Jogja Course Center

product 1

Jogja Course Center (JCC) sebagai lembaga yang memfasilitasi pemenuhan kebutuhan masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan potensi diri, serta mendukung dalam penguasaan dan penerapan ilmu bahasa asing dan komputer, dan ikut serta dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Info detail klik di sini.

Iklan AndaI

product 1

Pasanglah iklan Anda di sini. Ingsyallah membawa berkah. Apalagi menghidupi hamba Allah yang sedang belajar ilmu agama. Alasan lainnya klik di sini.

Iklan Anda

product 1

Pasanglah iklan Anda di sini. Ingsyallah membawa berkah. Apalagi menghidupi hamba Allah yang sedang belajar ilmu agama. Alasan lainnya klik di sini.

Dedi Wahyudi Siap Membangun Negeri Menuju Indonesia Digdaya 2030

Dedi Wahyudi Siap Membangun Negeri Menuju Indonesia Digdaya 2030

Podoluhur News

Dedi Wahyudi lagi sibuk garap tesis, mohon doanya semoga diberikan kemudahan oleh Allah, aamiin.
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Pendahuluan

Terdapat dua persoalan yang menjadi kegelisahan akademik Adams sehingga ia membuat pemetaan pendekatan studi Islam, yaitu pertama, Islam, berkenaan dengan betapa sulitnya membuat garis pemisah yang jelas antara mana wilayah yang Islami dan yang tidak. Kedua, agama, adanya persoalan yang sangat rumit ketika ada yang memahami agama (Islam) sebagai tradisi (tradition) dan sebagai kepercayaan (faith) an sich.

Penelitian Adams ini penting karena pertama, beberapa universitas (baik di Barat maupun di daerah lainnya) masih menyimpan sejumlah masalah dalam mengadakan studi Islam secara netral dengan menggunakan pendekatan yang ilmiah. Kedua, terjadinya kebuntuan metodologis dan pendekatan di kalangan mahasiswa (baik di Barat maupun Timur) ketika mempelajari studi agama. Di satu pihak, mahasiswa dituntut agar dapat memahami agama dalam orientasi akademik, pada pihak yang lain, mereka harus menjaga nilai transendetal dari agama.
Dalam mengkaji persoalan agama dan Islam, Charles J. Adams telah menelaah karya-karya peneliti sebelumnya, di antaranya von Grunebaum, W.C. Smith,  Kenneth Gragg. Dari karya-karya itu Adams membuat pemetaan terhadap pendekatan studi Islam.

Kontribusi akademik dari peneltian Adams ini antara lain, pertama, memiliki nilai kontributif yang sangat signifikan dalam memecahkan problem studi Islam di lembaga akademik (universitas), terutama dalam hal pendekatan dan metodologi yang akan dipakai. Kedua, membantu mereka untuk memahami agama, baik dalam konteks historis-empiris maupun normatif-teologis.

Tulisan Charles J. Adams ini dimulai dengan pembahasan tentang Islam dan agama. Setelah problem di dalamya,  Adams membuat dua formulasi pendekatan studi Islam, yaitu pendekatan normatif (yang terdiri dari pendekatan misionaris tradisional, pendekatan apologetik, dan pendekatan irenic) dan pendekatan deskriptif–(yang mencakup pendekatan filologis dan sejarah, pendekatan ilmu sosial, dan pendekatan fenomenologis). Selanjutnya Adams, membagi wilayah kajian Islam ke dalam 11 aspek. Pada bagian terakhir tulisannya, Adams memberikan beberapa rekomendasi untuk pengambangan studi Islam masa depan.

Kegelisahan Akademik

Berbicara tentang persoalan Islam dikaitkan dengan tradisi, terdapat dua hal penting yang perlu dipikir ulang (rethought) menurut Charles J. Adams, yaitu Islam dan agama.[1] Dua hal itu merupakan kata kunci yang menjadi kegelisahan akademik Adams sehingga ia berkeinginan menggagas sebuah formulasi pendekatan studi Islam yang  tepat dalam mengkaji persoalan Islam, agama, dan tradisi.

Persoalan yang pertama, Islam, berkenaan dengan betapa sulitnya membuat garis pemisah yang jelas antara mana wilayah yang Islami dan yang tidak. Banyak orang yang masih takut membuat penjelasan atau jawaban ketika ditanya tentang Islam, apalagi jika jawaban itu berbeda dan kontradiktif dari persepsi yang selama ini telah terbangun. Padahal, menurut Adams, mustahil menjelaskan dan menemukan pemahaman esensi Islam yang dapat mencapai kesepakatan universal.[2]

Dalam konteks ini, maka selain Islam harus dipahami–dalam perspektif sejarah–sebagai sesuatu yang selalu berubah (change) dan berkembang (evolve), generasi Muslim harus mampu pula merespon kenyataan dunia (vision of reality) dan makna kehidupan manusia (meaning of human life). [3] Dengan demikian Islam bukanlah sesuatu yang satu. Islam tidak hanya sistem kepercayaan dan ibadah, tetapi multisistem dalam historisitas yang selalu berubah dan berkembang.[4] Charles J. Adams mengatakan:

Thus Islam cannot be one thing but rather is many systems, not a system of beliefs and practices, etc., but many systems(or non systems) in a never ceasing flux  of development and changing relations to evolving historical situations.[5]

Sedangkan, menyangkut persoalan kedua, agama, Adams–mengutip dari W.C. Smith–mengungkapkan bahwa terdapat persoalan yang sangat rumit ketika ada yang memahami agama (Islam) sebagai tradisi (tradition) dan sebagai kepercayaan (faith) an sich.[6] Agar lebih sederhana, penulis mengilustrasikan dalam tabel berikut:

| Tradition            |  Faith      |
| External             |  Internal  |
| Observe social   |  Ineffable (tak terkatakan)
| Historical aspect |  Transendentally oriented
  of religiousness  
|                         |  Private dimension of religious life

Dua pemahaman yang berbeda di atas, sama-sama berdiri kokoh. Di satu sisi, aliran tradisi menghendaki pendekataan agama dilakukan dalam frame yang bersifat eksternalistik, sosial, dan historis, pada sisi yang lain, aliran faith menghendaki agar agama dimaknai dari sisi yang berkarakter internalistik,  innefable, transenden, dan berdimensi privat.

Agar dapat mencerna dan memahami dua model pemahaman agama yang saling bertolak belakang tersebut, Adams terdorong melakukan penelitian dalam konteks studi Islam. Bagaimanapun juga, menurutnya, agama memiliki dua sisi yang tak terpisahkan, pengalaman batiniah (inward experience) dan sikap keberagamaan lahiriah (outward behavior). Begitu juga, para mahasiswa Islamic studies harus mampu mencurahkan segala kemampuannya dalam mengeksplorasi keduanya.

Selain itu, persoalan agama yang tersisa, menurut Adams, adalah terlalu banyaknya definisi tentang agama. Kendati seseorang dapat menemukan pemahaman terhadap agama–dalam pengertian umum–yang dapat memuaskannya, tetapi masih terdapat pertanyaan yang harus dijawab, misalnya, dalam konteks agama apa seseorang dapat menemukan pemahaman yang utuh terhadap agama, Islamkah atau yang lain? Atau taruhlah keberagamaan seseorang dapat dilihat dari keyakinan terhadap doktrin agama, pelaksanaan ibadah, moral yang baik, partisipasinya dalam kehidupan sosial, pertanyaan kemudian adalah apakah beberapa hal itu mencukupi untuk memahami agama?  Bukankah masih ada hal lain di balik itu semua, seperti pengalaman keagamaan yang bersifat individual dan gnostic yang tidak dapat terukur?[7]

Bertolak dari beberapa masalah di atas, baik seputar Islam maupun agama, penulis berusaha merumuskan beberapa kegelisahan akademik Charles J. Adams dalam pertanyaan-pertanyaan berikut: bagaimana Islam dan agama selayaknya dipahami? Pendekatan apa yang dapat digunakan dalam mengkaji persoalan Islam dan agama?

Pentingnya Topik Penelitian

Penelitian Charles J. Adams, sejauh amatan penulis, memiliki nilai signifikansi paling tidak dalam dua hal, yaitu:

Pertama, beberapa universitas (baik di Barat maupun di daerah lainnya) masih menyimpan sejumlah masalah dalam mengadakan studi Islam secara netral dengan menggunakan pendekatan yang ilmiah. Penelitian yang dilakukan oleh Adams ini memiliki nilai kontributif yang sangat signifikan dan urgen dalam memecahkan problem studi Islam di lembaga akademik (universitas), terutama dalam hal pendekatan dan metodologi yang akan dipakai.

Kedua, kebuntuan yang terjadi di kalangan mahasiswa (baik di Barat maupun Timur) dalam mempelajari studi agama. Di satu pihak, mahasiswa dituntut agar dapat memahami agama dalam orientasi akademik, pada pihak yang lain, mereka harus menjaga nilai transendetal dari agama.

Penelitian Terdahulu

Dalam mengkaji persoalan agama dan Islam, Charles J. Adams telah menelaah karya-karya peneliti sebelumnya, di antaranya von Grunebaum, W.C. Smith,  Kenneth Gragg.

von Grunebaum mengemukakan bahwa kesadaran umat Islam telah beralih dari heterogenetic kepada orthogenetic. Pendapat ini dipakai oleh Adams, ketika ia menjelaskan bahwa dunia Islam dewasa ini dihadapakan pada persoalan yang cukup dilematis ketika berhubungan dengan modernitas, di mana umat Islam hanya dapat pasrah pada keadaan dan bergantung pada takdir Tuhan.[8]

W.C. Smith seperti dirujuk oleh Adams, menjelaskan problem keagamaan baik pada tataran pengalaman keagamaan secara batin maupun sikap keberagamaan secara lahir dengan membuat pembedaan yang jelas antara sisi tradisi empiris pada agama dan sisi kepercayaan doktrinal pada agama. Yang pertama berkait erat dengan wilayah eksternal, penelitian sosial, dan aspek historis dari keberagamaan itu sendiri. Sedang yang kedua menyangkut wilayah internal, innefable, orientasi transendental, dan dimensi kehidupan agama yang sangat privat.[9]

Kenneth Gragg dalam pandangan Adams adalah seorang yang sangat mumpuni dalam kajian Arab dan seorang theolog yang excellent. Melalui beberapa seri tulisannya yang cukup elegan dan dengan gaya bahsa yang puitis, ia telah cukup berhasil menunjukkan kepada Barat secara umum dan kaum Kristen secara khusus tentang adanya keindahan dan nilai religius yang menjiwai tradisi Islam. Hal ini, menurutnya, menjadi tugas bagi kaum Kristen untuk bersikap terbuka terhadap kenyataan ini.[10]

Pendekatan Penelitian

Berbicara mengenai kajian Islam, Charles J. Adams mempunyai uraian tersendiri dalam penjelasannya tentang pendekatan yang ia lakukan. Berdasar pada kegelisah akademik yang telah dijelaskan di bagian awal tulisannya, pendekatan studi Islam yang ia tawarkan merupakan jalan keluar atas persoalan yang terjadi di beberapa universitas di Barat. Persoalan itu adalah kesulitan universitas dalam mengadakan studi agama yang netral[11] ketika mengkaji sisi normativitas dan filosofis agama.

Oleh karena itu, Charles J. Adams membuat formulasi baru pendekatan dalam pengkajian Islam. Menurutnya, terdapat dua pola pendekatan untuk mengkaji Islam, yaitu pendekatan normatif dan pendekatan deskriptif.

Tentu saja, dua pendekatan ini tidak muncul seketika. Adams menjelaskan bahwa dua pendekatan ini terilhami oleh realitas ketika seseorang mengkaji Islam (atau agama lainnya) dengan tujuan agar lebih kokoh keislaman dan kepercayaannya (proselytizing) pada satu sisi, dan pada sisi yang lain, ada yang didasarkan atas dorongan intelektual (intellectual curiosity) semata karena melihat adanya persoalan agama yang cukup kompleks dalam konteks sosial.[12]

Penjelasan lebih detail dan komprehensif tentang dua pendekatan di atas, dapat dilihat pada uraian berikut ini.

Pendekatan normatif. Pendekatan ini, oleh Adams diklasifikasi menjadi tiga bagian, yaitu:

1. Pendekatan missionaris tradisional

Pada abad 19, terjadi gerakan misionaris besar-besaran yang dilakukan oleh gereja-gereja, aliran, dan sekte dalam Kristen. Gerakan ini menyertai dan sejalan dengan pertumbuhan kehidupan politik, ekonomi, dan militer di Eropa yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat di Asia dan Afrika. Sebagai konsekuensi logis dari gerakan itu, banyak misionaris dari kalangan Kristen yang pergi ke Asia dan Afrika mengikuti kolonial (penjajah) untuk merubah suatu komunitas masyarakat agar masuk agama Kristen serta meyakinkan masyarakat akan pentingnya peradaban Barat.[13]

Untuk mewujudkan tujuannya tersebut, para missionaris berusaha dengan sungguh untuk membangun dan menciptakan pola hubungan yang erat dan cair dengan masyarakat setempat. Begitu juga dengan penjajah, mereka harus mempelajari bahasa daerah setempat dan bahkan tidak jarang mereka terlibat dalam aktivitas kegiatan masyarakat yang bersifat kultural. Dengan demikian, eksistensi dua kelompok itu, missionaris tradisional dan penjajah (yang sama-sama beragama Kristen) mempunyai pengaruh yang sangat signifikan terhadap perkembangan keilmuan Islam.[14]

Dalam konteks itu–karena adanya relasi yang kuat antara Islam dan missionaris Kristen–, maka Charles J. Adams berpendapat bahwa studi Islam di Barat dapat dilakukan dengan memanfaatkan missionaris tradisional itu sebagai alat pendekatan yang efektif. Dan inilah yang kemudian disebut dengan pendekatan missionaris tradisional (traditional missionaris approach) dalam studi Islam.

2. Pendekatan apologetik

Di antara ciri utama pemikiran Muslim pada abad kedua puluh satu adalah “keasyikannya” (preoccupation) dengan pendekatan apologetik dalam studi agama. Dorongan untuk menggunakan pendekatan apologetik dalam khazanah pemikiran keislaman semakin kuat. Di sebagian wilayah dunia Islam, seperti di India, cukup sulit ditemukan penulis yang tidak menggunakan pendekatan apologetik. Perkembangan pendekatan apologetik ini dapat dimaknai sebagai respon mentalitas umat Islam terhadap kondisi umat Islam secara umum ketika dihadapkan pada kenyataan modernitas. Selain itu, apologetik ini muncul didasari oleh kesadaran seorang yang ingin keluar dari kebobrokan internal dalam komunitasnya dan dari jerat penjajahan peradaban Barat.[15]

Menurut Adams, pendekatan apologetik memberikan kontribusi yang positif dan cukup berarti terhadap generasi Islam dalam banyak hal. Sumbangsih yang terpenting adalah menjadikan generasi Islam kembali percaya diri dengan identitas keislamannya dan bangga terhadap warisan klasik. Dalam konteks pendekatan studi Islam, pendekatan apologetik mencoba menghadirkan Islam dalam bentuk yang baik. Sayangnya, pendekatan ini terkadang jatuh dalam kesalahan yang meniadakan unsur ilmu pengetahuan sama sekali.

Secara teoritis, pendekatan apologetik dapat dimaknai dalam tiga hal. Pertama, metode yang berusaha mempertahankan dan membenarkan kedudukan doktrinal melawan para pengecamnya. Kedua, dalam teologi, usaha membenarkan secara rasional asal muasal ilahi dari iman. Ketiga, apologetik dapat diartikan sebagai salah satu cabang teologi yang mempertahankan dan membenarkan dogma dengan argumen yang masuk akal. Ada yang mengatakan bahwa apologetika mempunyai kekurangan internal. Karena, di satu pihak, apologetik menekankan rasio, sementara di pihak lain, menyatakan dogma-dogma agama yang pokok dan tidak dapat ditangkap oleh rasio. Dengan kata lain, apologetik, rasional dalam bentuk, tetapi irasional dalam isi.[16]

3. Pendekatan irenic

Yang ketiga ini ada semacam usaha untuk membuat jembatan antara cara pandang para orientalis terdahulu yang penuh dengan motivasi negatif dan para pengikut Islam yang merasa hasil kajian para orientalis tersebut banyak mengandung penyimpangan.

Sejak Perang Dunia II,  gerakan yang berakar dari lingkungan kegamaan dan universitas tumbuh di Barat. Gerakan itu bertujuan untuk memberikan apresiasi yang baik terhadap keberagamaan Islam dan membantu mengembangkan sikap apresiatif itu. Langkah ini dilakukan untuk menghilangkan prasangka, perlawanan, dan hinaan yang dilakukan oleh barat, khususnya Kristen Barat, terhadap Islam. Oleh karena itu, langkah praktis yang dilakukan adalah membangun dialog antara umat Islam dengan kaum Kristen untuk membangun jembatan penghubung yang saling menguntungkan antara tradisi kegamaan dan bangsa.[17]

Salah satu bentuk dari usaha untuk harmonisasi itu adalah melalui pendekatan irenic.[18] Usaha ini pernah dilakukan oleh uskup Kenneth Gragg, seorang yang mumpuni dalam kajian Arab dan teologi.[19] Melalui beberapa seri tulisannya yang cukup elegan dan dengan gaya bahsa yang puitis, ia telah cukup berhasil menunjukkan kepada Barat secara umum dan kaum Kristen secara khusus tentang adanya keindahan dan nilai religius yang menjiwai tradisi Islam. Karenanya, menjadi tugas bagi kaum Kristen untuk bersikap terbuka terhadap kenyataan ini.

Tokoh lain yang telah mengembangkan pendekatan ini adalah W.C. Smith yang mensosialisasikan konsep ini melalui buku dan tulisan-tulisannya yang lain. Smith sangat concern pada persoalan diversitas (perbedaan) agama. Menurutnya, perbedaan agama (religious diversity) merupakan karakter dari ras/bangsa manusia secara umum, sedang eksklusifitas agama (religous exclusiviness) merupakan karakter dari sebagian kecil dari umat manusia.

Berkenaan dengan realitas perbedaan agama, Smith membuat tiga model pertanyaan, yaitu: pertama,  pertanyaan ilmiah (scientific question) untuk menanyakan apa bentuk perbedaan, mengapa, dan bagaimana perbedaan itu dapat terjadi. Kedua, pertanyaan teologis (theological question) untuk mengetahui bagaimana seseorang dapat memahami normativitas agama dan ketiga, pertanyaan moral (moral question) yang mengetahui sikap seseorang terhadap perbedaan kepercayaan.[20]

Pendekatan deskriptif. Dalam pendekatan yang bersifat deskriptif, Adams membagi ke dalam tiga komponen, yaitu:

Pendekatan filologis dan sejarah

Adams mengemukakan bahwa tidak dapat dipungkiri pengetahuan yang paling produktif dalam studi Islam adalah filologis dan historis. Lebih dari 100 tahun sarjana Islam dibekali dengan dasar bahasa dan mendapat training metode filologis yang dapat mengantarkan kepada pemahaman teks sebagai bagian dari warisan klasik.[21]

Hasil dari studi dengan pendekatan filologis, menurut Adams, adalah sebuah sumber pustaka (literatur) yang dapat menyentuh semua aspek kehidupan dan kesalihan umat Islam. Tidak hanya menjadi rujukan pengetahun Barat tentang Islam dan sejarahnya, filologis juga memainkan peranan penting di dunia Islam. Outcome dari pendekatan filologis dan historis ini sebagian besar telah dimanfaatkan oleh para intelektual, politisi, dan sebagainya. Selain itu, filologi harus turut andil dalam studi Islam. Hal terpenting yang dimiliki oleh mahasiswa Muslim adalah kekayaan literatur klasik seperti sejarah, teologi, dan mistisisme. yang kesemuanya tidak mungkin dipahami tanpa bantuan filologi.[22]

Penelitian agama dengan menggunakan pendekatan filologi dapat dibagi dalam tiga pendekatan, yaitu tafsir, content analysis, dan hermeneutika. Ketiga pendekatan tersebut tidak terpisah secara ekstrim. Pendekatan-pendekatan itu bisa over lapping, saling melengkapi, atau bahkan dalam sudut tertentu sama.[23] Filologi berguna untuk meneliti bahasa, meneliti kajian linguistik, makna kata-kata dan ungkapan terhadap karya sastra.[24]

Sedangkan sejarah atau historis merupakan ilmu yang di dalamnya dibahas berbagai peristiwa dengan memperhatikan unsur tempat, waktu, obyek, latar belakang, dan pelaku dari peristiwa tersebut. Melalui pendekatan sejarah seseorang diajak menukik dari alam idealis ke alam yang bersifat empiris dan mendunia. Dari keadaan ini seseorang akan melihat adanya kesenjangan atau keselarasan antara yang terdapat dalam alam idealis dengan yang ada di alam empiris dan historis.[25]

Ada dua unsur pokok yang dihasilkan oleh analisis sejarah. Pertama, kegunaan dari konsep periodesasi dan derivasi darinya. Kedua, rekonstruksi proses genesis, perubahan, dan perkembangan.dengan analisis ini, manusia dapat dipahami secara kesejarahan.[26]

Kendati Adams menyebut pendekatan ini dengan filologis historis, tampaknya ia lebih cenderung kepada yang pertama, karena porsi penjelasan tentang filologis lebih besar dari pada historis. Bisa jadi, karena hubungan antara kedua pendekatan itu sangat erat sehingga bagi Adams berbicara filologis termasuk di dalamnya pendekatan historis.[27]

Pendekatan ilmu-ilmu sosial

Sangat sulit untuk mendefinisikan apa yang disebut dengan “pendekatan ilmu sosial” terhadap studi agama terutama semenjak terdapat banyak pendapat di kalangan ilmuwan tentang alam dan validitas studi yang mereka gunakan.[28]

Dalam wilayah studi agama, usaha yang ditempuh oleh pakar ilmu sosial adalah memahami agama secara objektif dan peranannya dalam kehidupan masyarakat. Tujuannya agar dapat menemukan aspek empirik dari keberagamaan berdasarkan keyakinan bahwa dengan membongkar sisi empirik dari agama itu akan membawa seseorang kepada agama yang lebih sesuai dengan realitasnya, profan (membumi).[29] Walaupun ilmu ini juga mempunyai kekurangan, yaitu melakukan reduksi pemahaman seseorang terhadap agama.

Salah satu ciri dari ilmu sosial ini adalah kecenderungannnya untuk melakukan studi tentang manusia dengan cara membagi dan memetakan aktivitas masyarakat ke dalam beberapa kategori.

Dalam diskursus penelitian agama di Indonesia, Mukti Ali misalnya menyatakan bahwa Islamisis dan atau agamawan lebih cenderung untuk mempelajari ilmu sosial. Hal ini disebabkan karena: pertama, salah satu ciri pemikiran ahli agama adalah spekulasi teoritis. Menurut mereka pemikiran spekulasi teoritis itu ternyata tidak dapat memecahkan masalah. Kedua, mereka menyadari bahwa usaha memahami masyarakat religius harus juga didekati dengan metode empiris, dengan demikian ilmu sosial menjadi perlu. Ketiga, dalam kasus tertentu, pendekatan secara deduktif seringkali menimbulkan “kekecewaan”. Untuk hal ini, maka selain pendekatan secara deduktif, pendekatan secara induktif harus dikembangkan, yaitu mengajukan berabagi macam fakta sebagai bukti kebenaran yang umum. Dalam konteks ini, mutlak diperlukan penguasaan terhadap ilmu pengetahuan sosial.[30]

Menurut Atho’ Mudzhar, agama merupakan gejala sosial dan budaya.[31] Cakupan objek studi agama (Islam) dalam perspektif sosiologis, menurutnya, dapat diklasifikasikan menjadi beberapa tema kajian, yaitu (1) pengaruh agama terhadap masyarakat, (2) pengaruh struktur dan perubahan masyarakat terhadap pemahaman ajaran agama atau konsep keagamaan, (3) tingkat pengamalan beragama masyarakat, (4) pola interaksi sosial masyarakat muslim, dan (5) gerakan masyarakat yang membawa paham yang dapat melemahkan atau menunjang kehidupan beragama.[32]

Pendekatan fenomenologis

Terdapat dua hal penting yang mencirikan pendekatan fenomenologi agama. Pertama, fenomenologi adalah metode untuk memahami agama sesorang yang termasuk di dalamnya usaha sebagian sarjana dalam mengkaji pilihan dan komitmen mereka secara netral sebagai persiapan untuk melakukan rekonstruksi pengalaman orang lain. Kedua, konstruksi skema taksonomik untuk mengklasifikasi fenomena dibenturkan dengan batas-batas budaya dan kelompok religius. Secara umum, pendekatan ini hanya menangkap sisi pengalaman keagamaan dan kesamaan reaksi keberagamaan semua manusia secara sama, tanpa memperhatikan dimensi ruang dan waktu dan perbedaan budaya masyarakat.[33]

Arah dari pendekatan fenomenologi adalah memberikan penjelasan makna secara jelas tentang apa yang yang disebut dengan ritual dan uapacara keagamaan, doktrin, reaksi sosial terhdap pelaku “drama” keagamaan. Sebagai sebuah ilmu yang relatif kebenarannya, pendekatan ini tidak dapat berjalan sendiri. Secara operasioonal, ia membutuhkan perangkat lain, misalnya sejarah, filologi, arkeologi, studi literatur, psikologi, sosiologi, antropologi, dan sebagainya.[34]

Istilah fenomenologi berasal dari bahasa Yunani pahainomenon yang secara harfiah berarti “gejala” atau “apa ayng telah menampakkan diri” sehingga nyata bagi kita. Metode ini dirintis oleh Edmund Husserl (1859-1938). Dalam operasionalnya, fenomenologi agama menerapkan metodologi ilmiah dalam meneliti fakta religius yang bersifat subyektif seperti pikiran-pikiran, perasaan-perasaan, ide-ide, emosi, maksud, pengalaman, dan sebagainya dari seseorang yang diungkapkan dalam tindakan luar.[35]

Pendekatan fenomenologi berusaha memperoleh gambaran yang lebih utuh dan lebih fundamental tentang fenomena keberagamaan manusia. Pendekatan fenomenologi berupaya untuk mencari esensi keberagamaan manusia. Usaha pendekatan fenomenologi agaknya mengarah ke arah balik, yakni untuk mengembalikan studi agama yang bersifat historis-empiris ke pangkalannya agar tidak terlalu jauh melampaui batas-batas kewenangannya.[36]

Untuk memahami Islam dan agama terkait dengan tradisi, ternyata tidak cukup dengan hanya menjelaskan dua pendekatan di atas. Agar komprehensif dan sistematis, penjelasan Admas juga disertai dengan pemaparan tentang objek kajian agama.

Oleh karena itu, setelah menjelaskan pendekatan-pendekatan yang dapat digunakan dalam studi Islam tersebut, Adams juga memetakan wilayah kajian studi Islam. Adams mengelompokkan studi Islam menjadi: (1) Arabia pra-Islamic (pre-Islamic Arabia) (2) Kajian tentang Rasul (studies of the Prophet) (3) Kajian al-Qur'an (Qur’anic studies) (4) Hadits (prophetic tradition) (6) Hukum Islam (Islamic law) (7) Filsafat (falsafah) (8) Tasawuf (tasawwuf) (9) Aliran dalam Islam (the Islamic sects) (10) Ibadah (worship and devotional life) (11) dan Agama Rakyat (popular religion).

Ruang Lingkup dan Istilah Kunci Penelitian

Ruang lingkup penelitian yang dilakukan Adams adalah Islam dan agama. Berkenaan dengan dua hal tersebut, pertanyaan mendasar yang muncul adalah bagaimana masing-masing dari keduanya dipahami serta  pendekatan apa yang dapat dipakai untuk memahami keduanya. Berangkat dari dua kunci pokok tersebut, menurut Adams, terdapat pendekatan normatif dan deskriptif dalam studi Islam.

Dengan demikian, ruang lingkup dan atau istilah kunci dalam penelitian Adams ini antara lain: pendekatan normatif: pendekatan misisonaris tradisional, pendekatan apologetik, dan pendekatan irenic, pendekatan deskriptif: pendekatan filologis dan sejarah, pendekatan ilmu-ilmu sosial, dan pendekatan fenomenologis.

Sumbangan Terhadap Pengetahuan

Penelitian yang dilakukan oleh Charles J. Adams ini memiliki sumbangan yang besar terhadap dua hal, pertama, penelitian yang dilakukan oleh Adams ini memiliki nilai kontributif yang sangat signifikan dan urgen dalam memecahkan problem studi Islam di lembaga akademik (universitas), terutama dalam hal pendekatan dan metodologi yang akan dipakai. Kedua, penelitian ini membantu mereka untuk memahami agama, baik dalam konteks historis-empiris maupun normatif-teologis.

Sumbangan yang lain adalah gagasan agar dilakukannya pengembangan terhadap studi Islam masa depan (future studies). Sederhananya, Adams memberikan rekomendasi kepada para mahasiswa Islamic studies agar memprioritaskan kajian sebagai berikut: (1) studi al-Qur’an terutama yang terkait dengan ide dan pandangan dunia al-Qur’an, (2) sejarah teologi Islam masa awal, lebih spesifik lagi kajian tentang Mu’tazilah, (3) studi tentang sufi, (4) studi tentang syiah dengan fokus keunikan dan kekayaan kontribusi Syiah bagi ilmu agama, dan (5) studi Islam dalam konteks metode dengan pendekatan ilmiah serta sejarah agama (religionwissenschaft).

Sistematika Penulisan

Tulisan Charles J. Adams ini dimulai dengan pembahasan tentang Islam dan agama. Setalah menjelaskan tentang persoalan dalam Islam dan agama secara umum, Adams menwarkan dua pendekatan dalam studi Islam, yaitu pendekatan normatif (yang terdiri dari pendekatan misionaris tradisional, pendekatan apologetik, dan pendekatan irenic) dan pendekatan deskriptif–(yang mencakup pendekatan filologis dan sejarah, pendekatan ilmu sosial,dan pendekatan fenomenologis). Selanjutnya Adams, membagi wilayah kajian Islam ke dalam 11 aspek. Pada bagian terakhir tulisannya, Adams memberikan beberapa rekomendasi untuk pengambangan studi Islam masa depan.

Daftar Pustaka

Abdullah, M. Amin, “Relevansi Studi Agama-Agama dalam Milenium Ketiga” dalam Amin Abdullah dkk., Mencari Islam (Studi Islam dengan Berbagai Pendekatan), Yogyakarta: Tiara Wacana, 2000.

________, Studi Agama: Normativitas atau Historisitas? Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002.

________, “Rekonstruksi Metodologi Agama dalam Masyarakat Multikultural dan Multireligius” dalam Ahmad Baidowi, dkk (Ed.), Rekonstruksi Metodologi Ilmu-Ilmu Keislaman, Yogyakarta: SUKA-Press, 2003.

Adams, Charles J., “Islamic Religious Tradition” dalam Leonard Binder (Ed.) The Study of The Middle East: Research and Scholarship in the Humanities and the Social Science, Canada: John Wiley and Sonc, Inc, 1976.

Bagus, Lorens, Kamus Filsafat, Jakarta: Gramedia, 2000.

Mudzhar, M. Atho’, Pendekatan Studi Islam dalam Teori dan Praktek, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004.

________, “Pendekatan Sosiologi dalam Studi Hukum Islam” dalam Amin Abdullah dkkk., Mencari Islam: Studi Islam dengan Berbagai Pendekatan, Yogyakarta: Tiara Wacana, 2000.

Mukti Ali, “Penelitian Agama di Indonesia” dalam Mulyanto Sumardi, Penelitian Agama: Masalah dan Pemikiran, Jakarta: Sinar Harapan, 1982.

Nasution, Khoiruddin, “Pembidangan Ilmu dalam Studi Islam dan Kemungkinan Pendekatannya” dalam Amin Abdullah dkk, Tafsir Baru Studi Islam dalam Era Multikultural, Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga, 2002.

Nata, Abuddin, Metodologi Studi Islam, Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2000.

O’ Collins, Gerald dan Edward G. Farrugia, Kamus Teologi, Yogyakarta: Kanisius, 2001.

Suprayogo, Imam dan Tobroni, Metodologi Penelitian Sosial-Agama, Bandung: Rosdakarya, 2001.

Shiddiqi, Nourouzzaman, “Sejarah: Pisau Bedah Ilmu Keislaman” dalam Taufik Abdullah (Ed.), Metodologi Penelitian Agama: Sebuah Pengantar, Yogyakarta: Tiara Wacana, 1991.

[1] Charles J. Adams, “Islamic Religious Tradition” dalam Leonard Binder (Ed.) The Study of The Middle East: Research and Scholarship in the Humanities and the Social Science (Canada: John Wiley and Sonc, Inc, 1976), hlm. 29.

[2] Ibid., hlm. 31.

[3] Ibid.

[4] Hal ini selaras dengan pendapat M. Amin Abdullah yang menyatakan bahwa dalam diskursus keagamaan kontemporer telah dijelaskan bahwa agama mempunyai banyak wajah (multifaces), bukan lagi berwajah tunggal. Agama tidak lagi dipahami sebagai hal yang semata-mata terkait dengan persoalan ketuhanan, kepercayaan, credo, pandangan hidup, dan ultimate concern. Selain sifat konvensionalnya, tenyata agama juga terkait erat dengan dengan persoalan-persoalan historis-kultural yang merupakan keniscayaan manusiawi belaka.. Lebih lanjut baca Amin Abdullah, “Rekonstruksi Metodologi Agama dalam Masyarakat Multikultural dan Multireligius” dalam Ahmad Baidowi, dkk (Ed.), Rekonstruksi Metodologi Ilmu-Ilmu Keislaman (Yogyakarta: SUKA-Press, 2003), hlm. 4.

[5] Charles J. Adams, op. cit., hlm. 31.

[6] Ibid.., hlm. 33.

[7] Ibid., hlm. 32-33.

[8] Ibid., hlm. 30.

[9] Ibid., hlm. 33.

[10] Ibid., hlm. 38.

http://cfis.uii.ac.id/content/blogsection/0/87/
ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِين
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

I. PENDAHULUAN
Dalam setiap pemikiran keagamaan, tak terkecuali dalam Islam terdapat dua aspek yang berbeda. Dalam keilmuan menuntut pendekatan yang bersifat obyektif, rasional dan universal, dan hal ini lebih berorientasi pada pemikiran yang analisis-kritis. Sedang dalam kelembagaan keagamaan menuntut pada pemihakan yang bersifat partikular subyektif, dan memihak pada pandangan hidup tertentu. Dalam hal ini sulit untuk dibedakan secara tegas-proporsional, dimana wilayah “keilmuan” dan dimana wilayah “keagamaan”. Karena sifat keilmuan menuntut sikap kritis, obyektif, rasional dan menempatkan diri sebagai pengamat. Sedang lain pihak, yakni sikap keagamaan lebih menekankan pada subyektifitas, mengikuti apa adanya, menempatkan diri sebagai pelaku.
Dua hal itu sebenarnya jika dicermati terkandung dinamika yang saling memberikan manfaat bagi keduanya. Sehingga masing-masing mempunyai peran tersendiri tanpa saling mengalahkan antara yang satu terhadap yang lain.[1]

II. ASPEK NORMATIF DAN HISTORIS
Dua hal tersebut mengundang permasalahan, bagaimana hubungan sifat keilmiahan di satu pihak, dan di lain pihak Islam sebagai pandangan hidup diangkat sebagai obyek studi. Apakah Islam perlu dikaji secara ilmiah, ataukah cukup hanya diamalkan saja. Permasalahan yang lebih ekstrim lagi, mana yang lebih tepat menjadikan Islam sebagai obyek kajian ilmiah atau cukup dijadikan pedoman hidup yang tanpa perubahan dan kekurangan. Permasalahan semacam itu sebenarnya merupakan permasalahan klasik yang menjadi perdebatan pada abad tengah antara al-Ghazali dan Ibn Rusyd, yang mempertanyakan bagaimana hukumnya mempelajari filsafat. Dan Ibn Rusyd telah menjelaskan permasalahannya lewat bukunya Fasl al-Maqal, tetapi tampaknya tidak cukup mencerahkan bagi pemikiran ortodoksi keagamaan yang mulai mengkristal.[2]
Permasalahan tersebut menjadi sulit, karena sikap keagamaan yang baik untuk dapat membedakan antara aspek normatif dengan aspek historis keagamaan, terutama keagamaan Islam. Menurut Muhammad Arkoun, sejak abad 12 hingga abad 19, bahkan sampai sekarang terjadi proses sakralisasi pemikiran keagamaan, sehingga tidak ada kekurangan,[3] yang oleh Fazlur Rahman disebut proses “ortodoksi” baik bagi Sunni maupun Syi’i. Maka terjadi proses pencampuran yang lekat antara aspek historis kekhalifahan yang normanya selalu berubah, karena produk zaman dan normativitas al-Qur’an dan keagamaan Islam yang universal. Sebenarnya keduanya dapat dibedakan, meskipun tidak dapat dipisahkan, karena memiliki hubungan yang dialektis, menyatu dalam satu kesatuan, tanpa berhenti pada suatu sisi, meninggalkan aspek historis kemanusiaan atau meninggalkan aspek normatif yang dihayati para pemeluk agama. Arkoun menjelaskan, sejak abad ke 12 hingga sekarang terjadi penepian aspek historis kemanusiaan yang selalu dalam proses dan pembentukan.[4] Secara ontologis, dalam keagamaan Islam dapat digambarkan sebuah mata uang logam yang mempunyai dua permukaan, yaitu dalam keberagamaan Islam terdapat dua permukaan yang menyatu pada suatu kesatuan yang utuh, yakni aspek normatif dan historis. Keduanya menyatu, tidak dapat disahkan, tetapi dapat dibedakan.
Sebagai contoh, peristiwa yang disebutkan pada surat ‘Abasa ayat 1-11, tampak aspek historis kenabian Muhammad saw ketika berhadapan dengan ‘Abdullah ibn Ummi Maktum yang buta. Peristiwa historis itu tidak ada yang sakral, sebab hanyalah hubungan antar manusia saja. Kekuatan rasio manusialah yang mampu menembus aspek normatif al-Qur’an yang bersifat kepastian (fard al-‘ain) yang universal.[5] Peristiwa historis itu bentuknya dapat berganti seribu macam, sehingga persoalan khusus Nabi Muhammad saw dengan Abdullah ibn Ummi Maktum dapat pula berganti bentuk sesuai dengan situasi historis dan perkembangan ilmu pengetahuan. Tetapi, aspek normatif dan etika al-Qur’an yang bersifat kepastian, fard al-‘ain, tetap sama dari dulu sampai kapanpun, yakni kewajiban memperlakukan orang lain dalam berbagai stratifikasi sosial yang ada secara santun, demokratis, egaliter dan adil.[6] Aspek universalitas-intelektualitas dari ajaran Islam terletak pada normativitas-etika yang mengikat semua pihak, sedang aspek partikularitas-kulturalnya terletak pada peristiwa perilaku Nabi Muhammad saw dan nabi-nabi lainnya.[7]
Dalam keragaman Islam, terdapat dua aspek bersama-sama, yakni aspek normatif, wahyu, dan aspek historis kekhalifahan.[8] Menurut para fuqaha’ aspek normatif adalah aspek ibadah mahdah yang ditekankan pada aspek-aspek legalitas formalitas-eksternal, sehingga kurang apresiatif terhadap dimensi esoteris, yang juga melekat pada religius imperatif yang bersifat mahdhah tersebut. Sedang aspek historis baik yang berkaitan dengan persoalan sosial, politik, budaya ekonomi, pendidikan, lingkungan hidup, kemiskinan dan sebagainya dianggap termasuk ghairu mahdhah, sehingga dikategorikan fard kifayah. Pengkategorian semacam ini berdampak dalam pemikiran demikian besar dalam tatanan pemikiran umat Islam, yakni permasalahan yang masuk dalam kategori fard kifayah kurang diminati, lantaran sudah terselesaikan lewat perwakilan beberapa kalangan saja. Sedangkan perwakilan itu sendiri tidak jelas. Jadi, jika dalam kelompok ibadah mahdhah campur tangan akal pikiran tidak diperbolehkan, maka kelompok fard kifayah inilah yang sebenarnya menumbuhkan wacana intelektual yang kritis dan obyektif. Sebab, dalam wilayah fard kifayah ini terdapat pergumulan dan wacana epistemologi keislaman yang berat, dan di sini pula membutuhkan pendekatan empiris yang obyektif dan rasional.[9] Hal ini bisa dimengerti lantaran terikat dalam konteks waktu, ruang, historis, kultur, dan psikologi[10] tertentu, sehingga tetap memberikan peluang untuk senantiasa didiskusikan.

III. KESIMPULAN
Dari uraian tersebut di atas, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Dalam kehidupan keagamaan, khususnya dalam pemikiran keagamaan Islam terdapat aspek normatif dan historis. Kedua aspek itu terdapat hubungan yang menyatu, tidak dapat dipisahkan, tetapi dapat dibedakan.
2. Aspek normatif, wahyu, harus diterima sebagaimana adanya, mengikat semua pihak, dan berlaku universal. Sedang aspek historis kekhalifahan, senantiasa dapat berubah, menerima diskusi, karena produk zaman tertentu, dan bukan hal yang sakral.
3. Diperlukan ketajaman untuk memahami mana aspek normatif dan mana yang aspek historis, sehingga tidak tercampuradukkan antara keduanya.

DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur’an al-Karim.
Joachim Wach, The Comparative Study of Religions, Joseph M. Kitagawa, ed., New York and London: Columbia University Press, 1958.
M. Amin Abdullah, Falsafah Kalam di Era Post Modern, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997, cet. II.
M. Arkoun, Al-Islam: al-Akhlaq wa al-Siyasah, terj. Hashem Saleh, Beirut: Markaz al-Inma’ al-Qaumy, 1990.


[1] M. Amin Abdullah, Falsafah Kalam di Era Post Modern, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997, cet. II, hlm. 18.
[2] Ibid., hlm. 18-19.
[3] M. Arkoun, Al-Islam: al-Akhlaq wa al-Siyasah, terj. Hashem Saleh, Beirut: Markaz al-Inma’ al-Qaumy, 1990, hlm. 172-173.
[4] Ibid.
[5] QS. Al-Furqan : 20
[6] M. Amin Abdullah, op.cit., hlm. 20-21.
[7] QS. Al-Mukmin : 78.
[8] M. Amin Abdullah, Etika dan Dialog Antar Agama: Perspektif Islam, “Dian/Interfidei”, terbitan perdana. Dan M. Amin Abdullah, op.cit., hlm. 21.
[9] Ibid., hlm. 21-22.
[10] Joachim Wach, The Comparative Study of Religions, Joseph M. Kitagawa, ed., New York and London: Columbia University Press, 1958, hlm. 54.
http://makalah-ibnu.blogspot.com/2009/06/aspek-normatif-dan-historis-dalam.html
ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِين
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم


I. PENDAHULUAN
Dalam setiap pemikiran keagamaan, tak terkecuali dalam Islam terdapat dua aspek yang berbeda. Dalam keilmuan menuntut pendekatan yang bersifat obyektif, rasional dan universal, dan hal ini lebih berorientasi pada pemikiran yang analisis-kritis. Sedang dalam kelembagaan keagamaan menuntut pada pemihakan yang bersifat partikular subyektif, dan memihak pada pandangan hidup tertentu. Dalam hal ini sulit untuk dibedakan secara tegas-proporsional, dimana wilayah “keilmuan” dan dimana wilayah “keagamaan”. Karena sifat keilmuan menuntut sikap kritis, obyektif, rasional dan menempatkan diri sebagai pengamat. Sedang lain pihak, yakni sikap keagamaan lebih menekankan pada subyektifitas, mengikuti apa adanya, menempatkan diri sebagai pelaku.
Dua hal itu sebenarnya jika dicermati terkandung dinamika yang saling memberikan manfaat bagi keduanya. Sehingga masing-masing mempunyai peran tersendiri tanpa saling mengalahkan antara yang satu terhadap yang lain.[1]


II. ASPEK NORMATIF DAN HISTORIS
Dua hal tersebut mengundang permasalahan, bagaimana hubungan sifat keilmiahan di satu pihak, dan di lain pihak Islam sebagai pandangan hidup diangkat sebagai obyek studi. Apakah Islam perlu dikaji secara ilmiah, ataukah cukup hanya diamalkan saja. Permasalahan yang lebih ekstrim lagi, mana yang lebih tepat menjadikan Islam sebagai obyek kajian ilmiah atau cukup dijadikan pedoman hidup yang tanpa perubahan dan kekurangan. Permasalahan semacam itu sebenarnya merupakan permasalahan klasik yang menjadi perdebatan pada abad tengah antara al-Ghazali dan Ibn Rusyd, yang mempertanyakan bagaimana hukumnya mempelajari filsafat. Dan Ibn Rusyd telah menjelaskan permasalahannya lewat bukunya Fasl al-Maqal, tetapi tampaknya tidak cukup mencerahkan bagi pemikiran ortodoksi keagamaan yang mulai mengkristal.[2]
Permasalahan tersebut menjadi sulit, karena sikap keagamaan yang baik untuk dapat membedakan antara aspek normatif dengan aspek historis keagamaan, terutama keagamaan Islam. Menurut Muhammad Arkoun, sejak abad 12 hingga abad 19, bahkan sampai sekarang terjadi proses sakralisasi pemikiran keagamaan, sehingga tidak ada kekurangan, yang oleh Fazlur Rahman disebut proses “ortodoksi” baik bagi Sunni maupun Syi’i. Maka terjadi proses pencampuran yang lekat antara aspek historis kekhalifahan yang normanya selalu berubah, karena produk zaman dan normativitas al-Qur’an dan keagamaan Islam yang universal. Sebenarnya keduanya dapat dibedakan, meskipun tidak dapat dipisahkan, karena memiliki hubungan yang dialektis, menyatu dalam satu kesatuan, tanpa berhenti pada suatu sisi, meninggalkan aspek historis kemanusiaan atau meninggalkan aspek normatif yang dihayati para pemeluk agama. Arkoun menjelaskan, sejak abad ke 12 hingga sekarang terjadi penepian aspek historis kemanusiaan yang selalu dalam proses dan pembentukan. Secara ontologis, dalam keagamaan Islam dapat digambarkan sebuah mata uang logam yang mempunyai dua permukaan, yaitu dalam keberagamaan Islam terdapat dua permukaan yang menyatu pada suatu kesatuan yang utuh, yakni aspek normatif dan historis. Keduanya menyatu, tidak dapat disahkan, tetapi dapat dibedakan.
Sebagai contoh, peristiwa yang disebutkan pada surat ‘Abasa ayat 1-11, tampak aspek historis kenabian Muhammad saw ketika berhadapan dengan ‘Abdullah ibn Ummi Maktum yang buta. Peristiwa historis itu tidak ada yang sakral, sebab hanyalah hubungan antar manusia saja. Kekuatan rasio manusialah yang mampu menembus aspek normatif al-Qur’an yang bersifat kepastian (fard al-‘ain) yang universal.[5] Peristiwa historis itu bentuknya dapat berganti seribu macam, sehingga persoalan khusus Nabi Muhammad saw dengan Abdullah ibn Ummi Maktum dapat pula berganti bentuk sesuai dengan situasi historis dan perkembangan ilmu pengetahuan. Tetapi, aspek normatif dan etika al-Qur’an yang bersifat kepastian, fard al-‘ain, tetap sama dari dulu sampai kapanpun, yakni kewajiban memperlakukan orang lain dalam berbagai stratifikasi sosial yang ada secara santun, demokratis, egaliter dan adil. Aspek universalitas-intelektualitas dari ajaran Islam terletak pada normativitas-etika yang mengikat semua pihak, sedang aspek partikularitas-kulturalnya terletak pada peristiwa perilaku Nabi Muhammad saw dan nabi-nabi lainnya.
Dalam keragaman Islam, terdapat dua aspek bersama-sama, yakni aspek normatif, wahyu, dan aspek historis kekhalifahan. Menurut para fuqaha’ aspek normatif adalah aspek ibadah mahdah yang ditekankan pada aspek-aspek legalitas formalitas-eksternal, sehingga kurang apresiatif terhadap dimensi esoteris, yang juga melekat pada religius imperatif yang bersifat mahdhah tersebut. Sedang aspek historis baik yang berkaitan dengan persoalan sosial, politik, budaya ekonomi, pendidikan, lingkungan hidup, kemiskinan dan sebagainya dianggap termasuk ghairu mahdhah, sehingga dikategorikan fard kifayah. Pengkategorian semacam ini berdampak dalam pemikiran demikian besar dalam tatanan pemikiran umat Islam, yakni permasalahan yang masuk dalam kategori fard kifayah kurang diminati, lantaran sudah terselesaikan lewat perwakilan beberapa kalangan saja. Sedangkan perwakilan itu sendiri tidak jelas. Jadi, jika dalam kelompok ibadah mahdhah campur tangan akal pikiran tidak diperbolehkan, maka kelompok fard kifayah inilah yang sebenarnya menumbuhkan wacana intelektual yang kritis dan obyektif. Sebab, dalam wilayah fard kifayah ini terdapat pergumulan dan wacana epistemologi keislaman yang berat, dan di sini pula membutuhkan pendekatan empiris yang obyektif dan rasional. Hal ini bisa dimengerti lantaran terikat dalam konteks waktu, ruang, historis, kultur, dan psikologi tertentu, sehingga tetap memberikan peluang untuk senantiasa didiskusikan.


III. KESIMPULAN
Dari uraian tersebut di atas, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Dalam kehidupan keagamaan, khususnya dalam pemikiran keagamaan Islam terdapat aspek normatif dan historis. Kedua aspek itu terdapat hubungan yang menyatu, tidak dapat dipisahkan, tetapi dapat dibedakan.
2. Aspek normatif, wahyu, harus diterima sebagaimana adanya, mengikat semua pihak, dan berlaku universal. Sedang aspek historis kekhalifahan, senantiasa dapat berubah, menerima diskusi, karena produk zaman tertentu, dan bukan hal yang sakral.
3. Diperlukan ketajaman untuk memahami mana aspek normatif dan mana yang aspek historis, sehingga tidak tercampuradukkan antara keduanya.
http://alhazzku.blogspot.com/
ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِين
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِين
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Nama : Dedi Wahyudi
No Absen / NIM : 15 / 08410153
Dosen : Suwadi, M.Ag
Kelas : PAI 4A
Prodi / Jurusan : Pendidikan Agama Islam / Tarbiyah
Tugas : Pengantar Studi Islam

Studi Ceramah Agama
Islam sebagai wahyu yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW sebagai pedoman untuk kebahagiaan hidup. Wahyu itu berupa Al-Qur’an dan Al hadist. Al-Qur’an adalah sumber dari segala ilmu. Apakah semua yang tertulis didalamnya benar atau tidak?
Sebagai seorang muslim terpelajar hendaknya kita melakukan studi terhadap fenomena-fenomena yang ada disekitar kita mengenai islam dan penyebaran (penyampaiannya). Disini penulis mencoba untuk melakukan studi terhadap metode ceramah yang mana Al-Qur’an disampaikan secara Normatif maupun Historis. Seperti yang digambarkan dalam bagan berikut ini


Penulis pada hari Minggu, 15 September 2008 pukul 17.15 (saat menanti solat tarawih) di Masjid Safinatunnajah, SD Muhammadyah Sapen mecoba untuk melakukan studi metode ceramah (penyampaian) ayat-ayat Al-Qur’an secara Normatif atau Historis.
Penceramah pada kesempatan itu adalah bapak Ahmad Rifa’I, S. Ag menurut pandangan penulis, beliau menyampaikan isi ceramahnya dengan sangat baik serta memakai metode Historis yaitu dimana isi ceramahnya sudah dihubungkan dengan metode menafsirkan ayat Al-Qur’an yang dihubungkan dalam kehidupan sehari-hari beliau mengangkat tema ”Peran pemuda dalam Islam”. Dijelaskan bahwa pemuda adalah mempunyai peran yang sangat besar dalam Islam misalnya dimulai degan sumpah pemuda hingga banyak pemuda islam (Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga) yang menjadi Takmir Masjid, Guru TPA, dll.
Beliau juga mencontohkan bahwa bapak Saijah, Kepala sekolah SD Muhammadiyah Sapen, dahulunya adalah seorang pemuda Islam yang tekun dan pantang menyerah hingga akhirnya beliau dapat menyandang gelar sebagai juara dalam lomba kepala sekolah nasional.
Sang penceramah dalam menyampaikan ayat-ayat Al-Qur’an berdasarkan apa yang sedang terjadi dijaman ini dan beliau juga melengkapi ceramahnya dengan syair-syair yang merdu dan sesuai dengan semangat pemuda Islam.
Menurut saya dengan metode penayampainya dalam model Historis (melihat perilaku manusia jaman sekarang) dalam menyampaikan ayat Al-Qur’an.

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِين
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

http://www.detikinet.com/read/2008/10/25/115613/1025789/455/syekh-puji-miliarder-dengan-ponsel-tua
Syekh Puji, Miliarder dengan Ponsel Tua
Triono Wahyu Sudibyo - detikinet
Syekh Puji (detikcom)
Jakarta - Syekh Puji, kiai yang juga miliarder itu mengoleksi beberapa mobil mewah keluaran terbaru. Tapi soal ponsel, gayanya agak nyeleneh. Ponselnya sangat ketinggalan zaman.
Alat komunikasi lelaki berjenggot itu lebih sering berada di saku. Jarang ditaruh di hadapan orang lain, sehingga tak banyak yang tahu jenis ponselnya.
Saat wawancara dengan wartawan, ponselnya berdering. Setelah melihat layar, ia tekan tombol cancel dan memasukkan kembali ponselnya ke saku.
Ponsel Syekh Puji boleh dibilang sangat tua, Nokia seri 1112. Sangat 'aneh' untuk ukuran seorang miliarder. Seri ini tak mempunyai fasilitas istimewa selain untuk telepon dan sms.
Wartawan tak sempat menanyakan kenapa dia memakai ponsel yang di pasaran harganya kurang lebih Rp 200-300 ribu itu. Namun untuk beberapa hal, dia memang cuek. Termasuk soal ponsel.
Beberapa hari terakhir, pengusaha kaligrafi dari kuningan itu ramai dibicarakan, karena menikahi gadis berusia 12 tahun. Rencananya, gadis itu dipersiapkan sebagai General Manager (GM) PT Sinar Lendoh Terang (PT Silenter).
"Saya tidak tahu pernikahan saya jadi pro kontra, karena saya tak pernah melihat TV dan baca koran. Tahu-tahu saya ditelepon orang yang mengaku dari Komnas HAM dan perempuan atau apa gitu," kata Syekh Puji sambil tersenyum enteng. ( gah / fyk )

http://news.okezone.com/index.php/ReadStory/2008/10/29/1/158851/syekh-puji-tetap-ingin-nikahi-lutfiana
Syekh Puji Tetap Ingin Nikahi Lutfiana
AMBARAWA - Meskipun Syekh Puji sudah menyatakan akan mengembalikan Lutfiana Ulfa kepada orang tuanya, namun permohonan dispensasi nikah yang dimasukkan ke Pengadilan Agama (PA) Ambarwa belum dicabut.
Sidang dispensasi nikah ini, rencananya akan dimulai 5 November mendatang. Penasihat Hukum keluarga Syekh Puji, Sedyo Prayogo membenarkan hal ini. Menurut dia, pihaknya masih menunggu proses dispensasi yang telah diajukan pada 29 September lalu. Beberapa persyaratan untuk melengkapi berkas pengajuan juga sedang diupayakan.
Saat disinggung mengenai niat Syekh Puji yang akan membatalkan pernikahan dan mengembalikan Ulfa ke orang tuanya, Sedyo menyatakan bahwa dalam hal ini pernikahan yang dibatalkan adalah pernikahan siri. Sebab, secara aturan negara, Syekh Puji memang belum menikah dengan Ulfa.
"Kami masih menunggu proses dispensasi tersebut. Apabila dikabulkan, maka akan dilangsungkan pernikahan secara resmi antara Syekh Puji dengan Lutfiana Ulfa," kata Sedyo Prayogo, di Ambarawa, Jawa Tengah, Rabu (29/10/2009).
Dia menambahkan, upaya menikah secara resmi yang kini terus diupayakan bukan tanpa alasan. Menurut Sedyo, dalam hal ini kondisi psikis dan nasib Ulfa juga harus diperhatikan. Sebab, meskipun sudah dikembalikan ke orang tuanya, bukan berarti permasalahan selesai.
"Nasib Ulfa akan semakin tidak menentu, dikatakan sudah menikah tapi diprotes berbagai kalangan. Dikatakan belum menikah, namun nyatanya sudah menikah, meskipun secara agama," lanjutnya.
Sedyo juga meminta kepada pihak-pihak yang menentang pernikahan kliennya tidak hanya mengeluarkan kata-kata penolakan saja. Akan tetapi, juga harus dapat memberikan solusi bagi nasib Ulfa di kemudian hari, setelah pernikahannya dengan Syekh Puji dibatalkan.
(Sundoyo/Sindo/ful)

http://indonesiabreakingnewsonline.blogspot.com/2008/10/syekh-puji-mencoreng-muka-umat-islam-di.html
Syekh Puji Mencoreng Muka Umat Islam di Indonesia !

Syekh Mesum Nikahi Anak Di bawah umur
Tidak Hanya Satu, Tapi Tiga Sekaligus
Pujiono Cahyo Widiyanto kembali membuat kejutan. Dulu ia bikin heboh dengan memberikan bantuan langsung Rp 1,3 miliar, kepada warga Bedono, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang. Kini Pujianto yang bergelar Syekh Puji kembali memberi kejutan dengan menikahi gadis berusia 12 tahun.
Gadis belia yang dijadikan istri kedua oleh sang kiai ini bernama Lufiana Ulfa. Ulfa baru lulus SD dan baru beberapa bulan jadi siswi SMP. Dari keterangan warga, Syekh Puji diketahui telah menikahi Ulfa secara siri. Orangtua Ulfa, Suroso dan Siti Hurairah serta adik-adiknya kini sudah tinggal di lingkungan Ponpes Miftakhul Jannah di Semarang milik Syekh Puji. Sementara rumahnya yang terletak di Desa Randugunting, Bergas, Kabupaten Semarang, belakangan terlihat sepi. Ikhwal pernikahan Syekh Puji tersebut, awalnya merebak di kalangan santri maupun masyarakat di sekitar ponpes Miftahul Jannah, milik Syekh Puji. Bahkan menurut keterangan warga sempat, Syekh Puji sempat menyumbang Rp 30 juta usai acara pernikahan siri dengan Ulfa.
Namun menurut Syekh Puji, pernikahannya dengan Ulfa belum pernah terjadi. Tapi baru sebatas rencana. Namun soal waktunya, pria brewok berusia 43 tahun tersebut enggan menjelaskan. Ia hanya menyebut dalam waktu dekat atau dalam minggu-minggu ini.
Hebatnya lagi, ternyata yang ingin dinikahi Syekh Puji bukan Ulfa seorang. Sebab ia mengaku masih ada dua gadis belia lainnya yang akan ia nikahi. Namun untuk saat ini masih merahasiakan nama dua gadis tersebut. "Kalau Ulfa umurnya 11 tahun. Kalau gadis yang lain ada yang umurnya 9 tahun dan satu lagi 7 tahun," jelas Syekh Puji kepada detikcom.
Syekh Puji punya alasannya tersendiri kenapa ia ingin menikahi gadis-gadis belia tersebut. Selain dirinya memang suka dengan yang kecil, alasan lainnya supaya ia bisa dengan mudah mendidik (istri) supaya menjadi orang hebat. Sebab katanya lagi, ketiga kandidat istri ciliknya tersebut bakal mengurusi sejumlah perusahaan yang ia miliki.
Namun bagi Seto Mulyadi dari Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), tindakan Syekh Puji telah melanggar hak anak. Ia menduga pernikahan tersebut lebih cenderung karena desakan orangtua. Sebab anak-anak seusia Ulfa dianggap belum punya sikap mandiri melainkan masih dipengaruhi sikap orangtua.
"Saya kira pernikahan tersebut demi kepentingan terbaik orang tuanya. Katakanlah untuk masalah kesulitan ekonomi, dikaitkan dengan utang piutang, banyak terjadi di desa-desa. Umumnya demikian, motif ekonomi," kata Kak Seto, panggilan akrab Seto Mulyadi.
Ia juga menuding pernikahan Syekh Puji merupakan bentuk perdagangan anak dan bisa mengarah kepada eksploitasi dan kekerasan ekonomi. Untuk itu Syekh Puji bisa dijerat Pasal 74 - 90 UU No 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak. Selain melanggar UU Perlindungan Anak, Syekh Puji juga bisa dijerat Pasal 288 KUHP karena menikahi anak di bawah umur. Dalam pasal tersebut dinyatakan, barangsiapa dalam perkawinan bersetubuh dengan seorang wanita yang diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya bahwa yang bersangkutan belum waktunya untuk dikawin. apabila perbuatan itu mengakibatkan luka-luka diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun.
"Jadi dia (Syekh Puji) bisa dijerat KUHP dan bisa diganjar hukuman maksimal 4 tahun penjara. Selain itu orang tua juga bisa kena jerat," jelas Rudi Satrio Mukantardjo, ahli hukum pidana Universitas Indonesia (UI) saat dihubungi detikcom. Lantas bagaimana kasus Syekh Puji bila dilihat dari sudut pandang agama Islam? Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Umar Shihab mengatakan, dalam UU Pernikahan disebutkan, pernikahan dengan anak berumur 12 tahun tidak sah. Sebab dalam UU tersebut, batas minimum usia menikah perempuan adalah 16 tahun. Dan UU Perkawinan tersebut mengadopsi atau berlandaskan hukum-hukum Islam.
Adapun tentang perkawinan siri, Umar Shihab menjelaskan, pernikahan tersebut memang dikenal di agama Islam. Tapi pernikahan siri tersebut yang disalahgunakan. Untuk itu Umar meminta para tokoh agama untuk memberikan contoh yang baik. "MUI minta supaya masyarakat taat pada aturan agama dan negara," tegas Umar.
Adapun Kiai Husein Muhammad yang saat ini menjabat komisioner Komnas Perempuan mengatakan, sebenarnya Islam tidak memperbolehkan pernikahan di bawah umur dan nikah siri. Sebab pernikahan tersebut merugikan kaum perempuan. "Tidak boleh terjadi di bawah umur dan nikah siri. Islam melarangnya," jelas Kiai Husein Muhammad.
Husein juga menegaskan kalau dirinya, tidak bisa menerima alasan yang mengatasnamakan Islam dalam kasus pernikahan Syekh Puji dengan gadis berusia 12 tahun. Pernikahan siri, kata Husein, sangat bertentangan dengan ajaran Islam. "Karena dalam Islam itu justru harus melindungi perempuan. Kalau nikah siri, malah merugikan bukan melindungi," katanya.
Sayangnya Syekh Puji tetap ngotot dengan keinginannya. Menurutnya, semua yang dilakukan berlandaskan agama. Jadi ia merasa langkah yang diambilnya tidak bermasalah.
Deden Gunawan - detikNews

http://www.detiknews.com/read/2008/10/24/175113/1025599/10/syekh-puji-rela-anaknya-nikah-muda
Syekh Puji Rela Anaknya Nikah Muda
Semarang - Syekh Puji menikahi anak kecil dan menjaring 21 kandidat. Bagaimana jika anak Syekh Puji diperlukakan seperti itu? "Silakan saja," katanya.
Demikian pernyataan Syekh Puji kepada wartawan di rumahnya yang berada di kompleks Ponpes Miftahul Jannah, Desa Bedono, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang, Jumat (24/10/2008).
Saat menemui wartawan Syekh Puji sempat menunjukkan foto istri pertama dan anaknya yang menginjak remaja. Karena foto tersebut berada di dinding yang tinggi, Syekh Puji sampai harus berdiri di atas kursi untuk menjelaskan foto tersebut.
"Itu foto istri saya, anak saya, dan tengah itu saya sendiri," katanya seolah tiap orang yang hadir tidak tahu foto tersebut. Bagaimana kalau anak Syekh Puji nikah dini? "Ya, nggak apa-apa. Baru berumur 3 tahun pun sah-sah saja (kalau dinikahkan)," katanya enteng.
Di dinding rumah Syekh Puji yang separo 'bertembok' kayu itu, sejumlah foto keluarga dan aktivitas dipampang. Selain itu, terlihat juga rak-rak berisi buku agama, manajemen, dan biografi sejumlah tokoh penting Indonesia.
(try/djo

http://masbadar.wordpress.com/2008/10/23/masbadar-tentang-syekh-puji-yang-menikahi-gadis-berusia-12-tahun/
masbadar tentang Syekh Puji yang menikahi gadis berusia 12 tahun
Ditulis oleh masbadar di/pada 23 Oktober 2008
Ada berita menarik di harian Jawa Pos online tentang seorang pengusaha muslim bernama syeh puji. Konon ia dikenal sebagai pembuat sensasi. Dulu ia suka membagi-bagikan kan zakat hingga milyaran rupiah, berbeda dengan taipan muslim lain yang menggelar acara pembagian zakat namun malah menebar maut dan berujung di kantor polisi, syeikh puji terbilang sukses dengan event sosialnya.
Kali ini Syeh Puji membuat sensasi baru dengan menikahi anak di bawah umur, ah sangat sensasional. Beragam komentar dan respon pembaca berita, pendengar, pemirsa dan masyarakat tentunya tentang hal tersebut.
Saya tidak ada hubungan apapun dengan orang ini, menulis dan membahas tentang sepak terjangnya hanya akan menguntungkannya saja, makin sensasional berita tentang perilakunya, makin jadi seleb-lah ia, dan pada akhirnya adalah keuntungan bisnis yang besar.
Demikian juga dengan puspo wardoyo, konon malah jika isu dan kontroversi poligami kian meredup, ia akan bersedia membayar orang untuk mendemo perilaku dan sepak terjangnya. Yah, sensasi memang sangat fenomenal menjadi iklan bisnis.
Bagi saya membagikan zakat secara terang-terangan, tentu saja sah-saja. Masalah kesan pamer dan tidak ikhlas, bukan urusan kita, itu urusan ia dan Allah tentunya. Untung para penyebar zakat tersebut tidak menuduh balik; kesan iri dan hasad para tukang komentar.
Saya sendiri bersyukur jika proses pembagian shodaqoh berjalan lancar, terkordinasi dgn aparat sehingga bisa maksimal yang imbasnya adalah menolong masyarakat dan kaum dhuafa serta meringankan beban pemerintah.
Sementara isu poligami dan menikahi wanita yg terkesan di bawah umur, (di bawah umur, maksudnya umur usia pernikahan sesuai aturan depag) itu adalah urusan yang sah-sah saja.
Poligami tentu saja sah dan baik, karena ada di al qur’an maka tentu saja baik bahkan baik sekali, telah banyak dikaji dari sisi apapun.
Menikahi wanita yang secara umur berusia 12 tahun, itupun sah-sah saja, asalkan ia telah mencapai usia baligh, mendapat haidh, serta ada persetujuan wali dan sebagainya dan sebagainya tentang persyaratan menikah sebagaimana mestinya.
Adalah wajar pemberitaan ttg hal tersebut merebak dan terjadi pro-kontra di tengah masyarakat yang lebih menyukai acara entertainmen ketimbang isu edukasi dan kekeluargaan.
Lepas dari itu semua, selalu ada peluang bagi orang-orang sukses macam Syeh Puji dan Puspo Wardoyo untuk dituai dalam kondisi masyarakat seperti ini.
sumber: http://www.jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&nid=3060
Tanggapan ke “masbadar tentang Syekh Puji yang menikahi gadis berusia 12 tahun”
1. Tapi klo cuma buat sensasi biar tenar mending ga usah…
2. Tapi, tentunya kita tak harus menutup mata kalau ada hal-2 yang di luar pakem yang dilakukan oleh tokoh tersebut. Apalagi membawa-bawa gelar yang sudah lazim berhubungan dengan agama Islam. Sikap kritis saya kira perlu kalau kita melihat akhlak dan perilaku sesorang.
Jadi kita tak menjadi taklid atau takut mengucapkan kebenaran secara proporsional meskipun sesorang otu ngakunya kiai dan zakatnya gede. Termasuk dalam urusan syahwat ini, di negeri ini ada aturan negara yang menyangkut nilai etis dan moral yang harus ditegakkan.
Gimana kalau tindakan kiai tersebut hanya kedok semata sedangkan ia sebenarnya Phedopilia? Jangan terkecoh dengan kekayaannya apalagi gelarnya yang entah siapa yang memberikannya.
Jadi tegakkan kebenaran dengan kenyataan hari ini bukan dengan romantisme keagamaan masa lalu, dan kebenaran tidak memihak kecuali kepada kebenaran itus endiri. Jika tidak berani maka kita semua adalah pelanggar sunnatullah (sikap dan tindakan kita tidak sesuai dengan ruang waktu dan zamannya).
Jadi jangan takut berkomentar jika nurani anda terusik atas tindakan okunum yang mengaku “kiai” apalagi menyetujui secara halus. Gunakanlah pikrian dengan lurus dan jernih untuk menilai secara proporsional. Kasus ini bagi saya benar-2 menyangkut nilai etis dan moral dari suatu keyakinan yang disebut Islam.
Dan ini kalau memang perlu dikoreksi dan ditelaah ya harus dilakukan sebelum berkembang menjadi wabah mengerikan dimana “dunia pesantren dan perkiaian akan menjadi sekedar kedok belaka bagi gelora syahwat manusia2 fasik yang secara psikologis mungkin sakit jiwanya.
——————
masbadar: wah, wah, mudah-mudahan tim pesantren dari syeh tersebut membaca opini anda ini. Tapi ngomong2, tidakkah anda terlalu serius menanggapi tindakan pak kiai tersebut? Kalo ia sakit jiwa, manalah mungkin ia bisa memiliki sekian perusahaan yang tentunya perusahaan itu berbadan hukum dan ada akta yang tidak bisa dibikin oleh orang yang telah dinyatakan sakit jiwa. Hati-hati lho sampeyan,
3.Astaghfirulloh,smoga qt smua trhindar dari penyakit hasud dan iri.amien.
Marilah kawan” kita semua kmbali hukum Allah Swt yg telah membuat ketetapan hukum secara sempurna.Kita semua nantinya akan kembali pada-Nya,jadi apakah pantas kalau kita menelentarkan hukum2-Nya dan malah kita menganut hukum2 yg dbuat oleh makhluknya (Manusia-red).
Fenomena syekh Puji ini seharusnya tidak pantas utk djadikan isu yg kontroversial,kalau toh kita semua(Orang2 Indonesia)mampu memahami ayat2 Kitabulloh.Karena didalamnya,telah menjelaskan tentang aturan2 perkawinan yg sedikit banyak telah duraikan Masbadar diatas.Adapun maksud dan niat dari Syekh tersebut,seharusnya kita tidak usah menerka-nerka,karena akan membuat diri kita menjadi “Su’udzan”.Biarlah maksud dan niat itu menjadi urusan dia dan Alloh besuk dakherat.Dalam syareat Islam pun sudah djelaskan bahwasanya Islam menganjurkan supaya kita menghukumi sesuatu itu dilihat dari dzahirnya bukan batin (menurut syareat).Adapun urusan batin itu adalah urusan Allah SWT.Ini semua supaya kita terhindar dari “suudzan”.
Sekian komentar saya dan kurang lebihnya al’afwu minkum.
4.pernikahan muhammad-aisyah yang pada waktu itu baru berusia 7th memang membuat ulama (dan penganut) islam masa kini “kesulitan untuk mencari pembenarannya”. menurut standar modern (barat), tindakan tersebut dikategorikan sebagai pedophilia yang merupakan “kejahatan serius”. sekarang atas dasar ’sunah nabi’, ada ‘kiai’ pedophil yang menggunakan ‘kasus aisyah’ sebagai pembenarannya. Ini tentu membuat politisi (dari partai islam) dan ulama islam menjadi “ribet”. Namun begitu hilman rosyad wakil dpr dari PKS (dengan gagah berani) membenarkan pernikahan itu atas dasar agama (islam).
Ribet memang… kalo pakai akal sehat dan nurani, kebanyakan ya nggak setuju. tapi kalo nggak setuju dan mencela tindakan tersebut ntar dibilang mencela muhammad…. kan jadi repot. Makanya sekarang politisi dan ulama islam banyak yang bungkam, enggak berani komentar… PKS sudah jelas mendukung ruu pornografi… apa sekarang juga mendukung pedophilia? amit-amit deh…:)
5.Saya setuju anda mengatakan ingin membuat sensasi, semakin dikoment semakin bangga.
lama-lama jadi blunder karena keblinger, kita lihat dahulu bagaimana Puspo Wardoyo bangga dengan Polygaminya, kendati agam menyetujui, semua isterinya diberi usaha mengelola Ayam Bakar Wong Solo.
Pelan-pelan usaha ayam bakarnya tutup satu persatu yg di surabaya, sidoarjo, entah dikota lainnya.
Kebanggaan yang menjadikan takabur ada saatnya akan terkubur.
Saya kira menjalani hidup yang wajar2 saja akan lebih berhikmat.
6.Setelah baca di Jawa Post , saya sangat terheran2, kenapa ? karena alasannya yang tak sangan masuk akal ,karena sebagai pemimpin perusahannya dimana di butukan orang yang sangat cerdas .
Dimana jalan pikiran pak kiai Puji terinspirasi dari buku yang telah dibacanya ,yang intinya menerangkan kalau kita ingin mempunyai seseorang yang andal ,dimana kita harus melatihnya belajar dari awal/muda , dan kenapa karena umur yang muda intinya daya tangkap kita pada sesuatu masih lah sangat fress .
Apakah sang ki ai pernah berpikir , apakah si istri ini yang sangat muda ini sudah siap , karena anak seumur 12th masih banyak hal yang seharusnya dia dapatkan , contohnya bersoasialisasi dengan anak sebayanya .
kalau saya ibaratkan si kiai pintar2 bodoh , kenapa karena pola pikirannya terlalu kerdil , tentu aja ada tujuan lain di balik semua yang dia lakukan .
sekian
dari saya yang terheran-heran
Soledad-bali
7.Wajar-wajar saja kok…
Kenapa mesti dipersoalkan??
Orang selingkuh kok tidak dipersoalkan???
8.Tapi MUI melarang lho doi menikahi anak 12 tahun itu…
Memang benar deh ada semacam anggapan mengenai perbedaan poligami jaman nabi dan jaman sekarang. kalo jaman nabi poligami diperuntukan untuk menolong janda yg miskin, perempuan yg teraniaya, dan dalam rangka menebar dakwah. sementara poligami jaman sekarang selama ada uang, bisa aja dipilih perempuan yang lebih muda, montok, dan cantik dibandingkan istri pertamanya…
9.dalam ilmu komunikasi ada istilah bad news is good news
Mungkin semakin banyak berita miring ttg dirinya, sebaliknya malah semakin menaikkan popularitasnya
10.aturan depag buat cewek, kawin usia 16 tahun bukannya ? kalo 12 tahun sih, ilegal …
11.Menikah secara resmi,…. heboh… yang sembunyi2… aja gak heboh… orang kita nih suka yg aneh….. tp… bisa jadi seperti Aa Gym lho pak kyai Puji…. dia menikahi janda aja…. semua kegiatan jadi runyam.. bahkan merugi dan yang rugi adalah karyawan2nya.. kasihan juga yang lain… coba dipikir dulu pak….. misalnya dipesan aja… anak ini baik, sholeh, cantik…. didik yang baik.. baru setelah umurnya pas bisa dikawinkan… seperti raja-raja dulu…. disiapkan… bukan asal kawin saja pak…. bagaimana ?
12.tapi diya udah punya istrikan? mungkin dya punya alasan2 tertentu
13.wah..susah kalo dasr agama diterapkan tidak berdasarkan konteks saat itu (zamannya nabi)..terserah sih, gw bukan islam, dan gw gak mau membawa isu ini ke SARA, dan kalo dibawa ke konteks saat ini menurut gw, orang tua si anak egois, juga pak syeks puji juga egois, karena anak sekecil itu belum bisa memutuskan apa sih yang dia mau (mungkin juga tidak berani memberontak keinginan untuk dikawinkan karena takut ama orang tua) wong cita2 kita waktu kecil ama cita2 waktu sekarang aja banyak yang berubah kok (itu akibat belum bisa menentukan arah hidup dia, makanya perlu bimbingan orang tua dan agama).
sekarang sebagai perbandinga begini aja, misalkan anda sebagai kaum perempuan, trus ada orang kaya tiba2 datang melamar anda, padahal anda gak suka sama dia, mungkin sebagian besar wanita akan menolak (terlepas matre or gaknya sebagian wanita), anda sudah berani berkata tidak, nah coba bayangkan kalo anak kecil menghadapi kondisi yang sama, wah..dia gak bisa berbuat apa wong takut dimarahin ortu dia nanti…itu makanya ditetapkan standar minial wanita boleh menikah oleh depag, dengan asumsi dia telah dewasa dan telah mampu dengan sadar memutuskan apa yang terbaik buat hidup dia…
salam
14.perlu diwaspadai… siapa sebenarnya syekh puji itu..!!!!
15.Kalo berdasarkan ilmu kesehatan, wanita umur segitu itu belum matang secara seksual, apalagi kalo untuk mengandung, waduh resikonya besar sekali karena alat-alat reproduksinya juga belum sempurna. Jadi kalo pa haji punya nurani mah, ga usyah cari anak kecil lah, kasian, apalagi sekarang katanya lagi niat nyari yang umur 7 dan 10 tahun ! Astagfiraullah…gimana ya kalo anak perempuan pa haji nyang umur 7 tahun dinikahi oleh aki-aki ?
16.menurut saya, lebih ke kelainan seksual daripada cari sensasi
17.Wah…wah,makin hangat jah y.Sebenarnya ini gmn seh,ada org yg sudah nikah baik2 dan sudah memenuhi syarat2 pernikahan dalam islam,tp ko dkritik truz.Mbokyoho qita2 ini sekali-kali juga mengkritik para selebritis atau mungkin para pejabat yg kumpul kebo,atau yg mgkin suka maen perempuan atau mungkin yg suka clubing.Qt brani g yah mengkritik mereka,tp yg terang2an kyak gni loh,sampe rame bget gt.
18.Salam
Gw sepakat dengan cara pandang lu, soal sensasi yang ngomong kan khalayak sapa tahu tuh kiyai ga maksud ke sana, soal niat dan hati cuma doi dan Tuhan yang tahu.
So nurut gw sah2 aja asal terpenuhi syarat dan rukun nikah,poligami juga, ga masalah, ga dosa kali, kayak gini kok diprotes perzinaan dan pelacuran tampak di depan mata kok pada mingkem.
*sigh*
19.Kita tidak bisa memvonis hanya Allah hakim yang paling adil….di dunia dan akhirat.
20.Dan saya mau bilang… semoga ini memang demi kebaikan dunia dan akhirat….
21.Hehe…MUI mencak-mencak ya? padahal dah sesuai kan dengan hukum islam? hukum islam memang tak selamanya bisa sesuai dengan zaman…
makanya perlu ada pembaharuan…
jaman dulu juga boleh lho punya gundik (budak) banyak-banyak. macam syih puji ini kalo ada pasar budak pasti punya banyak budak…dan itu kan sah secara islam. jadi segala sesuatu jangan dilihat sah atau tidaknya dalam hukum islam klasik dong…
22.Masak itu sesuai dengan ajaran agama Islam sih
dalam Islam diajarkan untuk patuh pada pemimpin negara selama tidak maksiat
dan di negara kita ada uu perkawinan yang mengatur usia minimal pernikahan
ndak setuju kalau bawa2 nama Islam buat pernikahan yang melanggar UU ini
23.Apa bisa nafsu ya ma nak umur 12
24.Kembalikan saja ke hati nurani….kembalikan ke yang namanya rasa…
mampukah..tegakah..patutkah ber”malam pertama” dengan anak umur 12 tahun ?
yang lebih muda dari anak kita sendiri…..
mungkin lebih baik dia tunangan dengan si kecil…
setelah cukup umur baru di nikahi….
saya yakin nabi pun dulu begitu…
25.Dimas.Ini negara NKRI ….. tolong aparatnya menegakkan hukum sebagai mana mestinya. Tanpa pandang bulu.
26.Inilah indonesia raya. zina dibanggakan. ada orang menikah malah dicela!
27.Menurut aku sih gak masalah. aku setuju dengan wakil dari PKS.
umpama syeh puji agak cakep gitu aku mau jadi istri ke 3 ha2…
sayang usiaku gak masuk kriteria syeh. hu2…
28.Aduh syeh…
Kenapa juga sama yg umur segitu…yang diatas 30-an juga masih banyak yg jombloh…..
lagi2,jangan mengatas namakan agama dungs…bahasanya dah mentah banget tuh…!
29.Gak ada kelaian tentang itu, yang ada kelainan adalah yang suka ngeseks di luar nikah, and selingkuh, gitu aja kok repot.
30.Kayaknya koq semakin banyak ya yg memicu orang tuh mengekspose sisi pribadi nabi, ada apa ini? be carefull waspada. Banyak sekali hal positif dari nabi yang masih bisa di terapkan di tengah kebobrokan umat, kenapa koq cuma yang sensasional aja sih… kapan majunya kita
31.Cantik emang si ulfa, tp si puji nya juga ga kalah cakep lha..tajir pula.
secara gitu lhoo..pasangan paling ideal thn 2008 menurut majalah arab Al-Pedopilo.
32.kasiman banget niy anak…tapi klw dia nikahnya minimal pas umur 16 tahun ya gak ada masalah gak ada yg ributin.
Buat Syekh Pujiono :
1. Klw sudah berani bilang ikut ajaran nabi, Mbok ya 100% tingkah laku dan perilaku nabi juga diikutin pak, sanggup ??? jangan setengah2 gitu…
2. Klw mau ikut nabi, kok bukan Janda aja yg dinikahin juga Syekh ? ?
3. Baca di kompas.com, kata temen SMP anda memang dari muda anda doyan perempuan, bener gak tuh…keknya bener…
4. sampe setua itu kok baru punya istri 1 yg umurnya 26 tahun…?? aneh…
5. Kok tega sih mau kawinin anak 12, 9 dan 7 tahun….kok T***t bapak doyannya yg muda2, pedo yah ? berlindung dibalik agama lagih…kambing sebelah rumah juga masih muda tuh pak ? mau gak ??
6. Katanya Anda menyeleksi si calon “Korban” eh calon istri…gak bikin reality show aja Oom trs ditayangin di Indosiar…Duh..serasa udah jadi Raja aja…ingat pak, diatas langit ada langit dibawah tanah masih ada tanah (kuburan).
7. Boss…Polisi akan bertindak, tunggu saja Boss…Anda udah melanggar UU perkawinan, UUPA, UU KDRT, & KUHP.
8. Liat liputan situ pagi ini di RCTI kesel banget ngeliatnya…keknya ente belagu banget…sepa gituh ! emang pantes jadi “syekh”
9. Pengen tanya donk pak : “yang kasih sebutan Syekh itu situ sendiri atau ulama2 yg laen ? Baca di kompas Ulama-2 di semarang gak ada yg mengakui klw situ Syekh…malah katanya pemuka agama gak akan melakukan tindakan itu…
10. **** you pedo !! Ganyang !!!
hidup di hutan harus ikut aturan hukum hutan, hidup di arab musti ikut aturan hukum arab..hidup di indonesia musti ikut aturan hukum indonesia…Indonesia tempat makan, minum, boker, punya KTP…kok gak mau ikut aturan hukum sini…
———————-
masbadar: waduh, pagi-pagi udah ada anak kaskus yang nyasar dan marah-marah di sini
33.akan lebih baik jika menikahi gadis yang cukup umur. apa yg terjadi ini mengingatkan cerita tempoe doeloe (sebelum th.60an) bhw sudah biasa nikahi gadis skitar umur 9 th. yang paling lucu stelah jadi penganten si gadis malah ikut main petak umpet dg teman sebayanya. Sang suami dg sabar menanti sampai si gadis benar2 mengerti sebagai istri.
34.Hal2 yg tidak lumrah menurut orang banyak sebaiknya tidak dilegalkan. Jangan karena punya status tertentu dalam masyarakat, lalu tindakannya dianggap benar.
35.Adakah hikmah dibalik akan dieksekusinya Amrozi cs dengan pernikahan (amat sangat)dini Syekh Puji karamullah wahjah? tentu saja ada.
36.Anak perawannya mau, orang tuanya setuju, Syekh Puji juga siap bertanggung-jawab dunia akhirat, Syari’at Islam membolehkan, nikahnya sah menurut Hukum Allah (bukan hukum manusia).
Karena pengaruh perkembangan zaman, makanan dan minuman kaya gizi, maraknya pornografi yang seakan dilegalkan oleh Pemerintah, dll membuat tidak sedikit anak perawan sekarang bahkan di bawah 10 tahun sudah pada haidl, kelakuannya centil-centil, sudah tau apa itu sex, banyak terlibat pergaulan bebas dan sex bebas, terlibat narkoba dll, tidak sedikit anak-anak sekarang yang sudah dewasa sebelum waktunya, perawan haidl sebelum waktunya, terperosok ke lembah kemaksiatan dll.
Barangkali orang tua si perawan tsb kuatir melihat perkembangan anaknya, kuatir terlibat pada pengaruh negatif dalam pergaulan, apa salahnya untuk menghindari dosa-dosa besar sebagaimana sering dialami anak-anak remaja sekarang, orang tua perawan tsb mau menerima lamaran Syekh Puji. Daripada menanggung dosa lebih baik dikawinkan. Yang penting anaknya mau, orang tuanya setuju dan meridhai, ada 2 orang saksi, sah berdasarkan Hukum Allah (bukan hukum manusia), Syekh Puji siap bertanggung-jawab dunia akhirat, apanya yang salah?
Kenapa kok malah kita-kita yang pada ribet dan pusing sendiri? Santai saja Bro. Hehehe…..
Urusan halal dan sah kok ribet, sementara urusan haram banyak yang pada bungkem. Aya-aya wae…..
—————-
masbadar: “That’s right Brother, itu baru relevan dan signifikan..!” kata Jarwo Kuat…
wahyu Berkata:
27 Oktober 2008 pada 2:04 pm
untuk ANTO yang mudah2an seorang muslim,
kalau bukan dengan agama, dengan apa lagi kita bisa mendasarkan suatu perbuatan.. hah?!
dengan otak yang terbatas ini? yang bisa disetir kemanapun nafsu dan akal mau. apalagi kalau dengki sudah ikut berkolaborasi.
hati-hati Anto, jangan-jangan kamu ini hanya “IRI TANDA TAK MAMPU” ke syekh puji itu.
jangan-jangan lalu menyerang PKS partaiku, kamu! itu namanya pengalihan tema, broer!!
37.moga diberi petunjuk.image islam terkesan miring,waspadaLAH!
38.Wkekekeke(ketawa).Piss smw bro.Beda cara pandang pstilah beda juga pendapat Qt.Mga smua ini membawa rahmat.Amin.Al-khilafu baina ummati rohmatun.
39.ah, memang boleh berpoligami, jadi monggo aja, pesannya kan harus adil, kalau tidak mampu adil, justru neraka ganjarannya, jadi inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Tapi kalau suami saya yang poligami, no way lah ya, pilih dia, atau aku, gitu aja… Wanita masih punya daya untuk menentukan jalan hidupnya, sekarang kan banyak wanita yang bekerja, meski cuma jualan kue di pasar, ada ibu yang berhasil membesarkan anak-anaknya sehingga jadi sarjana sampai 4 orang.
Yang dibicarakan disini, selain poligami, tetapi juga menikah dengan gadis di bawah umur, di mana organ2 vitalnya belum siap untuk dipakai ‘kawin’. Jangan dibandingkan dengan gadis 12 tahun nya Arab, mereka memang badannya lebih besar, kalau di Indonesia kan 12 tahun masih anak-anak banget.
Selain itu, masalah usia Aisyah waktu dinikah rasullullah juga masih jadi perdebatan, karena bersumber dari seseorang yang tidak bisa dipercaya, dan diberitakan mengalami kemunduran berfikir. Yang saya tahu, info usia menikahnya Rasulullah dengan Aisah kan bukan bersumber dari Al Quran, dan juga bukan sabda Rasul.
Bukankah, selain hukum agama, kita juga memikirkan kebaikan bagi si anak, bagaimana kalau ternyata anak itu hamil, lalu badannya tidak siap untuk menanggung beban kehamilan. Usia 12 tahun kan masih usia pertumbuhan, banyak kasus di Afrika di mana anak2 usia 12 tahun ini hamil dan melahirkan, banyak dari mereka mengalami gangguan di organ vital, ada yang sampai saluran untuk buang air kecilnya bocor ke saluran melahirkan, sehingga air seninya selalu mengalir dan tidak bisa dikendalikan, untungnya anak ini lalu ditangani oleh medis.
Kalau setelah mengetahui keadaan medis seperti ini, lalu hal menikahi gadis di bawah umur masih dibenarkan, Saya cuma bisa komentar, bahwa tingkat berfikir masyarakat di Indonesia masih terbelakang.
Lagian, perawan yang usia 33, 34, 40 macam teman2 saya aja masih banyak, kok milih nikah sama yang 12 tahun,
Bahaya, perawan tua di Indonesia bisa bisa tambah banyak nih…
40.ssalamu’alaikum
saudaraku sekarang makin banyak pemfitnah islam.Sebaiknya kita melakukan tafakkur,apa maksud dan hikmah dibalik semua ini.
Semua Wallahu a’lam…Aku hanya takut dan menyayangkan makin banyak muslim yang berhibbah tanpa merenungkan ke diri mereka masing-masing,manjadi pribadi pengecap(pemfonis) dan beranggapan selalu buruk.Aku hanya takut kalau timbul fitnah pada para alim ulama.Semua itu kembali pada kita.Kita renungkan dan berkhusnudzonlah.Kita tidak bisa mengecap begitu saja.Kita belum tau tujuannya.kalau tujuannya demi islam??kita tak tau semuanya.Karena kita sangatlah terbatas.Marilah ini menjadi suatu peristiwa yang semakin memantapkan kita untuk lebih menndalami islam.Pikirkanlah bagaimana membuat diri kalian sebagai muslim yang berakidah.Jauh dari kesesatan dan penyakit hati…
wollohu a’lam bissoab
41.Saya mah malu jadinya… kok ulama seperti itu.. kok bisa pake nama Syekh ?? Dari mana dapatnya? Yang kayak gini ini yang membuat umat Islam di pandang ‘ngawur’…
Begitu bangganya lagi dia itu.. coba diperhatikan deh… bagaimana sinar mata Lutfiana Ulfa yang usianya 12 tahun itu… tatapannya kosong dan hampa… kalau bahagia kan matanya berbinar dan bisa tersenyum… ini kok kayak dipaksa…
42.Sak Syekh puji kalo nurut anda benar
maka gw pesen anak bapak puji kalo dah umur 7-12 tahun
mo dikawinkan sama saya.
saya siap kok
khan bapak puji udah rasain
tapi gw gak punya modal kaya pak puji
jadi cobalah tuk berfikir apa yang terjadi jika kita yang merasakan anak kita mo dikawini ama mbha jenggot kaya pak puji?
tapi gw kuatir apa pak puji 5 sampai 10 tahun lagi masih bisa bergoyang and maaf ejakulasi padahal nanti si anak itu lagi hot and kuat kuatnya lho????????
takutnya nanti pak puji ditinggal selingkuh lho karena dah kaga’ kuat lagi maklum aki - aki gitu
43.Semoga saja Niat dan hatinya sebaik Nabi Muhammad, walaupun mentauladani Sunnah Nabi Muhammad kalau sepotong sepotong sama saja Munafik…semua tergantung niat yang ada dihatinya Wallahualam.
44.iapa sih yang ga mau sama cewe cantik? tapi ingat juga, jangan pilih pake nafsu, yang bagus sih ikut aturan lo tinggal dimana (RI) termasuk aturan norma sosial juga, jangan sampai lingkungan sekitar menjadi gerah akibat tindakan lo.
Jika memang bener ngiktin Nabi Muhammad SAW, lo kawinin juga janda-janda si sekitar lo, sedekahkan mobil-mobil mewah itu, toh Nabi juga hidup sederhana. Jangan cuma enaknya aja yang di ambil…
45.Bila orang berada telah merasa cukup dengan segala yang telah dimilikinya dan orang yang kekurang bersabar atas keadaanya, tentu tidak akan ada cerita yang seperti ini. Semoga pak Puji menyadari segala kealpaanya dan semoga Allah SWT menolongnya.
45.Pak Polisi, segera mengumpulkan semua saksi 10 dari pihak pesantren dan kepala sekola, kelurahan dan orang tua siwa untuk dijebloskan ke penjara,
Kalau niatnya shodakoh ya…semua hartanya untuk perjuangan agama…bukan menebar nafsu hewani….., atau Seh piji tak perlu pamer kekayaan…tapi pamerlah pada apa yang baik untuk ahirat, saya curiga mungkin lebih dari 7 bocah cilik yang telah digauli seh Puji…secara bergilir…dengan bayaran orang tua bebas utangnya…banyak tetangga saya yang melakukan itu…, cukup menyodorkan bocah cilik hutang lunas…segera saja polisi bertindak seh Puji preman sex bocah cilik
47. Dunia ini kok sempit yaa, padahal…banyak alumni atau sardjana ekonomi atau lainnya…yang rata-rata umurnya 21 tahun…siap untuk diperistri…., kok malah milih umur 12 tahun apa ini gak keliru…..Syeh siapa yang memberi gelar….apa ada jualan syeh…kok gampang yaa cari gelar seh….
48.Maju terus Syekh Puji!
Ikuti Sunnah Nabi Muhammad SAW!
Jangan tunduk pada hukum/UU buatan manusia!
Allah Akbar!
49.Pasti semua itu ada cobaanya…baik harta maupun wanita atau tahta…, tapi kita perlulah mengomtari dengan sehat gitu
50.Tentunya kita semua menahan diri, kita semua punya pikiran yang jernih moga Allah melimpahkan kita semua…, agar terhindar dari sifat dengki atau iri.., hanya saja apakah nikah dengan bocah 12 tahun itu…secara biologis baik…, lihatlah anak-anak SMP disekitar kita 100 kali…agar kita dapat menarik kesimpulan….dan dijauhkan malapetaka dan kemaksiatan…..
51.Bocah 12 tahun sebaiknya jangan dinikahkan dulu , hanya karena orang tua yang miskin dan kumuh
52.Aku 22 tahun siap kok jadi istri siapapun…yang penting dia jantan, perkasa, berharta, bermoral baik, tidak sombong , kulit bebas, asal bebas yang pokok normallah.., bisa mengauli istri dengan baik, sayang negara, sayang tanah air
53.Kok gitu sih…jangan jual murah donk, wanita punya harga diri,….bukan jual diri….ke Syeh Puji….karena dia lebih memilih bocah 12 tahun yang masih lugu..perawan titing lho
54.Mengelar aib itu lebih mudah daripada bicara yang sompral…., tunggu aja malapetaka yang menggauli bocah 12 tahun pasti …alloh akan memberi ganjarannya..lho
55.Berbahagialah engkau wanita di persunting
pengusaha kaya…., agar memperbaiki kondisi ekonomi keluarga…., yang pada umumnya pesantren kelas kampung lebih banyak dari kiriman orang tua miskin dan ekonomi dibawah standar umum…., dari pada repot-repot ngurus bocah perempuan lebih baik dikawinkan sajalah…agar bisa ngasih makan dan ngirimin uang ke orang tua gitu
56. Moga semua di Lindungi Allah, siapa yang berbuat sebesar apapun Allah maha mengetahui…..jadi gak usah kita ikut larut kedalam bencana,…yang jelas sex bocah lebih di nikmati kaum laki-laki lho….., aku setuju…memang wanita adalah tepat pelampiasan kenikmatan laki-laki ,,,aku juga wanita doyan laki-laki kok
57.Di Desa Kami Indramayu hal biasa bocah 11 tahun dikawinkan, bahkan menabah rejeki kok banyak saudara dan lainya…, hanya pengalamanku sex bocah yang masih 12 tahun agak berbeda dengan usia 25 tahun …jadi hal kenikmatan lebih di utamakan untuk Syeh Puji…
58.heellehh…biarin aja…wong bocahnya mau..kok diributin..
kalo mau jujur…yang nggak demen itu, karna duitnya belum sebanyak Mr.Puji aja…
yach…kalo pendapat saya yang penting tidak ada yang diDzolimi…(ya..ini sih pendapat saya,..yang gak sepaham..ya gak papa..he…he..he)
59.Coba dikaji ulang berita yg mengatakan bahwa Nabi Muhammad menikahi Aisyah pada saat Nabi berusia 50 tahun dan Aisyah berusia 12 tahun.
UMUR AISYAH DIHITUNG DARI UMUR ASMA’
Menurut Abda’l-Rahman ibn Abi Zanna’d: “Asma’ lebih tua sepuluh tahun dibanding Aisyah (Siyar A`la’ma’l-nubala’, Al-Zahabi, Vol. 2, p. 289, Arabic, Mu’assasatu’l-risalah, Beirut, 1992).
Menurut Ibn Kathir: “Asma’ lebih tua sepuluh tahun dari adiknya [Aisyah]” (Al-Bidayah wa’l-nihayah, IbnKathir, Vol. 8, p. 371,Dar al-fikr al-`arabi, Al-jizah, 1933).
Menurut Ibn Kathir: “Asma’ melihat pembunuhan anaknya pada tahun 73 H, dan 5 hari kemudian Asma’ meninggal. Menurut riwayat lainya, dia meninggal sepuluh atau dua puluh hari kemudian, atau beberapa hari lebih dari dua puluh hari, atau seratur hari kemudian. Riwayat yang paling kuat adalah seratus hari kemudian. Pada waktu Asma’ meninggal, dia berusia seratus tahun” (Al-Bidayah wa’l-nihayah, Ibn Kathir, Vol. 8, p. 372, Dar al-fikr al-`arabi, Al- jizah, 1933)
Menurut Ibn Hajar Al-Asqalani: “Asma’ hidup sampai seratus tahun dan meninggal pada 73 atau 74 H.” (Taqribu’l-tehzib, Ibn Hajar Al-Asqalani,p. 654, Arabic, Bab fi’l-nisa’, al-harfu’l-alif, Lucknow).
Menurut sebagaian besar ahli sejarah, Asma’, saudara tertua dari Aisyah berselisih usia sepuluh tahun. Jika Asma’ wafat pada usia seratus tahun di tahun 73 H, Asma’ seharusnya berusia 27 atau 28 tahun ketika hijrah (622 M). Jika Asma’ berusia 27 atau 28 tahun ketika hijrah (ketika Aisyah berumahtangga), Aisyah seharusnya berusia tujuh belas atau delapan belas tahun. Jadi, Aisyah berusia tujuh belas atau delapan belas tahun ketika hijrah pada tahun di mana Aisyah berumah tangga.Berdasarkan Hajar, Ibn Katir, dan Abda’l-Rahman ibn abi zanna’d, usia Aisyah ketika Beliau berumah tangga dengan Rasulullah adalah Sembilan belas atau dua puluh tahun.
Dalam satu riwayat, Ibn Hajar memperkirakan usia Aisyah 12 tahun dan dalam riwayat ini Ibn Hajar mengkontradiksi dirinya sendiri dengan pernyataannya usia Aisyah 17 atau 18 tahun.
DC
60.masbadar: Sdr. Dencitro Diwangsan, argument bagus. Punya sendiri atau kopi paste? sayang sekali anda dan beberapa komentator lain yang menulis panjang lebar, sebagian tidak memiliki blog, saya sarankan anda membuat blog. Saya yakin orang2 seperti anda punya bakat menulis, so, buat blog-lah..
Silahkan terus berdiskusi, jangan lupa; dewasa dan ilmiyah-lah..
61semoga semua ini menjadi proses pembelajaran bagi kita semua , dan kita semua bisa lebih bijak lagi dalam menyikapi hidup ini. selamat kepada syekh Puji yang diberi kesempatan untuk amanah menjalankan syariat islam ini,…semoga tetap bijaksana dalam menyikapi masalah.
62.Klu aqu sih pasti gengsi lah ma yg namanya kakek2,, klu yg namanya perasan suka ma lawan jenis paling usia beda2 dikitlah atau yg seumuran,, Klu si bocah tuh,cuma menuruti apa kemauan ortu nya aja, biasalah motif nya ( Tambang Uang )..
63dasar Pheodofill!!!!!
ada yang salah dalam masyarakat ini, yg salah dibenarkan dan diagung2kan, yg benar disetir dan diplintir semaunya…..
saya ngerti anda (RIWAYAT) membuat koment spt ini utk mencari popularitas saja, tapi anda paham tidak arti kata HUKUM dan HAK (harus’nya anda ngerti, soalnya bisa bikin blog, mudah2an anda tidak sebodoh unta dan keledai…), atau anda mungkin juga ANDA seorang PHEODOFILLIA.
64.Mumpung masih anget…nambah comment ah…
kalo soal sensasi, Mr. puji itu emang kaya’nya cari sensasi, tapi ada sisi baiknya dari dia, Alloh ngasih rejeki yang lebih sama dia, jadi dia bisa berbagi sama warga sekitar.
Soal ada faktor cari sensasi dan iklash apa gak, ya..itu urusan dia sama Alloh..
Tapi satu hal yang kurang SREK. soal panggilan “SYECH” SAMA DIA,KARENA kalau di masyarakat awam Syech itu kaya’nya lebih ampuh dari pak Kyai,walaupun Kalo di bahasa arab, syech itu artinya yang “dituakan” (kata guru bahasa arab saya dulu..),soalnya tampang dan gaya bicara Mr.Puji itu SLENGE’AN dan NGAWUR, GAK pantes babar blass kalo di panggil SYECH…
65.tdk benar itu rasul menikahi aisyah dibawah umur
hadist itu cmn diriwaytakan dari satu orang, yg mana orang tersebut tinggalnya di syam(iraq),
lalu kenapa pada masa orang tsb tdk ada orang2 makkah atau madinah yg meriwayatknan hadist tsb???
lagipula
orang tsb sewaktu meriwayatkan hadist ini, sudah sangat tua sehingga sudah terkena penyakit lupa/pikun…..
n
HADIST tsb kebanyakan diriwayatkan oleh ulama2 WAHABI…..
berbeda jauh dgn ulama2 mesir atau maroko yg menganggap hadist tsb tdk valid
sehingga ulama2 mereka memakai umur 15tahun sbg patokan dari hukum pernikahan mereka….
ternyata kaum2 khawarij modern sudah mulai masuk ke negri ini…..
66.mr.puji dari pengamatan saya termasuk orang yang “sakit” suka dengan anak-anak.
Dia orang yang tidak konsisten alias HANYA NGOMONG DOANG, setelah banyak pihak menyalahkan langkahnya ( termasuk menteri agama, menteri pemberdayaan wanita,dan banyak pihak lain )kemarin (28 Oktober 2008)malah melarikan diri ke Singapura. TOBAT SYEH…
67.Menikah dengan anak di bawah umur jelas tidak adil bagi kondisi psikologis anak. Dia dipaksakan untuk menjadi dewasa sebelum waktunya. Hal-hal ini seringkali dilupakan orang dewasa yang terlalu egois memikirkan kepentingan dirinya. Saya kuatir gadis cilik ini sebenarnya diserahkan orangtuanya dengan imbalan uang atau materi tertentu yang tentunya berarti memperdagangkan anak dibawah umur. Jadi jelas ini bukan tindakan yang bisa dianggap sah dan wajar. Ini jelas gila dan absurb!
68.Waspadalah nanti banyak wanita muslimah yg murtad karna fenomena poligami!!!
69.KALO MO NGIKUTIN SUNNAH NABI UTAMAIN DONK NIKAHIN JANDA YANG SUDAH LANJUT, SUBHANALLAH BAYANGIN AJA HAMPIR SEBAGIAN BESAR ISTRI2 NABI SETELAHNYA ADL JANDA2
NABI MUHAMMAD BUKANLAH SEORANG PEDOFIL,
INI FITNAH YANG SANGAT KEJI,
SITI A’ISYAH DINIKAHI BELIAU SAAT UMUR 17 TAHUN,
SAYA ULANGI UMUR 17TAHUN,
PENDAPAT YANG MENGATAKAN BAHWA UMUR SITI A’ISYAH SAAT DINIKAHI BELIAU SAW ADL UMU 6/9/12 TAHUN,ADALAH FIIIIIIIIIIIIIIIIIIIITNAAAAAAAAAAAAAAAAAH, BAHKAN BUKAN BERASAL DARI HADIST/PERKATAAN NABI SENDIRI, BUKTI2 YANG MNGUATKAN AKAN DITAMPILKAN BEBERAPA WAKTU LAGI,SEDANG DIKETIK
TAMBAHAN LAGI BELIAU SAW BARU BERUMAH TINGGAL BERSAMA SITI A’ISYAH SETELAH UMUR 19 TAHUN, SAYA ULAGI 19 TAHUN
TAMBAHAN LAGI PENDAPAT KALAU SITI KHADIJAH DINIKAHI UMUR 40 TAHUNAN ADALAH FITNAHHHHHHHHHHHHHHHHHHH,
YANG BENAR ADL BELIAU SAW MENIKAH DNG SITI KHADIJAH, KEDUANYA ITU SEUMUR 25TAHUN, SAYA ULANGI SEMUMUR 25TAHUN
70.@halo sdr. sayangrosul, gak usah teriak-teriak gitu. Saya juga pernah mendengar tentang hal tsb. Umur khadijah adalah 25 tahun ketika dinikahi oleh Nabi SAW, tapi kalo umur aisyah, berita dan pengulasannya oleh para ahli sangatlah sedikit. Jika anda punya artikel dan pengulasan yg ilmiyah dan dapat dipertanggung jawabkan, silahkan kirimkan ke email saya, saya akan memuatnya di blog ini dgn nama anda sbg penulis.
Masyarakat kita ini banyak yg tidak tahu akan hadits, tepatnya ilmu hadits, kenapa? hadits sbg sumber hukum kedua setelah alkitab jarang dimasukkan kurikulum sejak dini. Bahkan kalangan terpelajar kita sebagian besar buta akan hadits, bahkan beberapa kalangan pesantren pun.
Ini adalah tanda-tanda kiamat yg semakin dekat, selain ilmu faroid (akuntansi hak waris) ilmu mushtolah hadits juga merupakan ilmu yang akan dipunahkan Allah menjelang Kiamat.
Setelah itu yang ada adalah ketidak-mengertian manusia, kesalahpahaman dan banyak yang tidak bisa menyikapinya dgn bijak. Seperti anda ini, maaf. Kalo anda cukup berilmu, anda mestinya gak perlu teriak-teriak seperti ini, anda semestinya membahasnya, buatlah majelis ilmu, sampaikan kepada manusia, kepada khalayak, datangi manusia.. ajak mereka dengan hikmah dan pelajaran yang baik serta bantahlah mereka dengan cara yang baik, bukan disalah-salahin, bukan ditahdzir-tahfdzirin, bukan dibid’ah-bid’ahin..
salam kenal dari saya, seorang penuntut ilmu..
72.Pembaca sekalian, mohon maaf, jika saya menganggap diskusi telah selesai, semoga topik yg saya lemparkan bermanfaat.
Silahkan pembaca menyimpulkan sendiri, jawabannya ada pada masing-masing hati dan akal anda.
Terima kasih kepada semua komentator yg telah sudi mampir, meluangkan waktu untuk mengetikan pendapatnya, serta menyisakan ruang pikirnya untuk sedikit berdiskusi di blog ini.
semoga rahmat Allah menaungi kita semua..
http://www.liputan6.com/news/?id=167138&c_id=3
Syekh Puji Menikahi Bocah 11 Tahun
Liputan6.com, Semarang: Seorang pengusaha dan pemilik pondok pesantren di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, menikahi bocah berusia 11 tahun 10 bulan. Puji Cahyo Widiyanto, pengusaha kaligrafi kuningan ini mengumumkan secara resmi pernikahannya dengan Lutfiana Ulfa kepada publik, 19 Oktober silam. Pernikahan ini diakui Pujiono sebagai pernikahan siri, sementara, pernikahan resminya di Kantor Urusan Agama belum dilaksanakan.
Menurut lelaki yang menobatkan dirinya dengan sebutan Syekh Puji ini, istri keduanya itu mempunyai keistimewaan, yaitu pandai berbahasa Inggris, rangking satu di sekolah dasar, pandai dalam ilmu agama, dan hasil seleksi dari puluhan gadis belia. Pujiono juga mengaku kalau istri pertamalah yang menjodohkan dia dengan Lutfiana. Sebagai tanda pernikahan, pengusaha itu berencana mengangkat bocah yang baru dinikahinya sebagai Direktur PT Silenter, perusahaan miliknya sendiri.
Pujiono juga mengaku siap diprotes pihak mana pun, termasuk Komisi Nasional Perlindungan Anak, apabila pernikahannya itu dianggap salah. Bahkan, buat menggenapi istrinya menjadi empat orang, Pujiono berencana menikah lagi dengan bocah berusia sembilan tahun dan tujuh tahun.(OMI/Teguh Hadi Prayitno dan Kukuh Ary Wibowo)
Polisi Harus Aktif Sikapi Tindakan Syekh Puji
Sabtu, 25 Oktober 2008 | 06:29 WIB
SEMARANG, JUMAT - Koordinator Jaringan Peduli Perempuan dan Anak Semarang, Agnes Widanti mengatakan, seharusnya polisi bertindak aktif menyikapi tindakan Syekh Puji, pengusaha dari Semarang yang telah melanggar hukum pidana dengan menikahi anak di bawah umur.
"Tindakan Syekh Puji telah melanggar hukum pidana karena melakukan hubungan dengan anak di bawah umur. Karena itu, polisi harus bertindak," kata Agnes, di Semarang, Jumat (24/10).
Pujiono Cahyo Widianto alias Syekh Puji, pengusaha kaligrafi dari kuningan telah menikahi Lutfiana Ulfa yang baru berumur 12 tahun.
Agnes mengatakan, seharusnya polisi bisa bertindak aktif apalagi kejadian tersebut telah diketahui publik secara luas karena dimuat oleh media massa. "Tidak perlu ada laporan, tetapi polisi harusnya aktif," katanya.
Agnes menambahkan, tindakan Syekh Puji jelas-jelas merupakan eksploitasi terhadap anak meskipun pernikahan itu disetujui wali dan orang tua. "Tapi dalam hal ini, apa anak yang bersangkutan sudah bisa berfikir logis menyikapi hal itu," katanya.
Agnes menyebutkan, selain melanggar KUHP, Syekh Puji juga melanggar UU Perlindungan Anak. Pasal 26 ayat 1 poin c UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, disebutkan bahwa orang tua berkewajiban untuk tidak mengawinkan anak di bawah umur. Dalam UU tersebut dijelaskan bahwa definisi anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.
Undang-undang tentang Perlindungan Anak ini memberikan ancaman pidana dan denda bagi mereka yang mengawinkan atau mengawini anak di bawah umur, seperti diatur dalam Pasal 77 yang menyebutkan bahwa diskriminasi terhadap anak yang mengakibatkan anak mengalami kerugian baik materiil maupun moril sehingga menghambat fungsi sosialnya dapat dipenjara paling lama 5 tahun dan atau denda paling banyak Rp100 juta.
Definisi anak dalam UU Perlindungan Anak ini adalah yang usianya di bawah 18 tahun.

Sumber : Antara

Ada 93 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
1.Sukur ga jadi kawinnya (hidup ka seto).. buat yg laen.. tolong jgn ngebawa-bawa agama buat membenarkan suatu tindakan.. skr mending pikir pake logika ajah deh..
2.Untuk Tarek ! Anda sepertinya seorang Pheodofile juga ya.. Makanya bela habis habisan si Puji.. sadarlah pak Tarek..kita hidup di jaman modern..Banyak baca buku Ilmu kesehatan donk.. Biar lebih luas pikiran anda
3.Assalamualaikum,, sbgai muslim yg bijak kt jgn mmbtasi usia, kmampuan orng seenaknya, mmang Islam ada batasan usia bwt prmpuan yg blh di nikah yaitu sdh baligh(brakal)
4.Hai para pelanggar hukum, lihat nih negara tercinta kita yg terpuruk dimata dunia krn; korupsi, teror bom, pembunuhan
http://202.146.4.17/read/xml/2008/10/25/06293255/polisi.harus.aktif.sikapi.tindakan.syekh.puji

http://www.surya.co.id/web/Berita-Utama/Syekh-Puji-Pernah-Gunduli-17-Karyawati.html
Syekh Puji Pernah Gunduli 17 Karyawati



Saturday, 01 November 2008
SEMARANG - SURYA-Kontroversi pernikahan siri Pujiono Cahyo Widianto alias Syekh Puji, 43, dengan bocah 12 tahun, Lutfiana Ulfa mendorong warga di sekitar Ponpes Miftahul Jannah Bedono menggunjingkan perilaku pria nyentrik itu. Satu di antaranya adalah penggundulan puluhan karyawan dan karyawatinya yang dianggap bersalah.
Gunjingan warga itu sesuai data kepolisian yang pernah menjebloskan Puji di tahanan gara-gara kasus penggundulan puluhan karyawan dan karyawati PT Sinar Lendoh Terang (Silenter), 23 September 1998. Saat itu, Puji yang menjabat kades Bedono sekaligus pemilik PT Silenter mengunduli rambut para karyawan dan karyawati yang melakukan kesalahan.
”Catatan kepolisian, Pak Puji pernah terkena kasus penggundulan beberapa karyawan dan karyawati lantaran terjadi masalah di perusahaannya, PT Silenter,” ujar Wibowo Hutomo, Kasat Reskrim Polres Salatiga, kepada wartawan, Jumat (31/10).
Kala itu Puji ditangkap polisi. Ia sempat ditahan, namun kemudian ditangguhkan. Hal ini terjadi setelah dilakukan penyelesaian kekeluargaan dengan 45 karyawan dan 17 karyawati yang digunduli.
Kemarin, Puji kembali bertemu dengan Seto Mulyadi (Kak Seto), Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak. Usai pertemuan yang membahas pembatalan pernikahan kontroversial itu, Sedyo Prayogo, penasihat hukum Puji, mengklaim bahwa Ulfa saat ini sehat dan bahagia di ponpes. “Kondisinya sangat sehat, happy, gembira. Tidak ada yang dicemaskan,” kata Prayogo.
Saat klaim itu dikonfirmasikan kepada Kak Seto, pria berkacamata itu menolak berkomentar.
“Dalam hal ini, saya tidak ingin berbicara dari sudut anak terlebih dahulu. Ini permintaan si anak sendiri yang tidak mau dilibatkan dalam penyelesaian masalah. Tolong dihargai,” elaknya.
Penyelesaian yang dimaksud Kak Seto adalah dikembalikannya Ulfa ke orangtuanya, Suroso. Itu berarti pembatalan pernikahan Ulfa dengan Puji sebelumnya menghebohkan dengan membagikan zakat Rp 1,3 miliar.
Sebagaimana diberitakan, Puji mengawini Ulfa, bocah kelas 8 SMP dari Kecamatan Klepu, Kabupaten Semarang, sebagai istri kedua, pada 8 Agustus 2008 lalu. Kabar pernikahan itu memicu kecaman berbagai pihak, yang antara lain menilai Puji melanggar undang-undang perkawinan dan memperlakukan seorang anak gadis bau kencur tak semestinya. Bahkan sejumlah aktivis LSM pembela perempuan dan anak melaporkan pria berewokan tersebut ke Polda Jateng. Kak Seto pun langsung minta pernikahan tersebut dibatalkan saat bertemu Puji, Selasa (28/10) lalu.
Usai pertemuan Jumat petang itu, Prayogo mengatakan kliennya menuruti permintaan Komnas Perlindungan Anak untuk mengembalikan Ulfa. “Teknisnya sedang dibicarakan. Kami harapkan dalam waktu tidak terlalu lama sudah bisa dilaksanakan, dalam minggu-minggu ini,” tegasnya.
Pedofilia?
Pernikahan Puji-Ulfa itu mendapat respons dari warga Surabaya. Tak kurang dari 200 pelajar dari tingkat TK, SD dan SMP Bina Karya, Jl Tambak Asri menggelar aksi penolakan terhadap pernikahan ganjil itu, Jumat (31/10) pagi.
Sambil membawa puluhan poster berisi kalimat kecaman dengan tulisan tangan para pelajar itu berbaris dan berjalan di sepanjang Jl Tambak Asri. Ada juga yang berjalan sambil membentangkan spanduk panjang bertuliskan 'Anak-anak adalah Penerus Masa Depan Bangsa'.
“Saya gak mau dinikahi orang, lebih baik sekolah dulu,” ujar Lastri, 11, pelajar kelas 6 SD Bina Karya yang turut melakukan aksi. Lastri yang tahu kisah Pernikahan Syekh Puji dan Ulfa itu dari siaran TV dan pembicaraan orang-orang di sekitarnya mengaku takut jika dinikahkan saat masih bocah.
Menurut seksolog, dr Boyke Dian Nugraha SpOG MARS, kasus ini sudah termasuk perilaku fedofilia. Ini terlihat dari sikap Syekh Puji yang berencana menikahi Ulfa dan dua anak perempuan lainnya yang masih berusia tujuh dan sebelas tahun.
“Anak-anak itu masih pra pubertas lho. Alat reproduksinya belum berkembang dengan sempurna. Ada penyimpangan perilaku seks di sini,” tegas dr Boyke, Kamis (30/10), ketika dihubungi melalui telepon.
Pendapat berbeda diungkapkan pakar andrologi Surabaya dr Johannes Soedjono MKes SpAnd yang menilai Syekh Puji bukan fedofil. “Fedofilia tidak sekadar suka dengan anak-anak begitu saja,” tegas dr Johannes, Rabu (29/10).
Fedofilia termasuk kelompok parafilia (penyimpangan perilaku seksual). Seseorang baru dapat dikatakan sebagai penderita fedofilia jika memenuhi salah satu kriteria berikut.
Pertama, seseorang baru bisa mendapat rangsangan, seksual fantasi, atau kenikmatan seksual jika berinteraksi atau berhubungan badan dengan anak-anak. Itu pun harus berlangsung selama enam bulan berturut-turut. Jika terjadi sekali saja lalu tidak sama sekali, itu bukan termasuk fedofilia.
Kedua, pelaku sudah memasuki usia remaja atau dewasa. Sedangkan korban setidaknya memiliki selisih usia minimal lima tahun lebih muda. Ketiga, korban masih dalam masa pra puber, usia di bawah 13 tahun.
Pengamat sosial dra Pinky Saptandari MA, menilai pernikahan pada usia sangat dini ini dilatarbelakangi minimnya pengetahuan tentang UU Perkawinan No 1/1974 serta UU Perlindungan Anak No 23 Tahun 2002. Di dalamnya tertera usia minimal bagi pasangan yang hendak menikah. Sekaligus terdapat larangan menikahi anak di bawah umur 15 tahun. “Secara hukum kasus seperti yang dialami kebanyakan masyarakat Madura maupun figur Syekh Puji sebetulnya menyalahi aturan hukum,” katanya.
Bukan hanya itu, dari sisi medis maupun psikologis juga tidak bisa dibenarkan. Kesiapan reproduksi seorang anak di bawah umur belumlah matang. Meskipun sudah memasuki masa menstruasi namun kesiapan panggul menerima janin belumlah matang. Selain itu dari aspek psikologi, anak usia sekolah memiliki beban lebih berat jika dipaksa berumahtangga. jun/rey/ida/ame

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِين