . Palmer, Ricard E, Hermeneutics, North western university press, 1969, PP 12, 13; Routlege Encyclopedia of Philosophy, Edward craig, volume 4, 1998, P 385.

[5] . The Encyclopedia df Religion, mircea Eliade, volume 5, P 179.

[6] . Jean Grondin, Introduction to Philosophical Hermeneutics, P 22.

[7] . Palmer, Tichard, Hermeneutics, P xii.

Argumen Robinson adalah sebagai berikut bahwa keumuman dari kata ini dalam bahasa yang lain kosong dari huruf “s” , di Jerman, ilmu ini disebut dengan “Hermeneutik”, di Perancis “Hermeneutique”, dan di Latin disebut dengan “Hermeneutica” dimana keseluruhannya diucapkan tanpa adanya huruf “s”.

[8] . Dalam hermeneutik filosofis, biasanya pemisahan Immanuel Kant antara fenomena dan hakikat sesuatu disebutkan sebagai realitas hermeneutical. Karena pemisahan dan pembedaan ini memiliki peran penting dalam perubahan filsafat Barat dari Metafisika menjadi Hermeneutik. Grondin, Jean, Sources of Hermeneutics, Stute University of New York press, 1995, P 3.

[9] . Hans-Georg Gadamer dalam analisisnya terhadap esensi pemahaman dan interpretasi teks menganggapnya sebagai konklusi dari penggabungan dan fusi horizontal antara makna penafsir dan makna teks (fusion of horizons). Jadi, penafsir mengamati dan memahami teks dengan pengetahuan-pengetahuan dan asumsi-asumsi yang dimiliki sebelumnya, yaitu ia menafsirkan dengan dimensi hermeneutik khusus yang dimilikinya. Berdasarkan analisis ini, interpretasi teks merupakan hasil diskursus hermeneutik (hermeneutical discourse) antara penafsir dan teks.

[10] . Auslegekunst.

[11] . The Hermeneutics Reader, P 5.

[12] . Routledge Encyclopedia of Philosophy, vol 4, P 385.

[13] . Sources of Hermeneutics, P 6.

[14] . Introduction to Philosophical Hermeneutics, PP 86, 88, 89.

[15] . The Hermeneutics Reader, P 27.

[16] . Makalah ini telah dicetak di berbagai tempat, antara lain pada awal terjemahan Murad Farhadpuur dari kitab Halqeye Intiqadi, yang disusun oleh David Guznazhawey.

[17] . Contemporary Philosophy, Edited by G. Floisad, Volume 2, Martinus Nijohoff oublisher, 1982, P 457.

[18] . Bruns, Gerald L, Hermeneutics Ancient and Modern, P 1.

[19] . Richard E. Palmer, Contemporary Philosophy, P 461.

[20] . Menurut Hans-Georg Gadamer, hakikat-hakikat yang ada dalam fenomena-fenomena sejarah seperti teks, peninggalan seni, tradisi, dan sejarah itu tidak bisa dicapai lewat bantuan suatu metode.

[21] . Richard E. Palmer, Contemporary Philosophy, PP 461, 464.

[22] . Contemporary Philosophy, PP 461, 464.

[23] . Jean Grondin, Introduction to Philosophical Hermeneutics, P 50.

[24] . Hans-Georg Gadamer, Philosophical Hermeneutics, P 50.

[25] . Jean Grondin, Introduction to Philosophical Hermeneutics, P 14.

[26] . Martin Heidegger, Being and Time, PP 21, 28.

[27] . Ibid, PP 61, 62.

[28] . Brice R. Wachterhausey. Hermeneutics and Modern Philoshophy.

[29] . Paul Ricoeur, Hermeneutics, P 14.

[30] . Jeanrond G. Werner, Text and Interpretation as categories of theological thinking trans by Thomas J. Wilson, P 40.

[31] . Jean Grondin, Introduction to Philosophical Hermeneutics, PP 32, 33.

[32] . Ibid, PP 34, 35.

[33] . Ibid, PP 36, 37.

[34] . Hans-Georg Gadamer, Truth and Method, PP 421, 435.

[35] . Frederick Copleston, Tarikh-e Falsafe, jilid tujuh, hal. 400.

