: :

Navbar Bawah

Cari Blog Ini

Memuat...
Format sms: nama#nomor HP anda#pesan anda

Jika Anda kebingungan bagaimana caranya untuk melihat isi blog saya, silahkan ditanyakan di nomor tersebut.

Tanpa Mencantumkan nomor HP Anda, maka sms tidak akan dibalas.

Tampilkan posting dengan label Ushul Fiqh. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label Ushul Fiqh. Tampilkan semua posting

03 Februari 2009

Ushul Fiqh

Ushul Fiqh
11/1/2007 | 21 Dzulhijjah 1427 H | Hits: 3.908
Sejarah Singkat Ilmu Ushul Fiqh
Oleh: Ahmad Sahal Hasan, Lc


Di masa Rasulullah saw, umat Islam tidak memerlukan kaidah-kaidah tertentu dalam memahami hukum-hukum syar’i, semua permasalahan dapat langsung merujuk kepada Rasulullah saw lewat penjelasan beliau mengenai Al-Qur’an, atau melalui sunnah beliau saw.
Para sahabat ra menyaksikan dan berinteraksi langsung dengan turunnya Al-Qur’an dan mengetahui dengan baik sunnah Rasulullah saw, di samping itu mereka adalah para ahli bahasa dan pemilik kecerdasan berpikir serta kebersihan fitrah yang luar biasa, sehingga sepeninggal Rasulullah saw mereka pun tidak memerlukan perangkat teori (kaidah) untuk dapat berijtihad, meskipun kaidah-kaidah secara tidak tertulis telah ada dalam dada-dada mereka yang dapat mereka gunakan di saat memerlukannya.
Setelah meluasnya futuhat islamiyah, umat Islam Arab banyak berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain yang berbeda bahasa dan latar belakang peradabannya, hal ini menyebabkan melemahnya kemampuan berbahasa Arab di kalangan sebagian umat, terutama di Irak . Di sisi lain kebutuhan akan ijtihad begitu mendesak, karena banyaknya masalah-masalah baru yang belum pernah terjadi dan memerlukan kejelasan hukum fiqhnya.
Dalam situasi ini, muncullah dua madrasah besar yang mencerminkan metode mereka dalam berijtihad:
Madrasah ahlir-ra’yi di Irak dengan pusatnya di Bashrah dan Kufah.
Madarasah ahlil-hadits di Hijaz dan berpusat di Mekkah dan Madinah.
Perbedaan dua madrasah ini terletak pada banyaknya penggunaan hadits atau qiyas dalam berijtihad. Madrasah ahlir-ra’yi lebih banyak menggunakan qiyas (analogi) dalam berijtihad, hal ini disebabkan oleh:
Sedikitnya jumlah hadits yang sampai ke ulama Irak dan ketatnya seleksi hadits yang mereka lakukan, hal ini karena banyaknya hadits-hadits palsu yang beredar di kalangan mereka sehingga mereka tidak mudah menerima riwayat seseorang kecuali melalui proses seleksi yang ketat. Di sisi lain masalah baru yang mereka hadapi dan memerlukan ijtihad begitu banyak, maka mau tidak mau mereka mengandalkan qiyas (analogi) dalam menetapkan hukum. Masalah-masalah baru ini muncul akibat peradaban dan kehidupan masyarakat Irak yang sangat kompleks.
Mereka mencontoh guru mereka Abdullah bin Mas’ud ra yang banyak menggunakan qiyas dalam berijtihad menghadapi berbagai masalah.
Sedangkan madrasah ahli hadits lebih berhati-hati dalam berfatwa dengan qiyas, karena situasi yang mereka hadapi berbeda, situasi itu adalah:
Banyaknya hadits yang berada di tangan mereka dan sedikitnya kasus-kasus baru yang memerlukan ijtihad.
Contoh yang mereka dapati dari guru mereka, seperti Abdullah bin Umar ra, dan Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash, yang sangat berhati-hati menggunakan logika dalam berfatwa.
Perbedaan kedua madrasah ini melahirkan perdebatan sengit, sehingga membuat para ulama merasa perlu untuk membuat kaidah-kaidah tertulis yang dibukukan sebagai undang-undang bersama dalam menyatukan dua madrasah ini. Di antara ulama yang mempunyai perhatian terhadap hal ini adalah Al-Imam Abdur Rahman bin Mahdi rahimahullah (135-198 H). Beliau meminta kepada Al Imam Asy-Syafi’i rahimahullah (150-204 H) untuk menulis sebuah buku tentang prinsip-prinsip ijtihad yang dapat digunakan sebagai pedoman. Maka lahirlah kitab Ar-Risalah karya Imam Syafi’i sebagai kitab pertama dalam ushul fiqh.
Hal ini tidak berarti bahwa sebelum lahirnya kitab Ar-Risalah prinsip prinsip ushul fiqh tidak ada sama sekali, tetapi ia sudah ada sejak masa sahabat ra dan ulama-ulama sebelum Syafi’i, akan tetapi kaidah-kaidah itu belum disusun dalam sebuah buku atau disiplin ilmu tersendiri dan masih berserakan pada kitab-kitab fiqh para ‘ulama. Imam Syafi’i lah orang pertama yang menulis buku ushul fiqh, sehingga Ar Risalah menjadi rujukan bagi para ulama sesudahnya untuk mengembangkan dan menyempurnakan ilmu ini.
Abu Abdillah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i ra memang pantas untuk memperoleh kemuliaan ini, karena beliau memiliki pengetahuan tentang madrasah ahlil-hadits dan madrasah ahlir-ra’yi. Beliau lahir di Ghaza, pada usia 2 tahun bersama ibunya pergi ke Mekkah untuk belajar dan menghafal Al-Qur’an serta ilmu fiqh dari ulama Mekkah. Sejak kecil beliau sudah mendapat pendidikan bahasa dari perkampungan Huzail, salah satu kabilah yang terkenal dengan kefasihan berbahasa. Pada usia 15 tahun beliau sudah diizinkan oleh Muslim bin Khalid Az-Zanjiy - salah seorang ulama Mekkah - untuk memberi fatwa.
Kemudian beliau pergi ke Madinah dan berguru kepada Imam penduduk Madinah, Imam Malik bin Anas ra (95-179 H) dalam selang waktu 9 tahun - meskipun tidak berturut-turut - beserta ulama-ulama lainnya, sehingga beliau memiliki pengetahuan yang cukup dalam ilmu hadits dan fiqh Madinah. Lalu beliau pergi ke Irak dan belajar metode fiqh Irak kepada Muhammad bin Hasan Asy-Syaibani ra (wafat th 187 H), murid Imam Abu Hanifah An-Nu’man bin Tsabit ra (80-150 H).
Dari latar belakangnya, kita melihat bahwa Imam Syafi’i memiliki pengetahuan tentang kedua madrasah yang berbeda pendapat, maka beliau memang orang yang tepat untuk menjadi orang pertama yang menulis buku dalam ilmu ushul. Selain Ar-Risalah, Imam Syafi’i juga memiliki karya lain dalam ilmu ushul, seperti: kitab Jima’ul-ilmi, Ibthalul-istihsan, dan Ikhtilaful-hadits.
Dapat kita simpulkan bahwa ada tiga faktor yang menyebabkan munculnya penulisan ilmu ushul fiqh:
Adanya perdebatan sengit antara madrasah Irak dan madrasah Hijaz.
Mulai melemahnya kemampuan bahasa Arab di sebagian umat Islam akibat interaksi dengan bangsa lain terutama Persia.
Munculnya banyak persoalan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan memerlukan kejelasan hukum, sehingga kebutuhan akan ijtihad kian mendesak.
Setelah Ar-Risalah, muncullah berbagai karya para ulama dalam ilmu ushul fiqh, di antaranya:
1.Khabar Al-Wahid, Itsbat Al-Qiyas, dan Ijtihad Ar-Ra’y, ketiganya karya Isa bin Aban bin Shadaqah Al-Hanafi (wafat th 221 H).
2.An-Nasikh Wal-Mansukh karya Imam Ahmad bin Hambal (164-241 H).
3.Al-Ijma’, Ibthal At-Taqlid, Ibthal Al-Qiyas, dan buku lain karya Dawud bin Ali Az-Zhahiri (200-270 H).
4.Al-Mu’tamad karya Abul-Husain Muhammad bin Ali Al-Bashri Al-mu’taziliy Asy-Syafi’i (wafat th 436H).
5.Al-Burhan karya Abul Ma’ali Abdul Malik bin Abdullah Al-Juwaini/Imamul-haramain (410-478 H).
6.Al-Mustashfa karya Imam Al-Ghazali Muhammad bin Muhammad (wafat 505 H).
7.Al-Mahshul karya Fakhruddin Muhammad bin Umar Ar-Razy (wafat 606 H).
8.Al-Ihkam fi Ushulil-Ahkam karya Saifuddin Ali bin Abi Ali Al-Amidi (wafat 631 H).
9.Ushul Al-Karkhi karya Ubaidullah bin Al-Husain Al-Karkhi (wafat 340 H).
Pengertian Ushul Fiqh
Pengertian Ushul Fiqh dapat dilihat sebagai rangkaian dari dua buah kata, yaitu : kata Ushul dan kata Fiqh; dan dapat dilihat pula sebagai nama satu bidang ilmu dari ilmu-ilmu Syari'ah.
Dilihat dari tata bahasa (Arab), rangkaian kata Ushul dan kata Fiqh tersebut dinamakan dengan tarkib idlafah, sehingga dari rangkaian dua buah kata itu memberi pengertian ushul bagi fiqh.
Kata Ushul adalah bentuk jamak dari kata ashl yang menurut bahasa, berarti sesuatu yang dijadikan dasar bagi yang lain. Berdasarkan pengertian Ushul menurut bahasa tersebut, maka Ushul Fiqh berarti sesuatu yang dijadikan dasar bagi fiqh.
Sedangkan menurut istilah, ashl dapat berarti dalil, seperti dalam ungkapan yang dicontohkan oleh Abu Hamid Hakim :


Artinya:
"Ashl bagi diwajibkan zakat, yaitu Al-Kitab; Allah Ta'ala berfirman: "...dan tunaikanlah zakat!."
Dan dapat pula berarti kaidah kulliyah yaitu aturan/ketentuan umum, seperti dalam ungkapan sebagai berikut :


Artinya:
"Kebolehan makan bangkai karena terpaksa adalah penyimpangan dari ashl, yakni dari ketentuan/aturan umum, yaitu setiap bangkai adalah haram; Allah Ta'ala berfirman : "Diharamkan bagimu (memakan) bangkai... ".
Dengan melihat pengertian ashl menurut istilah di atas, dapat diketahui bahwa Ushul Fiqh sebagai rangkaian dari dua kata, berarti dalil-dalil bagi fiqh dan aturan-aturan/ketentuan-ketentuan umum bagi fiqh.
Fiqh itu sendiri menurut bahasa, berarti paham atau tahu. Sedangkan menurut istilah, sebagaimana dikemukakan oleh Sayyid al-Jurjaniy, pengertian fiqh yaitu :


Artinya:
"Ilmu tentang hukum-hukum syara' mengenai perbuatan dari dalil-dalilnya yang terperinci."
Atau seperti dikatakan oleh Abdul Wahab Khallaf, yakni:


Artinya:
"Kumpulan hukum-hukum syara' mengenai perbuatan dari dalil-dalilnya yang terperinci".
Yang dimaksud dengan dalil-dalilnya yang terperinci, ialah bahwa satu persatu dalil menunjuk kepada suatu hukum tertentu, seperti firman Allah menunjukkan kepada kewajiban shalat.


Artinya:
".....dirikanlah shalat...."(An-Nisaa': 77)
Atau seperti sabda Rasulullah SAW :


Artinya:
"Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya mengharamkan jual beli khamar (benda yang memabukkan)." (HR Bukhari dan Muslim dari Jabir bin Abdillah).
Hadits tersebut menunjukkan kepada keharaman jual beli khamar.
Dengan penjelasan pengertian fiqh di atas, maka pengertian Ushul Fiqh sebagai rangkaian dari dua buah kata, yaitu dalil-dalil bagi hukum syara' mengenai perbuatan dan aturan-aturan/ketentuan-ketentuan umum bagi pengambilan hukum-hukum syara' mengenai perbuatan dari dalil-dalilnya yang terperinci.
Tidak lepas dari kandungan pengertian Ushul Fiqh sebagai rangkaian dari dua buah kata tersebut, para ulama ahli Ushul Fiqh memberi pengertian sebagai nama satu bidang ilmu dari ilmu-ilmu syari'ah. Misalnya Abdul Wahhab Khallaf memberi pengertian Ilmu Ushul Fiqh dengan :


Artinya:
"Ilmu tentang kaidah-kaidah (aturan-atura/ketentuan-ketentuan) dan pembahasan-pemhahasan yang dijadikan sarana untuk memperoleh hukum-hukum syara' mengenai perbuatan dari dalil-dalilnya yang terperinci."
Maksud dari kaidah-kaidah itu dapat dijadikan sarana untuk memperoleh hukum-hukum syara' mengenai perbuatan, yakni bahwa kaidah-kaidah tersebut merupakan cara-cara atau jalan-jalan yang harus ditempuh untuk memperoleh hukum-hukum syara'; sebagaimana yang terdapat dalam rumusan pengertian Ilmu Ushul Fiqh yang dikemukakan oleh Muhammad Abu Zahrah sebagai berikut :


Artinya :
"Ilmu tentang kaidah-kaidah yang menggariskan jalan-jalan utuk memperoleh hukum-hukum syara' mengenai perbuatan dan dalil-dalilnya yang terperinci."
Dengan lebih mendetail, dikatakan oleh Muhammad Abu Zahrah bahwa Ilmu Ushul Fiqh adalah ilmu yang menjelaskan jalan-jalan yang ditempuh oleh imam-imam mujtahid dalam mengambil hukum dari dalil-dalil yang berupa nash-nash syara' dan dalil-dalil yang didasarkan kepadanya, dengan memberi 'illat (alasan-alasan) yang dijadikan dasar ditetapkannya hukum serta kemaslahatan-kemaslahatan yang dimaksud oleh syara'. Oleh karena itu Ilmu Ushul Fiqh juga dikatakan :


Artinya:
"Kumpulan kaidah-kaidah yang menjelaskan kepada faqih (ahli hukum Islam) cara-cara mengeluarkan hukum-hukum dari dalil-dalil syara'."

Read More --►

Ushul Fiqh

Ushul Fiqh
4/1/2007 | 14 Dzulhijjah 1427 H | Hits: 4.092
Pengantar Ushul Fiqh
Oleh: Ahmad Sahal Hasan, Lc


“Tidak ada cara untuk mengetahui hukum Allah kecuali dengan ilmu ushul fiqh.” (Al-Amidi)

Definisi Ushul Fiqh
Para ulama ushul menjelaskan pengertian ushul fiqh dari dua sudut pandang. Pertama dari pengertian kata ushul dan fiqh secara terpisah, kedua dari sudut pandang ushul fiqh sebagai disiplin ilmu tersendiri.
Ushul Fiqh ditinjau dari 2 kata yang membentuknya
Al-Ushul
Al-ushuul adalah bentuk jamak dari al-ashl yang secara etimologis berarti ma yubna ‘alaihi ghairuhu (dasar segala sesuatu, pondasi, asas, atau akar).
Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, ashluha (akarnya) teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. (Ibrahim: 24)
Sedangkan menurut istilah, kata al-ashl berarti dalil, misalnya: para ulama mengatakan:
أصل هذا الحكم من الكتاب آية كذا
(Dalil tentang hukum masalah ini ialah ayat sekian dalam Al-Qur’an).
Jadi Ushul Fiqh adalah dalil-dalil fiqh. Dalil-dalil yang dimaksud adalah dalil-dalil yang bersifat global atau kaidah umum, sedangkan dalil-dalil rinci dibahas dalam ilmu fiqh.

Al-Fiqh
الفقه في اللغة: العلم بالشيء والفهم له
Al-fiqh menurut bahasa berarti pengetahuan dan pemahaman terhadap sesuatu.
Menurut istilah para ulama:
الفقه: العلم بالأحكام الشرعية العملية المكتسب من أدلتها التفصيلية
(ilmu tentang hukum-hukum syar’i yang bersifat amaliah yang diperoleh dari dalil-dalilnya yang terinci).

Penjelasan Definisi
الحكم: إسناد أمر إلى آخر إيجابا أو سلبا
Hukum adalah penisbatan sesuatu kepada yang lain atau penafian sesuatu dari yang lain. Misalnya: kita telah menghukumi dunia bila kita mengatakan dunia ini fana, atau dunia ini tidak kekal, karena kita menisbatkan sifat fana kepada dunia atau menafikan sifat kekal darinya.
Tetapi yang dimaksud dengan hukum dalam definisi fiqh adalah status perbuatan mukallaf (orang yang telah baligh dan berakal sehat), apakah perbuatannya wajib, mandub (sunnah), haram, makruh, atau mubah. Atau apakah perbuatannya itu sah, atau batal.
Ungkapan hukum-hukum syar’i menunjukkan bahwa hukum tersebut dinisbatkan kepada syara’ atau diambil darinya sehingga hukum akal (logika), seperti: satu adalah separuh dari dua, atau semua lebih besar dari sebagian, tidak termasuk dalam definisi, karena ia bukan hukum yang bersumber dari syariat. Begitu pula dengan hukum-hukum indrawi, seperti api itu panas membakar, dan hukum-hukum lain yang tidak berdasarkan syara’.
Ilmu fiqh tidak mensyaratkan pengetahuan tentang seluruh hukum-hukum syar’i, begitu juga untuk menjadi faqih (ahli fiqh), cukup baginya mengetahui sebagiannya saja asal ia memiliki kemampuan istinbath, yaitu kemampuan mengeluarkan kesimpulan hukum dari teks-teks dalil melalui penelitian dan metode tertentu yang dibenarkan syari’at.
Hukum-hukum syar’i dalam fiqh juga harus bersifat amaliyyah (praktis) atau terkait langsung dengan perbuatan mukallaf, seperti ibadahnya, atau muamalahnya. Jadi menurut definisi ini hukum-hukum syar’i yang bersifat i’tiqadiyyah (keyakinan) atau ilmu tentang yang ghaib seperti dzat Allah, sifat-sifat-Nya, dan hari akhir, bukan termasuk ilmu fiqh, karena ia tidak berkaitan dengan tata cara beramal, dan dibahas dalam ilmu tauhid (aqidah).
Ilmu tentang hukum-hukum syar’i yang bersifat amaliah ini juga harus diperoleh dari dalil-dalil rinci melalui proses penelitian mendalam terhadap dalil-dalil tersebut. Berarti ilmu Allah atau ilmu Rasul-Nya tentang hukum-hukum ini tidak termasuk dalam definisi, karena ilmu Allah berdiri sendiri tanpa penelitian, bahkan Dialah Pembuat hukum-hukum tersebut, sedangkan ilmu Rasulullah saw diperoleh dari wahyu, bukan dari kajian dalil. Demikian pula pengetahuan seseorang tentang hukum syar’i dengan mengikuti pendapat ulama, tidak termasuk ke dalam definisi ini, karena pengetahuannya tidak didapat dari kajian dan penelitian yang ia lakukan terhadap dalil-dalil.
Sedangkan contoh dalil yang terinci adalah:
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. (Al-Baqarah: 278).
Ayat ini adalah dalil rinci tentang haramnya riba berapa pun besarnya. Dinamakan rinci karena ia langsung berbicara pada pokok masalah yang bersifat praktis.
Ushul Fiqh sebagai disiplin ilmu
Ushul Fiqh sebagai sebuah disiplin ilmu tersendiri didefinisikan oleh Al-Baidhawi, salah seorang ulama mazhab Syafi’i dengan:
معرفة دلائل الفقه إجمالا وكيفية الاستفادة منها وحال المستفيد
(Memahami dalil-dalil fiqh secara global, bagaimana menggunakannya dalam menyimpulkan sebuah hukum fiqh (bagaimana berijtihad), serta apa syarat-syarat seorang mujtahid).

Penjelasan Definisi
Contoh dalil yang bersifat global: dalil tentang sunnah sebagai hujjah (sumber hukum), dalil bahwa setiap perintah pada dasarnya menunjukkan sebuah kewajiban, setiap larangan berarti haram, bahwa sebuah ayat dengan lafazh umum berlaku untuk semua meskipun turunnya berkaitan dengan seseorang atau kasus tertentu, dan lain-lain.
Yang dimaksud dengan menggunakan dalil dengan benar misalnya: mengetahui mana hadits yang shahih mana yang tidak, mana dalil yang berbicara secara umum tentang suatu masalah dan mana yang menjelaskan maksudnya lebih rinci, mana ayat/hadits yang mengandung makna hakiki dan mana yang bermakna kiasan, bagaimana cara menganalogikan (mengkiaskan) suatu masalah yang belum diketahui hukumnya dengan masalah lain yang sudah ada dalil dan hukumnya, dan seterusnya.
Kemudian dibahas pula dalam ilmu ushul apa syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh seorang mujtahid untuk dapat mengambil kesimpulan sebuah hukum dengan benar dari dalil-dalil Al-Qur’an maupun sunnah Rasulullah saw.
Sedangkan ulama mazhab Hanafi, Maliki dan Hambali mendefinisikan ushul fiqh dengan:
العلم بالقواعد الكلية التي يتوصل بها إلى استنباط الأحكام الشرعية من أدلتها التفصيلية
(Ilmu tentang kaidah-kaidah umum yang dapat digunakan untuk melakukan istinbath hukum-hukum syar’i dari dalil-dalilnya yang terinci).

Penjelasan Definisi
Kaidah adalah patokan umum yang diberlakukan atas setiap bagian yang ada di bawahnya.
Contoh kaidah umum:
الأصل في الأمر للوجوب
(Pada dasarnya setiap kalimat yang berbentuk perintah mengandung konsekuensi kewajiban) kecuali jika ada dalil lain yang menjelaskan maksud lain dari kalimat perintah tersebut. Misalnya perintah Allah swt dalam surat Al-Baqarah ayat 43:
((وآتوا الزكاة))
(tunaikanlah zakat) menunjukkan kewajiban zakat karena setiap perintah pada dasarnya menunjukkan kewajiban dan tidak ada ayat lain ataupun hadits yang menyatakan hukum lain tentang zakat harta. Dalam contoh ini ayat tersebut adalah dalil rinci, sedangkan kaidah ushul di atas adalah dalil yang bersifat global yang dapat diberlakukan atas dalil-dalil rinci lain yang sejenis.
Dapat disimpulkan bahwa ilmu ushul fiqh adalah ilmu yang mempelajari sumber-sumber hukum Islam, dalil-dalil yang shahih yang menunjukkan kepada kita hukum Allah swt, apa syarat-syarat ijtihad, dan bagaimana metode berijtihad yang benar sesuai batasan-batasan syariat.

Cakupan Ushul Fiqh
Setiap disiplin ilmu pasti memiliki bahasan tertentu yang membedakannya dengan disiplin ilmu lain, demikian pula ushul fiqh, ia memiliki bahasan tertentu yang dapat kita ringkas menjadi 5 (lima) bagian utama:
1.Kajian tentang adillah syar’iyyah (sumber-sumber hukum Islam) yang asasi (Al-Qur’an dan Sunnah) maupun turunan (Ijma’, Qiyas, Maslahat Mursalah, dan lain-lain).
2.Hukum-hukum syar’i dan jenis-jenisnya, siapa saja yang mendapat beban kewajiban beribadah kepada Allah dan apa syarat-syaratnya, apa karakter beban tersebut sehingga ia layak menjadi beban yang membuktikan keadilan dan rahmat Allah.
3.Kajian bahasa Arab yang membahas bagaimana seorang mujtahid memahami lafaz kata, teks, makna tersurat, atau makna tersirat dari ayat Al-Qur’an atau Hadits Rasulullah saw, bahwa sebuah ayat atau hadits dapat kita pahami maksudnya dengan benar jika kita memahami hubungannya dengan ayat atau hadits lain.
4.Metode yang benar dalam menyikapi dalil-dalil yang tampak seolah-olah saling bertentangan, dan bagaimana solusinya.
5.Ijtihad, syarat-syarat dan sifat-sifat mujtahid.

Tujuan Ushul Fiqh
غاية أو ثمرة علم الأصول: الوصول إلى معرفة الأحكام الشرعية بالاستنباط
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa ghayah (tujuan) dan tsamarah (buah) ilmu ushul adalah agar dapat melakukan istinbath hukum-hukum syar’i dari dalil-dalil syar’i secara langsung.
Di samping itu ada manfaat lain dari ilmu ushul, di antaranya:
1.Mengetahui apa dan bagaimana manhaj (metode) yang ditempuh oleh seorang mujtahid dalam beristinbath.
2.Mengetahui sebab-sebab ikhtilaf di antara para ulama.
3.Menumbuhkan rasa hormat dan adab terhadap para ulama.
4.Membentuk dan mengembangkan kemampuan berpikir logis dan kemampuan di bidang fiqh secara benar.

Sandaran Ushul Fiqh1. Aqidah/Tauhid, karena keyakinan terhadap kebenaran Al-Qur’an dan Sunnah serta kedudukannya sebagai sumber hukum/dalil syar’i bersumber dari pengenalan dan keyakinan terhadap Allah, sifat-sifat dan perbuatan-Nya yang suci, juga bersumber dari pengetahuan dan keyakinan terhadap kebenaran Muhammad Rasulullah saw, dan semua itu dibahas dalam ilmu tauhid.
3. Bahasa Arab, karena Al-Quran dan Sunnah berbahasa Arab, maka untuk memahami maksud setiap kata atau kalimat di dalam Al-Quran dan Sunnah mutlak diperlukan pemahaman Bahasa Arab. Misalnya sebagian ulama mengatakan bahwa:
الأمر يقتضي الفور
(Setiap perintah mengharuskan pelaksanaan secara langsung tanpa ditunda). Dalil kaidah ini adalah bahasa, karena para ahli bahasa mengatakan: jika seorang majikan berkata kepada pelayannya: “Ambilkan saya air minum!” lalu pelayan itu menunda mengambilnya, maka ia pantas dicela.
5. Al-Quran dan Sunnah, misalnya kaidah ushul:
الأصل في الأمر للوجوب
(setiap perintah pada dasarnya berarti kewajiban) dalilnya adalah:
maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul itu merasa takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. (An-Nur: 63)
7. Akal, misalnya kaidah ushul:
إذا اختلف مجتهدان في حكم فأحدهما مخطئ
(Jika dua orang mujtahid berseberangan dalam menghukumi suatu masalah, maka salah satunya pasti salah) dalilnya adalah logika, karena akal menyatakan bahwa kebenaran dua hal yang bertentangan adalah sebuah kemustahilan.

Hukum Mempelajari Ushul Fiqh
Al-Amidi dalam bukunya Al-Ihkam mengatakan: “Tidak ada cara untuk mengetahui hukum Allah swt kecuali dengan ilmu ushul ini. Karena seorang mukallaf adalah awam atau bukan awam (’alim). Jika ia awam maka wajib baginya untuk bertanya:
Maka tanyakanlah kepada orang-orang yang berilmu jika kamu tidak mengetahui. (Al-Anbiya: 7)
Dan pertanyaan itu pasti bermuara kepada ulama, karena tidak boleh terjadi siklus. Jika mukallaf seorang ‘alim, maka ia tidak bisa mengetahui hukum Allah kecuali dengan jalan tertentu yang dibenarkan, sebab tidak boleh memutuskan hukum dengan hawa nafsu, dan jalan itu adalah ushul fiqh. Tetapi mengetahui dalil setiap hukum tidak diwajibkan atas semua orang, karena telah dibuka pintu untuk meminta fatwa. Hal ini menunjukkan bahwa menguasai ilmu ushul bukanlah fardhu ‘ain, tetapi fardhu kifayah, wallahu a’lam.”

Perbedaan Ushul Fiqh Dengan Fiqh
Pembahasan ilmu fiqh berkisar tentang hukum-hukum syar’i yang langsung berkaitan dengan amaliyah seorang hamba seperti ibadahnya, muamalahnya,…, apakah hukumnya wajib, sunnah, makruh, haram, ataukah mubah berdasarkan dalil-dalil yang rinci.
Sedangkan ushul fiqh berkisar tentang penjelasan metode seorang mujtahid dalam menyimpulkan hukum-hukum syar’i dari dalil-dalil yang bersifat global, apa karakteristik dan konsekuensi dari setiap dalil, mana dalil yang benar dan kuat dan mana dalil yang lemah, siapa orang yang mampu berijtihad, dan apa syarat-syaratnya.
Perumpamaan ushul fiqh dibandingkan dengan fiqh seperti posisi ilmu nahwu terhadap kemampuan bicara dan menulis dalam bahasa Arab, ilmu nahwu adalah kaidah yang menjaga lisan dan tulisan seseorang dari kesalahan berbahasa, sebagaimana ilmu ushul fiqh menjaga seorang ulama/mujtahid dari kesalahan dalam menyimpulkan sebuah hukum fiqh.

Read More --►

MADZHAB SUNNI DAN MADZHAB SYI’AH

MADZHAB SUNNI DAN MADZHAB SYI’AH

Makalah ini dibuat guna memenuhi tugas mata kuliah:
FIQH DAN USHUL FIQH
Dosen Pengampu:
Drs.A. Miftah

Disusun Oleh:
Erna Iryawanti
08410180/PAI 4

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2008


A.Concept Map

MADZHAB:
ALIRAN-ALIRAN DALAM HUKUM ISLAM

MADZHAB- MADZHAB-
MADZHAB SUNNI MADZHAB SYAR’I

MADZHAB MADZHAB
YANG EKSIS ZAIDI

HANAFI MADZHAB
JA’FARI
MALIKI
PERBEDAAN SYAR’I
SYAFI’I DAN SUNNI

HAMBALI

MADZHAB AUZA’I
YANG LENYAP
LAITSI

TSAURI

DLAHIRI

PENDAHULUAN

Dalam kehidupan ini perbedaan merupakan suatu keniscayaan, demikian juga dalam dunia pemikiran hukum Islam atau Fiqh perbedaan merupakan hal biasa, karena Fiqh seperti yang telah disinggung dalam bab sebelumnya adalah hasil ijtihad manusia yang tentu saja sangat relatif tergantung dari berbagai faktor, antara lain faktor mujtahidnya atau siapa yang berijtihad, faktor situasi dan kondisi yakni dalam situasi dan kondisi bagaimanakah waktu mujtahid tersebut beristinbat, bagaimana situasi pemerintahan pada waktu itu, dan lain sebagainya.
Perbedaan cara pandang dan metode penetapan hukum tersebut, akhirnya melahirkan aliran-aliran tertentu, yang kemudian dikenal dengan aliran Ahlul Hadits dan Ahlur Ra’yi, ada yang menyebut dengan istilah aliran tradisionalisme dan rasionalisme. Berkembangnya kedua aliran ijtihad tersebut pada akhirnya melahirkan madzhab-madzhab dalam fiqh yang memiliki corak metodologi dan produk hukum Islam atau fiqh tersendiri, serta masing-masing juga telah memiliki pengikut dari berbagai lapisan masyarakat.
Dalam sejarah pengkajian hukum Islam, dikenal beberapa madzhab yang secara umum dikelompokkan menjadi dua kelompok besar yakni madzhab Sunni dan madzhab Syar’i.
Dalam madzhab Sunni sendiri dikenal berbagai madzhab, antara lain: madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hambali, Auza’i, Laitsi, Tsauri, dan Dhahiri.
Madzhab-madzhab tersebut tidak semuanya eksis sampai saat ini, namun sebagian tidak ada yang berkembang bahkan tidak dikenal lagi oleh masyarakat. Adapun yang masih eksis dan memiliki pengikut yang banyak di lapisan masyarakat Islam di dunia adalah Empat Madzhab pertama telah disebutkan diatas, sementara itu lima madzhab terakhir adalah madzhab yang tidak berkembang lagi.


PEMBAHASAN
A. Madzhab-Madzhab Sunni
1. Madzhab Hanafi
Madzhab Hanafi merupakan salah satu dari madzhab empat dari golongan Sunni. Madzhab ini berkedudukan di Kufah, nama dari madzhab ini diambil dari ulama yang bernama an-Nu’man bin Tsabit [80 H-150 H] yang lebih dikenal dengan julukan atau gelar Imam Abu Hanifah.
Ada beberapa riwayat tentang asal usul beliau mendapat julukan atau gelar Abu Hanifah tersebut, ada yang mengatakan karena beliau begitu dekat dan eratnya berteman dengan tinta guna menulis dan mencatat ilmu pengetahuan yang telah di perolehnya, maka beliau dijuluki dengan Abu Hanifah karena Hanifah dalam bahasa Irak berarti tinta. Sementara riwayat yang lain menyatakan bahwa gelar tersebut diberikan oleh masyarakat karena ketaatan dan ketekunannya dalam beribadah kepada Allah, gelar ini diambil dari bahasa Arab Haniif yang berarti yang berpegang teguh pada ajaran yang benar.
Imam Abu Hanifah dilahirkan di kota Kuffah, Irak pada tahun 80 Hijriah.Ayah beliau, Tsabit adalah pedagang sutera dari Persia, usaha inilah yang kemudian diwarisi oleh Abu Hanifah. Sebagai pedagang sutera beliau dikenal sebagai orang yang selalu benar, jujur serta amanah dalam berdagang.
Abu Hanifah dikenal sebagai seorang yang rajin menuntut ilmu, pada awalnya beliau mempelajari semua ilmu yang bertalian dengan agama, dan setelah menguasai berbagai ilmu, beliau menfokuskan diri pada bidang fiqh. Beliau belajar Fiqh pada seorang ulama bernama Hammad bin Abi Sulaiman yang merupakan salah satu ulama besar pada saat itu .Beliau menimba ilmu dari gurunya tersebut selama kurang lebih 18 tahun, hingga gurunya meninggal pada tahun 120 H.
Imam Abu Hanifah juga dikenal sebagai ulama Ahl Ra’yi. Meskipun Abu Hanifah pernah bermukim di Makkah dan mempelajari hadits-hadits Nabi, serta ilmu-ilmu lain dari para tokoh yang beliau jumpai, akan tetapi pengalaman dan ilmu yang beliau peroleh dari luar Kufah digunakan untuk memperkaya koleksi hadits-haditsnya, sementara metodologi kajian fiqhnya mencerminkan aliran Ahl ar-Ra’yi yang beliau pelajari dari Imam Hammad, dengan al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai sumber pertama dan kedua.
Apabila beliau tidak menemukan ketentuan yang tegas tentang hukum persoalan yang dikajinya dalam al-Qur’an maupun as-Sunnah, maka beliau mempelajarinya dari perkataan sahabat baik dalam bentuk ijma’ maupun fatwa, kalau ketiganya tidak menyatakan secara eksplisit tentang persoalan-persoalan tersebut, maka beliau mengkajinya melalui Qiyas dan Istihsan, atau melihat tradisi-tradisi yang berkembang dalam masyarakat yang ditaati secara bersamaa-sama.
Dasar-dasar yang digunakan oleh Madzhab Hanafi dalam menetapkan suatu hukum berdasarkan urutannya:
1. Al Qur’an
Madzhab Hanafi berpendapat bahwa al-Qur’an merupakan sumber dan dalil utama bagi hukum Islam sampai hari Kiamat. Al-Qur’an mengandung berbagai ketentuan syari’ahnya, oleh karenanya al-Qur’an berperan sebagai rujukan dalam proses kajian segala permasalahan hukum agama.
2. As-Sunnah
As-Sunnah memiliki fungsi sebagai penerang dan penjelas al-Qur’an yang masih bersifat umum. Orang yang tidak mau memegangi as-Sunnah berarti tidak mengakui kebenaran risalah Allah yang disampaikan oleh Nabi SAW.
3. Perkataan Sahabat
Dalam pandangan Madzhab Hanafi perkataan sahabat ini mempunyai posisi ketiga sebagai dalil hukum Islam setelah al-Qur’an dan as-Sunnah karena bagi Abu Hanifah sebagai Imam Madzhab Hanafi, para sahabat adalah orang-orang yang membawa ajaran Rasul kepada generasi sesudahnya, maka pengetahuan dan pernyataan keagamaan mereka lebih dekat pada kebenaran tersebut.
4. Al-Qiyas
Imam Abu Hanifah merasa tidak harus menerima rumusan hukum dari murid-murid para sahabat atau yang disebut tabi’in ketika tidak mempunyai bukti jelas dan kuat. Beliau memandang bahwa dirinya setara dengan para tabi’in dan melakukan ijtihad sendiri berdasarkan pada prinsip-prinsip al-Qiyas yang telah dibangunnya bersama para muridnya.
5. Al-Istihsan
Al-Istihsan artinya berpindahnya seorang mujtahid dari satu dalil qiyas kepada qiyas yang lain yang lebih kuat pengaruhnya atau lebih sesuai dengan kepentingan manusia, meskipun bisa saja secara teknis dalil qiyas yang digunakan lebih lemah daripada qiyas yang ditinggalkan.
6. Al-Urf
‘Urf sendiri berarti tradisi masyarakat baik berupa perkataan maupun perbuatan, atau dengan perkataan lain adalah adat kebiasaan. Namun demikian tidak semua ‘urf dapat dijadikan sebagai dasar atau dalil tasyri’, melainkan hanyalah ‘urf yang tidak bertentangan dengn nash, dan sejalan dengan semangat syari’ah sedangkan ‘urf yang bertentangan dengan nash jelas ditolak oleh madzhab Hanafi.

2. Madzhab Maliki
a. Asal Usul Madzhab Maliki
Sebagaimana Madzhab Hanafi, Madzhab Maliki ini juga merupakan salah satu madzhab dari golongan Sunni. Adapun nama dari madzhab ini dinisbatkan dari nama seorang ulama bernama Imam Malik bin Anas (93 H-179 H). Beliau lahir di Madinah dan menjadi ahli fiqh yang terkenal di Madinah. Diriwayatkan bahwa beliau tidak pernah meninggalkan kota ini kecuali pada waktu melaksanakan ibadah haji.
b. Dalil-dalil yang digunakan oleh Madzhab Maliki
Imam Malik adalah orang yang sangat hati-hati dan teliti dalam memberikan fatwa maupun meriwayatkan hadits meskipun beliau dikenal sebagai ulama besar di Madinah.
Metode pengajaran yang beliau lakukan didasarkan pada ungkapan hadits dan pembahasan atas makna-maknanya lalu dikaitkan dengan konteks permasalahan yang ada pada saat itu. Kadang beliau juga menelaah masalah-masalah yang terjadi di daerah asal murid-muridnya, kemudian mencarikan hadits-hadits atau atsar-atsar (pernyataan sahabat) yang bisa digunakan untuk memecahkan permasalahan tersebut. Imam Malik juga sangat menghindari ekulasi, oleh karenanya madzhab Maliki dikenal sebagai Ahl-Hadits.

1)Al-Qur’an
Sebagaimana Imam Abu Hanifah, Imam Malik juga meletakkan Al-qur’an sebagai dalil dan dasar yang tertinggi di atas dalil-dalil yang lain.
2) As-Sunnah
Imam Malik menjadikan As-Sunnah sebagai dalil kedua setelah Al-Qur’an. Berbeda dengan Imam Abu Hanifah yang mensyaratkan penggunaan As-Sunnah dengan kualifikasi tertentu, Imam Malik meski mengutamakan Al-Hadits yang mutawatir dan masyhur juga bisa menerima Al-Hadits yang Ahad sekalipun asalkan tidak bertentangan dengan amal ahli Madinah.
3) Amal ahli Madinah (Praktik masyarakat Madinah)
Imam Malik berpendapat bahwa Madinah merupakan tempat Rasulullah SAW menghabiskan sepuluh tahun akhir hidupnya, maka praktik yang dilakukan oleh masyarakat Madinah mesti diperbolehkan oleh Nabi SAW, atau bahkan bisa jadi dianjurkan oleh Nabi SAW sendiri, oleh karena itu Imam Malik menganggap bahwa praktik masyarakat Madinah merupakan bentuk As-Sunnah yang sangat otentik yang diriwayatkan dalam bentuk tindakan.
Imam Malik lebih mendahulukan dan mengutamakan tradisi masyarakat Madinah ini daripada al-Hadist yang ahad,hal ini sesuai dengan pernyataan guru beliau Rabi’ah bin Abd ar-rahman,bahwa:”Seribu dari seribu itu lebih baik daripada satu dari satu.
4) Fatwa Sahabat
5) Al-Qiyas
6) Al-Mashlahah al-Mursalah
Al-mashlahah al-mursalah yakni menetapkan hukum atas berbagai persoalan yang tidak ada petunjuk nyata dalam nash,dengan pertimbangan kemashlahatan,yang yang proses analisisnya lebih banyak ditentukan oleh nalar mujtahidnya.
7) Al-Istihsan
8) Adz-Dzari’ah
Secara etimologi kata AZ-dzari’ah berarti sarana,sedangkan secara terminologi para ahli ushul adalah sarana atau jalan untuk sampai pada suatu tujuan.Adapun tujuan tersebut bisa berupa kebaikan yang berarti mashlahah dan bisa pula maksiat yang berarti mafsadah.
Apabila sarana tersebut membawa pada kemaslahan, maka harus dibuka peluang untuk melakukannya, dalan ilmu ushul fiqh disebut dengan fath adz-dzari’ah, sedangkan sarana yang membawa pada kemafsadatan, maka harus ditutup jalan untuk sampai kepadanya, dalam ilmu ushul fiqh disebut dengan sadd adz-dzari’ah.
Sebagai ulama besar di Madinah, Imam Malik banyak didatangi murid-murid dari berbagai penjuru negeri yang ingin berguru pada beliau. Diantara muri-murid beliau yang terkenal antara lainadalah: Abd ar-Rahman bin al-Qasim, Ibnu wahab dan as-Syafi’i.
Madzhab Maliki ini sampai saat ini masih banyak pengikutnya dan mereka tersebar ke beberapa negeri antara lain: Mesir, Sudan, Kuwait, Bahrain, maroko, dan Afrika.
3. Madzhab Syafi’i
Imam Syafi’I mempunyai kecerdasan yang luar biasa. Diriwayatkan bahwa sebelum dewasa beliau sudah hafal al-qur’an dengan sempurna dan telah pula menguasai kitab ai-Muwaththa’. Dikota Mekkah beliau belajar pada beberapa guru antara lain: muslim bin Khalid dan Sufyan bin Uyainah, kemudian beliau juga belajar kepada Imam Malik di Madinah.
Pengembaraan imam asy-Syafi’idalam mencari ilmu belum berhenti di Iraq, setelah sebelumnya beliau juga menimba ilmu agama di beberapa daerah seperti Makkah, Madinah dan Yaman. Dari Iraq beliau menuju Mesir dengan tujuan hendak belajar Imm al-Laits, namun belum sampai di Mesir Imam al-Laits telah meninggal. Tidak putus asa Imam Syafi’I tetap mendalami ajaran al-Laits lewat para muridnya. Imam asy-Syafi’I terus menetap di Mesir sampai beliau meninggal pada tahun 204 H. Beliau meninggalkan banyak karya antara lain: Ar-Risalah, al-Umm, al-Hujjah, al-Imla’, dan al-Amali.
Dalil-dalil yang digunakan oleh Madzhab Syafi’i
1.Al-Quran
Tidak berbeda dengan para pendahulunya, Imam asy-Syafi’i meletakkan al-quran sebagai dalil utama dan pertama dalam meletakkan sy=uatu hukum, karena al-qur’an datang dari Allah yang sampai pada umat Islam secara mutawatir.
Guna memahami al-qur’an, Imam asy-Syafi’i telah merumuskan kaidah-kaidah ijtihad yang beliau tuangkan dalam kitab ushul fiqhny Yng berjudul ar-Risalah.
2.As-Sunnah
Sebagaimana para pendahulunya Imam asy-Syafi’i memposisikan as-Sunnah sebagai dalil kedua setelah al-qur’an. Hanya perbedaannya adalah dalam penggunaannya Imam asy-Syafi’i tidak mensyaratkan kriteria sebagaimana Imam Abu Hanifah dan Imam Malik.
3.Al-Ijma’
Imam asy-Syafi’i berpandangan bahwa kemungkinan ijma’ yang berarti persamaan faham atau kesepakatan seluruh ulama’ atas suatu persoalan pada satu masa merupakan hal yang sulit terjadi, karena jauhnya jarak dan sulitnya komunikasi diantara para ulama’ tersebut, namun demikian beliau tetap mengakui adanya ijma’ dan memeganginya sebagai dalil, dan yang mungkin terjadi adalah ijma’ sahabat dalm persoala-persoalan tertentu.
4.Perkataan Sahabat
Imam asy-Syafi’i memberi kepercayaan yang tinggi terhadap pendapat dan hasil kajian para sahabat. Produk-produk ijtihad mereka yang dinyatakan lewat ijma’ harus diterima secara mutlak, sedang fatwa-fatwa individual boleh diterima dengan menganalisis dasar-dasar fatwanya.
5.Al-Qiyas
Dalam pandangannya asy-Syafi’i, untuk menjawab persoalan-persoalan yang tidak dinyatakan secara eksplisit dalam al-qur’an, as-sunnah, al-ijma’ maupun fatwa-fatwa sahabat, seorang mujtahid melakukan ijtihad dengan menggunakan al-qiyas yang senantiasa membawa l-furu’ kepada al-ashl.
6.Al-Istishab
Al-istishab berarti memniarkan berlangsungnya suatu hukum yang sudah ditetapkan pada masa lampau dan masih diperlukan ketentuannya hingga ada dalil lain yang menggantikannya. Istishab ini didasarkan pada asumsi bahwa hukum fiqh yang ada bisa diaplikasikan pada setiap waktu dan tetap sah sepanjang tidak ada aturan yang lain yang datang kemudian.
Para pengikut Madzhab Syafi’i
Diantara murid Imam asy-Syafi’i yang turut menyebarkan pemikiran-pemikiran beliau adalah: Imam Ahmad bin Hanbal, ar-Rabi’ bin Sulaiman al-Muradi, Yusuf bin Yahya al-Buwaithi, Isma’il bin Yahya al-Muzani Yunus bin Abd al-A’la. Sedangkan yang termasuk para pengikut madzhab Syafi’i yang terkenal adalah: Abu Hamid al Ghazali, Muhyiddin an-Nawawi, Tajuddin Abd al-Wahhab as-Subkhi dan Jaluddin as-Suyuthi.
Madzhab Syafi’i sampai saat ini masih banyak pengikutnya dan berkembang di beberapa daerah seperti Mesir, Afrika Timur, Persia, Indonesia dan Malaysia.

4. Madzhab Hambali
Nama ulama’ yang namanya dijadikan sebagai nama madzhab ini adalah Imam Ahmab bin Hambal. Beliau lahir pada bulan Rabi’ al Awwal tahun 164 H di Baghdad. Imam Ahmad telah menjadi yatim ketika masih kecil, oleh karenanya beliau tidak sempat mengenal ayahnya dengan baik.
Sebagaimana para imam madzhab sebelumnya, beliau juga memiliki kecerdasan dan daya ingat yang luat biasa. Imam Ahmad selain menggeluti hadits-hadits dengan melakukan perjalanan ke berbagai daerah, juga mendalami ilmu fiqh. Diantara guru-guru beliau adalah Abu Yusuf yang merupakan murid ternama Imam Abu Hanufah, serta Imam Syafi’i murid Imam malik yang juga merupakan tokoh utama madzhab Syafi’i. seluruh waktunya beliau curahkan untuk mendalami hadits-hadits Nabi, sehingga dari kerja keras beliau lahirlah karya besar yang bernama Musnad Ahmad bin Hambal.
Imam Ahmad adalah orang yang sangat kuat menjaga shalatnya, beliau tidak sekali-kali meninggalkan shalat walau dalam keadaan bagaimanapun. Ketika beliau sakit dan tidak mampu menyuci celah jari-jemarinya dikala berwudlu’, beliau meminta anak-anaknya untuk menyucikannya. Setelah sakitnya semakin parah, Imam Ahmad akhirnya meninggal dunia pada tahun 241 H. jenazahnya dikebumikan di Baghdad tempat beliau meninggal dan diiringi oleh puluhan ribu pelayat.
Perkataan Sahabat
Imam Ahmad menerima fatwa para sahabat yang tidak diperselisihkan oleh sahabat yang lain atau ulama’ lain menyebutnya sebagai ijma’. Akan tetapi karena beliau menolak ijma’ dalam arti kesepakatan para mujtahid dalam satu masa, maka istilah ijma’ ini menjadi tidak lazim digunakan kalaupun digunakan adalah ijma’ sahabat.

5. Madzhab Auza’i
Nama madzhab ini diambil nama pendirinya yaitu Abdurrahman bin Muhammad al-Auza’I yang lahir pada tahun 88 H. Imam al-Auzai ini termasuk ulama’ yang menentang penggunaan al-qiyas secara berlebihan. Beliau senantiasa mengembalikan furu’ pada hadist nabi tanpa melakukan kajian al-qiyas. Beliau menghabiskan sebagian besar hidupnya di Beirut, sampai wafatnya tahun 157 H. Akan tetapi madzhabnya lebih dikenal di Syiria, Yordania, dan bahkan sampai Australia atau Spanyol.

6. Madzhab Laitsi
Madzhab ini merupakan madzhab yang dikembangkan oleh Imam Laitsi bin Sa’ad yang lahir di Mesir pada tahun 94 H. Beliau menjadi ulama’ besar di Mesir setelah belajar secara mendalam tentang berbagai bidang ilmu keislaman. Dalil-dalil yang digunakan dalam melakukan kajian hukum hampir sama dengan para Imam yang lainnya, hanya beliau tidak sependapat dengan Imam Malik dalam hal penggunaan tradisi masyarakat Madinah sebagai dalil dalam menetapkan suatu hukum. Beliau meninggal pada tahun 175 H.

7. Madzhab Tsauri
Madzhab ini dikembangkan oleh ulama’ terkemuka di Kufah yang bernama Imam Sufyan ats-Tsauri yang lahir pada tahun 97 H. Beliau adalah ulama’ yang hidup semasa Imam Abu Hanifah, akan tetapi mereka mempunyai pandangan yang berbeda dalam penggunaan al-qiyas dan al-istihsan. Beliau juga pernah ditawari oleh Khalifah untuk menjadi qadli dengan syarat tidak akan membuat fatwa yang bertentangan dengan kebijakan pemerintah, namun beliau menolaknya. Akhirnya beliau dipaksa untuk berhenti mengajar. Setelah itu beliaupun hidup dalam persembunyian hingga wafat pada tahun 161 H.
8.Madzhab Dhahiri
Madzhab ini dipelopori oleh Dawud bin Ali al-Ashbani yang lahir pada tahun 2020 H. beliau belajar fiqh dari murid-murid Imm asy-Syafi’i, oleh karenanya diriwayatkan pada mulanya oleh beliau bermadzhab asy-Syafi’i, namun akhirnya beliau mengkritik madzhab Syafi’i tersebut karena menurutnya asy-Syafi’I tidak konsisten dengan menggunakan al-Qiyas dan menolak al-istihsan, padahal dalam pandangan beliau antara al-qiyas dan al-istihsan adalah sama.
Kemudian beliaumenggunakan cara tersendiri dalam kajian hukumnya, yakni dengan menekankan pada pemahaman literalis yakni berpegang pada makna harfiyah atau dhahir nash al-qur’an maupun as-sunnah, oleh karenanya, madzhabnya disebut dengan madzhab dhahiri, hal ini berlainan dengan nama madzhab-madzhab lain yang dinisbatkan dengan nama tokohnya, sementara madzhab dhahiri ini dinisbatkan dari metode kajian hukumnya.

Faktor Penyebab Eksis dan Lenyapnya Suatu Madzhab
1.Faktor-Faktor Penyebab Eksisnya Suatu Madzhab
a.Adanya para murid dan pengikut yang turut menyebarkan pemikiran-pemikiran madzhab tersebut.
b.Adanya karya-karya peninggalan madzhab yang masih bisa diakses dan dipelajari oleh generasi berikutnya.
c.Adanya pengaruh dan campur tangan penguasa dalam menentukan kebijakan dan aturan-aturan hukum suatu negeri, seperti kebijakan yang menentukan madzhab tertentu sebagai madzhab resmi negara.
2.Faktor-faktor Penyebab Lenyapnya Suatu Madzhab
a.Adanya pengaruh dari kebijakan penguasa
Hal ini terjadi pada madzhab Auza’i. diriwayatkan bahwa ketika Abu Zar’ah Muhammad bin Utsman dari madzhab Syafi’i diangkat sebagai hakim, beliau membuat kebijakan bagi siapapun yang sanggup menghafal buku Muhtasar al-Mudzani (buku madzhab Syafi’i) maka akan diberikan hadiah uang tunai. Kebijakan tersebut tentu saja sangat mempengaruhi tersebarnya madzhab Syafi’i dengan cepat di Syiria, dengan hal ini menyebabkan menyusutnya bahkan lenyapnya madzhab Auza’i yang sebelumnya berkembang di Syiria.
b.Tidak adanya karya-karya peninggalan madzhab yang memadai
Hal tersebut seperti yang terjadi pada madzhab Laitsi,penyebab lenyapnya madzhab ini antara lain karena tokoh madzhab sendiri yakni Imam Laits tidak mencatat, membukukan dan tidak juga menganjurkan kepada para muridnya untuk mencatat pendapat-pendapatnya, oleh karenanya pemikiran-pemikiran dari madzhab ini menjadi sulit untuk dilacak dan dipelajari.
c.Faktor para murid dan para pengikutnya
Faktor penyebab musnahnya madzhab ini disebabkan karena jumlah murid yang sedikit dan mereka tidak ada yang mampu mensosialisasikan madzhab ini. Imam madzhab ini menghabiskan sebagian besar hidupnya dalam persembunyian, sehingga tidak bisa menarik murid dalam jumlah besar yang nantinya bisa menyebarkan ajaran madzhab ini.

Madzhab-Madzhab Syar’i
1.Madzhab Zaidi
Madzhab ini dipelopori oleh Zaid bin Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib yang lahir pada tahun 80 H. Menurut penyelidikan Abu Zahrah sebagaiman yang dikutip oleh Harun Nasution, dikatakan bahwa: Metode dan pendapat-pendapat hukum yang tertulis dalam karyanya tidak berbeda jauh dengan metode dan pendapat para ulama madzhab Sunni. Imam Zqidi meninggal pada tauhn 122 H.
Dalil-dalil yang digunakan dalam menetapkan hukum:
a.Al-Qur’an
Sama seperti para Imam madzhab Sunni, madzhab Zaidi ini juga menempatkan al-qur’an sebagai dalil pertama dan sumber utama dalam kajian hukum Islam.
b.As-Sunnah
As-Sunnah ini tidak hanya terbatas pada periwayatan yang berasal dari ahlul bait saja seperti dalam madzhab Syar’i yang lain, akan tetapi mencakup semua periwayatan yang dapat diterima.
c.Ijma’ Sahabat
Imam Zaidi mengakui Ijma’ sahabat sebagai sumber hukum Islam, karena itu, meski beliau merasa bahwa kakeknya, Ali, lebih pantas menjadi pemimpin daripada Abu Bakar, Umar, dan Utsman, penerimaan secara bulat atas kekhalifahan mereka oleh para sahabat, menurutnya, membuatnya terikat secara hukum.
d.Al-Qiyas, al-Istihsan, dan al-Istishlah
Para pengikut madzhab ini berpandangan bahwa prinsip al-Istihsan dan al-Istislah merupakan bagiab dari apa yang disebut al-qiyas dalam madzhab-madzhab yang lain.
Menurut madzhab ini, ijtihad tetap terbuka dan tidak ada istilah pintu ijtihad telah tertutup.
2.Madzhab Ja’fari
Madzhab ini dinisbatkan pada tokoh utamanya yakni Imam Ja’far ash-Shadiq yang lahir pada tahun 80 H. Beliau belajar ilmu agama dari kakeknya sendiri yaitu Ali Zainal Abidin, setelah kakeknya meninggal, beliau dibina sendiri oleh ayahnya sendiri Muhammad al-Baqir.
Dalam pola kajian fih madzhab Ja’fari ini, ciri tradisionalisme dan syar’iismenya nampak jelas. Dalil yang digunakan dalam penetapan hukum adalah al-Qur’an, as-Sunnah, dan pemikiran para Imamnya yang berpijak pada mashlahah. Dalam penggunaan al-Qiyas terdapat perbeadaan dengan madzhab Zaidi, kalau Zaid menggunakn al-Qiyas, maka Imam Ja’far menolaknya dengan keras. Imam Ja’far meninggal pada tahun 148 H.

Perbedaan Syar’i dan Sunni
Sebenarnya perbedaan antara madzhab Syar’i dan Sunni itu merupakan hal biasa sama seperti perbedaan yang ada antar masing-masing Imam madzhab Sunni. Perbedaan yang ada lebih banyak dipengaruhi oleh aspek teologi dan politik. Contoh perbedaan tersebut adalah kalau dalan Sunni menerima semua hadits tidak melihat dan membatasi periwayatan hanya dari ahlul bait saja, sementara dalam Syar’i sebagian ada yang membatasi bahwa hadits yang bisa diterima adalah hadits yang diriwayatkan oleh ahlul bait saja.
Perbedaan lain adalah prinsip tentang Imam, dalam pandangan Sunni tidak dikenal prinsip kema’suman Imam, sedangkan menurut Syar’i, imam-imam mereka ma’sum dan kema’sumannya itu melahirkan kompetensi pemahaman atas nash al-Qur’an yang tidak bisa dijangkau oleh para ulama lain.


KESIMPULAN

Perbedaan-perbedaan dalam hukum Islambisa dilihat terutama setelah meluasnya agama Islam ke berbagai belahan dunia, hal tersebut juga dibarengi dengan banyaknya peristiwa-peristiwa baru yang muncul dalam kehidupan manusia. Keadaan demikian ini menyebabkan para alim ulama yang dijadikan tempat bertanya tentang hukum Islam berusaha mencari dan menemukan hukum peristiwa tersebut melalui ijtihad.
Selain hal diatas adalah tersebarnya para alim ulama tersebut ke berbagai daerah dan negeri. Keadaan lingkungan dan cara berfikir masing-masing daerah dan negeri tersebut tentu berbeda, hal ini sangatlah mempengaruhi pola penetapan hukum, karena masing-masing ulama dalam berijtihad guna menetapkan hukum menempuh jalan masing-masing yang dipandang benar dengan pertimbangan dan pengaruh budaya masing-masing. Namun, dari perbedaan itu mereka masih bersumber pada al-Qur’an as-Sunnah.

DAFTAR PUSTAKA

Read More --►

MADZHAB SUNNI DAN MADZHAB SYI’AH

MADZHAB SUNNI DAN MADZHAB SYI’AH

Makalah ini dibuat guna memenuhi tugas mata kuliah:
FIQH DAN USHUL FIQH
Dosen Pengampu:
Drs.A. Miftah

Disusun Oleh:
Erna Iryawanti
08410180/PAI 4


PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2008


A.Concept Map

MADZHAB:
ALIRAN-ALIRAN DALAM HUKUM ISLAM



MADZHAB- MADZHAB-
MADZHAB SUNNI MADZHAB SYAR’I



MADZHAB MADZHAB
YANG EKSIS ZAIDI

HANAFI MADZHAB
JA’FARI
MALIKI
PERBEDAAN SYAR’I
SYAFI’I DAN SUNNI

HAMBALI

MADZHAB AUZA’I
YANG LENYAP
LAITSI

TSAURI

DLAHIRI

PENDAHULUAN

Dalam kehidupan ini perbedaan merupakan suatu keniscayaan, demikian juga dalam dunia pemikiran hukum Islam atau Fiqh perbedaan merupakan hal biasa, karena Fiqh seperti yang telah disinggung dalam bab sebelumnya adalah hasil ijtihad manusia yang tentu saja sangat relatif tergantung dari berbagai faktor, antara lain faktor mujtahidnya atau siapa yang berijtihad, faktor situasi dan kondisi yakni dalam situasi dan kondisi bagaimanakah waktu mujtahid tersebut beristinbat, bagaimana situasi pemerintahan pada waktu itu, dan lain sebagainya.
Perbedaan cara pandang dan metode penetapan hukum tersebut, akhirnya melahirkan aliran-aliran tertentu, yang kemudian dikenal dengan aliran Ahlul Hadits dan Ahlur Ra’yi, ada yang menyebut dengan istilah aliran tradisionalisme dan rasionalisme. Berkembangnya kedua aliran ijtihad tersebut pada akhirnya melahirkan madzhab-madzhab dalam fiqh yang memiliki corak metodologi dan produk hukum Islam atau fiqh tersendiri, serta masing-masing juga telah memiliki pengikut dari berbagai lapisan masyarakat.
Dalam sejarah pengkajian hukum Islam, dikenal beberapa madzhab yang secara umum dikelompokkan menjadi dua kelompok besar yakni madzhab Sunni dan madzhab Syar’i.
Dalam madzhab Sunni sendiri dikenal berbagai madzhab, antara lain: madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hambali, Auza’i, Laitsi, Tsauri, dan Dhahiri.
Madzhab-madzhab tersebut tidak semuanya eksis sampai saat ini, namun sebagian tidak ada yang berkembang bahkan tidak dikenal lagi oleh masyarakat. Adapun yang masih eksis dan memiliki pengikut yang banyak di lapisan masyarakat Islam di dunia adalah Empat Madzhab pertama telah disebutkan diatas, sementara itu lima madzhab terakhir adalah madzhab yang tidak berkembang lagi.






PEMBAHASAN
A. Madzhab-Madzhab Sunni
1. Madzhab Hanafi
Madzhab Hanafi merupakan salah satu dari madzhab empat dari golongan Sunni. Madzhab ini berkedudukan di Kufah, nama dari madzhab ini diambil dari ulama yang bernama an-Nu’man bin Tsabit [80 H-150 H] yang lebih dikenal dengan julukan atau gelar Imam Abu Hanifah.
Ada beberapa riwayat tentang asal usul beliau mendapat julukan atau gelar Abu Hanifah tersebut, ada yang mengatakan karena beliau begitu dekat dan eratnya berteman dengan tinta guna menulis dan mencatat ilmu pengetahuan yang telah di perolehnya, maka beliau dijuluki dengan Abu Hanifah karena Hanifah dalam bahasa Irak berarti tinta. Sementara riwayat yang lain menyatakan bahwa gelar tersebut diberikan oleh masyarakat karena ketaatan dan ketekunannya dalam beribadah kepada Allah, gelar ini diambil dari bahasa Arab Haniif yang berarti yang berpegang teguh pada ajaran yang benar.
Imam Abu Hanifah dilahirkan di kota Kuffah, Irak pada tahun 80 Hijriah.Ayah beliau, Tsabit adalah pedagang sutera dari Persia, usaha inilah yang kemudian diwarisi oleh Abu Hanifah. Sebagai pedagang sutera beliau dikenal sebagai orang yang selalu benar, jujur serta amanah dalam berdagang.
Abu Hanifah dikenal sebagai seorang yang rajin menuntut ilmu, pada awalnya beliau mempelajari semua ilmu yang bertalian dengan agama, dan setelah menguasai berbagai ilmu, beliau menfokuskan diri pada bidang fiqh. Beliau belajar Fiqh pada seorang ulama bernama Hammad bin Abi Sulaiman yang merupakan salah satu ulama besar pada saat itu .Beliau menimba ilmu dari gurunya tersebut selama kurang lebih 18 tahun, hingga gurunya meninggal pada tahun 120 H.
Imam Abu Hanifah juga dikenal sebagai ulama Ahl Ra’yi. Meskipun Abu Hanifah pernah bermukim di Makkah dan mempelajari hadits-hadits Nabi, serta ilmu-ilmu lain dari para tokoh yang beliau jumpai, akan tetapi pengalaman dan ilmu yang beliau peroleh dari luar Kufah digunakan untuk memperkaya koleksi hadits-haditsnya, sementara metodologi kajian fiqhnya mencerminkan aliran Ahl ar-Ra’yi yang beliau pelajari dari Imam Hammad, dengan al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai sumber pertama dan kedua.
Apabila beliau tidak menemukan ketentuan yang tegas tentang hukum persoalan yang dikajinya dalam al-Qur’an maupun as-Sunnah, maka beliau mempelajarinya dari perkataan sahabat baik dalam bentuk ijma’ maupun fatwa, kalau ketiganya tidak menyatakan secara eksplisit tentang persoalan-persoalan tersebut, maka beliau mengkajinya melalui Qiyas dan Istihsan, atau melihat tradisi-tradisi yang berkembang dalam masyarakat yang ditaati secara bersamaa-sama.
Dasar-dasar yang digunakan oleh Madzhab Hanafi dalam menetapkan suatu hukum berdasarkan urutannya:
1. Al Qur’an
Madzhab Hanafi berpendapat bahwa al-Qur’an merupakan sumber dan dalil utama bagi hukum Islam sampai hari Kiamat. Al-Qur’an mengandung berbagai ketentuan syari’ahnya, oleh karenanya al-Qur’an berperan sebagai rujukan dalam proses kajian segala permasalahan hukum agama.
2. As-Sunnah
As-Sunnah memiliki fungsi sebagai penerang dan penjelas al-Qur’an yang masih bersifat umum. Orang yang tidak mau memegangi as-Sunnah berarti tidak mengakui kebenaran risalah Allah yang disampaikan oleh Nabi SAW.
3. Perkataan Sahabat
Dalam pandangan Madzhab Hanafi perkataan sahabat ini mempunyai posisi ketiga sebagai dalil hukum Islam setelah al-Qur’an dan as-Sunnah karena bagi Abu Hanifah sebagai Imam Madzhab Hanafi, para sahabat adalah orang-orang yang membawa ajaran Rasul kepada generasi sesudahnya, maka pengetahuan dan pernyataan keagamaan mereka lebih dekat pada kebenaran tersebut.
4. Al-Qiyas
Imam Abu Hanifah merasa tidak harus menerima rumusan hukum dari murid-murid para sahabat atau yang disebut tabi’in ketika tidak mempunyai bukti jelas dan kuat. Beliau memandang bahwa dirinya setara dengan para tabi’in dan melakukan ijtihad sendiri berdasarkan pada prinsip-prinsip al-Qiyas yang telah dibangunnya bersama para muridnya.
5. Al-Istihsan
Al-Istihsan artinya berpindahnya seorang mujtahid dari satu dalil qiyas kepada qiyas yang lain yang lebih kuat pengaruhnya atau lebih sesuai dengan kepentingan manusia, meskipun bisa saja secara teknis dalil qiyas yang digunakan lebih lemah daripada qiyas yang ditinggalkan.
6. Al-Urf
‘Urf sendiri berarti tradisi masyarakat baik berupa perkataan maupun perbuatan, atau dengan perkataan lain adalah adat kebiasaan. Namun demikian tidak semua ‘urf dapat dijadikan sebagai dasar atau dalil tasyri’, melainkan hanyalah ‘urf yang tidak bertentangan dengn nash, dan sejalan dengan semangat syari’ah sedangkan ‘urf yang bertentangan dengan nash jelas ditolak oleh madzhab Hanafi.

2. Madzhab Maliki
a. Asal Usul Madzhab Maliki
Sebagaimana Madzhab Hanafi, Madzhab Maliki ini juga merupakan salah satu madzhab dari golongan Sunni. Adapun nama dari madzhab ini dinisbatkan dari nama seorang ulama bernama Imam Malik bin Anas (93 H-179 H). Beliau lahir di Madinah dan menjadi ahli fiqh yang terkenal di Madinah. Diriwayatkan bahwa beliau tidak pernah meninggalkan kota ini kecuali pada waktu melaksanakan ibadah haji.
b. Dalil-dalil yang digunakan oleh Madzhab Maliki
Imam Malik adalah orang yang sangat hati-hati dan teliti dalam memberikan fatwa maupun meriwayatkan hadits meskipun beliau dikenal sebagai ulama besar di Madinah.
Metode pengajaran yang beliau lakukan didasarkan pada ungkapan hadits dan pembahasan atas makna-maknanya lalu dikaitkan dengan konteks permasalahan yang ada pada saat itu. Kadang beliau juga menelaah masalah-masalah yang terjadi di daerah asal murid-muridnya, kemudian mencarikan hadits-hadits atau atsar-atsar (pernyataan sahabat) yang bisa digunakan untuk memecahkan permasalahan tersebut. Imam Malik juga sangat menghindari ekulasi, oleh karenanya madzhab Maliki dikenal sebagai Ahl-Hadits.

1)Al-Qur’an
Sebagaimana Imam Abu Hanifah, Imam Malik juga meletakkan Al-qur’an sebagai dalil dan dasar yang tertinggi di atas dalil-dalil yang lain.
2) As-Sunnah
Imam Malik menjadikan As-Sunnah sebagai dalil kedua setelah Al-Qur’an. Berbeda dengan Imam Abu Hanifah yang mensyaratkan penggunaan As-Sunnah dengan kualifikasi tertentu, Imam Malik meski mengutamakan Al-Hadits yang mutawatir dan masyhur juga bisa menerima Al-Hadits yang Ahad sekalipun asalkan tidak bertentangan dengan amal ahli Madinah.
3) Amal ahli Madinah (Praktik masyarakat Madinah)
Imam Malik berpendapat bahwa Madinah merupakan tempat Rasulullah SAW menghabiskan sepuluh tahun akhir hidupnya, maka praktik yang dilakukan oleh masyarakat Madinah mesti diperbolehkan oleh Nabi SAW, atau bahkan bisa jadi dianjurkan oleh Nabi SAW sendiri, oleh karena itu Imam Malik menganggap bahwa praktik masyarakat Madinah merupakan bentuk As-Sunnah yang sangat otentik yang diriwayatkan dalam bentuk tindakan.
Imam Malik lebih mendahulukan dan mengutamakan tradisi masyarakat Madinah ini daripada al-Hadist yang ahad,hal ini sesuai dengan pernyataan guru beliau Rabi’ah bin Abd ar-rahman,bahwa:”Seribu dari seribu itu lebih baik daripada satu dari satu.
4) Fatwa Sahabat
5) Al-Qiyas
6) Al-Mashlahah al-Mursalah
Al-mashlahah al-mursalah yakni menetapkan hukum atas berbagai persoalan yang tidak ada petunjuk nyata dalam nash,dengan pertimbangan kemashlahatan,yang yang proses analisisnya lebih banyak ditentukan oleh nalar mujtahidnya.
7) Al-Istihsan
8) Adz-Dzari’ah
Secara etimologi kata AZ-dzari’ah berarti sarana,sedangkan secara terminologi para ahli ushul adalah sarana atau jalan untuk sampai pada suatu tujuan.Adapun tujuan tersebut bisa berupa kebaikan yang berarti mashlahah dan bisa pula maksiat yang berarti mafsadah.
Apabila sarana tersebut membawa pada kemaslahan, maka harus dibuka peluang untuk melakukannya, dalan ilmu ushul fiqh disebut dengan fath adz-dzari’ah, sedangkan sarana yang membawa pada kemafsadatan, maka harus ditutup jalan untuk sampai kepadanya, dalam ilmu ushul fiqh disebut dengan sadd adz-dzari’ah.
Sebagai ulama besar di Madinah, Imam Malik banyak didatangi murid-murid dari berbagai penjuru negeri yang ingin berguru pada beliau. Diantara muri-murid beliau yang terkenal antara lainadalah: Abd ar-Rahman bin al-Qasim, Ibnu wahab dan as-Syafi’i.
Madzhab Maliki ini sampai saat ini masih banyak pengikutnya dan mereka tersebar ke beberapa negeri antara lain: Mesir, Sudan, Kuwait, Bahrain, maroko, dan Afrika.
3. Madzhab Syafi’i
Imam Syafi’I mempunyai kecerdasan yang luar biasa. Diriwayatkan bahwa sebelum dewasa beliau sudah hafal al-qur’an dengan sempurna dan telah pula menguasai kitab ai-Muwaththa’. Dikota Mekkah beliau belajar pada beberapa guru antara lain: muslim bin Khalid dan Sufyan bin Uyainah, kemudian beliau juga belajar kepada Imam Malik di Madinah.
Pengembaraan imam asy-Syafi’idalam mencari ilmu belum berhenti di Iraq, setelah sebelumnya beliau juga menimba ilmu agama di beberapa daerah seperti Makkah, Madinah dan Yaman. Dari Iraq beliau menuju Mesir dengan tujuan hendak belajar Imm al-Laits, namun belum sampai di Mesir Imam al-Laits telah meninggal. Tidak putus asa Imam Syafi’I tetap mendalami ajaran al-Laits lewat para muridnya. Imam asy-Syafi’I terus menetap di Mesir sampai beliau meninggal pada tahun 204 H. Beliau meninggalkan banyak karya antara lain: Ar-Risalah, al-Umm, al-Hujjah, al-Imla’, dan al-Amali.
Dalil-dalil yang digunakan oleh Madzhab Syafi’i
1.Al-Quran
Tidak berbeda dengan para pendahulunya, Imam asy-Syafi’i meletakkan al-quran sebagai dalil utama dan pertama dalam meletakkan sy=uatu hukum, karena al-qur’an datang dari Allah yang sampai pada umat Islam secara mutawatir.
Guna memahami al-qur’an, Imam asy-Syafi’i telah merumuskan kaidah-kaidah ijtihad yang beliau tuangkan dalam kitab ushul fiqhny Yng berjudul ar-Risalah.
2.As-Sunnah
Sebagaimana para pendahulunya Imam asy-Syafi’i memposisikan as-Sunnah sebagai dalil kedua setelah al-qur’an. Hanya perbedaannya adalah dalam penggunaannya Imam asy-Syafi’i tidak mensyaratkan kriteria sebagaimana Imam Abu Hanifah dan Imam Malik.
3.Al-Ijma’
Imam asy-Syafi’i berpandangan bahwa kemungkinan ijma’ yang berarti persamaan faham atau kesepakatan seluruh ulama’ atas suatu persoalan pada satu masa merupakan hal yang sulit terjadi, karena jauhnya jarak dan sulitnya komunikasi diantara para ulama’ tersebut, namun demikian beliau tetap mengakui adanya ijma’ dan memeganginya sebagai dalil, dan yang mungkin terjadi adalah ijma’ sahabat dalm persoala-persoalan tertentu.
4.Perkataan Sahabat
Imam asy-Syafi’i memberi kepercayaan yang tinggi terhadap pendapat dan hasil kajian para sahabat. Produk-produk ijtihad mereka yang dinyatakan lewat ijma’ harus diterima secara mutlak, sedang fatwa-fatwa individual boleh diterima dengan menganalisis dasar-dasar fatwanya.
5.Al-Qiyas
Dalam pandangannya asy-Syafi’i, untuk menjawab persoalan-persoalan yang tidak dinyatakan secara eksplisit dalam al-qur’an, as-sunnah, al-ijma’ maupun fatwa-fatwa sahabat, seorang mujtahid melakukan ijtihad dengan menggunakan al-qiyas yang senantiasa membawa l-furu’ kepada al-ashl.
6.Al-Istishab
Al-istishab berarti memniarkan berlangsungnya suatu hukum yang sudah ditetapkan pada masa lampau dan masih diperlukan ketentuannya hingga ada dalil lain yang menggantikannya. Istishab ini didasarkan pada asumsi bahwa hukum fiqh yang ada bisa diaplikasikan pada setiap waktu dan tetap sah sepanjang tidak ada aturan yang lain yang datang kemudian.
Para pengikut Madzhab Syafi’i
Diantara murid Imam asy-Syafi’i yang turut menyebarkan pemikiran-pemikiran beliau adalah: Imam Ahmad bin Hanbal, ar-Rabi’ bin Sulaiman al-Muradi, Yusuf bin Yahya al-Buwaithi, Isma’il bin Yahya al-Muzani Yunus bin Abd al-A’la. Sedangkan yang termasuk para pengikut madzhab Syafi’i yang terkenal adalah: Abu Hamid al Ghazali, Muhyiddin an-Nawawi, Tajuddin Abd al-Wahhab as-Subkhi dan Jaluddin as-Suyuthi.
Madzhab Syafi’i sampai saat ini masih banyak pengikutnya dan berkembang di beberapa daerah seperti Mesir, Afrika Timur, Persia, Indonesia dan Malaysia.

4. Madzhab Hambali
Nama ulama’ yang namanya dijadikan sebagai nama madzhab ini adalah Imam Ahmab bin Hambal. Beliau lahir pada bulan Rabi’ al Awwal tahun 164 H di Baghdad. Imam Ahmad telah menjadi yatim ketika masih kecil, oleh karenanya beliau tidak sempat mengenal ayahnya dengan baik.
Sebagaimana para imam madzhab sebelumnya, beliau juga memiliki kecerdasan dan daya ingat yang luat biasa. Imam Ahmad selain menggeluti hadits-hadits dengan melakukan perjalanan ke berbagai daerah, juga mendalami ilmu fiqh. Diantara guru-guru beliau adalah Abu Yusuf yang merupakan murid ternama Imam Abu Hanufah, serta Imam Syafi’i murid Imam malik yang juga merupakan tokoh utama madzhab Syafi’i. seluruh waktunya beliau curahkan untuk mendalami hadits-hadits Nabi, sehingga dari kerja keras beliau lahirlah karya besar yang bernama Musnad Ahmad bin Hambal.
Imam Ahmad adalah orang yang sangat kuat menjaga shalatnya, beliau tidak sekali-kali meninggalkan shalat walau dalam keadaan bagaimanapun. Ketika beliau sakit dan tidak mampu menyuci celah jari-jemarinya dikala berwudlu’, beliau meminta anak-anaknya untuk menyucikannya. Setelah sakitnya semakin parah, Imam Ahmad akhirnya meninggal dunia pada tahun 241 H. jenazahnya dikebumikan di Baghdad tempat beliau meninggal dan diiringi oleh puluhan ribu pelayat.
Perkataan Sahabat
Imam Ahmad menerima fatwa para sahabat yang tidak diperselisihkan oleh sahabat yang lain atau ulama’ lain menyebutnya sebagai ijma’. Akan tetapi karena beliau menolak ijma’ dalam arti kesepakatan para mujtahid dalam satu masa, maka istilah ijma’ ini menjadi tidak lazim digunakan kalaupun digunakan adalah ijma’ sahabat.

5. Madzhab Auza’i
Nama madzhab ini diambil nama pendirinya yaitu Abdurrahman bin Muhammad al-Auza’I yang lahir pada tahun 88 H. Imam al-Auzai ini termasuk ulama’ yang menentang penggunaan al-qiyas secara berlebihan. Beliau senantiasa mengembalikan furu’ pada hadist nabi tanpa melakukan kajian al-qiyas. Beliau menghabiskan sebagian besar hidupnya di Beirut, sampai wafatnya tahun 157 H. Akan tetapi madzhabnya lebih dikenal di Syiria, Yordania, dan bahkan sampai Australia atau Spanyol.

6. Madzhab Laitsi
Madzhab ini merupakan madzhab yang dikembangkan oleh Imam Laitsi bin Sa’ad yang lahir di Mesir pada tahun 94 H. Beliau menjadi ulama’ besar di Mesir setelah belajar secara mendalam tentang berbagai bidang ilmu keislaman. Dalil-dalil yang digunakan dalam melakukan kajian hukum hampir sama dengan para Imam yang lainnya, hanya beliau tidak sependapat dengan Imam Malik dalam hal penggunaan tradisi masyarakat Madinah sebagai dalil dalam menetapkan suatu hukum. Beliau meninggal pada tahun 175 H.

7. Madzhab Tsauri
Madzhab ini dikembangkan oleh ulama’ terkemuka di Kufah yang bernama Imam Sufyan ats-Tsauri yang lahir pada tahun 97 H. Beliau adalah ulama’ yang hidup semasa Imam Abu Hanifah, akan tetapi mereka mempunyai pandangan yang berbeda dalam penggunaan al-qiyas dan al-istihsan. Beliau juga pernah ditawari oleh Khalifah untuk menjadi qadli dengan syarat tidak akan membuat fatwa yang bertentangan dengan kebijakan pemerintah, namun beliau menolaknya. Akhirnya beliau dipaksa untuk berhenti mengajar. Setelah itu beliaupun hidup dalam persembunyian hingga wafat pada tahun 161 H.
8.Madzhab Dhahiri
Madzhab ini dipelopori oleh Dawud bin Ali al-Ashbani yang lahir pada tahun 2020 H. beliau belajar fiqh dari murid-murid Imm asy-Syafi’i, oleh karenanya diriwayatkan pada mulanya oleh beliau bermadzhab asy-Syafi’i, namun akhirnya beliau mengkritik madzhab Syafi’i tersebut karena menurutnya asy-Syafi’I tidak konsisten dengan menggunakan al-Qiyas dan menolak al-istihsan, padahal dalam pandangan beliau antara al-qiyas dan al-istihsan adalah sama.
Kemudian beliaumenggunakan cara tersendiri dalam kajian hukumnya, yakni dengan menekankan pada pemahaman literalis yakni berpegang pada makna harfiyah atau dhahir nash al-qur’an maupun as-sunnah, oleh karenanya, madzhabnya disebut dengan madzhab dhahiri, hal ini berlainan dengan nama madzhab-madzhab lain yang dinisbatkan dengan nama tokohnya, sementara madzhab dhahiri ini dinisbatkan dari metode kajian hukumnya.

Faktor Penyebab Eksis dan Lenyapnya Suatu Madzhab
1.Faktor-Faktor Penyebab Eksisnya Suatu Madzhab
a.Adanya para murid dan pengikut yang turut menyebarkan pemikiran-pemikiran madzhab tersebut.
b.Adanya karya-karya peninggalan madzhab yang masih bisa diakses dan dipelajari oleh generasi berikutnya.
c.Adanya pengaruh dan campur tangan penguasa dalam menentukan kebijakan dan aturan-aturan hukum suatu negeri, seperti kebijakan yang menentukan madzhab tertentu sebagai madzhab resmi negara.
2.Faktor-faktor Penyebab Lenyapnya Suatu Madzhab
a.Adanya pengaruh dari kebijakan penguasa
Hal ini terjadi pada madzhab Auza’i. diriwayatkan bahwa ketika Abu Zar’ah Muhammad bin Utsman dari madzhab Syafi’i diangkat sebagai hakim, beliau membuat kebijakan bagi siapapun yang sanggup menghafal buku Muhtasar al-Mudzani (buku madzhab Syafi’i) maka akan diberikan hadiah uang tunai. Kebijakan tersebut tentu saja sangat mempengaruhi tersebarnya madzhab Syafi’i dengan cepat di Syiria, dengan hal ini menyebabkan menyusutnya bahkan lenyapnya madzhab Auza’i yang sebelumnya berkembang di Syiria.
b.Tidak adanya karya-karya peninggalan madzhab yang memadai
Hal tersebut seperti yang terjadi pada madzhab Laitsi,penyebab lenyapnya madzhab ini antara lain karena tokoh madzhab sendiri yakni Imam Laits tidak mencatat, membukukan dan tidak juga menganjurkan kepada para muridnya untuk mencatat pendapat-pendapatnya, oleh karenanya pemikiran-pemikiran dari madzhab ini menjadi sulit untuk dilacak dan dipelajari.
c.Faktor para murid dan para pengikutnya
Faktor penyebab musnahnya madzhab ini disebabkan karena jumlah murid yang sedikit dan mereka tidak ada yang mampu mensosialisasikan madzhab ini. Imam madzhab ini menghabiskan sebagian besar hidupnya dalam persembunyian, sehingga tidak bisa menarik murid dalam jumlah besar yang nantinya bisa menyebarkan ajaran madzhab ini.

Madzhab-Madzhab Syar’i
1.Madzhab Zaidi
Madzhab ini dipelopori oleh Zaid bin Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib yang lahir pada tahun 80 H. Menurut penyelidikan Abu Zahrah sebagaiman yang dikutip oleh Harun Nasution, dikatakan bahwa: Metode dan pendapat-pendapat hukum yang tertulis dalam karyanya tidak berbeda jauh dengan metode dan pendapat para ulama madzhab Sunni. Imam Zqidi meninggal pada tauhn 122 H.
Dalil-dalil yang digunakan dalam menetapkan hukum:
a.Al-Qur’an
Sama seperti para Imam madzhab Sunni, madzhab Zaidi ini juga menempatkan al-qur’an sebagai dalil pertama dan sumber utama dalam kajian hukum Islam.
b.As-Sunnah
As-Sunnah ini tidak hanya terbatas pada periwayatan yang berasal dari ahlul bait saja seperti dalam madzhab Syar’i yang lain, akan tetapi mencakup semua periwayatan yang dapat diterima.
c.Ijma’ Sahabat
Imam Zaidi mengakui Ijma’ sahabat sebagai sumber hukum Islam, karena itu, meski beliau merasa bahwa kakeknya, Ali, lebih pantas menjadi pemimpin daripada Abu Bakar, Umar, dan Utsman, penerimaan secara bulat atas kekhalifahan mereka oleh para sahabat, menurutnya, membuatnya terikat secara hukum.
d.Al-Qiyas, al-Istihsan, dan al-Istishlah
Para pengikut madzhab ini berpandangan bahwa prinsip al-Istihsan dan al-Istislah merupakan bagiab dari apa yang disebut al-qiyas dalam madzhab-madzhab yang lain.
Menurut madzhab ini, ijtihad tetap terbuka dan tidak ada istilah pintu ijtihad telah tertutup.
2.Madzhab Ja’fari
Madzhab ini dinisbatkan pada tokoh utamanya yakni Imam Ja’far ash-Shadiq yang lahir pada tahun 80 H. Beliau belajar ilmu agama dari kakeknya sendiri yaitu Ali Zainal Abidin, setelah kakeknya meninggal, beliau dibina sendiri oleh ayahnya sendiri Muhammad al-Baqir.
Dalam pola kajian fih madzhab Ja’fari ini, ciri tradisionalisme dan syar’iismenya nampak jelas. Dalil yang digunakan dalam penetapan hukum adalah al-Qur’an, as-Sunnah, dan pemikiran para Imamnya yang berpijak pada mashlahah. Dalam penggunaan al-Qiyas terdapat perbeadaan dengan madzhab Zaidi, kalau Zaid menggunakn al-Qiyas, maka Imam Ja’far menolaknya dengan keras. Imam Ja’far meninggal pada tahun 148 H.

Perbedaan Syar’i dan Sunni
Sebenarnya perbedaan antara madzhab Syar’i dan Sunni itu merupakan hal biasa sama seperti perbedaan yang ada antar masing-masing Imam madzhab Sunni. Perbedaan yang ada lebih banyak dipengaruhi oleh aspek teologi dan politik. Contoh perbedaan tersebut adalah kalau dalan Sunni menerima semua hadits tidak melihat dan membatasi periwayatan hanya dari ahlul bait saja, sementara dalam Syar’i sebagian ada yang membatasi bahwa hadits yang bisa diterima adalah hadits yang diriwayatkan oleh ahlul bait saja.
Perbedaan lain adalah prinsip tentang Imam, dalam pandangan Sunni tidak dikenal prinsip kema’suman Imam, sedangkan menurut Syar’i, imam-imam mereka ma’sum dan kema’sumannya itu melahirkan kompetensi pemahaman atas nash al-Qur’an yang tidak bisa dijangkau oleh para ulama lain.

KESIMPULAN

Perbedaan-perbedaan dalam hukum Islambisa dilihat terutama setelah meluasnya agama Islam ke berbagai belahan dunia, hal tersebut juga dibarengi dengan banyaknya peristiwa-peristiwa baru yang muncul dalam kehidupan manusia. Keadaan demikian ini menyebabkan para alim ulama yang dijadikan tempat bertanya tentang hukum Islam berusaha mencari dan menemukan hukum peristiwa tersebut melalui ijtihad.
Selain hal diatas adalah tersebarnya para alim ulama tersebut ke berbagai daerah dan negeri. Keadaan lingkungan dan cara berfikir masing-masing daerah dan negeri tersebut tentu berbeda, hal ini sangatlah mempengaruhi pola penetapan hukum, karena masing-masing ulama dalam berijtihad guna menetapkan hukum menempuh jalan masing-masing yang dipandang benar dengan pertimbangan dan pengaruh budaya masing-masing. Namun, dari perbedaan itu mereka masih bersumber pada al-Qur’an as-Sunnah.


DAFTAR PUSTAKA
Read More --►

SEPUTAR FIKIH

SEPUTAR FIKIH

Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas matakuliah Fiqh dan Ushul fiqh

Naskah diserahkan tanggal ………..............
Dipresentasikan tanggal …………………...

FAKULTAS TARBIYAH
UIN SUNAN KALIJAGA
SEMESTER GANJIL 2008/2009


Daftar Isi

Daftar Isi 2
Pendahuluan 3
Latar Belakang Masalah 3
Masalah atau Topik BahasanMakalah 3
Tujuan Penulisan Makalah 3
Pembahasan 4
Sejarah Kelahiran dan Perkembangan Ilmu Fikih 4
Objek Kajian Ilmu Fikih 4
Sistematika Ilmu Fikih 5
Tujuan dan Kegunaan Mempelajari Ilmu Fikih 5
Ilmu-ilmu Bantu Kajian Ilmu Fikih 5
Penutup 6
Daftar Pustaka 7


Bab I
Pendahuluan

1.1Latar Belakang Masalah
Islam adalah agama yang sempurna Islam adalah rahmat bagi seluruh alam. Para pengeanutnya yang disebut muslim haruslah melaksanakan ajaran-ajaran islam dengan sebaik-baiknya. Seorang muslim juga dituntut untuk dapat menerapkan hukum-hukum syariat terhadap perbuatan dan ucapannya.
Untuk dapat mengetahui dan mengistimbatkan hukum dari dalil-dalil syar’i. seseorang perlu mempelajari ilmu fikih terutama untuk mengetahui peristiwa atau keadaan baru dant tidak terjadi pada jaman Rosullullah .

1.2 Masalah atau Topik BahasanMakalah
1.Sejarah kelahiran dan perkembangan ilmu fikih
2.Obyek kajian ilmu fikih
3.Sistematika ilmu fikih
4.Tujuan dan kegunaan mempelajari ilmuj fikih
5.Ilmu-ilmu bantu kajian ilmu fikih

1.3Tujuan Penulisan Makalah
Makalah ini dimaksudkan untuk membahas tentang berbagai hal yang berhubungan tentang ilmu fikih mulai dari sejarah dan perkembangan,objek kajian,sistematika,tujuan,dan ilmu-ilmu bantu kajian ilmu fikih.Kita diharapkan dapat mengerti,paham dan tahu terhadap hal-hal tersebut.


Bab II
Pembahasan

2.1 Sejarah Kelahiran dan Perkembangan Ilmu Fikih
Fikih menurut bahasa adalah paham atau tahu. Sedangkan menurut istilah adalah pengetahuan tentang hokum-hukum syara yang praktis dan diambil dari dalil-dalilnya secara terinci atau dengan kata lain fikih adalah kumpulan hukum islam mengenai amaliyah atau perbuatan orang mukallaf yang digali atau diistimbatkan dari dalil-dalilnya yang diperinci yaitu Al Quran,Al Hadits, kumpulan hukum islam,dan amaliyah yang belum ada ketentuannya baik dalam Al Quran dan Al Hadits yang berasal dari ijtihad para ulama.
Perkembangan ilmu fikih ini seiring dengan berkembangnya Islam pada waktu itu. Islam adalah perpaduan akidah, ahlak, dan hukum amaliyah. Hukum amaliyah pada waktu Nabi Muhammad hidup bersumber pada Al Quran.
Pada masa sahabat hukum-hukum Islam bersumber pada Al Quran, As Sunnah, dan ijtihad. Hal itu dikarenakan timbulnya masalah-masalah yang belum pernah terjadi pada masa Nabi Muhammad hidup.
Pada masa tabi’in dan tabi’it tabi’in dan para imam mujtahid yaitu munculnya berbagai teori dan pangkajian sehingga para mujtahid memperluas dalam ijtihad serta lebih banyak membentuk hukum-hukum Islam untuk kasus-kasus baru. Pada periode ini para mujtahid juga membukakan pintu pengkajian dan analisis terhadap teori-teori baru. Sumber hukum pada periode ini yaitu Al Quran, As Sunnah, dan ijtihad para sahabat dan para imam mujtahid.

2.2Objek Kajian Ilmu Fikih
Objek kajian ilmu fikih meliputi perbuatan mukallaf ditinjau dari segi hukum syara yang tetap baginya. Seorang yang mempelajari fikih akan membahas jual beli “mukallaf “, sewa-menyewa, pegadaian, perwakilan, sholat, puasa, haji, pembunuhan, tuduhan terhadap zina, wakaf, pencurian, dan ikrar yang dilakukun mukallaf agar dia dapat mengerti tenteng hukum syara.
Ilmu Fiqih membatasi masalah yang dikaji hanya pada daerah “amaliyah”. Jadi, ilmu Fiqih tak mengkaji secara dominan hari kemudian, surga, dan neraka; karena hal itu diluar jangkauan kajian “amaliyah”.
Ilmu Fiqih tidak bersifat mistik (mystic/kebatinan), supra-natural, dan asketik (pertapa/tapabrata). Akan tetapi, Ilmu Fiqih menerima karakter rasional, fisik, etis, dan normatif. Ketika manusia menghadapi dan menyadari masalah, mereka berusaha menyelesaikannya. Dalam usaha memecahkan masalah tersebut, Ilmu Fiqih tak menoleh kepada perasaan, akan tetapi, Ilmu Fiqih menoleh ke pikiran berdasarkan penalaran dan bukti-bukti yang nyata. Karena itu, Ilmu Fiqih berusaha mencari penjelasan secara rasional-logis dan empiris. Disatu pihak, karena masalah yang dihadapi nyata dan rasional, ilmu fiqih mencari jawabannya pada sumber-sumber yang nyata dan rasional pula.

2.3 Sistematika Ilmu Fikih
Sistematika ilmu fikih meliputi perumusan masalah, penentuan sumber hukum, dan penetapan sumber hukum.

2.4 Tujuan dan Kegunaan Mempelajari Ilmu Fikih
Mempelajari ilmu fikih bertujuan menerapkan hukum-hukum syariat terhadap perbuatan dan ucapan manusia. Jadi ilmu fikih itu bias jadi landasan seorang hakim dalam keputusannya dan tempat kembali seorang mukallaf untuk mengetahui hukum syara yang berkenaan dengan ucapan dan perbuatan yang muncul dari dirinya.

2.5 Ilmu-ilmu Bantu Kajian Ilmu Fikih
Ilmu-ilmu yang dapat dijadikan bantuan dalam pengkajian ilmu fikih diantaranya: Ilmu Tafsir,Ilmu Alam,Ilmu Kalam,Ilmu Sosial,dan sebagainya


Bab III
Penutup

Demikianlah makalah yang dapat kami sajikan jika ada kekurangan pasti datangnya dari saya dan jika ada kelebihan hanyalah karena Alloh Swt. Kami mengharap kritik dan saran yang membangun.


Daftar Pustaka
Khallaf ,Abdul wahab.Ilmu Ushul Fiqh:dalam Moh.Zuhri dan Ahmad Qarib.(ed_),Ilmu Ushul Fiqh.1994.Semarang:Dina Utama.
Rasjid,Sulaeman.2007.Fiqh Islam.Bandung:Sinar Baru.
Haukah,Ali.dkk.1996.Pedoman Penulisan Karya Ilmiah: Skripsi,Tesis,Disertasi, Artikel,Makalah,dan Laporan.Malang:Satgas Operasional Pendidikan dan Pengajaran,Bagian Proyek OPF IKIP Malang.
http://
Read More --►

Qawaidul fiqhiyah (kaidah-kaidah fiqh)

BAB I
PENDAHULUAN

I. Latar Belakang Masalah
Qawaidul fiqhiyah (kaidah-kaidah fiqh) adalah suatu kebutuhan bagi kita semua khususnya mahasiswa fakultas syari’ah. Banyak dari kita yang kurang mengerti bahkan ada yang belum mengerti sama sekali apa itu Qawaidul fiqhiyah. Maka dari itu, kami selaku penulis mencoba untuk menerangkan tentang kaidah-kaidah fiqh, mulai dari pengertian, sejarah, perkembangan dan beberapa urgensi dari kaidah-kaidah fiqh.

Dengan menguasai kaidah-kaidah fiqh kita akan mengetahui benang merah yang menguasai fiqh, karena kaidah fiqh itu menjadi titik temu dari masalah-masalah fiqh, dan lebih arif di dalam menerapkan fiqh dalam waktu dan tempat yang berbeda untuk kasus, adat kebiasaan, keadaan yang berlainan. Selain itu juga akan lebih moderat di dalam menyikapi masalah-masalah sosial, ekonomi, politin, budaya dan lebih mudah mencari solusi terhadap problem-problem yang terus muncul dan berkembang dalam masyarakat.

II. Rumusan Masalah
Mengerti dan memahami pengertian dan sejarah perkembangan kaidah-kaidah fiqh
Menyebutkan pembagian kaidah fiqh
Apakah manfaat dan urgensi dari kaidah-kaidah fiqh?
Bagaimana kedudukan dan sistematika kaidah fiqh?
Apa beda kaidah ushul dan kaidah fiqh?
Mengetahui apa itu kaidah umum dan kaidah asasi

III. Tujuan Pembahasan
Makalah ini disusun bertujuan agar kita mengetahui, memahami dan mengerti tentang hal-hal yang berhubungan dengan kaidah-kaidah fiqh, mulai dari definisi, pembagian dan sistematika kaidah fiqh.
Ilmu Fiqih membatasi masalah yang dikaji hanya pada daerah “amaliyah”. Jadi, ilmu Fiqih tak mengkaji secara dominan hari kemudian, surga, dan neraka; karena hal itu diluar jangkauan kajian “amaliyah”. Abu Zahrah, seorang Professor Ushul, menjelaskan bahwa kajian keyakinan Muslim seperti Keesaan Allah (Tuhan), bersihnya Rasul, serta penyampaian Qur’an kepada Rasul, dan keyakinan terhadap kiamat; kesemuanya itu tidaklah termasuk kajian fiqh. Fiqih, oleh karena itu, memahami daerah “tindakan manusia” atau “kemungkinan tindakan” yang rasional dan praktis (Zahroh, 1997:1-3). Dapat dikatakan, Ilmu Fiqih mengkaji obyek amaliyah, yang menjadikannya berbeda dengan ilmu Tauhid dan Tasawwuf.

Ilmu Fiqih tak bersifat mistik (mystic/kebatinan), supra-natural, dan asketik (pertapa/tapabrata). Akan tetapi, Ilmu Fiqih menerima kharakter empirik, rasional, fisik, etis, dan normatif. Ketika manusia menghadapi dan menyadari masalah, mereka berusaha menyelesaikannya. Dalam usaha memecahkan masalah tersebut, Ilmu Fiqih tak menoleh kepada perasaan, akan tetapi, Ilmu Fiqih menoleh ke pikiran berdasarkan penalaran dan bukti-bukti yang nyata. Karena itu, Ilmu Fiqih berusaha mencari penjelasan secara rasional-logis dan empiris. Disatu pihak, karena masalah yang dihadapi nyata dan rasional, ilmu fiqih mencari jawabannya pada sumber-sumber yang nyata dan rasional pula.

Fiqih berusaha memaparkan sumber otoritatif dan non-otoritatif menjadi pengetahuan yang siap-pakai dan mudah dipahami. Hal ini berarti, mujtahid membantu muslim lainnya untuk memahami keputusan dan hukum dari Qur'an, Sunnah, dan hasil Ijtihad melalui penataan dan uraian sedemikian rupa. Lebih dari itu, perbedaan lingkup masalah mengakibatkan berbedanya metode, pendekatan, dan teknik analisis yang dipakai para mujtahid.
Read More --►

SEJARAH PEMBUKUAN FIQH DAN SUMBER-SUMBERNYA

Fiqh pada mulanya merupakan fatwa-fatwa dan pendapat-pendapat sahabat, hukum peristiwa-peristiwa yang tumbuh di masa-masa mereka. Semua ini tidak didew3ankan di masa sahabat sendiri. Para sahabat tidak bermaksud supaya pendapat mereka dianut terus oleh orang-orang yang datang sesudah mereka. Mereka terus menerus menyelami nash-nash Al-Qur’an dan memahami lafadz-lafadznya sesuai dengan perkembangan masa dan masyarakat.
Pada masa Bani Umaiyah beberapa hakim di berbagai daerah, merasa perlu mendewankan putusan-putusan yang mereka beriakn. Permulaan hukum atau putusan hakim ynag dibukukan ialah hukum-hukum yang diputuskan oleh salah seorang hakim Mesir di masa Mu’awiyah ibn Sufyan tentang masalah pusaka.(Tarikh al Aqdul Islami, Mahmud Arnus).
Fiqh pada masa itu belum mempunyai guru-guru tertentu. Diajarkan di masjid-masjid dan majelis-majelis yang khusus untuk itu. Masjid pada masa itu merupakan perguruan tinggi dalam mata pelajaran Al-Qur’an, Al-Hadits, fiqh, dan lughah. (Tarikh Al-Islam as Siyasi, Dr. hasan)
Para pelajar menghafal apa yang dikuliahkan oleh gurunya. Hanya sebagian saja dari mereka yang mencatat kuliah gurunya. Inilah sebagai titik tolak pembukuan fiqh. Ketika usaha membukukan hukum-hukum Islam mulai pesat dilaksanakan, bangunlah para ulama Madinah mengumpulkan fatwa-fatwa Abdullah ibn Umar, fatwa-fatwa ‘Aisyah, fatwa-fatwa tabi’in Madinah. Kitab Mutawaththa’ yang disusun tempo 40 tahun mengandung fatwa-fatwa. Fuqaha-fuqaha Iraq mengumpulkan pula fatwa-fatwa Ibnu Mas’ud, Ali, putusan-putusan hukum yang ditetapkan oleh Hakim Syuraih dan lain-lainnya.
Ibrahim an Nakha’I mengumpulkan fatwa guru-gurunya, pendapat-pendapat mereka dan pokok-pokok prinsip mereka dalam sebuah kitab. Hammad juga mempunyai sebuah kitab yang mengandung fatwa-fatwa guru-gurunya, sebagaimana Muhammad ibn al Hasan telah menyusun kitabnya Al Atsar yang dikumpulkan dari ulama-ulama itu.
Kemudian barulah tiap-tiap guru mendewankankan fiqhnya dalam suatu karangan khusus yang didiktekan pada murid-muridnya atau didiktekan oleh seorang muridnya. Habbi membaca apa yang ditulis oleh Malik di hadapan Malik sendiri didengar murid-murid Malik, dan kerapkali pula seorang pelajar mencatat dalam bukunya pendapatnya sendiri terhadap apa yang diterima dari gurunya. Juga kerap kali seseorang imam merubah pendapat yang telah dikemukakan dalam suatu sidang dan dicatat oleh yang mendengarnya dalam sidang yang lain. Dengan demikian terjadilah dua riwayat daripadanya.
Para ulama di kala membukukan hukum berpegang pada riwayat. Masing-masing penulis menyandarkan apa yang didengarnya dari seorang imam pada imam sendiri. Kalau dia menerimanya dengan perantaraan, maka disa menerangkan pula hal itu. Sesudah lama masa berlalu, barulah mereka tidak berpegang pada riwayat, tetapi langsung mengambil dari kitab yang terkenal dan lama kelamaan mereka mengambil dari kitab yang disangka bahwa kitab itu adalah kepunyaan pengarangnya.
Dengan ditinggalkan riwayat dan putus silsilah sanad, timbullah tashnif dan banyaklah hukum-hukum yang dinukilkan dari kitab-kitab yang tidak diketahui apa isinya itu sesuai dengan aslinya, ataukah tidak. Karenanya, timbullah kebutuhan untuk mentahkikkan kitab-kitab. Inilah sebabnya para ulama sependapat membagi kitab-kitab itu dalam:
a.Kitab-kitab yang dapat dipercaya dan dipegangi
b.Kitab-kitab yang tidak dapat dipegangi isinya.
Sebagaimana mereka sepakati bahwa pendapat-pendapat yang disebut dalam kitab-kitab madzab yang dikatakan pendapat madzab lainnya tak dapat dipegangi, kecuali jika kitab itu kitab Ikhtilafil Fuqaha’.
Pada masa Amawiyah, fiqh didewankan bercampur dengan Sunnah, pendapat shahabat dan tabi’in . Karena itulah materi-materi fiqh ketika itu bercampur dengan hadits dan atsar. Muwaththa’ Malik adalah kitab yang menggambarkan hal ini dan merupakan kitab yang mula-mula disusun . Hal ini ditruti pula oleh Sufyan ats Tsauri dan Asy Syafi’I dalam kitab Ikhtilaful Hadits.
Di samping itu diperoleh juga kitab-kitab fiqh yang tidak mencampuradukkan isinya antara hadits dengan atsar, yaitu kitab-kitab ulama’ Hanafiyah. Abu Yusuf menyusun kitab Al Kharaj, yang berisikan masalah-masalah perpajakan. Fiqh Abu Hanifah telah dibukukan oleh Muhammad ibn Al Hasan dan beliau membukukan hukum-hukum fiqh dengan tidak memasukkan hadits dan atsar. Kitabnya ada enam, yang terkenal dengan nama kitab-kitab Dhahirur Riwayah, semuanya mengandung hukum fiqh dengan tidak memasukksn hadits dan atsar. Ke enam kitab itu adalah: Al Mabsuth, Al Jami’ush Shaghir dan Al Jami’ul Kabir, Az Ziyadat, As SIyarush Shaghir dan As Siyatul Kabir. Az Ziyadat ditulis untuk menyempurnakan Al Jami’ush Shaghir dan Al Jami’ul Kabir. As Siyar mengandung undang-undang perang.
Sesudah kitab-kitab ini berkembang dan menjadi pegangan penganut madzab Hanafi, datanglah kitab-kitab mukhtasar, seperti Mukhtasar ath Thahawi, Al Karakhi dan Al Qaduri. Mukhtashar-mukhtashar ini kemudian disyarahkan dan dita’liqkan bernama At Tuhfah susunan As Samarkandi yang berlainan dengan mukhtashar-mukhtashar yang lain. Mukhtashar ini telah disyarahkan oleh Al Kasyani dalam kitabnya Al Bada’i.
Read More --►

EPISTEMOLOGI USHUL FIQH

EPISTEMOLOGI USHUL FIQH

A.Chozin Nasuha
Guru Besar pada Fakultas Syari’ah
Ketua Konsentrasi Studi Al-Qur’an Pascasarjana UIN Bandung


Pembukaan
Agama (al-dien) adalah ide murni, atau system ide dan kepercayaan yang bersifat Ilahiyah, berkenaan dengan ketaatan pada Tuhan, dan disampaikan kepada nabi-nabi. Dalam Islam, ide murni itu berbentuk wahyu yang termuat dalam al-Qur’an dan al-Sunnah. Ide ini tidak bisa diletakkan dalam konteks kemanusiaan. Berbeda dengan pemikiran agama (Islamologi) yang seluruhnya merupakan produk manusia dan sangat berkaitan dengan masyarakat. Konsep ini tidak bisa dipisahkan dari realitas tertentu dan sejarah masyarakat. Karena itu, Islamologi inilah gagasan ide Ilahiah yang dapat diletakkan dalam konteks kemanusiaan. Dengan kata lain, kita harus membedakan antara Agama dan pemikiran Agama. Salah satu pemikiran Agama adalah Ushul-Fiqh. Ilmu metodologi ini memiliki susunan yang pada umumnya terjadi kontroversi antara proposisi-proposisi dengan logika dan bahasa. Meskipun begitu, secara ontologis ilmu ini dapat dikelompokkan menjadi empat point yaitu (1) nilai-nilai aturan hokum (2) dasar-dasar aturan hokum (al-adillah al-syar’iah) (3) cara atau metoda menganalogikan dalil menjadi hokum, dan (4) ketentuan ijtihad, taqlid, dialektika kontradiktif, dan tarjih.
Ushul-fiqh merupakan khazanah kekayaan ilmu yang secara langsung atau tidak langsung, turut memperkaya model keagamaan kita. Pelaksanaan syariat Islam akan susah seandainya ilmu ini tidak ada, sebab ushul-fiqh dianggap sebagai penuntun fiqh yang merupakan jawaban bagi kehidupan kita. Ilmu ini dapat menjawab beberapa masalah yang diajukan, maka agar kita dapat memanfaatkan, kita harus mengetahui jawaban apa yang perlu dibawakan oleh ilmu ini, setelah kita mengajukan pertanyaan. Di sini kita memerlukan jawaban yang benar, dan bukan debat kusir atau jawaban plintiran (safsathah). Lalu muncul pertanyaan, bagaimana kita mencari jawaban yang benar? Masalah ini, oleh kajian filsafat disebut epistemology, dan landasan epistemo-logi ilmu disebut metoda ilmiah. Dengan kata lain, metoda ilmiah adalah cara yang dilakukan itu dalam menyusun pengetahuan yang oleh filsafat ilmu disebut teori kebenaran.
Ushul-fiqh mempunyai ciri spesifik yang tersusun mengenai apa (ontology), bagaimana (epistemology) dan untuk apa (aksiologi). Ketika landasan ini saling berkaitan, maka ontology ushul-fiqh terkait dengan epistemologinya, epistemology ushul-fiqh terkait dengan aksiologinya, dan begitulah seterusnya. Jadi kalau kita ingin membicarakan epistemilogi ushul-fiqh, maka kita harus mengaitkannya dengan ontology, dan aksiologi. Tetapi dalam tulisan ini, kita hanya membahas tentang epistemology, dan itu pun memakai kerangka berfikir penelitian ilmu social.

1. Pendekatan Humanistik
Permasalahan yang sering muncul adalah bahwa kerja ushul-fiqh itu objektif atau subjektif. Demikian karena banyak sekali materi fiqh yang dikelola melalui ushul-fiqh, beda pendapat antara satu tokoh dengan tokoh yang lain. Cara berfikir ushuliyun selalu memakai pendekatan kwalitatif, maka oleh sebagian ilmuan dianggap tidak objektif. Berbeda dengan paradigma ilmu yang memakai pendekatan kwantitatif, yang serba ilmiah dan terkontrol. Hal ini diakui oleh ushuliyun sendiri, dan tidak akan menolak.
Memang kerja ushul-fiqh sedikit mengabaikan prinsip objektifitas, jika istilah objektif sebagai aturan ilmu yang harus terukur, ada keberulangan, dan perilaku yang dapat diramalkan. Hampir semua ushuliyun tidak berfikir seperti itu, karena ushul-fiqh berhubungan dengan perilaku manusia (af’al mukallafin), maka subjektivitas tetap memiliki peran tersendiri. Ushul-fiqh yang selalu menekankan pada pendekatan subjektivitas, biasanya disebut studi humanistik. Paham ini berpandangan bahwa fiqh yang dikelola oleh ushul-fiqh bukan harga mati, tetapi wilayah interpretative.
Menurut pandangan ahli-ahli rasional, teratur, atau sistematik, perilaku manusia bersifat kontektual berdasarkan makna yang diberikan di lingkungannya. Kalau ilmu di luar humaniora lebih ditekankan pada ‘kedisiplinan’, humaniora justru kearah interpretasi alternatif. Posisi ilmu humaniora, termasuk ushul-fiqh adalah pada ‘siapa’ dan menentukan ‘apa yang dilihat’. Menurut paham ini realitas perbuatan manusia termasuk fenomena yang cair dan mudah berubah. Fenomena ini bersifat polisemik yang memerlukan penafsiran. Jadi kerja ushul-fiqh selalu bergerak pada ‘koma-koma’ bukan berhenti pada satu titik.
Persoalan objective ilmiah dan subjektivitas tidak ilmiah, memang telah lama ditujukan pada semua ilmu agama, termasuk ushul-fiqh. Apalagi ilmu ini menyajikan penafsiran dan hermeunitika. Tentu saja penafsiran semacam ini keberatan jika dikait-kan dengan penilaian objektif dan subjektif. Tetapi muncullah beberapa tokoh sosio-log yang mengatakan bahwa objektivitas itu hanya berlaku bagi ilmu alam. Dengan kata lain, ilmu agama memiliki kateristik tersendiri. Karena itu subjektivitas interpre-ter yang sering memasukkan resepsi, kepekaan, akal sehat, dan pendapat yang terbuka, mestinya tidak harus sama persis dengan “self-understanding”. Itulah maka objektivitas dalam ilmu social, ilmu budaya, termasuk ushul-fiqh tidak bisa absolut.
Ketika ushul-fiqh dianggap sebagai karya pemikiran dalam Islam (tsaqafah Islamiah), muncullah dilematis apakah ushul-fiqh itu sebagai ilmu atau sebagai seni berdebat. Begitu pula ketika para ilmuan melihat perdebatan dalam Islam antara ahli hadits dan ahli rakyu, dalam memecahkan konsep syari’ah, mereka bertanya, apakah ushul-fiqh itu Agama atau ilmu agama. Kalau ushul-fiqh dipandang sebagai Agama, (bukan ilmu agama) lalu sampai dimana kita memperlakukannya sebagi sumber data untuk membangun teori yang dianggap objective. Kenyataan ini membutuhkan kesadaran baru yang menjadi ciri postmodernisme. Yaitu bahwa representasi, suatu penyajian dalam perbandingan mazhab misalnya, tentang suatu aliran ushul-fiqh, pada dasarnya tidak pernah menyajikan gambaran sebagaimana adanya. Penyajian atau uraian itu telah dibungkus dalam kemasan tertentu. Ushul-fiqh sebagai teks tidak bisa diuraikan apa adanya tetapi mengalami ‘distorsi’ tertentu setelah melalui proses penafsiran (syarah).
Ushul-fiqh selalu muncul dalam kerangka berfikir tertentu dan tidak bisa bebas begitu saja. Tetapi dalam penyajiannya selalu muncul nilai subjektivitas di dalamnya. Karena itu, meskipun mulanya ushul-fiqh itu gagasan al-Syafi’iy untuk membangun mazhabnya, tetapi dalam perkembangannya, mucullah Ushl-fiqh Zaidiyah, Ushul-fiqh Mu’tazilah, Ushul-Fiqh Syi’ah, Ushul-fiqh Hanafiyah, Ushul-fiqh Zhahiri, dan sebagainya. Lalu apa artinya kebenaran ilmiah ? Kebenaran ilmiah bersifat relatif, kondisional, dan tergantung konsensus atau kesepakatan. Tidak ada kebenaran mutlak dalam ilmu soasial atau budaya termasuk ushul-fiqh. Karena itu, setiap ushuliyyun harus siap menerima kritik atas kekurang tepatan analisanya. Dalam kaitan ini, Abdulwahhab al-Sya’rani berkata : Mazhab kami adalah benar, tetapi mungkin juga salah. Mazhab di luar kami adalah salah, tetapi mungkin juga benar. Demikian ini tertuang dalam kitab klasik berjudul Mizan al-Kubra, maka nilai pluralis ini termasuk ciri postmodernism.
Perkembangan selanjutnya, bahwa ahli-ahli perbandingan mazhab dapat menyusun kesadaran ‘subjektivitas’ yang selanjutnya diarahkan pada penulisan biog-rafi individu (tokoh).
Dalam konteks modernis yang kaku, ushuliyyun berpandangan harus objektif, memiliki otoritas, netral dari mazhab, dan selalu mengolah teks dengan objektif. Padahal fiqh yang dikelola melalui ushul-fiqh selalu berubah karena perubahan waktu dan tempat, akibatnya makna teks bisa plural dan bisa berkembang. Jadi pemikiran semacam itu harus ditata ulang kalau dia akan mempelajari ilmu ushul-fiqh.
Memahami pendapat tokoh memang sangat menarik, sama seperti menariknya mempelajari perbedaan subjective dan objective bagi orang yang berpendapat dan pendukung. Permasalahan ini akan terkait pula dengan soal ilmiah atau tidak ilmiah, ilmuan atau propagandis, akademis atau idiologis, dan begitulah seterusnya. Padahal uraian yang dinilai seperti itu tergantung bagaimana tokoh itu menguraikan.
Pada waktu positivisme menjadi idola setiap ilmuan, semua pemikiran yang tidak objective dinilai lemah, termasuk kerangka kerja ushul-fiqh. Tetapi setelah muncul strukturalisme, dan teori ini bisa diterapkan pada penggalian fiqih yang ijtihadnya ditata rapih, maka bisa ditemukan objektivitas. Terutama jika strukturalis itu berupaya menemukan masalah penting dalam setiap uraian fiqh yang disajikan, seperti kesimpulan: lebih manfaat, lebih maslahat, lebih adil dan semacamnya. Lebih lagi jika semua itu tidak terjebak pada alam khayal realis, melainkan selalu berpegang pada bahasa sebagai alat pemikiran.
Disitu jelaslah bahwa ushul-fiqh yang bisa dipandang bernilai subjective, tidak ilmiah, terlalu keagama-agamaan itu sebenarnya tidak benar. Disiplin ilmu ushul-fiqh tetap mengedepankan aspek kebenaran tertentu sejalan dengan tujuan, metoda, hubungan antara dalil dan mad-lul, dan analisis yang berwawasan lain dengan pendekatan objective. Perbedaan ini tidak berarti bahwa kerja ushul-fiqh itu hanya asal-asalan, melainkan berusaha memahami fenomena liwat subjective yang tidak mungkin terfahami melalui objektivitas.

Mushawwibah dan Mukhaththiah
Di dalam Islam, semua teks (al-Qur’an dan al-Hadits) yang berbentuk zhanni (dugaan) maka makna yang muncul dari teks itu selalu dirumuskan dalam kesimpulan yang berbeda-beda (mukhtalaf fih). Bagi pengikut teori mushawwibah akan mengatakan bahwa semua kesimpulan yang beda-beda itu, yang benar tidak satu, bahkan bisa juga semuanya benar. Demikian jika semua mujtahidnya menampilkan kerangka berfikir yang sejalan dengan jalur ushul-fiqh. Sedangkan pengikut mukhath-thiah akan berpendapat bahwa semua kesimpilan yang banyak itu, yang benar cuma satu saja, apalagi jika beberapa kesimpulan tadi ada nilai kontradiktif.
Penilaian semacam itu muncul karena ushul-fiqh atau kerangka berfikir fiqh memanfaatkan penalaran subjective dan paradigma kwalitative. Penalaran semacam ini kurang memiliki kebenaran pada tingkat tertentu. Kebenaran ushul-fiqh dianggap mengada-ada dan spekulasi yang merancang. Tentu saja asumsi seperti itu tidak selalu benar. Meskipun begitu, pengembangan ushul-fiqh seyogyanya berusaha keras untuk meyakinkan orang lain, bahwa fiqh yang diproduksinya memiliki kadar logika dan kebenaran.
Logika dan kebenaran dalam ushul-fiqh tidak berbeda dengan metoda penelitian ilmu social atau ilmu budaya. Logika tetap menjadi wahana untuk mencari kebenaran. Meskipun begitu, banyak sekali macam-macam logika yang dipergunakan untuk mencapai kebenaran itu. Tetapi tidak semuanya relevan bagi pengembangan ushul-fiqh. Macam-macam logika itu antara lain : (a) logika formal. Logika ini berusaha mencari kebenaran dengan mencari relasi antar muqaddimah shugra dan kubra dengan tujuan untuk menggeneralisasikan natijah yang ada pada setiap syakal (qiyas manthiqi). Logika ini tidak bisa diterapkan dalam ushul-fiqh. karena ushul-fiqh tidak mengejar qiyas-qiyas manthiqi seperti itu, tetapi transferabilitas. (b) logika matematik. Logika ini pencarian kebenaran dengan mencari relasi proposisi menurut kebenaran materiil seperti tiga kali tiga itu sembilan. Logika ini didukung oleh rerata yang pasti dan terukur. Andalan logika ini adalah adanya dalil, aturan, dan rumus-rumus pasti. Logika semacam ini dimanfaatkan oleh statistika dan bisa berlaku bagi penelitian ilmu social, ilmu budaya, termasuk ilmu agama yang penganut faham posistivistik. (c) Logika reflektif, yaitu cara berfikir dengan sangat cepat, untuk mengabstraksikan dan penjabaran. Logika ini berlangsung cepat dan bisa memanfaatkan daya intuisi. Dalam ilmu tasawwuf, logika ini disebut pendekatan dzauqi yang bisa berkembang sampai laduni. (d) logika kwalitatif, yakni pencarian kebenaran berdasarkan paparan deskriptif data di lapangan atau di perpustakaan. Kwalitas kebenarannya didasarkan pada realitas yang ada. (e) logika linguistik, yaitu pencarian kebenaran berdasarkan pemakaian bahasa. Logika ini banyak diminati oleh penelitian al-Qur’an dan semacam penelitian yang memerlukan penafsiran.
Dari macam-macam logika di atas, ushul-fiqh cenderung memanfaatkan logika kwalitatif dan logika linguistik. Suatu saat logika reflektif pun dipakai pula, terutama untuk mengembangkan dalil metodologis seperti istihsan dan mashalih mursalah. Logika kwalitatif banyak dipergunakan untuk mengembangkan dalil sosiologis seperti ijma’, qaul shahabi, dan lain-lain. Sedangkan logika linguistik dipergunakan untuk mengembangkan dalil normative, yaitu al-Qur’an dan teks al-Hadits.
Dari segi lain, logika kwalitatif biasanya dipergunakan untuk lingkup kebenaran yang terbatas. Artinya, kebenaran yang dicapai bukan sebuah wacana yang berlaku universal, melainkan hanya pada tingkat local, atau kasus tertentu saja. Karena itu, kebenaran kwalitatif bersifat lebih spesifik dan tidak menghendaki adanya regualitas. Oleh karena itu teks atau kasus yang dikelola memakai logika kwalitatif akan menghasilkan kesimpulan yang berbeda-beda. Hal ini bukan berarti kebenaran semacam itu lemah, tetapi tetap menggunakan dalil berdasarkan realitas. Itulah suatu fenomena yang oleh Islam disebut rahmatan lil’alamin.
Dulu, penelitian ilmu social dan ilmu budaya diarahkan pada pemikiran objektif dan matematis. Tetapi setelah mereka mulai meninggalkan logika tradisi, dan ingin mencari kebenaran baru yang lebih orisinil, mereka mengejar perkembangan yang disebut postmodernisme. Kalau perkembangan ilmu itu seperti itu, maka akan berte-mu dengan ushul-fiqh yang kebenarannya didasarkan pada argumentasi, imajinasi, dan common sense (akal sehat).
Kebenaran dalam ushul-fiqh adalah nisbi (zhanni) dan relative (mukhtalaf fih), dan menganut hokum probabilitas (ijtihadiah). Titik tolak ushuliyun semacam itu adalah kebenaran kreatif cerdas, dan tidak menyalahkan orang lain seperti meng-hakimi salah, bid’ah, jumud, dan sebagainya. Tentu saja pendirian ushuliyun seperti itu tidak disetujui oleh agamawan yang taat pada kebenaran matematis.Di antara mereka ada yang berkata : Allah itu satu. Nabi Muhammad itu satu, dan Al-Qur’an juga satu, maka seharusnya pemikiran Islam pun satu pula (bersatu). Padahal sulit dipungkiri bahwa kebenaran kreatif pun akan mampu mewadahi aspirasi kebenaran yang kecil-kecil, yaitu kebenaran yang jarang teradopsi oleh ilmuan yang selalu berfikir global.
Perlu dipertimbangkan, baik oleh pengikut mushawwibah atau mukhaththiah bahwa perilaku manusia (af’al al-mukallafin) adalah unik, dan inilah yang menjadi objek pembahasan ushul-fiqh. Oleh karena itu tuntutan kebenaran dan atau objek-tivitas ushul-fiqh hendaknya dicari bukan seperti fenomena alam. Jika fenomena alam ada hal-hal yang secara fisik teramati, terulang, dan teratur, maka perilaku manusia tidak selamanya bergerak seperti itu, bahkan selalu bias. Tingkat bias ini hanya mampu diolah menjadi objective apabila dilukiskan secara verstehen (mudah terfahami). Jika fiqh yang diproduksi melalui ushul-fiqh tadi dapat diterima oleh masyarakat, berarti dalam ushul-fiqh tadi ada kejelasan. Kejelasan inilah yang disebut kebenaran.
Jadi kalau kebenaran ilmuan objective lebih menyukai penjelasan logis, maka ushul-fiqh menyajikan penjelasan yang berisi penafsiran. Kalau kebenaran objective ingin melihat pembakuan pengamatan yang teratur, maka penglolaan ushul-fiqh bersifat humanistic yang kreatif. Dengan kata lain kebenaran ushul-fiqh lebih menitik beratkan pada aspek humanistic kemanusiaan. Itulah sebabnya, ushul fiqh dinilai unik yang memandang bahwa perilaku manusia satu sama lain tidak selalu sama. Dengan demikian, orang yang berpendapat bahwa Ushul-fiqh al-Syafi’iy itu mirip dengan Manthiq Plato atau Aristotales, itu tidak benar. Karena kebenaran Manthiq memiliki hubungan kausalitas yang jelas dan harus relasional yang memungkinkan kontrol proposisi. Sedangkan kebenaran Ushul-Fiqh ditekankan pada penafsiran logic yang kadang-kadang bercampur dengan intuisi, imajinasi, dan kreativitas. Oleh karena itu, melalui penafsiran semacam ini, Ushul-Fqh lebih mampu memasuki sisi-sisi perso-alan hukum yang berkaitan dengan perilaku umat (af’al al-mukallafin).
Lebih dari itu, kebenaran ushul-fiqh bukan hal yang dirancang ada, tetapi harus dicari dalam konteks. Ushuliyun hanya bertugas menghimpun, mengorganisasi, mengklasifikasi, dan menglola dalil-dalil fiqhiyah untuk keperluan fiqih.

Ushul-fiqh aliran Rakyu dan aliran Mutakallimin
Penerapan ushul-fiqh sering direpotkan ketika ushuliyun akan membuat fiqh, terutama ketika mencari bentuk aliran, apakah ushul-fiqh aliran rakyu atau aliran mutakallimin. Dua aliran ini, secara etimologis memang bertolak belakang. Keduanya memiliki implikasi metodologis yang berbeda. Padahal keduanya sama-sama dimanfaatkan oleh imam-imam mujtahid.
Rakyu adalah aliran dalam ushul-fiqh yang teori-teorinya dibangun atau disusun sesudah fiqh terbentuk. Artinya, mujtahid ini mengamati perilaku orang-orang mukallaf yang ada pada masyarakat, kemudian dia memproduk fiqh secara induktif. Setelah itu disusunlah ushul-fiqh untuk dasar-dasar pengembangannya, di samping kaidah fiqhnya juga. Karena itu, uruf (tradisi), mashalih al-mursalah, dan istihsan di-ambil sebagai dasar hukum fiqh. Ushul-fiqh aliran ini dipakai oleh Mazhab Hanafi, Mazhab Maliki, dan Mu’tazilah. Dalil-dalil ini, biasanya dirumuskan berdasarkan istiqra (penelitian) untuk mencari bentuk fiqh.
Sebaliknya, jika mujtahid itu menyusun ushul-fiqh dulu, kemudian memproduki fiqh berdasarkan ushul-fiqh tadi, berati ushul fiqh ini disebut aliran mutakallimin. Aliran ini berfikir deduktif, dengan menyesuaikan perilaku umat (af’al al-mukallafin), kepada teori-teori ushul-fiqh tadi. Aliran ini dipakai antara lain oleh Mazhab Syafi’iy, Mazhab Hanbali, Mazhab Zhahiri, dan Mazhab Syi’ah Itsna Asyariyah. Aliran ini tidak mau memakai ‘uruf, mashalih al-mursalah, dan istihsan, karena semua dalil ini bisa bertentangan dengan qiyas ‘am. Aliran ini, tambahan dalil pokoknya adalah istish-hab, yaitu dalil yang memandang persoalan hokum, selama tidak ada dalil yang mengubah maka tetap berlaku sampai sekarang dan masa depan.
Ushul fiqh model ini agak sempit dan seperti membatasi diri pada kondisi lapangan tertentu, terutama jika kita melihat perkembangan kehidupan yang cepat berubah. Akibatnya, teori-teori ushul-fiqh hanya terpaku pada pemahaman dasar (al-Qur’an, al-Hadits, al-Ijma’ dan al-Qiyas) dan beberapa dalil yang berorientasi ke belakang seperti istishhab, dan syara’ man qablana. Dengan kata lain, ada kelemahan bagi aliran ini, yaitu kurang menghargai fenomena dan realitas. Berbeda dengan aliran rakyu yang menggunakan dalil ‘uruf dan istihsan, bisa masuk ke dalam rangka (a) Ushuliyun bisa mengolah semua permasalahan yang muncul di tengah masyara-kat, dengan teori-teori ushul-fiqhnya. (b) Ushuliyun bisa berhubungan langsung secara akrab dengan masyarakat yang memakai mazhab tertentu (c) Ushuliyun dapat menguraikan latar belakang secara penuh, sehingga uraian fiqhnya bisa mengangkat dalil-dalil kulli dengan meninggalkan dalil juz’iy yang sama-sama zhanni.

2. Pendekatan Emik dan Etik
Ada dua cara pandang (pendekatan) yang saling bertolak belakang. Dua pendekatan ini disebut pendekatan emik (fonemik) dan pendekatan etik (fonetik). Awalnya, pendekatan ini muncul dari istilah linguistik, yang dalam ilmu budaya dipopulerkan oleh Kenneth Pike. Dalam Kitab Klasik, teori ini pernah dikembangan oleh Ibn Jinni dan al-Jurjani. Menurut Ja’far Dikki, teori Ibn Jinni dan teori Al-Jurjani saling melengkapi untuk membangun teori linguistik yang baru. Penggabungan dua teori tersebut adalah (a) Penggabungan antara studi diakronik Al-Jurjani dan singkronik Ibn Jinni merupakan hal yang signifikan (b) Teori Ibn Jinni yang mengatakan bahwa bahasa tidak terbentuk seketika, tetapi berproses, dan teori Al-Jurjani tentang hubungan antara bahasa dan pertumbuhan pemikiran, merupakan hal yang saling terkait. Dengan demikian bahasa dengan segala aturannya tumbuh dan berkembang seiring dengan pertumbuhan pemikiran manusia. Teori dua tokoh tadi mengembangkan aliran linguistik Abu Ali al-Farisi, yang kateristik umumnya adalah (a) Bahasa pada dasarnya terbetuk secara system. (b) Bahasa merupakan fenomena social dan strukturnya terkait dengan fungsi transmisi yang melekat pada bahasa tersebut. (c) Adanya kesesuaian antara bahasa dan pemikiran. Dari segi lain, ahli-ahli linguistik mempelajari kamus Maqayis al-Lughat karya Ibn Faris. Tokoh ini meng-embangakan teori gurunya, yaitu Sa’lab yang membedakan antara kata benda sebagai subjek (ism dzat) dan kata benda sebagai sifat (ism shifat). Tampaknya, dari teori semacam inilah muncul gagasan tentang emik dan etik untuk mengembangkan ilmu sosial dan ilmu budaya, dan sekarang dicoba untuk mengembangkan ushul-fiqh.
Secara epistemologis, pendekatan etik dan emik memiliki implikasi yang berbe-da. Jika ushuliyun berusaha mengembangkan ushul-fiqh menurut mazhab universal dengan menggunakan cara-cara yang ditentukan sebelumnya, maka cara ini, oleh teori linguistik disebut etik. Sebaliknya, jika pengembangan ushul-fiqh itu berdasar-kan mazhab regional (mazhab Syafi’iy saja misalnya) maka berarti ushuliyun telah mengembangkan ushul-fiqh dengan pendekatan emik. Bagi ushuliyun bisa juga menggunakan salah satu pendekatan, dan atau menggunakan keduanya. Yang penting mereka memperhatikan konsistensi pemanfaatan keduanya, agar tidak terjadi campur aduk. Kedua pendekatan ini memiliki kelemahan masing-masing dan sekaligus memiliki kekuatan tertentu.
Menurut Marvin Harris, istilah etik dan emik akan berhubungan dengan masalah objektif dan subjektif. Etik bersifat sangat tertutup dalam hal makna, seperti prinsip objektif. Tetapi emik tidak bisa disejajarkan dengan subjektif saja tetapi bisa juga disejajarkan dengan objektif dan subjektif sekali gus. Kalau teori ini diterapkan pada ushul-fiqh universal dan ushul-fiqh regional, maka bisa berhubungan dengan objektif dan subjektif dalam penerapan. Artinya, jika dalam ushul-fiqh tadi ushuliyun mengo-lah dalil normative (tsk al-Qur’an dan teks al-Hadits), maka bisa menemukan objektif dan subjektif. Tetapi jika mereka mengolah dalil metodologis seperti istihsan maka dia akan terjadi subjektif. Jadi perbedaan antara objektif dan subjektif dan penyebutan ushul-fiqh regional dan universal, tergantung penggunaannya.
Jelasnya, pendekatan etik dan emik merupakan landasan norma pengembangan penelitian yang berusaha memahami tingkah laku manusia. Tingkah laku tersebut penuh dengan makna, karena di dalamnya terdapat aneka macam symbol aksi. Begitu pula ushul-fiqh yang mengambil istilah mazhab regional dan mazhab universal, meru-pakan landasan pengembangan ushul-fiqh itu sendiri, yang berusaha memahami tingkah laku manusia (af’al al-mukallafin). Tingkah laku ini penuh dengan makna (penilaian), karena di dalamnya terdapat berbagai aksi (akidah, niat, ucapan, gerakan dan perbuatan).
Pendekatan mazhab regional dan mazhab universal pada dasarnya merefer pada sudut pengembangan ushul fiqh itu sendiri. Jika ushuliyun itu mendasarkan pengem-bangannya pada mazhabnya sendiri, berarti dia mengembangkan ushul-fiqh regional. Dan jika dia menggunakan sudut pandang beberapa mazhab, berarti dia menggunakan ushul-fiqh akurat apabila dia mampu menangkap persamaan dan perbedaan pendapat beberapa tokohnya, selanjutnya dikategorikan dan dicari signifikasi teori secara penuh. Berarti pengambilan mazhab regional lebih memperhatikan teori yang lebih aspiratif. Sebaliknya, pemaparan ushul-fiqh universal lebih tergantung pada kejelian ushuliyun itu sendiri, dalam menampilkan suatu teori secara ilmiah.
Jika ushuliyun itu pengembangannya memilih ushul-fiqh mazhab universal, pada akhirnya dia harus melakukan generalisasi. Pada saat itu dia harus melakukan beberapa hal. (a) dia harus mengelompokkan secara sistematis seluruh pendapat atau teori ushul-fiqh yang ada, ke dalam system tunggal. (b) dia menyediakan ukuran atau kriteria untuk klasifikasi setiap dalil yang menunjang teori-teori ushul-fiqhnya. (c) dia mengorganisasikan teori yang telah diklasifikasikan ke dalam type-type tertentu. (d) menganalisa, menemukan, dan menguraikan setiap teori (qaul) dan argumentasinya ke dalam kerangka system yang telah dibuat, sebelum dia mempelajari ushul-fiqh.
Sebaliknya, pendekatan ushul-fiqh mazhab regional termasuk ushul-fiqh mazhabnya sendiri, merupakan esensi yang shahih untuk fenomena fiqh pada suatu waktu tertentu. Pendekatan ini relevan sebagai usaha untuk mengungkap pola-pola fiqh menurut persepsi mazhabnya. Pendekatan ini menegaskan bahwa konsepnya muncul dari ushuliyun sendiri. Berbeda dengan pengembangan ushul-fiqh universal, ushuliyun berdiri di luar mazhabnya sendiri. Pendekatan pertama (regional) akan terkait dengan keseluruhan teori mazhabnya, dan akan menekankan pada kenisbian. Pendekatan ini lebih natural dalam mereprosentasikan teori ushul-fiqh dan sejalan dengan konsep ushul-fiqh secara operasional. Sedangkan ushul-fiqh universal ditekankan pada sikap mutlak. Dari satu segi, pendekatan ini kurang natural, dan sejajar dengan teori ushul-fiqh secara kognitif.
Jika kedua pendekatan itu diperbandingkan maka akan tergambar dalam karakte-ristik sebagai berikut.
Pendekatan ushul-fiqh regional adalah (a) Ushuliyun akan mempelajari perilaku masyarakat (af’al al-mukallafin) yang mengikuti mazhabnya sendiri. (b) Ushuliyun hanya mempelajari ushul-fiqh dari mazhabnya sendiri, yaitu ushul-fiqh al-Syafi’iy misalnya, yang ditulis oleh beberapa tokoh mazhab itu. (c) Struktur ushul-fiqh diten-tukan oleh kondisi dan situasi jama’ah yang mengamalkan fiqhnya. (d) Kriteria ushul-fiqh bersifat relatif dan terbatas.
Sedangkan ushul-fiqh universal adalah (a) Ushuliyun akan mempelajari perilaku manusia (af’al al-mukallafin) dari luar mazhabnya sendiri. (b) Ushuliyun akan mempelajari ushul-fiqh dari berbagai mazhab dan membandingkannya satu sama lain. (c) Struktur ushul-fiqh ditentukan oleh ushuliyun itu sendiri dengan membangun konseptual. (d) Kriteria ushul-fiqh bersifat mutlak, ada generalisasi dan berlaku universal.
Dari karakteristik seperti itu, tampak bahwa ushuliyun regional akan menjadikan dirinya sebagai bagian utuh dari mazhab itu. Ushuliyun ini ikut merasakan dan bertindak sebagai partisipan penuh. Kehadiran ushuliyun seperti ini menentukan ke-berhasilan. Tentu saja subjektivitas pun tetap sulit dihindarkan. Apalagi ushuliyun tadi pendukung mazhabnya. Jika dia tidak mampu mengambil jarak, bisa terjadi bias. Sedangkan pengembang ushul-fiqh universal, otoritas ushuliyun sangat menentukan. Kemampuan mereka membangun konsep yang akan diterapkan, amat menentukan keberhasilan.

3. Pendekatan Positivistis dan Naturalistis
Dulu, gagasan positivistic itu dicetuskan oleh Ibn Taymia. Tetapi karena ia wafat dalam tahanan dan buku-bukunya baru beredar setelah lima ratus tahun, maka gagasan semacam itu mandeg, kata Nurcholis Madjid. Setelah muncul falsafat Agust Comte (1798-1875) dan tulisan Emil Durkheim (1858-1917) banyak ilmuan yang mengambil falsafat ini sebagai pendekatan penelitian. Filsafat ini berfikir statistik dan biasanya menolak pemahaman metafisik dan teologis. Bahkan faham ini sering manganggap bahwa pemahaman metafisik dan teologis terlalu primitif dan kurang rasional. Begitu pula Ibn Taymia mengembangkan pemikiran tekstualis, realistis, dan tidak menerima ta’wil. Ia juga tidak menerima berfikir teologis, terutama pemikiran Mu’tazilah dan Asy’ariyah. Dalam kitabnya, Al-Radd ‘alal Manthiqiyin, Ibn Taymia menolak berfikir falsafati yang membuat konsep-konsep yang abstrak dan subjektif. Dalam kitab itu, tulisan yang berfikir manthiqi seperti konsep definisi, silogisme dan lain-lain ditolak, yang kadang-kadang dikuatkan dengan menampilkan dalil al-Qur’an. Terhadap pemikiran tasawwuf falsafi, seperti pemikiran al-Hallaj, Abu Yazid al-Busthami, dan Ibn Arabi, semua itu berfikir subjektif dan khayalis, bahkan semua itu dinilai ‘kafir’. Dengan kata lain positifistik lebih berusaha ke arah mencari fakta atau sebab-sebab terjadinya fenomena secara objektif, terlepas dari pandangan pribadi yang bersifat subjektif.
Dalam pandangan Durkheim, dasar pendekatan positivistic adalah logika mate-matis yang penuh teori logika deduktif. Kevalidan karya positivisme dengan cara mengandalkan fakta empiri. Generalisasi diperoleh dari rerata di lapangan. Kalau konsep semacam ini diterapkan pada pemikiran Ibn Taymia, maka ada dua dasar, yaitu (a) teks al-Qur’an dan teks al-Hadits dinilai sebagai pusat, dan pemahaman yang diluar teks adalah sebagai dunia yang gelap. Maka untuk mengetahui yang gelap itu, ilmuan harus masuk pada tingkat hakikat, yaitu makna empirik (tektualis), bukan ta’-wil atau kinayah dan sebagianya. (b) teks tidak dipandang sebagai pusat, tetapi sebagi satu titik dari deretan titik yang disebut kenyataan. Karena kedudukan seperti ini, maka teks tidak harus mengetahui hukum (yang gelap) yang berlaku pada dunia sekitar, tetapi yang gelap-gelap itulah yang lebih menserasikan diri dengan teks.
Biasanya, positivistic lebih menekankan pembahasan singkat dan menolak pem-bahasan yang penuh deskripsi cerita, atau ta’wil, dalam istilah Ibn Taymia. Karena itu, jika ushuliyun akan menggunakan positivistic, otomatis harus membangun teori-teori atau konsep dasar, kemudian disesuaikan dengan kondisi mazhab yang meng-amalkan ushul-fiqh itu. Ushuliyun lebih banyak berfikir induktif agar menghasilkan sebuah verifikatif sebuah bentuk ushul-fiqh yang ingin dibangun.
Ciri-ciri positivistic dapat dilihat dari tiga pilar keilmuan, yaitu (a) aspek ontolo-gis, positivistic menghendaki bahwa perilaku manusia (af’al al-mukallafin) dapat di-pelajari secara independen, dapat dieliminasikan dari subjek lain, dan dapat dikontrol. (b) secara epistemologis, yaitu upaya untuk mencari generalisasi terhadap peng-amalan fiqh dalam masyarakat. (c) secara aksiologis, menghendaki agar pengem-bangan ushul-fiqh bebas nilai. Artinya, ushuliyun dalam menyusun ushul-fiqhnya mengejar objektivitas agar dapat ditampilkan prediksi meyakinkan yang berlaku bebas waktu dan tempat.
Positivistik berbeda dengan naturalistic yang cenderung mengungkapkan peng-amalan fiqh di suatu tempat. Paham ini dipengaruhi oleh teknik berfikir induktif un-tuk mermperoleh ushul-fiqh yang diambil dari pengamalan fiqh di daerah itu. Demikian ini difahami melalui analisis yang netral atau lingkungan alamiah dalam mazhabnya. Dengan kata lain, ushul-fiqh yang dipelajari dengan pendekatan naturalistrik adalah ushul-fiqh yang berangkat dari realita komunitas mazhab fiqh yang diamalkan oleh masyarakat itu.
Posisi ushuliyun yang mempelajari fiqh dengan pendekatan ini seperti orang asing yang belum tahu gambaran ushul-fiqh yang bisa dirumuskan dari daerah itu. Oleh karena itu, di samping dia mempelajari dan mengamati masyarakat, dia juga mengadakan pemetaan lokasi dan merekam apa yang terjadi pada mazhab itu. Ada sebagian ilmuan yang mengatakan bahwa ushuliyun yang mempelajari norma-norma ushul-fiqh di suatu daerah dengan pendekatan ini sama seperti mengguanakan metoda fenomenologi.
Selain menggunakan instrumen perilaku umat (af’al al-mukallafin), pendekatan naturalistic juga memiliki cirri, antara lain (a) realitas umat dapat dipisahkan dari konteksnya, dan tidak selamanya mereka berada dalam konteks itu. (b) penggunaan pengetahuan yang tersembunyi seperti intuisi, itu bisa dibenarkan, karena interaksi manusia pun sering demikian. (c) rancangan ushul-fiqh yang dinegosiasikan adalah penting karena konstruksi mazhab itu akan dikonstruksi oleh ushuliyun yang sedang mencari ushul-fiqh itu. (d) rumusan ushul-fiqh bersifat ideografis atau berlaku khusus bukan bersifat nomotetis atau mencari generalisasi. Karena interpretasi yang berbeda akan lebih bermanfaat bagi realitas yang berbeda pula, karena perbedaan konteksnya. (e) gambaran ushul-fiqh bersifat tentatis, dan belum tentu bisa digeneralisasikan.
Dari cirri-ciri tersebut dapat dinyatakan bahwa penulisan ushul-fiqh dengan pen-dekatan naturalistic adalah lebih membumi. Ushul-fiqh model ini akan mampu memecahkan perilaku umat yang dipelajari, dan bisa membantu keinginan tokoh-tokoh yang menyajikan Mazhab Jogja, atau Fiqh Indonesia, dan sebagainya.

4. Pendekatan Fenomenologis
Sebagaimana telah disebutkan di atas, bahwa positivisme memerlukan penyusu-nan teori. Sedangkan fenomenologi justru tidak menunggu-nunggu teori bahkan alergi dengan teori. Pendekatan ini lebih menekankan rasionalisme dan realitas peng-amalan fiqh di tengah masyarakat. Hal ini sejalan dengan penelitian etnografis yang menitik beratkan pada pilihan dan pandangan pegangan mazhab setempat. Realitas adalah lebih penting dan dominan dibanding teori dan rerata.
Fenomenologi berusaha memahami pengamalan mazhab liwat pandangan dan perilaku pengamal mazhab itu. Menurut faham fenomenologi, ilmu bukanlah bebas nilai dari apa pun, tetapi memiliki hubungan dengan nilai. Aksioma fenomenologis adalah (a) kenyataan ada dalam diri manusia, baik selaku individu atau kelompok, selalu bersifat majmuk atau ganda yang tersusun secara kompleks. Oleh karena itu pengamalan mazhab Syafi’iy atau mazhab Hanafi atau lainnya yang tersebar di bebe-rapa kawasan, hanya bisa dipelajari secara holistic dan tidak terlepas-lepas. (b) hubungan antara ushuliyun dengan pengikut mazhab di daerah itu saling mempenga-ruhi, mungkin karena diskusi atau saling memberikan komentar.(c) lebih mengarah kepada kasus-kasus fiqhiyah bukan untuk menggeneralisasi karangan atau materi untuk ushul-fiqhnya. (d) ushuliyun akan kesulitan dalam membedakan sebab dan akibat, karena situasi berlangsung secara simultan, (e) inkuiri terkait nilai, bukan bebas nilai, sebagaimana disebutkan di atas.
Fenomenologi merupakan istilah generic yang merujuk kepada semua pandangan ilmu social yang menganggap bahwa kesadaran manusia dan makna subjektif sebagai fokus untuk memahami tindakan social. Dalam pandangan ushul-fiqh, pandangan subjektif dari pengikut mazhab yang dikembangkan ushul-fiqhnya, sangat diperlukan. Subjektivitas akan menjadi shahih apabila ada proses intersubjektivitas antara ushuliyun dengan pengikut mazhab yang dipelajari ushul-fiqhnya itu.
Dalam pengembangan ushul-fiqh, pendekatan fenomenologi tidak dipengaruhi secara langsung oleh filsafat fenomenologi, tetapi oleh perkembangan dalam pende-finisian konsep fiqh atau ushul-fiqhnya, termasuk pendefinisian tafsir al-Qur’an atau ilmu budaya lainnya. Dalam fenomenologi, objek ilmu tidak terbatas pada yang empirik (sensual), melainkan mencakup juga fenomena berikutnya yang terdiri dari persepsi, pemikiran, kemauan, dan keyakinan si subjek yang menuntut pendekatan holistic, menundukkan objek pengembangan ushul-fiqh dalam suatu konstruksi ganda melihat objeknya dalam satu konteks netral, dan bukan parsial. Karena itu dalam fenomenologi lebih menggunakan tata pikir logic dari pada sekedar linier kausal. Tujuan pengembangan ushul-fiqh dengan pendekatan fenomenologi adalah untuk membangun ilmu-ilmu agama, termasuk ushul-fiqh itu sendiri.
Metoda kwalitatif fenomenologi, berdasarkan pada empat kebenaran, yaitu kebe-naran empirik sensual, kebenaran empirik logic, kebenaran empirik etik, dan kebenar-an empirik transenden. Atas dasar cara pencapaian kebenaran ini, fenomenologi menghendaki kesatuan antara ushuliyun dengan masyarakat pengamal mazhab. Keterlibatan ushuliyun dengan umat yang dikembangkan ushul-fiqhnya itu menjadi salah satu cirri utama.
Pendekatan fenomenologi berusaha memahami arti pengamalan fiqh dan kaitan-kaitannya terhadap orang-orang biasa dalam situasi tertentu. Ilmuan fenomenologi tidak berasumsi bahwa mereka mengetahui makna tindakan bagi orang-orang yang sedang dipejalari. Oleh karena itu inkuiri dimulai dengan diam. Diam merupakan tindakan untuk menangkap pengertian sesuatu yang dipelajari. Yang ditekankan adalah aspek subjek (pengamal fiqh) dari perilakunya. Mereka berusaha untuk masuk ke dunia konseptual para subjek yang dipelajari sedemikian rupa, sehingga mereka mengerti apa dan bagaimana suatu pengertian yang mereka kembangkan di sekitar peristiwa dalam kehidupannya sehari-hari.
Mulanya ilmuan tahu dari pengakuan masyarakatnya, bahwa mereka pengamal fiqh Syafi’iy, dari segi ibadah, mu’amalah, mawarits, munakahat, dan sebagainya. Tetapi ilmuan tahu juga bahwa mazhab al-Syafi’iy didukung oleh banyak komentator (ash-hab) terhadap ushul-fiqhnya, sehingga terjadi antara satu konsep dengan konsep lainnya berbeda. Maka ilmuan fenomenologi ingin mengetahui praktek pengamalan fiqh, dikaitkan dengan pola kehidupan bermazhabnya.
Penekanan ilmuan fenomenologi adalah pada aspek subjektif dari pengamal fiqh. Ushuliyun berusaha masuk ke dalam dunia subjek yang dipelajarinya, sehingga ushuliyun mengerti apa dan bagaimana satu konsep yang dikembangkan. Pengamal fiqh dipercayai memiliki kemampuan untuk menfsirkan pengamalannya melalui interaksi. Ushuliyun fenomenologis tidak menggarap data secara mentah. Dia cukup pandai dengan cara memberikan “tekanan” pada pengamal fiqh untuk memberikan makna pada tindakan fiqihnya, tanpa mengabaikan realitas.
Demikian dapat difahami, karena istilah fenomenologi itu berkaitan dengan suatu persepsi, yaitu kesadaran. Fenomenologi akan berupaya menggambarkan fenomena kesadaran dan bagaimana fenomena itu tersusun. Dengan adanya kesadaran ini, tidak mengherankan jika ushuliyun dan pengamal fiqh memiliki kesadaran tertentu terhdap pengamalannya masing-masing. Pengamalan yang dipengaruhi oleh kesadaran itu, pada saatnya akan memunculkan permasalahan baru dan di antaranya akan terkait dengan pola-pola pengamalan fiqh itu tadi.
Perkembangan kesadaran yang diketahui oleh ushuliyun yang menggunakan fenomenologi akan dihadapkan pada sejumlah permasalahan fiqh dan ushul-fiqhnya. Paling tidak ada tiga permasalahan pokok, yaitu (a) Ketidak samaan data yang dihimpun oleh ushuliyun, karena perbedaan minat di kalangan mereka terhadap perilaku suatu mazhab di daerah yang sama (b) Masalah sifat data itu sendiri. Artinya seberapa jauh data tersebut dapat diperbandingkan, atau seberapa jauh data tersebut benar-benar dapat melukiskan gejala yang sama dari pengamal mazhab yang berbeda (c) Menyangkut masalah klasifikasi data yang di antara ushuliyun masih berbeda kriterianya.
Melihat tiga hal tadi, studi fenomenologi bisa dibantu dengan pendekatan etno-sains sebagai salah satu alternatif. Pendekatan ini dipandang lebih fenomenologis karena dengan menerapkan model linguistik yang dikenal dengan pelukisan secara etik dan emik, pemaknaan ushul fiqh menjadi lebih lengkap. Dengan cara ini pende-finisian ushul-fiqh merupakan akumulasi dari system ide, dalam istilah “makna” yang diberikan oleh pendukung mazhab pun turut diperhitungkan.
Pendekatan fenomenologi, ada yang mengkritik lagi dan diarahkan pada penglo-laan secara etnografis. Pendekatan ini mengkritik pandangan empirisisme radikal, naturalisme, dan fenomenologi murni. Kalau pendekatan ini diterapkan pada ushul-fiqh, maka (a) Persyaratan ‘illat (alasan hokum) menurut Hanafiyah harus berjangka luas, hingga memungkinkan untuk dijadikan dasar qiyas. Menurut Syafi’iyah ‘illat jangkauannya terbatas, karena hukum itu mengikuti ‘illat. Sedangkan menurut teori etnografis, bahwa ‘illat yang dirasakan oleh pengikut Mazhab Syafi’iy misalnya, belum tentu sejalan dengan konsep ‘illat yang dirumuskan oleh Ushulyun Syafi’iy yang menyusun ushul-fiqhnya. (b) Mengembangkan ushul-fiqh fenomenologis yang memperhatikan ‘dunia moral lokal’ terhadap masalah ekologi yang mengkaji situasi dan lingkungan. Situasi dan lingkungan adalah bagian dari hidup manusia (af’al al-mukallafin) yang akan membentuk dan dibentuk oleh lingkungan setempat dan atau oleh budaya keagamaan setempat. (c) Arahan baru ushul-fiqh diarahkan pada fisik, karena subjektivitas adalah kehidupan fisik di dunia, bahkan sikap simpati dan empati merupakan sifat dasar kehidupan fisik pula. Karena itu, pemahaman fenomenologi perlu mendasarkan fisik ini. Karena fisik merupakan aspek primordial dari sebjek-tivitas manusia sebagai makhluk social. (d) Ushul-fiqh yang diarahkan pada histeo-grafi, yaitu memandang fenomena dalam kaitannya pada kehidupan dan sejarah.
Demikian pengembangan ushul-fiqh, sebenarnya masih bisa dicapai lagi dengan pendekatan yang lain, seperti pendekatan praktek, dan pendekatan emansipatoris. Meskipun begitu, pendekatan-pendekatan yang sudah disajikan di atas, sudah mencukupi untuk mengembangkan ushul-fiqh kita. Wallahu a’lam.







Daftar Bacaan :
Asymawi, Muhammad Sa’id al., Al-Islam al-Siyasiy, Kairo, 1992, Sina Li al-Nasyr.
Aziziy, A. Qadri, Pengembanagn Ilmu-ilmu Keislaman, Jakarta, 2003, Dipertais,
Ditjen, Bagais, Depag RI.
Bisri, Cik Hasan, Model Penelitian Fiqh, Jilid I, Jakarta, Edisi Pertama,2003, Prenada
Media.
Buwaithiy, Muhammad Said Ramadlan, Dlawabith al-Mashlahah Fi al-Syafiat al-
Islamiyah, Beirut, Cet. Ke 5, 1990 M., 1410 H., Muassasah al-Risalah.
Dikki al-Bab, Ja’far, Metoda Linguistik Buku al-Kitab wa al-Qur’an, dalam Al-Kitab
Wa al-Qur’an,karya Muhammad Syahrur, Terjemah Sahiron, Yogyakarta, 2004
ELSAQ Press.
Endraswara, Suwardi, Metodologi Penelitian Kebudayaan, Yogyakarta, 2003 Gajah
Mada Press.
Hasan Hanafi, Dirasah Islamiyah (Islamologi I) Diterjemahkan oleh Miftah Faqih,
Yogyakarta, 2003, LKiS,
Ibn Taymia, Al-Radd ‘ala al-Manthiqiyyin, Beirut tt. Dar al-Fikr.
Ibrahim Abu Sulaiman, Abdulwahhab, Al-Fikr al-Ushuliy, Cet. Ke I, Jeddah, 1993,
1403 H., Dar al-Syuruq.
Mahfuzh, Anas Saidi, Metodologi Penelitian, Hanya Untuk Kalangan Sendiri, tt.
Moleong, Lexy J., Metodologi Penelitian Kwalitatif, Bandung, Cet. Ke 20, 2006,
Remaja Rosdakarya.
Musa, Muhammad Yusuf, Nizham al-Hukm fi al-Islam, Kairo, 1963, Dar al-Kitab al-
Arabiyah.
Raziy, Abu Abdillah Muhammad ibn Umar ibn Husain al., Al-Mahshul fi Ilm al-Usul
Beirut tt. Dar al-Kutub al-Arabiyah.
Sa’di, al-Iraqi, Abdulhakim abdurrahman, al., Mabahits al-Illat fi al-Qiyas ‘ind al-U-
Shuliyyin, Beirut, Pect. Ke I, 1982 M-1406 H., Dar al-Basyair al-Islaiyah.
Sarkhasi, Muhammad ibn Ahmad ibn Abi Sahal, al., Al-Muharrar fi Ushul al-Fiqh,
Beirut, tt. Dar al-Kutub al-Arabiyah.
Syalabi, Muhammad Musthafa, Ta’lil al-Ahkam, Beirut, 1981 M-1401 H., Dar al-
Nahdlah al-Arabiyah.
Suryasumantri, Jujun S. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Jakarta, 1984,
Penerbit Sinar Harapan.
Read More --►