[36] . Ibid, hal, 398 dan 399.

http://isyraq.wordpress.com/
 _+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_


Kenapa harus hermeunetik

Postby farikhy on Thu Feb 07, 2008 8:53 pm
kenapa harus ada hermeunetik al-Qur'an, apa ulumul qur'an belum cukup?
ada yang bisa diminta komentarnya?

farikhy
  New Member
   
  Posts: 11
  Joined: Thu Jan 17, 2008 12:34 pm

Top
Re: Kenapa harus hermeunetik

Postby ADIB on Fri Feb 08, 2008 10:32 pm
:idea: Sedulur, emang siapa yang mengharuskan? Sampai nanya "kenapa harus ada hermeunetik al-Qur'an". Lalu, memangnya ada kesangsian? Sampai nanya "apa ulumul qur'an belum cukup?"
Emang hermeneutika yang gimana yang dimaksud? Hermeneutika Teori? Hermeneutika Fenomenologi? atau Hermeneutika Kritis? Mengenai cukup tidaknya ulumul qur'an tergantung pemahaman mengenai ilmu tersebut. Ulumul qur'an dipahami sebagai Ilmu yang sudah mapan dan baku atau ilmu yang setengah matang atau bahkan dianggap ilmu yang masih mentah. Wallahu a'lamu :geek:

ADIB
  New Member
   
  Posts: 13
  Joined: Fri Feb 08, 2008 8:06 pm

Top
Re: Kenapa harus hermeunetik

Postby sasuke on Sat Feb 09, 2008 12:37 pm
Seperti biasa, ada saja orang yang tertipu dengan istilah. Baru denger bahwa hermeunaetik itu kayak gini terus mengatakan bahwa ini haram lah, itu gimana lah. Sepertinya harus dijelaskan dulu mengenai hermeunatik ini, mengenai bagaimana asal usulnya, bagaimana terjadi perluasannya ke berbagai bidang. Sampai bagaimana akhirnya ada yang berupaya memotret al Qur'an dengan tafsir ala hermeunetik ini...
Omae wa yowai, naze yowai ka? tarinai kara da, kangae ga!

User avatar
sasuke
  Junior member
   
  Posts: 131
  Joined: Wed Jan 16, 2008 6:03 pm

  * YIM

Top
Re: Kenapa harus hermeunetik

Postby ichank_ym on Tue Feb 12, 2008 3:30 pm
Ini pertanyaannya yang harus diluruskan. bukan kenapa harus?
siapa yang bilang harus?
ah nggak ada................ itu bohong
yang mungkin bener adalah, perlukah hermeneutik bagi penafsiran al-Qur'an? dengan pertanyaan begini saja sudah repot kok, pasti rame banget jawabnya?

jadi bukan harus............ lain kali kalo bikin judul yang jeli mas.

User avatar
ichank_ym
  Advance Members
   
  Posts: 488
  Joined: Tue Dec 18, 2007 4:06 am

Top
Re: Kenapa harus hermeunetik

Postby Akief on Sun Dec 07, 2008 1:40 am
Yang ini juga harus dibahas berkaitan dengan pentafsiran al Qur'an, Komentar dong !

Akief
  Master Members
   
  Posts: 1002
  Joined: Sat Oct 18, 2008 8:25 am

Top
Re: Kenapa harus hermeunetik

Postby vanjava on Sun Dec 07, 2008 5:36 am

  sasuke wrote:Seperti biasa, ada saja orang yang tertipu dengan istilah. Baru denger bahwa hermeunaetik itu kayak gini terus mengatakan bahwa ini haram lah, itu gimana lah. Sepertinya harus dijelaskan dulu mengenai hermeunatik ini, mengenai bagaimana asal usulnya, bagaimana terjadi perluasannya ke berbagai bidang. Sampai bagaimana akhirnya ada yang berupaya memotret al Qur'an dengan tafsir ala hermeunetik ini...


wah saya kok gak ngerti itu istilah apa ya... mohon dijelaskan ??? :? :? :? :?

vanjava
  Master Members
   
  Posts: 1139
  Joined: Tue Oct 14, 2008 3:38 am

Top
Re: Kenapa harus hermeunetik

Postby choiralia on Thu Dec 18, 2008 7:49 pm
Sekedar penjelasan sederhana :
Awalnya, Hermeneutik adalah ilmu yang digunakan untuk mengkaji teks-teks bibel. kemudian berkembang menjadi sebuha kajian filsafat hingga pada gilirannga, ketika banyak para cendikiawan muslim mempelajari hermeneutik, maka mereka mencoba mengunakan Hermeneutik sebagai "pisau bedah" penafsiran terhadap al-Qur'an.

Karenannya, kemudian muncul banyak sekali prokontra terhadap fenomena terakhir tersebut.
ada yang setuju dan ada yang tidak.

Padahal, pada awalnya penggunaan hermeneutik untuk menafsirkan al-Qur'an, -saya rasa-, hanyalah sebuah pengandaian.

terima kasih.
http://forum.nu.or.id/viewtopic.php?f=4&t=50&start=0&sid=d8ca4b982b349716740568a76c418fea
_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_


Friday, January 07, 2005
Saat Santri Bicara Hermeunetik

Dulu santri hanya kenal tafsir dan takwil. Kini mereka pun paham istilah baru: hermeunetik.

Langit Donohudan siang itu sedikit berselimut awan hitam. Di dalam masjid Al-Mabrur, ratusan orang bersarung, setelah shalat zuhur, mengambil posisi duduk bersila menghadap utara. Mereka, para peserta sidang kaji masalah tematik pada Muktamar ke-31 Nahdlatul Ulama (NU). Di saf paling depan, seorang santri usia tigapuluhan tekun menyimak empat orang pimpinan sidang. Sebuah kitab karya intelektual Mesir, Said Ramdhan Al-Buthi, tergeletak tak jauh dari tempat ia duduk.
Jarum jam menunjuk ke arah angka satu. Panitia membuka forum. Secara aklamasi, para peserta mendaulat Said Aqil Siradj sebagai pemegang palu sidang. Dari parasnya, Muchib Aman Aly, si santri itu, tampak tak melewatkan sepatah kata pun dari paparan Said Aqil Siradj. Kata pembuka dirangkai rais syuriah PBNU itu. Bahasan pertama sidang adalah tentang metode hermeunetik. Sebuah pertanyaan yang hendak dijawab oleh forum itu ialah, bolehkah metode hermenetik dijadikan alat untuk mengartikan Al-Quran?
Dalam Islam, kata Said, metode hermeunetik dikenal dengan istilah takwil. Takwil artinya, mengalihkan lafazh (kata) dari arti yang tampak kepada makna yang dalam dan jauh. Said sedikit mendongeng, mengurai asal-usul kata hermeunetika. Tuturannya terbang ke abad purba. “Hermeunetika sebenarnya berasal dari nama seorang yang sangat dimitoskan oleh masyarakat Yunani: Hormus, atau Hirmis, atau Harmas,” kata Said. Seluruh peserta terlihat mendengar saksama, termasuk Muchib.
“Qîla (konon), dia (si Hormus) adalah nabiyullah Idris AS,” Said melanjutkan, tanpa menyebut rujukan, ada juga pendapat bukan Idris tapi rajulun azhim alias pemikir besar yang hidup pada masa Firaun di Mesir. Pendapat lain Hormus adalah pemikir besar yang hidup di masa Babilonia, kini Irak. Apa keistimewaan Hormus? Hormus, tutur Said, sosok yang bisa mengartikan kehidupan, mampu menakwil rahasia hidup ini. Perantara yang gaib dan zahir, yang universal dan parsial. “Saya punya kitab yang berisi dawuh atau ucapan-ucapannya, tapi tak terbawa,” ucapnya.
Paparan itu bukan sumber tunggal dalam forum itu. Di tangan peserta sidang sudah tersebar makalah tentang hermeunetika. Penulisnya, ya dia itu, santri bernama Muchib Aman Aly. Dalam makalah 5 halaman itu, Muchib menjelaskan. Hermeunetik berasal dari akar kata bahasa Yunani hermeneui, artinya ‘menafsirkan’. Hermenetik diasosiasikan kepada Hermes, seorang utusan dewa dalam mitologi Yunani Kuno. Tugas Hermes menyampaikan dan menerjemahkan pesan dewata yang masih samar ke dalam bahasa yang dipahami manusia.
Muchib, yang juga kemenakan KH Muhammad Subadar, pengasuh pesantren Raudlatul Ulum Pasuruan, menulis, istilah hermeunetik sebagai usaha teolog Yahudi dan Kristen dalam mengkaji ulang secara kritis teks-teks dalam kitab suci mereka yang mencari nilai kebenaran Bible. Muchib mempertanyakan mengapa para teolog itu mencari nilai kebenaran melalui metoda ini. Dengan yakin Muchib menjawab, mereka memiliki sejumlah masalah dengan teks-teks dalam kitab suci mereka. Para teolog mempertanyakan apakah secara harfiah Bible bisa dianggap firman Tuhan atau sabda manusia.
Apa pasal? Muchib menjelaskan lebih jauh lagi. Adanya perbedaan gaya dan kosa kata yang ditemukan pada berbagai pengarang Bible. Perbedaan itulah, tulis Muchib, yang menyebabkan Bible tak bisa disebut firman Tuhan. “Itulah sebab para teolog Kristen memerlukan hermeunetika untuk memahami kalam Tuhan yang sebenarnya,” tandas Muchib super-yakin.

Makalah itu punya andil besar dalam perdebatan di sidang tersebut. Saat sesi unjuk tanggapan dibuka acungan tangan tak berbilang. Mereka berlomba-lomba mengurai pendapat. Berbagai argumen yang mayoritas menolak itu diutarakan tidak meledak-ledak. Ada beberapa pendapat yang punya kemiripan dengan makalah Muchib. Hanya beberapa orang yang berpendapat menerima hermeunetika sebagai metode menafsir Al-Quran. Muchib bergeming dan menyimak setiap ujaran peserta lain. Perdebatan makin seru saat pimpinan sidang tampak berada dalam blok pro hermenetika. Kontan saja, yang tak setuju makin menjadi-jadi. Muchib mulai berusaha mengangkat tangan ke udara.
Waktu shalat Asar nyaris tiba. Kata sepakat belum kunjung didapat. Perdebatan antara peserta dan pimpinan sidang. Menurut Machasin, pimpinan sidang yang juga dosen UIN Sunan Kalijaga, kalau sidang ingin menerima atau menolak harus dengan ilmu. “Jangan sampai menolak hermeunetik karena tidak tahu. Atau kita menerima karena tidak tahu juga. Itu tidak baik,” kata Machasin, bijak.
“Lebih baik kita tawaqquf (menunda keputusan-Red) dan mempelajari terlebih dahulu seluk-beluk hermeunetika,” ujar Machasin. Pendapat Said Aqil Siradj idem dito. Suasana mulai gaduh. Pimpinan sidang mengusulkan menunda keputusan. Puluhan peserta berdiri dan berebut bicara. Saat itu, meski berdiri dengan lutut, tangan kanan Muchib mengacung ke arah pimpinan sidang, bukan ke langit-langit masjid. Suaranya memekik, “Tidak setuju... tidak setuju....”
Akhirnya pimpinan manut suara peserta sidang: hermenetik ditolak sebagai alat menafsirkan Al-Quran. Palu sidang diketuk tiga kali: tok, tok, tok. Sidang diskor. Azan Asar berkumandang.
Debat tentang hermeunetik usai? Ternyata tidak. Di sela-sela azan itulah Machasin berdebat dengan Muchib Aman Aly--entah siapa yang dahulu memulai. Machasin berupaya memberi pemahaman kepada Muchib tentang hermeunetik. Tapi sia-sia belaka. Saat debat itulah Muchib membuncahkan yang tertulis di makalah.
Keduanya silang pendapat.
“Secara epistimologis, hermeunetik tidak sesuai dengan Al-Quran. Saya sudah baca konsep hermeunetika Gadamer, juga pemikir muslim seperti Nasr Hamid Abu Zayd, Muhammad Arkoun dan sebagainya. Perbedaan tafsir, takwil, dan hermeunetika itu jauh, Pak,” ujar Muchib berargumen.
“Sebetulnya banyak hal dari hermeunetik yang belum diketahui. Ambil contoh, misalnya kata-kata al-shomad dalam Al-Quran. Apakah pemahaman kita tentang kata itu sudah benar. Itulah hermeunetika ingin bertanya, apakah dulu saat Al-Quran turun kata shomad seperti yang kita pahami sekarang. Nah, kalau tadi ada yang membawa hermeunetik pada teori pengambilan hukum, itu salah,” balas Machasin.
“Secara epistimologi metoda hermenetika tidak bisa sama dengan metoda takwil,” ulang Muchib.
“Kenapa?”
“Karena takwil dan tafsir dibangun atas lafazh, metode semantik. Sedangkan hermeunetika dibangun atas teori akal.”
“Oh, tidak. Hermeunetika menggunakan banyak instrumen: semantik, sejarah, filsafat.”
“Kita sudah punya metoda tafsir dan takwil yang sudah mapan dan sudah ada ulumul-quran. Lebih mapan daripada metoda hermeunetika.”
“Saya melihatnya berbeda. Justru dengan hermeunetika pemahaman saya terhadap Al-Quran bertambah.”
“Bapak pakai teori hermeunetikanya siapa, Gadamer, Schleiermacher, atau siapa?.”
“Kita menggabungkan antara analisis semantik, sejarah...”
“Itu dalam al-Thabari sudah ada. Semua sudah tercakup dalam persyaratan-persyaratan tafsir.”
“Al-Thabari analisis historisnya tidak sampai pada makna apa yang berkembang di zaman itu. Saya juga baca kitab al-Thabari. Jadi jangan kita tolak atau terima. Tadi saya lihat memanfaatkan suara yang keras untuk menindas suara yang lunak. Ini tidak baik.” 
“Tadikan sudah ada, beberapa. Menurut saya, sebelum digelar sidang harus ada diskusi awal, pengantar sidang secara umum.”
“Ini sudah lewat. Untuk ke depan, hal seperti ini kurang baik. Karena pendapat mayoritas, mungkin benar, mungkin tidak benar mengalahkan pendapat minoritas yang juga mungkin benar juga mungkin tidak benar. Sebetulnya kalau belum setuju semua akan lebih arif mauquf,” saran Machasin.
Gadamer, filsuf asal Jerman bernama lengkap Hans Georg Gadamer lahir pada 1900 dan wafat 2002. Sedang Schleiermacher bernama panjang Friedrich Ernst Daniel Schleiermacher (1768-1834), pendeta dan filsuf kebangsaan Jerman. Dia salah satu orang berpengaruh di gereja Protestan sepanjang abad 19. Schleiermacher lahir pada 21 November 1768, di Breslau, Lower Silesia (sekarang Wrocław, Polandia). Pada 1787 di kuliah di University of Halle, tempat dia belajar filsafat Aristotes dan Immanuel Kant. Al-Thabari, penafsir kelahiran 224 dan wafat 310 hijriyah. Karya termasyhur penafsir bernama asli Abu Ja’far Muhammad bin Jarir adalah Tafsir Al-Thabari.
Muchib dan Machasin usai berdebat. Muchib yang alumnus Pesantren Lirboyo, Kediri, itu sangat bersyukur metode hermeunetik gagal disahkan oleh komisi kaji masalah tematik. Karena dalam hemat Muchib hermeunetika adalah pondasi pemikiran liberal di kalangan intelektual Islam. Ya, memang di sidang penghujung November itu hermeunetika ditolak tapi di sekolah tinggi Islam hermenetika tetap dipelajari, dikaji, dan mungkin terus diminati.
BANANI BAHRUL-HASSAN

posted by Banani Bahrul at 1:34 PM
6 Comments:

Anonymous Anonymous said...

  Terima kasih atas kisahnya,
  semoga bermanfaat... terus berkarya
  , berantas kejahilan.
  7:41 PM  
Blogger abuqnan said...

  mudah2an hermeneutika dimusnahkan dari bangku sekolah UIN agar anak cucu kita selamat dari pemurtadan
  10:39 PM  
Blogger yoyok said...

  saya ingin mengetahui lebih banyak penggunaan hermeneutik untuk analisis tafsir al Qur'an
  11:35 PM  
Blogger yoyok said...

  saya ingin mengetahui lebih banyak mengenai penggunaan hermeneutik untuk analisis tafsir Al Qur'an, tolong kirimkan kealamat saya, terima kasih banyak sebelumnya
  11:38 PM  
Blogger abuqnan said...

  Alhamdulillah......biang kerok "liberal" di tolak oleh para kiyai2.
  12:48 PM  
Anonymous Waheb Muthaleb said...

  Terima kasih sudah berbagi kisah yang sangat menarik, setelah membaca kisah tersebut dan komentar yang disampaikan teman-teman maka perkenankan saya memberikan beberapa catatan pribadi. Pertama bahwa tulisan tersebut ingin mengemas cerita ini dalam nuansa keagamaan, kedua bahwa dalam kemasan tersebut ternyata isinya justru bertolak belakang dengan apa yang dikemasnya, maksudnya ruh tulisan tersebut justru lebih terasa bermakna kepentingan politis ketimbang mengkaji urusan agama hal ini terlihat dari kehendaknya untuk mengalahkan, menyingkirkan, memusnahkan pihak lain yang berbeda pendapat. Politik dimanapun selalu yang dibicarakan adalah urusan menang-kalah bukan membahas benar-salah seperti peran agama yang banyak ditunjukan dimasa lalu.
  Maka dari itu sungguh sepatutnya kita merasa bersedih ketika politik telah merajalela dalam berbagai bidang kehidupan seperti agama, pendidikan, hukum, bahkan terakhir sempat merambah ke sektor pertanian yang melibatkan padi "super toy" dan "padi Megawati" (Maaf karena menyebut nama). Sejarah telah menunjukkan ketika politik yang berbicara maka segala janji-janji manis ala 'kecap nomor satu' yang katanya 'rahmatan lil alamin' banget akhirnya menjadi rusak dan pada akhirnya janji akan menjadi sekedar janji yang lagi-lagi hanya akan mengecewakan masyarakat/umat (korban).
  Saya tidak akan menyerukan bahwa 'mereka' yang berpolitik dengan "bungkus" agama perlu untuk diberangus -karena jika itu dilakukan sama artinya dengan saya termakan oleh kata-kata saya sendiri- namun yang ingin saya sampaikan adalah akan lebih baik jika kita mengembalikan agama kembali pada relnya yang semestinya apolitis, sebab bagaimanapun idealnya agama harus bermain dalam wilayah "benar-salah" bukan di tataran "menang-kalah". Ibadah sudah semestinya ditempatkan dalam wilayah yang lebih pribadi tidak terlalu dikomersilkan seperti yang banyak terlihat sekarang karena hanya kita sendirilah yang paling tahu apakah kita sedang bersembahyang dalam rangka ibadah atau sedang jungkir balik menarik perhatian calon mertua? dan apakah kita sedang tersenyum karena ibadah atau sedang nyengir kuda dalam rangka mencari 'mangsa' untuk dijadikan istri kedua, ketiga, keempat dan seterusnya... Bukankah teladan para ulama masa lalu(penerus ajaran Rasulullah) masih cukup relevan untuk dicontoh : bagaimana Imam Syafi'i dan Imam Hambali bisa saling menghargai satu sama lain sekalipun ijtihadnya akan "kebenaran" menemukan hasil yang berbeda, mereka menyadari bahwa yang terpenting adalah upaya manusia dalam hal mencari dan mencari kebenaran dan bukannya 'merasa' telah menemukan kebenaran lalu merasa dirinyalah yang paling benar untuk kemudian melakukan berbagai upaya untuk meraih kemenangan serta merajai dengan menghalalkan berbagai cara termasuk menindas, memusnahkan pihak-pihak yang lemah!
  http://bananibahrul.blogspot.com/
_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_

Artikel hermeneutic sangatlah baik kita tahu dan baca. Janganlah kita katakana bahwa metode herm,eneutik itu salah. Sebab sebenarnya semua jenis tafsir itu memakai otak, akal, dan menggunakan teks sebagai objeknya jadi sama dengan hermeneutic. Maka terimalah hermeneutic secara substansinya.


ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِين